BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendidikan Karakter 1. Pendidikan
Arti pendidikan secara etimologi dari kata paedagogie berasal dari
bahasa Yunani, terdiri dari kata “PAIS”, artinya anak, dan “AGAIN’,
diterjemahkan membimbing, jadi paedagogie yaitu bimbingan yang
diberikan kepada anak (Ahmadi, Uhbiyati,, 2001 : 69).
Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan
mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama
sekali mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan
dengan aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera dan bahagia menurut
konsep pandangan mereka (Ikhsan, 2005 : 2).
Definisi pendidikan juga dikemukakan oleh para ahli sebagaimana
dikutip oleh Ikhsan (2005 : 4-5), antara lain :
1). Driyarkara
“Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia muda.
Pengangkatan manusia ke taraf insani”.
2). Ki Hadjar Dewantara
“Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan
bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin,karakter), pikiran
(intelek) dan tubuh anak”.
“Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar
sekolah dan berlangsung seumur hidup”.
Jadi dari uraian di atas, maka pendidikan dapat diartikan sebagai : 1). Suatu proses pertumbuhan yang menyesuaikan dengan lingkungan
dan berlangsung terus sampai anak didik mencapai pribadi dewasa, 2). Suatu pengarahan dan bimbingan yang diberikan kepada anak dalam
pertumbuhannya dan merupakan perbuatan manusia,
3). Suatu usaha sadar untuk menciptakan suatu keadaan atau situasi tertentu yang dikehendaki masyarakat,
4). Suatu pembentukan kepribadian dan kemampuan anak dalam
menuju kedewasaan guna mencapai tujuan tertentu. 2. Karakter
Penulis paparkan tentang beberapa pengertian karakter itu dari
beberapa sumber literatur yang dikemukakan oleh para ilmuwan, diantaranya sebagai berikut :
1. Karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau
budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan penggerak, serta yang membedakan dengan individu lain (Hidayatullah, 2010 : 13).
2. Secara bahasa, karakter berasal dari bahasa Yunani, Charassein, yang artinya mengukir (Munir, 2010 : 2).
3. Karakter adalah sikap pribadi yang stabil hasil proses konsolidasi
4. Karakter atau watak adalah ciri khas seseorang sehingga menyebabkan ia berbeda dari orang lain secara keseluruhan
(Sastrowardoyo dalam Said, 2011 : 1).
Dari beberapa pengertian karakater di atas sebenarnya dapat disimpulkan bahwa karakter itu tidak berbeda jauh dengan pengertian budi
pekerti dan juga akhlak bahkan dapat diartikan sama antara karakter, budi pekerti dengan akhlak. Hal ini dikuatkan dengan pendapatnya Sa’aduddin dalam Hidayatullah (2010 : 11), yang mengemukakan bahwa akhlak
mengandung beberapa arti, antara lain ; tabi’at, yaitu sifat dalam diri yang terbentuk oleh manusia tanpa dikehendaki dan tanpa diupayakan, dapat berarti adat, yaitu sifat dalam diri yang diupayakan manusia melalui
latihan, yakni berdasarkan keinginannya, dan juga dapat diartikan watak, cakupannya meliputi hal-hal yang menjadi tabi’at dan hal-hal yang diupayakan hingga menjadi adat. Dengan kata lain pengertian karakter,
akhlak, moral dan budi pekerti tidak memiliki perbedaan yang signifikan, sehingga menurut Munir (2010 : 5), karakter itu dapat dibentuk, jika karakter bukan merupakan seratus persen turunan dari orang tuanya,
namun jika gen hanyalah salah satu faktor pembentuk karakter, kita akan meyakini bahwa karakter bisa dibentuk semenjak lahir, jadi disini peran orang tua sangat besar dalam pembentukan karakter.
Timbul pertanyaan yang menarik berdasarkan pengertian karakter di atas yaitu dapatkah karakter itu dirubah dari diri seseorang pada umumnya dan remaja pada khususnya. Munir (2010 : 9), menjelaskan jika karakter
pasti dapat dirubah. Sebab pembangunan dan pembentukan itu sendiri sejatinya adalah perubahan. Hanya saja, jika bangunan itu adalah bangunan
yang kokoh, butuh waktu lama dan energi yang tidak sedikit untuk mengubahnya.
3. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter pendidikan yang mengajarkan kebiasaan cara
berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja
bersama sebagai keluarga, masyarakat dan bernegara dan membantu mereka
untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata
lain pendidikan karakter mengajarkan anak didik berpikir cerdas,
mengaktivasi otak tengah secara alami (Khan, 2010 : 1).
Pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai
karakter pada peserta didik, yang mengandung komponen pengetahuan,
kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri,
sesama manusia, lingkungan, maupun bangsa sehingga akan terwujud insan
kamil (Aunillah, 2011 : 18).
Berdasarkan pengertian di atas, maka pendidikan karakter merupakan
sesuatu yang sangat penting dan menjadi kebutuhan mendesak. Hal itu
mengingat demoralisasi dan degradasi pengetahuan sudah sedemikian akut
menjangkiti bangsa ini di semua lapisan masyarakat (Asmani, 2011 : 47).
Sebab lain juga karena bangsa kita telah lama memiliki kebiasaan-kebiasaan
yang kurang konduksif untuk membangun bangsa yang unggul (Hidayatullah,
Pendapat lain menjelaskan faktor penyebab rendahnya pendidikan karakter adalah: pertama, sistem pendidikan yang kurang menekankan
pembentukan karakter, tetapi lebih menekankan pengembangan intelektual.
Kedua, kondisi lingkungan yang kurang mendukung pembangunan karakter
yang baik (Hidayatullah, 2010 : 15).
Perlu dijelaskan pula di sini tentang tujuan dari pendidikan karakter.
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, seperti dikutip
oleh Aunillah (2011 : 97-103), menjelaskan sedikitnya ada lima hal dasar
yang menjadi tujuan dari penyelenggaraan pendidikan karakter, yaitu sebagai
berikut :
a). Membentuk manusia Indonesia yang bermoral
Persoalan moral merupakan masalah serius yang menimpa bangsa Indonesia. Setiap saat, masyarakat dihadapkan pada kenyataan merebaknya dekadensi moral yang menimpa kaum remaja, pelajar, masyarakat pada umumnya, bahkan para pejabat pemerintah.
b). Membentuk manusia Indonesia yang cerdas dan rasional
Seseorang disebut mempunyai kepribadian atau karakter apabila ia berpikir rasional, mengambil keputusan yang tepat, serta cerdas dalam memanfaatkan potensi yang dimilikinya.
c). Membentuk manusia Indonesia yang inovatif dan suka bekerja keras Pendidikan karakter merupakan pendidikan nilai yang diselenggarakan untuk menanamkan semangat suka bekerja keras, disiplin, kreatif, dan inovatif pada peserta didik, yang diharapkan akan mengakar menjadi karakter dan kepribaiannya.
Sikap optimis dan percaya diri merupakan sikap yang harus ditanamkan
kepada peserta didik sejak dini, karena kurang sikap optimis dan percaya
diri menjadikan kehilangan semangat untuk dapat bersaing menciptakan
kemajuan.
e). Membentuk manusia Indonesia yang berjiwa patriot
Salah satu prinsip yang dimiliki oleh konsep pendidikan karakter adalah
terbinanya sikap cinta tanah air. Hal yang paling inti dari sikap ini adalah
kerelaan untuk berjuang, berkorban, serta kesiapan diri dalam
memberikan bantuan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Maka
peserta didik harus menyadari bahwa ilmu yang diperoleh harus
bermanfaat bagi orang banyak.
4. Prinsip-Prinsip Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter diharapkan mampu membentuk kepribadian kuat
yang sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Menurut Mujahidin dalam
Taufiq (2010 : 143-149) perlu ditekankan prinsip-prinsip dalam pembentukan
pribadi secara individual dan komunal, prinsip-prinsip tersebut diantaranya :
prinsip keyakinan yang bersih (salimul ‘aqidah) ,ibadah yang benar (shahihul
ibadah), moral akhlak yang kokoh (matinul khuluq), jasmani yang kuat
(qawiyyul jismi), berwawasan budaya (mutsaqqoful fikri), mampu memerangi
hawa nafsu (mujahadatul linafsihi), pandai mengatur waktu (harisun ‘ala
waqtihi), teratur dalam urasan-urusannya (munadhomun lisyu’unihi), berjiwa
entrepreneurship (qadirun ‘alal kasbi), bermanfaat bagi orang lain dan alam
Menurut penulis untuk melaksanakan prinsip-prinsip tersebut di atas peran orang tua pada umumnya menjadi sangat penting karena orang tua di
rumah adalah tempat pertama dan utama dalam membentuk karakter anak khususnya remaja, serta yang tidak kalah penting adalah peran lembaga pendidikan pada umumnya dan lembaga pendidikan Islam pada khususnya.
5. Tahapan-Tahapan Pendidikan Karakter
Menurut Hidayatullah (2010 : 32), bahwa pendidikan karakter dapat diklasifikasikan dalam tahap-tahap sebagai berikut :
1). Adab diajarkan pada usia 5-6 tahun
Pada fase ini, hingga berusia 5-6 tahun anak dididik budi pekerti, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter sebagai berikut :
a). Jujur, tidak berbohong
b). Mengenal mana yang benar dan mana yang salah c). Mengenal mana yang baik dan mana yang buruk
d). Mengenal mana yang yang diperbolehkan dan mana yang dilarang. 2). Tanggungjawab diri diajarkan pada usia 7-8 tahun
Perintah agar anak usia 7 tahun mulai menjalankan shalat
menunjukkan bahwa anak mulai dididik untuk bertanggungjawab, terutama dididik bertanggungjawab pada diri sendiri.
3). Caring (peduli) diajarkan pada usia 9-10 tahun
Pada fase ini anak dididik untuk peduli pada orang lain, terutama pada teman-teman sebaya yang setiap hari ia bergaul. Menghormati orang lain, menghormati hak-hak orang lain, bekerja sama di antara
Berbagai pengalaman yang telah dilalui pada usia-usia sebelumnya makin mematangkan karakter anak sehingga akan membawa anak
pada kemandirian. Kemandirian ini ditandai dengan kesiapan dalam menerima resiko sebagai konsekuensi tidak mentaati peraturan.
5). Bermasyarakat diajarkan pada usia 13 tahun ke atas
Berdasarkan klasifikasi diatas maka pendidikan karakter harus sesuai
dengan perkembangan anak dan disesuaikan dengan tahap-tahap serta
perkembangan anak.
6. Strategi Pendidikan Karakter
Menurut Hidayatullah (2010 : 39), bahwa strategi pendidikan karakter
dapat dilakukan dengan melalui sikap-sikap sebagai berikut :
1) Keteladanan
Begitu pentingnya keteladanan sehingga Tuhan menggunakan
pendekatan dalam mendidik umatnya melalui metode yang harus dan
layak dicontoh. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa keteladanan
,merupakan pendekatan pendidikan yang paling ampuh. Setidaknya ada
tiga unsur agar seorang dapat diteladani atau menjadi teladan, yaitu :
a). Kesiapan untuk dinilai
b). Memiliki kompetensi minimal
c). Memiliki integritas moral
Dalam pendidikan karakter tugas seorang guru selaku pendidik amat
sangat penting sekali, menurut Musbikin (2010 : 35), bahwa salah satu
tugas khusus seorang guru adalah harus tampil sebagai teladan atau
2). Penanaman kedisiplinan
Kedisiplinan menjadi alat yang ampuh dalam mendidik karakter.
Banyak orang sukses karena menegakkan kedisiplinan. Sebaliknya,
banyak upaya membangun sesuatu tidak berhasil karena kurang atau
tidak disiplin.
Penegakkan kedisiplinan antara lain dapat dilakukan dengan
beberapa cara, seperti peningkatan motivasi, pendidikan dan latihan,
kepemimpinan, penerapan penghargaan dan hukuman dan penegakkan
aturan.
3). Pembiasaan
Anak memiliki sifat yang paling senang meniru. Orang tuanya
merupakan lingkungan terdekat yang selalu mengitarinya dan sekaligus
menjadi idolanya. Bila mereka melihat kebiasaan baik dari ayah dan
ibunya, maka mereka pun akan dengan cepat mencontohnya. Orang tua
yang berperilaku buruk akan ditiru perilakunya oleh anak-anak.
Anak-anak pun paling mudah mengikuti kata-kata yang keluar dari mulut orang
tuanya.
4). Menciptakan suasana yang konduksif
Pada dasarnya tanggung jawab pendidikan karakter ada pada semua
pihak yang mengitarinya, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat,
maupun pemerintah. Maka menciptakan suasana yang konduksif di
lingkungan mana saja merupakan upaya membangun kultur atau budaya
5). Integrasi dan internalisasi
Pendidikan karakter membutuhkan proses internalisasi nilai-nilai,
karena pendidikan karakter harus mewarnai seluruh aspek kehidupan dan
terintegrasi, karena pendidikan karakter memang tidak dapat dipisahkan
dengan aspek lain dan merupakan landasan dari seluruh aspek kehidupan.
Untuk itu diperlukan pembiasaan diri untuk masuk kedalam hati agar
tumbuh dari dalam. Pentingnya pendidikan atau pembelajaran
terintegrasi atau terpadu didasarkan pada beberapa asumsi dan dasar
pemikiran sebagai berikut :
a). Fenomena yang tidak berdiri sendiri, maksudnya fenomena yang ada
di dalam kehidupan dan di lingkungan kita selalu terkait dengan
fenomena atau aspek yang lain.
b). Memandang objek sebagai suatu keutuhan, dalam memandang dan
mengkaji suatu objek harus scara utuh dan tidak secara parsial.
c). Tidak dikotomi, jika objek dipandang sebagai fenomena yang tidak
berdiri sendiri dan sekaligus merupakan suatu keutuhan, maka objek
tidak dapat dipisahkan.
Untuk melaksanakan tahapan-tahapan pendidikan karakter,
prinsip-prinsip pendidikan karakter, dan strategi pendidikan karakter, maka
dalam pendidikan karakter paling tidak dibutuhkan pilar-pilar yang saling
kait mengait. Suparlan dalam Asmani (2011 : 50), menjelaskan sembilan
pilar dalam pendidikan karakater, yaitu; tanggung jawab (responbility),
kejujuran (honesty), kewarganegaraan (citizenship), disiplin diri
(self-dicipline), peduli (caring), dan ketekunan (perseverance).
B. Remaja 1. Pengertian
Remaja, yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence berasal
dari bahasa latin adolescere yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk
mencapai kematangan”. Bangsa primitif dan orang-orang purbakala
memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode
lain dalam rentang kehidupan. Anak dianggap sudah dewasa apabila
sudah mampu mengadakan reproduksi (Ali, 2011 : 9).
Masa remaja menurut Mappiare dalam Ali (2011 : 9), berlangsung
antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun
sampai dengan 22 tahun bagi laki-laki. Rentang usia remaja ini dapat
dibagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12-13 tahun sampai dengan 17-18
tahun adalah masa remaja awal, dan usia 17-18 tahun sampai dengan
21-22 tahun adalah remaja akhir.
Masa remaja seringkali dikenal dengan masa mencari jati diri yang
sering disebut dengan identitas ego (ego identity), ini terjadi karena masa
remaja merupakan peralihan antara kehidupan anak-anak dan masa
kehidupan orang dewasa (Bischof dalam Ali, 2011 : 16-18).
Perkembangan emosi pada masa remaja memiliki karakteristik
Ketujuh : 68-69), menjelaskan tentang karakteristik untuk setiap
periodenya, yaitu :
a). Periode Pra Remaja
Selama periode ini terjadi gejala-gejala yang hampir sama
antara remaja putra dan putri. Perubahan fisik belum nampak jelas,
tetapi pada remaja putri biasanya memperlihatkan penambahan berat
badan yang cepat sehingga merasa gemuk mengakibatkan
gerakan-gerakan menjadi kaku.
b). Periode Remaja Awal
Selama periode ini perkembangan fisik yang semakin tampak
adalah perubahan fungsi alat kelamin semakin nyata, sehingga
remaja sering mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri
dengan perubahan-perubahan itu. Akibatnya, tidak jarang mereka
menyendiri sehingga merasa terasing, kurang perhatian dari orang
lain, atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau
mempedulikannya.
c). Periode Remaja Tengah
Tanggung jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh
remaja, yaitu mampu memikul sendiri juga menjadi masalah
tersendiri bagi mereka. Akibatnya, seringkali remaja ingin
membentuk nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar,
pantas, dan baik untuk dikembangkan di kalangan mereka sendiri.
Selama periode ini remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunjukkan pemikiran, sikap, perilaku yang semakin dewasa. Oleh sebab itu, orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka. Interaksi dengan orang tua juga menjadi lebih bagus dan lancar serta pilihan arah hidup sudah semakin jelas.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Remaja
Menurut Gunarsa dan Gunarasa dalam Dariyo (2004 : 14) bahwa secara umum ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja diantaranya :
1). Faktor endogen (nature), bahwa perubahan-perubahan fisik dan psikis dipengaruhi oleh faktor internal yang bersifat herediter yaitu yang diturunkan oleh orang tuanya, diantaranya postur tubuh, bakat minat, kecerdasan, kepribadian dan sebagainya. 2). Faktor exogen (nurture), bahwa perubahan dan perkembangan
individu dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari luar diri individu itu sendiri, seperti lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
3). Faktor interaksi antara endogen dan exogen, dalam kenyataannya masing –masing faktor tersebut tidak dapat dipisahkan dan saling mempengaruhi.
C. Pendidikan Islam 1. Pengertian
Dari ketiga istilah tersebtu term yang popular digunakan dalam praktek
pendidikan Islam adalah term al-tarbiyah. Sedangkan term al-ta’dib
dan al-ta’lim jarang sekali digunakan. Padahal kedua istilah tersebut
telah digunakan sejak awal pertumbuhan pendidikan Islam (Arif, 2008 :
25).
Untuk itu, perlu dikemukakan uraian dan analisis terhadap ketiga
term pendidikan Islam tersebut dengan beberapa argumentasi tersendiri
dari beberapa pendapat ahli pendidikan Islam, dalam kitab Tarikh
al-Tarbiyah al-Islamiyah yang dikutip Arif (2008 : 25-33), menjelaskan
ketiga term tersebut sebagai berikut :
a) Istilah al-tarbiyah
Penggunaan istilah al-tarbiyah berasal dari kata rabb, yang
berarti tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur, dan
menjaga kelestarian atau eksistensinya.
Jika ditinjau dari asal katanya, dapat dilihat pada tiga bentuk,
yaitu :
a. Raba-yarbu-tarbiyah, yang berarti memiliki makna bertambah
dan berkembang,
b. Rabiya,-yarba-tarbiyah, yang memiliki makna tumbuh dan
berkembang,
c. Rabba-yarubbu-tarbiyah, yang memiliki makna memperbaiki,
menguasai, memelihara, dan merawat, memperindah,
Dari pengertian-pengertian diatas, dalam konteks yang luas,
pengertian pendidikan Islam yang terkandung dalam term
al-tarbiyah terdiri atas empat unsur pendekatan, yaitu : memelihara
dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa, mengembangkan
seluruh potensi menuju kesempurnaan, mengarahkan seluruh fitrah
menuju kesempurnaan dan melaksanakan pendidikan secara
bertahap.
b). Istilah al-Ta’lim
Penggunaan istilah al-ta’lim bersumber dari ‘allama, berarti
pengajaran yang bersifat pemberian, atau penyampaian, pengertian,
pengetahuan dan ketrampilan.
Kata ta’lim menurut tinjauan bahasanya mempunyai asal kata
dasar makana sebagai berikut :
1). Berasal dari kata dasar ‘allama-ya’lamu, yang berarti mengecap
atau memberi tanda,
2). Berasal dari kata dasar ‘alima-ya’lamu, yang berarti mengerti
atau memberi tanda.
c). Istilah al-Ta’dib
Adapun kata al-ta’dib secara bahasa merupakan masdar darti
kata addaba, mempunyai kata dan makna dasar sebagai berikut :
a. Ta’dib, berasal dari kata dasar ‘aduba-ya’dubu, yang berarti
melatih, mendisiplinkan diri untuk berperilaku yang baik dan
b. Berasal dari kata dasar ‘adaba-ya’dibu, yang berarti
mengadakan pesta atau perjamuan yang berbuat dan
berperilaku sopan,
c. Kata ‘addaba, sebagai bentuk kata kerja ta’dib, mengandung
pengertian mendidik, melatih, memperbaiki, mendisiplin dan
memberi tindakan.
Berdasarkan hal itu, dapat disimpulkan bahwa ta’dib,
mengandung pengertian usaha untuk menciptakan situasi dan
kondisi sedemikian rupa, sehingga anak didik terdorong dan
tergerak jiwa dan hatinya untuk berperilaku dan bersifat sopan
santun yang baik sesuai dengan yang diharapkan.
Dibawah ini akan Penulis paparkan beberapa pendapat para ahli
tentang pengertian pendidikan Islam dipandang dari segi istilah :
a). Menurut Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani
Pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu,
pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya, dengan
cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi
diantara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.
b). Menurut Hasan Langgulung
Pendidikan Islam adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang
biasanya diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku
c). Menurut Ahmad Fuad Al-Ahwaniy
Pendidikan Islam adalah pranata yang bersifat sosial yang tumbuh
dari pandangan hidup tiap masyarakat. Pendidikan senantiasa
sejalan dengan pandangan falsafah hidup masyarakat tersebut, atau
pendidikan itu pada hakekatnya mengaktualisasikan falsafah dalam
kehidupan nyata.
Pendapat lain menjelaskan bahwa pendidikan Islam pada
hakekatnya bertujuan melahirkan generasi muda yang mampu
mengelola, memakmurkan, menguasai dan menerapkan hukum dan
aturan Allah di muka bumi. Itulah juga visi para Nabi dan Rasul,
bukan untuk melahirkan manusia-manusia perusak bumi dan alam.
Itulah yang dimaksud Allah dalam ayatNya bahwa Allah akan
menciptakan para Khalifah dari kalangan manusia yang kelak
dipertanyakan oleh para malaikat. Karenanya Allah akan
mengangkat dari hamba-hambaNya yang dalam hidiupnya
menuntut ilmu, beberapa derajat
(http://www.psikologi-
islam.com/detail-analisis-43-perspektif-normatif-dan-skarakter-pendidikan-islam-html).
2. Tujuan Pendidikan Islam
a). Tujuan secara universal
Rumusan tujuan pendidikan yang bersifat universal dapat
diruju pada hasil konggres sedunia tentang Pendidikan Islam
“Education should aim at the balanced growth of total personality of man through the training of man’s, intellect the rational self, feeling and bodily sense. Education should therefore cater for the growth of man in all its aspect, spiritual, intellectual, imaginative, physical, scientific, linguistic, both individual and collectively, and motivate all these aspect toward goodness and attainment of perfection. The ultimate aim of education lies in the realization of complete submission to Allah on the level individual, the community and humanity at large”.
“Pendidikan harus ditujukan untuk menciptakan keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh, dengan cara melatih jiwa, akal pikiran, perasaan, dan fisik manusia. Dengan demikian, pendidikan harus mengupayakan tumbuhnya seluruh potensi manusia, baik yang bersifat spiritual, intelektual, daya khayal, fisik, ilmu pengetahuan, maupun bahasa, baik secara perorangan maupun kelompok, dan mendorong tumbuhnya seluruh aspek tersebut agar mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan terletak pada terlaksananya pengabdian yang penuh kepada Allah, baik tingkat perseorang, kelompok maupun kemanusiaan dalam arti yang seluas-luasnya” (Nata, 2010 : 61).
b). Tujuan secara nasional
Yang dimaksud dengan tujuan pendidikan Islam nasional ini adalah tujuan pendidikan Islam yang dirumuskan oleh setiap Negara
(Islam). Dalam kaitan ini, maka setiap negara merumuskan tujuan pendidikannya dengan mengacu kepada tujuan universal sebagaimana tersebut di atas. Untuk itu tujuan pendidikan Islam
secara nasional menurut Ali (2011: 63-64) adalah merujuk kepada tujuan pendidikan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu membentuk
manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, berkepribadian, memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, memiliki rasa seni, serta bertanggung jawab bagi
Berdasarkan uraian tujuan pendidikan Islam di atas maka dalam pendidikan Islam perlu ditanamkan nilai-nilai yang sangat
mendasar kepada peserta didik yang menjadi inti dari kegiatan pendididikan. Zayadi dalam Majid dan Andayani (2011 : 92-98), mengemukakan bahwa sumber nilai yang berlaku dalam pranata
kehidupan manusia dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu : 1. Nilai Ilahiyah
Dalam nilai Ilahiyah ini terdapat beberapa nilai yang sangat
mendasar, yaitu: iman, Islam, ihsan, taqwa, ikhlas, tawakkal,
syukur, dan sabar. Meskipun hanya sedikit yang disebutkan di
atas, itu akan cukup mewakili nilai-nilai keagamaan mendasar
yang perlu ditanamkan pada peserta didik, sebagai bagian yang
amat penting dari pendidikan.
2. Nilai Insaniyah
Pendidikan tidak dapat dipahami secara terbatas hanya kepada pengajaran. Karena itu keberhasilan pendidikan bagi peserta didik tidak cukup diukur hanya dari segi seberapa jauh peserta didik itu menguasai hal-hal yang bersifat kognitif atau pengetahuan tentang suatu masalah semata. Justru yang lebih penting bagi umat Islam, ialah seberapa jauh tertanam nilai-nilai kemanusiaan yang mewujud nyata dalam tingkah laku dan budi pekertinya sehari-hari. Nilai-nilai akhlak yang perlu ditanamkan pada peserta didik diantaranya, yaitu: silaturrahmi, al-ukhuwah,
al-musawah (berharkat dan martabat sama), al-‘adalah,
amanah, iffah (sikap penuh harga diri), qawamiyah (sikap tidak boros), dan al-munfiqun (sikap menolong sesama manusia).
3. Sumber Pendidikan Islam
Kata sumber dalam bahasa Arab disebut mashdar yang jamaknya
mahadir, dapat diartikan starting point (titik tolak), point of origin
(sumber asli), origin (asli), source (sumber), infinitive (tidak terbatas),
verbal nounce (kalimat kata kerja), dan absolute or internal object
(mutlak atau tujuan yang bersifat internal).
Menurut Hasan Langgulung dalam Ali (2011 : 75-83), bahwa sumber pendidikan Islam adalah :
1). Al-Qur’an
Secara harfiah al-Qur’an berarti bacaan atau yang dibaca. Hal
ini sesuai dengan tujuan kehadirannya, antara lain agar menjadi
bahan bacaan untuk dipahami, dihayati dan diamalkan
kandungannya. Adapun secara istilah al-Qur’an adalah firman Allah
SWT yang diturunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad bin Abdullah
melalui perantaraan malaikat Jibril, yang disampaikan kepada
generasi berikutnya secara mutawatir (tidak diragukan), dianggap
ibadah bagi orang yang membacanya, yang dimulai dari surat
al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas.
2). As-Sunnah
Secara harfiah as-Sunnah adalah jalan hidup yang dijalani atau
dibiasakan, apakah jalan hidup itu baik atau buruk, terpuji maupun
Adapun pengertian as-Sunnah menurut para ahli hadits adalah
sesuatu yang didapatkan dari Nabi SAW yang terdiri dari ucapan,
perbuatan, persetujuan, sifat fisik atau budi, atau biografi, baik pada
masa sebelum kenabian ataupun sesudahnya. Sunnah menurut para
ahli hadits sama dengan pengertian hadits.
3). Sejarah Islam
Pendidikan sebagai sebuah praktik pada hakekatnya merupakan
peristiwa sejarah, karena praktik pendidikan tersebut terekam dalam
tulisan selanjutnya dapat dipelajari oleh generasi selanjutnya.
Sejarah mencatat adanya lembaga pendidikan Dar al-Arqam, rumah
para ulama, suffah, kuttab, masjid, al-badiah, al-qushur (istana),
toko buku, al-ashlun al-adabiyah (sanggar sastra), madrasah, baitu
al-hikmah, al-bimaristan (rumah sakit pendidikan), al-ribath
(lembaga pendidikan bagi calon sufi), al-zawiyah (bagian masjid
yang digunakan untuk pendidikan spiritual), dan majelis taklim.
4). Pendapat Para Sahabat dan Filsuf
Para sahabat dan filsuf adalah orang-orang yang memiliki
keinginan dan komitmen yang kuat untuk membangun kehidupan
manusia yang bermartabat. Mereka mencurahkan segenap waktu,
tenaga dan kemampuannya untuk memikirkan dan membimbing
umat manusia. Mereka memikirkan tentang hakekat manusia, alam,
ilmu pengetahuan, akhlak, kebaikan, kebahagiaan, sosial, politik,
5). Mashalahat al-Mursalah dan Uruf
Secara harfiah berarti kemaslahatan umat. Adapun dalam arti
yang lazim digunakan, yaitu undang-undang, peraturan atau hukum
yang tidak disebutkan secara tegas dalam al-Qur’an, namun
dipandang perlu diadakan demi kemaslahatan umat.
D. Penelitian terdahulu
Judul penelitian “Pandangan Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Tentang Pendidikan Akhlaq” skripsi Darsitun tahun 2011 halaman 50.
Penulis hanya mengutip kesimpulan tentang pandangan Muhammad
bin Shalih Al Utsaimin tentang pendidikan akhlak terhadap makhluk yaitu
meliputi :
-Mencegah gangguan maksudnya hendaknya seseorang menahan dirinya
sendiri dari menyakiti orang lain, baik itu dengan harta atau dengan
sesuatu yang berkaitan dengan jiwa, atau mungkin juga yang berhubungan
dengan kehormatan dirinya. Untuk itu, orang yang belum mampu menahan
dirinya dari menyakiti sesama, maka dia belumlah berakhlak mulia, akan
tetapi sebaliknya dia adalah orang yang berperilaku buruk.
-Memberi bantuan yang dimaksud disini adalah kedermawanan dan
kemurahan hati, artinya hendaklah engkau selalu mengerahkan sifat
kedermawanan diri dan kemurahan hati. Dan arti kedermawanan disini
bukanlah seperti yang disangkakan oleh sebagian orang yaitu hanya
memberikan harta saja, akan tetapi arti sesungguhnya adalah rela
-Berwajah ceria maksudnya disini adalah wajahnya berseri-seri ketika
bertemu dengan yang lainnya, karena wajah yang ceria dapat membuat
orang lain merasa gembira, bisa menimbulkan rasa kasih sayang dan rasa
cinta, dan juga dapat memberikan kelapangan dada pada diri anda dan diri
orang yang bertatap muka dengan anda.
Berdasarkan dari kesimpulan penelitian terdahulu di atas, maka jelas
sekali bahwa pandangan Muhammad bin Shalih Al Utsaimin tentang
pendidikan akhlak sangat berhubungan dengan judul skripsi yang sedang
penulis teliti, dimana mencegah gangguan dan memberi bantuan dalam
pendidikan karakter termasuk dalam 18 nilai yang harus dikembangkan
pada remaja khususnya yaitu nilai peduli lingkungan dan juga keduanya
merupakan tahapan dalam pendidikan karakter yaitu tahapan caring
(peduli) yang diajarkan mulai usia 9-10 tahun.
Sedangkan berwajah ceria dalam pendidikan karakter juga termasuk
dalam nilai yang sedang dikembangkan, yaitu tergolong dalam nilai
religius, dimana berwajah ceria sangat-sangat diajarkan dalam agama
Islam kepada seluruh umat manusia karena itu merupakan shadaqah yang
tidak memerlukan biaya. Berwajah ceria juga merupakan tahapan dalam
pendidikan karakter yaitu tahapan adab yang harus diajarkan mulai usia
5-6 tahun. Jadi perlu ditegaskan kembali bahwa kesimpulan dari penelitian
terdahulu di atas ada kaitannya dengan judul skripsi yang sedang penulis