• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK DALAM MENGATAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK DALAM MENGATAS"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK

DALAM MENGATASI KEMACETAN

DI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir

Mata Kuliah Analisis Kebijakan Publik

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. Sofyan Effendi, M.P.P.

Dr. Agus Heruanto Hadna, M.Sc.

:

Disusun Oleh:

Izzul Fatchu Reza

12/339724/PSP/04353

PASCASARJANA MANAJEMEN KEBIJAKAN PUBLIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

(2)

I. LATAR BELAKANG

Kenyamanan penduduk suatu negara dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari ditimbulkan oleh tingkat kebersihan udara, tingkat kebersihan dari sampah, dan yang tidak kalah pentingnya adalah kelancaran arus lalu-lintas. Republik Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-5 di dunia harus memikirkan berbagai kemungkinan berkurangnya ruang gerak di jalan raya akibat ledakan populasi yang besar, sehingga mengakibatkan ketidaklancaran faktor yang terakhir, yaitu kelancaran arus lalu-lintas.

Propinsi dengan tingkat kemacetan tertinggi di Indonesia adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Sebagai ibukota negara, Jakarta adalah pusat kegiatan bisnis di Indonesia sekaligus pusat kegiatan pemerintahan. Kemacetan merupakan sebuah fenomena yang sangat umum di DKI Jakarta pada setiap harinya, yang akan sangat mengganggu kenyamanan warga dan mengakibatkan kerugian dalam hal waktu dan uang yang sangat banyak. Kemacetan di DKI Jakarta merupakan imbas dari bertambahnya jumlah pemakai jalan, baik pejalan kaki, pengguna kendaraan non-motor, kendaraan bermotor roda dua dan tiga, maupun kendaraan roda empat atau lebih.

(3)

Selain itu, Spire juga melansir data bahwa 70% penyebab kemacetan di DKI Jakarta disebabkan oleh banyaknya penggunaan kendaran pribadi, dan 30%nya merupakan kendaraan umum. Adapun 70% tersebut terdiri dari 50% sepeda motor dan 20% kendaraan roda empat.

Secara teoritis, kemacetan akan terjadi apabila kapasitas jalan sudah tidak mampu lagi menampung jumlah kendaraan yang memasuki jalan tersebut. Panjang jalan di DKI Jakarta adalah 7.650 km, dengan luas jalan 40,1 km2 (hanya sekitar 6,2 persen dari luas wilaya DKI Jakarta). Adapun pertumbuhan panjangan jalan setiap tahunnya hanya sebesar + 0,01%. Jumlah pertumbuhan ini tidak sebanding dengan pertambahan kendaraan di DKI Jakarta, yaitu 1.068 unit sepeda motor dan 216 buah unit mobil setiap harinya. Perhatikan tabel berikut ini.

(4)

DKI Jakarta sudah mencapai 13.346. 802 unit, dengan rincian sepeda motor sebanyak 9.861.451 unit, mobil 2.541.351 unit, mobil muatan 581.290 unit, dan bus mencapai 363.710 unit. Dengan angka yang sedemikian fantastis tersebut, wajar jika negara Indonesia kini menjadi negara ketiga yang paling banyak menggunakan kendaraan bermotor setelah Amerika dan China. Pada tahun 2011, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 107. 226.572 unit, dengan rincian mobil sebanyak 20.158.595 unit dan sepeda motor sebanyak 87.067.796 unit. Sebagai perbandingan, jumlah kendaraan yang beroperasi di Amerika Serikat berjumlah 246,56 juta unit dan di China sebanyak 154,65 juta unit.

II. PERUMUSAN MASALAH

Dalam alur analisis kebijakan publik, perumusan masalah merupakan hal pertama yang paling penting. Seorang analis kebijakan harus mampu menemukan pokok dari permasalahan. Kegiatan ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, agar nantinya kebijakan yang dibuat mampu mengatasi inti dari suatu permasalahan dalam kebijakan publik. (Nugroho, 2003: 142). Berkaitan dengan hal tersebut, penulis akan membuat perumusan masalah dengan menggunakan pohon masalah (problem tree).

II.1 Situasi Problematis

Kemacetan yang melanda ibukota Republik Indonesia, yaitu DKI Jakarta telah membuat masyarakat menjadi tidak nyaman dalam melakukan perjalanan dari rumah menuju ke tempat kerja mereka. Kemacetan yang selalu terjadi juga membuat waktu masyarakat terbuang sia-sia di jalan, begitu pula dengan bahan bakar kendaraan yang menguap sia-sia karena kendaraan tidak bergerak ataupun

Political, Ideological, Economical Structures (Kurangnya

massal, seperti rel kereta bawah tanah atau rel trem

Tingginya jumlah kendaraan bermotor di

DKI Jakarta

(5)

hanya bergerak dengan kondisi padat merayap. Mencermati situasi yang demikian, maka situasi problematis yang dirumuskan oleh penulis adalah, “Terjadinya kemacetan di sebagian besar ruas jalan protokol ibu kota Jakarta pada setiap hari, sehingga menurunkan produktivitas warga DKI Jakarta”.

II.2 Meta Problem

Meta problem adalah permasalahan mendasar yang masih berupa kumpulan masalah-masalah yang belum terstruktur. Dengan melihat pada pohon masalah yang telah digambarkan sebelumnya, maka meta problem dalam permasalahan kemacetan di DKI Jakarta terdiri dari beberapa aspek utama, yaitu:

1. Aspek Politis

Aspek politis berkaitan dengan rendahnya rendahnya komitmen pemerintah untuk membatasi produksi kendaraan bermotor yang semakin tidak terkendali. Aspek politis juga berkaitan dengan kurangnya kebijakan pemerintah dari tahun ke tahun dalam hal penambahan dan pengembangan moda transportasi massal (mass transportation means).

2. Aspek Ideologis

Dari aspek sosial budaya, sangat jelas terlihat gaya hidup materialisme bangsa yang semakin meningkat. Mobil mewah dan motor mewah merupakan ukuran keberhasilan hidup seseorang, sehingga semakin banyak orang berlomba-lomba untuk membeli mobil dan motor mewah yang memiliki kapasitas mesin yang besar dan menghabiskan penggunaan bahan bakar yang sangat banyak.

3. Aspek Struktur Ekonomi

Pada aspek struktur ekonomi, dapat disoroti maraknya peningkatan produksi kendaraan bermotor di Indonesia, termasuk masuknya berbagai industri kendaraan sepeda motor dari negara China yang menawarkan harga kendaraan yang murah. Jumlah produksi kendaraan bermotor terus bertambah sebagai efek dari kondusifnya situasi permodalan dan ekonomi di Indonesia, namun tanpa memikirkan dampak lebih lanjut akan ketersediaan ruang jalan bagi kendaraan-kendaraan tersebut, segera setelah dioperasikan di jalan raya.

(6)

Masalah substantif merupakan sejumlah masalah yang berkaitan dengan persoalan-persoalan yang dampaknya langsung berimbas pada pengemban tugas utama dan biasanya berhubungan dengan kemampuan pengemban tugas sekunder, yakni masyarakat dan lembaga. Masalah substantif merupakan turunan langsung dari meta masalah yang telah dibahas pada bagian alur perumusan masalah kebijakan sebelumnya. Dalam permasalahan kemacetan di DKI Jakarta, penulis mengidentifikasikan beberapa masalah substantif, yaitu a. Ketiadaan pembatasan produksi kendaraan bermotor

b. Harga angsuran kendaraan bermotor yang semakin murah c. Sistem drainase yang buruk

d. Penumpukan sampah di jalan raya e. Rendahnya peremajaan angkutan

f. Ketiadaan median transportasi massal, seperti kereta bawah tanah atau trem

II.4 Masalah Formal

Sebagai akibat langsung dari meta problem dan masalah substantif, maka kemudian dapat dirumuskan masalah utama, yaitu masalah formal. Masalah formal berkaitan dengan persoalan-persoalan yang langsung menyentuh kepada kepentingan pemangku hak (right holders). Masalah formal yang diajukan penulis pada alur analisis kebijakan publik ini adalah: “Kemacetan yang terjadi di DKI Jakarta merupakan akibat dari: a) tingginya jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta, b) banjir di jalan raya, dan c) minimnya jumlah transportasi umum”.

III. PROYEKSI

(7)

Dari grafik diatas terlihat bahwa jika tidak diatasi dengan baik, maka pada tahun 2014, hampir tidak ada lagi ruang gerak bagi kendaraan-kendaraan bermotor untuk dapat bergerak bebas. Jumlah kendaraan terus bertambah sedangkan pertambahan jalan tetap stabil. Perlu ada solusi untuk menghindari pertemuan titik kendaraan dengan jalan tersebut.

IV. ALTERNATIF KEBIJAKAN

Alternatif kebijakan adalah sebuah metode yang digunakan untuk mengembangkan kebijakan-kebijakan yang dapat ditempuh dalam suatu kerangka analisis. Dalan paper ini, penulis memakai metode analogi, metafor, dan sinetik untuk membuat alternatif kebijakan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Subarsono (2005: 56), metode analogi, metafor, dan sinetik merupakan metode yang digunakan melalui kelompok dskusi dan menggenai perbandingan-perbandingan serta penalaran dalam mengidentifikasi kemungkinan alternatif.

Dengan menggunakan metode tersebut, penulis merumuskan berbagai alternatif solusi untuk mengatasi persoalan kemacetan di DKI Jakarta, yaitu sebagai berikut.

1. Pembatasan jumlah produksi kendaraan bermotor melalui peningkatan pajak pertambahan nilai dan pajak-pajak usaha lainnya.

Jumlah kendaraan yang diproduksi oleh para produsen kendaraan bermotor sudah seharusnya ditekan menjadi 50% bahkan lebih, agar mampu memberikan jalan raya suatu kapasitas tampung yang lebih banyak, minimal mempertahankan jumlah kapasitas tampung yang ada saat ini agar tidak begitu banyak. Para produsen kendaraan bermotor tersebut harus dirangkul oleh pemerintah untuk memproduksi sarana dan prasarana lalu-lintas yang lebih dibutuhkan oleh jalan ketimbang memproduksi kendaraan baru.

2. Penambahan jumlah jalan di DKI Jakarta menggunakan jalan layang (flyover) Dengan tingkat kepadatan yang sudah cukup tinggi, sulit untuk membangun jalan di atas bumi wilayah DKI Jakarta. Untuk itu, penambahan jalan dapat dilakukan menggunakan flyover, sebagaimana yang telah diterapkan secara masif di Jepang dan Amerika Serikat.

3. Penambahan jumlah armada busway.

(8)

tinggi menggunakan gas LPG, dan dengan bentuk kendaraan yang lebih kecil dari busway yang telah ada saat ini agar lebih murah dalam hal produksi dan lebih efisien dalam penggunaan ruang jalan raya.

4. Pembuatan jalur MRT dan sarana prasarananya.

Mass Rapid Transportation (MRT) berupa kereta cepat monorel sukses diterapkan untuk mengatasi kemacetan di kota-kota besar seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Malaysia. Untuk itu, penggunaan MRT layak dilakukan di DKI Jakarta melalui pembuatan rel yang meliputi seluruh wilayah di DKI Jakarta dan memiliki pemberhentian di tempat-tempat yang strategis. MRT memiliki kecepatan yang sangat tinggi dengan biaya operasional yang cenderung murah. Dengan demikian, produktivitas warga DKI Jakarta diharapkan dapat meningkat dengan kehadiran moda transportasi massal monorel ini.

5. Penerapan sistem road pricing.

Penerapan sistem ini merupakan alternatif dari pembatasan kendaraan di jalan raya menggunakan sistem plat ganjil dan genap sebagaimana yang diusulkan oleh Gubernur DKI Jakarta terpilih, Bapak Joko Widodo. Yang menjadi pembeda adalah bahwa sistem road pricing ini akan mengubah jalan raya yang saat ini digunakan secara gratis oleh penggunanya, pada masa penerapannya akan mewajibkan penggunanya membayar sejumlah uang untuk memasukinya. Pembayaran dapat melalui tiket e-card atau melalui tagihan bank kepada pengguna jalan. Tagihan ini dimungkinkan kepada para pengguna setelah sensor kamera mendeteksi nomor-nomor plat secara otomatis kendaraan yang melintasi jalan tersebut. Dengan diterapkannya sistem ini, masyarakat akan berpikir berulang kali untuk melewati suatu jalan, karena jalan yang telah menggunakan sistem ERP (electronic road pricing) ini tidak ubahnya dengan jalan tol.

6. Pembuatan terowongan serbaguna (multi-purpose tunnel).

(9)

V. REKOMENDASI

Pada bagian rekomendasi, penulis hendak memberikan penilaian dan komentar terhadap manfaat dan efektivitas dari masing-masing alternatif yang ada. Dalam merumuskan rekomendasi, penulis menggunakan metode Perbandingan. Metode ini mengkategorisasikan berbagai rekomendasi kebijakan dalam berbagai dengan bobot skor, yang diperbandingkan satu sama lain. (Subarsono, 2005: 68)

Kriteria

Efisiensi Biaya 75 80 80 75 80 75

Lama

Total Skor 405 415 415 420 410 400

Dari perbandingan beberapa rekomendasi kebijakan diatas, terlihat bahwa dua buah kebijakan yang memiliki skor tertinggi adalah pembuatan moda transportasi massal MRT dan penambahan armada busway yang sarana prasarananya sudah ada. Secara teoritis, MRT atau Mass Rapid Transportation berupa monorel mampu melayani jumlah penumpang yang banyak dengan kecepatany yang tinggi.

(10)

bobot sebagaimana yang diharapkan diatas, hanya apabila terpenuhi beberapa hal sebagai berikut.

1. Jalur rel monorel MRT tersedia dengan melayani seluruh wilayah DKI Jakarta 2. Pusat-pusat pemberhentian monorel MRT adalah lokasi-lokasi strategis yang

berdekatan dengan pusat perkantoran bisnis, pusat pemerintahan, pusat rekreasi, pusat perbelanjaan dan kuliner, serta pusat fasilitas publik vital lainnya seperti bandara.

3. MRT harus terintegrasi dengan kendaraan pengumpan (feeder) dari busway maupun dari jalur komuter kereta api yang telah ada.

4. Pembangunan MRT dilaksanakan secara cermat, yaitu pada malam hari, agar tidak mengganggu lalu-lintas DKI Jakarta yang telah padat.

5. Tarif MRT mampu berkompetisi dengan tarif angkutan umum lainnya yang telah ada.

VI. DAFTAR PUSTAKA

Hadna, Agus Heruanto. 2013. Pohon Masalah. Buku Ajar. Yogyakarta: Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik FISIPOL UGM.

Subarsono, AG. 2005. Analisis Kebijakan Publik: Konsep Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Reza, Izzul dan Yulianto, Daris. 2013. Naskah Akademik Kebijakan Pengembangan Pendirian Sekolah-Sekolah Vokasi Baru. Makalah. Yogyakarta: Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik FISIPOL UGM.

Sumber Internet:

Afifah, Riana. Tiap Hari Bertambah 1.068 Motor dan 216 Mobil. Diunduh dari laman website

http://megapolitan.kompas.com/read/2011/12/14/16413366/Tiap.Hari.Bertambah.1 .068.Motor.dan.216.Mobil pada tanggal 27 JuNi 2013.

Gandhung, Wahyu. 2013. Kemacetan Lalu-Lintas di DKI Jakarta dalam Tinjauan.

Diunduh dari laman website

http://jakarta.kompasiana.com/transportasi/2013/01/07/kemacetan-lalu-lintas-di-dki-jakarta-dalam-tinjauan-522101.html pada tanggal 27 Juni 2013.

GoCarFreeGuys. 2012. Iya dia nih... diunduh dari laman website http://gocarfreeguys.blogspot.com/2012/11/iya-dia-nih.html pada tanggal 27 Juni 2013

Sari, Henny Rachma. 2012. Selama 2012, 13 Juta Kendaraan Sesaki Jakarta. Diunduh

dari laman website

Referensi

Dokumen terkait

Telah dilakukan analisis kuantitatif gas karbon monoksida (CO) dalam emisi gas buang kendaraan bermotor.Penelitian ini dilakukan untuk mengukur konsentrasi gas CO dari gas buang

Artinya, dari segi substansi (isi, ruang lingkup, bobot materi) kebijakan masih perlu dilakukan penyempurnaan agar semakin sesuai dengan rencana induk yang tertuang dalam

Peningkatan akan kebutuhan ruang tersebut menyebabkan terjadinya perkembangan Kota, agar perkembangan pada Pusat Kota Ternate lebih efektif dan efisien dalam

Perbandingan proses produksi dilakukan untuk menentukan teknologi mana yang lebih efektif dan efisien dalam proses produksi dimetil ester tereftalat. Proses yang

Kita dapat menggeneralisasi situasi masalah atau memilih sebagian masalah, situasinya berkaitan dengan nilai-nilai yang lebih umum atau lebih tepat, mencoba untuk

Untuk membatasi ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas, maka penulis lebih menekankan pada perancangan serta prinsip kerja dari alat pendeteksi kebocoran gas

Dalam system relasi birokrasi dan lembaga politik seharusnya dipisahkan antara domain masing – masing, agar supaya antara administrasi dan politik memiliki arah untuk

Peningkatan akan kebutuhan ruang tersebut menyebabkan terjadinya perkembangan Kota, agar perkembangan pada Pusat Kota Ternate lebih efektif dan efisien dalam