AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH

*MEMET KURNIA*

PENGERTIAN SUNNAH

Sunnah (sunnah Rasulullah saw) adalah sesuatu yang menjelaskan dan menafsirkan kitab Allah (Al-qur‟an) baik berupa perkataan, perbuatan maupun penetapan Rasulullah saw. Dengan kata lain sunnah merupakan cara atau jalan yang harus diikuti, sering disebut pula Diin Al-Islam, tidak akan

menyimpang dari sunnah tersebut kecuali orang bodoh dan pelaku bid‟ah.

Dari pengetian di atas jelas bagi umat islam bahwa sunnah merupakan petunjuk pelaksanaan dari Al-qur‟an, bagi setiap pribadi muslim dilarang untuk menterjemahkan atau menafsirkan Al-qur‟an dengan pemikirannya sendiri tanpa bersandar pada sunnah Rasulullah.

Sebagaimana al-qur‟an menjelaskan manusia dan dalam memahami pelaksanaannya, Rasulullah saw diberikan kewajiban untuk menjelaskannya karena apa yang diajarkan Rasulullah saw bersandar pada wahyu Allah yang diberikan kepadanya.

Rasulullah saw bersabda

ٗعِ ٍَْٗزِٚ َْآزمٌا ُج١ِحُٚأ ِّٟٔإ َلاأ

Sesungguhnya aku diberi Al-Qur‟an dan yang setara Al-Qur‟an untuk menyertainya (HR. Ahmad dan Ashab As-Sunan kecuali An-Nasai)

Dalam ayat lain dijelaskan

(2)

Redaksi ayat

“











”

Menurut Qatadah bahwa arti hikmah adalah sunnah

Ibnu Zaid mengartikan hikmah

ّلاإ ٗٔٛفِزْعَ٠ لا ٞذٌا ُٓ٠ذٌا ُتّىحٌا

ٗب

Hikmah adalah agama yang tidak ada seorangpun yang mengetahuinya dengan pasti kecuali dengan penjelasan Rasulullah saw.

Abu Ja‟far Ath-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan

يٛسزٌا ِْا١َبب ّلاإ اٍُّٙع ْنَرْذُ٠ ٌَُْ ٟخٌا ِللها َِاىحأب ٍُُِْعٌا ُتّىحٌا

Hikmah adalah ilmu mengenai hukuk-hukum Allah, tidak ada yang mengetahui tentang ilmu tersebut kecuali dengan penjelasan Rasulullah saw.

Jadi tujuan adanya sunnah adalah untuk penfsiran dan penjelasan dalam memandu Al-Qur‟an agar dapat difahami dengan jelas oleh umat Islam, maka dalam menafsirkan Al-qur‟an seyogyanya ditimbang dengan sunnah dilarang sama sekali ditafsirkan menurut pemahaman akal fikiran atau berdasar karena banyak orang yang melakukannya.

Sebagaimana qaidah dalam agama menyebutkan

ِيٛسزٌا ِْا١َب ٓع ِتٍْفَغٌا عِ ِثاُِّٛعٌاب ُهُسَّّخٌا

ُللها ََٝٙٔ ٞذٌا ِٗباشَخٌُّا ِعابّحا ِِْٓ ٛ٘ ِٗوزحٚ ٍْٗعِفب

ٕٗع

Berpegang teguh pada dalil-dalil umum (perkataan kebanyakan orang) serta melalaikan penjelasan Rasulullah saw baik perbuatan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh Rasulullah saw merupakan perbuatan yang mengikuti hal samar-samar yang telah melarang Allah swt terhadap perbuatan tersebut.

PENGERTIAN JAMA‟AH

Lafadh ِتعاّجٌا tidak terdapat dalam Al-Qur‟an Al-Karim tetapi di dalam sunnah Rasulullah lafadh tersebut banyak ditemukan, para peneliti sunnah dalam penelitian lafadh ِتعاّجٌا mereka hanya menemukan arti ِتعاّجٌا dalam makna yang sama yaitu lawan kata dari perpecahan yang tercela.

Seperti dalam hadits Rasul saw

ٌباذع ُتَلْزُفٌاٚ ٌتّحر ُتعاّجٌا

)

ذّحأ ٖاٚر

(

(3)

َتلْزُفٌاَٚ ُواّ٠إٚ ِتعاّجٌاب ُى١ٍع

)

ح١حص دإسإب ٗجاِ ٓباٚ ٞذِزخٌاٚ ذّحأ ٖاٚر

(

Pegang teguhlah jam‟ah (persatuan) dan berhati-hatilah dari perpecahan (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dengan isnad yang shahih)

Jadi lafadh ِتعاّجٌا mengandung pengertian persatuan dan kesatuan bukan berarti kumpulan atau kelompok manusia.

Firman Allah swt

اُٛلّزَفَح لاٚ اًع١ّج ِللها ًِْبَحب اُِّٛصَخْعاَٚ

Dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah swt dan janganlah bercerai berai (QS. Al-Imran : 103)

Lafadh

ِللها ًِْبَح

ditafsirkan sebagai berikut :

Menurut Abu Ja‟far Ath-Thabari

ِللها ِٓ٠ذب اُٛىّسََّّح

Bergantunglah pada agama Allah

Menurut Ibnu Mas‟ud

اًض٠أ يالٚ ِتعاَّجٌا

:

ُتعاّجٌا ِللها ًُْبح

Persatuan dan kemudian Ibnu Mas‟ud menguatkan bahwa tali Allah adalah persatuan

Menurut Qatadah

ْآزمٌا

Tali Allah berarti Al-Qur‟an.

Menurut Ibnu Zaid

َلاْسلإا

Tali Allah berarti Al-Islam

Abu Ja‟far Ath-Thabari menguatkan pendapat-pendapat di atas sebagaimana dalam tafsirnya

ٌِِٗٛسرِتعاطٚ ِٗخعاط ٍٝع ِعاّخْجلااٚ ِفلاِخْئلاا ِٓ ،ٗباخو ٟف ُى١ٌإ ُللها ذَِٙع ٞذٌا ِٖذَْٙعٚ للها ٓ٠د ٓع اُٛلّزفَخَح لاٚ

Dan janganlah kalian bercerai berai dari agama Allah swt dan janji-Nya sebagaimana Allah telah berjanji kepada kalian di dalam kitab-Nya, yakni keharusan kebersamaan dan persatuan dalam

(4)

Dengan demikian dapat difahami bahwa jama‟ah berasal dari ijtima (bersatu) dalam dasar-dasar yang telah tetap dalam Al-kitab, As-sunnah dan ijma serta mengikuti apa yang dipegang oleh ulama

salaf (sahabat) yaitu konsisten dengan kebenaran dan mengikuti sunnah nabi serta menjauhi bid‟ah

-bid‟ah dan hal yang diada-adakan, lawan kata dari jama‟ah dalam pengertian ini adalah perpecahan dalam agama.

Rasulullah saw bersabda :

ُتعاّجٌا ٟ٘ٚ ًةذحاٚ ّلاإ رإٌا ٟف اٍُٙو ًتٍِِّ َٓ١عبسٚ ٍدلار ٍٝع قِزَخْفَخس َتِّلأا ٖذ٘ ّْإٚ

(ُٖز١غٚ دٚادٛبأ ٖاٚر)

Sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga aliran, seluruhnya akan masuk

neraka kecuali yang satu, yaitu jama‟ah. (HR. Abu Daud dan lainnya)

Jama‟ah dengan pengertian di atas berarti tidak disyaratkan banyak atau sedikitnya pengikut tetapi jama‟ah adalah yang sesuai dengan kebenaran yang terdapat dalam Al-Qur‟an dan As-Sunnah sekalipun kebanyakan manusia bertentangan dengan kebenaran tersebut.

Ibnu Mubarak ditanya tentang pengertian jama‟ah, siapa jama‟ah yang bisa diteladani ? Ibnu

Mubarak menjawab : Abu Bakar dan Umar.

Abu Ishaq bin Rahawaih berkata : Sesungguhnya jama‟ah adalah seorang „Alim yang berpegang

teguh terhadap sunnah dan cara-cara Rasulullah, dan barangsiapa yang bersama dan mengikutinya

maka orang yang mengikuti tersebut disebut jama‟ah.

Menurut Ibnu Mas‟ud bahwa jama‟ah adalah yang sesuai dengan kebenaran meskipun kamu hanya seorang diri .

AHLI SUNNAH WAL JAMA‟AH

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Ahli Sunnah Wal Jama‟ah adalah para pendahulu

umat Islam dari golongan para sahabat dan golongan tabi‟in yang telah sungguh-sungguh bersatu dalam kebenaran yang tegas dari Al-Qur‟an dan Sunnah Rasulullah serta imamnya adalah

Rasulullah saw, dan setiap orang yang berda‟wah sebagaimana yang telah dida‟wahkan oleh Rasulullah, para sahabat dan tabi‟in sampai hari kiamat, termasuk di dalamnya mereka yang

mengikuti jalan yang telah ditempuh para ulama salaf disebut ahli sunnah wal jama‟ah.

JALAN DAN KEYAKINAN AHLI SUNNAH WAL JAMA‟AH

(5)

Rasulullah saw, berusaha membela kebenaran Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh jiwanya

Dimana telah datang sebuah perintah untuk kewajiban berjama‟ah, maka yang dimaksudnya adalah

kewajiban untuk menyesuaikan dengan aturan kebenaran yang datang dari Allah swt dan mengikuti aturan Rasulullah saw.

Nabi saw bersabda : Tidak akan hilang jama‟ah dari umatku yaitu nampak jelas kebenaran dalam

setiap langkah mereka, tidak akan memadharatkan kepada mereka meskipun orang-orang tidak memberi pertolongan kepada mereka sampai pertolongan Allah swt datang kepada mereka , dan begitulah mereka. (HR. Mutafak Alaih). Hadits di atas adalah lafadh Muslim.

Adapun kecemerlangan fikiran dalam jalan tersebut, sesungguhnya jalan tersebut diterangi cahaya dari akarnya, dan jalan tersebut adalah jalannya para sahabat, mereka adalah orang-orang yang dididik dan diajari langsung oleh Rasulullah saw, sebagaimana beliau bersabda :

ٍََُُٙٔٛ٠ َٓ٠ذٌا ُّر ، ٍََُُٙٔٛ٠ َٓ٠ذٌا ُّر ، ُٙ١ف ُجْزِعُب َٓ٠ذٌا ُْْزَمٌا ٟخِّأُز١خ

kemudian zaman orang-orang setelah mereka dan kemudian zamannya orang-orang setelah para

tabi‟in (HR. Abu Daud dan meriwayatkan pula Bukhari dan Muslim).

Tabiat ahli sunnah wal jama‟ah berbeda atau terpisah dengan yang lainnya, yakni berpegang pada jamahiriyyah, aghlabiyah dan qiyadah.

Jamahiriyah ahli sunnah wal jama‟ah adalah tunduk dalam aturan-turan islam yang luas melingkupi seluruh aturan bagi orang islam dan beriman. Dan begitu pula meskipun jumlah kaum mulimin banyak, seluruhnya mereka menjadi satu umat yang berdiri di atas satu aqidah, ibadah dan akhlak. Dan bersatu pula dalam awal dan akhir.

Firman Allah swt Tuhanmu, Maka sembahlah aku. (QS. Al-Anbiya : 92)

(6)

mereka adalah dapat berpotensi dalam memicu perpecahan. Adapun orang yang masuk dalam jajaran aghlabiyah adalah para mujtahid, ulama dan ahli syariat yang menjalankan syariatnya dengan benar. Menurut Abu Ishaq Rahawaih bahwa kalau seandainya kamu ditanya tentang orang-orang bodoh yang berada dalam kegelapan yang besar, adalah mereka yang mengatakan bahwa

jama‟ah adalah kelompok manusia.

Adapun qiyadiyah adalah harus adanya Imam yang menunjukkan dan ditaati.

Sabda Rasulullah saw

ًتّ١ٍ٘اج ًتَخ١ِِ َثاِ ،َثاّف َتعاّجٌا َقرافٚ ِتعاطٌا ِٓ سَزَخ َِْٓ

- "

ٍُسِّ ٖاٚر

-Barangsiapa yang keluar dari kataatan dan memisahkan diri dari jama‟ah, maka apabila mati, matinya adalah mati jahiliyah (HR. Muslim)

Bahwasannya tidak sempurna nilai sebuah jama‟ah dalam setiap maknanya kecuali harus ada pimpinan jamaah yang mampu menunjukkan jalan kebenaran dan dicintai, sesungguhnya imam tersebut tidak akan hidup pada zaman sekarang, dengan arti lain, imamnya para ahli sunnah wal

jama‟ah adalah Rasulullah saw sendiri dan jama‟ah beliau yang memegang kebenaran tidak akan hilang sepanjang zaman.

Adapun makna jama‟ah menurut Bukhari adalah para ahli ilmu, Ahmad bin Hanbal berkata : kalau seandainya tidak ada mereka para ahli hadits maka aku tidak akan tahu siapa mereka. Al-Qadi Iyad berkata : yang dimaksud Ahmad tentang ahli sunnah wal jama‟ah adalah mereka yang berkeyakinan pada madzhab ahli hadits.

Imam Nawawi berkata : sesungguhnya jama‟ah ini terpisah dari bermacam-macamnya pemahaman orang mukmin. Dan sebagian ahli sunnah wal jama‟ah mereka para pemberani dan para pejuang, sebagiannya ada ahli fiqih dan ahli hadits, sebagiannya pula ada ahli zuhud dan yang memerintah kepada kebenaran dan melarang pada keburukan, serta ada ahli-ahli dalam bidang lain yang sifatnya baik, mereka tidak diharuskan berada dalam satu golongan tetapi terkadang mereka memimisahkan diri dari lingkungan.

AQIDAH AHLI SUNNAH WAL JAMA‟AH

Aqidah ahli sunnah wal jama‟ah beriman terhadap sifat-sifat Allah swt yang terkandung dalam kitab-Nya dan beriman pula terhadap sifat-sifat Rasul-Nya tanpa tahrif, ta‟lil, takyif dan tidak pula tamtsil tetapi mereka mengimani bahwa Allah Maha Suci dan Maha Tinggi sebagaimana Al-Qur‟an menyatakan



















tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat. (QS. Asy-Syuraa : 11)

Tahrif

Tahrif secara bahasa berarti merubah dan mengganti. Menurut pengertian syar'i berarti: merubah lafazh Al-Asma'ul Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi, atau makna maknanya.

(7)

1. Tahrif dengan cara menambah atau merubah bentuk lafadh, contoh seperti perkataan

golongan jamhiah yang menyebutkan lafadh “istawa”(duduk di atasnya) menjadi “istaula” (menguasai) dengan penambahan “lam” demikian pula perkataan orang bid‟ah yang memansubkan lafadh Allah dalam ayata

ًاّ١ٍِْىَح َٝسُِٛ ٌٍُّٗا ٍَََُوَٚ

Artinya : Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung (QS. An-Nisa : 164)

2. Merubah makna, dengan menetapkan lafad sebagaimana aslinya namun merubah makna

yang sesungguhnya, contoh lafadh “ghadlab” (marah) dengan makna iradatul intiqam yang artinya keinginan untuk membalas dendam. “rahmah” (kasih sayang) dengan iradatul in‟am yang artinya keinginan untuk member nikmat.” Al-Yadu” (tangan) dengan an-ni‟mah (nikmat).

Ta‟thil

Ta‟thil menurut bahasa berarti meniadakan, adapun menurut pengertian syara berarti meniadakan

sifat-sifat Ilahiayah dari Allah swt, mengingkari sifat-sifat terseburt dari Dzat-Nya atau mengingkari sebagian dari sifat-sifat tersebut.

Sementara perbedaan anatara tahrif dan ta‟thil, tahrif adalah penafsiran nash-nash Al-qur‟an dan As-sunnah dengan interprestasi yang salah adapun ta‟thil adalah penafian (pentiadaan) suatu makna yang benar yang ditunjukkan oleh Al-qur‟an dan As-sunnah.

Ta‟thil terbagi dalam beberapa bagian

1. Penolakan terhadap Allah atas sifat-sifat-Nya yang suci dengan cara meniadakan Asma dan Sifat-Sifat-Nya secara keseluruhan atau pun sebagaiannya.

2. Meniadakan muamalah dengan-Nya, yaitu meniadakan ibadah kepada-Nya baik secara total atau sebagiannya, atau dengan cara beribadah kepada selain-Nya disamping beribadah kepada-Nya.

3. Meniadakan pencipta bagi makhluk, sebagaimana perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa alam yang menciptakannya sendiri dan mengatur sendiri-sendiri.

Jika diperhatikan dengan seksama bahwa setiap pelaku tahrif (muharif) adalah pelaku ta‟thil (mu‟athil), namun tidak setiap mu‟athil adalah muharif.

Takyif

Takyif adalah bertanya dengan “kaifa” (bagaimana), adapun yag dimaksud dengan takyif adalah memastikan hakekat suatu sifat dengan menentukan benda atau keadaan tertentu terhadapnya. Meniadakan bentuk atau keadaan terhadap suatu makna bukanlah membiarkan makna yang terkandung dalam sifat-sifat tersebut, inilah faham yang dipegang oleh para Salaf As-Shalih, seperti yang dikatakan Imam Malik ketika ditanya tentang Lafad istawa, beliau menjawab : bahwa maknanya sudah diketahui adapun bentuk atau keadaannya tidak diketahui, sementara

mempertanyakannya adalah bid‟ah.

Tamsil

(8)

Tamsil terbagi menjadi dua bagian :

1. Menyerupakan makhluk dengan Pencipta, seperti halnya keyakinan orang-orang nasrani yang menyerupakn Al-Masih putra Mariyam dengan Allah swt dan orang-orang Yahudi yang menyerupakan uzaair dengan Allah swt.

2. Menyerupakan Pencipta dengan makhluk, seperti perkataan orang-orang yang mengatakan Allah mempunyai wajah seperti yang dimiliki oleh makhluk, dan memiliki pendengaran, tangan seperti makhluk, dan penyerupaan-penyerupaan bathil lainnya.

Ahli sunnah wal jama‟ah mengimani sepenuhnya Allah Maha Suci dan Maha Tinggi dengan bersandar pada ayat Allah swt

pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah

Aqidah ahli sunnah wal jam‟ah mengakui bahwa iman adalah harus diucapkan dengan perkataan,

dii‟tiqadkan dengan hati dan dilakukan dengan perbuatan, maka bukan beriman hanya diucapkan dan dilakukan tetapi tidak di I‟itiqadkan karena sesungguhnya iman tersebut adalah imannya orang -orang munafiq, bukan beriman hanya diucapkan dan I‟itiqadkan saja tanpa dilakukan dengan perbuatan karena sesungguhnya iman tersebut adalah imannya orang-orang murji‟ah.

Dan banyak yang mengatakan bahwa amal adalah iman, sebagaimana firman Allah swt







(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.(QS. Al-Anfal : 3-4).

Dan bahwasannya iman akan bertambah kuat apabila disertai dengan keta‟atan dan iman akan berkurang dengan perbuatan maksiat.

Sesungguhnya Allah telah membagi orang-orang beriman dengan tiga tingkatan

(9)

Mereka yang berbuat baik lebih dulu mereka adalah orang-orang yang membebani dirinya dengan kewajiban-kewajiban dan sunat-sunat dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang haram dan dan dibenci. Dan orang-orang yang ada dipertengahan adalah mereka yang merasa cukup dengan membebani dirinya dengan sebagian kewajiban-kewajiban dan meninggalkan sebagian yang diharamkan. Dan orang yang menipu dirinya sendiri adalah orang-orang yang berani melakukan sebagian hal yang diharamkan dan meringkas kewajiban-kewajiban serta berani menetapkan aqidah keimanan bersamanya.

Dan sebagian dari aqidah ahli sunnah wal jama‟ah adalah mereka tidak berani mengkafirkan

seseorang muslim hanya karena satu dosa meskipun yang dilakukan orang tersebut termasuk dalam dosa besar, kecuali orang tersebut mengingkari terhadap sesuatu yang telah diketahui dalam urusan agama karena darurat dan sesuatu telah ditetapkan hukumnya dalam kitab Allah swt, sunnah Rasulullah saw dan ijma para Ulama salaf (sahabat). Dan bahwasannya mereka hanya menghukumi orang tersebut hanya sebatas fasiq dan kurang iman. Dan aqidah ini pertengahan antara aqidah khawarij yang menyatakan kufur bagi orang yang melakukan dosa besar selama dosa tersebut

bukan syirik. Dan aqidah murji‟ah yang menyatakan bahwa dia adalah yang sempurna dalam iman, mereka mengatakan : bahwa maksiat tidak akan memberi madharat terhadap iman dan tidak

bermanfaat pula ta‟at terhadap kekufuran.

Dan sebagian aqidah ahli sunnah wal jama‟ah adalah bahwasannya kebaikan dan keburukan adalah

merupakan qadla dan taqdir Allah swt dan sesungguhnya manusia tidak mempunyai kekuasaan terhadap amalnya dan tidak bisa memilih amalnya dan aqidahnya, tidak mempunyai hak terhadap pahala dan siksa dari perhitungan ikhtiyarnya. Allah swt berfirman



dikehendaki-Nya kufur maka ia kufur (QS. Al-Kahfi :29).

Aqidah tersebut menyalahi aqidahnya Jabariyah menurut pendapat mereka : sesungguhnya seorang hamba mempunyai kekuasaan akan amal-amalnya tidak ada baginya hak untuk memilih dan berbeda dengan aqidah Qadariyah mereka mempunyai pemahaman bahwasannya seorang hamba baginya mempunyai kehendak yang merdeka dan keluar dari jalur Kehendak Allah swt dan keinginan hamba menjadikan amalnya adalah untuk dirinya sendiri.

Dan sesungguhnya Allah swt telah menolak dua kelompok tersebut sesuai dengan firman-Nya



Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (QS. At-Takwir : 29).

(10)

Dan merupakan aqidah ahli sunnah wal jama‟ah bahwa mereka tidak menetapkan seseorang akan

menjadi ahli sorga atau ahli neraka kecuali orang-orang yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw, mereka selamanya berharap mejadi orang baik dan takut menjadi orang yang jahat (buruk), dan bahwasannya mereka melakukan shalat dibelakang orang yang baik ataupun orang yang buruk (fajir) selama dalam pelaksanaan dhahir shalatnya benar.

Termasuk dalam aqidah ahli sunnah wal jama‟ah membenarkan adanya karamah yang diberikan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...