• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS MISKONSEPSI SISWA KELAS XA PADA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS MISKONSEPSI SISWA KELAS XA PADA"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS MISKONSEPSI SISWA KELAS XA PADA MATERI STRUKTUR ATOM DI SMA MUHAMMADIYAH KOTA JAYAPURA

TAHUN AJARAN 2013/2014

SKRIPSI

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Akademik Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Kimia

Oleh :

FEBRIAN ANDI HIDAYAT 0100140305

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS CENDERAWASIH JAYAPURA

(2)

ii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Analisis Miskonsepsi Siswa

Kelas XA pada Materi Struktur Atom di SMA Muhammadiyah Kota Jayapura

Tahun Ajaran 2013/2014 ini sepenuhnya karya saya sendiri. Tidak ada bagian di

dalamnya yang merupakan plagiat dari karya orang lain dan saya tidak melakukan

penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika

keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap

menanggung resiko/sanksi akademik maupun pidana yang ditahuhkan kepada

saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan

dalam karya saya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya

ini. Surat Pernyataan ini saya Buat dalam Keadaan Sadar dan Tanpa Tekanan

Apapun dan dari Siapapun.

Jayapura, Juli 2014

Yang membuat Pernyataan

(3)

iii

LEMBAR PERSETUJUAN

Judul : Analisis Miskonsepsi Siswa Kelas XA pada Materi Struktur

Atom di SMA Muhammadiyah Kota Jayapura Tahun Ajaran

2013/2014

Nama : Febrian Andi Hidayat

NIM : 0100140305

Program Studi : Pendidikan Kimia

Jenjang : Strata satu (S1)

Telah Diseminarkan dan Disidangkan Pada Ujian Sidang

Program Studi Pendidikan Kimia

Pembimbing 1,

Drs. Alex A. Lepa, M.Si

NIP. 19660825 199111 1 001

Pembimbing 2,

Lusia Narsia Amsad, S.Pd.,M.Si

(4)

iv

LEMBAR PENGESAHAN

Telah Diuji dan Diterima Panitia Ujian Sarjana, Program Studi Pendidikan

Kimia, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Cenderawasih, sebagai Salah Satu

Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Kimia.

Mengesahkan

2. Lusia Narsia Amsad, S.Pd, M.Si

(5)

v NIP. 19790519 200812 1 004

ABSTRAK

Analisis Miskonsepsi Siswa Kelas XA pada Materi Struktur Atom di SMA Muhammadiyah Kota Jayapura

Tahun Ajaran 2013/2014

Terlaksananya kegiatan pembelajaran ditandai dengan adanya aktifitas belajar pada siswa. Proses belajar memerlukan beberapa kemampuan antara lain kognitif, afektif, dan psikomotor. Kemampuan kognitif memegang peranan utama dalam proses belajar, dimana kemampuan ini memungkinkan siswa memahami mata pelajaran dengan lebih efektif dan efisien. Siswa mempunyai kemampuan yang berbeda dalam membangun pengetahuannya. Pengetahuan oleh siswa dibangun berdasarkan konsepsinya. Konsepsi yang tidak sesuai dengan konsepsi sebenarnya jika diyakini benar oleh siswa menyebabkan terjadinya miskonsepsi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman, miskonsepsi, konsepsi-konsepsi yang teridentifikasi miskonsepsi, persentase siswa yang mengalami miskonsepsi, dan faktor-faktor yang menyebabkan miskonsepsi pada siswa kelas XA SMA Muhammadiyah Kota Jayapura tahun ajaran 2013/2014 pada materi struktur atom. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu tes dan wawancara. Tes yang digunakan untuk pengumpulan data dilengkapi dengan tingkat keyakinan jawaban (TKJ) yang terdiri dari 32 soal konsepsi dan 8 soal aplikasi. Wawancara selanjutnya dilakukan pada siswa yang teridentifikasi miskonsepsi dan juga guru mata pelajaran kimia untuk mengetahui faktor-faktor penyebab miskonsepsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang tidak paham konsep sebesar 55,74% dan siswa yang paham konsep sebanyak 44,26%, sedangkan siswa yang mengalami miskonsepsi yaitu 22,48% (miskonsepsi termasuk dalam tidak paham konsep). Miskonsepsi teridentifikasi pada 90,63% konsepsi yang diujikan. Faktor-faktor penyebab miskonsepsi adalah kemampuan dasar siswa, minat belajar kimia siswa, minimnya buku pegangan siswa dan kurang variatifnya metode mengajar yang digunakan guru. Miskonsepsi siswa di SMA Muhammadiyah Kota Jayapura ada yang sama dan ada pula yang tidak sama dengan siswa dari SMA Negeri 1 Nganjuk.

(6)

vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto :

Bekerja sepenuh hati,

untuk dapatkan yang terbaik”

Skripsi ini kupersembahkan kepada:

❖ Kedua orang tuaku terkasih, Ruswan dan Siti Khanifah yang selalu

mendukung dan mendoakan dalam setiap langkahku menggapai cita-cita.

❖ Adik-adikku tersayang, Fajar Efendi dan Devi Zahrah Setiani sebagai

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas

segala rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Miskonsepsi Siswa Kelas XA pada

Materi Struktur Atom di SMA Muhammadiyah Kota Jayapura Tahun Ajaran

2013/2014” dengan baik.

Penulisan skripsi ini dibantu oleh beberapa pihak baik dari segi materi

maupun moril. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. Onesimus Sahuleka, S.H.,M.Hum., selaku Rektor Universitas

Cenderawasih.

2. Dr. Nommensen St. Mambraku selaku Dekan FKIP Universitas

Cenderawasih.

3. Dr. Tiurlina Siregar, M.Si., selaku Ketua Program Studi Magister Pendidikan

IPA dan sebagai Dosen pembimbing II yang telah membimbing dan

mengarahkan penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

4. Drs. Alex A. Lepa, M.Si. selaku Dosen Pembimbing I yang telah sabar

membimbing, mengarahkan, meluangkan waktu dan memotivasi penulis

dalam penyelesaian skripsi ini.

5. Bapak dan Ibu dosen di Program Studi Pendidikan Kimia yang telah

memberikan banyak masukan selama penulisan skripsi ini serta motivasi

(8)

viii

6. Udin Ramazakir, S.Pd.,M.Si. selaku Kepala SMA Muhammadiyah Kota

Jayapura yang telah memberi izin kepada penulis melakukan penelitian di

SMA tersebut.

7. Teguh Iman Santosa, S.Pd. selaku Wakil Kepala Sekolah bagian kurikulum

dan sebagai guru mata pelajaran kimia yang banyak membantu penulis selama

proses pengambilan data.

8. Kepala SMA YPPK Teruna Bakti yang telah memberi ijin peneliti untuk

melakukan uji coba instrumen.

9. Bapak dan Mama tercinta, tersayang dan terhebat yang telah sangat banyak

memberikan dorongan, semangat dan pengorbanan kepada penulis selama

menempuh pendidikan.

10.Adik tersayang Fajar Efendi, Devi Zahrah Setiani dan Nursamsi Arifin yang

menjadi penyemangat penulis untuk dapat menyelesaikan perkuliahan.

11.Keluarga besarku yang telah memotivasi penulis selama masa kuliah.

12.Siswa-siswa kelas XA SMA Muhammadiyah Kota Jayapura tahun ajaran

2013/2014 yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.

13.Siswa-siswa kelas XF SMA YPPK Teruna Bakti tahun ajaran 2013/2014 yang

telah bersedia menjadi responden dalam uji coba instrumen penelitian ini.

14.Kakak-kakak senior Kak Ricky, Kak John Yoro Parlindungan, Kak Joko Eko

Wahyudi, dan Kak Irja yang selalu berbagi dan memberikan motivasi pada

penulis selama perkuliahan.

15.Kakak-kakak serta teman-teman yang meneliti “miskonsepsi” Kak Shelvynia

(9)

ix

kak Elsi ’09, Ni Putu Candra ’10 dan Ernia Sabayati Messakh ‘10 yang selalu

berbagi pengetahuan bersama penulis.

16.Sahabat-sahabat tersayang dan terkasih Ku_Kis ’10 (Fenny, Anty, Eka, Credo,

Mardy, Richardus, Mambe, Nana, Nesya, Sari, Ribka, Lilis, Makrita, Yeni,

Leny, Erny, Putu dan Novela yang telah banyak membantu penulis serta

memberikan motivasi selama kuliah.

17.Teman-teman kosku: Kak Joko, Kak Hilman, Kak Nasrul, Kak Romadhon,

Aby, Rico, Mat dan Guruh yang telah memberikan semangat dan bantuan

kepada penulis.

18.Keluarga besar Program Studi Pendidikan Kimia yang telah membantu dan

memberikan semangat kepada penulis.

Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, penulis ucapkan

banyak terima kasih.

Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan

dukungan sehingga skripsi dapat terselesaikan. Semoga skripsi ini bermanfaat

bagi kita semua yang membaca.

Jayapura, Juli 2014

(10)

x

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

B. Rumusan Masalah dan Batasan Masalah ... 3

1. Rumusan Masalah ... 3

2. Batasan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PENELITIAN A. Belajar dan Pembelajaran ... 6

B. Sistem Pembelajaran ... 7

C. Konsep dan Konsepsi ... 8

D. Miskonsepsi ... 9

E. Penyebab Miskonsepsi ... 10

F. Mendeteksi Miskonsepsi ... 15

G. Identifikasi Miskonsepsi dengan CRI ... 17

H. Tinjauan Materi Struktur Atom ... 19

I. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes ... 37

J. Penelitian yang Relevan ... 40

K. Rumusan Anggapan Dasar ... 42

L. Kerangka Konsep Penelitian ... 42

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 43

B. Lokasi Penelitian ... 43

(11)

xi

D. Populasi ... 43 E. Teknik Pengumpulan Data ... 43 F. Teknik Analisis Data ... 46

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian ... 48 B. Pembahasan ... 57

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan ... 77 B. Saran ... 78

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. Skala pada CRI dan Kriterianya ... 17 Tabel 2.2. Kriteria Tingkat Keyakinan Jawaban (TKJ) ... 18 Tabel 2.3. Kriteria Penentuan Siswa yang Paham Konsep,

Miskonsepsi dan Tidak Paham Konsep ... 19 Tabel 2.4. Kriteria Pemberian Skor pada Jawaban ... 38 Tabel 2.5. Tabel Penolong Uji Reliabilitas Instrumen ... 39 Tabel 3.1. Kriteria Penentuan Siswa yang Paham Konsep,

Miskonsepsi dan Tidak Paham Konsep ... 45 Tabel 4.1. Persentase Siswa yang Paham Konsep dan Tidak

Paham Konsep ... 52 Tabel 4.2. Persentase Miskonsepsi Siswa pada Tiap Konsepsi ... 54 Tabel 4.3. Perbandingan Konsepsi dan Miskonsepsi Siswa pada Materi

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1. Peta Konsep Struktur Atom ... 19

Gambar 2.2. Atom dan molekul ... 22

Gambar 2.3. Model Atom Thomson ... 27

Gambar 2.4. Model Atom Rutherford ... 30

Gambar 2.5. Model Atom Bohr ... 32

Gambar 2.6. Bagan Kerangka Konsep Penelitian ... 42

Gambar 4.1. Gedung SMA Muhammadiyah Kota Jayapura ... 49

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

(15)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Sistem pembelajaran tersusun atas unsur-unsur baik manusiawi,

material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling berkaitan untuk

mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Unsur-unsur penyusun

sistem saling bergantung satu sama lain dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk menciptakan

terjadinya aktifitas belajar baik di dalam maupun di luar sekolah (Pribadi,

2009: 9). Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat ditunjukkan dengan

adanya aktifitas belajar. Belajar adalah proses pengembangan pengetahuan,

keterampilan, dan sikap seseorang ketika melakukan interaksi secara intensif

dengan sumber-sumber belajar (Heinich dkk. dikutip oleh Pribadi, 2009: 6).

Proses belajar memerlukan beberapa kemampuan antara lain kognitif, afektif,

dan psikomotor.

Kemampuan kognitif memegang peran utama dalam proses belajar,

yang memungkinkan siswa dapat menguasai materi pelajaran lebih efektif

dan efisien. Materi Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di SMA terbagi menjadi

Biologi, Fisika dan Kimia. Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang

materi dan perubahan yang menghasilkan zat baru serta energi yang

menyertainya. Pokok bahasan yang terdapat dalam pelajaran kimia salah

(16)

2

Struktur atom sebagai salah satu pokok bahasan yang dipelajari di

SMA kelas X semester ganjil terdiri dari beberapa sub pokok bahasan yaitu:

perkembangan teori atom, teori atom Dalton, teori atom Thomson, teori atom

Rutherford, partikel penyusun inti atom, susunan atom, massa atom dan massa

atom relatif, konfigurasi elektron, dan elektron valensi (Purba, 2006: 18-39).

Pemahaman konsep-konsep dalam pokok bahasan struktur atom perlu

dipahami dengan baik karena menjadi dasar untuk penguasaan konsep pada

pokok bahasan sistem periodik unsur, ikatan kimia, stoikiometri dan pokok

bahasan lainnya. Kesalahan siswa dalam memahami konsep-konsep pada

pokok bahasan struktur atom dapat menyebabkan terjadinya kesalahan

pemahaman konsep-konsep kimia yang lebih lanjut. Pemahaman konsep yang

salah dan diyakini kebenarannya oleh siswa disebut dengan miskonsepsi.

Hasil penelitian oleh Redhana dan Kirna dikutip oleh Simamora (2007:

153) menyimpulkan bahwa siswa SMA Negeri 1 Singaraja mengalami

miskonsepsi terhadap konsep struktur atom di kelas X sebesar 68,1%.

Wahyuningrum dan Suryono (2013: 46-47) juga menyimpulkan bahwa masih

terdapat miskonsepsi pada materi struktur atom sebesar 24,24% di kelas X

SMA Negeri 1 Nganjuk setelah adanya perlakuan untuk mengurangi

miskonsepsi dengan strategi POGIL (Process Oriented Guided Inquiry

Learning).

Berdasarkan uraian dan data hasil penelitian di atas, muncul keinginan

dalam diri peneliti untuk mengetahui apakah terdapat miskonsepsi pada pokok

(17)

3

peneliti telah melakukan penelitian dengan judul: “Analisis Miskonsepsi

Siswa Kelas XA pada Materi Struktur Atom di SMA Muhammadiyah Kota

Jayapura Tahun Ajaran 2013/2014”.

B. Rumusan dan Batasan Masalah

1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. Bagaimana tingkat pemahaman siswa kelas XA di SMA

Muhammadiyah Kota Jayapura pada materi Struktur Atom?

b. Apakah terjadi miskonsepsi pada siswa kelas XA di SMA

Muhammadiyah Kota Jayapura pada materi Struktur Atom?

c. Pada konsepsi bagian manakah siswa kelas XA di SMA

Muhammadiyah Kota Jayapura mengalami miskonsepsi dalam materi

Struktur Atom?

d. Berapa persen siswa yang mengalami miskonsepsi pada materi

Struktur Atom?

e. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya miskonsepsi

siswa kelas XA di SMA Muhammadiyah Kota Jayapura pada materi

Struktur Atom?

f. Apakah miskonsepsi siswa pada materi Struktur Atom di SMA Negeri

1 Nganjuk berlaku sama dengan siswa yang ada di SMA

(18)

4

2. Batasan Masalah

a. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XA di SMA Muhammadiyah

Kota Jayapura pada tahun ajaran 2013/2014.

b. Konsep-konsep yang dianalisis pada materi struktur atom yaitu

gagasan atom menurut Democritus, gagasan Aristoteles dan Plato,

Hukum Kekelakan Massa oleh Antonie L. Lavoisier, Hukum

Perbandingan Tetap oleh Joseph L. Proust, teori atom Dalton dan

kekeliruannya, katode dan anode, tabung Geissler, teori atom

Thomson, teori atom Rutherford, teori atom Bohr, teori atom

Mekanika Kuantum, elektron, sinar katode, muatan atom, proton,

partikel penyusun atom, partikel penyusun inti atom, perpindahan orbit

elektron, orbital elektron, nomor atom, nomor massa, isotop, isobar,

isoton, massa atom relatif, konfigurasi elektron, jumlah maksimum

elektron pada setiap kulit, dan elektron valensi.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui:

1. Tingkat pemahaman siswa kelas XA di SMA Muhammadiyah Kota

Jayapura pada materi Struktur Atom.

2. Apakah terjadi miskonsepsi pada siswa kelas XA di SMA Muhammadiyah

Kota Jayapura pada materi Struktur Atom.

3. Bagian konsepsi Struktur Atom manakah yang terdapat miskonsepsi pada

siswa kelas XA di SMA Muhammadiyah Kota Jayapura.

(19)

5

5. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya miskonsepsi siswa kelas XA

di SMA Muhammadiyah Kota Jayapura pada materi Struktur Atom.

6. Apakah miskonsepsi siswa pada materi Struktur Atom di SMA Negeri 1

Nganjuk berlaku sama dengan siswa yang ada di SMA Muhammadiyah

Jayapura.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini antara lain:

1. Informasi kepada guru kimia tentang miskonsepsi siswa pada materi

Struktur Atom, sehingga guru dapat melakukan strategi-strategi untuk

mencegah dan meminimalkan terjadinya miskonsepsi siswa pada materi

tersebut.

2. Sumbangan data yang bermanfaat bagi sekolah dalam rangka perbaikan

proses belajar mengajar mata pelajaran kimia, khususnya pada materi

Struktur Atom.

3. Menambah wawasan, pengetahuan dan keterampilan bagi peneliti.

4. Bahan referensi bagi pihak lain yang berminat mengkaji dengan

(20)

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PENELITIAN A. Belajar dan Pembelajaran

1. Belajar

Proses pengembangan baik pengetahuan, keterampilan dan sikap

ketika interaksi antara seseorang dengan sumber-sumber belajar dilakukan

secara intensif adalah definisi dari belajar (Robert Heinich dkk. dikutip

oleh Pribadi, 2009: 6). Sumber belajar yang dimaksud diklasifikasikan

oleh The Association of Educational and Communication Technology

(AECT) menjadi:

a. Orang (pakar, penulis, dan lain-lain),

b. Isi pesan (informasi yang tersaji dalam buku atau makalah),

c. Bahan dan perangkat lunak (software),

d. Peralatan (hardware),

e. Metode dan teknik (prosedur yang dilakukan untuk mencapai sesuatu),

dan

f. Lingkungan (tempat berlangsungnya peristiwa belajar).

Meyer dalam Smith dan Ragan dikutip oleh Pribadi, (2009: 8) juga

mendefinisikan belajar sebagai “perubahan yang relatif permanen dalam

pengetahuan dan perilaku seseorang yang diakibatkan oleh pengalaman.”

Peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap seseorang dilakukan

dengan membuat pengalaman untuk tercapainya proses belajar baik dalam

(21)

7

sebagai proses pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap

seseorang ketika melakukan interaksi secara intensif dengan

sumber-sumber belajar.

2. Pembelajaran

Terjadinya proses belajar dimudahkan dengan menciptakan

serangkaian aktivitas yang disebut dengan pembelajaran (Gagne dikutip

oleh Pribadi, 2009: 9). Pembelajaran dapat berlangsung secara formal,

informal dan nonformal. Istilah pembelajaran berbeda dengan pengajaran,

dimana pengajaran bersifat sebagai teacher centered atau guru sebagai fokus dalam aktivitas belajar. Kegiatan yang di dalamnya terdapat proses

desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi yang menunjang proses

belajar merupakan makna dari pembelajaran (Gagne dkk. dalam Richey

dikutip oleh Pribadi, 2009: 10). Berdasarkan uraian di atas pembelajaran

adalah proses yang sengaja dirancang untuk menciptakan terjadinya

aktivitas belajar dalam diri individu baik di dalam maupun di luar sekolah.

B. Sistem Pembelajaran

Tujuan pembelajaran akan tercapai dengan adanya suatu kesatuan

unsur-unsur baik fasilitas, material, perlengkapan, prosedur dan manusia yang

disebut dengan sistem pembelajaran (Hamalik dikutip oleh Sanjaya, 2009: 6).

Siswa, guru, serta orang-orang yang ikut serta dalam tercapainya proses

pembelajaran termasuk dalam unsur manusia. Unsur material berupa semua

bahan-bahan pelajaran yang dapat digunakan sebagai sumber belajar. Strategi

(22)

8

lain sebagainya dalam pembelajaran termasuk unsur prosedur. Perlengkapan

dan fasilitas terdiri dari ruang kelas, perlengkapan komputer, audio-visual dan

lainnya.

Sistem pembelajaran saling bergantung antara unsur yang satu dengan

lainnya untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan pembelajaran akan tercapai

dengan berhasilnya suatu sistem pembelajaran, hal ini menunjukkan bahwa

siswa berhasil mencapai tujuannya adalah tujuan dari sistem pembelajaran

(Sanjaya, 2009: 6).

C. Konsep dan Konsepsi

a. Konsep

Simbol atau tanda yang dapat mewakili seluruh situasi, ciri-ciri,

benda, dan kejadian disebut konsep (Ausubel dalam Van den Berg dikutip

oleh Tayubi 2005: 5). Pemahaman konsep pada seseorang ditandai dengan

pengetahuannya terhadap semua unsur konsep tersebut. Bruner dalam

Joyce dan Weill dikutip oleh Purtadi (2009: 4) menjelaskan secara singkat

unsur-unsur pada konsep sebagai berikut:

1) Nama, yaitu istilah dalam suatu kategori.

2) Contoh-contoh, berupa contoh konsep dan contoh bukan konsep.

3) Karakteristik, yaitu ciri-ciri umum pada contoh-contoh dalam kategori

yang sama.

4) Rentangan karakteristik, berfungsi untuk membedakan konsep yang

(23)

9

5) Kaidah, yaitu pengkhususan karakteristik-karakteristik pokok suatu

konsep.

Berdasarkan uraian tersebut, konsep adalah suatu hasil rancangan

atau pemikiran manusia tentang gambaran yang abstrak berupa ciri-ciri,

fakta, peristiwa, ataupun benda yang bersifat umum.

b. Konsepsi

Abstraksi suatu rancangan, ungkapan pemikiran, dan gambaran

adalah definisi dari konsepsi (Depdiknas, 2001: 588). Tayubi (2005: 5)

juga mengartikan konsepsi sebagai tafsiran atau pemahaman konsep pada

ilmu pengetahuan. Konsepsi siswa secara umum lebih rendah dibanding

konsepsi para ahli baik dalam tingkat kesulitan, hubungan antar konsep

maupun tingkat kekompleksan suatu konsep. Konsepsi siswa dianggap

benar jika konsepsinya merupakan bentuk penyederhanaan dari konsepsi

para ahli, dan dianggap salah jika konsepsi siswa benar-benar

menyimpang dari konsepsi para ahli (Tayubi, 2005: 5). Jadi, konsepsi

adalah segala sesuatu baik benda, fakta, maupun peristiwa yang

mengandung makna.

D. Miskonsepsi

Hammer dalam Tayubi (2005: 5) mendefinisikan miskonsepsi sebagai

konsepsi yang dipahami dan diyakini kebenarannya dengan kuat oleh siswa

tetapi menyimpang dari konsepsi para ahli sehingga dapat menyesatkan siswa.

(24)

10

Siswa, guru, prasarana dan sarana, serta lingkungan dapat menjadi sumber dari

miskonsepsi

E. Penyebab Miskonsepsi

Miskonsepsi pada siswa yang ditemukan oleh para peneliti disebabkan

oleh berbagai hal. Penyebab miskonsepsi secara rinci diringkas dalam lima

kelompok, yaitu: siswa, guru, buku teks, konteks, dan metode mengajar

(Suparno, 2005: 34-42).

a. Siswa

Miskonsepsi umumnya berasal dari diri siswa sendiri. Suparno

(2005: 34-42) memaparkan pengelompokkan penyebab miskonsepsi yang

berasal dari siswa sebagai berikut:

1) Prakonsepsi atau konsep awal siswa

Konsep awal yang dikonstruksi siswa mulai dari lahir hingga

akan mengikuti pendidikan formal seringkali tidak sesuai dengan

konsepsi sebenarnya. Orang tua, teman, sekolah awal, dan pengalaman

di lingkungan siswa menjadi sumber dari adanya konsep awal siswa.

Ketidaksesuaian konsep milik siswa dengan konsep sebenarnya

menyebabkan terjadinya miskonsepsi (Suparno, 2005: 34-35).

2) Pemikiran asosiatif siswa

Miskonsepsi dapat pula ditimbulkan oleh adanya asosiasi siswa

pada istilah sehari-hari (Arons dkk. dikutip oleh Suparno, 2005: 35).

Marshall dan Gilmour (Suparno, 2005: 36) juga mengemukakan

(25)

11

guru dipahami berbeda oleh siswa. Siswa mengasosiasikan lain tentang

istilah dan kata yang diberikan guru dalam proses pembelajaran yang

disebabkan karena kata-kata yang salah diasosiasikan tersebut sering

muncul dalam kehidupan sehari-hari.

3) Pemikiran humanistik

Umumnya siswa memandang dari sudut pandang manusiawi

pada benda-benda disekitarnya (Gilbert dkk. dikutip oleh Suparno,

2005:36). Pemikiran tentang benda-benda dan situasi dalam sudut

pandang manusiawi menunjukkan terjadinya pemikiran humanistik

(Suparno, 2005: 37). Pemahaman seperti aktifitas manusia hidup pada

semua benda menimbulkan terjadinya kesalahan.

4) Penalaranyang tidak lengkap/salah

Penalaran siswa yang tidak lengkap atau salah dapat

menyebabkan miskonsepsi pada siswa (Comins dikutip oleh Suparno,

2005: 38). Tidak lengkapnya informasi yang didapat menyebabkan

penalaran siswa tidak lengkap terhadap informasi tersebut, sehingga

kesimpulan yang diberikan siswa salah dan ini menyebabkan

miskonsepsi siswa.

5) Intuisi yang salah

Ungkapan seseorang mengenai gagasannya tentang sesuatu

yang belum diteliti secara obyektif dan rasional adalah definisi dari

intuisi. Pengamatan terhadap benda secara terus-menerus

(26)

12

kritis terhadap suatu kejadian atau benda dan menimbulkan terjadinya

miskonsepsi siswa (Suparno, 2005: 38-39).

6) Tahap perkembangan kognitif siswa

Siswa yang perkembangan kognitifnya tidak sesuai dengan

sesuatu yang dilakukan akan menyebabkan miskonsepsi. Siswa dengan

tahap operational concrete (pembelajaran yang nyata) ketika

mempelajari sesuatu yang abstrak akan sulit untuk menangkap dan

sering kali salah mengerti tentang konsep yang dipelajarinya. Tahap ini

memungkinkan siswa berfikir berdasarkan sesuatu yang nyata

sehingga menimbulkan miskonsepsi (Suparno, 2005: 39).

7) Kemampuan siswa

Miskonsepsi juga dipengaruhi oleh kemampuan yang dimiliki

siswa. Kemampuan yang rendah dalam mempelajari suatu pelajaran

akan menyebabkan siswa kesulitan menerima konsep yang benar.

Rendahnya kemampuan siswa dapat mempermudah siswa tersebut

mengalami miskonsepsi, karena dalam membangun pengetahuan

mengenai suatu mata pelajaran siswa tidak dapat mengonstruksi secara

lengkap dan utuh. Konsep salah yang ditangkap siswa akan diyakini

benar oleh siswa tersebut, maka menimbulkan miskonsepsi (Suparno,

2005: 41).

8) Minat belajar siswa

Minat siswa terhadap mata pelajaran tertentu mempengaruhi

(27)

13

umumnya mengalami miskonsepsi lebih sedikit dibanding siswa yang

tidak berminat pada mata pelajaran tersebut. Konsep salah yang

ditangkap secara umum tidak dirubah dengan mempelajari konsep

tersebut pada sumber-sumber lain oleh siswa yang memiliki minat

rendah terhadap mata pelajaran yang tidak disukai.

Kesalahan-kesalahan konsep yang diterima siswa akan semakin menumpuk dan

menyebabkan miskonsepsi pada siswa dengan minat belajar yang

rendah (Suparno, 2005: 42).

b. Guru

Penguasaan konsep yang kurang baik oleh guru menyebabkan

terjadinya miskonsepsi pada siswa. Konsep tidak benar yang dibawa oleh

guru dipegang kuat oleh siswa karena dianggap benar, hal ini

mengakibatkan miskonsepsi pada siswa yang sulit diperbaiki . Guru

umumnya mengalami miskonsepsi karena mengajar yang bukan pada

bidangnya atau memiliki penguasaan bahan yang kurang baik. Penguasaan

bahan yang kurang mendalam, sikap diktator, dan otoriter yang

ditunjukkan oleh guru dalam memaksakan suatu gagasan menyebabkan

terjadinya miskonsepsi pada siswa (Suparno, 2005: 43).

Suparno, (2005: 44) juga menyatakan bahwa metode-metode

mengajar seperti eksperimen, diskusi dan lainnya jarang diterapkan oleh

guru. Siswa jarang diminta untuk mengungkapkan konsep yang mereka

miliki dan jarang pula diberi contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari

(28)

14

latihan-latihan soal (rumusan matematika), bukan pada pemahaman

konsep, sehingga menimbulkan terjadinya miskonsepsi pada siswa.

c. Buku teks

Anderson dalam Wandersee (Suparno, 2005: 45) menemukan

bahwa kurang tepatnya diagram dan gambar yang terdapat dalam buku

teks menyebabkan miskonsepsi siswa. Sulitnya bahasan dalam buku teks

yang tidak sesuai dengan level siswa juga dapat menyebabkan

miskonsepsi, karena dalam memahami isinya siswa mengalami kesulitan.

Siswa umumnya mempunyai miskonsepsi karena tidak mengerti cara

mempelajari buku teks. Cara membaca yang cepat menyebabkan siswa

tidak memahami konsep-konsep yang terdapat pada buku teks yang

dibacanya (Suparno, 2005: 45-46).

d. Konteks

1) Pengalaman

Miskonsepsi dapat pula disebabkan oleh pengalaman yang

diperoleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Siswa berpikir tentang

suatu konsep dalam pengertian yang terbatas sehingga miskonsepsi

dapat terbentuk (Suparno, 2005: 47).

2) Bahasa Sehari-hari

Miskonsepsi muncul dari bahasa sehari-hari siswa yang

mempunyai arti lain dengan istilah dalam pelajaran. Bahasa sehari-hari

siswa tentang suatu istilah yang digunakan selama bertahun-tahun akan

(29)

15

3) Teman Lain

Belajar beserta teman dalam kelompok lebih diminati oleh

siswa. Pembelajaran dalam kelompok seringkali didominasi oleh

beberapa siswa yang mempunyai kemampuan belajar lebih. Siswa

yang dominan jika mempunyai miskonsepsi, maka miskonsepsi siswa

ini akan menyebar pada teman-teman dalam kelompoknya (Suparno,

2005: 49).

4) Keyakinan dan Ajaran Agama

Pemahaman terhadap agama yang dianut siswa dapat juga

menjadi penyebab miskonsepsi dalam bidang sains. Keyakinan

terhadap agama secara kurang tepat menyebabkan siswa tidak dapat

menerima penjelasan ilmu pengetahuan, sehingga menyebabkan

miskonsepsi (Suparno, 2005: 49).

e. Metode Mengajar

Tujuan penggunaan metode mengajar oleh guru adalah membantu

siswa memahami bahan ajar dengan lebih baik. Metode-metode mengajar

yang digunakan guru sering kali menimbulkan miskonsepsi, terlebih jika

guru hanya menekankan pada salah satu metode mengajar yang terkadang

tidak sesuai dengan bahan ajar yang sedang dipelajari (Suparno, 2005: 50).

F. Mendeteksi Miskonsepsi

Beberapa alat deteksi yang sering digunakan oleh para peneliti dan

guru antara lain Peta Konsep, Tes Multiple Choice dengan Reasoning

(30)

16

a. Peta Konsep

Miskonsepsi siswa dapat diidentifikasi dengan menggunakan peta

konsep. Identifikasi miskonsepsi dengan cara ini melihat hubungan antara

konsep-konsep dengan gagasan pokok dengan susunan yang hirarkis

(Novak dkk. Dikutip oleh Suparno, 2005: 121). Siswa yang mengalami

miskonsepsi akan terlihat dengan salahnya hubungan antara

konsep-konsep (Novak dan Gowin dikutip oleh Suparno, 2005: 121). Peta konsep-konsep

akan lebih baik jika digabungkan dengan wawancara untuk melihat alasan

anggapan salah oleh siswa.

b. Tes Multiple Choice dengan Reasoning Terbuka

Amir dkk. (Suparno, 2005: 123) dalam mendeteksi miskonsepsi

siswa dilakukan dengan memberikan tes pilihan ganda (multiple choice)

dengan pertanyaan terbuka dimana responden (siswa) harus menjawab

dan menulis alasan atas jawaban yang dipilih. Wawancara sering

digunakan untuk melengkapi data hasil tes multiple choice (Clement

dikutip oleh Suparno, 2005: 122).

c. Wawancara Diagnosis

Miskonsepsi pada siswa dapat diidentifikasi menggunakan

wawancara pada konsep-konsep tertentu. Konsep-konsep yang dianggap

sulit oleh siswa dikumpulkan oleh guru, kemudian siswa diajak untuk

mengungkapkan gagasannya mengenai konsep-konsep tersebut.

(31)

17

miskonsepsi siswa serta sumber yang digunakan (Suparno, 2005:

126-127).

G. Identifikasi Miskonsepsi dengan Certainly of Response Index (CRI)

Miskonsepsi dan tidak tahu konsep dapat dibedakan dengan

menggunakan metode identifikasi Certainty of Response Index (CRI). CRI

adalah ukuran tingkat keyakinan/kepastian responden (siswa) dalam

menjawab soal (Hasan dikutip oleh Tayubi, 2005: 5). Skala tingkat kepastian

jawaban yang diberikan bersamaan dengan setiap jawaban suatu soal

merupakan ciri dari CRI. Tingkat kepastian jawaban terlihat pada CRI yang

diberikan, jika CRI rendah berarti jawaban soal dikerjakan dengan menebak

sehingga menandakan ketidakyakinan. Unsur tebakan sangat kecil pada nilai

CRI yang tinggi, hal ini menandakan keyakinan dan kepastian konsep yang

tinggi pada diri responden dalam menjawab pertanyaan. Tinggi rendahnya

CRI dapat digunakan untuk membedakan responden yang mengalami

miskonsepsi dan yang tidak tahu konsep dengan membandingkan benar

tidaknya jawaban responden. Skala pada CRI didasarkan pada suatu skala

seperti pada tabel 2.1.

Tabel 2.1. Skala pada CRI dan Kriterianya

CRI Kriteria Persentasi

(32)

18

Tabel 2.1 menunjukkan bahwa terdapat 6 skala CRI, dimulai dari skala

terkecil yaitu 0 dengan penebakan 100% hingga skala terbesar 5 dengan

penebakan 0%. Skala CRI 4 dengan 2 terdapat kemiripan yaitu kurang yakin

dan hampir pasti, begitu juga pada skala 3 dan 5 dimana kemiripan yang

terlihat yaitu yakin dan pasti. Kemiripan-kemiripan dalam skala CRI pada

tabel 2.1 menimbulkan kesulitan dalam mengidentifikasi tingkat pemahaman

siswa, sehingga dalam penelitian ini menggunakan klasifikasi tingkat

keyakinan jawaban (TKJ) yang merupakan penyederhanaan dari CRI. Tiga

skala yang digunakan dalam TKJ ini yaitu skala 0 sampai 2. Kriteria TKJ

terlihat pada tabel 2.2.

Tabel 2.2. Kriteria Tingkat Keyakinan Jawaban (TKJ)

TKJ Kriteria

0 Tidak yakin

1 Kurang yakin

2 Yakin benar

(Sumber: Fanrijun, Palasa, Pangalinan, Panjaitan, Susanti, 2014)

Kriteria tingkat keyakinan jawaban (TKJ) pada tabel 2.2 tidak

menggunakan persentase, karena siswa secara langsung dikategorikan sebagai

siswa yang paham konsep, tidak paham konsep dan miskonsepsi. Responden

yang tidak yakin dan kurang yakin memilih jawaban dengan kriteria TKJ 0

dan 1, sedangkan responden yang yakin akan jawabannya ditandai dengan

pemilihan kriteria TKJ 2. Jawaban benar oleh siswa dengan nilai kriteria TKJ

2 menunjukkan siswa menguasai konsep dengan baik, sedangkan jika jawaban

salah menunjukkan terjadi miskonsepsi. Kriteria paham konsep, miskonsepsi

(33)

19

Tabel 2.3. Kriteria Penentuan Siswa yang Paham Konsep, Miskonsepsi, dan Tidak Paham Konsep

Kriteria Jawaban Tingkat Keyakinan Jawaban (TKJ)

(34)

20

2. Materi Struktur Atom

a. Perkembangan Teori Atom

Tahun 460 – 370 SM ahli fisafat Yunani Leucippus

berpendapat bahwa materi tersusun dari butiran-butiran kecil.

Democritus mengembangkan pendapat Leucippus, menurutnya

materi tersusun dari partikel-partikel terkecil yang tidak dapat dibagi

lagi dan disebut sebagai atom. Pendapat Plato dan Aristoteles pada

masa yang sama bertentangan dengan gagasan Democritus, dimana

tidak ada yang tak terbagi. Plato dan Aristoteles mengemukakan

bahwa tidak ada benda yang tak terbagi, sehingga apabila suatu benda

dibagi maka akan dapat terbagi secara terus-menerus sampai

terhingga. Konsep atom yang diberikan oleh filsuf pada masa itu

masih berupa pemikiran filosofis dan tidak didukung oleh bukti atau

belum teruji sehingga belum memberikan arti yang cukup di bidang

keilmuan.

Pemikiran tentang keberadaan atom mulai muncul kembali di

Eropa pada abad ke-17 ketika para ilmuwan mencoba menjelaskan

sifat-sifat gas. Udara meski tidak terlihat, terdiri dari sejenis partikel

yang senantiasa bergerak. Tahun 1642 – 1727 Isaac Newton

mengemukakan dukungannya tentang keberadaan atom. Antoine

Laurent Lavoisier (1743-1794), seorang kimiawan asal Perancis

menemukan bahwa di dalam reaksi kimia massa zat-zat sebelum dan

(35)

21

Massa. Tahun 1799 Joseph Louis Proust (1754-1826), juga asal

Perancis menemukan Hukum Perbandingan tetap yang menyatakan

bahwa perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa adalah

tetap.

b. Teori Atom Dalton

John Dalton (1766-1844) berpendapat bahwa konsep atom

Democritus benar karena tidak bertentangan dengan hukum

kekekalan massa dan hukum perbandingan tetap. Berdasarkan

penemuan-penemuan pada masa itu John Dalton merumuskan teori

atomnya sekitar tahun 1803 – 1807, yang dikenal sebagai teori atom

Dalton. Postulat-postulat dalam teori atom Dalton yaitu:

1) Setiap unsur terdiri atas partikel yang sudah tak terbagi yang

dinamai atom.

2) Atom-atom dari suatu unsur adalah identik. Atom-atom dari unsur

yang berbeda mempunyai sifat-sifat yang berbeda, termasuk

mempunyai massa yang berbeda.

3) Atom dari suatu unsur tidak dapat diubah menjadi atom unsur

lain, tidak dapat dimusnahkan atau diciptakan. Reaksi kimia

hanya merupakan penataan ulang atom-atom.

4) Senyawa terbentuk ketika atom-atom dari dua jenis unsur atau

(36)

22

(Sumber : Purba, 2006).

Gambar 2.2. tentang atom dan molekul (a) Gas oksigen terdiri dari molekul-molekul yang setiap molekulnya terdiri dari dua atom oksigen. (b) Gas hydrogen terdiri dari molekul-molekul yang setiap molekulnya terdiri dari dua atom hydrogen. (c) Air terdiri dari molekul-molekul yang setiap molekulnya terdiri dari dua atom hydrogen dan satu atom oksigen.

Postulat-postulat dalam teori atom Dalton ternyata kurang

tepat setelah adanya perkembangan-perkembangan, postulat-postulat

tersebut adalah:

1) Atom bukanlah sesuatu yang tak terbagi, melainkan terdiri dari

berbagai partikel subatom.

2) Meski mempunyai sifat-sifat yang sama, atom-atom dari unsur

yang sama dapat mempunyai massa yang berbeda. Atom-atom

dari unsur yang sama, tetapi mempunyai massa yang berbeda

disebut isotop.

3) Melalui reaksi nuklir, atom dari suatu unsur dapat diubah menjadi

atom unsur lain.

Dua molekul oksigen Empat molekul hidrogen Empat molekul air

Atom oksigen

Atom hidrogen

(37)

23

4) Beberapa unsur tidak terdiri atas atom-atom melainkan

molekul-molekul. Molekul unsur terbentuk dari atom-atom sejenis dengan

jumlah tertentu (Purba, 2006: 19).

John Dalton telah meletakkan anak tangga pertama bagi

perkembangan teori atom selanjutnya meski terdapat beberapa

postulatnya yang salah. Hal penting dari teori atom Dalton yang

hingga kimi dapat diterima yaitu:

1) Atom adalah unit pembangun dari segala macam materi

2) Atom merupakan bagian terkecil dari suatu unsur yang masih

mempunyai sifat sama dengan unsurnya.

3) Atom tidak dimusnahkan, tidak diciptakan, dan tidak dapat

diubah menjadi atom unsur lain dalam reaksi kimia. Reaksi kimia

hanyalah penataan ulang susunan atom-atom yang terlibat dalam

reaksi.

c. Penemuan Partikel Elektron

Penemuan partikel elektron diawali dari penelitian tentang

arus listrik pada gas bertekanan rendah (vakum) yang diberi tegangan

tinggi.

1) Tahun 1855, Heinrich Geissler (1819-1879) dari Jerman berhasil

merancang pompa merkuri yang dapat digunakan untuk

menghasilkan gas bertekanan rendah (vakum) dalam tabung

(38)

24

2) Tahun 1859, Julius Pucker (1801-1868) dari Jerman

menggunakan tabung Geissler dalam percobaan elektrolisis gas.

Pada kedua ujung tabung dipasang 2 pelat logam sebagai

elektrode. Elektrode yang dihubungkan pada kutub negatif

disebut katode, sedangkan yang ke kutub positif disebut anode.

Anode dan katode diberi beda tegangan yang tinggi dan terdapat

adanya berkas arus dalam tabung yang ditunjukkan oleh sinar

yang dipancarkan dari katode.

3) Tahun 1876, Eugen Goldstein (1850-1930) menggunakan teknik

yang sama dengan Plucker, mengamati sinar yang dihasilkan dari

katode dan menamakannya sinar katode.

4) Tahun 1880, William Crookes memastikan keberadaan sinar

katode dengan memodifikasi tabung Geissler. Tabung Geissler

yang dimodifikasi dibuat dengan membuat vakum lebih baik

sehingga arus listrik dapat diamati dengan lebih mudah. Tabung

ini dikenal sebagai tabung Crookes.

Pengamatan Crookes dan ilmuwan lainnya terhadap

karakteristik sinar katode selanjutnya dapat dirangkum sebagai

berikut.

a) Sinar katode merambat lurus

b) Sinar katode membawa muatan karena dibelokkan dalam

(39)

25

c) Sinar katode mempunyai massa karena dapat memutar kincir

kecil dalam tabung, sama seperti halnya air.

d) Sinar katode menyebabkan materi seperti gas dan zat lain

berpijar.

Crookes menyimpulkan bahwa sinar katode adalah berkas partikel

bermuatan.

5) Tahun 1891, George Johnston Stoney (1826-1911) berpendapat

bahwa sinar katode adalah partikel dan dinamakan sebagai

elektron.

6) Tahun 1897, Joseph John Thomson (1856-1940) dari Inggris

berhasil menunjukkan bahwa sinar katode sebenarnya merupakan

berkas partikel. Thomson menggunakan tabung sinar katode

khusus dan meletakkan medan listrik dan medan magnet untuk

melakukan pengukuran kuantitatif dari sinar katode. Thomson

dapat menentukan perbandingan muatan terhadap massa (nilai

e/m) dari partikel sinar katode sebesar 1,76 x 108 C g-1.

d. Percobaan Tetes Minyak Millikan

Percobaan oleh Thomson yang mendapatkan nilai e/m untuk

elekton, selanjutnya pada tahun 1909 Robert Andrews Millikan

menemukan nilai e dan m. Percobaan yang dilakukannya dikenal

dengan nama percobaan tetes Millikan. Millikan menemukan bahwa

muatan tetes-tetes minyak selalu merupakan kelipatan bulat dari

(40)

26

menyimpulkan bahwa muatan tersebut adalah muatan dari satu

elektron. Perbedaan muatan antartetesan terjadi karena satu tetesan

dapat mengikat 1, 2, 3, atau lebih elektron.

e = 1,602 x 10-19 coulomb

Muatan elektron telah ditemukan maka massa elektron dapat

dihitung sebagai berikut:

Thomson : e/m = 1,76 x 108 C gram-1 Millikan : e = 1,602 x 10-19 C

Maka massa elektron, m = 9,11 x 10-28 gram

= 0,0005858 sma

Jadi, Elektron adalah partikel bermuatan negatif dengan

muatan sebesar 1,602 x 10-19 C dan memiliki massa 9,11 x 10-28

elektron-elektron yang bermuatan negatif harus dinetralkan oleh

suatu muatan positif dalam atom. Model atom Thomson secara umum

dinyatakan sebagai berikut.

(41)

27

(Sumber: Purba, 2006)

Gambar 2.3. Model atom Thomson yang terdiri dari materi

bermuatan positif dan elektron-elektron yang tersebar di dalamnya bagaikan roti kismis.

f. Penemuan Partikel Proton

Tahun 1886 Eugene Goldstein mengisyaratkan adanya muatan

positif dalam atom. Goldstein menggunakan tabung sinar katode

dimana plat katode telah dilubangi, ketika sinar katode merambat

menuju anode terlihat adanya sinar lain yag bergerak dengan arah

berlawanan melewati lubang pada plat katode, oleh karena arahnya

berlawanan maka sinar tersebut tersusun atas partikel-partikel

bermuatan positif.

Tahun 1906, Ernest Rutherford dari Inggris menggunakan

spektrometer massa (modifikasi tabung sinar katode) untuk

membuktikan keberadaan partikel bermuatan positif tersebut.

Elektron jika dipindahkan dari atom, maka akan diperoleh partikel

yang bermuatan positif. Rutherford mendapati bahwa atom hidrogen

menghasilkan partikel bermuatan positif yang paling ringan. Massa

partikel positif dari atom-atom lainnya merupakan kelipatan dari

massa partikel positif atom H. Tahun 1919 partikel bermuatan positif

dari atom H diberi nama proton.

Materi bermuatan positif

(42)

28

Massa 1 proton = 1,6726486 x 10-24 gram = 1 sma

Muatan 1 proton = +1 = +1,6 x 10-19 C

Jadi, proton adalah partikel bermuatan positif dengan massa 1 sma.

g. Model Atom Rutherford

Ernest Rutherford pada tahun 1910 bersama asistennya yaitu

Hans Geiger dan Ernest Marsden, melakukan percobaan untuk

mengetahui lebih banyak tentang susunan atom. Percobaan dilakukan

dengan menembaki lempeng emas yang sangat tipis dengan partikel

sinar alfa berenergi tinggi. Sinar alfa adalah salah satu jenis radiasi

yang dihasilkan oleh zat radioaktif.

Rutherford dan kedua asistennya menemukan bahwa sebagian

besar partikel alfa dapat menembus lempeng emas tanpa pembelokan

yang berarti seolah-olah lempeng emas itu tidak ada, sebagian kecil

partikel alfa lainnya ditemukan mengalami pembelokan yang cukup

besar bahkan beberapa di antaranya dipantulkan.

Partikel alfa yang terpantul pada penembakan lempeng emas

tipis dengan sinar alfa menunjukkan bahwa fakta tersebut tidak sesuai

dengan model yang dikemukakan oleh J.J. Thomson dimana atom

digambarkan bersifat homogen pada seluruh bagiannya. Tahun 1911,

Rutherford dapat menjelaskan penghamburan sinar alfa dengan

meNganjukan gagasan tentang inti atom. Rutherford beranggapan

bahwa sebagian besar dari massa dan muatan positif atom

(43)

29

atom. Elektron beredar mengitari inti pada jarak yang relatif sangat

jauh, lintasan elektron itu disebut kulit atom. Jarak dari inti hingga

kulit atom adalah sekitar 10-13 cm, maka penampang atom ibarat

lapangan bulat dengan diameter 1 km.

Model atom dengan penghamburan sinar alfa oleh lempeng

emas tipis dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Sebagian besar partikel sinar alfa dapat tembus karena melalui

daerah hampa.

2. Partikel alfa yang mendekati inti atom dibelokkan karena

mengalami gaya tolak inti.

3. Partikel alfa yang menju inti atom dipantulkan karena inti

bermuatan positif dan sangat pejal.

Model atom Rutherford menjelaskan bahwa atom tersusun

dari inti yang bermuatan positif dikelilingi oleh elektron-elektron

yang bermuatan negatif, seperti halnya planet-planet yang

mengelilingi matahari. Massa atom terpusat pada inti dan sebagian

volum atom merupakan ruang hampa karena atom bersifat netral,

maka jumlah muatan positif dalam inti (jumlah proton) harus sama

dengan jumlah elektron. Model atom Rutherford seperti pada gambar

(44)

30

Elektron

Inti Atom

Gambar 2.4. Model Atom Rutherford

h. Penemuan Partikel Neutron

Tahun 1920, ahli fisika Amerika William Draper Harkins

menduka adanya partikel lain dalam inti atom selain proton. Partikel

tersebut mempunyai massa yang hampir sama dengan proton, tetapi

tidak bermuatan dan dinamakan neutron. Partikel neutron tidak

bermuatan sehingga sulit untuk dibuktikan. James Chadwick pada

tahun 1932 dari inggris berhasil membuktikan keberadaan partikel

neutron.

Penemuan neutron ini membuat struktur atom menjadi

semakin jelas. Atom tersusun dari inti atom yang dikelilingi oleh

elektron yang bermuatan negatif. Inti atom terdiri dari proton yang

bermuatan positif dan neutron yang tidak bermuatan. Kedua partikel

penyusun inti atom ini disebut dengan nukleon. Oleh karena atom

bersifat netral, maka jumlah proton yang bermuatan positif harus

sama dengan jumlah elektron yang bermuatan negatif.

Massa 1 neutron = 1,6749544 x 10-24 gram = 1 sma

(45)

31

Dapat disimpulkan bahwa neutron adalah partikel tidak

bermuatan dengan massa sebesar 1 sma.

i. Teori Niels Bohr dan Teori Atom Modern

Teori atom Rutherford memiliki kelemahan yaitu tidak dapat

menjelaskan mengapa elektron yang mengitari inti tidak tersedot dan

jatuh ke intinya. Hukum fisika klasik menyatakan bahwa gerakan

elektron mengitari inti akan disertai pemancaran energi berupa radiasi

electromagnet, sehingga energi elektron akan semakin berkurang

sehingga gerakannya akan melambat dan lintasannya akan berbentuk

spiral yang akhirnya elektron akan jatuh ke inti atom.

Neils Bohr meNganjukan model atom pada tahun 1913

berdasarkan analisis spektrum atom sebagai berikut:

a) Dalam atom terdapat lintasan-lintasan tertentu tempat elektron

dapat mengorbit inti tanpa disertai pemancaran atau penyerapan

energi. Lintasan itu, yang juga disebut kulit atom, yaitu orbit

berbentuk lingkaran dengan jari-jari tertentu. Setiap lintasan

ditandai dengan satu bilangan bulat yang disebut bilangan

kuantum utama (n), mulai dari 1, 2, 3, 4, dan seterusnya yang

dinyatakan dengan lambang K, L, M, N, dan seterusnya. Lintasan

pertama, dengan n = 1, dinamai kulit K. lintasan kedua, dengan n

= 2, dinamai kulit L, dan seterusnya. Semakin besar harga n

(makin jauh dari inti), makin besar energi elektron yang

(46)

32

b) Elektron hanya boleh berada pada lintasan-lintasan yang

diperbolehkan (lintasan yang ada), dan tidak boleh berada di

antara dua lintasan. Lintasan yang akan ditempati oleh elektron

bergantung pada energinya. Keadaan normal (tanpa pengaruh

luar), elektron menempati tingkat energi terendah. Keadaan

seperti itu disebut tingkat dasar (ground state).

c) Elektron dapat berpindah dari satu kulit ke kulit lain disertai

pemancaran atau penyerapan sejumlah tertentu energi.

Perpindahan elektron ke kulit lebih luar akan disertai penyerapan

energi, sebaliknya jika perpindahan elektron ke kulit lebih dalam

akan disertai pelepasan energi.

Gambar 2.5. Model Atom Bohr untuk atom hidrogen. Apabila atom menyerap energi, maka elektron akan berpindah ke orbit dengan tingkat energi yang lebih tinggi. Sebaliknya, apabila atom H melepas energi maka elektron akan berpindah ke orbit dengan tingkat energi yang lebih rendah.

Niels Bohr melalui model atomnya dapat menjelaskan

kelemahan dari teori atom Rutherford, tetapi pada

perkembangan selanjutnya diketahui bahwa gerakan elektron

(47)

33

ditentukan secara pasti. Perkembangan ini membuat orbital

molekul yang berbentuk lingkaran dengan jari-jari tertentu

tidak dapat diterima.

Tahun 1927, Erwin Schrodinger, seorang ilmuwan dari

Austria, mengemukakan teori atom mekanika kuantum atau

mekanika gelombang yang dapat diterima para ahli hingga

sekarang. Teori atom mekanika kuantum mempunyai

persamaan dengan teori atom Niels Bohr dalam hal

tingkat-tingkat energi atau kulit-kulit atom, tetapi berbeda dalam hal

bentuk lintasan atau orbit tersebut. Posisi elektron dalam teori

atom Mekanika Kuantum adalah tidak pasti tetapi ditentukan

keberadaan elektron di dalam atom adalah daerah dengan

peluang terbesar untuk menemukan elektron tersebut, dan

disebut dengan orbital.

j. Susunan Atom (Purba, 2006: 31-35)

1) Nomor Atom

Jumlah proton dalam suatu atom disebut nomor atom atau

nomor proton. Unsur-unsur memiliki jumlah atom yang khas,

sehingga atom-atom dari unsur yang sama mempunyai jumlah

proton yang sama tetapi berbeda dari atom unsur lain. Atom

bersifat netral, maka jumlah elektron sama dengan jumlah proton.

Nomor atom juga menyatakan jumlah elektron dalam suatu atom.

(48)

34

2) Nomor Massa

Proton dan neutron mempunyai massa yang sama, yaitu

masing-masing sekitar 1 sma (massa proton = 1,0073 sma; massa

neutron = 1,0087 sma), sedangkan massa sebuah elektron sangat

kecil, yaitu 5,486 x 10-4 sma sehingga massa sebuah atom praktis

hanya ditentukan oleh massa proton dan neutronnya sedangkan

massa elektron dapat diabaikan. Jumlah proton dengan neutron

dalam suatu atom disebut nomor massa.

Nomor massa = jumlah proton + jumlah neutron

3) Notasi Susunan Atom

Jumlah proton, elektron, dan neutron dalam suatu atom

dinyatakan dengan lambang (notasi) sebagai berikut.

𝑋

𝑍 𝐴

X = lambang atom (= lambang unsur)

Z = nomor atom = jumlah proton (p) = jumlah elektron (e)

A = nomor massa = jumlah proton + jumlah neutron = p+n

Oleh karena A = p + n, sedangkan p = Z, maka A = Z + n

atau n = A – Z, sehingga jumlah neutron dalam suatu atom sama

dengan selisih nomor massa dengan nomor atomnya.

(49)

35

4) Isotop

Isotop adalah atom-atom dari unsur yang sama tetapi

memiliki massa yang berbeda. Perbedaan jumlah neutron dalam

inti atom menjadi penyebab terjadinya isotop.

5) Isobar dan Isoton

a) Isobar

Atom dari unsur yang berbeda (mempunyai nomor

atom berbeda), tetapi mempunyai nomor massa sama disebut

isobar.

b) Isoton

Atom dari unsur yang berbeda (mempunyai nomor

atom berbeda), tetapi mempunyai jumlah neutron sama

disebut isoton.

6) Susunan Ion

Suatu atom dapat kehilangan elektron atau mendapat

elektron tambahan. Atom yang kehilangan elektron akan menjadi

ion positif, sedangkan atom yang mendapat tambahan elektron

akan menjadi ion negatif.

k. Massa Atom dan Massa Atom Relatif

Massa atom absolut tidak digunakan dalam perhitungan

kimia, tetapi massa atom relatif lah yang digunakan. Massa atom

relatif adalah perbandingan massa antara atom yang satu terhadap

(50)

36

1

12 dari massa 1 atom C-12. Penetapan massa atom relatif digunakan

massa rata-rata dari isotop-isotopnya, dengan demikian massa atom

relatif adalah perbandingan antara massa rata-rata dari 1 atom suatu

unsur terhadap 1

12 massa 1 atom C-12.

𝐴𝑟 𝑢𝑛𝑠𝑢𝑟 𝑋 = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 1 𝑎𝑡𝑜𝑚 𝑢𝑛𝑠𝑢𝑟 𝑋1 12 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 1 𝑎𝑡𝑜𝑚 𝐶 − 12

Satu perduabelas massa 1 atom C-12 ditetapkan sama dengan

1 sma, maka definisi di atas dapat ditulis sebagai berikut.

𝐴𝑟 𝑢𝑛𝑠𝑢𝑟 𝑋 = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 1 𝑎𝑡𝑜𝑚 𝑢𝑛𝑠𝑢𝑟 𝑋1 𝑠𝑚𝑎

Dengan menata ulang persamaan di atas, diperoleh:

Massa rata-rata 1 atom X = Ar unsur X x 1 sma

Massa atom relatif suatu unsur merupakan massa rata-rata dari

1 atom unsur itu dalam satuan sma.

l. Konfigurasi Elektron

1) Menulis Konfigurasi Elektron

Teori atom Neils Bohr menyatakan bahwa elektron berada

pada kulit-kulit atom. Kulit yang paling dekat dengan inti yaitu

kulit K, dapat ditempati 2 elektron; kulit kedua (kulit L) dapat

ditempati 8 elektron, dan seterusnya. Semakin besar nomor kulit,

makin banyak jumlah elektron yang dapat berada di situ. Jumlah

(51)

37

Kulit K (n = 1) maksimum 2 x 12 = 2 elektron Kulit L (n = 2) maksimum 2 x 22 = 8 elektron Kulit M (n = 3) maksimum 2 x 32 = 18 elektron

Kulit N (n = 4) maksimum 2 x 42 = 32 elektron Kulit O (n = 5) maksimum 2 x 52 = 50 elektron

Meskipun kulit O, P, dan Q dapat menampung lebih dari

32 elektron, kulit-kulit tersebut belum pernah terisi penuh.

Persebaran elektron dalam kulit-kulit atom disebut dengan

konfigurasi elektron.

2) Elektron Valensi

Elektron valensi adalah elektron yang dapat digunakan

untuk membentuk ikatan kimia. Untuk unsur-unsur golongan

utama, elektron valensinya adalah elektron yang terdapat pada

kulit terluar.

I. Validitas dan Realibilitas Instrumen Tes

1. Validitas

Instrumen yang valid adalah instrumen yang dapat mengukur apa

yang seharusnya diukur. Tingginya validitas menunjukkan bahwa suatu

instrumen tersebut valid, sedangkan rendahnya validitas menunjukkan

instrumen kurang valid (Arikunto, 2010: 211). Validitas instrumen

dilakukan melalui validitas isi dan validasi ahli. Validitas isi dilakukan

(52)

38

ahli dilakukan dengan mengkonsultasikan instrumen pada para dosen

pendidikan kimia.

2. Reliabilitas

Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang dapat dipercaya

untuk digunakan sebagai alat pengumpul data. Instrumen yang baik tidak

bersifat mengarahkan jawaban responden ke arah jawaban tertentu.

Instrumen yang reliabel atau dapat dipercaya akan menghasilkan data yang

dapat dipercaya juga (Arikunto, 2010: 221).

Tahapan-tahapan yang digunakan untuk menguji reliabilitas

instrumen yaitu sebagai berikut:

a. Menilai dan memberi skor pada setiap jawaban responden. Jawaban

yang benar diberi skor 1 dan jawaban yang salah diberi skor 0 seperti

pada tabel 2.4.

Tabel 2.4. Kriteria Pemberian Skor pada Jawaban

Bentuk soal Skor Keterangan

Pilihan ganda

1 Jika jawaban benar

0 Jika jawaban salah

Nilai siswa dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑡𝑖𝑟 𝑠𝑜𝑎𝑙 × 100

b. Membuat tabel penolong untuk tiap butir soal untuk menentukan

(53)

39

Tabel 2.5. Tabel Penolong Uji Reliabilitas

No No

dimana soal-soal dikelompokkan menjadi dua bagian yang sama

banyak.

c. Mengkorelasikan antara belahan awal (X) dengan belahan akhir (Y)

menggunakan rumus korelasi product moment yaitu:

𝑟𝑥𝑦 = 𝑛(∑ 𝑋𝑌) − (∑ 𝑋)(∑ 𝑌)

√{𝑁 ∑ 𝑋2− (∑ 𝑋2)}{𝑁 ∑ 𝑌2− (∑ 𝑌2)}

Sumber : Arikunto (2010: 213)

Keterangan :

rxy = indeks korelasi antara dua variabel yang dikorelasikan.

n = jumlah responden

X = jumlah skor item

(54)

40

d. Memasukkan nilai korelasi (rxy) yang diperoleh ke dalam rumus

Spearman-Brown (Arikunto, 2010: 223).

𝑟11= (1 + 𝑟2 𝑟𝑥𝑦 𝑥𝑦)

Keterangan:

r11 = koefisien reliabilitas internal seluruh instrumen

rxy = korelasi product momen antara belahan awal-akhir atau belahan

ganjil-genap.

e. Membandingkan harga r11 dengan harga rtabel product momen dengan

tingkat kepercayaan 95%. Kaidah keputusan: jika r11 > rtabel berarti

instrumen reliabel, sebaliknya jika r11 < rtabel berarti instrumen tidak

reliabel. Harga rtabel disesuaikan dengan jumlah responden yang

digunakan (N).

J. Penelitian yang Relevan

Miskonsepsi siswa pada pembelajaran struktur atom telah dilakukan

sebelumnya oleh peneliti, yaitu Wahyuningrum, Septi dan Suyono, (2013)

dengan judul penelitian “Pola Pergeseran Konsepsi Siswa pada Struktur Atom

Setelah Pembelajaran dengan Strategi POGIL”. Tujuan dari penelitian ini

adalah untuk mengetahui pola pergeseran konsepsi siswa. Penelitian ini

menggunakan strategi POGIL yang diterapkan dalam pembelajaran pada

materi pokok struktur atom. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X

di SMA Negeri 1 Nganjuk sebanyak 33 siswa. Metode CRI digunakan untuk

(55)

41

menggunakan strategi POGIL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsepsi

siswa bergeser ke arah positif menuju pemahaman tahu konsep (persentase

terbesar 90,91%). Pergeseran ini masih menyisakan sejumlah kecil siswa

mengalami pergeseran menuju ke arah miskonsepsi yaitu sebanyak 24,24%.

Konsep pada materi struktur atom yang diujikan dengan menggunakan tes ini

adalah, penentuan materi penyusun atom, isotop, isobar dan isoton. Empat

konsep yang diujikan hanya penentuan materi penyusun atom saja yang

terdapat miskonsepsi sebesar 24,24%. Miskonsepsi yang terjadi pada siswa

berdasarkan hasil analisis peneliti disebabkan oleh cara belajar siswa yang

menghafal.

Penelitian yang berjudul “Analisis Miskonsepsi Siswa Kelas XA pada

Materi Struktur Atom di SMA Muhammadiyah Kota Jayapura Tahun Ajaran

2013/2014” memiliki beberapa kaitan dengan penelitian sebelumnya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi miskonsepsi pada siswa.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan

wawancara. Instrument tes yang digunakan berupa pilihan ganda yang

dilengkapi dengan kriteria Tingkat Keyakinan Jawaban (TKJ) yang

merupakan bentuk penyederhanaan dari skala CRI. Persamaan dengan

penelitian sebelumnya adalah sama-sama mengidentifikasi miskonsepsi siswa

pada materi struktur atom. Perbedaan dengan penelitian sebelumnya yaitu

pada instrumen tes yang digunakan dan konsepsi-konsepsi yang dianalisis.

Perbedaan lainnya yaitu siswa yang menjadi responden yaitu siswa kelas XA

(56)

42

K. Rumusan Anggapan Dasar

Rumusan anggapan dasar dalam penelitian ini meliputi:

1. Kemampuan siswa dalam memahami materi Struktur Atom berbeda-beda.

2. Konsepsi yang menyimpang dari konsepsi yang benar dan diyakini

kebenarannya oleh siswa disebut miskonsepsi.

3. Faktor-faktor penyebab miskonsepsi pada pembelajaran Struktur Atom

untuk setiap siswa berbeda-beda.

4. Miskonsepsi siswa pada materi Struktur Atom berbeda-beda.

L. Kerangka Konsep Penelitian

Keterangan: TPK = tidak paham konsep

Gambar 2.6. Bagan Kerangka Konsep Penelitian

(57)

43

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat noneksperimen dengan mendeskripsikan

data-data yang diperoleh dari hasil tes siswa pada materi struktur atom dan studi

kepustakaan.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Muhammadiyah Kota Jayapura.

C. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini yaitu miskonsepsi siswa kelas XA SMA

Muhammadiyah Kota Jayapura pada materi Struktur Atom.

D. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XA SMA

Muhammadiyah Kota Jayapura tahun ajaran 2013/2014 dengan jumlah siswa

28 orang yang telah mempelajari struktur atom.

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik yaitu:

1. Tes

Identifikasi miskonsepsi siswa dalam pembelajaran kimia pada

materi struktur atom dilakukan dengan teknik tes. Teknik tes yang

digunakan berupa tes diagnosis. Tes diagnosis bertujuan untuk

mengidentifikasi miskonsepsi siswa pada pembelajaran struktur atom.

(58)

44

ganda beralasan dan dilengkapi dengan tingkat keyakinan siswa dalam

menjawab soal menurut kriteria tingkat keyakinan jawaban (TKJ).

Langkah-langkah yang dilakukan untuk memperoleh data dengan

instrumen tes yaitu sebagai berikut:

a. Penyusunan instrumen penelitian (soal tes diagnosis miskonsepsi)

Tahapan yang dilakukan dalam penyusunan tes soal meliputi:

1) Menyusun kisi-kisi tes

2) Menyusun tujuan pembelajaran

3) Menyusun soal berdasarkan kisi-kisi tes dan tujuan pembelajaran

b. Validitas Isi

Soal tes yang dibuat disesuaikan dengan banyaknya konsepsi yang

terdapat pada materi struktur atom hingga memenuhi validitas isi.

c. Validasi Ahli

1) Validasi ahli instrumen dilakukan oleh dosen yang ahli pada

bidangnya.

2) Instrument direvisi berdasarkan hasil validasi ahli.

d. Uji coba instrumen tes

1) Memilih kelas yang digunakan sebagai kelas uji coba tes.

2) Uji coba dilakukan pada kelas yang berbeda dari kelas yang

dijadikan subjek penelitian.

3) Memberi informasi kepada siswa sebelum melakukan tes agar

siswa belajar terlebih dahulu.

(59)

45

e. Analisis pengujian instrumen soal tes yang berupa reliabilitas.

f. Pelaksanaan tes pada subyek penelitian.

Pelaksanaan tes kepada responden dengan tahapan yaitu

sebagai berikut:

1) Melakukan tes diagnosis kepada siswa kelas XA SMA

Muhammadiyah Kota Jayapura yang telah mempelajari materi

struktur atom.

2) Memberi skor pada lembar jawaban siswa sesuai dengan kriteria 0

jika jawaban salah, dan 1 jika jawaban benar.

3) Melakukan identifikasi siswa yang tidak paham konsep (TPK),

paham konsep (PK), dan miskonsepsi (M) berdasarkan hasil tes

diagnosis. Tes diagnosis yang dilengkapi dengan CRI digunakan

untuk mengidentifikasi miskonsepsi yang terjadi pada siswa.

Penentuan melalui CRI didasarkan pada kriteria pada tabel 3.1.

Tabel 3.1. Kriteria Penentuan Siswa yang Paham Konsep, Miskonsepsi, dan Tidak Paham Konsep

menentukan siswa yang paham konsep, miskonsepsi, dan tidak

Gambar

Tabel 2.1. Skala pada CRI dan Kriterianya
Tabel 2.2. Kriteria Tingkat Keyakinan Jawaban (TKJ)
Tabel 2.3.  Kriteria Penentuan Siswa yang Paham Konsep, Miskonsepsi, dan
Gambar 2.2. tentang atom dan molekul (a) Gas oksigen terdiri dari molekul-molekul yang setiap molekulnya terdiri dari dua atom oksigen
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran besarnya persentase siswa yang mengalami miskonsepsi pada konsep sistem peredaran darah pada manusia di kelas XI IPA

Penurunan jumlah miskonsepsi ini juga menunjukkan bahwa terjadi perubahan konsepsi siswa dari konsepsi yang salah (miskonsepsi) menjadi konsepsi yang benar setelah

Penurunan jumlah miskonsepsi ini juga menunjukkan bahwa terjadi perubahan konsepsi siswa dari konsepsi yang salah (miskonsepsi) menjadi konsepsi yang benar setelah

Tetapi kalau konsepsi siswa bertentangan dengan konsepsi para fisikawan, maka kita menggunakan istilah miskonsepsi ( misconception ). Banyak konsepsi dan miskonsepsi

Persentase siswa yang mengalami miskonsepsi paling tinggi pada indikator yang membahas tentang memahami nilai dari berbagai bentuk logaritma dan mampu mengurutkan

KESIMPULAN Dari hasil dan pembahasan penelitian, dapat disimpulkan bahwa siswa mengalami miskonsepsi relasional yang terlihat dari hasil pengerjaan siswa yang tidak memahami konsep

Tetapi kalau konsepsi siswa bertentangan dengan konsepsi para fisikawan, maka kita menggunakan istilah miskonsepsi ( misconception ). Banyak konsepsi dan miskonsepsi

Jumlah siswa yang mengalami miskonsepsi adalah 22 orang atau 57,89%, hal ini menunjukkan lebih dari setengah jumlah siswa yang mengalami miskonsepsi pada pengaruh suhu