• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Apropriasi dan Hibridasi dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Strategi Apropriasi dan Hibridasi dalam"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Strategi Apropriasi dan Hibridasi dalam Seni Rupa Kontemporer Jawa Timur Oleh :

Hariyanto

[email protected]

Abstrak

Salah satu strategi kreatif perupa kontemporer yang paling banyak dilakukan oleh perupa kontemporer termasuk perupa Jawa Timur adalah apropriasi dan hibridisasi. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui perupa Jawa Timur yang menggunakan strategi apropriasi dan hibridisasi. Mengetahui jenis/bentuk budaya dan karya seni rupa siapa saja yang diapropriasi oleh para perupa Jawa Timur. Memahami pesan yang disampaikan oleh perupa kontemporer Jawa Timur melalui karya seni rupa apropriasi.

Kata kunci: appropriasi, hibridisasi, seni rupa

Seni rupa kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan pada tahun 1990-an bersamaan dengan menyebarnya wacana posmodernisme dan globalisasi. Para perupa Indonesia dalam berbagai even seperti biennale dan art fair di kawasan Asia Pasifik dan Eropa-Amerika bersama para kurator dan para pengelola galeri mulai memasuki forum internasional dengan berpartisipasi aktif.

Aktivitas seni rupa tidak hanya terbatas sebagai persoalan individu perupa, tetapi sudah menjadi aktivitas kolektif dari institusi yang sering disebut sebagai medan sosial seni (artworld). Perupa tidak bisa bekerja sendiri dalam proses produksi dan distribusi karya seni mereka. Kurator dan pengelola galeri berperan penting dalam mendukung proses produksi dan distribusi karya perupa. Proses produksi seni rupa kontemporer dengan demikian menjadi bersifat kolektif. Sebagai konsekuensi dari sifat produksi seni rupa kontemporer yang kolektif, maka berakibat pada persoalan kreatifitas yang menjadi kata kunci dalam produksi karya seni rupa. Kreativitas yang semula merupakan penemuan individu yang bersifat orisinal kini tidak lagi menjadi ideologi perupa kontemporer. Para perupa tidak lagi mendukung kreatifitas seni rupa yang menjunjung tinggi orisinalitas.

(2)

menjunjung semangat pluralisme, kemudian aliran bebas dari budaya visual yang disebarkan melalui media elektronik, serta berkembangnya medan sosial seni yang membawa prinsip kolektif dalam produksi seni telah berpengaruh dalam proses kreatif perupa. Orisinalitas sebagai prinsip utama dalam penciptaan karya seni rupa dalam wacana modernis kini tidak lagi diikuti oleh para perupa kontemporer. Para perupa kontemporer menantang prinsip orisinalitas dalam penciptaan karya seni rupa melalui penggunaan strategi apropriasi yaitu meminjam bentuk visual dari budaya dan karya yang sudah ada.

Apropriasi merupakan hal yang sudah biasa dalam proses penciptaan karya seni rupa kontemporer. Pada masa lalu para pelukis, pematung, dan arsitek juga biasa melakukan peniruan atau terpengaruh oleh karya-karya sebelumnya. Melalui strategi apropriasi ini para perupa kontemporer dapat melakukan berbagai hal seperti komentar sosial, parodi, ironi, pemujaan dan penghormatan terhadap karya terdahulu atau terhadap persoalan di sekitar perupa.

Para perupa di Jawa Timur yang tersebar di beberapa kota seperti Surabaya, Malang, Batu, Pasuruan, dan lain-lain telah berperan aktif dalam menghidupkan seni rupa kontemporer melalui berbagai aktivitas baik yang diselenggarakan di Jawa Timur maupun di luar Jawa Timur, bahkan cukup banyak pula perupa Jawa Timur yang sudah memasuki forum internasional. Karya-karya seni rupa kontemporer yang dihasilkan oleh para perupa Jawa Timur juga menggunakan strategi dan prinsip yang berlaku dalam seni rupa kontemporer internasional. Salah satu strategi kreatif perupa kontemporer yang paling banyak dilakukan oleh perupa Jawa Timur adalah apropriasi.

Para perupa Jawa Timur banyak meminjam bentuk-bentuk visual dari budaya populer dan budaya tradisi untuk dijadikan sebagai bagian dari karya mereka. Strategi apropriasi ini masih menjadi perdebatan di kalangan para perupa dan kritikus yang setuju dan yang tidak setuju dengan prinsip apropriasi yang dianggap “anti-kreatif”.

(3)

pribadi. Karya seni rupa kontemporer yang menggunakan strategi apropriasi biasanya akan menghasilkan jenis karya yang secara visual disebut hibrida atau percampuran dua atau lebih gaya, tema, teknik, atau unsur budaya tertentu dalam suatu karya.

Praktek seni rupa kontemporer tidak dapat dipisahkan dari konsep globalisasi. Globalisasi budaya telah menciptakan suatu ruang kebudayaan, yang di dalamnya berlangsung, di satu pihak, penyeragaman, homogenisasi dan imperialisme budaya; di pihak lain, persilangan, pertukaran dan pengkayaan budaya yang sangat kompleks. (Piliang, 2009: 75-91) Para pelaku seni di tingkat lokal tidak ingin menerima dampak negatif dari globalisasi yang akan menggilas identitas lokal mereka sehingga mereka. Globalisasi yang didukung oleh kapitalisme konsumen telah menghilangkan keragaman budaya seperti dapat dilihat pada produk-produk global. Kekuatan arus globalisasi telah menimbulkan reaksi yang kuat pula untuk menahan arus budaya tersebut. Globalisasi belum tentu merupakan proses homogenisasi, karena pada kenyataannya terjadi proses fragmentasi dan hibriditas yang memiliki kekuatan yang relatif sama.

Hibridisasi merupakan fenomena penting dalam praktek seni rupa kontemporer. Para perupa kontemporer dengan berbagai cara telah dengan sengaja melakukan praktek hibridisasi dalam karya seni rupa mereka. Prinsip-prinsip lama seperti orisinalitas dan kebaruan yang selama ini dijunjung tinggi oleh seni rupa modern telah dilanggar. Globalisasi yang didukung dengan teknologi informasi telah menyebarluaskan dan mengembangbiakkan budaya visual dengan cepat ke seluruh penjuru dunia. Dengan kondisi seperti ini siapapun dengan mudah memperoleh informasi berupa budaya visual yang berasal dari berbagai sumber yang tanpa batas.

Fenomena hibridisasi tidak dapat dipisahkan dari strategi apropriasi karena fenomena hibridisasi yang berbentuk persilangan atau percampuran bisa berwujud percampuran budaya, percampuran bentuk, percampuran teknik, percampuran gaya, percampuran waktu (historis), dan sebagainya. Hibridisasi biasanya dicapai dengan strategi apropriasi yaitu peminjaman bentuk, gaya, teknik, material, dan sebagainya.

(4)

cara mendekonstruksi wacana penjajah. Penyesuaian diri dengan identitas penjajah justru dimaksudkan untuk memalingkan wajah dari kuasa penjajahan itu. Hibridisasi merupakan strategi bangsa-bangsa poskolonial dalam menghadapi homogenisasi budaya global yang telah menyebarluas ke seluruh penjuru dunia.

Seni Rupa Kontemporer

Menurut definisi internasional seni rupa kontemporer pada umumnya menunjuk pada seni rupa setelah Perang Dunia ke-2, sedang konsep seni rupa modern mencakup seni rupa sebelum tahun 1945 yang dimulai sejak impresionisme (Li Feng, 2006). Arthur Danto menyatakan bahwa seni rupa modern dimulai sejak tahun 1880 hingga tahun 1960-an. Era seni rupa modern ini disebut sebagai era historis, era manifesto atau era seni rupa yang menunjuk pada gaya dan periode. Era seni rupa kontemporer yang berlangsung setelah era seni rupa modern disebut sebagai era akhir seni rupa. Era kontemporer ini dipandang dari suatu perspektif tertentu merupakan periode ketidakberaturan informasi, suatu kondisi entropi estetik yang sempurna. Pada saat ini tidak lagi terdapat tonggak sejarah, apapun diperbolehkan (Danto, 1996).

Caroline Turner menyatakan, seni rupa kontemporer adalah produk dari tradisi, perjumpaan kultural-historis, konfrontasi dengan Barat yang terjadi dalam zaman modern dan perubahan ekonomi, teknologi dan informasi pada saat ini, yang telah menekan dunia menuju sebuah kebudayaan ‘global’ dan sangat diakselerasi oleh interaksi dari masing-masing kondisi di atas (Turner, 1994:xiii-xiv). Di Indonesia pengertian seni rupa kontemporer ada dua yaitu, pertama pengertian yang beredar secara luas di masyarakat: ‘seni rupa kontemporer’ dapat berarti seni rupa modern dan seni rupa alternatif. Pengertian kedua, membatasi seni rupa kontemporer hanya pada seni rupa alternatif seperti instalasi, happenings, performance art dan karya-karya yang cenderung bertentangan dengan seni rupa modern. Menurut pengertian kedua ini seni rupa kontemporer adalah penolakan terhadap seni rupa modern (Sumartono, 2000:21-52). Ciri-ciri seni rupa kontemporer Indonesia menurut Soedarso Sp. Adalah meningkatnya tema sosial-politik, adanya kecenderungan anti formalisme (diasosiasikan dengan gerakan Pascamodernisme). Penonjolan pluralisme disertai kemunculan unsur-unsur lokal, dan tumbuh kembali tradisi realisme dan kecenderungan representasional (Soedarso, 2006:188-190).

(5)

Seni rupa kontemporer yang berkembang setelah era modern sering dikaitkan dengan era posmodern, namun demikian tidak semua seni rupa kontemporer adalah seni posmodern. Posmodernisme menggambarkan gerakan-gerakan yang berasal dari dan bereaksi terhadap kecenderungan modernisme (Krauss, 1985) Kecenderungan khusus dari modernisme yang sering dikutip antara lain adalah kemurnian bentuk, seni untuk seni, keotentikan, universalitas dan orisinalitas. Asumsi-asumsi modernisme tersebut banyak mendapat serangan misalnya melalui parodi yang sering disebut sebagai kutipan ironis, pastiche atau daur ulang. Menurut Linda Hutcheon, melalui parodi ataupun bentuk reproduksi lain, konsep orisinal sebagai sesuatu yang langka, tunggal dan berharga dipertanyakan kembali (Hutcheon, 2004:147-148)

Dalam wacana Modernisme terdapat suatu pengertian bahwa kedudukan seniman atau pengarang memiliki otoritas kepengarangan (authorship) yang tinggi. Karya seni dianggap sebagai cerminan dari pribadi sang seniman yang harus menunjukkan adanya unsur orisinalitas, keunikan dan kebaruan. Seniman adalah sumber atau asal-usul di mana sebuah karya seni dilahirkan. Michel Foucault menyatakan bahwa pengarang atau seniman adalah sumber utama dari ekspresi dan merupakan pencipta (kreator) yang jenius dari sebuah karya dan juga sebagai produk ideologis. ( Foucault, 1993:923-928). Roland Barthes menambahkan bahwa pengarang (seniman) adalah figur modern yang dihasilkan oleh masyarakatnya sejak akhir abad pertengahan dengan empirisme Inggris, rasionalisme Perancis, dan keyakinan personal dari Reformasi yang menemukan prestise pada individu. Karya-karya yang dihasilkan secara tiranis berpusat pada pengarangnya, orangnya, sejarahnya, seleranya dan pada hasratnya (Barthes, 1977: 142-148). Orisinalitas dan kebaruan yang diharapkan dari karya-karya seniman/pengarang modernis menuntut mereka melakukan penemuan teknik dan gaya yang inovatif secara terus menerus. Peniruan dan pengulangan terhadap bentuk alam dan seni yang sudah ada dianggap sebagai tindakan yang tidak kreatif dan tidak orisinal. Modernisme dan avant-garde adalah fungsi dari apa yang disebut sebagai wacana orisinalitas, dan wacana itu melayani banyak kepentingan yang lebih luas seperti museum, sejarawan dan para pembuat seni. (Krauss, 1993:1060-1065)

(6)

‘teks’. Menurut Barthes teks adalah jaringan dari kutipan-kutipan, yang dihasilkan dari ribuan sumber budaya. Seseorang yang dapat memahami setiap kata-kata tertulis adalah ‘pembaca’ (reader). Tulisan-tulisan yang digambarkan berasal dari berbagai budaya dan kemudian menjadi hubungan dialog serta parodi. Hanya terdapat satu tempat bagi multisiplitas tulisan, ia adalah pembaca, bukan pengarang. ‘Kelahiran dari pembaca harus ditebus dengan kematian pengarang’. ( Barthes, 1977: 142-148).

Wacana kematian sang pengarang ini berpengaruh besar dalam sistem produksi maupun konsumsi seni rupa kontemporer pada saat ini. Perupa menolak sifat kepengarangan dan ia tidak lagi menjadi pusat peciptaan karya seni rupa. Perupa tidak lagi dituntut untuk menghasilkan karya yang memiliki kriteria orisinal. Para perupa kontemporer tidak lagi dianggap sebagai seniman jenius yang terpisah dari lingkungan sosialnya.

Posmodernisme dan Apropriasi

Berbeda dengan seni rupa modernisme yang mengutamakan estetika bentuk, seni rupa posmodern lebih mengutamakan pesan atau tema. Strategi visual yang digunakan oleh para perupa kontemporer lebih dimudahkan dengan adanya teknologi. Appropriasi menjadi salah satu strategi visual yang paling banyak digunakan oleh para perupa kontemporer. Menurut Robert S. Nelson, kata ‘appropriation’ berasal dari kata Latin ‘appropriare’ yang memiliki arti ‘menjadikan milik sendiri’. ‘To appropriate’ pada saat ini memiliki arti, mengambil sesuatu untuk kegunaan diri seseorang dan kata sifat dari ‘appropriate’ berarti menjadi milik diri seseorang, privat dan cocok. Kata ‘appropriate’ juga memiliki konotasi yang sinis yaitu penculikan atau pencurian. Penerapan kata appropriasi pada seni rupa dan sejarah seni rupa pada masa sekarang ini berhubungan dengan adopsi karya seni rupa dari unsur-unsur yang ada lebih dulu. Appropriasi juga dapat bermakna ‘peminjaman’ atau ‘pengaruh’, dari produksi dan resepsi sebuah karya seni rupa. (Nelson, 2003:160-173)

(7)

menghasilkan karya kontemporer dengan strategi appropriasi melalui karya-karya fotografi dengan tujuan untuk mengkritik mitos orisinalitas dan aura seni rupa modernis yang bersifat patriarkis.

Para perupa perempuan Indonesia, sedikit sekali yang memanfaatkan fotografi, mereka lebih senang menggunakan teknik kriya seperti keramik dan tekstil (serat) yang bersifat feminin dan oleh kaum modernis dipandang sebagai bukan seni murni. Penggunaan teknik kriya dalam seni rupa kontemporer oleh perupa perempuan bermakna sebagai kritik terhadap hirarki dalam seni rupa modern, yaitu seni lukis lebih murni dibanding dengan kriya. Strategi appropriasi banyak dilakukan oleh para perupa Indonesia baik perempuan maupun laki-laki. Karya-karya Agus Suwage dan Titarubi adalah contoh perupa-perupa yang menggunakan strategi appropriasi.

Apropriasi dalam seni rupa bukanlah hal baru, meminjam karya seniman lain telah menjadi praktek yang dihormati di banyak sejarah seni: pelukis, misalnya, sering melukis ulang karya orang lain untuk mengeksplorasi penerapan gaya mereka sendiri dengan komposisi dan pokok soal yang akrab.(Irvin, 2005:123-137) Mereka percaya bahwa dalam meminjam citra atau elemen citra yang ada, mereka mengkontekstualkan kembali atau mengambil-alih citra asli, yang memungkinkan pengamat untuk menegosiasikan makna aslinya dalam konteks saat ini yang berbeda, lebih relevan, atau lebih sesuai dengan konteks sekarang (Rowe, 2011:al.1) Para perupa posmodern pelaku apropriasi seperti Barbara Kruger tertarik untuk menolak gagasan 'orisinalitas'.( Camp, J ,2007:247) Dalam memisahkan gambar dari konteks aslinya dari media mereka sendiri, kita membiarkan mereka untuk mengambil makna baru dan beragam. Proses dan sifat apropriasi telah dianggap oleh antropolog sebagai bagian dari studi perubahan budaya dan kontak lintas budaya. (Schneider, A , 2007:24-25)

(8)

Melalui strategi apropriasi para perupa kontemporer tidak hanya melakukan kritik terhadap kepengarangan dalam seni rupa modern, mereka juga menjadikan strategi ini sebagai alat utama untuk melawan dominasi Barat. Para perupa Afrika menyatakan bahwa seni rupa modern Afrika genre apropriasi masih bertempur untuk pengakuan global sejak para pecinta seni Eropa dan Amerika sering mengabaikan bentuk seni Afrika sebagai tidak otentik dan tidak orisinal karena kasus melingkupi peniruan pada gaya seni rupa Eropa atau tradisi Afrika (Akpang, 2013:25-36).

Penggunaan apropriasi dalam seni rupa kontemporer adalah strategi yang berguna untuk mengomentari, atau mengkritik aspek kehidupan dengan merekontekstualisasi gambar atau obyek dari makna yang sudah ditentukan. Memberikan arti baru untuk, atau membangun atas makna, ide yang ada dengan mendefinisikan kembali konteksnya adalah alat yang efektif yang mengubah atau ikut campur dengan asosiasi asli pemirsa dengan suatu objek atau gagasan. Ini menjadi segera dapat diakui sebagai pendekatan postmodern karena menganut yang kontradiksi, keragaman dan "tidak konvensional". Hal ini penting sebagai pesan yang mudah diterjemahkan, memberikan arti kepada khalayak modern.

Pengertian posmodernisme yang sudah banyak diketahui adalah penekanan pada penghapusan batas antara seni dengan kehidupan sehari-hari, runtuhnya perbedaan antara seni tinggi dengan budaya populer, adanya percampuran stilistik umum serta percampuran berbagai peraturan. Hilangnya batas antara seni dengan kehidupan sehari-hari dapat dipahami melalui konsep estetikasi kehidupan sehari-hari. Estetikasi sehari-hari dapat merujuk pada sub-sub budaya artistik seperti Dada dan Surealisme yang sering disebut sebagai avant garde historis yang menghapus batar antara seni dengan kehidupan sehari-hari. Readymade atau benda temuan dari Duchamp merupakan contoh dari hilangnya batas antara seni dengan kehidupan sehari-hari. Tujuan dari gerakan ini adalah meredupkan aura atau pancaran seni, menentang posisi terhormatnya dalam museum dan akademi. Seni dapat terjadi di mana saja dan menjadi apa saja. Seni juga dapat ditemukan dalam anti-seni seperti performance art atau happening art (Featherstone, 2001:155-159).

Estetika Hibrida

(9)

duniawi atau seni rupa pada status kontemporer yang kreatif (Akpang, 2013). Estetika hibrida dapat dilihat sebagai sebuah titik di mana gaya-gaya dan teknik-teknik seni rupa kontemporer bersilangan, sebagai percampuran antara yang tradisional dan yang modern (Odibo 2009). Gagasan tentang seni rupa hibrida merupakan lanjutan berbagai eksperimentalis kontemporer yang menggabungkan seni rupa dan sains, seni rupa dan seni pertunjukan, seni rupa tiga dimensi dan teknologi digital. Seni rupa hibrida merupakan fenomena yang terjadi secara meluas di era posmodern. Menurut Danto (1997:12) Seni rupa posmodern ditandai oleh keliyanannya, terdiri atas unsur-unsur yang “hibrid daripada yang ‘murni’, kompromi daripada ‘bersih’, ‘ambigu’ daripada ‘artikulasi’, menyimpang dan juga menarik.

Posmodernisme merupakan gejala budaya di mana segala bentuk seni dan budaya berbaur dan bercampur, hingga pemikiran-pemikiran lokal dan tradisional terakomodasikan lewat ungkapan-ungkapan seni. Hibridisasi dalam seni rupa kontemporer, bukan saja berangkat dari pembauran medium dan budaya, tetapi juga bagaimana konstruksi pikiran dan bahasa rupa atau tanda-tanda yang telah bersilang dengan beragam jaman dan praktik-praktik sosial lainnya.( Rifky Effendy, 2009)

Praktek Apropriasi dan Hibridasi dalam Seni Rupa Jawa Timur

Berdasarkan hasil pengamatan dapat disajikan bahwa karya-karya seni rupa apropriasi dan hibridisasi yang dihasilkan perupa di Jawa Timur didominasi oleh karya seni lukis, sedangkan karya lain berupa instalasi, fotografi, seni grafis, dan jenis karya seni rupa lainnya relatif sedikit jumlahnya.

Berdasarkan kota tempat tinggal perupa maka para perupa di Jawa Timur hanya berkumpul di beberapa kota yaitu Surabaya, Malang, Batu, Pasuruan, dan beberapa kota lain. Surabaya dan Malang adalah dua kota terbesar di Jawa Timur yang paling banyak dihuni oleh para perupa karena di kedua kota ini terdapat perguruan tinggi yang memiliki jurusan seni rupa seperti Unesa, UM, UB dan sekolah tinggi seni STKW. Galeri seni rupa juga terdapat di Surabaya, Malang, dan Batu. Kota-kota lainnya di luar Surabaya dan Malang meskipun tidak memiliki perguruan tinggi yang ada jurusan atau program studi seni rupanya, namun di kota seperti Batu dan Pasuruan terdapat komunitas seni rupa dan galeri seni rupa serta aktifitas seni rupa yang relatif tinggi.

(10)

Hening Purnamawati. Selain nama-nama tersebut dari Surabaya masih cukup banyak perupa yang melakukan praktek apropriasi yaitu : Rilantono, Agus Koecink, Adi Kaniko, Supar Pakis, Kukuh Nuswantoro, Joko Pramono (Jopram) dan lain-lain.

Para perupa dari wilayah Malang Raya yang meliputi kota Malang, kota Batu, dan kabupaten Malang jumlahnya cukup banyak. Pada masa lalu perupa dari kota Malang lebih menonjol, namun dalam perkembangan selanjutnya justru para perupa dari kota Batu lebih dinamis sehingga bisa menggeser posisi perupa kota Malang. Pada tahun 1983 di kota Batu berdiri Pondok Seni Batu yang dimotori oleh Koeboe Sarawan seorang pelukis surealis jebolan ISI Yogyakarta. Para anggota yang aktif di Pondok Seni Batu adalah : Koeboe S., Badrie, Djuari S., Slamet Henkus, Gusbandi Harioto, Agus Riyanto, Andri Suhelmi, M. Watoni Suid, Anwar, Bambang BP., Isa Ansori, Herry Poer, Sugiono, dan Fadjar Djunaedi. Hingga saat ini prestasi yang dicapai oleh para anggota Pondok Seni Batu ini cukup bisa dibanggakan karena di antara mereka sudah ada yang ikut CP. Biennale, nominator Indonesian Art Award. Kota Batu didukung oleh lingkungan yang nyaman, banyak objek wisata, hotel dan restoran, dan juga terdapat galeri Raos. Para perupa dari kota Malang di antaranya adalah : Ojite Budi Sutarno, Gatot Pujiarto, Antoe Budiono, Keo Hariyanto, Bambang AW., Yoga Mahendra, Ponimin, dan lain-lain.

Pasuruan adalah kota di Jawa Timur yang aktifitas seni rupanya relatif tinggi dibanding kota-kota lain di Jawa Timur selain Surabaya dan Malang. Di kota ini terdapat komunitas seni rupa yang aktif berkarya dan secara rutin mengadakan pameran di Pasuruan maupun kota-kota lain. Beberapa perupa yang menonjol dari Pasuruan adalah Wahyu Nugroho, Achmad Rosidi, Toni Jafar dan lain-lain.

(11)

mengapropriasi bentuk yang berasal dari relief-relief di Borobudur dan menggabungkan dengan karya seni lukis modern Eropa seperti dalam karya Retorika Guarni Calengka , 2005. Agus Koecink (Surabaya) menggunakan wayang dan figur-figur mirip wayang serta unsur batik dalam karya instalasi dan lukisannya. Warisan tradisi lain seperti topeng (Madura dan Malang) juga diapropriasi oleh perupa Ivan Hariyanto (Surabaya) seperti terlihat pada karya Ekspresi Sang Primadona, 2000.

Seorang perupa dari Surabaya Asri Nugroho menampilkan karya hibrid yang diapropriasi dari seorang tokoh budaya tradisi Ludruk yang terkenal bernama Kartolo. Potret Kartolo berukuran besar ditampilkan seperti manusia robotik. Karya yang berjudul Kartoloan (2015) menngambarkan betapa seni tradisi tidak dapat menghindar dari kekuatan teknologi. Patung tradisional Loro Blonyo yang merepresentasikan Dewi Sri dan Sadono pasangannya menjadi objek apropriasi perupa surealis Koeboe Sarawan. Dalam beberapa karyanya Koboe mengapropriasi patung Loro Blonyo dan menambahkan kain batik parangrusak dan kain polos yang beraneka warna. Patung-patug diposisikan mengawang sehingga terkesan seperti wayang golek (Imaji Roro Blonyo, 2003).

Ponimin, perupa keramik asal Malang sering mengapropriasi tokoh-tokoh dalam cerita Pandji dan Dewi Sekartaji. Karya Ponimin Kekokohan Asmara Panji (2014) adalah instalasi patung keramik yang menggambatkan pasangan kekasih antara Panji dan Sekartaji. Tokoh-tokoh dalam karya ini diambil dari kisah Panji yang masih digemari di daerah Jawa Timur. Perupa Ojite Budi Sutarno (Malang) mengapropriasi benda-benda sehari-hari seperti kacamata, kunci, granat dan lain sebagainya dan mengkombinasikan dengan unsur-unsur ornamen tradisi. Karya berjudul Frozen Portrait (2011) memperlihatkan sesosok wajah laki-laki yang mengenakan tutup kepala mirip peci santri dan blangkon. Di dalam kepala potret laki-laki itu digambarkan sebuah granat tangan dengan gaya realis, Pada bagian yang lain Ojite menyajikan potret ini secara dekoratif dengan banyak ornamen.

(12)

kehidupan modern di mana menari berpasangan juga menjadi “tradisi” di kalangan atas seperti seolah dilakukan juga oleh Sudjojono.

Mulyo Gunarso lahir di Kediri tahun 1979 adalah perupa yang belajar seni rupa di ISI Yogyakarta 2001-2006. Gunarso adalah perupa yang peduli pada tema lingkungan hidup. Pada sebagian karyanya ditampilkan objek utama yang diulang-ulang yaitu sarang burung dan burung mainan seperti dari kertas. Karya-karya Gunarso yang bertema lingkungan itu di antaranya adalah : Catatan-alam (2011), Penghuni Baru (2011), dan Penyerangan (2011). Pada ketiga karya tersebut Gunarso menampilkan objek sarang burung yang yang dipasangkan dengan objek burung mainan seperti burung-burungan dari kertas.

Chairul S Sabaruddin (Malang) adalah seorang pelukis pensil yang tertarik dengan dunia binatang seperti harimau dan zebra karena kedua binatang ini memiliki warna kulit yang indah. Dalam beberapa karyanya Irul menjajarkan antara figur perempuan cantik dengan kejantanan binatang buas. Pada beberapa karya ia menjajarkan bentuk seekor binatang dengan reog Ponorogo yang kepalanya berwujud kepala harimau. Irul mengapropriasi bentuk binatang buas (harimau) dan properti seni reog (Dadak Merak) dalam satu kanvas.

Para perupa Jawa Timur lainnya melakukan strategi apropriasi dengan meminjam objek-objek visual modern dan objek budaya dari luar Indonesia. Perupa Ivan Hariyanto juga banyak mengapropriasi benda keseharian dan figur perupa dalam karyanya. Karya-karya Ivan seri Reciprocity (2007) menggunakan strategi apropriasi ganda. Mobil dan sepeda motor yang dijadikan objek utama dalam kanvas Ivan adalah bentuk apropriasi terhadap benda keseharian. Pada masing-masing objek tunggal (mobil dan sepeda motor) Ivan menambahkan wajah tokoh perupa atau tokoh dalam seni rupa sebagai sebagai semacam desain atau hiasan pada masing-masing kendaraan. Karya Ivan berjudul Interuption of Yue Mingjun 1 dan Interuption of Yue Mingjun 2, menyajikan masing-masing objek tunggal bagian depan mobil semi antik. Pada Interuption of Yue Mingjun 1, Ivan menonjolkan plat nomor mobil yang diganti dengan wajah perupa realisme sinis dari China yaitu Yue Mingjun. Interuption of Yue Mingjun 2 menyajikan objek tunggal bagian depan mobil semi antik yang bagian bodi kanannya dihias lukisan potret diri Yue Mingjun.

(13)

karya Peter Bruegel dan Hieronimus Bosch. Karya-karya Hening kebanyakan mengambil tema kehidupan sehari-hari yang kontekstual tetapi divisualkan dengan gaya mirip karya lukisan Hieronimus Bosch. Karya Hening berjudul Theatre Of Chaos (2002) dan Pesta Demokrasi (2003) merupakan dua contoh karyanya yang menggambarkan peristiwa politik yang riuh-rendah dan sebuah tontonan tentang kekacauan yang digambarkan secara kompleks, kolosal, dan detil menyerupai gaya Bosch.

Rilantono (Surabaya) juga tertarik menampilkan figur laki-laki berkulit gelap dan memunculkan tokoh superhero seperti Batman. Karya-karya dimaksud adalah : Fighting Myself (2008); Kotak Wasiat (2008); dan Bersama-sama Kita Bisa (2011). Apropriasi terhadap tokoh superhero juga sering dilakukan oleh perupa lain seperti Nyoman Masriadi.

Karya Agoes Koecink berjudul Sugeng Rawuh (2008) adalah karya yang mengapropriasi tokoh dan simbol kapitalis Amerika. Lukisan Agus menggunakan tiga panel, masing-masing panel disajikan potret seseorang dengan posisi berdiri dan tanpa alas kaki. Lukisan potret pada panel pertama wajah dan kepalanya mirip tokoh Mickey Mouse, sedangkan pada panel kedua dan ketiga wajah tokoh disajikan mirip badut. Figur badut pada panel kedua sedang asyik minum soft drink dan botolnya bersebaran di sekelilingnya. Figur badut pada panel ketiga yang wajahnya mirip dengan badut (patung) Mc Donald ini dikelilingi oleh produk fastfood yaitu burger.

Kukuh Nuswantoro, lahir di Surabaya tahun 1966 adalah perupa yang memperoleh pendidikan dari ISI Yogyakarta lulus tahun 1995. Karya-karya Kukuh pada masa awal karirnya sebagai perupa masih dalam pencarian identitas di mana pada tahun 1990-an akhir masih dibayangi oleh gaya visual dari seorang pelukis Marc Chagall. Pada era tahun 2000-an karya-karya Kukuh berubah dengan mengapropriasi beberapa tokoh seni Barat seperti Salvador Dali, Van Gogh, dan Mr Bean. Karya-karya Kukuh yang menampilkan tokoh Barat adalah : Salvador Dali (2007), Van Gogh (2007), dan Mr. Bean (2008).

(14)

memegang cat semprot dan tangan kanan memegang sebuah kuas. Pada karya ini Isa mengapropriasi tokoh pemuda aktivis dan tokoh badut dalam satu sosok pemuda.

Sutjipto Adi lahir di Jember tahun 1957, belajar seni rupa di STSRI “ASRI” (ISI) Yogyakarta (1977-1981). Sejak mahasiswa, Adi sudah menekuni seni lukis dengan teknik realis. Karya-karya Adi lebih dekat ke realisme pop daripada ke surealisme. Dalam kebanyakan karyanya selalu ada figur bayi, figur anak-anak, perempuan, dan figur orangtua sebagai bhiku mirip tokoh Dalai Lama. Figur-figur dalam kanvas Adi biasanya dikombinasi dengan bentuk-bentuk geometrik seperti bulatan/bola, segitiga, segi empat dengan tata warna yang meriah. Pada karya-kaya berjudul : Imagine I (2002), Reincarnation A Long Walk to Freedom (2008), dan Lotus 2 (2008) adalah karya-karya yang menampilkan figur bayi dan figur bhiku dalam setiap kanvasnya.

Simpulan

Apropriasi yang dilakukan oleh perupa di Jawa Timur terhadap tokoh-tokoh perupa Leonardo dan Vinci (Monalisa), Raden Saleh, Van Gogh, dan Yue Minjun seperti terlihat pada karya Ivan Hariyanto dan Kukuh Nuswantoro merupakan bentuk penghargaan dan juga kritik terhadap sifat kepengarangan dalam seni rupa modern. Para perupa posmodern menolak prinsip orisinalitas dan kepengarangan. Menurut Camp J, (2007:247) prinsip orisinalitas ditentang oleh perupa perempuan seperti Barbara Kruger. Sementara itu kepengarangan adalah konsep yang ketinggalan zaman atau sesat (Irvin, S ,2005:123). Karya-karya para perupa modern dan kontemporer seperti tersebut di atas yang diapropriasi oleh para perupa di Jawa Timur tidak seluruhnya menjunjung tinggi prinsip orisinalitas.

(15)

soal yang akrab.(Irvin, 2005:123-137) Mereka percaya bahwa dalam meminjam citra atau elemen citra yang ada, mereka mengkontekstualkan kembali atau mengambil-alih citra asli, yang memungkinkan pengamat untuk menegosiasikan makna aslinya dalam konteks saat ini yang berbeda, lebih relevan, atau lebih sesuai dengan konteks sekarang (Rowe, 2011:al.1).

Beberapa perupa di Jawa Timur sengaja meminjam tema dan bentuk visual yang berasal dari seni rupa tradisi seperti dilakukan oleh perupa Ponimin dan Faizin. Pada karya Ponimin berjudul Kekokohan Asmara Panji (2014) dan karya Faizin berjudul Gandrungan (1999) dan Gandrung Banyuwangi (2000) merupakan karya-karya yang bersumber dari cerita Panji dan tari gandrung asal Banyuwangi. Alasan dari kedua perupa ini mengapropriasi seni tradisi adalah sebuah bentuk penghargaan kepada seni tradisi juga sekaligus kritik terhadap seni tradisi tersebut. Para perupa dan masyarakat menyadari bahwa budaya tradisi telah mengalami perubahan sehingga dalam menyajikan seni budaya tradisi perlu perubahan sudut pandang atau disesuaikan dengan konteks sekarang. Hai ini sejalan dengan pandangan para antropolog tentang apropriasi terhadap budaya. Mereka berpendapat bahwa proses dan sifat apropriasi telah dianggap oleh antropolog sebagai bagian dari studi perubahan budaya dan kontak lintas budaya. (Schneider, A , 2007:24-25)

Daftar Pustaka

Akpang, 2013 Akpang, Clement Emeka, 2013. “Traditionalism in Contemporary Art: Re-contextualizing African Ideographs through Hybrid Aesthetics”, Art and Design Studies

Barthes, Roland, 1977. ‘The Death of the Author’, trans. Stephen Heath, in Image Design Studies, Vol. 11, 2013., Music,Text (New York: Hill and Wang).

Camp, J. Van, 2007. ‘Originality in Postmodern Appropriation Art’ The Journal of Arts Management, Law, and Society, 36: 4.

Danto, Arthur C. 1996. After the End of Art: Contemporary Art and the Pale of History (Princeton, New Jersey: Princeton University Press.

Effendy, Rifky, 2009. “Hybridization”, Teks Kuratorial Pameran di North Art Space Jakarta.

Featherstone, Mike. 2001.Posmodernisme danBudaya Konsumen.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

.

(16)

Foucault, Michel, 1984. What Is an Author?’, trans. Josué V. Harari, in Paul Rainbow (ed.), The Foucault Reader ,New York: Pantheon Books.

Hutcheon, Linda 2004. Politik Posmodernisme ,Yogyakarta: Jendela, terjemahan Apri Danarto dari judul asli, The Politics of Postmodernism ,London and New York: Routledge, 2002.

Irvin, Sherri, 2005. “Appropriation and Authorship in Contemporary Art” British Journal of 

Aesthetics 45

Krauss, Rosalind E. 1985. The Originality of the Avant Garde and Other Modernist Myths ,Cambridge, Massachusetts: MIT Press..

Nelson, Robert S. 2003. ‘Appropriation’, dalam Robert S. Nelson dan Richard Shift,ed, : Critical for Art History ,Chicago dan London, University of Chicago Press.

Piliang, Yasraf Amir ,2004.”Semiotika Teks: Sebuah Pendekatan Analisis Teks”, Jurnal MediaTor, Vol. 5, No. 2.

Rowe, Hayley A. 2011, “Appropriation in Contemporary Art” Student Pulse Vol. 3 No. 06, online www..com/articles/studentpulse546/appropriation-in-contemporary-art

Schneider, A , 2007. Appropriation as Practice. Art and Identity in Argentina, Palgrave Macmillan.

Soedarso Sp., 2006. Trilogi Seni, Penciptaan Eksistensi dan Kegunaan Seni ,Yogyakarta : Badan Penerbit ISI Yogyakarta.

Sumartono. ‘Peran Kekuasaan dalam Seni rupa Kontemporer Yogyakarta’, dalam Jim Supangkat ,ed : Outlet : Yogya dalam Peta Seni Rupa Kontemporer Indonesia (Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti, 2000).

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas dan hasil siswa SMK dalam memproduksi teks eksplanasi kompleks dengan menggunakan model pembelajaran berbasis proyek.Metode

yang berhak diperoleh oleh setiap Warga Negara secara minimal sesuai dengan Jenis Pelayanan Dasar dan Mutu Pelayanan Dasarb. BAB

Mitos dan pemali dalam cerita rakyat Situ Gede dan Situ Cibeureum merefleksikan kearifan masyarakat dalam pelestarian alam, khususnya keseimbangan alam dalam hal pengelolaan sumber

Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik sebagaimana telah diubah dengan peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan

Tujuan khusus dari pelakasanaan Praktik Pengalaman Lapanagn 2 bimbingan dan konseling adalah menyusun program-program dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling sesuai

Praktik Pengalaman lapangan (PPL) merupakan suatu kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan materi yang

CONSTRUCTED INTERACTIVE ANIMATION AS A MEDIA TO MEASURE STUDENTS’ OLLABORATIVE PROBLEM SOLVING SKILLS AND IMPROVE STUDENTS’ UNDERSTANDING IN

Customer Relationship Management (CRM) merupakan salah satu strategi pemasaran jasa dalam menarik perhatian, pemeliharaan kepuasan nasabah serta meningkatkan