III - 1
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini akan menguraikan secara sistematis mengenai kerangka berpikir dan metode yang digunakan dalam penelitian.
3.1 Metode Penelitian
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini akan dijelaskan pada Gambar 3.1.
Menentukan Level dari Setiap Faktor
Menentukan Orthogonal Array (OA)
A
Pembuatan Spesimen dengan metode Taguchi
Mengkondisikan kadar air pada tiap spesimen komposit ≤ 14%
Persiapan Alat dan Bahan Pendukung Eksperimen
Pengolahan Ampas Tebu meliputi Pencucian, Perendaman dan Penghancuran dengan mesin crusher
Pengujian Thermal Conductivity Pengujian dilakukan pada setiap spesimen. Pembuatan spesimen sesuai standar ASTM
E 1225
Pengujian Bending
Pengujian bending dilakukan pada setiap spesimen. Pembuatan spesimen sesuai
standar ASTM D 1037
Pengujian Densitas
Pengujian densitas dilakukan pada setiap spesimen. Pengujian fisis massa jenis dilakukan berdasarkan standar ASTM D
3800
III - 2
Menghitung S/N Ratio untuk setiap Karakteristik Kualitas Pengujian Hasil Eksperimen
A
Menghitung Confidence Interval Setting Optimal dan Setting
Eksperimen Konfirmasi
Pembuatan Prototype
Analisis dan Intepretasi Hasil
Menghitung PCR TOPSIS Setiap Karakteristik Kualitas Menghitung Analysis of Variance
Mean
Menentukan Setting Level Optimal Menggunakan PCR-TOPSIS
Eksperimen Konfirmasi
Kesimpulan dan Saran
Gambar 3.1Flowchart Metodologi Penelitian (lanjutan)
3.2 Tempat Penelitian
Proses pembuatan spesimen dilakukan di Laboratorium Perencanaan dan Perancangan Produk (P3) Jurusan Teknik Industri Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), sedangkan untuk pengujian thermal conductivity dilakukan pada Laboratorium Pusat Mipa Sub : Fisika Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Pengujian bending dan perhitungan densitas dilakukan di Laboratorium Material Jurusan Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).
III - 3
3.3 Orientasi Penelitian
Orientasi penelitian diperlukan untuk menyederhanakan kompleksitas permasalahan yang diteliti. Orientasi penelitian yang digunakan antara lain : 1. Kandungan benda asing (serpihan pasir dan tanah, debu yang menempel di
ampas tebu, serpihan kayu) yang ikut terbawa pada proses pembuatan spesimen diabaikan karena setelah mengalami perlakuan pengolahan, jumlahnya sangat kecil sehingga dianggap tidak mempengaruhi uji thermal conductivity, uji bending dan densitas komposit ampas tebu – tepung ketan. 2. Jenis ampas tebu dan ukuran partikel ampas tebu dianggap homogen dan tidak
menimbulkan perbedaan hasil pada pengujian thermal conductivity, uji
bending dan densitas komposit ampas tebu – tepung ketan.
3.4 Tahap Perancangan Eksperimen
Pada tahap ini akan dilakukan identifikasi terhadap karakteristik kualitas nilai hambat panas. Selain itu pada tahap ini juga akan ditentukan setting level untuk setiap faktor, dan Orthogonal Array (OA).
3.4.1 Identifikasi Karakteristik Kualitas
Pada tahap ini ditentukan karakteristik kualitas komposit yang akan diukur. Uji yang dilakukan pada komposit papan partikel berpenguat ampas tebu (bagasse) ini adalah pengujian thermal conductivity, uji bending dan densitas. Pengujian ini umum digunakan untuk menentukan kualitas dari papan partikel, sehingga nantinya didapatkan papan partikel yang memiliki nilai hambat panas baik serta memiliki kekuatan mekanik dan fisis yang mampu memenuhi standard ANSI A208-1 Particle Board.
3.4.2 Penentuan Setting Level Faktor
Penentuan setting level didasarkan teori-teori yang ada. Faktor yang berpengaruh dalam eksperimen ini yaitu presentase tepung ketan (A), ukuran partikel ampas tebu (B), kepadatan (C), dan perlakuan perendaman (D). Setelah faktor eksperimen terpilih, level-level pada faktor kemudian ditentukan seperti yang akan dijelaskan di bawah ini
1. Faktor presentase tepung ketan terdiri atas empat level yaitu 5%, 7,5%, 10%, 12,5%.
III - 4
2. Faktor ukuran partikel ampas tebu terdiri atas empat level yaitu mesh 20,
mesh 30, mesh 40 dan mesh 50.
3. Faktor kepadatan terdiri atas empat level yaitu 3:4, 4:4, 5:4 dan 6:4
4. Perlakuan perendaman terdiri atas empat level yaitu dengan larutan Boraks 5%, Aquades, Tanpa Perendaman, dan larutan NaOH 5%. Masing-masing perendaman dilakukan selama 2 jam
Penentuan faktor dan level yang yang digunakan pada penelitian ini disajikan pada Tabel 3.1 berikut ini.
Tabel 3.1 Setting level faktor
Kode Nama Faktor Level 1 Level 2 Level 3 Level 4
A Presentase tepung ketan
5% 7,5% 10% 12,5%
B Ukuran partikel ampas tebu
Mesh 20 Mesh 30 Mesh 40 Mesh 50
C Kepadatan 3 : 4 4 : 4 5 : 4 6 : 4 D Perendaman Direndam Boraks Direndam Aquades Tanpa Perendaman Direndam NaOH
3.4.3 Penentuan Orthogonal Array (OA)
Pemilihan orthogonal array dilakukan berdasarkan jumlah derajat bebas total dari seluruh faktor yang digunakan dalam eksperimen. Jumlah total derajat bebas menunjukkan jumlah baris minimal dalam percobaan.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penentuan orthogonal array
sebagai berikut:
a. Menghitung total jumlah derajat bebas yang diperlukan untuk eksperimen berdasarkan banyak faktor dan level dari faktor.
b. Memilih suatu orthogonal array yang mempunyai derajat bebas minimal. c. Menggambarkan graph linear yang diperlukan.
d. Memilih graph linear standar yang sesuai.
e. Menyesuaikan graph linear yang diperlukan ke salah satu graph linear
standar dari orthogonal array yang dipilih. f. Mengisikan faktor ke orthogonal array.
III - 5
Orthogonal array terdiri dari faktor terkendali yang sering disebut dengan
inner array dan untuk faktor tak terkendali sering disebut dengan outer array.
Eksperimen ini menggunakan 4 faktor terkendali dengan 4 level untuk masing-masing faktor. Sehingga diperoleh derajat kebebasannya sebesar:
df = 4 x (4-1) df = 4 x 3, df = 12
Matriks orthogonal array yang dipilih adalah matriks yang memiliki nilai df > 12 dan mampu mengkondisikan eksperimen untuk 4 level. Sehingga desain eksperimen Taguchi yang terpilih adalah matriks orthogonal L16 (45) (df = 16 >
12) dengan mengabaikan kolom faktor ke lima. Untuk lebih jelasnya, penentuan matriks orthogonal array disajikan pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2 Matriks Orthogonal L16
1 2 3 4 5 1 1 1 1 1 1 2 1 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 4 1 4 4 4 4 5 2 1 2 3 4 6 2 2 1 4 3 7 2 3 4 1 2 8 2 4 3 2 1 9 3 1 3 4 2 10 3 2 4 3 1 11 3 3 1 2 4 12 3 4 2 1 3 13 4 1 4 2 3 14 4 2 3 1 4 15 4 3 2 4 1 16 4 4 1 3 2 No Kolom
Karena eksperimen ini hanya menggunakan 4 faktor, maka kolom 5 dianggap error. Matriks OApada eksperimen ini dijelaskan pada Tabel 3.3.
III - 6
Tabel 3.3 Matriks OrtogonalArray
1 2 3 4 1 1 1 1 1 2 1 2 2 2 3 1 3 3 3 4 1 4 4 4 5 2 1 2 3 6 2 2 1 4 7 2 3 4 1 8 2 4 3 2 9 3 1 3 4 10 3 2 4 3 11 3 3 1 2 12 3 4 2 1 13 4 1 4 2 14 4 2 3 1 15 4 3 2 4 16 4 4 1 3
No Faktor dan level
3.5 Pelaksanaan Eksperimen
Pada pelaksanaan eksperimen berikut dibahas mengenai persiapan material, pembuatan spesimen, pengujian hambat panas, pengujian bending dan densitas.
3.5.1 Persiapan Material
Persiapan material meliputi persiapan alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan dan pengujian spesimen
1. Alat
Alat yang digunakan untuk pembuatan spesimen komposit adalah: a. Mesin Crusher
Mesin Crusher digunakan untuk membuat ampas tebu menjadi semakin kecil agar sesuai dengan ukuran partikel mesh 20, 30, 40 dan 50.
III - 7 b. Ayakan dengan mesh 20, 30, 40, dan 50
Ayakan digunakan untuk memisahkan partikel ampas tebu menjadi mesh
20, 30, 40 dan 50. Pada mesh yang lolos dari ayakan mesh 40 maka dilakukan pengayakan kembali pada mesh 50 untuk mendapatkan ukuran
mesh 40
Gambar 3.3 Ayakan
c. Timbangan digital
Timbangan digital digunakan untuk menimbang massa ampas tebu, boraks, NaOH, air, dan tepung ketan sebagai perekat.
Gambar 3.4 Timbangan Digital
d. Baskom
Baskom digunakan sebagai tempat untuk merendam ampas tebu dengan aquades, boraks, dan NaOH. Selain itu sebagai tempat untuk mencampur ampas tebu dengan perekat tepung ketan.
e. Gelas Ukur
Gelas ukur yang digunakan dengan ukuran 100ml. Gelas ukur digunakan untuk mengukur massa jenis bahan komposit.
III - 8
Gambar 3.5 Gelas Ukur
f. Cetakan Besi
Cetakan digunakan sebagai tempat pengepresan bahan komposit menjadi ukuran sesuai bentuk cetakan. Cetakan ini terdiri atas dua bagian yaitu bagian rangka cetakan dan penutup.
Gambar 3.6 Cetakan Besi
g. Jangka Sorong
Jangka sorong digunakan untuk mengukur spesimen uji. Alat ini memiliki ketelitian 0,05 mm.
h. Mesin Press dan Dongkrak hidrolik
Mesin press dan dongkrak hidrolik digunakan untuk mencetak dan menekan bahan komposit sesuai ketebalan yang diinginkan.
III - 9 i. Moisture meter
Moisture meter digunakan untuk mengetahui kandungan atau kadar air dalam spesimen komposit.
Gambar 3.8 Moisture meter
j. Mesin Gerinda
Gerinda digunakan untuk membentuk ukuran dimensi spesimen uji
thermal conductivity sesuai dengan ASTM E-1225. k. Mesin Mixer
Mesin mixer digunakan untuk membantu pencampuran ampas tebu dengan larutan tepung ketan agar dapat merata dalam pencampuran.
l. Oven Listrik
Oven listrik digunakan untuk mengurangi kadar air pada komposit agar tidak melebihi kadar air dalam standar papan serat yang diijinkan oleh SNI 03-2105-2006 (≤14%)
Gambar 3.9 Oven Listrik
m. Mesin Thermal Conductivity
Mesin Thermal Conductivity digunakan untuk mengetahui besarnya nilai konduktivitas panas yang kemudian di konversikan menjadi nilai hambat panas.
III - 10
Gambar 3.10 Mesin Thermal Conductivity
n. Universal Testing Machine (UTM)
Mesin ini digunakan pada uji bending komposit untuk mengetahui besarnya beban tekan kontinyu yang menyebabkan spesimen komposit patah.
Gambar 3.11 Mesin Universal Testing Machine
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: a. Ampas Tebu
Ampas tebu dari pabrik penggilingan tebu yang berbentuk ampas ukuran kecil-kecil hasil dari pengolahan pada pabrik.
Gambar 3.12 Ampas Tebu
b. Boraks
Boraks merupakan suatu senyawa yang berbentuk kristal, warna putih, tidak berbau, larut dalam air. Bahan ini merupakan bahan pengawet yang dikenal masyarakat awam untuk mengawetkan kayu, antiseptik kayu, dan
III - 11
pengontrol kecoa. Boraks ini merupakan nama trivial dari dinatrium tetraboratdekahidrat dengan rumus kimianya Na2B4O7.10H2O.
Gambar 3.13 Boraks
c. NaOH
Sodium hidroksida (NaOH) adalah senyawa kimia yang berbentuk kristal putih yang rapuh dan tembus cahaya. Karena sifatnya yang sangat korosif dan dapat merusak kulit, senyawa ini disebut juga soda kaustik. NaOH merupakan larutan basa yang tergolong mudah larut dalam air dengan reaksi timbulnya panas selama pelarutan didalam air, dan termasuk basa kuat yang dapat terionisasi dengan sempurna. Larutan basa memiliki rasa pahit, dan jika mengenai tangan terasa licin (seperti sabun).
Gambar 3.14 NaOH
d. Tepung Ketan
Tepung ketan sebagai bahan perekat. Tepung ketan memiliki amilopektin yang lebih besar dibandingkan dengan tepung-tepung lainnya. Amilopektin inilah yang menyebabkan tepung ketan (beras ketan) lebih pulen dibandingkan dengan tepung lainnya
III - 12 e. Air
Air digunakan untuk perendaman ampas tebu dengan boraks ataupun NaOH. Selain itu sebagai pencampuran dengan tepung ketan agar mudah tercampur dengan ampas tebu saat dilakukan pengepresan.
3.5.2 Pembuatan Spesimen
Spesimen yang dibuat dalam eksperimen ini adalah dengan perlakuan sebanyak 16 buah dan pengulangannya sebanyak 3 perlakuan. Berikut adalah contoh alur pembuatan spesimen uji (presentase perekat 7,5%, ukuran partikel
mesh 20, kepadatan 4:4, dan ampas tebu sebelumnya diberikan perlakuan tanpa perendaman). Adapun cara-cara yang ditempuh dalam pembuatan spesimen adalah sebagai berikut:
1. Ampas tebu (bagasse) yang sudah siap pakai dibersihkan menggunakan air. 2. Serat yang sudah bersih direndam dalam larutan boraks dengan kadar 5%
dari volume air dengan waktu perendaman selama 2 jam.
3. Serat dibersihkan dengan air bersih sampai tidak terasa lendir-lendir yang menempel.
4. Ampas tebu dikeringkan hingga mencapai kadar air dalam rentang 5%-10% 5. Penghancuran serat dilakukan menggunakan mesin crusher agar mencapai
ukuran partikel yang diinginkan.
6. Dilakukan pengayakan pada ukuran ayakan mesh 20 kemudian hasil ayakan dari mesh 20 dilakukan pengayakan lagi pada mesh 30. Hasil pengayakan yang tidak lolos pada mesh 30 adalah yang digunakan pada pembuatan spesimen ukuran mesh 20
7. Perekat ditimbang dengan perbandingan 4:4 (volume 1 kemudian dipadatkan menjadi 1) maka volume perekat sebesar 7,5% volume spesimen yang diinginkan (196 x 51 x 4 mm).
8. Serbuk tebu ditimbang sebanyak 92,5% dari 100% volume spesimen.
9. Air ditimbang sebanyak 2 kali massa serbuk tebu (serbuk:air = 1:2), digunakan untuk mengencerkan tepung ketan sehingga memudahkan dalam proses pencampuran perekat dengan bahan serbuk tebu.
III - 13
10. Tepung ketan yang sudah encer dicampur dengan serbuk tebu lalu diaduk menggunakan mesin mixer hingga merata.
11. Campuran bahan dimasukkan dalam cetakan
12. Komposit ditekan menggunakan cetakan besi dan alat penekan hidrolik hingga memiliki ketebalan 4 mm dan dipanaskan selama 2 jam agar komposit tidak langsung mengembang ketika dilepas dari cetakan.
13. Spesimen dibiarkan pada suhu kamar selama 1 hari agar kandungan air menguap secara alami.
14. Dilakukan pengeringan spesimen dengan pemanasan di dalam oven untuk mengurangi kadar air (sesuai SNI 03-2105-2006, kadar air yang diizinkan ± 14%).
15. Dimensi spesimen yang digunakan dalam uji thermal conductivity dibuat berdasarkan standar ASTM E-1225 yaitu dibuat lingkaran (D = 4 cm) dengan bantuan mesin gerinda dan kemudian dilakukan pengamplasan untuk menghilangkan efek pemotongan.
Gambar 3.16 Spesimen Uji Thermal Conductivity
3.5.3 Pengujian Hambat Panas
Pada tahap ini dilakukan pengujian thermal conductivity yang dilakukan di UPT Laboratorium Pusat MIPA Sub Fisika Universitas Sebelas Maret. Langkah-langkah Pengujian thermal conductivity adalah sebagai berikut (SOP Thermal Conductivity, 2006):
1. Spesimen uji disiapkan berbentuk bulat dengan ukuran diameter 4 cm dan tebal 4 mm.
2. Kran masukan dan kran kecepatan alir masukan diatur. Selanjutnya kran sumber air ledeng dibuka ¼ putaran. Membuka kran kecepatan alir hingga
III - 14
kecepatan berkisar antara skala 100-150. Volume air dijaga agar tetap stabil sesuai batas volume standar.
3. Meregangkan 4 mur yang ada di bagian atas tabung uji untuk meregangkan silinder tembaga yang ada didalammya.
4. Meregangkan dua bagian silinder tembaga sesuai tebal spesimen. Tujuan dilakukan peregangan agar spesimen uji dapat dimasukkan diantara kedua silinder tersebut.
5. Sampel uji dipasang pada tempatnya (diameter 4 cm dan tebal 4 mm). 6. Mengencangkannya kembali 4 mur bagian atas tabung.
7. AC Cord Kabel dengan jala-jala listrik 220V AC dihubungkan. Selanjutnya sistem dinyalakan dengan menekan tombol ON pada tombol power.
8. Pengaturan/pengesetan temperatur. Temperatur di setting pada kondisi 1100C. Mengakhiri setting temperatur dengan soft button ENTER.
9. Pembacaan temperatur pada panel.
10. Menunggu hingga tampilan nilai temperatur sama dengan nilai pengesetan temperatur. Setelah sama, tunggu hingga kestabilan kurang lebih 15 menit. mencatat masing-masing temperatur pada tiap posisi termokopel dengan memindahkan (memutar) saklar “Thermo Sell R”. Berikut adalah skema pengujian panas pada silinder tembaga:
III - 15
Penjelasan proses perpindahan panas adalah sebagai berikut: 1. T0 adalah temperatur normal ruang atau suhu awal (27-28°C)
2. T1-T10 adalah posisi termokopel yang fungsinya untuk mengetahui nilai perubahan temperatur pada tiap posisi termokopel dengan cara memindahkan (memutar) saklar atau Thermo Sell R.
3. Ketika dilakukan penyetingan temperatur yang diinginkan yaitu 110°C terjadi proses perpindahan dan pemerataan temperatur hingga temperatur pada posisi stabil baru dapat dicatat perubahan temperaturnya dari T10 menuju ke T1.
4. Proses perpindahan panas pada T1-T4 terjadi peningkatan temperatur dari temperatur awal (T0) 109-110°C.
5. Diantara T4 dan T5 terdapat spesimen yang di uji dimana terjadi proses penyerapan panas pada spesimen, perubahan temperatur itu yang nantinya untuk input proses perhitungan nilai hambat panasnya. Pada T4-T10 terjadi penurunan temperatur.
3.6 Pengujian Bending
Pada tahap ini dilakukan pengujian ketahanan lentur untuk 16 perlakuan pada eksperimen. Pengujian ini dilakukan untuk menguji sifat mekanik komposit spesimen yang telah dibuat. Pengujian lentur dilakukan sesuai dengan standar ASTM D-1037. Standard papan partikel yang digunakan menggunakan ANSI A208-1 Particle Board. Langkah-langkah dari pengujian bending adalah sebagai berikut:
1. Spesimen uji disiapkan dengan ukuran 19,6 x 5,1 x 0,6 cm dengan replikasi sebanyak tiga kali untuk setiap eksperimen.
Gambar 3.18 Spesimen Uji Bending
2. Mesin Torsee dihidupkan untuk pengujian lentur.
3. Spesimen uji dipasang pada tumpuan dengan tepat dan memastikan indentor tepat di tengah-tengah kedua tumpuan.
III - 16
4. Dial indicator dipasang dengan posisi 0 mm sebagai penghitung defleksinya (1 putaran = 1 mm).
5. Beban diberikan pada bagian pusat, kemudian dicatat defleksi dan beban sampai beban maksimum.
6. Setelah mendapatkan data hasil pengujian dilanjutkan pengolahan data untuk mendapatkan nilai rata-rata ketahanan lentur.
3.7 Pengujian Densitas
Pengujian densitas dilakukan pada masing-masing spesimen komposit. Pengujian fisis massa jenis dilakukan berdasarkan standar ASTM D-3800. Berikut ini langkah – langkah dalam pengujian densitas untuk mengetahui massa jenis spesimen :
a. Spesimen dipotong sebagian kecil agar dapat masuk kedalam gelas ukur. b. Massa gelas ukur ditimbang dan dicatat dengan timbangan digital. c. Spesimen dimasukkan ke dalam gelas ukur.
d. Berat gelas ukur dicatat setelah penambahan spesimen e. Menghitung massa jenis spesimen dengan rumus:
...(3.1) Keterangan:
ρf = densitas spesimen (gr/cm3)
ρm = densitas liquid (gr/ cm3)
Mu = berat spesimen di udara terbuka (gr)
Mm = berat spesimen di liquid (gr)
3.8 Tahap Pengumpulan dan Pengolahan Data
Tahap selanjutnya adalah pengumpulan dan pengolahan data. Tahap pengumpulan data telah dilakukan ketika perancangan eksperimen dimulai hingga eksperimen selesai. Adapun langkah-langkah tahap pengumpulan dan pengolahan data akan dijelaskan pada sub bab di bawah ini.
III - 17
3.8.1 Optimasi Setting Level
Pada tahap pengolahan data, data yang diperoleh dari eksperimen diolah agar dapat dilakukan analisis. Langkah-langkah dalam proses pengolahan data sebagai berikut :
1. Perhitungan Analisis Variansi Terhadap Nilai Mean
Analysis of mean digunakan untuk mencari faktor-faktor yang mempengaruhi nilai rata-rata respon. Analysis of mean merupakan metode yang digunakan untuk mencari setting level optimal yang dapat meminimalkan penyimpangan nilai rata-rata.
2. Perhitungan Signal To Noise Ratio Menggunakan Metode Taguchi
Perhitungan signal to noise ratio digunakan untuk mengetahui tingkat sensitivitas dari karakteristik kualitas yang diukur terhadap faktor gangguan. Metode Taguchi adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengetahui setting optimal sebuah proses untuk kasus single response. Setelah diperoleh data hasil eksperimen kemudian dihitung S/N Ratio dari masing-masing karakteristik kualitas untuk semua perlakuan dalam eksperimen. S/N Ratio yang dipilih adalah larger the better untuk karakteristik kualitas nilai hambat panas, kekuatan bending dan densitas. 3. PCR-TOPSIS
PCR-TOPSIS merupakan metode yang didasarkan pada kemampuan proses rasio (PCR) dan teknik performansi order berdasarkan kesamaan dengan solusi ideal (TOPSIS) untuk mengoptimalkan masalah multirespon. Tahapan penyelesaiannya antara lain :
- Menghitung PCR-SNR untuk setiap eksperimen - Menghitung TOPSIS dari hasil PCR-SNR
- Menentukan persentase kontribusi dari faktor-faktor yang signifikan dalam multirespon
4. Penentuan Setting Level Optimal dan Nilai Prediksi
Dalam optimasi karakteristik kualitas, sangat penting untuk menggunakan dua tahap proses optimasi yaitu mengurangi variansi dan mengatur target sesuai dengan yang diinginkan.
III - 18 5. Perhitungan Confidence Interval
Setelah eksperimen dilakukan, kemudian menghitung rata-rata proses pada kondisi yang diramalkan. Perlu diketahui, bahwa 95% (level kepercayaan) dari hasil eksperimen konfirmasi harus berada dalam ± x (interval kepercayaan). Salah satu kegunaan perhitungan interval kepercayaan yaitu untuk eksperimen konfirmasi
3.8.2 Tahap Verifikasi
Tahap verifikasi dilakukan dengan eksperimen konfirmasi dan perhitungan
confidence interval. Adapun penjelasan selengkapnya, sebagai berikut : 1. Pelaksanaan Eksperimen Konfirmasi
Eksperimen konfirmasi dilakukan berdasarkan level kondisi optimal yang telah dihasilkan pada proses optimasi
2. Perhitungan Confidence Interval Eksperimen Konfirmasi
Rumus yang digunakan untuk perhitungan selang kepercayaan untuk eksperimen konfirmasi hampir sama dengan selang kepercayaan prediksi respon pada kondisi optimal, tetapi ditambahkan jumlah replikasi yang digunakan untuk eksperimen konfirmasi
3. Analisis Confidence Interval Kondisi Optimal dan Konfirmasi
Penilaian diterima atau tidaknya hasil eksperimen konfirmasi dilakukan dengan perbandingan selang kepercayaan antara hasil prediksi respon pada kondisi optimal dengan hasil eksperimen konfirmasi. Jika prediksi respon dan hasil eksperimen konfirmasi bersinggungan, maka setting level optimal dapat diterima.
3.9 Prototype
Prototype digunakan untuk memastikan bahwa komponen dan subsistem dari produk dapat bekerja seperti yang diharapkan. Pembuatan prototype
berdasarkan nilai hambat panas, bending dan densitas yang optimal. Prototype
III - 19
3.10 Analisis dan Intepretasi Hasil
Pada bagian ini dijelaskan mengenai analisis hasil dari pelaksanaan eksperimen, hasil penentuan setting level optimal, analisis pengaruh dari setiap faktor, hasil foto makro dan foto Scanning Electron Microscope (SEM). Dari uraian yang diberikan diharapkan dapat memberikan gambaran secara menyeluruh sebagai bahan pertimbangan dalam rekomendasi desain komposit ampas tebu.
3.11 Kesimpulan dan Saran
Tahap ini merupakan bagian akhir dari penelitian yang membahas kesimpulan berupa diperolehnya setting level optimal secara simultan pada kasus multirespon berupa nilai uji hambat panas, kekuatan bending dan nilai densitas pada papan partikel berbahan baku ampas tebu - tepung ketan. Sehingga didapatkan jenis papan partikel yang bukan hanya memiliki nilai hambat panas yang baik, melainkan juga memiliki nilai kekuatan bending dan densitas yang sesuai dengan standard dari ANSI A208-1 Particle Board. Tahap ini juga berisi saran-saran yang diberikan agar dapat bermanfaat untuk penelitian selanjutnya.