CITRA PEREMPUAN DALAM KUMPULAN CERPEN AKAR PULE
KARYA OKA RUSMINI
SKRIPSI
diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sastra
Program Bahasa dan Sastra Indonesia
oleh
AKHMAD BAKTIAR RIFAI
NIM 0900432
PROGRAM BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
Citra Perempuan Dalam Kumpulan Cerpen Akar Pule Karya Oka Rusmini
SKRIPSI
CITRA PEREMPUAN DALAM KUMPULAN CERPEN AKAR PULE KARYA OKA RUSMINI
diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sastra program Bahasa dan Sastra Indonesia
disusun oleh Akhmad Baktiar Rifai
NIM 0900432
Pembimbing I
Yulianeta, M. Pd.
NIP 197507132005012002
Pembimbing II
Suci Sundusiah, M. Pd.
NIP 198212192008122002
disetujui oleh
Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni
Universitas Pendidikan Indonesia
Dr. Dadang S. Anshori, M. Si.
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Citra
Perempuan dalam Kumpulan Cerpen Akar Pule Karya Oka Rusmini ini berserta
seluruh isinya adalah benar-benar karya sendiri. Saya tidak melakukan
penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika
keilmuan yang berlaku. Atas pernyataan ini, saya siap menaggung sanksi etika
apabila ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya
sastra ini.
Bandung, Juni 2013
Yang membuat pernyataan
Akhmad Baktiar Rifai
ii
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
Citra Perempuan Dalam Kumpulan Cerpen Akar Pule Karya Oka Rusmini
ABSTRAK
CITRA PEREMPUAN DALAM KUMPULAN CERPEN AKAR PULE KARYA OKA RUSMINI
Oleh
AKHMAD BAKTIAR RIFAI NIM 0900432
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kuatnya dominasi laki-laki terhadap perempuan dengan mengetengahkan tema budaya patriarki di Bali yang terdapat dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini. Adapun rumusan masalah adalah (1) bagaimana struktur teks cerpen Sipleg, Sawa, dan Pastu (2) bagaimana citra perempuan, dan (3) bagaimana tinjauan feminisme terhadap citra perempuan.
Pengkajian struktur cerpen menggunakan analisis dari Tzevan Todorov, yakni analisis aspek sintaksis berupa analisis terhadap pengaluran dan alur, aspek semantik yang meliputi analisis terhadap tokoh dan latar, lalu aspek verbal yang meliputi analisis terhadap kehadiran pencerita dan tipe pencerita. Pendekatan kritik sastra feminis ideologis digunakan untuk mendapatkan citra perempuan yang terbagi atas citra fisik berupa tanda-tanda jasmaniah, citra psikis berupa rasa dan emosi yang dimiliki perempuan, dan citra sosial berupa bentuk hubungan perempuan dalam masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan teknik pengumpulan data berupa studi dokumentasi.
ii ABSTRACK
IMAGE OF WOMEN IN A COLLECTION SHORT STRORIES AKAR
PULE BY OKA RUSMINI
AKHMAD BAKTIAR RIFAI NIM 0900432
This research is motivated by the strong dominance of men over women with the theme of patriarchal culture in Bali is contained in a collection of short stories Akar Pule by Oka Rusmini. The formulation of the problem is (1) how to structure a short story text Sipleg, Sawa, and Pastu (2) how the image of women, and (3) how the review feminism on the image of women.
Assessment using the analysis of the structure of short stories Tzevan Todorov, the analysis in the form of an analysis of the syntactic aspect describes the plot and how it is arranged, which includes analysis of the semantic aspects of the characters and backgrounds, and verbal aspect which includes an analysis of the presence and type narrator narrator. Feminist literary criticism ideological approach used to obtain the image of women, divided into a physical image signs of physical, mental imagery and emotion in the form of a sense of women-owned, and a form of social image of women in public relations. The method used is descriptive method of analysis with data collection techniques in the form of documentation.
vi
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL ...
LEMBAR PENGESAHAN ...
KATA MUTIARA ...
PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
UCAPAN TERIMA KASIH ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR BAGAN DAN TABEL ... xi
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 9
1.3 Tujuan Penelitian ... 9
1.4 Manfaat Penelitian ... 10
BAB 2 CERITA PENDEK, ANALISIS STRUKTURAL, DAN TEORI KRITIK
SASTRA FEMINIS ... 12
2.1 Cerita Pendek (Cerpen) ... 12
2.1.1 Hakikat Cerpen ... 12
2.1.2 Unsur-unsur Pembentuk Cerpen ... 13
2.2 Analisis Struktural ... 14
2.2.1 Aspek Sintaksis ... 14
2.2.2 Aspek Semantik ... 15
2.2.3 Aspek Verbal ... 18
2.3 Citra Perempuan ... 19
2.4 Kritik Sastra Feminis ... 21
BAB 3 METODE PENELITIAN ... 28
3.1 Metode Penelitian ... 28
3.2 Sumber Data ... 28
viii
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
BAB 4 CITRA PEREMPUAN DALAM KUMPULAN CERPEN AKAR PULE
KARYA OKA RUSMINI ... 34
4.1 Cerpen Sipleg ... 34
4.1.1 Ikhtisar Cerpen ... 34
4.1.2 Analisis Struktur Cerpen Sipleg ... 35
4.1.2.1 Pengaluran Cerpen Sipleg ... 35
4.1.2.2 Struktur Alur Cerpen Sipleg ... 37
4.1.2.3 Analisis Tokoh Cerpen Sipleg ... 39
4.1.2.4 Analisis Latar dalam Cerpen Sipleg ... 46
4.1.2.5 Analisis Penceritaan dalam Cerpen Sipleg ... 47
4.1.3 Citra Perempuan Dalam Cerpen Sipleg ... 51
4.1.3.1 Citra Fisik ... 51
4.1.3.2 Citra Psikis ... 53
4.1.3.3 Citra Sosial ... 54
4.1.4 Tinjauan Feminisme terhadap Struktur Cerpen Sipleg ... 56
4.1.5 Tinjauan Feminisme terhadap Citra Perempuan dalam Cerpen Sipleg ... 58
4.1.6 Perlawanan Tokoh-Tokoh Perempuan dalam Cerpen Sipleg ... 60
4.1.7 Kesimpulan Analisis Cerpen Sipleg ...60
4.1.1 Ikhtisar Cerpen ... 63
4.2.2 Analisis Struktur Cerpen Sawa ... 64
4.2.2.1 Pengaluran Cerpen Sawa ... 64
4.2.2.2 Struktur Alur Cerpen Sawa ... 67
4.2.2.3 Analisis Tokoh Cerpen Sawa ... 69
4.2.2.4 Analisis Latar dalam Cerpen Sawa ... 72
4.2.2.5 Analisis Penceritaan dalam Cerpen Sawa ... 74
4.2.3 Citra Perempuan Dalam Cerpen Sawa ... 76
4.2.3.1 Citra Fisik ... 76
4.2.3.2 Citra Psikis ... 77
4.2.3.3 Citra Sosial ... 78
4.2.4 Tinjauan Feminisme terhadap Struktur Cerpen Sawa ... 79
4.2.5 Tinjauan Feminisme terhadap Citra Perempuan dalam Cerpen Sawa ... 80
4.2.6 Perlawanan Tokoh-Tokoh Perempuan dalam Cerpen Sawa ... 81
4.2.7 Kesimpulan Analisis Cerpen Sawa ... 82
4.3 Cerpen Pastu ... 86
4.3.1 Ikhtisar Cerpen ... 86
4.3.2 Analisis Struktur Cerpen Pastu ... 87
x
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
4.3.2.2 Struktur Alur Cerpen Pastu ... 90
4.3.2.3 Analisis Tokoh Cerpen Pastu ... 92
4.3.2.4 Analisis Latar dalam Cerpen Pastu ... 98
4.3.2.5 Analisis Penceritaan dalam Cerpen Pastu ... 100
4.3.3 Citra Perempuan dalam Cerpen Pastu ... 102
4.3.3.1 Citra Fisik ... 102
4.3.3.2 Citra Psikis ... 103
4.3.3.3 Citra Sosial ... 104
4.3.4 Tinjauan Feminisme terhadap Struktur Cerpen Pastu ... 106
4.3.5 Tinjauan Feminisme terhadap Citra Perempuan dalam Cerpen Pastu ... 108
4.3.6 Perlawanan Tokoh-Tokoh Perempuan dalam Cerpen Pastu ... 109
4.3.7 Kesimpulan Analisis Cerpen Pastu ... 110
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN ... 113
5.1 Simpulan ... 113
5.2 Saran ... 115
DAFTAR PUSTAKA... 117
1
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan
dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat,
ia terikat oleh status sosial tertentu (Damono, 1978:1). Pengertian tersebut
menjelaskan bahwa sastrawan, lingkungan, dan karya saling mempengaruhi.
Pengaruh masyarakat merupakan faktor terbesar seorang sastrawan dalam
mencipta karya. Seorang sastrawan akan senantiasa peka dan peduli melihat
fenomena yang terjadi di lingkungannya sehingga terjadilah apa yang dinamakan
dengan kebenaran sejarah dan sosial dalam karya sastra (Wellek & Warren, 1989 :
111).
Karya sastra menurut ragamnya dibedakan atas prosa, puisi, dan drama.
Cerita rekaan yang tergolong ke dalam prosa terbagi atas novel, novelet, dan
cerita pendek (Cerpen). Cerpen tumbuh subur melalui media massa, baik koran
maupun majalah. Menurut Mahayana, cerpen Indonesia menunjukkan
signifikansinya. Ia hadir tidak hanya lantaran penerbitan antologi cerpen, tetapi
juga karena kuatnya kecenderungan untuk bebas dari mainstream atau aliran
utama (Suara Merdeka, 2001).
Pengarang cerpen diberikan kebebasan untuk menciptakan karya. Hal ini
tidak lepas dari peran media massa yang memberikan ruang untuk dunia sastra.
Kehadirannya dalam media massa membawa nilai tersendiri. Ruang sastra
tersebut dapat menambah wawasan maupun sekadar menjadi hiburan semata.
Tema-tema yang diusung cerpen banyak memuat persoalan kehidupan manusia,
termasuk persoalan perempuan. Persoalan tersebut direspons manusia dengan
bentuk menerima maupun menolak. Ratna (2004: 329) mengatakan bahwa sastra
mengandung aspek-aspek kultural, bukan individual. Karya sastra dihasilkan oleh
seorang pengarang, tetapi masalah yang diceritakan adalah
2
dan bahasa sebagaimana dipahami oleh manusia pada umumnya. Pengarang
adalah wakil masyarakat, pengarang sebagai kontruksi transindividual, bukan
dirinya sendiri.
Berbicara tentang perempuan tidak akan pernah ada habisnya, karena
dianggap menarik untuk diperbincangkan. Perempuan sama halnya dengan
laki-laki, memiliki masalah tersendiri. Terkadang masalah yang dihadapi perempuan
lebih kompleks daripada laki-laki. Sejak masa Balai Pustaka, perempuan telah
menjadi tema karya sastra, seperti dalam novel Sitti Nurbaya, Darah Muda, Salah
Pilih, Salah Asuhan, dan lain-lain yang kesemuanya menempatkan perempuan
pada posisi bawah. Menurut Mahayana, dkk. (1992: 6 dalam Sugihastuti dan
Suharto, 2002: 37), sebagian besar kritikus sastra Indonesia menempatkan novel
Sitti Nurbaya sebagai karya penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Secara
tematik, novel ini tidak hanya menampilkan secara lebih jelas latar sosial, tetapi
juga mengandung kritik tajam terhadap tradisi kolot dan adat istiadat lama yang
membelenggu. Novel ini menampilkan masalah perkawinan dalam hubungannya
dengan persoalan adat. Dalam hal ini, tradisi kawin paksa tersebut merupakan
salah satu bentuk dari budaya patriarki.
Budaya patriarki adalah hasil pandangan ideologi yang menekankan
kekuasaan laki-laki untuk mendominasi, mensubordinasikan dan
mendeskriminasikan perempuan. Laki-laki memiliki kontrol penuh atas
perempuan, atas badannya, seksualitasnya dan pekerjaannya, baik dalam keluarga
maupun masyarakat (Bhasin: 1996).
Di Bali, terdapat asumsi sendiri mengenai patriarki. Herutomo dan Hartati
dalam bukunya yang berjudul Dampak Perkawinan Campuran terhadap
Tatakrama Daerah Bali (1991: 13) menyebutkan bahwa masyarakat Bali
memberlakukan prinsip patrilineal yang disebut dengan istilah purusa, yakni
menghitung kekerabatan melalui garis laki-laki.
Herutomo dan Hartati (1991: 30) juga menjelaskan bahwa masyarakat Bali
seperti juga masyarakat lainnya di Indonesia, menganggap perkawinan suatu yang
3
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
dianggap penuh sebagai warga masyarakat dengan memperoleh hak-hak dan
kewajiban-kewajiban, baik dalam kelompok kekerabatannya maupun dalam suatu
komunitas, setelah ia kawin. Perkawinan yang diinginkan bagi masyarakat Bali
adalah perkawinan endogami kasta dan endogami klen. Kasta adalah pembagian
golongan yang didasari atas keturunan. Kasta tersebut terbagi kedalam 4
golongan, yaitu kasta Brahmana sebagai kasta tertinggi dalam masyarakat Bali,
kasta Ksatria sebagai golongan menengah, kasta Weisya sebagi golongan ketiga,
dan kasta Sudra sebagai kasta terendah. Amatlah tercela bila seorang wanita dari
kasta yang tinggi menikah dengan laki-laki dari kasta yang lebih rendah.
Perkawinan yang tidak sederajat itu akan membuat malu keluarga. Bagi yang
melakukan perkawinan tersebut akan mendapat hukuman maselong atau hukuman
buang untuk beberapa lama ke tempat yang jauh dari tempat asalnya. Sejak tahun
1951, hukuman seperti itu sudah tidak dilaksanakan lagi dan perkawinan
campuran antar kasta telah banyak dilakukan (Bagus, 1971: 292 dalam Herutomo
dan Hartati, 1991: 30).
Perkawinan selain bertujuan untuk mendapatkan teman hidup, juga untuk
memperoleh keturunan, yang menurut agama Hindu dipandang sebagai jalan
untuk menebus hutang dan melaksanakan dharma (kebenaran, kebajikan). Orang
yang tidak kawin akan mendapat cemoohan dan roh-nya nanti dianggap akan
digantung di sorga. Bertitik tolak dari prinsip patrilineal, masyarakat Bali tidak
hanya mengenal perkawinan monogami, tetapi juga perkawinan pologini.
Seseorang bila dalam perkawinannya tidak memperoleh anak laki-laki, maka ia
dapat mengambil seorang istri lagi demi mendapatkan anak laki-laki (Herutomo
dan Hartati, 1991: 31).
Hingga saat ini perempuan tetap mendapat tempat dalam karya sastra.
Sastrawan-sastrawan perempuan mulai bermunculan menyuarakan keberadaan
mereka. Jika menilik dari sejarah sastra Indonesia, kemunculan pengarang
perempuan sudah terjadi sekitar tahun 1930-an yang dipelopori oleh Selasih dan
4
Marianne Katopo, Titi Said, Ike Supomo, Marga T, La Rose, Titis Basino, Mira
W, Ratna Indraswari Ibrahim, dan lain-lain (Noor, 1999: 5).
Pada awal tahun 2000-an semakin banyak pengarang perempuan yang
muncul menyuarakan kaumnya. Beberapa nama pengarang perempuan yang
masuk dalam kategori produktif adalah Djenar Maesa Ayu, Fira Basuki, Dewi
Lestari, Oka Rusmini, Nenden Lilis A, Helvy Tiana Rosa, Naning Pranoto, Asma
Nadia, Ayu Utami dan lain-lain. Pengarang-pengarang perempuan tersebut tidak
hanya sekedar menghasilkan karya dengan mutu sama baiknya dengan pengarang
laki-laki, tetapi mereka menulis tentang dunianya: dunia perempuan dengan tokoh
dan topik utamanya adalah kehidupan perempuan. Noor (1999: 6) menegaskan
bahwa hasil-hasil karangan wanita tersebut mendapatkan penerimaan positif dari
masyarakat. Darma (1984: 82) mengingatkan bahwa wanita Indonesia telah
bangkit menjadi kelas tersendiri dengan kekuatan tersendiri. Karya-karya mereka
dapat menjadi wajah perempuan Indonesia sebenarnya. Pemikiran Damono (1999:
229) juga sejalan dengan hal yang dikemukakan Noor dan Darma bahwa
pengarang perempuan melukiskan sosok perempuan dalam fiksi sebagai
pengalaman. Sementara laki-laki melukiskan sosok perempuan dalam karya fiksi
sebagai konsep.
Salah satu di antara sastrawan perempuan yang gencar menyuarakan
kaumnya dan isu feminisme adalah Oka Rusmini. Ida Ayu Oka Rusmini, nama
lengkapnya. Lahir di Jakarta pada 11 juli 1967. Nama Oka Rusmini mulai bersinar
sejak novelnya Tarian Bumi diluncurkan. Novel yang mengusung isu feminisme
dengan mengetengahkan persoalan perempuan Bali dalam belitan kultur dan
agama Hindu tersebut membuat nama Oka Rusmini berkibar di blantika sastra
Tanah Air, kendati kiprah kepenulisanya telah dimulai jauh sebelumnya. Karya
pertamanya yang dipublikasi adalah Monolog Pohon (1997) berupa kumpulan
cerita pendek (Cerpen). Seterusnya, karya-karyanya yang lain, baik berbentuk
puisi ataupun prosa, terus mengalir. Beberapa diantaranya bahkan mendapat
penghargaan sebagai yang terbaik. Trauma akan perceraian orang tuanya sempat
5
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
seorang pria Jawa yang kini menjadi suaminya itu. Namun perkawinan ini harus
“dibayar” mahal oleh Oka yang berkasta Brahmana. Ia harus menerima nasib
seperti tokoh-tokoh perempuan Bali rekaannya: “dibuang” dari keluarga karena
menikah dengan seorang pria muslim (beda kasta). Ia sendiripun lantas
memutuskan memeluk agama Islam.
Berbagai penghargaan telah diraih Oka Rusmini. Dimulai pada 1994 ketika cerpennya yang berjudul “Putu Menolong Tuhan” terpilih sebagai cerpen
terbaik majalah Femina. Disusul oleh “Sagra” yang memenangi sayembara
novelet di majalah yang sama pada 1998. Lalu giliran majalah sastra Horison
mengganjar cerpen karyanya, “Pemahat Abad” sebagai cerpen terbaik
1990-2000. Kemudian pada 2003 ia dinobatkan sebagai “Penerima Penghargaan
Penulisan Karya Sastra 2003” berkat novel Tarian Bumi. Hasil karya Oka yang
telah terbit antara lain: Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra
(2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Pandora (2008),
Tempurung (2010) dan Akar Pule (2012).
Kumpulan cerpen Akar Pule merupakan salah satu karya Oka Rusmini
yang berbicara tentang perempuan dengan latar belakang budaya Bali. Akar Pule
terdiri dari 10 judul cerpen yang ditulis periode 2002 sampai 2010. Ke-10 judul
cerpen tersebut berbicara mengenai perempuan, khususnya perempuan Bali.
Perbedaan tema pada setiap cerpen menjadi daya tarik tersendiri bagi peneliti.
Berdasarkan hipotesa awal, peneliti menyimpulkan bahwa banyak sekali
penindasan dan ketidakadilan terhadap perempuan dalam kumpulan cerpen Akar
Pule tersebut. Penindasan dan ketidakadilan tersebut akan membentuk citra
perempuan yang tercermin dalam cerpen.
Kajian tentang perempuan dalam karya sastra Indonesia telah banyak
dikerjakan, baik dalam bentuk makalah maupun hasil penelitian. Tak jarang kajian
tersebut merebak dalam opini-opini di surat kabar. Karya-karya Oka Rusmini juga
telah banyak dikaji. Berikut adalah beberapa kajian dan penelitian tersebut:
Pertama, penelitian yang dilakukan Mashuri dalam bentuk makalah pada
6
dalam Novel Tempurung: Kajian Stilistika memberikan kesimpulan antara lain (1)
terdapat bahasa perlawanan yang begitu kental terhadap tradisi Bali dalam novel
Tempurung; (2) metode pemberontakan tradisinya menggunakan gaya bahasa
sarkasme, sinisme, ironi, dan paradoks; (3) Bali menyimpan potensi kekerasan,
sarkasme, kekejaman, dan lain-lainnya yang selama ini tidak pernah terungkap
dan didialogkan.
Kedua, penelitian yang dilakukan Dara Windiyarti dalam bentuk makalah
pada April 2011 dengan judul Dendam Perempuan-Perempuan yang Tersakiti:
Kajian Psikoanalisis Sosial Novel Tempurung Karya Oka Rusmini memberikan
kesimpulan antara lain (1) tokoh-tokoh perempuan dalam novel Tempurung
mengalami persoalan batin yang sangat komlpeks dan dinamis sehingga
mengantarkan mereka pada kehidupan yang diliputi kecemasan dan konflik batin
yang tiada henti; (2) usaha-usaha yang dilakukan untuk menanggulangi konflik
batinnya diekspresikan dengan tindakan balas dendam; (3) tindakan balas dendam
dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan menyalurkan permusuhan dan
mengekspolitasi orang lain; (4) tokoh-tokoh perempuan dalam novel Tempurung
memiliki kepribadian yang neorotik karena tindakan-tindakan irasional yang
dilakukannya.
Ketiga, artikel yang ditulis oleh Hat Pujiati dan dipublikasikan di Bali Post
edisi Senin, 25 April 2010 dengan judul Mitos Cantik dan Kendali Pada Tubuh
Perempuan memberikan kesimpulan antara lain (1) konsep kecantikan selalu
berubah seiring perkembangan zaman dan peristiwa yang mengiringinya; (2)
wacana kecantikan seseorang yang diidolakan akan mengendalikan tubuh
pengidola untuk menjadi cantik dengan cara apapun; (3) wacana tubuh perempuan
tersebut direpresentasikan ke dalam karya sastra oleh Oka Rusmini lewat
kumpulan cerpen Akar Pule.
Keempat, artikel yang ditulis oleh Ni Made Purnamasari dan
dipublikasikan di Bali Post edisi 04 April 2010 dengan judul
Perempuan-Perempuan Imajer di Simpang Kenyataan. Artikel tersebut mengupas novel
7
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
novel Tempurung mengangkat tema kesangsian atas pandangan tradisi dalam
kenyataan kekinian; (2) novel tersebut membagi perempuan dalam tiga bagian; (3)
novel Tempurung adalah novel yang yang bercerita tentang realitas dan identitas
mayarakat Bali.
Kelima, penelitian yang dilakukan Vega Galanteri dalam bentuk Skripsi
pada tahun 2007 dengan judul Citra Perempuan Jawa, Jepang, dan Keturunan
Indo Jepang dalam Novel Perempuan Kembang Jepun Karya Lan Fang
memberikan kesimpulan antara lain (1) citra perempuan jawa adalah perempuan
yang tidak pernah bersikap manja; (2) perempuan jawa identik dengan sikap yang
lemah lembut dan sopan santun; (3) citra perempuan jepang umumnya adalah
perempuan yang sangat menghargai dan menghormati laki-laki. Mereka
menganggap diri mereka tidak pantas untuk banyak tahu urusan laki-laki; (4) citra
perempuan indo-jepang mencerminkan dua perpaduan antara budaya jawa dan
jepang. Tokohnya memiliki sifat lemah lembut seperti yang dimiliki perempuan
jawa dan jepang. Selain itu, tokohnya juga digambarkan tidak menyukai konflik,
tidak suka menyimpan dendam, dan merupakan perempuan yang menerima
kehidupan apa adanya. Pada dasarnya masyarakat jawa dan jepang adalah
masyarakat yang patriarkis dengan karakter yang tidak jauh berbeda.
Keenam, penelitian yang dilakukan Nissa Awaliyah dalam bentuk Skripsi
pada tahun 2008 dengan judul Citra Penari Tayub Perempuan dalam Novel
Penari Karya Dadang A. Dahlan memberikan kesimpulan antara lain (1) tokoh
perempuan dalam novel Penari memberikan gambaran mengenai sisi baik seorang
penari tayub dalam menjalankan pekerjaannya; (2) dalam aspek fisik dan psikis
telah terbentuk suatu citra perempuan sebagai mahluk individu yang mempunyai
konsep diri. Perempuan mempunyai kesadaran dalam dirinya bahwa ada suatu
perbedaan sikap yang diturunkan oleh budaya patriarki dalam kehidupan
bermasyarakat; (3) dalam citra sosial telah terbentuk suatu citra perempuan
sebagai mahluk sosial yang saling berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat
8
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji citra
perempuan dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini menggunakan
teori kritik sastra feminis ideologis dengan alasan sebagai berikut:
Pertama, berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya dan dari hasil pengamatan peneliti, citra perempuan dalam kumpulan
cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini belum pernah diteliti, sehingga peneliti
tertarik untuk mengkajinya.
Kedua, alasan dipilihnya karya Oka Rusmini karena hampir seluruh
karyanya berbicara mengenai perempuan Bali. Oka Rusmini banyak membongkar
kultur Bali yang sangat patriarki. Latar belakang Oka Rusmini yang juga
perempuan Bali, berasal dari kasta Brahmana, kemudian menikah dengan laki-laki
non Bali tentu sangat mempengaruhi karya-karyanya. Ia seakan bercerita tentang
dirinya lewat tokoh fiksi ciptaannya.
Ketiga, Pemilihan objek penelitian pada kumpulan cerpen Akar Pule karya
Oka Rusmini dikarenakan ke-10 cerpen dalam Akar Pule sarat akan nilai-nilai
permasalahan perempuan dengan tema yang beragam sehingga dapat
menghasilkan kesimpulan berupa citra perempuan dalam kumpulan cerpen
tersebut. Dari 10 judul cerpen tersebut, hanya akan diambil 3 judul cerpen yang
dianggap lebih menonjolkan permasalahan yang dihadapi perempuan dengan tema
yang berbeda dengan tujuan untuk mengetahui apa sajakah permasalahan dan
penindasan yang sering dihadapi perempuan. Ke-3 judul cerpen tersebut adalah
Sipleg, bercerita tentang perempuan yang terus dipaksa suaminya untuk
melahirkan demi mendapatkan anak lelaki; Sawa, bercerita tentang
perselingkuhan perempuan yang telah bersuami; dan Pastu, bercerita tentang
perempuan yang tidak menginginkan perkawinan karena takut disakiti seperti
yang telah dialami orang-orang terdekatnya.
Keempat, peneliti memfokuskan penelitian pada citra perempuan
dikarenakan banyak terjadinya penindasan dan ketidakadilan terhadap perempuan
hampir di seluruh sendi kehidupan dan tercermin dalam karya sastra. Melalui
9
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
tercermin citra perempuan. Citra para tokoh perempuan tersebut merupakan
bentuk imajinasi, renungan, ingatan, pikiran, gagasan, pandangan pengarang
tentang keberadaan, kedudukan, kehidupan, kepribadian, dan keadaan-keadaan
perempuan. Mahayana (1993:11) mengatakan bahwa para sastrawan Indonesia,
baik pria maupun wanita, banyak menampilkan hayatan, renungan, ingatan,
fikiran, gagasan dan pandangan mereka tentang citra perempuan Indonesia
(1993:5). Selain itu, ia menegaskan bahwa citra perempuan menjadi bagian yang
sangat penting dan menonjol (signifikan dan dominan) dari sejarah perkembangan
sastra di Indonesia.
Kelima, untuk mendapatkan citra perempuan dalam cerpen Akar Pule
karya Oka Rusmini, maka digunakanlah teori kritik sastra feminis ideologis yang
bertujuan membongkar citra streotipe wanita dalam karya sastra.
Berdasarkan alasan-alasan di atas, penelitian ini penting dilakukan.
Penelitian ini akan memberikan gambaran tentang citra perempuan dan tinjauan
dari segi feminisme terhadap citra perempuan yang direpresentasikan dalam
kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas dapat dirumuskan beberapa masalah
dalam penelitian ini.
1. Bagaimana struktur teks cerpen Sipleg, Sawa, dan Pastu yang terdapat dalam
kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini?
2. Bagaimana citra perempuan pada cerpen Sipleg, Sawa, dan Pastu yang terdapat
dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini?
3. Bagaimana tinjauan dari segi feminisme terhadap citra perempuan pada cerpen
Sipleg, Sawa, dan Pastu yang terdapat dalam kumpulan cerpen Akar Pule
karya Oka Rusmini?
10
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis citra
perempuan dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini. Secara lebih
terperinci penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis:
1. struktur teks cerpen Sipleg, Sawa, dan Pastu yang terdapat dalam kumpulan
cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini;
2. citra perempuan pada cerpen Sipleg, Sawa, dan Pastu yang terdapat dalam
kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini;
3. tinjauan dari segi feminisme terhadap citra perempuan pada cerpen Sipleg,
Sawa, dan Pastu yang terdapat dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka
Rusmini.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini memberikan informasi mengenai citra perempuan
dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini. Informasi tersebut
diharapkan dapat bermanfaat dalam hal-hal berikut.
1. Manfaat Teoretis, menambah perbendaharaan penelitian tentang citra
perempuan dan dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian-penelitian
selanjutnya, khususnya yang berkaitan dengan telaah Feminisme.
2. Manfaat Praktis, mendapatkan pengetahuan tentang citra perempuan dan
tinjauan dari segi feminisme terhadap citra perempuan pada cerpen Sipleg,
Sawa, dan Pastu yang terdapat dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka
Rusmini.
1.5 Definisi Operasional
Sesuai dengan judul, permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai,
penelitian ini meliputi beberapa konsep. Konsep-konsep tersebut perlu ditegaskan
terlebih dahulu definisinya agar penelitian ini jelas dan tidak terjadi
kesalahpahaman dalam memahami maksudnya. Adapun konsep-konsep yang
11
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
1. Cerpen
Cerpen merupakan akronim dari cerita pendek yang memiliki pengertian
kisahan yang memberi kesan tunggal yang dominan tentang satu tokoh dalam latar
dan situasi dramatik. Panjang cerpen bervariasi tergantung dari jumlah kata, mulai
dari short-short story (berkisar 500-an kata), middle short story, dan long short
strory (terdiri dari puluhan ribu kata). Cerpen-cerpen dalam penelitian ini
merupakan middle short strory.
2. Pendekatan strukturalisme
Pendekatan strukturalisme dipandang sebagai salah satu pendekatan
(penelitian) kesusastraan yang menekankan kajian hubungan antara unsur-unsur
pembangun karya sastra yang bersangkutan. Analisis struktural terhadap cerpen
dalam penelitian ini dilakukan terhadap pengaluran, alur, tokoh, latar, dan aspek
penceritaan.
3. Citra Perempuan
Citra perempuan diartikan sebagai gambaran mental yang dimiliki
seseorang atau sekelompok perempuan. Dalam penelitian ini, citra perempuan
yang akan dianalisis meliputi citra fisik, citra psikis, dan citra sosial.
4. Kritik Sastra Feminis
Kritik sastra feminis adalah sebuah kritik sastra yang memandang sastra
dengan kesadaran khusus akan adanya perbedaan jenis kelamin yang banyak
berhubungan dengan budaya, sastra dan kehidupan manusia pada umumnya.
Kritik sastra feminis dalam penelitian ini akan dilihat melalui tinjauan feminis
terhadap struktur cerpen dan citra perempuan. Selain itu, akan dianalisis juga
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang melakukan kajian
terhadap kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini. Dalam menentukan
metode penelitian yang digunakan, dapat diperoleh melalui gabungan dua metode
dengan syarat kedua metode tidak bertentangan. Metode penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Deskripsi
analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian
disusul dengan analisis. Secara etimologis deskripsi dan analisis berarti
menguraikan. Meskipun demikian, analisis yang berasal dari bahasa yunani,
analyein (‘ana’ = atas, ‘lyein’ = lepas, urai), telah diberikan arti tambahan, tidak semata-mata menguraikan malainkan juga memberikan pemahaman dan
penjelasan secukupnya (Ratna, 2004: 53).
Melalui metode penelitian desktriptif analisis, peneliti bermaksud
mendekripsikan masalah-masalah yang terdapat dalam kumpulan cerpen Akar
Pule karya Oka Rusmini. Setelah mengumpulkan data, menyusun,
mengklasifikasikan masalah-masalah, langkah selanjutnya adalah melakukan
analisis dengan menggunakan teori kritik sastra feminis ideologis sehingga akan
didapat kesimpulan berupa citra perempuan dalam kumpulan cerpen Akar Pule.
3.2 Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah kumpulan cerpen Akar Pule karya
Oka Rusmini yang diterbitkan oleh PT Grasindo: Jakarta pada tahun 2012 dengan
ketebalan 145 halaman. Kumpulan cerpen Akar Pule terdiri dari 10 judul cerpen
yang mengetengahkan tema perempuan dalam kultur budaya Bali. Dari ke-10
judul cerpen tersebut, peneliti melakukan kajian terhadap 3 judul cerpen yang
29
Akhmad Baktiar Rifai, 2013 3.3 Teknik Penelitian
3.3.1 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
studi dokumentasi, yaitu dengan mencari dan mengumpulkan sumber yang
relevan dan dapat dijadikan rujukan penelitian.
3.3.2 Teknik Pengolahan Data
Setelah memperoleh data yang lengkap maka langkah selanjutnya adalah
melakukan analisis. Dalam penelitian ini data akan dianalisis menggunakan
pendekatan struktural dan kritik sastra feminis (KSF) ideologis. Pendekatan
struktural yang akan digunakan untuk menganalisis struktur cerpen adalah
pendekatan struktural Todorov. Analisis yang dilakukan meliputi analisis struktur
alur, pengaluran, tokoh, latar, dan tipe penceritaan. Sedangkan melalui kritik
sastra feminis ideologis akan didapatkan citra stereotip perempuan dalam karya
sastra. Berikut adalah langkah kerja penelitian ini.
1. Peneliti melakukan analisis struktur pada cerpen Sipleg, Sawa, dan Pastu.
Analisis sruktur tersebut meliputi analisis alur dan pengaluran, tokoh, latar,
dan tipe penceritaan.
2. Peneliti melakukan analisis dan deskripsi mengenai citra perempuan pada
cerpen Sipleg, Sawa, dan Pastu dengan menggunakan pendekatan kritik
sastra feminis ideologis. Citra perempuan yang dianalisis meliputi citra
fisik, citra psikis, dan citra sosial.
3. Peneliti melakukan analisis dan deskripsi mengenai tinjauan feminisme
terhadap struktur cerpen Sipleg, Sawa, dan Pastu. Struktur yang dimaksud
dibatasi pada tinjauan terhadap tokoh dan latar sosial.
4. Peneliti melakukan analisis dan deskripsi mengenai tinjauan feminisme
terhadap citra perempuan pada cerpen Sipleg, Sawa, dan Pastu. Citra
perempuan yang dimaksud sebelumnya telah dianalisis berdasarkan asek
30
5. Peneliti melakukan analisis dan deskripsi mengenai perlawanan tokoh-tokoh
perempuan pada cerpen Sipleg, Sawa, dan Pastu. Perlawanan tokoh-tokoh
perempuan yang dimaksud adalah tindakan memberontak terhadap dominasi
kekuasaan laki-laki yang dilakukan secara tersamar maupun
terang-terangan, dilakukan dalam hal kecil maupun besar, dan memberikan dampak
maupun tidak sama sekali.
6. Peneliti menarik kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh dan telah
dianalisis. Langkah terakhir adalah merumuskan simpulan dari penelitian
yang telah dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menjawab masalah utama
dalam penelitian, yakni bagaimana citra perempuan dalam kumpulan cerpen
Akar Pule karya Oka Rusmini.
Untuk memudahkan penelitian, penulis membuat alur penelitian yang
31
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
Bagan 3.1 Kerangka Berpikir Penelitian
m
KUMPULAN CERPEN AKAR PULE KARYA OKA RUSMINI
Terdapat 10 judul cerpen dengan tema perempuan dalam kultur budaya Bali. Dalam penelitian ini dipilih 3 judul cerpen yang dilatarbelakangi atas perbedaan tema dan masalah yang lebih menonjol mengenai permasalahan
perempuan
Studi Pustaka Cerpen Sipleg, Sawa, dan Pastu Karya Oka Rusmini
Kritik Sastra Feminis Ideologis
-Citra Perempuan
-Tinjauan Feminis
terhadap Stuktur Cerpen
-Tinjauan Feminis
terhadap Citra Perempuan
-Perlawanan Tokoh-Tokoh
Perempuan Sruktur Cerpen Sipleg, Sawa,
dan Pastu
-Analisis Pengaluran
-Analisis Alur
-Analisis Tokoh
-Analisis Latar
-AnalisisTipe Penceritaan
32
Dalam menganalisis struktur cerpen, peneliti melakukan langkah-langkah
penelitian. Langkah-langkah yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1. Menyebutkan identitas cerpen berupa judul cerpen.
2. Menguraikan ikhtisar cerpen
3. Menganalisis struktur cerpen, yaitu pengaluran, alur, tokoh, latar, dan aspek
penceritaan, dan mengkaji apakah dalam setiap unsur tersebut terdapat
representasi citra perempuan. Analisis akan dilakukan dengan acuan seperti
[image:27.595.110.518.197.755.2]pada tabel berikut.
Tabel 3.1
Pedoman Analisis Cerpen
No Pokok-Pokok Analisis
Penjelasan Teori Kritik Sastra Feminis Ideologis
1 Pengaluran Menganalisis bagaimana
pengaluran dalam cerpen dengan mencari satuan motif atau satuan cerita yang memberi kesan akan satuan keutuhan (sekuen)
2 Alur Menganalisis bagaimana
satuan dasar (sekuen) tersebut membentuk narasi yang disebut dengan fungsi utama dan menjadi penggerak jalan cerita
3 Tokoh Menjelaskan tokoh utama dan
tokoh tambahan berserta semua
33
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
tindakan-tindakannya perempuan
4 Latar Analisis jenis latar yang
meliputi latar tempat, latar
waktu, dan latar sosial
Apakah jenis-jenis latar tersebut merepresantikan citra perempuan.
5 Penceritaan Analisis penceritaan menurut
BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Dari hasil analisis citra perempuan dalam kumpulan cerpen Akar Pule
karya Oka Rusmini dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.
Struktur cerpen yang dianalisis meliputi pengaluran, alur, tokoh, latar dan
aspek penceritaan. Secara sederhana, struktur pengaluran dan alur ketiga cerpen
dapat dikatakan mudah dipahami karena didominasi alur linear. Alur kilas balik,
sorot balik dan bayangan digunakan untuk menciptakan ketegangan-ketegangan
dalam cerita.
Pengambaran tokoh dalam ketiga cerpen tersebut cukup jelas.
Tokoh-tokoh perempuan berperan sebagai Tokoh-tokoh utama dan menggerakkan cerita.
Tindakan tokoh-tokoh perempuan merepresentasikan adanya penindasan dominan
yang dilakukan oleh laki-laki. Selain itu, terdapat juga penindasan oleh tokoh
perempuan seperti tergambar dalam cerpen Sipleg. Watak-watak tokoh perempuan
sangat beragam, antara lain berwatak keras dan egois, berwatak lemah dan labil,
serta berwatak halus dan lembut. Penamaan tokoh menyiratkan strata sosial
mereka dalam masyarakat.
Pengambaran latar yang meliputi latar tempat, latar waktu dan latar sosial
ditampilkan dengan jelas. Latar tempat selalu menampilkan pulau Bali lengkap
dengan warna lokal kebudayaan yang khas. Latar waktu dalam cerpen Sipleg dan
Pastu menampilkan Bali pada zaman dahulu dimana aturan-aturan adat masih
berlaku dan wajib ditaati. Sementara itu, latar waktu masyarakat Bali modern
tergambar dalam cerpen Sawa. Latar sosial yang ditampilkan dalam ketiga cerpen
berbeda-beda. Dalam Cerpen Sipleg, latar sosial yang ditampilkan adalah
masyarakat Bali yang menganut sistem patriarki dengan mendudukkan laki-laki
lebih tinggi dibanding perempuan. Dalam cerpen Sawa, latar sosial tidak lagi
menampilkan sistem patriarki. Kedudukan laki-laki dan perempuan sejajar seperti
114
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
Pastu menampilkan keadaan masyarakat Bali yang memegang teguh peran kasta
dalam mengatur pernikahan.
Jenis penceritaan dalam ketiga cerpen tersebut mencakup pencerita intern
yang hadir di dalam teks dan mengambil posisi sebagai tokoh dan pencerita
ekstern yang tidak hadir di dalam teks karena posisinya hanya sebagai pengamat.
Terdapat juga tipe pencerita yaitu, wicara yang dilaporkan, wicara alihan, dan
wicara yang dinarasikan. Jenis penceritaan dan tipe pencerita tersebut
memperjelas kedudukan pengarang sebagai pembuat cerita.
Analisis citra perempuan dalam ketiga cerpen tersebut digunakan untuk
memberikan gambaran mengenai tokoh-tokoh dalam cerita. Gambaran tersebut
didapat dengan cara menganalisis setiap tindakan maupun ucapan yang dilakukan
tokoh. Terdapat tiga kategori citra perempuan yang dianalisis, yakni citra fisik,
citra psikis, dan citra sosial. Dari hasil analisis, secara sederhana dapat dikatakan
bahwa citra perempuan dalam ketiga cerpen tersebut adalah perempuan yang
mendapatkan penindasan, baik fisik maupun psikis yang dilakukan oleh tokoh
laki-laki dalam kehidupannya. Sementara itu, citra sosial yang tergambar adalah
citra sosial perempuan yang mendapat pandangan negatif dari masyarakat.
Tinjauan feminisme digunakan untuk melakukan kritik-kritik terhadap
penindasan yang dialami perempuan, dalam hal ini kaitannya dengan tokoh-tokoh
perempuan dalam ketiga cerpen tersebut. Tinjauan feminisme terbagi atas tinjauan
terhadap struktur cerpen dan tinjauan terhadap citra perempuan dalam cerpen.
Struktur yang dimaksud oleh peneliti dibatasi pada penokohan dan latar sosial.
Berdasarkan hasil analisis tinjauan feminisme, pengarang menempatkan
tokoh-tokoh perempuan terkurung dalam budaya patriarki Bali. Oleh pengarang, tokoh-tokoh
laki-laki dibuat mendominasi segala aspek kehidupan yang menyebabkan
perempuan mengalami penindasan.
Selain itu, dianalisis juga bagaimana perlawanan yang dilakukan
tokoh-tokoh perempuan. Pada cerpen Sipleg, tokoh-tokoh Luh Sipleg melawan budaya
patriarki di Bali. Perlawanan tersebut dilakukan secara tersamar dengan menjadi
115
sebagai protes terhadap penindasan-penindasan yang dilakukan oleh orang-orang
disekitarnya yang memandang rendah kedudukan perempuan. Pada cerpen Sawa,
perlawanan terhadap budaya patriarki dilakukan oleh tokoh Ni Luh Pudakwangi.
Perlawanan tersebut juga dilakukan secara tersamar, yakni dengan berselingkuh
dengan laki-laki lain. Sebenarnya tindakan berselingkuh yang dilakukan seorang
perempuan yang telah bersuami tentu saja tidak dibenarkan dalam budaya
manapun, akan tetapi dalam hal ini Ni luh Pudakwangi telah berani menentang
budaya patriarki pada masyarakat Bali yang sangat kental. Dalam masyarakat
Bali, perempuan yang telah menikah harus berada dibawah kekuasaan laki-laki,
sehingga dengan mudah akan diambil kesimpulan bahwa perempuan Bali tidak
akan berbuat “macam-macam”. Pada cerpen Pastu, perlawanan terhadap budaya
patriarki dilakukan oleh tokoh Dayu Cenana. Perlawanan tersebut dilakukan
secara terang-terangan; ia memilih untuk tidak menikah. Dalam budaya Bali,
perempuan yang tidak menikah adalah perempuan yang tidak sempurna. Dayu
Cenana memilih menjadi perempuan yang dianggap tidak sempurna dibandingkan
harus mengalami perlakuan semena-mena dari laki-laki seperti yang dialami oleh
orang-orang terdekatnya. Dengan demikian, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa pengarang dalam ketiga cerpen tersebut mengambil tema perempuan dalam
balutan kebudayaan Bali yang menganut sistem patriarki. Sistem patriarki tersebut
mengakibatkan ketertindasan perempuan yang dilakukan oleh laki-laki atas nama
budaya.
5.2 Saran
Setelah melakukan serangkaian penelitian pada cerpen Sipleg, Sawa, dan
Pastu yang terdapat dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini,
penulis memberikan saran yang bersifat membangun sehubungan dengan objek
penelitian, yaitu:
1. Dalam ketiga cerpen tersebut banyak sekali terjadi ketidakadilan gender yang
dilakukan laki-kali terhadap perempuan. Dominasi laki-laki begitu sulit
116
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
ini belum menyeluruh. Perempuan-perempuan dalam masyarakat pemegang
teguh adat istiadat patriarki adalah contoh nyata dari ketidakadilan gender
tersebut.
2. Bagi kegiatan akademis, penelitian ini diharapakan menjadi bahan
pembelajaran dan referensi sehingga memperkaya khazanah penelitian karya
sastra. Kumpulan cerpen Akar pule karya Oka Rusmini ini juga dapat dikaji
menggunakan teori lain sehingga akan didapat hasil penelitian yang beragam.
3. Bagi penulis perempuan, penelitian ini adalah sebuah tolok ukur keberhasilan
mereka dalam menyuarakan kaumnya. Penulis perempuan harus tetap
memperjuangkan kesetaraan gender yang telah sejak lama dicita-citakan
Daftar Pustaka
Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Harcourt, Brace,
& World, Inc.
Arivia, Gadis. 2003. Filsafat Berperspektif Feminis. Jakarta: Yayasan Jurnal
Perempuan.
Awaliyah, Nissa. 2008. Citra Penari Tayub Perempuan dalam Novel Penari Karya
Dadang A. Dahlan. Bandung: Tidak diterbitkan.
Bali Post. 2010. Mitos Cantik dan Kendali Pada Tubuh Perempuan. Bali: Dimuat
tanggal 25 April.
Bali Post. 2010. Perempuan-Perempuan Imajer di Simpang Kenyataan. Bali:
Dimuat tanggal 4 April.
Bhasin, K. 1996. Menggugat Patriarki: Pengantar tentang Persoalan Dominasi
terhadap Kaum Perempuan. Yogyakarta: Bentang dan Kalynamitra.
Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas.
Jakarta:Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Damono, Sapardi Djoko. 1999. Politik Ideologi dan Sastra Hibrida. Jakarta:
Pustaka Firdaus.
Darma, Budi. 1984. Sejumlah Esei Sastra. Jakarta: Unipress.
Depdiknas. 2012. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta:
118
Akhmad Baktiar Rifai, 2013
Galanteri, Vega. 2007. Citra Perempuan Jawa, Jepang, dan Keturunan Indo
Jepang dalam Novel Perempuan Kembang Jepun Karya Lan Fang.
Bandung: Tidak diterbitkan.
Herutomo dan Hartati. 1991. Dampak Perkawinan Campuran terhadap
Tatakrama Daerah Bali. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Jones, Edward H. 1968. Outlines of Literature: Short Stories, Novels, and Poems.
New York: The Macmillan Company.
Luxemburg, Jan Van, Mike Bal, dan Willem G. Westseijn. 1991. Tentang Sastra.
(diterjemahkan oleh Akhadiati Ikram). Jakarta: Intermasa.
Mahayana, Maman S dkk. 1993. Ringkasan Novel Indonesia. Jakarta: PT.
Grasindo.
Mashuri. 2011. Bahasa Pemberontakan Terhadap Tradisi Bali Dalam Novel
Tempurung : Kajian Stilistika. Tidak Diterbitkan.
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Noor, Redyanto. 1999. Perempuan Idaman Novel Indonesia: Erotik dan Narsistik.
Semarang: Bendera.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rosidi, A. 1959. Cerita Pendek Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya.
Rusmini, Oka. 2012. Akar Pule. Jakarta: Grasindo.
Rusyana, Yus. 1979. Metode Pengajaran Sastra. Bandung: FKKS IKIP Bandung.
Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi. (diterjemahkan oleh Sugihastuti & Rossi Abi
119
Suara Merdeka. 2001. “Cerpen Indonesia Yang Semakin Menjamur”. Semarang:
Dimuat tanggal 19 Agustus.
Sugihastuti. 2000. Wanita di Mata Wanita. Bandung: Nuansa.
Sugihastuti, dan Suharto. 2002. Kritik Sastra Feminis Teori dan Aplikasinya.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sumardjo, Jakob. 1917. Catatan Kecil tentang Menulis Cerpen. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Sumardjo, Jakob dan Saini K. M. 1991. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Teeuw, A. 1983. Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung: PT. Dunia Pustaka Jaya.
Toeti, Heraty. 1991. Wanita Dan Pembangunan. Jakarta: PT. Grasindo.
Tzevan, Todorov. 1985. Tata Sastra. Jakarta: Djambatan.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan (diterjemahkan oleh
Melani Budianta). Jakarta: PT. Gramedia.
Windiyarti, Dara. 2011. Dendam Perempuan-Perempuan Yang Tersakiti : Kajian
Psikoanalisis Sosial Novel Tempurung Karya Oka Rusmini. Tidak
Diterbitkan.