• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pada Desember 2019 pertama kali muncul sebuah kasus pneumonia yang dilaporkan di Wuhan, Hubei, Cina. Yang akhirnya penyakit ini merambat dengan cepat ke negara-negara lain di seluruh dunia. Menurut WHO awalnya penyakit ini dinamakan sementara sebagai 2019 novel coronavirus (2019-nCoV), kemudian WHO mengumumkan nama baru pada 11 Februari 2020 yaitu Corona Virus Disease (COVID-19) yang disebabkan oleh virus Severe Aute Respiratory Sydrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Dimana penyakit ini dapat mengakibatkan penderita mengalami demam, batuk, pilek, sulit bernafas, bahkan menyebabkan sebuah kasus kematian. Pengidap penyakit ini kadang tidak bergejala sehingga penyebarannya akan sangat sulit terdeteksi dari orang yang mengidap penyakit tanpa gejala ini. Sehingga pada saat ini Covid-19 menjadi sebuah pandemi yang tersebar di seluruh dunia yang masih di uji coba untuk mendapatkan vaksin penyembuhannya. Dengan kata lain Covid-19 merupakan sebuah penyakit yang tergolong baru dimana disebabkan oleh virus yang kini telah menjadi sebuah pandemi.

Penyebaran virus kini sudah merata di seluruh dunia hampir di setiap negara dan disebut dengan pandemi. Pandemi merupakan penyebaran suatu penyakit atau wabah yang bergerak melintas ke teritorial negara-negara dan merupakan skala besar dari epidemi (Muis, 2020). Hingga saat ini data terbaru di dunia pada 21 November 2020 ada 641.669 kasus baru, 57.274.018 kasus yang terkonfirmasi, dan 1.368.000 meninggal dunia karena Covid-19 (WHO, 2020). Sedangkan di Indonesia sendiri menurut Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional terkonfirmasi positif pada tanggal 21 November 2020 terkonfirmasi positif 493.308, sembuh 413.955, dan meniggal dunia 15.774 jiwa. Angka yang cukup besar dan terhitung cepat dalam proses penularannya.

commit to user

(2)

2 Pandemi Covid-19 yang terjadi dan tersebar hampir seluruh negara di dunia mengakibatkan harus adanya sikap kebiasaan baru yang harus diterapkan. Salah satunya dengan mengedepankan kabiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam melakukan kegiatan kesehariannya. Perilaku hidup sehat seharusnya sudah dibiasakan sejak kecil untuk menjaga kesehatan. Kesehatan baik untuk diri sendiri mupun lingkungan. Menurut Priyoto (2015) perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan seta lingkungan. Diharapkan dengan dilakukannya PHBS oleh individu dapat mengurangi angka penyebaran virus ini. Semakin bertambahnya kasus dan membludaknya pasien di setiap negara dan fasilitas kesehatan yang kurang menjadi keprihatinan tersendiri. Di Indonesia pun mengalami hal yang sama dengan negara lain karena vaksin untuk virus tersebut belum bisa diterapkan saat ini. Pada akhirnya di Indonesia pemerintah turun tangan dan keluarlah Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/382/2020 tentang protokol kesehatan bagi masyarakat di tempat dan fasilitas umum dalam rangka pencegahan dan pengendalian Corona Virus Disease 2019.

Dimana protokol kesehatan khususnya bagi perlindungan kesehatan individu didalam Bab II meliputi agar masyarakat menggunakan masker, sering mencuci tangan dengan air sabun atau handsanitizer, menjaga jarak (social distancing), dan menerapkan PHBS. Menggunakan alat pelindung diri berupa masker yang menutupi hidung hingga dagu saat keluar rumah atau berinteraksi dengan orang lain yang tidak diketahui status kesehatannya; Membersihkan tangan secara teratur dengan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atay menggunakan cairan antiseptik berbasis alkohol/handsanitizer; Menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain untuk menghindari terkena droplet dari orang yang bicara, batuk, atau bersin, serta mnghindari kerumunan, keramaian, dan berdesakan; Meningkatnya daya tahan tubuh dengan menerapkan Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS) seperti mengkonsumsi gizi seimbang, aktivitas fisik minimal 30 menit sehari dan istirahat yang ukup (minimal 7 jam), serta menghindari faktor resiko penyakit (Keputusan MenKes, 2020).

commit to user

(3)

3 Di Taiwan tentang sikap pencegahan Covid-19 menunjukkan sikap pencegahan yang efektif dan kepatuhan yang ketat terhadap peraturan yang berlaku (Hsu,C. H., Lin, H. H., Wang, C. C., & Jhang, S, 2020). Begitu juga di Vietnam dalam tindakan pencgahan Covid-19 membuktikan bahwa orang dewasa di Vietnam memiliki kepatuhan yang tinggi terhadap perilaku pencegahan baik pribadi maupun komunitas (Nguyen, N. P. T et all, 2020). Di Cina terdapat perbedaan perilaku preventif Covid-19 antara penduduk perkotaan dan pedesaan.

Yang menunjukkan dengan media saat ini tentang pencegahan Covid-19 tidak sepenuhnya memenuhi kebutuhan spesifik penduduk pedesaan. Ini menjadikan penduduk desa cenderung tidak terlibat dalam proses penilaian informasi yang bijaksana dan mengadopsi tindakan yang tepat. Selain itu untuk menyesuaikan pesan kesehatan dalam rangka memenuhi kebutuhan unik penduduk pedesaan dapat menjadi strategi yang efektif untuk mempromosikan perilaku kesehatan preventif terhadap Covid-19 (Chen, X.,&Chen, H, 2020). Sedangkan di Indonesia khususnya DKI Jakarta masyarakat sudah melakukan budaya cuci tangan dan melakukan kebersihan diri (Budiningsih dkk, 2020). Hal ini membuktikan adanya kesadaran untuk melakukan pencegahan penularan virus Covid-19. Namun dalam masyarakat desa sendiri perlu informasi khusus agar masyarakat desa mau dan terlibat dalam upaya pencegahan Covid-19.

Tentunya pandemi ini berdampak pada banyak bidang baik ekonomi maupun sosial. Salah satunya pada bidang pertanian dimana sektor yang bergerak didalam pertanian menjadi sangar penting karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Ketika adanya permasalahan yang berkaitan dengan pertanian menjadi mengguncangkan beberapa sektor yang lain. Dengan adanya pandemi Covid-19 menjadi berubahnya tatanan hidup masyarakat Indonesia bahkan masyarakat dunia.

Di India pun tak lepas dari dampak pandemi ini yang menjadikan masyarakat banyak yang kelaparan hingga menyababkan kematian karena peraturan pemerintah yang menerapkan sistem Lock-down. Paling terkena dampak adalah peternakan sapi perah, pemeliharaan bunga, produksi buah-buahan, perikanan, dan peternakan unggas (Kumar A.et al, 2020). Hal ini menyebabakan krisis pertanian dan menjadikan minimnya ketersediaan pangan di masyarakat desa.

commit to user

(4)

4 Di Indonesia tidak menerapkan sistem lock down secara nasional namun menerapkan pembatasan berskala besar pada wilayah tertentu. Yang tujuannya sama yaitu mencegah penyebarluasan penularan virus Covid-19. Beberapa pasar, pusat perbelanjaan, dan fasilitas umum ada yang ditutup yang mengakibatkan terguncangnya kegiatan perekonomian. Bidang pertanian sendiri menjadi salah satu sektor yang terkena dampaknya. Dimana para petani di Indonesia memiliki peran penting untuk lebih memenuhi kebutuhan pangan di negara sendiri. Karena kegiatan ekspor impor juga sedikit terhambat dan kebanyakan negara memerlukan kebutuhan pangan di negara masing-masing.

Di Jawa Tengah sendiri Ganjar Pranowo menerapkan sistem Jogo Tonggo dalam pencegahan peularan Covid-19. Dimana saling menjaga dan memperhatikan warga yang memiliki gejala-gejala yang menjurus ke pengidap virus Covid-19 segera dilaporkan kepada pihak yang berwenang untuk menindaklanjutinya. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat membantu mengurangi resiko penyebarluasan virus ini. Selain itu masyarakat pengidap virus Covid-19 lebih cepat mendapat penanganan dan mengurangi resiko kematian.

Kondisi penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian pada tahun 2019 mencapai 87,50% (BPS, 2020). Sedangkan menurut data Badan Pusat Statistik Indonesia mengerucut pada provinsi Jawa Tengah mencapai 92,99%. Ini merupakan angka yang termasuk tinggi pada tenaga kerja yang bekerja di bidang pertanian. Di Desa Rambeanak sendiri menurut data yang diperoleh dari data monografi Desa Rambeanak yang memiliki mata pencaharian sebagai petani sebanyak 2.176 jiwa. Ini didukung karena kondisi yang termasuk dalam pedesaan dan banyak pematang sawah yang ada. Desa ini juga dekat dengan gunung merapi yang masih aktif dan hanya berjarak 24 KM saja. Tanah di desa ini menjadi subur karena abu vulkanik yang dimuntahkan menjadi pupuk alami sehingga daerah ini menjadi subur. Hal ini menjadi cocok untuk daerah pertanian sehingga kebanyakan warga bermatapencaharian sebagai petani.

Biasanya kemiskinan dikaitkan dengan masyarakat pedesaan yang mayoritas penduduknya bekerja di dalam sektor pertanian. Ini dipandang sebelah commit to user

(5)

5 mata biasanya karena di sebuah desa pekerjaan hanya homogen dan sama yaitu sebagai petani biasanya. Kurangnya ketrampilan, skill, dan pendidikan yang cenderung rendah mengakibatkan banyaknya petani yang kurang maju. Selain faktor internal tersebut faktor ekternal yang menyebabkan petani tetap menjadi miskin karena kurangnya wadah atau fasilitas-fasilitas yang digunakan untuk memajukan sektor pertanian. Sehingga pertaniannya tidak berkembang dan cenderung menjadi masyarakat miskin yang berkelanjutan.

Ada kasus petani di Kota Batu yang terkena virus Covid-19 (Republika, 22/5/2020). Dalam kasus ini seorang petani sering keluar kota untuk mengantarkan sayurannya. Sehingga terjadi kontak dengan orang lain dan kurangnya menerapkan protokol kesehatan. Yang menjadikan petani tersebut tertular virus Covid-19 ini.

Selain itu kasus serupa juga terjadi di Kabupaten Lebak Banten dengan positifnya seorang petani (Republika, 21/5/2020). Dan seorang petani ini menjadi pasien Covid-19 pertama di Lebak Banten. Sebagai seorang petani yang cenderung bekerja di tempat yang kotor akan sangat rentan terkena penyakit maupun virus. Seseorang dengan kebersihan diri saja dapat terkena penyakit contohnya penyakit kulit. Dari hasil penelitian 9 responden 4 melakukan kebersihan dan 5 mengalami gangguan penyakit kulit. Dari 4 responden dengan menerapkan kebersihan diri 22,7%

responden mengalami penyakit kulit (Modjo, Y, 2019).

Kesehatan petani menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (2021) survei sensus pada pelaku agri tahun 2017 menunjukkan usia rata-rata operator pertanian hampir 58 tahun usianya, setidaknya sepuluh tahun lebih tua dari pekrja di sebagian besar sektor lainnya. Ini menjadi usia yang rentan terkena Covid- 19 karena termasuk ke dalam kategori lansia. Jika nantinya Covid-19 menyerang para petani di Indonesia maka akan berdampak buruk bagi produksi pangan di Indonesia. Mereka terus berada di bawah sistem ekonomi kapitalistik, dengan kemiskinan direproduksi oleh dirinya sendiri yang ditandai kondisi kekurangan gizi (Simanjuntak dan Erwinsyah, 2020). Padahal oleh pemerintah dicanangan untuk memakan makanan yang bergizi agar dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Sehingga jika daya tahan tubuh kuat akan menjadikan tubuh lebih kebal akan commit to user

(6)

6 penularan penyakit maupun virus. Termasuk juga dengan virus Covid-19 yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Ini menjadikan petani miskin semakin rentan tertular karena bekerja di tempat yang kotor, bertemu orang daerah lain untuk penjualan hasil pertanian, dan kurangnya mengkonsumsi makanan yang bergizi.

Mengerucut pada data Kabupaten Magelang yang kini termasuk dalam zona merah kasus Covid-19. Menurut Pusat Informasi Seputar Covid-19 Di Kabupaten Magelang terkonfirmasi 2.160 jiwa, 1.397 jiwa sembuh, dan 61 jiwa meninggal.

Sedangkan di Desa Rambeanak terdapat satu konfirmasi warga kasus positif Covid- 19 semenjak 19 November 2020. Di Desa Rambeanak dalam pencegahan penularan Covid-19 dengan membentuk satgas Covid-19 yang bertugas turun tangan pertama jika ada warga yang bergejala maupun mengidap virus tersebut. Selain itu juga wajib lapor ke ketua RT/RW maupun satgas Covid-19 setempat jika ada warga yang setelah bepergian atau datang dari wilayah zona merah Covid-19 agar didata dan diminta untuk karantina.

Peneitian ini bertujuan untuk menggambarkan perilaku hidup sehat yang dilakukan oleh petani yang berada di desa Rambeanak, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Tentunya pada individu yang memiliki pekerjaan sebagai petani yang terdapat di desa tersebut. Termasuk didalamnya faktor pendorong dan faktor penghambat pencegahan penyebaran virus Covid-19 pada petani. Tak lupa juga termasuk dampaknya bagi kehidupan keseharian petani itu sendiri. Dimana akan dikaji dengan teori-teori Sosiologi yang mengedepankan unsur perilaku individu untuk diteliti lebih dalam. Selain itu kebiasaan baru karena adanya peraturan pemerintah yang harus dipatuhi tentang protokol kesehatan pada petani yang diterapkan.

Penelitian ini menjadi penting dan menarik dilakukan karena di masa pandemi ini petani desa yang notabene memiliki pendidikan yang rendah dan cenderung memilih sesuatu yang simpel harus mematuhi peraturan pemerintah.

Diantaranya harus memakai masker, mencuci tangan sesering mungkin, menerapkan social distancing, dan melakukan PHBS. Peraturan tersebut harus dilakukan dan diterapkan dalam kesehariannya sebagai petani di desa. Selain itu commit to user

(7)

7 penelitian ini menjadi menarik karena di Desa Rambeanak terdapat seorang yang terjangkit virus Covid-19. Lalu seseorang tersebut sembuh dan tidak menular pada warga lain seperti di desa lainnya. Kesadaran masyarakat pedesaan yang kurang memperhatikan kesehatannya menjadi tantangan tersendiri untuk menerapkan PHBS dikeseharian mereka. Dimana kegiatan yang dilakukan di sawah/ladang tentunya ada yang dilakukan tidak sendiri dan harus bersama orang lain. Hal ini menjadi rentan adanya penularan virus ini dari petani satu ke petani yang lain.

Menariknya dimana usaha perilaku yang dilakukan petani miskin untuk menjaga dirinya tetap sehat dan tidak tertular virus dari individu atau petani yang lain.

Adanya kasus-kasus yang terjadi dan beberapa alasan yang telah disebutkan diatas menjadi dasar pembuatan penelitian dengan judul “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam Pencegahan Covid-19 (Studi Kasus Pada Petani Miskin di Desa Rambeanak, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah)”. Dengan judul tersebut peneliti ingin mengungkap perilaku hidup bersih dan sehat yang dilakukan oleh kalangan petani miskin yang tinggal di Desa Rambeanak. Yang nantinya diharapkan menjadi penelitian yang bermanfaat dan dapat dikembangkan oleh peneliti lain. Serta diharapkan mampu meningkatkan kesadaran untuk melakukan perilaku hidup bersih dan sehat dikalangan petani. Selain itu masyarakat tidak cenderung menyepelekan pandemi Covid-19 yang dapat memiliki dampak kematian bagi pengidap yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam pencegahan Covid-19 pada petani miskin?

2. Bagaimana faktor pendorong dan penghambat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam pencegahan Covid-19 pada petani miskin?

3. Bagaimana dampak Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam pencegahan Covid-19 pada petani miskin?

commit to user

(8)

8 C. Tujuan

Tujuan:

1. Mengetahui dan menggambarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam pencegahan Covid-19 pada petani miskin..

2. Mengetahui dan menggambarkan faktor pendorong dan penghambat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam pencegahan Covid-19 pada petani miskin.

3. Mengetahui dan menggambarkan dampak Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam pencegahan Covid-19 pada petani miskin.

D. Manfaat

1. Manfaat teoritik:

a. Hasil penelitian nantinya dapat memperkaya pengetahuan dan wawasan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam kajian Sosiologi Kesehatan.

2. Manfaat praktis:

a. Memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Sudi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret.

b. Penelitian ini nantinya dapat menjadi referensi bagi pembaca dan peneliti lain mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat masalah atau pertanyaan yaitu apakah ada hubungan antara pola hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare pada anak di

http://digilib.unimus.ac.id 5 Dari uraian serta data PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) dan data kesakitan diare di wilayah kerja Puskesmas Karang Tengah di

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan perilaku yang dipraktekkan oleh Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan perilaku yang dipraktekkan oleh setiap indi#idu

Dengan alasan diatas maka penulis tertarik untuk mengangkatnya dalam bentuk tulisan dengan judul ”Teknik Pemeriksaan Shoulder Joint pada Kasus Dislokasi

Kasus kejadian kecelakaan tangki penyimpanan yang telah disebutkan diatas, sebagian besar merupakan kasus kebakaran, sehingga perlu di ketahui bagaimana tingkat

Pembahasan diatas menunjukkan bahwa mahasiswa yang beroganisasi kurang peduli dengan pola hidup sehat yang memiliki resiko jangka panjang, seperti pernyataan David

Faktor lain yang dapat meningkatkan kematian ibu adalah rendahnya akses dan kualitas pelayanan ibu dan anak, kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat,

Rumusan Masalah Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Pengaruh Pendidikan Kesehatan Dengan Media Video Animasi Terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat PHBS Pada