• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

25

BAB II

TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

2.1. Tinjauan Teoretis

2.1.1. Ketidakrelevanan Dividen

Evaluasi pengaruh rasio pembayaran dividen terhadap kekayaan pemegang saham dapat dilakukan dengan melihat kebijakan dividen perusahaan sebagai keputusan pendanaan yang melibatkan laba ditahan. Setiap periode, perusahaan harus memutuskan apakah laba yang diperoleh akan ditahan atau didistribusikan sebagian atau seluruhnya pada pemegang saham sebagai dividen tunai. Sepanjang perusahaan memiliki proyek investasi dengan pengembalian melebihi yang diminta, perusahaan akan menggunakan laba untuk mendanai proyek tersebut. Jika terdapat kelebihan laba setelah digunakan untuk mendanai seluruh kesempatan investasi yang diterima, kelebihan itu akan didistribusikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen tunai. Jika tidak ada kelebihan, maka dividen tidak akan dibagikan. Jika dana yang dibutuhkan untuk membiayai proyek melebihi jumlah laba ditahan ditambah sekuritas senior yang akan didukung oleh laba ditahan ini, perusahaan akan menutupi kekurangan tersebut dengan kombinasi ekuitas baru dan sekuritas senior.

Jika kebijakan dividen sepenuhnya dianggap sebagai keputusan pendanaan, pembayaran dividen kas bersifat residual pasif. Persentase laba dibayarkan sebagai dividen akan berfluktuasi dari satu periode ke periode

(2)

lainnya seiring dengan fluktuasi jumlah peluang investasi yang diterima perusahaan jika terdapat sangat banyak peluang investasi, maka persentase pembayaran laba sebagai dividen cenderung menjadi nol. Disisi lain, jika perusahaan tidak dapat menemukan peluang investasi yang menguntungkan, seluruh laba dapat dibayarkan sebagai dividen. Oleh karena itu, rasio pembayaran dividen merupakan pecahan bernilai antara 0 (nol) dan 1 (satu). Kebijakan dividen residual pasif, sepenuhnya tergantung dari ketersediaan proposal investasi yang dapat diterima, mengandung arti implisit bahwa dividen tidak relevan.

Teori ketidakrelevanan dividen adalah teori yang menyatakan bahwa kebijakan dividen perusahaan tidak mempunyai pengaruh baik terhadap nilai perusahaan maupun biaya modalnya Teori ini menyatakan bahwa nilai suatu perusahaan hanya ditentukan oleh kemampuan dasarnya untuk menghasilkan laba serta resiko bisnisnya. Dengan kata lain, nilai perusahaan tergantung semata-mata pada pendapatan yang dihasilkan oleh aktiva, bukan bagaimana pendapatan tersebut dibagi diantara dividen dan laba yang ditahan (atau pertumbuhan). Asumsi-asumsi yang digunakan adalah:

a. Tidak terdapat pajak pendapatan perseorangan atau perusahaan. b. Tidak terdapat biaya emisi atas jual beli saham.

c. Tingkat leverage keuangan tidak mempunyai pengaruh terhadap biaya modal (masa depan) perusahaan.

d. Distribusi pendapatan mempunyai pengaruh terhadap biaya ekuitas perusahaan.

(3)

27

Modigliani dan Miller (M&M) (dalam Sri Dwi Ambarwati, 2010), memberikan argumen yang paling lengkap mengenai ketidakrelevanan dividen. Mereka mengatakan rasio pembayaran dividen hanya merupakan bagian kecil saja dari keputusan investasi perusahaan. Pembayaran dividen tidak mempengaruhi kekayaan pemegang saham. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa nilai perusahaan sepenuhnya ditentukan oleh kekuatan aktiva perusahaan dalam menghasilkan laba, atau kebijakan investasinya, dan perlakuan aloksi laba menjadi dividen dan laba ditahan tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Dengan kata lain, nilai perusahaan tergantung hanya pada pendapatan yang dihasilkan oleh aktivanya, bukan pada bagaimana pendapatan tersebut dibagi antara dividen dan laba yang ditahan.

Keon et. al (2008:18) menyatakan bahwa pada teori ketidakrelevanan dividen, tak ada hubungan antara kebijakan dividen dan nilai saham. Satu kebijakan dividen sama bagusnya dengan lainnya. Secara agregat investor hanya mementingkan pengembalian total keputusan investasi, tak peduli apakah pengembalian berasal dari perolehan modal atau pendapatan dividen.

2.1.2. Indikator Ketidakrelevanan Dividen

Dalam teori ketidakrelevanan dividen yang digagas Modigliani dan Miller, (dalam Sri Dwi Ambarwati, 2010), memberikan 2 indikator, yaitu : 1. Dividen vs laba ditahan. Pokok persoalan argumen M&M adalah

(4)

saham sepenuhnya diimbangi oleh sarana pendanaan yang lain. Pertama-tama penambahan modal ekuitas diperoleh dari penjualan tambahan saham biasa, bukan dari laba ditahan. Setelah perusahaan membuat keputusan investasi selanjutnya harus diputuskan apakah (1) laba akan ditahan atau (2) laba akan digunakan untuk membayar dividen dan menjual saham sejumlah dividen tersebut untuk mendanai investasi. Menurut M&M jumlah nilai diskonto perlembar saham biasa setelah pendanaan ditambah dividen yang dibayarkan sama dengan nilai pasar saham biasa sebelum pembayaran dividen. Dengan kata lain, penurunan harga pasar saham biasa disebabkan adanya penipisan

(dilution) karena pendanaan ekuitas eksternal sepenuhnya diimbangi

oleh pembayaran dividen. Jadi, apakah laba yang akan diterima akan dibayarkan dalam bentuk dividen atau ditahan oleh perusahaan tidak akan mempengaruhi pemegang saham. Walaupun nilai pasar saham biasa masih merupakan nilai sekarang seluruh dividen yang diharapkan, namun waktu dan besarnya pembayaran dividen dapat berbeda-beda. Ketidakrelavanan dividen menyatakan bahwa nilai sekarang dividen di masa depan tidak akan berubah walaupun terdapat perubahan waktu dan pembayaran dividen menurut kebijakan dividen. Pendapat tersebut tidak menyatakan bahwa dividen, termasuk dividen likuidasi, tidak pernah dibayarkan. Sebaliknya dinyatakan bahwa penundaan dividen tidak mempengaruhi harga pasar saham diatas.

(5)

2. Perlindungan Nilai. Ketidakrelevanan dividen juga menggunakan indikator bahwa terdapat pasar modal yang sempurna dan laba perusahaan di masa depan dapat diketahui dengan pasti. Investor dapat meniru aliran dividen yang mungkin dapat dibayarkan oleh perusahaan di masa depan namun tidak saat ini. Jika dividen lebih rendah dari yang diharapkan, investor dapat menjual sahamnya untuk memperoleh distribusi kas yang mereka inginkan. Jika dividen lebih tinggi dari yang diharapkan, maka investor dapat menggunakan dividen untuk membeli tambahan saham yang diharapkan. Maka, investor dapat menghasilkan dividen “buatan sendiri” sesuai keinginan mereka seperti halnya pengungkit keuangan. Agar keputusan perusahaan memiliki nilai, perusahaan harus dapat melakukan sesuatu bagi para pemegang saham yang tidak dapat dilakukan oleh pemegang saham itu sendiri. Karena para investor dapat menghasilkan dividen buatan sendiri, yang merupakan pengganti sempurna dividen perusahaan, maka kebijakan dividen tidak relevan. Untuk itu, satu kebijakan dividen sama baiknya dengan kebijakan dividen lainnya. Perusahaan tidak dapat menciptakan nilai hanya dengan mengubah bauran dividen laba ditahan. Seperti pada teori struktur modal, terdapat perlindungan nilai sehingga jumlah total tetap sama.

(6)

2.1.3. Pengertian Dividen

Dividen (dividend) adalah pembagian aktiva perusahaan kepada para pemegang saham perusahaan. Dividen dapat dibayar dalam bentuk uang tunai (kas), saham perusahaan, ataupun aktiva lainnya. Semua dividen haruslah diumumkan oleh dewan direksi sebelum dividen tersebut menjadi kewajiban perusahaan. (Henry Simamora, 2000:423).

Dividen merupakan aliran tunai bersih bebas yang didistribusikan perusahaan kepada pemilik saham. Dividen tunai yang diharapkan merupakan variabel pengembalian yang akan menentukan nilai saham bagi pemilik dan investor. Dividen tunai adalah sumber dari aliran kas untuk pemegang saham yang memberikan informasi tentang kinerja perusahaan pada saat ini dan akan datang. Kebijakan dividen adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam keputusan pendanaan perusahaan. Ketika memutuskan berapa banyak uang kas yang harus dibagikan kepada pemegang saham, manajer keuangan harus mengingat bahwa tujuan perusahaan adalah memaksimalkan nilai pemegang saham.

Istilah dividen biasanya dipahami sebagai distribusi kas oleh perseroan kepada pemegang sahamnya. Dividen dinyatakan sebagai jumlah spesifik per lembar saham biasa. Dividen kas adalah pembagian laba oleh perusahaan kepada para pemegang sahamnya. Jumlah yang diterima sepadan dengan banyaknya jumlah lembar saham yang dimilikinya.

(7)

Dividen merupakan bagian dari laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa (earning available for common stockholders) yang dibagikan kepada para pemegang saham biasa dalam bentuk tunai (Warsono, 2003: 271). Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim, (2009:361) menyatakan bahwa “Dividen merupakan kompensasi yang diterima oleh pemegang saham, disamping capital gain. Dividen ini untuk dibagikan kepada para pemegang saham sebagai keuntungan dari laba perusahaan. Dividen ditentukan berdasarkan dalam rapat umum anggota pemegang saham dan jenis pembayarannya tergantung kepada kebijakan pimpinan”.

2.1.4. Jenis-Jenis Dividen

Dividen dapat diberikan dalam berbagai bentuk. Dilihat dari bentuk dividen yang didistribusikan kepada pemegang saham, dividen dapat dibedakaan menjadi beberapa jenis (Fakhruddin, 2008:13) diantaranya sebagai berikut:

1) Dividen tunai (Cash Dividend)

Dividen jenis ini dibagikan dalam bentuk kas atau uang tunai. Dividen tunai paling umum dibagikan oleh perusahaan kepada para pemegang saham.besar kecilnya pembagian dividen tergantung pada pembatasan-pembatasan, undang-undang, kontrak-kontrak dan jumlah uang yang dimiliki atau tersedia dalam perusahaan.

(8)

2) Dividen saham (Stock Dividend)

Pembayaran dividen dalam bentuk saham yaitu berupa pemberian tambahan saham kepada para pemegang saham tanpa diminta pembayaran dan dalam jumlah saham yang sebanding dengan saham yang dimiliki.

3) Sertifikat dividen (Script Dividend)

Dividen dalam bentuk skrip maksudnya perusahaan tidak membayar pada saat itu tetapi memilih membayar pada masa yang akan datang karena saldo kas yang ada di tangan tidak mencukupi. Dividen ini dibagikan dengan tujuan agar perusahaan tetap dapat mempertahankan citra dan nama baik perusahaan.

4) Dividen harta

Aktiva yang dibagi dapat berupa surat berharga yang diterbitkan oleh perusahaan lain,barang-barang persedian lain atau aktiva lain.

5) Dividen likuiditas

Dividen likuiditas merupakan pembayaran kembali modal yang disetor atau ditanam. Pembagian dividen dalam bentuk ini biasanya berasal dari selain laba ditahan.

2.1.5. Indikator Perhitungan Dividen

Menurut Atmaja (2008) yang mempengaruhi perhitungan dividen suatu perusahaan dapatlah disebutkan antara lain sebagai berikut :

(9)

1. Dividend Yield Ratio

Dividend yield ratio adalah rasio yang menghubungkan dividenyang

dibayarkan dengan harga saham biasa (Warsono, 2003: 275). Dividend

yield menunjukkan tingkat penghasilan berjalan yang diperoleh dari

investasi saham perusahaan (Fakhruddin, 2008: 67). Perhitungan

Dividend Yield Ratio mengguanakan rumussebagai berikut

(Subramanyam, K R dan Wild, J John, 2010: 43) :

Dividend Yield Ratio =

2. Dividend Pay out Ratio

Kebijakan dividen merupakan bagian yang menyatu dengan keputusan pendanaan perusahaan. Rasio pembayaraan dividen (dividend pay out

ratio) menentukan jumlah laba yang dapat ditahan sebagai sumber

pendanaan. Semakin besar laba ditahan semakin sedikit jumlah laba yang dialokasikan untuk pembayaraan dividen.

Dividend Pay out Ratio =

2.1.6. Nilai Perusahaan

Tujuan manajemen keuangan perusahaan adalah memaksimalkan kekayaan para pemegang saham, yang berarti meningkatkan nilai perusahaan yang merupakanukuran nilai objektif oleh publik dan orientasi pada kelangsungan hidupperusahaan (Harmono, 2009:19).

Perusahaan ada karena akan menjadi sangat tidak efisien dan mahal bagi pengusaha untuk masuk danmembuat kontrak dengan pekerja

(10)

dan para pemilik modal, tanah dan sumber daya lain untuk setiap tahap produksi dan distribusi yang terpisah. Sebaliknya, pengusaha biasanya masuk dalam kontrak yang besar dan berjangka panjang dengan tenaga kerja untuk mengerjakan berbagai tugas dengan upah tertentu danberbagai tunjangan lain. Kontrak yang umum semacam itu jauh lebih murah ketimbang sejumlah kontrak spesifik dan sangat menguntungkan baik bagi pengusaha maupun pekerja dan pemilik sumber daya lain. Perusahaan ada karena untuk menghemat biaya transaksi semacam itu. Dengan menginternalisasi berbagai transaksi (yaitu dengan menjalankan berbagai fungsi dalam perusahaan), perusahaan juga menghemat pajak penjualan dan menghindari kontrol harga dan peraturan pemerintah yang berlaku hanya untuk transaksi antar perusahaan.

Semula teori perusahaan didasarkan pada asumsi bahwa maksud atau tujuan perusahaan adalah memaksimumkan laba sekarang atau jangka pendek Akan tetapi, berdasarkan pengamatan perusahaan sering kali mengorbankan laba jangka pendek untuk meningkatkan laba masa depan atau jangka panjang. Karena baik keuntungan jangka pendek maupun jangka panjang sangat penting, teori perusahaan (theory of the firm) sekarang mempostulatkan bahwa maksud atau tujuan utama perusahaan adalah untuk memaksimumkan kekayaan atau nilai perusahaan (value of

the firm). Hal ini dicerminkan dari nilai sekarang atas semua keuntungan

(11)

Nilai dari perusahaan bergantung tidak hanya pada kemampuan menghasilkan arus kas, tetapi juga bergantung pada karakteristik operasional dan keuangan dari perusahaan yang diambil alih. Beberapa variabel kuantitatif yang sering digunakan untuk memperkirakan nilai perusahaan sebagai berikut:

1) Nilai Buku

Nilai buku per lembar saham (BVS) digunakan untuk mengukur nilai

shareholders equity atas setiap saham, dan besarnya nilai BVS

dihitung dengan cara membagi total shareholders equity dengan jumlah saham yang beredar. Adapun komponen dari shareholders

equity yaitu agio saham (paidup capital in excess of par value) dan

laba ditahan (retainedearning). 2) Nilai Appraisal

Nilai appraisal suatu perusahaan dapat diperoleh dari perusahaan appraisal independent. Teknik yang digunakan oleh perusahaan appraisal sangat beragam, bagaimanapun nilai ini sering dihubungkan dengan biaya penempatan. Metode analisis ini sering tidak mencukupi dengan sendirinya karena nilai aktiva individual mempunyai hubungan yang kecil dengan kemampuan perusahaan secara keseluruhan dalam kegunaan dalam menghasilkan earnings dan kemudian nilai going

concern dari suatu perusahaan. Bagaimanapun nilai appraisal dari

suatu perusahaan akan bermanfaat sewaktu digunakan dalam penghubungan dengan metode penilaian yang lain. Nilai appraisal

(12)

juga akan berguna dalam situasi tertentu seperti dalam perusahaan keuangan, perusahaan sumber daya alam atau bagi suatu organisasi yang beroperasi dalam keadaan rugi. Kegunaan dari nilai appraisal

akan menghasilkan beberapa keuntungan. Nilai perusahaan yang berdasarkan appraiser independent juga akan menghasilkan pengurangan good-will dengan meningkatkan harga aktiva perusahaan yang telah dikenal. Good-will dihasilkan sewaktu nilai pembelian suatu perusahaan melebihi nilai buku dari aktivanya.

3) Nilai Pasar Saham

Nilai pasar saham sebagaimana dinyatakan dalam kuotasi pasar modal adalah pendekatan lain untuk memperkirakan nilai bersih dari suatu bisnis. Apabila saham didaftarkan dalam bursa sekuritas utama dan secara luas diperdagangkan, sebuah nilai pendekatan dapat dibangun berdasarkan nilai pasar. Pendekatan nilai pasar adalah salah satu yang paling sering dipergunakan dalam menilai perusahaan besar. Bagaimanapun nilai ini dapat berubah secara cepat. Faktor analisis berkompetisi dengan pengaruh spekulatif murni dan berhubungan dengan sentimen masyarakat dan keputusan pribadi.

4) Nilai “Chop-Shop

Pendekatan “Chop-Shop” untuk valuasi pertama kali diperkenalkan oleh Dean Lebaron dan Lawrence Speidell of Batterymarch Financial

Management. Secara khusus, ia menekankan untuk mengidentifikasi

(13)

apabila dipisahkan menjadi bagian-bagian. Pendekatan ini mengkonseptualisasikan praktik penekanan untuk membeli aktiva di bawah harga penempatan mereka.

5) Nilai Arus Kas

Pendekatan arus kas untuk penilaian dimaksudkan agar dapat mengestimasi arus kas bersih yang tersedia untuk perusahaan yang menawarkan sebagai hasil merger atau akuisisi. Nilai sekarang dari arus kas ini kemudian akan ditentukan dan akan menjadi jumlah maksimum yang harus dibayar oleh perusahaan yang ditargetkan. Pembayaran awal kemudian dapat dikurangi untuk menghitung nilai bersih sekarang dari merger. Terdapat tiga jenis penilaian yang berhubungan dengan saham, yaitu nilai buku (book value), nilai pasar

(market value) dan nilai intrinsic (intrinsic value). Nilai buku

merupakan nilai saham menurut pembukuan emiten. Nilai pasar merupakan pembukuan nilai saham di pasar saham dan nilai intrinsik merupakan nilai sebenarnya dari saham. Tujuan utama perusahaan menurut theory of the firm adalah untuk memaksimumkan kekayaan atau nilai perusahaan (value of the firm) (Salvatore, 2005 dalam Susanti, 2010:35). Memaksimalkan nilai perusahaan sangat penting artinya bagi suatu perusahaan, karena dengan memaksimalkan nilai perusahaan berarti juga memaksimalkan kemakmuran pemegang saham yang merupakan tujuan utama perusahaan (Euis dan Taswan, 2002 dalam Murhadi, 2009:148). Menurut Husnan (2008:45) nilai

(14)

perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Sedangkan menurut Keown (2004 dalam Juniarti, 2009:27) nilai perusahaan merupakan nilai pasar atas surat berharga hutang dan ekuitas perusahaan yang beredar. Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang tinggi membuat nilai perusahaan juga tinggi. Nilai perusahaan yang tinggi akan membuat pasar percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini namun juga pada prospek perusahaan di masa depan.

2.1.7. Indikator Nilai Perusahaan Berdasarkan Asumsi Ketidakrelevanan

MM membuktikan, dengan sekumpulan asumsi yang sangat membatasi,bahwa nilai sebuah perusahaan tidak terpengaruh oleh struktur modalnya. Ataudengan kata lain, hasil yang diperoleh MM menunjukkan bahwa bagaimana carasebuah perusahaan akan mendanai operasinya tidak akan berarti apa-apa, sehingga struktur modal adalah suatu hal yang tidak relevan. Akan tetapi, studi MM didasarkan pada beberapa asumsi yang tidak realistik, termasuk hal-hal berikut: 1) tidak ada biaya pialang, 2) tidak ada pajak, 3) tidak ada biaya kebangkrutan, 4) investor dapat meminjam pada tingkat yang sama dengan perusahaan, 5) semua investor memiliki informasi yang sama dengan menajemen tentang peluang

(15)

peluang investasi perusahaan dimasa depan, 6) EBIT tidak terpengaruh olehpenggunaan hutang.

Meskipun beberapa asumsi di atas jelas-jelas merupakan suatu hal yangtidak realistis, hasil ketidakrelevanan MM memiliki arti yang sangat penting. Dengan menunjukkan kondisi-kondisi di mana struktur modal tersebut tidakrelevan, MM juga telah memberikan petunjuk mengenai hal-hal apa yang dibutuhkan agar membuat struktur modal menjadi relevan yang selanjutnya akan mempengaruhi nilai perusahaan. Hasil karya MM menandai awal penelitian struktur modal modern, dengan penelitian selanjutnya berfokus pada melonggarkan asumsi-asumsi MM guna mengembangkan sutau teori struktur modal yang lebih realistis.

1) Pengaruh Perpajakan

MM menerbitkan makalah lanjutan pada tahun 1963 di mana di dalamnya mereka melonggarkan asumsi tidak adanya pajak perusahaan. Peraturan perpajakan memperbolehkan perusahaan untuk mengurangkan pembayaran bunga sebagai suatu beban, akan tetapi pembayaran dividen kepada pemegang saham tidak dapat menjadi pengurangan pajak. Perbedaan perlakuan ini mendorong perusahaan menggunakan hutang dalam struktur modalnya. Tentu MM mendemontrasikan bahwa jika seluruh asumsi mereka lain yang tetap berlaku, perlakuan yang berbeda ini akan mengarah pada terjadinya suatu situasi dimana perusahaan didanai 100 persen oleh hutang.

(16)

2) Pengaruh Potensi Terjadinya Kebangkrutan.

Hasil irrelevansi MM juga tergantung pada asumsi bahwa perusahaan tidak akan bangkrut, sehingga tidak akan ada biaya kebangkrutan. Namun, kebangkrutan pada praktiknya terjadi, dalam hal ini sangat mahal biayanya. Perusahaan yang bangkrut akan memiliki beban akuntansi dan hokum yang sangat tinggi, dan juga mengalami kesulitan untuk mempertahankan pelanggan, pemasok dan karyawannya. Masalah yang berhubungan dengan kebangkrutan kemungkinan besar akan timbul ketika sebuah perusahaan memasukkan lebih banyak hutang dalam struktur modalnya. Karena itu, biaya kebangkrutan menahan perusahaan mendorong penggunaan hutangnya hingga ke tingkat yang berlebihan.

2.2. Rerangka Pemikiran

Pada tahun 1958 Modigliani dan Miller (MM) menunjukkan bahwa nilai suatu perusahaan tidak dipengaruhi oleh struktur modal, bukti tersebut dengan berdasarkan serangkaian asumsi antara lain, tidak ada biaya broker (pialang), tidak ada pajak, tidak ada kebangkrutan, para investor dapat meminjam dengan tingkat suku bunga yang sama dengan perseroan, semua investor mempunyai informasi yang sama, EBIT tidak dipengaruhi oleh biaya hutang. Hasil tersebut menunjukkan kondisi-kondisi dimana struktur modal tidak relevan, MM juga memberikan petunjuk agar srtuktur modal menjadi relevan sehingga akan mempengaruhi nilai perusahaan (Brigham dan Houston, 2010).

(17)

Pada tahun 1963 MM menerbitkan makalah lanjutan yang melemahkan asumsi tidak ada pajak perseroan. Peraturan perpajakan memperbolehkan pengurangan bunga sebagai beban, tetapi pembayaran dividen kepada pemegang saham tidak dapat dikurangi. Hasil penelitain mendorong perusahaan untuk menggunakan hutang dalam struktur modal. Kesimpulan ini diubah oleh Miller ketika memasuki efek dari pajak perseroan. Miller berpendapat bahwa investor bersedia menerima pengembalian atas saham sebelum pajak yang relatif rendah dibandingkan dengan pengembalian atas obligasi sebelum pajak (Brigham dan Houston, 2010).

Hasil-hasil MM yang tidak relavan juga tergantung pada asumsi tidak adanya biaya kebangkrutan. Perusahaan yang bangkrut mempunyai biaya hokum dan akutansi yang tinggi, dan mereka juga sulit untuk menahan pelanggan, pemasok dan karyawan. Bahkan kebangkrutan sering memaksa suatu perusahaan melikuidasi atau menjual hartanya dengan harga dibawah harga seandainya perusahaan beroprasi. Biaya yang terkait dengan kebangkrutan, yaitu: 1) profitabilitas terjadinya, 2) biaya-biaya yang timbul bila kesulitan keuangan akan muncul. Perusahaan yang labanya lebih labil, bila semua hal lain sama, menghadapi biaya kebangkrutan yang lebih besar sehingga harus lebih sedikit hutang daripada perusahaan yang stabil (Brigham dan Houston, 2010).

Keputusan struktur modal dalam perusahaan merupakan hal yang penting. Pentingnya struktur modal ini karena adanya pilihan kebutuhan

(18)

antara memaksimalkan return (meminimalkan biaya modal) dengan kemampuan perusahaan dalam menghadapi lingkungan bisnis yang kompetitif. Pada umumnya, suatu perusahaan dapat memilih alternatif struktur modal. Persoalannya adalah apakah perusahaan menggunakan hutang yang besar atau hanya menggunakan hutang yang sangat kecil. Nilai perusahaan adalah sama dengan nilai pasar saham ditambah pasar hutang. Apabila besarnya nilai saham akan meningkatkan nilai perusahaan. Apabila hutang berubah, maka srtuktur modal akan berubah pula. Perubahan dalam struktur modal akan menguntungkan bagi pemegang saham, jika nilai perusahaan meningkat.

Berdasarkan teori-teori di atas, maka dapat disusun dalam diagram kerangka pikir sebagai berikut :

2.3. Perumusan Hipotesis

Hipotesis yang penulis kemukakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : bahwa Dividend Pay out Ratio dan Dividend Yield Ratio tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan sub sektor otomotifyang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

DPR = Dividend Pay out Ratio

DYR = Dividend Yield Ratio

Referensi

Dokumen terkait

Tesis ini meneliti meneiliti pengaruh Budaya Organisasi terhadap Kinerja Pegawai, pengaruh Komitmen Organisasi terhadap Kinerja Pegawai, pengaruh Kompensasi

Pada fase ini terdapat Closure.Closure merupakan satu fase yang menyatakan bahwa manajemen dari tim merasa bahwa variabel dari waktu, kompetisi, permintaan, harga, dan

Kajian lanjutan pengaruh kecepatan pengadukan terhadap konsumsi glukosa dan produksi asam laktat dilakukan untuk mengaplikasikan kondisi terbaik yang telah diperoleh

Kerusakan tersebut meliputi abrasi, akresi dan intrusi air laut (Taofiqurohman, 2012). Masyarakat Indonesia yang berada di negara kepulauan tidak asing dengan abrasi,

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan menggunakan kata penghubung dan, atau, tetapi dan untuk dalam karangan deskripsi siswa kelas X

Sarana dan fasilitas pembelajaran untuk semua pelajaran sudah lengkap. Terdapat satu ruang laboratorium komputer dengan jumlah komputer ± 10 unit untuk satu

Etimologi Pemerintahan bukan hanya pengetahuan belaka yang dipelajari untuk dijadikan pengetahuan tentang asal-muasal kata tetapi lebih dari itu, pelajaran tentang

MFX Group adalah perusahaan investasi pertama dengan bidang bisnis brokerage Mata Uang Asing yang menawarkan suku bunga tetap pada deposit dalam jumlah 36% per tahun , tanpa resiko