–
ARSITEKTUR JAWA
penyunting :
johannes adiyanto
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik
Universitas Merdeka Malang
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan Intitut Teknologi Sepuluh Nopember – Surabaya
penyunting :
Johannes Adiyanto, ST, MT
Adiyanto, Johannes
Naskah Jawa – Arsitektur Jawa / Adiyanto, Johannes – Malang; Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang, 2004
viii + 255 hlm : 20 x 21 cm ISBN
1. Arsitektur Jawa I. Judul
Penerbit Jurusan Arsitektur – FT – Unmer Malang Jl. Puncak Jaya No. 36 Malang - 65146
Telp (0341) 584293 Fax (0341) 560836 e-mail: [email protected]
ii
Naskah arsitektur nusantara, yang lebih dikenal dengan naskah 9999, merupakan tonggak awal perbincangan tentang arsitektur nusantara pada tataran akademik. Naskah 9999, yang dibidani oleh Laboratorium Perkembangan Arsitektur di Jurusan arsitektur, FTSP, ITS Surabaya (ISBN 979-95803-0-7), merupakan ‘keberhasilan’ tersendiri dalam mengumpulkan tulisan-tulisan para ‘mahaguru’ di ranah arsitektur, terutama yang menaruh perhatian dalam bidang arsitektur di nusantara ini. ‘Keberhasilan’ ini terus bergulir dengan diselenggarakannya
Simposium Jelajah Arsitektur Nusantara, atau yang lebih dikenal dengan
‘Sijan’, yang diselenggarakan bergilir setiap tahunnya.
Namun ‘kumpulan’ tulisan yang termuat dalam proseding tersebut seakan menjadi ‘pelengkap’ dari koleksi perpustakaan di masing-masing lemari jurusan arsitektur di Indonesia, atau bahkan ada yang tidak punya(?). Untuk itulah buku ini hadir sebagai tindak lanjut dari naskah 9999.
Buku ini, “Naskah Jawa – Arsitektur Jawa”, bukanlah sebuah repetisi dari proseding naskah 9999, namun sebuah ‘pemetaan’ dari kajian yang telah dilakukan. Sesuai dengan judulnya, buku ini mencoba
mengumpulkan serpihan naskah 9999 yang berbicara dan mengungkap
iii
ke-Jawa-annya, atau ungkapan ‘Jawa sentris’ terhadap arsitektur
nusantara, tapi merupakan usaha ‘kolektor’ dalam memilah ‘koleksinya’.
Usaha pemilahan atau pemetaan ini bertujuan untuk tidak terjadi mengulangan tulisan atau duplikasi tulisan atau bahkan plagiat dari hasil karya pikir para penulis di naskah 9999 terutama dalam topik
‘Jawa’. Disamping itu “Naskah Jawa –Arsitektur Jawa” juga merupakan stimulus bagi wilayah kaji yang lain agar mampu menyetarakan
kedudukannya terhadap wilayah kaji ‘Jawa’.
‘Jawa’ baik sebagai budaya maupun sebagai arsitektur seakan tidak pernah kering untuk di ‘timba’ pengetahuannya. Kita dapat menyaksikan puluhan buku yang mengungkap keberadaan yang berkaitan dengan
‘Jawa’, baik yang ditulis oleh ‘orang Jawa’ atau ‘orang bule’ yang telah lama di Jawa atau bahkan ‘orang asing’ yang hanya ‘tinggal’ di
perpustakaan di Leiden dan berujar tentang “Jawa”. Namun hal tersebut tidak menutup kemungkinan untuk terjadi duplikasi atau plagiat
terhadap tulisan yang telah ada. Dengan adanya ‘pemetaan’ ini maka calon atau para pengkaji dan / atau peneliti mampu melihat ranah-ranah kosong yang ditinggalkan atau bahkan disediakan para pengkaji atau peneliti sebelumnya.
iv
arsitektur Jawa khususnya makin ‘sehat’ dan terarah. Dan juga membuka ‘ceruk-ceruk’ lahan kajian atau penelitian baru yang sebelumnya tersamarkan.
“Naskah Jawa – Arsitektur Jawa” diharapkan menjadi ‘janin’ dari ‘bayi’
teori arsitektur jawa khususnya atau bahkan teori arsitektur nusantara.
Sehingga kita tidak perlu lagi ‘menimang-nimang’ ‘anak Vitruvius’ yang kurang mampu untuk ‘ber-tropis’.
“……Dados pikadjenganipoen petangan waoe tijang soemoesoeping grija poenika dipoen oepamekaken angaoeb ing sangandaping kadjeng ageng…..”
(K-Sesorah, dalam Prijotomo 2000)
Jika yang diperlukan hanya per-‘teduh’-an mengapa harus membuat
‘benteng’?
Jika kita punya potensi yang ‘kaya’, lalu masihkah kita merasa ‘miskin’ dan menunggu ‘bantuan’ terus menerus?
Kita bukan anak Vitruvius, kita anak Soeto Prawiro, mengapa harus disangkal?
Malang, 26 April 2004 Penyunting
v
Pengantar
iiiDaftar Isi
viBagian Satu : Naskah dan Arsitektur
1. Naskah (Dan Teks) Dalam Kajian Arsitektur
Oleh: Gunawan Tjahjono 1
2. Membaca Naskah
Oleh: Budi A.Sukada 27
3. Tentang Risalah Bangunan
Sigi Sekilas Tentang Tradisi Tekstual Arsitektur Jawa Pada Masa Kolonial Akhir
Oleh: Revianto B. Santosa 34
vi
Naskah ke Arsitektur
1. Sistem Penalaran Jawa
Oleh: Edy Hardjanto 1
2. Dimensi Psikologikal, Estetika Dan Etika Dalam Primbon Jawa
Oleh : Josef Prijotomo 13
3. Pendekatan Semiotika Dalam Kajian Terhadap Arsitektur Tradisional Di Indonesia
Studi Kasus: Sengkalan Memet Dalam Arsitektur Jawa
Oleh: Agus Suharjono Ekomadyo 50
vii
Naskah terhadap Arsitektur
1. Menelusuri Jejak Arsitektur Candi Peninggalan Singosari – Majapahit Melalui Naskah Negarakertagama
Oleh: Rahadhian Ph (Dodo) 1
2. Pemilihan Lokasi Dan Lahan Menurut Primbon Betaljemur Adammakna Suatu Kajian Awal (Dan Dangkal)
Oleh: Totok Roesmanto 36
3. Makna Simbolik Rumah Jawa
Oleh: Danang Priatmodjo 67
4. Implementasi Kosmologi Jawa Dalam Arsitektur
Oleh: Yunianto 83
5. Pengamatan Terhadap Arsitektur Tradisional Di Asia
Oleh: Mas Dian 97
viii
Naskah dan Arsitektur Satu -1
Naskah dan
Arsitektur
Naskah dan Arsitektur Satu -1
Naskah (dan Teks) dalam Kajian Arsitektur
Oleh: Gunawan Tjahjono
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia Kampus UI, Depok 16425
Abstrak
Mempelajari naskah berarti menelusuri bagaimana leluhur membangun dalam suatu tatanan masyarakat secara utuh. Naskah ditafsirkan, bukan dibaca begitu saja, untuk mendapatkan arti teksnya. Tidak mudah meletakkan naskah ke dalam konteks arsitektur masa kini, tetapi kehadirannya perlu karena dari situ kita dapat mencermin diri betapa arsitektur di kota-kota kita jauh dari bumi beranjaknya. Ada naskah yang telah kurang bermakna, dan ada yang hingga kini tetap bertahan dan bahkan semakin menggejala.
Tulisan ini mencoba menyajikan hakekat yang terkandung dalam naskah yang saya ketahui. Mereka itu banyak yang mengandung nilai universal sebagai hasil pemikiran yang masuk akal. Naskah, dalam tulisan ini, mengacu pada yang berasal dari suatu sistem masyarakat yang susunannya berdasarkan kesepakatan bersama. Biasanya
masyarakat demikian satu etnisitas. Dalam era jaringan yang semua nilai budaya mendapat tantangan ini, kita memerlukan penge-tahuan leluhur melalui pemahaman naskah. Tidak terluput pula untuk berarsitektur.
Naskah dan Arsitektur Satu -2
Pendahuluan
Naskah-naskah mengenai arsitektur kini hampir semua sudah bukan naskah lagi karena telah diterbitkan sebagai buku atau lampiran buku. Ederan seperti primbon dan Thong Shu yang senantiasa mengalami perubahan sesuai perjalanan waktu juga kini tampil dalam bentuk cetakan. Teks naskah kini mudah dicetak dan penulisannya tidak perlu langsung dari tangan dan pena, melainkan mesin ketik atau mesin olah kata (word processor). Hal ini, meski kurang gayut lagi bila kita bersikeras bahwa naskah harus dibahas sesuai arti sebenarnya, masih gayut bila kita menelusuri isi bahan bacaan yang pernah menjadi naskah. Dengan demikian akan terjadi bahwa cakupan bahasan akan terlalu luas. Untuk itu perlu ada pembatasan, ka-rena dalam format tulisan terbatas ini tidak mungkin kita membahas semua teks naskah. Dalam tulisan berikut, saya batas pada sifat umum dan persamaan yang dapat kita temukan di naskah lama yang hadir sebelum percetakan memasuki kehidupan umum. Dalam konteks demikian, buku baru tidak lagi masuk ke dalam cakupan ini, dan bahkan hanya teks setelah abad 16 yang masuk ke dalam perhitungan kita, setelah percetakan modern diperkenalkan pada pertengan abad ke 15.
Dengan pertimbangan bahwa naskah di Nusantara ini sebagian telah ditulis sebelum abad ke 14, dan penggunaan percetakan besar-besaran baru berlangsung setelah orang Cina dan Belanda berkembang di sini, maka banyak teks yang datang kemudian masih dapat kita ang-gap naskah. Dalam hal ini tentu teks I ching, Sastra Purusa Mandala,
Naskah dan Arsitektur Satu -3
Manasara, Hasta Kosala, Kawruh Kalang, Kawruh Griya, Khang Ie, Lu Pang Ching, Ho Thu, Le Shu, Serat Centini, karya Vitruvius, dapat kita anggap memenuhi persyaratan sebagai naskah.
Naskah–naskah tersebut memuat pengetahuan leluhur berhubungan dengan lingkungan alami dalam bermukim. Sebagai tanggapan atas keadaan, pengetahuan mereka dalam beberapa prinsip banyak persamaan, tetapi dalam rincian berbeda. Saya tidak merinci perbedaan-perbe-daan itu, karena terlalu banyak varian. Pada hakekatnya kehendak untuk menandakan ling-kungan dan memaknakan keberadaan itu yang mendorong manusia membuat kaidah untuk bertindak dan bergaul. Bangunan hanya bagian dari kaidah tata kehidupan yang luas. Mem-pelajari kaidah-kaidah tersebut melalui teks naskah adalah mempelajari kebijaksanaan leluhur dalam memadukan akal dan rasa dalam membentuk budaya bermukim dan berarsitektur. Sa-yang hal itu masih terlepas dari perhatian pakar arsitektur di Indonesia. Hal tersebut adalah isu pokok dalam tulisan ini.
Tulisan ini mulai dengan menjelaskan naskah dan teks sebagai konsep agar pembaca menda-patkan gambaran tepat tentang kedua gejala itu. Kemudian tulisan berlanjut dengan meninjau klasifikasi simbolik sebagai cikal bakal tata lingkungan. Setelah itu saya membahas isu konteks masa kini dan kegayutan naskah. Dan kemudian tulisan ini saya biarkan terbuka bagi pembaca untuk mengambil kesimpulan sendiri. Dalam membahas, saya sejauh mungkin mengandalkan kamus dan nalar, degnan dukungan pengalaman penelitian lapangan dan beberapa literatur mengenai naskah. Hal tersebut demi
Naskah dan Arsitektur Satu -4
mengurangi ketergantungan pada bias yang terjadi oleh penafsiran pakar dunia Barat.
Titik berat bahasan akan berada di tinjauan terhadap naskah dunia Timur, meski ada tinjauan ringkas terhadap naskah barat yang telah berulang dibahas oleh pakar arsitektur Barat dan timur.
Naskah Dan Text
Menurut Ngajenan (1987), kata naskah berasal dari Bahasa Arab nuskhat yang berarti, salinan turunan, atau karangan yang akan dicetak. Dalam Kamus Umum Bahasa
Indonesia, Poerwa-darminta (1987) mengartikan naskah sebagai: “1 karangan, surat dsb yang masih ditulis de-ngan tangan; kopi (karangan dsb yang akan dicetak atau akan diterbitkan) mis. mengumpulkan naskah-naskah lama; 2. lembar (banyaknya buku dsb);
eksemplar; mis. senaskah seratus rupi-ah harganya; 3 rancangan; mis. Perjanjian (persetujuan) Linggarjati.” Pengertian pertama Nga-jenan dan Poerwadarminta amat dekat dengan pengertian manuscript dalam bahasa Inggeris yang merujuk ke penulisan dengan tangan. Sedangkan pengertian terakhir Poerwadarminta masih berkaitan erat dengan pengertian pertamanya dalam hal ada hubungan langsung de-ngan tangan sebagai pelaku tulisan bukan perantara untuk menghasilkan tulisan dari gerakan tangan.
Saya mencoba tidak membahas pengertian kedua Poerwadarminta karena akan lebih jauh dari konteks kita dalam membahas naskah dalam arti tulisan.
Naskah dan Arsitektur Satu -5
Bila kita berdasarkan arti asalnya yaitu naskah sebagai tulisan (tangan) yang belum dicetak, maka kini kita hampir tidak lagi menemukan benda tersebut dalam kaitan dengan pemaparan arsitektur. Mungkin sekali masih ada naskah dalam lontar, tetapi sebagian besar isinya sudah disadurkan, dicetak dan dipublikasikan. Tentu bukan itu yang akan saya paparkan di sini, me-lainkan sesuatu yang berkaitan dengan penulisan yang pada saat munculnya tidak dalam ke-adaan tercetak, entah karena belum
bersinggungan dengan teknik cetak-mencetak atau kare-na kesuciannya, dia tidak dapat digantikan oleh alat cetak dalam menghadirkannya. Apakah bangunan dan arsitektur pernah tampil dalam naskah demikian? Jawabannya adalah ya, namun perlu kita melihatnya dalam suatu rangkaian tata lingkungan.
Kegiatan menyalin pada saat kata itu ditemukan tentu dilakukan orang dengan tangan.
Kita tahu bahwa ucapan mendahului tulisan. Suatu kata ucapan masuk dalam tulisan pasti melalui tahap-tahap tertentu. Ucapan memberikan banyak nuansa dan kekayaan ekspresi yang tidak dimiliki oleh tulisan. Kalimat seru seperti “brengsek lu!” dapat berupa makian bila kita ucapkan dengan nada tinggi terhadap seseorang yang bertindak kurang baik, tetapi bila diucapkan dengan nada rendah justru menandakan keakraban.
Namun bahasa lisan tidak mungkin selalu dapat diingat-ingat tanpa kesalahan bila kalimat-ka-limatnya panjang dan berlapis-lapis. Tuturan yang berupa kisah tidak
mungkin ditirukan de-ngan suatu ketepatan yang sama antara penutur yang satu ke yang lain. Dengan demikian mu-dah terjadi suatu pengurangan atau penambahan yang
Naskah dan Arsitektur Satu -6
mungkin akan semakin jauh dari kisah semula. Keadaan akan lebih gawat lagi bila yang perlu diingat itu berupa angka-angka dalam suatu perjanjian atau catatan tentang stok simpanan suatu masyarakat. Catatan, dengan demikian akan banyak membantu menyelesaikan kesulitan itu.
Kesulitan bahasa tulisan adalah, bahwa dia tidak mampu berartikulasi sebagaimana yang mampu diberikan oleh bahasa lisan. Untuk itu bahasa tulisan memerlukan bantuan tanda-tanda lain agar dapat menghadirkan nuansa seperti bahasa lisan. Titik, koma, tanda seru, adalah pembantu dalam menghadirkan ketepatan arti dan nuansa tulisan.
Apakah pengertian naskah seperti yang saya kemukakan di atas ini sama atau sepadan dengan teks? Sebaiknya kita periksa dulu dari sumber yang handal agar pembaca dapat menempatkan ulasan berikut dalam posisi yang tepat. Teks adalah suatu pengalihan kata dari text dalam bahasa Inggeris yang pada umumnya tampil dalam bidang sastra dan budaya tulis.
Eric Partridge (1983) dalam kamus etimologinya menelusuri kata text. Menurut dia, kata text dalam bahasa Inggeris berasal dari kata Latin texere yang berarti mengaynam. Texere mung-kin menggantikan kata tegsere, suatu pelemahan dari kata teghsere, variasi dari tekhsere yang berakar tekh ditambah dengan batang kata s dan akhiran infinitif ere. Texere memiliki past participle ‘textus’ yang kemudian menurunkan kata benda textus yang berarti sesuatu yang di-anyam, dari situ kemudian menjadi struktur teranyam suatu naratif dan
Naskah dan Arsitektur Satu -7
kemudian mengandung makna sekumpulan kalimat. Meski tidak jelas hubungan langsungnya dengan kata techne dalam bahasa Yunani, kiranya pengaruh techne ke texere lebih mungkin daripada sebaliknya. Dalam hal ini text ada hubungan dengan
keterampilan tangan.
Teks dalam bahasa Cina adalah ching, yang dalam pictogramnya bersisi she yang berarti serat. Dalam kaitan ini texere dan ching memiliki suatu dasar pengertian yang sama yaitu sesuatu yang berhubungan dengan tenunan. Baik teks, ching, maupun naskah adalah tulisan yang tujuannya adalah menurunkan suatu catatan yang kata-katanya terkait dan tertenun men-jadi suatu kesatuan.
Hingga kini sastrawan Barat masih sulit mendefinisikan text. Ahli teori kritik (critical theory) Keith Green dan Jill LeBihan (1996, 8) menganggap text itu “..a stretch of language, complete or partial, which comprises one or more units of meaning.” Bila text direalisasi dalam kontext yang jelas dan tampil bagi pembaca atau pengucap dalam suatu keterpautan yang utuh, maka dia menajdi wacana (discourse).
Naskah mencatat sesuatu (pengalaman) yang berarti bagi pencatatnya. Catatan itu menjadi rujukan bagi pencatat dalam menghadapi suatu keadaan. Untuk menemukan artinya kembali seseorang dapat membaca naskah dengan suara dan dengan demikian mengubah kembali suatu makna yang sebelumnya terbungkus melalui tulisan, menjadi bunyi yang segera hilang tak berujud. Kini tentu ada perangkat rekaman yang dapat
Naskah dan Arsitektur Satu -8
merekam bunyian atau ucapan. Dengan perangkat tersebut tradisi lisan hendaknya dapat diturunkan tanpa melalui catatan dengan menuliskan di atas media tertentu. Namun dengan perkembangan bahasa tulisan yang demikian pesat dan banyak terjadi persamaan bunyi, tulisan tetap kita perlukan untuk mem-bedakan arti kata dari bunyi yang sama seperti yang didemonstrasikan oleh Derrida (dalam Taylor, 1986) tentang kata ciptaannya differance.
Bila kita hilangkan masalah tulisan dan ucapan, dan pindah ke bidang arsitektur, maka naskah dalam kajian arsitektur (dalam konteks di luar Dunia Barat sulit kita temukan) akan berarti catatan tertulis dalam bentuk huruf, kata dan kalimat tentang sesuatu yang berkaitan langsung dengan kegiatan membangun batas-batas yang mendefinisikan ruang.
Batas-batas tersebut dapat berwujud bangunan atau unsur bangunan. Namun bila kita menganggap naskah atau teks itu suatu kegiatan mencatat tanpa memasukkan media catatnya, maka apa yang kita bangun telah mencatat dirinya. Benda itu sendiri mestinya mampu bertutur melalui bahasanya sendiri. Ia juga berkisah. Sayang keadaan demikian tidak selalu menguntungkan kita dalam mempelajari arsitektur, karena di Indonesia sisa bangunan mudah sekali lenyap termakan waktu karena terbuat dari bahan bangunan yang tidak tahan cuaca dan kikisan alam. Tentu dalam kaitan naskah, yang akan saya bahas tetap terbatas pada tulisan-tulisan, bukan ba-ngunan sebagai tulisan, mengenai arsitektur.
Naskah dan Arsitektur Satu -9
Teks tentang arsitektur yang tercatat di dunia barat amat banyak, mulai dari catatan Vitruvius hingga kini, telah terkumpul banyak sekali kajian arsitektur yang tercatat dan terekam dalam bentuk-bentuk lain. Teks yang sebelum ini berupa naskah telah
diterbitkan kini sehingga bila kita membahas naskah, kita lebih sering tidak berhubungan dengan teks asli dari naskah tersebut. Namun demikian, jelas teks terbitan yang kita bahas dulunya berupa naskah. Kini naskah jarang lagi ditulis lengsung dari tangan, pena dan tinta, melainkan dari tangan dan mesin ketik atau alat olah kata dalam mesin yang mungkin langsung dapat diterbitkan. Dalam kaitan ini mungkin tidak akan ada naskah lagi pada masa depan di dunia yang semakin terbenam dalam media cetak langsung ini.
Ini berarti, naskah menjadi suatu gejala masa lalu.
Di belahan dunia yang disebut oleh orang barat sebagai timur, ada beberapa teks terkenal yang langsung berhubungan dengan membangun; misalnya Sastra Purusa Mandala, Manasara, Mayamata, Kawruh Kalang, Kawruh Griya, Lu-Pang Ching, Ho Thu, Le Shu, Hasta Kosala, Hasta Kosali, dan lain-lain. Sering kita menemui dalam teks tersebut bahwa pengaturan bangunan adalah bagian dari pengaturan kehidupan secara umum. Bangunan adalah wadah kegiatan manusia yang memaknakan kehadirannya dalam lingkungan yang lebih luas. Dalam hal ini kita temukan I Ching, Khang Ie, Thong Shu, Serat Centhini, Primbon, Tambo, dan Sastra-Sastra lain yang mencatat klasifikasi umum dan cara-cara baik dalam bertindak, termasuk yang berkaitan dengan (ritus) membangun. Naskah-naskah di Dunia Timur mengandung catatan hasil pengalaman
Naskah dan Arsitektur Satu -10
dalam rupa instruksi atau resep yang secara normatif mengatur tata lingkungan dan prilaku manusia dalam budaya bermukim. Teks dalam naskah tersebut lebih sering merupakan pengalaman yang bertambah terus sepanjang masa dan tidak merupakan karya satu orang saja.
Klasifikasi Simbolik sebagai Cikal Bakal Tata Lingkungan
Sejauh membangun adalah suatu bagian dari kehidupan, maka tata caranya tidak terlepas dari tata kehidupan yang mengakar dari budaya manusia yang memakainya. Bagi
masyarakat tertentu agraris, maka bangunan bagi mereka tidak lebih penting daripada bercocok tanam. Kita dapat menemukan bahwa dalam tata cara bercocok tanam banyak aturan yang mirip dengan tata cara membangun di masyarakat seperti Lombok dan Sangir.i Tata cara tersebut merupakan suatu jaringan tata cara yang berdasarkan sistem klasifikasi simbolik.
Pakar klasifikasi simbolik Rodney Needham (1979) yakin bahwa manusia membutuhkan pe-ngetahuan untuk menentukan posisi dirinya sehingga dia mampu bertindak tanpa ragu-ragu terhadap situasi yang dihadapinya. Kekalutan adalah gejala alam yang perlu dihindari. Untuk itu ia klasifikasikan lingkungannya sesuai dengan simbol yang diciptakannya sebagai tanggap-an atas keadaan keberadaannya agar tidak bimbang bertindak. Simbol itu adalah sesuatu yang menggantikan sesuatu dalam pengertian
Naskah dan Arsitektur Satu -11
khusus di dalam sistem tanda yang jangkauannya lebih luas. Simbol yang diklasifikasi oleh manusia memberi makna yang mengandung nilai sehingga masyarakat yang mengerti dapat bertindak. Kemampuan memilah itu tampaknya ada pada diri setiap manusia, dan dasar memilah, dalam batas tertentu juga bersumber dari ke-rangka acuan citra yang bersifat arkitipe (archetype) dalam konsep Jung (1964). Arkitipe ini merupakan citra leluhur yang sembunyi di alam tak sadar kolektif manusia. Citra itu timbul pada saat-saat tertentu pada saat sadar. Dalam citra tersebut ada yang bersifat ruang (spatial), sebagaimana Mimi Lobell (1983) menamakannya berdasarkan konsep Jung.
Pemaknaan itu suatu olahan (process) yang menyarikan (abstraction) pengalaman kita atas suatu keadaan yang tampil dan di hadapan, baik itu suatu objek yang tertangkap melalui indera atau bayangan dari objek tersebut setelah tidak tampil lagi, atau suatu kesatuan pikiran (gejala). Gejala itu kita cerap melalui indra setelah ada kontak
dengannya dan kemudian mengenal bila peristiwa itu berulang. Dari situ mungkin terjadi suatu pemilihan olahan sehingga yang lebih mempengaruhi tindakan akan lebih kita perhatikan dan dapat kita pahami melalui suatu olahan penerjemahan melalui kode-kode tertentu. Dari situ kode itu kita gantikan dengan kata-kata yang menjelaskan pengalaman tersebut dan kemuidan dapat disarikan lagi, bila perlu menjadi satu kata. Bila masih dalam tahap kata-kata, kita sebut itu konsepsi dan bila menjadi satu kata kita sebut itu konsep. Konsep itu hasil proses simbolisasi dan ia terkonvensi bila pengalaman kolektif terjadi di dalam suatu kelompok manusia. Kesepakatan itu kemudian da-pat melembaga.
Naskah dan Arsitektur Satu -12
Dalam dunia tata lingkungan, arsitek bentang alam (landscape) Amerika Se-rikat Lawrence Halprin (1969, 1) menamakan simbolisasi suatu proses itu score. Score itu tidak perlu berwujud kata, tetapi dia dapat kita buatkan katanya. Sebagai contoh, kalender adalah score untuk perjalanan matahari atau bulan dalam kenisbiannya terhadap gerakan bumi. Score dalam kalender (kata) tampil dalam bentuk angka-angka dan diagram. Nota musik adalah ben-tuk score lain yang bila kita mainkan akan menghasilkan bunyi. Denah adalah score yang kita artikan sebagai proses pembuatan lantai bangunan dengan
pemilahan terorganisasi.
Setiap kelompok masyarakat yang terikat di dalam suatu (suku) bangsa atau etnisitas memiliki sistem klasifikasi simbolik. Masyarakat Java, misalnya, terkenal dengan klasifikasi simbolik yang berdasarkan lima; masyarakat Sumba (Adams, 1980) dan Minangkabau berdasarkan ti-ga; masyarakat Cina berdasarkan empat; dan masyarakat Bali berdasarkan sembilan (Needham, 1979). Mereka memaknakan arah, posisi, dan objek alam secara khusus yang hanya dapat dimengerti oleh masing-masing kelompok.
Namun demikian, manusia memiliki kesamaan fisiologis sehingga pengalaman badani dalam menghadapi lingkungannya mungkin saja menghasilkan makna simbolik yang sama. Sebagai makluk yang berdiri tegak dalam ber-gerak, manusia memilah yang ada di hadapannya sebagai depan, sesuai dengan kemampuan penglihatannya. Depan
menjanjikan sesuatu, dan sebaliknya belakang adalah bagian yang tak tampak dan oleh sebab itu dia yang kita tinggalkan. Melalui arah yang sama, kita cenderung memilah
Naskah dan Arsitektur Satu -13
waktu dengan konsep masa depan sebagai yang akan datang dan belakang sebagai masa lalu. Tegak membuat manusia memilah atas (naik) bernilai beda dari bawah (turun), kiri berbeda dari kanan, dan depan berbeda dari belakang (bandingkan dengan Moore &
Bloomer, 1977, 1). Dari posisi badan dan tanggapannya terhadap keadaan itu manusia memulai klasi-fikasinya. Setiap posisi atau arah kemudian mereka berikan suatu nilai yang kemudian multi nilai yang terasa tumpang tindih. Dari situ mereka mencocokkan keadaan sekelilingnya dalam suatu kerangka acuan citra yang sejalan.
Pengalaman berhubungan dengan alam membuat manusia mengembangkan lebih jauh klasifi-kasi simboliknya. Alam yang beragam perlu mereka kelompokkan menurut atas, bawah, tinggi, rendah, jauh, dekat, luar, dalam, besar, kecil, basah, kering, subur, gersang, panjang, pendek, padat, gosong, dst. Persinggungan dengan aliran sungai membuat mereka perlu menentukan hulu dan hilir agar tidak berada pada sisi buangan.
Pengamatan mereka terhadap pohon mem-buat mereka bedakan ujung dan pangkal.
Mengikuti ujung pangkal dan hulu hilir adalah meng-ikuti alam. Gunung tunggal mereka anggap tak tercapai dan mengandung teka teki dan cocok bagi penguasa yang lebih tinggi. Menempati daerah tinggi memberi keleluasaan menjangkau kejauhan sehingga mudah menentukan wilayah dan mencegah bahaya serangan hewan atau kelompok musuh. Pembagian dua ini hampir mewarnai semua keompok masyarakat dunia se- hingga menjadi kategori universal yang menuju polaritas.
Naskah dan Arsitektur Satu -14
Cerminan diri berlanjut ke pengelompokan tindakan atau buatan. Pengalaman bangun dan diri memberi kesan yang tak dapat kita pungkiri sebagai hal yang terulang sepanjang hidup. Kon-sep men’diri’kan yang memasukkan keakuan (diri) dengan kegiatan
membuat dan menegak-kan juga kita temui dalam bahasa Jerman Bau dan bin, bist, ist yang sepadan dengan kata kerja diri to be dengan am, are, is dalam bahasa Inggeris (Heidegger, 1971, 147); bahasa Cina dengan lik dan cen. Demikian pula dengan bangun dan membangun, yang ada hubungan dengan menegakkan, sebagai akibat dari bangun yang menandai suatu keadaan dari terebah ke berdiri. Dalam hal ini bangun dan constuct dalam bahasa Inggeris berdekatan konsep, me-reka sama-sama mengacu pada
mendirikan sesuatu. Dalam alur pikir yang sejajar, manusia kemudian memilah apa yang dia bangun menurut atas, bawah, tegak tidur, dan ujung pangkal.
Pengasosiasian diri dan bangun adalah upaya mendekatkan apa yang manusia buat agar diri-nya berhuni selaras dengan lingkungan. Untuk itu sifat lingkungan perlu mereka amati secer-mat mungkin sehingga mampu berdampingan seirama dengannya.
Perubahan musim dan daur hayati yang darinya mereka gantungkan hidup menjadi amat penting. Dari pergaulan de-ngan alam mereka mengetahui bahwa alam dapat berbahaya dan sekaligus murah hati bila manusia mampu menerima tanda-tandanya. Dari tanda- tanda itu manusia tahu bagaimana menetapkan tempat bermukim, baik untuk sementara maupun jangka waktu panjang. Mereka perlu mengetahui isyarat alam seperti
ketersediaan unsur pendukung kehidupan seperti air, tanah, tanaman dan hewan yang
Naskah dan Arsitektur Satu -15
berada di dalam ranah permukiman kekuasaannya (Cowley, 1989). Mereka tahu kapan harus mengarap lahan, apa yang mesti ditanam, dipelihara, dan dibangun; kapan harus mendapatkan hasil, menebang pohon dan membersihkan lahan. Me-reka juga tahu kapan harus memecah kelompok yaitu terjadi pembentukan keompok baru yang lalu berpindah ke luar dari tempat permukiman semula. Perpindahan tempat ini
menyebabkan ada pengalaman baru yang lain sehingga nilai lama yang mungkin telah turun-temurun meng-alami penyesuaian. Dengan demikian kita temukan versi-versi dalam naskah maupun tradisi lisan tentang bermukim dan bertindak.
Begitu mereka tetapkan tempat menetap, konsep teritorial berkembang. Dari situ turun penger-tian luar, dalam, suci, kotor, pusat, pinggiran, sini, sana yang membedakan kami dan mereka. Teritorialitas belum tentu ada batas pasti, melainkan suatu penandaan pemilikan yang sama-sama akui. Teritorial dapat bersifat berganda, berhirarki. Dari lahan garap hingga satuan huni-an selalu ada pembagian luar dalam, dan suci kotor. Pengakuan teritorial kolektif dan pribadi adalah pegangan bagi hubungan sosial yang selaras.
Daur hidup manusia sendiri perlu menjadi bagian dari seluruh tata lingkungan. Manusia sadar bahwa membangun itu adalah untuk menata kehidupan. Melalui tata ruang atas kehidupan mereka mampu mengakomodasikan daur hidup; mulai dari lahir, kanak- kanak, remaja, nikah, dewasa, tua, dan meninggal (Tjahjono, 1997). Pengalaman bahwa semua manusia pernah me-lalui tahap-tahap daur yang berbeda dengan tuntutan yang berbeda menurunkan kaidah-kai-dah untuk hidup rukun dengan lingkungan alami
Naskah dan Arsitektur Satu -16
maupun manusiawi. Kita pelajari dari bukti yang masih tersedia dan dalam teks naskah bahwa tempat orang mati itu cukup penting. Me-ninggal adalah suatu perjalanan alami yang tak mungkin dihindari, sehingga pantas memberi-kan tempat terhormat kepada yang meninggal karena suatu saat kita semua akan mengalam-inya juga (Rekonstruksi Arsitektur Sumba, 1997). Banyak kelompok masyarakat percaya bah-wa meninggal itu adalah meninggalkan suatu tahap kehidupan karena roh masih tetap hidup di alam yang belum dipahami dengan tepat. Roh masih dapat melindungi turunannya bila pandai berdampingan dengannya. Bersahabat dengan roh leluhur adalah suatu perbuatan yang luhur. Tata lingkungan memperhatikan masalah ini dan tidak sedikit yang memulainya dengan meng-identifikasikan tempat tetap bagi yang meninggal. Istilah astana, natar, pusara, dan lain seba-gainya yang mulia-mulia kemudian diberikan untuk tempat tersebut.
Pakar kajian permukiman kelompok bertradisi kuat memiliki cukup data bahwa dalam bermu-kim, masyarakat setelah memastikan lahan dan tempat yang lebih mulia, mulai mematokkan suatu tanda acuan arah sebagai cikal bakal atau pusat permukiman. Di sekitar tanda itulah mereka sepakat untuk menempati bangunan untuk berkumpul, dan atau pemujaan. Hunian perwakilan mengelilingi ranah utama dan masyarakat umum berada di ranah lebih luar. Pola pengembangan ada yang konsentris, dan ada yang berupa garis. Pemilahan demikian seakan-akan mengikuti suatu hirarki alami menurut suatu seleksi. Membangun selalu mengikuti kaidah yang seakan-akan semua anggota
Naskah dan Arsitektur Satu -17
mengetahuinya. Tidak perlu ada penggambaran, atau ran-cangan. Bangunan dengan sendirinya akan begitu, sesuai dengan tanggapan terhadap lingkungan yang bermakna bagi umum. Pola permukiman dan hunian merupakan pencerminan jagat dalam skala yang berbeda.
Dalam skala lebih kecil, bangunan mencerminkan jiwa dan raga manusia yang menghuninya. Untuk titu patokan ukuran perlu ada hubungan dengan ukuran badan penghuninya. Dengan ukuran yang diturunkan dari badan, hubungan diri dengan bangun menjadi nyata dan terkait. Manusia lebih jauh menentukan perbandingan dari badan dan unsur alam. Pembatas ruang dengan demikian akan mendefinisikan keberadaannya sedemikian rupa sehingga tindakannya mendapat restu. Bila
keberadaannya tidak pernah menimbulkan petaka, maka bangunan dan diri berselaras.
Pengalaman berhuni yang selaras dengan alam dan sesama manusia menu-runkan pengetahuan bagaimana dapat dengan nyaman bertindak di dalam bangunan. Dalam hal ini keterlindungan dari terik, dan hujan, kelancaran udara serta kemampuan bertahan terha-dap ancaman menjadi tolok ukur utama.
Pemaknaan keberadaan diri manusia memerlukan dua kegiatan utama. Pertama adalah kerja, dan kedua adalah karya. Melalui keduanya manusia memperoleh kegiatan hidup.
Kerja adalah bagian kegiatan yang mendorong manusia bertahan hidup, sedangkan karya adalah dorongan pernyataan diri bahwa dia berhasil menghasilkan sesuatu bagi kepuasan batinnya (banding-kan: Arendt, 1958, 7). Dia mampu meniru dan menyembahkan
Naskah dan Arsitektur Satu -18
kembali gambaran alam dan diri ke dalam karya. Karya yang indah itu adalah yang selaras dengan lingkungan. Gangguan terhadap indra akan tampil bila karya tersebut melanggar aturan yang diajarkan alam yang coba ditirunya. Dalam berkarya akal dan rasa bertemu dan terpadu. Membangun adalah salah satu tindakan berkarya yang
mengandung kerja. Dalam bekerja dan berkarya itulah mereka membentuk komunitas bersama dan mendapatkan kepribadian.
Tindakan dan kerjaan yang berulang terus cenderung menemui kehausan dalam jiwa maupun raga, sehingga kita perlu suatu saat mendapat pembaruan atau pengulangan yang lebih besar agar rutinitas mendapatkan penghentian. Di situ ritus berperan menyegarkan jiwa raga yang telah lesu itu. Ritus mengolah peristiwa. Peristiwa menandakan waktu, sedangkan waktu perlu diberi ruang agar dapat menampung
peristiwa (Tuan, 1978). Melalui peristiwa, ruang dan wak-tu menyatukan makna, dan diri dibangunkan kembali sehingga menyatu kembali dengan jagat raya yang menaunginya.
Pengalaman berakal rasa dalam membangun yang tahan uji itu perlu manusia ramukan dalam catatan di atas media yang berbeda-beda; dalam lontar, papyrus, kayu, bambu, dan kertas. Dalam hal mencatat, tidak semua kelompok masyarakat menurunkan pengalaman menata lingkungan dan membangun melalui tulisan, ada dan banyak juga yang dalam bentuk lisan. Kini sebagian yang lisan itu telah mampu kita alih bahasakan ke tulisan (teks) dan menjadi naskah dan banyak yang sudah dicetak. Terlepas dari masalah teknis, isi naskah suatu suku bangsa selalu ada versi yang tidak sama. Ini mencerminkan nilai
Naskah dan Arsitektur Satu -19
satu lokasi dapat berbeda berkat pengalaman yang berbeda dan kepemimpinan serta sistem masyarakat yang berbeda pula. Dalam hal ini, ada baku umum yang mendasari, dan ada baku lokal yang memberi makna lebih lanjut. Dalam lapisan kecil ini kita menemukan perbedaan. Kenyataan ini pula meyakin-kan saya bahwa tradisi itu tidak terlalu kaku, selalu ada ruang untuk penyesuaian terhadap situasi yang berbeda.
Perbedaan tradisi dan modernitas adalah, pada tradisi meski pada saat dia ditemukan adalah amat moderen, kita tidak mempermasalahkan siapa penemunya (lelu-hur); sedang pada modernitas ciptaan selalu ada penemu yang jelas (Queysanne, 1989).
Apakah dalam naskah dan teks leluhur orang Timur itu ada arsitektur? Tidaklah mudah mele-takkan naskah tentang arsitektur ke dalam konteksnya. Dalam naskah dan teks dunia Barat tentu arsitektur sebagai istilah yang berasal dari sana sudah berdiri sendiri dan segenap aturan dan syarat telah dirumuskan sejak Vitruvius hingga Alberti. Karya- karya mereka adalah treatise yang berisi kaidah-kaidah yang banyak memalihkan gejala alam, meski telah mengalami berlapis-lapis penafsiran dalam sadurannya dan ada tanda peningkatan peran dunia buatan dan keteknikan. Teks terakhir di dunia Barat malahan ada kecenderungan melawan kemapan-an seperti kenyamanan, kemudahan dan
keamanan. Teks arsitektur Barat cenderung deter-ministik. Dalam teks dan naskah dunia Timur istilah arsitektur tentu tidak kita temukan. Namun yang sepadan dengan itu selalu dapat kita tafsirkan. Istilah seperti sthapati, mimar, mu chiang, chien chu she, kalang,dan undagi, misalnya, mungkin menuju ke suatu jenis pekerjaan yang diemban orang
Naskah dan Arsitektur Satu -20
sebagaimana ahli bangunan yang kira-kira sepadan dengan arsitek. Keahlian mereka itu arsitektur.
Kegayutan Naskah Arsitektur dalam Berarsitektur
Tradisi arsitektur di Indonesia belum secara luas diteliti dan dimanfaatkan secara sungguh-sungguh oleh praktisi bidang arsitektur. Hal tersebut mungkin ada hubungan dengan para praktisi, kecuali pelaku arsitektur di daerah terpencil yang muatan tradisinya masih kuat, ada-lah hasil pendidikan arsitektur perguruan tinggi di Indonesia yang secara tradisi berada di ba-wah fakultas teknik yang dasarnya adalah ilmu pasti. Dalam hal ini akal lebih diutamakan daripada rasa. Akal manentukan hal-hal yang boleh atau tidak, benar atau salah. Rasa mem-beri nuansa yang serba tidak persis. Pendidikan ‘tradisional’
tersebut tidak memberi lowongan bagi hal-hal yang tidak pasti meski materi yang ada sebenarnya tidak pernah terbukti benar. Kebanjiran materi import atau alihan import itu mengurangi perhatian para peneliti terhadap warisan budaya yang segaris atau
seorientasi, seperti kebudayaan yang berkembang di belah-an bumi Asia ini. Perhatian terhadap naskah dan penggalian isinya yang berkaitan dengan arsitektur belum lama berkembang. Bila ada juga terpenggal-penggal belum ada lintas bahas-an antar disiplin yang banyak menggeluti naskah seperti bidang sastra, dengan disiplin yang menggeluti bangunan seperti arsitektur. Beberapa perintis dari disiplin arsitektur seperti Josef
Naskah dan Arsitektur Satu -21
Prijotomo, Christina Gantini, dll.ii mulai membangkitkan semangat penggalian warisan penge-tahuan membangun di tanah air ini.
Masalah penerapan naskah dalam konteks masa kini di tanah air ini terletak pada tempat, waktu, dan peristiwa. Peristiwa berhubungan dengan manusia dalam masyarakat di dalam ke-rangka waktu dan tempat. Masyarakat menentukan nilai budayanya. Dalam perkembangan yang pesat, tata kehidupan masyarakat kota yang majemuk cenderung cepat berubah berkat komunikasi yang semakin cepat terutama dalam era jaringan yang tidak mengenal batas. Dalam masyarakat desa yang nisbi homogen tentu kecepatan perubahan tidak sedasyat di kota karena komunoikasi tidak semudah dan padat di kota besar. Masyarakat desa, terutama yang terpencil dan kurang bersentuhan dengan banyak budaya luar cenderung lebih ingin menjaga keseimbangan dengan lingkungan dan oleh sebab itu cukup gayut dengan kaidah yang baku dan turun temurun. Masyarakat demikian kini cenderung berkurang. Mereka akan diganggu atau ditantang sehingga himbauan perubahan semakin meningkat baik dari luar maupun dari dalam. Perubahan yang melanda suatu masyarakat juga amat tergantung pada dinamika identifikasi diri mereka.
Nilai budaya berubah lebih cepat di dalam masyarakat kota besar yang bermobilitas tinggi. Nilai cenderung majemuk dalam pertumbuhan permukiman yang bercampur dan cepat seperti desa kota yang menjamur di pulau Jawa ini. Nilai individu dan kelompok menemukan tangangan dari institusi yang serba majemuk dan multi peran di kota besar.
Naskah dan Arsitektur Satu -22
Namun demikian inti nilai tidak terlalu mudah berubah bila dibandingkan dengan nilai budaya yang tidak bersifat inti. Inti budaya menyangkut pandangan dunia dan
kepercayaan yang daya bertahannya lebih kuat dibandingkan nilai lain seperti ekonomi, gaya hidup, dan pergaulan luas, karena kontrol sosial lebih banyak menuju ke hal-hal yang bersifat inti itu. Bagaimana dengan budaya bermu-kim? Budaya bermukim justeru adalah cerminan nilai masyarakat dalam menanggapi tantang-an lingkungan dan sosial yang nilainya cenderung merupakan variabel waktu tempat dan masyarakat.
Waktu, pada saat klasifikasi simbolik suatu masyarakat itu ditemukan, berjarak amat jauh dari sekarang. Dalam bermukim kita tidak lagi berada pada pelataran waktu yang sama, dan tidak mungkin kembali ke pelataran itu. Waktu menjadi nisbi terhadap tempat, karena ada tempat yang nisbi mempertahankan nilai dan ada tempat yang ingin meninggalkan nilai bermukim yang lama. Jarang ada kelompok masyarakat
menghitungkan waktu ke dalam pola permukimannya. Gui Lin Zhai di daratan Cina adalah suatu perkecualian. Disitu pada saat mendirikan permukiman pendirinya telah memperhitungkan perputaran waktu hingga 180 tahun dengan 9 siklus tiap siklus 20 tahun (Wong, 1996, 14).
Interaksi antara tempat, waktu dan peristiwa memberi makna pada manusia. Arsitektur seyo-gianya mengejawantahkan makna ini. Berarsitektur adalah tindakan merealisasikan makna ter-sebut. Dalam kaitan ini, mungkin leluhur kita cukup mampu
mengejawantahkannya karena nilai yang dapat dimengerti oleh segenap anggota
Naskah dan Arsitektur Satu -23
masyarakat pada masa itu yang memahami interaksi tempat, waktu dan peristiwa.
Pandangan demikian bahkan mampu dipahami oleh ar-sitek kiwari Bernard Tschumi (1995, 87) yang mengutamakan peristiwa atau event. Kita mung-kin tidak perlu kembali ke masa lalu untuk menikmati makna tersebut. Tetapi melalui pelajaran yang dapat kita tarik dari mempelajari teks dalam naskah, kiranya para pakar mampu men-cerna esensi berarsitektur. Dalam hal ini perguruan tinggi perlu memasukkan kajian naskah sebagai suatu pilihan dalamkajian arsitektur; mulai dengan memperkenalkan pada strata mula dan mewacanakan pada strata lanjutan.
Kaidah yang ada dalam teks naskah leluhur adalah hasil pengalaman yang terus menerus di-sempurnakan dan kemudian menjadi baku acuan. Begitu menjadi baku acuan, ruang gerak menyelesaikan masalah tidak selalu dapat menampung perubahan yang cepat berkat inter-vensi nilai-nilai lain. Dalam keadaan demikian sulit berkejaran dengan waktu. Tempat dan peristiwa berubah, meluas atau menghilang. Turisme, sebagai contoh, telah membangkitkan peniruan wujud bangunan tanpa semangatnya. Tiruan demikian mengonsumsikan tradisi dan memanufakturkan warisan. Keadaan demikian menguntungkan finansial sesaat, tetapi sangat mungkin mengikis daya kreatif masyarakat yang ada kemampuan untuk membuat terobosan bila diberi kesempatan. Desakan perubahan lebih cepat daripada kemamuan menyusun baku baru. Untuk menyelesaikan hal ini memerlukan strategi baru yang tetap mberdasarkan peng-alaman aktual dengan pemahaman tuntas tentang kerangka peristiwa dan manusianya yang berbeda.
Naskah dan Arsitektur Satu -24
Nilai normatif yang didemonstrasikan oleh leluhur melalui naskah-naskah masih mampu kita definisikan kembali dalam konteks waktu, dan tempat masa kini. Hal ini bahkan disadari betul oleh pakar kota Kevin Lynch yang amat memperahtikan teori normatif dalam penataan kota. Beliau berangan-angan menyusun teori normatif untuk konteks masa kini (Lynch, 1981). Dalam alur pikir sejalan, langkah Lynch dapat saja kita tempuh secara kritis. Dalam penyusunan kembali atau pembongkaran kembali nilai hakiki tersebut kita tidak perlukuatir akan kesalahan, karena dalam perancangan tidak ada jawaban benar atau salah. Kita berkewajiban menganti-sipasi konsekwensi negatif.
Peristiwanya pasti berbeda, namun jiwa yang terkandung belum punah meski telah mengalami perubahan. Dan dalam era jaringan ini, pemanfaatan kajian naskah memberi kemungkinan yang semakin majemuk.
Naskah dan Arsitektur Satu -25
PUSTAKA ACUAN
Ngajenan, M. (1987) Kamus Etimologi Bahasa Indonesia. Dahara Prize, Semarang.
Poerwadarminta, W.J.S. (1987) Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta.
Partridge, E. (1983) A Short Etymological Dictionary of Modern English. Greenwich house, New York.
Green, K. and LeBihan, J. (1996) Critical Theory & Practice: a Coursebook. Routledge, London.
Derrida, J (1986) Difference. Dalam Taylor, M.C. (ed.) Deconstruction in context:
Literature and Philosophy. University of Chicago, Chicago. Hal. 396-420.
Needham R. (1979) Symbolic Classification. Goodyear, Santa Monica, California.
Jung, C.G. (1964) Man and His Symbol. Doubleday, New York.
Lobell, M. (1983) Spatial Archetypes. Dalam Revision. Vol.6, No.2, Fall , Hal.69-82.
Halprin, L. (1972) R.S.V.P. Cycles: Creative Processes in the Human Environment.
Brazillier, New York.
Adams, M.(1980) Structural Aspects of East Sumbanese Art. Dalam J. Fox (ed), The Flow of Life: Essays on Eastern Indonesia. Harvard Unviersity Press, Cambridge,
Massachusetts. Hal.208-270.
Moore, C. dan Bloomer, K. (1977) Body, Memory, and Architecture. Yale University Press, New Haven.
Heidegger, M. (1971) Poetry, Language, Thought. Harper, New York.
Tjahjono, G. (1997) New Town: Urban Future for Expanded Metropolis in Indonesia?. Journal of Southeast Asian Architecture. Vol.2 No.1, November 1997. Hal.
13-24.
Rekonstruksi Arsitektur Sumba (1997) Laporan Ekskursi mahasiswa jurusan Arsitektur Fakul-tas Teknik Universitas Indonesia.
Arendt, H. (1958) The Human Condition. University of Chicago, Chicago.
Tuan, I.F. (1978) Space, Time, Place; A Humanistic Frame. Dalam Carlstein, T.
Parkes, D. & Twift, N. (eds.) Timing Space and Spacing Time. Vol.1. John wiley & Sons, new York. Hal. 7-16.
Naskah dan Arsitektur Satu -26
Queysanne, B. (1989) Commentary: Tradition and Modernity in the Face of Time.
Traditional Dwellings and Settlements Review. Vol. 1, No.1, Fall. Hal. 3-6.
Cowley, G. (1989) The Electronic Goddess: Computerizing Bali’s ancient irrigation rites. Newsweek, March 6, 1989, Hal. 50.
Wong, W.S. (1996) The Story of Gui Lin Zhai. Golden Ocean Egineering Co. Ltd., Hong Kong.
Tshcumi, B. (1995) Questions of Space. Architectural Association, London.
Lynch, K. (1981) A Good City form. MIT Press, Cambridge, Massachusetts.
Keterangan :
i Catatan lapangan pada saat penelitian di Sangir 1993. Keterangan diberikan oleh seorang kepala desa yang mendemonstrasikan pola cocok Tanam. Mengenai Lombok, lihat Laporan Kuliah Kerja Lombok, Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia, 1990.
ii Pelopor dalam kajian proporsi melalui teks dilakukan oleh Josef Prijotomo dalam Petungan: sistem Ukuran dalam arsitektur Jawa.
Gadjah mada Unviersity Press, 1995.
Naskah dan Arsitektur Satu -27
Membaca Naskah
Oleh: Budi A.Sukada
1
Kita membaca naskah karena di dalamnya terdapat pengetahuan. Untuk memperoleh pengetahuan tersebut, yang terpenting adalah mengetahui cara membaca sebuah naskah.
Untuk itu naskah diperlakukan sebagai sebuah obyek otonom berisi kumpulan tulisan bermakna. Memperoleh pengetahuan dari naskah tersebut dengan demikian dicapai dengan memahami tulisan yang ada di dalamnya. Supaya dapat dipahami, tulisan tadi diperlakukan sebagai sebuah sistem tanda-tanda. Komunikasi dengan sistem itulah yang menghasilkan pemahaman, dan dengan sendirinya juga pengetahuan dari naskah yang bersangkutan. Pengetahuan tersebut ilmiah karena diperoleh secara obyektif dengan jalan menjelaskan tanda-tanda yang disampaikan oleh kumpulan tulisan di dalam naskah itu. Demikianlah pendapat umum mengenai apa yang dimaksud dengan ‘membaca’
naskah.
Naskah dan Arsitektur Satu -28
2
Tulisan tidak muncul begitu saja. Pasti ada pelakunya. Karena itu tulisan sesungguhnya tidak ada. Yang selama ini kita anggap sebagai tulisan sebenarnya adalah ‘penulisan’ atau teks. Teks dengan demikian bukan obyek melainkan tindakan. Naskah dengan
demikian bukan kumpulan tulisan melainkan sebuah teks. Karena teks itu sendiri merupakan tindakan, maka naskah pun pada dasarnya bukan obyek melainkan ‘karya’.
Sebab itu naskah tidak mungkin otonom. Sebagai sebuah karya, naskah harus selalu dikaitkan pada pembuatnya, motivasinya dan sasaran yang dia tuju. Karena itu selain tidak otonom, naskah pun harus dilihat sebagai ‘peristiwa’ ketika seseorang
menyampaikan sesuatu kepada orang lain melalui tulisan.
Sesungguhnya, pelaku tadi tidak perlu menulis apabila pihak yang dituju ada di hadapannya. Dia cukup mengucapkannya. Sebab itu sebuah penulisan/teks pada hakekatnya adalah inskripsi ucapan, yaitu ucapan yang ditujukan pada orang-orang dari masa yang akan datang. Bila demikian halnya, maka sebuah naskah seharusnya tidak dibaca melainkan ‘didengar’. Alih-alih mengetahui cara membaca sebuah naskah, kita seharusnya mengetahui cara ‘mendengarkan’ naskah.
Naskah dan Arsitektur Satu -29
3
Mendengarkan sebuah naskah memerlukan kehadiran 3 unsur, yaitu: Pengucap, Ucapan dan Pendengar. Bila ketiga unsur ini ada, maka ‘mendengarkan’ sebuah naskah
merupakan sebuah kegiatan interaktif yang disebut ‘percakapan’. Sebuah percakapan pada dasarnya adalah the said of speaking yang melibatkan 3 macam speech-act, yaitu:
Ucapan sebagai sebuah tindakan (the act of saying)
Tindakan yang dilakukan ketika mengucap (that which we do in saying)
Tindakan yang tersampaikan melalui ucapan (that which we do by saying)
Cara menjumpai ketiga macam speech-act tersebut di dalam sebuah percakapan adalah dengan memperlakukan penjelasan sebagai interpretasi, dan interpretasi sebagai penjelasan.
Ketika menjelaskan sebuah naskah, yang dikaji bukan tanda-tanda dan makna yang disampaikannya melainkan metafora yang terdapat di dalam kalimat-kalimat pada teks naskah itu. Hasil pengkajian atas metafora tersebut adalah ‘dugaan’. Supaya obyektif, dugaan tersebut harus falsifiable dan harus segera dicampakkan apabila diperoleh dugaan lain yang lebih falsifiable. Di lain pihak, ketiga jenis speech-act di atas harus
diinterpretasikan secara kritis dengan jalan mengalihkannya dari kondisi semula, yaitu
‘what it says’, ke kondisi ‘what it talks about’. Dari sini juga dihasilkan dugaan-dugaan dengan persyaratan seperti tadi.
Naskah dan Arsitektur Satu -30
Bila kedua jalur di atas dapat dilaksanakan, maka hasil-akhirnya bukan lagi pengetahuan ilmiah melainkan lebih mendalam lagi, yaitu understanding. Inilah sasaran sesungguhnya apabila kita membaca naskah.
4
Pengkajian atas naskah sebagai speech-act tersebut dengan demikian merupakan sebuah kegiatan bolak-balik, yaitu dari eksplanasi ke interpretasi dan sebaliknya. Proses pertama pada dasarnya merupakan upaya memahami pola-pola immanent di dalam struktur
penulisan sebuah naskah. Dari sini diperoleh suatu sistem yang memperlihatkan interaksi antara kata-kata, bahasa dan masyarakat yang memakainya. Di dalam sistem tersebut terkandung segala-sesuatu yang ekspresinya masuk-akal sehingga baik
keterarahan, niat maupun refleksi-diri pelaku terungkap dengan sendirinya. Proses ke dua, di lain pihak, merupakan upaya menemukan metafora naskah tersebut dalam rangka mengungkapkan wawasan yang dijelajahi pelaku tadi. Kedua proses di atas disebut appropriation, atau pengkajian atas subyek di dalam naskah.
Appropriation dengan demikian merupakan kunci yang membedakan ‘membaca’ naskah dari ‘mendengarkan’ naskah, serta naskah sebagai sebuah obyek dari naskah sebagai sebuah percakapan.
Naskah dan Arsitektur Satu -31
Itu dimungkinkan karena appropriation mengandung 3 unsur yang berkaitan dengan subyek sebuah naskah, yaitu:
Ruang-waktu
Metamorfosis
Self-criticism
Ruang-waktu menunjukkan bahwa sebagai sebuah teks, naskah bukan merupakan obyek absolut dan otonom melainkan atemporal. Artinya, makna yang terkandung di dalam kumpulan tulisan pada sebuah naskah tidak self-referential melainkan selalu tertuju ke masa mutakhir. Metamorfosis, di lain pihak, menunjukkan bahwa dari sebuah naskah dapat dilakukan transposisi imajinatif untuk menemukan figur-figur atau narator yang sengaja diciptakan oleh pembuat naskah dalam rangka merepresentasikan ‘true being’ yang lain dari dirinya. Adapun self-criticism memperlihatkan bahwa para pembaca naskah, apabila menjalankan kedua unsur di atas, akan menemukan diri mereka berada di dalam teks yang tengah dibacanya sehingga terjadilah suatu pembukaan-diri. Dengan pembukaan- diri tersebut naskah yang dibaca bukan hanya menghasilkan suatu understanding
melainkan juga self-understanding.
5
Tidak mudah menerima naskah sebagai sebuah percakapan karena banyak di antaranya yang tidak diketahui atau tidak jelas siapa pembuatnya. Ketidak-sempurnaan ini lah yang kemudian dimanifestasikan dalam bentuk pernyataan bahwa - sebagai kumpulan tulisan -
Naskah dan Arsitektur Satu -32
naskah adalah obyek absolut, dan dalam keadaan seperti itu tulisan merupakan obyek otonom sehingga bebas-nilai. Bersamaan dengan itu, Pengucap berubah menjadi Penulis sedangkan Pendengar, di lain pihak, menjadi Pembaca. Karena sudah bebas- nilai, bahkan unsur Penulis pun dapat diabaikan sementara unsur Pembaca bebas memberi respons dan berantisipasi sesuai keinginannya. Akibatnya, pengetahuan yang diperoleh dari sebuah naskah berpotensi subyektif dan penjelasannya berat-sebelah.
Jadi, dari kondisi bebas-nilai tersebut justru dihasilkan perolehan yang tidak bebas-nilai.
Permasalahan lain, banyaknya naskah yang tidak diketahui pelakunya atau samar-samar informasinya itu membentuk pandangan bahwa tulisan pada dasarnya self-referential.
Karena itu dapat langsung dikaji tanpa perlu mempertimbangkan siapa pelakunya.
Pendekatan ini kemudian dinyatakan dapat diandalkan. Di sini yang dipertaruhkan adalah unsur Pembaca. Mereka harus berpedoman pada metodologi yang sengaja disusun dengan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah untuk menangani kondisi seperti di atas sehingga tidak mungkin subyektif dan berat-sebelah pada waktu memberi penjelasan.
Namun, dalih seperti di atas tidak akan menghapus kenyataan bahwa sebuah naskah pasti ditulis seseorang dengan tujuan tertentu, yakni untuk disampaikan pada pihak- pihak yang tidak sempat atau tidak mungkin ditemui sendiri olehnya. Karena itu
seseorang harus tetap diandaikan ada di dalam naskah tersebut dan melalui penulisannya dia tengah mengucapkan sesuatu kepada kita selaku Pendengar. Respons kita, di lain
Naskah dan Arsitektur Satu -33
pihak, berupa appropriation. Sasarannya bukan sekedar mengetahui melainkan mengerti sampai ke tingkat self-understanding.
Membaca naskah, dengan perkataan lain mendengarkan kata-hati kita sendiri.
CATATAN Makalah ini disusun untuk Seminar Naskah Arsitektur Nusantara yang diselenggarakan di Institut Teknologi 10 Nopember-Surabaya pada tanggal 3-4 September 1999. Penulis makalah adalah pengajar mata-kuliah Sejarah Arsitektur di FTUI Jurusan Arsitektur.
BACAAN
Chalmers, A.F., What is this thing called Science?, Bab IV-VI, Open University Press, UK, 1980
Thompson, John B.(ed.&transl.), Paul Ricoeur, Hermeneutics & The Human Sciences, Essays on language, action and interpretation, Bab II.5-7, Bab III.8, Cambridge University Press &
Edition de la Maison des Sciences de l’Homme, 1995
Naskah dan Arsitektur Satu -34
Tentang Risalah Bangunan
Sigi Sekilas Tentang Tradisi Tekstual Arsitektur Jawa Pada Masa Kolonial Akhir Oleh: REVIANTO B. SANTOSA
Intertekstualitas Kawruh Kalang
Terdapat sejumlah teks dalam khasanah literatur Jawa yang dapat dikategorikan sebagai risalah bangunan (building treatise) yang secara populer disebut sebagai korpusi Kawruh Kalang. Melalui komparasi teks—baik antar teks dalam korpus tersebut maupun teks lain—tulisan ini berupaya untuk mengkonstruksikan situasi yang melatarbelakangi dan mengarahkan penulisan naskah-naskah tersebut. Tiga naskah Kawruh Kalang yang dibahas mengindikasikan adanya kalangan-kalangan pembaca yang dituju (intended audience) yang berbeda. Relasi dengan literatur ensiklopedik Centhini (kawruh yang lebih umum) nampak menyolok pada beberapa naskah sehingga dimensi pelestarian dan pensirkulasian informasi lama nampak jelas. Sementara itu, sisi lain masyarakat Jawa sedang menginginkan perubahan untuk menjadi rasional dan modern. Satu teks dari sisi ini menjadi pembanding kritis korpus tersebut.ii
Naskah dan Arsitektur Satu -35
Centhini
iiiDan Ilmu Sang Profesional
Memberikan gambaran yang sangat menarik tentang latarbelakang sosial penulisan Serat Centhini, Benedict Anderson (1990) mengatakan bahwa tidak seperti teks-teks Jawa pada umumnya yang beraura magis dan kraton sentris, Centhini menunjukkan fenomena “the rise of the professionals” di panggung wacana tekstual secara nyata. Centhini memiliki setting sosial-geografis idealnya yang memungkinkan wacana tersebut terbentuk dalam suatu jalinan teks yang bersifat ensiklopedik ini. Meskipun kompilasi yang paling
komprehensif dilakukan di lingkaran Kraton Surakarta pada awal abad ke-19, kekuasaan Kraton (maupun kekuasaan kolonial yang membayanginya) nyaris absen dari gambaran sosial Jawa dalam teks ini. Konflik fisik-politik (perang) yang melahirkan semangat satriya dan para pahlawan—yang menurut Anthony Day (1983) cenderung merebak pada penulisan teks abad ke-19—juga tidak dijumpai di sini. Kraton bahkan juga bukan sumber pengetahuan dan tradisi yang dipusakakan.
Serat Centhini mengambil bentuk puisi macapat, suatu bentuk untuk dibunyikan. Teks macapat tidak menyampaikan suatu informasi yang akan diinternalisasikan secara
individual melainkan untuk dibaca di hadapan sekelompok audiens, yang biasanya cukup umum, yang akan menyimak dan memperbincangkannya. Pengetahuan tentang
bangunan dalam Centhini selayaknya juga dipahami sebagai pengetahuan umum daripada merupakan pengetahuan teknis untuk dipergunakan sebagai manual bagi seorang profesional yang sedang bekerja.
Naskah dan Arsitektur Satu -36
Dikisahkan dalam Serat ini Mas Cebolang, sang santri pengelana yang mengkompilasi pengetahuan sepanjang perjalanannya, beserta pengikutnya sampai ke tepi hutan dan menginap di suatu gubug di sela-sela pohon besar (planggrongan) milik Ki Warsadikara seorang abdidalem lurah Kalang Kamplong yang menceritakan kepada mereka hal-ihwal bangunan. Justru dari pinggir hutanlah pengetahuan tentang bangunan ini didapat.
Dalam Centhini pengetahuan tentang bangunan mengambil porsi yang cukup signifikan;
terdiri atas 8 pupuh (pupuh ke-223 sampai ke-230), yang tersusun dari 320 bait atau 2121 baris.iv Sebagai pengetahuan yang didapat dari pinggir hutan paparan pengetahuan bangunan ini sangat didominasi oleh aspek perkayuan. Diawali dari sejarah bangunan kayu, Ki Warsadikara bertutur tentang jenis-jenis kayu yang baik dan cara
penebangannya. Dari kayu potongan cerita beralih ke elemen konstruksi dan tipe-tipe bentuk bangunan. Urutan cerita mengikuti alur transformasi dari batang kayu menjadi bangunan yang menjadi kompetensi sang abdi kalang. Paparan ini diakhiri dengan pétunganv yang memberikan aspek tujuan bangunan yang bukan hanya kenampakan tapi juga kesesuaian, ke-rejeki-an dan kesejahteraan (“ananging ta wontên uga/pangangkah malih kacrita/ sagêt njalari prayoga//Karêjêkèn myang raharja” pupuh 229, bait 5-6).
Naskah dan Arsitektur Satu -37
Secara ringkas bagian ini terstrukturkan sebagai berikut, Pupuh Metrum Jml. Bait Jml. Baris/
Bait Juml.
Baris Isi
223 Dhandhanggula 40 10 400 Jenis kayu
224 Pangkur 47 7 329 Cara menebang/memotong
225 Kinanthi 42 6 252 Elemen konstruksi
226 Gambuh 32 5 160 Elemen konstruksi
227 Asmarandana 47 6 282 Tipe bentuk bangunan
228 Megatruh 38 5 190 Tipe bentuk bangunan
229 Girisa 32 8 256 Tipe bentuk bangunan
230 Mijil 42 6 252 Pétungan & rajah
Juml Bait: 320 Juml. Baris 2121
Tidak ada dimensi identitas “ini bangunan (asli) Jawa” yang diperjuangkan dalam Centhini, sebagaimana aspek-aspek kehidupan yang lain yang dipaparkan. Penggunaan ukuran dim (inci) dan kaki dan penggaris yang jelas merupakan pengaruh Barat secara menarik dikatakan dipinjamkan oleh baginda kepada para tukang kayu, tukang bangunan dan juru ukur yang dengan segera dilibatkan dalam penghitungan magis pétungan.
(“Asalipun saking Ngatasangin/pangandika katong/ étung iki ingsun gadhuhaké/marang
bocahingsun Kalang-[n]dhagi/ gowong lawan malih/ bocah Juru ukur/ …myang sun wikan garisan tês sêtrip/ radi wiyar êdim, déné étangipun// Rolas sêtrip/ punika saêdim/ rolas dim anapon/ pan sakaki” pupuh 230, bait 36-38). Raja bertindak sebagai (meminjam istilah Clifford Geertz untuk peran kyai di pedesaan) cultural broker yang memberi signifikansi magis pada barang impor.
Naskah dan Arsitektur Satu -38
Kawruh Dan Tradisi
Suatu korpus risalah tentang bangunan (building treatise) mulai terbentuk paling tidak pada akhir abad ke-19 yang secara umum dapat kita sebut sebagai Kawruh Kalang. Joseph Prijotomo telah melakukan survey yang ekstensif meliputi beberapa puluh naskah jenis ini yang ditulis dengan berbagai judul. Fenomena Kawruh Kalang menjadi menarik karena ilmu tentang bangunan ini menjadi layak untuk berdiri menjadi satu kategori disiplin ilmu tersendiri dan bukan sekedar bagian dari totalitas pengetahuan ensiklopedik Centhini. Pada dasarnya kategori informasi yang kita dapatkan dari SKK ini tidak banyak berbeda dari bait-bait Centhini. Namun demikian, pembaca teks ini nampaknya jauh berbeda. Bukan lagi pembaca umum yang sambil rengeng-rengeng menemukan informasi berharga tentang bangunan, tapi merupakan teks prosaik yang lugas dan pragmatis yang bisa berperan sebagai manual untuk untuk membuat bangunan.
Tiga naskah yang akan dibicarakan pada tulisan ini memiliki kisaran konsern (dengan demikian audience) yang sedikit berbeda. Yang pertama adalah teks berangka tahun tertua yang kita jumpai dalam koleksi Perpustakaan Sanapustaka Kraton Surakarta berasal dari tahun 1890 berjudul Serat Kawruh Kalang yang dideskripsikan oleh Nancy Florida (1993: 142) sebagai “Two prose treatises on Javanese house building. Texts include notes on architectural terminology and measurements, the evolution of various house forms, as well as the lore surrounding the craft.”vi Naskah kedua berjudul Serat Kawruh Griyanipun Tiyang Jawi yang diturun (entah dari mana pada tahun 1906) dan dimiliki (ingkang nedhak saha ingkang
Naskah dan Arsitektur Satu -39
gadhah) oleh Mangundarma. Pada tahun 1939 naskah ini sebagai koleksi Panti Budaya Yogyakarta dilatinkan atas perintah Th. G. Th. Pigeaud. Naskah ketiga tidak bertahun koleksi Perpustakaan Leiden yang terdiri atas dua teks dalam satu jilid berjudul Titika Wisma yang juga merupakan koleksi Pigeaud
Ketiga naskah tersebut memiliki keterkaitan substansi yang cukup menyolok dengan informasi yang kita dapatkan pada Centhini meskipun tidak ada yang secara eksplisit menyebutkan kaitan setiap tulisan dengan Centhini atau teks apa pun diluarnya. Kawruh Griya sangat mirip—baik struktur maupun isinya—dengan Centhini. Dengan
menghilangkan format dialog (antara Mas Cêbolang dengan Ki Warsadikara) dan memprosakan pupuh 223-230 Centhini maka kita mendapatkan Kawruh Griya.
Pencuplikan dan pemrosaan satu bagian dari naskah puisi yang besar tanpa pengubahan substansi yang signifikan ini lebih menandakan perlunya sepenggal pengetahuan dari ensiklopedi tersebut mendapatkan kategorinya sebagai suatu ‘ilmu’ tersendiri, sebagai building treatise yang memiliki nilai kepraktisan lebih untuk kemudian disebarluaskan secara lebih luas (karena dalam edisi tipis dan lugas).
Prosaisasi dari larik-larik macapat tersebut menjadi suatu yang penting karena informasi yang sama akan menjadi nampak lebih praktis dan aksesibel. Proses ini akan
mentransformasikan teks dari sepenggal sastra yang adiluhung menjadi kawruh yang membumi. Masyarakat Jawa mempersepsikan keadiluhungan sastra pada ketinggian dan kerumitan bahasanya sehingga sangat sulit untuk dipahami oleh orang kebanyakan.
Naskah dan Arsitektur Satu -40
Purwakanthi (aliterasi dan asonansi) yang melimpah menjadikan teks lebih bersifat ritmis auditif daripada informatif.vii Pada pertengahan abad ke-19 Centhini telah menjadi bagian dari koleksi baginda yang agung, cindra mata keilmuan dan keagungan budaya yang bernilai tinggi. Jilid V-XII dari keduabelas jilid asal ditulis lagi dengan tinta emas atas perintah Pakubuwana VII untuk dihadiahkan kepada Universitas Leiden (Soebardi, 1971: 332).
Titika Wisma (kedua teks dalam satu jilid tersebut sangat mirip isi dan redaksinya) memiliki konsern yang berbeda. Nampaknya teks ini lebih ditujukan kepada (calon) pemilik rumah daripada manual tukang yang akan mengerjakan pembangunan rumah, sehingga kita jumpai dalam naskah ini petunjuk memilih tukang (undhagi) yang dapat dipasrahi pekerjaan, dapat diajak berdialog, dan mengerjakan secara ikhlas (h. 14) yang jelas merupakan urusan pemilik rumah. Informasi-informasi yang kita dapati dalam Centhini dan Kawruh Griya disampaikan secara lebih terstruktur (misalnya, terminologi elemen-elemen bangunan diurutkan secara alfabetis, kaurutaken dhenta-ywanjananipun) serta populer dan ringkas (misalnya, tipologi bentuk bangunan yang dalam Centhini dan Kawruh Griya didefinisikan secara verbal berkepanjangan menurut jumlah dan proporsi elemen konstruksinya, pada naskah ini disampaikan secara grafis dengan proyeksi ortogonal berupa, tampak depan, tampak samping dan tampak atas).
Elaborasi khusus paling nampak dalam teks ini terutama berkaitan dengan hal-hal yang harus dilakukan, dipersiapkan atau ditentukan oleh pemilik rumah. Pemilihan tukang,
Naskah dan Arsitektur Satu -41
penentuan hari, perlengkapan ritual (abon-abon) dan sajèn, dan pemasangan
dekorasi/ornamen mendapatkan babnya tersendiri yang panjangnya bahkan melebihi bab deskripsi tipe rumah.
Sangat berbeda dari teks-teks di atas, Kawruh Kalang yang kita bahas memiliki penekanan yang kentara pada dimensi teknis pembangunan yang mengindikasikan naskah ini ditujukan sebagai pegangan para tukang/ahli bangunan untuk bekerja. Prosedur mendirikan konstruksi bangunan dan cara pembuatan elemen-elemen konstruksi mendapat porsi yang paling besar pada naskah ini. Tiang, balok, umpak sampai ke ornamen, rinci-rinci sambungan dan teknik pemasangan elemen konstruksi tersebut dijelaskan lengkap secara verbal maupun dengan gambar-gambar. Bagian penting seperti bubungan mendapatkan penjelasan sampai lebih dari tiga halaman.
Dengan penekanan pada rinci dan konstruksi pada naskah ini kita jumpai ekspresi status pemilik pada elemen tersebut. Satu-satunya larangan yang ditetapkan oleh Kraton karena menjadi privilege raja pada ketiga naskah di atas adalah tipe bangunan limasan sinom tidak disebutkan dalam Kawruh Kalang. Alih-alih menyebutkan privilege pada tipe tersebut, teks ini mengatakan yang menjadi larangan adalah ganja, bagian kecil yang menjadi kepala kolom, yang dikhususkan hanya di kraton.
Karena mitologi bukan konsern teks ini maka kisah Prabu Jayabaya yang memerintahkan konstruksi kayu pertama hanya disebut dalam beberapa baris. Adipati Santan yang
Naskah dan Arsitektur Satu -42
mengusulkan hal tersebut ke Sang Prabu dan Prabu Widayaka yang melembagakan korps kalang tidak disebut sama sekali. Bagian-bagian naskah disusun tidak terstruktur seakan naskah ini hanya bendelan catatan-catatan lepas sang tukang sehingga bagian- bagian tentang pétungan atau tipe bangunan dapat kita jumpai di beberapa bagian yang berbeda atau diulang pada bagian yang berurutan. Keterkaitan dengan informasi dari versi Centhini yang kita bicarakan juga cukup longgar; misalnya sementara bentuk limasan dalam ketiga naskah di atas memiliki 10 sub-tipe dalam Kawruh Kalang hanya kita
dapatkan 7 sub-tipe, begitu juga deskripsi 16 jenis kayu yang pengaruhnya buruk hanya kita dapati 8 pada teks ini.
Baléwarna dan Rasionalisasi
Titika Wisma menggambarkan adanya suatu ancaman dari luar terhadap tradisi warisan leluhur [ingkang sami pinarsudi dateng para kawiradya ing jaman semangké, éman sanget bilih ngantos ical taleripun, déning kejawi lajeng kesuk dhateng seserepan sanès] sehingga perlu ada tindak penyelamatan pengetahuan melalui penulisan. Sementara itu, paradigma lain yang mungkin melatarbelakangi ancaman tersebut sedang bekerja pada arah yang berlawanan, hampir secara diametral. Seakan cara pandang ini mengatakan “tradisi (arsitektur) yang berkembang tidak bisa diteruskan.”
Paradigma kontra tradisi ini di antaranya juga disampaikan lewat tulisan seorang mantri guru sekolah rakyat pribumi (pamulangan angka II) dari Krêtêk (barangkali kota kecil di