• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah wirausah Sistem ekonomi islam Di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah wirausah Sistem ekonomi islam Di"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah wirausah

Sistem ekonomi islam

Di ajukan untuk memenuhi tugas UAS

Nama Dosen :

Nama dosen : Heni noviarita, SE,M.Si

Kelas : C ( b2.16 ) Sem/Fak/Jur : III/Tar/PAI

DISUSUN OLEH :

Eliyanah ( 1111010280 )

(2)

2012-2013

A. Latar belakang

Meskipun ada kesamaan timbulnya kegiatan ekonomi, yakni disebabkan oleh adanya kebutuhan dan keinginan manusia. Namun karena cara manusia dalam memenuhi alat pemuas kebutuhan dan cara mendistribusikan alat kebutuhan tersebut didasari filosofi yang berbeda, maka timbullah berbagai bentuk sistem dan praktik ekonomi dari banyak negara di dunia. Perbedaan ini tidak terlepas dari pengaruh filsafat, agama, ideologi, dan kepentingan politik yang mendasari suatu negara penganut sistem tersebut.

Ilmu ekonomi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia sebagai hubungan antara tujuan dan sarana langka yang memiliki kegunaan-kegunaan alternatif. Ilmu ekonomi adalah studi yang mempelajari cara-cara manusia mencapai kesejahteraan dan mendistribusikannya. Kesejahteraan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang memiliki nilai dan harga, mencakup barang-barang dan jasa yang diproduksi dan dijual oleh para pebisnis.

(3)

Kapitalisme, Sosialisme, Fasisme, Komunisme dan terakhir adalah Ekonomi Islam.

B. Masalah

Pertama : Cara Pemilikan Harta Dalam Islam

(Al-Milkiyah)

Sistem Ekonomi Islam berbeza sama sekali dengan sistem ekonomi kufur buatan manusia. Sistem ekonomi Islam adalah sempurna kerana berasal dari wahyu, dan dari segi pemilikan, ia menerangkan kepada kita bahawa terdapat tiga jenis

pemilikan:- Hak Milik Umum: meliputi mineral-mineral dalam bentuk pepejal, cecair dan gas termasuk petroleum, besi, tembaga, emas dan sebagainya yang didapati sama ada di dalam perut bumi atau di atasnya, termasuk juga segala bentuk tenaga dan intensif tenaga serta industri-industri berat. Semua ini merupakan hak milik umum dan wajib diuruskan (dikelola) oleh Daulah Islamiyah(negara) manakala manfaatnya wajib dikembalikan kepada rakyat

 Hak Milik Negara meliputi segala bentuk bayaran yang dipungut oleh negara secara syar’ie dari warganegara, bersama dengan perolehan dari pertanian,

(4)

atas. Negara membelanjakan perolehan tersebut untuk kemaslahatan negara dan rakyat1

 Hak Milik Individu: selain dari kedua jenis pemilikan di atas, harta-harta lain boleh dimiliki oleh individu secara syar’ie dan setiap individu itu perlu membelanjakannya secara syar’ie juga.

Kedua : Cara Pengelolaan Kepemilikan

(At-Tasharruf Fi Al Milkiyah)

Secara dasarnya, pengelolaan kepemilikan harta kekayaan yang telah dimiliki mencakup dua kegiatan, iaitu:-.

1)PembelanjaanHarta(InfaqulMal)

Pembelanjaan harta (infaqul mal) adalah pemberian harta kekayaan yang telah dimiliki. Dalam pembelanjaan harta milik individu yang ada, Islam memberikan tuntunan bahawa harta tersebut haruslah dimanfaatkan untuk nafkah wajib seperti nafkah keluarga, infak fi sabilillah, membayar zakat, dan lain-lain. Kemudian nafkah

sunnah seperti sedekah, hadiah dan lain-lain. Baru kemudian dimanfaatkan untuk hal-hal yang mubah (harus). Dan hendaknya harta tersebut tidak dimanfaatkan untuk sesuatu yang terlarang seperti untuk membeli barang-barang yang haram seperti minuman keras, babi, dan lain-lain.

(5)

2)PengembanganHarta(TanmiyatulMal)

Pengembangan harta (tanmiyatul mal) adalah kegiatan memperbanyak jumlah harta yang telah dimiliki. Seorang muslim yang ingin mengembangkan harta yang telah dimiliki, wajib terikat dengan ketentuan Islam berkaitan dengan pengembangan harta. Secara umum Islam telah memberikan tuntunan pengembangan harta melalui cara-cara yang sah seperti jual-beli, kerja sama syirkah yang Islami dalam bidang pertanian, perindustrian, maupun perdagangan. Selain Islam juga melarang pengembangan harta yang terlarang seperti dengan jalan aktiviti riba, judi, serta aktiviti terlarang lainnya.

Pengelolaan kepemilikan yang berhubungan dengan kepemilikan umum itu adalah hak negara (Daulah Islamiyah), kerana negara (Daulah Islamiyah) adalah wakil ummat. Meskipun menyerahkan kepada negara (Daulah Islamiyah) untuk mengelolanya, namun Allah SWT telah melarang negara (Daulah Islamiyah) untuk mengelola kepemilikan umum tersebut dengan jalan menyerahkan penguasaannya kepada orang tertentu. Sementara mengelola dengan selain dengan cara tersebut diperbolehkan, asal tetap berpijak kepada hukum-hukum yang telah dijelaskan oleh syara'.

(6)

sebagainya. As Syari' juga telah memperbolehkan negara (Daulah Islamiyah) dan individu untuk mengelola masing-masing kepemilikannya, dengan cara tukar menukar (mubadalah) atau diberikan untuk orang tertentu ataupun dengan cara lain, asal tetap berpijak kepada hukum-hukum yang telah dijelaskan oleh syara’.

Ketiga : Cara Edaran Kekayaan Di Tengah

Masyarakat (Tauzi'ul Tsarwah Tayna An-Naas)

Kerana edaran harta kekayaan termasuk masalah yang sangat penting, maka Islam memberikan juga berbagai ketentuan yang berkaitan dengan hal ini. Mekanisme edaran harta kekayaan terwujud dalam hukum syara’ yang ditetapkan untuk menjamin pemenuhan barang dan perkhidmatan bagi setiap individu rakyat. Mekanisme ini dilakukan dengan mengikuti ketentuan sebab-sebab kepemilikan (contohnya, bekerja) serta akad-akad muamalah yang wajar (contohnya jual-beli dan ijarah).

(7)

teredar kepada segelintir orang saja, sementara yang lain kekurangan, sebagaimana yang terjadi akibat penimbunan harta, seperti emas dan perak.

Oleh kerana itu, syara' melarang berputarnya kekayaan hanya di antara orang-orang kaya namun mewajibkan perputaran tersebut terjadi di antara semua orang. Allah SWT berfirman :

"Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." (QS. Al-Hasyr : 7)

Di samping itu syara' juga telah mengharamkan penimbunan emas dan perak (harta kekayaan) meskipun zakatnya tetap dikeluarkan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman :

"Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahawa mereka akan mendapat) siksa yang pedih." (QS. At-Taubah : 34)

Mekanisme Sistem Ekonomi Islam

Secara umum mekanisme yang ditempuh oleh sistem ekonomi Islam dikelompokkan menjadi dua,

(8)

Mekanisme ekonomi adalah mekanisme melalui aktiviti ekonomi yang bersifat produktif, berupa berbagai kegiatan pengembangan harta (tanmiyatul mal) dalam akad-akad muamalah dan sebab-sebab kepemilikan (asbab at-tamalluk). Berbagai cara dalam mekanisme ekonomi ini, antara lain :

 Membuka kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya sebab-sebab kepemilikan dalam kepemilikan individu (misalnya, bekerja di sektor

pertanian, industri, dan perdagangan)

 Memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya pengembangan harta (tanmiyah mal) melalui kegiatan investasi (misalnya, dengan syirkah inan, mudharabah, dan sebagainya).

 Larangan menimbun harta benda (wang, emas, dan perak) walaupun telah dikeluarkan zakatnya. Harta yang ditimbun tidak akan berfungsi pada ekonomi. Pada gilirannya akan menghambat peredaran kerana tidak terjadi perputaran harta.

 Mengatasi peredaran dan pemusatan kekayaan di satu daerah tertentu saja misalnya dengan memeratakan peredaran modal dan mendorong tersebarnya pusat-pusat pertumbuhan.

(9)

 Larangan judi, riba, rasuah, pemberian barang dan hadiah kepada penguasa. Semua ini akan mengumpulkan kekayaan pada pihak yang kuat semata (seperti penguasa atau koperat).

 Memberikan kepada rakyat hak pemanfaatan barang-barang milik umum (al-milkiyah al-amah) yang dikelola negara seperti hasil hutan, barang galian,

minyak, elektrik, air dan sebagainya demi kesejahteraan rakyat.

2.Mekanisme Non-Ekonomi

Mekanisme non-ekonomi adalah mekanisme yang tidak melalui aktiviti ekonomi yang produktif, melainkan melalui aktiviti non-produktif, misalnya pemberian (hibah,

sedekah, zakat, dll) atau warisan. Mekanisme non-ekonomi dimaksudkan untuk melengkapi mekanisme ekonomi. Iaitu untuk mengatasi peredaran kekayaan yang tidak berjalan sempurna jika hanya mengandalkan mekanisme ekonomi semata.

(10)

mereka yang tertimpa musibah (kecelakaan, bencana alam dan sebagainya) makin terpinggirkan secara ekonomi. Mereka akan menjadi masyarakat yang miskin terhadap perubahan ekonomi. Bila terus berlanjutan, boleh menyebabkan munculnya masalah sosial seperti jenayah (curi, rompak), rogol (pelacuran) dan sebagainya, bahkan mungkin revolusi sosial.

Mekanisme non-ekonomi juga diperlukan kerana adanya sebab-sebab non-alamiah, iaitu adanya penyimpangan mekanisme ekonomi. Penyimpangan mekanisme ekonomi ini jika dibiarkan akan boleh menimbulkan ketimpangan edaran kekayaan. Bila penyimpangan terjadi, negara wajib menghilangkannya. Misalnya jika terjadi monopoli, hambatan masuk, baik administratif maupun non-adminitratif-- dan sebagainya, atau kejahatan dalam mekanisme ekonomi (misalnya penimbunan), harus segera dihilangkan oleh negara.

Mekanisme non-ekonomi bertujuan agar di tengah masyarakat segera terwujud keseimbangan (al-tawazun) ekonomi, yang akan ditempuh dengan beberapa cara. Penedaran harta dengan mekanisme non-ekonomi antara lain adalah :

 Pemberian harta negara kepada warga negara yang dinilai memerlukan.

 Pemberian harta zakat yang dibayarkan oleh muzakki kepada para mustahik.  Pemberian infaq, sedekah, wakaf, hibah dan hadiah dari orang yang mampu

kepada yang memerlukan.

(11)

Demikianlah gambaran sekilas tentang asas-asas sistem ekonomi Islam. Untuk memberikan pemahaman yang lebih luas dan dalam, maka perincian seluruh aspek yang dikemukakan di atas perlu dilakukan.

Paradigma Islam ini berbeda dengan paradigma sistem ekonomi kapitalisme, yaitu sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Paham sekularisme lahir sebagai jalan tengah di antara dua kutub ekstrem, yaitu di satu sisi pandangan Gereja dan para raja Eropa bahwa semua aspek kehidupan harus ditundukkan di bawah dominasi Gereja. Di sisi lain ada pandangan para filosof dan pemikir (seperti Voltaire, Montesquieu) yang menolak eksistensi Gereja. Jadi, sekularisme sebagai jalan tengah pada akhirnya tidak menolak keberadaan agama, namun hanya membatasi perannya dalam mengatur kehidupan. Agama hanya ada di gereja, sementara dalam kehidupan publik seperti aktivitas ekonomi, politik dan sosial tidak lagi diatur oleh agama.

(12)

tinjauan historis dan ideologis ini jelas pula, bahwa paradigma sistem ekonomi kapitalisme adalah sekularisme.2

Sekularisme ini pula yang mendasari paradigma cabang kapitalisme lainnya, yaitu paradigma yang berkaitan dengan kepemilikan, pemanfaatan kepemilikan, dan distribusi kekayaan (barang dan jasa) kepada masyarakat. Semuanya dianggap lepas atau tidak boleh disangkutpautkan dengan agama.

Berdasarkan sekularisme yang menafikan peran agama dalam ekonomi, maka dalam masalah kepemilikan, kapitalisme memandang bahwa asal usul adanya kepemilikan suatu barang adalah terletak pada nilai manfaat (utility) yang melekat pada barang itu, yaitu sejauh mana ia dapat memuaskan kebutuhan manusia. Jika suatu barang mempunyai potensi dapat memuaskan kebutuhan manusia, maka barang itu sah untuk dimiliki, walaupun haram menurut agama, misalnya babi, minuman keras, dan narkoba. Ini berbeda dengan ekonomi Islam, yang memandang bahwa asal usul kepemilikan adalah adanya izin dari Allah SWT (idzn Asy-Sya’ari) kepada manusia untuk memanfaatkan suatu benda. Jika Allah mengizinkan, berarti boleh dimiliki. Tapi jika Allah tidak mengizinkan (yaitu mengharamkan sesuatu) berarti barang itu tidak boleh dimiliki. Maka babi dan minuman keras tidak boleh diperdagangkan karena keduanya telah diharamkan Allah, yaitu telah dilarang kepemilikannya bagi manusia muslim.

(13)

Dalam masalah pemanfaatan kepemilikan, kapitalisme tidak membuat batasan tatacaranya (kaifiyah-nya) dan tidak ada pula batasan jumlahnya (kamiyah-nya). Sebab pada dasarnya sistem ekonomi kapitalisme adalah cermin dari paham kekebasan (freedom/liberalism) di bidang pemanfaatan hak milik. Maka seseorang boleh memiliki harta dalam jumlah berapa saja dan diperoleh dengan cara apa saja. Walhasil tak heran di Barat dibolehkan seorang bekerja dalam usaha perjudian dan pelacuran. Sedangkan ekonomi Islam, menetapkan adanya batasan tatacara (kaifiyah-nya), tapi tidak membatasi jumlahnya (kamiyah-nya). Tatacara itu berupa hukum-hukum syariah yang berkaitan dengan cara pemanfaatan (tasharruf) harta, baik pemanfaatan yang berupa kegiatan pembelanjaan (infaqul mâl), seperti nafkah, zakat, shadaqah, dan hibah, maupun berupa pengembangan harta (tanmiyatul mal), seperti jual beli, ijarah, syirkah, shina’ah (industri), dan sebagainya. Seorang muslim boleh memiliki harta berapa saja, sepanjang diperoleh dan dimanfaatkan sesuai syariah Islam. Maka dalam masyarakat Islam tidak akan diizinkan bisnis perjudian dan pelacuran, karena telah diharamkan oleh syariah.

(14)

campur tangan dalam urusan ekonomi, misalnya dalam penentuan harga, upah, dan sebagainya. Metode distribusi ini terbukti gagal, baik dalam skala nasional maupun internasional. Kesenjangan kaya miskin sedemikian lebar. Sedikit orang kaya telah menguasai sebagian besar kekayaan, sementara sebagian besar manusia hanya menikmati sisa-sisa kekayaan yang sangat sedikit.

Dalam ekonomi Islam, distribusi kekayaan terwujud melalui mekanisme syariah, yaitu mekanisme yang terdiri dari sekumpulan hukum syariah yang menjamin pemenuhan barang dan jasa bagi setiap individu rakyat. Mekanisme syariah ini terdiri dari mekanisme ekonomi dan mekanisme non-ekonomi.

C. TEORI

Ibn Khaldun atau nama sebenarnya Wali al-Din Abd al-Rahman bin Muhammad bin Abu Bakar Muhammad bin al-Hasan lahir di Tunis pada 1 Ramadan 732H

Keluarganya berasal daripada keturunan Arab Hadramaut yang pernah menetap di Serville, Italy, dan SepanyoL Akhirnya berpindah dan menetap di Afrika Utara semasa pemerintahan Hafs Abu Zakariyya, pemerintah Tunis pada waktu itu. Seperti yang dinyatakan sebelum ini, Ibn Khaldun mendapat pendidikan dalam pelbagai ilmu Islam seperti al-Quran, al'Hadith, perundangan Islam, kesusasteraan, falsafah, bahasa, dan mantik. Antara gurunya ialah Muhammad Ibrahim al-Abili, Abu Abd Allah al-Jayyani, Abd Allah Muhammad bin Abd al-Salam.

(15)

sumbangan pemikiran Ibn Khaldun dalam ekonomi banyak dimuatkan dalam hasil karya agungnya, al Muqaddimah. Antara teori ekonomi yang terdapat dalam karyanya masih lagi relevan dengan masalah ekonomi semasa.

Ibn Khaldun telah membincangkan beberapa prinsip dan falsafah ekonomi seperti keadilan (al adl), hardworking, kerjasama (cooperation), kesederhanaan (moderation), dan fairness.

Berhubung dengan keadilan (Justice), Ibn Khaldun telah menekankan bahawa keadilan merupakan tulang belakang dan asas kekuatan sesebuah ekonom. Apabila keadilan tidak dapat dilaksanakan, sesebuah negara akan hancur dan musnah. Menurut beliau, ketidakadilan tidak sahaja difahami sebagai merampas wang atau harta orang lain tanpa sebarang sebab yang diharuskan. Malah, mengambil harta orang lain atau menggunakan tenaganya secara paksa atau membuat dakwaan palsu terhadap orang lain. Begitu juga kalau meminta seseorang melakukan sesuatu yang berlawanan dengan Islam.

Beliau mengkategorikan perampas harta orang lain secara tidak sah hingga memberi kesan kepada kehidupan isteri dan keluarga sebagai paling tidak adil. Menurut beliau lagi, seseorang yang membeli harta seseorang dengan harga yang paling murah termasuk dalam kategori memiliki harta cara yang tidak betul.

(16)

Manusia dan Ekonomi Berdasarkan analisis mendalam, didapati kesemua teori ekonomi dan idea Ibn Khaldun tentang manusia berdasarkan kepada prinsip-prinsip dan falsafah Islam. Ibn Khaldun tidak melihat fungsi utama manusia dalam aktiviti perekonomiannya seumpama haiwan ekonomi (economic animal). Sebaliknya beliau menganggap manusia itu sebagai manusia Islam (Islamic man/homo Islamicus) yang memerlukan pengetahuan ekonomi untuk memenuhi misinya di atas muka bumi ini. Dalam hal ini, Ibn Khaldun menekankan perlunya manusia menjauhi perbuatan jahat. Sebaliknya manusia wajib mengikuti ajaran Islam sebagai model untuk memperbaiki dirinya dan mesti memberikan keutamaan kepada kehidupan akhirat.

Teori Pengeluaran Ibn Khaldun mengemukakan teori bahawa kehidupan perekonomian sentiasa menghala ke arah pelaksanaan keseimbangan antara penawaran dengan permintaan. Menurut beliau pengeluaran berasaskan kepada faktor buruh dan kerjasama masyarakat. Bahkan beliau menganggap buruh merupakan faktor terpenting dalam proses pengeluaran walaupun faktor-faktor lain seperti tanah tersedia, tenaga buruh perlu untuk menghasilkan matlamat akhir.

Selain itu beliau berpendapat bahawa kenaikan yang tetap pada paras harga amat perlu untuk mengekalkan tahap produktiviti. Dalam hal ini beliau menyarankan agar masyarakat melakukan perancangan supaya setiap bidang pekerjaan dilakukan oleh orang yang mahir dan cekap.

(17)

teori pembahagian tenaga buruh, pengkhususan tenaga buruh, dan pertukaran yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun 100 tahun lebih awal daripada Adam Smith yang juga mengemukakan teori yang sama.

Teori Nilai, Wang dan Harga Ibn Khaldun tidak secara jelas membezakan antara teori nilai diguna (use value) dengan nilai pertukaran (exchange value). Tetapi beliau dengan tegas berhujah bahawa nilai sesuatu barangan bergantung kepada nilai buruh yang terlibat dalam proses pengeluaran.

"Semua usaha manusia dan semua tenaga buruh perlu digunakan untuk mendapatkan modal dan keuntungan. Tidak ada jalan lain bagi manusia untuk mendapatkan

keuntungan melainkan melalui penggunaan buruh, kata Ibn Khaldun.

Teori Pengagihan Menurut Ibn Khaldun harga barangan terdiri daripada tiga elemen utama iaitu gaji atau upah, keuntungan, dan cukai. Ketiga-tiga elemen ini merupakan pulangan kepada masyarakat. Oleh sebab itu, beliau membahagikan ekonomi kepada tiga sektor iaitu sektor pengeluaran, pertukaran, dan perkhidmatan awam.

Menurut Ibn Khaldun, nilai atau harga sesuatu barangan sama dengan kuantiti buruh yang terlibat dalam pengeluaran barangan berkenaan. Harga buruh merupakan asas kepada penentuan harga sesuatu barangan dan harga buruh itu sendiri ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran dalam pasaran.

(18)

C. Analisis dan pembahasan

BAHAGIAN A (40 markah) Jawab SEMUA soalan dalam bahaeian ini.

l. Ekonomi Islam ialah ekonomi yang dilandaskan kepada Quran dan Sunnah. Prinsip-prinsipnya telah ditetapkan menurut kehendak agama Islam. Apa sahaja yang diharamkan oleh Islam tidak boleh dilakukan dalam ekonomi Islam.

(a) Adakah pada pendapat anda satu sistem ekonomi Islam boleh diwujudkan di Malaysia? Bagaimanakah gambaran anda tentang sektor-sektor system ekonomi Islam seperti sektor slasi, sektor ijtimai, dan sektor tijari boleh memainkan peranan seperti yang dimainkan oleh sektor-sektor ekonomi dalam teori konvensional?

(12 markah) (b) Metodologi ekonomi Islam tidak dapat menerima methodologi ekonomi konvensional dalam beberapa aspek tertentu seperti pandangan tentang manusia, tumpuan yang dipentingkan oleh teori ekonomi konvensional, dan penolakan ilmu wahyu. Huraikan pandangan Islam tentang aspekaspek yang disebutkan itu.

(19)

Islam mencapai al-falaft ini dengan menghuraikan syarat-syarat yang mesti dipenuhi untuk mencapainya.

(8 markah) (d) Terangkan makna Islam, Iman dan lhsan yang dimaksudkan dalam Islam. Apakah yang dimaksudkan dengan konsep kesepaduan ekonomi dalam ekonomi Islam? Terangkan dengan mengaitkan konsep Tauhid, Rezeki, dan keadilan ekonomi.3

(8 markah)

BAHAGIAN B (60 markah) Jawab TIGA soalan sahaja.

Islam mengiktiraf bahawa pengeluaran itu penting dan organisasi perlu disusun untuk menggabungkan faktor-faktor pengeluaran. Apabila faktor-faktor

pengeluaran dalam proses pengeluaran itu dimiliki banyak pihak maka aturan kontrak perlu untuk menggariskan hak dan tanggungjawab pihak yang

berkontrak itu.

(a) Berikan huraian ringkas tentang bentuk organisasi-organisasi pengeluaran berikut menurut kehendak Islam.

3UNTVERSITI SAINS MALAYSIA/Peperiksaan Akhir /Sidang Akademik 200812009

(20)

(i) milik persendirian (ii) al-mudharabah (iii) al-musyarakah

(10 markah) (b) Huraikan secara ringkas matlamat pengeluaran Islam dari sudut usaha ekonomi dan kesejahteraan kebendaan. Apakah objektif firma Islam menurut Siddiqi? Apakah yang menjadi motivasi firma Islam bagi menentukan keputusan output yang akan dikeluarkan oleh firma?

(10 markah) 3. Zakat ialah satu institusi yang tidak boleh dihapuskan di dalam ekonomi Islam. Ia menjadi tuntutan agamayang termaktub di dalam al-Quran.

(a) Huraikan tujuan-tujuan zakat dalam ekonomi Islam. Huraikan secara ringkas asnaf yang layak menerima zaknt dalam Islam.

(10 markah) O) Ada pandangan mengatakan bahawa zalcat peniaga-peniaga mungkin akan memindahkannpihak pengguna kerana ia merupakan kos pandangan anda tentang isu berkenaan?

yang dikenakan kepada beban zakat iat kepada kepada peniaga. Apakah

(21)

suci. Penerimaan ini dilandaskan kepada hakikat bahawa mekanisme pasaran itu memberi khidmat kepada pengguna dan juga pengeluar.

(a) Bagaimanakah pandangan Islam tentang mekanisme pasaran, sistem harga dan tangan tak tampak? Bincangkan secara ringkas.

(10 markah) O) . Bincangkan ciri-ciri utama yang membezakan konsep "permintaan4

berkesan" daripada konsep "keperluan berkesan." Benarkah pelaksanaan konsep "keperluan berkesan" dan konsep penawarcn berasaskan kapasiti potensi dapat memberikan keputusan pasaran yang lebih baik daripada kaedah yang lazim? Huraikan.

(10 markah) Allah SWT berfirman dalam al-Quran, Surah al-Nisaa' ayat29:

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesama kamu dengan jalan yang batil (salah), kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka di antara kamu."

(a) Apakah makna al-bai'dalam ekonomi Islam? Bincangkan secara ringkas rukun-rukun al-bai'? Berikan penjelasan ringkas tentang jenis-jenis bar' yang dibenarkan dalam Islam. Apakah perkara-perkara yang boleh menyebabkan sesuatu kontrak al-bai'itu menjadi haram?

(10 markah)

(22)

(b) Huraikan secara ringkas kaitan ayat ini dengan riba. Bincangkan secara kasar pengelasan jenis-jenis riba dalam ekonomi Islam.

(10 markah)

D. Kesimpulan

Perekonomian Islam ialah ekonomi menurut undang-undang Islam. Adanya dua

paradigma untuk memahami Perekonomian Islam, dengan satunya menganggap rangka politik Islam (iaitu Khilafah), dan yang lain itu menganggap rangka politik bukan Islam yang melahirkan suatu paradigma yang bertujuan untuk menyepadukan sesetengah rukun Islam yang terkenal ke dalam sebuah rangka ekonomi sekular.

Paradigma pertama bertujuan untuk mentakrifkan semula masalah ekonomi sebagai suatu masalah pengagihan sumber untuk mencapai:

keperluan-keperluan asas dan mewah para orang perseorangan di dalam masyarakat,membina pasaran etika yang mempunyai persaingan

kerjasama,memberikan ganjaran kepada penyerta-penyerta kerana terdedah kepada risiko dan/atau liabiliti, membahagikan harta-harta secara adil antara kegunaan awam dan kegunaan peribadi; dannegara memainkan peranan yang jelas terhadap pengawasan, percukaian, pengurusan harta awam dan

(23)

Gerakan-gerakan Islam yang menyeru agar politik dibaharui umumnya akan mencadangkan paradigma ini untuk menjelaskan bagaimana mereka akan

memperkenalkan pembaharuan ekonomi. Bagaimanapun, paradigma kedua hanya mencadangkan dua hukum utama, iaitu:

 faedah tidak boleh dikenakan pada pinjaman;  pelaburan harus menepati tanggungjawab sosial.

Perbezaan utama dari segi kewangan ialah peraturan tiada faedah kerana paradigma pelaburan Islam yang menepati tanggungjawab sosial tidak amat berbeza dengan apa yang diamalkan oleh agama-agama yang lain. Dalam percubaannya untuk melarang faedah, ahli-ahli ekonomi Islam berharap untuk menghasilkan sebuah masyarakat yang lebih bersifat Islam. Bagaimanapun, gerakan-gerakan liberal dalam agama Islam

(24)

Daftar Pustaka

UNTVERSITI SAINS MALAYSIA/Peperiksaan Akhir /Sidang Akademik 200812009

April2009/JKE 413 - Analisis Ekonomi Islam ( skripsi ) .

Weber, Max, Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, Pustaka Promothea, Surabaya, 2001 .

Referensi

Dokumen terkait

Ini sejalan dengan pendapat (Jonassen, 2003) yang menyatakan bahwa teknologi yang digunakan dalam pembelajaran adalah teknologi yang dapat menjadi mitra dan mendukung

Sebaliknya, kalau kita percaya bahwa kita harus menjadi kaya, kita bisa menjadi kaya, dan kita ingin menjadi kaya agar lebih bahagia, agar bisa membagi manfaat yang

Usaha yang dilakukan dalam mengatasi hambatan bimbingan keagamaan para tokoh agama adalah melaksanakan bimbingan keagamaan atau upaya untuk lebih meningkatkan bimbingan

Adapun yang menjadi definisi konsepsional dalam penelitian ini adalah pelayanan haji di Kantor Kementrian Agama Kota Samarinda adalah suatu kegiatan pelayanan yang

Penelitian tentang Kelimpahan Harimau Sumatera (Panthera tigris Sumatrae Pocock, 1929) di Suaka Alam Malampah Sumatera Barat, telah dilaksanakan dari bulan November

Pemetaan Kantor Pemerintah ini dapat dijadikan alat yang membantu pengguna dalam pencarian lokasi dan penunjuk jalan menuju Kantor Pemerintahdengan menggunakan

Berdasarkan tabel 3 distribusi frekuensi tingkat pengetahuan tentang breast care pada ibu hamil di BPS Kusni Sri Mawarti Dlingo Bantul Yogyakarta tahun 2015 dapat diketahui

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa media poster kandungan gizi buah apel (Malus sylvestris) yang diperjualbelikan di kota