• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tuntutan atas keadilan di Indonesia akhir-akhir ini sangatlah tinggi. Penegakan hukum dan keadilan yang diharapkan dapat berjalan beriringan bahkan mulai terlupakan.Pemerintah sangat bekerja keras dalam menempatkan penegakan hukum sebagai prioritas “daftar pekerjaan” mereka.

Fiat justisia ruat coelum, pepatah latin ini memiliki arti “meski langit runtuh keadilan harus ditegakkan”. Pepatah ini kemudian menjadi sangat populer karena sering digunakan sebagai dasar argumen pembenaran dalam pelaksanaan sebuah sistem peraturan hukum. Dalam penerapannya, adagium tersebut seolah-olah diimplementasikan dalam sebuah kerangka pemikiran yang sempit bertopeng dalih penegakan dan kepastian hukum .1

Dalam mencapai penegakan hukum Pengadilan dianggap sebagai media/ sarana untuk mencapainya, hakim menjadi perwakilan Negara untuk mencapai hal tersebut, namun perlu diingat, keadilan menjadi keutamaan dari semua itu, dikarenakan masyarakat terlibat secara langsung di dalamnya, yang akan membuat sorotan atau perhatian lebih besar untuk itu. Dewasa ini masyarakat telah paham dengan sistem hukum dan tata cara beracara di Pengadilan, walaupun pada akhirnya mereka menyerahkan pengurusan perkara mereka melalui kuasa hukum/ advokat yang berkompetensi untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Masalah baru pun timbul ketika pihak-pihak mulai memperkarakan permasalahan mereka melalui Pengadilan, dalam

1Pendekatan Restorative Justice dalam Sistem Pidana Indonesia

Oleh: Jecky Tengens, SH, terdapat di: http://www.hukumonline.com/berita /baca/lt4e25360a422c2/pendekatan-irestorative-justice-i-dalam-sistem-pidana-indonesia-broleh--jecky-tengens--sh-, 19 Juli 2011.

(2)

hal ini khususnya perkara perdata, contoh yang sangat sederhana dapat terlihat ketika permasalahan tersebut telah selesai diperiksa dan pada akhirnya dijatuhkan putusan oleh Majelis Hakim yang memeriksa perkara.

Dengan telah dijatuhkannya putusan, membawa dampak yang sangat definitif bagi para pihak yang berperkara, yaitu bagi salah satu pihak dapat berdiri sebagai pemenang perkara, dan pihak lainnya menjadi pihak yang dikalahkan.Permasalahan pertama timbul disini, yaitu permasalahan menjalankan isi putusan, apabila pihak yang dikalahkan tidak berkeinginan untuk menjalankan isi putusan dengan sukarela, maka pihak yang dimenangkan dapat mengajukan permohonan Eksekusi atas putusan yang dimenangkannya. Permasalahan akan semakin pelik apabila pemahaman hukum akan hukum eksekusi tidak dikuasai oleh para pihak yang berperkara.

Sebelum pihak yang dimenangkan mengajukan permohonan eksekusi, layaknya mereka akan mempertimbangkan terlebih dahulu, jenis putusan apakah yang dapat diajukan permohonan untuk itu, dan kekuatan apakah yang dimilikinya untuk menjalankan isi putusan pengadilan yang dimenangkannya. Pihak yang dimenangkan akan mengacu pada putusan akhir yang mengakhiri perkara pada tingkat pemeriksaan pengadilan, meliputi pengadilan tingkat pertama, banding, maupun kasasi. Putusan Akhir pun terdiri dari berbagai macam, yakni Putusan yang bersifat Deklaratoir, yang memiliki sifat hanya men”deklarasi”kan atau menerangkan/ menegaskan suatu keadaan hukum semata, misalnya menerangkan bahwa A adalah ahli waris dari B dan C, kemudian ada Jenis Putusan akhir yang bersifat konstitutif, yang sifatnya hanya meniadakan suatu keadaan hukum atau menimbulkan suatu keadaan hukum baru, misalnya putusan atas dijatuhkannya Pailit atas seseorang/ badan hukum. Jenis putusan yang terakhir yaitu jenis putusan yang bersifat condemnatoir, berisi penghukuman, misalnya pihak yang dikalahkan dihukum untuk menyerahkan sebuah objek perkara kepada pihak yang dimenangkan untuk membayar kewajibannya pada pihak yang dimenangkan.

(3)

Jenis Putusan akhir yang dapat diajukan permohonan eksekusi adalah jenis putusan yang terakhir, yaitu yang bersifat condemnatoir/ menghukum. Apa jadinya apabila pihak yang dimenangkan atas putusan akhir yang bersifat deklaratoir mengajukan permohonan eksekusi untuk itu. Selepas dari semua itu, permasalahan yang penulis kemukakan diatas adalah mengenai bagian kecil dari permasalahan yang terjadi apabila menjalankan penyelesaian perkara melalui mekanisme hukum perdata di Pengadilan Negeri.Dalam tesis ini Penulis memiliki tujuan untuk membahas jauh lebih dari sekedar permohonan eksekusi atas putusan yang bersifat deklaratoir, namun lebih kearah bagaimana para pihak dalam isi putusan menjalankan isi putusan berdasarkan permohonan dari pihak yang dimenangkan melaluiBadan Tata Usaha Negara/ Pejabat Negara yang pada akhirnya mengeluarkan suatu Keputusan Tata Usaha Negara berdasarkan permohonan Pihak yang dimenangkan dalam isi Putusan Pengadilan Negeri yang bersifat deklaratoir.

Sebagaimana diketahui, wewenang pejabat Tata Usaha Negara dalam mengeluarkan atau membatalkan suatu Keputusan Tata Usaha Negara, salah satunya apabila adanya Gugatan melalui mekanisme perkara Tata Usaha Negara di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang memiliki kompetensi untuk itu, dan apabila gugatan tersebut telah dikabulkan oleh PTUN, selanjutnya Pejabat Tata Usaha Negara bersangkutan dapat melakukan perbuatan hukum sebagaimana telah diatur dalam koridornya masing-masing, sebagaimana telah diatur dalam Undang Undang nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara beserta perubahan-perubahannya, pada hal ini khususnya yaitu menerbitkan Surat Keputusan untuk membatalkan Sertifikat Hak Milik atas suatu bidang tanah, namun bagaimana apabila Pejabat Tata Usaha Negara menerbitkan Surat Keputusan Pembatalan Keputusan Tata Usaha Negara yang didasarkan pada Putusan Pengadilan Negeri yang bersifat deklaratur.

(4)

Berdasarkan segenap hal yang telah dikemukakan diatas maka penulis tertarik untuk menuangkannya kedalam Thesis yang berjudul

PERSYARATAN DAN PROSEDUR PENERBITAN SURAT

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA AGRARIA/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL TANGGAL 25-02-1999 NO. 7-XI-1999 MENGENAI PEMBATALAN SERTIFIKAT HAK MILIK NO 139/ PEGANGSAAN DUA YANG BERDASARKAN PADA PUTUSAN PENGADILAN NEGERI YANG BERSIFAT DEKLARATOIR.”

B. RUMUSAN PERMASALAHAN

Dalam penelitian ini perumusan masalah dibatasi pada analisa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tata cara/ prosedur batalnya/ bentuk-bentuk pembatalan suatu objek Keputusan Tata Usaha Negara, dan bentuk upaya serta wewenang Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional sebagai subjek yang berwenang melakukan penerbitan maupun pembatalan objek Keputusan Tata Usaha Negara, dalam hal ini adalah alas hak kepemilikan atas tanah yaitu Sertifikat Hak Milik.

Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah penerbitan SK Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional tanggal 25-02-1999 No. 07-XI-1999 sudah sesuai dengan persyaratanserta prosedur sebagaimana diatur dalam Peraturan Perundang-undangan yang berlaku?

2. Apakah pertimbangan kepala Badan Pertanahan Nasional hingga menerbitkan SK tanggal 25-02-1999 No. 07-XI-1999?

(5)

3. Apakah implikasi atas Pembatalan SHM No. 139/ Pegangsaan Dua yang dilakukan berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri yang bersifat Deklaratoir?

C. TUJUAN PENELITIAN

4. Mengetahui mengenai penerbitan SK Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional tanggal 25-02-1999 No. 07-XI-1999 apakah sudah sesuai dengan persyaratan serta prosedur sebagaimana diatur dalam Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

5. Mengetahui bagaimana pertimbangan kepala Badan Pertanahan Nasional hingga menerbitkan SK tanggal 25-02-1999 No. 07-XI-1999.

6. Mengetahui implikasi atas Pembatalan SHM No. 139/ Pegangsaan Dua yang dilakukan berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri yang bersifat Deklaratoir.

D. MANFAAT PENELITIAN

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai bahan pembelajaran/ lebih sebagai salah satu sumber panduan bagi kalangan praktisi hukum, termasuk namun tidak terbatas pada calon advokat, advokat, legal staf, dan lain sebagainya selaku pihak-pihak yang bersentuhan secara langsung dalam hukum acara, baik di Pengadilan Negeri maupun di Pengadilan Tata Usaha Negara, khususnya dalam menangani permasalahan terkait dengan perbenturan hak kepemilikan atas tanah dan bangunan, pembatalan hak atas tanah dan bangunan yang diajukan di Pengadilan Tata Usaha Negara, dan juga dalam memberikan pendapat hukum/ legal opini untuk itu.

(6)

Dari segi teoritis, penelitian ini berusaha untuk dapat menganalisa secara detil dan mendalam, khusus pada ketentuan mengenai pembatalan Keputusan Tata Usaha Negara dan ketentuan formil lain yang mendukungnya.

E. KEASLIAN PENELITIAN

Menurut sepengetahuan penulis, sampai dibuatnya penelitian ini oleh penulis, belum pernah ada pihak lain yang melakukan penelitian dengan judul “Tinjauan Yuridis Penerbitan Surat Keputusan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Tanggal 25-02-1999 No. 7-Xi-1999 Mengenai Pembatalan Sertifikat Hak Milik No 139/ Pegangsaan Dua Yang Berdasarkan Pada Putusan Pengadilan Negeri Yang Bersifat Deklaratoir.”

Adapun penulis mendapatkan penelitian yang menggunakan Objek Penelitian yang sama dengan yang penulis pergunakan dalam penelitian ini, yang merujuk pada Kasus Kepemilikan bidang tanah seluas 8.320 m² (delapan ribu tiga ratus dua puluh meter persegi) yang terletak di Jl Raya Kelapa Gading Boulevard, yang dibeli melalui Kantor Lelang Negara. Penelitian sebagaimana dimaksud adalah berjudul “HUBUNGAN JAMINAN KEPASTIAN HUKUM BERKAITAN DENGAN SISTEM PUBLIKASI PENDAFTARAN TANAH DALAM ANALISA HUKUM PT SUMMARECON AGUNG TBK. LAWAN ROBERT SUDJASMIN DKK”, tesis yang ditulis oleh Nur Setia Alam, mahasiswi pada Fakultas Hukum Program Magister Kenotariatan Universitas Indonesia pada tahun 2005.

Adapun Tesis yang dibuat oleh Nur Setia Alam adalah berbeda dengan yang dibuat oleh Penulis, dikarenakan Tesis oleh Nur Setia Alam menekankan mengenai penelitian mengenai Hukum Pertanahan, Khususnya mengenai publikasi pendaftaran tanah dan perlindungan terhadap pemenang

(7)

lelang yang telah membeli objek lelang melalui badan lelang negara, dan atas objek lelang tersebut dibatalkan oleh Badan Pertanahan Nasional dikarenakan ada Pihak lain yang berkepentingan dan telah membuktikan haknya melalui Gugatan Perbuatan Melawan Hukum di Pengadilan Negeri yang berwenang.

F. SISTEMATIKA PENULISAN BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitan, dan sistematika penulisan.

BAB II : KAJIAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan menguraikan mengenai Kajian pustaka, tinjauan umum tentang objek dalam penelitan ini, yakni mengenai Lelang, Putusan Pengadilan Negeri, Tinjauan Umum tentang Keputusan Tata Usaha Negara, dan syarat dan prosedur pembatalan Suatu Keputusan Tata Usaha Negara

BAB III : METODE PENELITIAN

Pada bab ini berisi mengenai metode penelitian, bahan penelitian, alat penelitian, dan metode analisis data

BAB IV : HASIL PENELITAN DAN PEMBAHASAN

Pada BAB ini akan diulas mengenai hasil penelitan mengenai penerbitan SK Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional tanggal 25-02-1999 No. 07-XI-1999 disesuaikan dengan persyaratan serta prosedur sebagaimana diatur dalam Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, bagaimana pertimbangan kepala Badan Pertanahan Nasional hingga menerbitkan SK tanggal 25-02-1999 No. 07-XI-1999, dan mengenai implikasi atas Pembatalan SHM No. 139/

(8)

Pegangsaan Dua yang dilakukan berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri yang bersifat Deklaratoir.

BAB V : PENUTUP

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian permasalahan yang telah dipaparkan diatas, menarik bagi peneliti untuk melaksanakan penelitian mengenai Verifikasi dan Validasi DTKS Kabupaten Tuban

Dengan tujuan yang dimiliki oleh GP Youth Indonesia regional Yogyakarta untuk mengedukasi masyarakat Yogya mengenai permasalahan lingkungan yang sedang terjadi maka

Terkait permasalahan diatas penulis melakukan penelitian tentang pertanggungjawaban pidana korporasi yang menyangkut tentang tindak pidana korupsi, dengan analisa

Berdasarkan pengertian diatas, maka data primer yang didapat oleh penulis adalah hasil wawancara dengan bagian keuangan PD Berkat Mulia Palembang mengenai Laporan

Setelah penulis mengidentifikasi permasalahan perkawinan lintas agama yang sangat luas tersebut, agar diperoleh pembahasan yang lebih spesifik mengenai objek penelitian, maka

Berdasarkan telaah kerangka pemikiran diatas penulis berasumsi bahwa radikalisme yang berujung pada kekerasan yang terjadi diakibatkan oleh ketidakadilan dan

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penulis sangat tertarik membantu memecahkan masalah tersebut dan sekaligus untuk melakukan penelitian mengenai pola asuh

Berdasarkan uraian diatas mengenai latar belakang permasalahan dan kajian atas penelitian-penelitian terdahulu, maka penulis akan meneliti hubungan antara GCG dan Nilai Perusahaan