1. Pendahuluan
Globalisasi sepertinya hadir dalam berbagai macam rupa dengan menjanjikan sebuah harapan baru tentang kehidupan yang lebih baik di masa yang akan mendatang baik secara politik, ekonomi atau sosial budaya. Dalam dunia globalisasi dengan berbagai rupa itu, di tengah integrasi dan meleburnya masyarakat dunia dalam jaringan global, konflik serta pergolakan nasionalisme juga mengalami perubahan dan pergeseran makna. Sentimen mengenai masalah nasionalisme dan etnis sepertinya tidak bisa hilang begitu saja dengan meleburnya sistem ekonomi global, bahkan sentimental tersebut justru semakin menguat. Martin dan Schumann melihat bahwa permasalahan ini muncul dikarenakan perbedaan ekonomi yang semakin lebar di masyarakat. Ketika jurang ekonomi melebar di masyarakat, maka orang-orang yang tidak memiliki kepercayaan diri yang lebih dan akan mencari keselamatan politik dalam pemisahan dan perbedaan1.
Dalam era globalisasi saat ini, konflik etnis menjadi sebuah kejadian besar jika dibandingkan dengan konflik nasional yang terjadi antarnegara. Nasionalisme dan konflik etnik bukanlah hal yang bisa terjadi dalam ruang lingkup nasional namun juga terjadi dalam ruang lingkup yang lebih luas yaitu dunia internasional. dalam mempelajari hubungan internasional sendiri yang menjadi aktor utama dalam pelajaran atau ilmu ini adalah negara, sementara dalam sebuah negara sangat erta kaitannya dengan isu mengenai nasionalisme dan etnik.
Untuk memahami tulisan mengenai nasionalisme dan konflik etnik ini, bisa kita telaah lewat pemahaman dari konsep societal security. Societal security
berkaitan dengan hubungan sosial dan budaya di mana menyangkut identitas kolektif dan berkelanjutan, dalam kondisi yang dapat diterima pada pola tradisional bahasa, budaya dan agama, serta identitas nasional dan adat istiadat yang secara empiris bervariasi dalam berbagai waktu dan tempat2. Pembahasan ini
akan melihat bagaimana pengaruh globalisasi membawa dampak positif dan negatif dalam perubahan yang sangat signifikan. Bagaimana nasionalisme
1 Hans Peter Martin dan Harald Schumann, 2005. Jebakan Global: Serangan Terhadap Demokrasi dan Kesejahteraan, Jakarta: Hastra Mitra-Institute for Global Justice, hal. 43 2 Barry Buzan, et al. 1998. Security: A Framework for Analysis, Colorado: Lynne Rienner
mempengaruhi stabilitas keamanan dalam susunan masyarakat dengan dampak terjadinya berbagai konflik etnik yang terjadi baik secara nasional maupun global.
2. Nasionalisme
Pada hakikatnya, nasionalisme tidak serta merta muncul begitu saja tanpa melalui tahapan proses evolusi pemaknaan lewat sebuah perkembangan keilmuan dan media massa. Secara harfiah, nasionalisme berasal dari bahasa latin yaitu
natio, yang berakar pada kata nasci atau ‘saya lahir’3. Selama kekaisaran Romawi
Kuno, kata nasci digunakan untuk menyebut ras, suku, atau keturunan dari orang yang dianggap kasar atau tidak tahu adat menurut standar dan patokan moralitas Romawi4. Pada perkembangannya, kata latin ini banyak diadopsi dalam berbagai
bahasa, contohnya Inggris dan Perancis yang menyebut nasci sebagai nation, dan Italia nasci dikenal dengan nascere.
Pada tataran selanjutnya, kata nation mengalami perubahan makna baru yang justru lebih positif dan dipakai secara umum untuk menggambarkan semangat kebangsaan, yakni pada revolusi Perancis pada abad ke-18. Parlemen revolusi Perancis menyebut diri mereka dengan sebuah sebutan assembe nationale, yang sekaligus menandai adanya tranformasi yag terjadi dalam institusi politik. Tranformasi yang terjadi adalah sebuah perubahan dari eksklusif yang hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan ke sifat egaliter5, dalam pengertian ini
memiliki makna bahwa semua kelas meraih hak yang sama dengan kaum elite dalam berpolitik tanpa adanya pembatas atau pembeda seperti sebelumnya. Hal itulah yang mendasari kata nation menjadi seperti sekarang yang merujuk pada bangsa atau kelompok manusia yang menjadi penduduk resmi suatu negara6.
Secara politis, bangsa dapat diartikan sebagai masyarakat dalam suatu daerah yang sama dan tunduk kepada kedaulatan negaranya sebagai suatu kekuasaan yang tinggi.
Nasionalisme merupakan sebuah fenomena yang sangat kompleks, maka dari itu tidak bisa dipahami dari satu definisi saja. Ada beberapa pemikir mengenai definisi nasionalisme, misalnya Anthony D. Smith yang menurutnya
3 Budi Winarno, 2014. Dinamika Isu-Isu Global Kontemporer. Yogyakarta: CAPS, hal. 239. 4Ibid.
5 Ibid.
nasionalisme merupakan suatu gerakan ideologis untuk mencapai dan mempertahankan otonomi, kesatuan, dan identitas bagi suatu populasi yang jumlah anggotanya bertekad untuk membentuk suatu bangsa yang aktual atau sebuah bangsa yang potensial7. Selain itu menurut P. Anthonius Sitepu,
nasionalisme dan natie (bangsa) merupakan sebuah gejala sosial politik yang dianggap terpenting terutama di masa kini, nasionalisme adalah sebuah gerakan sosial (social force) yang penuh dengan dinamika yang bermuara pada negara bangsa (nation-states)8. Menurut James G. Kellas, nasionalisme sebagai suatu
perjuangan demi membela bangsa untuk melawan bentuk pemaksaan dan deskriminasi9. Yang terakhir, menurut pandangan L. Stoddard, nasionalisme
adalah suatu keadaan jiwa dan suatu kepercayaan yang dianut oleh sejumlah besar individu sehingga membentuk sebuah kebangsaan. Nasionalisme adalah rasa kebersamaan segolongan sebagai suatu bangsa10.
Dalam pengertian yang sederhana mengenai nasionalisme, merujuk pada konsep bangsa sebagai suatu bentuk kesatuan komunis yang bertekad untuk memperjuangkan kepentingan bangsa serta negaranya. Pada tahun 1930-an sampai tahun 1940-an, sulit menemukan bangsa atau negara yang bebas dari wabah gerakan nasionalisme. Periode yang sama menjadi saksi klimaks nasionalisme di Eropa, yang memuncak pada Nazisme dan pembunuhan massal terjadi dalam Perang Dunia Kedua, dan pada sisi lain, kemudian muncul nasionalisme di Asia dan Afrika dengan mengambil bentuk gerakan “kemerdekaan” anti kolonial11.
Sebagai sebuah ideologi, nasionalisme memiliki banyak varian, dan sampai saat ini tidak ada definisi baku yang dapat menjelaskan secara utuh mengenai nasionalisme, sehingga nasionalisme hanya bisa atau sering diidentifikasi berdasarkan ciri-ciri yang melakat padanya. Ketika ditanya apa ciri dari suatu bangsa, sebagian orang mengatakan bahwa bahasa yang sama, etnis yang sama, atau agama yang sama sebagai dasar suatu bangsa, dan ada juga yang
7 Ibid., hal. 11.
8 P. Anthonius Sitepu, 2011. Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Graha Ilmu, hal. 129. 9 James G. Kellas, 1998. The Politics of Nationaism and Etnicity, USA: St. Martin Press, hal.
44.
mempercayai bahwa bangsa-bangsa terduru dari orang-orang yang memiliki sejarah yang sama. Oleh karenanya, esensi suatu bangsa tidak bisa diraba, esensinya adalah ikatan psikologis yang menyatukan orang dan membedakannya12. Konsep bangsa dan doktrin nasionalisme sendiri bisa kita lihat
secara runtut dari abad ke-18. Selanjutnya nasionalisme bisa dibagi dalam tiga fase13.
Fase pertama, biasanya sering dikaitkan dengan pemikiran the enlightenment (rainessance) dan merupakan bagian dari prinsip penentuan diri sendiri suatu masyarakat. Pemikiran ini dikembangkan oleh ilmuwan politik Perancis, Jean Jacques Rousseau. Rousseau meletakkan basis untuk pemikiran demokrasi modern dan legitimasi yang diperoleh dari mayoritas. Berdasarkan pemikiran ini, John Stuart Mill kemudian menambahkan betapa pentingnya representasi pemerintah sebagai institusi yang dibutuhkan dalam sistem politik. Ketika wacana tentang representasi pemerintah telah diterima sebagai cara untuk merealisasikan gagasan kolektif tentang prinsip penentuan nasib sendiri, dan itu berarti bahwa sebuah langkah kecil sudah diambil untuk penentuan nasib sendiri bagi suatu bangsa. Berdasarkan pemikiran Mills tersebut, maka nasionalisme berasal dari individu terlebih dahulu, ketika individu-individu tersebut menemukan representasinya dalam penentuan nasib sendiri, maka suatu bangsa bisa terbentuk.
Fase kedua, dalam eevolusi gagasan nasionalisme muncul atas respons terhadap revolusi Perancis tahun 1789. Dalam fase ini, konsep nation dihadirkan sebagai oposisi dari sistem monarki. Nasionalisme sesungguhnya mengekspresikan perasaan kebersamaan dan pemerataan status kewarganegaraan.
Fase ketiga, sebagai fase terakhir menjelaskan konsepsi demokrasi dan politik dari kebangsaan yang lebih disempurnakan. Nation tidak hanya diartikan sebagai masyarakat yang berlandaskan atas identitas politik, namun juga sejarah, tradisi dan budaya.
Nasionalisme jika kita lihat jauh hingga akarnya, maka akan sangat berkaitan dengan apa yang dinamakan konsep identitas. Hal ini berarti bahwa
12 Ibid.
nasionalisme bisa dilihat hingga tingkat personal. Sebuah identitas personal tersebut kemudia terbawa ke dalam kelompok yang lebih luas maknanya. Mulai dari keluarga, institusi (seperti sekolah atau universitas), daerah dan lain sebagainya14. Menurut Richard Mansbach dan Kristen Raffery, identitas membuat
manusia menempatkan dirinya bersama ke dalam sebuah grup (in-group) dan menganggap manusia di luar identitasnya sebagai “outsider” atau “alien” ( out-group)15. Identitas merupakan suatu ciri yang dimiliki seseorang untuk
mendefinisikan/merefleksikan dirinya di mana setiap individu mempunyai multi-identitas16. Sebagai contoh, seseorang bisa menjadi warga negara Indonesia
dengan keturunan Jawa dan sebagainya.
2.1 Dampak Nasionalisme
Nasionalisme dalam studi hubungan internasional memiliki dampak positif dan negatif. Dikutip dari buku karya Fred Halliday dalam John Baylis and Steve Smith (2005), sisi positif nasionalisme dapat kita lihat:
Pertama, nationalism does provide a principle of legitimacy that underpins the modern system, yang berarti bahwa sebuah negara bisa dan harus mewakili masyarakat serta memberikan pengakuan sebagai timbal balik atas rasa nasionalisme yang diberikan masyarakat. Kedua, nasionalisme merupakan realisasi dari asas demokrasi, di mana negara sebagai representasi masyarakat harus mampu mewujudkannya dalam lingkungan nasional maupun internasional. Ketiga, nasionalisme memiliki fungsi psikologi yang cukup penting dengan maksud bahwa nasionalisme mencakup rasa ingin memiliki, asal-usul, masa lalu hingga masa depan suatu negara atau budayanya. Keempat, nasionalisme adalah sumber kreativitas dan keragaman manusia yang rasa nasionalisme memunculkan banyak aspirasi, sebagai contohnya dalam bidang karya seni, baik itu lagu, lukisan, musik, bahasa, olah raga, dan lain sebagainya.
14 Winarno, Op. Cit., hal. 241
15 Richard Mansbach dan Kristen Raffery, 2008. Introduction to Global Politics, London: Routledge, hal. 691
Sisi negatif nasionalisme terdapat empat bagian yaitu17: Pertama,
dengan adanya rasa nasionalisme beberapa kelompok rela memperebutkan sesuatu atas nama tanah air, dan terkadang rasa nasionalisme juga memunculkan rasa cinta secara berlebihan (Chauvinisme). Sebagai contoh seorang Adolf Hitler mantan ketua partai Nazi, yang menganggap bahwa hanya negara dan bangsanya yang paling unggul jika dibandingkan dengan negara dan bangsa lainnya. Kedua, sekalipun nasionalisme tidak menggunakan konfrontasi militer, namun nasionalisme bisa menjadi hambatan bagi sebuah negara dalam menjalin kerjasama dengan negara lain.
Ketiga, rasa nasionalisme yang berlebihan juga akan merusak hubungan antara politik dan ekonomi suatu negara. Oleh karenanya, nasionalisme bisa mendorong adanya sebuah kerusakan negara sehingga mampu menggoyahkan stabilitas hubungan aspek ekonomi dan politik yang berkelanjutan. Keempat, jika nasionalisme tumbuh dalam sebuah negara yang dipimpin oleh pemerintahan yang diktator, maka bisa mendorong rakyatnya melakukan pemberontakan atau nationalism movement.
Ketidaksamaan pendapat atau mungkin perbedaan ideologi ditambah dengan besarnya rasa nasionalisme bisa menyebabkan suatu masyarakat memilih untuk lepas dari kedauatan dan ikatan sebuah negara.
Rasa nasionalisme sangat penting untuk dimiliki oleh seluruh warga negara di dunia. Dikarenakan dengan rasa nasionalisme mampu menjadi sebuah kekuatan dan mampu menjadi faktor pendorong dalam hubungan internasional. terlpepas dari itu semua, nasionalisme bisa membawa pengaruh positif dan tidak menutup kemungkinan membawa faktor negatif. Positif ketika nasionalisme mampu membawa warga negara dalam sebuah integrasi atau persatuan, dan akan negatif jika nasionalisme membuat warga negara menjadi idealis dan menganggap rendah warga negara lain yang akan berakhir pada disintegrasi.
2.2 Nasionalisme di Era Globalisasi
Konflik yang terjadi di banyak belahan dunia salah satu penyebab utamanya adalah diakibatkan oleh perasaan-perasaan etnisitas dan nasionalisme yang sering kali diawali oleh marginalisasi, baik marginalisasi secara politik atau ekonomi. Hal yang menarik dari etnisitas adalah seringkali membawa serta atribut agama. Ada suatu etnik yang yang mayoritas memeluk agama tertentu sehingga konflik etnis seolah-olah menjadi konflik agama juga, sebagai contoh konflik etnis-etnis yang ada di Indonesia merefleksikan hal ini di mana konflik etnis dibalut dengan isu agama. Sebagai akibatnya, konflik tidak lagi melibatkan dua atau lebih etnik, tetapi juga menyulut sentimen agama seperti halnya yang terjadi di Ambon.
Anderson mengemukakan bahwa nasionalisme merupakan sebuah ide atas komunitas yang dibayangkan18. “dibayangkan” karena setiap anggota
dari suatu bangsa bahkan bangsa yang terkecil pun, tidak mengenal seluruh anggota dari bangsa tersebut. Nasionalisme hidup dalam bayangan komunitas yang senantiasa selalu hadir di pikiran setiap anggota bangsa yang menjadi referensi identitas sosial. Orang-orang (warga negara) bersedia mengontruksikan dirinya sebagai bagian dari sebuah keluarga besar sebuah bangsa.
Diera globalisasi saat ini, gagasan komunitas yang dibayangkan (imagined communities) yang diprakarsai oleh Ben Anderson secara langsung memberikan peran yang besar bagi media. Ketika media mampu membangun “ritualitas” jauh melampaui nasionalitas dan etnisitas, maka pergeseran atas bentuk-bentuk nasionalisme akan terjadi. Merujuk pada beberapa kasus, semangat nasionalisme tidak hanya berkobar pada medan perang, namun bergeser di lapangan sepak bola dan bidang olah raga lainnya. Konselir Jerman, Angela Merkel merefleksikan akan hal ini dengan sebuah pernyataan bahwa sepak bola telah membawa persatuan terhadap masyarakat Jerman. Menurut Angela Merkel, belum pernah rakyat Jerman bersatu sejak penggabungan Jermat Barat dan Timur19. Nasionalisme
18 Benedict Anderson, 2002. Imagined Communities: Komunitas-Komunitas Terbayang, Yogyakarta: Insist dan Pustaka Pelajar.
direfleksikan dalam sebuah cara baru yaitu di bidang-bidang olah raga seperti sepak bola. Peran media juag seperti televisi sangat berpengaruh memberikan kontribusi yang tidak sedikit dalam menciptakan imajinasi kebangsaan melalui sepak bola. Oleh karena itu, sangat lazim ketika terjadi pertandingan sepak bola juga menjadi pertandingan gengsi antarnegara, dengan pembuktian hadirnya pimpinan negara hanya sekedar untuk menyaksikan pertandingan tersebut.
2.3 Potret Nasionalisme
Kebebasan individu yang ditawarkan oleh tren global tidak dipungiri mempengaruhi semangat nasionalisme suatu negara yang identik dengan persatuan dan kesatuan bangsa. Nasionalisme di era globalisasi saat ini banyak yang beranggapan bagaikan “katak dalam tempurung”20 dan
dianggap tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman yang serba modern. Tentunya ini bukan pendapat yang realistis bila dianggap semua negara atau bangsa demikian, mungkin bagi negara yang sudah maju, mapan dan mantap seperti negara-negara Barat pendapat ini benar.
Pada hakikatnya nasionalisme di era globalisasi sekarang ini mengalami pergeseran makna seiring dengan perkembangan zaman. Nasionalisme yang muncul saat ini lebih menekankan pada bagaimana paham nasionalisme mampu menghadapi perubahan-perubahan global yang terjadi akibat proses globalisasi berlangsung sangat cepat dan terjadi dalam skala yang luas dan mendalam.
Faktor penyebab munculnya nasionalisme di era globalisasi bisa dikelompokkan menjadi dua bagian, yakni faktor internal dan faktor eksternal21. Pertama, faktor internal meliputi: (a) munculnya rasa saling
memiliki sebagai bagian dari suatu bangsa; (b) kebanggaan terhadap sejarah kejayaan di masa lampau; (c) adanya keberagaman yang memunculkan semangat untuk membentuk identitas bersama. Kedua, faktor eksternal
meliputi: (a) adanya imperialisme ekonomi dari negara-negara maju, khususnya negara Barat terhadap negara-negara dunia ketiga melalui
liberalisasi dan privatisasi; (b) adanya ancaman dari pihak luar, berupa masalah terotorial seperti kasus Ambalat, permasalahan HAM, pelecehan yang dilakukan negara lain (seperti pemaksaan ideologi, pelecehan kedaulatan, klaim budaya dan bahasa); (c) munculnya keinginan untuk melindungi kebudayaan lokal terhadap pengaruh modernisasi.
3. Etnik
Nasionalisme pada hakikatnya tidak bisa dipisahkan dari konsep etnik. Nasionalisme yang mengusung tema nation atau bangsa pada kenyataannya mengundang dan mengandung unsur etnik. Secara garis besar, etnik memiliki sebuah definisi sebagai suatu komunitas manusia yang memiliki nama, tentunya sangat erat kaitannya dengan satu tanah air, memiliki mitos leluhur bersama, persamaan nasib, beberapa unsur budaya yang sama, dan tentunya memiliki sebuah solidaritas bersama dalam ikatan komunitas tersebut. Sangat jarang bahkan hampir tidak ada bangsa yang hanya memiliki satu kesatuan etnik saja. Bangsa Jepang yang dikatakan sebagai bangsa yang homogen, pada kenyataannya juga memiliki kesatuan etnik yang lain dari kesatuan yang merupakan mayoritas bangsa Jepang, yaitu etnik Ainu22.
3.1 Konflik Etnik
Etnis atau etnisitas memang berbeda dengan semangat nasionalisme yang berhembus kuat dan mendorong kemerdekaan bangsa-bangsa bekas jajahan pada tahun 1950-an sampai tahun 1960-an. Namun tidak dipungkiri bahwa gelombang nasionalisme juga dipengaruhi oleh sentimen etnisitas yang mulai menguat. Berakahirnya perang dingindan disambut dengan bubarnya Uni Soviet, banyak pihak yang berharap bahwa masa-masa perdamaian akan hadir, sebuah tatanan kehidupan global yang aman dan makmur untuk mencegah perpecahan yang kerap terjadi telah menjadi impian dan cita-cita pemimpin di masa lampau. Namun, nampaknya angan-angan dan keinginan masyarakat dunia tentang perdamaian dan hal baik lainnya nampaknya belum bisa terwujud dengan bukti bahwa pasca perang dingin dunia diwarnai kembali dengan konflik etnik dengan beragamnya kepentingan ekonomi dan politik.
Bubarnya negara Yugoslavia yang menganut sistem komunis ini diikuti oleh genosida yang menjadi peristiwa terbesar di Eropa sejak Perang Dunia Kedua. Menurut komisi federal untuk orang hilang, jumlah korban yang dikonfirmasi berjumlah sebanyak 8.373 jiwa. Pembunahan dengan latar belakang etnis yang kemudian dikenal dengan istilah pembantaian Srebrnica dianggap secara luas sebagai pembunuhan massal terbesar di Eropa semenjak Perang Dunia Kedua. Pembantaian Srebrnica ini dianggap sebagai kejadian pertama yang ditetapkan sebagai genosida secara hukum dan kejadian ini juga dianggap sebagai kejadian paling menakutkan dan kontroversial dalam sejarah Eropa modern pasca Perang Dunia Kedua23.
Menurut Brown, konflik etnik adalah konflik yang erat kaitannya dengan permasalahan-permasalahan yang mendesak seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan teritorial antara dua komunitas etnik atau bahkan lebih24. Konflik etnik identik dengan nuansa kekerasan, sebagai
contoh konflik etnik yang terjadi di Rwanda, Bosnia, dan Angola yang memiliki dimensi kekerasan luar biasa.
3.2 Penyebab Konflik Etnik
Konflik etnik disebabkan oleh beberapa faktor yaitu sebagai berikut25: Pertama, munculnya etnosentrisme. Konsep etnosentrisme seringkali dipakai secara bersama-sama dengan rasisme. Definisi konsep ini mewakili sebuah pengertian bahwa setiap kelompok etnik atau ras mempunyai semangat kelompoknyalah yang paling superior jika dibandingkan dengan kelompok lain, sehingga muncul sebuah sentimen anggapan etnik lain lebih rendah ketimbang etniknya sendiri. Kedua, keabsahan teritorial. Khususnya bagi kelompok etnik “pendatang” yang mendiami wilayah bangsa lain. Kelompok etnik “asli” bisa melakukan tindakan pembersihan (ethnic cleansing) bagi etnik “pendatang” karena ingin agar wilayah bangsa mereka hanya ditempati oleh keturunan asli bangsa tersebut. Hal ini nyata terjadi
23 http://id.wikipedia.org/wiki/perang_bosnia.
24 Michael E. Brown, 1997. “Causes and Implications of Etnict Conflict”, dalam Duibernau and Jogn Rex (eds.), The Ethnicity Reader, Nationalism, Multiculturalism, and Migration, Great Britain: Polity Press., hal 82.
seperti yang dialami oleh orang-orang Hungaria di Rumania, Tamil di Sri Langka, dan juga apa yang terjadi dengan orang kulit putih di Afrika Selatan. Ketiga, adanya streotipe negatif yang muncul terhadap salah satu atau beberapa etnik tertentu yang diwariskan secara turun temurun sehingga menciptakan citra atau image dari etnik tersebut selalu buruk. Sebagai contoh, seperti apa yang terjadi dengan keturunan etnik China dan keturunan asli di Tangerang. Etnik China mengganggap masyarakat keturunan asli Tangerang sebagai orang yang pemalas, bodoh dan tidak bisa menggunakan kesempatan baik yang datang, sementara itu keturunan etnik China dianggap sebagai golongan yang mau untungnya sendiri tanpa melihat halal atau haram. Keempat, adanya deskriminasi yang terjadi terhadap kelompok etnik tertentu sehingga menimbulkan prasangka ketidakadilan, sebagai contohnya seperti deskriminasi yang terjadi dalam jajaran pemerintahan, organisasi, pendidikan dan lain sebagainya. Kelima,
adanya ancaman yang muncul dari etnik lain sehingga memicu terjadinya konflik. Keenam, adanya kesenjangan sosial yang terjadi antaretnik, sangat rentan terjadi pada negara dengan multi-etnik. Ketujuh, adanya provokasi dari pihak lain, seperti adanya pihak yang diuntungkan sehingga sangat mudah melakukan propaganda untuk mendapatkan keuntungan. Kedelapan,
banyaknya negara yang belum memiliki ketentuan hukum yang pasti dan memadai dalam melindungi hak-hak kelompok etnik yang minoritas. Bahkan negara-negara yang sudah memiliki ketentuan hukum tersebut, pada tahapan pelaksanaannya (enforcement) juga masih mengalami berbagai hambatan dan kendala sehingga konflik tetap terjadi.
3.3 Dampak Konflik Etnik
Menurut Winarno (2014: 250) dampak dari berbagai konflik etnik yang terjadi adalah sebagai berikut:
a. Dampak dalam Bidang Politik
mempengaruhi kadaulatan negara di mana dalam sebuah negara terdapat banyaknya etnik-etnik yang berbeda, hal ini biasanya sering terjadi ketidakadilan/kesetaraan dalam sistem politik suatu negara. contohnya apa yang terjadi di negara kita sendiri yaitu Indonesia, di mana adanya kelompok-kelompok yang ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti Republik Maluku Selatan (RMS), Organisasi Papua Merdeka (OPM), Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan gerakan separatis lainnya.
b. Dampak dalam Bidang Ekonomi
Pertama, dampak konflik etnik dalam bidang ekonomi sangatlah besar, terutama dalam hal materi seperti pembiayaan. Dalam kasus ini, biaya yang seharusnya dipakai untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat justru dialihkan untuk menangani konflik yang terjadi. Kedua,
konflik etnik juga memberikan dampak pada menurunnya investasi dikarenakan alasan keamanan yang merupakan faktor utama pertimbangan bagi para investor. Akibatnya, aktivitas ekonomi dalam suatu negara yang kerap terjadi konflik etnik akan melemah.
c. Dampak dalam Bidang Sosial
Pertama, meletusnya konflik etnik sekaligus menandai putusnya hubungan kekerabatan yang terjalin di antara etnik yang bertikai.
Kedua, terganggunya kondisi psikologis beruapa depresi, trauma, dan rasa tidak aman. Tidak dipungkiri bahwa, konflik yang identik dengan kekerasan menimbulkan trauma serta gangguan psikologis yang serius. Ketiga, munculnya dendam dari pihak yang menjadi korban atau yang merasa dirugikan sehingga konflik rentan kembali terulang.
Keempat, munculnya rasa selalu curiga dan susah percaya sebagai akibat dari sebuah pengalaman buruk yang telah terjadi sebelumnya.
4. Kesimpulan
dunia ini. Batas-batas negara sudah semakin kabur dengan hadirnya globalisasi, hal inilah yang memfasilitasi meluasnya isu tentang munculnya nasionalisme dan konflik etnik di era globalisasi saat ini. Nasionalisme dan konflik etnik bukan hanya terjadi pada satu negara, melainkan juga terjadi pada beberapa negara sehingga permasalahan ini dianggap masalah global karena juga dampaknya mengglobal. Hal ini bisa dilihat dari semakin menajamnya konflik etnik pasca perang dingin, yang bukan hanya terjadi pada negara perpecahan Uni Soviet, namun juga terjadi di belahan dunia lainnya, seperti Eropa, Asia, dan Afrika sehingga membuat isu mengenai nasionalisme dan konflik etnik menjadi isu global.
Nasionalisme dan konflik etnik merupakan fenomena yang sering sekali muncul dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Istilah bangsa yang diusung oleh nasionalisme telah banyak mempengaruhi tatanan kehidupan setiap individu di mana perjuangan hanya untuk kepentingan bangsa. Selanjutnya, di tengah arus globalisasi yang begitu kuat membawa pengaruh terhadap nasionalisme yang juga ikut bergeser. Pada situasi seperti inilah dengan hadirnya rasa nasionalisme justru membantu negara memperkuat perannya bagi pembangunan dan kesejahteraan negaranya.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Anderson, Benedict. 2002. Imagined Communities: Komunitas-Komunitas Terbayang. Yogyakarta: Insist dan Pustaka Pelajar
Baylis, John and Steve Smith, 2005. The Globalization of World Politics. Third Edition. New York: Oxford
Buzan, Barry, Ole Waever and Jaap de Wilde. 1998. Security: A Framework for Analysis. Colorado: Lynne Rienner Publisher
Duibernau and Jogn Rex (eds.). The Ethnicity Reader, Nationalism, Multiculturalism, and Migration. Great Britain: Polity Press
Kellas, James G. 1998. The Politics of Nationaism and Etnicity. USA: St. Martin Press
Mansbach, Richard and Kristen Raffery, 2008. Introduction to Global Politics.
London: Routledge
Martin, Hans Peter dan Harald Schumann. 2005. Jebakan Global: Serangan Terhadap Demokrasi dan Kesejahteraan. Jakarta: Hastra Mitra-Institute for Global Justice
Sitepu, P. Anthonius. 2011. Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Graha Ilmu
Winarno, Budi. 2014. Dinamika Isu-Isu Global Kontemporer. Yogyakarta: Center of Academic Publishing Service (CAPS)
Yati, Badri. 2001. Soekarno, Islam, dan Nasionalisme. Bandung: Nuansa
Online