• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data Keanggotan Penghuni Asrama AMKT Mangkaliat Periode

B. Pembahasan dan Analisis

1. Cara Berbaur Mahasiswa AMKT Mangkaliat dengan Masyarakat

Lokal

Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang

dinamis (Soekanto, 2010: 55). Hubungan yang dimaksud dapat berupa

hubungan antar individu yang satu dengan individu lainnya, anta ra

kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya, maupun antara

kelompok dengan individu. Interaksi sosial dapat terjadi bila antara dua

individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kekuatan

61

yang tidak dapat difungsikan, sebab komunikasi merupakan prasyarat

bagi kehidupan sosial (Umiarso, Elbadiansyah, 2014: 216).

Ketika berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, kita

dihadapkan dengan bahasa-bahasa, aturan-aturan, dan nilai-nilai yang

berbeda pula. Terlebih dalam komunikasi antar budaya yang memiliki

alur konsep komunikasi humanistik (dua-arah) yang mengasumsikan

bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi adalah setara, jadi

perlu kesepahaman dalam memaknai simbol dalam komunikasi terutama

dalam isyarat fisik yang sering memunculkan debatable pada proses pemaknaannya (Umiarso, Elbadiansyah, 2014: 216). Sama halnya dengan

interaksi yang terjadi di Kelurahan Cokrodiningratan RT 13 yaitu

interaksi yang terjadi antara masyarakat lokal dengan mahasiswa asrama

mangkaliat. Dua kebudayaan yang berbeda diantara dua kelompok sosial

ini tentunya membangun sebuah proses sosial yang berbeda dibandingkan

dengan interaksi yang terjadi dengan satu kebudayaan yang sama.

Adanya kebudayaan yang berbeda tentunya memiliki perbedaan bahasa

pula di dalamnya. Menurut Mead, interaksionisme simbolik dilakukan

dengan menggunakan bahasa, sebagai satu-satunya simbol yang

terpenting dan melalui isyarat (Paloma, 2010: 257). Perbedaan bahasa

antara penghuni asrama dengan masyarakat sekitar dapat dikatakan

sebagai salah satu penghambat bagi para mahasiswa pendatang untuk

dapat berinteraksi dengan baik dengan masyarakat lokal yang secara tidak

62

sosial ini. Hal ini juga ditunjukkan oleh informan BPA dan LB yang

menyatakan bahwa hambatan yang dialami dalam proses interaksi

biasanya hanya bahasa. Meskipun telah cukup lama tinggal di Yogyakarta

tapi untuk bahasa jawa mereka belum cukup mengerti apa arti dan

maknanya secara keseluruhan, sehingga hal tersebut menjadi sebuah

hambatan bagi mereka dalam berkomunikasi dengan warga saat warga

menggunakan bahasa jawa saat berbicara dengan sesama orang jawa

ataupun membalas perbincangan antara mereka dengan bahasa jawa.

Bahasa sebagai simbol tentunya memiliki makna, obyek-obyek

yang dibatasi dan ditafsirkan. Melalui proses interaksi makna-makna

tersebut dapat tersampaikan kepada pihak lain. Namun, dengan adanya

perbedaan bahasa antara mahasiswa pendatang dengan masyarakat lokal

penyampaian makna dari bahasa sebagai simbol tidak dapat tersampaikan

secara maksimal.

Interaksi sosial antara mahasiswa asrama AMKT Mangkaliat

dengan masyarakat lokal dengan adanya tujuan kepentingan yang sama

yaitu kegiatan masyarakat di dalam kehidupan bermasyarakat, akan

mempertemukan individu-individu yang tadinya malu-malu dan hanya

berdiam diri, akan bergaul dengan individu lain dalam kerjasama untuk

mencapai suatu tujuan.

Sebuah interaksi tidak akan terjadi apabila tidak memenuhi dua

syarat yaitu kontak dan komunikasi (Soekanto, 2010: 58). Kontak dan

63

sekitar telah menunjukkan bahwa telah terjadi interaksi sosial diantara

dua kelompok sosial ini. Wujud bentuk interaksi sosial yang terjalin

antara penghuni asrama dengan masyarakat sekitar dapat terlihat pada

keseharian penghuni asrama dengan masyarakat, dimana mereka saling

senyum, menyapa dan biasanya juga mengobrol saat saling bertemu.

Dalam kehidupan sehari-hari anak asrama menjalin interaksi

sosial dengan masyarakat. Mereka saling berhubungan dengan

masyarakat sekitar dan saling menyesuaikan perilaku mereka secara

kebudayaan, struktur sosial dan lain sebagainya. Interaksi yang terjalin

diantara mereka tidak lepas dari berbagai cara dalam proses mereka

bersosialisasi dan berinteraksi. Cara-cara ini tentunya merupakan suatu

elemen penting yang untuk mendekatkan dua kelompok sosial ini ataupun

pendekatan secara individu antara satu dengan yang lainnya. Cara berbaur

yang dilakukan mahasiswa penghuni AMKT Mangkaliat dengan

masyarakat lokal di sekitar asrama, sebagai berikut:

a. Cara berbaur yang dilakukan dalam hal keagamaan.

Dalam hal ini interaksi dilakukan melalui pendekatan rohani dengan

kegiatan shalat magrib berjamaah, pengajian, kegiatan pemuda

masjid, dan kegiatan TPA di masjid.

1)Shalat berjamaah dilakukan oleh penghuni asrama di dalam asrama

satu minggu dua kali. Namun selain dilakukan di asrama, para

penghuni asrama juga menyempatkan waktu untuk melakukan

64

dengan masyarakat dalam lingkungan religiusitas masjid.

Partisipasi mahasiswa penghuni asrama AMKT Mangkaliat dalam

melaksanakan shalat berjamaah dengan tujuan memakmurkan

masjid dan meningkatkan religiusitas ditunjukkan dari pernyataan

informan SSN yang merupakan tetangga yang berada di sekitar

asrama AMKT Mangkaliat:

“. . . kalau shalat berjamaah kayak dzuhur, ashar, subuh juga tetap di masjid shalat berjamaah. Nda semua, paling 4-5 orang yang sempatlah”(Informan SSN, 21 Juni 2016). Argumentasi yang senada juga dikemukakan oleh informan L

yang juga merupakan tetangga dekat asrama AMKT Mangkaliat,

beliau menyatakan bahwa seperti sebelum jam tiga siang salah

satu dari penghuni asrama yang memiliki waktu luang akan

datang ke masjid untuk azan shalat ashar (Informan L, 21 Juni

2016)

2) Pengajian dilaksanakan setiap selasa kliwon menjadi pengajian

yang rutin dilakukan bersama warga selain untuk meningkatkan

keimanan, juga untuk meningkatkan pengetahun spiritual serta

menjalin silaturahmi sebagai bentuk pertemuan seluruh warga

untuk saling sharing mengenai kehidupan sosial dan kehidupan masyarakat RT 13. Hal ini juga terlihat dari pernyataan informan

MA:

“. . .kalau aku dulu karna ada basic di ngaji jadi sering ikut

pengajian, ada juga yang minta diajarin ngaji”(Informan MA,

65

Informan NCK yang merupakan remaja yang aktif dalam kegiatan

masjid, ia menyatakan bahwa beberapa mahasiswa penghuni

asrama turut berpartisipasi dalam kegiatan masjid, salah satunya

seperti pengajian selasa kliwon.(Informan NCK, 22 Juni 2016).

3) Kegiatan pemuda masjid dan kegiatan mengajar TPA juga diikuti

oleh para penghuni asrama yang memiliki basic dalam kegamaan terutama basic mengaji. Kemampuan yang dimiliki oleh penghuni asrama dapat menjadi salah satu cara untuk mereka

dapat membaur sekaligus membagi ilmu yang mereka punya

dengan masyarakat sekitar. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan

informan PA yang menyatakan bahwa interaksinya dengan

masyarakat juga dilakukan melalui kegiatan masjid seperti,

ngbrol dan sharing dengan pemuda masjid. Berbagi pengetahuan

dan pengalaman dalam hal keagamaan maupun dalam hal

organisasi demi memakmurkan kegiatan masjid, hal-hal yang

berkaitan mengenai kemajuan masjid dan jamaahnya itu sendiri

(Informan PA, 20 Februari 2016). Informan MA juga

menyatakan bahwa beberapa mahasiswa ikut telibat dalam

kelompok Ikamadya di masjid, sebagai bentuk partisipasi mereka

untuk terjun bersama dengan para remaja sekitar untuk turut

membangun dan memakmurkan masjid (Informan MA, 18

66

Informan S yang merupakan Ketua RT 13 menyatakan para

mahasiswa dilibatkan dengan kegiatan pemuda masjid yaitu

Ikamadya disesuaikan dengan peranan mereka sebagai remaja

yang diharapkan dapat memberikan kontrubusi dan masukan

untuk kebaikan bersama (Informan S, 22 Juni 2016).

Informan L dan informan NCK yang merupakan warga

sekitar yang bertempat tinggal dekat dengan asrama AMKT

Mangkaliat menyatakan bahwa mahasiswa penghuni asrama

selalu membantu dalam kegiatan TPA. Apabila guru TPA

berhalangan untuk hadir ataupun pengajar TPA di masjid kurang,

beberapa mahasiswa pasti turut membantu mengajari anak-anak

mengaji sekaligus sebagai wujud membagi ilmu yang mereka

miliki ke masyarakat sekitar.

Menurut Abu Ahmadi (Ahmadi, 2009: 49), interaksi sosial

adalah suatu hubungan dua orang atau lebih, dimana tingkah laku

yang satu mempengaruhi dan memperbaiki kelakuan individu

lain atau sebaliknya. Pernyataan ini sesuai dengan cara yang

dilakukan dalam hal keagamaan. Dalam hal ini, shalat berjamaah,

pengajian, kegiatan pemuda masjid dan mengajar TPA

merupakan kegiatan positif yang bersama-sama mereka lakukan

sebagai sebuah rutinitas yang bermanfaat bagi kehidupan ber

agama di lingkungan sekitar asrama AMKT Mangkaliat. Secara

67

sharing ilmu dengan kegiatan pemuda masjid dan menunaikan kewajiban ber agama sama-sama terbangun dengan adanya sikap

saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya dan

memperbaiki diri menuju sebuah kebaikan.

b. Cara berbaur yang dilakukan melalui kemampuan dan potensi diri.

Cara ini dilakukan lebih mengarah pada bidang olahraga karena

kebanyakan masyarakat sekitar asrama adalah ibu-ibu dan

bapak-bapak yang kurang memiliki banyak kegiatan terutama saat waktu

libur, mereka mengharapkan kegiatan serta partisipasi dari

mahasiswa untuk turut serta meramaikan dan memajukan kehidupan

sosial di RT 13. Hal dapat dilihat dari pernyataan yang diungkapkan

oleh informan MDI:

“. . .sering interaksi karena kuliah di jurusan olahraga anak-anak warg a sering minta diajarin renang,dll (Informan MDI, 21 Februari 2016)

Uraian di atas menunjukkan kemampuan informan MDI

dalam bidang olahraga karena MDI merupakan salah satu mahasiswa

dari jurusan keolahragaan di Universitas Negeri Yogyakarta. Hal ini

menjadi salah satu point plus bagi informan MDI untuk lebih mudah

mendekatkan diri dengan anak-anak maupun orang dewasa karena

dapat melatih dan memberikan ilmunya mengenai keolahragaan yang

68

Tidak hanya informan MDI yang berinteraksi dengan

cara-cara dengan kemampuan dan potensinya. Informan SFH juga

menunjukkan hal yang sama. Hal ini ditunjukkan dari pernyataan

yang diungkapkan oleh informan SFH:

“. . . olahraga bareng juga pernah kalau ada warga yang ngajak main voli, bola, dll”(Informan SFH, 3 Maret 2016).

Kegiatan berolahraga bersama sebagai bentuk untuk meramaikan dan memajukan kehidupan sosial di RT 13, menunjukkan sebuah bentuk proses interaksi sosial yaitu proses assosiatif yaitu kerja sama. Kerja sama dalam hal ini ditunjukkan dengan partisipasi mahasiswa untuk memberikan kegiatan dan ilmu mereka kepada masyarakat dengan adanya timbal balik dari warga yang turut serta mensukseskan kegiatan olahraga bersama menjadi sebuah bentuk kebersamaan antara dua kelompok sosial ini. Bentuk kerja sama ini dapat berkembang karena memiliki tujuan bersmaa dan dikemudian hari tujuan ini mempunyai manfaat bagi semua, bagi mahasiswa penghuni asrama maupun masyarakat sekiat asrama di RT 13 Kelurahan Cokrodiningratan.

Keaktifan para mahasiswa untuk turut bergabung dalam

kegiatan warga seperti hal-hal yang banyak diminati oleh warga

seperti berolahraga sore dapat meningkatkan keintiman hubungan

mereka dalam bermasyarakat. Para mahasiwa asrama telah dianggap

sebagai bagian dari keluarga RT 13 tanpa adanya pengkotak-kotakan

status sosial dan rasa canggung yang menganggap bahawa penghuni

AMKT Mangkaliat adalah orang lain bagi masyarakat lokal di

69

c. Cara berbaur yang dilakukan melalui kegiatan asrama dan kegiatan

warga.

Berdasarkan hasil wawancara dengan tujuh informan,

mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh warga dan asrama

merupakan cara yang paling efektif dalam berinteraksi dan

mendekatkan diri dengan masyarakat sekitar. Kegiatan-kegiatan

seperti ronda malam, jalan sehat dan senam menjadi kegiatan favorit

bagi warga dan anak asrama untuk dijadikan kegiatan rutin untuk

saling bercengkrama. Seperti pernyataan yang diungkapkan oleh

informan IPM:

“interaksi sangat banyak seperti; menyapa di jalan, pertemuan

di RT, jalan sehat, senam, ronda malam, bantu di masjid juga”.

(Informan IPM, 21 Februari 2016)

1) Ronda malam

Ronda malam merupakan kegiatan warga yang juga

melibatkan anak asrama. Ronda malam dilaksanakan setiap hari

oleh warga, namun untuk anak asrama diberi jadwal minimal dua

kali dalam semingg untuk turut serta dalam kegiatan ronda

malam. Ronda malam menjadi salah satu wadah bagi warga dan

anak asrama untuk saling mengbrol, mendekatkan diri, dan saling

sharing antara satu dengan yang lainnya.

Informan MDI menyatakan bahwa ronda malam menjadi

70

masyarakat sekitar. Saat ronda malam mereka saling bagi cerita

sesama dalam berbagai hal. Namun informan MDI menyatakan

pula bahwa interaksi tidak hanya terjalin saat ronda malam saja

tetapi saat bertemu dengan masyarakat mereka tetap bertegur

sapa, maka dapat disimpulkan mereka tidak hanya berinteraksi

karena hanya ada suatu kepentingan tetapi sudah menjadi suatu

rutinitas yang melekat dalam kehidupan bermasyarakat di

Kelurahan Cokrodiningratan RT 13 (Informan MDI, 21 Februari

2016).

Berdasarkan keterangan lain yang di dapatkan oleh

peneliti. Informan L sering melihat penghuni asrama mengikuti

ronda malam. Selain ronda malam, penghuni asrama juga

membantu mengambil jimpitan atau iuran rutin dari warga (Informan L, 21 Juni 2016).

Kegiatan ronda malam ini juga menujukkan adanya

proses assosiatif yaitu kerja sama. Kerja sama dalam hal ini

ditunjukkan dari kompaknya mahasiswa penghuni asrama untuk

ikut serta dalam kegiatan ronda malam yang menjadi kegiatan

rutin di RT 13 sebagai wujud kerja sama demi terciptanya

keamanan dan kenyamanan bersama.

2) Jalan sehat dan senam

Jalan sehat dilaksanakan setiap bulan pada minggu ke-3 bulan

71

dengan senam bersama-sama. Dua kegiatan ini biasanya

dilaksanakan pada hari minggu saat semua warga dan anak

asrama rehat dari segala kegiatan sehingga warga yang

berkumpul lebih banyak dari kegiatan-kegiatan lainnya karena

tidak hanya bapak-bapak atau ibu-ibu saja yang hadir namun juga

lansia dan anak-anak juga turut serta memeriahkan. Setelah

kegiatan selesai untuk melepas lelah mereka bercanda bersama

dan menikmati sarapan yang telah disediakan oleh ibu-ibu di RT

13.

d. Cara berbaur yang dilakukan dengan bertegur sapa.

Cara ini merupakan cara yang sangat umum dilakukan

dalam proses interaksi sosial. Saling bertegur sapa dengan berjabat

tangan, tersenyum, dan mengobrol. Berdasarkan perspektif yang

tetulis dalam buku Sosiologi Suatu Pengantar karangan Soerjono

Soekanto, walaupun orang-orang yang bertemu muka tersebut tidak

saling bicara atau tidak saling menukar tanda-tanda, interaksi telah

terjadi (Soekanto, 2010: 55).

Informan SFH menyatakan bahwa interaksi yang terjalin

dengan masyarakat paling hanya tegur sapa saja saat bertemu dengan

warga sekitar asrama (Informan SFH, 3 Maret 2016). Banyaknya

kesibukan kegiatan di luar asrama membatasi beberapa anak asrama

72

IPM juga mengatakan bahwa tidak semua kegiatan asrama maupun

kegiatan RT ia ikuti karena terkadang ia juga memiliki kesibukan

sendiri sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk turut serta

dalam seluruh kegiatan RT maupun kegiatan asrama yang telah

diagendakan bersama (Informan IPM, 21 Februari 2016).

Sebagaimana yang dikatakan oleh informan L:

“Ouhhh pasti mb, kalau lewat pasti “misi mb” gitu”(Informan L, 21 Juni 2016).

Pernyataan diatas menunjukkan bahwa mahasiswa tetap menyapa saat

lewat di depan warga. Hal sepadan juga ditunjukkan dari pernyataan

informan SSN yang menyatakan bahwa mereka tetap kulanuwun

kalau bertemu dengan warga sekitar, namun memang kalau untuk

ngbrol intensitasnya cukup jarang(Informan SSN, 21 Juni 2016).

Pernyataan ini diperkuat pula dengan keterangan yang diberikan

Ketua RT 13 yang menyatakan bahwa kalau ngbrol paling hanya saat

ronda malam saja, selain waktu itu sangat jarang (Informan S, 22 Juni

2016).

Menurut Asrori (Asrori, 2008: 108-109), interaksi

memiliki beberapa jenis dan dibagi menjadi tiga hal. Berkaitan

dengan pernyataan informan bahwa interaksi sosial yang terjalin juga

melalui cara bertegur sapa saat bertemu atau bertatap muka dengan

masyarakat sekitar, interaksi ini dapat dimasukkan dalam jenis

73

pembicaraan maupun saling tegur antara mahasiswa penghuni asrama

dengan masyarakat sekitar dan interaksi fisik juga berkaitan dengan

ekspresi yang diberikan anatar mahasiswa dengan warga sekitar saat

bertemu baik saat tersenyum, saat ada kontak mata, melambaikan

tangan, maupun gerak-gerik lainnya yang menandakan bahwa ada

interaksi yang terjadi diantara mereka.

2. Dampak Interaksi Mahasiswa AMKT Mangkaliat dengan Masyarakat

Lokal.

Interaksi yang terjadi dalam kurun waktu yang lama pasti

akan memberikan hasil atau dampak akibat terjadinya interaksi sosial

antara mahasiswa asrama dengan masyarakat sekitar di Kelurahan

Cokrodiningratan RT 13. Dampak yang dirasakan oleh para

mahasiswa asrama selama menjadi bagian dari masyarakat sekitar

lebih banyak mengarah kepada dampak yang positif meskipun ada

pula dampak negatifnya.

Dampak positif dari interaksi antara anak asrama AMKT Mangkaliat

dengan warga di Kelurahan Cokrodiningratan RT 13, yaitu:

a. Lebih mudah dalam peminjaman alat-alat rumah tangga

Keperluan dan ketersediaan alat-alat rumah tangga di asrama

tentunya tidak terlalu lengkap. Terkadang untuk kegiatan tertentu

seperti membersihkan halaman asrama, anak asrama meminjam

74

peralatan lainnya. Hal ini ditunjukkan dari pernyataan informan

MA:

“Kalau misalnya ngadain kegiatan sosial kemasyarakatan mau

ngurus apa-apa di RT lebih gampang, kalau pinjam barang atau perlengkapan seperti, parang juga lebih gampang itulah gunanya

interaksi”. (Informan MA, 18 Februari 2016)

Kedekatan yang telah terjalin antara anak asrama mangkaliat

dengan warga membuat peminjaman barang-berang menjadi lebih

mudah. Warga pun tidak keberatan untuk meminjamkan

barang-barang tersebut dan memberi kepercayaan penuh kepada mereka.

b. Lebih ingin mengetahui kebuyaan daerah lain

Ketertarikan terhadap kebudayaan Jawa ditunjukkan oleh

salah satu anggota penghuni asrama mangkaliat. Informan LB

mengatakan bahwa banyak perayaan keagamaan dan kebudayaan

yang benar-benar dirayakan dan dihargai di Yogyakarta berbeda

sekali dengan daerah asal. Hal ini membuat ketertarikan informan

LB untuk lebih mengetahui dengan kebudayaan Jawa dan juga

kebudayaan lainnya tentunya(Informan LB, 20 Februari 2016).

Keingintahuan informan LB terhadap kebudayaan etnis lain

memicunya untuk mencari tahu banyak hal dengan mengikuti

kegiatan-kegiatan sosial yang tentunya melibatkan banyak

individu dengan beranekaragam etnis dan budaya.

Keingintahuannya ini juga membuat informan LB sangat sensitif

75

sensitif jika melihat seseorang yang tidak bisa menghargai

kebudayaannya sendiri.

c. Tata krama

Tata krama merupakan dampak yang dirasakan oleh

semua penghuni asrama. Setiap pertanyaan mengenai dampak dari

interaksi sosial yang terjalin dengan warga lokal tidak pernah

tertinggal mengenai dampak dalam hal tata krama. Seperti salah

satu pernyataan yang ditunjukkan oleh informan PA:

“Lebih sopan bertata krama dan lebih sadar bertetangga. . .”(Informan PA, 20 Februari 2016).

Hal ini dirasakan pula oleh informan SFH, ia menyatakan bahwa

saat ini menjadi lebih ramah, lebih suka menyapa tetangga

dibandingkan dulu saat di daerah asal dan sopan santunnya

menjadi lebih baik. Informan MDI pun menyatakan bahwa selama

menjalani interaksi dengan masyarakat lokal membuat ia menjadi

lebih ramah dan lebih dari sebelumnya. Ia juga merasa lebih

mudah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar karena

telah mengetahui karakteristik orang jawa yang tentunya berbeda

jauh dengan karakteristiknya dirinya sebagai orang Kalimantan.

Mead menyaatakan, orang tak hanya menyadari orang lain tetapi

juga mampu menyadari dirinya sendiri. Dengan demikian orang

76

dia juga berinteraksi dengan dirinya sendiri. Dalam pandangan

Mead, seseorang dapat merangsang dirinya sendiri dalam cara

yang sama seperti seperti mereka dapat merangsang orang lain

(Lawang, 1986: 12). Pernyataan ini mendukung perilaku yang

dialami penghuni asrama yang telah berubah menjadi lebih baik.

Secara tidak langsung dalam interaksinya ia juga berinteraksi dan

merangsang dirinya untuk berperilaku ke arah yang lebih baik lagi

dengan mencoba memahami karakteristik orang jawa yang secara

sedikit demi sedikit ia menyerap hal-hal positif yang ia dapat

dalam proses interaksi dengan masyarakat lokal.

d. Bermusyawarah dan berorganisasi

Kegiatan bermusyawarah dan berorganisasi sudah bisa

ditemui dalam lingkungan masyarakat RT 13. Adanya dua

kelompok sosial yang berbeda dan pemikiran-pemikiran yang

berbeda pula tentunya mengharuskan mereka untuk

memusyawarahkan segala sesuatu terutama dalam musyawarah

program kerja yang akan disepakati bersama. Informan IPM

menyatakan bahwa, selama tinggal di asrama secara tidak

langsung telah diajarkan cara berorganisasi dan juga

bermusyawarah dengan baik, lingkungan masyarakat juga

mendukung akan hal tersebut. Masyarakat RT 13 dengan anak

asrama sering mengadakan rapat untuk membicarakan berbagai

77

program-program kerja yang telah direncanakan, hal ini secara

tidak langsung mengajarkan dan menambah pengetahuan

informan IPM mengenai organisasi dan baiknya bermusyawarah

(Informan IPM, 21 Februari 2016).

Dampak yang dirasakan oleh penghuni asrama AMKT

Mangkaliat terasa sangat positif bagi kehidupan mereka. Mereka

mendapatkan bantuan dari masyarakat sekitar sebagai salah satu

keuntungan yang di dapatkan dengan adanya hubungan yang

terjalin baik antara dua kelompok sosial ini. Mereka juga dapat

mengambil nilai-nilai dan norma yang menjadi pedoman hidup

warga Yogyakarta untuk dapat mereka tanam dalam kepribadian

hidup mereka dan membawanya ke kampung halaman sebagai

contoh teladan yang secara tidak langsung bisa menambah

nilai-nilai baik di kampung halaman.

Dokumen terkait