i
Pergulatan Identitas Kejawaan Gereja Kristen Jawa
Tesis
Untuk Memenuhi Persyaratan Mendapat Gelar Magister Humaniora(M.Hum)
di Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta
DisusunOleh :
Resi Pramudita
156322004
ProgramMagister Ilmu ReligidanBudaya
Universitas SanataDharma Yogyakarta
ii
Pergulatan Identitas Kejawaan Gereja Kristen Jawa
Tesis
UntukMemenuhi Persyaratan Mendapat Gelar MagisterHumaniora(M.Hum)
di ProgramMagisterIlmuReligi dan Budaya UniversitasSanataDharma
Yogyakarta
DisusunOleh :
Resi Pramudita
156322004
ProgramMagister Ilmu ReligidanBudaya
Universitas SanataDharma Yogyakarta
iii
iv
v
Pernyataan Keaslian Karya
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul “Pergulatan Identitas
Kejawaan Gereja Kristen Jawa” merupakan hasil karya dan penelitian saya pribadi.
Di dalam tesis ini tidak terdapat karya peneliti lain yang pernah diajukan untuk
memperoleh gelar akademis di suatu perguruan tinggi lain. Pemakaian dan
peminjaman karya dari peniliti lain adalah semata-mata untuk keperluan ilmiah
sebagaimana diacu secara tertulis dalam catatan kaki dan daftar pustaka.
Yogyakarta, 8 Februari 2019
Yang membuat pernyataan,
vi
Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah Untuk
Kepentingan Akademis
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Sanata Dharma
Yogyakarta
Nama : Resi Pramudita
No Mahasiswa : 156322004
Demi Pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada
Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, karya ilmiah saya yang berjudul :
Pergulatan Identitas Kejawaan Gereja Kristen Jawa
Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan
kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data,
mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikanya di internet atau media
lain demi kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin kepada saya maupun memberikan royalti kepada saya selama mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta
8 Februari 2019
Yang menyatakan,
vii
Kata Pengantar
Melihat kejawaan pada Gereja Kristen Jawa adalah hal yang menarik bagi
diri saya. Poin ini sudah saya kerjakan setidaknya dalam dua kesempatan, yang
pertama yaitu skripsi saya di fakultas teologi, dan yang kedua saya kerjakan dalam
tesis ini. Ada hal yang sangat berbeda di antara kedua peneilitian tersebut. Hal
tersebut mungkin terjadi karena sudut pandangan interdisipliner yang diajarkan
dalam Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma.
Terselesaikannya tesis ini bisa terwujud karena pengajaran dari segenap
dosen Ilmu Religi dan Budaya. Pertama kepada Romo Banar sebagai pembimbing
tesis, yang selanjutnya kepada mbak Katrin, Pak Tri, Pak Pratik, Bu Devi, Romo
Baskara, Romo Budi, atas segala bimbingannya. Tidak lupa terima kasih juga saya
sampaikan kepada Mbak Dita dan Mbak Desi yang senantiasa membantu proses
saya belajar di IRB. Ungkapan syukur juga saya ucapkan kepada teman-teman di IRB
sebagai kawan seperjalanan. Bertemu kalian semua adalah berkah bagi saya.
Terima kasih juga saya haturkan kepada kedua pasang orang tua saya. Saya
tahu betul betapa bapak ibu saya sudah mendukung saya dengan segenap tenaga
dengan berbagai wujud dukungannya. Ucapan terimakasih juga saya sampaikan
kepada Maria Theofani, yang juga mendukung saya dengan berbagai caranya.
Terakhir, saya ucapkan terimakasih bagi Gereja Kristen Jawa. Semoga tesis
ini dapat diterima sebagai wujud cinta dari salah seorang anggotanya. Semoga GKJ
viii
Pergulatan Identitas Kejawaan Gereja Kristen Jawa
Abstrak
Bagi Gereja Kristen Jawa (GKJ) pergulatan mengenai identitas kejawaan
merupakan sesuatu yang menarik untuk diamati. Ada aspek-aspek kejawaan yang
dahulu tidak diperkenankan dipakai di dalam kehidupan gerejawi kini tampak
begitu kuat. Bahkan GKJ memerankan diri seolah berada di garda terdepan apabila
berbicara tentang kejawaan. Di sisi lain, upaya melestarikan kejawaan ini juga
diiringi dengan tudingan pada orang muda telah meninggalkan kejawaan tersebut.
Hal-hal tersebut nampak dalam penggunaan bahasa. seni dan tradisi yang coba
dilestarikan oleh GKJ.
Tesis ini membedah hal-hal yang terjadi di dalam diri GKJ tersebut dengan
menggunakan pikiran Baudrilaard perihal simulasi. Pembahasan tesis ini dimulai
dengan mengaji upaya GKJ menghadirkan kejawaan dalam kehidupan bergerejanya
dalam logika simulasi. Melihat tanggapan dan pengalaman orang muda terlibat
dalam upaya membangun identitas kejawaan. Selanjutnya melihat bagaimana Tuhan
ditempatkan dalam pembicaraan mengenai identitas kejawaan . Hal yang tidak kalah
penting adalah melihat alasan GKJ membangun identitas ini. Setelah itu juga hendak
ix The Struggle of Javaneseness Identity of Javanese Christian Church
Abstract
In the perspective of Gereja Kristen Jawa (GKJ), the struggle for keeping the
Javanese identity is an interesting topic to be observed. There are Javanese aspects
which are not permitted to be used in church life in the past, now it is strongly
applied. In fact, GKJ had taken a role as the vanguard in dealing with the
javaneseness disscusion. However, the act of GKJ preserving the javaneseness
somehow is accompanied by the accusation to the youth. They are accused of
neglecting their javeneseness. The act of neglection might observed from the use of
the javanese language, traditional art, and custom which GKJ try to preserve.
Therefore, this thesis will breaking down the phenomena through the view of
Baudrilaard regarding simulation. The writer will begin the discussion by
researching the act of GKJ in presenting javaneseness in church life through the logic
of simulacra. The writer also take into account the youth responds and their
experiences after participating in building the javaneseness identity. After that, the
writer will observe how God is positioned in the discussion of Javaneseness identity.
As important as other, The writer will look into GKJ concern in building this identity.
Last but not least, the writer will observe the opportunity that GKJ have in building
1
Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah untuk Kepentingan Akademis... vi
Kata Pengantar ... vii
Pergulatan Identitas Gereja Kristen Jawa: Abstrak ... viii
The Struggle of Javaneseness Identity of Javanese Christian Church: Abstract ... ix
Daftar Isi ... 1
A.Membicarakan Agama sebagai Lokus Penelitian Kajian Budaya ... 10
B.Persoalan Kebudayaan dan Antar Generasi di Gereja ... 12
C. Kekhasan Relasi antara Kekristenan dan Kejawaan ... 16
D. Upaya Menempatkan Kejawaan dalam Penelitian ... 19
6. Kajian Teori... 23
7. Metode Penelitian ... 26
8. Sistematika Penulisan ... 27
Bab2 : Gereja-Kristen-Jawa: Kaitkelindan Identitas ... 29
Pengantar ... 29
1. Gereja : Sekilas Tentang Terbentuknya Gereja Kristen Jawa ... 29
2. Kristen :Calvinis Pietis ... 34
3. Jawa : Jawa Kristen a la Sadrach ... 40
4. GKJ Berhadapan dengan Kejawaan ... 45
5. Catatan ... 51
2
Pengantar ... 53
1. Upaya-upaya membangun identitas kejawaan dalam bahasa, seni dan tradisi 53 A. Membangun Penanda-Penanda Identitas ... 54
B. Orang Muda dalam Penanda Identitas ... 64
2. Upaya Membangun Identitas Kejawaan dalam ranah Biblis ... 77
3. Upaya Membangun Kejawaan dalam Konteks Pluralitas ... 82
4. Catatan ... 85
Bab 4 : Pergulatan Identitas Kejawaan Gereja Kristen Jawa dalam Logika Simulasi ... 86
Pengantar ... 86
1. Agama dalam Pusaran Simulasi ... 86
2. Bahasa, Seni, Tradisi... 88
3. Tuhan dalam Logika Simulasi; Upaya Membangun Identitas dalam Ranah Biblis ... 97
4. Upaya Membangun Identitas Kejawaan dalam Konteks Pluralitas ... 103
5. Kekosongan sebagai Harapan bagi Gereja ... 106
Bab 5: Kesimpulan dan Penutup ... 109
Lampiran 1 ... 114
3
Bab1
Pendahuluan
1. Latar belakang
“GKJ adalah singkatan dari gereja kurang jelas”, begitu kelakar yang pernah
penulis dengar bila membicarakan perihal identitas GKJ. Kelakar itu tentulah tidak
muncul begitu saja. Pembicaraan yang lain ketika menyinggung persoalan identittas
GKJ yang muncul adalah keprihatinan bahkan kekuatiran pada generasi muda yang
dianggap tidak tertarik pada kejawaan. Para generasi muda ini dianggap lebih tertarik
pada budaya “Barat”. Hal ini rupanya menjadi masalah karena GKJ merupakan gereja
yang berbasis kesukuan Jawa. “Barat” vs “Timur” menjadi perbincangan yang tidak
dapat dielakkan ketika membicarakan kata kunci dari tulisan ini, yaitu pergulatan
identitas kejawaan, yang dialami oleh Gereja Kristen Jawa. Dalam kaitannya dengan
identitas kejawaan peneliti melihat kecenderungan bahwasanya orang muda selalu
menjadi pihak yang disoroti.
Untuk merunut persoalan yang telah disebutkan di atas jejak awal yang bisa
ditelusuri adalah pergumulan antara Kristen dan Jawa, sebagai aspek pembentuk GKJ.
Kristen yang dibawa oleh zending bernuansa “Barat” yang bertemu dengan orang
Jawa menghasilkan pergumulan tersendiri. Atau bila melihat pergumulan di atas, bisa
dianalogikan Kristen adalah “Barat” sedangkan “Jawa” dianggap mewakili “Timur”.
Lalu bagaimana dengan Gereja Kristen Jawa?Keresahan semacam ini bisa dilihat
4
dengan sikap terhadap kejawaan di GKJ.1 Kelompok pertama ialah kelompok yang
mengatakan bahwa tidak ada gunanya membicarakan kejawaan di jaman sekarang ini
dengan alasan sudah ketinggalan jaman. Alasan yang lain ialah bahwasanya warga GKJ
sendiri sudah tidak njawani.2 Salah satu indikatornya ialah sedikitnya orang yang
beribadah di ibadah Minggu yang menggunakan bahasa pengantar bahasa jawa. Oleh
karena itu, menurut Sukoco, kelompok pertama mengatakan bahwa membicarakan
kejawaan merupakan hal yang sudah tidak relevan dan merupakan hal yang sia-sia.
Sementara kelompok yang kedua adalah kelompok yang setuju pada upaya untuk
mencari akar budaya kejawaan. Hal ini dilakukan dengan dasar bahwa 80% gereja GKJ
terdapat di pedesaaan3. Selain bahasa jawa mestinya ada juga perhatian terhadap
unsur-unsur yang lain, misalnya tradisi, kesenian, simbol, kesenian dan nilai filsafati.
Tulisan Sukocodipinjam dalam latar belakang ini hendak menunjukan ketegangan
bahwasanya ada dua gambaran kelompok, yang pertama adalah kelompok yang
merasa pembicaraan tentang kejawaan merupakan hal yang sia-sia, sementara
kelompok yang lain merasa bahwa harus mencari akar. Ada bagian kelompok yang
merasa perlu untuk mencari bagaimana “Jawa” yang “Timur” sekaligus Kristen yang
“Barat”. Penelitian ini juga tidak akan bergerak untuk mendukung kedua kelompok di
atas. Bagi penulis, kelompok-kelompok di atas, bukan satu-satunya kemungkinan
yang terjadi dalam menggeluti identitas kejawaan pada era sekarang ini. Kejawaan
1
Lukas Eko Sukoco, “Teologi Lokal Jawa Perlukah?, Pergumulan-pergumulan Teologis Seorang Pendeta Gereja Kristen Jawa” dalam Ponco Rahardjo (ed), Sang Penjaga &Pengawal Budaya Jawa : Bunga Rampai Tulisan Tentang Budaya Jawa: Suatu Penghargaan Emiritasi untuk Prof.Dr.Dr. W.e. Soetomo Siswokaro, M.Pd. (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 2007) hal 124-134.
2 Ibid hal 124. 3
5 yang tidak bisa digenggam semakin membuka kemungkinan. Artinya tidak hanya ada
satu realitas saja. Ada berbagai macam hal yang bisa direproduksi sebagai “Jawa”.
Bagian dari reproduksi kejawaan yang dilakukan oleh GKJ ialah dengan
mengadakan Temu Budayawan Sinode.4Dalam pertemuan tersebut dipaparkan
sebuah makalah yang berisiseruan perihalcultural homeless (kemudian diartikan
sebagai gelandangan budaya).Seruan tersebutmenjadi peringatan yang muncul pada
saat temu budayawan sinode Gereja Kristen Jawa di Salatiga pada tahun 2015.5
Seruan tentang menjadi gelandangan budaya mengingatkan bahwa sekarang orang
sudah tidak lagi menganggap tradisi “Jawa” sebagai identitas yang perlu dilihat karena
dianggap terlalu rumit, sementara budaya “Barat” dianggap lebih baik. Maka para
gelandangan budaya tersebut meninggalkan rumah budayanya (Jawa) dan kemudian
tertarik pada budaya barat. Peringatan itu juga menyebutkan bahwa para
gelandangan budaya tersebut sebetulnya tidak dapat memasuki budaya barat yang
baru itu. Peringatan ini oleh pembicara juga dialamatkan pada GKJ, supaya GKJ jangan
sampai menjadi gelandangan budaya. Terlebih yang menjadi sorotan adalah
orang-orang mudanya. Orang muda (GKJ) jangan sampai menjadi gelandangan budaya. Hal
4
Pada tahun 2006 di GKJ Purworejo Sinode Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) membentuk Lembaga Kajian
Budaya Jawa (Lemkabuja), salah satu program kerja dari Lemkabuja adalah mengadakan acara “Temu Budayawan”.
5Konsep gelandangan budaya ini di dapatkan dari makalah yang dituliskan oleh Prof DR Sri Hartanto sebagai
6
ini terlihat jelas manakala dalam rapat kecil “Temu Budayawan” di Purworejo pada
tahun 2017, seorang bapak bertanya : “Apa yang terjadi di GKJ seandainya generasi
kita sudah tidak ada ?” Gambaran ini jelas menyatakan bahwa dalam benak bapak
tersebut bahwa orang muda tidak mengerti sama sekali tentang kejawaan sehingga
muncul ekspresi ketakutan semacam ini. Atau setidaknya ada anggapan pula bahwa
kejawaan yang dimengerti oleh sebuah generasi merupakan sebuah kebenaran
tunggal. Sayangnya sampai di sini eksistensi orang muda belum dilihat, apalagi secara
utuh.
Seruan ini menarik diperhatikan dalam penulisan tesis ini karena pada awalnya
manakala gereja masih dibina oleh zending, warga gereja dituntut untuk menjauhkan
diri dari tradisi lama.Tradisi lama ialah segala sesuatu yang dilakukan sebelum
memeluk agama Kristen, yang berkaitan dengan sistem kepercayaan.6 Namun
sekarang penulis melihat fenomena yang terjadi pada gereja justru sebaliknya,
sekarang gereja menjadi pihak yang paling getol untuk memerhatikan budaya Jawa.
Perubahan ini adalah hal tersendiri yang perlu dilihat dalam kaitanya dengan
kekuatiran orang tua terhadap fenomena orang muda yang dianggap tidak tertarik
pada budaya Jawa.
Pada tahun 2014 GKJ secara sinodal melalui Lembaga Kajian Budaya Jawa
(Lemkabuja) melakukan suatu upaya untuk mencari akar identitas budaya Jawa,
6
7
dengan cara memberi perhatian pada aspek adat, bahasa dan kesenian7. Tiga hal
tersebut menurut Lemkabuja merupakan hal-hal yang dirasa perlu diperhatikan oleh
GKJ. Adat, bahasa dan kesenian dianggap layak diperhatikan karena hal-hal tersebut
yang tampak dalam kehidupan bergereja.
Selain itu, ketiga hal tersebut termasuk aspek-aspek yang dianggap tidak dikuasai
oleh orang muda. Misalnya dari sisi bahasa acara ibadah yang menggunakan bahasa
pengantar bahasa Jawa kurang diminati orang muda8. Selain itu, dari sisi kesenian
tradisional (misalnya gamelan) orang muda yang mau belajar hanya sedikit, selain itu
orang muda tidak paham terhadap tradisi-tradisi yang sudah diserap dalam
kehidupan bergereja. GKJ sendiri telah menaruh perhatian pada tiga hal yang
dianggap merisaukan tersebut misalnya ibadah-ibadah yang dilayangkan dalam
rangka syukuran kehamilan (mitoni), pernikahan bahkan juga kematian. Dalam
gambaran di atas, apa yang digeluti oleh GKJ sebenarnya adalah kejawaan yang
terbatas pada ranah liturgis. Pemilihan penggunaan seni, bahasa, dan tradisi yang
hanya bisa masuk dalam ibadah di gereja. Artinya seni dikerucutkan sebagai kesenian
yang bisa diterima dan digunakan sebagai penunjang liturgi, demikian juga dengan
bahasa. Sementara tradisi adalah upacara adat yang sudah bisa diterima di gereja.
Pembicaraan mengenai identitas di atas, diwarnai dengan sisi-sisi yang beraneka
ragam. Sisi sejarah yang tidak bisa dilepaskan. Sementara itu juga sisi pendapat orang
tua juga merupakan hal yang penting. Terlebih apa yang sudah dipaparkan di atas,
diperjumpakan dengan sudut pandang kajian budaya dalam tulisan ini. Sebagaimana
7
http://www.gkj.or.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=1142diunduh pada 8 Januari 2016 pukul 12:53.
8
8 semangat kajian budaya yang dipaparkan oleh Saukko, bahwa salah satu semangat
kajian budaya adalah menghadirkan keberagaman suara (polivokalitas)9. Banyaknya
suara yang muncul dimaksudkan agar tidak ada suara tunggal yang mendominasi
suara yang lain. Bila hanya terdengar suatu suara saja niscaya terjadi penindasan.
Oleh karena itu urgensi dari tulisan ini adalah mengangkat suara yang lain, yaitu dari
para orang muda. Mengangkat polivokalitas adalah hal yang sangat penting karena
pasti tidak ada realitas tunggal. Mengangkat polivokalitas ini bertujuan untuk
membuka suara yang berbeda dari kelompok yang lain. Penelitian ini memanfaatkan
tiga ranah yang diperhatikan oleh GKJ yaitu bahasa,tradisi dan kesenian sebagai
lingkup untuk melihat ekspresi-ekspresi yang digunakan oleh orang muda dalam
menggeluti kejawaanya.
Suara orang muda yang kemudian akan diperlihatkan dalam ekspresi-ekspresi
sebagaimana disinggung di atas patut diperjuangkan, karena kejawaan sendiri,
dengan meminjam pikiran Baudrilaard, adalah sebuah simulasi. Jawa sudah tidak bisa
dicari mana kejawaan yang asli dan mana Jawa yang merupakan bayangan dari yang
asli. Tidak pernah bisa lagi kejawaan dicari karena kejawaan kini merupakan sebuah
simulasi, kejawaan sudah tidak bisa dipisahkan lagi antara asli dan refleksinnya.
Kejawaan yang dikuatirkan hilang adalah sebuah simulasi, artinya kejawaan yang
demikian pula adalah merupakan hasil refleksi yang direproduksi. Terlebih
kekuatiran yang dihadirkan oleh orang tua ini merupakan gejala yang tidak terjadi
begitu saja, ada narasi yang lebih besar terkait dengan sejarah dan konteks lain ketika
9 membicarakan hal tersebut. Hal-hal tersebutlah yang akan dibahas dalam penelitian
ini.
2. Rumusan Permasalahan
A. Bagaimana warga GKJ membicarakan dan membangun identitas kejawaan?
B. Bagaimana pergulatan identitas GKJ itu ditanggapi oleh orang muda?
C. Bagaimana menempatkan pergulatan identitas GKJ di dalam konteks kajian
budaya?
3. Tujuan Penelitian
A. Melihat pola pikir warga GKJ perihal kekuatiran pada fenomena orang muda yang
dianggap tidak tertarik pada budaya kejawaan, dan bagaimana dampak fenomena
tersebut pada GKJ sebagai gereja dengan latar belakang budaya Jawa.
B. Memperdengarkan suara orang muda perihal pemaknaan dan pandangan tentang
kejawaan sebagai bagian dari GKJ.
C. Memperlihatkan bagaimana sebuah upaya membangun identitas dari lembaga
agama ditinjau dari segi kajian budaya.
4. Manfaat Penelitian
A. Manfaat penelitian ini bagi ilmu sosial, untuk menampakan gejala sosial, di mana
terjadi kekuatiran perihal identitas, kekuatiran ini juga disertai usaha-usaha untuk
membangun dan menjaga identitas tersebut..
B. Manfaat penelitian ini bagi gereja-gereja berlatar belakang kesukuan, memberikan
10 5. Kajian Pustaka
A. Membicarakan Agama sebagai Lokus Penelitian Kajian Budaya
Membicarakan agama (Kristen) dalam konteks kajian budaya di Indonesia
memiliki beragam dimensi yang mesti diperhitungkan. Dimensi pertama yang mesti
dilihat dalam agama ialah dimensi sui generis, yaitu keadaan di mana agama
merupakan sebuah kategori pokok atas dirinya sendiri.10 Pandangan yang semacam
ini melihat agama tidak mungkin direduksi. Oleh karena itu sebagai lokus kajian
budaya di sini agama tidak dipandang dengan cara yang demikian. Agama dilihat
dalam perannya sebagai disiplin ilmu beserta segala perkembanganya.
Perlu dicatat sebelumnya bahwa ketika agama didekati dan dipelajari, ada
usaha-usaha untuk medefinisikannya. Akan tetapi King mencatat bahwa hal ini tidak lepas
dari dampak dikotomi pasca-pencerahan, yaitu ruang publik dan ruang privat.11 Hal
inilah yang membuat agama sendiri tereduksi dalam ruang privat yang seolah
terpisah dari ranah yang lain (poilitik misalnya). Dalam membahas hal ini King
memberi contoh dengan apa yang terjadi pada mistisisme. Mistisme kerap dipandang
sebagai sesuatu yang misterius dan tak dapat diindrai. Mistik dimasukkan ke dalam
ranah privat sehingga takada kaitanya dengan dunia akademis. Malah lebih jauh kerap
mistik dihadap-hadapkan dengan filsafat. Seolah-olah sedang menghadapkan antara
yang rasional dan yang tidak. Lalu membangun narasi bahwa mistik itu milik Asia
10
Richard King. Agama,Orientalisme dan Poskolonialisme; Sebuah Kajian tentang Pertelingkahan antara Rasionalitas dan Mistik. Terj Agung Prihantoro. (Yogyakarta :Qalam Press, 1999) hal 22.
11
11
sedang filsafat milik Eropa.12 Hal-hal semacam inilah contoh yang dilakukan King
untuk menunjukkan bahwa dalam pendekatan dan pendefinisian pada agama, sarat
dengan aspek kekuasaan. Agama bukan soal sui gerenis (semata-mata), namun juga
soal perjuangan dan aspek-aspek yang lebih luas, misalnya etika, isu sosial dan politik.
Dalam perkembangan kesejarahannya, agama (religio) menurut Cicero setidaknya
berasal dari relegere yang berarti melacak kembali atau membaca ulang.13 Hal ini
mementingkan tradisi-tradisi nenek moyang dan tidak perlu mempertanyakannya.
Hal ini berisi pengajaran dari generasi ke generasi (traditio). Sebagai contoh kasus,
orang yang mempraktekkan konsep agama yang semacam ini adalah
orang-orang Romawi. Orang-orang-orang Romawi percaya pada dewa-dewa nenek moyang,
bahkan juga menghormati dewa-dewa orang lain. Sedangkan orang Kristen awal tidak
demikian. Orang Kristen awal tidak mau menghormati dewa-dewa orang Romawi. Hal
ini karena Orang-orang Kristen menghayati agamanya dengan memaknai religo
dengan konsep dari Lactantius yaitu re-ligare yang dapat diartikan dengan mengikat
kebersamaan.14 Hal ini berkaitan dengan alasan-alasan seseorang memeluk suatu
agama. Ada sebuah kebenaran yang diyakini secara bersama-sama. Oleh karena itu
pendekatan semacam ini tidak ada hubunganya sama sekali dengan leluhur. Meskipun
demikian King melihat dalam kekristenan kedua hal di atas masih bisa dijumpai.
Buktinya tokoh-tokoh dalam masa lalu tetaplah penting. Hal yang patut dicatat ialah
bahwa klausul tentang alasan, tentang kebenaran menjadi sesuatu yang pokok dalam
12 perkembangan studi agama. Hal ini juga berkaitan dengan sekularisme yang terjadi
sehingga pendekatan-pendekatan ilmu agama didekati juga dengan pendekatan ilmu
alam. Ada berbagai pendekatan yang diajukan oleh King yang dalam perjalanannya
bisa digunakan untuk mendekati agama. Namun sebuah catatan yang penting
diajukan King adalah bahwa peran studi keagamaan dalam konteks kajian budaya
ialah meletakkan keragaman pada posisi yang lebih kuat ketika melakukan penelitian
yang open-ended terhadap perspektif dan pandangan dunia nantinya.15 Maka hal yang
penting bagi pendekatan agama dalam kajian budaya adalah menghadirkan
polivokalitas pada keragaman realitas yang terjadi.
Sekalipun demikian King menempatkan agama dalam penelitian yang lebih luas
sebagaimana yang telah diajukkan oleh tesis ini, namun tesis ini berupaya melangkah
lebih jauh. Tidak hanya menempatkan agama sebagai sebuah lembaga yang bisa
diteliti tanpa takut pada dimensi sui generis. Tesis ini hendak melihat bahwa ada pula
aspek-aspek yang nampaknya sui generis namun ternyata digunakan sebagai klaim
untuk mendukung kepentingan tertentu.
B. Persoalan Kebudayaan dan Antar Generasi di Gereja
Bagian ini membahas pengalaman orang Ukraina yang sempat mendapatkan
penganiayaan oleh orang-orang Rusia pada abad ke-13 dan mesti pergi dari tanah
leluhurnya dan tinggal di Kanada sebagai imigran.16 Konteks yang demikian ini justru
13 itu Katolik maupun Ortodoks mempromosikan dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan
Perancis. Hal ini menjadi masalah bagi orang-orang Ukraina yang bergereja di Gereja
Ortodoks Ukraina. Hal ini juga terkait lekat dengan bahasa apa yang akan dipakai di
dalam gereja. Sementara di sisi lain, kebutuhan mempertahankan keukrainaan lekat
juga dengan impian bahwa suatu saat nanti akan pulang ke Ukraina yang bebas.
Untuk membahas persoalan ini Wigglesworth memberikan dua perbandingan.
Yang pertama adalah pengalaman religius orang Palestina pada abad pertama.
Sekalipun kitab orang-orang Yahudi berbahasa Ibrani, namun pengikutnya memiliki
bahasa yang beraneka ragam, ada yang berbahasa Aram, ada pula yang berbahasa
Koptik dan Yunani. Tradisi penggunaan bahasa Ibrani sebagai tradisi untuk membaca
Torah tetap dipertahankan, namun penjelasan atas Torah itu disesuaikan dengan
bahasa umat, supaya dapat dimengerti. Wigglesworth melihat adanya perbedaan
antara pengalaman religius orang Palestina dengan gereja ortodoks Ukraina di
Kanada. Bila umat yahudi di Palestina terlihat bisa mengapresiasi penggunaan yang
berbeda-beda, gereja di Ukraina justru hendak menegaskan penggunaan bahasa
Ukraina di dalam ibadah. Sementara di sisi lain ada realitas bahwa kemampuan
bahasa Ukraina memang sudah berkurang. Oleh karena itu pilihannya adalah
menambah ibadah berbahasa Inggris, atau membuat orang-orang Ukraina belajar lagi
tentang bahasa Ukraina.
Perbandingan yang lain adalah dengan orang-orang suku Aborigin di Amerika.
Sebagai korban atas orang-orang Amerika dari sisi bahasa rupanya juga ada resiko
14 menyiapkan anaknya bisa sukses di dunia sekarang karena menjadi bagian dari
mayoritas bisa menjanjikan. Bagaimanapun kehilangan bahasa hampir pasti tidak bisa
dipulihkan lagi.
Dengan dua perbandingan di atas Wigglesworth melihat studi kasus di jemaat.
Memang ada banyak faktor mengapa bahasa Ukraina mesti dipertimbangkan
penggunaanya. Salah satunya ialah orang-orang muda yang pergi ke kota untuk
bersekolah atau mencari pekerjaan memang lebih dekat dengan bahasa Inggris.Selain
bahasa Inggris memang menjadi tuntutan bagi pendidikan atau pekerjaan. Hal ini
merupakan realitas yang tidak dapat dipungkiri lagi sekalipun pada awal masa
kepindahan warga Ukraina di Kanada.
Untuk melihat realitas ini lebih dekat, Wigglesworth mengadakan penelitian di
sebuah gereja ortodoks Ukraina dari September 2006 sampai Juni 2007, dengan
menyebar 100 kuesioner, mewawancarai 20 sumber, dan melihat literatur yang ada.17
Hasil dari penelitian itu melihat ada banyak faktor mengapa bahasa Inggris diinginkan
dalam ibadah gereja ortodoks Ukraina. Pertama, bahwa semakin tidak diinginkanya
bahasa Ukraina karena memang orang muda lebih paham bahasa Inggris daripada
bahasa Ukraina. Selain itu pernikahan dengan orang yang tidak beretnis Ukraina juga
menyebabkan bahasa Inggris lebih diminati, demikian juga dengan anak-anak hasil
pernikahan ini. Penggunaan bahasa Inggris ini juga digunakan untuk menyasar
orang-orang muda yang tidak mengerti bahasa Ukraina dan memilih gereja lain, mau datang
kembali ke gereja ortodoks ini. Namun di sisi lain peneilitian itu juga menunjukan
17
15 transmisi religius yang mengatakan bahwa apa yang dipercayai oleh gereja rupanya
juga melekat pada budaya Ukraina.
Maka implikasi dari penelitian tersebut adalah tetap menggunakan dua bahasa
secara seimbang, mengingat ada dua pihak yang berada di sana yang sama-sama
menginginkan bahasa Ukraina dan bahasa Inggris dipakai dengan segala
kepentinganya. Namun diskusi diantara keduanya tetap harus dijaga sebagai sebuah
kesatuan jemaat. Membuat salinan dari musik Inggris supaya dapat dimasukan dalam
gereja untuk memperkenalkan transmisi religius kepada golongan yang
menginginkan budaya Ukraina. Selanjutnya pendidikan tentang bahasa Ukraina juga
bisa diberikan pada istri maupun anak yang bukan orang Ukraina.
Penelitian di atas menunjukan sesuatu yang mirip dengan apa yang akan saya
soroti dalam tesis ini. Persoalan budaya seringkali diiringi munculnya persoalan
dalam ranah bahasa. Wiggelsworth memaparkan bagaimana komunitas Kristen
Ukraina yang berpindah ke Kanada, sehingga bahasa Ukraina mesti bersaing dengan
bahasa Inggris dan Perancis.Sementara itu dalam penelitian ini bahasa Jawa juga
dilihat bersaing dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Wigglesworth juga
memaparkan orang tua dan orang muda yang memiliki sisi yang berbeda. Orang tua
hendak mempertahankan bahasa Ukraina, sementara orang muda hendak memakai
bahasa Inggris. Ada perubahan yang dipotret di sini, perubahan itu tidak mungkin
dinafikkan di satu sisi, sementara di sisi lain Wigglesworth juga melihat bahayanya
kehilangan bahasa seperti orang-orang suku Aborigin. Ketegangan ini pula, menurut
16
C. Perjumpaan antara Kekristenan (Protestan) dan Kejawaan
Guna melihat lebih jauh tentang persinggungan antara Kekristenan dan Kejawaan
maka penting juga untuk melihat penelitian yang menyoroti tentang purifikasi (yang
melingkupi faktor pembentuk, tujuan ) di GKJ sehingga muncul anggapan bahwa
Kristen yang baik adalah Kristen yang tidak tercampuri oleh kepercayaan lama (dalam
hal ini slametan dan sunatan).
Pertanyaan yang dimunculkan terkait purifikasi ini mengupas sisi lain dari apa
yang akan diteliti. Bahwa dalam tubuh GKJ rupanya ada berbagai suara, dan
setidaknya melalui tulisan Nugroho ditunjukkan bahwa ada pendapat yang menolak
budaya tradisional Jawa, dan ada pula kekuatiran bahwa GKJ akan menjadi kehilangan
identitasnya sebagai gereja yang berlatar belakang budaya Jawa.
Fenomena purifikasi ini berasal dari pengalaman Nugroho berada di dua tempat
yaitu di Ngampel dan Kasimpar yang ia kunjungi pada tahun 2003. Nugroho
dikejutkan dengan sebuah pernyataan yang menyiratkan kebanggan bahwa orang
Kristen (terutama di Kasimpar) sudah tidak mempraktekan slametan (selamatan) dan
sunatan (khitanan) dengan anggapan bahwa dua hal tersebut bertentangan dengan
iman Kristen.
Di dua tempat itu terjadi permasalahan pada praktek slametan dan sunatan. Hal
tersebut dikarenakan persoalan identitas Kristen yang hendak ditegaskan oleh
17
mengutamakan purifikasi.18Akibatnya, di desa terjadi ketegangan antar pemeluk
agama karena orang Kristen diharapkan oleh Pendeta tidak melakukan selamatan
lagi. namun pada prakteknya warga masih menjalankan praktek tersebut.
Permasalahan ini menjadi hal yang dibahas manakala “Keristenan” pada awal
perjumpaanya dengan “Kejawaan”. Bagaimana menjadi “Kristen” yang baik adalah
menjadi seperti Belanda. Hal ini karena “Kristen” yang dimaksudkan Zending ialah
plantatio ecclesiae19, sehingga gereja yang ada di Jawa merupakan cangkokan dari
yang ada di Belanda. Akan tetapi konsep dari Zending ini gagal hal ini bisa dilihat
dalam tulisan Nugroho ini dipaparkan juga bahwa proses purifikasi ditentukan oleh
para elit desa yang memegang peranan penting.20 Karena mereka yang membawa
Kekristenan ke desa mereka, sekaligus nanti tetap mempertahankan praktek
selamatan. Pada akhirnya praktek selamatan tetap dijalankan sekalipun mungkin
dengan cara pandang yang berbeda.
Pada bagian akhir Nugroho menjelaskan kejadian di dua tempat yang sudah di atas
sebagai sebuah relasi antara orang-orang Kristen Jawa dan juga orang Kristen Belanda
dengan sudut pandang relasi kuasa. Gereja cangkokan yang hendak diwujudkan oleh
Salatiga Zending melalui pendeta, bukan hanya soal sumber ajaran yang berasal dari
gereja Belanda namun lebih kepada segala sesuatu yang dibutuhkan pendeta dicukupi
oleh zending.
18
Singgih Nugroho, “Tiyang Kristen ing Mriki Sampun Sae Agamanipun . Pendeta, Bekel dan Upaya membangun Identitas Agama” di Jawa dalam Retorik, vol 2 no 4, Oktober 2003, hal 175
19 Ibid hal 183. 20
18 Sebagaimana dituliskan di atas, tulisan Nugroho di sini dipaparkan dalam rangka
melihat penelitian tentang ”Kejawaan” yang ada di GKJ. Meskipun pada tulisan
Nugroho memang membahas tentang relasi kuasa, namun di sisi lain ada aspek
“Barat” dan “Timur”. Bahwa isu tentang GKJ yang berhadapan dengan gereja Belanda
sebagai pengandaian “Barat” lawan “Timur” agaknya masih dihidupi hingga kini.
Penulis menduga pemikiran yang semacam ini yang mendasari ketakutan pada orang
muda yang dianggap tidak tertarik lagi pada “Jawa”. Hal ini sekaligus juga
menunjukkan ketakutan generasi tua pada “Barat”. Lalu generasi ini merasa gagal
untuk membentuk orang muda, dan mewariskan “Jawa” yang mereka kehendaki.
Apalagi realitas yang menunjukan bahwa GKJ pernah berjarak dengan kejawaan
bersamaan dengan konsep plantatio ecclesiae agaknya menjadikan “Barat” sebagai hal
yang terus diwaspadai. Apalagi dengan perkembangan jaman (terutama dalam
wilayah bahasa) orang muda dianggap lebih tertarik pada bahasa Inggris daripada
kepada bahasa Jawa.
Pertentangan “Barat” dan “Timur” bila dibicarakan terus menerus hanya akan
menghasilkan ketakutan. ketakutan menjadi “Barat” dan ketakutan sudah tidak
“Timur”. Lalu orang berlomba-lomba mencari-cari “Timur” sedemikian rupa dan ada
usaha mengeliminasi “Barat”. Dalam tesis ini penulis tidak akan menyajikan
pertentangan semacam itu, namun akan membingkai pertentangan-pertentangan
yang terjadi baik dalam penolakan ataupun usaha mendefiniskan diri dengan
19
D. Upaya Menempatkan Kejawaan dalam Penelitian
Tidak begitu mudah untuk melihat apakah kejawaan itu?, bagaiamanakah yang
dimaksud dengan kejawaan itu? Ada berbagai aspek yang mesti dilihat. Akan tetapi
yang menjadi sebuah titik pijak di sini adalah bahwa penghayatan soal kejawaan itu
tidak diam.
Kesulitan perihal menangkap apa itu Jawa, terkhusus siapa orang Jawa tersebut
terlontar juga di dalam penelitian Frans Magniz Suseno dalam bukunya “Etika Jawa”.21
Ia lebih jauh mengatakan bahwasanya tidak ada ciri-ciri khusus yang bisa ditangkap
oleh dirinya yang bisa mendefinisikan secara ideologis siapakah orang Jawa itu. Hal
ini pulalah yang membuatnya mendasarkan argumennya pada kejawaan berdasarkan
konstruksi teoretisnya sebagai seorang penulis.22 Hal ini dengan jelas dipilih oleh
Suseno dengan segala konsekuensinya. Keuntungannya ia memang tidak perlu
menjelaskan referensi Jawa yang ia maksudkan, baik itu soal waktu, tempat dan
karakter. Namun kekurangannya akan ada jarak dengan realitas sosial-empiris.23
Lebih jauh, setlah memberikan gambaran mengenai bagaimana “Jawa” dalam
berbagai seginya Suseno menjelaskan tentang kaidah kehidupan masyarakat di Jawa.
Beliau menekankan perihal dua nilai, yaitu rukun dan hormat.24 Kedua nilai inilah
yang dipakai dalam kehidupan orang Jawa. Sebagaimana judul buku yang ia tulis ia
menempatkan kejawaan dalam sisi filosofis.
21
Franz Magnis-Suseno, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. (Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama:1996) hal 3
22
Ibid hal 4.
23Ibid hal 4. 24
20 Tesis ini mencoba menyoroti lokus yang serupa, yaitu kejawaan. Di sisi-sisinya
juga memiliki kemiripan dengan apa yang dialami oleh Suseno. Hal ini dapat dilihat
dalam sulitnya menenentukan apa, bagaimana, dan siapa Jawa itu? Referensi
kejawaan yang sudah begitu sulit dirunut apalagi jika hendak menampilkan
kekhasannya. Apa yang terjadi terhadap GKJ dalam tesis ini juga demikian. Ada upaya
menghadirkan kejawaan namun tidak ada refernsi yang jelas. Oleh karena itu dalam
tesis ini tidak akan menyajikan kejawaan dalam referensi waktu maupun lokasi
tertentu namun melihatnya sebagai sesuatu yang dikonstruksi. Hanya saja tesis ini
tidak akan membawa konstruksi itu ke ranah filsosfis namun ke arah kajian budaya.
Maka akan memperlihatkan gejolak konstruksi kejawaan itu beserta
perlawanan-perlawanan yang muncul dalam pergulatan tersebut.
Sub bab ini juga meminjam tulisan G. Budi Subanar terutama dalam memotret
perubahan penghayatan dari keluarga keraton dalam memaknai kejawaan.25 Keraton
begitu penting untuk disoroti karena keraton acapkali dipandang sebagai pusat
kejawaan. Ada dua tokoh yang dihadap-hadapkan yang pertama adalah Sultan
Hamengku Buwono IX dan Sultan Hamengku Buwono X. Sisi yang hendak dilihat
adalah bagaimana keduanya, yang notabene adalah raja dan di dalamnya juga
terdapat citra kejawaan dalam memutuskan sebuah kebijakan.Sultan HB IX
merupakan sosok yang dilihat sebagai pembaharu dalam dunia keraton. Hal ini
21
dikarenakan selain seorang sultan, Sultan HB IX adalah seorang pelaku bisnis.26 Sultan
tidak hanya memberi kebijakan pembangunan selokan mataram untuk melindungi
rakyatnya dari kerja paksa yang diwajibkan oleh Jepang. Sultan HB IX juga
membangun instrumen ekonomi.
Hal ini terlihat dari pembangunan pabrik gula Madukismo dan juga pembangunan
Hotel Ambarukmo. Pada pabrik gula tersebut Sultan HB IX memiliki 75% saham,
sementara sisanya dimiliki pemerintah Indonesia. Beliau juga menduduki posisi
sebagai presiden komisaris. Sementara Hotel Ambarukma didirikan demi pengelolaan
terhadap sendratari ramayana.27 Subanar melihat apa yang dilakukan oleh Sultan HB
IX dalam mendirikan pabrik gula dan juga mendirikan Hotel Ambarukma yang
diasosiasikan dengan sendratari ramayana merupakan sebuah upaya
mempertemukan dunia petani dan juga aspek kebudayaan yang dimasukkan dalam
bisnis modern. Hal ini juga merupakan sebuah perwujudan kejawaan Sultan HB IX.28
Setelah membahas bagaimana HB IX berkiprah, maka kini pembahasan diarahkan
pada Sultan HB X. Sultan HB X adalah juga sultan yang bergerak di aras bisnis,
sebagaimana sultan sebelumnya. Kendati demikian ada orientasi ekonomi yang
berubah. Contohnya adalah penggusuran SD yang berada di sekitar Hotel
Ambarukma, perusakan situs bangunan lama keraton dan yang paling kentara adalah
pembangunan hypermarket. Semula Hotel Ambarukma dibangun sebagai instrumen
22 ada hanyalah pusat perbelanjaan besar yang pasti tidak dimiliki oleh penduduk
sekitar.
Orientasi pemimpin keraton yang acapkali menjadi simbol kejawaan ini mau tak
mau mesti dilihat dalam arus globaliasi dan kapitaliasi. Tidak dapat dielakkan bahwa
ada perubahan orientasi, yang tadinya menghiraukan sisi pertanian dan juga
kebudayaan kini berubah menjadi bisnis semata dengan segala alasan praktis
pragmatis. Ada sebuah kemungkinan bahwa penghayatan kejawaan yang
menghiraukan kepentingan bersama telah bergeser. Ada sebuah kemungkinan juga
bahwa konsep manunggalingkawula gusti telah bergeser menjadi manunggaling
kawula ing pasar.29
Keraton yang kerap dianggap sebagai pusat juga rupanya memiliki dinamika
dalam menggumulkan apa itu kejawaan. Di satu sisi kejawaan dimaknai dengan
keberpihakan pada rakyat sementara yang lain kejawaan adalah sebuah komoditas
semata yang disetir oleh kepentingan pasar. Citra pusat memang menarik bila
diperbincangkan apalagi bagi GKJ (sebagai objek penelitian dalam tesis ini)
Yogyakarta adalah salah satu pusatnya. Akan tetapi dalam tesis ini hendak
menampakkan bahwa klaim-klaim terhadap pusat nantinya juga merupakan sesuatu
yang kososng. Sebuah upaya menghadirkan referensi yang demikian sia-sia. Untuk
itulah kejawaan dalam sebuah konstruksi, namun tanpa referensi akan semakin
menarik dibicarakan
29
23 6. Kajian Teori
Gereja Kristen Jawa nampak telah begitu tertarik dengan identitas kejawaan. Hal
itu nampak pada aspek-aspek seni budaya dan tradisi yang coba terus dibangun.
Bahkan dalam upaya membangun identitas kejawaan itu muncul sebuah kekuatiran
pada orang muda. Seolah-olah ada hal-hal yang sangat mendesak yang perlu segera
dilakukan. Di sisi lain, gereja terlihat bingung menentukan “Jawa” seperti apa yang
mesti diuri-uri (dilestarikan). Hal inilah yang akan coba dilihat dengan bantuan
Baudrilaard dan akan dikaitkan dengan teologi yang dalam hal menjadi ideologi
penggerak gereja. Aspek yang akan dilihat di sini ialah perihal simulasi. Ketika
menjelaskan hal ini Baudrilaard menjelaskan dengan contoh sebuah kerajaan yang
membuat sebuah Peta. Peta itu begitu detailnya sehingga sekalipun kerajaan itu telah
hancur peta itu tetap dapat menghadirkan keindahan dari kerajaan tersebut.
Peristiwa di mana keindahan kerajaan itu tetap dapat dihadirkan oleh peta
tersebut sekalipun kerajaan itu telah hilang adalah gambaran dari simulasi. Simulasi
adalah sebuah model dimana ada sesuatu yang real tanpa realitas itu sendiri.Di sana
tercipta hiperrealitas.30 Peta itu ada bukan karena adanya wilayah dari kerajaan itu,
namun petalah yang mengadakan kerajaan tersebut. Peta menjadi lebih real daripada
wilayah kerajaan itu sendiri. Dalam kondisi yang demikian itu simulasi dari peta
berada dalam dimensi hiperreral.
Ketika memasuki dimensi hiperrealitas Baudrilaard menjelaskan bahwa di sana
akan muncul hal-hal yang artifisial dari tanda. Kemunculan ini untuk menggantikan
30
24
tanda-tanda yang nyata dengan yang nyata itu sendiri.31 Sebagaimana Peta yang tadi
sudah disinggung di atas telah muncul dan menggantikan wilayah dari kerajaan.
Tanda-tanda yang artifisial itu akan mencegah yang real itu bereproduksi karena
hiperealitas memastikan tanda-tanda yang dangkal ini bereproduksi dalam simulasi.
Ada hal yang perlu diingat ketika membicarakan tentang simulasi, yaitu bahwa
simulasi bukanlah pura-pura. Simulasi sudah tidak membicarakan benar-salah,
ataupun yang nyata-imajiner. Sekalipun dalam simulasi tidak ada referensi, yang ada
dalam simulasi adalah gejala (symptom) yang benar.32 Simulasi juga bukan
merupakan sebuah representasi. Apabila representasi mengandaikan ada kesetaraan
antara yang nyata dan yang direpresentasikan, apabila simulasi tidak mengandaikan
ada yang nyata. Ia menyerap yang nyata itu dalam dirinya dalam sebuah
simulakrum.33
Sebagaimana sudah disinggung di atas, konsep ini hendak digunakan untuk
mengkaji salah satu fenomena dalam sebuah organisasi agama. Konsep simulasi ini
hendak menunjukkan bahwa segala sesuatu bisa menjadi simulasi. Bahkan Tuhan
sendiri bisa menjadi simulakrum.34 Sebagaimana yang telah dijelaskan, konsep
simulasi ini menghilangkan referensi. Maka Tuhan bisa menjadi simulasi bahkan yang
mahakuasa (omnipotence). Dalam kemahakuasaan itulah simulasinya menjadi sangat
luar biasa pengaruhnya. Tuhan tidak digantikan, namun menjadi sebuah simulakrum.
25 Hal itu sangat mungkin dilakukan oleh lembaga agama. Dengan simulasi (yang maha
kuasa) tersebut, lembaga agama bisa menimbulkan dampak yang besar.
Di sisi lain, ketika membicarakan sesuatu yang lampau atau yang menjadi asal-usul
(di sini ketika Baudrilaard mebicarakan mumi Ramses35) menghadirkan aspek yang
menarik. Rupanya hal yang penting juga untuk membicarakan hal-hal yang masa lalu
atau soal asal-usul. Ada usaha untuk mencitrakan bahwa ada sesuatu yang asli.
Alih-alih menjaga keasliannya, yang muncul juga merupakan simulasinya.
Manakala identitas dibicarakan oleh lembaga agama dalam konteks simulasi maka
di sana akan nampak tidak adanya referensi. Ada hal-hal pula yang muncul sebagai
tanda artifisial. Hal-hal tersbut muncul sebagai respon atas berbubahnya relasi agama
di dalam konteks simulasi.
Di dalam tesis ini teori tentang simulasi ini digunakan untuk melihat tentang
kejawaan yang dibangun oleh sebuah lembaga keagamaan (GKJ). Kejawaan yang kini
sudah demikian larut dibicarakan dengan begitu saja tanpa perlu merujuk pada
kejawaan apapun. Sekalipun tanpa referensi namun ada juga klaim-klaim yang
dibangun untuk membenarkan argumentasi tentang perlunya membangun identitas
kejawaan. Argumentasi inilah yang dilihat dalam logika simulasi sebagai menguatnya
tanda-tanda yang artifisial. Hal-hal artifisial yang menguat dalam ranah-ranah visual.
35
26 7. Metode Penelitian
Dalam hal metode penelitian ini hendak memakai dua cara. Pertama dengan studi
literatur,hal ini digunakan untuk melihat sejarah dan konteks GKJ. Sementara metode
yang kedua adalah dengan wawancara. Pihak yang diwawancara dalam tesis ini
adalah generasi tua dan orang muda perihal kejawaan. Orang tua diwawancarai
berkenaan dengan bagaimana kekuatiran tersebut ada di GKJ. Wawancara juga
ditujukan pada orang muda dengan maksud menangkap ekspresi-ekspresi orang
muda dalam menjalankan kejawaanya.
GKJ yang dipilih sebagai yang akan diteliti adalah GKJ Purworejo. Hal ini karena
dilihat sebagai gereja yang representatif untuk penelitian ini. Pemilihan ini didasarkan
pada tercatatnya GKJ Purworejo sebagai salah satu gereja tertua (diresmikan pada
tahun 1900).36 Di gereja ini pula seorang tokoh bernama Kiai Sadrach juga pernah
mengasuh jemaat ini. Sekalipun dalam perkembanganya kemudian lebih banyak
berkiprah di Karangjoso (berada di kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo).
Pengaruh Sadrach sebagai model beragama “Kristen-Jawa” juga coba disusuri lagi di
GKJ Purworejo. Selain dari aspek kesejarahan dan juga pengaruh ketokohan, GKJ
Purworejo juga dipilih karena banyak peristiwa yang terkait dengan sinode dalam
sikapnya terhadap budaya yang terjadi di Purworejo. Misalnya berdirinya Lemkabuja
(Lembaga Kajian Budaya Jawa) Sinode GKJ pada 13 Mei 2006 di Pendopo Kabupaten
Purworejo. Kegiatan yang baru saja dilaksanakan di GKJ Purworejo berkaitan dengan
Lemkabuja adalah “Temu Budayawan 3”, yang diadakan pada tanggal 21-22
27 September 2017. Selain itu GKJ Purworejo juga mengadakan ibadah dengan
memasukkan wayang sebagai sarana khotbah demikian juga dengan kethoprak dan
juga iringan liturgi gamelan remaja.
8. Sistematika Penulisan
A. Bab 1
Pada bagian ini berisi beberapa hal. Pertama ialahlatar belakang masalah, yaitu
merupakan bagian penting yang mendasari tesis ini. Bagian yang kedua ialah
pertanyaan penelitian, sebuah bagian untuk membangun arah bagi tesis ini.
Setelah pertanyaan penelitian bab 1 juga berisi tujuan dan manfaat penelitian.
Selain itu
batasan masalah, juga penting untuk melihat cakupan pekerjaan tesis ini. Pada
bagian berikutnya terdapat sub bab kajian pustaka guna menenmpatkan tesis ini
pada pekerjaan dengan tema serupa. Sub bab kajian teori juga terdapat dalam bab
ini guna melihat teori yang hendak dipakai. Hal yang tidak kalah pentingnya ialah
metode penelitian dan yang terakhir adalah sistematika penulisan.
B. Bab 2
Bab ini akan berisi konteks sejarah GKJ secara umum. Serta perkembangan
pemikiran mengenai kejawaan dalam konteks sejarah tersebut
C. Bab 3
Menampilkan hasil pengamatan dan wawancara terkait dengan pergulatan
identitas GKJ. Bagaimana cara membangun identitas dan alasan-alasan
28
D. Bab 4
Pada bab ini memperlihatkan analisis terhadap pergulatan identitas GKj
E. Bab 5
29
Bab 2
Gereja-Kristen-Jawa : Kaitkelindan Identitas
Pengantar
Pada bab ini hendak menunjukkan bagian-bagian dari Gereja Kristen Jawa
yang berkaitan dengan konteks sejarah. Aspek tersebut dipaparkan dalam tesis ini
guna memberi gambaran singkat tentang GKJ serta latar belakangnya secara singkat.
Sekalipun berkaitan dengan aspek kesejarahan, bab ini tidak bermaksud menyajikan
sejarah yang kronikal. Aspek yang ditunjukkan di sini adalah bagaimana GKJ
terbentuk dan pengaruh apa saja yang berdampak pada GKJ. Kekristenan (teologi)
macam apa yang berkembang di GKJ. Di sini wilayah teologi dibahas sejauh melihat
pengaruhnya terhadap kejawaan. Dinamika menjadi “Kristen” dan sekaligus menjadi
“Kristen Jawa” seolah seperti kutub-kutub pada pendulum, sedangkan GKJ adalah
pendulum yang bergerak ke kanan dan kiri. Menjadi gereja Kristen Jawa berarti mesti
mendialogkan antara Kristen yang notabene berasal dari zending37 dan konteks
masyarakat Jawa.
1. Gereja : Sekilas tentang terbentuknya Gereja Kristen Jawa
Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) tidak saja tumbuh dan berkembang di dalam suatu masyarakat yang berlatar belakang sosial tertentu, yaitu masyarakat Jawa; bukan pula hanya tumbuh dan berkembang di dalam konteks sejarah tertentu (kolonial-nasional) atau sejarah gereja tertentu saja (gereja-gereja Belanda atau Jerman, juga tidak hanya dari
sejarah badan zending tertentu (zending-zending-zending Belanda
ataupun barat), melainkan merupakan “buah” pekerjaan badan zending,
37“Zending”
berasal dari bahasa Belanda yang artinya utusan, secara teologis kata ini mengacu pada Injil Matius 24: 14 tentang penyebaran Injil, yang kemudian dimaknai dengan menyebarkan agama Kristen ke berbagai penjuru dunia terutama dalam hal ini kepada daerah jajahan Belanda. Lih J.D Wolterbeek, Babad
30
berlangsung, badan zending (utusan dari gereja Belanda), orang awam (bukan
rohaniwan), dan juga komunitas orang-orang Jawa yang bergama Kristen dalam GKJ.
Menurut S.H Soekotjo ada tiga jalur yang bisa digunakan untuk mengerti kutipan di
atas.39 Pertama yaitu jalur Utara yang berasal dari asuhan Salatiga zending, kedua dari
tradisi “Golongane Wong Kristen Kang Mardika” dengan pengaruh dari Sadrach, dan
yang ketiga ialah dari zending NGZV (Gereformeed). Sebagaimana sudah disinggung di
atas, bahwa sebetulnya keberadaan GKJ cukup berwarna dengan pertemuan antara
GKJTS dan GKJTU. Oleh karena itu jalur yang ditelusuri bukan hanya Selatan, namun
juga Utara.40 GKJ merupakan gabungan dari penyebaran agama Kristen dari wilayah
Jawa Tengah Utara dan Jawa Tengah bagian Selatan.
Pada jalur Utara ada komunitas Kristen yang telah diasuh oleh Salatiga zending,
yaitu sebuah lembaga yang berusaha memelihara komunitas Kristen dengan latar
belakang teologis yang bermacam-macam. Jadi sebenarnya Salatiga zending ini tidak
berdasar pada satu tradisi gereja saja. Sementara itu, penyebar agama Kristen
38
M Suprihadi Sastrusupono dan Hadi Purnomo, (ed). op.cit hal 13.
39S.H Soekotjo, Sejarah Gereja-gereja Kristen Jawa Jilid 1 : Di bawah bayang-bayang zending 1858-1948,
(Yogyakarta : Taman Pustakla Kristen, 2009) hal.117.
40
31
(penginjil awam)41 “pribumi” sebenarnya juga ada di jalur Utara, beliau adalah Kiai
Tunggul Wulung. S.H Soekotjo mengatakan bahwa Kiai Tunggul Wulung kurang atau
bahkan tidak dikenal di lingkungan GKJ. Bahkan Soekotjo menggambarkan dengan
ekspresi : “.... sepertinya Kyai ini merupakan makhluk asing dari planet lain yang tidak
ada sangkut pautnya dengan GKJ”42 Padahal Kiai Tunggul Wulung telah menyebarkan
agama Kristen dengan cakupan yang luas, yaitu Jawa Timur (daerah Gunung Kelud),
ke Jawa Tengah daerah (Jepara) dan Jawa Barat. Meski kemudian beliau menetap di
sekitar Gunung Muria di daerah Jepara, namun peran Kiai tunggul Wulung dicatat
cukup besar bagi perkembangan komunitas Kristen di Banyumas dan Bagelen. Tidak
berlebihan disebut demikian karena Kiai Tunggul Wulung adalah salah satu pihak
(selain zending) yang dimintai pertolongan oleh Ny. Phillips ketika pengikutnya di
Purworejo sudah semakin banyak. Salah satu di antara murid yang diutus oleh Kiai
Tunggul Wulung adalah Kiai Sadrach, yang akan dibahas dalam bagian berikutnya.
Pada jalur Selatan, setidaknya ada dua pihak yang penting dibicarakan dalam
terbentuknya GKJ.Pertama adalah peran awam yang menyebarkan agama Kristen.
Selanjutnya setelah banyak anggotanya diserahkan kepada zending dan yang kedua
adalah peran dari Jemaat Sadrach dalam usahanya untuk membentuk Golongane
Wong Kristen kang Mardika. Peran dari awam, terutama di Jawa Tengah Selatan
cukup besar pengaruhnya. Setidaknya ada nama Ny. Van Oostrom Philips dan Ny.
41
Apa yang dimakasud awam di sini adalah tidak memiliki latar belakang pendidikan teologi, atau bukan atas utusan lembaga apapun.
42
32
Christina Petronela yang masing-masing berada di Banyumas dan Purworejo.43
Kedua orang di kedua kota ini dianggap sebagai jalur utama, setidaknya demikian
menurut Soekotjo. Meskipun tidak banyak yang mengulas dengan lengkap tentang
dua tokoh awam di atas44, namun keduanya cukup memiliki banyak peran. Keduanya
hanya diceritakan secara singkat bahwa mereka adalah tokoh yang menyebarkan
agama Kristen dengan menjelaskan Kekristenan sejauh mereka pahami kepada para
pembantu (orang Jawa) di rumahnya. Jika Ny. Oostrom menyebarkan agama Kristen
kepada orang-orang yang membantunya berdagang batik; Ny Christina Petronella
menyebarkan agama Kristen di Purworejo pada para pembantunya. Awal dari
peristiwa inilah kemudian komunitas Kristen yang beranggotakan orang-orang Jawa
mulai semakin banyak anggotanya lalu diserahkan pengelolaannya pada zending.
Dalam komunitas Kristen yang disebarkan oleh kedua wanita tadi, terutama yang di
Purworejo tidak hanya mendapat perhatian dari satu pihak saja. Setidaknya ada
gereja Protestan Purworejo (Gereformeerd) yang meneruskan kiprah NGZV, dan juga
jaringan dari Tunggul Wulung, terutama dari gereja-gereja di Jawa Timur yang berarti
berasal dari zending NZG.
Tokoh lain yang tidak bisa diabaikan keberadaanya selain kedua tokoh wanita
tersebut ialah Sadrach. Sadrach merupakan utusan dari Kiai Tunggul Wulung untuk
membantu Ny Chrsitina Petronella. Ia juga menjadi tokoh yang cukup penting karena
43
ibid, hal 116.
44
33
keberanianya bersitegang dengan zending. Meski Sadrach sebetulnya tidak lama
berada di kediaman Ny. Christina Petronella. Guillot mencatat setahun setelah
kedatanganya (1870), Sadrach pindah ke Karangjoso.45 Namun bukan berarti
pengaruhnya di Bagelen (Purworejo) hilang, karena setelah kematian Ny Christina, ia
bertanggung Jawab penuh pada orang-orang yang tadinya beribadah di rumah Ny
Christina.
Sadrach adalah seorang tokoh penting di GKJ berkenaan dengan cara beragamanya
yang unik.Guillot mencatat bahwa Sadrach mempertahankan posisinya sebagai orang
Jawa, namun lebih jauh ia berusaha mengristenkan upacara-upacara adat.46 Alasan ini
pulalah yang menjadikanSadrach model bagi GKJ ketika berbicara terkait relasi antara
“Kristen” dan “Kristen-Jawa”.
Selain itu, ada pihak yang tidak bisa diabaikan baik itu dari jalur Utara maupun
jalur Selatan yaitu pihak zending.Pada jalur Utara ada Salatiga Zending, yaitu lembaga
yang didirikan dengan latar belakang dari berbagai macam gereja (interdenominasi
gereja) oleh karena itu ajaran yang disampaikan bukanlah merupakan ajaran gereja
tertentu, namun pietisme sebagai semangat bersama yang menjadi gelombang pada
saat itu. Selain Salatiga Zending, lembaga yang juga berkarya di Jawa Tengah Utara
adalah Het Genootschaap voor In-en Uitwendige Zending yang didirikan di Jakarta.
Kelompok ini juga menganut pietisme dan tidak berasal dari gereja tertentu.
Zending yang berperan di Jawa Tengah Selatan dan terutama berhubungan dengan
wilayah Bagelen (Purworejo) ialah NGZV. Saat itu anggota yang beribadah di rumah
45ibid hal 28. 46
34 Ny Christina Petronella semakin banyak, sedangkan sebagai seorang yang tidak
berjabatan gerejawi (bukan pendeta), Ny Christina Petronella tidak diperkenankan
mengadakan sakramen perjamuan kudus dan baptisan. Oleh karena itu, beliau
meminta pertolongan seorang pendeta yang merupakan utusan zending NGZV.
Pendeta dari NGZV (Pdt Bieger yang diutus ke Bagelen pada tahun 1878) ini pulalah
yang bersitegang dengan Sadrach karena Pdt Bieger merasa lebih berkompeten dan
memaksa semua orang Jawa tunduk padanya.
2. Kristen :Calvinis Pietis
Sebagaimana telah disinggung di atas, GKJ sebagai gereja Kristen menerima
Kekristenannya dari tradisi Belanda. Hal tersebut memberikan konsekuensi tertentu
terkait pemahaman ajaran-ajaran yang diterima oleh GKJ. Salah satu ajaran tersebut
adalah Calvinis. Pembahasan ini tidak akan membahas sejarah Cavinisme secara
umum, namun hanya yang berkaitan dengan GKJ yaitu menyebarnya Calvinisme di
Indonesia.Pembahasan Calvinis-Pietis ini perlu dilakukan di sini karena meski ini
sebuah pikiran teologis, sementara pekerjaan tesis ini bukanlah pekerjaan teologis,
namun pandangan ini menentukan sikap, terutama sikap lembaga GKJ khususnya
terhadap kejawaan.
Datangnya pengaruh Calvinisme di Indonesia bermula dari orang-orang Belanda
yang berdagang di Indonesia dan kemudian membentuk Verenidge Oostindische
Compagnie (VOC) pada tahun 1602.47 VOC bisa menjadi penyebar pengaruh
Calvinisme karena manakala organisasi ini diberikan wewenang sebagaimana
47
35 wewenang negara, mereka juga melakukan sesuai dengan pengakuan iman Belanda
pasal 36 : melindungi gereja dan memajukan agama yang benar, yaitu agama
Gereformeerd.48 Maka VOC bukan semata-mata usaha perdagangan, namun di dalam
usahanya mereka juga mempraktekkan bahkan kemudian menyebarkan Calvinisme
melalui Gereja Gereformeerd. Bahkan dalam prakteknya orang-orang yang sudah
memeluk Agama Kristen dipaksa menjadi anggota Gereformeerd. Tidak hanya sampai
di situ, para misionaris Katolik diusir dengan anggapan bahwa mereka adalah
mata-mata Spanyol dan Portugis.49 Bila melihat keterangan de Jonge tersebut, maka bisa
dilihat dalam pelaksanaan pasal 36 di atas berwarna represif. Hal tersebut diperparah
dengan anggapan gereja Gereformeerd di Indonesia merupakan tiruan dari Gereja di
Belanda. Jika di Belanda masih bisa melawan negara dengan dukungan rakyat; di
Indonesia hal tersebut tidak bisa dilakukan karena pengawasan negara pada agama
sungguh begitu ketat. Ikatan itu semakin diperjelas dengan ikatan pemberi dana dari
pemerintah Belanda melalui gereja di Belanda kepada gereja di Indonesia. Dengan
segala yang terjadi maka sudah jelas segala seluk beluk yang ada di Indonesia dari
pakaian ibadah hingga sistem pemerintahan gereja seluruhnya sama dengan yang
dipakai di Belanda.50
Mengingat hal di atas, maka tidak bisa dipisahkan antara gereja yang ada di
Indonesia dengan dinamika gereja yang ada di Belanda. Sebagaimana Gereja
Salah satu yang bisa ditarik benang merahnya ialah Katekismus Heidelberg, yaitu buku ajar yang
36 Hervomdsetidaknya sepanjang abad-19 di Belanda diatur oleh negara, maka gereja di
Indonesia juga gereja yang sepenuhnya diatur oleh negara (Belanda).51Ada dua
konsekuensi dari pengaturan negara terhadap agama. Pertama, penyebaran agama
Kristen yang ada di Indonesia tidak dilakukan oleh lembaga namun oleh
pribadi-pribadi.52 Sedangkan yang kedua, apa yang dimaksud Calvinisme tidak bisa serta
merta dianggap “murni” pikiran-pikiran Calvin yang diajarkan, namun merupakan
Calvinisme sejauh dipahami dan dipraktekan oleh pemerintah Belanda di Indonesia.
Selain itu gereja yang di Indonesia juga bukan merupakan gereja yang merdeka,
melainkan senantiasa diawasi oleh Negara dan juga di dalamanya terdapat
penggolongan-penggolongan. Hal itu berlangsung sejalan dengan dibentuknya GPI
(Gereja Protestan Indonesia) pada tahun 1844. GPI bukanlah sebuah nama organisasi
gereja melainkan sebuah perkumpulan dengan pengakuan yang sama53. Tujuan
utamanya bukanlah mencari anggota baru, namun lebih kepada membina yang telah
menjadi anggota, meskipun tidak juga menolak jika ada “pribumi” yang hendak
menjadi anggota. Itu semua kebijakan tentang negara sebagai pengontrol agama tidak
bisa diterima di negeri Belanda.
Setelah gereja dan negara sudah terpisah urusan administrasinya
persekutuan-persekutuan yang ada di gereja Belanda mulai memiliki keinginan untuk
menyebarkan agama ke Indonesia. Keinginan tersebut didorong dengan semakin
51
Christian de Jonge, op.cit hal 34
52
Dalam konteks GKJ hal ini bisa dilihat dengan munculnya nama Ny Van Oostrom-Phillips dan Ny. Christina Petronella Phillips lih S.H Soekotjo,op.cit hal 147- 159
53
37
kuatnya arus pietisme.54 Gerakan ini muncul sebagai kritik atas pertikaian sesama
Kristen yang berdebat tentang ajaran. Orang-orang atau yang kemudian berbentuk
komunitas maupun lembaga yang pergi ke daerah lain, hendak menyebarkan agama
Kristen (biasanya dari Eropa) memang disebut kritis pada kebiasaaan-kebiasaanya
sendiri dan menerapkan kesalehan total, namun hal itu tidak berarti mereka bisa
menghargai budaya lokal di mana mereka menyebarkan agama. Mereka menjadikan
dirinya sebagai contoh, yang artinya juga menjadikan budayanya (Eropa) seolah
menjadi lebih tinggi.55 Alih-alih mereka kritis pada budayanya sendiri, para penyebar
agama ini masih berakar pada paternalisme dan memantapkan kolonialisme.
Sebagaimana disebutkan di atas, yang pergi untuk menyebarkan agama Kristen
dengan semangat pietisme bukan hanya perseorangan namun juga lembaga. Soekotjo
mencatat setidaknya ada 7 badan zending yang terlibat penyebaran agama Kristen di
Jawa56. Pertama adalah NZG (Nederlands Zendelinggenootschap), meskipun sempat
juga menyebarkan Injil di Jawa Tengah (Semarang), namun karena ada kendala,
lembaga ini berpindah ke Jawa Timur. Kedua adalah Java Comitee juga menyebarkan
agama di Jawa Timur, terlebih di Madura. NZG dan Java Comitee menjadi bagian dari
terbentuknya Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Ketiga ialah DZV (Doopsggezinde
Zendingsvereneging) yaitu lembaga yang beraliran Mennonite yang menyebarkan
agama Kristen di Jawa Tengah bagian Utara. Lembaga ini menjadi bagian atas
terbentuknya gereja Gereja Kristen Muria di Indonesia (GKMI) dan Gereja Injili di
54
Pietisme adalah sebuah gerakan yang menekankan kesalehan pribadi dan penghayatan secara perseorangan pada keselamatan. Lih ibid hal 38.
55 Ibid hal 39. 56