• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATEKESE TENTANG KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DALAM HIDUP BERKELUARGA DI LINGKUNGAN BARTOLOMEUS BABARSARI PAROKI BACIRO YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "KATEKESE TENTANG KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DALAM HIDUP BERKELUARGA DI LINGKUNGAN BARTOLOMEUS BABARSARI PAROKI BACIRO YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan P"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

i Oleh: Eufrasia Keke NIM : 031124010

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv

Skripsi ini kupersembahkan kepada:

• Para Suster SSpS Provinsi Flores Timur. • Para Suster SSpS Provinsi Jawa.

• Komunitas Biara SSpS Roh Suci Yogyakarta.

• Para Keluarga Katolik di lingkungan Bartolomeus Babarsari BaciroYogyakarta.

(6)

v

¾ “Harta yang paling berharga dan mutiara yang paling indah adalah keluarga.”

(Arswendo Atmowiloto).

¾ “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama, janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana.”

(7)
(8)

vii

BARTOLOMEUS BABARSARI PAROKI BACIRO YOGYAKARTA”. Penulisan

Skripsi ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan penulis akan situasi kehidupan keluarga yang ada di Lingkungan Babarsari pada saat ini, di mana komunikasi antarpribadi atau komunikasi tatap muka dalam keluarga sudah hampir luntur. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan alat-alat komunikasi yang semakin canggih misalnya HP, internet, E-mail, sehingga betapa jarang orang melakukan komunikasi antarpribadi atau komunikasi tatap muka. Padahal komunikasi antarpribadi dalam hidup kita, merupakan sesuatu yang sangat penting, karena pada saat itulah kita dapat berhubungan dan bertukar pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain.

Menanggapi situasi tersebut di atas, penulis melihat pentingnya komunikasi antarpribadi di dalam kehidupan berkeluarga. Oleh karena itu, penulis mengadakan studi pustaka tentang komunikasi antarpribadi dalam keluarga Katolik. Penulis melakukan suatu penelitian wawancara yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keluarga-keluarga Katolik menciptakan komunikasi antarpribadi yang menghidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil wawancara menunjukkan bahwa setiap responden mengungkapkan betapa pentingnya komunikasi antarpribadi dalam keluarga. Dengan komunikasi antarpribadi, mereka dapat mengungkapkan perasaan atau menjalin relasi yang hidup dari hati ke hati. Walaupun banyak kesibukan-kesibukan keluarga dalam bekerja, setiap responden selalu mempunyai waktu dan kesempatan untuk berkomunikasi dari hati ke hati. Maka, dapat dikatakan bahwa keluarga Katolik yang ada di lingkungan Bartolomeus Babarsari sudah memahami arti sebuah komunikasi antarpribadi dalam kehidupan berkeluarga. Mereka menemukan bahwa komunikasi antarpribadi dari hati ke hati, dapat memupuk relasi yang menghidupkan antara satu dengan yang lain dan segala permasalahan akan segera teratasi di dalam kehidupan berkeluarga.

(9)

viii

Writing of the thesis was based on the writer’s concern with family life in the community and communication among members of the which seems declining. This happens because of the rapid achievements of the means of communication like Hp’s, internet, and others. That is why face to face communication among members of family seems rare. Where of personal or face to face communication is important as by doing such we can exchange ideas, feelings, and others to others.

To answers the problem, the writer has done desk study and interviews to some members of the community to guide out how far Catholik families have developed personal communation among members. The results of the interview showed that personal communation among members of each family is important. By personal communication, they are able to ekspress their feelings, ideas heart to heart. Inspire their limited time because of their jobs, their save some times to communicate each other. This it can be said that the Catholic families in the Bartolomeus Babarsari community know the importance of personal communication. They have realized that personal or face to face communication can enrich their founding, relationship which in turn can solve the problems they have had in their family life.

(10)

ix

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis haturkan kepada Allah Tritunggal Maha Kudus atas segala cinta dan berkat, serta kesetiaan-Nya yang senantiasa membimbing dan menyertai penulis, sehingga dapat menyusun dan menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Meskipun dalam proses, banyak kesulitan dan hambatan yang penulis alami dan rasakan, tetapi semuanya dapat dilalui dengan sikap yang sabar dan tenang. Skripsi berjudul “KATEKESE TENTANG KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DALAM HIDUP BERKELUARGA DI LINGKUNGAN BARTOLOMEUS BABARSARI PAROKI BACIRO YOGYAKARTA”. Penulis mencoba mengetengahkan permasalahan yang masih berkaitan dengan pentingnya komunikasi antarpribadi dalam keluarga, sehingga dapat menciptakan suatu keluarga yang bahagia dan sejahtera karena ada relasi komunikasi yang baik dalam keluarga.

Dalam skripsi ini, penulis bermaksud untuk memberi sumbangan pemikiran bagi keluarga Katolik dalam meningkatkan pentingnya komunikasi antarpribadi melalui katekese. Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari banyak dukungan dan perhatian dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, dari hati yang ikhlas penulis mengucapkan limpah terima kasih kepada: 1. Drs. F.X. Heryatno W.W., S.J., M.Ed., selaku kaprodi yang telah memberi ijin

(11)

x pertanggungjawaban skripsi ini.

3. Dr. CB. Putranto, S.J., yang dengan terbuka hati telah menyumbangkan gagasan kepada penulis dalam proses penulisan skripsi ini.

4. Drs. L. Bambang Hendarto, M.Hum., selaku dosen penguji kedua yang dengan sabar telah menuntun dan membimbing penulis selama masa studi sampai pertanggungjawaban skripsi ini.

5. F.X. Dapiyanta, SFK., M.Pd. , selaku dosen penguji ketiga yang telah merelakan waktu, pikiran, dan tenaga dalam membimbing dan mengoreksi tulisan ini.

6. Keluarga besar IPPAK yang telah membekali penulis dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman serta penyediaan semua fasilitas pendukung demi memperlancar studi penulis.

7. Para suster Provinsi SSpS Flores Timur, khususnya Tim Pimpinan Propinsi dan setiap suster yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk memilih studi dalam bidang Kateketik dan dengan caranya masing-masing telah mendukung selama studi berlangsung, hingga penyelesaian penyulisan skripsi ini.

(12)

xi penulis dalam proses penyusunan tulisan ini.

10.Ketua lingkungan yang memberi kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan katekese bersama keluarga Katolik di lingkungan Bartolomeus Babarsari.

11.Teman-teman angkatan 2003 yang dengan caranya masing-masing telah mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

12.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, di mana telah berperan dalam proses studi, khususnya dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa, dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari segala macam kekurangan. Oleh karena itu, dengan rendah hati dan terbuka, penulis menerima kritik maupun saran yang membangun demi penyempurnaan skripsi ini. Penulis berharap kiranya skripsi ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pembaca, khususnya bagi para keluarga Katolik dalam menciptakan komunikasi antarpribadi.

Yogyakarta, 12 September 2007

Penulis

(13)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR SINGKATAN ... xvi

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Permasalahan... 4

C. Tujuan Penulisan ... 5

D. Manfaat Penulisan ... 5

E. Metode Penulisan ... 6

F. Sistematika Penulisan ... 6

BAB II. KOMUNIKASI ANTARPRIBADI DALAM KELUARGA... 8

A. Komunikasi Secara Umum... 8

(14)

xiii

b. Kiat-kiat mempelajari komunikasi... 16

5. Pelancar dan Penghalang Komunikasi ... 17

6. Peranan Komunikasi Melalui Media... 19

B. Keluarga Kristiani ... 21

1. Pengertian Keluarga ... 22

2. Pengertian Keluarga Kristiani ... 23

3. Tantangan-Tantangan aktual dari lingkungan keluarga ... 25

a. Tantangan Keluarga Besar ... 26

b. Tantangan Keluarga Inti... 26

4. Peranan Keluarga Katolik ... 31

5. Komunikasi Antarpribadi Dalam Keluarga ... 35

C. Fokus Penelitian ... 40

D. Pertanyaan Penelitian ... 40

BAB III. GAMBARAN SITUASI KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DALAM HIDUP BERKELUARGA DI LINGKUNGAN BARTOLOMEUS BABARSARI PAROKI BACIRO YOGYAKARTA ... 41

A. Persiapan Penelitian ... 41

1. Permasalahan Penelitian ... 41

2. Tujuan Penelitian ... 42

3. Manfaat Penelitian ... 42

B. Metodologi Penelitian ... 42

1. Pendekatan Penelitian ... 43

2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 43

3. Responden Penelitian ... 43

4. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian... 43

5. Teknik Analisa Data... 44

6. Keabsahan Data... 44

(15)

xiv

d. Macam-macam Kegiatan ... 47

1). Kegiatan Rutin ... 47

2). Kegiatan Insidental ... 49

3). Kegiatan Sosial ... 49

2.Temuan Khusus: Hasil Wawancara ... 50

a. Pemahaman Keluarga tentang Komunikasi ... 51

1) Pemahaman Keluarga tentang komunikasi antarpribadi... 51

2) Manfaat Komunikasi Antarpribadi Dalam Keluarga ... 51

b. Pengalaman Komunikasi Antarpribadi Dalam Keluarga ... 52

c. Faktor-faktor pendukung dan penghalang dalam berkomunikasi ... 57

d. Komunikasi melalui media atau Sarana... 58

1) Hal-hal positip dari media... 58

2) Hal-hal negatip dari media ... 59

D. Pembahasan Hasil Penelitian ... 61

1. Pemahaman Keluarga tentang Komunikasi ... 61

2. Pengalaman Komunikasi Antarpribadi Dalam Keluarga ... 62

3. Faktor-faktor pendukung dan penghalang dalam berkomunikasi.... 63

4. Komunikasi melalui media atau Sarana... 65

E. Kesimpulan Penelitian ... 66

BAB IV. SUMBANGAN KATEKESE DALAM UPAYA MENINGKATKAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI DALAM KELUARGA DI LINGKUNGAN BARTOLOMEUS BABARSARI YOGYAKARTA ... 68

A. Pokok-pokok Katekese... 68

1. Pengertian Katekese ... 68

2. Isi Katekese ... 70

3. Tujuan Katekese... 71

(16)

xv

1. Pengertian Program... 80

2. Pemikiran Dasar Program Katekese... 81

3. Usulan Tema Katekese... 82

4. Penjabaran Program ... 84

5. Contoh Persiapan Katekese I : Model Biblis... 89

6. Contoh Persiapan Katekese II: Model Pengalaman Hidup ... 100

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN... 109

A. Kesimpulan ... 109

B. Saran ... 112

DAFTAR PUSTAKA………... 114

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Hasil wawancara... (1)

Lampiran 2 : Teks cerita: ” Kesaksian Hidup Keluarga mengenai situasi Komunikasi” ... (17)

(17)

xvi

DAFTAR SINGKATAN

A. Singkatan Kitab Suci

Seluruh singkatan dari Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian Baru yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia ditambah dengan Kitab-Kitab Deuterokanonika yang diselenggarakan oleh Lembaga Biblika Indonesia (Konferensi Wali Gereja Indonesia,1993).

B. Singkatan Dokumen Gereja

CT : Catechesi Tradendae, Anjuran Aspostolik Sri Paus Yohanes Paulus II kepada para Uskup, Klerus dan segenap umat beriman tentang katekese masa kini, 16 oktober 1979.

FC : Familiaris Consortio, Amanat Apostolik Paus Yohanes Paulus Ke II tentang Keluarga Kristiani Dalam Dunia Modern, 22 November 1981. GS : Gaudium et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja

di

(18)

xvii

IPPAK : Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik. KAS : Keuskupan Agung Semarang.

KWI : Konferensi Wali Gereja Indonesia. KK : Kepala Keluarga.

LBI : Lembaga Biblika Indonesia. MAWI : Majelis Agung Wali Gereja Indonesia. NTT : Nusa Tenggara Timur.

NO : Nomor.

PPL : Program Pengalaman Lapangan. PIA : Pendampingan Iman Anak

PKKI : Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia. PRODI : Program Studi

PNS : Pegawai Negeri Sipil. RT : Rukun Tetangga. RW : Rukun Warga. SD : Sekolah Dasar.

SMS : Short Messsage Service.

SSpS : Servarum Spiritus Sancte (Konggregasi Misi Abdi Roh Kudus). Sr : Suster.

St : Santo.

(19)

BAB I PENDAHULUAN

A. latar Belakang Penulisan

Komunikasi antar pribadi dalam keluarga pada zaman ini sudah hampir hilang. Banyak keluarga dalam berkomunikasi hanya menggunakan alat komunikasi, sehingga banyak keluarga kurang terbuka antara satu dengan yang lain, seperti komunikasi antarpribadi antara orang tua maupun komunikasi antar pribadi dengan anak-anak, dan sering komunikasi yang dilakukan hanya sekedar saja. Padahal komunikasi antar pribadi dalam hidup kita merupakan suatu hal yang sangat penting, karena pada saat itulah kita dapat berhubungan dengan satu sama lain dan saling bertukar pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain. Komunikasi yang dimaksudkan penulis adalah komunikasi antar pribadi atau komunikasi tatap muka, karena disana dapat terjadi suatu perjumpaan dari hati ke hati.

Di zaman ini kita melihat betapa sering manusia ingin hidup enak dan serba instan demi kebahagiaan pribadi atau keluarga. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang semakin canggih, yang benar-benar sangat mempengaruhi gaya hidup manusia. Salah satu perkembangan teknologi ini dapat kita lihat pada perkembangan alat-alat komunikasi. Sebelum zaman era globalisasi, manusia hanya memakai alat komunikasi yang sangat sederhana seperti melalui surat menyurat saja, dibandingkan dengan alat-alat komunikasi zaman ini yang semakin canggih.

(20)

Teknologi komunikasi seperti HP atau SMS merupakan terobosan yang murah dan cepat membuat berita dari belahan dunia lain sampai ke tangan kita dalam hitungan detik” (Santoso, 2005: 6). Tetapi teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk melakukan apa saja, termasuk mengganggu hubungan pribadi antara dua orang terdekat, termasuk pasangan yang terikat dalam perkawinan.

Perkembangan alat-alat komunikasi pada zaman ini sangat berpengaruh dalam kehidupan keluarga. Dalam kehidupan keluarga, komunikasi langsung atau komunikasi antar pribadi semakin jarang ditemukan, sehingga orangtua sering merasa kurang dekat dengan anak-anak mereka, demikian juga sebaliknya. Orangtua sering hanya memperhatikan kebutuhan jasmani saja, misalnya kebutuhan sehari-hari, uang sekolah, dan tidak kalah pentingnya alat-alat komunikasi yang dapat memperlancar atau mempermudah relasi dan komunikasi antar anggota keluarga yang berjauhan karena jarak. Sekalipun demikian, ”kecanggihan berbagai hal tersebut hanyalah sebagai sarana dan tidak dapat menggantikan bahkan sekadar merepresentasikan relasi dan komunikasi sejati antar anggota keluarga yakni relasi langsung dan personal yang tulus dan eksistensial”(Teluma, 2006: 8). Maka, kecenderungan relasi antar anggota keluarga zaman ini yang tergantung pada media komunikasi, sebenarnya telah mereduksi ciri komunikasi sejati dalam keluarga. Orang tua kadang sering mengeluh tentang sikap anak-anak mereka yang tidak mau mendengarkan mereka lagi karena selalu sibuk dengan Hpnya.

(21)

suatu hal yang sangat penting demi perkembangan iman anak kearah kedewasaan. Mereka kurang menyadari bahwa anak sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orangtua yang merupakan pemenuhan kebutuhan rohani anak yang dapat memperkembangkan iman dalam pribadi anak. Jadi boleh dikatakan bahwa dalam keluarga-keluarga pada zaman sekarang, sering kurang adanya komunikasi antar pribadi dan komunikasi hanya sekedar basa-basi saja, karena tidak mempunyai waktu untuk duduk tenang dan berkomunikasi secara langsung dengan anak-anak maupun komunikasi antarpribadi antara suami-istri

Dengan melihat situasi perkembangan zaman yang ada, penulis merasa prihatin dengan situasi keluarga pada saat ini, khususnya bagi kaum keluarga yang ada di Babarsari, yang boleh dikatakan banyak keluarga selalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga kurang ada kesempatan untuk hadir dan berada di rumah dalam keseharian. Kesibukan kerja membuat seseorang atau anggota keluarga menjadi jarang untuk bertatap muka atau komunikasi antarpribadi dalam keluarga, jarang adanya perjumpaan antarpribadi dari hati ke hati.

(22)

keluarga untuk hidup bahagia, dan mendukung pada pertumbuhan dan perkembangan iman anak baik dari segi sosial, mental, maupun iman.

Salah satu wadah yang dapat digunakan untuk meningkatkan komunikasi antar pribadi dalam hidup berkeluarga ialah program katekese umat. Sebab isi katekese umat bertolak dari situasi persoalan-persoalan yang direfleksikan dalam terang Sabda Allah. Karya katekese merupakan wadah pewartaan Gereja untuk menyampaikan kabar gembira Kerajaan Allah yang menyelamatkan.

Menurut penulis, program katekese sangat efektif untuk memotifasi umat umumnya, agar semakin memahami pentingnya komunikasi antar pribadi di dalam hidup berkeluarga.

Dengan melihat kenyataan di atas, maka penulis memilih judul skripsi: “KATEKESE TENTANG KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DALAM HIDUP BERKELUARGA DI LINGKUNGAN BARTOLOMEUS BABARSARI-YOGYAKARTA.”

Penulis berharap melalui pemaparan skripsi ini umat semakin menyadari pentingnya komunikasi antar pribadi dalam hidup berkeluarga demi mencapai suatu kebahagiaan dan keharmonisan dalam hidup berkeluarga.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah pemahaman keluarga di lingkungan Bartolomeus Babarsari tentang komunikasi antar pribadi?

(23)

3. Katekese model apakah yang dapat membantu para anggota keluarga di lingkungan Babarsari untuk meningkatkan komunikasi antar pribadi demi tercapainya suatu kebahagiaan bersama?

C. Tujuan Penulisan

1. Membantu para anggota keluarga di lingkungan Bartolomeus Babarsari untuk memahami, menghayati, dan melaksanakan komunikasi antar pribadi di dalam hidup berkeluarga.

2. Memberi sumbangan permenungan bagi keluarga di lingkungan Bartolomeus Babarsari tentang pentingnya komunikasi antar pribadi dalam hidup berkeluarga demi tercapainya kebahagiaan dan kesejahteraan dalam keluarga.

3. Mengetahui pengembangan katekese yang dapat membantu keluarga di lingkungan Babarsari dalam meningkatkan komunikasi antar pribadi demi tercapainya kesejahteraan dalam hidup berkeluarga.

4. Penulisan skripsi ini sebagai salah satu persyaratan kelulusan Sarjana Strata 1 (S1) Program Studi IPPAK, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

D. Manfaat Penulisan

1. Memberi masukan kepada umat, khususnya bagi kaum keluarga di lingkungan Babarsari untuk semakin menyadari pentingnya komunikasi antar pribadi di dalam hidup berkeluarga.

(24)

E. Metode Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode deskriptif, analitis dan interpretatif. Melalui metode deskriptif, penulis mencoba memaparkan gambaran umum tentang komunikasi antar pribadi dalam hidup berkeluarga di lingkungan Babarsari. Realitas tersebut coba dipahami dan dimengerti penulis melalui analisis. Pemahaman yang mendalam dari realitas umum komunikasi antar pribadi dalam hidup berkeluarga tersebut dipahami melalui metode interpretasi.

Oleh karena mempelajari bidang katekese, selama studi di Prodi IPPAK Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, maka penulis mencoba mencari bentuk katekese yang dapat membantu kaum keluarga di dalam meningkatkan komunikasi antar pribadi demi terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan di dalam hidup berkeluarga.

F. Sistematika Penulisan

Judul Skripsi yang dipilih penulis adalah “Katekese tentang Komunikasi Antar pribadi dalam Hidup Berkeluarga di Lingkungan Bartolomeus Babarsari Paroki Baciro Yogyakarta”. Judul ini, penulis bahas dalam lima bab, yang akan diuraikan sebagai berikut:

Bab I, Menguraikan pendahuluan yang menguraikan latar belakang, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan.

(25)

Keluarga Kristiani, Tantangan-tantangan aktual dalam lingkungan keluarga, keluarga dalam pandangan Katolik, komunikasi antar pribadi dalam keluarga, fokous Penelitian, pertanyaan penuntun.

Bab III, Berbicara mengenai Gambaran situasi komunikasi antar pribadi dalam hidup berkeluarga di lingkungan Bartolomeus Babarsari Paroki Baciro Yogyakarta, yang terdiri dari dua bagian yakni: Pertama, Persiapan Penelitian yang meliputi: Permasalahan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian. Kedua, mengenai metodologi penelitian yang meliputi: pendekatan penelitian, tempat dan waktu penelitian, responden, teknik dan pengumpulan data, teknik analisis data, keabsahan data, hasil penelitian, pembahasan penelitian, kesimpulan penelitian..

Bab IV, Berbicara tentang sumbangan katekese dalam usaha meningkatkan komunikasi antar pribadi dalam hidup berkeluarga yang meliputi: Latar Belakang Katekese dan program katekese.

(26)

BAB II

KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DALAM KELUARGA

Dalam Bab II ini berupa Kajian Pustaka yang akan penulis uraikan dalam dua bagian. Pertama, tentang Komunikasi secara umum yang meliputi: Pengertian komunikasi, pengertian komunikasi antar pribadi, peranan komunikasi, segi-segi komunikasi, pelancar dan penghalang dalam berkomunikasi.

Kedua, tentang Keluarga Kristiani yang meliputi: Pengertian Keluarga, pengertian keluarga Kristiani, Tantangan-tantangan aktual dalam lingkungan keluarga, baik tantangan yang berasal dari keluarga besar maupun tantangan yang berasal dari keluarga inti itu sendiri, peranan keluarga Katolik, Komunikasi antar pribadi dalam keluarga.

A. Komunikasi secara umum 1. Pengertian Komunikasi

Komunikasi berasal dari bahasa Latin, yakni “Communicare”, yang berarti “membagi sesuatu dengan seseorang, memberikan sebagian kepada seseorang, tukar-menukar, membicarakan sesuatu dengan seseorang, memberitahukan sesuatu kepada seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, berteman” (Hardjana, 2003: 10). Komunikasi berawal dari sebuah gagasan yang ada pada seseorang. Gagasan itu diolahnya menjadi pesan dan dikirimkan melalui media tertentu kepada orang lain sebagai penerima. Penerima menerima pesan, kemudian menanggapi dan menyampaikan tanggapannya kepada pengirim pesan.

(27)

melalui media tertentu kepada penerima dalam konteks dan situasi tertentu untuk mencapai kebersamaan makna. Dalam kamus Umum Bahasa Indonesia (1990), dijelaskan bahwa Komunikasi adalah “pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami”.

Menurut Gilarso (1996: 44), Komunikasi adalah “suatu proses timbal balik antara dua orang atau lebih, di mana yang seorang memberi informasi dan yang lain terbuka untuk menerima informasi”. Syarat mutlak dalam berkomunikasi adalah yang satu mau bicara, membuka hati, dan yang secara jujur berani mengungkapkan keinginan-keinginan dan isi hatinya, sedangkan yang lain mau mendengarkan, mau menerima dan mau mengerti.

Selain itu Devito (1997: 23), mengemukakan bahwa “komunikasi mengacu pada tindakan oleh satu orang atau lebih, yang mengirim atau menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan, yang terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik”.

Lunandi (1989: 47), mengatakan bahwa “komunikasi adalah usaha manusia dalam hidup pergaulan untuk menyampaikan isi hati dan pikirannya, dan untuk memahami isi pikiran dan isi hati orang lain”.

(28)

lain. Dengan berkomunikasi, kita dapat mengungkapkan pikiran, isihati, ide atau pendapat, dan keinginan kita kepada orang lain.

Adapun fungsi dari sebuah komunikasi yakni: Pertama, dalam hidup pribadi: melalui komunikasi, kita dapat mengungkapkan perasaan dan gagasan kita, menjelaskan perasaan, isi pikiran dan perilaku kita sendiri, dan semakin mengenal diri sendiri. Kedua, dalam hubungan dengan orang lain: melalui komunikasi, kita dapat mengenal orang lain, menjalin perkenalan, persahabatan dengan orang lain, kita dapat bertukar pikiran, dan membuat rencana kegiatan bersama orang lain, dapat saling membantu dan mengubah sikap serta perilaku hidup bersama dengan orang lain (Hardjana, 2003: 21).

2. Pengertian Komunikasi Antar pribadi

Komunikasi antarpribadi merupakan suatu interaksi tatap muka antar dua orang atau beberapa orang, di mana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung, dan penerima pesan dapat menerima dan menanggapi secara langsung pula (Hardjana, 2003: 85).

(29)

sehingga dengan demikian kita dapat saling mengerti dengan hati dan saling mengerti isi hati kita masing-masing (Gilarso, 1996: 48).

Komunikasi antar pribadi merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kebahagiaan hidup kita. Sadar atau tidak, ada sejumlah kebutuhan di dalam diri manusia yang hanya dipuaskan lewat komunikasi dengan sesamanya. Salah satu segi yang paling membahagiakan dalam berkomunikasi dengan orang lain adalah kesempatan untuk saling berbagi perasaan atau pengalaman yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengalami dan saling berbagi perasaan, kita dapat menciptakan dan mempertahankan suatu relasi yang baik dengan sesama.

Dalam berkomunikasi antar pribadi, diperlukan suatu sikap terbuka, karena dengan keterbukaan hati, seseorang dapat mengerti dan memahami situasi yang dialami oleh sesama atau yang menjadi lawan bicara kita. Bagi kebanyakan orang, hal ini memang sulit atau tidak mudah untuk dilakukan, apalagi berhadapan dengan orang yang belum dikenalnya. Namun, ada juga yang dengan mudah untuk berkomunikasi, walaupun baru pertama kali mengenal seseorang. Hal ini tergantung dari kekuatan pribadi seseorang atau keterbukaan hati seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain. Keterbukaan hati, bukan hanya mengenai ungkapan perasaan atau pengalaman pribadi, tetapi juga keterbukaan hati untuk memulai menyapa atau berkomunikasi dengan orang lain.

(30)

Kalau kita merasa enak berbicara dengan orang yang bersifat terbuka, orang lain pun akan merasa enak berbicara dengan kita, kalau kita bersikap terbuka. Keterbukaan tidak hanya menyangkut keyakinan dan pendirian mengenai suatu gagasan, namun keterlibatan dalam berkomunikasi untuk menuju pertumbuhan melibatkan juga perasaan, seperti kecemasan, harapan, kebanggaan, kekecewaan.

Selain itu juga dalam berkomunikasi antar pribadi diperlukan suatu sikap saling percaya dan saling mendukung. Ketika ada kepercayaan, seseorang akan dengan bebas untuk mengungkapkan diri apa adanya. Menaruh kepercayaan, tidak hanya terhadap kekuatan kata-kata seseorang, tetapi juga pada sikap menerima dengan penuh kepercayaan terhadap sesama. Dengan kepercayaan yang ada, dapat menambah suatu keyakinan dan mempererat persahabatan kita dengan sesama. Kepercayaan mengikat hati untuk bersama-sama berpegang pada kebaikan yang mengecualikan mencari kepentingan diri sendiri (Harjana, 2001: 31).

Kepercayaan merupakan kunci dari sebuah persahabatan. Seseorang mampu membuka diri dalam berkomunikasi, kalau ada rasa saling percaya antara satu dengan yang lain. Pada situasi sekarang ini, ditemukan betapa banyak orang sulit untuk menaruh kepercayaan kepada orang lain, sehingga orang selalu berhati-hati untuk berkomunikasi atau membuka diri di dalam mengungkapkan perasaan maupun pengalaman suka duka yang dialaminya. Apalagi berhubungan dengan hal yang bersifat sangat pribadi, karena takut rahasianya diketahui oleh banyak orang.

Powell (1985: 15 ), membedakan komunikasi itu dalam lima taraf mulai dari taraf tertinggi sampai taraf terendah yaitu:

(31)

mengungkapkan diri tapi pengungkapan diri tersebut masih sebatas pada taraf pikiran. Taraf Kedua adalah taraf hati atau perasaan artinya orang mulai berani saling mengungkapkan perasaan dalam komunikasi maka hubungan kita itu terasa unik, berkesan, dan memberikan manfaat bagi perkembangan pribadi kita masing-masing. Taraf Pertama yakni hubungan puncak artinya komunikasi pada taraf ini ditandai dengan kejujuran, keterbukaan, dan saling percaya yang mutlak di antara kedua belah pihak. Dalam hal ini tidak ada lagi ganjalan-ganjalan berupa rasa takut maupun rasa kuatir.

Dedy Mulyana (2005: 70), mengemukakan bahwa komunikasi antar pribadi adalah “Komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun non verbal”. Secara verbal dalam hal ini dengan menggunakan kata-kata, baik lisan maupun tertulis. Melalui kata-kata kita dapat mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan atau maksud, menyampaikan fakta, data, dan informasi serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan dan pemikiran. Sedangkan secara non verbal yakni dengan isyarat lain yakni melalui bahasa tubuh, gerakan, ekspresi mata. Dalam kehidupan sehari-hari antara verbal dan non verbal, selalu berjalan bersama-sama dan sulit untuk dipisahkan. Ketika seseorang membisikkan kata-kata cinta, biasanya disertai dengan suara yang lembut, mata berbinar, wajah berseri, belaian tangan yang halus, dan lain sebagainya. Selain itu juga bentuk khusus dari komunikasi antarpribadi adalah komunikasi “diadik”, yang melibatkan hanya dua orang seperti suami-isteri, dua sejawat, dua sahabat dekat (Dedy Mulyana, 2005: 73).

Lunandi (1987: 34), mengemukakan bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi antara lain:

a. Citra diri: bagaimana manusia melihat dirinya sendiri dalam hubungan dengan manusia lain dalam situasi tertentu.

b. Citra pihak lain: bagaimana manusia melihat pihak yang diajaknya berkomunikasi.

(32)

d. Lingkungan sosial: keberadaan manusia-manusia lain sebagai penerima komunikasi maupun hanya hadir di sana. Lingkungan sosial yang saling mempengaruhi.

e. Kondisi: fisik, mental, emosi, kecerdasan.

f. Bahasa badan: gerakan-gerakan tubuh yang “berbicara tanpa kata-kata”.

Pengetahuan tentang komunikasi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, yang telah dipaparkan di atas, sebetulnya merupakan suatu penegasan dari apa yang kita lihat, kita rasakan, dan kita lakukan dalam kehidupan nyata setiap hari.

3. Peranan Komunikasi Antar pribadi

Komunikasi antarpribadi mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, karena dengan berkomunikasi yang baik, kita dapat mengetahui maksud dan tujuan dari lawan bicara yang kita hadapi. Jonhson, dalam Supratiknya (1981: 9), mengemukakan beberapa peranan komunikasi antarpribadi dalam menciptakan kebahagiaan bersama yakni:

a. Komunikasi antarpribadi membantu perkembangan intelektual dan sosial manusia. Perkembangan seseorang sejak masa bayi sampai pada masa dewasa mengikuti pola semakin meluasnya ketergantungan kita pada orang lain. Hal ini diawali dengan ketergantungan atau komunikasi yang intensif dengan ibu pada masa bayi, lingkaran ketergantungan atau komunikasi itu semakin luas dengan bertambahnya usia.

(33)

berkomunikasi dengan orang lain, kita dapat menemukan diri sendiri dengan segala keunikannya.

c. Perbandingan sosial dapat dilakukan lewat komunikasi dengan orang lain. Dalam rangka memahami realitas di sekeliling kita serta menguji kebenaran dan pengertian yang kita miliki tentang dunia yang ada di sekitar kita, kita perlu membandingkannya dengan kesan-kesan dan pengertian orang lain tentang realitas yang ada.

d. Kesehatan mental kita juga ditentukan oleh kualitas komunikasi atau hubungan kita dengan orang lain.

Melalui komunikasi antarpribadi, kita dapat berbicara dengan diri sendiri, mengevaluasi diri sendiri, meyakinkan diri sendiri, mempertimbangkan keputusan-keputusan yang akan diambil. Dengan komunikasi antarpribadi, kita dapat mengenal, membina, memelihara, dan memperbaiki hubungan pribadi dengan orang lain (Devito, 1997: 23).

4. Segi-Segi Komunikasi

a. Ketrampilan Dasar Komunikasi

Menurut Supratiknya (1981: 11), agar mampu memulai, mengembangkan, dan memelihara komunikasi yang akrab, hangat, dan produktif dengan orang lain kita perlu memiliki sejumlah ketrampilan yang menjadi dasar bagi kita dalam berkomunikasi dengan orang lain, yakni:

(34)

kita hadapi, termasuk kata-kata yang diucapkan atau perbuatan yang dilakukan oleh lawan bicara kita.

2) Kita harus mampu mengkomunikasikan perasaan kita secara tepat dan jelas. Dengan saling mengungkapkan pikiran-perasaan dan saling mendengarkan dengan penuh perhatian, kita memulai mengembangkan dan memelihara komunikasi yang baik dengan orang lain.

3) Kita harus mampu saling menerima dan saling memberi dukungan atau saling menolong. Dalam hal ini, kita harus mampu menanggapi keluhan orang lain dengan cara-cara yang bersifat menolong yakni dengan menunjukkan sikap memahami dan bersedia menolong sesama dengan memberi dukungan agar orang tersebut mampu memecahkan masalah yang dihadapinya.

4) Kita harus mampu memecahkan konflik dan bentuk-bentuk masalah antarpribadi yang mungkin muncul dalam komunikasi kita dengan orang lain secara konstruktif, artinya dengan cara-cara yang semakin mendekatkan kita dengan lawan bicara kita dan menjadikan komunikasi kita semakin bertumbuh dan berkembang.

b. Kiat-kiat Mempelajari Ketrampilan Komunikasi

Trampil dalam berkomunikasi bukan merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir dan juga tidak akan muncul secara tiba-tiba saat kita memerlukannya. Ketrampilan berkomunikasi ini dapat kita pelajari dengan mengikuti kiat-kiat menurut Supratiknya (1981:12) yakni:

(35)

2) Kita memahami arti ketrampilan berkomunikasi dan bentuk-bentuk perilaku komponennya untuk mewujudkan ketrampilan itu.

3) Kita harus rajin mencari atau menemukan situasi-situasi untuk dapat mempraktekkannya.

4) Kita Tidak boleh segan atau malu meminta bantuan dari orang lain untuk memantau usaha kita serta memberikan penilaian tentang kemajuan yang sudah kita capai maupun kekurangan yang masih kita miliki.

5) Kita tidak boleh bosan belajar atau berlatih. Dalam hal ini ketrampilan di dalam berkomunikasi harus kita praktikkan terus-menerus.

6) Ketrampilan berkomunikasi dengan seluruh komponen, harus terus-menerus kita latih dan praktikkan, sampai pada akhirnya menjadi bagian dari diri kita sendiri.

Dengan mempelajari kiat-kiat ketrampilan dalam berkomunikasi tersebut mengajak kita sebagai pribadi untuk terus-menerus berlatih dan mempraktekkannya dalam kehidupan kita sehari-hari untuk dapat membangun sikap saling percaya, mengungkapkan pikiran secara jelas, mendengarkan, serta mampu memahami sesama yang menjadi lawan bicara kita. Memang, untuk mempelajari kiat-kiat keterampilan dalam berkomunikasi tidak selamanya dengan mudah untuk dilakukan, namun membutuhkan waktu dan kesadaran dari setiap orang untuk terus-menerus berlatih dan mempraktekkannya dalam hidup. Hal ini tentu terlebih dahulu harus dimulai dari dalam diri sendiri.

5. Pelancar dan Penghalang Komunikasi

(36)

a. Pelancar Komunikasi

Suatu komunikasi yang baik akan membantu kita untuk lebih memahami dan mengerti sesama yang menjadi lawan bicara kita. Segala komunikasi dalam bentuk apapun akan menjadi baik dan lancar apabila:

1) Mendengarkan pasif/diam; dengan diam, sipemilik masalah diajak untuk mengungkapkan masalahnya, diberi kesempatan untuk mengalami proses katarsis dan meluapkan/mengungkapkan perasaan/emosinya, didorong untuk menggali perasaan-perasaannya lebih dalam ditunjukkan bahwa dia diterima.

2) Tanggapan pengakuan-penerimaan; isyarat-isyarat verbal dan non verbal yang menunjukkan bahwa sungguh-sungguh mendengarkan dengan penuh perhatian. 3) Ajakan untuk melanjutkan: membuka pintu atau mengundang/mengajak untuk

berbicara lebih banyak.

4) Mendengarkan aktif. Manfaat mendengarkan aktif mendorong terjadinya katarsis; menolong orang untuk tidak takut terhadap perasaan-perasaan negatif, mengembangkan hubungan yang hangat/intim, memudahkan pemecahan masalah, mempengaruhi orang untuk mau mendengarkan pendapat orang lain.

b. Penghalang Komunikasi

Komunikasi merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kehidupan kita, namun di dalam kehidupan sehari-hari sering adanya sikap yang menjadi penghalang untuk berkomunikasi atau berelasi dengan sesama antara lain:

1) Memerintah atau mengarahkan, mengatakan kepada penerima / lawan bicara untuk mengerjakan sesuatu, memberikan perintah.

(37)

3) Mendesak, memberi kotbah, mengatakan harus atau boleh dilakukan.

4) Menasehati, memberi penyelesaian, atau saran-saran, mengatakan bagaimana menyelesaikan suatu masalah, memberi nasehat atau saran-saran, menyediakan jawaban atau penyelesaian-penyelesaian bagi masalah penerima.

5) Memberi kuliah, mengajari, memberi alasan-alasan logis, berusaha mempengaruhi penerima dengan fakta-fakta kontra argumen, logika, informasi atau pendapat-pendapat pribadi.

6) Menilai, mengeritik, tidak setuju, menyalahkan, membuat penilaian negatif atau memberi pendapat negatif.

7) Menghindar, mengalihkan perhatian, menertawakan, membelokkan, berusaha menjauhkan penerima dari masalahnya, menarik diri dari persoalan, mengalihkan perhatian, mengolok-olokkan, mengesampingkan masalah.

Sebagai manusia yang normal, perlu berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi antar pribadi menjadi suatu hal yang penting, kalau kita terbuka untuk mengungkapkan diri kita kepada sesama, sehingga sesama dapat mengetahui situasi dan keadaan yang sedang kita hadapi. Dalam menjalin komunikasi, tentu tidak selamanya lancar-lancar saja sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masing-masing pribadi, tetapi ada juga hal-hal yang menghambat ketika kita berkomunikasi dengan orang lain misalnya: kurang mendengarkan sesama, cenderung untuk menasehati atau mengarahkan, ketika sesama mensharingkan pengalaman hidupnya.

6. Peranan komunikasi melalui media

(38)

yang dasar adalah : “pribadi manusia dan komunitas umat manusia adalah tujuan dan ukuran dari penggunaan dari media komunikasi sosial yakni komunikasi harus pribadi-pribadi, ditujukan kepada pribadi-pribadi, dan demi pribadi-pribadi itu seutuhnya”.

Media komunikasi mempunyai nilai positif bagi setiap pribadi yakni orang semakin mudah, cepat, dan murah untuk berkomunikasi. Dengan telpon atau email, seseorang bisa berkomunikasi dengan mudah, cepat, dan murah dengan orang lain yang berada di belahan dunia yang lain. Namun, dibalik hal-hal yang positip terdapat juga hal-hal yang negatip dari penggunaan media yang ada yakni: seseorang menjadi terisolasi dengan hal-hal yang ada disekilingnya karena terlalu sibuk dengan Hpnya. Ditengah kerumunan orang banyak, seseorang bisa menyibukan diri dengan SMS.

Yohanes Paulus II dalam pesannya pada hari komunikasi sedunia ke-39, mengatakan demikian: ”Teknologi modern memberikan kepada kita kemungkinan dan peluang yang tiada tara untuk perbuatan-perbuatan baik, untuk menyebarkan kebenaran keselamatan Yesus Kristus serta untuk memelihara harmoni dan rekonsiliasi. Namun demikian penyalahgunaan bisa membawa kerugian yang tak terperikan, dengan menimbulkan salah pengertian, prasangka-prasangka buruk, bahkan konflik.” Pesan Paus ini, mengajak kita untuk mampu menggunakan media yang ada sesuai dengan tujuan dan fungsinya, yang mengarahkan kita kepada perbuatna-perbuatan yang baik bukan sebaliknya.

Seran (1981: 25), mengemukakan bahwa ada dua hal negatif dari penggunaan media komunikasi yang ada yakni:

a) Putusnya hidup manusia dari dunianya

(39)

yang positif, memudahkan manusia, ada bahaya yakni hilangnya tekstur atau karakter manusiawi tertentu dalam hidup kita. Kita akan semakin sedikit terlibat dalam kemanusiaan kita karena adanya lembaga, prosedur atau sistem/jaringan. Kita akan menghabiskan waktu untuk menyesuaikan diri dengan aturan-aturan, darpada terlibat dalam dialog. Dengan demikian kontak dalam proses komunikasi antara individu di gantikan dengan sistem/peralatan/birokrasi. Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, kreativitas manusia semakin sedikit karena orang cukup menekan tombol.

b) Manusia terisolir dengan sesamanya

Komunikasi dengan menggunakan media, pesan atau informasi yang datang diterima dan pergi (diterima dan dikirim), mengalir kesana kemari tanpa perjumpaan fisik antara individu-individu yang berkomunikasi. Komunikasi bukan lagi sebuah kontak antara individu-individu secara langsung. Model komunikasi seperti ini yang terpenting di dalamnya bukan person atau subyek yang berkomunikasi, melainkan pertama-tama adalah pesan atau informasi yang diterima dan dikirim.

Berikut ini, akan dibicarakan mengenai keluarga Kristiani, yang di dalamnya akan mendeskripsikan tentang pengertian keluarga pada umumnya dan pengertian keluarga kristiani, tantangan-tantangan aktual dalam membangun keluarga kristiani yang harmonis serta komunikasi antarpribadi dalam keluarga.

B. Keluarga Kristiani

(40)

1. Pengertian Keluarga

Di dalam masyarakat umum telah banyak dikenal berbagai macam istilah tentang keluarga. Menurut kamus besar bahasa Indonesia dinyatakan: “Keluarga diartikan sanak saudara, kaum kerabat, orang seisi rumah.” Dengan kata lain keluarga adalah siapa saja yang tinggal di dalam lingkungan rumah tangga.

Purwa Hadiwardoyo (2006: 3), membagi pengertian tentang keluarga menjadi dua bagian yaitu: “Keluarga inti dan keluarga besar”. Keluarga inti merupakan kelompok orang-orang yang mempunyai hubungannya yang erat sekali dan jumlahnya sedikit yang meliputi ayah, ibu, dan anak-anak mereka. Sedangkan dalam keluarga besar merupakan kelompok orang-orang yang mempunyai hubungan yang akrab satu sama lain karena adanya hubungan darah atau ikatan perkawinan yang meliputi semua sanak saudara: kakek, nenek, suami-istri, anak-anak, cucu, cicit, keponakan, bibi, paman, dan sebagainya. Jadi, yang termasuk keluarga besar meliputi semua orang yang bergantung pada kelompok sanak saudara di dalam satu keturunan.

Dalam Perjanjian Baru, istilah keluarga terdiri dari dua kata yakni: “Patria dan Oikos”. Patria berarti keluarga dari sudut pandang relasi historis seperti garis keturunan (Luk 2: 4) “Yusuf berasal dari keluarga dan keturunan Daud”. Sedangkan Oikos dimengerti sebagai keluarga dalam arti rumah tangga. Perjanjian Baru juga mengakui peran penting keluarga dalam memelihara iman. Gereja yang hidup itu tumbuh dalam keluarga yakni dalam pengajaran Injil di rumah-rumah (Kis 5 : 42), dalam baptisan ( Kis 2 : 15 ), dan dalam pemecahan roti (Kis 2: 46).

2. Pengertian Keluarga Kristiani

(41)

kehidupan bersama dan pengadaan keturunan. Maka hidup berkeluarga pada hakekatnya merupakan sebuah panggilan. Dikatakan sebagai panggilan karena sepasang manusia, laki-laki maupun perempuan yang telah lama saling mengenal dan mengambil keputusan untuk menikah pada saat itu mengambil sebuah sikap dengan meninggalkan keluarga mereka untuk membentuk kehidupan baru bersama diantara keduanya (Mat 19: 5). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan lingkungan sosial dalam konteks yang sempit di mana dalam keluarga itu terdiri dari beberapa anggota yang berinteraksi satu sama lain

Suatu keluarga pada umumnya terbentuk karena adanya rasa cinta kasih yang mendalam hingga mampu mempribadi dalam keduanya. Dalam kehidupan keluarga, dasar kesatuan hidup perlu dimiliki dan dikembangkan baik dalam masyarakat umum maupun masyarakat Gerejani. Jika dilihat dalam lingkup gereja dikenal keluarga Kristiani atau keluarga Katolik. Oleh sebab itu keluarga Kristiani dinyatakan dan dibentuk oleh ikatan kasih seorang laki-laki dan perempuan yang dikasihi Tuhan dan terikat dalam sakramen Perkawinan. Keluarga, yang didasarkan pada cinta kasih serta dihidupkan olehnya merupakan suatu persekutuan dari pribadi-pribadi yakni suami dan isteri, orangtua dan anak-anak, sanak-saudara. Tugasnya yakni: dengan setia menghayati persekutuan, disertai usaha terus menerus untuk mengembangkan rukun hidup yang otentik antara pribadi-pribadi.

(42)

dalam cinta kasih. Maka keluarga memiliki perutusan untuk menjaga, menyatakan dan menyampaikan cinta kasih, dan ini merupakan pencerminan hidup dan partisipasi nyata dalam kasih Allah kepada bangsa manusia dan kasih Kristus kepada gereja mempelaiNya (FC, art. 46-47).

Dalam keluarga Kristiani perlu diusahakan suatu komunikasi timbal balik, di mana anggota keluarga memberikan atau membagikan pengalaman iman dalam sharing serta bersama-sama membangun doa bersama, sehingga lama kelamaan akan tercipta kehidupan yang diharapkan oleh gereja. Selain itu identitas keluarga kristiani adalah sebagai “Persekutuan hidup dan cinta”(GS, art. 48). Ia dipersatukan karena cinta; cinta kepada Allah dan kepada sesama anggota keluarga. Lebih dari itu karena Allah yang selalu mencintai umat-Nya termasuk keluarga-keluarga kristiani. Oleh karena cinta merupakan dasar dan tujuan keluarga, maka keluarga harus memperkembangkan cinta tersebut, agar dapat bertumbuh menjadi komunitas antarpribadi yang saling mencintai (FC, art.18).

(43)

dengan menghormati, taat dan bertanggungjawab atas kebebasan yang diberikan oleh orangtua untuk mengembangkan diri.

Hidup secara Kristiani, memang tidak mudah, karena kesempurnaan Kristiani harus dilengkapi dengan tuntutan radikal dari Injil yakni menerjemahkan ajaran cintakasih kepada Tuhan dan sesama ke dalam perbuatan-perbuatan konkrit sehari-hari, baik di rumah, di kantor, di sekolah atau di tempat kerja lainnya, bahkan di jalan dan di tempat rekreasi. Di dalam dan melalui berbagai medan keterlibatan-keterlibatan duniawi itulah, spiritualitas manusia dapat berkembang (Konseng, 1994: 97).

Segala perbuatan-perbuatan belas kasih yang dapat kita lakukan mempunyai nilai yang tinggi dalam hidup Kristiani kita. Sesungguhnya Kristus pada kedatangan-Nya yang kedua (pengadilan terakhir) akan mengadili dunia menurut ukuran perbuatan kasih itu (Mat 25:31-46). Pesan Tuhan, melalui Injil Matius ini, meminta kita untuk mempertanggungjawabkan karunia-karunia dan karisma-karisma yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita masing-masing sebagai pribadi. Semangat saling mencintai satu sama lain dan membiasakan hidup dalam cinta kasih dalam keluarga merupakan suatu langkah yang tepat bagi kita, guna membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera.

3. Tantangan-tantangan aktual dari Lingkungan Keluarga

(44)

a. Tantangan dari keluarga Besar

Dalam Nota Pastoral KAS (2007: 14), dikatakan bahwa keluarga besar sebenarnya merupakan suatu sumber dukungan dan kesejahteraan bagi keluarga inti. Seluruh keluarga besar dapat memberikan dukungan kepada salah satu anggotanya yang sedang berada dalam keadaan yang lemah secara psikis, hal ini dirasakan untuk memberikan penguatan dan peneguhan kepada keluarga. Seluruh keluarga besar juga bisa memberikan bantuan berupa finansial kepada salah satu anggotanya yang sedang dalam kesulitan, dengan memberikan pinjaman atau melalui pemberian yang tulus. Saling memberi dan menerima merupakan suatu hal yang paling baik di dalam kehidupan manusia khususnya di dalam hidup berkeluarga.

Namun segalanya akan menjadi suatu tantangan, karena anggota keluarga besar terlalu mencampuri urusan rumah tangga keluarga inti atau keluarga besar campur tangan terlalu jauh pada urusan keluarga inti, sehingga keluarga inti merasa tidak bebas untuk mengembangkan diri atau tidak bisa mengatur rumah tangganya sendiri, karena selalu dikontrol oleh keluarga besar dan juga membuat keluarga inti menggantungkan diri pada keluarga besar.

b. Tantangan dalam Keluarga Inti

Berdasarkan angket Keuskupan Agung Semarang tahun 2006, terdapat beberapa tantangan dalam keluarga inti yakni:

1) Tantangan dalam relasi antara suami dan istri: ™ Kurangnya transparansi antara suami dan istri. ™ Kurangnya komunikasi antara suami dan istri. ™ Kurangnya kesetiaan suami/istri bagi pasangannya.

(45)

™ Adanya dominasi suami/istri atas pasangannya.

™ Adanya tindak kekerasan suami/istri terhadap pasangannya.

2) Tantangan dalam hal penghayatan iman

™ Kurang kuatnya iman semua / sebagian anggota keluarga.

™ Kurangnya kemampuan orang tua dalam mengembangkan iman anak-anak mereka.

™ Kurangnya kemampuan keluarga menghadapi arus global yang sekularistik.

3) Tantangan dalam hal relasi antara orang tua dan anak-anaknya. ™ Kurangnya keakraban antara orangtua dan anak-anak mereka.

™ Ketidakpuasan anak-anak terhadap sikap atau kondisi orangtua mereka. ™ Ketidakpuasan orangtua terhadap sikap atau kondisi anak-anak mereka.

(46)

hubunganku dengan orang tersebut sebagai hubungan pribadi. Dan hubungan inilah yang akhirnya membisikkan suatu panggilan dalam diri sendiri untuk semakin mencintai orang lain.

Setiap tantangan dan pergulatan hidup dalam membangun sebuah keluarga yang harmonis selalu menarik bagi setiap insan. Dikatakan menarik, karena dengan melalui tantangan-tantangan yang ada mengajak setiap pribadi khususnya bagi setiap anggota keluarga untuk semakin membenah diri, menata kembali setiap kekurangan-kekurangan dalam hidup berkeluarga kearah yang lebih baik demi membangun sebuah keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Sebagai keluarga Kristiani, kita harus mendasarkan cinta kita pada cinta Kristus sendiri sebagai sang cinta sejati. Kristuslah yang menjadi pusat hidup kita dan menjadi sumber relasi suami-isteri yang diteguhkan dalam sakramen perkawinan. Perkawinan kristiani dipahami sebagai sesuatu yang kudus, mulia dan dibangun atas dasar kasih yang murni dan ikhlas. Oleh karena itu, dalam kehidupan berkeluarga, perlu memupuk sikap saling menerima satu sama lain, sikap percaya, saling setia dalam setiap peristiwa hidup, saling mengasihi, saling melayani, saling terbuka, dan saling meneguhkan dalam situasi krisis, saling mendukung dalam perkembangan fisik, intelektual, serta emosional.

(47)

memperumit relasi atau bahkan mengakhiri keharmonisan keluarga yang berpuncak pada perceraian.

Veerbeek (1973: 25), dalam buku yang berjudul “Dalam Kuasa Cinta; Ringkasan Ajaran Yohanes dari Salib Tentang Cara Mencari Persatuan

DenganTuhan”, mengatakan demikian:

Masuklah ke dalam lubuk hati pasanganmu, lakukan sesuatu di hadapannya yang selalu hadir dan senantiasa mencintaimu dengan cinta yang tulus ikhlas. Dalam dirinya engkau menemukan suatu harta, sukacita, kepuasan, serta suatu kerajaan yang tak pernah akan engkau dapatkan di dunia ini. Dia adalah sosok yang sangat engkau cintai, yang selalu dicari dan diinginkan oleh jiwamu. Bergembiralah dan bersukacitalah bersamanya dalam hatimu.

Dari kutipan tersebut di atas, mau menggambarkan suatu bentuk relasi suami-isteri yang dilandasi oleh cinta. Cinta Allah yang tak terbatas senantiasa merangkum suami-isteri dalam setiap peristiwa hidup baik dalam suka maupun dalam duka. Inilah suatu kebenaran yang tak dapat disangkal bahwa sejak semula Allah telah mencintai kita. Karena itu, bersama pasangannya harus berusaha untuk masuk kekedalaman hati, untuk berjumpa dengan Tuhan dan merubah cinta yang dimiliki dengan cinta yang tak terbatas, seperti Cinta Allah sendiri. Dengan demikian, keharmonisan yang dibangun merupakan perwujudan suatu ekspresi penuh makna dari sebuah cinta sejati.

Maka, untuk dapat menciptakan keluarga yang harmonis dan bahagia, perlu adanya komunikasi antar pribadi-pribadi dalam keluarga, baik antara suami dan istri, maupun antara orang tua dan anak-anak. Relasi komunikasi yang baik membuat keluarga menjadi sangat bahagia dan menjadikan sebuah keluarga yang harmonis.

Oleh karena itu, Purwa Hadiwardoyo (2006: 9), merumuskan beberapa segi yang berhubungan dengan relasi komunikasi antara orang tua dan anak-anak yakni:

(48)

hal ini penting bagi anak-anak yang sudah mulai mampu berpikir. Mereka sering diajak untuk bertukar pikiran dengan orangtua. Janganlah mereka diperlakukan seolah-olah mereka tidak mampu berpikir. Segi ketiga adalah relasi pada tingkat kehendak atau kemauan. Tidak jarang terjadi bahwa orangtua memaksakan kehendak kepada anak-anak mereka, karena merasa lebih tua dan lebih berpengalaman. Hal ini terjadi karena orangtua kurang memahami kebutuhan dan keinginan anak-anak mereka. Padahal, sebagai pribadi yang berkehendak bebas, setiap anak mempunyai kehendak dan kemauan sendiri, dan anak akan merasa tidak bahagia, bila orang lain memaksakan kehendak atas dirinya.

Dari uraian di atas, mau menegaskan bahwa betapa pentingnya komunikasi antarpribadi dalam keluarga. Segala tantangan dan kesulitan dalam keluarga pasti bisa diatasi kalau ada relasi komunikasi yang baik dalam keluarga, baik antara suami dan istri, maupun orangtua dan anak-anak. Komunikasi dalam hal ini bukan terjadi hanya satu arah saja, tetapi lebih ditekankan pada komunikasi dua arah atau lebih atau komunikasi timbal balik yang melibatkan semua anggota keluarga. Selain itu juga dalam kehidupan berkeluarga, diperlukan suatu sikap keterbukaan dari orangtua untuk mendengarkan pendapat atau pemikiran dari anak-anak, sehingga dengan demikian anak-anak merasa bahwa mereka dihargai dan dilibatkan dalam setiap pergulatan hidup berkeluarga.

(49)

4. Peranan Keluarga Kristiani.

Keluarga merupakan persekutuan hidup dan kasih yang mesra antara suami-istri, yang diadakan oleh sang pencipta dan dikukuhkan dengan hukum-hukumnya, dibangun oleh janji pernikahan atau persekutuan pribadi yang tak dapat ditarik kembali. Bertolak dari cinta kasih yang ada, maka Sinode terakhir menekankan bahwa, ada empat tugas umum bagi keluarga yakni:

a. Membentuk persekutuan pribadi-pribadi

Keluarga yang didasarkan pada cintakasih serta dihidupkan olehnya merupakan persekutuan pribadi-pribadi: suami dan isteri, orangtua dan anak-anak, sanak-saudara. Tugas utamanya adalah: dengan setia menghayati kenyataan persekutuan, disertai usaha terus-menerus untuk mengembangkan hidup rukun yang otentik antara pribadi-pribadi (FC, art. 18). Di dalam kehidupan berkeluarga, kalau tanpa ada rasa cintakasih, keluarga bukanlah rukun hidup antar pribadi dan tanpa cintakasih pula, keluarga tidak dapat hidup, berkembang atau menyempurnakan diri sebagai persekutuan pribadi-pribadi.

b. Mengabdi kepada kehidupan

(50)

mewujudkan secara konkrit dalam sejarah berkat Sang Pencipta pada awal mula, yakni: melalui prokreasi (pengadaan keturunan) menyalurkan gambar ilahi dari pribadi ke pribadi (Kej 5: 1-3).

c. Ikut serta dalam pengembangan masyarakat

Oleh karena Pencipta alam semesta telah menetapkan persekutuan suami-isteri menjadi asal mula dan dasar masyarakat manusia, maka keluarga merupakan “sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat”(FC, art. 42). Pada dasarnya, keluarga mempunyai ikatan vital dan organis dengan masyarakat dan berusaha untuk terus-menerus mengembangkannya melalui peranan pengabdian kepada kehidupan konkrit sehari-hari.

d. Berperan serta dalam kehidupan dan misi Gereja.

Keluarga dipanggil untuk secara aktif dan bertanggung jawab untuk ikut serta dalam menjalankan perutusan Gereja dengan cara yang asli dan istimewa, yakni dengan membawakan diri dalam kenyataan maupun kegiatannya sebagai “persekutuan mesra kehidupan dan cintakasih”, dalam pengabdian kepada Gereja dan masyarakat (FC, art. 50). Keluarga Kristen itu harus rukun hidup, tempat hubungan-hubungan diperbaharui oleh Kristus melalui iman dan Sakramen-sakramen. Maka, peran serta keluarga dalam misi Gereja harus mengikuti pola persekutuan. Jadi, hendaklah suami-istri serentak sebagai pasangan, orangtua beserta anak-anak selaku keluarga, menghayati pengabdian mereka kepada Gereja dan dunia melalui kesaksian hidup nyata sehari-hari.

(51)

pendidikan bagi anak-anak mereka. Kewajiban untuk memberikan pendidikan kepada anak selalu berakar pada panggilan utama orangtua yang karena perkawinan, mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah.

Dalam Nota Pastoral KAS 2007, dikatakan bahwa Gereja mempunyai harapan-harapan terhadap keluarga-keluarga Katolik antara lain:

1) Keluarga Menjadi Gereja Kecil

Dalam hal ini Gereja berharap agar semua anggota keluarga Katolik berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan keluarga mereka sebuah Gereja kecil, sebuah paguyuban umat beriman. Harapan Gereja tersebut antara lain diungkapkan secara jelas oleh Paus Yohanes Paulus II, dalam seruan Apostolik Familiaris Consortio art. 49- 64 yakni:

a) Keluarga yang guyub; suatu keluarga hidup rukun dan selalu hidup bersatu. Keluarga Katolik dikatakan layak disebut Gereja kecil, apabila keluarga itu diwarnai oleh suasana hidup rukun, sehingga dapat mewujudkan sebuah comumunio yakni komunitas yang rukun dan akrab berdasarkan sikap hormat dan

kasih, bukan dalam suasana emosional yang tak terkendali.

(52)

2) Keluarga Menjadi Komunitas Hidup dan Kasih

Gereja mengharapkan bahwa keluarga menjadi komunitas kehidupan dan Kasih, yang ditandai oleh sikap hormat dan syukur terhadap anugerah kehidupan serta kasih timbal balik dari semua anggota keluarganya. Harapan Gereja ini terungkap dalam Gaudium et Spes dan seruan Apostolik Familiaris Consortio yakni:

a) Keluarga dijadikan Komunitas Kehidupan; dalam hal ini diharapkan bahwa umat beriman hendaklah memandang dan menghayati kehidupan sebagai anugerah Allah, yang pantas dihormati dan disyukuri di dalam kehidupan sehari-hari (GS, art. 48).

b) Keluarga dijadikan Komunitas Kasih; dalam hal ini setiap orang beriman, dipanggil dan diutus untuk mengasihi segala sesuatu dan mengasihi sesama seperti dirinya sendiri. Selain itu juga semua anggota keluarga dipanggil untuk saling mengasihi dengan kemesraan, dan diutus untuk mengasihi semua orang terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir/terlantar (FC, art. 17-41).

3) Keluarga menjadi “komunitas mistik”

(53)

Segala harapan-harapan Gereja akan terwujud, kalau masing-masing keluarga mampu untuk bersikap terbuka terhadap satu sama lain, terutama di dalam anggota keluarga sendiri. Selain itu juga perlu adanya komunikasi antara pribadi-pribadi dalam keluarga, sehingga dapat saling mengerti dan saling memahami satu sama lain di dalam kehidupan berkeluarga.

5. Komunikasi Antar pribadi Dalam Keluarga

Komunikasi antarpribadi dalam keluarga merupakan suatu hal yang penting, yang perlu dilakukan dan dihidupkan oleh kaum keluarga. Komunikasi yang dimaksudkan di sini adalah komunikasi tatap muka, karena dengan komunikasi tatap muka, kita dapat mengetahui sikap dan tingkah laku seseorang, merasakan dan menangkap pesan yang diungkapkan oleh seseorang.

(54)

kehancuran keluarga yang berupa perceraian. Semuanya ini terjadi antara lain akibat dari kurang terjalinnya komunikasi antarpribadi dalam hidup berkeluarga.

Ada begitu banyak pola komunikasi yang membatasi kemungkinan terjalinnya keterbukaan dan keintiman di dalam kehidupan berkeluarga, yang mana antara suami-istri tidak benar-benar membicarakan banyak hal. Semuanya ini terjadi karena salah satu dari keduanya tidak pernah belajar bagaimana cara berbicara, atau mungkin ia tidak pernah belajar memberi kesempatan kepada pasangannya untuk berbicara dan cenderung untuk menguasai pembicaraan. Sikap yang demikian dapat menjadi suatu penghalang di dalam berkomunikasi dengan sesama (Norman Wright, 2004: 25).

Ia juga mengatakan bahwa di dalam kehidupan berkeluarga terdapat beberapa hal yang menjadi penghalang komunikasi antarpribadi antara lain:

a. Menghindari topik pembicaraan; sikap ini sering dipakai di dalam kehidupan manusia, di mana secara terus terang dan terbuka, kita menolak untuk membicrakan topik pembicaraan yang disodorkan dan dengan cepat kita beralih ketika melihat tanda-tanda yang akan mengarah ke topik itu, atau kita hanya menanggapi topik dengan sikap dingin sampai pembicaraan terhenti.

b. Menanggapi seadanya; di mana pertanyaan-pertanyaan yang diajukan hanya dijawab dengan singkat.

c. Memutarbalikkan pembicaraan, yakni mengemukakan atau memperdebatkan hal-hal yang sebenarnya tidak relevan.

d. Mematikan topik pembicaraan, hal ini terjadi jika seseorang membicarakannya secara berlebihan.

(55)

f. Mengalihkan pembicaraan; yakni mengubah arah pembicaraan sebelum masalah yang tak ingin dibicarakan itu dikemukakan.

Orang yang mengalihkan pembicaraan merupakan orang yang sedang berusaha untuk menghindari tanggung jawabnya. Ia ingin menghindari suatu pertentangan di dalam kehidupan bersama, khususnya di dalam kehidupan berkeluarga. Mengalihkan topik pembicaraan, bukanlah sikap yang sehat, namun dapat menghancurkan proses komunikasi yang sehat di dalam kehidupan berumahtangga. Berikut ini ada 3 (tiga) cara untuk mengatasi kesulitan ini:

1) Tetaplah pada topik yang dibicarakan dan tunjukkan sikap bahwa Anda bersedia membicarakan topik tersebut pada kesempatan lain. “Baiklah, akan kita bahas masalah itu nanti, sekarang mari kita teruskan pembicaraan yang tadi” (Norman Wright, 2004: 127).

2) Jangan menanggapi usahanya untuk mengalihkan pembicaraan, mintalah ia mencari jalan keluar yang membangun untuk situasi yang sedang Anda diskusikan.

3) Tanggapilah topik pembicaraan yang dimunculkan, tetapi setelah itu kembalilah ke topik semula. Hal ini menunjukkan Anda memperhatikan dan mengerti perasaannya, tetapi Anda juga tidak mengabaikan hal yang memang perlu dibicarakan.

Gilarso, (1996: 44) mengatakan bahwa agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik dalam hidup berkeluarga, maka diperlukan suatu suasana yang mendukung antara lain:

(56)

b) Masalah-masalah yang menyangkut kepentingan keluarga mesti dirundingkan bersama, sampai tercapai mufakat atau paling tidak saling pengertian. Misalnya tentang ekonomi keluarga, hubungan dengan orang tua atau famili, pekerjaan, pendidikan anak, kegiatan dalam masyarakat.

c) Kunci dan syarat mutlak komunikasi adalah kerelaan dan kemampuan untuk mendengarkan. Mendengarkan berarti tidak hanya membuka telinga untuk apa yang dikatakan, tetapi lebih dari itu yakni membuka hati untuk siapa yang bicara.

Komunikasi antarpribadi antara suami-istri, harus dilakukan demi relasi, bukan untuk memenangkan. Dalam komunikasi suami-istri, yang bisa dibuat dan bisa dilaksanakan dengan baik, hanya melalui membuka diri, sehingga pasangan dapat mengenal siapa aku, harapan-harapan, keinginan-keinginan, kecemasan-kecemasan, dan kebutuhan-kebutuhanku (Subianto, 2003: 83).

Menurut Norman Wright ( 2004: 146), agar dapat terciptanya suatu relasi komunikasi antarpribadi yang baik dalam keluarga, diperlukan beberapa pedoman dalam berkomunikasi antara lain:

(1) Sapalah pasangan Anda setelah berpisah (meski beberapa jam) dengan senyuman, kata-kata yang menyenangkan, kata-kata pujian, humor, menceritakan pengalaman yang menarik atau keberhasilan yang dicapai dalam sehari itu.

(2) Sisihkan waktu untuk transisi, setelah lelah bekerja atau setelah mengadakan kegiatan yang menimbulkan stres.

(57)

(4) Sisihkan waktu khusus yang disepakati bersama setiap hari untuk mengetengahkan hal-hal yang berkenaan dengan pengambilan keputusan, urusan keluarga, perbedaan pendapat, dan beberapa masalah.

(5) Dalam pengambilan keputusan, berusahalah untuk mencapai pemecahan yang spesifik.

(6) Sisikan waktu sedapat mungkin setiap hari untuk mengadakan percakapan ringan, misalnya membagikan pengalaman masing-masing dalam keseharian, baik antara suami-istri maupun terhadap anak-anak.

(7) Jangan menyalahkan pasangan Anda atau anggota keluarga Anda. (8) Hindari pembicaraan tentang sesuatu hal yang terjadi masa lalu. (9) Jangan berdebat hanya karena hal-hal yang sepele.

Segala pedoman komunikasi di atas, hanya sebagai patokan untuk menciptakan suatu komunikasi atau relasi yang baik dalam kehidupan berkeluarga. Kehidupan Keluarga akan menjadi baik dan harmonis, kalau ada sikap saling terbuka di antara anggota keluarga. Dengan adanya sikap ini, diharapkan setiap anggota keluarga bersedia saling mendengarkan dan menghargai.

(58)

C. Fokus Penelitian

Komunikasi antarpribadi atau komunikasi tatap muka merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia khususnya dalam kehidupan berkeluarga. Dengan komunikasi antarpribadi, seseorang dapat mengungkapkan pengalamannya atau mengungkapkan perasaannya dari hati ke hati dan disana terjadi suatu perjumpaan dari hati ke hati. Pada zaman sekarang, ada begitu banyak alat komunikasi seperti HP, internet, e-mail, untuk mempermudah seseorang berhubungan dengan orang lain baik jarak dekat maupun dalam jarak yang jauh. Dalam penelitian ini, penulis memfokuskan pada pentingnya komunikasi antarpribadi atau komunikasi secara langsung dalam kehidupan berkeluarga bagi para keluarga di lingkungan Bartolomeus Babarsari Yogyakarta.

D. Pertanyaan Penuntun

a. Menurut pemahaman anda, apa itu komunikasi antarpribadi?

b. Apa manfaat dari sebuah komunikasi dalam kehidupan berkeluarga?

c. Menurut pengalaman anda, bagaimana cara mengatasi konflik atau permasalahan di dalam kehidupan berkeluarga?

d. Menurut pengalaman anda, adakah faktor-faktor pendukung pelaksanaan komunikasi antarpribadi dalam keluarga?

e. Menurut pengalaman anda, adakah faktor-faktor penghalang pelaksanaan komunikasi antarpribadi dalam keluarga?

f. Menurut pengalaman anda, manakah hal-hal positif dari media komunikasi?

(59)

BAB III

GAMBARAN SITUASI KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DALAM KEHIDUPAN BERKELUARGA DI LINGKUNGAN BARTOLOMEUS

BABARSARI PAROKI BACIRO YOGYAKARTA

Komunikasi antar pribadi dalam keluarga merupakan suatu hal yang sangat penting demi terwujudnya keluarga yang bahagia dan harmonis. Dengan komunikasi antar pribadi dalam keluarga, baik antara suami-isteri, maupun antara orang tua dan anak-anak, dapat menjadikan sebuah keluarga yang sejahtera.

Melihat bahwa komunikasi antar pribadi dalam keluarga sangat penting, maka dalam bab III ini penulis akan menguraikan tentang situasi keluarga dalam menciptakan komunikasi antar pribadi, dalam hal ini komunikasi tatap-muka dalam keluarga. Uraian ini dibagi dalam tiga bagian. Pertama akan mengenai persiapan penelitian, yang meliputi permasalahan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian. Kedua, mengenai metodologi penelitian yang meliputi pendekatan penelitian, tempat dan waktu penelitian, responden penelitian, teknik pengumpulan data dan instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, dan keabsahan data. Ketiga, mengenai hasil penelitian, pembahasan penelitian, dan kesimpulan penelitian.

A. Persiapan Penelitian 1. Permasalahan Penelitian

a. Sejauhmana pemahaman keluarga tentang arti komunikasi antar pribadi dan manfaat dari komunikasi antarpribadi?

(60)

c. Adakah faktor-faktor pendukung dan penghalang dalam menjalin komunikasi antarpribadi dalam keluarga?

d. Adakah hal-hal positif dan hal-hal negatif dari komunikasi melalui media?

2. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui pemahaman keluarga tentang komunikasi antar pribadi dan manfaat komunikasi antarpribadi dalam kehidupan berkeluarga?

b. Untuk mengetahui situasi komunikasi antar pribadi dalam kehidupan berkeluarga.

c. Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam menjalin komunikasi dalam keluarga.

d. Untuk mengetahui hal-hal positif dan negatif dari komunikasi melalui media.

3. Manfaat penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat membantu keluarga untuk meningkatkan komunikasi antar pribadi. Ditengah perkembangan jaman dengan alat komunikasi yang semakin canggih, diharapkan keluarga mampu memaknainya dalam hidup. Komunikasi yang dimaksud penulis adalah antarpribadi atau komunikasi tatap muka, sehingga ada perjumpaan dari hati ke hati dalam kehidupan berkeluarga.

B. Metodologi Penelitian

(61)

teknik pengumpulan data dan instrumen penelitian, teknik analisa data, dan keabsahan data .

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis/lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong, 1988:3).

2. Tempat dan waktu penelitian

Penelitian dilaksanakan pada Bulan Mei-Juni 2007. Penelitian diadakan di Gereja Maria Asumpta, lingkungan Bartolomeus Babarsari-Yogyakarta.

3. Responden Penelitian

Responden penelitian adalah keluarga muda yang masih produktif di lingkungan Bartolomeus Babarsari Yogyakarta yang berjumlah 10 keluarga.

4. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian

(62)

”Sifatnya yang luwes. ”Rapport” atau hubungan baik dengan orang yang diwawancarai dapat memberikan suasana kerjasama, sehingga memungkinkan diperolehnya info yang benar. Pewawancara dapat menguraikan pertanyaan atau menjelaskan maksud pertanyaan itu sekiranya pertanyaan itu kurang jelas bagi subyek” (Arief Furchan, 1982: 248).

Wawancara berstruktur menurut Arief Furchan, bersifat informal dan luwes, sehingga yang diwawancarai mendapat kebebasan untuk mendeskripsikan jawabannya dan mengungkapkan pandangannya sesuka hati. Keraf (1979: 161), juga menguraikan keuntungan dari wawancara antara lain:

”Hasil wawancara secara kualitatif dapat dipertanggungjawabkan dan mempunyai nilai yang tinggi. Semua kesalahpahaman dapat dihindari, pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan dapat dijawab oleh informan dengan penjelasan-penjelasan tambahan dan setiap pertanyaan dapat dikembangkan lebih lanjut dalam wawancara. Kelemahan wawancara adalah data atau informasi yang dikumpulkan sangat terbatas dan bila dilakukan dalam suatu wilayah yang luas dan akan memakan biaya dan waktu yang banyak”.

5. Teknik Analisa Data

Selama pengumpulan data dilakukan reduksi data atau pengelompokan data yaitu menemukan arti dari data dengan menarik hubungan-hubungan sesuai dengan permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini. Selanjutnya ditarik kesimpulan dan verifikasi (Nasution, 1988: 129). Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil wawancara, untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti.

6. Keabsahan Data

(63)

member check adalah informasi yang diperoleh dan digunakan dalam penulisan sesuai

dengan apa yang dimaksud oleh informan.

C. Laporan Hasil Penelitian

1. Temuan Umum: Gambaran Gereja Maria Asumpta Babarsari Paroki Baciro-Yogyakarta

Berdasarkan data yang diperoleh dari sekretariat Gereja Maria Asumpta Babarsari dan berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh peneliti, dikatakan bahwa Gereja Maria Asumpta Babarsari berada di bawah Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta, Keuskupan Agung Semaran

Referensi

Dokumen terkait

akurasi tendangan long pass adalah metode yang lebih baik dan dapat. digunakan oleh para pelatih sepakbola sebagai salah satu materi

Bagi para pelatih dalam proses latihan agar mencoba latihan ladder drill. sebagia varian latihan untuk meningkatkan kemampuan kelincahan

Maka hasil output dari pengolahan data sebagai

Hla tersebut terungkap dalam diskusi yang bertajik Indonesia kamu atau Indonesia kita yang diadakan di gereja HKBP yogyakarta /belum lama ini /// hadir dalam kesempatan

mengungkapkan / operasi pasar yang dilakukan disesuaikan dengan hari pasaran / sehingga masyarakat dapat langsung membeli beras dari bulog tersebut // Dari data bulog menurut Murino

Penelitian ini bertujuan Untuk menganalisis komparasi produksi usaha tani padi sawah yang menggunakan benih padi bersertifikat dengan benih padi non bersertifikat, dan untuk

STUDI EKSPLORASI KETERSERAPAN LULUSAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI DI KOTA BANDUNG PADA INDUSTRI OTOMOTIF.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Kisi-kisi penelitian yang dilihat dari aspek ini adalah sejauhmana kondisi penurunan kunjungan wisatawan ke Tana Toraja berdasarkan persepsi pelaku wisata di Tana Toraja