• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Lalu Lintas Simpang Tak Bersin (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Manajemen Lalu Lintas Simpang Tak Bersin (1)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN LALU LINTAS SIMPANG TAK BERSINYAL

Analisis simpang tak bersinyal dengan data volume lalu lintas sebagai brikut :

Data Jam Sibuk Jalan Minor Jalan Mayor

Pagi 2397 3059

Siang 2154 3006

Sore 1972 3266

Jumlah 6523 9331

Data no 4

Analisis dilakukan dengan kondisi existing dan diprediksi 15 tahun yang akan datang dengan factor pertumbuhan kendaraan 6 % per tahun.

1. LATAR BELAKANG

Simpang jalan merupakan tempat terjadinya konflik lalulintas. Volume lalulintas yang dapat ditampung jaringan jalan ditentukan oleh kapasitas simpang pada jaringan jalan tersebut. Kinerja suatu simpang merupakan faktor utama dalam menentukan penanganan yang paling tepat untuk mengoptimalkan fungsi simpang. Parameter yang digunakan untuk menilai kinerja suatu simpang tak bersinyal mencakup ; kapasitas, derajat kejenuhan, tundaan dan peluang antrian.

Dengan menurunnya kinerja simpang akan menimbulkan kerugian pada pengguna jalan karena terjadinya penurunan kecepatan, peningkatan tundaan, dan antrian kendaraan yang mengakibatkan naiknya biaya operasi kendaraan dan menurunnya kualitas lingkungan. Berbeda dengan simpang bersinyal, pengemudi di simpang tak bersinyal dalam mengambil tindakan kurang mempunyai petunjuk yang positif, pengemudi dengan agresif memutuskan untuk menyudahi manuver yang diperlukan ketika memasuki simpang.

(2)

Simpang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari jaringan jalan. Di daerah perkotaan biasanya banyak memiliki simpang , dimana pengemudi harus memutuskan untuk berjalan lurus atau berbelok dan pindah jalan untuk mencapai satu tujuan. Simpang dapat didefenisikan sebagai daerah umum dimana dua jalan atau lebih bergabung atau bersimpangan, termasuk jalan dan fasilitas tepi jalan untuk pergerakan lalulintas di dalamnya (Khisty, 2005).

Secara umum terdapat 3 (tiga) jenis persimpangan, yaitu : (1) simpang sebidang, (2) pemisah jalur jalan tanpa ramp, dan (3) interchange (simpang susun). Simpang sebidang (intersection at grade) adalah simpang dimana dua jalan atau lebih bergabung, dengan tiap jalan mengarah keluar dari sebuah simpang dan membentuk bagian darinya. Jalan-jalan ini disebut kaki simpang/lengan simpang atau pendekat.

Dalam perancangan persimpangan sebidang, perlu mempertimbangkan elemen dasar yaitu :

1. Faktor manusia, seperti kebiasaan mengemudi, waktu pengambilan keputusan, dan waktu reaksi.

2. Pertimbangan lalu lintas, seperti kapasitas, pergerakan berbelok, kecepatan kendaraan, ukuran kendaraan, dan penyebaran kendaraan.

3. Elemen fisik, seperti jarak pandang, dan fitur-fitur geometrik. 4. Faktor ekonomi, seperti konsumsi bahan bakar, nilai waktu.

2.2. Defenisi dan istilah simpang tak bersinyal

Notasi, istilah dan definisi khusus untuk simpang tak bersinyal ada beberapa istilah yang digunakan. Notasi, istilah dan defenisi dibagi menjadi 3, yaitu : Kondisi Geometric, Kondisi Lingkungan dan Kondisi Lalu Lintas.

(3)

Peralatan pengendali lalu lintas meliputi ; rambu, marka, penghalang yang dapat dipindahkan, dan lampu lalu lintas. Seluruh peralatan pengendali lalu lintas pada simpang dapat digunakan secara terpisah atau digabungkan bila perlu. Kesemuaanya merupakan sarana utama pengaturan, peringatan, atau pemandu lalu lintas. Fungsi peralatan pengendali lalu lintas adalah untuk menjamin keamanan dan efisien simpang dengan cara memisahkan aliran lalu lintas kendaraan yang saling bersinggungan.

Dengan kata lain, hak prioritas untuk memasuki dan melalui suatu simpang selama periode waktu tertentu diberikan satu atau beberapa aliran lalu lintas. Untuk pengandalian lalu lintas di simpang, terdapat beberapa cara utama yaitu :

1. Rambu STOP (berhenti) atau Rambu YIELD (beri jalan/Give Way), 2. Rambu Pengendalian Kecepatan,

3. Kanalisasi di simpan (Channelization), 4. Bundaran (Roundabout),

5. Lampu Pengatur Lalu Lintas.

2.4. Konflik lalu lintas

Didalam daerah simpang, lintasan kendaraan akan berpotongan pada satu titiktitik konflik. Konflik ini akan menghambat pergerakan dan juga merupakan lokasi potensial untuk terjadinya bersentuhan/tabrakan (kecelakaan). Arus lalu lintas yang terkena konflik pada suatu simpang mempuyai tingkah laku yang komplek, setiap gerakan berbelok (ke kiri atau ke kanan) ataupun lurus masing-masing menghadapi konflik yang berbeda dan berhubungan langsung dengan tingkah laku gerakan tersebut.

(4)

Didalam daerah simpang lintasan kendaraan akan berpotongan pada satu titiktitik konflik, konflik ini akan menghambat pergerakan dan juga merupakan lokasi potensial untuk tabrakan (kecelakaan). Jumlah potensial titik-titik konflik pada simpang tergantung dari :

a. Jumlah kaki simpang

b. Jumlah lajur dari kaki simpang c. Jumlah pengaturan simpang d. Jumlah arah pergerakan

2.6. Kinerja lalu lintas

(5)

Dalam peristiwa tertentu, pengemudi cenderung untuk mengikuti kelakuan pengemudi-pengemudi lainnya. Selain faktor-faktor tersebut di atas, faktor lain yang mempengaruhi perilaku manusia sebagai pengemudi kendaraan adalah :

1. Sifat perjalanan (bekerja, rekreasi, berbelanha, berjalan-jalan dan lainnya), 2. Kecakapan dan kebiasaan dalam mengemudikan kendaraan,

3. Pengetahuan tentang peraturan berlalu lintas di jalan raya, 4. Kemampuan dan pengalaman mengemudi,

5. Kondisi fisik pengemudi

(6)

3. METODOLOGI

Alur pikir dan metodologi dapat digambarkan sebagai berikut:

(7)

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

Dengan volume arus lalu lintas pada simpang seperti terlihat pada data jalan minor dengan data 2387 (pagi) 2154 (siang) 1972 (siang) dan jalan mayor 3059 (pagi) 3006 (siang) 3266 (sore) maka dapat dikategorikan pada simpang tersebut masuk dalam kategori Priority (data no urut mahasiswa 4).

4.1. Analisis Prediksi lalu lintas sampai tahun ke-15

Dari data lalu lintas yang ada maka dapat digunakan sebagai volume tahun ke-0 yang diperoleh melalui nilai acuan bagi prediksi volume yang akan dihitung peningkatanya pada tahun-tahun berikutnya selama 15 tahun.

Peningkatan volume tiap tahun adalah 6 % pertahun.

Table prediksi volume lalu lintas kendaraan (Jalan Minor):

Tahun Total kendaraan

Table prediksi volume lalu lintas kendaraan (Jalan Mayor):

(8)

3 10483,31 629,06

4 11112,37 666,74

5 11779,11 706,75

6 12485,86 749,15

7 13235,01 794,10

8 14029,1 841,75

9 14870,85 892,51

10 15763,09 945,78

11 16708,87 1002,53

12 17711,4 1062,68

13 18774,08 1126,44

14 19900,52 1194,03

15 21094,55 1265,67

Hasil Analisis

(9)

Sumber : Munawar, A. 1995

Grafik hubungan major flow vs minor flow Siang

Sumber : Munawar, A. 1995 Priority

(10)

Grafik hubungan major flow vs minor flow Sore

(11)

Grafik hubungan major flow vs minor flow setelah di prediksi 15 tahun yang akan datang dengan faktor pertumbuhan 6 %

(12)

5. KESIMPULAN

Dari hasil analisis dan olah data sebelumya maka dapat disimpulakan bahwa:

o Berkurangya konflik pada suatu persimpangan tergantung rekayasa lalu lintas pada simpang tersebut baik atau tidak.

o Kesadaran dalam berkendara sangan besar pengaruhnya terhadap lalu lintas suatu jalan maupun persimpangan.

o Data nomor 4 dilihat dari grafik masuk dalam kategori priority

o Dari hasil olah data diprediksi pertumbuhan lalu lintas pada persimpangan selama 15 tahun dengan pertumbuhan kendaraan pertahun sebesar 6 % adalah

 Untuk jalan Minor terjadi peningkatan sebesar 14747,85  Untuk jalan Mayor terjadi peningkatan sebesar 21094,55

Gambar

Table prediksi volume lalu lintas kendaraan (Jalan Mayor):
Grafik hubungan major flow vs minor flow Pagi
Grafik hubungan major flow vs minor flow Siang
Grafik hubungan major flow vs minor flow Sore
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dalam usaha membangun sistem manajemen lalu lintas yang handal dan berkesimbungan, pekerjaan membangun fasilitas jalan yang lebar sesuai klasifikasi jalan dan demand lalu

Potensi kapasitas lalulintas jalan minor yang dapat terserap di simpang Timoho kota Yogyakarta pendekat C adalah 7,51 % sampai dengan 34,94 % dari volume konflik lalulintas

Persimpangan tak bersinyal dan jalan masuk pada jalan raya dengan lalulintas cepat adalah keadaan dimana lalulintas lain menggunakan sebagian kapasitas yang

Sesuai dengan analisa data yang kami dapatkan dapat diambil kesimpulan bahwa tata guna lahan di persimpangan Jalan Telaga Asih dan Jalan Imam Bonjol memiliki tata

2. Tikungan tajam ke kanan atau berbukit-bukit 17. Persimpangan tiga serong kanan 3. Tikungan ganda, tikungan pertama kekiri 10. Jalan cembung atau jembatan 18. Banyak

Persimpangan tak bersinyal dan jalan masuk pada jalan raya dengan lalulintas cepat adalah keadaan dimana lalulintas lain menggunakan sebagian kapasitas yang

Tirtayasa dapat diperoleh jumlah arus total kendaraan yang masuk ke simpang dari jalan mayor atau jalan utama QMA yaitu arah bagian dari pendekat dari kaki simpang yang memiliki arus

Namun yang seringkali terjadi adalah kemacetan berada di persimpangan jalan dengan durasi lampu lalu lintas yang tidak sesuai dengan volume kendaraan.. Penelitian ini bertujuan untuk