Yunia Damayanti – 071311233066 – Analisis Kebijakan Luar Negeri – Week 11
Perubahan Kebijakan Luar Negeri Suatu Negara serta Hal-hal yang Menjadi Penyebab Perubahannya
Perubahan menjadi sesuatu hal yang tidak pernah absen di dalam kehidupan manusia. Begitu pula dengan kebijakan luar negeri yang tidak luput dari adanya perubahan. Esensi dari kebijakan luar negeri adalah adanya perubahan. Hal tersebut menjelaskan bahwa kebijakan luar negeri bersifat dinamis dan sudah tentu dapat berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Sehingga, hal yang perlu diketahui adalah bahwa perubahan kebijakan luar negeri merupakan hal yang umum dan selalu terjadi. Karena bahwasanya kehidupan sosial-politik yang paling berpengaruh pada pembentukan kebijakan luar negeri juga bersifat dinamis, selalu berubah-ubah seiring berkembangnya kepentingan suatu negara yang juga berubah-ubah. Dalam paper ini penulis akan menjelaskan mengenai perubahan dalam kebijakan luar negeri, serta arti istilah “perubahan” itu sendiri, dan membahas mengenai fakor krusial yang dapat mempengaruhi perubahan kebijakan luar negeri. Karena perubahan kebijakan luar negeri dapat mempengaruhi segala aspek kehidupan bernegara, maka perubahan kebijakan luar negeri juga seharusnya dipertimbangkan dengan seksama agar kebijakan tersebut baik bagi seluruh entitas negara. Makna Istilah “Perubahan” serta Pengertian Tentang Perubahan Kebijakan Luar Negeri
Perubahan kebijakan luar negeri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu; (1) perubahan yang dihasilkan dari perubahan rezim atau transformasi negara; (2) perubahan kebijakan yang terjadi ketika pemerintah memutuskan untuk mengambil alih arah suatu kebijakan luar negeri negaranya (Hermann, 1990: 5, dalam Dugis, 2008: 103). Sehingga, dari analisis tersebut didapatkan bahwa kebijakan luar negeri tidak bersifat tetap, melainkan akan terus berubah-ubah seiring dengan penyebab-penyebab di balik berubahnya suatu kebijakan.
Penyebab Berubahnya Kebijakan Luar Negeri Suatu Negara
Faktor-faktor yang mengakibatkan adanya perubahan kebijakan tersebut, khususnya perubahan kebijakan luar negeri dijelaskan oleh Edward L. Morse di dalam artikelnya yang berjudul The Transformation of Foreign Policies: Modernization, Interdependence, and Externalization. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa kebijakan luar negeri telah diubah secara radikal oleh proses modernisasi yang bersifat revolusioner. Hal tersebut dikarenakan hasil dari adanya proses modernisasi sendiri telah dianggap sebagai faktor determinan dari kebijakan luar negeri. Faktor-faktor determinan tersebut seperti hal-hal bersifat ideologi atau sistem politik – contohnya, adalah negara demokrasi versus negara otokrasi, faktor kekuatan dan kapabilitas – contohnya adalah kekuatan kebijakan negara maju versus negara yang kecil kekuatan kebijakannya (Morse, 1970: 371). Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa secara otomatis proses modernisasi menjadi penyebab suatu negara mengubah kebijakan luar negerinya karena faktor-faktor yang disebutkan di atas. Karena di manapun masyarakat moderen berada dan berkembang, maka di saat itu pula kebijakan luar negeri dari masing-masing negara menjadi terlihat sama satu dengan yang lainnya. Pengaruh domestik ataupun pengaruh dari dunia internasional yang mana menjadi rumusan bagi proses terbentuknya kebijakan luar negeri pun secara subjektif dan revolusioner telah bertransformasi dengan dipengaruhi oleh eksisnya modernisasi.
belum sepenuhnya runtuh. Kedua, distingsi antara unsur ‘high policies’ dan ‘low politics’ menjadi kurang penting karena anggapan bahwa peran low politis di masyarakat semakin meningkat dan diperhatikan. Perubahan yang terakhir adalah walaupun terdapat perkembangan yang signifikan dalam faktor-faktor pendukung kontrol politik, namun kemampuan mengontrol hal-hal internal dan eksternal yang termodernisasi telah menurun perannya, hal tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ketergantungan negara-negara yang semakin meningkat.
Analisis Studi Kasus Perubahan Kebijakan Luar Negeri Era SBY dengan Era Jokowi
Pada faktanya, banyak pihak yang memberikan penilaian pelaksanaan politik luar negeri Indonesia pada masa pemerintahan SBY (2004-2014) mengalami peningkatan dan perkembangan yang cukup signifikan. Prestasi-prestasi yang ditorehkan tidak terlepas dari tiga program utama, yaitu pemanfaatan politik luar negeri dengan cara optimalisasi diplomasi, peningkatan kerjasam multilateral, dan penegasan komitmen perdamaian dunia (Asgart, 2015). Hal tersebut telah membuat Indonesia pada era kepemerintahan SBY mendapatkan “prestasi”, seperti dalam konteks kerjasama global, pelaksanaan diplomasi Indonesia pun mendorong terjadinya kemitraan yang strategis demi mencapai pembangunan kesejahteraan untuk semua. Pada masa kepemerintahan SBY pun, sering terdengar kalimat “thousand friends, zero enemy”, yang mana hal tersebut diaplikasikan betul-betul pada masa kepemerintahan SBY. ASEAN menjadi fokus utama dalam kebijakan luar negeri SBY. Namun, seperti yang penulis jabarkan sebelumnya bahwa peruabahan kebijakan luar negeri dapat dipengaruhi oleh perubahan rezim atau trasnformasi negara, pun sama halnya dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang berubah seiring dengan perubahan rezim SBY ke rezim Jokowi. Pada pidato perdananya saat dilantik sebagai Presiden Joko “Jokowi” Widodo, membahas mengenai global maritime nexus yang mana Indonesia harus mulai fokus untuk menjadi negara maritime terbesar di dunia. Penulis berpendapat bahwa perubahan kebijakan luar negeri Indonesia dari era SBY ke era Jokowi adalah perubahan fokus tujuannya. Pada masa pemerintah SBY, Indonesia seakan-akan di arahkan ke arah untuk menjadi “primadona” di ASEAN. Sedangkan, pada era Jokowi Indonesia dihadapkan pada keharusan untuk mengembakan poros maritimnya.
Kesimpulan
Referensi:
Asgart, Sofian Munawar. 2015. Membaca Kebijakan Luar Negeri SBY dan Jokowi. (online) tersedia dalam http://interseksi.org/report/membaca-kebijakan-luar-negeri-sby-dan-jokowi/ [diakses pada 20 Desember 2015]
Dugis, Vinsensio (2007) “Analysing Foreign Policy”. Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. 20 (2): 41-52.
Hermann, Charles F. (1990) “Changing Course: When Government Choose to Redirect Foreign Policy”. International Studies Quarterly, 34 (2): 3-21.