INTERAKSI SOSIAL MAHASISWA PENDATANG DENGAN MASYARAKAT LOKAL DI YOGYAKARTA
(Kajian Deskriptif di Asrama Mahasiswa AMKT Mangkaliat Yogyakarta)
SKRIPSI
Diajukan KepadaFakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta untuk
Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan
Oleh: Mega Oktaviani
12413244005
JURUSAN PENDIDIKAN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL
ii MOTTO
“Sesuatu mungkin mendatangi mereka yang mau menunggu, namun hanya
didapatkan oleh mereka yang bersemangat mengejarnya”
(Abraham Lincoln)
“Not everything will go as you expect in your life. This is why you need to drop
expectations and go with the flow of life”
iii
PERSEMBAHAN
Segala puji bagi Allah SWT yang selalu mencurahkan Rahmat dan
Karunia-Nya. Sholawat serta salam tidak lepas dihaturkan kepada Nabi Muhammad
SAW yang senantiasa menjadi suri teladan dna selalu menginspirasi
Karya ini saya persembahkan untuk:
Kedua orangtua saya, terima kasih atas cinta dan kasih sayang yang senantiasa
mengalir, untaian doa yang tak henti dipanjatkan, dukungan baik secara materi
maupun motivasi yang selalu tercurah, serta pengorbanan kalian yang tak bisa
iv
“Interaksi Sosial Mahasiswa Pendatang dengan Masyarakat Lokal di Yogyakarta (Kajian Deskriptif di Asrama Mahasiswa AMKT Mangkaliat
Yogyakarta)” Oleh: Mega Oktaviani NIM. 12413244005
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara berbaur mahasiswa pendatang dalam berinteraksi dengan masyarakat lokal di Kelurahan Cokrodiningratan RT 13 serta dampak apa saja yang dirasakan oleh mahasiswa dari interaksi yang terjalin dengan masyarakat lokal di sekitar lingkungan asrama tepatnya di RT 13.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Validitas data menggunakan triangulasi sumber. Proses analisis data penelitian ini menggunakan analisis model interaktif Miles dan Huberman.
Hasil penelitian ini menunjukkan cara berbaur yang dilakukan mahasiswa pendatang dalam proses interaksi dilakukan melalui hal keagamaan, kemampuan dan potensi diri, melalui kegiatan asrama dan kegiatan warga, dan melalui bertegur sapa dengan masyarakat sekitar. Selanjutnya, dampak yang dirasakan oleh mahasiswa pendatang terhadap interaksi yang terjalin dengan masyarakat lokal memberikan dampak yang positif seperti, lebih memudahkan dalam peminjaman alat-alat rumah tangga, lebih ingin mengetahui kebudayaan daerah lain, mengajarkan kehidupan berorganisasi dan bermusyawarah, dan meningkatkan tata karma anak asrama terhadap kehidupan sosial mereka. Mereka mendapatkan banyak pelajaran yang bermanfaat selama tinggal di lingkungan asrama.
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
karuniaNya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan Tugas Akhir Skripsi yang
berjudul “Interaksi Sosial Mahasiswa Pendatang dengan Masyarakat Lokal di
Yogyakarta (Kajian Deskriptif di Asrama Mahasiswa AMKT Mangkaliat
Yogyakarta)”. Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada nabi Muhammad
saw, keluarga, sahabat serta seluruh umatNya di seluruh dunia. Dalam
mengerjakan Tugas Akhir Skripsi, penulis banyak memdapatkan bantuan, saran,
serta bimbingan dari berbagai pihak, sehingga pada kesempatan ini, penulis
menyampaikan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd, M.A, selaku Rektor Universitas Negeri
Yogyakarta atas segala kebijakan, sehingga peneliti dapat menyelesaikan
tugas akhir skripsi sebagai syarat guna memperoleh gelar sarjana Strata Satu
(S1) pada Jurusan Pendidikan Sosiologi
2. Prof. Dr. Ajat Sudrajat, M.Ag, selakuDekan Fakultas Ilmu Sosial, Universitas
Negeri Yogyakarta atas kebijakan dan ijin penelitian yang diberikan sehingga
penelitian ini dapat diselesaikan
3. Ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi, Bapak Grendi Hendrastomo, MM, MA
atas segala kebijakan dan ijin, sehingga penelitian ini dapat diselesaikan
4. Ibu Poerwanti Hadi Pratiwi, M.Si selaku dosen pembimbing Tugas Akhir
vi
bimbingan, dukungan serta arahan yang membangun kepada peneliti sehingga
Tugas Akhir Skripsi ini dapat diselesaikan
5. Bapak Adi Cilik Pierewan, Ph.D selaku narasumber dan penguji utama yang
telah memberikan saran dan masukan yang membangun dalam penulisan
Tugas Akhir Skripsi ini
6. Ibu Puji Lestari, M.Hum selaku ketua penguji yang telah memberikan saran
dan masukan yang membangun dalam penulisan Tugas Akhir Skripsi ini.
7. Seluruh dosen pengampu di Jurusan Pendidikan Sosiologi yang telah
memberikan ilmu yang bermanfaat sebagai bekal penulisan TAS dan
kehidupan penulis dikemudian hari
8. Kepada kedua orangtua saya, Almarhum Bapak Dariyun, Ibu Sumiati dan
kakak saya Singo Ibrahim yang telah memberikan dukungan baik dalam
bentuk materi, maupun motivasi sehingga penulis bisa sampai pada tahap ini.
9. Seluruh informan yang telah bersedia memberikan keterangan yang berharga
sehingga penelitian guna Tugas Akhir Skripsi ini dapat selesai
10.Untuk semua teman-teman Pendidikan Sosiologi angkatan 2012, terutama
Abadi Akbar, Hilyatul Jannah, Rahma Dewi Agustin, Febria Linggawati, dan
Diah Agil Saputri terima kasih atas semua dukungan dan kebersamaannya
selama masa studi di Pendidikan Sosiologi hingga laporan skripsi ini selesai
dan seterusnya.
11.Keluarga kos Jalan Flamboyan gang Nusa Indah No.2, Karang Asem-Catur
Tunggal yang tidak bisa sebut satu per-satu terimakasih atas dukungan dan
vii
12.Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini yang tidak bisa
penulis sebutkan satu per-satu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu
saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Semoga
skripsi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat secara umum maupun bagi
mahasiswa Pendidikan Sosiologi khususnya.
Yogyakarta, Juni 2016
Penulis,
viii
B. Identifikasi Masalah ... 5
C. Batasan Masalah ... 6
D. Rumusan Masalah ... 7
E. Tujuan Penelitian ... 7
F. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR ... 10
A. Kajian Pustaka ... 10
1. Kajian Interaksi Sosial ... 10
2. Kajian Kelompok Sosial ... 22
B. Kajian Teori ... 23
1. Kajian Interaksionisme Simbolik ... 27
C. Penelitian Yang Relevan ... 32
D. Kerangka Pikir ... 34
BAB III. METODE PENELITIAN ... 36
A. Bentuk Penelitian ... 36
B. Lokasi Penelitian ... 36
C. Waktu Penelitian ... 36
D. Sumber Data Penelitian ... 36
E. Teknik Pengumpulan Data ... 37
F. Teknik Pemilihan Informan Penelitian ... 39
G. Validitas Data ... 40
ix
BAB IV. PEMBAHASAN DAN ANALISIS ... 44
A. Deskripsi Umum Data ... 44
1. Profil Asrama AMKT Mangkaliat ... 44
2. Profil Informan ... 57
B. Diskusi dan Pembahasan Temuan Penelitian ... 66
1. Cara Berbaur Mahasiswa AMKT Mangkaliat dengan Masyarakat Lokal ... 60
2. Dampak Interaksi Mahasiswa AMKT Mangkaliat dengan Masyarakat Lokal ... 73
C. Pokok-pokok Temuan ... 77
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 79
A. Kesimpulan ... 79
B. Saran ... 80
DAFTAR PUSTAKA ... 83
x
DAFTAR BAGAN
Bagan 1 Kerangk Pikir………32
Bagan 2 Model Analisis Interaktif Miles dan Huberman………40
Bagan 3 Diagram Batang Keanggotaan Penghuni Asrama………45
xi
DAFTAR TABEL
xii
DAFTAR LAMPIRAN
1. Tabel Kode Hasil Wawancara………86
2. Pedoman Observasi………....87
3. Transkrip Hasil Wawancara………90
4. Daftar Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah dan Asrama Mahasiswa
Daerah di Yogyakarta………120
5. Daftar Penghuni Asrama AMKT Mangkaliat………124
6. Tata tertib Peraturan Asrama……….126
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara majemuk yang memiliki suku bangsa dengan
perbedaan kebudayaan, bahasa dan ras. Jika dilihat dari individu dan kelompok
sosial yang saling bertemu, menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan
tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan yang menyebabkan
goyahnya pola-pola kehidupan yang telah ada (Soekanto, 2010). Sejak dulu para
ahli antropologi tertarik pada peristiwa pertemuan dua kebudayaan atau lebih,
terutama sejauh mana hal tersebut dapat menyebabkan perubahan, baik sosial
maupun budaya. Sementara itu, juga disadari bahwa berubahnya unsur-unsur
suatu kebudayaan tidak selalu dapat diartikan sebagai kemajuan, namun dapat
pula dianggap sebagi kemunduran suatu masyarakat. Untuk memahami pertemuan
dua kebudayaan atau lebih di kalangan suku-suku bangsa dan kebudayaan di
Indonesia yang beranekawarna, perlu dikaji berbagai bentuk interaksi sosial yang
terjalin diantara mereka.
Manusia sebagai makhluk sosial juga tentunya saling berinteraksi dengan
sesamanya dalam menjalin pergaulan sosial dalam suatu kelompok sosial.
Interaksi sosial menjadi kunci dari semua kehidupan sosial karena tanpa interaksi
sosial, tidak akan mungkin ada kehidupan bersama. Bertemunya
orang-perorangan secara badaniah saja tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam
2
atau kelompok-kelompok manusia bekerja sama, saling bicara, dan melakukan
hal-hal yang menunjang keterlibatan mereka dalam sebuah interaksi sosial untuk
mencapai suatu tujuan bersama. Masyarakat juga mempunyai bentuk-bentuk
struktural seperti, kelompok-kelompok sosial, kebudayaan, lembaga sosial,
stratifikasi, dan kekuasaan, tetapi semuanya mempunyai suatu derajat dinamika
tertentu yang menyebabkan pola-pola perilaku yang berbeda, tergantung dari
masing-masing situasi yang dihadapi.
Bentuk-bentuk struktural dan bertemunya dua kebudayaan atau lebih
dalam suatu masyarakat tentunya akan membangun sebuah proses sosial yang
berbeda. Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial karena interaksi sosial
merupakan syarat utama terjadinya aktifitas-aktifitas sosial. Interaksi sosial
merupakan hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan antara
perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara
orang-perorangan dengan kelompok manusia. Apabila dua orang bertemu, interaksi
sosial dimulai pada saat itu. Walaupun orang-orang yang bertemu muka tersebut
tidak saling berbicara, interaksi sosial telah terjadi (Soekanto, 2010: 55).
Semakin majemuknya suatu corak masyarakat dalam suatu daerah, baik
dalam keragaman etnis, keragaman kultural, dan keragaman agama, proses
interaksi sosial tidak selalu dapat berjalan dengan baik. Seperti halnya di
Yogyakarta, kedatangan orang-orang dari berbagai suku bangsa dan etnik ke
Yogyakarta mengakibatkan corak masyarakat di Yogyakarta menjadi majemuk.
Kebanyakan pendatang yang datang ke Yogyakarta merupakan para pelajar dan
3
maupun di asrama untuk menuntut ilmu. Proses terjadinya interaksi sosial
tentunya berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapi masing-masing
individu atau kelompok yang memiliki karakteristik yang berbeda karena berasal
dari daerah-daerah yang berbeda pula.
Para mahasiswa yang datang ke Yogyakarta sebagaian besar berkumpul
dalam sebuah himpunan yang biasanya disebut Ikatan Keluarga Pelajar
Mahasiswa Daerah (IKPM). IKPM merupakan perwakilan himpunan mahasiswa
yang berasal dari daerah yang sama sebagai wadah pemersatu seluruh mahasiswa
dan berperan penting dalam memberikan informasi bagi mahasiswa. Keberadaan
asrama mahasiswa daerah yang ada di Yogyakarta dapat diketahui dari data Dinas
Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY (DIPKORA) sejumlah 56 asrama dari 63
IKPM yang ada di Yogyakarta. (Daftar data asrama terlampir)
Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa ada beberapa IKPM yang
bertanggung jawab atas satu asrama dan ada pula yang bertanggung jawab atas
lebih dari satu asrama mahasiswa daerah. Setiap himpunan mahasiswa memiliki
keunikan maupun permasalahan tersendiri dalam proses interaksinya. Para
mahasiswa pendatang pastinya menemui permasalahan dalam berinteraksi karena
menemukan situasi yang berbeda dengan kehidupan di tempat asalnya. Mereka
berusaha untuk menghindari hal-hal yang menimbulkan kesalahpahaman dalam
pergaulan dengan masyarakat lokal. Mereka berusaha untuk menyesuaikan dan
menghargai nilai-nilai yang dianut masyarakat setempat.
Pembauran yang dilakukan mahasiswa pendatang tentunya tidak selalu
ketegangan-4
ketegangan, misalnya; upaya penonjolan etnis masing-masing dan sifat
etnosentrik yang merasa budaya dari kelompoknya lebih baik dibandingkan
budaya dari kelompok lain.
Berkaitan dengan permasalahan proses interaksi yang dibahas dalam
penelitian ini, komisi D DPRD DIY mengharapkan mahasiswa Kalimantan Timur
yang sedang menuntut ilmu di Yogyakarta untuk bisa berbaur dan bergaul dengan
masyarakat sekitar terutama masyarakat asli Yogyakarta. Terlalu lama tinggal di
asrama dan hanya bergaul dengan orang daerah asal bisa menimbulkan
munculnya eksklusivitas dan hegemoni daerah asal. Masalah-masalah ini banyak
ditemukan di asrama-asrama daerah. Pandangan mengenai nilai-nilai budaya yang
berbeda tentunya menjadi momok bagi mereka untuk bisa berbaur dengan
masyarakat sekitar sehingga lebih banyak bergaul dengan teman dari daerah asal.
Hal ini berpengaruh pula pada pergaulan mereka dengan masyarakat sekitar.
Perbedaan nilai-nilai budaya berpengaruh pula pada sikap, tingkah laku, dan cara
interaksi masing-masing individu dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa penelitian mengenai interaksi sosial dalam sebuah masyarakat
maupun kelompok sosial telah banyak dilakukan oleh beberapa pakar. Wilbur
Zelinsky dan Barret A. Lee (1998) dalam karya ilmiahnya yang berjudul
“Heterolocalism: An Alternative Model of the Sociopatial Behaviour of Immigrant
Ethnic Communities” memaparkan mengenai sebuah model alternatif terhadap perilaku sociopatial etnis imigran yaitu heterolocalism sebuah pola berbasis keruangan yang mengkaji pola hubungan yang mengacu pada populasi dari
5
dilakukan oleh Ika Widyaningsih (2010), dalam skripsinya yang berjudul
“Interaksi Sosial Himpunan Mahasiswa Lampung di Yogyakarta” memaparkan
hubungan yang terjalin antara anggota himpunan, bentuk-bentuk interaksi yang
terjadi, dan dampak yang ditimbulkan dari interaksi sosial yang terjalin diantara
anggota himpunan. Penelitian-penelitian tersebut mengkaji tentang berbagai
bentuk dan proses interaksi sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat maupun kelompok sosial.
Penelitian ini dilakukan pada salah satu asrama Kalimantan Timur yang
ada di Yogyakarta yaitu asrama AMKT Mangkaliat. Banyaknya asrama
Kalimantan Timur di Yogyakarta tidak memungkinkan bagi peneliti untuk
melakukan penelitian pada semua asrama Kalimantan Timur yang ada, sehingga
peneliti memilih salah satu asrama yaitu AMKT Mangkaliat sebagai fokus
penelitian untuk mengetahui interaksi sosial yang terjalin antara mahasiswa
Kalimantan Timur dengan masyarakat lokal tepatnya di Jl. Pakuningratan No. 47,
JT. II, RT. 13, RW. 03, Kelurahan Cokrodiningratan, Kecamatan Jetis,
Yogyakarta. Selain itu juga mengetahui bagaimana cara mereka untuk membaur
dengan masyarakat sekitar melalui interaksi sosial yang terjalin.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat diidentifikasi berbagi masalah yang ada,
sebagai berikut:
1. Mahasiswa yang terlalu lama tinggal di asrama dan sering berkumpul
dengan orang daerah asal dapat menimbulkan eksklusivitas dan hegemoni
6
2. Perbedaan nilai-nilai budaya berpengaruh pada cara interaksi individu
dengan lingkungan sekitarnya.
3. Sikap etnosentrik dan tidak menerima kebudayaan kelompok lain menjadi
hambatan dalah proses interaksi sosial dengan masyarakat sekitar.
C. Batasan Masalah
Interaksi dan perilaku sosial mahasiswa Kalimantan dengan masyarakat
sekitar yang sangat kental dengan kebudayaan Jawa asli sangat menarik untuk
diteliti karena antara dua komunitas ini memiliki kebudayaan yang berbeda. Dari
hasil identifikasi masalah beberapa uraian diatas dan untuk menghindari
penafsiran yang berbeda-beda perlu adanya batasan masalah didalam
melaksanakan penelitian, sehingga pelaksanaan penelitian akan berjalan lebih
jelas dan terarah sesuai dengan tujuan penelitian. Berdasarkan identifikasi
masalah diatas dan mengingat terbatasnya kemampuan dan waktu yang ada, maka
permasalahan penelitian ini dibatasi pada bagaimana cara mereka dalam berbaur
dengan masyarakat sekitar melalui interaksi sosial yang terjalin dan apa saja
dampak yang dihasilkan dari interaksi sosial yang terjalin antara mahasiswa
Kalimantan timur di AMKT Mangkaliat dengan masyarakat lokal di sekitar
7 D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas maka diambil rumusan penelitian ini
yaitu:
1. Bagaimana cara berbaur mahasiswa AMKT Mangkaliat berbaur dengan
masyarakat lokal di sekitar asrama?
2. Apa saja dampak yang dihasilkan dari proses interaksi sosial tersebut bagi
mahasiswa AMKT Mangkaliat?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan yang
ingin dicapai oleh peneliti dalam penelitian ini yaitu:
1. Untuk mengetahui cara berbaur mahasiswa AMKT Mangkaliat dengan
masyarakat lokal di sekitar asrama.
2. Untuk mengetahui dampak yang terjadi dari proses interaksi mahasiswa
AMKT Mangkaliat dengan masyarakat lokal di sekitar asrama.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat, antara
lain sebagai berikut,
1. Manfaat teoritis
a) Menambah wawasan dan pengetahuan kepada pemerhati sosial,
mahasiswa pendidikan Sosiologi, mahasiswa lain, dan juga kepada
masyarakat pada umumnya mengenai pola interaksi sosial.
b) Berkonstribusi dan menambah wawasan mengenai kehidupan
8
ada di lingkungan sekitar untuk terhindar dari ketegangan-ketegangan
sosial yang ada.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Universitas Negeri Yogyakarta
Penelitian ini dapat menambah jumlah karya ilmiah mahasiswa, yang
adapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan untuk
mendapat pengetahuan baru dan sebagai bahan bacaan dalam
menambah wawasan yang berkaitan dengan pola interaksi dan
kehidupan masyarakat multi etnis.
b. Bagi Mahasiswa
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menambah referensi
sumber informasi dan baru mahasiswa lain.
c. Bagi Masyarakat Umum
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi
masyarakat luas mengenai bagaimana pola atau model interaksi sosial
masyarakat luar jawa dengan masyarakat asli yang sebelumnya
banyak menemui rasa penasaran mengenai bagaimana bentuk adaptasi
masyarakat pendatang dengan masyarakat setempat
d. Bagi Peneliti
1)Penelitian ini dilaksanakan untuk memenuhi tugas akhir dalam
mendapatkan gelar sarjana (S1) pada program studi Pendidikan
9
2) Memberikan tambahan wawasan, pengetahuan, dan
pengalaman sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan
10 BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Kajian Pustaka
1. Interaksi Sosial
Proses sosial merupakan salah satu pokok pembahasan dalam
sosiologi. Proses sosial yang dimaksud adalah pengaruh timbal balik
antara berbagai bidang kehidupan bersama. Kehidupan bersama itu dapat
dilihat sebagai beberapa segi atau aspek, yaitu segi kehidupan ekonomi,
segi kehidupan politik, segi kehidupan hukum, dan sebagainya (Taneko,
1984: 109). Proses sosial juga dapat diartikan sebagai cara-cara
berhubungan yang dapat dilihat apabila para individu dan
kelompok-kelompok saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk hubungan
tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang
menyebabkan goyahnya cara-cara hidup yang telah ada (Soekanto, 2010).
Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial terutama tampak
dalam kenyataan bahwa tidak ada manusia yang mampu hidup sebagai
manusia tanpa adanya bantuan orang lain. Realita ini menunjukkan bahwa
sebagai manusia hidup dalam antar hubungan , antraksi dan interdepensi
mengandung konsukuensi sosial baik bersifat positif maupun negatif.
Menurut Abu Ahmadi dalam (Ahmadi, 2009), interaksi sosial adalah
suatu hubungan dua orang atau lebih, dimana tingkah laku yang satu
11
Pada hakekatnya interaksi sosial merupakan syarat utama
terjadinya aktifitas-aktifitas sosial di masyarakat. Interaksi sosial yang
baik merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang
menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan dengan kelompok
manusia. Interaksi terjadi apabila dua orang atau kelompok saling bertemu
dan antara individu dengan kelompok, dimana komunikasi terjadi diantara
kedua belah pihak (Yulianti, 2003: 91). Komunikasi menjadi salah satu
syarat terjadinya interaksi sosial. Selain komunikasi terdapat pula kontak
sosial yang menjadi syarat terjadinya interaksi sosial. Maka dapat
disimpulkan bahwa kontak sosial dan komunikasi merupakan syarat
terjadinya interaksi sosial. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari
terjadinya hubungan sosial. Kontak pada dasarnya merupakan aksi dari
individu atau kelompok dan mempunyai makna bagi pelakunya, yang
kemudian ditangkap oleh individu atau kelompok lain. Penangkapan
makna tersebut menjadi pangkal tolak untuk memberikan reaksi. Kontak
dapat dilihat secara langsung, yaitu melalui gerak dari fisikal organisme
(action of physical organism). Adapun komunikasi muncul setelah kontak berlangsung pada perilaku orang lain. Terjadinya kontak belum berarti ada
komunikasi, oleh karena itu komunikasi itu timbul apabila seseorang
individu memberi tafsiran pada perilaku orang lain. Dengan tafsiran tadi,
lalu seseorang itu mewujudkan perilaku dimana perilaku tersebut
merupakan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang
12
pemberian tafsiran dan reaksi terhadap informasi yang disampaikan
(Taneko, 1984: 110). Dari penjabaran diatas dapat dinyatakan bahwa
syarat terjadinya interaksi adalah kontak dan komunikasi.
Selain adanya syarat terjadinya interaksi, ada pula aspek-aspek di
dalam interaksi sosial, yaitu:
a. Adanya hubungan
Setiap interaksi sudah pasti tentu terjadi karena adanya hubungan
antara individu dengan individu maupun antara individu dengan
kelompok.
b. Ada individu
Setiap interksi sosial menuntut tampilnya individu-individu yang
melaksanakan hubungan.
c. Ada tujuan
Setiap interaksi sosial memiliki tujuan tertentu seperti mempengaruhi
individu lain.
d. Adanya hubungan dengan struktur dan fungsi kelompok
Interaksi sosial yang ada hubungan dengan struktur dan fungsi
kelompok ini terjadi karena individu dalam hidupnya tidak terpisah
dari kelompok. Di samping itu, tiap-tiap individu memiliki fungsi di
dalam kelompoknya (Santoso, 2006: 11).
Di samping faktor-faktor tersebut diatas, dalam interaksi
13
tersebut yang menentukan berhasil tidaknya interaksi sosial.
Faktor-faktor yang dimaksud yaitu sebagai berikut:
a. The nature of the sosial situation
Situasi sosial itu bagaimanapun memberi tingkah laku terhadap
individu yang berada dalam situasi tersebut.
b. The norms pervailingin any given social group
Kekuasaan norma-norma kelompok sangat berpengaruh terhadap
terjadinya interaksi sosial antar individu.
c. Their own personality trends
Masing-masing individu memiliki tujuan kepribadian sehingga
berpengaruh terhadap tingkah lakunya.
d. A person’s transitory tendencies
Setiap individu berinteraksi sesuai dengan kedudukan dan
kondisinya yang bersifat sementara.
e. The process of perceiving and interpreting situation
Setiap situasi mengandung arti bagi setiap individu untuk melihat
dan menafsirkan situasi tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian dalam jurnal Lestari (2013),
ditemukan bahwa faktor-faktor yang berperan dalam interaksi
komunitas Samin dengan masyarakat sekitar dukuh Klopoduwur yang
pertama adalah situasi sosial yang memberi bentuk tingkah laku
terhadap individu yang berada dalam situasi tersebut, dengan
14
dapat melakukan interaksi sosial dengan baik dan benar. Faktor yang
kedua adalah faktor kekuasaan norma kelompok, maksudnya adalah
perilaku setiap warga termasuk komunitas Samin dalam setiap
tindakannya ada norma-norma yang mengatur, meskipun komunitas
Samin dalam setiap tindakan dan perilaku telah memiliki aturannya
sendiri yang berbeda dengan orang biasa namun mereka juga memiliki
norma-norma atau aturan yang mengikat mereka dalam hidup
bermasyarakat termasuk dalam berinteraksi norma-norma tersebut juga
berlaku bagi masyarakat desa Klopoduwur. Faktor yang ketiga adalah
adanya faktor tujuan pribadi, setiap interaksi pasti memiliki tujuan.
Tujuan tersebut merupakan tujuan besar ataupun hanya tujuan
sederhana, misalnya ada tujuan seseorang warga bertegur sapa dengan
seseorang dari permukiman komunitas Samin adalah untuk
menunjukkan rasa saling menghormati. Faktor yang keempat adalah
setiap individu berinteraksi sesuai dengan kedudukan dan kondisinya.
Maksudnya, komunitas Samin dengan masyarakat sekitar berinteraksi
sesuai kedudukan dan kondisinya. Misalnya, ketika komunitas Samin
bertemu dengan perangkat desa, di dalam interaksi tersebut terlihat
adanya jarak antara seorang biasa yang tidak memiliki kedudukan
untuk dihormati. Lurah memiliki kedudukan sebagai pemimpin
masyarakat. Sebagai masyarakat biasa komunitas Samin telah
memiliki kesadaran akan kedudukan dan kondisinya. Faktor yang
15
yang sedang tertimpa musibah dalam situasi dan keadaan sedih maka
seorang dari masyarakat sekitar diminta untuk membantu
menyelesaikan masalah. Dengan melihat situasi tersebut dan berusaha
mengarahkan situasi sehingga pada saat itu menjadi situasi yang
diharapkan.
Interaksi sosial dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, hal
ini sesuai dengan pendapat Asrori(Asrori, 2008: 108-109), bahwa
dalam setiap interaksi senantiasa di dalamnya mengimplikasikan
adanya komunikasi antar pribadi. Demikian pula sebaliknya, setiap
komunikasi antar pribadi senantiasa mengandung interaksi. Interaksi
dibagi menjadi tiga hal, yaitu:
a. Interaksi verbal
Interaksi verbal adalah interaksi yang terjadi bila dua orang atau
lebih melakukan kontak satu sama lain dengan menggunakan alat-alat
artikulasi atau pembicaraan. Prosesenya terjadi dalam bentuk saling
bertukar percakapan satu sama lain.
b. Interaksi fisik
Interaksi fisik adalah interaksi yang terjadi manakala dua orang
atau lebih melakukan kontak dengan menggunakan bahasa-bahasa
tubuh. Misalnya ekspresi wajah, posisi tubuh, gerak-gerik tubuh, dan
16
c. Interaksi emosional
Interaksi emosional adalah interaksi yang terjadi manakala
individu melakukan kontak satu sama lain dengan melakukan curahan
perasaan
Gillin dan Gillin melakukan penggolongan, ada dua macam
proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial yaitu
yaitu assosiatif dan dissosiatif (Soekanto, 2010). Suatu interaksi
sosial yang assosiatif merupakan proses yang menuju pada suatu
kerjaa sama. Sedangkan bentuk interaksi dissosiatif dapat diartikan
sebagai suatu perjuangan melawan seseorang atau sekelompok orang
untuk mencapai tujuan tertentu (Taneko, 1984: 115).
a. Proses Interaksi Assosiatif
1)Kerja Sama
Suatu usaha bersama anatar orang perorangan atau
kelompok manusia untuk mencapai suatu atau beberapa tujuan
bersama. Bentuk kerja sama tersebut berkembang apabila orang
dapat digerakkan untuk mencapai suatu tujuan bersama dan harus
ada kesadaran bahwa tujuan tersebut di kemudian hari mempunyai
manfaat bagi semua. Dalam perkembangan selanjutnya,
keahlian-keahlian tertentu diperlukan bagi mereka yang bekerja sama
supaya rencana kerja semuanya dapat terlaksana dengan baik.
Kerja sama timbul karena orientasi orang-perorangan terhadap
17
merupakan out-group-nya). Kerja sama akan bertambah kuat jika ada hal-hal yang menyinggung anggota atau perorangan lainnya.
Yang dimaksud kerja sama adalah pekerjaan yang biasanya
dikerjakan oleh individu tapi dikerjakan secara bersamaan oleh dua
orang atau lebih dengan tujuan agar pekerjaan tersebut menjadi
lebih ringan. Dalam teori sosiologi Gillin dan Gillin (dalam
Soekanto, 2006: 208) dapat dijumpai beberapa bentuk kerja sama
yang diberi nama kerja sama (cooperation). Kerja sama tersebut lebih lanjut dibedakan lagi dengan:
a) Kerja sama Spontan (Spontaneous Cooperation): Kerja sama yang sertamerta.
b) Kerja sama Langsung (Directed Cooperation): Kerjasama yang merupakan hasil perintah atasan atau pengusaha.
c) Kerjasama Kontrak (Contractuai Cooperation): Kerjasama atas dasar tertentu.
d) Kerjasama Tradisional (Traditional Cooperation): Kerjasama sebagai bagian atau unsur dari sistem sosial.
2) Akomodasi (Accomodation)
Istilah akomodasi dipergunakan dalam dua arti, yaitu untuk
menunjuk pada suatu keadaan dan untuk merujuk pada suatu
proses. Akomodasi yang menunjuk pada suatu keadaan, berarti
18
dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku di
dalam masyarakat. Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk
pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan
yaitu usaha-usaha untuk mencapai kestabilan.Menurut Giillin dan
Gillin, akomodasi adalah suatu pengertian yang dipergunakan
oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam
hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan pengertian
adaptasi (adaptation) yang dipergunakan oleh ahli-ahli biologi untuk menunjuk pada suatu proses dimana makhluk-makhluk
hidup menyesuaikan dirinya dengan alam sekitarnya. Akomodasi
sebenarnya merupakan suatu cara untuk menyelesaikan
pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan
tidak kehilangan kepribadiannya (Soekanto, 2010: 68).
b. Proses Disosiatif
Proses disosiatif sering disebut sebagai oppositional processes, yang persis halnya dengan kerjasama, dapat ditemukan pada setiap
masyarakat, walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan
dan sistem sosial masyarakat bersangkutan. Oposisi dapat diartikan
sebagai cara berjuang melawan seseorang atau sekelompok manusia
untuk mencapai tujuan tertentu. Pola-pola oposisi tersebut dinamakan
19
Untuk kepentingan analisis ilmu pengetahaun, oposisis
proses-proses yang disosiatif dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu:
1) Persaingan (Competition)
Persaingan dapat diartikan sebagai suatu proses sosial,
dimana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing
mencari keuntungan melalui bidang bidang kehidupan yang pada
suatu mas atertentu menjadi pusat perhatian umum dengan cara
menarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka
yang telah ada tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan.
Persaingan mempunyai dua tipe umum, yakni yang bersifat pribadi
dan tidak pribadi. Persaingan yang berisfat pribadi,
orang-perorangan, atau individu secara langsung bersaing untuk,
misalnya, memperoleh kedudukan tertentu di dalam suatu
organisasi (Soekanto, 2010: 83). Persaingan dapat terjadi dalam
segala bidang kehidupan, misalnya bidang ekonomi dan
perdagangan, kedudukan, kekuasaan, percintaan, dan sebagainya.
Persaingan meliputi beberapa pihak yang melakukan persaingan,
pihak-pihak yang berkompetisi (bersaing) disebut “saingan”
(rivarly) (Taneko, 1984: 121) 2) Kontraversi (Contravetion)
Kontraversi adalah bentuk proses sosial yang berada
diantara persaingan dan pertentangan konflik. Wujud kontravensi
20
secara terang-terangan yang ditujukan terhadap perorangan atau
kelompok atau terhadap unsur-unsur kebudayaan golongan
tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan
tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.
Menurut Leopold von Wiese dan Howard Becker (dalam
Soekanto, 2010), ada tiga tipe umum kontrovensi:
a. Kontravensi generasi masyarakat: lazim terjadi terutama
pada zaman yang sudah mengalami perubahan yang sangat
cepat.
b. Kontravensi seks: menyangkut hubungan suami dengan
istri dalam keluarga.
c. Kontravensi Parlementer: hubungan antara golongan
mayoritas dengan golongan minoritas dalam masyarakat,
baik yang menyangkut hubungan mereka di dalam lembaga
legislatif, keagamaan, pendidikan, dan lain-lain.
3) Pertentangan (Conflict)
Pertentangan dapat terjadi karena proses interaksi, dimana
penafsiran makna perilaku tidak sesuai dengan maksud dari pihak
pertama, yaitu pihak yang melakukan aksi, sehingga menimbulkan
suatu keadaan dimana tidak terdapat keserasian diantara
kepentingan-kepentingan para pihak yang melakukan interaksi.
21
menjatuhkan pihak lawan dengan cara kekerasan (Taneko, 1984:
122).
Menurut Horton dan Hunt (dalam Taneko, 1984),
menyatakan bahwa sekali pertikaian dimulai, maka proses ini sulit
untuk dihentikan. Sejak saat itu dapat terjadi tindakan-tindakan
agresif yang pada dasarnya diilhami oleh sifat bermusuhan
tersebut, sehingga proses pertikaian terus berlangsung dan
menumbuhkan situasi yang tidak menguntungkan.
Pertentangan mempunyai beberapa bentuk khusus, yaitu
sebagai berikut:
a. Pertentangan pribadi
b. Pertentangan rasial: dalam hal ini para pihak akan menyadari
betapa adanya perbedaan antara mereka yang menimbulkan
pertentangan.
c. Pertentangan antara kelas-kelas sosial: disebabka karena
adanya perbedaan kepentingan.
d. Pertentangan politik: menyangkut baik antara
golongan-golongan dalam satu masyarakat, maupun antara negara-negara
yang berdaulat.
e. Pertentangan yang bersifat Internasional: disebabkan
perbedaan-perbedaan kepentingan yang kemudian merembes
22
Pola-pola hubungan yang teratur dapat terbentuk
apabila ada tata kelakuan atau perilaku dan hubungan yang sesuai
dengan situasi dan kondisi masyarakat. Sistem itu merupakan
pranata sosial yang di dalamnya terdapat nilai-nilai dan
norma-norma yang dipedomani serta lembaga sosial yang mengurus
pemenuhan kebutuhan masyarakat sehingga interaksi sosial dalam
masyarakat dapat berjalan secara teratur.
2. Kelompok Sosial
Manusia pada dasarnya dilahirkan seornag diri namun di dalam
proses kehidupan selanjutnya, manusia membutuhkan manusia lain di
sekelilingnya. Ini merupakan salah satu pertanda bahwa manusia adalah
makhluk sosial yaitu makhluk yang hidup bersama. Soerjono Soekanto
menulis bahwa di dalam diri manusia pada dasarnya telah terdapat
keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lainnya dan keinginan
untuk menjadi satu dengan alam sekitarnya (Taneko, 1984: 48).
Berdasarkan keinginan tersebut terutama keinginan untuk menjadi
manusia lainnya dan agar keinginan tersebut dapat diwujudkan, maka
manusia haruslah melakukan interaksi dengan manusia lainnya. Dengan
adanya hubungan atau interaksi tersebut maka akan tercipta suatu
pergaulan hidup dan manusia itu hidup dalam suatu pergaulan. Hidup
dalam satu pergaulan menurut Raymond Firth, dapat diartikan sebagai
“organisasi kepentingan-kepentingan perorangan, pengaturan sikap orang
23
kelompok-kelompok tertentu untuk kepentingan bersama”. Berdasarkan
pernyataan ini maka dapat disimpulkan bahwa kelompok sosial
merupakan salah satu perwujudan dari pergaulan hidup atau kehidupan
bersama atau dengan kata lain bahwa pergaulan hidup itu mendapat
perwujudannya di dalam kelompok-kelompok sosial (Taneko, 1984: 49).
Berdasarkan hasil penelitian dalam jurnal Hidayat (2013),
kelompok sosial menjadi sarana interaksi sosial yang bagus bagi
masyarakat etnik Banjar dan Madura. Di Gang Stall khususnya, banyak
dijumpai berbagai kelompok pengajian dan yasinan serta rukun kematian.
Dalam kelompok ini warga masyarakat berbaur menjadi satu.
Kelompok-kelompok ini menyatukan dua etnis yang berbeda yakni Madura dan
Banjar. Perkumpulan yasinan dan pengajian serta arisan cukup efektif
dalam upaya pembauran anatar dua kebudayaan yang berbeda. Hal ini
sangat dirasakan dan disadari oleh masyarakat Madura maupun
masyarakat Banjar. Dalam organisasi ini, mereka dapat bertukar pikiran
dan saling mendalami karakter masing-masing sehingga menimbulkan
pemahaman akan perbedaan-perbedaan dan memnculkan sikap toleransi
di antara mereka.
Membahas lebih lanjut mengenai kelompok sosial, ada beberapa
definisi kelompok sosial yang ditelah dikemukakan oleh para ahli.
Menurut Muzafer Sherif, kelompok sosial adalah suatu kesatuan sosial
yang terdiri dari dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi
24
sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu
(Santoso, 2006: 36). Namun, tidak semua himpunan atau kelompok dapat
dikatakan sebagai kelompok sosial. Ada beberapa persyaratan tertentu
untuk memenuhi bahwa suatu kumpulan manusia dapat disebut sebagai
kelompok sosial, yaitu:
a. Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan sebagian
dari kelompok yang bersangkutan.
b. Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota
lainnya.
c. Ada suatu faktor yang dimiliki bersama, sehingga hubungan antara
mereka bertambah erat. Faktor tersebut dapat berupa nasib yang sama,
kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama
dan lain-lain.
d. Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku.
e. Bersistem dan berproses (Soekanto, 2010).
Tidak hanya terdapat syarat tertentu pada suatu kelompok sosial
namun ada beberapa ciri-ciri yang menandakan bahwa kelompok tersebut
dapat dikatakan sebagai kelompok sosial. Soetarno dalam buku psikologi
sosial mengutip hasil penelitian para ahli sosiologi dan ahli psikologi
sosial yang menunjukkan bahwa kelompok sosial mempunyai ciri-ciri
25
a. Adanya motif yang sama
Kelompok sosial terbentuk karena anggota-anggotanya mempunyai
motif yang sama. Motif yang sama ini mrupakan pengikat sehingga
setiap anggota kelompok tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan
bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang telah
disepakati bersama.
b. Adanya sikap in-group dan out-group
Apabila orang lain di luar kelompok bertingkah laku khusus, maka
mereka akan tersingkirkan dari kelompok. Dan sikap penolakan yang
ditunjukkan oleh kelompok yang oleh kelompok itu disebut dengan
sikap out-group atau sikap terhadap “orang luar”. Jika kelompok
manusia itu menunjukkan orang luar untuk membuktikan kesediannya
berkorban bersama dan kesetiakawanannya, baru menerima orang itu
dalam segala kegiatan kelompok. Sikap menerima ini disebut sikap
in-group atau sikap terhadap “orang dalam”.
c. Adanya solidaritas
Solidaritas adalah kesetiakawanan antar anggota kelompok sosial.
Adanya solidaritas yang tinggi di dala kelompok tergantung kepada
kepercayaan setiap anggota akan kemapuan anggota lainnya untuk
melakukan tugas dengan baik.
d. Adanya struktur kelompok
Struktur kelompok adalah suatu sistem mengenai relasi antara
26
serta sumbangan mereka masing-masing dalam interaksi kelompok
untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Di dalam struktur kelompok
terdapat kedudukan fungsional dan juga susunan hierarkis antara
anggota kelompok.
e. Adanya norma kelompok
Norma kelompok disini adalah pedoman-pedoman yang mengatur
tingkah laku individu dalam suatu kelompok. Pada kelompok resmi,
norma tingkah laku ini biasanya sudah tercantum dalam anggaran
dasar dan anggaran rumah tangga(AD/ART).
Suatu kelompok sosial tentunya memiliki manfaat tertentu bagi
anggota kelompok maupun anggota dalam kelompok tersebut. Menurut
Burn, kelompok memiliki tiga manfaat, yaitu:
a. Kelompok memenuhi kebutuhan individu untuk merasa berarti dan
dimiliki. Adanya kelompok membuat individu tidak merasa sendirian,
ada orang lain yang membutuhkan dan menyayanginnya.
b. Kelompok sebagai sumber identitas diri. Individu yang tergabung
dalam kelompok bisa mendefinisikan dirinya sebagai anggota suatu
kelompok.
c. Kelompok sebagai sumber informasi tentang dunia dan tentang diri
27 B. Kajian Teori
1. Interaksionisme Simbolik
Pandangan atas realitas sosial yang dinamakan “Interaksionisme Simbolik” sudah ada sejak ber-abad lalu. Khususnya di Amerika Serikat
teori ini dikembangkan dan diterapkan sampai menghasilkan
karangan-karangan berbobot. Saat ini interaksionisme simbolik merupakan satu dari
teori-teori yang dikenal yang memusatkan perhatiannya pada
proses-proses sosial di tingkat mikro, termasuk kesadaran subyektif dan dinamika
interaksi antar pribadi.
George Herbert Mead merupakan salah satu filosof mengenai teori
interaksionisme simbolis yang terkenal. Menurut Mead, orang tak hanya
menyadari orang lain tetapi juga mampu menyadari dirinya sendiri.
Dengan demikian orang tidak hanya berinteraksi dengan orang lain, tetapi
secara simbolis dia juga berinteraksi dengan dirinya sendiri. Dalam
pandangan Mead, seseorang dapat merangsang dirinya sendiri dalam cara
yang sama seperti seperti mereka dapat merangsang orang lain (Lawang,
1986: 12). Menurut Mead, interaksionisme simbolik dilakukan dengan
menggunakan bahasa, sebagai satu-satunya simbol yang terpenting dan
melalui isyarat (Paloma, 2010: 257). Melalui simbol-simbol yang berarti,
simbol-simbol yang telah memiliki makna, obyek-obyek yang dibatasi dan
ditafsirkan. Melalui proses interaksi makna-makna tersebut disampaikan
28
Menurut beberapa tokoh interaksionisme simbolik memiliki
beberapa prinsip dasar, yang meliputi:
a. Tak seperti binatang, manusia dibekali kemampuan untuk berpikir.
b. Kemampuan berpikir dibentuk oleh interaksi sosial.
c. Dalam interaksi sosial manusia mempelajari arti dan simbol yang
memungkinkan mereka menggunakan kemampuan berpikir mereka
yang khusus itu.
d. Makna dan simbol memungkinkan manusia melanjutkan tindakan
khusus dan berinteraksi.
e. Manusia mampu mengubah arti dan simbol yang mereka gunakan
dalam tindakan dan interaksi berdasarkan penafsiran mereka terhadap
situasi.
f. Manusia mampu membuat kebijakan modifikasi dan perubahan,
sebagian karena kemampuan mereka berinteraksi dengan diri mereka
sendiri, yang memungkinkan mereka menguji serangkaian peluang
tindakan, menilai keuntungan dan kerugian relatif mereka, dan
kemudian memilih satu diantara serangkaian peluang tindakan itu.
g. Pola tindakan dan interaksi yang saling berkaitan akan membentuk
kelompok dan masyarakat (George Ritzer dan Douglas J. Goodman,
2004: 289).
Pikiran, menurut interaksionisme simbolik sebenarnya
berhubungan dengan setiap aspek lain termasuk sosialisasi, arti, simbol,
29
untuk berpikir, kapasitas ini ini harus dibentuk dan diperhalus dalam
proses interaksi sosial. Pandangan ini menyebabkan teoritisi
interaksionisme simbolik memusatkan perhatian pada bentuk khusus
interaksi sosial yakni sosialisasi. Bagi teoritisi interaksionisme simbolik,
sosialisasi adalah proses yang lebih dinamis yang memungkinkan manusia
untuk mengembangkan kemampuan untuk berpikir, untuk
mengembangkan cara berpikir manusia tersendiri. Sosialisasi bukanlah
semata-mata proses satu arah dimana aktor menerima informasi , tetapi
merupakan proses dinamis dimana aktor menyusun dan menyesuaikan
informasi itu dengan kebutuhan mereka sendiri (George Ritzer dan
Douglas J. Goodman, 2004: 290).
Pakar interaksionisme simbolik tak hanya tertarik pada
perspektif sosialisasi sederhana, tetapi juga pada interaksi pada umumnya
yang “sangat penting dalam bidang kajiannya sendiri”. Interaksi adalah
proses di mana kemampuan berpikir dikembangkan dan diperlihatkan.
Semua jenis interaksi, tak hanya interaksi selama sosialisasi, memperbesar
kemampuan kita untuk berpikir. Lebih dari itu, pemikiran membentuk
proses interaksi. Dalam kebanyakan interaksi, aktor harus memperhatikan
orang lain dan menentukan kapan dan bagaimana cara meyesuaikan
aktivitasnya terhadap orang lain (George Ritzer dan Douglas J. Goodman,
2004: 290-291). Interaksi sosial adalah sebuah interaksi antar pelaku dan
bukan faktor-faktor yang menghubungkan mereka atau yang membuat
30
interaksi sosial sebagai sebuah sarana ataupun sebagai sebuah penyebab
ekspresi tingkah laku manusia. Teori interaksionisme simbolis
memandang manusia sebagai makhluk sosial dalam suatu pengertian yang
mendalam, yakni suatu makhluk yang ikut serta dalam berinteraksi sosial
dengan dirinya sendiri, dengan membuat indikasinya sendiri, dan
memberikan respon pada sejumlah indikasi. Dalam pengertian ini,
manusia sebagai makhluk yang ikut serta dalam berinteraksi sosial dengan
dirinya sendiri, bukanlah makhluk yang hanya merespon saja, akan tetapi
makhluk yang bertindak atau beraksi; sebuah makhluk yang harus
mencetak sederetan aksi berdasarkan perhitunga, tidak hanya berfungsi
melepaskan respon pada interaksi sosial yang ada (Soeprapto, 2002:
143-145).
Interaksionime simbolik menggambarkan masyarakat bukanlah
dengan memakai konsep-konsep seperti sistem, struktur sosial, posisi
status, peranan sosial, pelapisan sosial, struktur institusional, pola budaya,
norma-norma, dan nilai-nilai sosial melainkan dengan memakai istilah
“aksi”. Masyarakat organisasi atau kelompok terdiri dari orang-orang yang
mengahadapi keragaman situasi dan masalah yang berbeda-beda. Orang
yang saling berhubungan satu sama lain dan saling menyesuaikan
kelakuan mereka secara timbal balik. Blumer menyatakan bahwa (Veeger,
1986: 228):
31
di dalam mana satuan-satuan yang bertindak itu mengembangkan tindakan-tindakannya. Segi-segi struktural seperti „kebudayaan’, „sistem-sistem sosial’, „startifikasi sosial’, atau „peran-peran sosial’, membentuk kondisi -kondisi bagi tindakan mereka, tetapi tidak menentukan tindakan mereka”.
Herbert Blumer sebagai salah satu murid dari Mead,
pemikiran-pemikiraannya banyak dipengaruhi oleh Mead. Kendatipun demikian,
seorang Blumer tetap memiliki kekhasan-kekhasan dalam pemikiraannya ,
dan terutama ia mampu membangun teori dalam sosiologi yang berbeda
dengan “gurunya”, Mead. Pemikiran Blumer pada akhirnya memiliki
pengaruh yang cukup luas dalam berbagai riset sosiologi. Bahkan Blumer
pun berhasil mengembangkan teori ini sampai pada tingkat metode yang
cukup rinci. Teori interaksionisme simbolis bertumpu pada tiga premis
utama, yaitu:
a. Manusia bertindak pada sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada
pada sesuatu itu bagi mereka.
b. Makna itu berasal dan “Interaksi sosial seseorang dengan orang lain”.
c. Makna-makna tersebut disempurnakan disaat proses interaksi
berlangsung (Soeprapto, 2002: 120-121).
Bagi Blumer keistimewaan pendekatan kaum interaksionis
simbolis ialah manusia dilihat saling menafsirkan atau membatasi
masing-masing tindakan mereka dan bukan hanya saling bereaksi kepada kepada
setiap tindakan itu menurut mode stimulus-respon. Seseorang tidak
langsung memberi respon pada tindakan orang lain, tetap didasari oleh
32 2. Penelitian Relevan
Penelitian relevan dengan penelitian “Interaksi sosial mahasiswa
Kalimantan timur di AMKT Mangkaliat Yogyakarta dalam bersosialisasi
dengan masyarakat sekitar di Dusun Cokrodiningratan RT 13 RW 03”
adalah penelitian dibawah ini:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Ika Widyaningsih (2010) mahasiswa
Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta
yang berjudul Interaksi Sosial Himpunan Mahasiswa Lampung di
Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian yang memfokuskan
penelitiannya pada bentuk interaksi sosial dan bagaimana dampak
interaksi yang dibangun oleh Himpunan Mahasiswa Lampung yang ada
di Yogyakarta. Hasil penelitian ini adalah bahwa di dalam Himpunan
interaksi yang terjalin antara anggota dan pengurus menciptakan adanya
kerjasama, persaingan bahkan konflik diantara mereka. Kerjasama
ditunjukkan dengan usaha bersama untuk mengenalkan budaya
lampung kepada banyak orang. Persaingan juga tidak luput dialami oleh
anggota ataupun pengurus Himpunan. Berbagai upaya juga selalu
dilakukan untuk menyelesaikan persaingan ataupun konflik diantara
mereka. Perbedaan antara kedua penelitian ini yaitu pada fokus
penelitian yaitu jika pada Interaksi Sosial Himpunan Mahasiswa
Lampung membahas mengenai interaksi yang terjadi antara pengurus
dan anggota di dalam Himpunan mahasiswa dan penelitian ini
33
diantara mereka baik proses yang bersifat asosiatif dan disosiatif
sedangkan pada Interaksi Sosial Mahasiswa Kalimantan Timur fokus
penelitian pada cara berbaur mahasiswa dengan masyarakat sekitar
asrama dan dampak yang dihasilkan dari interaksi sosial yang terjalin
antara mahasiswa penghuni AMKT Mangkaliat dengan masyarakat
sekitar di Kelurahan Cokrodiningratan. Persamaan dari penelitian ini
adalah sama-sama mengambil penelitian tentang interaksi mahasiswa
yang tinggal di asrama daerah.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Iskandar (2015) mahasiswa Program
Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta yang
berjudul Interaksi Sosial Mahasiswa Asrama Hulu Bandar dengan
masyarakat RW 05 Kumpulrejo, Catur Tunggal, Depok, Sleman,
Yogyakarta. Penelitian ini memfokuskan untuk mengkaji bagaimana
bentuk interaksi sosial mahasiswa Asrama Hulu Bandar dengan
masyarakat sekitar asrama dan dampak dari interaksi sosial antraa
mahasiswa asrama dengan masyarakat sekitar. Hasil penelitian ini
adalah terkait dengan aktivitas asrama mahasiswa Hulu Bandar telah
memberikan bentuk-bentuk interaksi sosial dengan lingkungannya.
Adapun bentuk dari interaksi sosial asrama Hulu Bandar di kampung
Kumpulrejo, asosiatifnya berbentuk kerjasama dan disosiatifnya atau
pertentangan hanya sebatas perbedaan pendapat saja. Sedangakan untuk
perspektif dampak interaksi sosial adalah terjalinnya hubungan antar
34
pemerintahan setempat misalnya jajaran ketua RT, RW dan dukuh
Manggung, Catur Tunggal, Sleman. Sedangkan pada Interaksi Sosial
Mahasiswa Kalimantan Timur fokus penelitian pada cara berbaur
mahasiswa dengan masyarakat sekitar asrama dan dampak yang
dihasilkan dari proses interaksi sosial yang terjalin antara mahasiswa
penghuni AMKT Mangkaliat dengan masyarakat sekitar di Kelurahan
Cokrodiningratan.
3. Kerangka Pikir
Manusia sebagai makhluk sosial, dituntut untuk melakukan
hubungan sosial antar sesamanya dalam hidupnya. Setiap individu dalam
hidupnya harus menjalin interaksi sosial dengan individu lain. Interaksi
sosial dapat terjadi saat ada kontak sosial dan komunikasi sebagai faktor
utama dalam terciptanya sebuah interaksi sosial antara individu yang satu
dengan yang lainnya. Seperti halnya pada penelitian ini yang secara
khusus mengkaji mengenai interaksi sosial yang terjadi antara mahasiswa
penghuni asrama AMKT Mangkaliat dengan masyarakat lokal di sekitar
Kelurahan Cokrodiningratan RT 13 RW 03. Perbedaan kebudayaan,
nilai, dan norma dengan daerah asal. Perbedaan ini menjadi tantangan
tersendiri bagi mahasiswa pendatang untuk berbaur dan menyesuaikan
diri dengan masyarakat lokal di sekitar lingkungan asrama. Proses sosial
yang terjadi juga tidak semudah layaknya interaksi yang terjalin oleh satu
35
berbeda tentunya butuh waktu dan cara tertentu agar tercipta sebuah
interaksi sosial yang sempurna. Berbagai cara tentunya juga mereka
lakukan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat demi menumbuhkan
tali ikatan kekeluargaan agar saling terhubung secara emosional diantara
mereka. Adanya interaksi sosial yang terjalin diantara dua kelompok
sosial ini tentunya memberi dampak terutama bagi penghuni AMKT
Mangkaliat.
Berikut skema kerangka berpikir dari penelitian ini:
Bagan 1. Kerangka Berfikir Mahasiswa Asrama
AMKT Mangkaliat
Masyarakat Kelurahan Cokrodiningratan,
Yogyakarta
Cara berbaur mahasiswa pendatangdengan masyarakat sekitar Perbedaan nilai-nilai
budaya
36 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif yaitu
penelitian yang bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami
oleh subjek penelitian misalnya, perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan
secara holistic dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan
bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan
memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2007).
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di AMKT Mangkaliat Yogyakarta di
Jl. Pakuningratan No. 47, JT. II, RT. 13, RW. 03, Kelurahan
Cokrodiningratan, Kecamatan Jetis, Yogyakarta
2. Waktu Penelitian
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dalam waktu kurang lebih tiga
bulan. Mulai dari bulan Februari hingga April 2016.
3. Sumber Data Penelitian
a. Sumber Primer
Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan
data kepada pengumpul data (Sugiyono, 2010: 225) . Data utama
37
dokumentasi dan wawancara secara langsung ke lokasi penelitian
dengan menggunakan instrumen yang sesuai.
b. Sumber Sekunder
Sumber data sekunder merupakan sumber yang tidak langsung
memberi data kepada pengumpul data ( Sugiyono, 2010: 225). Data
pendukung berupa literatur-literatur atau buku-buku yang relevan
dengan penelitian yang dianggap sebagai bahan pendukung penelitian.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling
strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah
mendapatkan data dengan menggunakan teknik pengumpulan data
yang memenuhi standar data yang ditetapkan (Sugiono, 2012).
Penelitian ini menggunakan sumber data secara lisan dan tertulis,
sehingga dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang dilakukan
adalah:
a. Wawancara
Menurut Lincoln dan Guba (1981), wawancara dilakukan
bermaksud untuk mengkonstruksikan mengenai orang, kejadian,
organisasi, perasaan, tuntutan, kepedulian dan lain-lain. Wawancara
merupakan percakapan dengan maksud tertentu, percakapan dilakukan
oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan
38
Wawancara yang akan dilakukan dalam penelitian ini
adalah terbuka dan terstruktur dimana informan mengetahui bahwa
mereka sedang diwawancari dan mengetahui maksud dan tujuan dari
wawancara yang dilakukan serta pertanyaan yang diajukan ditetapkan
sendiri oleh peneliti sesuai dengan fokus penelitian.
b. Observasi
Menurut W. Gulo (2004: 116), observasi adalah metode
pengumpulan data, dimana peneliti mencatat hasil informan
sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian. Metode ini
digunakan untuk memperoleh data yang akurat tentang keadaan di
lapangan dengan melakukan pengamatan langsung. Hal yang perlu
diperhatikan ketika melakukan observasi antara lain; pengamat harus
selalu ingat dan memahami betul apa yang hendak direkam dan
dicatat, selain itu juga harus bisa membina hubungan baik antara
pengamat dan obyek pengamatan (Bungin, 2012).
Observasi ini dilakukan untuk mengamati dan membuat
catatan deskriptif terhadap semua kegiatan yang terkait dengan
interaksi sosial penghuni asrama dengan masyarakat. Teknik
observasi dalam penelitian ini dilakukan pengamatan secara langsung
di lapangan, dengan mencari informasi dari para informan.
c. Dokumentasi
Menurut Guba dan Lincoln (Moleong, 2007) dokumentasi
39
dipersiapkan karena adanya permintaan seorang penyidik. Dokumen
adalah suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
mengadakan pencatatan atau pengutipan dari dokumen yang ada di
lokasi penelitian. Alasan memiliki teknik dokumentasi adalah karena
dokumentasi adalah sumber data yang stabil, menunjukkan suatu fakta
yang telah berlangsung dan mudah didapatkan. Data dari dokumentasi
memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi akan kebenaran dan
keabsahan. Dokumentasi sebagai sumber daya yang kaya untuk
memperjelas keadaan atau identitas subyek penelitian,sehingga dapat
mempercepat proses penelitian.
5. Teknik Pemilihan Informan
Penelitian ini menggunakan teknik Purposive Sampling. Purposive Sampling adalah teknik penentuan sampel sumber data
dengan pertimbangan tertentu, seperti orang tersebut dianggap
paling tahu tentang apa yang kita harapkan dalam penelitian atau
mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti
menjelajahi objek yang diteliti (Sugiyono, 2010). Kriteria informan
untuk penelitian ini adalah pengurus dan anggota asrama yang tinggal
di asrama tersebut kurang lebih selama enam bulan dan masyarakat
40
6. Validitas Data
Teknik pemeriksaan keabsahan merupakan suatu startegi yang
digunakan untuk memeriksa keabsahan data atau dokumen yang
didapatkan atau diperoleh dari penelitian, supaya hasil penelitiannya
benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dari segala segi (Moleong,
2007).
Teknik-teknik yang digunakan untuk melacak atau membuktikan
kebenaran atau taraf kepercayaan data bisa melalui ketekunan
pengamatan di lapangan, triangulasi, pengecekan dengan teman
sejawat, analisis terhadap kasus-kasus negatif, referensi yang
memadai, dan pengecekan anggota. Beberapa teknik-teknik tersebut,
peneliti menggunakan teknik pengamatan lapangan dengan triangulasi.
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu diluar data tersebut untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding data tersebut (Moleong, 2007).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan triangulasi sumber, dengan
pertimbangan bahwa untuk memperoleh data yang benar-benar valid.
Informasi yang diperoleh diusahakan dari narasumber yang betul-betul
mengetahui mengetahui informasi yang ingin diketahui. Informasi
yang diberikan oleh salah satu subyek dalam menjawab pertanyaan
peneliti akan dicek ulang dengan menanyakan ulang pertanyaan yang
sama kepada subyek yang lain. Apabila jawaban yang diberikan sama
41
Pada penelitian ini peneliti menggunakan triangulasi sumber,
metode, dan teori. Peneliti melakukan pengecekan ulang dengan
menanyakan kepada subyek lain untuk mengecek apakah data yang
ditemukan di lapangan sesuai dengan teori-teori yang sudah ada.
7. Analisis Data
Analisis data merupakan bagian yang penting dalam
metode ilmiah karena dengan analisis data mentah yang dikumpulkan
oleh peneliti. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini
adalah teknik analisis data kualitatif model interaktif. Menurut Miles
dan Huberman, analisis data yang dilakukan interaktif dan berlangsung
secara terus menerus hingga tuntas, hingga mencapai kejenuhan data
(dalam (Sugiyono, 2010: 246)
a. Pengumpulan data
Data dikumpulkan oleh peneliti dari hasil wawancara,
observasi, dokumentasi dicatat dalam catatan lapangan yang
terdiri dari dua aspek, yaitu deskripsi dan refleksi. Catatan
deskripsi merupakan data alami yang berisi tentang apa yang
dilihat, didengar, dirasakan, disaksikan, dan dialami sendiri
oleh peneliti (Miles dan Huberman, 1994: 15). Sedangkan
catatan refleksi yang membuat kesan, komentar dan tafsiran
peneliti tentang temuan yang dijumpai dan merupakan bahan
rencana pengumpulan data untuk tahap berikutnya (Miles dan
42
b. Reduksi Data
Reduksi dapat diartikan sebagai proses pemulihan,
pemusatan perhatian penyederhanaan, pengabstrakan dan
transformasi data yang muncul dari catatan-catatan tertulis di
lapangan (Miles dan Huberman, 1994). Proses analisis data ini
dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari
berbagai sumber, setelah itu membuat rangkuman setiap
pertemuan dengan responden dan kemudin peneliti melakukan
reduksi data.
c. Penyajian Data
Sajian data adalah suatu susunan informasi yang
memungkinkan kesimpulan dapat ditarik (Miles dan
Huberman, 1994). Melihat suatu kajian data, penganalisis akan
dapat memahami apa yang terjadi, serta memberikan peluang
bagi penganalisis untuk mengerjakan sesuatu pada analisis atau
tindakan lain berdasarkan pemahan tersebut.
d. Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan merupakan langkah akhir dalam pembuatan
suatu laporan. Penarikan data atau penarikan kesimpulan
adalah usaha guna mencari atau memahami makna, keteraturan
pola-pola kejelasan, alur sebab-akibat atau proporsi.
Kesimpulan yang ditarik segera diverifikasi dengan cara
43
lapangan agar memperoleh pemahaman yang tepat. Selain itu
juga dapat melakukan dan mendiskusikannya (Usman, 2009:
87).
Bagan 2. Model Analisis Interaktif Miles dan Huberman
Pengumpulan Data Penyajian Data
44 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
A. Deskripsi Data
1. Profil Asrama AMKT Mangkaliat
Asrama Mahasiwa Kalimantan Timur (AMKT) merupakan sarana
yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada
mahasiswa yang menempuh studi di berbagai wilayah di Indonesia.
AMKT yang merupakan aset pemerintah ini tersebar di berbagai provinsi
dan kota mulai dari Yogyakarta, Malang, Bandung, Solo, Surabaya,
Makassar, Banjarmasin dan beberapa kota lainnya di Indonesia. AMKT
Mangkaliat salah satunya, asrama mahasiswa Kalimantan Timur yang ada
di Yogyakarta ini merupakan satu dari tiga asrama Kalimantan Timur yang
ada di Yogyakarta.
AMKT Mangkaliat merupakan asrama mahasiswa yang
diperuntukkan bagi mahasiswa laki-laki. Asrama AMKT Mangkaliat ini
didirikan pada tahun 1960 oleh Pemerintah Provisi Kalimantan Timur.
Awalnya AMKT Mangkaliat merupakan sekretariat dari KPMKT, namun
seiring dengan berjalannya waktu sekretariat ini dijadikan sebagai asrama
dan sebagai pusat kegiatan bagi mahasiswa Kaltim yang menempuh