• Tidak ada hasil yang ditemukan

13.30.0001 Theresita Maria Nuri Praviani BAB IV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "13.30.0001 Theresita Maria Nuri Praviani BAB IV"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

37 BAB IV

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Responden

Dari hasil brainstorming dengan 3 responden yang berjenis kelamin wanita dan dari penyebaran kuesioner kepada 15 responden yang berjenis kelamin wanita diperoleh gambaran umum responden sebagai berikut:

Tabel 4.1. Gambaran Umum Responden Tahap Idea Generation

No. Usia Frekuensi Jumlah

responden

Presentase

1. 21 - 30 tahun 2 3 67

2. 31 - 40 tahun 1 3 33

3. > 40 tahun 0 3 0

Sumber: Data Primer yang Diolah (2017)

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui responden yang berusia 21-30 tahun ada 2 orang dengan tingkat presentase 67% dan sisanya berusia 31-40 tahun.

Tabel 4.2. Gambaran Umum Responden Tahap Opportunity Recognition,

Development, dan Commercialization

No. Usia frekuensi Jumlah

responden

Presentase

1. 21-30 tahun 11 15 73

2. 31-40 tahun 3 15 20

3. > 40 tahun 1 15 7

Sumber: Data Primer yang Diolah (2017)

(2)

38 4.2 Hasil Analisis Data dan Pembahasan

Pada bagian ini dilakukan analisis terhadap masing-masing tahap dalam proses inovasi tas bayi.

4.2.1 Tahap Idea Generation

Pada tahap ini dilakukan penggalian ide-ide dengan cara brainstorming. Di awal proses brainstorming ini peneliti mengunjungi klinik dokter anak dr. Hapsari di jalan Kagok untuk bertemu 3 ibu yang bersedia menjadi peserta brainstorming dan ketiga ibu tersebut adalah ibu Fitri (25 tahun), ibu Sarah (32 tahun), dan ibu Lita (29 tahun). Kemudian setelah peserta brainstorming terkumpul, peneliti memberikan arahan kepada peserta brainstorming dengan menjelaskan mengenai brainstorming serta topik dalam brainstorming ini. Topik dalam brainstorming ini adalah menciptakan sebuah inovasi tas bayi dengan model alas waterproof menyatu dibagian tas. Dari topik yang sudah dipaparkan kemudian dilakukan penggalian ide mengenai desain, bahan tas dan bahan oleh peserta brainstorming dan ide yang muncul dicatat. Dalam penggalian ide-ide cukup menghabiskan banyak waktu khususnya pada saat menggali ide desain karena disini peserta braistorming benar-benar merancang desain tas yang simpel.

(3)

39 Tabel 4.3. Hasil brainstorming untuk penggalian ide desain

Nama Desain

Ibu Fitri (25 tahun)

1. Alas waterproofnya dibelakang tas dan terdapat perekat.

2. Alas waterproofnya di depan tas dan sekaligus sebagai penutup tas.

Ibu Lita (29 tahun)

1. Alas waterproofnya dibelakang tas dan diberi penutup alas.

Ibu Sarah (32 tahun)

1. Alas waterproofnya dibelakang tas dan alas dapat digunakan sebagai penutup tas.

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Gagasan-gagasan mengenai bahan tas yang dilontarkan peserta brainstorming adalah sebagai berikut:

Tabel 4.4. Hasil brainstorming untuk penggalian ide bahan tas

Nama Desain

Ibu Fitri (25 tahun)

Bahan luar tas dari polyester dan bahan dalam tas dari busa.

Ibu Lita (29 tahun)

Bahan luar tas dari nylon dan bahan dalam tas dari busa.

Ibu Sarah (32 tahun)

Bahan luar tas dari katun jepang dan bahan dalam tas dari busa.

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

(4)

40 Tabel 4.5. Hasil brainstorming untuk penggalian ide bahan alas

Nama Desain

Ibu Fitri (25 tahun)

Bahan luar alas dari parasut dan bahan dalam alasnya dari busa.

Ibu Lita (29 tahun)

Bahan luar alas dari perlak dan bahan dalam alasnya dari busa.

Ibu Sarah (32 tahun)

Bahan luar alas dari kulit sintetis dan bahan dalam alasnya dari busa.

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Gambar 4.1 Kegiatan brainstorming dengan para ibu yang memiliki bayi

(5)

41 Tabel 4.6. Pemeringkatan ide hasil brainstorming

No. Keterangan Frekuensi Jumlah partisipan

Presentase Jawaban

Peringkat

1. Desain yang diinginkan untuk inovasi tas bayi:

A. Desain inovasi tas bayi yang alas

waterproofnya dibelakang tas dan terdapat perekat.

B. Desain inovasi tas bayi yang alas

waterproofnya dibelakang tas dan terdapat penutup alas.

C. Desain inovasi tas bayi yang alas

waterproofnya dibelakang tas dan alas dapat digunakan sebagai penutup tas.

2

0

1

3

3

3

67

0

33

1

(6)

42 D. Desain inovasi

tas bayi yang alas

waterproofnya di depan tas.

0 3 0

2. Alasan anda memilih desain tersebut: a. Desain A

1) lebih simpel 2) lebih praktis b. Desain C

1) unik dan lebih bermanfaat karena alasnya dapat

digunakan sebagai penutup tas.

1 1 1

3 3 3

33,3 33,3 33,3

- - -

3. Bahan tas yang diinginkan untuk inovasi tas bayi:

3 3 3

33 67 0

2 1 a. Katun jepang

dengan busa tas. b. Polyester dengan

busa tas. c. Nylon dengan

busa tas.

(7)

43 4. Alasan anda

memilih bahan tersebut:

a. Bahan Katun 1) Karena bahan katun lebih halus, ringan, banyak motifnya. b. Bahan Polyester

1) Karena polyester cenderung tidak bercorak. 2) Lebih tebal.

1 1 1 3 3 3 33,3 33,3 33,3 - - - 5. Bahan alas yang

diinginkan untuk inovasi tas bayi:

a. Perlak dengan busa.

b. Parasut dengan busa.

c. Kulit sintetis dengan busa. 1 2 0 3 3 3 33 67 0 2 1

6. Alasan anda memilih bahan tersebut:

a. Perlak dengan busa

1) karena lebih tebal dan lebih nyaman untuk bayi.

b. Parasut dengan busa

1) karena lebih ringan, sehingga mudah dibawa. 1 2 3 3 33 67 - -

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

(8)

44 desain, ide yang memiliki 2 peringkat tertinggi adalah desain A dan desain C. Dari segi bahan tas adalah polyester dan katun jepang. Kemudian dari segi bahan alas adalah parasut dan perlak.

4.2.2 Tahap Opportunity Recognition

Pada tahap kedua ini dilakukan pengenalan peluang untuk mewujudkan inovasi tas bayi dengan model alas waterproof menyatu dibagian tas. Terdapat dua cara untuk mengenali peluang dalam penelitian ini, yaitu: melalui kuesioner (untuk melihat peluang eksternal), dan melalui wawancara tidak terstruktur (untuk melihat peluang internal). Berikut adalah hasil peluang eksternal yang diperoleh dari penyebaran kuesioner kepada 15 orang responden:

Tabel 4.7. Hasil peluang eksternal

No. Keterangan Frekuensi Jumlah

Responden

Presentase Jawaban 1. Apakah selalu

membawa tas bayi? a. a. Ya

b. Tidak

15 0

15 15

100 0 2. Perlu dilakukan inovasi

pada tas bayi? a. Ya

b. Tidak

13 2

15 15

87 13 3. Apakah pernah

mengetahui inovasi tas bayi dengan model alas waterproof menyatu dibagian tas?

a. Ya b. Tidak

0 15

15 15

(9)

45 4. Jika inovasi tas bayi

dengan model alas menyatu dibagian tas direalisasikan, desain tas bayi yang diminati: a. Desain inovasi tas

bayi yang alas waterproofnya

dibelakang tas dan terdapat perekat.

b. Desain inovasi tas bayi yang alas waterproofnya dibelakang tas dan alas dapat digunakan sebagai penutup tas.

12

3

15

15

80

20

5. Jika inovasi tas bayi dengan model alas menyatu dibagian tas direalisasikan, bahan tas yang diminati:

a. Katun jepang dengan busa tas.

b. Polyester dengan busa tas.

11 4

15 15

73 27 6. Jika inovasi tas bayi

dengan model alas menyatu dibagian tas direalisasikan, bahan alas yang diminati: a. Perlak dengan busa b. Parasut dengan busa

2 13

15 15

13 87 7. Ketertarikan responden

(10)

46 S

u m b e r : S u

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Berdasarkan tabel 4.7, seluruh responden selalu membawa tas bayi ketika bepergian bersama bayinya (100%). Sebagian besar responden menganggap perlu dilakukan inovasi pada tas bayi (87%). Alasan responden mengganggap perlu dilakukan inovasi pada tas bayi adalah supaya lebih modern, lebih praktis, memudahkan penggunanya, dan supaya lebih banyak macamnya lagi. Kemudian seluruh responden tidak pernah mengetahui inovasi tas bayi dengan model alas waterproof menyatu dibagian tas (100%).

Sebagian besar responden (80%) menganggap bahwa desain A lebih diminati.

Adapun alasan responden menganggap desain A lebih diminati, karena desain A lebih simpel.

inovasi tas bayi ini: a. Tertarik

b. Tidak tertarik

12 3

15 15

80 20 8. Harga yang sesuai untuk

sebuah produk inovasi tas bayi:

a. Rp 200.000 - Rp 250.000

b. Rp 251.000 - Rp 300.000

c. > Rp 300.000

11 4 0

15 15 15

(11)

47 Sebagian besar responden menganggap bahwa tas bayi yang berbahan katun jepang lebih diminati (73%). Alasan responden menganggap tas bayi yang berbahan katun jepang diminati, karena bahan katun banyak motifnya sehingga terlihat lebih menarik, lembut, lentur, ringan, halus.

Sebagian besar responden menganggap bahwa alas yang berbahan parasut dengan busa lebih diminati (87%). Adapun alasan responden menganggap bahan parasut dengan busa lebih diminati, karena bahan parasut dengan busa lebih ringan, mudah dibawa, mudah dilipat.

Sebagian besar responden tertarik membeli (80%), dan sebagian besar responden menginginkan jika harga produk inovasi tas bayi ini sekitar Rp 200.000 – Rp 250.000 (73%).

Kemudian hasil peluang internal dalam tahap ini adalah sebagai berikut:

Tabel 4.8. Hasil peluang internal

No. Keterangan Ketersediaan Bahan Baku dan Biaya

Bahan baku

Kemampuan Teknik

1. Desain tas

a.Desain A - Tali tas mudah didapat di toko perlengkapan menjahit di kota Semarang dan harganya cukup terjangkau yakni Rp 3.000/m. - Resleting tas

mudah didapat di toko perlengkapan

(12)

48 menjahit di kota

Semarang dan harganya cukup terjangkau yakni Rp 2.000/biji. - Aksesoris tali tas

mudah didapat di toko perlengkapan menjahit di kota Semarang dan harganya cukup terjangkau yakni Rp 4.000/pasang. - Perekat mudah

didapat di toko perlengkapan menjahit di kota Semarang dan harganya cukup terjangkau yakni Rp 5.000/m. - Duplex mudah

didapat di toko perlengkapan menjahit di kota Semarang dan harganya cukup terjangkau yakni Rp 2.000/lembar. b.Desain B - Tali tas mudah

didapat di toko perlengkapan menjahit di kota Semarang dan harganya cukup terjangkau yakni Rp 3.000/m. - Resleting tas

mudah didapat di toko perlengkapan menjahit di kota Semarang dan harganya cukup terjangkau yakni Rp 2.000/biji.

(13)

49 - Aksesoris tali tas

mudah didapat di toko perlengkapan menjahit di kota Semarang dan harganya cukup terjangkau yakni Rp 4.000/pasang. - Perekat mudah

didapat di toko perlengkapan menjahit di kota Semarang dan harganya cukup terjangkau yakni Rp 5.000/m. - Duplex mudah

didapat di toko perlengkapan menjahit di kota Semarang dan harganya cukup terjangkau yakni Rp 2.000/lembar. 2. Bahan tas

- Katun jepang dengan busa tas

- Bahan katun jepang tersedia di toko-toko kain di kota Semarang dan harganya cukup terjangkau yaitu Rp 40.000/meter.

- Secara teknis katun jepang dengan busa tas dapat diolah.

(14)

50 - Polyester

dengan busa tas.

- Bahan polyester tersedia di toko-toko kain di kota Semarang dan harganya cukup terjangkau yaitu Rp 40.000/meter.

- Secara teknis polyester dengan busa tidak dapat diolah, sebab bahan polyester tebal dan membutuhkan mesin jahit khusus. - Busa tas tersedia di

toko-toko khusus perlengkapan menjahit di kota Semarang dan harganya cukup terjangkau yaitu Rp 12.000/m. 3. Bahan alas

- Parasut dengan busa

- Kain parasut tersedia di toko-toko kain di kota Semarang dan harganya cukup

terjangkau yaitu Rp 18.500/meter.

- Secara teknis parasut dengan busa dapat diolah.

- Busa tersedia di toko-toko perlengkapan menjahit di kota Semarang dan harganya cukup terjangkau yaitu Rp 15.000/meter. - Perlak dengan busa.

- Kain perlak tersedia di toko-toko kain di kota Semarang dan harganya cukup mahal yaitu Rp 30.000/meter.

(15)

51 - Busa tersedia di

toko-toko perlengkapan menjahit di kota Semarang dan harganya cukup terjangkau yaitu Rp 15.000/meter.

mesin jahit khusus.

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Berdasarkan tabel 4.8, bahan baku yang dibutuhkan untuk desain A dan desain B tersedia di toko perlengkapan menjahit di kota Semarang dan harga barang baku cukup terjangkau. Kemudian kemampuan teknik untuk desain A dan desain B tidak ada masalah.

Bahan tas yang dibutuhkan juga tersedia di toko-toko kain di kota Semarang dan harganya cukup terjangkau. Kemudian bahan tas yang dapat diolah yakni katun jepang dengan busa saja, sebab bahan tersebut tidak tebal sehingga dapat dijahit mesin jahit biasa.

Semua bahan alas tersedia di toko-toko kain di kota Semarang dan yang harganya terjangkau yakni bahan parasut dengan busa. Kemudian bahan alas yang dapat diolah yakni parasut dengan busa, sebab bahan tersebut tidak tebal sehingga dapat dijahit mesin jahit biasa.

4.2.3 Tahap Idea Evaluation

(16)

52 menyelaraskan ide dengan kriteria-kriteria yang didapat dari tahap opportunity recognition. Berikut hasil yang diperoleh pada tahap ini:

Tabel 4.9. Penyelarasan Ide dengan Kriteria-kriteria

No. Ide Kriteria

Eksternal

Kriteria Internal

Keterangan

Desain

1. Desain A Desain yang paling diminati yakni desain A

Bahan baku yang tersedia:

- Tali tas. - Resleting tas. - Aksesoris tali

tas. - Perekat. - Duplex. Bahan baku yang harganya

terjangkau: - Tali tas. - Resleting tas. - Aksesoris tali

tas. - Perekat. - Duplex Kemampuan teknik:

- Penjahit dapat membuat tas bayi dengan menggunakan kedua desain. Ide dapat dilanjutkan, karena ide selaras dengan kriteria-kriteria yang ada baik kriteria eksternal maupun kriteria internal.

2. Desain B -Desain yang paling diminati yakni desain A

Bahan baku yang tersedia:

- Tali tas. - Resleting tas. - Aksesoris tali

tas. - Perekat. - Duplex. Bahan baku yang harganya

terjangkau: - Tali tas.

(17)

53 - Resleting tas.

- Aksesoris tali tas.

- Perekat. - Duplex. Kemampuan teknik:

- Penjahit dapat membuat tas bayi dengan menggunakan kedua desain. Bahan tas

1. Katun jepang dengan busa tas. Bahan tas yang paling diminati adalah katun jepang dengan busa tas.

Bahan baku yang tersedia:

- Katun jepang dengan busa tas.

- Polyester dengan busa tas.

Bahan baku yang harganya

terjangkau: - Katun jepang

dengan busa tas. - Polyester dengan busa tas. Kemampuan teknik:

- Penjahit hanya dapat membuat tas dari bahan katun jepang dengan busa tas. Ide dapat dilanjutkan, karena ide selaras dengan kriteria-kriteria yang ada baik kriteria eksternal maupun kriteria internal.

2. Polyester dengan busa tas. Bahan tas yang paling diminati adalah katun jepang dengan busa tas.

Bahan baku yang tersedia:

- Katun jepang dengan busa tas.

(18)

kriteria-54 tas.

Bahan baku yang harganya

terjangkau: - Katun jepang

dengan busa tas.

- Polyester dengan busa tas.

Kemampuan teknik:

- Penjahit hanya dapat membuat tas dari bahan katun jepang dengan busa. kriteria yang ada. Bahan alas 1. Parasut

dengan busa Bahan alas yang paling diminati adalah parasut dengan busa.

Bahan baku yang tersedia:

- Parasut dengan busa. - Perlak dengan

busa.

Bahan baku yang harganya terjangkau: - Parasut dengan busa. Kemampuan teknik: - Penjahit hanya dapat membuat alas dari parasut dengan busa. Ide dapat dilanjutkan, karena ide selaras dengan kriteria eksternal maupun kriteria internal.

2. Perlak dengan busa Bahan alas yang paling diminati adalah parasut dengan busa.

Bahan baku yang tersedia:

- Parasut dengan busa. - Perlak dengan

busa.

(19)

55 Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Dari hasil penyelarasan ide dengan kriteria-kriteria, maka ide yang lanjut ke tahap development adalah desain A, bahan tas dari katun jepang dengan busa, serta alas dari parasut dengan busa.

4.2.4 Tahap Development

Pada tahap development ini, ide yang lanjut akan dikembangkan menjadi produk jadi. Berikut tahapannya:

1. Pembuatan desain awal

Desain awal produk inovasi tas bayi dengan model alas waterproof menyatu dibagian tas adalah sebagai berikut:

a) Desain tas yang digunakan adalah desain A. b) Tas bayi dibuat dari katun jepang dengan busa tas. c) Alas dibuat dari parasut dengan busa.

- Parasut dengan busa. Kemampuan teknik: - Penjahit

(20)

56 Gambar 4.2 Desain awal produk inovasi tas bayi yang

terdapat alas waterproof menyatu dibagian tas

2. Pembuatan prototype

Prototype dibuat sesuai dengan desain awal. Adapun bahan-bahan

yang dibutuhkan untuk membuat prototype, antara lain: - Tali tas - Busa tas - Merek - Aksesoris tali tas - Kain parasut

- Resleting tas - Busa untuk alas - Perekat - Duplex - Katun jepang motif - Katun jepang polos

(21)

57 1) Buat pola tas sesuai dengan desain awal dari kertas koran.

Gambar 4.3 Pola tas dari kertas Koran

2) Pindahkan pola tas pada kain dan gunting kain sesuai pola.

Gambar 4.4 Pemindahan pola tas pada kain

3) Masukkan busa tas pada kain yang sudah dibentuk sesuai pola..

(22)

58 4) Susun bagian-bagian tas sesuai dengan desain awal.

Gambar 4.6 Bagian-bagian tas yang sudah disusun

5) Buat pola alas dari kertas koran.

Gambar 4.7 Pola alas dari kertas koran

6) Pindahkan pola alas pada kain parasut dan gunting kain parasut sesuai pola.

(23)

59 7) Buat pola alas pada busa, kemudian gunting.

Gambar 4.9 Busa untuk alas

8) Jahit semua bagian sesuai dengan desain awal, serta pasang resleting, tali tas, duplex, aksesoris tali tas, perekat, dan merek di bagian yang sudah ditentukan.

Gambar 4.10 Bagian samping tas sedang dijahit

(24)

60 9) Prototype sudah jadi dan siap untuk uji prototype product.

Gambar 4.12 Prototype sudah jadi

3. Uji prototype product

Setelah prototype inovasi tas bayi jadi, peneliti melakukan uji

prototype. Uji prototype ini dilakukan dengan membagikan

kuesioner kepada responden yang berjumlah 15 orang dan hasilnya adalah sebagai berikut:

(25)

61 Tabel 4.10. Hasil uji prototype product

No. Keterangan Frekuensi Jumlah

responden

Presentase jawaban 1. Apakah menyukai warna

dari produk tas bayi? a. Ya b. Tidak 10 5 15 15 67 33 2. Apakah motif tas bayi

menarik? a. Ya b.Tidak 13 2 15 15 87 13 3. Apakah desain tas yang

digunakan sudah sesuai harapan? a. Ya b.Tidak 12 3 15 15 80 20 4. Apakah bahan tas yang

digunakan sudah sesuai harapan? a.Ya b.Tidak 11 4 15 15 73 27 5. Apakah bahan alas yang

digunakan sudah sesuai harapan? a. Ya b.Tidak 13 2 15 15 87 13 6. Kekurangan dari produk

tas bayi serbaguna ini: a. Jahitan kurang rapi. b. Alas kurang lebar. c. Tali tasnya kurang

besar, kurang menarik, kurang nyaman dipakai. 0 0 12 15 15 15 0 0 80

(26)

62 Berdasarkan hasil uji prototype product, prototype mendapat respon yang positif dari sebagian besar responden, baik itu dari segi warna, motif, desain, serta bahan yang digunakan pada prototype. Hal tersebut ditunjukkan dengan tingkat presentase yang menyukai warna prototype tas bayi yakni sebesar 67%. Adapun alasan responden menyukai warna prototype tas bayi yakni menurut responden warna pada prototype netral dan tidak mencolok. Kemudian tingkat presentase yang menyukai motif prototype tas bayi yakni sebesar 87%. Sebagian besar responden juga menyatakan jika desain, bahan tas, dan bahan alas yang digunakan pada prototype sesuai harapannya.

Walaupun warna, motif, desain serta bahan yang digunakan pada prototype mendapat respon yang positif dari responden, prototype masih memiliki kekurangan. Hal tersebut dapat

diketahui pada hasil uji prototype, dimana sebesar 80% responden menyatakan jika tali tas kurang besar, kurang menarik, dan kurang nyaman dipakai (80%). Oleh sebab itu, prototype ini perlu dilakukan perbaikan agar prototype lebih maksimal.

4. Redesign

(27)

63 uji prototype dapat diterapkan juga, dimana tali tas lebih baik dibuat seperti tali ransel pada umumnya agar nyaman dipakai. Berikut tahapan redesign untuk prototype:

1) Buat pola yang diperlukan pada kain serta busa tas, kemudian potong kain dan busa tas sesuai pola.

Gambar 4.13 Kain dan busa tas yang sudah dipotong sesuai pola

2) Jahit kain serta busa tas yang sudah dipotong sesuai pola tersebut pada tas.

(28)

64 Berikut adalah perbandingan prototype sebelum dan sesudah perbaikan.

Tabel 4.11. Perbedaan prototype sebelum dan sesudah perbaikan

Sebelum perbaikan Sesudah perbaikan

Gambar

Keterangan Sebelum perbaikan, bagian yang dilingkari hanya berupa tali tas saja.

Sesudah perbaikan, bagian yang dilingkari berupa kain katun yang diisi dengan busa tas.

Sumber: data primer yang diolah (2017)

Setelah dilakukan uji prototype product, selanjutnya dilakukan perhitungan HPP. Perhitungan HPP ini bertujuan untuk mengetahui biaya yang dikeluarkan dalam produksi tas bayi. Biaya yang diperoleh dari perhitungan HPP tersebut akan digunakan untuk menentukan harga jual produk tas bayi. Berikut adalah rincian perhitungan HPP:

(29)

65 Jumlah produk per produksi : 3

HPP per produk tas bayi : Rp 153.000 Margin yang diinginkan (35%) : Rp 53.600 Harga jual per produk tas bayi : Rp 206.600

Dari rincian perhitungan HPP tersebut dapat diketahui bahwa biaya bahan baku yang dikeluarkan untuk sekali produksi (3 buah tas) sebesar Rp 370.500. Kemudian untuk produksinya menggunakan jasa tukang jahit yang bekerja selama 26 hari dalam 1 bulan. Gaji untuk 1 orang penjahit sebesar Rp 2.132.000/bulan ( ada 26 hari, 1 hari Rp 82.000), dan biaya overhead dalam sekali produksi Rp 7.500. Dengan demikian diperoleh jumlah HPP sebesar Rp 460.000, dan HPP per produk tas bayi adalah sebesar Rp 153.000. Dari HPP per produk tersebut, maka harga jual produk dapat ditentukan. Harga jual untuk produk tas bayi ini adalah Rp 206.600/produk. Dengan harga jual Rp 206.600/produk, diperoleh keuntungan sebesar 35% dari HPP per produk.

4.2.5 Tahap Commercialization

(30)

66 Tabel 4.12. Informasi penjualan produk tas bayi

No. Jawaban Frekuensi Jumlah responden

Presentase jawaban 1. Dimanakah saudara mencari informasi mengenai penjualan tas

bayi?

Instagram, absolut bazaar, wanderlust bazaar, mall.

3 15 20

Bukalapak, olx, shopee, tokopedia, toko

perlengkapan bayi.

1 15 6,67

Toko perlengkapan bayi, mall.

2 15 13,33

Toko perlengkapan bayi 2 15 13,33

Facebook, instagram, bukalapak.

1 15 6,67

Absolut bazaar, wanderlust bazaar.

3 15 20

Instagram, mall 3 15 20

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Gambar

Tabel 4.1. Gambaran Umum Responden Tahap Idea Generation
Tabel 4.3. Hasil brainstorming untuk penggalian ide desain
Tabel 4.5. Hasil brainstorming untuk penggalian ide bahan alas
Tabel 4.6. Pemeringkatan ide hasil brainstorming
+7

Referensi

Dokumen terkait

Talisman bir parça ka ğ ı t üzerine çizilip, varsa, istenen kimsenin meteryal ve resmi ile birlikte bir balmumu bebe ğ in içine koyulur... Bu iki devrenin

Jika pada saat itu terdapat inti kondensasi, yaitu partikel-partikel halus yang jumlahnya sangat banyak dan proses penyerapan uap air berlangsung terus, pada

Suatu organisasi mempunyai arti penting dalam masyrakat , karena organisasi dapat membantu/mengajak masyarakat untuk lebih aktif dalam lingkungan dan kehidupannya,

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat, rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini yang berjudul“ Rancang

Kajian terhadap terbacaan ini begitu penting, terutama oleh institusi seperti Universitas Terbuka yang mengemban tugas untuk meningkatkan mutu, kualitas guru sekolah dasar

Diagnostika Aktyvios ir kūrybingos asmenybės ugdymui vis dar skiriama per mažai dėmesio (Peter Jarvis, 2001). Mokyklose rūpinamasi išmokyti dėsto­ mųjų dalykų - ir tiek.

TRADING BUY : Posisi beli untuk jangka pendek / trading , yang menitikberatkan pada analisa teknikal dan isu-isu yang beredar. NEUTRAL : Tidak mengambil posisi pada saham

Pada umumnya metode yang dipergunakan dalam uji sensitivitas bakteri adalah Pada umumnya metode yang dipergunakan dalam uji sensitivitas bakteri adalah metode Difusi