1 Indonesia sebagai suatu negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.508 pulau, memiliki potensi sumberdaya pesisir dan lautan yang sangat besar. Sumberdaya alam yang terdapat di wilayah pesisir dan lautan terdiri atas sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) seperti perikanan, hutan mangrove, dan terumbu karang, maupun sumberdaya yang tidak dapat pulih (non-reneweble resources) seperti minyak bumi dan gas mineral serta jasa-jasa lingkungan (Dahuri, dkk., 2001). Penduduk Indonesia yang besar memberi tekanan besar pula pada lingkungan hidup. Pembangunan yang pesat menghasilkan produk sampingan negatif berupa pencemaran dan kerusakan lingkungan. Indonesia sebagai negara berkembang, mempunyai kerusakan lingkungan yang makin bertambah akibat aspek kesadaran lingkungan yang rendah.
Kerusakan dan degradasi ekosistem mangrove saat ini merupakan masalah umum di berbagai negara, terutama negara-negara berkembang dan miskin. Kerusakan ini terutama disebabkan oleh konversi lahan untuk pemukiman, pertambakan, pengambilan kayu dan sebagainya, yang tidak mempertimbangkan kelestarian lingkungan hidup (Nugroho, 2011). Mangrove merupakan salah satu ekosistem langka dan khas di dunia yang area luasnya tinggal 2 % permukaan bumi. Indonesia merupakan kawasan yang memiliki ekosistem mangrove terluas di dunia (Setyawan, 2002). Sejauh
ini di Indonesia tercatat setidaknya 202 jenis terdiri atas 89 jenis pohon, 5 jenis palma, 19 jenis merambat, 44 jenis herba tanah, dan 1 jenis paku. Berdasarkan 202 jenis tersebut, 43 jenis ditemukan di sekitar mangrove dan dikenal sebagai jenis mangrove hutan. Indonesia dengan demikian terlihat memiliki keragaman jenis mangrove yang tinggi (Noor, 1999).
Mangrove sebagai salah satu ekosistem pendukung kehidupan penting di wilayah kepesisiran dan laut. Mangrove selain mempunyai fungsi ekologis sebagai penyedia nutrient bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan bagi berbagai macam biota, penahan abrasi, amukan angin taufan dan tsunami, penyerap limbah, pencegah intrusi air laut, dan lain sebagainya, hutan mangrove juga mempunyai fungsi ekonomis penting seperti penyedia kayu, daun-daunan sebagai bahan baku obat-obatan, dan lain-lain. Lebih dari 70 macam pohon mangrove telah diidentifikasi berguna bagi kepentingan umat manusia, baik produk langsung seperti bahan bakar dan bahan bangunan, maupun produk tidak langsung seperti tempat rekreasi dan bahan makanan (Dahuri, dkk., 2001).
Ekosistem hutan mangrove merupakan salah satu sumberdaya hayati yang sangatpotensial, karena memiliki karakteristik unik dan khas yang mampu beradaptasi pada perubahan lingkungan perairan yang ekstrim. Ekosistem hutan mangrove meskipun demikian, rentan terhadap kerusakan jika keseimbangan lingkungan tidak terjaga dan terpelihara. Menurut Soesanto dan Sudomo (1994) kerusakan ekosistem mangrove disebabkan oleh berbagai hal, yaitu (1) kurang dipahaminya kegunaan ekosistem
mangrove; (2) tekanan ekosistem masyarakat miskin yang bertempat tinggal dekat atau sebagai bagian dari ekosistem mangrove; dan (3) pertimbangan ekonomi lebih dominan dari pada pertimbangan lingkungan hidup.
Kondisi hutan mangrove di pesisir Kota Semarang sejak lama mengalami degradasi secara luas, akibat dari abrasi dan perubahan lahan. Kelurahan Tugurejo terletak di wilayah pesisir Semarang bagian barat dengan mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani tambak. Abrasi terjadi pada pesisir Laut Jawa, maka secara langsung masyarakat mengalami dampak negatif. Permasalahan yang muncul antara lain tergerusnya daratan yang mengakibatkan penyempitan luasan tambak, abrasi dan rob yang menyebabkan hilangnya tambak serta menurunnya kualitas air tambak secara drastis sehingga menyebabkan kuantitas dan kualitas produksi tambak menurun. Kondisi lingkungan akibat pembangunan belasan industri di sekitar wilayah kelurahan tersebut telah memperburuk keadaan karena keluaran limbah industri berupa limbah kimia. Sungai Tapak yang berada di wilayah tersebut merupakan andalan dalam penyediaan air tawar dan saluran irigasi pertanian, saat ini telah tercemar limbah rumah tangga dan limbah industri. Kondisi ini menyebabkan kualitas air menurun dan membahayakan ikan-ikan yang dibudidayakan dalam tambak (Ermiliansa dkk., 2014).
Permasalahan yang terjadi pada ekosistem mangrove tersebut membutuhkan suatu upaya penanggulangan. Konservasi mangrove diyakini sebagai usaha adaptasi dampak perubahan iklim di kawasan pesisir yang paling efektif. Konservasi mangrove sering terkendala dengan kepentingan
pembangunan lainnya yang tidak kalah pentingnya bagi kemajuan Kota Semarang. Upaya terpadu dan tegas diperlukan dalam konservasi mangrove mendatang. Harian surat kabar Semarang Raya menyebutkan bahwa Kota Semarang sebagai kota pesisir minim lahan untuk areal konservasi seperti di Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu tersebut. Kepemilikan lahan 200 ha di pesisir Tugu masih didominasi swasta dan pribadi. Pesisir merupakan salah satu fungsi strategis bagi kepentingan konservasi dengan mendorong Pemerintah Kota Semarang mengkaji serius tentang pengembangan pesisir seperti pengembangan ekowisata mangrove (Afri, 2012).
Salah satu strategi penting dalam konteks pengelolaan sumberdaya alam, termasuk ekosistem mangrove adalah pengelolaan berbasis masyarakat (community based management) (Bengen, 2002). Raharjo (1986) dalam Bengen (2002) menyebutkan bahwa pengelolaan berbasis masyarakat mengandung arti keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam di suatu kawasan. Mengelola mengandung arti masyarakat ikut memikirkan, memformulasikan, merencanakan, mengimplementasikan, memonitor dan mengevaluasi sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Pemuda Dusun Tapak Kelurahan Tugurejo tergerak untuk membuat Perkumpulan Pemuda Peduli Lingkungan “Prenjak”. Tujuan dibentuknya Prenjak adalah meningkatkan mutu sumberdaya manusia yang berjiwa peduli lingkungan, memberikan dan menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan terhadap masyarakat, berperan aktif dalam kegiatan konservasi,
kampanye, advokasi dan menyuarakan masalah lingkungan, serta usaha-usaha lain sepanjang tidak bertentangan dengan azas, maksud dan tujuan perkumpulan serta norma hukum yang berlaku.
Aktivitas kepedulian terhadap lingkungan yang dilakukan oleh Prenjak dengan melakukan aksi konservasi dan rehabilitasi mangrove, mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Kota Semarang. Melihat potensi hutan mangrove yang telah direhabilitasi dan dapat dikembangkan, pilihan kepada pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan menjadi suatu keharusan bagi pemerintah. Eco Edu Wisata merupakan gagasan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang pada tahun 2012 melalui penyusunan Detail Engineering Design (DED) Eco Edu Wisata Mangrove (EEWM) Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Eco Edu Wisata Mangrove merupakan pengembangan wisata yang menghargai kaidah-kaidah alam dengan melaksanakan program pembangunan dan pelestarian secara terpadu antara upaya konservasi sumberdaya alam yang dilakukan dengan melaksanakan program pembangunan yang memperhatikan kualitas daya dukung lingkungan dan ramah lingkungan. Konsep EEWM ini merupakan salah satu alternatif untuk pengembangan kawasan pariwisata dalam suatu wilayah pesisir yang tetap memperhatikan konservasi mangrove dengan menggunakan sumberdaya serta budaya masyarakat lokal (DKP Kota Semarang, 2012).
Ekowisata merupakan bentuk wisata yang erat berhubungan dengan prinsip konservasi. Strategi pengembangan ekowisata juga menggunakan
strategi konservasi. Ekowisata sangat tepat dan berdaya guna dalam mempertahankan keutuhan dan keaslian ekosistem di areal yang masih alami sehingga menimbulkan industri pariwisata (Eplerwood, 1999). Kawasan budidaya mangrove di Dusun Tapak belum ditetapkan sebagai kawasan Eco Edu Wisata namun telah menjadi destinasi yang menarik bagi wisatawan baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Kawasan ini menarik bagi wisatawan karena memiliki keunikan sumberdaya alam beserta bentang alamnya yang indah, serta kearifan sosial budaya masyarakat di sekitar Dusun Tapak. Potensi yang demikian merupakan modal dalam mengembangkan Eco Edu Wisata Mangrove di Dusun Tapak. Ekowisata diberi batasan sebagai bentuk dan kegiatan wisata yang bertumpu pada lingkungan dan bermanfaat secara ekologis, sosial, ekonomi bagi masyarakat lokal serta bagi kelestarian, ketahanan lingkungan dan pemanfaatan yang berkelanjutan (Nugroho, 2011).
Upaya konservasi hutan mangrove yang telah dilakukan oleh pemuda dan masyarakat sekitar serta kesesuaian yang dimiliki oleh kawasan mangrove Dusun Tapak untuk dijadikan kawasan Eco Edu Wisata apabila direalisasikan, dapat membantu pengembangan pariwisata di Kota Semarang. Pemilihan lokasi di Dusun Tapak, karena Dusun Tapak merupakan salah satu pusat pembudidayaan mangrove di Provinsi Jawa Tengah dan telah dirintis serta dikembangkan sebagai embrio Eco Edu Wisata Mangrove. Selain itu, sumberdaya manusia pemuda yang dimiliki sangat berpotensi untuk dikembangkan. Pemuda Prenjak sebagai lembaga swadaya yang sudah mengelola mangrove secara turun temurun, dengan berbagai keterbatasannya
saat ini sedang berupaya mengembangkan kawasan Eco Edu Wisata tersebut. Dusun Tapak memiliki hutan yang gersang dan belum dilirik oleh masyarakat sebelum adanya aksi Prenjak tersebut. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti masalah terkait perspektif ketahanan lingkungan dengan mengangkat judul “Peran Pemuda dalam Mengembangkan Eco Edu Wisata Mangrove dan Implikasinya terhadap Ketahanan Lingkungan Daerah (Kasus pada : Perkumpulan Pemuda Peduli Lingkungan “Prenjak” Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah”).
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan pada sub bab sebelumnya, untuk membatasi penelitian agar tidak menjadi bias, maka rumusan masalah yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana peran pemuda Prenjak dalam mengembangkan Eco Edu Wisata Mangrove di Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah?
2. Bagaimana implikasi pengembangan Eco Edu Wisata Mangrove oleh pemuda Prenjak terhadap ketahanan lingkungan daerah di Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah?
1.3. Keaslian Penelitian
Pada hakikatnya, terdapat tiga pilar utama yang secara struktural merupakan satu kesatuan integral dalam melihat keaslian sebuah penelitian. Tiga pilar utama yang dimaksud adalah :
1. Locus atau lokasi penelitian ini dilakukan di kawasan Eco Edu Wisata Mangrove Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo, Keamatan Tugu, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
2. Fokus penelitian ini adalah peran pemuda dalam mengembangkan Eco Edu Wisata Mangrove dan hasil pengembangan tersebut.
3. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pemaparan deskriptif melalui pendekatan studi pada wilayah yang dijadikan obyek dalam penelitian ini.
Memperhatikan penelitian-penelitian sebelumnya, maka berdasarkan relevansi keilmuan dan lokasi penelitian yang berbeda, peneliti tetap melanjutkan penelitian ini. Penelitian mengenai peran pemuda dalam mengembangkan Eco Edu Wisata Mangrove dalam rangka membangun ketahanan lingkungan daerah ditinjau dari keilmuan Ketahanan Nasional, peneliti buat sebagai karya ilmiah dalam rangka menyelesaikan tesis pada Program Studi Ketahanan Nasional Universitas Gadjah Mada. Perbedaan penelitian terdahulu dan penelitian yang dilakukan disajikan pada Tabel 1.1.
1 Peneliti : Ratih Aulia Rahmayanti, (2009). Penelitian ditinjau dari keilmuan Lingkungan Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Desa Sidodadi Kec. Padang Cermin Kab. Pesawaran, Prov. Lampung
Tujuan penelitian tersebut :
Mengkaji zona kerusakan ekosistem mangrove; mengkaji distribusi tingkat pengetahuan dan tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan pada ekosistem mangrove; mengkaji hubungan antara kondisi sosial ekonomi terhadap tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan pada ekosistem mangrove; dan merumuskan strategi pengelolaan lingkungan pada ekosistem mangrove berbasis masyarakat.
Interpretasi citra secara manual dan survey lapangan (field survey) dan metode survey melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner.
Lokasi penelitian berbeda. Peneliti
mengambil lokasi di Kawasan Eco
Edu Wisata Mangrove Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo.
Fokus penelitian berbeda peneliti akan lebih memfokuskan pada peran pemuda.
Metode penelitian berbeda, peneliti menggunakan kualitatif-deskriptif analitis. 2 Peneliti : La Saudi, (2009). Penelitian ditinjau dari Keilmuan Pariwisata Kajian Potensi Sumberdaya Alam Kabupaten Muna untuk Pengembangan
Ekowisata.
Tujuan penelitian tersebut:
Mengetahui potensi sumberdaya alam dan budaya masyarakat untuk dijadikan kawasan ekowisata; mengetahui permintaan wisatawan terhadap obyek wisata; mengetahui keinginan masyarakat lokal terhadap pengembangan ekowisata; mengkaji faktor pendukung yang mendorong dan menunjang pengembangan ekowisata;
menentukan strategi pengembangan wisata alam dan budaya. Metode Survey dan wawancara dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif.
Lokasi penelitian berbeda. Peneliti
mengambil lokasi di Kawasan Eco
Edu Wisata Mangrove Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo.
Fokus penelitian berbeda peneliti akan lebih memfokuskan pada peran pemuda. 3 4 Peneliti : Williem David Fredrik G, (2012) Penelitian ditinjau dari Keilmuan Lingkungan Peneliti : Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Pelestarian Ekosistem Hutan Mangrove Kasus di Wilayah Kepesisiran Kota Dobo Kab.
Kepulauan Aru Provinsi Maluku
Peran DPRD dan
Tujuan penelitian tersebut:
Mengidentifikasi permasalahan lingkungan akibat pemanfaatan sumberdaya alam dan pengaruhnya terhadap ekosistem hutan mangrove; mengetahui tingkat persepsi dan peran serta masyarakat; mengetahui kebijakan Pemerintah Daerah memberdayakan masyarakat dalam upaya pelestarian ekosistem hutan mangrove,
merumuskan strategi pelestarian ekosistem hutan mangrove berbasis pemberdayaan masyarakat. Tujuan penelitian tersebut :
Adopsi metode rancangan studi kasus, penelitian deskriptif dan penelitian survey. Metode
Lokasi penelitian berbeda. Peneliti
mengambil lokasi di Kawasan Eco
Edu Wisata Mangrove Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo.
Fokus penelitian berbeda peneliti akan lebih memfokuskan pada peran pemuda.
Fokus penelitian berbeda peneliti akan lebih memfokuskan pada peran
Penelitian ditinjau dari Kelimuan Lingkungan
Mangrove di Wilayah Pesisir Kec. Tugu, Kota Semarang.
Mangrove di wilayah pesisir Tugu metode
pengumpulan data, dan metode analisis data menggunakan kualitatif-deskriptif analitis. 5 Peneliti : Idah Rosidah (2014). Partisipasi Pemuda dalam Pengembangan Kawasan Ekowisata dan Implikasinya terhadap Ketahanan Masyarakat Desa (Studi di Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Kec. Patuk, Kab. Gunung Kidul, Provinsi DIY.
Tujuan penelitian tersebut :
Mengetahui bentuk partisipasi pemuda dalam mengembangkan kawasan ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran, untuk menganalisis kendala yang dihadapi pemuda dalam mengembangkan kawasan ekowisata Gunung Api Purba
Nglanggeran, untuk mengidentifikasi upaya pemuda dalam mengembangkan kawasan ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran dan implikasinya terhadap ketahanan masyarakat desa.
Metode penelitian kualitatif dengan pemaparan secara deskriptif. Pendekatan penelitian dengan studi pada suatu permasalahan yang terjadi di Masyarakat.
Lokasi penelitian berbeda. Peneliti
mengambil lokasi di Kawasan Eco
Edu Wisata Mangrove Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo.
Fokus penelitian berbeda peneliti akan lebih memfokuskan pada peran pemuda.
6 Peneliti :
Fitriyani (2015)
Peran Pemuda dalam
Mengembangkan Eco
Edu Wisata Mangrove dan Implikasinya terhadap Ketahanan Lingkungan Daerah (Kasus pada : Perkumpulan Pemuda Peduli Lingkungan “Prenjak” Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo, Kec. Tugu, Kota Semarang, Prov. Jawa Tengah
Tujuan penelitian tersebut :
Mengetahui dan mengkaji peran pemuda dalam
mengembangkan Eco Edu Wisata Mangrove;
mengetahui dan mengkaji kendala yang dihadapi
pemuda dalam mengembangkan Eco Edu Wisata
Mangrove; mengetahui dan mengkaji implikasi
program pengembangan Eco Edu Wisata
Mangrove terhadap ketahanan lingkungan.
Metode kualitatif dengan penelitian deskriptif menggunakan penalaran induktif analitik. Pendekatan penelitian dengan studi pada suatu permasalahan yang terjadi di masyarakat.
-
1.4. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa hal mendasar yang mendukung menguatnya ketahanan lingkungan daerah yang dapat dilakukan dengan pengembangan Eco Edu Wisata Mangrove, yakni:
1. Mengkaji peran pemuda Prenjak dalam mengembangkan Eco Edu Wisata Mangrove di Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
2. Mengkaji implikasi pengembangan Eco Edu Wisata Mangrove oleh pemuda Prenjak terhadap ketahanan lingkungan daerah di Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
1.5.Manfaat Penelitian
1.5.1. Aspek Teoritis
Memperkaya ilmu pengetahuan bagi pengembangan program kepemudaan dalam hal ini Universitas Gadjah Mada dan Pemerintah Jawa Tengah pada umumnya, juga pihak KEMENPORA RI sebagai penyelenggara program khususnya.
1.5.2. Aspek Pembangunan
1. Manfaat bagi Program Studi Ketahanan Nasional
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan tambahan pengetahuan dalam pengembangan ilmu, khususnya mengenai peran pemuda dalam pengembangan Eco Edu Wisata Mangrove dan implikasinya terhadap ketahanan lingkungan daerah.
Mangrove yang begitu penting untuk peningkatan ketahanan lingkungan daerah di Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang.
3. Manfaat bagi Pemuda
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran rumusan riil tentang pengembangan dan peningkatan sumberdaya manusia pemuda sehingga potensi pemuda dapat didayagunakan dengan maksimal.