• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengapa harus tahu HIV AIDS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Mengapa harus tahu HIV AIDS"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Mengapa harus tahu HIV/AIDS ???

Apa kabar sahabat Indonesia? salam sehat bagi semua. Sebentar lagi sobat akan membaca artikel mengenai kesehatan, yaitu seputar HIV/AIDS. Artikel ini dibuat salah satunya dalam rangka memperingati hari HIV/AIDS yang jatuh pada 1 Desember kemaren. Selain itu juga untuk memberikan pengetahuan kepada siapa pun yang membaca agar nantinya dapat ikut serta dalam upaya mengkampanyekan bebas HIV/AIDS. Upaya mengkampanyekan bebas HIV/AIDS sudah banyak dilakukan salah satunya adalah mengadakan pekan kondom nasional. Hal ini sudah dilakukan dan banyak mendapat apresiasi masyarakat karena membantu memberikan seputar informasi mengenai kesehatan, HIV/AIDS, dan permasalahan kesehatan lainnya. Masih banyak upaya-upaya yang masih akan dilakukan oleh kita semua.

Sebelumnya, Apakah sobat tahu tentang HIV/AIDS? Atau sejauh mana sobat mengetahuinya?

Sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya kita berkenalan dulu dengan HIV/AIDS. Kata orang, tidak kenal maka tidak sayang. Tetapi pernyataan untuk kali ini berbeda. Jika sudah kenal justru sobat akan “benci” HIV/AIDS. HIV (Human Imunodeficiency Virus) adalah sebuah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh atau sistem imun. Virus HIV merupakan retrovirus yang termasuk dalam famili lentivirus. Secara struktural morfologinya, bentuk HIV terdiri dari sebuah silinder yang dikelilingi pembungkus lemak yang melingkar lebar. Pada pusat lingkaran terdapat untaian RNA. HIV mempunyai 3 gen komponen fungsional dan struktural. Gen tersebut yaitu gag, pol dan env. Gag berarti group antigen, pol mewakili polimerase, dan env kependekan dari envelope. Ini adalah bentuk virus HIV yang saya jelaskan secara umum. Bila sobat ingin tahu banyak, bisa baca-baca buku atau tanya Dr. Google di internet.

(2)

oleh HIV memiliki waktu hidup sangat pendek, hal ini berarti HIV secara terus-menerus mereplikasi pada sel pejamu. Kurang lebih 10 milyar virus dihasilkan setiap harinya. Wow..banyak juga kan! Serangan pertama HIV akan tertangkap oleh sel dendrit pada membran mukosa dan kulit pada 24 jam pertama. Sel yang terinfeksi akan membuat jalur ke nodus limfa dan kadang-kadang ke pembuluh darah perifer dalam 5 hari setelah paparan. Dalam waktu tersebut proses replikasi berlangsung lebih cepat. Siklus HIV dibagi menjadi 5 fase, yaitu: Masuk dan mengikat, Reverse transkiptase, Replikasi, Budding, Maturasi.

Tahukah sobat tentang perjalanan penyakit ini hingga sampai ke tubuh penderita? Tetap duduk manis, dan lanjutkan membaca!!

(3)

Seperti halnya penyakit lain, HIV/AIDS juga memiliki stadium dalam menentukan tingkat keparahannya. Coba tebak ada berapa stadium dalam penderita HIV/AIDS? Yah betul ... ada empat stadium. Inilah stadium dalam HIV/AIDS :

1. Stadium Pertama: HIV

Infeksi dimulai dengan masuknya HIV dan diikuti terjadinya perubahan serologis ketika antibodi terhadap virus tersebut berubah dari negatif menjadi positif. Rentan waktu sejak HIV masuk kedalam tubuh sampai tes antibodi terhadap HIV menjadi positif disebut

window period. Lamanya antara satu sampai tiga bulan, bahkan ada yang berlangsung sampai enam bulan.

2. Stadium Kedua: Asimptomatik

Asimptomatik berarti bahwa di dalam orgam tubuh terdapat HIV tetapi tubuh tidak menunjukan gejala-gejala. Keadaan ini dapat berlangsung selama 5 sampai 10 tahun. Cairan HIV dari orang tampak sehat ini sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain. 3. Stadium Ketiga: Pembesaran limfa

Kelenjar limfa secara bertahap akan mengalami pembesaran pada seluruh bagiannya. Keadaan ini berlangsung lebih dari satu bulan. 4. Stadium Keempat: AIDS

Keadaan ini disertai dengan munculnya berbagai macam penyakit, diantaranya penyakit konstitusional, penyakit syaraf, dan penyakit infeksi sekunder.

Inilah stadium dalam HIV/AIDS. Stadium tersebut menurut Depkes RI tahun 2009. Tetapi menurut saya masih ada stadium kelima. Stadium kelimanya adalah menunggu kematian dan ... DEAD $#@#$ (Serem). Saya tidak bermaksud menakut-nakuti, tetapi itulah kenyataanya. Maka dari itu, sobat Indonesia jangan sampai melakukan hal-hal yang mendatangkan virus HIV. Ok!

Nah selanjutnya, untuk mengetahui gejala-gejala penyakit AIDS pahamilah tulisan berikut:

Gejala Klinis pada Stadium AIDS

(4)

 Demam berkepanjangan minimal leih dari tiga bulan

 Diare kronis lebih dari satu bulan secara berulang  Penurunan berat badan lebih dari 10% setiap bulan

 TBC

Gejala tambahan

 Batuk kronis selama lebih dari satu bulan

 Infeksi pada mulut dan tenggorokan  Pembengkakan kelenjar getah bening

 Munculnya penyakit Herpes zoster secara berulang dan bercak-bercak gatal diseluruh tubuh (Depkes RI, 1997)

Sobat, silakan cek semua orang, teman, sahabat atau keluarga di lingkungan kita. Barangkali ada gejala tersebut. Kenali tandanya dan cegah penyebarannya. Siapa pun dapat terserang AIDS.

Jika ada dilingkungan kita yang mengalami gejala tersebut, sobat jangan bingung. Lakukan saja diagnosis HIV. Diagnosis pada HIV/AIDS dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium dan pembagian gejala klinis baik mayor maupun minor. Tes skrining yang digunakan untuk mendiagnosis HIV adalah ELISA. Untuk mengindentifikasi antibodi terhadap HIV, tes ELISA sangat sensitif, tetapi tidak selalu spesifik, karena penyakit lain bisa juga menunjukan hasil positif. Begitu pasien didiagnosis penyakit HIV, maka tingkat kerusakan kekebalan tubuh yang dialami perlu ditentukan. Pasien yang terinfeksi HIV hampir seluruhnya mengalami gangguan hematologi dan penurunan sel darah putih.

(5)

pertanyaan? Jika kurang jelas sobat bisa baca buku-buku tentang HIV/AIDS atau tanya sama Om Google.

Nah, berikut tulisan yang paling penting. Berikut beberapa cara si virus menularkan HIV/AIDS:

1. Hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS

Semua bentuk hubungan seksual seperti vaginal, anal, dan oral dengan penderita HIV/AIDS tanpa perlindungan dapat menularkan HIV/AIDS.

2. Ibu pada bayinya

Penularan HIV/AIDS dari ibu bisa terjadi pada saat kehamilan. Penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi sekitar 0,01% sampai 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi HIV dan belum ada gejala AIDS, kemungkinan bayi terinfeksi sekitar 30%-50%. Sedangkan pada gejala AIDS kemungkinan terserang mencapai 50% lebih (PELKESI, 1995).

3. Darah dan produk darah yang tercemar HIV

Menularkan HIV lewat darah lebih cepat, karena virus HIV akan masuk langsung ke pembuluh darah dan menyebar keseluruh tubuh.

4. Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril

Alat yang tidak steril akan menularkan HIV pada orang lain. 5. Alat-alat yang menoreh kulit.

Alat tajam seperti jarum, pisau, silet dan sejenisnya akan bisa menularkan HIV bila tidak di sterilkan terlebih dahulu.

6. Menggunakan jarum suntik secara bergantian.

Jarum suntik yang digunakan difasilitas kesehatan, maupun yang digunakan oleh pengguna narkoba sangat berpotensi menularkan HIV.

Sobat perlu tahu!! Pencegahan HIV pada wanita dan anak

(6)

terlarang), Equipment (biasanya drug dibarengi dengan penggunaan jarum suntik bergantian. Dengan tidak menggunakan drug dan tidak bergantian jarum suntik, maka dapat mencegah penularan HIV/AIDS)

Wanita juga disarankan untuk tidak menggunakan narkoba terutama narkoba suntikan dengan menggunakan jarum. Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui empat cara, mulai saat hamil, saat melahirkan, dan saat lahir yaitu penggunaan antiretroviral selama kehamilan, penggunaan antiretroviral saat persalinan dan bayi baru dilahirkan, penanganan obstetrik selama persalinan, penatalaksanaan selama menyusui. Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load

rendah sehingga jumlah virus yang ada dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif dalam menularkan HIV. Persalinan sebaiknya mengunakan sistem sectio caesaria karena terbukti mengurangi risiko HIV sampai 80%. Bila bedah caesar selektif disertai penggunaan antiretroviral, maka risiko dapat diturunkan sampai 87%.

Ok sobat. Sekarang tiba di ujung tulisan. Sebelum tulisan ini saya tutup, berikut sebuah saran saya pada sobat tentang bagaimana perilaku kita terhadap ODHA. Orang yang menderita HIV/AIDS tidak boleh dicap jelek atau stigma buruk kepada mereka. ODHA juga mempunyai hak untuk hidup, bersosialisasi dan bermasyarakat. Jangan sampai ada yang namanya diskriminasi terhadap ODHA. Karena sekarang timbul paradigma masyarakat tentang diskriminasi terhadap ODHA. Wanita dan anak-anak adalah yang paling banyak menerima diskriminasi.

Anak yang didiagnosis HIV juga mendatangkan trauma yang mendalam pada keluarganya. Mereka perlu mendapatkan dukungan terutama pada kehilangan kepercayaan dirinya. Selain itu perlu diberikan perawatan yang lebih pada ODHA. Perawatan ini mencangkup pemberian kenyamanan, dan pengelolaan dari rasa sakit.

(7)

Referensi

Dokumen terkait

Sel prekusor ini merupakan mieloid campuran yang berasal dari sel induk pluripoten.1 Sel-se granulosit setelah keluar dari sumsum tulang dan masuk ke  peredaran darah

Berdasarkan pembahasan di atas, maka akan di rancang interior bangunan Kantor Bupati Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas yang dapat memenuhi kebutuhan aktivitas dan

Namun tidak sedikit juga Home industry yang masih menggunakan alat perajang Singkong manual, untuk itu penulis akan mencoba membuat alat untuk memotong tipis

Teori ini dapat digunakan untuk menganalisis struktur lembaga perwakilan yang memiliki dua kamar atau lebih (multikameral), walaupun sebuah lembaga perwakilan terdiri

Berdasarkan model pendekatan Sistem Informasi Geografi (SIG) menunjukkan bahwa Klasifikasi yang dihasilkan analisis SIG berdasarkan kontribusi nilai produksi komoditas

Pada saat substrat buffer tersebut dicampurkan ke permukaan, enzim yang bertaut dengan antibodi atau antigen spesifik yang berinteraksi dengan antibodi atau antigen sampel akan

& Phillips, J.A., 2003, Studi Distribusi, Penggunaan dan Pemilihan Tipe Sarang oleh Biawak Komodo: Implikasi untuk Konservasi dan Manajemen, Laporan dari the Zoological Society

[r]