PENGUKURAN SITUASI DAN DETAIL
Dibuat oleh : Teknik Sipil Diploma III
NRP :
Tanggal Praktek :
Rekan Praktek : 1. Agung Sulis Febriantoro (10410013) 2. Alimunnisa M. (10410014)
3. Angga Prakoso (10410003) 4. Dwi Retno P. (10410010) 5. Faisal Malik Alkutup (10410006) 6. Fajar Yusra (10410002)
7. Oftapiandi (10410017) 8. Rahmat Suryadi (10410009) 9. Saddam Lesmana (10410015) 10. Vandi Azis Baskara (10410011) Asisten : Ir. Slamet Suprihadi
DAFTAR ISI
Lembar Persetujuan …..……….. 1
Daftar Isi ……… 2
I. Maksud dan Tujuan ……… 3
II. Teori Dasar ……… 3
III. Jalannya Praktikum ……… 6
IV. Hasil praktikum (hasil perhitungan / Gambar) ……….. 9
MODUL III
PENGUKURAN SITUASI dan DETAIL
I.
Maksud dan tujuan
Maksud dan pengukuran situasi adalah untuk mengambil data-data situasi lapangan pada daerah yang dipetakan, sehingga data-data tersebut dapat digambarkan lagi pada suatu bidang datar dengan skala tertentu.
II.
Dasar Teori
Dalam pekerjaan pengukuran progress mining atau survey perlu digunakan alat-alat untuk mempermudah penyelesaian pengambilan data-data. Jenis alat yang digunakanpun sangat mempengaruhi kecepatan dan ketepatan dalam peker jaan tersebut. Alat yang umum digunakan dalam pengukuran ini adalah theodolite.
2.1. Peralatan Pengukuran 2.1.1 Theodolite
Secara garis besar theodolit terbagi 2 Theodolit bagian atas, terdiri dari :n
1. Plat atas yang langsung dipasang pada sumbu vertical 2. Sumbu HOR
3. Nivo tabung
rupa sehingga sumbu optisnya berimpit. Agar teropong bisa digunakan sebagai alat bidik pada bagian belakang dilengkapi dengan dua garis salib sumbu yang terbuat dari benang laba- laba atau dengan cara digoreskan pada kaca. Garis salib sumbu biasanya berupa garis tegak dan tiga garis mendatar yang biasanya digunakan untuk pembacaan.
Theodolit bagian bawah, terdiri dari 1. Plat bawah
2. Lingkaran horizontal
3. Tabung sumbu luar dari sumbu vertical 4. Sekrup pengikat datar ( penyetel nivo)
5. Statip atau tripot atau kaki tiga yang berguna untuk menyangga theodolit 6. Centring.
2.1.1.1. Bagian – bagian dari theodolit dan kegunnannya
A. Tombol Focus yang berguna untuk memper jelas objek yang dituju B. Nivo
Pada alat theodolit biasanya terdapat dua buah nivo yaitu nivo kotak yang terletak dibawah dan nivo tabung yang terletak diatas dimana nivo sendiri berfungsi untuk mengetahui kedudukan theodolit dalam keadaan waterpas dari kedua arah.
1. Teropong kecil untuk melihat bacaan horizontal dan vertical Biasanya terletak disebelah kanan dari teropong besar yang berguna untuk membaca sudut horizontal dan vertical.
2. Mikrometer
Alat ini terletak pada bagian kanan atas dari theodolit yang berguna untuk mempaskan bacaan sudut horizontal dan vertical dengan cara diputar kedepan atau kebelakang agar sudut horizontal dan vertical pas pada pembacaan sudut. 3. Centring
Berguna untuk melihat posisi alat apakah sudah tepat berada diatas patok. ¬Pada alat model lama tidak ada centringnya masih menggunakan unting¬unting yang dihubungkan dengan benang dan digantung di bawah alat ukur.
4. Statip
Berfungsi menopang alat ukur theodolit agar ketinggiannnya sesuai dengan ketinggian pembacanya dimana kaki statip bisa digerakkan naik tunin. 5. Bak atau Rambu
Gambar 2.1. Bak Rambu Ukur
2.1.1.2 Pemasangan theodolit dan Pembacaan Alat Ukurnya :
Sebelum theodolit digunakan harus distel terlebih dahulu agar posisi theodolit bisa waterpas atau level kesegala arah dan cara penggunaannya sebagai berikut : Sebelum alat dikeluarkan dari tempatnya maka harus diperhatikan terlebih dahulu posisi alat tersebut pada tempatnya, karena dikhawatirkan apabila tidak diperhatiakan posisinya,, setelah dipakai dan akan disimpan kembali akan mengalami kesulitan . Untuk mempermudah pada setiap alat pasti ada tandanya berupa titik merah atau hitam dan biasanya kedua titik tersebut dalam keadaan sejajar bila akan dimasukkan pada tempatnya. Setelah posisi tandanya sudah kita perhatikan lalu letakkan pesawat diatas statip atau kaki tiga lalu diikat dengan baut yang ada pada statip. Setelah pesawat tereikat dengan sempurna pada statip baru pesawat yang sudah terikat pada statip diangkat dan diletakkan diatas patok yang sudah ada pakunya.
centring, karena dengan memutar sekrup penyetel. lingkaran petunjuk yang ada pada centring akan berubah dan arahkan lingkaran tersebut pada paku yang ada dipatok. Setelah itu barulah dilihat nivo kotak¬(bagian bawah).
2.1.1.3 Pembacaan Mistar
Dalam pengukuran dengan menggunakan theodolit data yang diperleh salah satunya adalah jarak. Jarak ini didapat dengan pembacaan Benang Atas (BA), Benang Tengah (BT) dan Benang Bawah (BB).
Contoh : BA = 1750
Diketahui, benang atas 1750 mm, benang bawah 1250 Jadi benang tengah =(1750 + 1250)/2 = 1500
Dalam hal ini Benang Tengah diusahakan menggunakan bilangan bulat. Contoh 1500, 1450, 1520, 1480 karena dengan dibulatkan akan memudahkan dalam perhitungan selanjutnya. Hasil dari (BA – BB) x 100 merupakan Jarak Miring. 2.1.1.4 Koreksi Sudut Horizontal dan Vertical ( biasa dan luar biasa)
Dalam pembacaan sudut baik yang horizontal maupun vertiakal ada koreksinya-Cara pengkoreksiannya adalah dengan pembacaan luar biasa. Setelah theodolit tepat pada posisi yang dituju maka dibaca sudut horizontal maupun yang vertical. Contoh :
Sudut Horizontal 179°37’28” (biasa) Sudut vertikal 93°28 48 ” (biasa)
Maka untuk mendapatkan pembacaan luar biasa alai theodolit kita putar 180°secara horizontal dan teropong diputar 180° secara vertical maka akan didapat bacaan sebagai berikut :
Sudut Horizontal 359°37’10”( luar biasa) 266°31’03”( luar biasa).
- Rambu ukur
- Meteran
III.
Jalannya Praktikum
1. Membuat skets dan daerah yang akan dipetakan dan menentukan arah utaranya, termasuk didalamnya. Letak titik-titik polygon yang akan dipergunakan sebagai tempat berdirinya alat theodolit. Hal ml diperlukan untuk penggambaran situasi sebenarnya.
2. Ukur dan hitung ketinggian dan koordinat dan masing-masing titik polygon tadi. Pengukuran ketinggian untuk titik-titik polygon harus teliti ( ukur dengan
waterpass).
Hal ini di perlukan untuk mendapatkan hubungan tegak dan hubungan mendatar dari titik di lapangan pada waktu penggambaran situasi sbenarnya.
3. Tempatkan alat teodolit di atas titik polygon. 4. Atur alat agar siap untuk pengukuran.
5. Ukur tinggi alat terhadap patok yang berbeda di bawahnya. 6. Arahkan terpong pada titik polygon yang terdekat.
7. Arahkan teodolit ke titik di lapangan dan catatlah data-data : a. Sudut horizontalnya
b. Sudut vertikalnya
c. Pembacaan benang atas, benang tengah,benang bawah.
8. Arahkan teodolit ke titik berikutnya yang mempur suunyai beda tinggi dan kira-kira skala peta yang diinginkan, terhadap titik sebelumnya dan catatlah data-datanya.
9. Untuk titik-titik lapangan yang melebihi jarak pandang bak ukur sulit di baca (>50 meter) maka, letak teodolit harus pindah ke titi polygon yang dekat dengan titik lapangan tersebut, kemudian lakukan kembali.
Pengukuran situasi II 1.602 1.518 60°40'43" 91°31'28" III 1.573 1.548 82°25'22" 89°58'44" IV 1.596 1.524 104°39'20" 93°00'50" V 1.619 1.501 173°10'0" 90°00'00" VI 1.603 1.517 173°56'01" 90°32'06" VII 1.592 1.528 194°02'57" 89°27'23" VIII 1.588 1.532 200°34'20" 97°17'40" IX 1.581 1.539 211°57'30" 89°19'03" X 1.653 1,467 221°59'47" 89°19'47" XI 1.573 1.577 227°32'18" 85°30'23" XII 1.655 1.465 268°04'53" 86°02'30" XIII 1.572 1.549 293°24'08" 83°26'40" XIV 1.595 1.525 301°03'20" 87°39'28"
B
I
1.533