Menemukenali dan Membahas Masalah-Masalah Relevan Dalam Upaya
Meningkatkan Kapasitas Nasional dalam Sains dan Teknologi dan
Meningkatkan Pemfungsian Sains dan Teknologi di Masyarakat:
kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yangmerdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. Ekspresi yang hendak diutarakan oleh para
founding fathers ketika menyusun kalimat yang indah ini, tentulah sebuah kedaulatan dan
kemakmuran yang sejati-jatinya di negeri nusantara ini. Proses untuk mencapai dan memasuki pintu gerbang kemerdekaan adalah pembangunan dan transformasi sosial-ekonomi-budaya yang dilaksanakan segera setelah kemerdekaan tercapai. Pertanyaannya: sejauh manakah cita-cita dan tujuan filosofis berbangsa dan bernegara ini telah dicapai, hingga usia NKRI 69 tahun, saat ini? Bila jawabannya belum, maka pertanyaan berikutnya hingga berapa tahun lagikah, Indonesia bisa meraih mimpi kedaulatan dan kemerdekaan sains dan teknologi yang sejati?
Mengapa, kedaulatan sains dan teknologi hingga saat ini belum juga terasakan sebagai bagian dari berkah kemerdekaan Republik Indonesia? Boleh dikatakan, bahwa memang ada kemajuan-kemajuan yang cukup berarti di bidang teknologi kedirgantaraan, teknologi transportasi, teknologi konstruksi, dan teknologi pertanian yang dicapai oleh bangsa Indonesia. Namun, di bidang lain, masih meniscayakan Indonesia terus berada di belakang negeri-negeri maju (Eropa Barat, Amerika Utara, dan Jepang) penghasil-innovasi teknologi maju yang telah mentradisi selama ini. Sebut saja, misalnya dalam hal biotechnology, teknologi medis, teknologi ruang
angkasa, teknologi informasi, teknologi senjata perang, dst. Pertanyaannya kemudian: mengapa
sains dan teknologi anak bangsa Indonesia berjalan tak secepat diharapkan? Dalam hal lembaga riset dan pendidikan tinggi penghasil innovasi teknologi, bahkan perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia berada di ranking di atas 700an dari seribu perguruan tinggi yang di data di dunia. Penghasil sains dan teknologi terkemuka di dunia tetap dipegang MIT di USA. University of Cambridge di UK, Oxford University di UK, Harvard University di USA, Humboldt
University di Jerman, ETH di Zurich Swiss dan University of Tokyo di Jepang. Mereka selalu
berada di depan. Sementara, Indonesia berada jauh di belakang.
*)
Dari fakta-fakta ini, akan dicoba kupas permasalahan mengapa sains dan teknologi di Indonesia tidak berkembang dari perspektif ekonomi pembangunan dan dari perspektif sosiologi. Dari perspektif ekonomi pembangunan, akan dimulai dari persoalan kemiskinan ilmu pengetahuan modern dan stage of development perjalanan bangsa ini dalam sains dan teknologi yang masih muda. Dari perspektif sosiologi, dimensi relasi-kekuasaan dan pendekatan filosofis dalam pengembangan sains dan teknologi
2.
Masalah Ketidakberfungsian Sains dan Teknologi: Perspektif
Ekonomi-Pembangunan
Bisa jadi jawaban tentang mengapa, keberdaulatan dan kebelum-berfungsian sains dan teknologi dalam negeri, terletak pada sejarah perkembangan pendidikan tinggi. Universitas-Universitas di Barat itu telah dibangun ber-abad-abad yang lalu, sementara PTN-PTN unggul di NKRI seperti ITB, UI, UGM, IPB, ITS, UNAIR, UNIBRAW, UNDIP yang biasanya disebut sebagai top eight
universities di Indonesia, semuanya baru didirikan beberapa puluha tahun yang lalu. Bila
didasarkan oleh alasan sejarah, maka kita boleh sedikit lega. Walaupun bukan berarti bahwa, kemudian, NKRI menyerah untuk tidak berusaha bangkit mengejar ketertinggalan. Tetapi benarkah karena faktor sejarah saja, yang membuat Indonesia sulit bersaing dengan Barat?
Jawaban klasik sering dialamatkan kepada anggaran riset yang tidak memadai. Sesuatu yang menjadi persoalan klasik. Dana riset yang tidak lebih dari 5% anggaran nasional dianggap penyebab ketidakmajuan perkembangan riset dan teknologi di Indonesia. Pendidikan tinggi pun mengalami persoalan ketidakmampuan dayatampung penyelenggaraan pendidikan tinggi nasional. Dengan asumsi bahwa pendidikan tinggi berkualitas biasanya diselenggarakan di PTN (perguruan tinggi negeri), maka dengan jumlah PTN yang hanya 120 buah pada tahun 2014 jelas sangat jauh dari kemampuan nasional untuk menyelenggarakan pendidikan dan riset berkualitas. Persoalan kapasitas pendidikan tinggi nasional menjadi semakin memprihatinkan bila melihat variasi/ragam kualitas riset sebagian besar PTN yang masih dibawah harapan.
Persoalan semakin ke dalam, apakah setiap PTN memiliki agenda riset yang terpelihara dan konsisten? Jawabannya, tentu tidak sama sekali. Kebanyakan riset bahkan di PTN terkemuka, seringkali hit and run. Agenda riset memang disusun untuk lima tahunan, tetapi fungsinya hanya sebagai guidance secara garis besar semata-mata. Ditambah pula, kebanyakan hasil riset tidak publishable. Belum lagi bila menilik tenaga peneliti bergelar doktor di Indonesia yang jumlahnya masih sangat kurang, pun dengan 80 persen para ahli bergelar doktor tersebut berada di lembaga penelitian/PTN di Jawa. Sehingga, baik dari jumlah dan kualitas maupun persebarannya, sangat timpang serta bias Pulau Jawa.
Demikianlah, sains dan teknologi di Indonesia tidak berkembang karena faktor-faktor ekonomi pembangunan sebagai disebutkan di atas. Namun, penjelasan ekonomi pembangunan saja tentu tidaklah mencukupi. Diperlukan penjelasan sosiologis, mengapa sains dan teknologi tidak berkembang. Berikut ini, adalah tinjauan sosiologis.
3.
Masalah Ketidakberfungsian Sains dan Teknologi: Perspektif Fisosofi dan
Sosiologi
Pertanyaan yang hendak di-address oleh paper singkat ini adalah bagaimana meningkatkan kapasitas sains dan teknologi nasional serta meningkatkan keberfungsian sains dan teknologi nasional (bagi pembangunan) di Indonesia, di dalam suasana perubahan dan turbulensi global. Turbulensi dan perubahan global seperti liberalisasi yang makin menajam, perubahan iklim yang dampaknya semakin menyiksa, aliansi politik global, revolusi informasi, dan seterusnya. Pertanyaan ini hendak menyampaikan pesan bahwa selama ini, sains dan teknologi (to some
extent) memang tidak berfungsi optimal dalam membentuk bangunan masyarakat sesuai harapan.
Sebaliknya, masyarakat memiliki cara-pandang dan sikap tersendiri tentang sains dan teknologi. Fakta menunjukkan bahwa, bahkan sejak sains dan teknologi di produksi dan direproduksi di lembaga penelitian dan perguruan tinggi, keduanya sudah mengalami dinamika, kendala, dan limitasi secara struktural dan kultural.
Pandangan determinasi teknologi mengatakan bahwa sains dan teknologi berkembang karena ada sekelompok orang yang mengasuhnya berbasiskan scientific rationalism. Dalam pandangan sosiolog Weberian, rasionalitas yang dominan berada di dalam kebanyakan kepala orang adalah
rasionalitas instrumental (maximizing gain and minimizing loss). Rasionalitas sains pun tidak
disadari juga terbawa-arus oleh epistemologi rasionalitas-Weberian (gain and loss theorem). Dikarenakan sruktur sosial terbentuk oleh karena integrasi berbagai tindakan individual rasional
(scientific rationality), maka pada saat itulah sains dan teknologi membentuk sebuah struktur
sosial dan akhirnya kesatuan masyarakat (entitas sosial). Pada titik ini, absah untuk mengatakan bahwa sains dan teknologi membangun (construct) struktur sosial, sistem sosial, budaya-berpikir, kebudayaan, dan akhirnya tata-peradaban. Science and technology construct social system. Selanjutnya, sosial sistem akan memlihara cara berpikir warganya, dan memelihara sains dan teknologi.
Sebelum membahas lebih jauh bagaimana cara meningkatkan kapasitas sains dan teknologi nasional dan pemfungsian sains dan teknologi nasional, akan dikutip salah satu pandangan
technological determinsim dalam sosial-budaya kemasyarakatan, sebagaimana Sismondo (2010)
kemukakan sebagai berikut:
“Science plays a central role in determining the shape of technology. The state of technology is the important cause of social structure, because technology enables most
human action. People act in the context of available technology”
Jadi pandangan deterministik teknologi, menjelaskan betapa teknologi yang dibentuk oleh sains, sangat penting terhadap terbentuknya struktur sosial. Dengan kata lain, sains dan teknologi adalah pembentuk struktur sosial, sekaligus kebudayaan dan peradaban. Masih dalam pandangan determinasi teknologi, Mumford dalam Sismondo (2010) mengemukakan dua strands atau jenis teknologi yang mempengaruhi terbentuknya sebuah peradaban, sebagai berikut:
“Polytechnics are „life-oriented‟, integrated with broad human needs, and potentials. Polytechnics produce small scale and versatile (adaptable, handy) tools, useful for pursuing many human goals. Monotechnics produce „mega machines‟ that can increase power dramatically but by regimenting (oppressing) and dehumanizing”
masyarakat banya. Pengembangan sains dan teknologi, ternyata bias kepentingan pemegang
kekuasaan determinan. Faktor kekuasaan dan kepada siapa sains dan teknologi didedikasikan
menjadi jawaban mengapa sains dan teknologi tidak banyak menyentuh masayarakat miskin di pedesaan, misalnya.
3.2 Kritik I terhadap Determinasi Teknologi: Pertarungan antara Polytechnics Power
vs Monotechnics Power
Dalam kritiknya terhadap eksistensi sains dan teknologi dalam masyarakat, Heidegger (1977) mengatakan bahwa biasanya teknologi modern yang datang kepada suatu masyarakat akan mendabdi kepada kekuasaan “science is in the service of power”. Rasionalitas yang membimbing tindakan pemilik sains dan teknologi, akan mengarahkan kepada rasio gain/loss terbesar yang menguntungkan. Demikian, bila “mega machines” adalah orientasinya dan biasanya high-technology adalah pendekatannya. Mayoritas pemikir dan ahli berada di kategori ini. Bila sebaliknya, maka sains dan teknologi akan memihak kepada kaum tak berpunya. Tetapi yang demikian ini, sangat jarang, kecuali – para penganut tekno-populisme (orang-orang seperti Ono W Purbo atau Romo Mangun berada di kelompok ini).
Diskusi tentang perkembangan sains dan teknologi kemudian memasuki wilayah kritis. Bagi Indonesia, dengan perkembangan masyarakat yang beragam-ragam fasenya, apakah pilihannya pada politeknik ataukah monoteknik? Kepada kekuasaan yang manakah, sains dan tekologi akan didedikasikan? Kepada pemodal skala besar atau kepada rakyat kecil kebanyakan? Kemana posisi aksiologi pengembangan sains dan teknologi di Indonesia akan diarahkan? Karena telah lazim diketahui bahwa implementasi sains dan teknologi yang menyumbang kepada perkembangan sebuah sistem perekonomian, biasanya akan menghasilkan sebuah pembangian manfaat (biaya) dan resiko yang tidak merata.
Sinyalemen dari Heidegger tentang sains dan kekuasaan sungguh beralasan. Terutama hal ini ditopang juga oleh pendapat dari Foucault (1977) yang menulis tentang “the problem of power and knowledge”. Pada intinya pengetahuan atau sains adalah sumber kekuasaan. Kekuasaan yang tidak bisa pernah lepas dari interest dan pemihakan. Konsekuensinya, akan selalu saja ada pihak yang mendapatkan ketidakadilan atas implementasi sains dan teknologi tersebut. Hingga titik ini, analisis kritik terhadap sains dan teknologi menuju ke satu penyimpulan bahwa sains dan teknologi seringkali tidak berfungsi (dalam masyarakat), karena sains dan teknologi selalu memihak.
3.3 Kritik II terhadap Determinasi Teknologi: Social Constructionism of Technology
Memahami bahwa sains dan teknologi berada dalam suasana yang kritikal seperti itu, sekelompok orang yang tergabung ke dalam apa yang disebut sebagai “Science, Technology and
Society” (STS) pada tahun 1970an merasa tak puas dengan pendekatan determinasi teknologi.
(1) disinterested of science – melepaskan science dari kepentingan-kepentingan elite-ekonomi-politik (Cutliffe, 2000);
(2) technologies that benefit the widest populations– bukan teknologi yang pro-elite-ekonomi;
(3) demokratisasi sains dan teknologi– teknologi tidak hanya milik perguruan tinggi saja, tetapi semua pihak diapresiasi untuk membangun teknologi (Laird, 1993)
Pada dasarnya, STS hendak mendekonstruksi elitisme dari sains dan teknologi, menjadi sebuah pemihakan kepada rakyat banyak. Pendek kata STS adalah gerakan tekno-populisme. STS kemudian dikenal juga sebagai anti-essentialist positions, dimana posisi ini mempercayai bahwa sumber ilmu pengetahuan dikembangkan bisa dari mana saja. Oleh karena itu, kemudian STS menganggap bahwa karena sains dan teknologi itu sebuah proses yang aktif back and forth antara ilmuwan dan komunitas, maka sains dan teknologi sesungguhnya socially constructed – dibangun oleh logika yang berkembang di masyarakat. Sains dan teknologi tidak sepenuhnya mengikuti filsafat sains dari Vienna Circle atau positivism maupun fisafat sains falsificationism dari Popper (1992). STS lebih condong pada realism daripada dua aliran filsafati sebelumnya.
Bagi Indonesia, dimana masyarakat lokal juga memiliki tacit knowledge yang tidak ter-transkripsikan dengan baik, maka pandangan STS menjadi sangat relevan. Ilmu pengathuan adalah hasil dialog para ilmuwan dengan masyarakat lokal. Sains dan teknologi bukan hasil olah pikir perguruan tinggi yang terasing dari masyarakatnya.
3.3 Beberapa Contoh Implementasi Sains dan Teknologi di Indonesia: Bias Elite
Investigasi terhadap bagaimana sains dan teknologi berkembang dalam masyarakat pedesaan Indonesia sepanjang 20 tahun terakhir menghasilkan banyak fenomena Heideggerian dan
Faucauldian, dimana power of elite bersama-sama dengan the power of market terasa sangat
mendominasi perkembangan dan pengembangan sains dan teknologi. Ditambahkan pula semangat neoliberalisme ekonomi seturut pikiran Friedman (1982) dimana regulative power (negara) samasekali tidak boleh campur tangan dalam economic development serta technological
development. Semua orang atau semua pihak diasumsikan setara dimana kekuatannya sama dan
siap bersaing. Bagi mereka yang kalah dalam persaingan (kontestasi) dipersilahkan untuk minggir, dan bagi yang menang dipersilahkan mendominasi pasar dan menangguk keuntungan ekonomi.
Bagi perekonomian pasar dan suasana liberalistik di Barat, persaingan sempurna adalah suasana ideal, karena setiap pihak memiliki “bekal” yang sama untuk bersaing. Bagi Indonesia, situasinya total berbeda. Persaingan sempurna dan free fight liberalism tidak bisa dan tidak boleh diterapkan karena sama sekali akan mengusik rasa keadilan. Namun, faktanya tetap saja bahwa pandangan Monotechnics yang selalu berpikir besar dan tunggal yang memenangkan pertarungan.
Green Revolution (tahun 1960-an yang dampaknya terasa sampai kini) adalah kemenangan industri kimiawi skala besar penghasil pestisida yang basisnya di Jerman, Amerika Utara, dan Jepang. Green Revolution juga sebuah kemenangan bioteknologi benih skala besar dari institusi riset dan pabrik benih dari Amerika Utara. Green Revolution adalah kemenangan industri kimiawi skala besar berbasis fossil-fuel penghasil pupuk kimiawi serta juga industri mesin traktor pertanian, yang semuanya produk dan hasil elaborasi asing for the benefit of Western Countries. Hal yang terasa ironis dalam hal ini adalah bahwa pasar dari industri bioteknologi, industri berteknologi kimiawi canggih dan teknologi mekanisasi skala besar itu adalah para petani kecil yang sama sekali tidak memahami apa sebenarnya yang terjadi dengan pengembangan sains dan teknologi di Indonesia. Mereka hanya pasar dan pemakai teknologi yang selamanya bergantung kepada industri-industri dan institusi riset asing skala raksasa tersebut.
Persoalan ketidakberfungsian saisn dan teknologi memasuki wilayah persoalan struktural berupa ketergantungan dan ketidakberdaulatan sains dan teknologi nasional yang kronis (lama-dan-jangka-panjang). Cita-cita pembukaan UUD 1945 sebagaimana tertera di awal paper ini, sampai titik ini ternyata (masih) sulit diwujudkan. NKRI masih terjebak pada ketergantungan sains dan teknologinya pada negara-negara Barat. Secara ekonomi, ketergantungan ini akan terus dipelihara dan dilestarikan, karena Indonesia (petani) adalah pasar penting bagi perkembangan sains dan teknologi Barat yang menggiurkan.
4.
Penutup
Menilai ketidakberfungsian sains dan teknologi di Indonesia, secara sosiologis, penjelasannya tidaklah sesederhana penjelasan para ahli ekonomi pembangunan. Para ahli ekonomi, pembangunan biasanya menganggap bahwa, sains dan teknologi di Indonesia tidak berkembang karena: (1) faktor anggaran yang kurang memadai untuk riset; (2) tenaga ahli yang tidak memadai; (3) jumlah dan kualitas perguruan tinggi penghasil SDM unggul yang tidak memadai; (4) persebaran pusat-pusat pengembangan sains dan teknologi yang tidak merata;
Menilai ketidakberfungsian sains dan teknologi di Indonesia persoalannya memasuki wilayah
relasi-kekuasaan dan pembelaan (affirmative action) terhadap pilihan teknologi yang
cenderung polytechnics-populis atau monotechnics-kapitalis. Pilihan terhadap jenis sains dan teknologi apa yang akan dikembangkan, selalu melibatkan posisi epistemologis dan posisi aksiologis yang tidak mudah. Sebagai bangsa Indonesia yang kini terseret dalam pergaulan neoliberalisme ekonomi yang sangat ketat sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Friedman, maka tidak ada waktu lagi kecuali negeri ini untuk segera memperbaiki langkah dan orientasi pengembangan sains dan teknologinya. Indonesia harus menguatkan sains dan teknologi yang lebih pro-kedaulatan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) tercinta dan mewujudkan cita-cita terbentuknya Indonesia Raya dengan kemerdekaan serta kedaulatan sains dan technologi yang nyata dan memihak rakyat kecil, bangsa dan tanah air nusantara.
Daftar Rujukan
Foucault, M. 1977. Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writing 1972-1977 edited by Colling Gordon. Random House.
Friedman, M. 1982. Capitalism and Freedom, Fortieth Anniversary Edition. The University of Chicago Press. Chicago.
Heidegger, M. 1977. The Question Concerning Technology, and Other Essays. Harper & Row. New York.
Popper, K. 1992. The Logic of Scientific Discovery (Logik der Forschung). Routledge. London and New York.
Laird, F. 1993. Participatory Analysis, Democracy, and Technological Decision Making, Science, Technology & Human Values, Vol. 18, pp. 341-361.