PENGELOLAAN HARTA WARIS ANAK OLEH WALINYA
(Studi Kasus Di Dusun Ngepos Desa Tingkir TengahKecamatan Tingkir Kota Salatiga )
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H.)
Disusun Oleh :
MUHAMMAD MUSLIKHIN
NIM 21111029
JURUSAN HUKUM KELUARGA ISLAM
FAKULTAS
SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
i
PENGELOLAAN HARTA WARIS ANAK OLEH WALINYA
(Studi Kasus Di Dusun Ngepos Desa Tingkir TengahKecamatan Tingkir Kota Salatiga )
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H.)
Disusun Oleh :
MUHAMMAD MUSLIKHIN
NIM 21111029
JURUSAN HUKUM KELUARGA ISLAM
FAKULTAS
SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
2018
ii
Drs. Badwan, M.Ag. Dosen IAIN Salatiga
PERSETUJUAN PEMBIMBING Lamp : 4 (empat) eksemplar Hal : Pengajuan Naskah Skripsi
KepadaYth.
Dekan Fakultas Syari‟ah IAIN Salatiga
di Salatiga
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan hormat, setelah dilaksanakan bimbingan, arahan dan koreksi, maka naskah skripsi mahasiswa:
Nama : Muhammad Muslikhin NIM : 21111029
Judul : PENGELOLAAN HARTA WARIS ANAK OLEH WALINYA (Studi Kasus Di Dusun Ngepos Desa Tingkir Tengah Kecamatan Tingkir Kota Salatiga )
Dapat diajukan kepada Fakultas Syari‟ah IAIN Salatiga untuk ditujukan dalam
sidang munaqasyah.
Demikian nota pembimbing ini dibuat, untuk menjadi perhatian dan digunakan sebagaimana mestinya.
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA FAKULTAS SYARI’AH
Jl. Nakula Sadewa V No.9 Telp: (0298) 323433 Fax 323433 Salatiga 50722 Website: http://syariah.iaiansalatiga.ac.id/ Email:
iii
SKRIPSI
PENGELOLAAN HARTA WARIS ANAK OLEH WALINYA (Studi Kasus Di Dusun Ngepos Desa Tingkir Tengah
Kecamatan Tingkir Kota Salatiga )
DI SUSUN OLEH : MUHAMMAD MUSLIKHIN
NIM 21111029
Telah dipertahankan di depan Panitia Dewan Penguji Skripsi Jurusan Syari‟ah,
Fakultas Syari‟ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga pada tanggal 22 Maret 2018 dan telah dinyatakan memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H.).
Susunan Panitia Penguji Ketua Penguji : Dr. Ilyya Muhsin, M.Si. Sekretaris Penguji : Drs. H. Badwan, M. Ag.
Penguji I : H. M. Yusuf Khummaini, M.H. Penguji II : Evi Ariyani, M. H.
KEMENTRIAN AGAMA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA FAKULTAS SYARI’AH
Jl. Nakula Sadewa V No.9 Telp: (0298) 323433 Fax 323433 Salatiga 50722 Website: http://syariah.iaiansalatiga.ac.id/ Email:
Salatiga, 28 Maret 2018 Dekan
Fakultas Syari‟ah IAIN Salatiga
iv
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Muhammad Muslikhin NIM :21111029
Fakultas : Syariah
Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Salatiga, 18 Maret 2018 Yang menyatakan
Muhammad Muslikhin NIM 21111029
KEMENTRIAN AGAMA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA FAKULTAS SYARI’AH
Jl. Nakula Sadewa V No.9 Telp: (0298) 323433 Fax 323433 Salatiga 50722 Website: http://syariah.iaiansalatiga.ac.id/ Email:
v
boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal
ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
vi
PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan untuk:
Ibunda tercinta, yang senantiasa mendo‟akan dan memberikan
dukungan.
Ayah yang telah berpulang kepada-Nya, semoga tulisan ini
bermanfaat sehingga termasuk salah satu amal jariyah beliau.
Seluruh keluarga besarku yang selalu mendukung, mendo'akan
dan memberikan segalanya, baik moral maupun spritual bagi
kelancaran studi, semoga Allah senantiasa meridhoinya.
Dosen pembimbing, bapak Drs. Badwan. M.Ag. atas arahan dan
kesabaran beliau sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
Seluruh dosen IAIN Salatiga yang telah menularkan ilmunya,
semoga bermanfaat kususnya untuk pribadi saya, umumnya
kepada masyarakat.
Seluruh rekan-rekan mahasiswa yang memberi bantuaan dari
awal perkuliahan, semoga menjadi teman
fi dunya hattal akhiat.
vii
ABSTRAK
Musikhin, Muhammad. 2018. PENGELOLAAN HARTA WARIS ANAK OLEH WALINYA (studi kasus Di Desa Tingkir Tengah Kecamatan Tingkir Kota Salatiga). Proposal Skripsi, Fakultas Syariah. Jurusan Ahwal As-syakhsiyyah IAIN Salatiga. Pembimbing Drs. Badwan, M. Ag.
Kata Kunci: pengelolaan, harta waris, wali
Harta waris merupakan hak bagi ahli warisnya tanpa adanya batasan usia bagi ahli waris. Harta anak yang diperoleh sebab mewaris adalah milik anak tersebut sepenuhnya, tetapi karena belum mampunya anak tersebut mengelola maka disitulah peran seorang wali untuk menjaganya. Berangkat dari hal tersebut penulis melakukan study kasus di Dusun Ngepos, Desa Tingkir Tengah dengan dua fokus masalah. Pertama, bagaimana praktik pembagian harta waris di Dusun Ngepos? Kedua, bagaimana pengelolaan harta waris yang diperoleh anak oleh walinya?
Melalui penelitian kualitatif penulis berusaha untuk mengungkap fokus permasalahan diatas. Dengan metode tersebut penulis langsung melakukan observasi lapangan untuk melihat secara langsung praktik pengelolaan harta waris anak oleh walinya. Selain itu, untuk menambah data, penulis juga melakukan wawancara kepada berbagai narasumber yang diperlukan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan harta waris yang dimaksudkan dalam syariat Islam. Kemudian untuk menguji hasil temuan data tersebut, maka penulis mengadakan analisis data dengan menggunakan kerangka teoritik yang dibuat oleh penulis.
viii
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmaanirahiim
Alhamdulillahi robbil‟alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufiq serta inayah-Nya yang tiada
terhingga sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan judul “Pengelolaan Harta Waris Anak Oleh Walinya (Studi Kasus Di Desa Tingkir Tengah
Kecamatan Tingkir Kota Salatiga)”.
Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat serta para pengikutnya yang setia, beliaulah utusan Allah di bumi ini untuk membimbing umat manusia dari zaman jahiliyah sampai pada zaman modern sekarang ini.
Alhamdulillah berkat kerja keras penulis skripsi ini dapat terselesaikan tanpa ada halangan. Tentunya dalam penulisan ini tidak akan terselesaikan dengan sempurna tanpa bantuan dari berbagai pihak yang telah berkenan membantu penulis. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Bapak Drs. Badwan, M.Ag. selaku dosen pembimbing, serta pada seluruh keluarga besar IAIN Salatiga, kepada bapak rektor, ibu dekan, bapak-ibu dosen, karyawan hingga teman-teman mahasisiwa yang selalu memberikan semangat kepada penulis. Selain itu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kepada masyarakat Dusun Ngepos khususnya dan masyarakat Desa Tingkir Tengah Umumnya yang telah membantu penulisan skripsi ini. Tidak lupa kepada keluarga penulis ayah, ibu, kakak, adik yang selalu mengasuh, mendidik, membimbing, memotivasi serta selalu mendoakan penulis.
Penulisan skripsi ini pastinya masih jauh dari kata sempurna. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang bersifat membangun dan dapat memperbaiki penulisan skripsi di masa mendatang. Akhirul kalam, semoga hasil penulisan ini bagi penulis khususnya serta bagi para pembaca pada umumnya. Amin ya Robbal Alamin.
Salatiga, 18 Maret 2018
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
MOTTO... vii
PERSEMBAHAN ... viii
ABSTRAK ... ix
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Kegunaan Penelitian ... 6
E. Penegasan Istilah... 6
x
G. Metode Penelitian ... 9
1. Jenis Penelitian dan Pendekatan ... 9
2. Kehadiran Peneliti ... 10
3. Lokasi Penelitian ... 10
4. Sumber Data ... 10
5. Prosedur Pengumpulan Data ... 10
6. Metode Analisis Data ... 12
7. Pengecekan Keabsahan Data ... 13
8. Tahap-Tahap Penelitian ... 13
H. Sistematika Penulisan ... 14
BAB II LANDASAN TEORI A. Waris ... 16
1. Pengertian Waris ... 16
2. Ahli Waris dan Bagiannya ... 17
B. Perwalian ... 22
1. Pengertian Perwalian ... 22
2. Dasar dan Hukum Perwalian ... 25
3. Kewajiban dan Kewenangan Wali ... 31
4. Syarat-Syarat Menjadi Wali ... 38
5. Dimulai dan Berakhirnya Perwalian ... 39
xi
BAB III PEMBAGIAN WARIS
A.Gambaran Umum Dusun Ngepos, Desa Tingkir Tengah,
Kecamatan Tngkir, Kota Salatiga ... 51
1. Letak Georafis ... 51
2. Batas Wilayah ... 52
3. Keadaan Demografi ... 52
B.Pembagian Harta Waris di Dusun Ngepos ... 56
C.Tinjauan Hukum Pembagian Harta Waris di Dusun Ngepos ... 59
BAB IV PENGELOLAAN HARTA WARIS ANAK A. Pengelolaan Harta Waris Anak di Dusun Ngepos ... 65
B. Tinjauan Hukum terhadap Pengelolaan Harta Waris Anak di Dusun Ngepos ... 70
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 75
B. Saran ... 76
C. Penutup ... 77 DAFTAR PUSTAKA
xii
DAFTAR TABEL
1.1 Jumlah Penduduk Menurut Umur ... 52
1.2 Jumlah Penduduk Menurut Agama ... 53
1.3 Jumlah Penduduk Menurut Pekerjaan ... 54
1.4 Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan ... 55
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
1.
Nota Pembimbing
2.
Permohonan Izin Penelitian
3.
Lembar Konsultasi
4.
Surat Keterangan Keaktifan
1 adalah manusia bekerja tenaga dan pikirannya guna memperoleh harta, sedang harta yang diperoleh dengan tanpa usaha antara lain, harta hasil temuan, hibah, waris, dan lain sebagainya. Dengan harta manusia memenuhi kebutuhan pokoknya, seperti makan, berpakaian dan membangun tempat tinggal.
Manusia dengan harta yang dimilikinya sering muncul sifat buruknya,
seperti sombong, riya‟, takabur dan lain sebagainya sehingga manusia lupa
bahwasanya hakikat pemberian harta adalah sarana untuk beribadah kepada-Nya. Maka Allah memberi peringatan dalam Al Quran surat Al A‟raf ayat 31 (1983: 225) sebagai berikut:
Dalam ayat ini terdapat dua inti pembahasan. Pertama, melaksanakan ibadah dianjurkan memakai pakaian yang baik. Kedua, makanan dan
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap
2
minuman merupakan rizki yang diberikan Allah sehingga dilarang menggunakannya secara berlebihan. Makanan dan minuman merupakan salah satu bentuk harta. Jika diperluas pengertiannya, penggunaan harta harus dalam batas kewajaran.
Selanjutnya mengenai harta yang diperoleh sebab mewaris. Dalam Inpres no. 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 171(a) disebutkan bahwasanya yang dimaksud hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing (1999: 81).
Dari pengertian tersebut diatas, sangat jelas inti dari kewarisan adalah berpidahnya hak atas harta sesuai dengan bagiannya. Tentang siapa saja yang berhak menjadi ahli waris ada dua sebab, pertama karena mempunyai hubungan darah, kedua karena perkawinan. Pada masyarakat umum yang mayoritas beragama Islam, pembagian waris dilakukan dengan pedoman yang berbeda-beda sehingga bagian yang diterima ahli waris antara satu keluarga dengan lainnya dapat berbeda.
3 mendapat separuh dari seluruh harta waris, sedang anak laki-laki bagiannya bila bersama anak perempuan adalah dua kali lipatnya. Jumlah tersebut dirasa pantas dan cukup banyak bila dibandingkan dengan ahli waris lainnya.
Bila anak yang menjadi ahli waris masih dibawah umur atau belum dewasa sehingga dirasa anak tersebut masih belum mampu untuk mengelola harta miliknya, maka anak tersebut masih dibawah kekuasaan walinya (Afandi, 1997: 156). Dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer), kekuasaan atas anak terbagi dalam dua hal, yakni kekuasaan atas pribadi si anak dan kekuasaan atas harta kekayaan si anak. Dalam hal ini wali mempunyai peran yang sangat penting, sebab wali menjadi pengganti dari kedua orang tua si anak dalam berbagai hal.
Melihat apa yang terjadi di masyarakat Dusun Ngepos Desa Tingkir Tengah Kecamatan Tingkir Kota Salatiga yang mayoritas beragama Islam, pengeloaan harta waris anak tersebut dilakukan oleh wali dari anak. Perwalian dilakukan oleh ayah, atau ibu, atau saudara, atau, paman ataupun,
Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan. Dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta
4
kakek, atau nenek yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan anak. Artinya, pewalian dilakuakan oleh kerabat anak sehingga pengelolan harta waris anak tersebut bersifat tertutup sehingga rawan terjadi penyalahgunaan baik secara sengaja maupun tidak disengaja karena hanya wali yang mengetahuinya.
Penulis memiliki pertanyaan berkaitan dengan pengelolaan harta anak sudah sesuaikah dengan apa yang dimaksudkan dalam surat Al Israa‟ ayat 34 (1983: 429) sebagai berikut; bahasa memiliki arti mendekati harta anak yatim, sedangkan maksud dari mendekati adalah menjaga dan menggunakan harta anak yatim. Sehingga maksud dari ayat ini adalah larangan kepada wali untuk menggunakan harta anak yatim kecuali dengan cara yang pantas, serta hendaknya harta tersebut diserahkan atau dikembalikan kepada anak yatim tersebut ketika ia sudah dewasa.
Penulis tertarik ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana pembagian harta waris dalam satu keluarga yang didalamnya terdapat ahli waris seorang Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta
5
anak yang masih dibawah umur dan kondisi harta waris anak yang berada dalam perwalian serta cara wali tersebut mengelola harta warisnya. Penulis ingin meneliti permasalahan tersebut kedalam sebuah judul skripsi yang berjudul “PENGELOLAAN HARTA WARIS ANAK OLEH WALINYA (Study Kasus Di Dusun Ngepos Desa Tingkir Tengah Kecamatan Tingkir Kota Salatiga)”.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana pembagian harta waris yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Ngepos?
2. Bagaimana wali mengelola harta waris milik anak yang terjadi di Dusun Ngepos?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai setelah penelitian ini selesai adalah: 1. Mengetahui metode pembagian waris yang terjadi di Dusun Ngepos. 2. Mengetahui pengelolaan harta yang diperoleh anak sebab waris yang
6
D. Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu sebagai berikut:
1. Secara teoritis
Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dibidang hukum Islam, khususnya dibidang kewarisan dan perwalian anak, dan dapat digunakan sebagai acuan bagi pihak-pihak yang akan melakukan penelitian lanjutan serta dapat menambah bahan pustaka bagi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga
2. Secara Praktis
a. Mengetahui batas-batas kekusaan orang tua terhadap pribadi maupun harta si anak.
b. Digunakan untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Hukum pada jurusan Al-Ahwal Al-Syaksyiyyah IAIN Salatiga.
E. Penegasan Istilah
Agar didalam penelitian ini tidak terjadi penafsiran yang berbeda dengan maksud peneliti, maka peneliti akan menjelaskan istilah didalam judul ini. Istilah yang perlu peneliti jelaskan adalah:
1. Pengelolaan
7
yang dimaksud peneliti adalah segala kegiatan yang berkaitan dengan mengelola kususnya berkaitan dengan harta waris milik anak.
2. Harta waris
Dalam KHI pasal 171 (e) pengertian dari harta waris adalah harta bawaan ditambah dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah, pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat (1999: 81). Ringkasnya dari pengertian ini, harta waris dapat diartikan sebagai harta yang ditinggalkan oleh seseorang yang telah meninggal.
3. Anak
Menurut KUHPerdata pasal 330 ayat 1 dinyatakan bahwasannya seorang belum dikatakan dewasa jika umurnya belum genap 21 tahun, kecuali soseorang tersebut telah menikah sebelum umur 21 tahun. Artinya, bila seseorang tersebut belum dinyatakan dewasa berarti seseorang tersebut masih merupakan seorang anak. Sedang makna yang ingin ditegaskan penulis adalah seseorang yang masih dibawah 21 tahun atau belum menikah.
4. Wali
8
kerabat dengan anak yang berada dalam perwaliannya yang melakukan kekuasaan asuh kepada anak sebagai orang tua.
Jadi maksud judul penelitian ini adalah pengelolaan harta anak yang belum berusia 18 tahun sehingga masih dalam perwalian. Harta yang dikelola disini adalah harta yang diperoleh sebab mewaris dan pengelolaan dilakukan oleh walinya.
F. Telaah Pustaka
Sejauh pengamatan peneliti, belum pernah ada penelitian yang spesifik mengenai pengelolaan harta anak oleh walinya di Kota Salatiga. Namun demikian ada beberapa penelitian yang berkaitan dengan perwalian dan hak-hak yang dimiliki wali terhadap harta anak akan dijelaskan sebagai berikut: 1. Skripsi yang disusun oleh Muhammad Noor Kholis (2012) S.1 Jurusan
Syariah STAIN Salatiga, dengan judul “hak ayah angkat dalam pengelolaan harta waris anak angkat (study putusan P.A.Salatiga.no
010/pdt.P/2011/P.A.Sal)”. Penelitian ini membahas mengenai
undang-undang perlindungan anak dan pembolehan dalam hukum positif orang tua angkat mengambil upah atas anak. Sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti memfokuskan pada pengelolaan harta waris anak oleh walinya.
9
Penelitian ini membahas mengenai sebab-sebab pengangkatan anak serta akibatnya terhadap lingkungan. Didalamnya juga disinggung mengenai hak-hak serta kewajiban orang tua atas anak angkat.
Penelitian ini berbeda dengan dua penelitian diatas dalam hal fokus penelitian. Penelitian ini membahas pratik pengelolahan harta waris anak oleh walinya yang terjadi di masyarakat, sedangkan dua penelitian diatas berfokus pada pengelolaan harta waris anak sesuai hukum positif, pengangkatan anak, dan akibat hukumnya.
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian dan Pendekatan
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang lebih banyak menggunakan kualitas subyek guna mendiskripsikan apa yang menjadi temuan (Hermawan, 2004: 14).
10
2. Kehadiran Peneliti
Penelitian dan pengumpulan data-data di Dusun Ngepos Desa Tingkir Tengah Kecamatan Tingkir Kota Salatiga ini dimulai pada tanggal 12 Maret 2017 sampai dengan selesai penelitian.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini bertempat di Dusun Ngepos Desa Tingkir Tengah Kecamatan Tingkir Kota Salatiga. Adapun alasan pemilihan tempat ini adalah bahwasanya peneliti merasa dapat mengumpulkan data secara mudah dengan harapan, penelitian ini dapat selesai dengan hasil terbaik.
4. Sumber Data
Sumber data oleh Suharsimi Arikunto yang dikutip oleh Maslikhah (2013:320) dibagi menjadi tiga ( 3) yakni orang, tulisan dan tempat. Orang meliputi wali yang melakukan pengelolaan harta waris di Dusun Ngepos Desa Tingkir Tengah dan ulama di Desa Tingkir Tengah. Adapun tulisan berupa arsip, buku-buku, dokumen-dokumen yang berhubungan dengan penelitian. Dan tempat yaitu di Dusun Ngepos Desa Tingkir Tengah Kecamatan Tingkir Kota Salatiga.
5. Prosedur Pengumpulan Data
11
tersebut, data sekunder diperlukan guna mendukung penelitian (Suryabrata, 2009: 39). Data sekunder berupa dokumen misalnya data mengenai keadaan demografis suatu daerah, data produktifitas suatu desa dan sebagainya. Dapat diperoleh dengan cara:
a. Wawancara
Wawancara adalah salah satu sumber data studi kasus yang sangat penting, karena wawancara bertujuan untuk mengetahui suatu peristiwa tertentu dari orang-orang yang berkaitan (Moleong, 2002: 135). Dalam pengumpulan data, peneliti mewancarai secara mendalam, diarahkan pada peristiwa tertentu dengan para informan yang sudah dipilih untuk mendapatkan data yang diperlukan. Pihak-pihak yang diwawancarai adalah wali atas seorang anak yatim atau piatu atau keduanya, dan ulama.
b. Pengamatan (Observasi)
Dengan membuat kunjugan lapangan terhadap lokasi studi kasus, peneliti melakukan observasi langsung yaitu dengan melihat dan mengamati secara langsung keadaan desa guna memperoleh data yang menyakinkan dalam proses tersebut.
12
c. Studi Pustaka
Studi Pustaka yaitu penelitian mencari dari bahan-bahan tertulis (Amirin, 1990: 135) berupa catatan, buku-buku, surat kabar, dan sebagainya.
6. Metode Analisis Data
Setelah data dikumpulkan dengan lengkap, tahap berikutnya adalah tahap analisa. Penulis menganalisa data mengunakan tehnik yang dikemukakan oleh Agus Salim yang dikutip oleh Maslikhah (2013: 323) yakni sebagai berikut:
a. Reduksi Data
Yaitu proses pemilihan, pemutusan pada penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data kasar yang diperoleh dilapangan. b. Penyajian Data
Menyajikan data berarti mengumpulan informasi yang bersifat deskripsi yang tersusun serta memungkinkan untuk ditarik kesimpulan dan diambil tindakan.
c. Verifikasi
13
7. Pengecekan Keabsahan Data
Keabsahan data merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian, karena dari itulah nantinya akan muncul teori. Dalam memperoleh keabsahan temuan, penulis akan menggunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, ketekunan pengamatan, triangulasi (menggunakan beberapa sumber, metode, teori), pelacakan kesesuaian, kecukupan refensi dan pengecekan anggota (Maleong, 2002: 178). Jadi temuan data tersebut bisa diketahui keabsahannya.
Untuk menggunakan teknik triangulasi dengan sumber dapat ditempuh dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan wawancara, membandingkan apa yang dikatakan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, membandingkan apa dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang masa, membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen yang berkaitan (Maleong, 2002: 178).
8. Tahap-Tahap Penelitian
14
a. Pralapangan
Sebelum terjun kelapangan, peneliti mengkaji buku-buku yang berkaitan dengan waris, kekuasaan orang tua dan perwalian terhadap anak sebagai hipotesis awal.
b. Kegiatan lapangan
Setelah memiliki hipotesis awal mengenai pengelolaan harta waris, kemudian peneliti melakukan observasi keobjek penelitian untuk melihat langsung situasi dan kondisi pengelolaan harta waris di Dusun Ngepos Desa Tingkir Tengah, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga.
c. Analisis data
Dari hipotesis awal dan data yang ditemukan dilapangan, maka penulis akan menganalisis kedua data tersebut sehingga dapat ditarik kesimpulannya.
H. Sistematika Penulisan
Dalam menyusun skripsi ini penulis membagi kedalam beberapa bab dan masing-masing bab mencangkup beberapa sub bab yang berisi sebagai berikut:
15
pendekatan, kehadiran peneliti, tempat/lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, metode analisis data, pengecekan keabsahan data, tahap-tahap penelitian, dan yang terakhir adalah sistematika penulisan.
2. Bab II berisikan landasan teori tentang waris yang meliputi pengertian waris, ahli waris dan bagian masing-masing, perwalian yang meliputi, pengertian perwalian, dasar dan hukum dalam perwalian, kewajiban dan kewenangan wali, syarat menjadi wali, dimulai dan berakhirnya perwalian, serta pengelolaan harta waris anak.
3. Bab III berisikan hasil penelitan yang terdiri dari gambaran umum objek penelitian yaitu Dusun Ngepos, pembagian harta waris anak oleh walinya di Dusun Ngepos dan tinjauan hukum mengenai pembagian harta waris di Dusun Ngepos.
4. Bab IV berisikan praktik pengelolaan harta waris di Dudsun Ngepos dan tinjauan hukum mengenai pengelolaan harta waris di Dusun Ngepos. 5. Bab V, bab ini merupakan penutup atau bab akhir dari penyusunan skripsi
16
BAB II
LANDASAN TEORI A. Waris
1. Pengertian Waris
Al-miirats, dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infintif)
dari kata waritsa-yaritsu-irtsan-miiraatsan. Makna menurut bahasa ialah perpindahan sesuatu dari seseorang kepada orang lain, atau dari suatu kaum ke kaum lain. Sedangkan makna Al-miirats menurut istilah oleh para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup, baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang), tanah, atau apa saja yang
berupa hak milik legal secara syar‟i ( Ash Shabuni, 1995: 33).
Menurut pasal 171 KHI hukum kewarisan adalah:
“Hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan
harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing”.
Hukum kewarisan Islam yang disampaikan oleh Muhammad Asy-Syarbini yaitu:
“Ilmu fiqhi yang berpautan dengan pembagian harta pusaka,
pengetahuan tentang cara penghitungan yang dapat
menyampaikan kepada pembagian harta pusaka peninggalan
untuk setiap pemilik hak pusaka” (Budiyono, 1999: 1).
17
2. Ahli Waris Dan Bagiannya
Yang dimaksud dengan ahli waris adalah sekumpulan orang atau seorang individu atau kerabat-kerabat atau keluarga yang ada hubungan keluarga dengan orang yang meninggal dunia (pewaris) dan berhak mewarisi atau menerima harta peninggalan yang ditinggal mati oleh seorang (Ramulyono, 1994: 103).
Adapun yang termasuk ahli waris adalah:
a. Anak-anak (walad) beserta keturunan dari orang yang meninggal dunia baik laki-laki maupun perempuan.
b. Orang tua yaitu ibu dan bapak dari yang meninggal dunia. c. Saudara-saudara baik laki-laki maupun perempuan
d. Suami atau istri yang hidup lebih lama.
Ahli waris yang dicantumkan pada pasal 174 Kompilasi Hukum Islam adalah sebagi berikut: pertama, menurut hubungan darah. Golongan laki terdiri dari: ayah, anak laki, saudara laki-laki, paman dan kakek. Golongan perempuan terdiri dari: ibu, anak perempuan, saudara perempuan dari nenek. Kedua, menurut hubungan perkawinan terdiri dari: duda atau janda. Ahli waris menurut hubungan darah tersebut dapat dirinci, ahli waris laki-laki 13 (tiga belas) orang dan ahli waris perempuan 8 (delapan) orang, jadi seluruhnya 21 orang. Yang termasuk ahli waris laki-laki adalah: a. Ayah
18
c. Anak laki-laki
d. Cucu laki-laki garis laki-laki e. Saudara laki-laki sekandung f. Saudara laki-laki seayah g. Saudara laki-laki seibu
h. Anak laki-laki saudara laki-laki sekandung i. Anak laki-laki saudara laki-laki seayah j. Paman, saudara laki-laki ayah sekandung k. Paman, saudara laki-laki ayah seayah l. Anak laki-laki paman sekandung m. Anak laki-laki paman seayah
Urutan tersebut disusun berdasarkan kedekatan kekerabatan ahli waris tersebut dengan pewaris. Kalau semua ahli waris tersebut ada, maka yang mendapat warisan anak laki-laki dan ayah. Sedangkan ahli waris perempuan adalah sebagai berikut:
a. Ibu
b. Nenek dari garis ibu c. Nenek dari garis ayah d. Anak perempuan
19
Apabila semua ahli waris perempuan tersebut ada ketika pewaris meninggal dunia, maka yang dapat menerima bagian adalah ibu, anak perempuan, cucu garis laki-laki dan saudara perempuan sekandung. Jika semua ahli waris laki-laki dan perempuan tersebut ada, maka yang dapat menerima warisan adalah ayah, ibu, anak laki-laki dan anak perempuan (Rofiq, 1998: 387).
Bila berpedoman pada syariat Islam, ahli waris berdasarkan haknya atas warisan terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu dzawil furudl, ashobah dan dzawil arham. Hak ahli waris dzawil furud adalah
a. Bagian ½ (setengah)
Bagian ½ disebut dalam Al Qur‟an menjadi hak seorang
anak perempuan, seorang saudara perempuan sekandung atau seayah dan suami bila pewaris tidak meninggalkan anak yang berhak waris.
b. Bagian ¼ (seperempat)
Bagian ¼ disebut dalam Al Qur‟an menjadi hak suami jika pewaris meninggalkan anak yang berhak waris dan istri apabila pewaris tidak meninggalkan anak yang berhak waris.
c. Bagian 1/8 (seperdelapan)
Bagian 1/8 disebutkan dalam Al Qur‟an menjadi hak istri
20
d. Bagian 2/3 (dua pertiga)
Bagian 2/3 disebut dalam Al Qur‟an menjadi hak 2 orang
saudara perempuan kandung atau seayah, dan dua anak perempuan.
e. Bagian 1/3 (sepertiga)
Bagian 1/3 disebut dalam Al Qur‟an menjadi hak ibu
apabila pewaris tidak meninggalkan anak atau lebih dari seorang saudara, dan saudara-saudara seibu jika lebih dari seorang. f. Bagian 1/6(seperenam)
Bagian 1/6 disebut dalam Al Qur‟an menjadi hak ayah dan
ibu jika pewaris meninggalkan anak yang berhak waris, juga ibu apabila pewaris meningalkan saudara-saudara lebih dari seorang, dan seorang saudara seibu.
Ahli waris ashabah ialah yang tidak ditentukan bagiannya, akan tetapi menerima seluruh harta warisan jika tidak ada ahli waris dzawil furudl sama sekali, jika ada dzawil furudl, berhak atas
sisanya, dan apabila tidak ada sisanya maka tidak mendapatkan bagian sama sekali. Macam-macam ashabah:
a. Ashabah bi nafsi
laki-21
laki, cucu laki-laki (dari anak laki-laki) saudara laki-laki kandung atau seayah, paman dan sebagainya.
b. Ashabah bi ghoiri
Yang berkedudukan sebagai waris ashabah karena ditarik oleh ahli waris ashabah lain, seperti anak perempuan ditarik menjadi ashabah oleh anak laki-laki, cucu perempuan ditarik menjadi waris ashabah oleh cucu laki-laki, saudra perempuan sekandung atau seayah ditarik menjadi waris ashabah oleh saudara laki-laki kandung atau seayah dan sebagainya.
c. Ashabah ma‟al ghoiri
Yang berkedudukan menjadi waris ashabah karena bersama-sama dengan ahli waris lain, seperti saudara perempuan kandung atau seayah menjadi waris ashabah karena bersama-sama dengan anak perempuan.
Ahli waris dzawil arham adalah ahli waris yang mempunyai hubungan famili dengan pewaris, tetap tidak termasuk golongan waris dzawil furudl dan ashabah. Yang termasuk ahli waris dzawil arhaam ialah:
a. Cucu laki-laki atau perempuan, anak-anak dari anak perempuan. b. Kemenakan laki-laki atau perempuan, anak-anak saudara
perempuan kandung, seayah atau seibu.
22
d. Saudara sepupu perempuan, anak-anak perempuan paman (saudara laki-laki ayah).
e. Paman seibu (saudara laki-laki ayah seibu). f. Paman, saudara laki-laki ibu.
g. Bibi, sudara perempuan ayah. h. Bibi, saudara perempuan ibu. i. Kakek, ayah ibu.
j. Nenek buyut, ibu kakek.
k. Kemenakan (Basyir, 1995: 25-27).
B. Perwalian
1. Pengertian perwalian
Perwalian dalam literatur fiqh Islam disebut dengan al walayah. Berasal dari bahasa arab yang mempunyai kata dasar wala-yali-walyan yang secara harafiah berarti mencintai, teman dekat, sahabat, yang menolong, sekutu, pengikut, pengasuh, dan orang yang mengurus perkara atau urusan seseorang.
Secara etimologi diartikan dengan kekuasaan atau otoritas. Sedangkan pengertian secara terminologinya menurut para fuqaha adalah kekuasaan seseorang untuk secara langsung melakukan tindakan sendiri tanpa bergantung atas seizin orang lain.
23
anak yang belum dewasa jika anak itu tidak berada dalam kekuasaan orang tua. Dengan demikian bila mana ada anak yang orang tuanya bercerai atau salah satunya meninggal, maka anak ini berada dalam perwalian. Terhadap anak yang lahir diluar nikah, dikarenakan tidak ada kekuasaan orang tua didalamnya maka anak ini selalu dalam perwalian.
Menurut R. Sarjono (1979: 36) bahwa perwalian adalah suatu perlindungan hukum yang diberikan seseorang kepada anak yang belum mencapai usia dewasa atau belum pernah kawin yang tidak berada di bawah kekuasaannya.
Dalam pasal 1 (5) UU no. 23 tahun 2002 tentang Perlindugan Anak, wali merupakan orang selaku pengganti orang tua yang menurut hukum diwajibkan mewakili anak yang belum dewasa atau yang belum akil baliq dalam melakukan perbuatan hukum atau orang yang menjalankan kekuasaan asuh sebagai orang tua terhadap anak.
Menurut hukum Indonesia, perwalian didefinisikan sebagai kewenangan untuk melaksanakan perbuatan hukum demi kepentingan, atau atas nama anak yang orang tuanya telah meninggal, atau tidak mampu melakukan perbuatan hukum atau suatu perlindungan hukum yang diberikan pada seseorang anak yang belum mencapai umur dewasa atau tidak pernah kawin yang tidak berada dibawah kekuasaan orang tua (Darmabrata, 2004: 147).
24
umur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tua berada dibawah kekuasaan wali. Perwalian itu mengenai pribadi anak yang bersangkutan maupun harta bendanya.
Dalam perwalian Islam dikenal pula istiah al hajru (pengampuan) yang secara harafiah berarti penyempitan atau pencegahan. Berkaitan dengan harta, al hajru diartikan pencegahan terhadap seseorang dari kemungkinan mengelola hartanya.
Pengampuan disini terbagi menjadi dua macam. Pertama, pengawasan terhadap hak orang lain, seperti terhadap orang yang mengalami pailit atau bangkrut. Kedua, pengampuan terhadap jiwa atau diri, seperti pengawasan yang dilakukan terhadap anak dibawah umur, orang bodoh dan orang gila.
Sementara dalam KUHPer dikenal isitah curateale (pengampuan) yang merupakan perwalian kusus terhadap orang yang telah dewasa dengan keterbatasannya sehingga ia tidak dapat bertindak dengan leluasa.
2. Dasar dan Hukum Perwalian
25
Dalam pasal 108 orang tua dapat mewasiatkan kepada seseorang atau badan hukum tertentu untuk melakukan perwalian atas diri dan kekayaan anaknya sesudah meninggal dunia. Selanjutnya pasal 109 menentukan bahwa Pengadilan Agama dapat mencabut hak perwalian seseorang atau badan hukum dan memindahkannya kepada pihak lain.
Pasal 110 mengatur kewajiban wali untuk mengurus diri dan harta orang yang berada dibawah perwaliannya. Pasal 111 apabila anak yang berada dibawah perwalian telah mencapai usia 21 tahun, maka wali berkewajiban menyerahkan seluruh hartanya kepadanya. Terakhir dalam pasal 112, wali dapat mempergunakan harta orang yang berada dibawah perwaliannya, sepanjang diperlukan untuk kepentingannya menurut kepatutan atau bil ma‟ruf kalau wali itu fakir.
Selain dari Kompilasi Hukum Islam, Al Quran dan Hadis menjadi rujukan mengenai pentingnya pemeliharaan terhadap harta, terutama pemeliharaan terhadap harta anak yatim yang telah ditinggalkan oleh orang tuanya. Dalam hal ini firman Allah dalam Al Quran (1983: 114):
26
mengenai pemeliharaan dan perlindungan terhadap harta sampai mereka telah cakap dalam pengelolaannya. Artinya jika anak tersebut belum cakap hukum, maka pengelolaan harta tersebut harus dijaga dan dipelihara oleh walinya. Kemudian disebutkan pada ayat berikutnya (1983: 115):
Setelah turunnya ayat ini, kemudian diperjelas dengan hadis nabi (Muslim: 229) berikut ini: Dan ujilah anak-anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah, kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka hartanya. Dan janganlah kamu tergesa-gesa (menyerahkannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (diantara pemeliharaan itu) mampu, maka hendaklah dia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah dia makan harta itu menurut cara yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta itu kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi. Dan cukuplah Allah sebagai
27
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdah bin Sulaiman dari
Hisyam dari ayahnya dari Aisyah tentang firmanNya: “Dan
barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta
itu menurut yang patut.” (An Nisaa`: 6) Aisyah berkata:
(ayat ini) turun tentang wali hartanya anak yatim yang menjaganya dan memperbaikinya, ia boleh makan darinya jika membutuhkan.
Selain perintah untuk menjaga anak yatim tersebut, baik penjagaan jiwa dan penjagaan terhadap harta, terdapat pula larangan keras bagi wali memakan harta anak yatim secara zalim. Selain itu, dalam berbagai hadis Nabi SAW, juga telah menjelaskan mengenai ketentuan dan dasar hukum mengenai perwalian. Sabda Nabi SAW:
28
Dalam hadis lain Rasulullah SAW juga menyatakan tentang kedudukan hukum tentang perwalian. Nabi Saw bersabda (Ibnu Hajar: 243):
ًِف ىَضَق ىهسو هٍهع اللَّ ىهص ًَِّبَُّنَا ٌََّأ ( ;اًَُهَُْع ُ َّ َاللَّ ًَِضَز ِبِشاَع ٍِْب ِءاَسَبْنَا ٍَْعَو
اَهِتَناَخِن َةَصًَْح ِتَُْبِا
,
) ِّوُ ْلَْا ِتَنِصًَُِْب ُتَناَخْنَا :َلاَقَو
َخُبْنَا ُهَجَسْخَأ
يِزا
Artinya: Dari al-Barra' Ibnu 'Azb bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah memutuskan puteri Hamzah agar dipelihara saudara perempuan ibunya. Beliau bersabda: "Saudara perempuan ibu (bibi) kedudukannya sama dengan ibu." Riwayat Bukhari.
Landasan hukum tentang perwalian dalam KUHPerdata telah disebutkan pada Bab XV dalam Pasal 331 sampai dengan Pasal 418. Selain perwalian dalam bentuk perorangan, KUHPerdata juga mengatur tentang perwalian yang dilakukan oleh badan hukum. Dalam pasal 355 ayat 2 KUHPerdata dinyatakan bahwa badan hukum tidak dapat diangkat menjadi wali.
Tetapi berkaitan dengan hal tersebut, dalam pasal 365 a (1) KUHPerdata bahwa dalam hal badan hukum diserahi perwalian maka panitera pengadilan yang menugaskan perwalian itu memberitahukan putusan pengadilan itu kepada dewan perwalian dan kejaksaan. Tetapi jika pengurus badan hukum tersebut tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai wali, maka badan tersebut dapat dicabut kewenangannya sebagai wali.
29
a. Mereka yang sakit ingatan (krankzninngen). b. Mereka yang belum dewasa (minderjarigen).
c. Mereka yang berada dibawah pengampuan (curatele).
d. Mereka yang telah dipecat, baik dari kekuasaan orang tua, maupun dari perwalian, tetapi hal ini hanya berlaku dengan ketetapan hakim. e. Hakim ketua, hakim ketua pengganti,hakim anggota, panitera,
panitera pengganti, bendahara, juru buku dan agen Balai Harta Peninggalan, kecuali terhadap anak-anak atau anak tiri mereka sendiri
Menurut hukum adat perceraian atau meninggalnya salah satu orang tua tidak menimbulkan perwalian. Hal ini disebabkan karena didalam perceraian, anak masih berada pada salah satu dari kedua orang tuanya. Demikian juga pada situasi meninggalnya salah satu orang tuanya. Dengan demikian yang lebih memungkinkan terjadinya perwalian, adalah apabila kedua orang tua dari anak tersebut meninggal dunia dan anak yang ditinggalkan belum dewasa. Dengan meninggalnya kedua orang tua, anak menjadi yatim piatu dan mereka semuanya tidak berada dibawah kekuasaan orang tua.
30
karena meninggal dunia dilakukan oleh kerabat dari pihak ayah (Soekanto, 2008: 257-258).
Pada dasarnya dalam hukum adat Indonesia tidak ada perbedaan dalam mengatur pemeliharaan anak dan mengurus harta kekayaan anak. Pemeliharaan anak tidak hanya sebagai kewajiban ibu atau bapak saja, melainkan juga sebagai kewajiban kerabatnya. Oleh karena itu dalam hukum adat tidak memberi kepastian siapa yang menggantikan orang tua dalam hal memelihara anak tersebut apabila orang tuanya telah tiada ataupun bercerai.
Menurut R. Wirjono Prodjodikoro (1960: 85) penyelesaian pemeliharaan anak pada umumnya erat hubungannya dengan tiga macam corak kekeluargaan dan perkawinan yang ada di Indonesia. Corak keibuan, corak kebapakan dan corak keibu bapakan yakni garis kekeluargaan ibu dan bapak keduanya pada hakikatnya memiliki peranan yang sama kuat.
Menyangkut perwalian yang tidak berdasarkan pada hukum formal melainkan berdasarkan pada kebiasaan masyarakat tertentu yang menunjuk wali berdasarkan kebiasaan masyarakat setempat sehingga penunjukan wali tidak memiliki kepastian hukum.
3. Kewajiban dan Kewenagan Wali
31
pemeliharaan harta benda milik anak. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam pasal 110-112 KHI.
Dalam pasal 110 dijelaskan wali berkewajiban mengurus diri dan harta orang yang berada dibawah perwaliannya dengan sebaik-baiknya dan berkewajiban memberikan bimbingan agama, pendidikan dan keterampilan lainnya untuk masa depan orang yang berada dibawah perwaliannya.
Wali dilarang mengikatkan, membebanni dan mengasingkan harta orang yang berada dibawah perwaliannya, kecuali bila perbuatan tersebut menguntungkan bagi orang yang berada di bawah perwaliannya yang tidak dapat dihindarkan.
Wali bertanggung jawab terhadap harta orang yang berada dibawah perwaliannya, dan mengganti kerugian yang timbul sebagai akibat kesalahan atau kelalaiannya.
Dengan tidak mengurangi kententuan yang diatur dalam pasal 51 ayat (4) Undang-undang No.1 tahun 1974, pertanggungjawaban wali tersebut ayat (3) harus dibuktikan dengan pembukuan yang ditutup tiap satu tahun satu kali.
32
Apabila perwalian telah berakhir, maka Pengadilan Agama berwenang mengadili perselisihanantara wali dan orang yang berada dibawah perwaliannya tentang harta yang diserahkan kepadanya.
Terakhir dalam pasal 112, seorang wali dapat mempergunakan harta orang yang berada dibawah perwaliannya, sepanjang diperlukan untuk kepentingannya menurut kepatutan atau bil ma`ruf kalau wali tersebut dalam keadaan fakir.
Sementara dalam Pasal 51 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 menyatakan bahwa:
a. Wali wajib mengurus anak yang berada dibawah kekuasaannya dan harta bendanya sebaik baiknya dengan menghormati agama kepercayaan anak itu.
b. Wali wajib membuat daftar harta benda anak yang berada dibawah kekuasaannya pada waktu memulai jabatannya dan mencatat semua peru bahan-perubahan harta benda anak tersebut.
c. Wali bertanggung jawab tentang harta benda anak yang berada dibawah perwaliannya serta kerugian yang ditimbulkan kesalahan dan kelalaiannya.
33
e. Wali bertanggung jawab tentang harta benda anak yang berada di bawah perwaliannya serta kerugian yang ditimbulkan karena kesalahan atau kelalaiannya.
Terdapat pula tugas maupun kewajiban wali sebagaimana diatur dalam KUHPerdata. Berdasarkan Pasal 383 KUH Perdata tugas wali adalah sebagai berikut:
a. Pengawasan atas diri pupil (orang yang memerlukan perwalian).
Wali harus menyelenggarakan pemeliharaan dan pendidikan anak yang belum dewasa sesuai dengan kekayaan si yang belum dewasa itu sendiri.
b. Mewakili pupil dalam melakukan semua perbuatan hukum dalam bidang perdata.
c. Mengelola harta benda pupilnya sebagai bapak rumah tangga yang baik (Pasal 385 KUH Perdata).
Setiap wali mempunyai kewajiban terhadap anak-anak yang berada dibawah perwaliannya. Kewajiban wali ini di kelompokkan berdasarkan kewajiban wali secara umum dan kewajiban wali secara khusus. Kewajiban wali secara umum yaitu terdiri atas:
34
b. Wali wajib membuat daftar harta benda anak yang berada dibawah kekuasaannya pada waktu memulai jabatannya dan mencatat semua perubahan-perubahan harta benda anak-anak itu.
c. Wali harus bertanggung jawab tentang harta benda anak yang berada di bawah perwaliannya serta kerugian yang ditimbulkan karena kesalahan atau kelalaiannya.
d. Wali tidak diperbolehkan memindahkan hak atau menggadaikan barang-barang tetap yang dimiliki anak yang berada di bawah perwaliannya kecuali apabila kepentingan anak tersebut menghendakinya.
Sedangkan kewajiban wali secara khusus terkait pada pengelolaan harta peninggalan adalah terdiri atas:
a. Kewajiban memberitahukan kepada Balai Harta Peninggalan (Pasal 368 KUHPerdata) dengan sanksi bahwa wali dapat dipecat dan dapat diharuskan membayar biaya-biaya, ongkos-ongkos, dan bunga bila pemberitahuan tersebut tidak dilaksanakan.
b. Kewajiban mengadakan inventarisasi mengenai harta kekayaan si minderjarige (minderjarige ialah apabila seseorang berada di dalam
35
oleh wali pengawas dan kalau barang-barang minderjarige itu disegel maka diminta agar penyegelan itu dibuka.
c. Kewajiban untuk mengadakan jaminan (Pasal 335 KUHPerdata), wali (kecuali perhimpunan-perhimpunan, yayasan, atau lembaga sosial) mempunyai kewajiban untuk mengadakan jaminan dalam waktu satu bulan sesudah perwalian dimulai, baik itu berupa hipotek, jaminan barang, atau gadai. Bilamana harta kekayaan si pupil bertambah maka wali harus mengadakan atau menambah jaminan yang sudah diadakan.
d. Kewajiban menentukan jumlah yang dapat dipergunakan tiap-tiap tahun oleh minderjarige itu dan jumlah biaya-biaya pengurusan (Pasal 398 KUHPerdata). Kewajiban ini tidak berlaku bagi perwalian oleh bapak atau ibu. Weeskamer (Balai Harta Peninggalan) sesudah memanggil keluarga baik keluarga sedarah maupun periparan akan menyuruh menentukan jumlah yang dapat dipergunakan pada tiap-tiap tahun oleh minderjarige dan jumlah biaya yang diperlukan untuk pengurusan harta benda itu dengan kemungkinan untuk minta banding kepada pengadilan.
e. Kewajiban wali untuk menjual perabot-perabot rumah tangga minderjarige dan semua barang bergerak yang tidak memberikan
36
aturan-aturan lelang yang berlaku di tempat itu kecuali jika bapak atau ibu yang menjadi wali yang dibebaskan dari penjualan itu (Pasal 398 KUHPerdata).
f. Kewajiban untuk mendaftarkan surat-surat piutang negara jika ternyata dalam harta kekayaan minderjarige ada surat-surat piutang negara (Pasal 392 KUHPerdata).
g. Kewajiban untuk menanam sisa uang milik minderjarige setelah dikurangi biaya penghidupan dan sebagainya.
Dalam Pasal 393-398 KUHPerdata selanjutnya dijumpai beberapa perbuatan yang berwenang dilakukan oleh wali dengan mengingat syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang dan perbuatan-perbuatan yang tidak boleh dilakukannya kecuali ada izin dari hakim sebagai berikut:
a. Meminjam uang sekalipun untuk kepentingan minderjarige, tidak boleh juga memindahkan atau menggadaikan barang-barang tidak bergerak atau surat-surat utang negara, piutang-piutang andelnya tanpa mendapatkan kuasa dari pengadilan.
b. Membeli barang-barang tak bergerak dari seseorang minderjarige. Pembelian yang demikian itu hanya diperkenankan kalau dilakukan atas dasar pelelangan umum dan baru berlaku sesudah ada izin dari pengadilan.
37
memanggil dengan sepatutnya keluarga sedarah atau periparan minderjarige.
d. Menerima warisan untuk seseorang minderjarige (perbuatan ini hanya diperbolehkan sesudah diadakan pencabutan boedel).
e. Menolak warisan barang untuk seseorang minderjarige (hanya diperbolehkan dengan persetujuan hakim).
f. Menerima hibah bagi seorang minderjarige (hanya diperbolehkan dengan persetujuan hakim). Ketentuan ini sebenarnya diadakan terhadap hibah-hibah dengan suatu beban.
g. Memajukan gugatan bagi minderjarige.
h. Membantu terlaksananya pemisahan dan pembagian harta kekayaan yang menjadi kepentingan minderjarige.
i. Mengadakan perdamaian di luar pengadilan (dading atau kompromi) bagi minderjarige. Dalam perbuatan ini diperlukan pula persetujuan pengadilan. (R. Soetodjo, 1971:203.)
4. Syarat-Syarat Menjadi Wali
Menurut perundang-undangan yang berlaku, bahwa setiap orang dapat menjadi wali, tetapi ada pengecualian-pengecualiannya. Pengecualian tersebut merupakan golongan orang-orang yang tidak dapat diangkat menjadi wali dalam perwalian. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang wali adalah:
38
Orang yang sakit ingatannya tidak dapat mengurus dirinya sendiri, oleh karena itu orang yang tidak sehat pikirannya adalah dibawah pengampuan, dan segala tindakannya dalam hukum diwakili oleh pengampu, maka keadaanya sama seperti yang masih dibawah umur. b. Wali harus orang yang dewasa.
Seorang dikatakan sudah dewasa jikalau ia telah berumur 21 tahun atau jika ia belum mencapai umur 21 tahun tetapi ia sudah kawin. c. Wali tidak berada di bawah pengampuan.
Seseorang yang sudah dewasa dapat ditaruh dibawah pengampuan, misalnya karena menghambur-hamburkan harta kekayaannya atau karena kurang cerdas pikirannya. Orang yang berada dibawah pengampuan adalah yang tidak memenuhi syarat untuk menjadi wali, sebab mereka harus diwakili dalam melakukan tindakan-tindakannya (Asrul, 1986: 20).
5. Dimulai dan Berakhirnya perwalian
Menyangkut dengan mulai berlaku suatu perwalian, Martiman Prodjohamidjojo (2002: 57) mengatakan suatu perwalian itu berlaku: a. Sejak perwalian itu diangkat oleh hakim.
39
c. Sejak seseorang perempuan bersuami diangkat sebagai wali, baik oleh hakim maupun oleh salah satu orang tua dari kedua orang tuanya dengan bantuan dari suaminya atau dengan kuasa dari hakim. d. Sejak suatu perhimpunan yayasan atau lembaga amal atas
permintaan atau kesanggupan sendiri diangkat menjadi wali. e. Sejak seorang menjadi wali karena hukum.
f. Sejak ditunjuk oleh salah satu orang tua yang menjalankan kekuasaan orang tua, sebelum ia meninggal dunia dengan surat wasiat atau pesan yang dilakukan dihadapan dua orang saksi.
Sedangkan dalam Pasal 331 KUHPerdata menentukan mulai berlakunya perwalian sebagai berikut:
a. Jika seorang wali diangkat oleh hakim, dimulai dari saat pengangkatan jika ia hadir dalam pengangkatan itu. Bila ia tidak hadir maka perwalian itu dimulai saat pengangkatan itu diberitahukan kepadanya.
b. Jika seorang wali diangkat oleh salah satu orang tua, dimulai dari saat orang tua itu meninggal dunia dan sesudah wali dinyatakan menerima pengangkatan tersebut.
c. Bagi wali menurut undang-undang dimulai dari saat terjadinya peristiwa yang menimbulkan perwalian itu, misalnya kematian salah satu orang tua (Soetodjo, 1971: 200).
40
a. Dalam hubungan dengan keadaan anak. 1) Anak telah dewasa.
2) Matinya anak.
3) Timbulnya kembali kekuasaan orang tuanya. 4) Pengesahan seorang anak luar kawin yang diakui. b. Dalam hubungan dengan tugas wali.
1) Ada pemecatan atau pembebasan atas diri wali.
2) Ada alasan pembebasan atau pemecatan dari perwalian. Sedang syarat utama untuk dipecat sebagai wali ialah karena disandarkan pada kepentingan anak itu sendiri.
Dalam Pasal 380 KUHPerdata disebutkan 10 alasan yang merupakan alasan dapat dimintanya pemecatan:
a. Jika wali berkelakuan buruk.
b. Jika dalam menunaikan perwaliannya, wali menampakkan ketidakcakapannya atau menyalahgunakan kekuasaannya atau mengabaikan kewajibannya.
c. Jika wali telah dipecat dari perwalian lain sebab poin (a) dan (b) di atas atau telah dipecat dari kekuasaan orang tua. Jika wali berada dalam keadaan pailit.
41
e. Jika wali dijatuhi pidana yang telah memperoleh kekuatan pasti, karena sengaja telah turut serta dalam suatu kejahatan terhadap anak yang berada dalam perwaliannya.
f. Jika wali dijatuhi pidana yang telah memperoleh kekuatan pasti, karena sesuatu kejahatan terhadap anak yang berada dalam perwaliannya.
g. Jika wali dijatuhi hukuman yang tidak dapat ditiadakan lagi dengan pidana penjara selama dua tahun atau lebih.
h. Jika wali alpha memberitahukan terjadinya perwalian kepada Weeskamer.
i. Jika wali tidak mau memberikan perhitungan tanggung jawab kepada Weeskamer.
Kemungkinan pembebasan sebagai wali (ontheffing) diatur dalam Pasal 382.c KUHPerdata, sedang alasan-alasannya hampir bersamaan dengan pembebasan dari kekuasaan orang tua (Soetodjo, 1971: 206.)
6.Pengelolaan harta waris anak
Pengelolaan harta anak yatim dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. Memelihara Dan Mengembangkan Harta Waris Anak
42
investasi yang sekiranya dapat mendatangkan keuntungan atau kebaikan untuk masa depan anak tersebut (Shihab, 2007: 1107).
Para ulama mempunyai perbedaan pandangan terkait mengelola dan mengembangkan harta anak. Perbedaan pandangan itu lebih dikarenakan perbedaan dalam memaknai kata islah (berbuat baik) pada anak yatim maupun pada hartanya. Kata islah tersebut berasal katakalah: "Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka.
Dari ayat diatas, madzhab Shafi„i menekankan bahwa
43
Harta tidak boleh didiamkan tersimpan, tidak boleh statis tanpa berkembang. Allah menghendaki agar rizki berupa keuntungan dari harta, bukan harta itu sendiri. Suatu harta adalah modal dan rizki
adalah keuntungan yang dianjurkan oleh syara‟.
Maksud mendekati harta anak yatim dalam ayat diatas, adalah mempergunakan harta anak yatim tidak memberikan perlindungan kepada harta itu sehingga habis sia-sia. Namun Allah memberikan pengecualian, apabila untuk pemeliharaan harta itu diperlukan biaya dengan untuk mengembangkannya, maka diperbolehkan bagi wali untuk mengambilnya sebagian dari harta tersebut, karenanya diperlukan orang yang bertanggung jawab untuk mengurusnya (Kementerian Agama RI, 2011: 476).
Hamka (2004: 63) menjelaskan, bahwa harta anak yatim sebaiknya dijalankan dan diperniagakan agar tidak membeku hingga anak yatim tersebut dewasa. Dewasa disini maksudnya mampu
mengelola hartanya sendiri. Selain itu, menurut ketentuan syara‟
walaupun sudah dewasa tetapi dalam keadaan safih (bodoh), maka wali berhak memegang harta itu dan memberi belanja atau jaminan hidup bagi orang dewasa yang bodoh tersebut.
b. Penyerahan Harta Kepada Anak
44 memberikan harta anak-anak yatim yang berada dalam kekuasaannya dengan tidak memberikan harta yang jelek sebagai penukaran harta yang baik, seperti mengambil tanah mereka yang subur ditukar dengan yang tandus, begitupun dengan binatang ternak, uang, atau jenis harta apapun. Juga larangan memakan harta si anak dengan mengumpulkannya dengan harta wali, baik semua atau sebagian.
Sebelum harta anak diserahkan kepadanya, hendaknya wali menguji kedewasaan mereka agar diperoleh kepastian bahwa mereka benar-benar telah dewasa dan mampu bertanggung jawab atas segala tindakannya (Shihab, 2007: 107). Firman Allah dalam surat An Nisa‟ ayat 6 (1983:115):
Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu Makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa
Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta),
45
Menurut al Maraghi (1993: 338), menguji anak yatim dilakukan dengan cara memberi sedikit harta untuk digunakan sendiri, apabila ia mempergunakan dengan baik berarti ia sudah dewasa. Hal ini sebagai tanda bahwa ia berakal sehat dan berpikir dengan baik. Ujian ini terus dilakukan sampai mereka mencapai umur baligh, yakni ketika mereka sudah pantas membina rumah tangga. Apabila wali merasakan dalam diri mereka, terdapat tanda-tanda kedewasaan, maka segera memberikan harta mereka.
Kemudian al Maraghi menukil pendapat Imam Abu Hanifah, bahwa memberikan harta anak yatim ialah jika mereka telah mencapai umur 25 tahun, sekalipun cara berpikirnya belum mentampak dewasa. Sebagian ulama mengatakan bahwa penyerahan kepada mereka itu hendaknya dilakukan setelah mereka baligh dan sesudah diperhatikan adanya rushd (kesempurnaan akal).
Menurut ulama fiqh, pengertian kata rushd terbagi dalam tiga pendapat. Pertama, menurut jumhur ulama kematangan akal dan kemampuan memelihara harta. Kedua, dari riwayat Ibnu Abbas mengartikan kata rushd dengan kesalehan beragama dan kemampuan menjaga harta. Ketiga, pendapat Mujahid dan al Nakha‟i bahwa rushd hanya bermakna kematangan akal (Ibrahim, 2005: 163-164).
Pada saat penyerahan harta anak yatim dari walinya, hendaklah
dihadapan saksi. Berkata Ibnu Abbas “Apabila usianya sudah baligh,
46
Tuhan” (Qutb, 2001: 283-284). Adapun dalam mempersaksikan
penyerahan harta itu, hendaklah para wali mempersaksikan dua orang saksi (Kementerian Agama RI, 2011: 119).
c. Pemanfaatan Harta Anak
Wali sebagai pengasuh dan pengurus harta anak berhak untuk memanfaatkan (mengambil) sebagian harta itu dengan cara yang baik, tidak berlebihan, dan tidak dengan cara batil. Wali juga dibolehkan mencampuradukkan hartanya dengan harta anak tersebut dengan syarat harus adil dan benar (Ayyub, 1994: 363).
Dalam KUHPerdata pasal 411 wali dibolehkan mengambil upah atas pengelolaan harta anak, besarannya adalah sebagai berikut; 3% dari segala pendapatan, 2% dari segala pengeluaran, dan 1 ½% dari modal yang ia terima selaku pengurus dari harta anak (Sudarsono, 2005: 210).
47 yatim apabila mengalami kesulitan memisahkan harta anak yatim dengan hartanya sendiri, maka boleh mencampurkan pembelanjaan anak yatim dengan pembelanjaannya, dengan menganggap anak yatim tersebut seperti anak kandungnya sendiri (Hasan, 2006: 84-85).
Menurut al-Maraghi, yang dilarang terhadap anak yatim yang berkaitan dengan hartanya adalah jika wali membelanjakan hartanya secara berlebih-lebihan, meskipun ditujukan untuk anak yatim sendiri. Sebaiknya, apabila wali tersebut kaya tidak perlu mengambil bagian dari harta anak yatim, namun jika tidak mampu ia diperbolehkan mengambil harta anak yatim sekedarnya (Shihab, 2007: 1107). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat An
Nisa‟ ayat 6 (1983: 115):
48
Kebolehan seorang wali yang miskin mengambil harta anak yatim mengandung dua pengertian: pertama, diperbolehkan mengambil harta tersebut sebagai hutang terhadap anak yatim. Kedua, para wali diperkenankan untuk mengupahi dirinya sendiri dari harta anak yatim yang ia rawat.
Menurut Ibnu Jauzi dalam menafsirkan kata bil ma„ruf ada empat jalan yaitu: pertama, mengambil harta anak yatim dengan jalan qiradl. Kedua, memakannya untuk sekedar memenuhi kebutuhan saja. Ketiga, mengambil harta anak yatim hanya sebagai imbalan apabila ia telah bekerja untuk mengurus kepentingan harta anak yatim. Keempat, memakan harta anak yatim ketika dalam keadaan terpaksa. Apabila ia mampu, maka ia harus mengembalikan harta yang telah dimakannya. Jika ia benar-benar tidak mampu untuk mengembalikan harta itu, maka hal tersebut dihalakan baginya (Nur, 2001: 123).
49
Dalam hal ini menunjukkan sikap kehati-hatian agar harta anak yatim tersebut tetap terjaga dengan baik tanpa tindakan kezaliman. Sebagaimana firman Allah dalam surat An Nisa‟ ayat 10 (1983:
Al-Maraghi menjelaskan bahwa dzulman artinya memakan hak-hak anak yatim dengan cara aniaya, tidak dengan cara seperlunya pada saat terpaksa atau dianggap sebagai upah bagi pekerjaan pengasuh. Firman Allah fi butunihim, artinya sepenuh perut mereka
dan naran artinya perbuatan yang menyebabkan seseorang
merasakan azab neraka (al Maraghi, 1993: 347).
50
BAB III
PEMBAGIAN WARIS
A. Gambaran Umum Dusun Ngepos, Kelurahan Tingkir Tengah, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga
Dusun Ngepos merupakan salah satu dusun yang menjadi bagian dari Desa Tingkir Tengah Kecamatan Tingkir Kota Salatiga. Sejak pemekaran Kota Salatiga pada tahun 1994, Desa Tingkir Tengah yang sebelumnya menjadi bagian dari Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang tidak lagi menggunakan kepala dusun dalam struktur pemerintahannya, melainkan dari kepada desa langsung kepada RW.
Dusun Ngepos terdiri dari dua RW, yakni RW 07 dan RW 08 serta 9 RT. Adapun secara rinci akan penulis kemukakan keadaan umum Dusun Ngepos sebagai berikut:
1. Letak Geografis
51
2. Batas Wilayah
Dusun Ngepos memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut: Selatan : Desa Bener, Kecamatan Tengaran
Timur : Dusun Wiroyudan, Desa Tingkir Tengah Utara : Desa Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir
Barat : Desa Cebongan Kecamatan Argomulyo. (Wawancara dengan bapak Nur Salim (Humas Kelurahan Tingkir Tengah), Kamis, 7 September 2017 pukul 10.30 WIB, di Kelurahan Tingkir Tengah).
3. Keadaan Demografi
Keadaan demografi merupakan suatu gambaran umum tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan penduduk, yang meliputi:
a. Penduduk Berdasar Usia
Jumlah penduduk Dusun Ngepos Kelurahan Tingkir Tengah Kecamatan Tingkir Kota Salatiga sampai bulan Juni 2017 adalah 1935 orang dengan rincian usia sebagai berikut:
PENDUDUK MENURUT UMUR DI TAHUN 2017
1 UMUR 0-9 327
2 UMUR 10-19 309
3 UMUR 20-29 261
4 UMUR 30-39 334
5 UMUR 40-49 309
52
7 UMUR 60-69 89
8 UMUR 70 KEATAS 68
JUMLAH 1935
Tabel 1.1. Jumlah penduduk menurut umur pada tahun 2017 (data diperoleh dari Kelurahan Tingkir Tengah)
b. Penduduk Berdasar Agama
Penduduk Dusun Ngepos mayoritas adalah beragama Islam. Berdasarkan agama yang dianut dapat digambarkan melalui tabel berikut:
PENDUDUK BERDASAR AGAMA
1 ISLAM 1843
2 KRISTEN 80
3 KATHOLIK 13
4 HINDU 0
5 BUDHA 0
6 KANG HU CHU 0
7 KEPERCAYAAN 0
53
c. Penduduk Berdasar Pekerjaan
Pengangguran di Dusun Ngepos terbilang tinggi, tetapi mayoritas bekerja sebagai buruh atau karyawan dan wiraswasta. Jumlah penduduk berdasar pekerjaan dapat digambarkan sebagai berikut:
PENDUDUK MENURUT PEKERJAAN DI TAHUN 2017
1 BURUH/KARYAWAN 334
2 PNS 34
3 GURU 32
4 MENGURUS RUMAH TANGGA 98
5 JASA 12
6 PETANI 19
7 PEDAGANG 57
8 WIRASWASTA 168
9 PENSIUNAN 23
10 TNI/POLRI 6
54
Tabel 1.3. Jumlah penduduk menurut pekerjaan pada tahun 2017 (data diperoleh dari Kelurahan Tingkir Tengah)
d. Penduduk Berdasar Tingkat Pendidikan
Penduduk Dusun Ngepos berdasar tingkat pendidikannya banyak diantaranya berpendidikan dibawah SLTA. Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan sebagai berikut:
PENDUDUK BERDASAR TINGKAT PENDIDIKAN
1 TIDAK/BELUM SEKOLAH 362
2 BELUM TAMAT SD/SEDERAJAT 234
3 TAMAT SD/SEDERAJAT 287
4 SLTP/SEDERAJAT 284
5 SLTA/SEDERAJAT 503
6 DIPLOMA I/II 17
7 AKADEMI/DIPLOMA III SARJANA MUDA
68
8 DIPLOMA IV/STRATA I 169
9 STRATA II 12
10 STRATA III 0
55
e. Penduduk Berdasar Status Perkawinan
Penduduk berdasar status perkawinan dapat digambarkan sebagai berikut:
PENDUDUK BERDASAR STATUS PERKAWINAN
1 BELUM KAWIN 884
2 KAWIN 908
3 CERAI HUDUP 39
4 CERAI MATI 98
Tabel 1.5. Jumlah penduduk menurut status perkawinan pada tahun 2017 (data diperoleh dari Kelurahan Tingkir Tengah)
B. Pembagian harta waris Di Dusun Ngepos
Pembagian harta waris seharusnya berpedoman pada kaidah-kaidah yang telah ditentukan. Bagi kelompok masyarakat yang menganut agama Islam sudah seharusnya menerapkan hal-hal yang berlaku sesuai dengan hukum kewarisan Islam, yakni sesuai dengan ilmu faraidh.
Berikut hasil wawancara yang dilakukan kepada beberapa wali yang melakukan pembagian harta waris:
1. Ibu Watini