BAB I PENDAHULUAN. isteri sehingga dapat menentukan jumlah anak dalam keluarga (BKKBN,

36 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pertumbuhan penduduk yang meningkat membuat pemerintah menerapkan program Keluarga Berencana (KB) sebagai usaha untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. KB adalah suatu upaya untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan dengan mengatur interval diantara kelahiran dan mengontrol waktu kelahiran dalam hubungan suami isteri sehingga dapat menentukan jumlah anak dalam keluarga (BKKBN, 2010).

Pemerintah melakukan berbagai program pembangunan Sumber Daya Manusia, salah satunya adalah dilaksanakannya program KB. Secara garis besar KB berfungsi sebagai pengendali kelahiran, sedangkan secara khusus bertujuan untuk membantu keluarga dan individu dalam mewujudkan hak-hak reproduksi, penyelenggaraan pelayanan, pengaturan, dan dukungan untuk membentuk keluarga dengan usia nikah ideal, mengatur jumlah anak, jarak dan usia ideal melahirkan anak, serta pengaturan kehamilan dan pembinaan ketahanan kesejahteraan keluarga (BKKBN, 2010).

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), perkiraan penduduk Indonesia tahun 2025 sekitar 273,65 juta jiwa. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 1971-1980 adalah 2,10 %, tahun 1980-1990 sebanyak 1,97%, selanjutnya tahun 1990-2000 adalah 1,49%,

(2)

dan tahun 2000-2005 adalah sebanyak 1,3%. Kondisi ini menunjukan adanya penurunan laju pertumbuhan penduduk Indonesia. Laju pertumbuhan penduduk di Propinsi Riau berturut-turut untuk tahun yang sama adalah 4,25%, 4,22%, 4,35%, dan 4,05%. Angka ini menunjukkan bahwa laju pertumbuhan penduduk di Propinsi Riau masih jauh lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan penduduk Indonesia (BSI, 2008).

KB adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Dalam upaya menunjang keberhasilan program KB maka perlu peningkatan pelayanan kontrasepsi di lapangan yaitu dengan penekanan pada pelayanan kontrasepsi efektif. Pemilihan kontrasepsi oleh pasangan suami isteri seringkali tidak didasarkan pada pilihan yang rasional serta tidak mempertimbangkan efektivitas dan efisiensinya sehingga menyebabkan efektivitas alat kontrasepsi tidak didapatkan secara optimal (BKKBN, 2010).

Dengan kemajuan ilmu dan teknologi, metode kontrasepsi yang tersedia banyak macamnya, baik alat KB yang tidak permanen maupun metode permanen, walaupun demikian hingga saat ini belum ada suatu cara kontrasepsi yang 100 % ideal bagi semua pengguna alat kontrasepsi. Tidak semua akseptor KB merasa mantap atau masih ragu-ragu dalam memakai alat kontrasepsi, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah

(3)

satunya adalah kurangnya pengetahuan yang memadai mengenai alat kontrasepsi yang sesuai untuk para akseptor KB (Suhariati, 2012).

Banyak pasangan suami isteri yang masih kebingungan sebelum memutuskan menggunakan cara KB yang mereka inginkan, hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan informasi yang lengkap tentang cara-cara KB, sehingga menyebabkan pemilihan alat kontrasepsi yang tidak sesuai dengan keinginan para akseptor dan kadang juga bisa menimbulkan kecemasan pada saat mereka mengalami efek samping dari alat kontrasepsi yang dipakai bahkan bisa juga mengakibatkan kecenderungan pindah cara untuk memakai alat kontrasepsi yang lain (Suhariati, 2012).

Pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi sangat dibutuhkan dalam memilih alat kontrasepsi yang akan digunakan agar alat kontrasepsi yang digunakan tepat. Terdapat banyak alat kontrasepsi yaitu metode alami, pil, suntik, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) dan implan. Pemilihan alat kontrasepsi yang tepat salah satunya dengan usia ibu atau disesuaikan dengan kurun reproduksi sehat ( Arief, 2006).

Kesesuaian penggunaan alat kontrasepsi berdasarkan kurun reproduksi sehat dapat dibagi menjadi 3 yaitu : 1) masa menunda kehamilan bagi pasangan usia subur dengan isteri dibawah 20 tahun dianjurkan untuk menunda kehamilan, 2) masa menjarangkan kehamilan bagi isteri usia 20-35 tahun merupakan usia yang paling baik untuk melahirkan dengan jarak kelahiran 3-4 tahun, 3) masa mengakhiri

(4)

kesuburan bagi isteri diatas 35 tahun sebaiknya mengakhiri kesuburan setelah memiliki anak dua orang atau lebih (BKKBN,2010).

Setiap pasangan suami isteri mempunyai hak untuk memilih dan menentukan sendiri alat kontrasepsi yang akan digunakan secara bebas dan bertanggung jawab. Untuk itu dalam memutuskan suatu cara kontrasepsi yang rasional, efektif dan efisien mereka perlu memperoleh informasi yang lengkap tentang metode kontrasepsi sebelum memilih untuk menggunakan kontrasepsi tertentu sesuai dengan pilihannya dan juga perlu mendapatkan pengarahan dari tenaga medis, baik dari bidan maupun dokter tentang hal ini (Affandi, 2008).

Tenaga kesehatan memegang peranan penting dalam memberikan informasi tentang metode KB calon akseptor yang dalam hal ini khusus ibu hamil, bersalin dan nifas.Pemberian informasi ini dilakukan melalui konseling dengan menggunakan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) berKB. ABPK adalah lembar balik yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO) dan telah diadaptasi Indonesia untuk digunakan dalam konseling.Tenaga kesehatan yang memegang peran adalah bidan.Bidan melakukan hal ini sesuai dengan perannya.Dalam memberikan pelayanan bidan melakukannya secara professional dan sesuai standar (Affandi, 2008).

Peran bidan sebagai konselor KB pasca persalinan bertujuan agar masyarakat khususnya ibu setelah melahirkan tidak bingung mengenai pemakaian KB setelah persalinan.Masih banyak perempuan mengalami

(5)

kesulitan didalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi.Hal ini tidak hanya karena keterbatasan metode yang tersedia, tetapi juga oleh ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi tersebut (Affandi, 2008).

Di seluruh dunia, metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah sterilisasi. Kontrasepsi hormone berada pada posisi ketiga di seluruh dunia. Yang menggunakan pil sebanyak 85 %, sedangkan kontrasepsi implant dan suntik hanya 15 %. Di Negara maju, metode kontrasepsi yang paling popular adalah kontrasepsi oral (16%). Sebaliknya, di Negara sedang berkembang strerilisasi wanita (20%), AKDR (13%), suntik (6%), dan vasektomi (6%) (Glasier, 2010).

Di Indonesia, pengguna alat kontrasepsi suntik sebanyak 54,35%, peserta pil sebabyak 28,65%, peserta IUD sebanyak 5,44%, peserta kondom sebanyak 5,34%, peserta implant sebanyak 4,99%, peserta MOW sebanyak 1,04% dan peserta MOP sebanyak 0,2% (SDKI, 2012).

Berdasarkan data dari BKKBN Riau tahun 2015, Pemakaian alat kontrasepsi pil sebanyak 67.988 akseptor (32,30%), suntik sebanyak 103.651 akseptor (49,24%), kondom sebanyak 14.142 akseptor. Sedangkan untuk pemakaian Metode Kontrasepsi Jangka Panjang masih rendah yaitu implant sebanyak 14.264 akseptor (6,78%), IUD sebanyak 7208 akseptor (3,42%), Metode Operasi Wanita sebanyak 2954 akseptor

(6)

(1,40%), (6,72%) dan Metode Operasi Pria sebanyak 269 akseptor (0,12%) (Profil BKKBN Propinsi Riau, 2015).

Berdasarkan data yang penulis dapatkan dari program Keluarga Berencana di Puskesmas Bunut Kabupaten Pelalawan tahun 2015, dari 100 akseptor KB aktif, 60 orang ibu yang berumur diatas 35 tahun dan tidak menginginkan anak lagi menggunakan kondom, pil dan suntik, 8 orang diantaranya menggunakan implant dan 2 orang menggunakan IUD, sedangkan 40 orang ibu yang berumur 20 tahun – 35 tahun menggunakan kondom, pil, suntik, 3 orang diantaranya implant. Penggunaan alat kontrasepsi pil dan suntik lebih diminati tanpa memandang usia reproduksi ibu dan tujuan dari berKB.

Dari survei awal yang dilakukan peneliti dengan wawancara terhadap 10 akseptor KB, 7 orang tidak dapat menyebutkan jenis-jenis alat kontrasepsi yang sesuai dengan usia reproduksi untuk menunda kehamilan, menjarangkan kelahiran dan mengakhiri kesuburan, dan 3 orang yang dapat menyebutkan jenis-jenis alat kontrasepsi yang sesuai dengan usia reproduksi.

Berdasarkan masalah diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti hubungan pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi dengan ketepatan dalam pemilihan alat kontrasepsi di Puskesmas Bunut.

(7)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, rumusan masalah penelitian ini adalah Apakah terdapat hubungan pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi dengan ketepatan dalam pemilihan alat kontrasepsi di Puskesmas Bunut Tahun 2016?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Menganalisa Hubungan Pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi dengan ketepatan dalam pemilihan alat kontrasepsi di Puskesmas Bunut Tahun 2016.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui disteribusi frekuensi pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi dan ketepatan dalam pemilihan alat kontrasepsi di Puskesmas Bunut Tahun 2016.

b. Menganalisa hubungan pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi dengan ketepatan dalam pemilihan alat kontrasepsi di Puskesmas Bunut Tahun 2016

D. Manfaat Penelitian 1. Aspek teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah hasil informasi ilmiah yang berhubungan dengan pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi.

(8)

b. Dapat digunakan dalam menyusun hipotesis baru dalam merancang penelitian selanjutnya.

2. Aspek praktis

a. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi Pimpinan Puskesmas dan Pemgelola Program KB baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi program yang berkaitan dengan Keluarga Berencana.

(9)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka 1. Pengetahuan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) Pengetahuan berarti segala sesuatu yang diketahui. Selanjutnya Umar Tirtarahardja (2005) mengemukakan bahwa pengetahuan (knowledge) adalah segala sesuatu yang diperoleh melalui berbagai cara penginderaan terhadap fakta, penalaran (rasio), intuisi, dan waktu. Ditambahkannya bahwa pengetahuan yang memenuhi kriteria dari segi antologis (berkaitan dengan objek yang ditelaah oleh ilmu), epistemologis (berkaitan dengan segenap proses untuk memperoleh pengetahuan ilmiah) dan aksiologis (berkaitan dengan manfaat atau kegunaan ilmu pengetahuan ilmiah) secara konsekuen dan penuh disiplin biasa disebut ilmu ataupun ilmu pengetahuan (science); kata sifatnya adalah ilmiah atau keilmuwan, sedangkan ahlinya disebut ilmuwan.

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera

(10)

pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata) (Notoatmodjo, 2010).

Berdasarkan beberapa defenisi diatas dapat disimpulkan pengetahuan adalah apa diketahui atau hasil dari pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah dosis dari kenal, sadar, insyaf, mengerti dan pandai, pengetahuan itu semua milik atau isi pikir .

a. Tingkatan Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2010) Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu :

1) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingat kembali terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau ransangan yang telah diterima oleh sebab itu, tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. 2) Memahami (comfrehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar-benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.

(11)

3) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.

4) Analisis (shyntesis)

Analisis adalah untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lalinnya. 5) Sintesis (synthesis)

Sintesis merupakan kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang telah ada.

6) Evaluasi (evaluation)

Kemampuan untuk melakukan justifikasi atau objek penilaian terhadap suatu materi atas objek. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan degan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau responden, kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui dan diukur dapat disesuaikan dengan tingkat-tingkat pengetahuan tersebut diatas.

(12)

Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut

b. Pengukuran Pengetahuan

Cara pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dri subjek penelitian atau responden (Notoadmojo, 2003). Menurut Notoatmodjo (2005), tingkatan pengetahuan dapat dikategorikan berdasarkan nilai sebagai berikut :

a) Pengetahuan tinggi : mempunyai nilai pengetahuan ≥ 75 % b) Pengetahuan rendah : mempunyai nilai pengetahuan < 75 % 2 Alat Kontrasepsi

a. Pengertian Kontrasepsi

Kontasepsi berasal dari kata kontra yaitu mencegah dan konsepsi yang berarti penemuaanantara sel sperma dan sel telur yang mengakibatkan kehamilan.

Kontrasepsi merupakan upaya mencegah ovulasi, melumpuhkan sperma atau mencegah penemuan sel telur dan sel sperma.Metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sel

(13)

sperma laki-laki mencapai dan membuahi sel telur wanita atau mencegah sel telur yang telah dibuahi untuk berimplantasi dan berkembang didalam Rahim.Kontasepsi dapat bersifat reversible (kembali) atau permanen (tetap). Kontrasepsi yang bersifat reversible adalah metode kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat tanpa efek lama dalam mengembalikan kesuburan atau kemampuan kembali untuk memiliki anak. Sedangkan metode kontasepsi permanen atau sterilisasi adalah metode kontasepsi yang tidak dapat mengembalikan kesuburan karena telah melibatkan tindakan operasi.

b. Jenis Alat Kontrasepsi 1) Pil kombinasi

Jenis pil kombinasi antara lain :

a) Monofasik adalah pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestion (E/P) dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.

b) Bifasik adalah pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestion (E/P) dengan dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. c) Trifasik adalah pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet

mengandung hormon aktif estrogen/progestion (E/P) dengan 3 dosis yang berbeda dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.

(14)

Cara kerja pil kombinasi adalah 1) menekan ovulasi, 2) mencegah implantasi, 3) lendir serviks mengental sehingga sulit dilalui oleh sperma, 4) pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi telur dengan sendirinya akan terganggu pula.

Manfaat dari pil kombinasi adalah tidak mengganggu hubungan seksual, siklus haid teratur, banyaknya darah haid berkurang (mencegah anemia) tidak terjadi nyeri haid, dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin menggunakannya untuk mencegah kehamilan, mudah dihentikan setiap saat, dapat digunakan kontrasepsi darurat, dapat digunakan usia remaja sampai menopause.

Yang tidak boleh menggunakan pil kombinasi adalah : a) hamil atau dicurigai hamil, b) menyusui eksklusif, c) perdarahan pervaigna yang belum diketahui penyebabnya, d) penyakit hati akut (hepatitis), e) perokok dengan usia > 35 tahun, f) Riwayat penyakit jantung, stroke atau tekanan darah >180/110mmHg, g) riwayat gangguan faktor pembekuan darah atau kencing manis > 20 tahun, h) Kanker payudara atau dicurigai kanker payudara, i) migrain dan gejala neurologik fokal(elipsi/ riwayat epilepsi), j) tidak dapat menggunakan pil secara teratur setiap hari.

2) Suntikan Kombinasi

Jenis suntik kombinasi adalah 25 mg Depomedroksi progesteron Asetat dan 5 mg Estradiol sipionat yang diberikan

(15)

injeks I.M sebulan sekali (cylofeni), dan 50 mg Noretindron Enantat dan 5 mg Estradiol Valerat yang diberikan injeksi I.M sebulan sekali. (Biran Affandi.2006).

Keuntungan kontrasepsi suntik kombinasi adalah :a) risiko terhadap kesehatan kecil, b) tidak berpengaruh pada hubungan suami isteri, c) tidak diperlukan pemeriksaan dalam, angka panjang,d) efek samping sangat kecil, e) mengurangi jumlah, perdarahan, f) mengurangi nyeri saad haid.

Selain itu, kontrasepsi ini memiliki kekurangan. Adapun kekurangannya antara lain :

a) Terjadi perubahan pada pola haid, seperti tidak teratur, perdarahan bercak/spoting atau perdarahan sela 10 hari

b) Mual,sakit kepala, nyeri payudara ringan, keluhan ini akan hilang setelah suntikan kedua atau ketiga.

c) Ketergantungan klien terhadap pelayanan kesehatan klien harus kembali 30 hari untuk mendapatkan suntikan

d) Penambahan berat badan

e) Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian.

(16)

3) Kontrasepsi Suntik Progestin

Tersedia 2 jenis Kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung progestin, yaitu :

a) Depo Medroksi Progesteron Asetat (depoprovera), mengandung 150 mg DMPA, yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara suntikan Intra Muskular (didaerah bokong)

b) Depo Noretisteron Enantat (depo noeisterat), yang mengandung 200 mg Poretindron Enantat, diberikan setaip 2 bulan dengan cara disuntikkan IM.

Keuntungan suntik progesteron yaitu : a) Sangat efektif, b) pencegahan kehamilan jangka panjang, c) tidak berpengaruh pada hubungan suami isteri, d) tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung dan gangguan pembetulan darah, e) tidak memiliki pengaruh terhadap ASI.

4) Kontrasepsi Implan (Alat Kontrasepsi Bawah Kulit)

Kontrasepsi implant adalah alat kontrasepsi bawah Kulit (Hanafi, 2004). Implant adalah suatu alat kontrasepsi yang mengandung levonorgetrel yang dibungkus dalam kapsul silastic silicon polidymetri silicon dan disusukan dibawah kulit. Jumlah kapsul yang disusukkan dibawah kulit adalah sebanyak 2 kapsul masing masing kapsul panjangnya 44 mm masing masing batang diisi dengan 70mg levonorgetrel, dilepaskan kedalam darah

(17)

secara difusi melalui dinding kapsul levonorgetrel adalah suatu progestin yang dipakai juga dalam pil KB seperti mini pil atau pil kombinasi (Prawirohardjo, 2009)

Implant merupakan kontrasepsi yang paling tinggi daya guna nya. Kegagalan adalah 0,3 per 100 tahun–wanita (sarwono 2002).

Pemasangan Implant biasanya dilakukan dibagian atas (bawah kulit) pada lengan kiri wanita (lengan kanan bagian yang kidal ), agar tidak menggangu kegiatan. Implant dapat dipasang pada waktu menstruasi atau setelah melahirkan oleh dokter atau bidan yang terlatih. Sebelum pemasangan dilakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu danjuga disuntik untuk mencegah rasa sakit. Luka bekas pemasangan harus dijaga agar tetap bersih kering dan tidak boleh terkena air selama 5 hari. Pemeriksaan ulang dilakukan oleh dokter seminggu setelah pemasangan. Setelah itu setahun sekali selama pemakaian dan setelah 5 tahun implant harus diambil atau di lepas.

Keuntungan kontrasepsi implant adalah : a) Daya guna tinggi, b) perlindungan jangkan panjang (sampai 5 tahun), c) pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan, d) tidak memerlukan pemeriksaan dalam, e) bebas dari pengaruh estrogen, f) tidak mengganggu kegiatan sanggama, g) tidak

(18)

mengganggu ASI, h) klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan, i) dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan.

Selama pemakaian implant ini biasanya timbul keluhan-keluhan seperti : a) nyeri kepala, b) peningkatan/penurunan berat badan,c) nyeri payudara, d) perasaan mual, e) pening/pusing kepala, f) perubahan perasaan (mood) atau kegelisahan (nervousness), g) tidak memberikan efek protektif terhadap infeksi menular seksual termasuk AIDS, h) klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi ini sesuai dengan keinginan, akan tetapi harus pergi ke klinik untuk pencabutan, i) terjadinya kehamilan ektopik sedikit lebih tinggi (1,3 per 100.000 perempuan per tahun).

Yang dapat menggunakan implant ini antara lain :a) usia reproduksi, b) telah memiliki anak ataupun yang belum, c) menghendaki kontrasepsi yang memiliki efektivitas tinggi dan menghendaki pencegahan kehamilan jangka panjang, d) menyusui dan membutuhkan kontrasepsi, e) pascapersalinan dan tidak menyusui, f) pascakeguguran, g) tidak menginginkan anak lagi, tetapi menolak sterilisasi, h) riwayat kehamilan ektopik, i) tidak boleh menggunakan kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen, j) sering lupa menggunakan pil.

Selain itu yang tidak boleh menggunakan implant adalah : a) hamil atau diduga hamil., b) perdarahan pervaginam yang belum

(19)

jelas penyebabnya, c) benjolan/kanker payudara atau riwayat kanker payudara, d) tidak dapat menerima perubahan pola haid yang terjadi, e) miom uterus dan kanker payudara, f) gangguan toleransi glukosa.

5) Kondom

Kondom adalah selubung lateks tipis yang menutupi penis yang sedang ereksidan mencegah semen masuk ke dalam vagina (Wulansari, 2007). Sedangkan menurut Saifuddin (2003), kondom merupakan selubung / sarung karet yang terbuat dari berabgai bahan diantaranya lateks (karet), plastik (vinil) atau bahan alami (produksi hewani) yang dipasang pada penis saat hubungan seksual. Menurut Everret (2008) kondom merupakan bentuk kontrasepsi yang mudah didapat serta memungkinkan pria berbagai dan mengambil tanggung jawab untuk mencegah kehamilan.

Manfaat Kontrasepsi kondom yaitu : a) efektif bila digunakan dengan benar, b) tidak menganggu reproduksi Asi, c) tidak mengganggu kesehatan klien, d) murah dan dapat dibeli secara umum. Keterbatasan kontrasepsi kondom yaitu : a) Efektifitas tidak terlalu tinggi, b) cara penggunaan sangat mempengaruhi kontrasepsi, c) harus tersedia setiap kali berhubungan seksual, d) beberapa klien malu untu membeli kondom ditempat umum.

(20)

6) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

Alat kontrasepsi dalam rahim adalah suatu alat yang dimasukkan dan disimpan dalam rongga rahim dengan tujuan mencegah atau menjarangkan kehamilan dalam jangka waktu yang lama. Indikasi dari AKDR adalah telah mempunyai anak hidup satu atau lebih, ingin menjarangkan kehamilan, sudah cukup anak hidup, berusia diatas 35 tahun. Kontra Indikasi dari AKDR ini adalah kehamilan, peradangan panggul, perdarahan uterus yang abnormal, tumor pada organ panggul, malformasi rahim, nyeri haid hebat, anemia berat dan gangguan pembuluh darah, penyakit jantung rematik.

Keuntungan AKDR antara lain: a) hanya satu kali pemasangan, b) tidak ada efek sistematik, c) dapat mencegah kehamilan dalam waktu panjang, d) efektifitas tinggi (Harnawatia, 2008).

7) Kontrasepsi Mantap a) Vasektomi

Vasektomi adalah metode sterilisasi dengan cara mengikat saluran sperma (vas deferens) pria. Beberapa alternative untuk mengikat saluran sperma tersebut yaitu dengan mengikat saja , memasang klip tantalum kauterisasi, menutup saluran dengan jarum dan kombinasinya.

(21)

Kondisi yang memerlukan perhatian khusus bagi tindakan vasektomi adalah 1) Perdarahan 2) Hematom skrotum 3) Infeksi pada luka yang timbul atau epididimitis 4) Grandula sperma berupa benjolan yang kadang terasa nyeri pada skrotum bagian atas ( Proverawati,2010)

8) Metode Amenorea Laklasi (MAL)

Merupakan kontrasepsi yang mengandalakan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI tanpa tambahan makanan ataupun minuman lainnya. MAL dapat dipakai sebagai kontrasepsi bila menyusui secara penuh (Full Breast Feeding), lebih efektif bila pemberian 7/8 x sehari, efektif sampai 6 bulan, harus dilanjutkan dengan pemakaian metode kontrasepsi lainnya.

Keuntungan dari kontrasepsi ini antara lain : a) efektifitas tinggi (Keberhasilan 98% pada enam bulan pasca persalinan), b) segera efektif, c) tidak mengganggu senggama, d) tidak ada efek samping secara medis, e) tidak perlu pengawasan medis, f) tidak perlu obat atau alat, g) tanpa biaya.

Keterbatasan dalam melaksanakan MAL adalah : a) perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera menyusui dalam 30 menit pasca persalinan, b) mungkin sulit dilakukan karena kondisi sosial, c) efektifitas tinggi sampai kembalinya haid.

(22)

3. Ketepatan Dalam Pemilihan Alat Kontrasepsi

Suatu alat kontrasepsi dikatakan berhasil bila selain memenuhi tujuan akseptor dalam memakai alat kontrasepsi tersebut adalah juga tidak menimbulkan keluhan akibat efek samping. Jadi jika dengan suatu alat kontrasepsi akseptor ingin menjarangkan kelahiran, selain timbul ketidaksuburan dalam masa menggunakan alat kontrasepsi tersebut, juga diharapkan kesuburan segera kembali jika tidak menggunakan alat kontrasepsi tersebut (Patmini, E., 2006).

Sampai saat ini belum ada suatu cara kontrasepsi yang 100% ideal (Prawirohardjo, 2009). Secara umum persyaratan metode kontrasepsi ideal selain apa yang telah disebutkan diatas adalah dapat diterima oleh klien dan semua pihak yang terkait juga oleh lingkungan budayanya, dan harga terjangkau (Saifuddin, 2004)

Banyak perempuan mengalami kesulitan didalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi.. Hal ini tidak hanya karena terbatasnya metode yang tersedia, tetapi juga oleh ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi tersebut. Berbagai faktor harus dipertimbangkan, termasuk status kesehatan, efek samping potensial, konsekuensi kegagalan atau kehamilan yang tidak diinginkan, besar keluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan, bahkan norma budaya lingkungan dan orang tua (Saifuddin, 2004).

Langkah bijak yang harus diambil ibu adalah berkonsultasi ke dokter atau bidan. Dengan cara ini ibu bisa mendapat pilihan dan

(23)

pengetahuan tambahan tentang alat kontrasepsi yang paling sesuai dengan kondisi ibu. Pilihan kontrasepsi seperti dikampanyekan BKKBN melalui sadar hak biar sehat (SAHABAT) adalah untuk memberi penyadaran pada kaum ibu akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi mereka termasuk dalam pemilihan alat kontrasepsi yang sesuai dan mengkonsultasikan dengan dokter atau bidan. Sebelum memilih dan menggunakan alat kontrasepsi, si ibu perlu mengetahui apa itu alat kontrasepsi( Arief, 2006).

Kiptiah, M., cit. Suharto (2003) menyampaikan bahwa komunikasi antara tenaga medis dengan akseptor sangat penting. Seorang akseptor hendaknya tidak memaksakan memakai satu alat kontrasepsi yang tidak dianjurkan oleh tenaga kesehatan karena sangat berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan akseptor.

Dalam memilih suatu metode, wanita harus menimbang berbagai faktor, termasuk status kesehatan mereka, efek samping potensial suatu metode, konsekuensi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, besarnya keluarga yang diinginkan, kerjasama pasangan, dan norma budaya mengenai kemampuan mempunyai anak. Sebaiknya calon akseptor diberi penjelasan tentang keuntungan dan kerugian masing-masing alat kontrasepsi, sehingga diharapkan dapat memperkecil terjadi kehamilan serta mengurangi efek samping dari alat kontrasepsi tersebut (Maryani, 2003).

(24)

Untuk individu-individu yang memilih menggunakan KB, bermacam-macam pendekatan tersedia. Pertimbangan-pertimbangan dalam memilih termasuk keamanan (misalnya perlindungan dari penyakit menular seksual (PMS) dan Human Imonuglobulin Virus (HIV), selain juga menghindari efek samping dari KB), keefektifan, kenyamanan, biaya, penerimaan pribadi, dan sikap pasangan. Semua metode KB memiliki keuntungan dan kerugian (Arief, 2006).

Langkah pertama sebelum menggunakan kontrasepsi adalah menentukan berapa lama maksud untuk menunda kehamilan. Apakah dalam waktu yang tidak terlalu lama (temporer) atau untuk selamanya (permanen). Untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama (< 5 tahun) dan masih ingin hamil lagi, penggunaan Oral Contraception (OC) bisa dijadikan pilihan alternatif. Jika sedang menyusui, hindari penggunaan kontrasepsi yang mengandung estrogen untuk meminimalkan kemungkinan terjadi penurunan produksi ASI. Selama menggunakan alat kontrasepsi, sebaiknya lakukan juga pemeriksaan pap smear, mamografi serta tekanan darah secara teratur, setidaknya 1 x/tahun. Hal ini berguna untuk memonitor kondisi bila terjadi perubahan fisiologis sekaligus memastikan pendeteksian dini segala kelainan alat reproduksi. Masalah ketidakseimbangan hormon, seperti kulit wajah berminyak, siklus haid tidak teratur, PMS (pre-menstrual syndrome = nyeri haid, kejang perut, mood swing) sampai rambut yang berketombe, memang sangat mengganggu. Jika mengalami masalah yang satu ini sebaiknya

(25)

gunakan kontrasepsi hormonal kombinasi yang mengandung anti-androgen. (Arief, 2006).

B. Kerangka Teori

Berdasarkan studi kepustakaan yang mencakup teori-teori dan hasil penelitian disimpulkan ada beberapa faktor yang sehubungan dengan ketepatan dalam pemilihan alat kontrasepsi seperti yang tertera dibawah ini :

(26)

2.1 Kerangka Teori (Alimul Aziz, 2007) Keterangan : : Diteliti : Tidak diteliti C. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan atau kaitan antara konsep yang lainnya, atau antara variable yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti (Notoadmojo, 2010). Faktor predisposisi Pengetahuan Sikap budaya Persepsi Faktor pendukung Dukungan Keluarga Pendapatan Faktor Pendorong Orang Tua Petugas Kesehatan Ketepatan dalam pemilihan alat kontrasepsi

(27)

Variabel Independen Variabel Dependen

3.2 Kerangka Konsep

D.Hipotesa

Ada hubungan pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi dengan ketepatan dalam pemilihan alat kontrasepsi.

Pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi

Ketepatan dalam pemilihan alat kontrasepsi

(28)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

1. Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif dan menggunakan desain observasi analitik, dengan pendekatan cross sectional (suatu penelitian dimana variabel independen dan dependen diteliti pada waktu yang bersamaan) yaitu suatu metode penelitian untuk melihat hubungan pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi dengan ketepatan dalam pemilihan alat kontrasepsi di Puskesmas Bunut Kabupaten Pelalawan Tahun 2016 (Notoatmodjo. 2010).

Faktor Risiko Efek

3.1 Rancangan Penelitian ( Sudigdo, 2010 )

1. Pengetahuan Tinggi

2. Pengetahuan Rendah

b.Tidak tepat dalam pemilihan alat kontrasepsi

a.Tepat dalam pemilihan alat kontrasepsi

a.Tepat dalam pemilihan alat kontrasepsi

a. Tidak tepat dalam pemilihan alat kontrasepsi

(29)

4. Alur Penelitian

3.2 Alur Penelitian Puskesmas Bunut Kabupaten Pelalawan

Jumlah Akseptor KB N = 100

Faktor yang mempengaruhi Pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi

Pengolahan Data

Analisa data 1. Univariat

2. Bivariat

Hasil Penelitian Pemilihan alat kontrasepsi

n = 40

Tepat N = 8

Tidak tepat N = 32

(30)

5. Variabel Penelitian a. Variabel Bebas

Pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi b. Variabel Terikat

Ketepatan dalam pemilihan alat kontrasepsi

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Bunut Kabupaten Pelalawan.

C. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 2 hingga 6 Mei tahun 2016.

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor KB yang berkunjung ke Puskesmas Bunut Kabupaten Pelalawan yang berjumlah 100 orang.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut Sugiono (2010). Adapun jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 orang.

a. Teknik Sampel

Subjektif penelitian ini adalah sebagian populasi yang diambil dengan teknik consecutive sampling, yaitu pengambilan sampel yang dilakukan berdasarkan kurun waktu yang telah ditetapkan, dalam

(31)

penelitian ini waktu penelitian dilakukan selama empat hari dan diperoleh sampel sebanyak 40 orang.

a) Kriteria Sampel Inklusi

1) Akseptor KB yang berkunjung ke Puskesmas Bunut 2) Bersedia menjadi responden

b) Kriteria Ekslusi

1) akseptor KB yang tidak ada diwaktu periode penelitian. 2) Akseptor yang sering mengganti alat kontrasepsi.

E. Definisi Operasional

Berdasarkan judul penelitian yaitu hubungan pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi dengan ketepatan dalam pemilihan alat kontrasepsi di Puskesmas Bunut Kabupaten Pelalawan Tahun 2016, maka dapat disajikan definisi operasional sebagai mana pada tabel berikut ini :

(32)

Tabel 3.1 Defenisi Operasional

Variabel Defenisi Operasional Alat Ukur

Skala ukur Hasil Ukur Pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi Ketepatan dalam pemilihan alat kontrasepsi

Pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi adalah pengetahuan yang dimiliki ibu tentang tujuan ber KB, jenis-jenis alat

kontrasepsi, keuntungan,

kerugian, cara kerja dan efek samping dari alat kontrasepsi tersebut.

Ketepatan ibu yang

menggunakan KB sesuai dengan tujuannya ber KB yaitu 1) menunda kehamilan untuk usia ibu < 20 tahun dapat menggunakan KB seperti metode alamiah, pil, suntik ,kondom

2)Menjarangkan kehamilan

untuk usia ibu 20-35 tahun dapat menggunakan KB seperti pil, suntik, implant, IUD

3)Mengakhiri kehamilan untuk usia ibu > 35 tahun dapat menggunakan KB MKJP seperti Implan, IUD,MOW,MOP. Kuesioner Kuesioner Ordinal Ordinal 1 =Pengetahuan tinggi jika ≥ 75 % 0= Pengetahuan rendah jika < 75 % 1 = Tepat, jika sesuai dengan tujuan ber KB dan atau usia ibu

0 = Tidak tepat, jika tidak sesuai dengan tujuan ber KB dan atau usia ibu

(33)

F. Jenis dan Cara Pengumpulan Data 1. Jenis Data

Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer yang diambil langsung dari responden melalui kuesioner terkait variabel pengetahuan dan pemilihan kontrasepsi, dan data sekunder melalui data di Puskesmas Bunut Kabupaten Pelalawan.

2. Cara Pengumpulan Data

Metode yang digunakan adalah dengan cara memberikan kuesioner kepada seluruh ibu yang ber KB yang berkunjung ke Puskesmas Bunut Kabupaten Pelalawan dengan memberikan penjelasan terlebih dahulu dan minta kesediaannya untuk menjadi responden dalam penelitian dengan kategori sebagai berikut :

1) Kuesioner pertama untuk mengukur pengetahuan terdiri dari 20 pentanyaan tertutup, dalam bentuk pilihan ganda dengan satu jawaban benar

2) Kuesioner kedua untuk mengukur ketepatan dalam menggunakan KB yang berisi 4 pertanyaan.

G. Etika Penelitian

1. Informed Consent (persetujuan).

Lembaran persetujuan merupakan bentuk persetujuan anatara peneliti dengan responden peneliti dengan memberikan lembaran persetujuan.Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan.Tujuannya adalah agar responden mengerti maksud dan tujuan

(34)

penelitian, mengetahui dampaknya.Bila calon responden bersedia, maka mereka harus menandatangani lembaran persetujuan tersebut. Jika mereka menolak untuk diteliti, maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-haknya.

2. Anonymity (tanpa nama)

Untuk menjaga kerahasiaan responden peneliti tidak mencantumkan namanya pada lembaran pengumpulan data, cukup dengan memberi nomor kode pada masing-masing lembaran teks.

3. Confidentiality (kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti, dan data yang di dapat tidak akan disebar luaskan dan akan digunakan sebaik mungkin, dan setelah itu data yang didapat akan dimusnahkan (Hidayat, 2007).

H. Analisa Data

1. Analisa Univariat

Analisa data yang digunakan adalah analisa deskriftif untuk mendiskripsikan disteribusi frekuensi, persentase, dari karakteristik responden.Dengan menggunakan rumus (Budiarto. E, 2001)

𝑃 = 𝐹

(35)

P : persentase F : Frekuensi N : Jumlah seluruh 2. Analisa Bivariat

Analisa untuk melihat hubungan dua variabel antara variabel dependent dan variabel independent. Analisa data dilakukan dengan uji statistik untuk melihat hubungan antara variabel, dengan uji statistik fisher exact dengan tingkat kepercayaan (Confidence Interval) 95% atau α 0,05.

Fisher exact dengan tingkat Significan p < 0,05. Hubungan dikatakan bermakna jika nilai p < 0,05 maka secara statistik disebut bermakna. Setelah mengikuti langkah-langkah pendataan komputerisasi dilakukan uji Fisher exact dengan SPSS.

Dalam penelitian cross sectional ini, untuk mengetahui faktor risiko dari masing-masing variabel independen yang diteliti terhadap variable dependen digunakan rasio prevalen (RP) sebagai berikut :

a) Bila nilai RP = 1, berarti variabel yang diduga faktor risiko tersebut tidak ada pengaruhnya dalam terjadinya efek atau dengan kata lain bersifat netral dan bukan merupakan faktor risiko terjadinya efek. b) Bila nilai RP > 1, dengan tingkat kepercayaan 95 % melewati angka 1,

maka variabel yang diduga menjadi faktor risiko ternyata benar merupakan faktor terjadinya efek.

(36)

c) Bila nilai RP < 1, dengan tingkat kepercayaan 95 % tidak melewati angka 1, maka variabel yang diteliti merupakan faktor protektif atau justru dapat mengurangi efek (Saryono, 2010).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :