• Tidak ada hasil yang ditemukan

SINERGI DUA PENDEKATAN SEBUAH REVOLUSI P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SINERGI DUA PENDEKATAN SEBUAH REVOLUSI P"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ESSAY COMPETITION

"Revolusi Politik Berantas Korupsi Sistemik"

SINERGI DUA PENDEKATAN : SEBUAH REVOLUSI POLITIK PEMBERANTASAN KORUPSI SISTEMIK

Studi Terhadap Pendekatan Aktor dan Kepartaian dalam Pemberantasan Korupsi Sistemik di Indonesia

Disusun oleh: Nama : Desiana Rizka Fimmastuti NIM : 10/ 305078/ SP/ 24358

JURUSAN POLITIK DAN PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

(2)

SINERGI DUA PENDEKATAN : SEBUAH REVOLUSI POLITIK PEMBERANTASAN KORUPSI SISTEMIK

Studi Terhadap Pendekatan Aktor dan Kepartaian dalam Pemberantasan Korupsi Sistemik di Indonesia

A. PENDAHULUAN

Kesejahteraan dan kehidupan yang layak merupakan dambaan setiap lapisan masyarakat. Untuk mewujudkannya diperlukan peran dari berbagai pihak, salah satunya adanya negara yang memiliki otoritas tertinggi untuk mengelola dan mewujudkan cita- cita tersebut. Hal ini memperlihatkan bahwa negara memiliki power yang begitu besar. Namun realitasnya, kekuasaan tersebut acap kali disalahgunakan, seperti yang terjadi di Perancis. Dalam buku L’Esprit des Lois (The Spirit of Laws) dipaparkan bahwa negara, yang digambarkan oleh para raja Bourbon memiliki sifat despotis1. Inilah yang mengakibatkan kesejahteraan rakyat dapat dipertanyakan ulang.

Guna mencegah adanya penyalahgunaan kekuasaan, memang diperlukan dispertion of power untuk membagi kekuasaan tersebut. Hal ini senada dengan Montesqiueu (1750) melalui gagasannya mengenai Trias Politica, yaitu mana memisahkan negara kedalam 3 bentuk kekuasaan yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Konsep ini telah diterapkan di Indonesia, dengan kekuasaan eksekutif diwakili oleh pemerintah, legislatif oleh wakil rakyat, serta kekuasaan yudikatif diwakili oleh peradilan. Harapannya pemerintah tidak lagi berlaku sewenang- wenang, akan tetapi lebih demokratis dimana melibatkan rakyat dalam setiap kebijakan. Dengan begitu, kesejahteraan rakyat akan segara terwujud.

Namun, lain yang terjadi di Indonesia dimana para pemilik otoritas justru bekerjasama untuk melakukan penyelewengan. Korupsi menjadi salah satu contohnya. Korupsi tidak lagi terjadi secara perseorangan, akantetapi dilakukan secara bersama-sama melalui sebuah persekongkolan. Ironisnya, fenomena tersebut juga tidak lepas dari keberadaan partai politik – selaku agen pemasok calon pemimpin bangsa. Jelas terlihat bahwa korupsi di Indonesia telah terjadi secara sistemik dimana melibatkan banyak pihak dalam prakteknya. Inilah yang menyebabkan kesejahteraan rakyat Indonesia belum terwujud hingga kini.

Atas dasar itulah korupsi harus segera diprioritaskan penyelesaiannya agar publik tidak lagi dirugikan. Sejauh ini, pemberantasan korupsi sejauh ini hanya berkutat pada aktor semata, akan tetapi lebih dari itu belum terlihat adanya pembenahan dari kondisi partai politik selaku ‘pemasok’ para

1Charles-Louis de Secondat, baron de La Brède et de Montesquieu 1750, The Spirit of Laws, dilihat pada 28 September

(3)

pejabat publik. Dengan demikian, menjadi penting untuk dipikirkan sinergi pemberantasan korupsi terhadap pelaku dan diiringi adanya pembenahan kondisi kepartaian di Indonesia.

Pada kasus ini, penulis ingin memfokuskan pada fenomena kartelisasi akibat atas adanya ‘pencarian’ pendanaan partai politik. Hal ini didasari oleh adanya fenomena bahwa pendanaan partai merupakan salah satu faktor yang melatarbelakangi adanya korupsi para pejabat publik. Untuk itu, tulisan ini berusaha memberikan solusi pemberantasan korupsi dari berbagai sudut sehingga tiada celah dan tiada akar yang tersisa bagi bibit korupsi di Indonesia.

B. TERKUAKNYA KORUPSI SISTEMIK DALAM OTORITAS NEGARA:

PENERAWANGAN DARI SISI AKTOR DAN KETERLIBATAN PARPOL

Ironis memang, Ibu Pertiwi kini menjadi ladangnya para koruptor Indonesia. Satu per satu korupsi telah terkuak dihadapan publik. Tak ayal jika nilai CPI Indonesia mencapai angka 4 pada tahun 20122. Inilah yang menggambarkan bahwa korupsi di Indonesia masih sangat tinggi. Realitanya, korupsi di Indonesia telah terjadi secara sistemik, dimana pelaku kini beragam, dan mereka saling bekerjasama satu sama lain. Berikut adalah data yang menunjukkan pelaku korupsi berdasarkan jabatan dari tahun 2004 hingga tahun 2013.

Tabel 1. Data Pelaku Korupsi Berdasarkan Jabatan Tahun 2004-2013 (per 31 Agustus 2013)

Sebelum menganalisa tabel di atas, harus diketahui bahwa korupsi yang terjadi di Indonesia sudah akut dan telah terjadi secara sistemik terutama pada segi modus. Jika kita melihat korupsi dapat dilak yaitu subjek, sektor atau objek, dan modus. Pada segi subjek, dapat dilihat bahwa sejak tahun 2008 para

2CORRUPTION PERCEPTIONS INDEX 2012, dilihat pada 28 September 2013

<http://www.transparency.org/cpi2012/results>

(4)

pelaku korupsi rata- rata berasal dari kalangan pejabat pemerintahan, sedangkan sektornya fokus pada pemerintah daerah atau pemerintah pusat (Alim, Hifdzil 2013) . Hal ini didukung dengan paparan data di atas bahwa korupsi didominasi oleh aktor yang menduduki jabatan legislatif (total : 72) dan jabatan eksekutif (total : 114) semenjak tahun 2004 hingga 2013.

Apabila dilakukan zoom in, mayoritas korupsi terjadi di sektor pengadaan barang atau jasa dengan nilai kerugian negara hampir mencapai Rp 12,5 triliun selama semester pertama tahun 20123. Berdasarkan pemantauan dari ICW, selama periode semester I tahun 2012, kasus korupsi tertinggi terjadi di sektor infrastruktur atau sektor pengadaan barang dan jasa dengan jumlah kasus sebanyak 87 kasus. Sedangkan dari segi modus, terlihat bahwa modus operandi korupsi Indonesia terlihat semakin sistemik. Korupsi yang terjadi di Indonesia tidak hanya melibatkan satu sektor, akan tetapi lebih dari itu. Praktik korupsi dahulu terlihat lebih sederhana, dimana koruptor membuat kuitansi fiktif. Sedangkan pada saat ini, korupsi dilakukan dengan didahului oleh deal- deal satu sama lain (Alim, Hifdzil 2013), sehingga akan saling menguntungkan semua pihak yang terlibat.

Perkembangan korupsi yang terlihat semakin sistemik menunjukkan bahwa koruptor semakin canggih dalam beraksi. Setidaknya begitulah yang terjadi pada mayoritas kasus korupsi di Indonesia, salah satunya terlihat dalam kasus Wisma Atlet. Pada kasus tersebut terdapat prosedur yaitu pelelangan tender yang harus dipenuhi. Akan tetapi, jika diamati lebih dalam terdapat skenario yang telah mengatur pemenang tender tersebut sedari awal. Pada kasus yang panas itu, Muhammad Nazaruddin berhasil melarikan diri ke Singapura sebelum ditangkap oleh KPK, hal tersebut bukanlah atas usahanya sendiri. Akan tetapi terdapat keterlibatan ‘sektor-sektor’ lain yang memungkinkannya untuk melarikan diri ke luar negeri (Alim, Hifdzil 2013). Dari kasus ini, terlihat bahwa banyak aktor yang terlibat dalam korupsi ini.

Dari paparan kasus tersebut, dapat ditarik benang merah bahwa korupsi sistemik di Indonesia dapat dilakukan oleh legislatif, eksekutif, dan juga yudikatif. Koruptor menjadi aktor yang layak disalahkan. Namun tidak semua orang menyadari bahwa, terdapat aktor lain yang ikut ‘bertanggungjawab’ atas keseluruhan korupsi yang terjadi yaitu partai politik. Hal ini dikarenakan dalam era demokrasi seperti saat ini, partai politik memegang kendali besar atas keberadaan aktor- aktor publik. Di Indonesia, partai politik menjagokan kandidatnya sebagai presiden. Pada proses ini, akan terjadi koalisi antar partai, yang mana kelak akan diberi imbalan ‘jasa’ berupa jabatan mentri dan posisi strategis lainnya. Tidak hanya itu, partai politik juga berperan dalam menempatkan kadernya untuk menduduki jabatan legislatif. Para legislator inilah yang memiliki peran begitu banyak, diantaranya

3 ______2012,’Potensi Kerugian Negara Umumnya pada Pengadaan Barang dan Jasa’, dilihat 26 Oktober 2012

(5)

adalah penganggaran, perumusan perundang- undangan, pengawasan, dan sebagainya4. Jabatan dan kewenangan para aktor inilah yang acap kali diselewengkan, untuk kepentingan dirinya dan golongannya.

Idealnya, partai politik akan mengontrol para kadernya untuk bekerja sesuai dengan ideologi dan kepentingan konstituennya yang berada di level grassroot. Dengan demikian sistem demokrasi yang dibangun akan berjalan dengan baik, dimana masyarakat akan menyalurkan aspirasi via partai, kemudian partai – melalui para wakilnya akan mengejawantahkan dalam public policy5. Namun yang terjadi di Indonesia adalah para pejabat publik justru saling bekerjasama untuk melakukan korupsi. Mereka justru menyalahgunakan jabatan untuk kepentingannya sendiri dan partainya.

Kondisi para pejabat publik yang memprihatinkan tersebut dapat disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu yang akan dianalisa dalam tulisan ini adalah keterlibatan partai politik dalam perlombaan mencari keuntungan. Kondisi kepartaian di Indonesia kini begitu pelik, dimana terjadi kartelisasi dalam tubuh partai6. Karetelisasi didefinisikan sebagai situasi dimana parpol mengabaikan komitmen ideologis dan programatis mereka, demi kelangsungan hidup mereka sendiri. Mereka justru melakukan deal- deal agar kebijakan dan setiap pasal dalam perundang- undangan dapat menguntungkan mereka. Mereka melakukan kartelisasi untuk mendapatkan kekuasaan dan akhirnya bisa jadi menjadi salah satu jalan melakukan distorsi. Ini didasari oleh adanya pendanaan partai politik yang beperan penting dalam perebutan kekuasaan pada periode selanjutnya.

Tabel 2: Dana Kampanye Partai Politik Pemilu 2004 Dan Pemilu 20097 PartaiPolitik Pemilu 2004 (RP) Pemilu 2009 (RP)

Partai Golkar 112.791.035.149 145.583.002.911

PDIP 111.435.731.096 38.944.436.113

PKB 7.223.761.480 3.609.500.000

PPP n/a 18.338.239.000

Partai Demokrat 9.040.910.780 235.168.086.289

PAN 27.342.426.509 17.858.157.150

PKS 29.795.410.385 36.521.468.175

Jumlah 297.629.275.399 496.022.889.638

Berdasarkan data diatas, terlihat bahwa political cost yang dipakai partai politik secara umum sangatlah tinggi, dan mayoritas partai akan mengelurakan dana yang tinggi dari pemilu ke pemilu selanjutnya. Tidak hanya itu, biaya politik yang digunakan untuk modal menjadi calon legislatif

4 Boboy, Max 1994, DPR RI Dalam Perspektif Sejarah dan Tata Negara,Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 5 Törnquist, O, Webster, N, Stokke, K, 2009, Rethinking popular representation, Palgrave MacMillan, New York

6 Ambardi, Kuskridho 2009, The Making of Indonesian Multyparty System : A Cartelized Party System and Its Origin,

Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, h - 290

(6)

mencapai 1- 3 Milyar8. Mereka menginginkan adanya balik modal, sehingga berkecenderungan untuk masuk dalam kartelisasi yang berujung korupsi. Dengan menilik uraian tersebut, jelas sudah bahwa akar korupsi sistemik di Indonesia tidak hanya dari aktor, akan tetapi juga dari kondisi kepartaian itu sendiri.

Gambar 1. Kaitan Antara Kondisi Kepartaian Dengan Korupsi

Gambar di atas menunjukkan bahwa kartelisasi dan korupsi sistemik dalam kondisi kepartaian di Indonesia berakibat pada minimnya checks and balances. Hal ini bisa disebabkan adanya kartelisasi partai politik, sehingga abai terhadap kesejahteraan rakyat. Mereka ingin menyejahterakan partainya, sehingga korupsi menjadi salah satu jalan menggiurkan. Dana inilah yang digunakan untuk cost politik selanjutnya, sehingga partai mereka tetap eksis. Dengan menggunakan dana inilah, para partai politik akan berkontestasi untuk memenangkan kandidatnya, dan menguasai sumberdaya.

C. REVOLUSI POLITIK PEMBERANTASAN KORUPSI : TELAAH DARI SISI KEPARTAIAN DAN SISI AKTOR

Pemaparan di atas menunjukkan bahwa korupsi sistemik berasal dari motif aktor. Akan tetapi lebih dari itu, korupsi tersebut juga erat kaitannya dengan kondisi partai politik di Indonesia yang tengah terjebak kartelisasi. Partai politik tidak memiliki ideologi yang mengakar pada para kadernya, sehingga para pejabat publik tidak memiliki visi yang jelas – untuk menampung aspirasi dan mewujudkan kesejahteraan rakyat. Dengan begitu, mereka memiliki kecenderungan untuk bekerja untuk dirinya sendiri (rent seeking). Untuk itu, diperlukan adanya pemberantasan korupsi yang dapat dimulai dari ranah aktor, dan dibarengi dengan pembenahan dalam kepartaian Indonesia.

8 Ramli, Rizal 2013, ‘Rizal Ramli: Politik Uang Telah Membunuh Demokrasi, dilihat pada 16 September 2013 <

http://www.rmol.co/read/2013/05/24/111785/Rizal-Ramli:-Politik-Uang-Telah-Membunuh-Demokrasi- >’

- Political Cost tinggi

- Perebutan dana untuk modal partai

- Peraturan yang kurang ketat

KARTELISASI

(Nuansa Nonkompetitif,

Rent Seeking)

- Korupsi Sistemik

- Kebijakan Tidak Pro Rakyat

Hilangnya Checks and

Balances

(7)

a. Pemberantasan Korupsi Level Aktor

Korupsi merupakan fenomena yang melibatkan aktor- aktor baik lembaga eksekuti, legislatif, maupun yudikatif. Untuk itu, diperlukan pemberantasan korupsi dari level aktor. Masyarakat menilai bahwa hukuman mati merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Namun hal ini jelas sulit diterapkan karena hukuman mati hanya ditujukan pada pelaku Pasal 2 Ayat 1, dengan dilengkapi dengan keadaan tertentu. Disamping itu, dari sisi hukum internasional, hukuman mati sebenarnya telah diwajibkan untuk dihapuskan dalam UU negara anggota PBB, termasuk Indonesia9. Untuk itu diperlukan cara lain pemberantasan korupsi yaitu dengan pertama adalah pemiskinan koruptor dan penangkapan anggota keluarga yang terlibat dalam kasus korupsi. Penangkapan keluarga dapat menghadirkan efek jera, sehingga keluarga mampu mengingatkan pejabat atau mereka yang akan melakukan korupsi10. Kedua, penerapan sanksi sosial dengan cara pemborgolan dan penggunaan baju tahanan korupsi. Tidak hanya itu, ketika para koruptor selesai menjalani hukumannya, merekajuga diharuskan untuk melakukan kerja sosial selama beberapa tahun tanpa menerima upah. Dalam menjalankan tugasnya tersebut, mereka diwajibkan untuk mengenakan baju ‘Mantan Koruptor’. Dengan begitu, efek jera akan terbentuk sehingga membuat orang enggan untuk melakukan korupsi.

Pemberantasan korupsi dari level aktor tersebut merupakan hal tambahan yang harus dilakukan disamping melakukan hukuman kurungan maupun denda. Kesemua itu memang harus dilakukan agar para koruptor merasa jera, di sisi lain dapat menjadi pendidikan dini bagi generasi bangsa untuk hidup jujur.

b. Pemberantasan Korupsi dan Partai Politik

Sebagaimana telah dibahas sebelumnya bahwa salah satu kondisi yang menyebabkan suburnya korupsi di Indonesia adalah adanya kartelisasi partai politik. Kartelisasi menyebabkan partai mendekat ke negara untuk meraih sumberdaya untuk dirinya. Pada titik inilah para tangan- tangan partai ikut berlomba untuk mendapatkan keuntungan maksimal atau sering disebut berburu rente (rent seeking). Untuk itu, diperlukan adanya pembenahan dalam tubuh kepartaian Indonesia, sehingga dapat berkontribusi dalam pemberantasan korupsi. Pertama, diperlukan adanya penguatan ideologi partai politik sehingga tidak lagi terjebak dalam kartelisasi. Harapannya, partai politik akan bergerak sesuai dengan ideologi – meskipun terkadang harus menjadi oposisi. Dengan adanya hal ini, maka partai akan

9 Atmasasmita, Romli 2008,’ Hukuman Mati untuk Koruptor’ dilihat 12 Oktober 2013

<http://antikorupsi.org/en/content/hukuman-mati-untuk-koruptor-0>

10 Nur Wahid, Hidayat 2005,’ Hukuman Mati untuk Koruptor’dilihat pada 12 September 2013 <

(8)

saling mengawasi satu sama lain, sehingga checks and balances akan terbentuk. Bisa jadi para partai memegang dan akan saling mengeluarkan ‘kartu as’, sehingga kasus korupsi akan mudah terbongkar. Jika berbagai kasus terbongkar dan dipadukan dengan pendekatan aktor11, maka akan terbentuk efek jera untuk korupsi. Kedua, diperlukan adanya lembaga yang menjadi intimidating power yang senantiasa mengawasi partai politik yang berburu rente. Di Indonesia sudah ada KPK yang berperan penting dalam proses tersebut. Namun kritik yang muncul akhir- akhir ini adalah KPK dinilai tebang pilih dalam melakukan pemberantasan korupsi di Indonesia. Indonesia dapat mencontoh Korea Selatan, dimana negara tersebut juga mengalami perombakan sistem untuk mencegah korupsi. Pada tahun 1993- 1998, terdapat penguatan dewan audit dan inspeksi (BAI), dan Komite Pencegahan Korupsi (CPC) dimana bertugas sebagai penasehat BAI; Pada tahun 2000, Korsel juga membangun landasan hukum yang kuat berupa UU Anti Korupsi dan UU Pencegahan Pencucian Uang. Berlanjut pada tahun 2002-2008 terdapat beberapa perubahan diantaranya adalah dibentuklah Korea Independent Commission Against Corruption (KICAC) yang mengimplementasikan kebijakan mengenai 1) perbaikan kelembagaan untuk pencegahan korupsi,(2) penanganan laporan korupsi; (3) melindungidan memberi penghargaan kepada whistle- blower ,(4) penilaian kegiatan anti-korupsi, serta(5) meningkatkan kesadaran publik tentang isu korupsi melalui kode etik bagi para pejabat publik dan pelatihan anti-korupsi12. KICAC berkerjasama dengan Badan Audit, Kepolisian, Kejaksaan Agung untuk memberantas korupsi. Jika diamati lebih jauh, pada tahun 2008- 2013 KICAC diganti dengan Komisi Anti-Korupsi dan Hak Sipil (ACRC) pada tanggal 29 Februari 2008 yang mana merupakan integrasi dari Ombudsman Korea, Komisi Independen Anti Korupsi Korea (KICAC) danKomisi Banding Administratif. Konsolidasi inilah yang memberikan pelayanan satu atap kepada masyarakat terkait pengaduan, pengajuan banding administratif, sekaligus pemberantasan korupsi. Pemberantasan korupsi ala Korea Selatan ini bisa dijadikan referensi tambahan dalam mengelola organisasi pemberantasan korupsi di Indonesia.

D. KESIMPULAN

Realitas maraknya korupsi di Indonesia bukanlah isapan jempol semata. Data menyebutkan bahwa mayoritas kasus terjadi pada lembaga eksekutif dan legislatif. Di samping itu, jika dilakukan analisa mendalam, korupsi Indonesia sudah bersifat sistemik dimana antar sektor saling kerjasama untuk melakukan korupsi berjamaah. Ini merupakan PR terbesar bangsa untuk segera memikirkan strategi tepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

11 Pendekatan aktor merupakan mekanisme pemberantasan korupsi dari level pelaku, seperti yang telah dipaparkan dalam

point (a)

12 Gae Ok Park,Korea’s Policies and Instruments to Manage Conflict of Interest, dilihat pada 13 Oktober 2013

(9)

Uraian di atas telah membuka mata kita bahwa korupsi tidak cukup jika hanya dilakukan dengan pendekatan aktor pelaku. Lebih dari itu, diperlukan adanya perhatian khusus pada kondisi kepartaian di Indonesia. Kondisi partai di Indonesia kini terjebak dalam kartelisasi, dimana mereka hanya mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dengan cara mendekati negara. Disinilah korupsi sistemik kian marak terjadi, dibarengi dengan memudarnya checks and balances antar aktor politik. Jika kondisi ini tidak dibenahi, dapat dipastikan bahwa korupsi sistemik kian subur.

Melalui telaah inilah, penulis menawarkan sinergi dua pendekatan aktor dan kepartaian dalam pemberantasan korupsi sistemik di Indonesia. Dari pendekatan aktor, hal yang harus dilakukan adalah pemiskinan koruptor dan penangkapan anggota keluarga yang terlibat dalam kasus korupsi; serta penerapan sanksi sosial dengan cara pemborgolan dan penggunaan baju tahanan korupsi. Sedangkan dari segi kepartaian, hal yang dapat dilakukan adalah penguatan ideologi partai politik sehingga tidak lagi terjebak dalam kartelisasi; serta diperlukan adanya lembaga yang menjadi intimidating power yang senantiasa mengawasi partai politik yang berburu rente. Dengan diberlakukannya dua metode sekaligus, maka pemberantasan korupsi dapat dilakukan secara terpadu sehingga hasilnya dapat sesuai dengan harapan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Ambardi, Kuskridho 2009, The Making of Indonesian Multyparty System : A Cartelized Party System and Its Origin, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, h – 290

Törnquist, O, Webster, N, Stokke, K, 2009, Rethinking popular representation, Palgrave MacMillan, New York

Boboy, Max 1994, DPR RI Dalam Perspektif Sejarah dan Tata Negara, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta Supriyanto, Didik & Wulandari, Lia 2013, Basa-Basi Dana Kampanye Pengabaian Prinsip

Transparansi Dan Akuntabilitas Peserta Pemilu, Yayasan Perludem, Jakarta Selatan

Ramli, Rizal 2013, ‘Rizal Ramli: Politik Uang Telah Membunuh Demokrasi, dilihat pada 16 September 2013 < http://www.rmol.co/read/2013/05/24/111785/Rizal-Ramli:-Politik-Uang-Telah-Membunuh-Demokrasi- >’

Alim, Hifdzil 2013, ‘Pukat UGM: Modus Korupsi Semakin Lama Semakin Sistemik’, dilihat pada 28 September 2013

<http://news.detik.com/read/2012/04/18/062638/1894874/10/1/pukat-ugm-Gae Ok Park,Korea’s Policies and Instruments to Manage Conflict of Interest, dilihat pada 13 Oktober 2013 < http://www.oecd.org/site/adboecdanti-corruptioninitiative/39368038.pdf>

______2012,’Potensi Kerugian Negara Umumnya pada Pengadaan Barang dan Jasa’, dilihat 26 Oktober 2012 <http://www.pikiran-rakyat.com/node/206040>

CORRUPTION PERCEPTIONS INDEX 2012, dilihat pada 28 September 2013 <http://www.transparency.org/cpi2012/results>

Gambar

Tabel 2: Dana Kampanye Partai Politik Pemilu 2004 Dan Pemilu 20097
Gambar 1. Kaitan Antara Kondisi Kepartaian Dengan Korupsi

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis tanggapan 10 mahasiswa tentang materi kualitas hand out hasil penelitian pewarisan obesitas dalam keluarga sebagai bahan ajar mata kuliah Genetika

Jika dilihat dari data deskriptifnya, skor rata- rata kemampuan menyusun karya ilmiah pada kelas eksperimen I yang diberikan resitasi berupa tugas menyusun proposal

Hasil analisis varians (Tabel 3) menunjukkan bahwa penampilan karakter hasil, bobot biji per tanaman dan tinggi tanaman pada kondisi cekaman air dan Anthesis Silking Interval

[r]

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : Bakteri yang teridentifikasi dari plak gigi pasien di Puskesmas Ranotana Weru Manado yang

Ketentuan dalam Pasal 44 ayat (2) KUHAP telah secara tegas melarang untuk melakukan pinjam pakai terhadap benda sitaan (barang bukti), namun dalam praktek

Setelah menyimak video pembelajaran tentang makna dari sila pertama Pancasila, siswa mampu memberikan contoh pengamalan dari sila pertama dalam kehidupan sehari-hari dengan

Dibandingkan dengan mangga kontrol dan mangga yang direndam air panas, buah dengan pelilinan dan perendaman dalam ekstrak lengkuas memiliki tekstur yang lebih keras