TINJAUAN PUSTAKA Limbah Taoge Kacang Hijau

11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Limbah Taoge Kacang Hijau

Taoge adalah hasil perkecambahan dari kacang-kacangan seperti kacang hijau dan kedelai. Limbah adalah sisa dari suatu produk yang sudah tidak dimanfaatkan lagi oleh manusia. Limbah taoge kacang hijau terdiri dari kulit taoge kacang hijau (berwarna hijau) dan pecahan-pecahan taoge kacang hijau (berwarna putih) yang dipisahkan oleh pengrajin taoge untuk mendapatkan taoge konsumsi yang akan dijual. Proses pemisahan taoge konsumsi dengan kulit taoge ini ada dua cara yaitu dengan cara pencucian dan pengayakan. Proses pencucian biasanya akan menyebabkan kulit taoge mengapung. Limbah taoge ini dapat kita jumpai disekitar pabrik taoge dan biasanya limbah taoge yang didapat memiliki kadar air yang relatif lebih tinggi. Cara kedua adalah dengan pengayakan, dan biasanya proses ini dilakukan di pasar. Pedagang akan melakukan pengayan untuk memisahkan taoge dengan kulitnya. Kulit taoge dan beberapa pecahan akar taoge akan dibuang pedagang karena tidak dijual sehingga menjadi sampah pasar. Limbah taoge yang dihasilkan pada proses ini cendrung memiliki kandungan air yang lebih rendah. Limbah taoge kacang hijau yang digunakan pada penelitian ini adalah yang diperoleh di pasar.

Penanganan yang tepat perlu dilakukan pada limbah taoge ini. Apabila tidak ditangani dengan baik maka akan menjadi sampah pasar dan berpotensi mencemari lingkungan. Limbah taoge kacang hijau memiliki potensi yang bagus untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak mengingat produksi taoge kacang hijau sebagai sayuran yang tidak mengenal musim. Selama masyarakat masih mengkonsumsi taoge maka sepanjang itulah limbah taoge akan dihasilkan. Limbah taoge kacang hijau merupakan salah satu limbah organik pasar yang sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pengeringan dengan menggunakan sinar matahari hanya membutuhkan waktu rata-rata 2 hari, dengan kadar air 65-70% (Saenab 2010).

Retnani et al. (2010) menyatakan bahwa domba ekor gemuk jantan yang diberi wafer yang mengandung 50% rumput lapang dan 50% limbah sayuran pasar dapat meningkatkan konsumsi bahan kering sebesar 19 % dan pertambahan bobot badan harian sebesar 24 % (137,30 ± 6,92 gr/ekor/hari) dibandingkan

(2)

perlakuan yang tidak mengkonsumsi wafer limbah sayuran pasar. Hasil survey Rahayu et al. (2010) di Kotamadya Bogor menunjukkan bahwa potensi limbah taoge dari segi kuantitatif adalah sebesar 1,5 ton/hari. Hal ini mengindikasikan bahwa limbah sayuran pasar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak.

Gambar 1 Limbah Taoge Kacang Hijau dari salah seorang pengrajin taoge di Pasar Raya Bogor

Bentuk-bentuk Pakan

Limbah taoge kacang hijau dalam bentuk segar memiliki beberapa kendala untuk dimanfaatkan pada ternak. Kondisi segar yang memiliki kandungan air cukup tinggi membuat limbah taoge kacang hijau ini tidak dapat disimpan lama sehingga perlu dilakukan pengolahan agar dapat dimanfaatkan untuk ternak. Pengolahan menjadi berbagai macam bentuk pakan yang tepat perlu dilakukan untuk menjaga kandungan nutrisi dan dapat dimanfaatkan oleh ternak secara sempurna. Tujuan lainnya adalah agar ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijua dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat diberikan pada ternak pada musim paceklik rumput. Beberapa pengolahan bentuk ransum antara lain menjadi bentuk mash (tepung), pelet dan wafer.

Mash

Ransum komplit berbentuk mash yaitu ransum yang telah mengalami proses penggilingan sehingga menjadi ukuran partikel yang kecil (tepung). Ransum berbentuk mash harganya relatif lebih murah dibandingkan pakan bentuk olahan lainnya karena tidak ada penambahan biaya untuk proses produksi lebih lanjut, misalnya pencetakan pakan mash menjadi bentuk pelet atau wafer. Kelemahan pakan berbentuk mash adalah mudah tercecer dan berdebu.

(3)

Pelet

Pelet adalah bentuk bahan makanan atau makanan yang dibentuk dengan menekan dan memadatkannya melalui lubang cetakan secara mekanis (Hartadi et al. 1997). Beberapa tahapan dalam pembuatan pelet diuraikan seperti berikut ini. a. Pengolahan Pendahuluan

Ditujukan untuk pemecahan dan pemisahan bahan-bahan pencemar atau kotoran dari bahan yang akan digunakan. Bahan pakan digiling hingga menjadi bentuk tepung dan kemudian dilakukan pencampuran bahan pakan kedalam formulasi ransum yang diinginkan juga dilakukan pada tahap ini.

b. Pencetakan.

Setelah semua bahan baku tercampur secara homogen, langkah selanjutnya adalah mencetak campuran tadi menjadi bentuk pelet. Banyak jenis mesin yang dapat digunakan, mulai mesin sederhana hingga mesin yang biasa digunakan pada industri pakan. Mesin pencetakan sederhana bisa merupakan hasil modifikasi gillingan daging yang diberi penggerak berupa motor listrik atau motor bakar. Sistem kerja mesin cetak sederhana adalah dengan mendorong bahan pakan campuran didalam sebuah tabung besi atau baja dengan menggunakan ulir (screw) menuju cetakan (die) berupa pelat berbentuk lingkaran dengan lubang-lubang berdiameter 2-3 mm, sehingga pakan akan keluar dari cetakan tersebut dalam bentuk pelet. Kelemahan sistem ini adalah diperlukan tambahan air sebanyak 10-20% kedalam campuran pakan, sehingga diperlukan pengeringan setelah pencetakan tersebut. Penambahan air dimaksudkan untuk membuat campuran atau adonan pakan menjadi lunak, sehingga bisa keluar melalui cetakan. Jika dipaksakan tanpa menambahkan air ke dalam campuran, mesin akan macet. Disamping itu, pelet yang keluar dari mesin pencetak biasanya kurang padat.

Proses condisioning juga terjadi dalam proses pembuatan pelet, dimana campuran bahan pakan dipanaskan dengan air dengan tujuan untuk gelatinisasi. Tujuan gelatinisasi yaitu agar terjadi pencetakan antar partikel bahan penyusun sehingga penampakan pelet kompak, tekstur dan kekerasannya bagus. Gelatinisasi merupakan rangkaian proses yang dimulai dari imbibisi air, pembengkakan granula sampai granula pecah. Pecahnya granula pati disebabkan karena

(4)

pemanasan melebihi batas pengembangan granula. Penguapan dalam proses pembuatan pakan berbentuk pelet bertujuan agar pakan menjadi steril, terbebas dari kuman atau bibit penyakit serta menjadikan pati dari bahan baku yang ada sebagai perekat. Penguapan dilakukan dengan bantuan steam boiler yang uapnya diarahkan ke dalam campuran pakan. Penguapan dengan suhu terlalu tinggi dalam waktu yang lama akan merusak atau setidaknya mengurangi kandungan beberapa nutrisi dalam pakan, khususnya vitamin dan asam amino. Beberapa mesin cetak pelet berkapasitas sedang dan besar mempunyai fasilitas penguapan ini. Jadi, penguapan atau steaming tidak dilakukan pada saat pencampuran, tetapi pada saat pencetakan.

c. Pengeringan

Pengeringan pada intinya adalah mengeluarkan kandungan air di dalam pakan menjadi kurang dari 14%. Proses pengeringan perlu dilakukan apabila pencetakan dilakukan dengan mesin sederhana. Jika pencetakan dilakukan dengan mesin pelet sistem kering, cukup dikering-anginkan saja hingga uap panasnya hilang, sehingga pelet menjadi kering dan tidak mudah berubah kembali ke bentuk tepung.

Proses pengeringan bisa dilakukan dengan penjemuran dibawah terik matahari atau menggunakan mesin. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Penjemuran secara alami tentu sangat tergantung kepada cuaca, higienitas atau kebersihan pakan harus dijaga dengan baik, jangan sampai tercemar debu, kotoran dan gangguan hewan atau unggas yang dikhawatirkan akan membawa bibit penyakit. Mesin pengering yang umum digunakan sangat beragam, diantaranya oven pengering. Dalam oven pengering, pelet basah disimpan dalam baki dan oven dipanaskan dengan bantuan kompor minyak tanah, batu bara atau bahan bakar lainnya. Penyimpanan pelet dalam baki tidak boleh terlalu tebal, supaya dihasilkan pengeringan yang merata dan harus sering dibalik supaya tidak gosong. Yang perlu diperhatikan apabila menggunakan alat pengering adalah suhu pemanasan tidak boleh lebih dari 800C. Pemanasan dengan suhu yang terlalu tinggi akan merusak kandungan nutrisi pakan, serta membuat pakan menjadi terlalu keras.

(5)

Wafer

Wafer ransum komplit merupakan suatu bentuk pakan yang memiliki bentuk fisik kompak dan ringkas sehingga diharapkan dapat memudahkan dalam hal penanganan dan transportasi, disamping itu memiliki kandungan nutrisi yang lengkap dan menggunakan teknologi yang relatif sederhana sehingga mudah diterapkan dan ekonomis (Trisyulianti 2003). Prinsip pembuatan wafer mengikuti prinsip pembuatan papan partikel yang mengalami proses pemadatan dengan tekanan dan pemanasan dalam suhu tertentu selama waktu yang tertentu pula.

Proses pembuatan wafer memerlukan perekat yang mempu mengikat partikel-partikel bahan sehingga akan menghasilkan wafer yang kompak dan padat sesuai dengan densitas yang diinginkan. Sutigno (1994) menyatakan bahwa perekat adalah suatu bahan yang dapat menahan dua buah benda berdasarkan ikatan permukaan. Ikatan permukaan tersebut bisa terjadi karena (a) masuknya cairan perekat kedalam pori benda yang direkat kemudian mengeras (perekatan mekanis) dan (b) gaya tarik menarik antar perekat dengan molekul benda yang direkat (perekatan spesifik). Keberhasilan proses perekatan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu bahan yang direkat, perekat dan kondisi pengempaan.

Bahan perekat yang biasa digunakan dalam pengolahan bahan makanan ternak yang biasa digunakan antara lain adalah pati, terigu, tepung gaplek dan molasses. Alat kempa panas merupakan alat yang digunakan dalam proses pembuatan wafer. Jayusmar (2002) melaporkan bahwa metode pembuatan wafer pada suhu pengempaan 120°C, tekanan 12 kg/cm2 dan dalam waktu pengempaan 10 menit akan menghasilkan wafer dengan penampilan menarik, susunan kompak dan padat tetapi mudah hancur jika terkena air atau mudah hancur saat terkena saliva ternak.

Keuntungan wafer menurut Trisyulianti (1998) adalah : (1) kualitas nutrisi lengkap, (2) bahan baku bukan hanya dari hijauan makanan ternak seperti rumput dan legum, tetapi juga dapat memanfaatkan limbah pertanian, perkebunan, atau limbah pabrik pangan, (3) ketersediaannya berkesinambungan karena sifatnya yang awet dapat bertahan cukup lama sehingga dapat mengantisipasi ketersediaan pakan pada musim kemarau serta dapat dibuat pada saat musim hujan ketika hasil hijauan makanan ternak dan produk pertanian melimpah, dan (4) ransum berbetuk

(6)

wafer lebih menguntungkan karena dapat mempermudah dalam penanganan, pengawetan, transportasi, dapat disimpan lebih lama jika dibandingkan pakan berbentuk segar. Pembuatan wafer ransum komplit akan memberikan nilai tambah karena menggunakan teknologi yang sederhana dengan energi yang relatif sedikit. Verma et al. (1996) melaporkan bahwa Compressed Compete Feed Blocks (CCFB) mempunyai beberapa keunggulan yaitu dapat mengurangi bulk density, lebih palatabel, memudahkan dalam penanganan, penyimpanan dan distribusi. Selain itu pengolahan bahan makanan menjadi bentuk blok memungkinkan penyimpanan pakan yang akan digunakan pada musim kemarau. Kelebihan lainnya adalah teknologi pengolahannya mudah diadaptasi oleh negara-negara berkembang.

Proses pembuatan wafer (Retnani 2010) adalah dengan beberapa langkah sebagai berikut:

a. Bahan baku sumber serat dicacah dengan ukuran 2 - 5 cm, kemudian dijemur kering udara di bawah sinar matahari.

b. Bahan baku konsentrat digiling menggunakan hammer mill hingga berukuran

mash (tepung).

c. Campur bahan-bahan sesuai susunan ransum komplit.

d. Ransum komplit dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk persegi berukuran 20 x 20 x 1 cm.

e. Setelah itu dilakukan pengempaan panas pada suhu 150°C dengan tekanan 200 - 300 kg/cm2 selama 20 menit.

f. Pendinginan lembaran wafer dilakukan dengan menempatkan wafer di udara terbuka selama minimal 24 jam sampai kadar air dan bobotnya konstan, kemudian dimasukkan ke dalam karung.

Penyimpanan Pakan

Penyimpanan pakan adalah salah satu bentuk tindakan pengamanan yang selalu terkait dengan waktu. Tujuan penyimpanan adalah untuk mempertahankan dan menjaga komoditi yang disimpan dengan cara menghindari dan menghilangkan berbagai faktor yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas komoditi tersebut. Penyimpanan yang telalu lama akan menurunkan kualitas pakan tersebut.

(7)

Selama proses penyimpanan sering terjadi kerusakan-kerusakan yang dapat menurunkan kualitas pakan. Kerusakan yang terjadi diantaranya adalah kerusakan kimiawi, biologis dan fisik. Kerusakan kimiawi merupakan akibat dari reaksi-reaksi kimia, kerusakan biologis adalah akibat serangan mikroorganisme dan kerusakan fisik biasanya terkait dengan proses penanganan.

Pengamatan terhadap sifat fisik pakan bertujuan untuk mengetahui mutu bahan pakan yang ada. Keefisienan suatu proses penanganan, pengolahan dan penyimpanan dalam industri pakan tidak hanya membutuhkan informasi mengenai komposisi kimia dan nilai nutrisi bahan saja tetapi juga menyangkut sifat fisik, sehingga kerugian akibat kesalahan penanganan bahan pakan dapat dihindari. Penyimpanan pakan ditujukan untuk membantu penyediaan pakan pada musm paceklik. Beberapa sifat fisik yang diujikan pada penelitian ini adalah kadar air, aktivitas air dan serangan serangga.

Kadar Air

Kadar air merupakan jumlah air yang terkandung dalam bahan pakan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air bahan pakan merupakan pengukuran jumlah air total yang terkandung dalam bahan pakan, tanpa memperlihatkan kondisi atau derajat keterikatan air (Syarief & Halid 1993). Hal ini akan berkaitan dengan proses penyimpanan maupun penanganan bahan pakan berikutnya. Bahan pakan dengan kadar air cukup tinggi tidak dapat disimpan lama di gudang karena akan cepat mengalami perubahan fisik dan biologi. Perubahan biologi yang terjadi diantaranya disebabkan oleh aktifitas mikroorganisme yang terdapat dalam bahan pakan tersebut.

Kadar air dalam bahan pakan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pakan tersebut. Kadar air yang tinggi dapat mengakibatkan mudahnya bakteri, khamir (ragi) dan kapang (jamur) berkembang biak, sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pakan tersebut (Winarno 1997). Kadar air dalam bahan pakan sangat mempengaruhi kualitas dan daya simpan bahan tersebut. Oleh karena itu, penentuan kadar air sangat penting agar dalam proses pengolahan maupun pendistribusian mendapat penanganan yang tepat.

Kandungan air dalam bahan pangan akan berubah-ubah sesuai dengan lingkungannya, dan hal ini sangat erat hubungannya dengan daya awet bahan

(8)

pangan tersebut. Hal ini merupakan pertimbangan utama dalam pengolahan dan pengelolaan pasca olah bahan pangan (Purnomo 1995).

Aktivitas Air

Aktivitas air atau water activity (Aw) adalah jumlah air bebas yang terkandung dalam bahan pakan yang dapat digunakan oleh mikroba untuk pertumbuhannya, semakin tinggi nilai Aw suatu bahan maka akan semakin tinggi pula kemungkinan tumbuhnya jasad renik pada bahan tersebut (Syarif & Halid 1993). Istilah aktivitas air digunakan untuk menjabarkan air yang tidak terikat atau air bebas dalam suatu sistem yang dapat menunjang reaksi biologis dan kimiawi. Semakin tinggi aktivitas air suatu bahan maka semakin tinggi pula kemungkinan tumbuhnya mikroba dalam bahan tersebut.

Aktivitas air merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam menentukan kualitas dan keamanan suatu bahan pakan. Aktivitas air mempengaruhi umur simpan, tekstur, rasa dan bau pakan. Aktivitas air mungkin menjadi faktor paling penting dalam mengendalikan pembusukan. Dengan mengukur aktivitas air, akan memungkinkan kita memprediksi mikroorganisme yang akan berpotensi menyebabkan pembusukan.

Aw dinyatakan dalam angka 0,1-1 yang sebanding dengan kelembaban 0-100%. Makin kecil angka Aw maka makin sedikit pula air bebas yang tersedia dan makin sulit pula suatu jasad renik untuk tumbuh kembang. Winarno (1997) menyatakan bahwa berbagai mikroorganisme mempunyai nilai Aw minimum agar dapat tumbuh dengan baik. Purnomo (1995) melaporkan bahwa masing-masing jenis mikroorganisme membutuhkan jumlah air yang berbeda untuk pertumbuhannya. Bakteri umumnya dapat tumbuh dan berkembang biak pada nilai Aw tinggi (0,91), khamir (ragi) dapat tumbuh dan berkembang biak pada nilai Aw 0,87 – 0,91 sedangkan jamur (kapang) lebih rendah lagi yaitu pada nilai Aw 0,81-0,87.

Serangan Serangga

Serangga hama gudang merupakan salah satu penyebab kerusakan yang terbesar pada komoditas pakan yang disimpan. Serangga ini hidup dan berkembang biak di dalam gudang penyimpanan baik sebagai hama primer,

(9)

maupun hama sekunder pemakan kapang (jamur) pada berbagai jenis komoditas pakan dan bahkan ada yang hidup sebagai predator. Syarief dan Halid (1993) melaporkan bahwa serangga hama gudang yang penting tergolong kedalam 3 ordo yaitu 1) Coleoptera (kumbang) dengan cirri khas sayap depannya mengalami pengerasan seperti tanduk (disebut elytra). Serangga ini mengalami metamorphosis sempurna 2) Lepidoptera (moth=ngengat) mempunyai sayap depan dan belahan yang mempunyai cirri-ciri khas yang biasanya digunakan untuk membedakan spesies satu dengan yang lainnya. Serangga ini juga mengalami metamorphosis sempurna 3) Psocoptera (Psocid) dengan cirri khas sering tidak bersayap, antena panjang dengan ruas yang banyak, ukuran badan sangat kecil dan transparan. Seringkali salah diidentifikasikan sebagai tungau (mite) dan mengalami metamorphosis tidak sempurna. Serangga yang merupakan hama gudang ini akan menyebabkan kehilangan hasil selama produk dalam penyimpanan. Kehilangan hasil yang disebabkan oleh hama gudang dapat mencapai 10 – 15% dari isi gudang.

Evaluasi Kualitas Nutrisi Pakan pada Domba Domba

Ternak domba telah terdistribusi di berbagai pulau dan provinsi di seluruh wilayah Indonesia. Luasnya penyebaran populasi komoditas domba tersebut membuktikan bahwa berbagai wilayah di tanah air memiliki tingkat kecocokan yang baik untuk pengembangan, baik kecocokan dari segi vegetasi, topografi, klimat, dan bahkan dari sisi sosial-budaya daerah setempat.

Direktorat Jendral Peternakan (2009) menyebutkan bahwa angka pemotongan domba di Indonesia pada tahun 2009 adalah sejumlah 1.643.830 ekor atau sekitar 15,61% dari total populasi yang ada (10.471.991 ekor), namun hal tersebut tidak ditunjang dengan peningkatan populasi domba dari tahun 2008 ke 2009 yang hanya sebesar 8,28%. Apabila keadaan ini dibiarkan terus menerus maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi kelangkaan ternak domba pada beberapa tahun mendatang.

Tomaszewska et al. (1993) melaporkan bahwa terdapat tiga jenis domba yang dikenal di Indonesia: domba Jawa Ekor Kurus (JEK), domba Jawa Ekor Gemuk (JEG) dan domba Sumatera Ekor Kurus (SEK). Domba Jawa Ekor Tipis

(10)

merupakan domba yang banyak terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Domba ini termasuk golongan domba kecil, dengan berat potong sekitar 20 – 30 kg. Warna bulu putih dan biasanya memiliki bercak hitam di sekeliling matanya. Ekornya tidak menunjukkan adanya desposisi lemak. Domba jantan memiliki tanduk melingkar, sedangkan yang betina biasanya tidak bertanduk. Bulunya berupa wol yang kasar.

Konsumsi Ransum

Konsumsi adalah jumlah ransum yang dimakan oleh ternak yang akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok dan produksi. Aktivitas konsumsi meliputi proses mencari pakan, mengenal dan mendekati pakan, proses bekerjanya indra ternak terhadap pakan, proses memilih pakan dan proses menghentikan makan (Tillman et al. 1999). Tingkat konsumsi (Voluntary Feed Intake/VFI) adalah jumlah makanan yang terkonsumsi oleh ternak bila bahan makanan tersebut diberikan secara ad libitum (Parakkasi 1999). Jumlah pakan yang dikonsumsi menentukan jumlah zat-zat makanan yang tersedia bagi ternak dan selanjutnya akan mempengaruhi tingkat produktivitas ternak tersebut. Namun yang menetukan konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangatlah beragam, antara lain sifat pakan, kondisi fisiologis ternak (umur, bobot badan, jenis kelamin, dan faktor genetik) serta lingkungan tempat ternak tersebut dipelihara.

Jumlah bahan kering pakan yang dapat dikonsumsi oleh seekor ternak selama satu hari perlu diketahui. Konsumsi bahan kering tergantung dari hijauan saja yang diberikan atau dicampur konsentrat. Konsumsi bahan kering berdasarkan bobot badan ternak pada ruminansia kecil menurut Devendra dan Burns (1994) 3-5%, NRC (1985) 3%. Peterson (2005) 3,5-5% namun pada umumnya adalah 3-4% dari berat badan.

Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik

Kecernaan adalah bagian zat makanan yang tidak dieksresikan dalam feses. Menurut Anggorodi (1990) bahwa pada dasarnya tingkat kecernaan adalah suatu upaya untuk mengetahui banyaknya zat makanan yang diserap oleh saluran pencernaan. Bagian yang dapat dicerna adalah selisih antara zat-zat makanan dikonsumsi dengan yang dikeluarkan bersama feses dan bila bagian tertentu

(11)

dinyatakan sebagai persentase terhadap konsumsi maka disebut koefisien cerna (McDowell 1992). Pengukuran kecernaan adalah suatu usaha untuk menentukan jumlah zat makanan dari suatu bahan pakan yang diserap oleh saluran pencernaan. Bagian yang dicerna adalah selisih antara zat makanan yang dikandung dalam bahan pakan yang dimakan dan zat yang terkandung dalam feses (Ella 1996). Peterson (2005) menyatakan bahwa tinggi rendahnya daya cerna dipengaruhi oleh jenis ternak, umur hewan, jenis bahan pakan, dan susunan kimianya. Banyak metode-metode yang digunakan dalam mengukur kecernaan suatu bahan pakan, diantaranya adalah collected method, marker method, in sacco, in vivo dan in vitro.

Pertambahan Bobot Badan Harian

Pertambahan bobot badan adalah salah satu kriteria yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kualitas bahan pakan ternak, karena pertumbuhan yang diperoleh dari suatu percobaan merupakan salah satu indikasi pemanfaatan zat-zat makanan dari pakan yang diberikan. Dari data pertambahan bobot badan harian akan diketahui nilai suatu bahan pakan ternak (Church & Pond 1995).

Efisiensi Penggunaan Ransum

Efisiensi penggunaan ransum erat kaitannya dengan konsumsi ransum dan produksi (pertambahan bobot badan). Efisiensi penggunaan ransum adalah rasio antara pertambahan bobot badan dengan jumlah ransum yang dikonsumsi. Efisiensi penggunaan ransum mengukur efisiensi hewan dalam mengubah bahan pakan menjadi produk, dalam hal ini adalah daging domba.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :