• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

United Nation. (1996). The Habitat Agenda: Chapter IV: C. Sustainable human settlements development in an urbanizing world, menjelasakan sistem transportasi merupakan kunci untuk pergerakan barang, orang, informasi, ide-ide, dan akses menuju pasar, pekerjaan, sekolah dan fasilitas kegiatan ekonomi. Mengurangi perjalanan yang tidak perlu melalui penggunaan lahan dan kebijakan yang tepat, serta mengembangkan kebijakan transportasi alternatif yang menekankan mobilitas selain kendaraan bermotor dan meningkatkan kinerja moda transportasi umum pada lingkungan. Hal ini perlu menjadi suatu prioritas utama dalam pengembangan sistem transportasi berkelanjutan.

Di Jakarta terdapat sebuah kawasan yang memiliki tingkat aktifitas sangat tinggi, yaitu kawasan Tanah Abang. Kawasan Tanah Abang merupakan salah satu pusat belanja grosir terbesar di Asia Tenggara yang memiliki sarana berbelanja yang menawarkan berbagai macam komoditas dagangan dengan blok-blok bangunan yang terpisah dan memiliki akses dari dalam dan luar Jakarta dengan padatnya kendaraan umum seperti Bus dan Kereta Api yang berhenti di Stasiun Besar Tanah Abang yang mendatangkan banyak penjual dan pembeli untuk masuk ke dalam kawasan pasar sekitar stasiun Tanah Abang ini. Walaupun kawasan ini memiliki tingkat kegiatan yang tinggi, kawasan Tanah Abang tidak memiliki akses yang baik bagi pejalan kaki untuk mencapai lokasi tujuan yang diinginkan, karena harus berdesakan dengan pengguna jalan raya juga pejalan kaki yang saling bersinggungan dengan PKL pada kawasan ini.

Berawal dari permasalahan yang terdapat di Tanah Abang ini, menurut Gushinta, D dalam jurnal nya yang berjudul Green transport: transportasi ramah lingkungan dan kontribusinya dalam mengurangi polusi udara Jurnal Berita Dirgantara Vol.11 No.2 Juni 2010: 66-71, menjelaskan bahwa untuk mengantisipasi dampak buruk yang ditimbulkan dari pertumbuhan jumlah kendaraan di perkotaan, maka perlu dikembangkan suatu konsep transportasi berkelanjutan. Diawali dengan konsep transportasi berkelanjutan,peningkatkan kualitas kawasan yang berawal dari walkability dijelaskan dalam jurnal Walkability in the Lehigh Valley dalam artikel The Morning Call 03 January 2014 oleh Jack Romig, menjelaskan bahwa menurut

(2)

National Association of Realtors 2013 Komunitas Preference Survey, 60 persen responden menginginkan masyarakat dengan bisnis dan rekreasi yang mudah untuk berjalan ke daripada mengemudi. Sebuah studi pada tahun 2009 dari Impresa, sebuah perusahaan konsultan di Portland, Ore, Menunjukkan bahwa kenaikan satu titik dalam skor walkability dapat meningkatkan nilai rumah dari $700 hingga $3.000. Dan pada 2013, Robert Wood Johnson Foundation oleh Gary Hack, profesor desain perkotaan di University of Pennsylvania, mencatat bahwa banyak pusat perbelanjaan akan meningkat nilainya pada kawasan yang walkable.

Dilihat dari kondisi area sekitar stasiun Tanah Abang saat ini, dapat dikatakan masih jauh dari lingkungan yang bersifat ramah terhadap para pejalan kaki, hal ini terlihat dari adanya gap antara teori kriteria walkability dengan kondisi pada lapangan, terdapat crossing pada kawasan di beberapa titik yang juga mempengaruhi nilai walkability pada kawasan. Tidak terdapat fasilitas pendukung bagi pedestrian serta banyaknya jumlah PKL yang berjualan pada kawasan, khususnya pada bahu jalan dan jalur pedestrian turut menjadi masalah pada kawasan ini, tercatat jumlah PKL di Tanah Abang yang telah terverifikasi terdapat 942 PKL. Banyaknya PKL yang beraktivitas pada jalur pedestrian menyebabkan timbulnya obstrcution bagi para pedestrian.

Kondisi tersebut menjadi alasan diperlukannya pendekatan konsep walkability pada kawasan sebagai langkah dalam menciptakan lingkungan yang walkable di kawasan sekitar stasiun Tanah Abang, khususnya yang dapat mendorong penggunaan kendaraan non bermotor serta bersifat ramah terahadap pedestrian sebagai upaya dalam mencapai transportasi berkelanjutan juga menghidupkan kembali bangunan blok G Tanah Abang yang semakin sepi. Berdasarkan penjabaran mengenai poin-poin dalam mencapai transportasi berkelanjutan serta dengan melihat kondisi pada lapangan, dapat dibuat sebuah hipotesis, bahwa pendekatan konsep walkability adalah satu cara dalam mencapai serta meningkatkan nilai walkability kawasan guna mencapai transportasi berkelanjutan yang bersifat ramah untuk para pejalan kaki serta mendukung penggunaan moda non bermotor.

Berikut merupakan tabel yang menjelaskan lokasi Sekitar Stasiun Tanah Abang beserta data terkait kawasan:

(3)

Tabel 001. Lokasi Kawasan Pasar Blok G Tanah Abang

Lokasi Kawasan Pasar Blok G Tanah Abang Key Plan

Alamat Jalan Kebon Jati, Tanah Abang Kota administrasi Jakarta Pusat

Kelurahan Gambir

Kecamatan Cideng

Batas wilayah

Utara Jalan Cideng Barat Selatan Jalan K.H. Mas Mansyur Barat Jalan Slipi I

Timur Jalan M.H. Thamrin

Sumber: Olahan Pribadi (2015)

1.2. Rumusan Masalah

Mengacu kepada kriteria mengenai walkability yang tertera pada walkability audit forms, pada lokasi tapak di Pasar Blok G Tanah Abang, Jakarta masih terdapat adanya gap antara kondisi ideal dari suatu lingkungan yang walkable dengan kondisi yang terjadi di lapangan.

Dengan mengacu pada aspek-aspek lingkungan yang walkable berdasarkan walkability audit forms, secara umum peramasalahan pada kawasan dapat disimpulkan pada tabel berikut:

(4)

Tabel 002. Perumusan Masalah Perumusan Masalah

No Aspek walkability Permasalahan pada lapangan yang belum sesuai dengan kriteria

1 Kondisi

Penggunaan Trotoar (Pathways)

Konektivitas dan kondisi pada kawasan belum sesuai dengan kriteria dan terdapat banyaknya

gangguan/obstruction pada path 2 Kemudahan Menyebrang

(Crossing)

Tidak tersedianya fasilitas penyebrangan atau crossing pada seluruh kawasan yang sesuai dengan kriteria. 3 Konflik Kepentingan

Penggunaan Pedestrian

Pedestrian tidak berguna dengan baik, masih bercampur dengan jalur kendaraan bermotor dan dipenuhi PKL juga perawatan penutup saluran air kota yang masih berantakan

4 Perawatan Fasilitas Pejalan Kaki

Perawatan Trotoar pada kawasan tidak tertata dengan baik dan dibiarkan rusak begitu saja

5 Lebar Trotoar dan

Pembatas Trotoar dengan Jalan Raya

Lebar Trotoar sudah cukup standar di beberapa bagian pada kawasan yang dibahas.

Tidak adanya pembatas antara Trotoar dengan Jalan raya sehingga kendaraan bermotor kerap kali masuk ke area pedestrian

6 Aspek pathways and signage

Tidak tersedianya fasilitas pathways maupun signage pada kawasan

7 Aspek aesthetic and amenities

Kondisi kawasan yang tidak menarik bagi pedestrian

8 Naungan Pedestrian Tidak tersedia fasilitas naungan untuk pedestrian pada kawasan

Sumber: Olahan Pribadi (2015)

Selain itu banyaknya jumlah activity support berupa pedagang kaki lima yang terverifikasi berjumlah hingga 942 orang, juga turut menjadi permasalahan, dikarenakan keberadaan mereka yang menyalahgunakan ruang sarana fasilitas umum pada kawasan, khususnya jalur pedestrian sebagai ruang berjualan, menyebabkan area ini tidak bersifat ramah kepada pedestrian, dikarenakan hilangnya fasilitas yang seharusnya dapat digunakan oleh pedestrian.

Berdasarkan hal diatas didapatlah rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana menciptakan dan meningkatkan suatu kawasan pasar dengan tingkat walkability yang tinggi berdasarakan aspek-aspek walkability?

2. Bagaimana mengakomodasi kegiatan acitivity support berupa pedagang kaki lima sebagai dampak dari adanya pendekatan konsep walkability?

1.3. Tujuan dan Ruang Lingkup Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah menciptakan dan meningkatkan kualitas kawasan sekitar pasar Tanah Abang dengan tingkat walkability yang tinggi berdasarkan aspek-aspek yang ada. Ruang lingkup penelitian akan dibatasi pada

(5)

lingkup pembahasan mengenai walkability, dengan batasan lokasi penelitian akan dibatasi pada kawasan sekitar stasiun Tanah Abang yang akan memiliki koneksi dengan pasar Blok A dan B, Blok F dan Blok G serta bangunan pertokoan pada kawasan Tanah abang seperti tertera pada tabel 003 di bawah ini:

Tabel 003. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang Lingkup Penelitian

Key Plan

Keterangan :

StasiunTanahAbang

Blok G

Blok A/B

Alamat Jalan Kebon Jati, Tanah Abang Kota administrasi Jakarta Pusat

Kelurahan Gambir

Kecamatan Cideng

Batas wilayah Ruang Lingkup

Utara Jalan Jati Baru

Selatan Jalan Jembatan Tinggi Barat Jalan Jatibaru Raya

Timur Jalan Kebon Jati

(6)

1.4. Kerangka Berfikir

Pemilihan Topic

Sustainable Transport and Communication System

Pemilihan Tema

Konsep walkability

State Of The Art - walkability: perceived and measured

qualities in action - Walkability in the Lehigh Valley The Morning Call - Business performance in walkable shopping areas

Lokasi

Kawasan pasar Blok G Tanah Abang Jakarta Landasan Teori • Pengertian walkability Tujuan Walkability Walkability Audit Tools Transit Oriented Development Latar Belakang

Perlunya mencitpakan lingkungan yang walkable untuk mencapai sustainable transport, khususnya pada kawasan komersial serta mengaktifkan kembali kawasan blok G yang sudah semakin sepi oleh pengunjung, karena masih terdapat gap antara kondisi walkable yang ideal, berdasarkan walkability audit tools dengan lapangan.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai dasar dalam menciptakan/ meningkatkan suatu kawasan pasar dengan tingkat walkability yang tinggi berdasarkan aspek-aspek walkbility. Serta dapat mengakomodasi para pedagang kaki lima sebagai dampak dari adanya pendekatan konsep walkability.

Tinjauan Umum -Walkability Tinjauan Khusus -Transit Oriented Development Konsep Perancangan

Pembahasan dan hasil pendekatan pemecahan permasalahan

Rumusan Masalah

• Bagaimana menciptakan/ meningkatkan suatu kawasan pasar dengan tingkat walkability yang tinggi berdasarakan aspek-aspek walkability?

• Bagaimana mengakomodasi kegiatan acitivity support berupa pedagang kaki lima, sebagai dampak dari adanya pendekatan konsep walkability?

Perancangan

Hipotesis

Pendekatan konsep walkability dengan mengacu kepada walkability audit tool dapat dijadikan suatu cara dalam mencapai serta meningkatkan nilai walkability kawasan guna mencapau transportasi berkelanjutan yang bersifat ramah serta mendukung penggunaan moda non bermotor.

Pendekatan dan Pemecahan Masalah

1. Studi Literatur 2. Landasan Teori

Skematik Desain F ee d b a ck

(7)

Gambar

Tabel 001. Lokasi Kawasan Pasar Blok G Tanah Abang
Tabel 002. Perumusan Masalah  Perumusan Masalah
Tabel 003. Ruang Lingkup Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Seperti halnya dengan pengetahuan komunikasi terapeutik perawat, kemampuan perawat yang sebagian besar pada kategori cukup baik tersebut kemungkinan karena adanya

Penelitian yang dilakukan di TK AndiniSukarame Bandar Lampung betujuan meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan melalui media gambar pada usia

Ketersediaan informasi lokasi rumah sakit, fasilitas dan layanan yang tersedia di rumah sakit dan tempat kejadian dapat tersedia secara jelas dan terkini sehingga penentuan

Alhamdulillahirobbil’alamin segala puji syukur dan sembah sujud, penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat, hidayah, dan kasih sayang-Nya sehingga penyusun

H1: (1) Terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan yang diberi insentif dengan karyawan yang tidak diberi insentif (2) Terdapat perbedaan

7.4.4 Kepala LPPM menentukan tindakan perbaikan yang harus dilakukan pada periode Pelaporan Hasil Pengabdian kepada masyarakat berikutnya.. Bidang Pengabdian kepada masyarakat

Ketika orang-orang dari budaya yang berbeda mencoba untuk berkomunikasi, upaya terbaik mereka dapat digagalkan oleh kesalahpahaman dan konflik bahkan

Dengan cara yang sama untuk menghitung luas Δ ABC bila panjang dua sisi dan besar salah satu sudut yang diapit kedua sisi tersebut diketahui akan diperoleh rumus-rumus