• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PESERTA DIDIK BERKESULITAN BELAJAR (LEARNING DIFFICULTIES) DI SEKOLAH DASAR REGULER.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "MODEL PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PESERTA DIDIK BERKESULITAN BELAJAR (LEARNING DIFFICULTIES) DI SEKOLAH DASAR REGULER."

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

HALAMAN PENGESAHAN ... i

LEMBAR PERNYATAAN ... ii

ABSTRAK ... iii

ABSTRACT ... iv

KATA PENGANTAR ... v

UCAPAN TERIMA KASIH ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi dan Rumusan Masalah ... 11

C. Tujuan Penelitian ... 17

D. Anggapan Dasar ... 18

E. Pertanyaan Penelitian ... 19

F. Definisi Operasional Variabel ... 20

G. Manfaat Penelitian ... 22

BAB II KAJIAN TEORI ... 24

A. Hakekat Peserta Didik Berkesulitan Belajar ... 24

(2)

Berkesulitan Belajar ... 29

2. Membidik Permasalahan Belajar dan Proses Membaca ... 31

C. Hakekat Pembelajaran ... 54

1. Pengertian Model Pembelajaran ... 55

2. Ragam Model Pembelajaran ... 57

D. Alternatif Model Pembelajaran di Kelas Mainstreaming. ... 62

1. Pembelajaran yang berdiferensiasi ... 62

2. Multi level dalam Belajar ... 69

3. Rencana Pembelajaran yang Diindividualisasikan dalam Pembelajaran yang Berdiferensiasi dengan Pendekatan Multi level. ... 72

BAB III METODA PENELITIAN ... 80

A. Metoda Penelitian ... 80

B. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 82

C. Prosedur Penelitian ... 86

1. Studi Pendahuluan ... 86

2. Pengembangan Model ... 87

3. Tahap Pengujian Model ... 92

D. Tehnik Pengumpul Data dan Pengembangan Instrumen ... 93

(3)

HASIL PENELITIAN ... 100

A. Hasil Studi Pendahuluan ... 100

1. Hasil Studi Lapangan ... 100

2. Analisis Empirik ... 122

3. Analisis Teori ... 127

B. Pengembangan Draf Awal Model pembelajaran (Model Konseptual) 134 C. Ujicoba Model... ... 159

D. Uji Validasi Model ... 230

E. Pembahasan Hasil Penelitian ... 236

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI ... 253

A. Kesimpulan ... 253

B. Implikasi ... 267

C. Rekomendasi ... 269

DAFTAR PUSTAKA ... 274

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 280

(4)

Tabel 2.1 Langkah-langkah untuk Mendapatkan Akses ke Kurikulum

Umum untuk Peserta didik berkesulitan belajar membaca ... 69

Tabel 3.2 Sumber data penelitian pada Studi Pendahuluan ... 83

Tabel 3.3 Sumber data penelitian pada Ujicoba terbatas ... 84

Tabel 3.4 Sumber data penelitian pada Ujicoba Luas ... 85

Tabel 3.5 Analisis Data Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Anak Dengan Kesulitan Belajar ... 99

Tabel 4.6 Pola Disabilitas Membaca ... 119

Tabel 4.7 Pemetaan Standar kompetensi, kompetensi dasar dan Indikator pada Model pembelajaran yang berdiferensiasi membaca kelas 4 kelas Sekolah dasar Semester Genap 2012 ... 154

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Variabel-variabel Pembentukan Proses Pembelajaran ... 13

Gambar 1.2 Keterkaitan Antar Variabel Pengembangan Model Pembelajaran ... 17

Gambar 2.3 Elemen yang berkontribusi dalam membaca ... 32

Gambar 2.4 Proses Pembelajaran yang Diindividualisasikan ... 74

Gambar 3.5 Bagan Kerangka Penelitian dan Pengembangan ... 81

Gambar 3.6 Bagan Siklus Pada Ujicoba Terbatas dan luas ... 88

Gambar 3.7 Skema rancangan ekprimen uji efektivitas model... 93

Gambar 4.8 Desain Model Draf Awal ... 153

Gambar 4.9 Model pembelajaran berdiferensiasi hasil pengembangan uji terbatas ... 183

Gambar 4.10 Pedoman Pelaksanaan Model pembelajaran berdiferensiasi hasil pengembangan ... 184

Gambar 4.11 Model pembelajaran berdiferensiasi hasil pengembangan uji skala luas ... 221

Gambar 4.12 Pedoman Penyusunan dan Implementasi Model Pembelajaran Berdiferensiasi ... 225

Gambar 4.13 Tahap Perkembangan Desain Model Pembelajaran Berdiferensiansi ... 229

Gambar 4.14 Model Prosedur Pembelajaran Berdiferensiasi ... 234

(6)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Instrumen Penelitian Model Pembelajaran Untuk

Meningkatkan Kemampuan Membaca Anak Dengan

Kesulitan Belajar ... 280

Lampiran 2 Silabus Pembelajaran ... 289

Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I... 295

Lampiran 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran II ... 299

Lampiran 5 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran III ... 303

Lampiran 6 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran IV ... 306

Lampiran 7 Teks Bacaan ... 309

Lampiran 8 Panduan Observasi Kelas Dalam Uji Coba Model Pembelajaran Berdiferensiasi ... 305

Lampiran 9 Lembar Pengamatan ... 307

Lampiran 10 Lembar Penilaian Desain Model Pembelajaran Berdiferensiasi Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Murid dengan Kesulitan Belajar (Learning Difficulties) di Sekolah Dasar ... 308

Lampiran 11 Pedoman Penyusunan dan Implementasi Model Pembelajaran Berdiferensiasi ... 323

Lampiran 12 Olahdata ujicoba Terbatas ... 324

Lampiran 13 Olahdata Ujicoba Luas ... 332

Lampiran 14 Olahdata Uji validasi ... 348

Lampiran 15 Hasil Karya Anak ... 352

Lampiran 16 Contoh Teknik Cloze ... 354

Lampiran 17 Dokumentasi Kegiatan ... 355

(7)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Sesuai dengan fokus permasalahan dan tujuan penelitian, maka metoda

yang akan digunakan dalam studi ini adalah rancangan penelitian pengembangan.

Penelitian pengembangan diarahkan sebagai a process used to develop and

validate educational product (Borg and Gall:1989: Branen, 2002). Sebuah proses

untuk mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan. Produk yang akan

dikembangkan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran di sekolah dasar

yang dapat mengakomodasi kemampuan membaca pada peserta didik berkesulitan

belajar. Penelitian dan pengembangan secara langsung membidik kondisi serta

kebutuhan pengembangan produk yang bersandar dari aktual lapangan yang

digali melalui studi pendahuluan, juga memiliki langkah-langkah yang sistematis

dilakukan secara siklus dengan evaluasi dan penyempurnaan-penyempurnaan

sebelum memperoleh produk. Bersandar dari komponen-komponen tersebut

membuat penelitian dan pengembangkan sesuai dengan penelitian yang penulis

kembangkan.

Secara konseptual Borg and Gall (1989:784-785) menggagas sepuluh

langkah yang ditempuh dalam pelaksanaan metode ini yaitu: 1) Penelitian dan

pengumpulan informasi (research and information collecting), 2) Perencanaan

(planning) 3) Pengembangan produk awal (Develop preliminary form of product),

(8)

product revision), 6) uji coba utama (main fild testing), 7) Revisi produk

perasional (operational product revision), 8) Uji coba operasional (operational

fild testing), 9) Revisi produk akhir (final revisi product), 10) Desimidasi dan

implimentasi (dessimination and implementation). Dari kesepuluh

langkah-langkah tersebut di atas Sukmadinata (2006:190) memodifikasi model penelitian

dan pengembangan kedalam tiga langkah yaitu 1) studi pendahuluan yang

meliputi studi literatur, studi lapangan, dan penyusunan draf awal produk, 2) uji

coba dengan sampel terbatas (uji coba terbatas) dan uji coba dengan sampel lebih

luas (uji coba lebih luas), 3) uji produk melalui eksprimen dan sosialisasi produk.

Adapun kerangka penelitian dan pengembangan yang akan dilakukan

dalam penelitian ini divisualisasikan pada bagan berikut:

Gambar 3.5

(9)

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di beberapa sekolah dasar yang berada di kota

Bandung dan sekitarnya, baik sekolah dasar kategori reguler maupun sekolah

dasar inklusi (SD Inklusi). SD Inklusi merupakan sebutan untuk sekolah dasar

biasa yang menyelenggarakan pendidikan umum dan menerima peserta didik

dengan disabilitas. Pada umumnya SD Inklusi tersebut telah mendapat pengakuan

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Mengingat sekolah

dasar dengan kategori inklusi lokasinya menyebar malahan kebanyakan berada di

pinggiran kota Bandung atau telah memasuki wilayah kabupaten Bandung maka

penelitian dilakukan pada sekolah dasar dengan lokasi kota Bandung dan

sekitarnya.

Subjek dalam penelitian adalah a) guru kelas dan guru bidang studi bahasa

Indonesia yang mengampuh peserta didik berkesulitan belajar, b) peserta didik

yang ada pada kelas mainstreaming.

Dasar pemikiran pemilihan subjek peserta didik sekolah dasar adalah usia

peserta didik sekolah dasar berkisar 7 sampai 12 tahun berada pada fase middle

childhood dimana dari sisi kebahasaan peserta didik pada tingkat perkembangan

yang sangat pesat. Dari perspektif psikologi kognitif (Piaget) peserta didik telah

memiliki kemampuan beroperasi secara verbal pada objek dan telah dapat

merangkaikan, mengklasifikasi, menarik makna atau kesimpulan, bahkan peserta

didik telah dapat melakukan abstraksi konsep-konsep bahasa. Disisi lain

keterampilan membaca melibatkan aspek kematangan, kemampuan mental dan

(10)

mengkomunikasikan ide-ide yang terkandung dalam bahan bacaan. Dikatakan

pula peserta didik berada pada fase operasional konkrit (Piaget) telah mampu

memahami dan menginterprestasikan komunikasi dengan baik dan telah mampu

pula membuat dirinya untuk dimengerti orang lain.

a. Lokasi dan Subjek studi pendahuluan

Subjek studi pendahuluan dapat dilihat dari tabel dibawah ini :

Tabel 3.2

Sumber data penelitian pada Studi Pendahuluan

No Sekolah Kategori

Jumlah Peserta didik

Kesulitan belajar

01 SD Negeri Sarijadi 3 Inklusi 4

02 SD Negeri Sarijadi 7 Reguler 3

03 SD Negeri Gunung Rahayu 2 Reguler 6

04 SD Negeri Gunung Rahayu 4 Reguler 5

05 SD Mutiara Hati Reguler 4

06 SD Mutiara Bunda Inklusi 3

07 SD Negeri Sapan 4 Reguler 6

08 SD Negeri Sapan 2 Inklusi 14

09 SD Negeri Cipagalo 1 Reguler 5

10 SD Tunas Harapan Inklusi 17

11 SD Negeri Cipagalo 4 Reguler 8

12 SD Negeri Cipagalo 2 Reguler 4

b. Lokasi dan subjek uji coba terbatas dan uji coba skala lebih luas

Dari dua belas sekolah tempat dilakukan studi pendahuluan, maka peneliti

menetapkan dua sekolah untuk uji coba terbatas, dan 4 sekolah untuk uji coba

skala luas. Penentuan sekolah dilakukan secara perposive sampling, dengan

pertimbangan bahwa subjek penelitian pada sekolah tersebut memiliki

(11)

dianggap layak untuk dapat memberikan informasi setelah desain model

diujicobakan. Adapun sekolah-sekolah untuk dijadikan tempat ujicoba terbatas

sebagai berikut:

Tabel 3.3

Sumber data penelitian pada Ujicoba terbatas

Sekolah dan kelas Jumlah Peserta didik Peserta didik berkesulitan belajar belajar

katagori Keterangan

SD Negeri Cipagalo 4

27 3 Kurang Guru S1 Bahasa Arab,

belum mendapat

pelatihan penangan

ABK, dukungan

sekolah baik, sarana prasarana cukup, Lokasi dipinggiran kota

SD Negeri Sarijadi 4 (SD Inklusi)

26 orang 3 Baik Guru memiliki

pengalaman mengajar yang panjang. SI Bahasa Indonesia,

memiliki Guru

pendamping khusus (GPK), dukungan sekolah baik, sarana prasarana baik, guru pernah mendapat pelatihan penangan ABK, lokasi di perkotaan

Sedangkan uji coba skala lebih luas peneliti menentukan 4 sekolah dimana

pernah penulis jadikan tempat studi pendahuluan. Pada uji coba skala luas ini

penulis menentukan sebagaimana yang disyaratkan pada pemilihan sekolah uji

(12)

Tabel 3.4

Sumber data penelitian pada Ujicoba Luas

Sekolah Jumlah Peserta didik Jumlah peserta didik Kesulitan Belajar membaca

Katagori Keterangan

SD Negeri

Tunas Harapan (SD Inklusi)

38 17 Baik Guru S1, pernah

mendapat pelatihan penangan peserta didik berkebutuhan khusus. Dukungan sekolah baik Lokasi di perkotaan. Memiliki guru pembimbing

khusus. SD N Gunung

Rahayu

49 4 Kurang Guru S1, belum

pernah mendapat pelatihan penangan ABK, dukungan sekolah baik, lokasi di pigiran perkotaan

SD Negeri

sarijadi 7

25 4 Kurang Guru S1 belum

pernah mendapat pelatihan penangan ABK, dukungan sekolah baik, lokasi di kota

SD Negeri Sapan

(Inklusi)

25 3 Baik Guru S1

Kependidikan, pernah mendapat pelatihan tentang peserta didik berkebutuhan khusus, dukungan sekolah baik, lokasi dipinggiran kota ,memiliki guru pembimbing

(13)

C. Prosedur Penelitian

Sesuai dengan langkah-langkah penelitian pengembangan Borg dan Gall

hasil modifikasi Sukmadinata (2006:189) maka prosedur penelitian ini melalui

tiga tahapan penting yaitu studi pendahuluan, pengembangan model dan

pengujian model.

1. Studi Pendahuluan

Tahap awal yang dilakukan pada studi pendahuluan dengan melakukan

studi lapangan dan studi literatur. Studi lapangan dilakukan untuk mendapatkan

data faktual berkaitan dengan kurikulum dan pembelajaran baik yang tertulis juga

interaksi pembelajaran yang dibentangkan meliputi: a) Rencana pelaksanaan

pembelajaran b) Proses pembelajaran di kelas yang mengampuh peserta didik

berkesulitan belajar (learning difficulties), c) Materi, media dan sumber belajar

yang digunakan d) Strategi, pendekatan pembelajaran yang dibentangkan,

e) Sistem penilaian serta f) Kualifikasi guru yang mengajar serta sistem dukungan

yang dimiliki. Selain itu untuk mendapatkan gambaran konkrit pola permasalahan

membaca yang dihadapi peserta didik berkesulitan belajar. Pada kajian pustaka

dilakukan untuk memperoleh dukungan pengetahuan tentang teori, konsep,

strategi atau model pembelajaran yang dapat mengakomodasi keberagaman

kebutuhan pembelajaran, juga menelaah berbagai penelitian yang relevan yang

(14)

2. Pengembangan Model Pembelajaran

a. Penyusunan Draf Awal Model Konseptual

Penyusunan draf awal model konseptual didasarkan hasil studi

pendahuluan atau model faktual pembelajaran di sekolah dasar pada kelas yang

mengampuh peserta didik berkesulitan belajar dan kajian pustaka. Pada draf awal

dirumuskan langkah-langkah yang harus ditempuh sebagai tagihan model

pembelajaran mulai dari pra pembelajaran, implementasi, dan evaluasi

pembelajaran.

Draf awal model yang digagas membutuhkan seperangkat pengetahuan,

keterampilan tertentu yang harus dimiliki pengguna di lapangan karena itu untuk

menerapkannya dibutuhkan kesamaan persepsi dengan pemegang kebijakan

sekolah, guru kelas, guru bidang studi yang mengampuh peserta didik

berkesulitan belajar. Untuk mengakomodasi tantangan lapangan maka setelah

disusun draf desain model konseptual peneliti melakukan presentasi ihwal peserta

didik kesulitan belajar dan tantangannya, diskusi-diskusi dengan guru kelas,

bidang studi yang mengampuh pesert didik berkesulitan belajar, kepala sekolah

barkaitan dengan segala sesuatu sebagai tagihan penerapan model pembelajaran.

b. Uji coba model pembelajaran

Model pembelajaran yang telah disusun selanjutnya diujicobakan secara

terbatas kemudian uji coba skala luas. Pada uji coba terbatas maupun dengan skala

lebih luas peneliti menggunakan prinsip-prinsip atau tehnik yang digunakan pada

lesson study. Lesson study berasal dari Jepang dengan nama Jugyo kenkyu,

(15)

atau pengembangan profesional guru berbasis sekolah. Ada juga yang mengatakan

kalau lesson study is collaboration research on teaching-learning process

(Hibi,Y:2004) yang dalam pelaksanaannya jugyou kenkyu memiliki siklus atau

putaran melalui tahapan-tahapan yaitu perencanaan, implementasi, evaluasi dan

refleksi. Sedangkan Japan Society for The Promotion of Science (Inagi:1996)

yaitu melalui tahapan Mondai Settei (Questioning), Keikaku (perencanaan), Jissei

(implimentasi), Kansatsu (Observasi), Hansei (refleksi) and Saikeikaku

(perencanaan kembali). Adapun tahapan-tahapan siklus yang akan dilakukan

pada uji coba terbatas dan uji coba skala luas divisualisasikan sebagai berikut:

Gambar 3.6

Bagan Siklus Pada Ujicoba Terbatas dan luas

1) Tahap modai settei (questioning), tahap ini meliputi : a). Adanya kebutuhan

untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, b) Analisis masalah c) rumusan

masalah,

Mondai

Keikaku

Jissei

Kansatsu

(16)

2) Tahap keikaku (perencanaan) : Penyusunan rencana pembelajaran meliputi

Merumuskan skenario pembelajaran baik langkah-langkah yang akan

ditempuh, materi, strategi, mempersiapkan sarana dan prasana atau dukungan

dalam pembelajaran

3) Tahap jissei (implementasi) : adalah tahap menerapkan rencana pembelajaran

yang telah dirancang dengan menugaskan guru sebagai guru model yang

melaksanakan pembelajaran tersebut dalam kelas yang telah disepakati

sebelumnya. Sebelum pembelajaran dilakukan oleh guru model maka peserta

lesson study yang bertindak sebagai observer wajib membaca terlebih dahulu

rencana pembelajaran yang dibagikan.

4) Tahap kansatsu (Observasi): Observer atau pengamat pada kegiatan ini terdiri

dari peneliti sendiri, guru-guru yang mengampuh peserta didik dengan

kesulitan belajar, kepala sekolah, ahli kurikulum dan pembelajaran, ahli

bahasa. Adapun komponen yang diamati selama model konseptual

diimplementasikan meliputi empat substansi yang pokok yaitu:

a. Penerapan model pembelajaran

- Kesesuaian penerapan pembelajaran dengan rencana pembelajaran

tertulis

- Kejelasan instruksional dan tahap-tahap pembelajaran

- Materi pembelajaran : lembar kerja siswa, materi rujukan

- Media pembelajaran meliputi: Media atau peralatan, penggunaan

sumber-sumber belajar

(17)

b. Kemampuan Guru

- Kemampuan menganalisis kebutuhan, mengidentifikasi keragaman

belajar siswa

- Membidik lingkungan psikologis dan sosial kelas.

- Mengaitkan pengalaman setiap siswa pada materi yang akan dibahas.

- Kemampuan sinergitas materi dan keunikan peserta didik secara

beragam.

- Menggunakan alat, media pembelajaran dengan efektif

- Komunikasi multi level pada pembelajaran di kelas beragam

- Kemampuan pendayagunaan sistem dukungan kelas

- Pemilihan sistem evaluasi atau penilaian serta memanfaatan data

penilaian

- Penatalaksanaan waktu pembelajaran

c. Interaksi pembelajaran yang ditegakkan

- Keterlibatan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran

- Kesempatan peserta didik untuk belajar dengan bimbingan guru sesuai

kebutuhan

- Suasana kelas yang kondusif

- Pengelolaan keunikan peserta didik secara bijaksana

- Kesempatan peserta didik untuk bertanya dan mengemukakan

pendapat

(18)

- Menjawab pertanyaan guru dengan pengalaman berkaitan dengan

materi yang akan dipelajari

- Mengembangkan skemata dengan mengaitkan kemampuan dengan

informasai baru

- Menerapkan pengetahuan atau keterampilan baru dalam tugas-tugas

membaca dengan bimbingan guru (ekplorasi)

- Motivasi belajar membaca, persepsi terhadap pembelajaran membaca

- Menemukan ide pokok kalimat dan paragraf

- Menarik makna dari bahan bacaan

- Merumuskan ringkasan

5) Tahap hansei (Refleksi) : adalah melakukan refleksi terhadap pembelajaran

yang telah dibentangkan oleh guru model.

Pada Tahap ini dilakukan kegiatan diskusi antara guru model dan observer

mengkomunikasikan secara langsung implementasi pembelajaran, mulai dari

kesesuaian rencana pembelajaran yang tertulis, implimentasai atau

kegiatan-kegiatan yang baik untuk dipertahankan atau dikembangkan atau ditiadakan.

Dalam kegiatan refleksi lima substansi dari kegiatan pengamatan di atas

diangkat menjadi topik diskusi.

6) Tahap saikeikaku (Perencanaan kembali) : tahap ini adalah perumusan

kembali rencana pembelajaran, hal ini dilakukan apabila dinilai pada putaran

sebelumnya jugyou kenkyu masih memiliki kekurangan. Setelah dilakukan

pengkajian dan penyempurnaan maka rancangan model pembelajaran putaran

(19)

Banyak putaran tidak ditetapkan secara ekplisit tetapi putaran akan berhenti

sampai ditemukan adanya kelayakan sebagaimana yang diharapkan.

3. Tahap Pengujian Model

Salah satu tahapan dalam penelitian pengembangan adalah uji validasi

yaitu untuk menguji atau mendapatkan informasi tentang keunggulan dari model.

Sesuai dengan sifat data dan tujuan penelitian yang akan dicapai, maka uji validasi

model dilakukan dengan pendekatan eksperimen dengan desain test awal - tes

akhir kelompok tunggal (the one group pretest-post test design). Studi Eksprimen

dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis dan terkontrol untuk

memprediksi atau mengontrol fenomena dan bertujuan untuk menyelidiki

hubungan sebab akibat (cause and effect relationship). Melalui desain ini

dilakukan dengan membandingkan dalam kelompok yang sama, dalam artian

tidak ada kelompok kontrol. Sebagai subjek pada pengujian ini adalah semua

peserta didik pada kelas dimana terdapat peserta didik berkesulitan belajar. Jika

terdapat perbedaan signifikan antara pretest dan post tes, maka perbedaan tersebut

sebagai dampak atau pengaruh dari intervensi yang diujicobakan. Adapun untuk

menganalisa data yang diperoleh digunakan analisa statistik parametrik atau non

parametrik melalui test Wilcoxon (Marascuilo dan Mc Sweeney:267) dengan

pertimbangan data sampel berkaitan dengan skala ordinal dan tehnik pengambilan

sampel tidak menggunakan random. Secara visual rancangan ekprimen dalam

(20)

Gambar 3.7

Skema rancangan ekprimen uji efektivitas model

D. Tehnik Pengumpul Data dan Pengembangan Instrumen

1. Tehnik pengumpulan data

Tehnik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah observasi,

dokumentasi, tes dan wawancara dan kuesioner dengan rincian sebagai berikut:

a. Pengamatan (Observasi)

Observasi dilakukukan secara langsung terhadap objek atau perilaku dalam

setting sesungguhnya dengan observasi naturalistik disini peneliti dapat secara

langsung, mengungkap tentang situasi, kegiatan, dan perilaku guru dan peserta

didik dalam interaksi pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan

kemampuan membaca peserta didik berkesulitan belajar. Melalui tehnik ini

dimungkinkan peneliti dapat menarik makna yang sulit bilamana mengandalkan

tehnik lain. Dikatakan Maxwell ( 1996:76) ,... observation often enables you to

draw inferences about someones meaning and perfective that you couldn't obtain

by relying exclusively on interview data

Rangkaian pengembangan instrumen diawali dengan penyusunan kisi-kisi,

kemudian dijabarkan melalui item-item yang akan diamati melalui butir-butir

pertanyaan, dan berbentuk serangkaian tugas. Berdasarkan jenis data yang

diperlukan maka pedoman observasi pada studi pendahuluan meliputi

keterampilan berbahasa peserta didik berkesulitan belajar, pembelajaran yang

PRE TES

POS TES INTERVENSI: model

(21)

dibentangkan pada kelas yang mengampuh peserta didik berkesulitan belajar serta

dukungan-dukungan lainnya dalam implementasi pembelajaran, seperti

pencahayaan kelas, sirkulasi udara, besaran kelas baik fisik ruangan, jumlah

rombongan belajar, alat peraga dan dukungan fisik lainnya. Pada pengembangan

model pembelajaran observasi difokuskan pada penerapan model konseptual,

kemampuan guru memfasilitasi murid belajar, interaksi pembelajaran yang

ditegakkan serta kemampuan membaca peserta didik yang dibuat dalam bentuk

untuk penilaian kualitatif. Selain itu untuk keajekan data komonen yang sama

dirumuskan pula dengan skala bertingkat dengan lima alternatif jawaban. Nilai 4

apabila semua yang diisyaratkan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, nilai 3

apabila sebagaian besar yang diisyaratakan dilaksanakan sesuai kebutuhan, nilai

2 apabila separuh yang diisyaratkan dilaksanakan sesuai keutuhan, nilai 1 apabila

sebagian kecil yang diisyaratkan dilaksanakan sesuai kebutuhan dan TS apabila

tidak satupun yang diisyaratkan dilaksanakan sesuai kebutuhan dengan nilai 0.

b. Dokumentasi

Tehnik dokumentasi adalah kegiatan pengumpulan data melalui analisis

dokumen untuk memperoleh informasi tentang segala sesuatu yang berkaitan

mulai dari rencana pembelajaran, kondisi peserta didik, perumusan dan ketepatan

KD dan SKKD serta outcome ketercapaian juga indikator-indikator pembelajaran

lainnya. Adapun yang mendasari penggunakan tehnik ini antara lain : a) Melihat

kesesuaian karakteristik dari data yang diharapkan, b) Penyelusuran dari aktivitas

pembelajaran c) Data bersifat non-reaktif atau dikatakan unaffected by the

(22)

Analisis dokumen dilakukan dengan cara mempelajari rencana

pembelajaran yang disusun guru kelas dan atau guru bidang studi, yang dilakukan

sebelum peroses pembelajaran berlangsung, selain itu mengkaji data peserta didik

baik berupa rekap medis, psikologis ataupun data-data harian, baik yang berkaitan

dengan kemampuan akademik ataupun sosial emosi. Dokumentasi digunakan pula

untuk megungkap data tentang bahan bacaan yang digunakan meliputi kosa kata,

gambaran kalimat, organisasi kalimat ataupun bahan lainnya yang digunakan

guru dalam pembelajaran membaca. Melalui dokumentasi dapat diketahui latar

belakang guru, kondisi peserta didik dan data-data tertulis lainnya baik secara

akademik, medis maupun psikologis.

c. Test

Tes adalah alat ukur yang diberikan pada individu untuk mendapatkan data

yang diharapkan. Tes dilakukan secara tertulis dan perbuatan. Pada studi

pendahuluan tes digunakan untuk mendapatkan data konkrit tentang spesifikasi

disabilitas membaca peserta didik berkesulitan belajar. Adapun tes yang

digunakan tes informal karena peneliti belum menemukan tes kemampuan

membaca yang telah terstandarisasi untuk bahasa Indonesia. Tes dalam bentuk

uraian terbatas yang dimodifikasi dari Individual Diagnostic Analysis (IDA) yang

dikembangkan oleh The Northeastern University Reading Clinic sebuah alat tes

untuk menganalisa dan menginterprestasikan kemampuan membaca. Tes ini

digunakan untuk menjaring dan menemukan pola masalah membaca yang

dihadapi peserta didik kesulitan belajar, meliputi: penguasaan kosakata yang

(23)

makna suatu kata yang belum dikenal (using context to guess meaning of

unfamiliar words), mengenai huruf, faktor fisik dalam membaca, kemampuan

dan kelemahan membaca khusus, penguasaan kalimat, pemaknaan kalimat atau

bacaan. Selain itu menyeleksi beberapa persiapan teks yang sesuai dengan

tingkatan peserta tes. Kalimat yang diajukan adalah kalimat yang terdapat dalam

bahan bacaan. Sedangkan tes kemampuan memahami isi membaca, dirumuskan

berlandaskan teori kemampuan kognisi yang dikenal dengan taksonomi Bloom.

Bloom membagi jenjang kemampuan kognisi kedalam kemampuan mengingat,

memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi.

Selain itu test dilakaukan pula pada uji validasi model konseptual.

d. Wawancara

Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi spesifik tentang

hal-hal yang sulit diobservasi atau untuk mendukung keajegan data yang diperoleh

dari tehnik lainnya. Pada studi pendahuluan dilakukan wawancara baik pada guru

kelas, bidang studi, guru pembimbing khusus, kepala sekolah juga pada peserta

didik kesulitan belajar itu sendiri, yang berkaitan pada pembelajaran yang

ditegakkan di kelas yang mengampuh peserta didik dengan kesulitan belajar,

sedang pada peserta didik kesulitan belajar wawancara mengarah pada

pengalaman, perasaan yang dimiliki peserta didik berkaitan dengan

pengembangan pembelajaran dimana mereka belajar.

Wawancara digunakan untuk memperoleh informasi khususnya tentang

faktor guru, segala sesuatu yang tidak dapat diamati secara langsung baik berupa

(24)

sesuai dengan apa yang dikatakan Merriam (1988) bahwa pada dasarnya

wawancara adalah percakapan yang dilakukan secara tatap muka dimana

seseorang menggali informasi dari yang lainnya. Adapun alasan penggunaan

tehnik wawancara ini yaitu pertimbangan pada sifat data yang ingin digali,

mendalami serta mengungkap hal-hal yang belum terungkap dari tehnik lain, serta

mendapatkan informasi tentang keadaan pribadi guru. Wawancara dilaksanakan

dengan menggunakan alat perekam atau tape recorder. Disini akan digali pula

hal-hal yang berkaitan dengan upaya guru dalam meningkatkan dan

mengembangkan kemampuan membaca peserta didik kesulitan belajar melalui

proses kegiatan pembelajaran.

e. Kuesioner kelayakan model pembelajaran

Kuestioner disusun untuk memperoleh data dari para ahli yang merangkap

juga sebagai observer pada pengembangan model pembelajaran berkaitan dengan

gagasan bangun model, rasionalisasi dan kesesuaian tahapan-tahapan model

dalam rangka mengembangkan model konseptual menjadi model pembelajaran

operasional atau model final. Kuesioner disusun secara terbuka untuk

menghimpun keritik dan saran yang diberikan para ahli.

E. Analisis Data

Data penelitian ini dianalisis melalui analisis deskriptif kualitatif dan

kuantitatif. Kedua metoda ini digunakan semata untuk keajekan perolehan

(25)

1. Analisis data kualitatif.

Pada studi pendahuluan digunakan analisis data kualitatif yang dilakukan

untuk mendapatkan data konkrit fenomena pembelajaran yang ditegakkan

sekolah-sekolah yang mengampuh peserta didik berkesulitan belajar.

Data-tersebut diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi pada studi

pendahuluan, setelah dilakukan pembacaan data maka dilakukan perbandingan

(Cross referencing) kemudiam data dideskripsikan sesuai kategori

masing-masing. Selain itu analisis kualitatif digunakan untuk memahami data yang

diperoleh dari keterterapan model pada uji coba terbatas dan dengan skala lebih

luas serta hasil penilaian observer pada sosok model yang digagas.

2. Analisa data kuantitatif.

Analisa data kuantitatif digunakan pada uji validasi model juga pada uji

coba skala terbatas dan luas untuk melengkapi data kualitatif dari lesson study

yang dibentangkan dalam rangka mendapatkan informasi keterterapan model

pembelajaran.

Adapun untuk menganalisa data yang diperoleh digunakan analisa statistik

parametrik atau non parametrik melalui test Wilcoxon (Marascuilo dan Mc

Sweeney:267) dengan pertimbangan data sampel berkaitan dengan skala ordinal

dan tehnik pengambilan sampel tidak menggunakan random.

(26)

Tabel 3.5

Analisis Data Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Peserta didik Dengan Kesulitan Belajar

VARIABEL INDIKATOR SUMBER

DATA TEKNIK PENGUMPULAN DATA TEKNIK ANALISIS DATA Model Pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan membaca peserta didik berkesulitan belajar di sekolah dasar Perencanaan, Pelaksanaan, dan Evaluasi Model Pembelajaran Guru yang mengampuh peserta didik berkesulitan belajar

Wawancara Analisis untuk menganalisis hasil wawancara dengan guru tentang:

 Pemahaman model pembelajaran  Peningkatan

kemampuan belajar peserta didik kesulitan belajar

Observasi Analisis kualitatif

dilakukan untuk menelaah implementasi model pembelajaran

Dokumentasi Menelaah data tertulis berkaitan dengan

kurikulum tertulis, masalah kesulitan belajar.  Ahli kurikulum dan Pembelajar an

 Ahli bahasa  Ahli PkKh

Kuestioner Analisis kualitatif

dilakukan untuk menelaah kelayakan model pembelajaran Implementasi Pembelajaran Peserta didik dan Guru Model

Observasi Analisis

kualitatif,kuantitatif untuk menelaah keterterapan model, kegiatan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran

Hasil Belajar Peserta didik Tes Analisis kuantitatif digunakan untuk

(27)

BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

Pada bab ini dikemukakan tiga bagian pokok, yaitu kesimpulan, implikasi

dan rekomendasi penelitian.

A. Kesimpulan

Berdasarkan temuan dan pembahasan penelitian maka tujuan penelitian

dalam studi ini sudah dapat diperoleh yaitu ditemukannya model pembelajaran

yang dapat meningkatkan kemampuan membaca peserta didik berkesulitan beajar

di sekolah dasar reguler. Sebagai kesimpulan umum dapat dikemukakan

berdasarkan studi ini adalah model pembelajaran berdiferensiasi dapat

meningkatkan kemampuan membaca peserta didik berkesulitan belajar di sekolah

dasar reguler.

Secara spesifik beberapa kesimpulan dapat dikemukakan sebagai berikut :

Pertama kesimpulan berdasarkan studi pendahuluan

Pembelajaran yang dikembangkan pada sekolah yang mengampuh peserta

didik berkesulitan belajar membaca belum memadai, karena tidak dirumuskannya

rencana pembelajaran yang dapat melayani keberagaman peserta didik serta

berdampak terhadap implementasi serta evaluasi yang ditegakkan guru dan

berpengaruh langsung pada terpuruknya hasil belajar peserta didik berkesulitan

belajar. Pembelajaran membaca atau pokok bahasan membaca merupakan pokok

(28)

perencanaan secara khusus, semua bahan pelajaran sudah tersedia pada buku

paket dan buku lembar kerja peserta didik yang dapat dibeli dari toko buku atau

disediakan pihak sekolah. Kesederhanaan tersebut tercermin dari pembelajaran

membaca identik dengan peserta didik melakukan aktivitas membaca kemudian

mengerjakan soal-soal latihan. Peserta didik berkesulitan belajar mendapatkan

pendekatan pembelajaran, materi atau sistem evaluasi yang sama dengan peserta

didik lainnya dalam artian belum dikembangkannya pembelajaran membaca

secara khusus yang dapat mengembangkan kemampuan membaca peserta didik

ber kesulitan belajar.

Pembelajaran membaca sangat mengandalkan buku pelajaran yaitu buku

pegangan guru dan buku pegangan peserta didik, lalu membaca bersama-sama

atau membaca senyap, kemudian diselesaikan dengan latihan-latihan. Selain itu

guru menggunakan daya intuisinya dengan cukup besar dalam interaksi

pembelajaran khususnya dalam mengembangkan kemampuan membaca peserta

didik tidak terkecuali peserta didik berkesulitan belajar (children with learning

difficulties). Bilamana terdapat kata-kata yang sulit bagi peserta didik, maka guru

akan segera memberitahu artinya. Disini belum ditemukan bagaimana guru

memfasilitasi peserta didik untuk mencari pemecahan masalah bahasa atau kata

yang tidak diketahui.

Selain itu adanya pengecilan terhadap kemampuan peserta didik

berkesulitan belajar yang tercermin dari pandangan terhadap peserta didik lebih

(29)

Studi ini menyimpulkan pula bahwa banyak guru belum siap untuk

melakukan adaptasi pembelajaran untuk peserta didik berkesulitan belajar, dengan

argumen bahwa mereka dapat mengadaptasi materi atau instruksional tetapi

mereka tidak punya cukup waktu. Ditemukan sebagian besar guru melihat diri

mereka hanya sebagai penyampai materi hal ini tercermin dari cara mereka

mengajar dan materi yang dirumuskan. Waktu yang digunakan dalam mengajar

banyak digunakan untuk ceramah, demonstrasi dari guru, sedangkan peserta didik

terbagi-bagi ada kelompok sebagai pendengar, dan sekelompok kecil merespon

secara aktif, dan kelompok kecil lainnya yang kehilangan arah kelihatan

mendengar tidak, memperhatikanpun tidak, mereka asik bermain sendiri atau

duduk berdiam diri, dan sebagian lagi peserta didik berkesulitan belajar mendapat

bimbingan dari guru pendamping khusus (shadow teacher) yang dikirim orang

tua.

Pendekatan pembelajaran masih bersifat klasikal atau pendekatan tunggal

dan belum menyentuh keberagaman peserta didik. Dengan kondisi demikian besar

peluang bagi peserta didik kesulitan belajar membaca untuk tertinggal jauh dari

teman sekelasnya. Pembelajaran membaca masih didasari intuisi dan pengetahuan

guru sehingga belum dapat membelajarkan peserta didik sebagaimana mestinya,

sedangkan pemilihan materi pembelajaran tidak direncanakan dan dirumuskan

secara sistematik. Jenis dan tingkat kesulitan materi (readability) tidak

disesuaikan dengan kemampuan peserta didik demikian pula cara penilaian yang

digunakan. Peserta didik kesulitan belajar mendapat cara penilaian yang sama

(30)

Peserta didik berkesulitan belajar membaca pada peserta didik umumnya

disertai dengan kesulitan penyerta lainnya yaitu hambatan menulis, syndrome

autistik, gangguan pemusatan perhatian dan prilaku, lambat belajar, serta ganguan

komunikasi verbal.

Kesimpulan kedua, berkenaan dengan gagasan model pembelajaran untuk

mengakomodasi kebutuhan belajar peserta didik berkesulitan belajar yaitu model

pembelajaran berdiferensiasi untuk meningkatkan kemampuan membaca peserta

didik berkesulitan belajar (learning difficulties) di sekolah dasar reguler.

Model pembelajaran berdiferensiasi terdiri sosok model pembelajaran dan

pedoman penyususnsn, pelaksanaan. Pedoman penyusunan pelaksanaan model

pembelajaran berdiferensiasi terdiri dari asesmen, pengelompokan fleksibel

kemampuan peserta didik, penyelarasan kurikulum dan kebutuhan belajar,

adaptasi konten dan proses, serta evaluasi. Sedangkan sintaksis model proses

terdiri dari kegiatan awal, inti dan akhir. Kegiatan awal mengusung menciptakan

kondisi psikologis kelas yang nyaman, kemudian upaya pengembangan skema

peserta didik melalui tahap prior knowledge, dan dilanjutkan dengan

mengkomunikasikan tujuan pembelajaran. Tahap inti dari model pembelajaran

berisikan presentasi, untuk peserta didik katagori unggul melalui skimming,

skipping, elaborasi, klarifikasi, untuk peserta didik rata-rata melalui scanning,

elaborasi, klarifikasi, sedang peserta didik berkesulitan belajar melalui penggalian

(priming), membangun latar belakang, elaborasi, dan klarifikasi. Tahap akhir

(31)

penguatan organisasi kognitif, review keterampilan baru dilakukan sebagai

penutup proses kegiatan pembelajaran.

Model pembelajaran berdiferensiasi yang digagas membutuhkan dua orang

guru yang akan mengampuh dan mengajar secara berkolaborasi mulai dari

persiapan, penyusunan rencana. Pelaksanaan pembelajaran sampai evaluasi.

Adapun pedoman penyusunan dan implementasi model pembelajaran

berdiferensiasi untuk meningkatkan kemampuan membaca peserta didik

berkesulitan belajar di sekolah reguler sebagai berikut;

1. Pedoman penyusunan dan implementasi pembelajaran berdiferensiasi untuk

meningkatkan kemampuan membaca peserta didik dengan kesulitan beajar di

sekolah dasar reguler.

Penyusunan dan kegiatan pembelajaran berdiferensiasi dilalui dengan

kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1) Asesmen: asesmen merupakan komponen pokok yang tidak dapat ditinggalkan

dari model ini. Asesmen dilakukan untuk mendapatkan informasi akurat

kesiapan belajar peserta didik. Asesmen dapat dilakukan dengan

menggunakan asesmen formal atau asesmen nonformal yang dirumuskan

guru atau menggunakan multiple asesmen.

2) Pemetaan atau pengelompokkan fleksibel. Pengelompokan kompetensi atau

pemetaan dilakukan secara fleksibel diperoleh berdasarkan hasil asesmen.

Pengelompokan peserta didik melahirkan kelompok unggul (Advanced

reading group) atau kelompok A, Kelompok B yaitu kelompok kemampuan

(32)

unik atau lower performing reading group dimana di dalannya peserta didik

lambat belajar dan peserta didik berkesulitan belajar.

3) Penyelarasan kebutuhan belajar peserta didik dengan kurikulum yang berlaku

atau dengan kompetensi-kompetensi yang ditegakkan standar isi. Kurikulum

yang digunakan sesuai dengan tahapan kurikulum yang berlaku tetapi bagi

peserta didik dengan kesulitan belajar dan unggul perlu diadaptasi.

4) Mengadaptasi konten atau materi. Materi perlu disiapkan untuk

menyelaraskan dengan kemampuan peserta didik. Adapun materi yang dipilih

yang disesuaikan dengan kesiapan masing-masing kelompok kompetensi

peserta didik. Materi pokok pada awalnya sama yaitu membaca wacana

dengan kategori sedang terdiri dari 150-250 kata, setiap kalimat tidak lebih

dari 15 kata sesuai keterbacaan wacana kelas 4 (Wahjawidodo,1985).

Kelompok unggul akan mendapat pula materi pengayaan, kelompok unik

mendapat materi koreksi atau supplemen.

5) Proses. Proses merupakan kegiatan diferensiasi pembelajaran dengan

mendayagunakan berbagai metoda, tehnik yang disesuaikan dengan keperluan

peserta didik untuk mendukung pembelajaran. Adapun metoda yang

digunakan scanning, skipping, skimming, tehnik cloze, tanyajawab, diskusi

kelompok modeling, dan primming , Sedangkan pendekatan dilakukan secara

kelompok, individual, berpasangan.

6) Evaluasi: Sesuai tujuan evaluasi tidak hanya untuk mengetahui ketercapaian

dari materi yang telah dibentangkan, tetapi evaluasi dijadikan sebagai salah

(33)

evaluasi disesuaikan dengan kondisi peserta didik, dalam artian cara

mengkomunikasikan evaluasi tidak sama, apabila peserta didik dengan

kesulitan belajar juga disabilitas menulis maka tehnik yang digunakan untuk

mengetahui perolehan peserta didik dalam belajar membaca diadaptasi

dengan cara lisan. Demikian pula peserta didik dengan lambat belajar akan

mendapat waktu tambahan untuk mengerjakan soal-soal evaluasi.

Adapun gambaran pedoman penyusunan dan implementasi pembelajaran

berdiferensiasi divisualisasikan pada lampiran 11.

2. Model pembelajaran berdiferensiasi meliputi

1) Sasaran. Sasaran model ini adalah peningkatan kemampuan membaca.

2) Indikator : Menemukan ciri-ciri teks esay, menemukan kalimat utama tiap

paragraf, menyampaikan pokok pikiran bahan bacaan, menyampaikan isi

bacaan, merangkum isi bacaan, menentukan masalah yang terdapat pada

bacaan, mendiskusikan masalah dalam teks bacaan, mengidentifikasi

pelaku peristiwa pada bahan bacaan.

3) Materi Pokok : materi yang didesain dari model pembelajaran

berdiferensiasi terdiri dari baberapa kategori yaitu (a) Materi ajar atau

wacana yang sesuai dengan kurikulum berlaku sebagai wacana pokok,

walau demikian wacana tetap dipilih atau disesuaikan dengan readability

kelas 4. Wacana katagori sedang terdiri dari 150 – 250 kata. Setiap kalimat

tidak lebih dari 15 kata. (b) wacana koreksi yaitu wacana yang lebih

sederhana sebagai wacana latihan bagi peserta didik yang membutuhkan

(34)

pada kalimat utama. (c) Wacana pengayaan: wacana ini disiapkan untuk

menantang peserta didik unggul sebagai pengayaan. Adapun jenis wacana

lebih komplek, letak pokok pikiran tidak selalu pada kalimat utama,

jumlah paragraf lebih banyak daripada materi pokok.

4) Model Pembelajaran : Model pembelajaran berdiferensiasi yaitu model

pembelajaran yang dikemas berdasarkan kesiapan (readiness) belajar

peserta didik. Kesiapan peserta didik diperoleh dari aktivitas asesmen.

5) Metoda: Metoda yang digunakan membaca layap (skimming), membaca

lompat (skipping), membaca memidai (scanning), modeling, tanya jawab,

dan tehnik cloze, peerteaching, diskusi kelompok.

6) Media: Media merupakan segala sesuatu yang berkaitan untuk menunjang

kegiatan pembelajaran. Media yang digunakan yaitu, kartu kata, kartu

pyramid, kertas tempel, stabilo, kamus bahasa Indonesia dan kamus

populer serta gambar-gambar.

7) Sumber: Sumber utama yang digunakan sesuai dengan KTSP 2006 yaitu

kurikulum yang berlaku sekarang ini di sekolah dasar serta beberapa

sumber yang disesuaikan dengan keberagaman kemampuan peserta didik

baik tingkat kedalamannya maupun keluasannya.

8) Penilaian : Penilaian yang ditegakkan adalah Penilaian yang dilakukan

selama proses pembelajaran baik berupa tulisan, lisan maupun perbuatan

atu berupa portofolio atau lembar kerja peserta didik (LKS)

9) Implementasi. Impelementasi pembelajaran berdiferensiasi dibentangkan

(35)

a. Tahap pra pembelajaran terdiri dari pengelompokan heterogen yang

bersifat fleksibel, berdoa, mengabsen kehadiran peserta didik

b. Tahap kegiatan Awal : Meliputi pengondisian atmosfir kelas, prior

knowledge, memotivasi peserta didik, mengkomunikasikan tujuan

c. Tahap kegiatan inti : Presentasi bersifat klasikal. Kelompok A

Skimming/skipping, elaborasi, klarifikasi. Kelompok B scanning

pengembangan insight, elaborasi, klarifikasi. Kelompok C. Koneksi

tambahan berupa priming, membangun latar belakang, elaborasi,

klarifikasi.

d. Tahap kegiatan akhir : Penguatan Kognitif. Review pengetahuan baru

Adapun Model final pembelajaran berdiferensiasi untuk meningkatkan

kemampuan membaca peserta didik berkesulitan belajar di sekolah dasar reguler

pada format sebagai berikut:

A. Sasaran : Kompetensi membaca pemahaman B. Indikator : Berdiferensiasi (Pemetaan Kompetensi ) C. Materi Pokok : Bahan bacaan kelas 4 SD semester genap dan adaptasi materi bacaan kelas 4 SD

D. Model : Pembelajaran Berdiferensiasi

E. Metoda : Baca layap (skimming), baca lompat (skipping), baca memindai ( scanning), modeling, tanya jawab, tehnik cloze

F. Media : Kartu kata, kartu pyramid, kertas tempel, stabilo, kamus bahasa Indonesia, kamus ilmiah popular, gambar- gambar

G. Sumber : Materi sesuai dengan kurikulum berlaku yaitu KTSP 2006, Adaptasi keluasan dan kedalaman materi

(36)

Implementasi Tahap Awal Inti Akhir Sintaksis

1. a. Pengondisian atmosfir kelas

b. Memunculkan priorknowledge c. Memotivasi d. Mengkomunikasikan tujuan e. Membangun latar belakang 2. f. Skipping, g.elaborasi, h. klarifikasi 3. i. skimming, j. elaborasi, k. klarifikasi 4. l. scanning, m. Elaborasi, n. klarifikasi 5. o. priming, p. building background q. elaborasi, r. klarifikasi

6. s. Memperkuat organisasi kognitif t. demontrasi pengetahuan yang telah dibangun u. review keterampilan baru

Kelompok A 1 2 3 6 B 1 3 4 6 C 1 4 5 6 D 1 5 6 Evaluasi

Evaluasi tidak selalu dilaksanakan pada akhir pembelajaran tetapi dilakukan pula pada proses pembelajaran

Kesimpulan ketiga. Efektivitas Model pembelajaran berdiferensiasi terhadap

kemampuan membaca peserta didik berkesulitan belajar.

Berdasarkan hasil pengujian terbukti bahwa model pembelajaran

berdiferensiasi memiliki efek yang signifikan terhadap variabel kemampuan

membaca peserta didik berkesulitan belajar khususnya, dan semua peserta didik

pada umumnya. Hal ini dapat dilihat dari selisih skor yang cukup signifikan antara

pre tes dan postest, sebelum dan sesudah peserta didik mengikuti pembelajaran

berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan kemampuan

mengidentifikasi kalimat utama, menentukan pokok pikiran pada paragraf dan

(37)

disimpulkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan kemampuan

meringkas, mengarang pada peserta didik kategori unggul.

Secara umum dapat dikemukakan bahwa pembelajaran berdiferensiasi

efektif untuk menggali dan mengembangkan kemampuan kosakata, kalimat yang

pada akhirnya mampu memahami apa yang dibaca serta mengembangkan

kreatifitas dalam mengolah kalimat atau kata-kata, kemudian pembelajaran

berdiferensiasi dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam kelas

pembelajaran.

Kesimpulan keempat. Faktor pendukung dan penghambat penerapan model

pembelajaran berdiferensiasi.

Sebagaimana dikemukakan pada bagian kajian terdahulu dari studi ini,

pembelajaran yang dibentangkan di lapangan tidak bersandar pada kesiapan

peserta didik, wacana yang digunakanpun belum diperhitungkan keterbacaannya,

pendekatan pembelajaran secara kelasikal. Hal ini pula yang menjadi kendala

peserta didik untuk maju dan dibelajarkan. Dengan memperhatikan kesiapan

peserta didik masing-masing, mengkaji dan memperhitungkan keterbacaan

(readability) bahan ajar, menyelaraskan bahan ajar dengan stategi yang digunakan

dalam komunikasikan pelajaran maka semua peserta didik akan dapat mencapai

keberhasilan atau sukses bersama.

Secara instrumental tetapi cukup mendasar berkaiatan dengan bahasa

instruksional yang digunakan guru baik dalam menjelaskan maupun dalam

memberikan contoh-contoh dalam menggali dan mengembangkan skema peserta

(38)

kemampuan belajar. Faktor dukungan lainnya dari keterterapan model ini berupa

motivasi, kegigihan guru untuk mengembangkan pemahaman tehadap arti dan

makna pembelajaran sebenarnya.

Berdasarkan uji coba model baik secara terbatas, skala luas dan uji

efektifitas pembelajaran berdiferensiasi akan dapat diterapkan dengan maksimal

bila didukung oleh beberapa komponen yaitu:

a. Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran

Model pembelajaran berdiferensiasi menuntut kemampuan dan kreativitas

guru dalam memgembangkan pembelajaran, mulai dari sebelum pembelajaran

dibentangkan, penyajian pembelajaran sampai evaluasi dan tidak lanjut. Pada

pembelajaran berdiferensiasi guru ditagih memiliki kemampuan mengasesmen

baik asesmen yang dilakukan sebelum pembelajaran, asesmen kilat pada

proses pembelajaran sehingga guru dapat mempertahankan task on peserta

didik dalam belajar, kemampuan mengadaptasi bahan ajar, menggunakan

berbagai metoda dan steretegi serta mendaya gunakan waktu transisi yang ada

dalam pembelajaran. Selain itu faktor pendukung berkaitan dengan motivasi,

kepedulian, serta improvisasi guru dalam mengembangkan kelas

pembelajaran.

b. Faktor pendidikan dan latar belakang guru.

Faktor pendidikan, pengalaman serta latar belakang guru memberikan

kontribusi serta dukungan yang sangat memadai dalam membelajarkan

peserta didik. Dengan memahami ilmu mengajar dan perkembangan peserta

(39)

dengan latar belakang pendidikan yang tinggi tetapi tidak disertai ilmu

mengajar akan menghambat sewaktu interaksi pembelajaran dibentangkan.

c. Faktor kebijakan yang ditegakkan sekolah, guru kelas serta Dinas pendidikan

terkait atau yayasan bagi sekolah swasta memberikan dukungan atau dapat

pula hambatan untuk mengembangakan pembelajaran yang berdiferensiasi.

Penentukan KKM yang ditegakkan guru selama ini kurang berpihak peserta

didik kesulitan belajar. KKM ditentukan dari ketercapaian sejumlah materi

yang ditentukan berdasarkan standarisasi ketercapaian bahan ajar, tanpa

dimodifikasi atau diselaraskan dengan kesiapan belajar peserta didik. Dengan

sistem demikian maka peserta didik dengan kesulitan belajar tidak akan

pernah berhasil dalam belajar karena tidak dapat mencapai KKM, karena itu

dibutuhkan KKM yang fleksibel.

d. Disisi lain faktor penghambat yaitu menstereotype peserta didik berkesulitan

belajar serta menegakkan pembelajaran berdasarkan pada apa yang peserta

didik tidak bisa lakukan, maka peserta didik berkesulitan belajar selalu akrab

dengan remedial-remedial, hal demikian juga sulit mengharapkan rapor yang

menekankan pada hal-hal yang tidak bisa dilakukan peserta didik.

e. Pembelajaran yang selalu didominasi guru yang tidak memberikan ruang pada

peserta didik untuk menggunakan bahasanya sendiri atau bekerjasama juga

merupakan hambatan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu contoh

dibutuhkan waktu tambahan bagi peserta didik dengan kesulitan belajar atau

(40)

informasi-informasi, maka dari itu dalam menegakkan pembelajaran berdiferensiasi

selain adaptasi materi dan pendekatan juga dibutuhkan adaptasi waktu.

f. Kelas yang telalu besar. Jumlah rombongan belajar lebih dari 30 orang pada

kelas cukup menguras energi guru memberikan pembelajaran yang dapat

memberikan dampak pada kualitas pembelajaran yang ditegakkan.

g. Dukungan media. Media yang relevan akan membantu menjembatani

pemahaman peserta didik dalam membaca. Dalam artian media tidak selalu

dengan kategori bertehnologi tinggi, tetapi dengan media yang sederhana,

murah, mudah ditemukan seperti kartu kata, gambar-gambar yang digunkan

cukup membantu mendekatkan peserta didik pada apa yang akan dipahami,

juga meningkatkan antusias peserta didik dalam belajar.

h. Faktor kepribadian guru.

Studi ini menunjukan selama model pembelajaran berdiferensaiasi

dibentangkan guru yang humoris, tidak tergesa-gesa, nada suara yang tidak

tersentak-sentak, penggunaan kalimat yang tidak terlalu panjang lebih dapat

mendukung kegiatan peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan

kelas baik secara individual maupun kelompok.

B. Implikasi

Bersandar dari hasil studi ini maka dapat dikemukakan implikasi teoritis

(41)

Implikasi Teoritis.

Implikasi teoritis dari studi ini adalah pembelajaran berdiferensiasi akan

efektif apabila didasari dengan diketahuinya kesiapan belajar peserta didik

sebagai titik awal dalam membangun pengetahuan atau keterampilan baru.

Menemukan titik awal berarti menilai apa yang dapat dan tidak dapat

dilakukanpeserta didik kesulitan belajar berkaitan dengan target tertentu yang

ditetapkan. Kesiapan tidak terbatas pada kemampuan membaca saja tetapi dapat

berkaitan pula dengan segala properti yang dimiliki peserta didik baik yang

berkaitan langsung maupun tidak langsung dalam belajar, seperti kegemaran,

kesukaan atau mungkin yang peserta didik idolakan untuk membantu guru

menemukan cara mengajar yang sesuai dan ramah peserta didik. Pembelajaran

berdiferensiasi berkaitan langsung dengan kemampuan mengadaptasi atau

memodifikasi bahan ajar, proses juga evaluasi yang disesuaikan dengan keunikan

peserta didik. Pembelajaran berdiferensiasi tidak menggunakan strategi tunggal

(single stategy) tetapi banyak cara, berbagai strategi yang digunakan untuk

memenuhi kebutuhan peserta didik. Disisi lain pembelajaran berdiferensiasi

membutuhkan dukungan manajeman atau organisasi kelas. Hal ini sebagaimana

yang ditagihkan model pembelajran dengan mengetahui level kemampuan belajar

membaca peserta didik , penyelarasan materi ajar (wacana) kemudian menyusun

perencanan apa yang peserta didik butuhkan untuk dipelajari.

Di sisi lain perlu dicermati instruksional guru dalam arti luas tidak hanya

berkaitan dengan penyesuaian bahan ajar yang akan dikomunikasikan tetapi

(42)

akan digunakan. Bahasa instruksional guru mengandung penjelasan-penjelasan

yang kadang-kadang akan lebih mudah dimaknai dari pada bahasa yang tertera di

buku. Dalam buku-buku pelajaran yang digunakan untuk mengembangkan

kemampuan membaca peserta didik banyak menggunakan konsep-konsep dan

kata-kata yang abstrak, sedangkan kemampuan membaca dan pemahaman peserta

didik berkesulitan belajar rendah bahkan sangat rendah sehingga peran guru

sangat besar untuk dapat mengkonkritkan atau membuat semi konkrit dari konsep

atau kata-kata yang abstrak pada wacana atau buku ajar. Dengan kata lain guru

dituntut untuk menyeimbangkan antara bahasa instruksional guru, dengan bahasa

instruksional peserta didik agar peserta didik dapat dibelajarkan.

Selain itu dikatakan kecendrungan gaya atau tipe kognitif peserta didik ber

kesulitan belajar tergolong terikat dengan lingkungan sehingga mereka

berkecendrungan mudah tersesat atau terkecoh dari informasi-informasi yang

menyesatkan yang dapat memunculkan persepsi mereka kurang atau tidak akurat,

tentu berbeda dengan kecendrungan peserta didik pada umumnya yang tidak

terikat dengan lingkungan. Sebagai implikasi kondisi demikian sehingga peserta

didik berkesulitan belajar memerlukan latihan-latihan untuk meningkatkan

kemampuan memusatkan perhatian pada persepsi yang esensial. Kemampuan

guru mengaitkn dan membawah pristiwa luar atau dunia peserta didik dalam

bentuk bahan ajar atau sebagai alat untuk mengaitkan pada informasi baru yang

(43)

Implikasi Praktis

Sebagai implikasi praktis bahwa hasil penelitaian ini dapat digunakan

untuk mengembangkan pembelajaran di kelas yang mengampuh peserta didik ber

kesulitan belajar. Pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan kemampuan

membaca semua peserta didik khususnya peserta didik dengan kesulitan belajar

membaca, baik mengembangkan kosa kata, menemukan kalimat utama dan pokok

pikiran wacana dan secara keseluruhan memahami apa yang dibaca. Hal penting

lainnya bahwa pembelajaran berdiferensiasi selain dapat membelajarkan peserta

didik tanpa perkecualian, juga dapat mengaktifkan semua peserta didik dalam

belajar.

C. Rekomendasi

Model pembelajaran berdiferensiasi efektif untuk meningkatkan

kemampuan membaca peserta didik berkesulitan belajar. Berdasarkan kesimpulan

dari studi ini maka model pembelajaran berdiferensiasi ini direkomendasikan

untuk dapat diterapkan pada sekolah dasar atau kelas yang mengampuh peserta

didik kesulitan belajar. Berkomitmen dengan tujuan pembelajaran maka mengajar

menagih guru untuk mendiferensiasikan pembelajaran, apalagi negara tercinta ini

merupakan salah satu negara yang turut mendukung komitmen pendidikan untuk

semua (Educatiaon for all) dengan motto no child left behind maka dari itu

seyogyanya pembelajaran di sekolah harus ramah anak. Sebagaimana yang dapat

dibuktikan dari studi ini peserta didik yang memiliki kesulitan belajar juga

(44)

sindrome autistik, hambatan komunikasi verbal dapat dibelajarkan sebagaimana

hak mereka untuk mendapatkan pembelajaran atau pendidikan yang bermartabat.

Sehubungan dengan penerapan model pembelajaran berdiferensiasi maka

direkomendasaikan sebagai berikut:

1. Rekomendasi untuk guru

Dalam membelajarkan peserta didik berkesulitan belajar berkonsentrasi

dimulai pada apa yang bisa dilakukan peserta didik, bukan pada apa yang

tidak bisa mereka lakukan (disabilitasanya), karena jika melakukan

sebaliknya maka peserta didik berkesulitan belajar akan selalu gagal.

a. Tidak memberikan stereotype, pengecilan terhadap kemampuan peserta

didik kesulitan beajar. Beberapa peserta didik kesulitan belajar mungkin

memiliki kesamaan, tetapi mereka adalah individu seperti halnya peserta

didik pada umumnya.

b. Pembelajaran berdiferensiasi menagih adanya adaptasi terhadap sistem

penilaian atau evaluasi yang ditegakkan sekolah agar lebih fleksibel,

dalam artian tidak semua peserta didik lancar membaca atau menulis,

sehingga agar semua peserta didik dapat mengikuti evaluasi yang

dijadwalkan maka maka diperlukan penyesuaian waktu dan tehnik

mengkomunikasikan evaluasi.

c. Guru pendidikan umum (reguler) dan pendidikan khusus, hendaknya

melakukan komunikasi secara intensif dan berkala mulai dari perumusan

pembelajaran, implentasi sampai evaluasi dan tindak lanjut pembelajaran

(45)

2. Rekomendasi untuk pemegang kebijakan sekolah dasar

a. Pembelajaran berdiferensiasi menuntut adanya kolaborasi guru dalam

kelas pembelajaran. Mengajar secara berkolaborasi tidak lazim dilakukan

di sekolah dasar khususnya sekolah dasar negeri di kota Bandung,

sehingga menuntut adanya campur tangan pemegang kebijakan di

sekolah, pengawas dan dinas pendidikan terkait untuk lebih fleksibel

dengan sistem penempatan dan penugasan guru kelas, penentuan jumlah

rombongan belajar tiap kelas

b. Model pembelajaran berdiferensiasi menantang guru lebih aktif, kreatif

juga inovatif, sehingga dibutuhkan pelatihan-pelatihan khusus untuk dapat

memahami dan menerapkan model pembelajaran diferensiasi, maka

dibutuhkan pelatihan-pelatihan yaitu : 1) Pelatihan merancang dan

melaksanakan asesmen, 2) Pelatihan mengadaptasi materi dan strategi

serta evaluasi pembelajaran,3) Workshop kolaborasi pembelajaran pada

kelas beragam, 4) Pelatihan dan workshop manageman kelas beragam, 5)

Workshop dan pelatihan pembelajaran individual

c. Kemampuan awal peserta didik di kelas beragam, sehingga produk dari

pembelajaranpun akan beragam. Karena itu perlu pemikiran dari Dinas

pendidikan terkait dan sekolah dengan sistem kenaikan kelas dan

penentuan KKM yang ditegakkan.

d. Guru-guru sekolah dasar reguler hendaknya dapat meningkatkan

pemahamannya tentang pembelajaran yang diindividualisasikan,

(46)

pemahaman tentang kurikulum sekolah dasar, karena itu diperlukan

ruang dankesempatan dalam meningkatkan keterpahaman atas inisiatif

lembaga.

e. Perlu keterbukaan dan fleksibelitas serta kesepahaman bagi pemegang

kebijakan baik kepala sekolah, dinas pendidikan terkait dalam

menentukan kriteria kenaikan kelas, KKM sistem evaluasi atau ujian

akhir atau kelulusan peserta didik dengan kesulitan belajar.

3. Rekomendasi untuk lembaga pendidikan Tenaga Kependidikan

Perlu diperkenalkan pada calon guru kelas atau guru bidang studi tentang

pembelajaran berdiferensiasi pada kelas beragam sebelum menjadi guru.

Upaya dapat dilakukan dengan cara:

a. Digagas mata kuliah pembelajaran berdiferensiasi pada kelas beragam

b. Di rumuskan mata kuliah pilihan tentang pembelajaran berdiferensiasi

4. Rekomendasi untuk peneliti lebih lanjut

Penggunaan model pembelajaran berdiferensiasi menunjukkan efek secara

signifikan terhadap kemampuan membaca peserta didik dengan kesulitan

belajar, walau demikian masih perlu dipertanyakan apakah model ini cukup

efektif apabila diterapkan untuk populasi berbeda atau tingkat pendidikan

yang lebih tinggi. Seperti anak dengan kebutuhan khusus dengan ragam yang

lain di antaranya tunagrahita atau berbakat, atau pada level sekolah

menengah. Kajian studi ini tidak sampai pada jawaban dari pertanyaan ini,

namun apabila mencermati hasil-hasil studi ini dan bercermin dari penerapan

(47)

pembelajaran berdiferensiasi memberikan peluang terbuka untuk dapat

diterapkan. Walau demikian untuk mendapatkan data yang lebih akurat

(48)

DAFTAR PUSTAKA

A-158.(2011,8 Desember). SMPN 5 Tarogong Kidul Sulit Ajarkan Calistung. Pikiran rakyat, halaman 17.

Abdurrahman Mulyono(2003). Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Al Abrasy, M.A.,(1979).Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta;Bulan Bintang

Ankrum W Julie and Bean M R (2007). Differentiated Reading Instruction What

and How. Tersedia: http://www.readingrockets.org/article/203/

Arends R.I. (2007). Learning to Teach. New York: McGraw Hill Companies.

Burns S dan Ross (1984). Teaching Reading in today’s elementary school, New Jersey: Houghton Miffin company.

Chair S Snow (2002). Reading for Understandanding;Toward an R&D Program

in Reading Comprehension. Santa Monika CA: Science & Tehnology

Policy Institute.

Cecil R R and Lester Mann Eds ( 1987). Encyclopedia of Special Education. New York: John Wiley & Sons

Colles Geral (1987). The learning Mystique. A Critical look at “ Learning

Disabilities,New York: Pantheon Books

Corrinne Roth Smith. (1991). The Interaction of Learner, Task and Setting. USA : Allyn and Bacon.

Curtis,C.K., & Shaver,J.P. (1980). Slow Lerners and the study of contemporary

problems. Journal Special Education. 44, 302-309.

Departemen Pendidikan Nasional (2008). Tesaurus Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa (E Book)

(49)

Dorothy M.Aram, Robin Moris. (1992). “The validity of discrepancy Criteria for Identifying Children With Developmental Language Disorder”. Journal of

learning Disabilities, Vol.25 Number.9:549- 554.

Dunkin, Michael J dan Biddle, Bruce,J (1974).The study of teaching. New York, Holt, Rinehert and Winston,Inc

Eysenck M W and Keane Mark T (2005). Cognitive Psychology A Student’s

handbook, New York: Taylon &Francis Inc.

Fenstermacher G.D dan Goodlad J I (1985). Individual Differences and the

Common Curriculum. Illinois: The Univercity of Chicago Press.

Fergussom D.M and L.J. Horwood( 1992). Attention deficit and reading

Achievement. Journal child psychology.Psychiatry.Vol.33,Nu.2.pp.375-385.

Flesch,R., (1974). The Art Readability Writing, New York:Harper &Raw.

Frederickson N and Cline T (2009). Special Educational needs, Inclution and

Diversity. New York: Open University press.

Foreman Phil(Eds) (2001). Integration and Inclution in Action.Victoria Australia, Nelson Thomson learning

Gaddes W.H.(1980). Learning disabilities and Brain function. A Neuropsychological Approach. New York:Springer-Verlag.

Gagne Robert.M, Briggs L.J.(1979). Principles of Instructional Design. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Gilliland, J.(1976). Readability London:Horder and Atoughton

Haberman,M.(1991). The Pedagogy Of Poverty

Gambar

Tabel 3.2 Sumber data penelitian pada Studi Pendahuluan .............................
Gambar 3.5 Bagan Kerangka Penelitian dan Pengembangan
Tabel 3.2 Sumber data penelitian pada Studi Pendahuluan
Tabel 3.4
+4

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian teknik pengumpulan data menggunakan teknis nontes berupa angket yang mengungkap motivasi belajar peserta didik, aspek motivasi belajar yang diteliti

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan melalui metode AISMA pada anak berkesulitan belajar membaca kelas I SD Negeri I Bangak Boyolali

PENGGUNAAN MEDIA KARTU KALIMAT BERGAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN DI SEKOLAH DASAR.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pcngaruh penerapan teknik latihan graphomotor untuk meningkatkan kemampuan menulis terhadap anak berkesulitan belajar, yang meliputi

Peran Guru Alquran Hadis sebagai Motivator dalam Meningkatkan.. Kemampuan Membaca Alquran Peserta Didik Di MTs

Deasy Christia Sera, 111314253007, Efektifitas Peer-Assisted Learning Srategies (PALS) Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Pada Anak Kelas III Sekolah Dasar,

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman pada peserta didik kelas III di sebuah Sekolah Dasar di Surakarta melalui penggunaan metode Preview, Question,

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI LISAN PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR MELALUI MODEL PROJECT BASED LEARNING Anna Ardiyani Musriyono1*, Adi Winanto2 Prodi Pendidikan Profesi Guru