DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
Kampus Sekaran Gunung Pati, Semarang 50229 Telp. (024) 8508007
PROPOSAL SKRIPSI
Nama : Nur Baiti Amrin
NIM : 6101404073
Program Studi : Pendidikan jasmaniKesehatan Dan Rekreasi, S1 Jurusan : Jasmani Kesehatan Dan Rekreasi
Fakultas : Fakultas Ilmu Keolahragaan
I. JUDUL PENELITIAN
MODEL PEMBELAJARAN PERMAINAN SEPAKBOLA PADA SISWA KELAS V MI DARUL HIKMAH JATIMAKMUR KEC. SONGGOM KAB. BREBES TAHUN PELAJARAN 2010/2011.
II. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan jasmani merupakan proses belajar untuk bergerak, dan belajar melalui gerak. Sumbangan yang diberikan dari Pendidikan jasmani adalah memberikan perkembangan secara menyeluruh, karena yang dikembangkan bukan hanya aspek keterampilan gerak dan kebugaran jasmani (ranah jasmani dan psikomotorik), tetapi pengembangan ranah kognitif dan afektif juga dikembangkan melalui Pendidikan jasmani.
Pendidikan jasmani memang sangat menarik dan sangat indah. Selain bertugas untuk mendidik, guru juga sekaligus mengasuh. Yang dibina ialah anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Tidak ada mata pelajaran lain yang tujuannya sedemikian majemuk dan selengkap Penjasorkes. Tujuan yang ingin dicapai bukan saja
perkembangan aspek jasmani tetapi juga aspek mental sosial dan moral. Sayangnya tujuan yang serba lengkap tidak sepenuhnya dapat tercapai karena pelaksanaan Pendidikan jasmani belum sesuai dengan harapan.
Dalam A. Erlina Listyarini, menurut Agus SS (2004: 1) Pendidikan jasmani dapat berjalan dengan sukses dan lancar ditentukan oleh beberapa unsur antara lain guru, siswa, kurikulum, sarana dan prasarana, tujuan, metode, lingkungan yang mendukung dan penilaian. Guru merupakan unsur yang paling menentukan keberhasilan proses pendidikan jasmani. Namun lebih sukses harus didukung oleh unsur yang lain seperti tersebut diatas.
Pendidikan jasmani juga merupakan media untuk mendorong perkembangan keterampilan motorik, kemampuan fisik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-spiritual, dan sosial) serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan yang seimbang.
Kurikulum yang terdapat dalam mata pelajaran pendidikan jasmani di Sekolah Dasar meliputi materi permainan dan olahraga. Materi permainan dan olahraga diantaranya meliputi: olahraga tradisional, permainan, eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor,dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers, sepak bola, bola basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya, (BSNP, 2006: 703).
adalah kepuasan dan kesenangan yang menjadi pendorong peserta didik untuk mau belajar sungguh dalam suasana menyenangkan tersebut. Oleh karena itu, maka permainan perlu ditentukan aturannya agar berjalan tertib dan teratur.
Dalam sistematika pembelajaran permainan di sekolah, guru harus menyusunnya dari mulai materi termudah menuju yang kompleks. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran mudah diserap oleh peserta didik. Karena karakteristik peserta didik itu sangat heterogen, maka pembelajaran permainan yang mampu menyesuaikan dengan kemampuan anak akan sangat cepat diserap dan dikuasai dibandingkan yang tidak sesuai dengan tingkat kemampuan anak.
Peraturan permainan sepakbola anak usia SD/MI yang dimaksud adalah permainan sepakbola yang disesuaikan dengan karakteristik anak usia Sekolah Dasar, yang berkaitan dengan aspek usia anak, fisik anak, kemampuan fisik anak, dan perkembangan psikososial anak. Permainan Sepakbola anak usia SD yang terjadi selama ini dilapangan baik di lingkup sekolah formal (SD) dan nonformal Sekolah Sepakbola (SSB) mengadopsi model permainan anak usia 12 tahun dan remaja.
Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga yang menggunakan seluruh anggota tubuh kecuali lengan dalam memainkan bola. Menurut Agus Salim (2008: 42) Permainan sepakbola merupakan permainan beregu, sekaligus pertandingan atau kompetisi, serta arena olahraga prestasi. Permainan sepakbola sebagai olahraga kompetisi dan prestasi dapat terpenuhi oleh anak-anak secara bertahap demi setahap. Kemungkinan diubahnya sepakbola kecil-kecilan, memberi kemungkinan untuk mengajukan persyaratan prestasi itu dalam takaran yang selaras.
Tetapi hal tersebut dirasa belum cukup untuk dijadikan model yang efisien dalam pembelajaran jasmani di Sekolah Dasar, sebab permasalahan pengajaran tidak hanya dalam lingkup psikomotor dan sarana prasarana saja, tetapi juga dalam lingkup afektif, seperti kerjasama antar siswa, dan isu kesetaraan gender.
di lain pihak perempuan diletakkan dalam posisi yang lebih rendah, yang mengakibatkan kemampuan untuk berperan dalam pembelajaran menjadi lebih kecil. Pada dasarnya dalam pengajaran jasmani, posisi laki-laki dan perempuan mempunyai kedudukan yang sama. Dalam kenyataan di lapangan banyak pembelajaran gerak yang memisahkan antara keduanya, misalnya dalam pembelajaran sepak bola adalah identik dengan olahraga laki-laki sehingga perempuan canggung jika harus melakukan permainan tersebut.
Permainan sepakbola ini dapat dimainkan oleh siapa saja dari mulai anak-anak hingga orang dewasa baik laki-laki maupun perempuan. Ada beberapa keterampilan dasar yang perlu dikuasai peserta didik dalam cabang olahraga sepakbola, yaitu (1) kemampuan menendang, (2) menggiring bola atau mengontrol bola, dan (3) menembak. Untuk keterampilan dasar ini, guru jangan menekankan pada aspek teknik tapi mengembangkan potensi yang anak miliki. Untuk itu perlu di buat suatu produk atau modifikasi permainan dimana unsur permainan sepakbola terdapat di dalamnya, dapat membuat bekerja sama dengan temannya, dan dapat dimainkan oleh siswa putra maupun siswa putri sehingga tujuan pendidikan jasmani dapat terwujud.
Model peraturan permainan sepakbola anak usia SD/MI yang dikembangkan adalah memperhatikan karakteristik anak usia SD/MI dengan segala aspek perkembangan; yaitu perkembangan jasmani, psikologis, dan sosialnya, disamping aspek pendidikan yang utama. Model permainan anak usia SD/MI secara konstruk mengikuti model permainan sepakbola yang sudah ada, yaitu meliputi; (1) Luas lapangan permainan sepakbola, (2) Gawang permainan sepakbola, (3) Bola permainan sepakbola, dan (4) Cara permainan sepakbola yang cocok untuk anak SD.
jasmani perlu disajikan secara sistematis, bertujuan, melibatkan semua, dan menggembirakan (Rusli Lutan, 2001).
Praktik permainan sepakbola yang baik adalah program yang sistematis memberi dampak terhadap domain fisik: pertumbuhan dan kematangan, kebugaran jasmani, kebugaran metabolik; domain psikologis: citra-badan, citra diri, dan harga diri, dan psikosomatis menurun.
Dalam proses pembelajaran penjas guru diharapkan mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan/olahraga yang melibatkan unsur fisik mental, intelektual, emosi dan sosial. Aktivitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan sentuhan dedaktik dan metodik, sehingga aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran (menurut standar kompetensi mata pelajaran penjas di SD/MI) sudah merupakan kewajiban guru penjas mengajarkan berbagai keterampilan gerak, meskipun ada berbagai kendala masing-masing sekolah yang harus dihadapi, maka guru penjas dituntut untuk selalu kreatif dan modifikatif dalam melakukan tugasnya.
Dalam pembelajaran permainan dan olahraga diharapkan siswa mampu melakukan berbagai macam bentuk aktivitas permainan dan berbagai cabang olahraga salah satunya adalah cabang olah raga permainan sepakbola. Telah disebutkan di atas bahwa berdasarkan observasi,sebagian besar Sekolah Dasar tidak memiliki lapangan yang luas. Namun demikian materi-materi pokok yang ada pada kurikulum harus diajarkan sehingga sebagai guru harus bisa memodifikasi sarana dan prasarana serta harus bisa membuat strategi dalam proses pembelajarannya.
III. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam penelitian pengembangan adalah:
1. Diperlukan modifikasi permainan sepakbola yang dapat meningkatkan kerjasama siswa dalam mengikuti pelajaran Penjasorkes.
IV. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian pengembangan ini berusaha untuk menghasilkan suatu model permainan yang dapat digunakan sebagai alat bantu guru sekolah dasar dalam pendidikan jasmani. Tujuan pengembangan model permainan sepakbola untuk siswa Sekolah Dasar, yaitu:
1. Perlunya modifikasi permainan sepakbola yang dapat meningkatkan kerja sama siswa dalam mengikuti pelajaran penjasorkes.
2. Mengembangkan model permainan sepakbola yang dapat meningkatkan kesetaraan gender dalam pelajaran penjasorkes.
V. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat produk antara lain: (1) mengaktifkan siswa dalam pendidikan jasmani, (2) meningkatkan nilai kerja sama dalam pendidikan jasmani, (3) menumbuhkan kesetaraan gender dalam pendidikan jasmani, (4) meningkatkan pengetahuan guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan tentang pembelajaran sepakbola.
VI. LANDASAN TEORI
1. Pengertian Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani berarti program pendidikan lewat gerak atau permainan dan olahraga. Di dalamnya terkandung bahwa gerakan, permainan, atau cabang olahraga tertentu yang dipilih hanyalah alat untuk mendidik. Hal ini dapat berupa keterampilan fisik motorik, keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, dan bisa juga keterampilan emosional dan sosial.
pakar telah mendefinisikan tentang pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan pendidikan jasmani. Berikut adalah beberapa pandangan atau pendapat tentang arti pendidikan jasmani.
Pendidikan jasmani yang berpangkal pada gerakan manusia, serta mengarah kepada kepribadian yang bulat dan kreatif dan manusia, adalah dasar dari segala pendidikan. Pendidikan jasmani adalah pendidikan untuk jasmani. Namun pandangan demikian sudah di tinggaikan dan organisme manusia secara wajar dan alami sekarang dilihat dalam satu kesatuan individu hingga pendidikan jasmani adalah pendidikan melalui jasmani. Jasmani adalah kata sifat dengan asal kata jasad yang berarti tubuh atau badan. Jasmani menunjuk kepada hal-hal yang mengenai jasad, yang berhubungan dengan tubuh atau badan manusia, sebagaimana rohani yang menunjuk kepada segala sesuatu yang berhubungan dengan roh. Dengan pandangan ini maka pendidikan jasmani berkaitan dengan perasaan, hubungan pribadi, tingkah laku kelompok, perkembangan mental dan sosial, emosional, intelektual serta estetik. Pendidikan jasmani meskipun berusaha untuk mendidik manusia melalui sarana jasmani, dengan aktifitas jasmani atau aktifitas-aktifitas fisik, tetap berkepentingan dengan tujuan-tujuan pendidikan yang tidak semuanya jasmani atau fisik (Abdul Kadir Ateng, 1989:6).
Pendidikan jasmani dilakukan dengan sarana jasmani, yakni aktifitas jasmani yang pada umumnya dilakukan dengan tempo yang cukup tinggi dan terutama gerakan-gerakan besar, ketangkasan dan keterampilan, yang tidak perlu terlalu tepat, terlalu hares dan sesempurna atau berlcualitas tinggi, agar diperoleh manfaat bagi anak-siswa. Meskipun sarana pendidikan tersebut fisikal, manfaat bagi siswa mencakup bidang-bidang nonfisik seperti intelektual, sosial, estetik, dalam kawasan-kawasan kognitif maupun afektif.
Adang Suherman (2000:7), mengemukakan pandangan filsafat idealisme terhadap pendidikan jasmani adalah sebagai berikut :
2) Aktifitas kesegaran jasmani memberi kontribusi terhadap perkembangan kepribadian seseorang.
3) Pendidikan jasmani merupakan pusat berbagai gagasan (idea ls).
4) Harus menjadi seorang model bagi siswa.
5) Guru bertanggung jawab terhadap efektifitas program pendidikan jasmani. 6) Pendidikan di tujukan untuk kehidupan.
Pandangan terhadap pendidikan jasmani menurut Undang-undang No. 4 tahun 1950 pasal 9, yaitu : pendidikan jasmani yang menuju keselarasan antara tumbuhnya badan perkembangan jiwa dan merupakan usaha untuk membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sehat kuat lahir batin, diberikan pada segala sekolah (2000:17).
Menurut pendapat Frost, pendidikan jasmani adalah bagian integral dari pendidikan keseluruhan yang memberikan sumbangan terhadap perkembangan individu melalui media aktivitas jasmani dan gerak manusia (Harsuki, 2003:27).
Selanjut nya batasan pendidikan jasmani menurut UNESCO dalam
"International Charter of Phyisical Education and Sport" (1978) sebagai berikut: Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai individu atau anggota masyarakat yang dilakukan secara radar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan kecerdasan dan pembentukan watak (2003:28).
Bentuk olahraga yang lain selain pendidikan jasmani yaitu sport dapat diambil dari ketentuan I n te r na ti on a l Council of Sport and Physical Education.
Ant ara pendidikan jasmani dan sport sering dikatakan ada interface, tidak sama namun ada bagian-bagiannya yang sama. Jelas keduanya adalah aktivitas fisik, tegasnya aktivitas otot-otot besar atau muscle activity, bukan fine muscle activity
seperti yang terjadi pada kegiatan menulis, menggambar, menganyam dan sebagainya. Keduanya permainan dalam arti bukan bekerja untuk menghasilkan sesuatu yang lain dan yang dikerjakan. Kepuasan bukan karena ada hasil lain di luar aktivitas namun diperoleh karena melakukan aktivitas itu sendiri. Jika pendidikan jasmani memang dirancang untuk pendidikan, maka olahraga dengan syarat dilakukan semangat sportif itupun merupakan alat yang ampuh untuk pendidikan.
Dari pendapat-pendapat yang diuraikan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan yang tujuannya harus serasi dan selaras dengan tujuan pendidikan pada umumnya.
2. Fungsi Pendidikan Jasmani
Engkos Kokasih (1997:11), merumuskan fungsi pendidikan jasmani adalah sebagai berikut:
1) Merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani yang serasi, selaras, dan seimbang.
2) Merangsang perkembangan sikap, mental sosial, dan emosional yang serasi, selaras dan seimbang.
3) Memberikan pemahaman tentang manfaat pendidikan jasmani, serta memenuhi hasrat bergerak.
4) Memacu perkembangan dan aktifitas sistem peredaran darah, pencernaan, pernafasan dan saraf.
3. Tujuan Pendidikan Jasmani
Sebelum membicarakan tentang tujuan dari pendidikan jasmani yang dirumuskan oleh para pakar pendidikan jasmani perlu diajukan pertanyaan mengapa tujuan itu diperlukan dan dipahami dengan baik oleh para pendidik pada umumnya dan guru pendidikan jasmani pada khususnya.
Menurut Arma Abdullah dan Agus Manadji (1994:16), menyebutkan beberapa alasan mengapa diperlukan pemahaman yang jelas tentang tujuan pendidikan jasmani adalah sebagai berikut:
1) Pemahaman tentang tujuan akan dapat membantu guru pendidikan jasmani mengetahui lebih baik apa yang ingin dicapai. Tujuan dapat dijadikan pedoman oleh guru pendidikan jasmani dalam merencanakan dan melaksanakan program pendidikan jasmani yang bermanfaat dan bermakna bagi para siswa.
2) Pemahaman tentang tujuan akan dapat membantu guru pendidikan jasmani mengetahui lebih baik nilai pendidikan jasmani dalam pendidikan. Tujuan pendidikan jasmani harus sesuai dengan tujuan pendidikan karena pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan keseluruhan.
3) Pemahaman tentang tujuan pendidikan jasmani akan dapat membantu guru pendidikan jasmani mengambil keputusan yang baik bila ada masalah yang timbul. Dalam tugas melaksanakan kegiatan jasmani yang telah dirancang dengan hati-hati bagi siswa kadangkala timbul masalah, misalnya apakah siswa yang sudah sangat terampil bermain sepakbola sebaiknya dibebaskan dari pelajaran bermain sepakbola. Dengan memahami secara baik tujuan pendidikan jasmani guru akan mengambil keputusan yang tepat.
5) Pemahaman tentang tujuan akan dapat membantu guru pendidikan jasmani mengetahui dan menghargai hasil akhir yang diharapkan dari proses belajar mengajar. Perubahan perilaku yang diharapkan harus erat kaitannya dengan tujuan pendidikan jasmani. Ia harus dapat mempertanggungjawabkan perubahan perilaku yang terjadi pada siswa setelah mendapat pelajaran pendidikan jasmani. Tujuan pendidikan jasmani seringkali dituturkan dalam redaksi yang beragam, namun keragaman penuturan tujuan pendidikan jasmani tersebut pada dasarnya bermuara pada pengertian pendidikan jasmani itu sendiri. Beberapa pernyataan tentang tujuan pendidikan jasmani telah dibuat oleh tokoh-tokoh dan penulis pendidikan jasmani. Dalam beberapa pernyataan tersebut, ada yang sama dan ada yang berbeda dalam penekanannya. Dalam beberapa pernyataan lain ada yang dihilangkan dan ada pula yang sama dengan yang lainnya.
Menurut Adang Suherman (2002: 23)., tujuan pendidikan jasmani dapat diklarifisikasikan kedalam empat kategori:
1) Perkembangan Fisik
Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan melakukan aktifitas-aktifitas yang melibatkan kesatuan-kesatuan fisik dari berbagai organ tubuh seseorang (physical Fitness).
2) Perkembangan Gerak
Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan melakukan gerak secara efektif, efisien, halus, indah , dan sempurna (Skillful).
3) Perkembangan Mental
Tujuan ini berhubungan dengan berpikir dan menginterprestasikan keseluruhan pengetahuan tentang pendidikan jasmani kedalam lingkungan sehingga memungkinkan tumbuh dan berkembangnya pengetahuan, sikap, dan tanggung jawab siswa.
4) Perkembangan Sosial
untuk membantu siswa dalam upaya meningkatkan kesegaran jasmani dan kesehatan melalui pengenalan dan penanaman sikap positif serta melalui kemampuan gerak dasar dan berbagai aktifitas jasmani (Engkos Kokasih 1997:11).
M. Yusuf Adisasmita (1989:23), merumuskan tujuan pendidikan jasmani yang bisa diterima oleh masyarakat sebagai tujuan yang harus dicapai, yaitu sebagai berikut:
1) Kesegaran Jasmani
Perbaikan status kesegaran jasmani siswa adalah bidang yang sama, merumuskan tujuan dari pendidikan jasmani. Ini disebabkan karena pengembangan kesegaran jasmani merupakan tanggung jawab pendidikan jasmani dan tidak ada yang lain dalam kurikulum.
2) Kesegaran Sosial
Guru pendidikan jasmani juga bersangkutan dengan tujuan kesegaran sosial atau masyarakat. Mereka menyadari bahwa hubungan masyarakat dalam olahraga selalu terjadi, maka olahraga merupakan modal paling baik untuk mencapai tujuan-tujuan kemasyarakatan.
3) Pengembangan Intelektual
Aktifitas pendidikan jasmani membantu pengembangan mental dengan memungkinkan peserta didik belajar mengukur jarak, kecepatan, berat, tenaga, arah, dan hubungan tata ruang.
4) Pengembangan Motor Skill
5) Perlindungan terhadap kesehatan
Salah satu tujuan dari pendidikan jasmani adalah untuk memperbaiki dan melindungi kesehatan peserta didik.
4. Konsep Gender
Kata gender dalam bahasa Indonesia dipinjam dari bahasa Inggris secara harfiah
“gender” berarti jenis kelamin, sama halnya dengan seks yang juga jenis kelamin.
Untuk memahami konsep gender harus dibedakan antara kata gender dengan seks. Seks mengacu pada pengertian perbedaan bioligis jenis kelamin yang merupakan kodrat Tuhan karenanya bersifat permanen serta tidak dapat dipertukarkan. Sementara pengetian gender adalah sebagai berikut:
1) Gender mengacu pada perbedaan jenis kelamin yang bukan bersifat biologis dan bukan kodrat Tuhan.
2) Gender adalah sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksikan secara sosial dan kultural.
3) Gender adalah perbedaan peran, fungsi, tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan kemajuan zaman.
4) Gender adalah semua hal yang dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki yang bisa berubah dari waktu ke waktu serta berbeda dari tempat ke tempat lainnya, maupun berbeda dari suatu kelas ke kelas lainnya.
5) Gender menunjuk pada perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan yang
“society constructed”, jadi diciptakan oleh laki-laki dan perempuan itu sendiri melalui proses sosial budaya yang panjang (Pelatihan Kepemimpinan Pengurus Lembaga Perempuan, 2002).
hubungan dengan anak. Laki-laki ditempatkan pada wilayah politik dan publik dari kehidupan sosial karenanya diidentifikasikan dengan masyarakat dan publik. Sedangkan perempuan tetap diasosiasikan dengan keluarga. Proses sosialisasi dan rekonstruksi ini berlangsung secara mapan dan lama, yang akhirnya sulit dibedakan apakah sifat gender ini dikonstruksikan oleh masyarakat atau kodarat biologis yang ditentukan Tuhan. Namun demikian sepanjang sifat-sifat yang melekat pada kedua seks ini bisa dipertukarkan, maka sifat tersebut adalah hasil konstruksi masyarakat dan bukanlah kodrat.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa gender adalah perbedaan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan sebagai konstruksi yang bersumber pada nilai sosial budaya, pada berbagai golongan atau kelompok masyarakat, memiliki identitas yang berbeda-beda yang berpengaruh oelh faktor ideologi, politik, ekonomi, sejarah, agama, budaya, adat istiadat serta berubah ubah menurut waktu, tempat, lingkungan dan kemajuan.
5. Kesetaraan Gender
Kesetaraan gender adalah kesetaraan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berantisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan nasional, dan kesamaan dalam mengikuti hasil pembangunan tersebut. Jadi kesetaraan gender adalah menerima dan menilai secara setara:
1) Perbedaan antara laki-laki dan perempuan
2) Perbedaan peran yang dipegang oleh laki-laki dan perempuan dalam masyarakat 3) Memahami bahwa perbedaan kondisi hidup laki-laki dan perempuan pada
dasarnya karena fungsi melahirkan pada perempuan.
6) Kesetaraan gender berarti sederajat dalam keberadaan, sederajat dalam keberdayaan dan keikutsertaan disemua bidang kehidupan domestik dan publik (Pelatihan Kepemimpinan Pengurus Lembaga Perempuan, 2002).
6. Kreativitas Guru Penjasorkes Dalam Memodifikasi Sarana dan Prasarana Dalam Permainan Sepakbola
Menurut Utami Munandar (1992:47) kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada. Orang yang kreatif biasanya memiliki banyak pengetahuan baik yang diperoleh dari sekolah maupun dari pengalaman hidup sehari-hari. Dari pengetahuan dan pengalaman tersebut diharapkan bisa mengkombinasikan sehingga mendapatkan sesuatu yang baru. Sedangkan menurut W.J.S. Purwodarminto (1994:526), kreativitas dari kata kreatif yang artinya memiliki daya cipta.
Materi pokok program penjasorkes di SD/MI, sesuai dengan kurikulum yang berlaku, pada umunya terdiri dari berbagai aktivitas jasmani/fisik, seperti (1) aktivitas permainan olahraga, (2) aktivitas pengembangan, (3) aktivitas uji diri, (4) aktivitas ritmik (seni gerak), (5) aktivitas air, dan (6) aktivitas fisik di alam terbuka/bebas (Depdiknas 2004:53).
Sekolah idealnya memiliki sarana dan prasarana pembelajaran penjasorkes yang memadai sesuai dengan kebutuhan. Dalam kenyataannya mayoritas sekolah tidak layak dalam penyediaan sarana dan prasarananya, khususnya penyediaan perkakas dan fasilitas perkakas adalah segala sesuatu untuk pembelajaran pendidikan jasmani yang mudah dipindahkan tapi berat atau semi permanen. Sedangkan fasilitas adalah segala sesuatu untuk pembelajaran pendidikan jasmani yang bersifat permanen atau tidak dapat dipindah, misalnya: Lapangan, Hall atau GOR
Pada penelitian pengembangan ini, materi pembelajaran sepakbola di modifikasi dalam pendidikan olahraga yang menekankan pada totalitas dalam pengalaman olahraga. Pembelajaran penjasorkes dilaksanakan melalui modifikasi permainan sepakbola yang menekankan partisipasi dan pengalaman bagi siswa. Menurut spesialisasi psikologi olahraga Mary Duquin yang dikutip dalam Seidentop (1994:15) menyatakan bahwa pengalaman olahraga seharusnya:
1) Menyenangkan dan nyaman bagi para partisipan.
2) Memberikan tujuan yang aman untuk mengembangkan keterampilan aktivitas. 3) Membantu perkembangan sensitifitas moral dan kepedulian.
4) Mewujudkan kesenangan dan keindahan keterampilan gerak. 5) Melatih semangat kreatifitas, petualangan dan penemuan. 6) Mengatisipasi sebuah perasaan dalam kelompok.
Meskipun dalam pembelajaran penjasorkes tidak selalu menggunakan alat dan perkakas namun untuk fasilitas selalu menggunakannnya. Kenyataan bahwa mayoritas sekolah diperkotaan tidak memiliki lapangan tetapi hanya sebatas sebuah halaman sekolah. Namun demikian, guru penjas harus dituntut kreatif agar materi yang ada pada kurikulum bisa dilaksanakan dengan baik
7. Karakteristik Anak SD
Karakteristik fisik dan mental siswa SD berdasarkan pada tingkat usianya menurut Conny (1991) dibagi menjadi tiga kategori: 1) Siswa SD kelas I dan II, berusia antara 6-7 tahun, 2) anak SD kelas III dan IV, berusia antara 8-9 tahun dan 3) siswa SD kelas V dan VI, yang usianya antara 9-11 tahun.
Ada beberapa karakteristik anak di usia Sekolah Dasar yang perlu diketahui para guru, agar lebih mengetahui keadaan peserta didik khususnya ditingkat Sekolah Dasar. Anak usia SD ditandai oleh tiga dorongan ke luar yang besar yaitu (1) kepercayaan anak untuk keluar rumah dan masuk dalam kelompok sebaya (2) kepercayaan anak memasuki dunia permainan dan kegiatan yang memperlukan keterampilan fisik, dan (3) kepercayaan mental untuk memasuki dunia konsep, logika, dan ligika dan simbolis dan komunikasi orang dewasa.
Masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua belas tahun. Karakteristik utama siswa sekolah dasar adalah mereka menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya, perbedaan-perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak.
Menurut Erikson perkembangan psikososial pada usia enam sampai pubertas, anak mulai memasuki dunia pengetahuan dan dunia kerja yang luas. Peristiwa penting pada tahap ini anak mulai masuk sekolah, mulai dihadapkan dengan tekhnologi masyarakat, di samping itu proses belajar mereka tidak hanya terjadi di sekolah.
Seperti dikatakan Darmodjo (1992) anak usia sekolah dasar adalah anak yang sedang mengalami perrtumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun pertumbuhan badaniyah, di mana kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut tidak sama, sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut. Ini suatu faktor yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak-anak sekolah dasar walaupun mereka dalam usia yang sama. Berdasarkan Pertumbuhan Fisik atau Jasmani anak SD adalah sebagai berikut:
menunjukkan perbedaan yang menyolok. Hal ini antara lain disebabkan perbedaan gizi, lingkungan, perlakuan orang tua terhadap anak, kebiasaan hidup dan lain-lain.
2. Nutrisi dan kesehatan amat mempengaruhi perkembangan fisik anak. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan pertumbuhan anak menjadi lamban, kurang berdaya dan tidak aktif. Sebaliknya anak yang memperoleh makanan yang bergizi, lingkungan yang menunjang, perlakuan orang tua serta kebiasaan hidup yang baik akan menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak.
3. Olahraga juga merupakan faktor penting pada pertumbuhan fisik anak. Anak yang kurang berolahraga atau tidak aktif sering kali menderita kegemukan atau kelebihan berat badan yang dapat mengganggu gerak dan kesehatan anak.
4. Orang tua harus selalu memperhatikan berbagai macam penyakit yang sering kali diderita anak, misalnya bertalian dengan kesehatan penglihatan (mata), gigi, panas, dan lain-lain. Oleh karena itu orang tua selalu memperhatikan kebutuhan utama anak, antara lain kebutuhan gizi, kesehatan dan kebugaran jasmani yang dapat dilakukan setiap hari sekalipun sederhana.
dewasa yang menggunakan peraturan dan peralatan yang telah dibakukan. Oleh karena itu, bentuk modifikasi permainan sepakbola yang sesuai dengan karakteristik anak tersebut sangat dibutuhkan.
8. Permainan Sepakbola
8.1. Tahapan dalam Pembelajaran Permainan Sepakbola
Sepakbola dalam pendidikan jasmani adalah sebagai mediator untuk mendidik anak agar berkembang kemampuan kognitif, afektif, psikomotor, dan sosialnya. Tujuannya adalah untuk mendidik anak agar kelak menjadi anak yang cerdas, jujur, terampil, dan dapat bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya.
Pertama-tama, siswa harus bisa mengerti bentuk permainan sepakbola itu sendiri, dengan petunjuk guru mencoba mengidentifikasi berbagai permasalahan taktis yang harus dipecahkan. Misalnya, guru menjelaskan bahwa permainan sepakbola membutuhkan kerja sama dari para pemain, diperlukan keterampilan berbagai teknik dasar seperti mengoper bola, menggiring bola, menyundul bola, menembakkan bola ke gawang, dan bahwa kesemuanya itu terpadu ke dalam usaha-usaha tim pada saat melakukan pertahanan dan penyerangan di dalam permainan. Pada tahap ini dibutuhkan kecermatan guru untuk memodifikasi mengenai ukuran dan bentuk lapangan permainan yang digunakan, jumlah pemain setiap regu (misalnya 2 melawan 2, atau 3 melawan 1), serta perlengkapan permainan yang dimodifikasi agar siswa diberi kesempatan untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi dalam permainan, seperti bagaimana menciptakan ruang tembak dalam penyerangan atau menjaga ruang kosong yang membahayakan dalam pertahanan.
teknik dasar siswa di dalam permainan, yang akan menggambarkan penampilan bermainnya. Akan tetapi, hal ini tidak boleh dilakukan sebelum siswa benar-benar menyadari kepentingan atau kegunaan dari suatu keterampilan teknik di dalam permainan sepakbola yang sebenarnya. Siswa yang sudah menyadari kegunaan daripada operan panjang dan operan pendek, sudah tentu akan lebih mudah dalam memecahkan masalah saat dijaga ketat di dalam permainan. Ini dilakukannya dengan cara mencari waktu yang tepat untuk menggunakan berbagai variasi operan panjang dan operan pendek yang disertai gerak tipu badan dan kakinya. Setelah siswa mampu memahami dan siap untuk menerapkan berbagai keterampilan yang telah diajarkan ke dalam bentuk permainan, barulah diberikan instruksi secara teknis. Sekali lagi, hal ini selalu harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa. Contohnya, siswa yang berbakat dalam permainan sepakbola akan memanfaatkan ruang gerak untuk lebih mendekat ke gawang lawan bila peluang itu ada. Sebaliknya siswa yang kurang pemahamannya akan terpaku di tempat sehingga akan memudahkan lawan dalam mengatur pertahanannya.
Bagaimanapun, guru harus mengantisipasi bahwa pada umumnya siswa SD, apalagi siswa masih banyak memerlukan bantuan guru dalam hal mempertimbangkan apakah gerakan atau penampilannya sudah benar atau masih salah, dan untuk mengambil keputusan yang tepat tentang bagaimana caranya untuk meningkatkan penampilan.
8.2. Sarana dan Prasarana Permainan sepakbola
Lapangan sepakbola standar berbentuk empat persegi, dengan panjang 100 – 130
Gambar 1. Lapangan Sepakbola
8.3. Peraturan Permainan Sepakbola
8.4. Modifikasi Permainan Sepakbola
Modifikasi permainan merupakan salah satu cara alternatif yang dapat digunakan untuk memperbaiki bentuk permainan. Seperti apa yang dikatakan oleh Pangrazi (1989: 488) bahwa suatu permainan bisa dimodifikasi dan diciptakan dalam bentuk variasi baru yang dapat dilakukan oleh guru atau anak dan bahkan keduanya. Selanjutnya menurut Yoyo Bahagia (2000: 1) menyatakan bahwa dalam suatu pembelajaran khususnya dalam pembelajaran Penjas di sekolah, bisa dilakukan dengan menggunakan modifikasi.
Modifikasi merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para guru agar pembelajaran mencerminkan developmentally a ppropriate practice, yang artinya bahwa tugas ajar yang diberikan harus memperhatikan perubahan kemampuan anak dan dapat membantu mendorong perubahan tersebut. Oleh karena itu tugas ajar tersebut harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak didik yang sedang belajarnya. Tugas ajar yang sesuai ini harus mampu mengakomodasi setiap perubahan dan perbedaan karakteristik setiap individu serta mendorongnya ke arah perubahan yang lebih baik.
Modifikasi permainan memiliki beberapa manfaat yang sangat penting. Menurut Yoyo Bahagia (2000: 1) menyatakan bahwa modifikasi memiliki esensi untuk menganalisa sekaligus mengembangkan materi pelajaran dengan cara meruntunkannya dalam bentuk aktivitas belajar secara potensial yang dapat memperlancar siswa dalam belajarnya. Cara ini dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan, dan membelajarkan siswa yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, dari tingkat yang tadinya lebih rendah menjadi memiliki tingkat yang lebih tinggi.
Gusril (2000: 46-48) menyatakan bahwa modifikasi memiliki keuntungan dan keefektivitasan, yaitu meliputi:
a) Meningkatkan motivasi dan kesenangan siswa dalam pembelajaran penjasorkes. b) Meningkatkan aktivitas belajar siswa
e) Menciptakan proses pembelajaran penjasorkes yang berkualitas baik, maka diperlukan sarana dan prasarana yang memadai.
Dalam proses pembelajaran penjasorkes guru diharapkan mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan atau olahraga yang melibatkan unsur fisik mental, intelektual, emosi dan sosial. Aktivitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan sentuhan dedaktik dan metodik, sehingga aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran. Sudah merupakan kewajiban guru penjas mengajarkan berbagai keterampilan gerak, meskipun ada berbagai kendala masing-masing sekolah yang harus dihadapi, maka guru penjas dituntut untuk selalu kreatif dan modifikatif dalam melakukan tugasnya. Dalam pembelajaran permainan dan olahraga diharapkan siswa mampu melakukan berbagai macam bentuk aktivitas permainan dan berbagai cabang olahraga salah satunya adalah cabang olahraga permainan sepakbola. Telah disebutkan di atas bahwa berdasarkan observasi, sebagian besar SD/MI tidak memiliki lapangan yang luas, namun demikian materi-materi pokok yang ada pada kurikulum harus diajarkan sehingga sebagai guru harus bisa memodifikasi sarana dan prasarana serta harus bisa membuat strategi dalam proses pembelajarannya.
Berdasarkan penjelasan dan manfaat tentang modifikasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa modifikasi merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengurangi atau meniadakan permasalahan yang berkaiatan dengan pembelajaran, baik dalam pembelajaran permainan dan olahraga yang dilaksanakan dalam penjasorkes di sekolah.
8.5. Boladiator (Sepakbola Gaya Baru)
Gambar 2. Lapangan Boladiator
Setiap babak, Kedua tim bermain secara bergantian baik sebagai tim penyerang maupun bertahan. Ketika bertahan. salah satu pemain akan berperan sebagai penjaga gawang. Sedangkan pada saat menyerang penjaga gawang tersebut juga ikut bermain sebagai penyerang seperti yang lain dan tidak boleh lagi memegang bola tapi harus mengontrolnya dengan kaki. Dalam permainan boladiator, aturan offside tidak berlaku.
Tim boladiator bebas melakukan pergantian pemain sesuai dengan jumlah pemain yang terdaftar yaitu 14 orang. Pemain pengganti baru diperbolehkan masuk lapangan setelah pemain yang digantikan keluar dari lapangan permainan.
8.6. Sepakbola Empat Gawang
Sepakbola Empat Gawang yaitu permainan sepakbola dengan cara membagi siswa menjadi empat kelompok. Permainan ini bertujuan agar semua siswa melakukan aktivitas. Ukuran lapangan disesuaikan dengan luas halaman sekolah. Ukuran gawang panjang 3 meter, tinggi 1, 5 meter atau bisa dengan batas bendera, sehingga tinggi tidak ditentukan.
offside. Bila terjadi hands ball maka yang melakukan tendangan adalah lawan yang ada di depannya. Saat terjadi bola keluar lapangan/out ball maka yang melakukan juga lawan yang ada di depannya dengan cara tendangan bukan lemparan. Kelompok yang paling banyak mencetak gol akan menjadi pemenang. Permainan ini dibatasi dengan waktu.
Gambar 3. Lapangan Sepakbola Empat Gawang
VII. METODE PENGEMBANGAN
1. Model Pengembangan
Penelitian dan Pengembangan biasanya disebut pengembangan berbasis penelitian (Research-based development) merupakan jenis penelitian yang sedang meningkatkan penggunaannya dalam pemecahan masalah praktis dalam dunia penelitian, utamanya dalam penelitian pendidikan dan pembelajaran. Menurut Borg dan Gall sepeti yang dikutip Dony WK (2010:21) penelitian dan pengembangan adalah suatu proses yang digunakan untuk mengembangkan atau memvalidasi produk-produk yang digunakan dalam pendidikan pembelajaran. Selanjutnya disebutkan bahwa prosedur penelitian dan pengembangan pada dasarnya terdiri dari dua tujuan utama, yaitu: (1) pengembangan produk, dan (2) menguji keedektifan produk dalam mencapai tujuan.
menemukan suatu model atau prototype, dan bisa digunakan untuk pembelajaran Suharsimi (dalam Dony WK 2010: 21). Menurut Wasis D (dalam Dony WK 2010: 21) dalam setiap pengembangan dapat dipilih dan menentukan langkah yang paling tepat bagi penelitiannya berdasarkan kondisi dan kendala yang dihadapi.
2. Prosedur Pengembangan
Berdasarkan beberapa pendapat di atas prosedur yang digunakan dalam pengembangan model permainan sepakbola untuk pembelajaran penjasorkes siswa SD/MI ini meliputi lima tahap utama, yaitu:
2.1 Melakukan Analisis Produk yang akan Dikembangkan a. Survey tentang pembelajaran permainan sepakbola
b. Pengkajian terhadap permainan sepakbola secara umum untuk mengetahui karakteristik cabang olahraga ini.
c. Menentukan metode yang akan digunakan
2.2 Mengembangkan Produk Awal Model Permainan Sepakbola untuk Siswa SD/MI
a.analisis tujuan dan karakter produk b.analisis karakter siswa
c.menetapkan tujuan
d.menentukan metode yang akan diuji
e.menentukan permainan untuk mengembangkan unsur-unsur kerja sama f. menentukan rublik penilaian untuk menetukan unsur-unsur kesetaraan gender. 2.3 Validasi Ahli
Produk awal pengembangan model permainan sepakbola untuk pembelajaran penjasorkes siswa SD/MI usia 9-11 tahun, sebelum diujicobakan dalam uji skala kecil perlu di validasi oleh para ahli yang sesuai dengan bidang penelitian ini. Untuk menvalidasi produk yang akan dihasilkan, peneliti melibatkan 2 (dua) orang ahli yang berasal dari dosen, dan 2 (dua) orang guru penjasorkes SD.
a. Uji coba lapangan, yaitu di lapangan MI Darul Hikmah Jatimakmur,
b. Uji subjek penelitian yaitu dilakukan di MI Darul Hikmah Jatimakmur, menggunakan seluruh siswa kelas V dengan jumlah 32 siswa.
2.5 Revisi Produk
Revisi produk dilakukan untuk memperbaiki produk sebelum produk akhir digunakan. Revisi dilakukan berdasarkan masukan dari para ahli dan guru penjas.
3. Uji Coba Produk
3.1 Desain Uji Coba
Dalam penelitian ini desain uji coba yang digunakan yaitu desain eksperimental. Uji coba produk pengembangan melalui dua tahap yaitu uji lapangan dan uji subjek penelitian.
3.2 Subjek Uji Coba
Subjek uji coba adalah sarana pemakaian produk, yaitu siswa MI kelas V. Siswa sekolah yang dipakai untuk subjek uji coba adalah MI Darul Hikmah Jatimakmur. Pemilihan subjek uji berdasarkan predikat dari kualitas, geografis, dan kultur budaya, yaitu : sekolah berada di daerah dengan kondisi geografis yang terletak di daerah pedalaman. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah produk yang dihasilkan dapat digunakan disemua kondisi sekolah.
3.3 Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. 1. Data kualitatif diperoleh dari hasil kritik, saran dari ahli penjasorkes dan
narasumber dengan cara wawancara, dan observasi, maupun pengambilan nilai melalui rublik penilaian guru penjasorkes sebagai masukan konstruktif untuk bahan revisi produk.
2. Data kuantitatif diperoleh dari rublik penilaian terhadap siswa, yang diisikan oleh guru penjasorkes, serta rublik penilaian tentang produk terhadap nilai kerja sama dan gender.
Instrumen yang digunakan dalam pengembangan produk, menggunakan pedoman observasi dan rublik penilaian. Observasi dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang pelaksanaan proses pembelajaran permainan sepakbola di SD/MI. Rublik penilaian digunakan untuk mendapatkan atau menjaring informasi dari para ahli maupun guru penjasorkes untuk memberi masukan dan saran serta penilaian tentang kerja sama dan kesetaraan gender produk yang akan dihasikan.
Rublik penilaian yang digunakan guru berupa sejumlah aspek yang harus dinilai kelayakannya. Faktor yang digunakan dalam rublik penilaian meliputi aspek kerja sama dan kesetaraan gender. Serta komentar dan saran umum jika ada. Rentangan
penilaian mulai dari sangat kurang dengan memberi tanda cek lis “ ” pada kolom
yang tersedia.
1) Sangat kurang baik/sangat kurang tepat/sangat kurang jelas/sangat kurang (sulit). 2) Kurang baik/kurang tepat/sangat jelas/sangat mudah.
3) Baik/tepat/jelas/mudah.
4) Sangat baik/sangat tepat/sangat jelas/sangat mudah.
Tabel 1. Variabel, indikator, dan Pengukuran Penelitian
Variabel Indikator Pengukuran
permaianan. 6. Memberi kesempatan teman
beda jenis kelamin untuk
Cara pemberian skor pada rublik penilaian adalah sebagai berikut: Tabel 2. Skor pada rublik penilaian.
Jawaban skor
Tidak pernah 1
Jarang 2
Sering 3
Sangat sering 4
Rublik penelitian yang telah tersusun, sebelum digunakan untuk mengambil data yang asli kepada siswa, perlu dilakukan uji coba instrumen terlebih dahulu dan harus diketahui validitas dan reliabilitasnya.
Guna melihat ketepatan suatu instrumen sebagai alat pengumpulan data penelitian dapat dilakukan melalui penguji cobaan terlebih dahulu instrumen tersebut, dengan tujuan untuk mengetahui apakah instrumen penelitian tersebut dapat digunakan untuk pengambilan data atau tidak. Instrumen yang baik adalah instrumen yang dapat terpenuhinya syarat validitas dan reliabilitas yang baik.
1) Validilitas Angket
Suatu instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkapkan data variabel yang diteliti secara tepat (Suharsimi Arikunto 1998:136). Untuk mengukur validitas digunakan rumus korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson sebagai berikut:
Suatu butir angket dinyatakan valid apabila memiliki harga rxy > rtabel pada taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil perhitungan validitas angket pada lampiran diperoleh harga rxy untuk seluruh butir angket lebih besar dari rtabel = 0,361 untuk α = 5% dengan N = 30. Dengan demikian menunjukkan bahwa dari 30 butir angket yang diujicobakan seluruhnya valid dan dapat digunakan penelitian.
Reabilitas dapat menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen untuk bisa dipercaya sebagai alat pengumpulan data. Untuk menguji reliabilitas digunakan rumus alpha sebagai berikut:
r
= reliabilitas instrumen k = banyaknya butir pertanyaanUntuk mencari varians butir dengan rumus:
2 2
Suatu instrumen dikatakan reliabel jika memiliki harga
r
>
r
tabel pada taraf signifikansi 5%. Hasil uji reliabilitas angket diperoleh hargar
= 0, 915 >r
tabel =0,514. Dengan demikian menunjukkan bahwa angket yang diujicobakan reliabel dan dapat digunakan untuk pengumpulan data penelitian.
Teknik analisis data yang digunakan adalah persentase untuk menganalisis dan penilaian subjek pengembang dalam menilai afektif suatu produk. Yang berupa data dari variabel pemahaman terhadap peraturan permainan sepakbola yang telah dilakukan di SD/MI dan kesetaraan gender dalam pengajaran sepakbola ditandai dengan hasil perhitungan rata-rata rubrik penilaian pemahanan terhadap peraturan permainan sepakbola yang telah dilakukan di SD dan kesetaraan gender yang disi oleh guru penjasorkes.
Adang Suherman. 2000. Dasar-dasar Penja skes. Jakarta: Depdiknas.
Abdul Kadir Ateng. 1989. Penga nta r Asa s-a sa s dan La nda sa n Pendidika n Ja smani Ola hra ga da n Rekrea si. Jakarta: Dirjen Dikti.
M. Yusuf Adisasmita. 1989. Hakeka t, Filsafa t Da n Pera na n Pendidikan Ja smani Da la m Ma sya ra kat. Jakarta: Dirjen Dikti.
Donny Wira Yudha Kusuma. 2010. Penelitia n Pengemba ngan Model Permainan Buluta ngkis Untuk Proses Pembelaja ran Pendidikan Ja smani Ola hraga
Da n Keseha tan Siswa Sekola h Dasa r. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang.
Depdiknas. 2004. Model Latiha n Ja smani Pusa t Pengemba ngan Kualita s Ja smani . Jakarta: Depdiknas.
Engkos Kokasih. 1997. Teknik da n Pela tiha n Progra m. Jakarta: Balai Pustaka. Sutrisno Hadi. 1991. Analisis Butir untuk Instrumen. Yogyakarta: Andi Offset.
Listyarini. 2006 . Krea tivita s Guru Pendidikan Ja smani da la m Pembela ja ra n Perma ina n Sepa k Bola di Sekolah Menenga h Perta ma. Yogyakarta: UNY.
Mustaqim. 2001. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Pusaka Pelajar Offset. Rusli, L. 2001. Asas-asas Pendidikan Jasmani. Bandung: FPOK UPI.
Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitia n. Jakarta: Rineka Cipta.
Sutomo, dkk. 1997. Profesi Pendidikan. Semarang: CV. IKIP Semarang Press. W.J.S Poerwodaminto. 1989. Ka mus Umum Baha sa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.