• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENDAHULUAN BRONKITIS DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PENDAHULUAN BRONKITIS DI INDONESIA"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN BRONKITIS

I. DEFINISI

 Bronkitis adalah suatu peradangan pada saluran bronkial atau bronki. Peradangan

tersebut disebabkan oleh virus, bakteri, merokok, atau polusi udara (Samer Qarah, 2007).

 Bronkitis akut adalah batuk dan kadang-kadang produksi dahak tidak lebih dari tiga

minggu (Samer Qarah, 2007).

 Bronkitis kronis adalah batuk disertai sputum setiap hari selama setidaknya 3 bulan

dalam setahun selama paling sedikit 2 tahun berturut-turut.

 Bronkhitis adalah hipersekresi mukus dan batuk produktif kronis berulang-ulang

minimal selama 3 bulan pertahun atau paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut pada pasien yang diketahui tidak terdapat penyebab lain (Perawatan Medikal Bedah 2, 1998, hal : 490).

Penyakit ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh sempurna. Tetapi pada penderita yang memiliki penyakit menahun (misalnya penyakit jantung atau penyakit paru-paru) dan pada usia lanjut, bronkitis bisa bersifat serius.

Macam-macam Bronchitis

Bronchitis terbagi menjadi 2 jenis sebagai berikut.

 Bronchitis akut. Yaitu, bronchitis yang biasanya datang dan sembuh hanya dalam

waktu 2 hingga 3 minggu saja. Kebanyakan penderita bronchitis akut akan sembuh total tanpa masalah yang lain.

 Bronchitis kronis. Yaitu, bronchitis yang biasanya datang secara berulang-ulang

(2)

berarti menderita batuk yang dengan disertai dahak dan diderita selama berbulan-bulan hingga tahunan.

II. ETIOLOGI

1. Merokok merupakan satu-satunya penyebab kausal yang terpenting. Peningkatan resiko mortalitas akibat bronkitis hampir berbanding lurus dengan jumlah rokok yang dihisap setiap hari (Rubenstein, et al., 2007).

2. Polusi udara yang terus menerus juga merupakan predisposisi infeksi rekuren karena polusi memperlambat aktivitas silia dan fagositosis. Zat-zat kimia yang dapat juga menyebabkan bronkitis adalah O2, N2O, hidrokarbon, aldehid, ozon.

3. Infeksi. Eksaserbasi bronchitis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus yang kemudian menyebabkan infeksi sekunder bakteri. Bakteri yang diisolasi paling banyak adalah Hemophilus influenza dan streptococcus pneumonie dan organisme lain seperti Mycoplasma pneumonia.

4. Defisiensi alfa-1 antitripsin adalah gangguan resesif yang terjadi pada sekitar 5% pasien emfisema (dan sekitar 20% dari kolestasis neonatorum) karena protein alfa-1 antitripsin ini memegang peranan penting dalam mencegah kerusakan alveoli oleh neutrofil elastase (Rubenstein, et al., 2007).

5. Terdapat hubungan dengan kelas sosial yang lebih rendah dan lingkungan industri banyak paparan debu, asap (asam kuat, amonia, klorin, hidrogen sufilda, sulfur dioksida dan bromin), gas-gas kimiawi akibat kerja.

6. Riwayat infeksi saluran napas. Infeksi saluran pernapasan bagian atas pada penderita bronkitis hampir selalu menyebabkan infeksi paru bagian bawah, serta menyebabkan kerusakan paru bertambah.

Bronkhitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik pada beberapa alat tubuh, yaitu:

a. Penyakit jantung menahun, yang disebabkan oleh kelainan patologik pada katup maupun

miokardia. Kongesti menahun pada dinding bronkhus melemahkan daya tahan sehingga infeksi bakteri mudah terjadi.

b. Infeksi sinus paranasalis dan rongga mulut, area infeksi merupakan cumber bakteri yang dapat

menyerang dinding bronkhus.

c. Dilatasi bronkhus (bronkInektasi), menyebabkan gangguan susunan dan fungsi dinding

bronkhus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi.

(3)

III. PATOFISIOLOGI

Serangan bronkhitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali sebagai eksaserbasi akut dari bronkhitis kronis. Pada umumnya, virus merupakan awal dari serangan bronkhitis akut pada infeksi saluran napas bagian atas. Dokter akan mendiagnosis bronkhitis kronis jika pasien mengalami batuk atau mengalami produksi sputum selama kurang lebih tiga bulan dalam satu tahun atau paling sedikit dalam dua tahun berturut-turut.

Serangan bronkhitis disebabkan karena tubuh terpapar agen infeksi maupun non infeksi (terutama rokok). Iritan (zat yang menyebabkan iritasi) akan menyebabkan timbulnya respons inflamasi yang akan menyebabkan vasodilatasi, kongesti, edema mukosa, dan bronkospasme. Tidak seperti emfisema, bronkhitis lebih memengaruhi jalan napas kecil dan besar dibandingkan alveoli. Dalam keadaan bronkhitis, aliran udara masih memungkinkan tidak mengalami hambatan.

Pasien dengan bronkhitis kronis akan mengalami:

a. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronkhus besar sehingga meningkatkan

produksi mukus. b. Mukus lebih kental

c. Kerusakan fungsi siliari yang dapat menunjukkan mekanisme pembersihan mukus.

Pada keadaan normal, paru-paru memiliki kemampuan yang disebut mucocilliary defence, yaitu sistem penjagaan paru-paru yang dilakukan oleh mukus dan siliari. Pada pasien dengan bronkhitis akut, sistem mucocilliary defence paru-paru mengalami kerusakan sehingga lebih mudah terserang infeksi. Ketika infeksi timbul, kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan hiperplasia (ukuran membesar dan jumlah bertambah) sehingga produksi mukus akan meningkat. infeksi juga menyebabkan dinding bronkhial meradang, menebal (sering kali sampai dua kali ketebalan normal), dan mengeluarkan mukus kental. Adanya mukus kental dari dinding bronkhial dan mukus yang dihasilkan kelenjar mukus dalam jumlah banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar. Bronkhitis kronis mula-mula hanya memengaruhi bronkhus besar, namun lambat laun akan memengaruhi seluruh saluran napas.

(4)

meningkatkan nilai PCO,sehingga pasien terlihat sianosis. Sebagai kompensasi dari hipoksemia, maka terjadi polisitemia (produksi eritrosit berlebihan).

Pada saat penyakit bertambah parah, sering ditemukan produksi sejumlah sputum yang hitam, biasanya karena infeksi pulmonari. Selama infeksi, pasien mengalami reduksi pada FEV dengan peningkatan pada RV dan FRC. Jika masalah tersebut tidak ditanggulangi, hipoksemia akan timbul yang akhirnya menuiu penyakit cor pulmonal dan CHF (Congestive Heart Failure).

IV. TANDA DAN GEJALA

Gejalanya berupa:

 Batuk, mulai dengan batuk – batuk pagi hari, dan makin lama batuk makin berat, timbul

siang hari maupun malam hari, penderita terganggu tidurnya.

Batuk pada bronchitis mempunyai ciri antara lain batuk produktif berlangsung kronik dan frekuensi mirip seperti pada bronchitis kronis, jumlah seputum bervariasi, umumnya jumlahnya banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi tidur atau bangun dari tidur. Kalau tidak ada infeksi skunder sputumnya mukoid, sedang apabila terjadi infeksi sekunder sputumnya purulen, dapat memberikan bau yang tidak sedap. Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob, akan menimbulkan sputum sangat berbau, pada kasus yang sudah berat, misalnya pada saccular type bronchitis, sputum jumlahnya banyak sekali, puruen, dan apabila ditampung beberapa lama, tampak terpisah menjadi 3 bagian Lapisan teratas agak keruh, Lapisan tengah jernih, terdiri atas saliva ( ludah ) Lapisan terbawah keruh terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronkus yang rusak ( celluler debris ).

 Dahak, sputum putih/mukoid. Bila ada infeksi, sputum menjadi purulen atau mukopuruen

(5)

 Sesak bila timbul infeksi, sesak napas akan bertambah, kadang – kadang disertai tanda –

tanda payah jantung kanan, lama kelamaan timbul kor pulmonal yang menetap.

Pada sebagian besar pasien ( 50 % kasus ) ditemukan keluhan sesak nafas. Timbul dan beratnya sesak nafas tergantung pada seberapa luasnya bronchitis kronik yang terjadi dan seberapa jauh timbulnya kolap paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat infeksi berulang ( ISPA ), yang biasanya menimbulkan fibrosis paru dan emfisema yang menimbulkan sesak nafas. Kadang ditemukan juga suara mengi ( wheezing ), akibat adanya obstruksi bronkus. Wheezing dapat local atau tersebar tergantung pada distribusi kelainannya

 sesak nafas ketika melakukan olah raga atau aktivitas ringan

 sering menderita infeksi pernafasan (misalnya flu)

 bengek

 lelah

 pembengkakan pergelangan kaki, kaki dan tungkai kiri dan kanan

 wajah, telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna kemerahan

 pipi tampak kemerahan

 sakit kepala

 gangguan penglihatan.

Bronkitis infeksiosa seringkali dimulai dengan gejala seperti pilek, yaitu hidung meler, lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam ringan dan nyeri tenggorokan. Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya bronkitis. Pada awalnya batuk tidak berdahak, tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau kuning. Selanjutnya dahak akan bertambah banyak, berwarna kuning atau hijau.

Pada bronkitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya membaik, kadang terjadi demam tinggi selama 3-5 hari dan batuk bisa menetap selama beberapa minggu. Sesak nafas terjadi jika saluran udara tersumbat. Sering ditemukan bunyi nafas mengi, terutama setelah batuk. Bisa terjadi pneumonia.

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG

  Sinar x dadaDapat menyatakan hiperinflasi paru – paru, mendatarnya diafragma, peningkatan

area udara retrosternal, hasil normal selama periode remisi. Tes fungsi paruUntuk

menentukan penyebab dispnoe, melihat obstruksi, memperkirakan derajat disfungsi. TLC

: Meningkat.

 Volume residu : Meningkat. FEV1/FVC : Rasio volume meningkat. GDA :

PaO2 dan PaCO2 menurun, pH Normal. BronchogramMenunjukkan di latasi silinder

(6)

menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen. EKG : Disritmia atrial,

peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF

VI. KOMPLIKASI

Ada beberapa komplikasi bronchitis yang dapat dijumpai pada pasien, antara lain :

a. Bronchitis kronik

b. Pneumonia dengan atau tanpa atelektaksis, bronchitis sering mengalami infeksi berulang

biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas. Hal ini sering terjadi pada mereka drainase sputumnya kurang baik.

c. Pleuritis. Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia. Umumnya

pleuritis sicca pada daerah yang terkena.

d. Efusi pleura atau empisema

e. Abses metastasis diotak, akibat septikemi oleh kuman penyebab infeksi supuratif pada

bronkus. Sering menjadi penyebab kematian

f. Haemaptoe terjadi kerena pecahnya pembuluh darah cabang vena ( arteri pulmonalis ) ,

cabang arteri ( arteri bronchialis ) atau anastomisis pembuluh darah. Komplikasi haemaptoe hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan beah gawat darurat.

g. Sinusitis merupakan bagian dari komplikasi bronchitis pada saluran nafas

h. Kor pulmonal kronik pada kasus ini bila terjadi anastomisis cabang-cabang arteri dan vena

pulmonalis pada dinding bronkus akan terjadi arterio-venous shunt, terjadi gangguan oksigenasi darah, timbul sianosis sentral, selanjutnya terjadi hipoksemia. Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal, kor pulmoner kronik,. Selanjutnya akan terjadi gagal jantung kanan.

i. Kegagalan pernafasan merupakan komlikasi paling akhir pada bronchitis yang berat da luas

j. Amiloidosis keadaan ini merupakan perubahan degeneratif, sebagai komplikasi klasik dan

jarang terjadi. Pada pasien yang mengalami komplikasi ini dapat ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinurea.

VII. PENATALAKSANAAN MEDIS

Untuk mengurangi demam dan rasa tidak enak badan, kepada penderita dewasa bisa diberikan aspirin atau acetaminophen; kepada anak-anak sebaiknya hanya diberikan acetaminophen. Dianjurkan untuk beristirahat dan minum banyak cairan.

(7)

penderita yang sebelumnya memiliki penyakit paru-paru. Kepada penderita dewasa diberikan trimetoprim-sulfametoksazol, tetracyclin atau ampisilin. Erythromycin diberikan walaupun dicurigai penyebabnya adalah Mycoplasma pneumoniae. Kepada penderita anak-anak diberikan amoxicillin. Jika penyebabnya virus, tidak diberikan antibiotik.

Jika gejalanya menetap atau berulang atau jika bronkitisnya sangat berat, maka dilakukan pemeriksaan biakan dari dahak untuk membantu menentukan apakah perlu dilakukan penggantian antibiotik.

a. Pengelolaan umum

a) Pengelolaan umum ditujukan untuk semua pasien bronchitis, meliputi :

Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat untuk pasien : Contoh :

 Membuat ruangan hangat, udara ruangan kering.

 Mencegah / menghentikan rokok

 Mencegah / menghindari debu,asap dan sebagainya.

b) Memperbaiki drainase secret bronkus, cara yang baik untuk dikerjakan adalah sebagai

berikut :

Melakukan drainase postural

Pasien dilelatakan dengan posisi tubuh sedemikian rupa sehingga dapat dicapai drainase sputum secara maksimum. Tiap kali melakukan drainase postural dilakukan selama 10 – 20 menit, tiap hari dilakukan 2 sampai 4 kali. Prinsip drainase postural ini adalah usaha mengeluarkan sputum ( secret bronkus ) dengan bantuan gaya gravitasi. Posisi tubuh saat dilakukan drainase postural harus disesuaikan dengan letak kelainan bronchitisnya, dan dapat dibantu dengan tindakan memberikan ketukan padapada punggung pasien dengan punggung jari.

Mencairkan sputum yang kental

Dapat dilakukan dengan jalan, misalnya inhalasi uap air panas, mengguanakan obat-obat

mukolitik dan sebagainya.Mengatur posisi tepat tidur pasien

Sehingga diperoleh posisi pasien yang sesuai untuk memudahkan drainase sputum.

Mengontrol infeksi saluran nafas.

Adanya infeksi saluran nafas akut ( ISPA ) harus diperkecil dengan jalan mencegah penyebaran kuman, apabila telah ada infeksi perlu adanya antibiotic yang sesuai agar infeksi tidak berkelanjutan.

(8)

 Kemotherapi pada bronchitis

Kemotherapi dapat digunakan secara continue untuk mengontrol infeksi bronkus ( ISPA ) untuk pengobatan aksaserbasi infeksi akut pada bronkus/paru atau kedua-duanya digunakan Kemotherapi menggunakan obat-obat antibiotic terpilih, pemkaian antibiotic antibiotic sebaikya harus berdasarkan hasil uji sensivitas kuman terhadap antibiotic secara empiric.

Walaupun kemotherapi jelas kegunaannya pada pengelolaan bronchitis, tidak pada setiap pasien harus diberikan antibiotic. Antibiotik diberikan jika terdapat aksaserbasi infeki akut, antibiotic diberikan selama 7-10 hari dengan therapy tunggal atau dengan beberapa antibiotic, sampai terjadi konversi warna sputum yang semula berwarna kuning/hijau menjadi mukoid ( putih jernih ). Kemotherapi dengan antibiotic ini apabila berhasil akan dapat mengurangi gejala batuk, jumlah sputum dan gejala lainnya terutama pada saat terjadi aksaserbasi infeksi akut, tetapi keadaan ini hanya bersifat sementara. Drainase secret dengan bronkoskop. Cara ini penting dikerjakan terutama pada saat permulaan perawatan pasien. Keperluannya antara lain:

o Menentukan dari mana asal secret

o Mengidentifikasi lokasi stenosis atau obstruksi bronkus

o Menghilangkan obstruksi bronkus dengan suction drainage daerah obstruksi.

 Pengobatan simtomatik

Pengobatan ini diberikan jika timbul simtom yang mungkin mengganggu atau mebahayakan pasien.

 Pengobatan obstruksi bronkus

Apabila ditemukan tanda obstruksi bronkus yang diketahui dari hasil uji faal paru (%FEV 1 < 70% ) dapat diberikan obat bronkodilator.

 Pengobatan hipoksia.

Pada pasien yang mengalami hipoksia perlu diberikan oksigen.

 Pengobatan haemaptoe.

Tindakan yang perlu segera dilakukan adalah upaya menghentikan perdarahan. Dari berbagai penelitian pemberian obat-obatan hemostatik dilaporkan hasilnya memuaskan walau sulit diketahui mekanisme kerja obat tersebut untuk menghentikan perdarahan.

 Pengobatan demam.

(9)

 Pengobatan pembedahan

Tujuan pembedahan : mengangkat ( reseksi ) segmen/ lobus paru yang terkena. o Indikasi pembedahan :

Pasien bronchitis yang yang terbatas dan resektabel, yang tidak berespon yang tidak berespon terhadap tindakan-tindakan konservatif yang adekuat. Pasien perlu dipertimbangkan untuk operasi

Pasien bronchitis yang terbatas tetapi sering mengaami infeksi berulang atau haemaptoe dari daerakh tersebut. Pasien dengan haemaptoe massif seperti ini mutlak perlu tindakan operasi. o Kontra indikasi

Pasien bronchitis dengan COPD, Pasien bronchitis berat, Pasien bronchitis dengan koplikasi kor pulmonal kronik dekompensasi.

o Syarat-ayarat operasi.

- Kelainan ( bronchitis ) harus terbatas dan resektabel

- Daerah paru yang terkena telah mengalami perubahan ireversibel

- Bagian paru yang lain harus masih baik misalnya tidak ada bronchitis atau bronchitis kronik.

o Cara operasi.

- Operasi elektif : pasien-pasien yang memenuhi indikasi dan tidak terdaat kontra indikasi,

yang gagal dalam pengobatan konservatif dipersiapkan secara baik utuk operasi. Umumnya operasi berhasil baik apabila syarat dan persiapan operasinya baik.

- Operasi paliatif : ditujukan pada pasien bronchitis yang mengalami keadaan gawat darurat

paru, misalnya terjadi haemaptoe masif ( perdarahan arterial ) yang memenuhi syarat-syarat dan tidak terdapat kontra indikasi operasi.

o Persiapan operasi :

- Pemeriksaan faal paru : pemeriksaan spirometri,analisis gas darah, pemeriksaan

broncospirometri ( uji fungsi paru regional )

- Scanning dan USG

- Meneliti ada atau tidaknya kontra indikasi operasi pada pasien

(10)

VIII.PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Data dasar pengkajian pada pasien dengan bronchitis :

 Aktivitas/istirahat

Gejala : Keletihan, kelelahan, malaise, Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari–hari, Ketidakmampuan untuk tidur, Dispnoe pada saat istirahat.

Tanda : Keletihan, Gelisah, insomnia, Kelemahan umum/kehilangan massa otot.

 Sirkulasi

Gejala : Pembengkakan pada ekstremitas bawah.

Tanda : Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, Distensi vena leher, Edema dependent, Bunyi jantung redup, Warna kulit/membran mukosa normal/cyanosis Pucat, dapat menunjukkan anemi.

 Integritas Ego

Gejala : Peningkatan faktor resiko Perubahan pola hidup Tanda : Ansietas, ketakutan, peka rangsang.

 Makanan/cairan

Gejala : Mual/muntah, Nafsu makan buruk/anoreksia, Ketidakmampuan untuk makan, Penurunan berat badan, peningkatan berat badan.

Tanda : Turgor kulit buruk, edema dependen, berkeringat, Penurunan berat badan, palpitasi abdomen.

 Hygiene

(11)

 Pernafasan

Gejala : Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari selama minimun 3 bulan berturut – turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun, Episode batuk hilang timbul. Tanda : Pernafasan biasa cepat, Penggunaan otot bantu pernafasan, Bentuk barel chest, gerakan diafragma minimal, Bunyi nafas ronchi, Perkusi hyperresonan pada area paru, Warna pucat dengan cyanosis bibir dan dasar kuku, abu – abu keseluruhan.

 Keamanan

Gejala : Riwayat reaksi alergi terhadap zat/faktor lingkungan, Adanya/berulangnya infeksi.

 Seksualitas

Gejala : Penurunan libido.

 Interaksi sosial.

Gejala : Hubungan ketergantungan, Kegagalan dukungan/terhadap pasangan/orang dekat, Penyakit lama/ketidakmampuan membaik.

(12)

IX. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi

sekret.

2) Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi,

spasme bronchus.

3) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan broncokontriksi, mukus.

4) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnoe,

(13)

5) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan menetapnya sekret, proses

penyakit kronis.

6) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi ventilasi dan oksigenasi.

7) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

8) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses

penyakit dan perawatan dirumah.

X. RENCANA KEPERAWATAN

NO KEPERAWATANDIAGNOSA TUJUAN DAN CRITERIAHASIL (NOC) INTERVENSI (NIC)

1 Bersihan Jalan Nafas tidak Efektif

Definisi : Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernafasan untuk mempertahankan kebersihan jalan nafas.

Faktor-faktor yang berhubungan:

Lingkungan : merokok, menghirup

asap rokok, perokok pasif-POK, infeksi

Fisiologis : disfungsi

neuromuskular, hiperplasia dinding bronkus, alergi jalan nafas, asma.

Obstruksi jalan nafas : spasme

jalan nafas, sekresi tertahan, banyaknya mukus, adanya jalan nafas buatan, sekresi bronkus, adanya eksudat di alveolus, adanya benda asing di jalan nafas.

NOC :

efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)

 Menunjukkan jalan nafas yang

paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)

 Mampu mengidentifikasikan

dan mencegah factor yang

Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suctioning. nasal untuk memfasilitasi suksion nasotrakeal

Gunakan alat yang steril sitiap melakukan tindakan

Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam setelah kateter dikeluarkan dari nasotrakeal Monitor status oksigen pasien

Ajarkan keluarga bagaimana cara melakukan suksion

Hentikan suksion dan berikan oksigen apabila pasien menunjukkan bradikardi, peningkatan saturasi O2, dll.

Airway Management

 Buka jalan nafas, guanakan

(14)

 Lakukan suction pada mayo

2 Gangguan Pertukaran gas

Definisi : Kelebihan atau

kekurangan dalam oksigenasi dan atau pengeluaran karbondioksida di dalam membran kapiler alveoli

Batasan karakteristik :

 Gangguan penglihatan

 Penurunan CO2

 Takikardi

 warna kulit abnormal (pucat, kehitaman)

 Hipoksemia

 hiperkarbia

 sakit kepala ketika bangun

frekuensi dan kedalaman nafas abnormal

Faktor faktor yang berhubungan :

 ketidakseimbangan perfusi ventilasi

 perubahan membran kapiler-alveolar

NOC :

 Respiratory Status : Gas

exchange

 Respiratory Status : ventilation

 Vital Sign Status

Kriteria Hasil :

 Mendemonstrasikan

peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat

 Memelihara kebersihan paru

paru dan bebas dari tanda tanda distress pernafasan Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips) Tanda tanda vital dalam rentang

normal

NIC :

Airway Management

 Buka jalan nafas, guanakan

teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu

irama dan usaha respirasi

 Catat pergerakan dada,amati

kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, retraksi otot hiperventilasi, cheyne stokes, biot

 Catat lokasi trakea

 Monitor kelelahan otot

diagfragma (gerakan paradoksis)

 Auskultasi suara nafas, catat

area penurunan / tidak adanya ventilasi dan suara tambahan

 Tentukan kebutuhan suction

dengan mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan napas utama

 auskultasi suara paru setelah

(15)

3 Pola Nafas tidak efektif

Definisi : Pertukaran udara inspirasi dan/atau ekspirasi tidak adekuat

Batasan karakteristik : - Penurunan tekanan

- Peningkatan diameter

anterior-posterior

Dewasa volume tidalnya 500 ml saat istirahat

Bayi volume tidalnya 6-8 ml/Kg - Timing rasio

- Penurunan kapasitas vital

Faktor yang berhubungan :

Hiperventilasi

efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)

 Menunjukkan jalan nafas yang

paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada

teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu

 Bersihkan mulut, hidung dan secret

trakea

 Pertahankan jalan nafas yang paten

 Atur peralatan oksigenasi

 Monitor aliran oksigen

 Pertahankan posisi pasien

 Onservasi adanya tanda tanda

hipoventilasi

 Monitor adanya kecemasan pasien

terhadap oksigenasi

 Monitor kualitas dari nadi

 Monitor frekuensi dan irama pernapasan

(16)

 Monitor pola pernapasan abnormal

 Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit

 Monitor sianosis perifer

 Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)

 Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign

4 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Definisi : Intake nutrisi tidak cukup untuk keperluan metabolisme tubuh.

Batasan karakteristik :

- Berat badan 20 % atau lebih di

bawah ideal

- Dilaporkan adanya intake makanan

yang kurang dari RDA

(Recomended Daily Allowance) - Membran mukosa dan konjungtiva

setelah mengunyah makanan - Dilaporkan atau fakta adanya

Faktor-faktor yang berhubungan :

NOC :

 Nutritional Status : food and

Fluid Intake Kriteria Hasil :

 Adanya peningkatan berat

badan sesuai dengan tujuan

 Berat badan ideal sesuai

dengan tinggi badan

 Mampu mengidentifikasi

kebutuhan nutrisi

Kaji adanya alergi makanan

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien. Anjurkan pasien untuk meningkatkan

intake Fe

Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C

Berikan substansi gula

Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.

Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi

Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

Nutrition Monitoring

BB pasien dalam batas normal Monitor adanya penurunan berat

badan

Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan

Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan

Monitor lingkungan selama makan Jadwalkan pengobatan dan tindakan

tidak selama jam makan

Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi

Monitor turgor kulit

Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah

Monitor mual dan muntah

Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht

(17)

Ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau

mengabsorpsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis, psikologis atau ekonomi.

Monitor pertumbuhan dan perkembangan

Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva Monitor kalori dan intake nuntrisi

Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral.

Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet

5 Resiko infeksi

Definisi : Peningkatan resiko masuknya organisme patogen

Faktor-faktor resiko :

Prosedur Infasif

Ketidakcukupan pengetahuan

untuk menghindari paparan patogen

Trauma

Kerusakan jaringan dan

peningkatan paparan lingkungan

Ruptur membran amnion

sekunder (penurunan Hb, Leukopenia, penekanan respon inflamasi)

Tidak adekuat pertahanan tubuh

primer (kulit tidak utuh, trauma jaringan, penurunan kerja silia, cairan tubuh statis, perubahan sekresi pH, perubahan peristaltik)

Penyakit kronik

NOC :

 Immune Status

 Knowledge : Infection control

 Risk control

Kriteria Hasil :

 Klien bebas dari tanda dan

gejala infeksi

 Mendeskripsikan proses

penularan penyakit, factor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya,

 Menunjukkan kemampuan

untuk mencegah timbulnya infeksi

Infection Control (Kontrol infeksi)

central dan dressing sesuai dengan petunjuk umum

 Gunakan kateter intermiten

untuk menurunkan infeksi kandung kencing

 Tingktkan intake nutrisi

 Berikan terapi antibiotik bila

perlu

Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)

(18)

 Ispeksi kondisi luka / insisi

minum antibiotik sesuai resep

 Ajarkan pasien dan keluarga

tanda dan gejala infeksi

 Ajarkan cara menghindari

infeksi

 Laporkan kecurigaan infeksi

 Laporkan kultur positif

6 Intoleransi aktivitas b/d curah jantung yang rendah,

ketidakmampuan memenuhi metabolisme otot rangka, kongesti pulmonal yang menimbulkan hipoksinia, dyspneu dan status nutrisi yang buruk selama sakit

Intoleransi aktivitas b/d fatigue Definisi : Ketidakcukupan energu secara fisiologis maupun psikologis untuk meneruskan atau

menyelesaikan aktifitas yang diminta atau aktifitas sehari hari.

Batasan karakteristik :

a. melaporkan secara verbal adanya

kelelahan atau kelemahan.

b. Respon abnormal dari tekanan

darah atau nadi terhadap aktifitas

c. Perubahan EKG yang

menunjukkan aritmia atau iskemia

d. Adanya dyspneu atau

ketidaknyamanan saat beraktivitas.

Faktor factor yang berhubungan :

 Tirah Baring atau imobilisasi

 Energy conservation

 Self Care : ADLs

Kriteria Hasil :

 Berpartisipasi dalam aktivitas

fisik tanpa disertai

peningkatan tekanan darah, nadi dan RR

 Mampu melakukan aktivitas

sehari hari (ADLs) secara mandiri

NIC :

Energy Management

 Observasi adanya pembatasan klien

dalam melakukan aktivitas

 Dorong anal untuk mengungkapkan

perasaan terhadap keterbatasan

kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan

 Kolaborasikan dengan Tenaga

Rehabilitasi Medik

dalammerencanakan progran terapi yang tepat.

 Bantu klien untuk mengidentifikasi

aktivitas yang mampu dilakukan

 Bantu untuk memilih aktivitas

konsisten yangsesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social

 Bantu untuk mengidentifikasi dan

mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan

 Bantu untuk mendpatkan alat

bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek

 Bantu untu mengidentifikasi

aktivitas yang disukai

 Bantu klien untuk membuat jadwal

latihan diwaktu luang

 Bantu pasien/keluarga untuk

mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas

(19)

yang aktif beraktivitas

 Bantu pasien untuk

mengembangkan motivasi diri dan penguatan

 Monitor respon fisik, emoi, social

dan spiritual

7 Cemas b/d penyakit kritis, takut kematian atau kecacatan,

perubahan peran dalam lingkungan social atau ketidakmampuan yang permanen.

Definisi :

Perasaan gelisah yang tak jelas dari ketidaknyamanan atau ketakutan yang disertai respon autonom (sumner tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan keprihatinan disebabkan dari antisipasi terhadap bahaya. Sinyal ini merupakan peringatan adanya ancaman yang akan datang dan memungkinkan individu untuk mengambil langkah untuk menyetujui terhadap tindakan menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas

 Vital sign dalam batas normal

 Postur tubuh, ekspresi wajah,

bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan

NIC :

Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)

memberikan keamanan dan mengurangi takut

 Berikan informasi faktual

mengenai diagnosis, tindakan prognosis

8 Kurang pengetahuan b/d keterbatasan pengetahuan penyakitnya, tindakan yang dilakukan, obat obatan yang diberikan, komplikasi yang mungkin muncul dan perubahan gaya hidup

Definisi :

Tidak adanya atau kurangnya informasi kognitif sehubungan dengan topic spesifik.

Batasan karakteristik : memverbalisasikan adanya masalah, ketidakakuratan

mengikuti instruksi, perilaku tidak

NOC : tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan

 Pasien dan keluarga mampu

melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar

 Pasien dan keluarga mampu

menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.

NIC :

Teaching : disease Process

1. Berikan penilaian tentang tingkat

pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik

2. Jelaskan patofisiologi dari

penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.

3. Gambarkan tanda dan gejala yang

biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat

4. Gambarkan proses penyakit,

dengan cara yang tepat

5. Identifikasi kemungkinan

penyebab, dengna cara yang tepat

(20)

sesuai.

Faktor yang berhubungan : keterbatasan kognitif, interpretasi terhadap informasi yang salah, kurangnya keinginan untuk mencari informasi, tidak mengetahui sumber-sumber informasi.

tentang kondisi, dengan cara yang tepat

7. Hindari harapan yang kosong

8. Sediakan bagi keluarga atau SO

informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat

9. Diskusikan perubahan gaya hidup

yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit

10. Diskusikan pilihan terapi atau

penanganan

11. Dukung pasien untuk

mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan

12. Eksplorasi kemungkinan sumber

atau dukungan, dengan cara yang tepat

13. Rujuk pasien pada grup atau

agensi di komunitas lokal, dengan cara yang tepat

14. Instruksikan pasien mengenai

tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth, alih bahasa; Agung Waluyo, editor; Monica Ester, Edisi 8. EGC: Jakarta.

Carolin, Elizabeth J. 2002. Buku Saku Patofisiologi. EGC: Jakarta.

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, alih bahasa; I Made Kariasa, editor; Monica Ester, Edisi 3. EGC: Jakarta.

Tucker, Susan Martin. 1998. Standar Perawatan Pasien; Proses Keperawatan, Diagnosis dan Evaluasi, Edisi 5. EGC. Jakarta.

Soeparman, Sarwono Waspadji. 1998. Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II. Penerbit FKUI: Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Misalnya, ruang kelas yang mengalami rusak berat, maka anggaran yang dibutuhkan adalah: satuan biaya ruang kelas x 55% (nilai tengah dari 45%-65%). Dengan menggunakan data