• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

1.1. Pemasaran

1.1.1. Pengertian Pasar

Menurut Kotler & Amstrong (2008, p7), pasar adalah seperangkat aktual dan potensial pembeli dari sebuah produk.

1.1.2. Pengertian Pemasaran

Menurut Kotler & Amstrong (2008, p5), pemasaran adalah sebuah proses perusahaan menciptakan nilai untuk konsumennya dan membangun hubungan kuat dengan konsumen dengan tujuan untuk menciptakan nilai keuntungan dari konsumen.

Menurut Kurtz (2008, p7), pemasaran adalah fungsi organisasi dan sebuah proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan mengirimkan nilai untuk konsumen dan mengatur hubungan dengan konsumen sebagai cara menguntungkan perusahaan dan juga pihak berkepentingan.

1.1.3. Pengertian Strategi Pemasaran

Sedangkan menurut Kurtz (2008, p42), strategi pemasaran adalah sebuah keseluruhan, program perusahaan untuk menentukan target pasar dan memuaskan konsumen dengan membangun kombinasi elemen dari bauran pemasaran; produk, distribusi, promosi, dan harga.

(2)

Menurut Kotler & Amstrong (2008, p45), strategi pemasaran adalah logika pemasaran dimana unit bisnis berharap untuk menciptakan nilai dan mendapatkan keuntungan dari hubungannya dengan konsumen.

Menurut Kotler (2008, p46), dalam upaya untuk mendapatkan kepuasan konsumen di tengah persaingan, perusahaan harus mengerti terlebih dahulu apa kebutuhan dan keinginan konsumennya. Sebuah perusahaan menyadari bahwa perusahaan tidak dapat memenuhi keinginan konsumen yang sangat berbeda-beda. Perusahaan menyiapkan strategi pemasaran dengan memilih segmen konsumen terbaik yang dapat menciptakan keuntungan yang sebesarnya. Proses ini meliputi market segmentation, market targeting, positioning, dan differentiation.

1. Market Segmentation

Menurut Kotler & Amstrong (2008, p46), segmentasi pasar adalah membagi sebuah pasar menjadi grup-grup pembeli dengan keinginan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda-beda. Pembagian pasar menurut Kotler:

a. Geografik

Segmentasi geografik adalah membagi keseluruhan pasar menjadi kelompok homogeneous berdasarkan lokasi. Lokasi geografis tidak menjamin bahwa semua konsumen di lokasi tersebut mempunyai keputusan pembelian yang sama, namun pendekatan ini dapat membantu mengidentifikasi secara umum akan kebutuhan konsumen di suatu lokasi.

b. Demografis

Segmentasi dari demografis dibagi menjadi :

1) Usia : Kebutuhan dan keinginan konsumen berubah seiring usia.

(3)

3) Pendapatan : Membagi pasar sesuai kelompok pendapatan yang berbeda-beda.

c. Psychographic

Membagi pasar berdasarkan kelas sosial, gaya hidup, dan karakteristik pribadi.

d. Tingkah Laku

Membagi pasar berdasarkan pengetahuan konsumen, sikap, dan respon terhadap sebuah produk.

2. Market Targeting

Setiap perusahaan dapat masuk ke dalam satu atau beberapa segmen pasar. Setelah perusahaan mendefinisikan segmen pasarnya, market targeting mengevaluasi ketertarikan dari masing-masing segmen dan memilih segmen pasar.

Menurut Craven, Market targeting (2003, p198-199), sebuah proses ketertarikan setiap segmen pasar dan memilih satu atau lebih segmen untuk dimasuki. Pada umumnya market targeting dapat dibedakan menjadi beberapa level :

a. Undifferentiated Marketing (mass)

Sebuah strategi pasar dimana sebuah perusahaan memutuskan untuk mengabaikan perbedaan segmen dan masuk ke dalam sebuah pasar dengan hanya satu penawaran 1) Differentiated Marketing (Segmented)

Sebuah strategi pasar dimana perusahaan memutuskan untuk menargetkan beberapa segmen pasar dan merancang beberapa penawaran untuk setiap pasarnya.

2) Concentrated Marketing (Niche)

Sebuah strategi pasar dimana sebuah perusahaan masuk ke dalam sebuah pasar yang memiliki segmen sedikit dan sempit.

(4)

3) Micromarketing

Sebuah penyesuaian produk terhadap kebutuhan dan keinginan konsumen dan konsumen lokal termasuk marketing lokal dan marketing individual.

3. Positioning

Positioning adalah memposisikan suatu produk dengan jelas, tepat, dan berbeda untuk bersaing di pikiran target konsumen

4. Differentiation

Membuat suatu perbedaan kepada target konsumen dengan menciptakan nilai yang berbeda di pikiran konsumen.

1.1.4. Bauran Pemasaran

Setelah memutuskan target pasarnya, perusahaan memutuskan rencana detail untuk bauran pemasaran. Menurut Kotler (2008, p48), bauran pemasaran adalah seperangkat taktik pemasaran yang dapat dikontrol meliputi produk, harga, tempat, dan promosi yang dipadukan perusahaan untuk menciptakan respon dari target marketnya. Bauran pemasaran juga dikenal dengan 4P. Menurut Kotler & Amstrong, 4P didefinisikan:

1. Produk (Product)

Produk adalah kombinasi benda atau jasa dari perusahaan yang ditawarkan ke target pasar untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan. Produk secara luas meliputi desain, merek, hak paten, positioning, dan pengembangan produk baru

2. Harga (Price)

Harga adalah sejumlah uang yang harus dikeluarkan konsumen untuk

mendapatkan suatu produk atau jasa. Harga juga merupakan pesan yang menunjukkan bagaimana suatu brand memposisikan dirinya di pasar.

(5)

3. Distribusi (Place)

Distribusi meliputi aktivitas perusahaan dalam membuat produknya tersedia di target pasar. Strategi pemilihan tempat meliputi transportasi, pergudangan, pengaturan persediaan, dan cara pemesanan bagi konsumen.

4. Promosi (Promotion)

Promosi adalah aktivitas perusahaan untuk mengkomunikasikan produk dan jasanya dan mempengaruhi target konsumen untuk membeli. Kegiatan promosi antara lain, iklan, personal selling, promosi penjualan, dan public relation.

1.2. SWOT

Analisa SWOT menurut Kotler & Amstrong (2008, p50) analisa SWOT adalah evaluasi secara keseluruhan terhadap kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman yang dimiliki oleh perusahaan. Perusahaan harus menganalisa kekuatan perusahaan dan mengidentifikasi kelemahan perusahaan. Selain itu, perusahaan juga menganalisa pasar dan lingkungan pemasaran untuk mencari kesempatan yang atraktif dan mengidentifikasi ancaman. Tujuannya adalah untuk mencocokan kekuatan perusahaan dengan kesempatan yang ada dalam lingkungan disamping mengurangi kelemahan dan meminimalisasi ancaman yang datang.

Analisa SWOT menurut Thompson (2008, p102), adalah analisa dengan menilai kondisi intern perusahaan seperti daya kekuatan (strength) dan kelemahan maupun kondisi eksternal yang berupa kesempatan dan ancaman, yang diharapkan dapat member informasi kepada perusahaan situasi yang dihadapi perusahaan dan sebagai tindak lanjut perusahaan dalam menentukan strateginya. Konsep analisa SWOT dapat membantu mengklarifikasi situasi yang akan terjadi, isu-isu penting.

(6)

Strength adalah daya kekuatan atau kemampuan perusahaan yang tidak dimiliki oleh pesaing. Kekuatan dapat digunakan sebagai dasar perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetisi. Contoh strength antara lain :

1. Hak paten

2. Aset fisik yang berharga 3. Keahlian sumber daya manusia 4. Brand name yang kuat

5. Memiliki akses eksklusif sumber daya alam

Weakness adalah suatu hal yang menjadi kelemahan atau kekurangan. Contoh weakness antara lain :

1. Reputasi buruk

2. Kurang akses sumber daya alam 3. Tidak memiliki aset yang memadai.

Kesempatan (Opportunities) adalah faktor eksternal dimana kondisi-kondisi tersebut dapat membuka kesempatan baru yang dapat menciptakan keuntungan bagi perusahaan. Contoh opportunities adalah:

1. Masuknya teknologi baru 2. Terbukanya target pasar baru

3. Kebutuhan konsumen yang tidak terpenuhi.

Ancaman (Threats) adalah kondisi lingkungan eksternal dimana kondisi tersebut

menjadi sesuatu yang dapat mengganggu kesejahteraan perusahaan. Contoh ancaman antara lain:

1. Masuknya perusahaan pesaing baru 2. Regulasi baru

(7)

3. Barang pengganti

1.3. Matriks SWOT

Dengan memetakan 4 variabel yaitu, kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan ancaman, dapat menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategi :

1. Strategi SO

Strategi SO (Strength –Opportunity) dibuat dengan dasar memanfaatkan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mendapatkan keuntungan atas kesempatan-kesempatan yang tersedia di kondisi eksternal.

2. Strategi ST

Strategi (Strength-Threats) dibuat dengan dasar bahwa perusahaan dapat menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk menahan atau mengatasi ancaman yang dapat mengganggu jalannya perusahaan

3. Strategi WO

Strategi WO (Weakness-Opportunity) dibuat berdasarkan adanya

kesempatan-kesempatan yang ada untuk digunakan dalam rangka mengatasi kelemahan yang ada. 4. Strategi WT

Strategi WT (Weakness-Threats) adalah strategi dimana perusahaan dihadapkan pada ancaman dari luar dan juga kelemahan di dalam perusahaan. Strategi yang dibuat bersifat defensive dengan meminimalkan kelemahan yang ada, serta menghindari ancaman.

1.4. Brand

(8)

Brand menurut Kurtz (2008, p378), brand adalah nama, istilah, tanda, simbol, desain, atau sejumlah kombinasi yang mengidentifikasikan sebuah perusahaan yang membedakannya dari competitor.

Brand atau merek menurut Soehadi (2005, p2) adalah kombinasi dari atribut-atribut, dikomunikasikan melalui nama atau simbol, yang dapat mempengaruhi proses pemilihan suatu produk / layanan di benak konsumen. Brand juga terkait dengan pengalaman ketika

berhubungan dengan atau menggunakan produk / layanan. Brand akan bernilai jika

konsumen mempunyai pengalaman yang positif terhadapnya

Menurut Kotler dan Keller (2006, p256) brand adalah nama, istilah, tanda, simbol, desain, atau kombinasi yang dapat dijadikan sebagai identitas produk atau jasa yang membedakan satu atau kumpulan penjual dari kompetitornya. Brand menurut Kotler (2003, p 418-419) dapat dibedakan menjadi enam tingkatan pengertian, yaitu :

1. Atribut

Brand akan mengingatkan orang pada atribut-atribut tertentu

2. Manfaat

Suatu merek lebih dari serangkaian atribut. Pelanggan tidak membeli atribut tetapi membeli manfaat dan atribut harus diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan emosional.

3. Nilai

Brand mencerminkan sesuatu mengenai nilai-nilai pembeli. Produsen harus mengenali secara spesifik kelompok pembeli dengan nilainya sesuai dengan manfaat yang diberikan oleh brand tersebut. Kelompok pembeli merupakan target market dari brand tersebut.

4. Budaya

(9)

5. Kepribadian

Brand akan menarik bagi orang yang memiliki kesesuaian antara gambaran dirinya dengan brand image.

6. Pemakai

Brand juga menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut

Bucholz dan Wordermann (2001, p10) mengatakan bahwa brand yang menang dalam

pasar adalah brand yang selalu melekat dalam pikiran konsumen dan akan membuat

konsumen tersebut termotivasi untuk memilikinya yang kemudian lebih dikenal dengan teori Buchhloz-Wordermann (BW Method). Metode BW terbagi atas lima hukum universal yang dapat diterapkan dalam semua lini produk dan pelayanan yang ada yaitu:

1. Keunggulan dan Janji (Benefit & Promises)

Konsumen lebih memilih brand dari produk yang dapat menawarkan nilai lebih atau keunggulan dibanding dengan produk lain. Aturan-aturan untuk pengembangan metode ini adalah

a. Mengarahkan kepada kepentingan hidup konsumen

b. Menghilangkan ancaman pada konsumen

c. Memberikan semangat kepada konsumen

d. Mencari nilai lebih yang terdapat dari brand

e. Membuat brand sebagai pemicu dalam pemikiran konsumen 2. Norma & Nilai (Norm & Values)

Konsumen lebih memilih brand yang dapat memecahkan, mencegah masalah dan

gejolak antara norma-norma dan nilai-nilai yang dipercaya. Aturan-aturan untuk pengembangan metode ini adalah

(10)

b. Memberikan rasa bangga kepada konsumen c. Memaparkan ketidak-konsistenan

d. Menghilangkan rasa tabu

3. Persepi dan Program (Perception & Program)

Konsumen lebih memilih sebuah brand karena persepsi dan kebiasaan yang diarahkan pada brand tersebut sebagai suatu pilihan yang logis. Persepsi yang baik akan tercipta bila konsumen mempunyai pilihan yang bagus terhadap merek tersebut. Aturan-aturan untuk pengembangan metode ini antara lain:

a. Membuat batasan wilayah

b. Masuk ke pasar lain

c. Memposisikan merek

d. Membalikan kekurangan

e. Menciptakan kembali suatu kebiasaan

4. Indentitas dan Ekspresi Diri (Identity & Self Expression)

Konsumen lebih memilih brand yang dapat mengekspresikan karakter dan identitas yang ingin mereka miliki. Aturan-aturan pengembangan metode ini adalah:

a. Menunjukan karakter

b. Mendukung suatu ideologi c. Menciptakan rasa kekeluargaan

d. Menciptakan rasa kepahlawanan

e. Ekspresi pesan pribadi

5. Cinta dan Emosi (Love & Emotion)

Konsumen lebih memilih suatu produk atau layanan tertentu karena mereka mencintai brandnya. Loyalitas merupakan loncatan dari rasa suka ke rasa cinta, bila konsumen hanya menyukai brand Anda, maka bukan tidak mungkin mereka akan pindah begitu

(11)

brand lain memberikan potongan harga. Aturan-aturan pengembangan metode ini adalah:

a. Menjadi teman

b. Percabangan ke dalam emosi

c. Membina rasa rindu

d. Membangkitkan rasa empati

1.4.2. Peranan dan Kegunaan Brand

Menurut Durioanto, Sugiarto, dan Sitinjak (2001), brand sangat penting karena memiliki faktor-faktor berikut:

1. Brand mampu membuat janji emosi menjadi konsisten dan stabil. Hal ini berkaitan dengan turun naiknya emosi konsumen.

2. Brand mampu menembus setiap pagar budaya dan pasar. Hal ini dapat dilihat bahwa suatu merek yang kuat dapat diterima di seluruh dunia dan budaya.

3. Brand mampu menciptakan komunikasi interaksi dengan konsumen. Semakin kuat suatu brand, semakin kuat pula interaksinya dengan konsumen.

4. Brand sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku konsumen. Brand yang kuat di pikiran konsumen sanggup mengubah suatu perilaku konsumen.

5. Brand memudahkan proses pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen. Konsumen dapat dengan mudah membedakan produk yang akan dibeli dengan produk lain sehubungan dengan kualitas, kepuasan, kebanggaan, ataupun atribut lain yang menempel pada brand tersebut.

(12)

1.4.3. Branding

Branding menurut Duncan (2005, p71) adalah suatu proses penciptaan brand image yang mengajak konsumen untuk menggunakan hati dan pikiran mereka, membedakan produk yang sejenis satu dengan yang lainnya.

Menurut De Chernatony dan McDonald (1998) dalam buku Pickton (2001), “a

successful brand is an indentifiable product, service, person or place, augmented in such way that buyer perceives relevant unique added values which match their needs most closely”.

Dengan kata lain, branding yang berhasil adalah dengan menciptakan sebuah brand yang dapat diidentifikasi produk, jasa atau orang yang membuat pembeli menerima nilai tambah yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Branding menurut Pickton (2001, p24), mempunyai empat strategi, yaitu : 1. Corporate umbrella branding

Strategi dengan menggunakan organisasi dan seluruh produknya dengan menggunakan satu nama brand yang sama

2. Family umbrella branding

Strategi dimana perusahaan memiliki brand tersendiri sedangkan produk-produknya memiliki brand lain.

3. Range branding

Strategi dengan mengelompokkan beberapa produk yang berkaitan dalam satu brand. 4. Individual branding

Strategi branding dimana setiap produk memiliki brand tersendiri.

1.4.4. Brand Equity

Menurut Kotler (2006, p258), brand equity adalah nilai yang diberikan pada produk dan jasa, nilai tersebut dapat mempengaruhi bagaimana cara konsumen berpikir, merasakan,

(13)

dan merespek merek, sama baiknya dengan harga dan keuntungan yang diberikan merek terhadap perusahaan.

Menurut Pickton (2001, p33), brandequity adalah suatu nilai brand atas nama, simbol dan reputasi atas semua target konsumen yang berinteraksi dengan suatu brand.

Menurut Aaker dalam Kotler (2006, p261) brand equity adalah seperangkat asset

yang terhubung dengan suatu nama brand dan simbol yang mampu menambah atau

mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah produk, baik itu pada perusahaan maupun para konsumen. Aset yang menjadi dasar brandequity dikelompokkan menjadi lima kategori: 1. Brand awareness (kesadaran merek)

2. Perceived Quality (persepsi kualitas) 3. Brand association (asosiasi-asosiasi merek) 4. Brand loyalty ( loyalitas merek)

5. Other Proprietary Brand Assets (royalty, lisensi, paten, dan lain-lain).

David Aaker dalam Kotler (2006, p261), membagi perilaku konsumen terhadap sebuah brand menjadi lima dari yang terendah hingga yang tertinggi:

1. Konsumen akan mengganti brand, terutama untuk alasan harga 2. Konsumen akan puas, tidak ada alasan untuk mengganti brand

3. Konsumen akan puas dan akan bersedia mengeluarkan biaya untuk mengganti brand. 4. Konsumen menilai brand dan menganggapnya sebagai hal penting

5. Konsumen akan bersedia melakukan apapun untuk sebuah brand

1.4.5. Konsep Brand Awareness

Menurut Keller (2003), brandawareness adalah kekuatan dari suatu brand di dalam memori, seberapa mudah bagi konsumen untuk mengingat suatu brand.

(14)

Brandawareness menurut Susanto & Wijanarko (2004), adalah kesanggupan seorang

calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu brand merupakan

bagian dari kategori brand tersebut.

Brand Awareness menurut Kotler (2006, p268) adalah kemampuan pembeli potensial

untuk mengenal dan mengingat bahwa semua brand adalah sebuah bagian dari sebuah

kategori produk tertentu.

1.4.6. Empat Tingkatan Brand Awareness

Menurut Kotler (2006, p268), kesadaran brand dapat dikelompokkan menjadi 4

tingkatan. Keempat tingkatan yaitu : 1. Puncak Pikiran (Top Of Mind)

Puncak pikiran merupakan tingkatan dimana suatu brand menjadi yang pertama disebut atau diingat oleh responden ketika dirinya ditanya tentang suatu kategori produk.

2. Pengingat Kembali Brand (Brand Recall)

Pengingat kembali adalah tingkatan dimana brand disebutkan oleh responden setelah menyebutkan brand yang pertama kali disebut sebagai pertanyaan pertama tentang suatu kategori produk.

3. Pengenalan Brand (Brand Recognition)

Pengenalan Brand adalah tingkatan dimana tingkat kesadaran responden akan suatu

brand diukur dengan memberikan bantuan. Pertanyaan untuk Pengenalan Brand memberikan bantuan dengan menyebutkan cirri-ciri dari produk brand tersebut.

4. Tidak Menyadari Brand (Brand Unaware)

Tidak Menyadari Brand adalah tingkatan dimana responden tidak mengenal sama sekali atau tidak tahu mengenai suatu produk.

(15)

1.4.7. Nilai Terbentuk dari Kesadaran Brand (Brand Awareness)

Kesadaran brand dapat sedikitnya menciptakan 4 nilai, nilai tersebut dibentuk dengan empat cara, yaitu :

1. Anchor to which other association can be attached

Suatu brand dengan suatu tingkat kesadaran dapat mempengaruhi asosiasi-asosiasi lain yang berhubungan dengan brand tersebut. Dengan demikian, brand dengan tingkat kesadaran yang tinggi di pikiran konsumen akan membantu asosiasi lainnya di pikiran konsumen atas brand tersebut.

2. Familiarity – Liking

Suatu tingkat kesadaran yang tinggi dengan ditandai dengan akrabnya suatu brand di pikiran konsumen, lama-kelamaan akan menimbulkan rasa suka terhadap brand tersebut. 3. Substance/Commitment

Kesadaran akan suatu brand dapat menandakan komitmen, keberadaan yang merupakan hal penting bagi suatu perusahaan. Suatu brand dapat dikenal dengan berbagai alasan seperti iklan secara luas, brand dikelola dengan baik, eksistensi yang sudah teruji dalam industry, dan lain-lain.

4. Brand to Consider

Langkah awal dalam suatu proses pembelian adalah dengan menyeleksi suatu kelompok brand yang dikenal untuk dipertimbangkan lagi lebih dalam brand mana yang akan dibeli. Brand dengan tingkatan kesadaran Top of Mind akan mempunyai pertimbangan yang tinggi di pikiran konsumen. Jika suatu brand tidak tersimpan di dalam ingatan konsumen, brand tersebut tidak akan menjadi pertimbangan pembelian oleh konsumen.

Melihat bahwa kesadaran akan brand menjadi hal yang penting bagi produsen,

beberapa langkah yang dapat ditempuh, yaitu: 1. Menjadi berbeda dan dikenang

(16)

Menciptakan suatu pesan atau menjadi istimewa dapat menjadi alasan bagi konsumen potensial untuk memperhatikan dan mengenang sehingga meningkatkan kesadaran konsumen akan suatu brand.

2. Melibatkan slogan atau jingle

Sebuah slogan atau jingle yang mudah dan baik untuk didengar dan diingat dapat menjadi alat yang jitu dalam menciptakan suatu kesadaran brand.

3. Penampakan simbol

Sebuah simbol mengandung pencitraan visual yang jauh lebih mudah untuk diingat jika dibanding sebuah kata.

4. Publisitas

Menggunakan promosi iklan adalah cara yang sangat cocok untuk meningkatkan potensial konsumen akan kesadaran brand. Iklan memungkinkan pemasar menggunakan kombinasi simbol, slogan, dan membuat yang berbeda sehingga memudahkan dalam mengirim pesan kepada konsumen.

5. Sponsor kegiatan

Menjadi suatu sponsor dalam suatu kegiatan dapat ditempuh untuk meningkatkan kesadaran brand, terutama kepada pihak yang berkaitan dengan kegiatan tersebut.

6. Menggunakan tanda-tanda

Suatu kegiatan untuk menstimulasi kesadaran brand dapat dibantu dengan menggunakan tanda-tanda dari kelas produk tertentu atau keduanya. Packaging atau kemasan produk bisa menjadi tanda penting bagi suatu brand sekaligus menjadi stimulus aktual terhadap pembeli.

(17)

1.5. Integrated Marketing Communication (IMC)

1.5.1. Pengertian Integrated Marketing Communication

Integrated Marketing Communication menurut Duncan (2005,p7) adalah sebuah kumpulan berbagai pesan yang telah dirancang untuk membangun suatu brand. Kumpulan berbagai pesan diantaranya adalah iklan, pemasaran langsung, internet marketing, promosi penjualan, publisitas dan penjualan secara individu.

Sedangkan menurut Kotler (2008, p373), IMC adalah sebuah konsep dimana perusahaan dengan hati-hati mengintegrasikan dan mengkoordinasikan saluran-saluran komunikasi dengan tujuan untuk menyampaikan dengan jelas, konsisten pesan mengenai perusahaan dan produk-produknya.

IMC manajemen menurut Belch (2009, p26) adalah meliputi proses penggabungan perencanaan, pengeksekusian, mengevaluasi, dan mengontol kegunaan dari variasi campuran alat promosi untuk mengkomunikasikan secara efektif kepada target audisi.

Model perencanaan dari Integrated Marketing Communication menurut Tom Duncan (2005,p22) adalah

Gambar II.1. Integrated Marketing Communication

1.5.2. Bauran promosi

Brand Messages

Advertising, sales promotion, direct response, packaging, sponshorship

One and Two Way Media

Radio, Newspaper, TV, Events, Sponshorship, phone,

mail

Customers Brand Experience

Weak Brand Relationships

Lose Customers, sales and brand equity

Strong Brand Relationships

Increased Sales, customers, brand equity

Evaluating And Planning

(18)

Promosi menurut Belch (2009,p18), promosi didefinisikan sebagai suatu koordinasi dari penjual dalam upaya menyampaikan informasi dan persuasi untuk menjual produk dan jasa atau mempromosikan sebuah ide. Alat dasar untuk menyampaikan tujuan komunikasi disebut sebagai bauran promosi. Menurut Belch, bauran promosi memiliki enam cara, yaitu : 1. Iklan

Iklan diartikan sebagai segala bentuk yang dikeluarkan sebagai komunikasi melalui media yang dapat mengantarkan pesan untuk kelompok besar maupun individu untuk mengenai organisasi, produk, jasa, atau ide yang mengidentifikasi sponsor. Iklan dapat

digunakan untuk membangun suatu brand dan sebagai kemampuan perusahaan untuk

menjual produk.

2. Pemasaran langsung

Pemasaran langsung diartikan sebagai cara organisasi mengkomunikasikan secara langsung atas produk, jasa, atau ide kepada target pasar untuk menciptakan respon atau transaksi. Beberapa kegiatan pemasaran langsung adalah penjualan langsung, telemarketing dan surat elektronik.

3. Pemasaran internet

Pemasaran internet berbeda karena internet mempunyai fasilitas dimana pembeli dapat menerima informasi lebih seperti foto, buat surat kebutuhan, merespon pertanyaan, dan melakukan pembelian.

(19)

4. Promosi penjualan

Promosi penjualan didefinisikan sebagai kegiatan pemasaran yang menciptakan nilai tambah atau insentif kepada pelaku penjualan, distributor dan dapat menstimulisasi untuk penjualan dalam jangka pendek.

5. Publisitas

Publisitas diartikan sebagai alat komunikasi bagi organisasi, produk atau jasa dimana bukan dilakukan secara langsung oleh organisasi, melainkan organisasi mencoba melalui media untuk memaparkan cerita akan produk, jasa, akibat, atau acara yang menyebabkan kesadaran. Contoh publisitas adalah press conference, artikel, foto, film.

6. Penjualan individu

Suatu bentuk komunikasi perusahaan dengan bentuk individu ke individu dimana penjual secara langsung membantu atau mempengaruhi pembeli prospektif untuk membeli produk atau jasa yang ditawarkan. Penting bagi penjual untuk membangun hubungan yang baik dengan pembeli agar mempermudah dalam pengambilan keputusan pembeli.

 

Gambar

Gambar II.1. Integrated Marketing Communication

Referensi

Dokumen terkait

Attribute yang akan diuji harus diidentifikasi secara jelas sesuai dengan tujuan khusus yang hendak dicapai dalam kebijakan dan prosedur pengendalian serta sisitem

Dengan kata lain, pengaruh dari pembaruan lokal ini adalah untuk membuat tingkat ketertarikan ruas – ruas yang ada berubah secara dinamis: setiap kali seekor

Fungsi ini bertanggung jawab untuk menerima surat order dari pembeli, mengedit order dari pelanggan untuk menambah informasi yang belum tersedia, meminta otorisasi kredit,

Keaslian diartikan sebagai kemampuan untuk membuat gagasan yang lain dari yang lain, originalitas dalam berpikir dapat berhasil jika siswa tidak ragu–ragu dan

Kim dan Mauborgne (2005) menerangkan Blue Ocean Strategy adalah suatu metode tentang bagaimana membuat ruang pasar yang belum terjelajahi yang mampu menciptakan

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kinerja manajerial kepala sekolah adalah kepala sekolah yang memiliki dan menciptakan tujuan bersama dari sekolah, menciptakan

Menurut Aaker, ada tiga cara kepribadian sebuah merek (brand personality) dapat menciptakan sebuah merek kuat, antara lain menciptakan manfaat self-expressive sebagai alat

persepsinya sendiri mengenai image suatu brand tersebut akan menciptakan minat untuk membeli. Keputusan Pembelian, tahap ketika konsumen benar-benar membeli produk