Pembentukan Dewan Keamanan Nasional (DKN), Tantangan, Problematika Dan Masalah Yang Dihadapi Indonesia Beserta Solusinya
Furqan Abdul Rais Zordi
1), Siswo Hadi Sumantri
2), M. Adnan Madjid
3)Universitas Pertahanan
Kawasan IPSC Sentul, Sukahati, Kec. Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Indonesia [email protected]1)
[email protected]2) [email protected]3)
Abstract
The National Security Council (DKN) acts as an adviser to the president in dealing with emergency situations and has no operational function. On the other hand, the Government translates the term public safety as public safety, not public safety. Due to using the terminology of public security, it is feared that there will be restrictions on all civil rights. The government should first review the definition of national security before establishing the DKN. Until now, there is no clear definition related to national security because there is no law that regulates it. The formation of the DKN should have been established through a bill that was discussed with the DPR, not through a presidential regulation so that the assessment carried out was more open. The purpose of this research is to identify the challenges, problems, and problems being faced in Indonesia and their solutions. This research uses the method of documentation study, literature study, as well as conducting a credibility test on the data obtained. Similarities were found between the Wantannas RI and the DKN in Indonesia, but there are fundamental differences if further studied using the existing laws and regulations. The formation of the DKN must include all elements of national security and refer to national ideals, goals and interests. Looking at the current state of the country, the formation of the DKN must be done immediately but not in a hurry. This is aimed at dealing with the crises facing Indonesia at present and in the future.
Keywords: National Security Council, public safety, national security.
PENDAHULUAN
Pembentukan DKN sudah direncanakan oleh pemerintah jauh sebelum tahun 2021 yang mana pendirian lembaga ini akan diatur melalui peraturan presiden. Selain itu, pembentukan DKN sudah masuk dalam RPJMN 2015-2019. Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menilai pemerintah harus terbuka dan transparan dalam pembentukan DKN. Oleh karena itu, Pemerintah perlu melibatkan masyarakat sipil di dalam pembahasan DKN. Apalagi dasar hukum pembentukan DKN merupakan peraturan presiden (Kontras, 2020). Koalisi tersebut memandang urgensi pembentukan DKN patut dipertanyakan dan pembentukannya perlu dikaji kembali secara seksama dan mendalam. Hal tersebut ditujukan agar pembentukan DKN tidak menimbulkan tumpang tindih kerja dan fungsi dengan lembaga negara yang sudah ada. Lembaga negara yang memiliki fungsi koordinasi tata kelola keamanan di Indonesia sudah diampu oleh Menko Polhukam. Sedangkan, dalam pemberian nasihat dan masukan kepada Presiden, sudah diampu oleh Lemhanas, Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dan Kantor Staf Presiden (KSP) (Kontras, 2020).
Jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya, DKN berperan sebagai penasihat presiden dalam menghadapi situasi darurat dan tidak memiliki fungsi operasional. Negara-negara yang mendirikan lembaga DKN pun tidak memiliki lembaga seperti Menko Polhukam yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan memberikan masukan kepada
pemerintah untuk mempertimbangkan secara mendalam tentang pembentukan DKN. Hal tersebut didasari atas sifat dan pola kerja DKN dengan Menko Polhukam yang serupa walaupun tak sama. Lebih lanjut, Koalisi ini berpendapat bahwa pembentukan DKN yang terburu-buru dikhawatirkan akan menjadi wadah represi baru negara kepada masyarakat seperti halnya pembentukan Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) pada masa Orde Baru (PBHI, 2020).
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) juga mengkritik rencana pembentukan DKN.
Jika masuk ke ranah operasional, lembaga tersebut dikhawatirkan dapat membatasi hak asasi manusia (Bayu, 2020). Pemerintah menerjemahkan istilah public safety sebagai keamanan publik, bukan keselamatan publik. Dikarenakan menggunakan terminologi keamanan publik maka dikhawatirkan akan terjadi pembatasan terhadap semua hak warga sipil. Pemerintah seharusnya terlebih dahulu mengkaji definisi keamanan nasional sebelum membentuk DKN. Hingga kini, belum ada definisi yang jelas terkait keamanan nasional lantaran belum ada undang-undang yang mengatur hal tersebut. Pembentukan DKN seharusnya dibentuk melalui RUU yang dibahas dengan DPR, bukan melalui peraturan presiden sehingga pengkajian yang dilakukan lebih terbuka (Anam, 2020). Pemerintah seharusnya lebih dulu merampungkan pembahasan terkait definisi keamanan nasional sebelum membentuk DKN. Dengan demikian, tugas dan fungsi DKN ketika dibentuk menjadi jelas (Araf, 2020). Pembentukan DKN juga dikhawatirkan bisa menimbulkan pemborosan anggaran dikarenakan tugas dan fungsi nya tumpang tindih dengan lembaga-lembaga yang sudah ada (Honoris, 2020).
Saat melakukan audiensi dengan Suharso Monoarfa selaku Menteri PPN/Bappenas pada 28 April 2021, Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) Laksdya TNI Harjo Susmoro menjelaskan pentingnya peranan lembaga Dewan Keamanan Nasional (DKN) dalam membantu Presiden terutama saat menyusun kebijakan strategis serta untuk menjamin terwujudnya stabilitas keamanan nasional dan berjalannya roda pemerintahan dengan baik dan lancar. Mengingat dimensi keamanan sudah semakin kompleks, bukan hanya pada keamanan wilayah dari serangan musuh namun juga menyangkut keamanan manusia baik secara individu, kelompok masyarakat dan keamanan dalam negeri secara umumnya (Aliansyah, 2021).
Wantannas yang selama ini memegang peran dan fungsi tersebut perlu dilaksanakan revitalisasi dan validasi, mengingat dasar pembentukannya sudah tidak valid lagi. Progres revitalisasi dan validasi organisasi Wantannas menjadi DKN juga sedang menunggu keputusan Presiden terkait izin prakarsa penyusunan rancangan Peraturan Presiden tentang Dewan Keamanan Nasional dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Susmoro, 2021). Berdasarkan hasil rapat Sekretaris Jenderal Wantannas dengan Bappenas pada Kamis, 17 November 2019, disepakati pembentukan DKN dan disetujui dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dan diterima sebagai bagian kerangka kelembagaan 2020-2024 (Aliansyah, 2021).
Untuk melaksanakan tugas, peran dan fungsinya dengan baik, DKN nantinya harus memiliki kedudukan jelas secara payung hukum dan nomenklatur kelembagaan serta proses mekanisme hubungan kerja antar kelembagaan. lembaga tersebut penting dalam membantu Presiden serta pengambilan kebijakan strategis nasional guna mendukung terselenggaranya proses pembangunan nasional (Monoarfa, 2021). Wantannas juga telah mengundang kementerian dan lembaga untuk mendapatkan masukan serta usulan pembentukan DKN melalui diskusi dengan para pakar, lembaga swadaya masyarakat serta melaksanakan studi banding ke beberapa negara sahabat melalui diskusi dengan Duta Besar perwakilan yang ada di Indonesia. Selain itu, saat ini Wantannas sedang menyusun dokumen terkait strategi keamanan nasional dan progresnya sudah hampir 80 persen (Susmoro, 2021).
Dengan adanya pro dan kontra dari pembentukan DKN di Indonesia, penulis menemukan permalasahan yang timbul dan dapat dibahas terkait dengan pembentukan DKN di Indonesia, selain itu, penulis juga berupaya untuk menemukan solusi dalam menghadapi tantangan, problematika, dan masalah-masalah yang dihadapi Indonesia saat ini.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan studi dokumentasi yang diartikan sebagai suatu teknik pengumpulan data dengan cara mempelajari dokumen untuk mendapatkan data atau informasi yang berhubungan dengan masalah yang diteliti (Sugiyono, 2016). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan. Studi kepustakaan adalah studi yang dilaksanakan dengan menggunakan litelatur (kepustakaan), baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian dari peneliti terdahulu (Hasan, 2004). Pengumpulan data melalui studi kepustakaan dilakukan dengan mencari sumber-sumber dari buku teks, artikel, jurnal, media elektronik, majalah dan sumber-sumber lain yang terkait. Uji Kredibilitas
dilakukan dengan cara melakukan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, triangulasi, anaslisis kasus negatif, menggunakan bahan referensi, serta member check guna mendapatkan derajat akurasi desain penelitian dengan hasil yang ingin dicapai (Sugiyono, 2016).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembentukan Dewan Keamanan Nasional (DKN) di Indonesia
Pembahasan mengenai Dewan Keamanan Nasional di Indoensia bukanlah hal yang baru. Pada tanggal 3 Februari 1954, Pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Soekarno menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia No. 17 Tahun 1954 tentang Dewan Keamanan Nasional.
Penetapan PP tersebut dilakukan untuk menyempurnakan usaha-usaha menjamin keamanan. lembaga DKN pada saat itu dipimpin oleh Perdana Menteri serta beranggotakan Wakil Perdana Menteri I dan II, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pertahanan, dan Menteri Kehakiman. Berdasarkan Pasal 3 PP No.17 Th.1954, tugas DKN meliputi: (1) memberikan pertimbangan kepada Dewan Menteri tentang soal-soal keamanan; (2) merencanakan pengerahan segala alat kekuasaan Negara untuk menjamin dan /atau memulihkan keamanan; dan (3) melakukan koordinasi antara alat-alat kekuasaan Negara.
Pada saat ini, Indonesia tidak memiliki DKN. Namun, tugas dan fungsi dari DKN diemban oleh beberapa lembaga dimana fungsi koordinasi tata kelola keamanan diampu oleh Menko Polhukam. Disisi lain, Lemhanas, Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dan Kantor Staf Presiden KSP bertindak sebagai pemberi nasihat kepada Prersiden (Kontras, 2020). Selain itu, Indonesia memiliki lembaga yang serupa dengan DKN yakni Dewan Ketahanan Nasional (Watannas). Pembentukan lembaga ini didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 1999. Berdasarkan Pasal 2 Keppres No.101 Th.1999, tugas dari Watannas sendiri adalah untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan gerakan pembinaan ketahanan nasional guna menjamin pencapaian tujuan dan kepentingan nasional Indonesia. Susmoro (2021) juga menjelaskan bahwa selama ini tugas dan fungsi DKN dipegang oleh Wantannas. Namun, jika dibandingkan tugas antara DKN dan Wantannas menggunakan peraturan perundang-undangan yang ada, terlihat jelas perbedaan mendasar antar kedua lembaga tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa perlu dilakukannya revitalisasi dan validasi Wantannas yang mana pembentukannya sudah tidak valid. Tindakan yang paling efektif dan efisien dalam hal ini adalah melakukan transisi organisasi Wantannas menjadi DKN secara keseluruhan.
Pembentukan kembali DKN di Indonesia menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan. Seperti yang disebutkan oleh Devanny & Harris (2014) bahwa pembentukan DKN dilakukan guna menangani krisis nasional atau pelestarian kediktatoran militer. Pernyataan tersebut secara jelas dua alasan yang saling bertolak belakang dalam pembentukan lembaga tersebut. Timbulnya pro dan kontra pun juga tidak lepas dari dua alasan ini. Dari segi pemerintah, pembentukan DKN ditujukan untuk mewujudkan stabilitas keamanan nasional dan berjalannya roda pemerintahan dengan baik dan lancar. Hal tersebut dikarenakan aspek-aspek yang tercakup dalam dimensi keamanan sudah tidak terpaku pada keamanan wilayah dari serangan musuh namun juga menyangkut keamanan manusia dan keamanan dalam negeri.
Disisi lain, berbagai kalangan khawatir pembentukan DKN akan menjadi wadah represi negara kepada masyarakat, membatasi hak asasi manusia, dan pemborosan anggaran. berkaca pada banyaknya lembaga yang memegang tugas dan fungsi DKN, pembentukan DKN dirasa akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi pemerintah dalam keamanan negara, wilayah, maupun masyarakat Indonesia.
Dalam pembentukan DKN juga harus mengikutsertakan berbagai kalangan sehingga proses pembentukan, tujuan, dan fungsi dari lembaga yang dibentuk dapat memberikan kejelasan terhadap semua pihak.
Pembentukan DKN juga dirasa dibutuhkan untuk menciptakan good governance dan tata kelola pemerintahan yang baik. good governance merupakan cara untuk mengukur bagaimana lembaga publik melaksanakan agenda dan mengelola sumber daya dengan cara yang disukai oleh masyarakat (UNESCAP, 2009). Good governance juga bisa diartikan sebagai good governance pada serangkaian persyaratan yang sesuai dengan agenda organisasi (Khan, Amundsen, & Giacaman, 2004).
Tata kelola yang baik dalam konteks negara merupakan sebuah pembahasan yang luas dan sulit untuk menemukan definisi yang spesifik. Terdapat dua dimensi untuk mengkualifikasikan pemerintahan sebagai baik atau buruk yakni kapasitas negara dan otonomi birokrasi, yang mana keduanya saling melengkapi, serta pemerintah mampu mengelola kedua hal tersebut (Fukuyama, 2013). Dikarenakan pemerintahan dilaksanakan dengan tujuan untuk penyediaan kebutuhan publik kepada warganya, tidak ada cara yang lebih baik untuk memikirkan pemerintahan yang baik selain melalui hasil yang baik, yang sesuai dengan tuntutan masyarakat (pemenuhan kebutuhan keamanan, kesehatan, pendidikan, air, kesempatan untuk memilih, serta dan mendapatkan upah yang adil) (Rotberg, 2014).
Tantangan, Problematika, dan Masalah-Masalah yang sedang dihadapi Indonesia serta solusinya Melihat banyaknya tantangan, problematika, dan masalah-masalah yang dihadapi Indonesia, penulis mengerucutkan pembahasan pada dua permasalahan yakni penanganan pandemi COVID-19 dan Kelompok Kriminal Bersenjata. Virus Covid-19 telah menginfeksi jutaan orang selama satu tahun lebih dengan menyerang kesehatan masyarakat dunia, tak terkecuali Indonesia. Para ilmuwan menilai banyak hal yang harus dibenahi oleh negara-negara dunia dalam menyikapi pandemi. Virus SARS-CoV-2 yang kali pertama muncul di akhir tahun 2019 di kota Wuhan, China, terus menyebar ke penjuru dunia sepanjang tahun 2020. Virus ini cenderung menyerang organ pernapasan serta membuat lebih dari 114 juta orang terinfeksi. Covid-19 sendiri merupakan virus baru yang bermula dari infeksi virus corona dari kerabat dekat virus SARS. Dan dalam jangka waktu q bulan, virus ini telah menyebar ke seluruh dunia.
Kasus pertama Covid-19 di Indonesia diumumkan Maret 2020, dan pada saat ini tercatat lebih dari 1,3 juta orang penduduk Indonesia terinfeksi virus ini (Sumartiningtyas, 2021).
Kebijakan pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19 kerap berubah-ubah. Kebijakan yang berubah-ubah dan terkesan tidak kompak ini dipandang memberikan dampak negatif dan memperburuk kondisi pandemi di Indonesia. Salah satu contoh kebijakan yang berubah-ubah adalah pergantian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menjadi Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN). Kebijakan yang berubah-ubah dinilai akan memperumit penanganan pandemi Covid-19 (Pambudy, 2020).
Selain kebijakan yang berubah-ubah, korupsi dana bansos pandemi Covid-19 makin membuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah memudar. Operasi tangkap tangan (OTT) atas kasus dugaan suap bantuan sosial penanganan pandemi Covid-19 untuk wilayah Jabodetabek pada tahun 2020 diawali dari informasi masyarakat kepada KPK mengenai dugaan terjadinya penerimaan sejumlah uang oleh Menteri Sosial yakni Juliari P. Batubara (JPB). Dana suap korupsi sendiri sebesar Rp 14.500.000.000. Dalam kasus ini, Juliari melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP (Nugraheny, 2020).
Selama masa pandemi, stabilitas politik dan keamanan dalam negeri juga mengalami gejolak yang mana kelompok kelompok kriminal bersenjata (KKB) Organisasi Papua Merdeka (OPM) dinyatakan sebagai organisasi teroris oleh pemerintah. Hal tersebut disebabkan insiden penembakan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Papua Brigjen I Gusti Putu Danny Nugraha Karya yang dilakukan oleh OPM. Selain itu seorang anggota Brimob Polri, Bharada Komang meninggal dan dua lainnya luka-luka setelah terlibat kontak tembak dengan KKB (CNN Indonesia, 2021). Mahfud MD yang menjabat sebagai Menko Polhukam menyebut masifnya pembunuhan dan kekerasan oleh organisasi tersebut menjadi alasan pemerintah menetapkan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua sebagai organisasi teroris.
alasan tersebut juga sesuai yang dikemukakan Ketua MPR-RI Bambang Soesatyo atas kian masifnya kekerasan yang dilakukan KKB belakangan ini. Mahfud mengatakan, penetapan ini sudah sesuai Undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 2018. UU ini merupakan Perubahan atas UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi UU (Yahya, 2021).
Merujuk aturan tersebut, Mahfud mengatakan bahwa yang dikategorikan teroris adalah semua orang yang terlibat dalam merencanakan, menggerakan, dan mengorganisasikan tindakan terorisme.
Sedangkan terorisme merupakan setiap perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman yang menimbulkan suasana teror secara meluas yang dapat menimbulkan korban secara massal dan menimbulkan kehancuran terhadap obyek vital strategis terhadap lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, dan keamanan (Mahfud, 2021). Berdasarkan definisi yang dicantumkan dalam UU Nomor 5 Tahun 2018 maka apa yang dilakukan oleh KKB dan segala nama organisasinya dan orang-orang yang berafisiliasi dengannnya adalah tindakan teroris. Ketegangan di Papua belakangan ini meningkat dengan kontak tembak yang melibatkan aparat keamanan TNI-Polri dan KKB. Adapun ide pelabelan teroris terhadap KKB kali pertama dikemukakan oleh Boy Rafli Amar selaku Kepala BNPT (Yahya, 2021).
Berdasarkan kondisi pemerintahan selama masa pandemic Covid-19 serta gejolak politik dalam negeri akibat kasus penembakan Kepala BIN Daerah Provinsi Papua oleh kelompok KKB OPM yang selanjutnya dicap sebagai teroris, menimbulkan beberapa pertanyaan mengenai keamanan nasional Indonesia yaitu bagaimana kebijakan keamanan nasional yang tepat dan mampu menyelesaikan permasalahan dalam menghadapi kasus-kasus tersebut.
Beberapa solusi yang ditawarkan adalah memperbaiki kepemimpinan nasional terkait bagaimana menjadikan sains dengan dukungan data-driven policy yang berarti keputusan-keputusan yang diambil oleh pemimpin terkait pandemi harus didasari oleh data yang lebih terbuka dan berpatokan pada sains yang benar. Pemerintah harus dapat memanfaatkan momen setahun pandemi Covid-19 untuk melakukan evaluasi besar terkait beberapa kebijakan. Secara faktual basis data masih tidak efektif dalam menekan dan menghentikan transmisi penularan Covid-19 di Indonesia. Oleh sebab itu, data Covid-19 perlu dibenahi untuk menyikapi pandemi di tahun kedua ini (Ridlo, 2021).
Pemerintah perlu memperbaiki banyak hal dalam penanganan pandemi Covid-19, yakni: (1) penggunaan rapid diagnostic test antibodi yang dinilai memiliki sensitivitas tidak terlalu baik dimana banyak pakar sudah mengkritik metode ini; (2) upaya memutus rantai penularan yang belum tepat karena proses karantina kontak erat tidak dilakukan secara sistematis; (3) kapasitas pengujian juga belum memenuhi standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), yaitu 1 per 1.000 penduduk per minggu, kecuali di Jakarta; (4) kepatuhan pemerintah daerah untuk mengikuti pedoman pengendalian juga dipertanyakan; dan (5) Komunikasi publik pemerintah yang salah kaprah (Pane, 2021).
Indonesia membutuhkan pemimpin orkestra yang ulung. Kepastian penanganan saat ini hanya bisa dijawab dengan keberpihakan pada keterbukaan, kejujuran dan sains (epidemiologi). Tanpa itu, situasi pandemi virus corona tidak akan pernah terkendali dan kedepannya akan melahirkan banyak ketidakadilan. Selama setahun pandemi Covid-19, selain respons awal yang gagal, pemerintah kurang optimal memanfaatkan modal sosial. Kerjasama dengan koordinasi yang bagus dapat mulai dilakukan saat ini. Jika struktur sosial terkelola dan terkoordinasi baik dengan bantuan pemimpin daerah, maka akan mempermudah penanganan pandemi (Ridlo, 2021). Hal ini juga dapat diterapkan dalam mengatasi permasalahan terorisme di tanah papua.
Dalam penyelesaian masalah keamanan nasional di Papua, Pasukan keamanan sebaiknya tidak hanya berfokus pada operasi bersenjata. Namun, juga harus dapat merebut hati masyarakat dalam penyelesaian konflik keamanan dengan kelompok teroris. Pendekatan tersebut penting dilakukan karena kekerasan tidak selalu bisa diselesaikan dengan kekerasan. Sebaiknya pemerintah tetap menggunakan cara-cara dialog, pendekatan kemanusiaan, dan pendekatan lunak lainnya seperti ekonomi, pendidikan dan budaya. Selain itu, petugas keamanan gabungan diharuskan untuk berhati-hati dalam menjalankan tugasnya dikarenakan KKB Papua sering menggunakan masyarakat sebagai tameng dan korban (Riyanta, 2021).
Undang Undang mengenai kementerian negara diatur dalam UU No.38 Th.2008. Dalam Pasal 4 Ayat (1), dijelaskan bahwa setiap Menteri membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan. Dan dalam pasal 8 menjelaskan mengenai tugas kementerian dalam menyelenggarakan fungsi: (a) perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidangnya; (b) pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya; (d) pengawasan atas pelaksanaan tugas di bidangnya; dan (c) pelaksanaan kegiatan teknis dari pusat sampai ke daerah.
Berdasarkan kandungan yang terdapat pada UU No.38 Th.2008, memang tidak dijelaskan Menteri atau Kementerian mana yang bertanggung jawab dalam mengelola fungsi keamanan negara. Jika dikaitkan dengan elemen dari keamanan nasional serta fungsi keamanan, pada pasal yang sama secara tersirat menjelaskan bahwa semua kementerian memiliki tanggung jawab dalam menjaga keamanan negara sesuai dengan tugas pokok masing-masing. Hal ini dipengaruhi oleh cakupan keamanan nasional yang bersifat luas dan mendalam. Oleh karena itu, diperlukan sebuah lembaga yang mampu mengkoordinasikan fungsi keamanan nasional baik dalam bidang militer maupun nirmiliter. Berkaca pada fungsi DKN yang tercantum pada PP No.17 Th.1954 serta proses pembentukan DKN yang dijelaskan oleh Devanny & Harris (2014), pembentukan DKN pada saat ini dirasa perlu guna menuntaskan krisis nasional dan menjaga kestabilan negara. Oleh karena itu, dalam pembentukan DKN harus mengikusertakan semua elemen keamanan nasional serta merujuk kepada cita-cita, tujuan dan kepentingan nasional. Cita- cita dan tujuan nasional sendiri tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 dimana dijelaskan cita-cita nasional adalah sebagai negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Sedangkan tujuan nasional Indonesia sebagai mana dalam pembukaan UUD 1945 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Alhasil, upaya dalam menjaga stabilitas negara dan keamanan nasional bisa memenuhi hakikat kepentingan nasional Indonesia. Kepentingan Nasional mencakup kepentingan “kesejahteraan” dan kepentingan “keamanan” yang didasari dari pancasila dan UUD 1945, dilaksanakan melalui pembangunan nasional secara konsepsional yang didasari atas
wawasan nusantara, serta menggunakan seluruh potensi dan kekuatan nasional yang didayagunakan secara menyeluruh, terpadu, terarah, efektif dan efisien (Legowo, 2021).
SIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Walaupun DKN pernah berdiri di Indonesia, pada saat ini, fungsi dan tugas dari DKN diemban oleh beberapa lembaga pemerintahan seperti Menko Polhukam, Lemhanas, Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Kantor Staf Presiden (KSP) dan Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas).
2. Pembentukan DKN di Indonesia menuai pro dan kontra, hal ini disebabkan perbedaan pandangan antar pihak dalam dasar dan proses pembentukan DKN.
3. Melihat banyaknya tantangan, problematika, dan masalah-masalah yang dihadapi Indonesia, pembentukan DKN dirasa perlu guna mengkoordinasikan fungsi keamanan nasional baik dalam bidang militer maupun nirmiliter.
Saran dan Rekomendasi
1. Melihat banyaknya lembaga dengan tugas dan fungsi yang sama dalam menjaga stabilitas keamanan negara, wilayah, dan masyarakat, diperlukan penyederhanaan, revitalisasi dan validasi dari lembaga-lembaga dalam satu wadah yang sama yaitu DKN.
2. Guna menyamakan persepsi antar lapisan masyarakat, diperlukan kajian mendalam mengenai defenisi keamanan nasional sebelum membentuk DKN yang mana kajian tersebut dituangkan dalam bentuk undang-undang.
3. Melihat kondisi negara saat ini, pembentukan DKN dengan segera namun tidak terburu-buru harus dilakukan. Hal tersebut ditujukan untuk menangani krisis yang dihadapi Indonesia pada saat ini dan dimasa depan
DAFTAR RUJUKAN
Aliansyah, M. A. (2021, April 29). Sekjen Wantannas Jelaskan Pentingnya Dewan Keamanan Nasional Bagi Presiden. Retrieved Agustus 12, 2021, from merdeka.com:
https://www.merdeka.com/peristiwa/sekjen-wantannas-jelaskan-pentingnya-dewan-keamanan- nasional-bagi-presiden.html
Anam, M. C. (2020, Januari 27). Komnas HAM Kritik Rencana Pembentukan Dewan Keamanan Nasional. (D. J. Bayu, Interviewer) katadata.com. Retrieved Agustus 12, 2021, from https://katadata.co.id/agustiyanti/berita/5e9a498f1d213/komnas-ham-kritik-rencana-
pembentukan-dewan-keamanan-nasional
Araf, A. (2020, Januari 27). Komnas HAM Kritik Rencana Pembentukan Dewan Keamanan Nasional. (D.
J. Bayu, Interviewer) katadata.co.id. Retrieved Agustus 12, 2021, from https://katadata.co.id/agustiyanti/berita/5e9a498f1d213/komnas-ham-kritik-rencana-
pembentukan-dewan-keamanan-nasional
Bayu, D. J. (2020, Januari 27). Komnas HAM Kritik Rencana Pembentukan Dewan Keamanan Nasional.
(Agustiyanti, Editor) Retrieved Agustus 12, 2021, from katadata.co.id:
https://katadata.co.id/agustiyanti/berita/5e9a498f1d213/komnas-ham-kritik-rencana- pembentukan-dewan-keamanan-nasional
Brown, H. (1983). Thinking about national security: defense and foreign policy in a dangerous world.
Boulder: Westview Press.
CNN Indonesia. (2021, Mei 3). Babak Baru Pemerintah Lawan KKB di Papua. Retrieved from CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210503064511-20-637655/babak-baru- pemerintah-lawan-kkb-di-papua
Devanny, J., & Harris, J. (2014). The National Security Council: National security at the centre of government. London: Institute for Government. Retrieved from Institute for Government.
Fukuyama, F. (2013). What is Governance? Governance, 26(3), 347-368.
doi:https://doi.org/10.1111/gove.12035
Hasan, I. (2004). Analisis Data Penelitian Dengan Statistik . Jakarta: PT Bumi Aksara.
Honoris, C. (2020, Januari 27). Komnas HAM Kritik Rencana Pembentukan Dewan Keamanan Nasional.
(D. J. Bayu, Interviewer) katadata.co.id. Retrieved Agustus 12, 2021, from https://katadata.co.id/agustiyanti/berita/5e9a498f1d213/komnas-ham-kritik-rencana-
pembentukan-dewan-keamanan-nasional
Khan, M. H., Amundsen, I., & Giacaman, G. (2004). State Formation in Palestine: Viability and Governance During a Social Transformation: Volume 2 of Political economy of the Middle East and North Africa. Milton Park: Routledge.
Kontras. (2020, Januari 15). Menyikapi Rencana Pembentukan Dewan Keamanan Nasional. Retrieved Agustus 12, 2021, from KONTRAS: https://kontras.org/2020/01/15/menyikapi-rencana- pembentukan-dewan-keamanan-nasional/
Lasswell, H. D. (1950). Politics: Who Gets What, When, How. London: Paul Smith Publishing.
Legowo, E. (2021, Juni 8). ELEMENT OF NATIONAL SECURITY: Manganalisa Dan Mengklasifikasi Elemen Kamnas. Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia.
Mahfud, M. (2021, April 29). Alasan Pemerintah Tetapkan KKB di Papua Organisasi Teroris. (A. N.
Yahya, Interviewer) Retrieved from
https://nasional.kompas.com/read/2021/04/29/13263971/alasan-pemerintah-tetapkan-kkb-di- papua-organisasi-teroris?page=all
Martono, N. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif: Analisis Isi dan Analisis Data Sekunder. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Monoarfa, S. (2021, April 29). Sekjen Wantannas Jelaskan Pentingnya Dewan Keamanan Nasional Bagi Presiden. (M. A. Aliansyah, Interviewer) merdeka.com. Retrieved Agustus 12, 2021
Nugraheny, D. E. (2020, Desember 6). Berawal dari Laporan Masyarakat, Begini Kronologi OTT Dugaan Suap Bansos Covid-19 di Kemensos. (D. Prabowo, Editor) Retrieved from Kompas.com:
https://nasional.kompas.com/read/2020/12/06/02531141/berawal-dari-laporan-masyarakat- begini-kronologi-ott-dugaan-suap-bansos?page=all
Paleri, P. (2008). National Security: Imperatives And Challenges. New Delhi: Tata McGraw-Hill.
Pambudy, N. M. (2020, Oktober 20). Soal Penanganan Covid-19, Kebijakan Pemerintah Dinilai Tak
Kompak. (S. Mashabi, Interviewer) Retrieved from
https://nasional.kompas.com/read/2020/10/02/18100631/soal-penanganan-covid-19-kebijakan- pemerintah-dinilai-tak-kompak
Pane, M. (2021, Januari 1). Refleksi Penanganan Pandemi Covid-19 di Indonesia 2020. (R. Dwiastono, Interviewer) Retrieved from https://www.voaindonesia.com/a/refleksi-penanganan-pandemi-covid- 19-di-indonesia-2020-/5721017.html
PBHI. (2020, Januari 15). Menyikapi Rencana Pembentukan Dewan Keamanan Nasional. Retrieved Agustus 12, 2021, from PBHI: https://pbhi.or.id/menyikapi-rencana-pembentukan-dewan- keamanan-nasional/
Ridlo, I. A. (2021, Maret 02). Setahun Pandemi di Indonesia, Apa Saja Penanganan Covid-19 yang Harus Dibenahi? (H. K. Sumartiningtyas, Interviewer) Retrieved from https://www.kompas.com/sains/read/2021/03/02/120100823/setahun-pandemi-di-indonesia-apa- saja-penanganan-covid-19-yang-harus?page=1
Riyanta, S. (2021, Mei 14). Pengamat terorisme dan intelijen tegaskan penanganan di Papua harus hati- hati. (Kompas.com, Interviewer) Retrieved from https://nasional.kontan.co.id/news/pengamat- terorisme-dan-intelijen-tegaskan-penanganan-di-papua-harus-hati-hati
Romm, J. J. (1993). Defining National Security: The Nonmilitary Aspects. New York: Council on Foreign Relations.
Rotberg, R. I. (2014). Good Governance Means Performance and Results. Governance, 27(3), 511-518.
doi:https://doi.org/10.1111/gove.12084
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sumartiningtyas, H. K. (2021, Maret 02). Setahun Pandemi di Indonesia, Apa Saja Penanganan Covid-19
yang Harus Dibenahi? Retrieved from Kompas.com:
https://www.kompas.com/sains/read/2021/03/02/120100823/setahun-pandemi-di-indonesia-apa- saja-penanganan-covid-19-yang-harus?page=all
Susmoro, H. (2021, April 29). Sekjen Wantannas Jelaskan Pentingnya Dewan Keamanan Nasional Bagi Presiden. (M. A. Aliansyah, Interviewer) merdeka.com. Retrieved Agustus 12, 2021, from https://www.merdeka.com/peristiwa/sekjen-wantannas-jelaskan-pentingnya-dewan-keamanan- nasional-bagi-presiden.html
Syamsunasir. (2021, Mei 4). The Concept of National Security. Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia.
UNESCAP. (2009). What is Good Governance? Bangkok: UNESCAP.
Wolfers, A. (1962). Discord and Collaboration: Essays on International Politics. Baltimore: The Johns Hopkins Press.
Yahya, A. N. (2021, April 29). Alasan Pemerintah Tetapkan KKB di Papua Organisasi Teroris. Retrieved from Kompas.com: https://nasional.kompas.com/read/2021/04/29/13263971/alasan-pemerintah- tetapkan-kkb-di-papua-organisasi-teroris?page=all