• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE INDONESIAN JOURNAL OF HEALTH SCIENCE, Vol. 1, No. 1, Desember 2010

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "THE INDONESIAN JOURNAL OF HEALTH SCIENCE, Vol. 1, No. 1, Desember 2010"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

32

OPTIMALISASI PROGRAM GERAKAN SANITASI TOTAL PADA

KELUARGA TENTANG PEMANFAATAN JAMBAN

SEBAGAI UPAYA MENURUNKAN TERJADINYA

PENYAKIT DIARE DI DESA PETUNG

KABUPATEN BONDOWOSO

Supriyadi*

*Staf Pengajar Prodi Keperawatan FIKes Univ. Muhammadiyah Jember

Abstract

Use of toilet as a place to dispose of human waste (feces) is very important, where the feces is viewed as an object which may endanger health if not taken seriously, then the stool can be made as a medium for the transmission of the disease. Some diseases caused by sewage treatment at promiscuously.places among which hepatitis, thipoid fever and that most of the diarrhea.

The purpose of this research is to know the effective implementation of total sanitation movement, the behavior of families on the use of latrines with the occurrence of diarrheal disease. The population is families living in the Village District Petung especially hamlet krajan Pakem regency with a total sample of 170 respondents.

The design of this study is descriptive exploratory presented by using an observational design. Sampling technique using sistematic random sampling and data collection using both primary and secondary data, primary data were taken through the questionnaire (questionnaires), interviews and observations of respondents and secondary data drawn from the data reports from the local health center or district office.

Results of research by Chi-Square test (α <0.05) showed a significant relationship between

family behaviors regarding the use of toilet with the occurrence of diarrhea disease. Results of research on family behavior toward the use of good latrines by 27 people (16%), quite as many as 66 people (39%), while the less as many as 77 people (45%). Respondents diarrhea diseases that occur as many as 132 people (78%) while that does not happen diarrheal disease were 38 women (22%). Effect of family behaviors regarding the use of latrines with diarrheal disease incidence by Chi-Square test results obtained p value 0.00.

The conclusion of this study that there is significant correlation between family behaviors regarding the use of latrines with the occurrence of diarrheal disease. There is a tendency of behavior that the behavior of people less well on the use of latrines, the possibility for greater exposure to diarrheal disease or vice versa.

Key words: Total sanitation movement: Behavior To use of toilet, diarrhea.

PENDAHULUAN

Program pembangunan kesehatan nasional bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemauan hidup sehat sehingga terwujud derajat kesehatan yang optimal. Derajat kesehatan

masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor; faktor yang paling besar pengaruhnya adalah faktor perilaku dan lingkungan. Derajat kesehatan masyarakat dapat dicapai dengan mengubah sikap dan perilaku keluarga yang kurang baik terhadap kesehatan lingkungan. Ruang

(2)

33 lingkup kesehatan lingkungan tersebut

salah satunya adalah pembuangan kotoran manusia atau pemanfaatan jamban oleh keluarga. Kondisi lingkugan yang jelek, sikap dan perilaku yang tidak sehat dapat menimbulkan berbagai penyakit salah satunya adalah penyakit diare (Dinkes Propinsi Jatim, 2001:1 ).

Pemanfaatan jamban sebagai tempat pembuangan kotoran manusia (tinja), dimana tinja sangat dipandang sebagai benda yang dapat membahayakan kesehatan bila tidak ditangani secara serius tinja bisa di jadikan sebagai media untuk penularan penyakit. Terjadinya penularan penyakit akan semakin diperparah lagi terutama pada saat kodisi iklim dimusim penghujan, sehingga penyebaran penyakit yang ditularkan air ini akan lebih cepat penularannya. Beberapa penyakit yang diakibatkan oleh pembuangan tinja disembarangan tempat diantaranya yaitu hepatitis, demam thipoid dan yang paling banyak adalah diare. Dimanfaatkannya jamban oleh keluarga maupun masyarakat yang memenuhi syarat kesehatan, dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan penyebaran penyakit menular dapat diminimalkan, serta dapat mendukung terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat (Entjang, 2000 :74 ). Dari semua penduduk Kabupaten Bondowoso yang diperiksa keadaan lingkungan keluarga yang memiliki akses terhadap jamban sehat yaitu sebanyak 95.347 keluarga, atau hanya 21.76 % (20.751 keluarga) yang memiliki jamban. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar masyarakat Bondowoso banyak yang belum mempunyai jamban, sehingga dampak perilaku yang tidak sehat masih nampak yaitu masih banyak buang air besar ke sungai atau disembarang tempat (Dinkes Kabupaten Bondowoso,2006 ).

Angka kejadian penyakit diare di Puskesmas kecamatan Pakem juga merupakan penyakit menular yang cukup tinggi dan termasuk dalam 10 besar penyakit terbanyak. Pada tahun 2006

angka kejadian diare 654 kasus (56,72%), pneumonia 4 kasus (1,67%) dan penyakit TB paru 9 kasus positif dan 132 kasus suspek TB (Puskesmas Pakem, 2006). Pada tahun 2007 angka kejadian penyakit diare 659 kasus (57,85%), pneumonia 5 kasus (2,3%) dan TB paru 7 kasus positif dan 126 suspek ( Puskesmas Pakem, 2007 ).

Penyakit diare yang timbul dimasyarakat dapat terjadi secara mewabah atau menular dengan cepat apabila sumber mata air yang digunakan oleh masyarakat tercemar oleh bakteri atau kuman yang dapat menyebabkan diare, hal ini sering terjadi pada masyarakat yang tinggal di aliran sungai dan menggunakan air sungai untuk kegiatan mandi, mencuci dan masak yang sudah tercemar bakteri. Penyakit diare yang terjadi di lingkungan keluarga jika tidak segera ditangani dengan baik dapat mengakibatkan kematian. (Sjaifoellah,1999 : 454 ).

Mengingat jumlah penderita diare yang salah satunya merupakan akibat dari sikap dan perilaku keluarga yang kurang mengerti akan manfaat jamban bagi keluarga maupun masyarakat maka perlunya optimalisasi gerakan sanitasi total melalui pelaksanan program PHBS dan CLTS. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) ditekankan pada penggunaan jamban oleh keluarga (Dinkes Propinsi Jatim,2005 : 6).

Pelaksanaan program fasilitasi CLTS (Community Lead Total Sanitation ) dengan prinsip melakukan pemicuan perilaku keluarga terhadap rasa jijik buang air besar disembarang tempat, rasa malu, rasa takut sakit, rasa berdosa karena menyebabkan dampak penyakit ke orang lain dan rasa tanggung jawab secara bersama-sama yang berkaitan dengan kebiasaan buang air besar di sembarang tempat sehingga dapat menekan jumlah kejadian penyakit diare (Dinkes Propinsi Jatim, 2005 : 6 ).

(3)

34

METODEPENELITIAN

Desain penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif yang bersifat observasional yaitu dengan melakukan pengukuran pada masing-masing variabel dengan mengamati hubungan perilaku keluarga tentang pemanfaatan jamban dengan frekuensi kejadian penyakit diare di Desa Petung dusun Krajan, Kecamatan Pakem Kabupaten Bondowoso. Pemilihan Desa Petung sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan berdasarkan data di Puskesmas merupakan angka tertinggi kasus diare, secara geografis letak Desa Petung banyak sungai, gumuk dan pekarangan terbuka, sementara jumlah jamban relaitif sedikit sehingga memungkinkan masyarakat BAB di sungai atau ditempat terbuka.

Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga yang bertempat tinggal di Desa Petung, Kecamatan Pakem, Kabupaten Bondowoso. Sampel dalam penelitian ini adalah keluarga yang tinggal di Dusun Krajan dengan total KK di dusun tersebut sebanyak 295 KK.. Sampel akan diambil dengan cara sistematic random

sampling dan dengan jumlah sampel yang

representative, dengan perhitungan rumus maka ditentukan sebanyak 179 responden.

Sistematic random sampling dilaksanakan

berdasarkan penentuan nomor urut KK yang genap atau ganjil. Dan penentuan subyek (responden) dilakukan dengan cara random.

Pengolahan data dilakukan secara kuantitatif, data pokok yang dikumpulkan dengan kuesioner, observasi dan wawancara pada responden dan diolah secara kuantitatif dengan memanfaatkan teknik tabulasi silang (cross tabulation) Dari data yang telah terkumpul maka peneliti menggunakan uji statistik yang digunakan menurut data yang ada adalah uji Chi Square, dengan tingkat kesalahan 0,05. Dengan perhitungan bila hasilnya lebih kecil atau sama dari 0,05 maka ada hubungan antara perilaku pemanfatan

jamban oleh keluarga yang baik dengan kejadian penyakit diare dan sebaliknya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Distribusi responden berdasarkan perilaku kebiasaan BAB

Sebagian besar kebiasaan BAB masih ke sungai yaitu sebanyak 166 orang ( 68 % ), BAB ke kakus (jamban) sebanyak 37 orang ( 22 %), dan BAB ke kebun (sembarang tempat) sebanyak 17 orang (10%).

Distribusi Responden Berdasarkan kepemilikan jamban

Sebagian besar responden tidak mempunyai jamban yaitu sebanyak 133 responden ( 78 % ) dan yang mempunyai jamban hanya 17 responden (22%).

Perilaku Keluarga Tentang pemanfaatan jamban

Perilaku keluarga terhadap pemanfaatan jamban yang baik sebanyak 27 orang ( 16 % ), cukup sebanyak 66 orang (39 %), sedangkan yang kurang sebanyak 77 orang ( 45 % ).

Distribusi Angka Kejadian Penyakit Diare

Persentase angka kejadian penyakit diare di dusun krajan desa petung kecamatan pakem kabupaten bondowoso, yang terjadi penyakit diare sebanyak 132 orang ( 78 % ), sedangkan yang tidak terjadi penyakit diare sebanyak 38 orang ( 22 % ).

Hubungan Perilaku Keluarga Tentang Pemanfaatan Jamban Dengan Kejadian Penyakit Diare

Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian (lihat tabel 1), persentase hubungan perilaku keluarga terhadap manfaat jamban dengan kejadian penyakit diare, dimana responden yang memiliki kategori perilaku kurang sebanyak 80 orang ( 47 % ) yang tidak terjadi diare 5

(4)

35 orang (13 % ) terjadi diare 75 orang ( 57%

), kategori cukup sebanyak 59 orang ( 31 % ) yang tidak terjadi diare 11 orang ( 29 % ) terjadi diare 48 orang ( 36 % ), sedangkan dengan kategori baik sebanyak 31 orang ( 18 %) yang tidak diare 22 orang ( 58 % ) terjadi diare 9 orang ( 7 % ). Dari

data pada tabel 1 menunjukkan bahwa responden yang menderita diare lebih banyak terjadi pada responden yang memiliki perilaku yang kurang baik terhadap manfaat jamban dan pemanfaatanya.

Tabel 1. Tabel hasil hubungan perilaku keluarga tentang pemanfaatan jamban dengan kejadian penyakit diare di dusun krajan desa petung kecamatan pakem kabupaten bondowoso pada Agustus 2009

PERILAKU ANGKA KEJADIAN PENYAKIT DIARE

JUMLAH TIDAK TERJADI DIARE TERJADI DIARE

KURANG 5 13 % 75 57 % 80 47 % CUKUP 11 29 % 48 36 % 59 35 % BAIK 22 58 % 9 7 % 31 18 % JUMLAH 38 22 % 132 78 % 170 100 %

Sumber : Data Primer Diolah, 2009

Trend atau kecenderungan Angka Kejadian Penyakit Diare Di Kecamatan Pakem

Trend atau kecenderungan angka kejadian penyakit diare dikecamatan pakem kabupaten bondowoso cenderung fluktuatif, pada tahun 2007 sampai dengan bulan juni tercatat di Puskesmas Pakem terjadi penyakit diare sebanyak 247 orang, pada tahun 2008 pernah terjadi wabah atau kejadian luar biasa (KLB) yaitu mencapai 2008, sedangkan tahun 2009 sampai bulan September tercatat sebanyak 494 orang mengalami diare. Dan berdasarkan kajian data menunjukkan angka kenaikan terjadinya kasus diare mulai terjadi pada bulan-bulan Juni sampai dengan September, diperkirakan pada bulan tersebut masih dalam kondisi musim kemarau dimungkinkan karena perilaku BAB masyarakat disembarang tempat bisa menjadi pemicu proses penularan penyakit diare yang dibawa oleh vector serangga melalui makanan yang tertular oleh bakteri atau kuman yang masuk ke saluran pencernaan.

Perilaku keluarga yang mempunyai kriteria perilaku baik pada umumnya pada keluarga yang memahami tentang pola perilaku PHBS hal ini ditunjukkan beberapa perilaku diantaranya adalah pemahaman tentang jarak sumur dengan jamban lebih dari 10 meter sebanyak 170 orang (100%), keluarga menggunakan jamban untuk berak sebanyak 37 orang (22%) dan keluarga merasa malu berak di tempat terbuka sebanyak 143 orang (84%), keluarga merasa jijik berak di sungai sebanyak 37 orang (12%), keluarga merasa takut terkena penyakit sebanyak 68 orang (40%), keluarga yang merasa berdosa berak di tempat terbuka sebanyak 126 orang (74%). Perilaku keluarga yang mempunyai kriteria cukup yaitu keluarga yang sedikit mengerti tentang jamban yang memenuhi syarat sebanyak 158 orang (93%), keluarga yang kebiasaan berak dikakus sebanyak 37 (22%), keluarga merasa malu berak di tempat terbuka sebanyak 143 orang (84%), keluarga takut terkena penyakit sebanyak 68 orang (40%), keluarga yang merasa berdosa berak di tempat terbuka sebanyak 126 orang (74%),

(5)

36 dan keluarga yang tidak bertanggung

jawab terhadap lingkungan sekitar sebanyak 92 orang (54%). Sedangkan perilaku keluarga dengan kriteria perilaku kurang baik terjadi pada keluarga yang tidak memakai jamban untuk buang air besar sebanyak 133 orang (78%), keluarga yang merasa tidak malu bila berak di tempat terbuka sebanyak 143 orang (84%), keluarga yang tidak merasa jijik berak di sungai sebanyak 133 orang (78%), keluarga yang mau bertanggung jawab bila berak di sembarang tempat sebanyak 78 orang (46%). Kurang mengertinya keluarga dalam hal ini juga dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat serta kesadaran diri keluarga akan program CLTS. Skinner pada tahun 1938 mengemukakan bahwa perilaku adalah respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku keluarga terhadap manfaat jamban ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut berespon (Notoatmodjo, 2007: 133).

Keberhasilan keluarga dalam meningkatkan kesehatannya adalah sikap, perilaku dan pendekatan fasilitator dengan program CLTS ( Community Lead Total

Sanitation ) yang bertujuan untuk memicu

kesadaran diri diantara anggota keluarga. Hal yang harus dipicu adalah rasa jijik, rasa malu, takut sakit, rasa berdosa dan rasa tanggung jawab, sehingga keluarga sendiri dapat merubah perilakunya masing-masing untuk menghentikan buang air besar di tempat terbuka dan membangun serta menggunakan jamban ( Dinkes Propinsi Jatim,2005 ).

Perilaku keluarga dengan buang air besar di sembarang tempat akan dapat menyebabkan timbulnya gangguan kesehatan melalui vector serangga atau binatang penular penyakit, diantaranya yaitu penyakit diare. Cara penularan penyakitnya melalui kotoran manusia yang mempunyai perilaku buang air besar di sembarang tempat. Kondisi ini dapat

dicegah dengan memutuskan mata rantai penularan penyakit melalui kotoran manusia yaitu ; penggunaan jamban yang memenuhi persyaratan kesehatan, cuci tangan dan mencegah kontak langsung dengan kotoran apalagi setelah BAB yang dapat mencemari makanan yang masuk ke saluran pencernaan, sehingga dianjurkan untuk membiasakan mencuci tangan sesudah BAB dan sebelum menyajikan makanan.

Dari data yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang menderita diare lebih banyak terjadi pada responden yang memiliki perilaku yang kurang baik terhadap manfaat jamban dan pemanfaatanya.

Sikap dan perilaku mempunyai peranan penting terhadap timbulnya suatu penyakit (diare). Kebiasaan yang buruk yang dapat mempengaruhi terjadinya penyakit diare, seperti kebiasaan makan yang belum dimasak, makan yang kotor atau makanan yang sudah terkontaminasi. Selain itu perilaku yang berhubungan seperti kebiasaan buang tinja di sembarang tempat bukan pada jamban dan atau tempat yang terisolasi..

Hasil penelitian tersebut diatas menunjukkan bahwa perilaku keluarga tentang manfaat dan pemanfaatan jamban dengan kejadian penyakit diare ada hubungan yang signifikan yaitu semakin kurang baik sikap dan perilaku keluarga tentang pemanfaatan jamban maka kemungkinan untuk terpapar penyakit diare semakin besar, tetapi terjadinya penyakit diare dapat juga disebabkan pula faktor internal yaitu : pengaruh imunitas atau kekebalan, malabsorbsi, faktor psikologis, makanan atau nutrisi, sedangkan faktor eksternal yaitu : status sosial ekonomi keluarga, maupun pekerjaan.

Berdasarkan hasil analisis data penelitian, setelah dilakukan analisis penghitungan statistik diperoleh nilai p sebesar 0,00 , maka nilai p lebih kecil dari 0,05 ( < 0,05 ), sehingga bias dimaknai H0

(6)

37 ditolak dan H1 diterima.

Artinya ada hubungan yang signifikan antara perilaku keluarga tentang pemanfaatan jamban dengan kejadian penyakit diare Desa Petung Kecamatan Pakem Kabupaten Bondowoso.

KESIMPULAN

1. Perilaku keluarga tentang pemanfaatan jamban Desa Petung Kecamatan Pakem Kabupaten Bondowoso sebagian besar masih menunjukkan perilaku yang kurang baik, yaitu 77 responden (45%) dan kriteria perilaku cukup baik sebanyak 66 responden (39 %) dan yang perilaku baik sebanyak 27 (16%).

2. Berdasarkan data menunjukkan bahwa sebagian besar responden pernah mengalami penyakit diare yaitu sebanyak 78 % atau 132 responden. 3. Ada pengaruh antara perilaku keluarga

tentang manfaat jamban dengan kejadian penyakit diare di Desa Petung Kecamatan Pakem Kabupaten Bondowoso, dengan hasil penghitungan diperoleh nilai uji Chi Square p kurang 0,05. ada kecenderungan bahwa perilaku yang kurang baik terhadap pemanfaatan jamban akan mengakibatkan angka terjadinya penyakit diare meningkat.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto,S. (2006 ). ProsedurPenelitian,

Jakarta : Rineka Cipta

Alimul H, Azis. ( 2003 ). Riset

Keperawatan dan Tehnik

Penulisan Ilmiah, Jakarta:

Salemba Medika

Depkes RI. ( 1998 ). Standard Pelayanan

Medis, Jakarta : DepKes RI

_________ . ( 2000 ). Perilaku Hidup

Bersih Dan Sehat, Jakarta :

Depkes RI

_________ . ( 2002 ). Manjemen Terpadu

Balita Sakit ( MTBS ), Jakarta :

DepKes RI

Dinkes Propinsi Jatim. ( 2001 ). Buku

Pedoman Pelaksanaan PHBS

Bagi Pengelola Program di

wilayah Kabupaten / kota,

Surabaya : Dinkes Propinsi Jatim _________________ . ( 2005 ). Rumah

tangga sehat, Surabaya : Dinkes

Kesehatan Propinsi Jatim

_________________ . ( 2005 ). Modul

Pelatihan CLTS, Bondowoso : Di

Perbayak DinKes Kabupaten Bondowoso

Dinkes Bondowoso. ( 2006 ). Profil

Kesehatan Kabupaten

Bondowoso, Bondowoso : DinKes

Kabupaten Bondowoso

__________________ . ( 2007 ). Profil

Kesehatan Kabupaten Bondowoso

Tahun 2007, Bondowoso :

DinKes Kabupaten Bondowoso Efendi, N. ( 1998 ). Dasa – Dasar

Keperawatan Kesehatan

Masyarakat ( ed. 2 ), Jakarta :

EGC

Entjang, I. ( 2000 ). Ilmu Kesehatan

Masyarakat, Jakarta : EGC

Kar, K. ( 2004 ). Pertunjuk Praktis

Memicu Sanitasi Total Dipimpin Oleh Masyarakat ( CTLS terjemahan), Di Perbayak Dinkes

Bondowoso.

Mansjoer, A. dkk. ( 2000 ). Kapita Selekta

Kedokteran Jilid 2, Jakarta :

Media Aesculapius FKUI

Notoatmodjo S, Dr. ( 2002 ). Metodologi

Penelitian Kesehatan, Jakarta :

Rineka Cipta

_______________.(2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku,

Jakarta: Rineka Cipta

Nurasalam. ( 2003 ). Konsep dan

Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Jakarta :

Salemba Medika

Nursalam., dan Pariani, S. ( 2001 ).

Metodologi Riset Keperawatan,

(7)

38 Puskemas Pakem. ( 2005 ). Laporan

P2KPUS Tahun 2005,

Bondowoso : Puskesmas Pakem _____________ . ( 2006 ). Laporan

P2KPUS Tahun 2006,

Bondowoso : Puskesmas Pakem Sjaifoellah, Noer M. H. Prof. dr. ( 1999 ).

Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1,

Jakarta : Gaya Baru FKUI

Suklan. H. SKM., et al. ( 2006 ). Petunjuk

Tehnis Penyuluhan Program

Penyehatan Lingkungan

Pemukiman Bagi Petugas

Puskesmas, Bondowoso : DinKes

Kabupaten Bondowoso

Suliha, Uha., Herawani, S., dan Resnayati, Yeti. ( 2002 ). Pendidikan

Kesehatan dalam Keperawatan,

Jakarta : EGC

Supranto J, MA. ( 2001 ). Statistik Teori

dan Aplikasi Jilid 2, Jakarta :

Erlangga

Sutjipto,et al. (2000 ). Pedoman Tehnis

Klinik Sanitasi, Jakarta : Ditjen

Gambar

Tabel  1.    Tabel  hasil  hubungan  perilaku  keluarga  tentang  pemanfaatan  jamban  dengan  kejadian  penyakit  diare  di  dusun  krajan  desa  petung  kecamatan  pakem  kabupaten  bondowoso pada Agustus 2009

Referensi

Dokumen terkait

Dalam suatu lingkungan TK, aktivitas anak sangat beragam dan berbeda, sehingga terbentuklah sebuah pola perilaku yang kompleks dalam satu ruangan dengan kebutuhan fisik yang

Omnibus law is a product of the Act that can revoke or amend several existing laws that can be scattered in several regulations, then streamlined in one Act to better target

Namun, hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mashami et al (2014) yang menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan hasil belajar

b) Minimal Medalion Of Excellent (penghargaan yang diperoleh apabila peserta memenuhi batas nilai minimal) atau yang setara dibidang Akademik, non akademik, maupun

Penelitian dilakukan dengan memahami terlebih dahulu mengenai bentuk umum PDP orde dua, transformasi koordinat, bentuk kanonik PDP linier orde dua, serta

Menjadikan model pembelajaran connectivism untuk meningkatkan pemecahan masalah keterampilan belajar siswa menjadi model pelajaran yang menarik dan membantu tugas guru

For questions 26 to 28 choose the best words to complete the passage.. The coach of the Indonesia basketball team calls a time-out and instructs his players to change

Berdasarkan penelitian parameter chute score didapatkan hasil bahwa temperamen sapi Bali polled lebih jinak pada saat berada dalam kandang jepit daripada sapi Bali