PEMAKNAAN NUSYUZ DALAM PANDANGAN DOSEN UIN RADEN INTAN LAMPUNG SKRIPSI (Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat guna memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H) dalam Ilmu Syari’ah)

95 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

(Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat guna

memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H) dalam Ilmu Syari’ah)

Oleh:

Wiwit Trijayanti

Npm. 1421010099

Jurusan : Al-ahkwal al-syakhshiyah

Pembimbing Akademik I : Drs. Maimun, S.H., M.A. Pembimbing Akademik II : Yufi Wiyos Rini M, S.Ag.,M.Si.

FAKULTAS SYARIAH

(2)

Wiwit Trijayanti

Pernikahan merupakan tempat menumbuhkan ketentraman, kebahagiaan dan cinta kasih bukan hanya untuk memadamkan kobaran syahwat yang ada atau hanya sebagai sebab untuk meneruskan keturunan, Dan tujuan perkawinan menurut agama Islam ialah untuk memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga yang harmonis, sejahtera dan bahagia, Namun dalam Prakteknya tidak selalu sejalan dengan harapan ada saja masalah yang kerap kali muncul dalam sebuah hubungan yang salah satunya adalah nusyuz. Nusyuz yang berarti kedurhakaan atau melalaikan hak dan kewajibannya sebagai suami isteri, merupakan sesuatu yang harus disikapi dalam berumah tangga. Nusyuz di dalam Al-Qur’an tercantum dalam surah An-Nisa’[4]: 34 & 128, telah dijelaskan bahwasannya nusyuz dapat dilakukan oleh suami maupun isteri.

Rumusan masalah dari penelitian adalah Bagaimana Pandangan Dosen UIN Raden Intan Lampung terhadap pemaknaan konsep Nusyuz dalam era sekarang (kontemporer). Sedangkan tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang makna nusyuz yang dilakukan oleh isteri terhadap suami maupun suami terhadap isterinya.

Adapun metode yang digunakan adalah field research, yaitu penelitian yang langsung dilakukan di lapangan atau pada responden. Metode pengumpulan data diperoleh dari data primer yaitu interview dan dokumentasi serta data sekunder berupa buku-buku penunjang untuk peneletian ini khususnya mengenai materi nusyuz. Dalam menganalisa data, peneliti menggunakan metode deskriptif analitis. selanjutnya dianalisis dengan melakukan pemeriksaan secara konsepsional atau suatu pernyataan, sehingga dapat diperoleh kejelasan arti yang terkandung dalam pernyataan tersebut.

(3)
(4)
(5)

Artinya: “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).2 Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz,3

hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.

1

Departemen Agama RI, Cordova, Al-Qur’an dan Terjemah, Surat An-nisa’: 34, h. 84.

2

Allah telah mewajibkan kepada suami untuk menggauli isterinya dengan baik.

3

(6)

vi

1. Ibunda Sumarni dan Ayahandaku Slamet Riyadi, yang tiada henti-hentinya selalu memberi semangat, mendukung, membimbing, dan mendo’akan segala aktifitas, agar dapat mencapai puncak prestasi yang

terbaik.

2. Kepada kakandaku Mulyono Sahirin dan Ahmad Rohmat, serta adik-adikku, Reni Nur Cahyani, dan Roiyan Ramadhani, yang tersayang, yang selalu memberi semangat dikala diri ini berkeluh kesah, serta tidak pernah lelahnya memberikan dukungan penuh dan memotivasi hingga teraihnya gelar sarjana ini.

(7)

Agustus 1995, merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Slamet Riyadi dan Ibu Sumarni.

2. Pendidikan dimulai dari Sekolah Dasar Negeri 1 Sidomulyo Kecamatan Pagar Dewa dan selesai pada tahun 2008

3. Kemudian dilanjutkan pada Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Falah Sidomulyo Lampung Barat, selesai pada tahun 2010

4. Kemudian penulis melanjutkan kejenjang selanjutnya di SMA N 1 Tanjung Bintang Lampung Selatan, selesai pada tahun 2013

(8)

viii

yang selalu memberikan nikmat kepada hamba-hambanya, nikmat iman, Islam serta nikmat kesehatan yang tiada terukur jumlahnya. Shalawat beriring salam yang tiada terkira selalu tercurahkan kepada habibina, wasyafi’ina waqurrata

a’yunina wamaulana Muhammad Saw, yang telah memberikan dan menuntun kita

kejalan yang lurus, jalan yang penuh dengan keridhoan Allah Swt, sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “PEMAKNAAN NUSYUZ DALAM

PANDANGAN DOSEN UIN RADEN INTAN LAMPUNG”.

Karya ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang sangat berjasa. Oleh karena itu penulis menghaturkan terima kasih atas bantuannya dari berbagai pihak yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. H. Moh. Mukri, M. Ag., selaku Rektor UIN Raden Intan Lampung. 2. Dr. Alamsyah, M. Ag., selaku Dekan Fakultas Syari’ah serta para Wakil

Dekan di lingkungan Fakultas Syari’ah UIN Raden Intan Lampung.

3. Marwin, S.H., M.H., selaku Ketua Jurusan Ahwal Al-Syakhshiyah Fakultas Syari’ah UIN Raden Intan Lampung.

4. Drs. Maimun, S.H., M.A., selaku Pembimbing I dan Yufi Wiyos Rini M, S.Ag.,M.Si. Pembimbing II, yang telah banyak berjasa dalam memberi arahan dan penyusunan karya ilmiah ini.

(9)

dukungan, dan semangatnya. Semoga Allah senantiasa membalasnya dan memberikan keberkahan kepada kita semua.

8. Kawan-kawanku mahasiswa/i Fakultas Syariah Angkatan 2014, khususnya keluarga besar Jurusan Al-Ahwal Al-Syakhshiyah yang telah bersama-sama berjuang untuk mewujudkan cita-cita.

Mudah-mudahan seluruh jasa baik moril maupun materil berbagai pihak diberkahi Allah Swt.

Bandar Lampung, Januari 2018 Penulis

(10)

x

HALAMAN JUDUL ... i

ABSTRAK ... ii

PERSETUJUAN ... iii

PENGESAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

RIWAYAT HIDUP ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

BAB I : PENDAHULUAN A. Penegasan Judul ... 1

B. Alasan Memilih Judul ... 3

C. Latar Belakang Masalah ... 4

D. Rumusan Masalah ... 7

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 7

F. Metode Penelitian ... 8

BAB II : LANDASAN TEORI A.Pengertian Nusyuz ... 14

B.Dasar Hukum Nusyuz Suami dan Isteri ... 18

C.Faktor yang Melatar Belakangi Nusyuz ... 26

D.Hak dan Kewajiban Suami Isteri ... 27

(11)

C.Pandangan Dosen UIN Raden Intan Lampung terhadap

Makna Nusyuz ... 55 BAB IV : ANALISIS DATA

A.Makna Nusyuz dalam Pandangan Dosen UIN Raden Intan

Lampung ... 68

BAB V : PENUTUP

A.Kesimpulan ... 76 B.Saran ... 77

(12)
(13)

BAB I PENDAHULUAN A. Penegasan Judul

Sebelum menjelaskan secara keseluruhan materi dan untuk menghindari kesalahpahaman tentang judul skripsi ini, maka akan diartikan secara terminologis terlebih dahulu beberapa terma yang terdapat dalam judul skripsi ini yaitu “Pemaknaan Nusyuz dalam Pandangan Dosen UIN Raden Intan Lampung.

Adapun terma-terma tersebut adalah sebagai berikut: 1.Pemaknaan Nusyuz

Secara bahasa pemaknaan nusyuz terdiri dari dua kata yaitu makna dan nusyuz.

Makna adalah memperhatikan setiap kata yang terdapat dalam tulisan atau pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan.1 Makna

yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah berupa memperhatikan atau pengertian yang membahas perihal nusyuz yang dilakukan oleh suami terhadap isteri atau isteri terhadap suami. Sedangkan kata

Nusyuz berasal dari bahasa Arab

عافترا

yang berarti meninggi atau

terangkat.2 Nusyuz juga memiliki definisi kedurhakaan suami atau isteri

terhadap suami atau isteri dalam hal menjalankan apa-apa yang diwajibkan Allah atas keduanya.3

1

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama), h. 864.

2

Selamet Abiding dan Aminudin, Fikih Munakahat Cet ke-1 (Bandung: Pustaka setia, 1999), h. 185.

3

(14)

Jadi, yang dimaksud dengan Makna Nusyuz adalah suatu perilaku tentang adanya sesuatu perbuatan buruk (kedurhakaan) yang dilakukan oleh suami atau isteri (nusyuz).

2. Pandangan Dosen UIN Raden Intan Lampung

Secara bahasa, terdiri dari kata “pandangan”, “dosen”, dan UIN Raden Intan Lampung”

Pandangan adalah hasil perbuatan memandang (memperhatikan, melihat, dsb).4 Dosen adalah tenaga pengajar pada perguruan tinggi.5

Universitas adalah perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan ilmiah dan/atau professional dl sejumlah disiplin ilmu tertentu.6

Jadi, yang dimaksudkan dengan Pandangan Dosen UIN Raden Intan Lampung adalah suatu pendapat para akademisi atau tenaga pengajar yang mengajar di Perguruan Tinggi Islam Negeri Raden Intan Lampung yang terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan ilmiah dan/atau professional dalam sejumlah disiplin ilmu tertentu yaitu dengan cara memperhatikan atau melihat bagaimana memaknai kata nusyuz pada era sekarang (kontemporer).

Berdasarkan penjelasan terma-terma secara terminologis tersebut di atas maka dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan judul skripsi ini adalah peneliti ingin mengetahui sekaligus menganalisis pendapat atau

4

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2011), h. 1011.

5

Ibid. h. 342.

6

(15)

pandangan para Dosen tetap UIN Raden Intan Lampung dalam memaknai lafadz nusyuz.

B. Alasan Memilih Judul

Adapun alasan untuk memilih judul yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. Alasan Objektif

a. Alasan objektif dari penelitian ini adalah karena pendapat tentang nuyuz banyak sekali dalam teori dan peneliti tertarik ingin mengetahui bagaimana pendapat dosen UIN Raden Intan Lampung tentang nusyuz. b. Judul tersebut merupakan salah satu fenomena yang terjadi di masyarakat

yang harus dihindari demi terjalinnya keluarga yang sakinah mawadah warahmah.

2. Alasan Subjektif

a. Tersedianya literatur-literatur yang memadai untuk dapat membahas dan menulis skripsi ini dengan baik dan judul tersebut sesuai dengan disiplin ilmu yang penulis tekuni sebagai mahasiswi Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhsiyyah (AS) yang mencakup hukum keluarga di Fakultas Syari‟ah

UIN Raden Intan Lampung.

b. Judul tersebut belum pernah dibahas sebelumnya, jadi dipandang baik untuk dibahas dalam skripsi ini.

(16)

C.Latar Belakang Masalah

Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dalam Pasal 1 menyebutkan: ”Perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.7

karena tujuan perkawinan yang begitu mulia yaitu untuk membina keluarga bahagia, memperoleh ketenangan hidup, kekal, abadi berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa, maka perlu diatur hak dan kewajiban antara masing-masing suami dan isteri tersebut. Apabila hak dan kewajiban mereka terpenuhi, maka dambaan berumah tangga dengan didasari rasa cinta dan kasih sayang akan dapat terwujud. Kondisi seperti ini tersirat dalam firman-Nya dalam QS. Ar-Rum: 21

Artinya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang, ...” (QS. Ar-Rum: 21).8

Ayat ini menunjukkan bahwa fungsi pernikahan merupakan tempat menumbuhkan ketentraman, kebahagiaan, dan cinta kasih bukan hanya untuk memadamkan kobaran syahwat yang ada padanya atau hanya sebagai sebab untuk meneruskan tali keturunan. Umumnya setiap orang yang akan berkeluarga pasti

7

Undang-Undang Pokok Perkawinan (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h. 2.

8

(17)

mengharapkan akan terciptanya kebahagiaan dan keharmonisan dalam rumah tangganya.9 Dan tujuan perkawinan menurut agama Islam ialah untuk memenuhi

petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga yang harmonis, sejahtera, dan bahagia.10 Namun dalam prakteknya tidak selalu sejalan dengan harapan semula.

Ketegangan dan konflik kerap kali muncul, perselisihan pendapat, perdebatan, pertengkaran, saling mengejek atau bahkan memaki pun sering terjadi, semua itu sudah semestinya dapat diselesaikan secara arif dengan jalan bermusyawarah: saling berdialog secara terbuka. Dan pada kenyataannya banyak persoalan dalam rumah tangga meskipun terlihat kecil dan sepele namun dapat mengakibatkan terganggunya keharmonisan hubungan suami isteri.

Sungguh Islam telah menetapkan dasar-dasar dan menegakkan sandaran untuk membangun keluarga dan melindunginya dengan sesuatu yang besar. Termasuk bagian dari permasalahan manusia adalah munculnya perselisihan di antara mereka. Timbullah pertentangan ketika keinginan saling berlawanan, atau ketidaksenangan karakter dengan hal yang ada di keluarga berupa perselisihan dan kedekatan, terkadang terjadi kebosanan sehingga menjadikan udara di dalam keluarga berembus dengan awan tebal. Oleh karena itu, Islam mengakui adanya kemungkinan terjadinya perselisihan suami dan isteri dan pertentangan dalam lingkungan keluarga, memberikan penyelesaian, memberitahukan berbagai penyebabnya yang berjalan bersama peristiwa yang terjadi. Islam tidak

9

Dedi Junaedi, Keluarga Sakinah Pembinaan dan Pelestarian (Jakarta: Akademika Pressindo, 2007), h. 31.

10

(18)

membiarkan dan mengabaikan atas permasalahan yang timbul di dalam keluarga karena mengabaikan tidak dapat mengatasi berbagai kesulitan hidup sedikitpun.

Jadi persoalan nusyuz seharusnya tidak selalu dilihat sebagai persoalan yang dilakukan oleh salah satu pihak terhadap yang lain tetapi juga terkadang harus dilihat sebagai bentuk lain dari protes yang dilakukan salah satu pihak terhadap kesewenang-wenangan pasanganya.

Selama ini memang persoalan nusyuz terlalu dipandang sebelah mata. Artinya, nusyuz selalu saja dikaitkan dengan isteri, dengan anggapan bahwa nusyuz merupakan sikap ketidakpatuhan atau kedurhakaan isteri terhadap suami, sehingga isteri dalam hal ini selalu saja menjadi pihak yang dipersalahkan. Begitu pula dalam kitab-kitab fiqh, persoalan nusyuz seakan-akan merupakan status hukum yang khusus ada pada perempuan (isteri).

(19)

D.Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pandangan dosen UIN Raden Intan Lampung terhadap pemaknaan konsep Nusyuz dalam era kontemporer ?

E.Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pandangan dosen UIN Raden Intan Lampung tentang makna nusyuz dalam era kontemporer.

2. Kegunaan

a. Secara teoritis, kegunaan penelitian ini diharapkan dapat memperluas cakrawala berpikir bagi penulis dan pembaca, serta dapat menjadi salah satu bahan refrensi.

b. Secara praktis, penelitian ini sebagai tambahan wawasan berfikir bagi penulis tentang Makna Nusyuz yang dilakukan oleh isteri terhadap suami maupun suami terhadap isterinya.

(20)

F. Metode Penelitian

1. Jenis dan Sifat Penelitian a. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah jenis penilitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang langsung dilakukan di lapangan atau pada responden.11 Dalam hal ini melakukan penelitiannya di UIN Raden Intan

Lampung. b. Sifat Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif analitik. Deskriptif adalah metode yang bertumpu pada pencarian fakta–fakta dengan interpretasi yang tepat, sehingga gambaran dan pembahasan menjadi jelas dan gamblang. Sedangkan analitik adalah cara untuk menguraikan dan menganalisa data dengan cermat, tepat dan terarah.12

Dalam hal ini penulis ingin menggambarkan apa adanya mengenai pemikiran Dosen UIN Raden Intan Lampung tentang pemaknaan nusyuz dalam pandangan dosen UIN Raden Intan Lampung.

2. Sumber Data a. Data Primer

Data Primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer secara khusus dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab

11

Susiadi As, Metodelogi Penelitian, Fakultas Syariah IAIN Raden Intan Lampung, 2014, h. 9.

12

(21)

pertanyaan penelitian.13 Dalam hal ini data diperoleh melalui interview

kepada narasumber yang bersangkutan dalam penelitian ini, yaitu beberapa Dosen Tetap UIN Raden Intan Lampung yang dijadikan informan.

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain).14 Data sekunder ini diperoleh dari

dokumen-dokumen, tulisan, dan buku-buku yang berkaitan dengan penelitian ini. 3. Populasi dan Sampel Penelitian

a. Populasi

Populasi atau universe adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam penelitian.15 yang menjadi

populasi dalam penelitian ini adalah Dosen tetap UIN Raden Intan Lampung, yang berjumlah 280 (dua ratus delapan puluh) dosen tetap. Untuk meneliti seluruh populasi tentu akan banyak mengalami kesulitan dan tidak efektif jika dilihat dari segi waktu yang ada, maka dalam penelitian ini yang dijadikan informan adalah Dosen tetap UIN Raden

13

Nur Indriantoro, Bambang Supomo, Metodologi Penelitian Bisnis, Edisi Pertama (Yogyakarta: Bpfe-Yogyakarta, 1999). h. 146.

14

Ibid. h. 147.

15

(22)

Intan Lampung yang membidangi Mata Kuliah Fiqh, Fiqh Munakahat dan Hadis Ahkam Keluarga.

b. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.16 Atau

sampling adalah metode atau teknik untuk memperoleh sampel yang dapat mewakili populasi, dalam hal menentukan anggota sampel dengan jenis purposive sampling yaitu sampel yang dipilih dengan cermat hingga relevan dengan desain penelitian. Peneliti akan berusaha agar dalam sampel terdapat wakil-wakil dari segala lapisan populasi. Dengan demikian diusahakan agar sampel itu memiliki ciri-ciri yang esensial dari populasi sehingga dapat dianggap cukup representatif.17 Jadi yang

dimaksud dengan purposive sampling adalah sampel yang ditarik sesuai dengan kepentingan dan dianggap mampu mewakili populasi. Adapun yang dijadikan sampel dalam penelitian adalah dosen tetap yang membidangi mata kuliah Fiqh, Fiqh Munakat dan Hadis Ahkam Keluarga di UIN Raden Intan Lampung.

Jumlah sampel yang akan diambil dalam penelitian ini terdiri dari: a. Dosen Tetap Fakultas Syariah 4 Orang

b. Dosen Tetap Fakultas Dakwah 0 Orang c. Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah 1 Orang d. Dosen tetap Fakultas Ushuludin 2 Orang

16

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 124.

17

(23)

e. Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Bisnis Islam 1 Orang

Jadi total seluruh sampel berjumlah 8 orang, peneliti dalam hal menentukan sampel menggunakan tehnik purposive sampling sehingga yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah orang yang dianggap tepat atau yang memang ahli dalam bidangnya, yang dapat memberikan pendapatnya tentang Pemaknaan Nusyuz dalam Pandangan Dosen UIN Raden Intan Lampung.

4. Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka dalam pengumpulan data ini dilakukan dengan cara berikut:

a. Metode Interview

Interview menurut Kartini Kartono adalah Suatu percakapan yang diarahkan kepada suatu masalah tertentu, merupakan proses tanya jawab lisan di mana dua orang atau lebih berhadapan langsung secara fisik, berbincang dan tanya jawab.18

Jadi teknik interview dapat dipandang sebagai alat pengumpul data dengan jalan jawaban secara berhadapan langsung dengan sampel yang telah ditentukan sebagai responden. Interview yang digunakan dalam penelitian ini adalah interview bebas terpimpin yaitu kombinasi antara interview terpimpin dan tidak terpimpin. Dalam interview bebas terpimpin ini pewawancara telah membawa pedoman pertanyaan yang berupa garis besarnya saja.

18

(24)

Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang Pemaknaan Nusyuz dalam Pandangan Dosen UIN Raden Intan Lampung.

b. Metode Dokumentasi

Menurut Suharsimi Arikunto Metode dokumentasi adalah Mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, cetakan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prestasi dan sebagainya.19

Teknik ini digunakan untuk mencari data dengan menggunakan pencatatan terhadap bahan tertulis, dalam hal ini bersumber dari wawancara dengan narasumber yang berhubungan dengan penelitian. 5. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data

a. Pengolahan Data

Pengolahan data adalah kegiatan merapikan data hasil pengumpulan data di lapangan sehingga siap pakai untuk dianalisis.20 Pengolahan data dalam penelitian ini melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:

1). Editing yaitu pengecekan terhadap data atau bahan-bahan yang telah diperoleh untuk mengetahui catatan itu cukup baik dan dapat segera dipersiapkan untuk keperluan selanjutnya.

2). Organising yaitu pengaturan dan penyusunan data sedemikian rupa sehingga menghasilkan dasar pemikiran yang teratur untuk menyusun skripsi.

19

Suharsimi Arikunto, Op.Cit. h. 274.

20

(25)

3). Penemuan hasil riset, menganalisa data hasil dari organizing dengan menggunakan kaidah-kaidah, teori-teori dan dalil sehingga diperoleh kesimpulan tertentu dan jawaban dari pertanyaan dalam rumusan masalah dapat terjawab dengan baik.21

b. Analisis data

Analisis data merupakan suatu proses penyelidikan dan pengaturan secara sistematis transkip, wawancara, dan bahan-bahan lainnya sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.22

Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, maka dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Metode ini digunakan untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan pada saat penulisan dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu. Untuk selanjutnya dianalisis dengan melakukan pemeriksaan secara konsepsional atau suatu pernyataan sehingga dapat diperoleh kejelasan arti yang terkandung dalam pernyataan tersebut.

Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan serta menganalisis terhadap Pemaknaan Nusyuz dalam Pandangan Dosen UIN Raden Intan Lampung.

21

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 145.

22

(26)
(27)

BAB II

LANDASAN TEORI A.Pengertian Nusyuz

Secara bahasa nusyuz adalah masdar dari kata,

(

سشن

,

سشني

)

yang

mempunyai arti tanah yang terangkat tinggi ke atas. Ali As-Shabuni dalam tafsirnya mengatakan bahwa nusyuz berarti tempat yang tinggi seperti perkataan, sebuah bukit yang ”nasyiz” dalam arti lain yang tinggi.23 Nusyuz juga berasal dari

bahasa Arab

عافترا

yang berarti meninggi atau terangkat.24

Dalam kamus fiqh,

nusyuz artinya menolak atau durhaka.25 Kemudian, digunakan untuk isteri yang

angkuh dan tinggi hati, yang bisa memperlihatkan sikap tak menyenangkan bahkan meremehkan suaminya, sehingga dapat dikategorikan sebagai pembangkangan dan kedurhakaan.26

Secara istilah nusyuz dikenal sebagai kebencian salah satu pihak, baik suami atau isteri, terhadap pasangannya.27 Nusyuz mempunyai beberapa

pengertian menurut ulama klasik diantaranya: Menurut ulama Hanafi: Isteri dikatakana nusyuz apabila seorang isteri yang berada di luar rumah tanpa seizin suaminya dan menutup diri dari sang suami padahal beliau tidak punya hak yang demikian. Sedangkan suami nusyuz yaitu rasa benci terhadap isterinya dengan kasar.

23

Ali Ash-Shabuni, Rawai’ul Bayan; Tafsir Ayat Al-Ahkam min Al-Qur’an, Juz I, h. 366.

24

Selamet Abiding dan Aminudin, Fikih Munakahat Cet ke-1 (Bandung: Pustaka setia, 1999), h. 185.

25

Ahsin W. Alhafidz, Kamus Fiqh (Jakarta: Amzah, 2013), h. 176

26

Muhammad Bagir Al-Habsyi, Fiqih Praktis (Bandung: Mizam Media Utama, 2002), h. 174.

27

(28)

Menurut ulama Malikiah Nusyuz adalah keluarnya seorang dari garis-garis taat yang diwajibkan, seperti isteri yang menolak suaminya untuk bersenang-senang dengannya atau isteri yang keluar dengan tanpa izin suaminya kesuatu tempat yang ia tahu sesungguhnya suaminya tidak akan mengizinkannya ketempat itu atau isteri yang meninggalkan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah swt seperti mandi janabat atau salat dan juga isteri yang mengunci pintu untuk suaminya.

Selanjutnya, menurut mazhab Syafi‟i nusyuz adalah keluarnya isteri dari

mentaati suaminya. Dan menurut ulama Hambali nusyuz adalah maksiatnya isteri terhadap apa yang telah diwajibkan Allah kepadanya dan taat pada suaminya. Apabila seorang isteri yang nusyuz kepada suaminya, sedangkan ia masih dalam keadaan mengandung, maka suami tidak berhak memberikan nafkah pada isteri, tetapi suami tetap wajib memberi nafkah pada anaknya.28

Adapun nusyuz menurut tokoh kontemporer diantaranya: Menurut Abu Mansyur al-Lughawi Nusyuz adalah rasa bencinya masing-masing suami dan isteri terhadap pasangannya.29 Sedangkan Wahbah az-Zuhaili mengatakan bahwa

nusyuz merupakan sikap ketidaktaatan pada pihak yang lain.30 Selanjutnya Abu

Ishaq, ia mengatakan bahwa nusyuz ialah hubungan yang tidak harmonis yang di sebabkan suami dan isteri saling membenci.

28

Alamsyah, Makalah yang dipaparkan pada Acara Aicis, Rekontruksi Nusyuz dalam Hukum Islam Modern (Bandar Lampung, 2016), h. 5.

29

Abu Yasid, Fiqh Realitas, Respon Ma’had Aly Terhadap Wacana Hukum Islam Kontemporer (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 333.

30

(29)

Nusyuz menurut Husein Bahreisy, ia mengatakan nusyuz yaitu sikap membangkang isteri terhadap suaminya, seperti keluar rumah tanpa izin, mengusir suami, atau tidak mau pindah ke rumah yang disediakan oleh suami untuknya.31

Dan Menurut Musdah Mulia nusyuz diartikan sebagai sikap membangkan atau tidak tunduk terhadap tuhan. Diantara perintah tuhan adalah keharusan untuk tidak menyakiti hati sesama manusia, apalagi menyakiti hati isteri pasangan yang pada prinsipnya merupakan belahan jiwa. Karena itu menyakiti hati isteri atau suami, baik melalui ucapan maupun perbuatan adalah nusyuz.32

Sedangkan dalam buku Adhwa ala Nizam Al-Usrah fi Al-Islam telah dijelaskan bahwa Nusyuz adalah kedurhakaan isteri atau kekasaran suami. Islam telah menetapkan bagi suami untuk mengobati isterinya dengan apa yang tertulis atau sesuai tuntunan Al-Qur‟an. Perempuan juga diperintahkan untuk mengobati suaminya berupa ancaman kepadanya dengan kehalusan budi.33

Menurut Slamet Abidin dan H. Aminudin, nusyuz berarti durhaka. Maksudnya seorang isteri melakukan perbuatan yang menentang suami tanpa alasan yang dapat diterima oleh syarak. Ia tidak menaati suaminya atau menolak diajak ke tempat tidurnya. Dalam kitab fath Al-Mu‟in disebutkan termasuk perbuatan nusyuz jika isteri enggan bahkan tidak mau memenuhi ajakan suami, sekalipun ia sedang sibuk mengerjakan sesuatu.34

31

Ahsin W. Alhafidz, Op.Cit. h. 176.

32

Alamsyah, Op.Cit. h. 10.

33Dr.Su‟ad Ibrahim Shalih,

Adhwa ala Nizam Al-Usrah fi Al-Islam, Ali Yusuf As-Subki, Fikih Keluarga (Jakarta: Amzah, 2012), h. 322.

34

(30)

Nusyuz terbagi dalam dua kategori, yaitu:

a. Nusyuz isteri, seperti tidak mau pindah ke rumah yang disediakan oleh suami tanpa alasan yang benar, atau meninggalkan rumah tanpa izin suaminya, atau berjalan dengan orang lain yang bukan mahramnya, atau tidak mau diajak berjimak oleh suaminya.

b. Sedangkan nusyuz dari pihak suami adalah seperti suami bersikap keras terhadap isterinya, atau menganggap biasa-biasa saja atau merendahkan isterinya, atau dengan tidak mau menggaulinya dan tidak mau memberi haknya, atau berfoya-foya dengan wanita lain yang bukan isterinya.35

Pandangan jumhur fuqaha bahwa jika nusyuz dilakukan isteri maka sang isteri dapat dihukum secara fisik dan psikis. Tetapi jika nusyuz berasal dari pihak laki-laki dan isterinya tidak senang dengan perbuatan nusyuz dari suaminya maka isterinya harus menerimanya apa adanya dengan jalan selalu mengadakan perdamaian, namun jika tidak mau mengadakan perdamaian maka suami wajib menceraikannya.

Selanjutnya jika nusyuz itu datangnya secara bersamaan dari kedua belah pihak suami dan isteri maka jalan yang harus ditempuh adalah mengadakan Islah (perdamaian) dengan mengutus masing-masing dari keluarganya atau saudaranya dan tidak boleh suaminya langsung menceraikannya tanpa suatu kejelasan atau alasan.36

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa sikap ketidaktaatan (nusyuz) tidak hanya lahir dari isteri, tetapi bisa juga dari suami yang berbuat nusyuz terhadap isterinya.

35

Rahmat Taufik Hidayat, Dkk, Almanak Alam Islam, Sumber Rujukan Keluarga Muslim Milenium Baru (Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 2000), h. 317.

36

(31)

Dalam beberapa literatur Fiqih dituturkan bahwa nusyuz seorang suami merupakan perubahan sikap yang terjadi pada dirinya. Semula penuh kasih sayang, lemah lembut dalam bertutur, ramah saat bersikap pada isterinya, tapi semua itu berubah menjadi acuh tak acuh, bermuka masam, bahkan bersikap kasar dan sesekali penuh penentangan serta suami meninggalkan semua kewajibanya sebagai seorang suami.

Dalam Ensiklopedia Hukum Islam, nusyuz pihak suami terhadap isteri lebih banyak berupa kebencian atau ketidak senangan suami atau ketidak senangan suami terhadap isterinya sehingga suami menjauh atau tidak memperhatikan isterinya. Selain istilah nusyuz, adapula istilah I‟rad (berpaling). Perbedaan antara keduanya adalah nusyuz terjadi jika suami menjauhi isterinya, sedangkan I‟rad

adalah suami tidak menjauhi isterinya melainkan hanya tidak mau berbicara dan tidak menunjukan rasa kasih saying kepada isterinya. Dengan demikian, maka setiap nusyuz pasti I‟rad, akan tetapi tidak setiap I‟rad tergolong nusyuz.37

B.Dasar Hukum Nusyuz Suami Isteri 1. Dasar Hukum Nusyuz Isteri

Dasar hukum nusyuz yang dilakukan oleh isteri terhadap suaminya tercantum dalam QS. An-Nisa‟: 34 sebagai berikut :

(32)

Artinya: “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).38 Perempuan-perempuan yang

kamu khawatirkan akan nusyuz,39 hendaklah kamu beri nasihat kepada

mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.40

Allah swt, dalam ayat ini menjelaskan tentang bagaimana seharusnya hubungan suami dan isteri dalam suatu rumah tangga. Dikatakan rumah tangga adalah suatu masyarakat kecil yang sebagaimana halnya masyarakat yang besar, ia menghendaki adanya pimpinan.

Untuk memimpin rumah tangga itu pimpinannya diserahkan kepada laki-laki atau suami. Namun pemimpin di sini bukan maksudnya suami itu yang berkuasa tetapi ibaratnya suatu negara maka pemimpin di sini lebih condong pada memikul tanggung jawab seperti pemimpin masyarakat. Dan nusyuz di sini berarti membangkang atau suatu tempat yang tinggi, atau juga berarti berdiri.41

Sikap seorang suami sebagai imam dalam keluarga, hendaknya memiliki keutamaan dalam bertakwa kepada Allah. Ia menjadi imam bagi

38

Allah telah mewajibkan kepada suami untuk menggauli isterinya dengan baik.

39

Nusyuz yaitu meninggalkan kewajiban selaku isteri atau suami.

40

Departemen Agama Republik Indonesia, Cordova Al-Qur’an dan Terjemah, Surah An-Nisa ; 34, h. 84.

41

(33)

isteri dan anak-anaknya. Sehingga ia harus bertanggung jawab member nafkah, memperhatikan pendidikan agama bagi anggota keluarganya, pembimbing dan motivator bagi keluarganya, bersikap baik dan sabar, dan selalu sabar mendoakan yang terbaik baik keluarganya.

Allah Ta‟ala berfirman,”Kaum laki-laki adalah pemimpin kaum wanita”, yakni laki-laki adalah pemimpin wanita, bertindak sebagai orang

dewasa terhadapnya, yang menguasainya, dan pendidiknya tatkala dia melakukan penyimpangan. “Karena Allah telah mengunggulkan sebagian

mereka atas sebagian yang lain.” Yakni, karena kaum laki-laki itu lebih

unggul dan lebih baik daripada wanita. Oleh karena itu, kenabian hanya diberikan kepada kaum laki-laki. Demikian pula dengan kekuasaan yang besar.42

Akan tetapi, fenomena pada masa sekarang ini dalam menangani atau menyikapi isterinya yang nusyuz, suami sangat leluasa atau semena-mena dalam menyikapi isteri yang nusyuz, para suami bahkan tidak segan-segan memukul sampai melebihi batas, sampai-sampai isteri tidak sempat melakukan pembelaan atas dirinya, dalam hal ini bahwa posisi isteri rentan sekali sebagai pihak yang dipersalahkan.

Kebanyakan suami dalam menghukum isterinya tidak melihat batasan-batasan seperti yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur‟an, dan tidak mengetahui atau tidak memahami apa kandungan ayat tersebut, sehingga ketika suami mengetahui isterinya berlaku nusyuz, suami beranggapan

42

(34)

memiliki hak sepenuhnya dalam menghukum isteri yang nusyuz mulai dari hak memukul, menjauhi, dan tidak memberikan nafkah lahir maupun batin. Padahal ketika menghakimi isteri yang nusyuz sudah dijelaskan dalam QS. An-Nisa‟: 34, bagaimana cara-cara menyelesaikan isteri yang nusyuz.

Ayat di atas menjelaskan bahwasannya untuk memberi pelajaran. kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya. Karena suami merupakan pelindung bagi isterinya, dan seorang kepala keluaga hendaknya selalu mengharapkan yang terbaik bagi keluarganya, di berikan kelancaran rezeki, di jauhkan dari musibah dan siksa.43

2. Dasar Hukum Nusyuz Suami

Dasar hukum nusyuz yang dilakukan oleh suami terhadap isterinya tercantum dalam QS. An-Nisa‟ (4) : 128 sebagai berikut:

Artinya: Dan jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyuz atau bersikap tidak acuh, maka keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu memperbaiki

43

(35)

(pergaulan dengan isterimu) dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap yang kamu kerjakan. (QS. An-Nisa‟: 128).44

Pernikahan, tidak pernah luput dari kesalahpahaman. Jika hal kesalahpahaman tidak dapat diselesaikan sendiri oleh pasangan suami isteri, dan perselisihan telah mencapai satu tingkat yang mengancam kelangsungan hidup rumah tangga, maka ayat ini memfatwakan bahwa: dan jika seorang wanita khawatir menduga dengan adanya tanda-tanda akan nusyuz keangkuhan yang mengakibatkan is meremehkan isterinya dan menghalangi hak-haknya atau bahkan walau hanya sikap berpaling, yakni tidak acuh dari suaminya yang menjadikan sang isteri merasa tidak mendapatkan lagi sikap ramah, baik dalam percakapan atau bersebadan dari suaminya, seperti yang pernah dirasakan sebelumnya dan hal tersebut dikhawatirkan dapat mengantar kepada perceraian, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan antar keduanya perdamaian kepada yang sebenar-benarnya, misalnya isteri atau suami member atau mengorbankan sebagian haknya kepada pasangannya, dan perdamaian itu dalam segala hal selama tidak melanggar tuntunan ilahi adalah lebih baik bagi siapapun yang bercekcok termasuk suami isteri, walaupun kekikiran selalu dihadirkan dalam jiwa manusia secara umum. Tetapi itu adalah sikap buruk, karena itu enyahkan sikap tersebut.

Berdamailah walau dengan mengorbankan sebagian hakmu dan ketahuilah bahwa jika kamu melakukan ihsan bergaul dengan baik dan

44

(36)

bertakwa, yakni memelihara diri kamu dari aneka keburukan yang mengakibatkan sanksi Allah antara lain keburukan nusyuz dan sikap tak acuh, atau perceraian, maka sesungguhnya Allah sejak dahulu dan hingga kini dan akan dating adalah maha mengetahu apa yang kamu kerjakan.45

Dimulainya ayat ini dengan tuntunan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz, mengajarkan setiap muslim dan muslimah agar menghadapi dan berusaha menyelesaikan problem begitu tanda-tandanya terlihat atau terasa, dan sebelum menjadi besar dan sulit diselesaikan.

Istilah (

ح نجلا

) lajunaha/ tidak mengapa, biasanya digunakan untuk sesuatu yang diduga terlarang. Atas dasar ini, sementara ulama menetapkan bahwa tidak ada halangan bagi isteri untuk mengorbankan sebagian haknya, atau untuk member imbalan materi kepada suaminya. Dengan demikian ayat ini sejalan maknanya dengan firmannya: “jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri

untuk menebus dirinya” QS. Albaqarah:229. Bedanya hanya pada istilah

yang digunakan.pada ayat ini adalah perdamaian dan pada Al-Baqarah adalah tebusan.

Istilah la junaha, itu mengisyaratkan juga bahwa ini adalah anjuran, bukan suatu kewajiban. Dengan demikian, kesan adanya kewajiban mengorbankan hak yang mengantar kepada terjadinya pelanggaran agama dapat dihindarkan. Perdamaian harus dilaksanakan dengan tulus tanpa

45

(37)

pemaksaan. Jika ada pemaksaan, perdmaian hanya merupakan nama, sementara hati akan semakin memanas hingga hubungan yang dijalin sesudahnya tidak akan langgeng. Ayat di atas menekankan sifat perdamaian itu, yakni perdamaian yang sebenarnya, yang tulus sehingga terjalin lagi hubungan yang harmonis yang dibutuhkan untuk kelanggengan hidup rumah tangga.46

Firmannya: tidak mengapa bagi keduanya mengadakan antar keduanya perdamaian. Redaksi ini mengisyaratkan bahwa perdamaian itu hendaknya dijalin dan berlangsung antar keduanya saja, tidak perlu melibatkan atau diketahui orang lain. Bahkan jika dapat orang dalam rumahpun tidak mengetahuinya

Kata (

خش

) syuhh/ kekiran, padamulanya digunakan untuk kekikiran dalam harta benda, tetapi dalam ayat ini ia mengandung makna kekikiran yang menjadikan seseorangenggan mengalah atau mengorbankan sedikit haknya.

Kekikiran dimaksud adalah tabiat manusia yang jiwanya tidak dihiasi oleh nilai-nilai agama. Sekali lagi is adalah tabiat secara umum, baik lelaki maupun perempuam. Bukan seperti tulis ath-thabari bahw jiwa yang dimasud oleh ayat ini, adalah jiwa wanita, yang sangat engganmengalah tentang hak-hak mereka yang terdapat pada orang lain dan suami mereka. Pendapat ini tidak beralasan, apalagi teks ayat tidak menyebut wanita secara khusus, tetapi pria dan wanita, suami dan isteri. bahkan aneka sabab nuzul

46

(38)

ayat yang diriwayatkan oleh para ulama kesemuanya berkaitan dengan kerelaan isteri mengorbankan sebagian haknya demi kelanggengan rumah tangga mereka. Atirmidzi meriwayatkan bahwa isteri nabi saw, saudah binti zamah khawatir dicerai oleh nabi saw, maka dia bermohon agar tidak dicerai dengan menyerahkan haknya bermalam bersama nabi saw untuk isteri nabi saw, Aisyah (isteri nabi saw yang paling beliau cintai setelah khadijah).47

Imam syafi‟I meriwayatkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan

kasus puti Muhammad ibn malamah yang akan dicerai oleh suaminya, lalu ia bermohon agar tidak dicerai dan rela dengan apa saja yang ditetapkan suaminya. Mereka berdamai dan turunlah ayat ini.48

Imam Malik dalam mazhabnya menjelaskan: Apabila seorang suami bersikap nusyuz dan memperlakukan isterinya dengan buruk, si isteri berhak menyampaikan hal itu kepada hakim, yang selanjutnya berkewajiban menasehati si suami. Jika nasihat seperti itu tidak menyadarkannya, ia dapat memutuskan mencabut haknya untuk ditaati oleh isterinya untuk sementara waktu, sambil tetap mewajibkan si suami memberinya nafkah. Jika tetap tidak direspon oleh sang suami, hakim dibolehkan menjatuhkan hukuman cambuk atau lainnya atasnya.49

Ayat di atas telah menunjukan bahwa nusyuz bukan hanya dilakukan oleh isteri terhadap suaminya, akan tetapi nusyuz juga bisa dilakukan oleh

47

Ibid.

48

Ibid. h. 606.

49

(39)

suaminya, misalkan bersikap kasar, acuh atau tidak menjalankan hak dan kewajibannya sebagai suami terhadap isterinya.

C.Faktor Yang Melatar Belakangi Nusyuz

Hubungan rumah tangga suami isteri itu didalamnya ada hak dan kewajibannya terhadap pasangan. Namun terkadang hak dan kewajiban itu tidak bisa terealisasi dan menyebabkan pertengkaran, pasangan dituntut saling memahami agar dapat terus melanjutkan rumah tangganya. Ketika kekecewaan muncul dari salah satu pasangan, dapat menimbulkan terjadinya nusyuz. Adapun penyebab atau faktor terjadinya nusyuz yaitu:

1.Faktor yang bersifat lahiriah, seperti kemalasan isteri untuk selalu memerhatikan kecantikan dan keanggunannya di depan suami, atau perubahan fisik yang terjadi pada isterinya, dan sakit-sakitan.

2.Faktor batiniah, seperti isteri tidak belas kasih pada suaminya, baik dari aspek pelayanan ataupun lainnya.50

3.Karena seorang suami yang berakhlak tercela, mudah marah, atau kekacauan dalam pembelanjaannya.

4.Karena sang isteri tidak mematuhi apa yang dikehendaki oleh suaminya, dan merasa dirinya lebih mulia

5.Faktor perbedaan gaji. 6.Faktor pendidikan. 7.Faktor ekonomi. 8.Faktor seksual.

50

(40)

9.Faktor karir.51

D.Hak dan Kewajiban Suami Isteri

Jika suami isteri sama-sama menjalankan tanggung jawabnya masing-masing, maka akan terwujudlah ketentraman dan ketenangan hati, sehingga sempurnalah kebahagiaan hidup berumah tangga. Dengan demikian, tujuan hidup berkeluarga akan terwujud sesuai dengan tuntutan agama, yaitu sakinah, mawaddah wa rahmah. Rasulullah, apa kewajiban seseorang dari kami terhadap isterinya? Beliau menjawab: Engkau memberi makan apabila engkau makan, engkau memberi pakaian jika engkau berpakaian, dan janganlah memukul mukanya, dan jangan engkau jelekan dia dan jangan engkau jauhi (seketiduran) atau janganlah memisahkannya melainkan di dalam rumah.” (HR. Abu Daud).52

Kompilasi Hukum Islam (KHI) telah mengatur tentang hak dan kewajiban Diambil pada Tanggal 27 Januari 2018.

52

(41)

yang menjadi sendi dasar dalam susunan masyarakat, suami isteri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia, dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain.

Suami isteri memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan jasmani, rohani, kecerdasannya, dan pendidikan agamanya, Suami isteri wajib memelihara kehormatannya, jika suami atau isteri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama.53

Namun dalam persoalan nusyuz ketentuan yang ada di dalam Kompilasi Hukum Islam hanya mengatur tentang nusyuz isteri seperti yang tertera dalam Pasal 80 yaitu apabila isteri nusyuz maka suami tidak berkewajiban melindungi isterinya dan tidak memberikan segala sesuatu keperluan hidup rumah tangga sesuai dengan kemampuannya, dan dalam pasal 84 isteri dapat dianggap nusyuz apabila tidak melakukan kewajiban-kewajibannya sebagai isteri, seperti tidak berbakti lahir batin terhadap suami dan tidak bisa mengatur rumah tangga dengan baik.54

Sementara pihak suami yang melakukan tindakan yang masuk dalam kategori nusyuz tidak diatur dalam Kompilasi Hukum Islam, oleh karena itu, pasal yang menyangkut nusyuz dalam Kompilasi Hukum Islam ini terlihat membatasi kebebasan hak-hak perempuan dan tidak mendudukan peraturan mengenai hubungan suami-isteri secara seimbang.

53

Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam (Jakarta: CV Akademika Pressindo, 2010), h. 132.

54

(42)

E.Langkah-Langkah Penyelesaian Nusyuz Oleh Suami Dan Isteri 1. Langkah-langkah menyelesaikan isteri yang nusyuz

Ayat Al-qur‟an yang mulia telah menunjukan cara-cara bijaksana untuk menyembuhkan perempuan yang nusyuz. Allah berfirman dalam AS. An-Nisa‟: 34:

Artinya: “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).55 Perempuan-perempuan yang

kamu khawatirkan akan nusyuz,56 hendaklah kamu beri nasihat kepada

mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.57

Al-Qur‟an mengajak untuk melaksanakan langkah-langkah untuk menyelesaikannya dengan cara sebagai berikut :

a. Nasihat, petunjuk dengan hikmah, dan nasihat yang baik, berdasarkan potongan firman Allah QS. An-Nisa‟: 34 yang berbunyi : Maka

55

Allah telah mewajibkan kepada suami untuk menggauli isterinya dengan baik.

56

Nusyuz yaitu meninggalkan kewajiban selaku isteri atau suami.

57

(43)

nasihatilah mereka. Adapun dalam memberikan nasihat, yaitu dengan lemah lembut, sang suami dilarang berkata kasar ataupun yang dapat menyakiti hati sang isteri, janganlah menegur di hadapan orang lain agar tidak mengakibatkan bahaya atau masalah yang lebih besar. Dan jika sang isteri tetap berlaku nusyuz, maka lakukanlah cara selanjutnya, sesuai dengan yang telah diterapkan dalam Islam.

b. Dengan memisahkan diri dari tempat tidur suami dari isteri dan meninggalkan berhubungan dengannya berdasarkan firman Allah QS. An-Nisa‟: 34 : “Dan tinggalkanlah mereka dari tempat tidur”.58 Seorang suami haruslah paham, apa yang dimaksud dengan memisahkan isteri dari tempat tidur, yakni meninggalkan jima‟. Agar sanksi ini memiliki dampak positif dalam pengobatan, hendaklah jangan pisah ranjang secara total, tetaplah tidur berdua dalam satu tempat tidur hanya tidak berdekatan dan tidak boleh memisahkan isteri dalam pembicaraan. c. Memukul tanpa menyakiti dengan siwak dan sejenisnya sebagai

pendidikan baginya, berdasarkan firman Allah QS. An-Nisa‟: 34: “Dan pukullah mereka”. Dalam memberi sanksi hukum, Islam membenarkan

pemukulan kepada isteri. Sebagaimana dalam hadis, Nabi saw telah menjelaskan dengan ucapannya “maka jika mereka melakukannya maka pukullah dengan pukulan yang tidak menyakitkan” (QS. An-Nisa‟: 34). Para ulama mengatakan: yaitu pukulan yang tidak keras dan

tidak sampai menimbulkan luka. Pukulan yang dimaksud untuk

58 Muhammad Abdul Halim Hamid, Kaifa Tus‟id Zaujatak (Bagaimana

(44)

menyakiti jiwanya dan bukan pelampiasan kejengkelan yang sadis dan kejam.

Ketika memukul hindarilah wajah, tempat-tempat yang sensitive, lemah dan mudah sakit karena tujuan memukul ialah untuk memberi pelajaran bukan membinasakan. Selain itu tidak dibenarkan memukul dengan alat yang menghinakan seperti sandal atau menyepak dengan kaki.

Ketahuilah bahwa sebaik-baiknya suami adalah Rasulullah saw. Ia tak sekalipun pernah memukul isteri dan tidak pernah membalas perlakuan buruk yang berhubungan dengan pribadinya selama menjalani hidup rumah tangga bersama isteri-isterinya. Nabi sendiri tidak menyukai laki-laki yang suka memukul isterinya.

Rasulullah saw bersabda:

ُنُك ُدَدَا ُدِلْجَيَل َل اَل َنَلَسًَ ِوْيَلَع ُوَللا َىلَص ِيِّبَنلا ِنَعَةَعْهَز ِنْبا ِوَللاِدْبَع ْنَع

ارَهْا

َ’

ِمٌَْيل ْا ِرِخ آ ىِف َايُعِه اَجُي َنُث ِدْبَعلْا َدْلَج ُوَت

.

Dari Abdullah bin Zam‟ah dari nabi saw, sabdanya: “Janganlah

salah seorang dari antaramu memukul isterinya sebagaimana ia memukul budak kemudian ia menyetubuhinya pada malam harinya”.59

d. Jika engkau tidak menemui cara-cara ini maka sebaiknya dengan keputusan hakim, berdasarkan firman Allah QS. An-Nisa‟: 35 “Maka kalian utuslah penengah dari keluarga“.60

59

Ahmad Sunarto dkk, Tarjamah Shahih Bukhari Jilid VII (Semarang, CV. Asy

(45)

Apabila semua ini sudah tidak lagi berguna dan sangat dikhawatirkan akan meluasnya persengketaan antara suami isteri maka perlu adanya Islah atau Mediasi. Yakni sesudah tidak ada lagi jalan dan cara seorang suami diperkenankan memasuki jalan terakhir yang dibenarkan oleh Islam, sebagai suatu usaha memenuhi panggilan kenyataan dan menyambut panggilan darurat serta jalan untuk memecahkan problema yang tidak dapat diatasi, kecuali dengan berpisah. Cara ini disebut talak. Islam, sekalipun memperkenankan memasuki cara ini, tetapi membencinya, tidak menyunahkan dan tidak menganggap satu hal yang baik. Bahkan Nabi sendiri mengatakan:

ُقَلاَطلا ِللها َىلِا ِلَلاَذلْا ُّضَغْبَأ

Artinya: “Perbuatan halal yang teramat dibenci Allah ialah talak”.61

Perkataan halal tapi dibenci Allah memberikan suatu pengertian bahwa talak itu sesuatu yang diadakan semata-mata karena darurat yaitu ketika memburuknya pergaulan dan menginginkan perpisahan antara suami isteri tetapi dengan suatu syarat yaitu kedua belah pihak harus mematuhi ketentuan Allah dan hukum perkawinan.62

Akan tetapi ada beberapa ulama yang berbeda pendapat tentang tata cara atau urutan dalam menyembuhkan isteri yang nusyuz. Sekelompok pakar mengatakan bahwa sesungguhnya ayat itu

60

Ali Yusuf As-subki, Fikih keluarga, Pedoman Berkeluarga dalam Islam (Jakarta: Amzah, 2012), h. 315.

61

Abu Daud Sulaiman, Op.Cit. h. 342.

62

(46)

menghendaki berurutan. Adapun nasihat ketika dikhawatirkan nusyuz berpisah ranjang ketika telah tampak nusyuz, kemudian memukul. Dan tidak diperbolehkan memukul pada saat permulaan nusyuz. Ini adalah mazhab Ahmad. Asy-Syafi‟I mengatakan, boleh memukulnya pada saat permulaan nusyuz.

Adapun penyebab timbulnya perbedaan para ulama adalah perbedaan mereka dalam memahami ayat. Bagi yang memahami tidak adanya tuntunan berurutan, ia mengatakan, sesungguhnya huruf wawu dalam bahasa Arab tidak mengharuskan berurutan, akan tetapi untuk mengumpulkan secara mutlak. Maka bagi suami untuk mengambil salah satu hukuman yang sesuai dengan keadaannya (kedurhakaan isteri). Baginya juga mengumpulkan antara keduanya.

Bagi yang memilih wajib berurutan diketahui bahwa ayat ini jelas menunjukkan urutan. Ayat datang secara bertahap dari lemah ke kuat kemudian pada yang lebih kuat. Oleh karena itu, Allah memulai dengan nasihat. Kemudian lebih tinggi lagi, yaitu berpisah tempat tidur, Lalu lebih tinggi lagi darinya, yaitu memukul, Berdasarkan hal tersebut berlakunya penjelasan dan keharusan secara tertib. Jika tujuan telah berhasil dengan cara yang lebih ringan maka haruslah mencukupkan dengannya, tidak boleh mendahulukan cara yang lebih keras.63

Di samping itu, hukuman terhadap isteri tidak boleh dilakukan secara sewenang-wenang, tanpa adanya bukti nyata tentang nusyuznya.

63

(47)

Dan kalaupun setelah dipikirkan masak-masak hukuman terhadapnya harus dilakukan juga, tidak dibenarkan melakukannya lebih dari sekedar yang diperlukan guna mengembalikannya ke akal sehatnya, dan tidak sekali-kali seperti telah disinggung di atas untuk tujuan melampiaskan kebencian, balas dendam, ataupun penghinaan.

Apabila isteri sudah menunjukkan tanda-tanda memperbaiki diri, hendaklah suami menerimanya dengan besar hati, tanpa mengungkit-ungkit apa yang terjadi sebelumnya. Itulah sebabnya Allah swt mengingatkan pada penghujung ayat tersebut agar tidak melampaui batas dalam potongan ayat QS. An-Nisa‟: 34 yaitu

Artinya:“…kemudian, jika mereka mentaatimu, jangan kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sungguh Allah Mahatinggi dan Mahaagung.”64

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa durhakanya sang isteri (nusyuz) itu ada tiga tingkatan :

a. Ketika tampak tanda-tanda kedurhakaannya suami berhak memberi nasihat kepadanya.

b. Sesudah nyata kedurhakaannya, suami berhak untuk berpisah tidur dengannya.

c. Kalau dia masih durhaka, suami berhak memukulnya.65

64

Muhammad Bagir Al-Habsyi, Op.Cit. h. 175.

65

(48)

2. Langkah-Langkah Menyelesaikan Suami Yang Nusyuz Allah berfiman dalam Qs. An-Nisa: 128 yaitu

tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. An-Nisa‟: 128).66

Adapun penyembuhan atas nusyuznya suami adalah sebagai berikut sesuai dengan keadaan yang menuntutnya:

a. Dengan berdamai antara kedua belah pihak sebagai jalan keluar, keduanya melakukan perjanjian untuk berdamai. Hal ini bisa dilakukan juga dengan adanya toleransi dari diri isteri.67 Hendaknya diminta darinya

ketetapan isteri akan kemuliaan pemeliharaannya beserta sifat-sifat yang dituntut bagi isteri seperti hak memberikan tempat tinggal, nafkah atau lainnya sebagaimana isteri-isteri yang lain jika terdapat suami memiliki isteri lainnya.68

Dari Aisyah, Ummul Mukminin, mengenai ayat di atas dia mengatakan: “Yaitu, berkenaan dengan seorang wanita yang terikat

pernikahan dengan seorang laki-laki (suami), yang mana suaminya itu

66

Departemen Agama Republik Indonesia, Op.Cit. h. 99

67

Abu Yasid, Fikih Keluaga, Op.Cit. h. 64.

68

(49)

tidak lagi memandang kepadanya, dan ingin mentalaknya untuk menikah dengan wanita lain.

Lalu sang wanita (isteri) itu mengatakan kepadanya: pertahankanlah aku, jangan engkau mentalakku serta menikahlah dengan wanita selain diriku dan engkau boleh tidak memberikan nafkah serta giliran kepadaku” (HR.Imam Al-Bukhari). Apa bila keduanya telah

kembali (berdamai), maka ia (isteri) berhak mendapatkan giliran atau mendapatkan nafkah kembali. Demikian menurut pendapat yang dikemukakan oleh penulis kitab Al-Mughni.69Ketika nabi melakukannya,

kemudian turunlah QS. An-Nisa: 128.

b. Sebaiknya bagi isteri: jika ia mencintainya hendaknya memalingkan hati suaminya pada dirinya, mengharapkan kelanggengannya, takut untuk berpisah dan bercerai. Hendaknya ia mencari penyebab pada diri suaminya supaya tersambung jalannya dan baginya terdapat berbagai cara yang memungkinkan sehingga ia berbuat baik dan mencapai kesuksesan dalam tujuan ini. Bagi isteri supaya berakhlak baik, berbuat adil dari akhlak suaminya atas dirinya dan menjauhkan dari setiap keadaan yang mengakibatkan memicu kekasarannya.70

c. Di kala suaminya enggan melaksanakan kewajibannya, maka isteri boleh melaporkan hal itu kepada hakim.

d. Selajutnya hakim memberikan nasihat dan memerintahkan suami kembali menunaikan kewajibannya. Akan tetapi bila suami tetap berbuat

69

Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, Fiqih Wanita Bab Nikah (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,2009), h. 441.

70

(50)

tidak baik pada isterinya, bahkan memukul dengan alasan tidak benar, maka hakim berhak melakukan tindakan peringatan sebelum menjatuhkan hukuman takzir. Dengan ukuran selayaknya berdasarkan tuntutan sang isteri.

e. Dan isteri boleh meminta cerai dengan kesediaannya membayar ganti rugi pada suaminya agar rela menjatuhkan talak pada dirinya (Iwadh). Dalam kitab-kitab fikih dikenal dengan istilah khuluk.

Berdasarkan pandangan Imam Malik bin Anas pendapat di atas berbeda dengan pandangannya yaitu jika suami berbuat nusyuz maka pertama-tama yang harus dilakukan hakim harus menasehatinya agar kembali memenuhi kewajibannya. Setelah itu, hakim boleh memerintahkan isteri untuk tidak taat kepada suaminya dalam sementara waktu sampai suami berbuat baik, dalam hal ini di samakan pada cara penyelesaian nusyuz yang dilakukan oleh isteri.

Antara dua kasus ini memiliki kesamaan „illat (alasan hukum) yang sama,

yaitu ketidaktaatan.71

Dan Jika nasihat seperti itu tidak menyadarkannya, ia dapat memutuskan mencabut haknya untuk ditaatati oleh isterinya untuk sementara waktu, sambil tetap mewajibkan si suami memberinya nafkah. Jika ini pun tidak digubris oleh sang suami, hakim dibolehkan menjatuhkan hukuman cambuk atau lainnya atasnya.72

71

Muhammad Bagir Al-Habsyi, Op.Cit. h. 175.

72

(51)

Tindakan isteri apabila khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka dalam buku terjemah Tafsir Al-Maraghi menjelaskan sebagai berikut dalam QS. An-Nisa‟: 128:73



Artinya: “Dan jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyuz atau

bersikap tidak acuh...”

Barangkali suatu ketika isteri khawatir akan mendapatkan nusyuz dan kesombongan suami terhadapnya, karena ia melihat tanda-tandanya, seperti tidak dicampuri, tidak diberi nafkah, dan tidak mendapatkan kasih sayang sebagaimana layaknya, yang terjadi antara suami isteri, atau suami menyakitinya dengan mencela, memukul atau lain sebagainya, atau khawatir diacuhkan, karena suami jarang sekali bercengkrama dan berhandai-handai dengannya lantaran beberapa sebab, seperti telah lanjut usia, jelek, sedikit kekuragan dalam akhlak, sudah bosan kepadanya, mencintai wanita lain, atau lain sebagainya.

Dalam kondisi ini hendaknya isteri meneliti gejala-gejala ketidakacuhannya. Barangkali suami tidak suka bercengkrama dan menggaulinya karena dia tengah menghadapi berbagai problem, seperti kehidupan duniawi atau keagamaan, yang merupakan sebab-sebab ekstern yang tidak ada sangkut pautnya dengannya, tidak pula berkaitan dengan kebenciannya kepada isteri.

Dalam kondisi seperti ini, hendaknya isteri memberikan udzur kepada suami dan sabar menghadapi apa yang tidak disukainya. Tetapi, jika isteri telah mengetahuinya dengan jelas, bahwa perlakuan suami seperti itu disebabkan

73

(52)

kebencian dan ketidaksenangan padanya, maka hendaknya mengikuti petunjuk firman Allah dalam QS. An-Nisa‟:128:

Artinya: ”...maka keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenarnya...”

Jika demikian keadaannya, maka tidak dibolehkan bagi mereka untuk mengadakan perdamaian. Seperti isteri memberikan keringanan kepada suaminya untuk tidak memenuhi sebagian haknya dalam nafkah, atau bermalam dengannya, atau seluruh haknya dalam kedua hal tersebut atau salah satunya agar ia tetap berada di dalam perlindungannya secara terhormat. Atau memberikan keringanan untuk tidak memenuhi sebagian mahar dan mut‟ah (pemberian jaminan nafkah)

thalaq, atau tidak memenuhi seluruhnya, agar suaminya menceraikannya, sebagaimana firman Allah ta‟ala dalam QS. Al-Baqarah: 229:

diberikan oleh isteri untuk menebusnya…”. (QS. Al-Baqarah: 229)

Hal itu halal, jika isteri meridhai atas dasar keyakinan isteri, bahwa yang demikian itu akan mendatangkan kebaikan baginya, tanpa merasa dianiaya dan dihinakan.

(53)

Biarkanlah saya mengurus anak saya dan kamu membagi nafkah kepada saya setiap dua bulan dua kali.” Suaminya berkata, “jika hal ini memang baik,

maka itu lebih saya sukai.” Maka, suami memberikan keputusan sesuai dengan

permintaan isterinya. Dalam QS. An-Nisa‟: 128 mengatakan:



Artinya:”...dan perdamaian itu lebih baik...”74

Berdamai itu lebih baik dari pada bercerai, karena ikatan suami isteri merupakan ikatan yang paling agung dan paling berhak untuk dipelihara, dan janji setianya merupakan janji setia yang paling kuat. Meskipun demikian, perselisihan diantara suami dan isteri dan implikasinya merupakan nusyuz, ketidak acuhan dan pergaulan yang buruk antara mereka, termasuk perkara alami yang tidak mungkin dapat dihindarkan dari manusia.

Cara paling indah yang digariskan oleh Islam untuk menghindarkan perselisihan itu ialah ketetapan tentang persamaan antara pasangan suami-isteri dalam segala hal, kecuali dalam hal memimpin keluarga. Maka hendaknya mengikuti petunjuk Firman Allah dalam QS. An-Nisa‟ ayat 128:

Artinya: “...walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir...”75

Menurut tabiatnya, manusia itu kikir, jika ada salah satu faktor yang menuntutnya supaya mengeluarkan harta, maka ia kikir dan melarang dirinya untuk mengeluarkan apa yang patut diberikan demi perdamaian. Para isteri sangat

74

Departemen Agama, Op.Cit. h. 99.

75

(54)

menginginkan haknya dalam nafkah, pembagian dan pergaulan baik dari suami terpenuhi. Di pihak lain, para suami sangan tamak kepada hartanya. Oleh karena itu, kedua belah pihak hendaknya saling toleransi, karena keduanya telah mengadakan ikatan yang kuat dengan „perjanjian agung‟ itu dan telah menyatu.

Kemudian mendorong supaya berusaha sebisa mungkin untuk mengekalkan ikatan suami-isteri, seperti yang sudah disebutkan dalam QS. An-Nisa‟ ayat 128:

Artinya: “...dan jika kamu memperbaiki (pergaulan dengan isterimu) dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap acuh tak acuh), maka sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”.76

Sekiranya kalian bergaul dengan baik dan menghindarkan sebab-sebab nusyuz, ketidak acuhan dan implikasiny yang berupa perpecahan, sesungguhnya Allah Ta‟ala Maha Mengetahui tentang hal itu. Dan akan memberikan pahala

(55)

BAB III

LAPORAN PENELITIAN A.Profil UIN Raden Intan Lampung

UIN Raden Intan Lampung adalah perguruan tinggi agama Islam tertua dan terbesar di Lampung. Dalam lintas perjalanan sejarahnya, UIN Raden Intan Lampung melintasi beragam fase, mulai dari fase rintisan, kemudian fase pendirian dan pembangunan, lalu fase pengembangam hingga mencapai kemajuan sekarang ini.78

1. Periode Perintisan

Perode awal proses pendirian IAIN Raden Intan ditandai munculnya Yayasan Kesejahteraan Islam Lampung (YKIL) yang didirikan pada tahun 1961 dengan susunan pengurusan Radem Muhammad Sayyid (Ketua) Muchtar Hasan (sekretaris), dan Abaysid (bendahara) serta dibantu oleh beberapa anggota. YKIL merupakan yayasan untuk kepentingan sosial khususnya umat Islam di daerah Lampung yang bertujuan untuk meyelenggarakan berdirinya rumah-rumah peribadatan umat Islam dan pendidikan Islam.

Untuk merelisir program kerja YKIL tersebut, maka pada tahun 1963 diadakan musyawarah alim ulama seluruh Lampung di Metro Lampung Tengah. Musyawarah ini bertujuan menghimpun potensi alim ulama dan mengintegerasikan antara tokoh-tokoh masyarakat dengan aparat pemerintah musyawarah tersebut telah mengambil keputusan

78

(56)

antara lain mendirikan 2 (dua). Fakultas yaitu Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Syari‟ah.

Berdasarkan keputusan hasil musyawarah tersebut, pada tahun yang sama diumumkan pembukuan Fakultas Tarbiyah dan Syaria‟ah di Teluk Betung di bawah santunan dan asuhan yayasan kesejahteran Islam Lampung (YKIL). Mahasiswa yang terdaftar terdiri dari ± 300 orang yang berkantor di sektariat Fakultas Hukum UNSRI cabang Palembang di Lampung (Unila sekarang) dengan petugasnya M. Syuabi Syamudin Amimo masyarakat pada masa itu untuk masuk IAIN sangat antusias, maka yang tidak mampu kuliah di Jakarta memilih kuliah di IAIN.79

Ada dua klausul sebagai syarat penerimaan mahasiswa baru pada waktu itu. Klausul pertama, katagori lulusan MAN, Pondok Pesantren dan SLTA. Klausul yang ke dua: adalah pegawai negeri yang berijasah SMA dan disyarat kan lulus ujian. Dari tes ujian masuk dan tersaring menunjukkan siswa dari sekolah umum atau SLTA banyak yang tidak lulus tes ujian. Adapun tes masuk terdiri dari bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Pengetahuan Agama.

Pada pelaksanaanya, dua Fakultas tersebut dikelola dalam waktu yang berbeda, Fakultas Tarbiyah kuliah pada waktu pagi dan Fakultas Syari‟ah kuliah pada waktu sore hari. Guru-guru SLTP dan SLTA tidak

bisa kuliah di waktu pagi, hal ini menyebabkan mereka pindah ke Fakultas Syari‟ah yang kuliah di sore hari. Pada awalnya mahasiswa

79

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...