KERAJAAN ISLAM Pada Masa Kerajaan Isla 1

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Salah satu bukti masuknya islam di nusantara yaitu dengan adanya kerajaan-kerajaan islam yang telah berdiri, salah satunya yaitu kerajaan pertama di sumatera, kerajaan perlak.

Islam masuk di perlak sekitar tahun 800 M, dan kurang dari setengah abad, para da’i dan penyebebar agama islam yang lain berhasil menyebarkan agama islam di daerah tersebut, dan akhirnya mendirikan kerajaan islam perlak pada tahun 840 M dengan menunjuk syed maulana abdul azis shah sebagai raja pertamanya.

Seiring berjalannya waktu, kerajaan islam di nusantara semakin meluas, mulai dari jawa, kalimantan, sulawesi dan maluku, yang kemudian dengan banyaknya kerajaan-kerajaan islam tersebut menjadikan hubungan baik antara umat islam dan kerajaan islam di nusantara. II. RUMUSAN MASALAH

1. Kerajaan Islam pertama di Sumatera.

2. Tumbuh dan berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, kalimantan, maluku dan sulawesi. 3. Hubungan politik dan keagamaan antara kerajaan-kerajaan Islam.

III. PEMBAHASAN

1. Kerajaan islam pertama di sumatera

 Kerajaan perlak

Marco Polo dalam perjalanannya dari china menuju persia di tahun 1292 telah mengunjungi kerajaan di wilayah sumatera. Ia menganggap bahwa kerajaan yang telah memeluk agama islam adalah kerajaan “Ferlec” yang biasa di kenal dengan sebutan perlak.[1]

Nama perlak berawal dari banyaknya tumbuhan yang bernama “kayei peureulak” (kayu perlak), dimana kayu tersebut sangat baik untuk bahan pembuatan kapal/perahu, sehingga banyak dicari dan di beli oleh perusahaan-perusahaan pembuat kapal/perahu. Karena banyak orang-orang dari luar yang membeli “kayei peureulak” maka daerah tersebut telah menjadi sebutan dimana-mana, baik di sumatera maupun di luar sumatera, yang pada akhirnya mereka menyebut daerah tersebut sebagai negeri perlak.

Para pengembara dan pedagang yang datang dari cina, arab, persia, hindi, italia, portugis, dan lain-lainnya melalui selat malaka dan singgah di daerah perlak, kemudian mereka menyebut pelabuhan yang mereka singgahi dengan sebutan bandar perlak. Negeri perlak adalah salah satu negeri tertua di sumatera yang terletak di antara samudra (pasei) dan aru.[2]

Sebelum Kesultanan Perlak berdiri, di wilayah Perlak sebenarnya sudah berdiri sebuah sistem pemerintahan bernama Negeri Perlak yang raja dan rakyatnya merupakan keturunan dari Maharaja Pho He La (Meurah Perlak Syahir Nuwi) serta keturunan dari pasukan-pasukan pengikutnya. Pada tahun 173 H (800 M) tibalah sebuah kapal saudagar Islam yang membawa rombongan berjumlah sekitar 100 orang dari Timur Tengah, Teluk Kambey (Gujaraat). Mereka dipimpin oleh Nakhoda Khalifah yang beraliran Syiah. Awalnya, rombongan ini berniat untuk berdagang sekaligus berdakwah untuk menyebarkan Islam ke Perlak. Dalam waktu kurang dari setengah abad, para dai berhasil melakukan misinya tersebut. Raja dan rakyat Perlak meninggalkan agama lama mereka (Hindu dan Buddha), yang kemudian secara sukarela berbondong-bondong memeluk Islam. Melihat peluang tersebut, dengan ditambah melimpahnya bahan perniagaan, mereka pun berinisiatif untuk mendirikan sebuah kerajaan. Perlak menjadi pelabuhan yang maju dan aman di abad ke VIII M. Menjadi tempat persinggahan kapal-kapal perniagaan arab/parsi muslimin, dan dengan demikian maka berkembanglah masyarakat islam di daerah ini, terutama dari sebab

perkawinan antara saudagar-saudagar muslimin itu dengan permpuan-perempuan anak negeri, yang mengakibatkan lahirnya keturunan muslimin dari percampuran darah arab/parsi dengan putri-putri perlak, hal ini membawa kepada berdirinya kerajaan perlak pertama, yaitu pada hari selasa bulan muharram tahun 225 H / 840 M. Dan sultannya yang pertama ialah syed maulana abdul azis shah, dengan gelar sultan alaiddin syed maulana abdul azis shah.[3] Sultan kemudian mengubah ibukota kerajaan, yang semula bernama Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah, sebagai penghargaan atas Nakhoda Khalifah.

(2)

ditemukannya bukti peninggalan sejarah berupa mata uang Perlak, stempel kerajaan dan makam Raja Benoa. Bandingkan dengan kerajaan Samudera Pasai yang didirikan pada tahun 1205 M, dan berakhir pada tahun 1521 M. Kedua kerajaan Islam yang sama-sama mengambil lokasi di Aceh ini berbeda jauh dari segi masa muncul dan berlangsungnya.

Sejarawan Nusantara, Slamet Muljana dalam bukunya Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, mengatakan, “Islam yang sampai di Asia

Tenggara paling dahulu ialah Perlak.” Begitu pun dengan A. Hasjmy dalamSyi’ah dan Ahlussunnah, yang menulis, “Kerajaan Islam yang pertama berdiri di Indonesia yaitu Perlak.[4]

2. Tumbuh dan berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, kalimantan, maluku dan sulawesi.

A. Tumbuh dan berkembangnya kerajaan islam di jawa. a. Demak

perkembangan Islam di Jawa bersamaan dengan waktunya dengan melemahnya posisi Raja Majapahit. Hal itu memberi peluang kepada penguasa-penguasa Islam di pesisir untuk membangun pusat-pusat kekuasaan yang independen. Di bawah pimpinan Sunan Ampel Denta, Walisongo bersepakat mengangkat Raden Patah menjadi raja pertama kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa, dengan gelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayyidin

Panatagama. Raden Patah dalam menjalankan pemerintahannya, terutama dalam persoalan-persoalan agama, dibantu oleh para ulama, Walisongo. Sebelumnya, Demak yang masih bernama Bintoro merupakan daerah vasal Majapahit yang diberikan Raja Majapahit kepada Raden Patah. Daerah ini lambat laun menjadi pusat perkembangan agama Islam yang diselenggarakan oleh para wali.

Pemerintahan Raden Patah berlangsung kira-kira di akhir abad 15 hingga awal abad ke-16. Dikatakan, ia adalah seorang anak Raja Majapahit dari seorang ibu Muslim keturunan Campa. Raden Patah memiliki adik laki-laki seibu, tapi beda ayah. Saat memasuki usia belasan tahun, raden patah bersama adiknya berlayar ke Jawa untuk belajar di Ampel Denta. Raden patah mendalami agama Islam bersama pemuda-pemuda lainnya, seperti raden Paku (Sunan Giri), Makhdum ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Kosim (Sunan Drajat). Setelah dianggap lulus, raden patah dipercaya menjadi ulama dan membuat permukiman di Bintara. Ia diiringi oleh Sultan Palembang, Arya Dilah 200 tentaranya. Raden patah memusatkan kegiatannya di Bintara, karena daerah tersebut

direncanakan oleh Walisongo sebagai pusat kerajaan Islam di Jawa.

Kemudian, setelah itu beliau digantikan oleh anaknya, Pangeran Sabrang Lor atau juga terkenal dengan nama Pati Unus. Menurut Tome Pires, Pati Unus baru berumur 17 tahun ketika menggantikan ayahnya sekitar tahun 1507. Menurutnya, tidak lama setelah naik tahta, ia

merencanakan suatu serangan terhadap Malaka. Semangat perangnya semakin memuncak ketika Malaka ditakhlukkan oleh Portugis pada tahun 1511. Akan tetapi, sekitar pergantian tahun 1512-1513, tentaranya mengalami kekalahan besar.[5]

Pati Unus digantikan oleh Trenggono yang dilantik sebagai Sultan oleh Sunan Gunung Jati dengan gelar Sultan Ahmad Abdul ‘Arifin. Ia memerintah pada tahun 1524-1526. Pada masa Sultan Demak yang ketiga inilah Islam dikembangkan ke seluruh tanah Jawa, bahkan sampai ke Kalimantan Selatan. Penakhlukan Sunda Kelapa berakhir tahun 1527 yang dilakukan oleh pasukan gabungan Demak Cirebon di bawah pimpinan Fadhilah Khan. Majapahit dan Tuban jatuh ke bawah kekuasaan Kerajaan Demak pada tahun itu juga. Selanjutnya, pada tahun 1529, Demak berhasil menundukkan Madiun, Blora (1530), Surabaya (1531), Pasuruan (1535), dan antara tahun 1541-1542 Lamongan, Blitar, Wirasaba, dan Kediri (1544). Palembang dan Banjarmasin mengakui kekuasaan Demak. Sementara daerah Jawa Tengah bagian Selatan sekitar Gunung Merapi, Pengging, dan Pajang berhasil dikuasai berkat pemuka Islam, Syeikh Siti Jenar dan Sunan Tembayat.

(3)

Di antara ketiga raja Demak, Sultan Trenggana lah yang berhasil menghantarkan Kusultanan Demak ke masa jayanya. Pada masa Trenggana, daerah kekuasaan Demak meliputi seluruh Jawa serta sebagian besar pulau-pulau lainnya.

Cepatnya kota Demak berkembang menjadi pusat perniagaan dan lalu lintas serta pusat kegiatan pengislaman tidak lepas dari andil masjid Agung Demak. Dari sinilah para wali dan raja dari Kesultanan Demak mengadakan perluasan kekuasaan yang dibarengi oleh kegiatan dakwah Islam ke seluruh Jawa.

b. Pajang

Kesultanan Pajang adalah pelanjut dan dipandang sebagai pewaris kerajaan Islam Demak. Sultan atau raja pertama kesultanan ini adalah Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging, di lereng Gunung Merapi. Oleh Raja Demak ketiga, Sultan Trenggono, Jaka Tingkir diangkat menjadi penguasa di Pajang, setelah sebelumnya dikawinkan dengan anak perempuannya. Kediaman penguasa Pajang itu, menurut Babad dibangun dengan mencontoh kraton Demak.

Pada tahun 1546, Sultan Demak meninggal dunia. Setelah itu, muncul kekacauan di ibu kota. Konon, Jaka Tingkir yang telah menjadi penguasa Pajang itu dengan segera mengambil alih

kekuasaan karena anak sulung Sultan Trenggono yang menjadi pewaris tahta kesultanan, susuhunan Prawoto, dibunuh oleh kemenakannya, Arya Penangsang yang waktu itu menjadi penguasa dari Jipang (Bojonegoro sekarang). Arya Penangsang tidak lama kemdian dikalahkan dan dibunuh dalam perang tanding oleh Jaka Tingkir dari Pajang.[7] Setelah menjadi raja yang paling berpengaruh di pulau Jawa, ia bergelar Sultan Adiwijaya. Jaka Tingkir bergelar Sultan Adiwijaya (1568 – 1582). Gelar itu disahkan oleh sunan Giri, dan segera mendapat pengakuan dari para adipati di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebagai langkah pertama peneguhan kekuasaan, Adiwijaya memerintahkan agar semua benda pusaka Demak dipindahkan ke Pajang. Setelah itu, ia menjadi salah satu raja yang paling berpengaruh di Jawa.

Pada masanya sejarah Islam di Jawa mulai dalam bentuk baru, titik politik pindah dari pesisir ke pedalaman. Peralihan pusat politik itu membawa akibat yang sangat besar dalam perkembangan peradaban Islam di Jawa.

Sultan Adiwijaya memperluas kekuasaannya di tanah pedalaman ke arah Timur sampai daerah Madiun, di alirkan anak sungai Bengawan Solo yang terbesar. Setelah itu, secara berturut-turut ia dapat menundukkan Blora (1554) dan Kediri(1577). Pada tahun 1581, ia berhasil

mendapatkan pengakuan sebagai Sultan Islam dari raja-raja terpenting di Jawa Timur. Pada umumnya hubungan antara keraton Pajang dan raja-raja Jawa Timur memang bersahabat.

Selama pemerintahan Sultan Adiwijaya, kesusastraan dan kesenian keraton yang sudah maju di Demak dan Jepara lambat laun dikenal di pedalaman Jawa. Pengaruh agama Islam yang kuat di pesisir menjalar dan tersebar ke daerah pedalaman.

Sultan Pajang meninggal dunia tahun 1587 dan dimakamkan di Butuh, suatu daerah di sebelah barat taman kerajaan Pajang. Dia digantikan oleh menantunya, Aria Pangiri, anak susuhunan Prawoto. Waktu itu, Aria Pangiri menjadi penguasa di Demak. Setelah menetap di keraton Pajang, Aria Pangiri dikelilingi oleh pejabat-pejabat yang dibawanya dari Demak. Sementara itu, anak Sultan Adiwijaya, Pangeran Benawa dijadikan penguasa di Jipang.

Pangeran muda ini, karena tidak puas dengan nasibnya di tengah-tengah lingkungan yang masih asing baginya, meminta bantuan kepada Senopati penguasa Mataram untuk mengusir raja Pajang yang baru itu. Pada tahun 1588, usahanya itu berhasil. Sebagai rasa terima kasih, Pangeran Benawa menyerahkan hak atas warisan ayahnya kepada Senopati. Akan tetapi, Senopati

menyatakan keinginannya untuk tetap tinggal di Mataram dan ia hanya minta ‘’pusaka kerajaan’’ Pajang. Mataram ketika itu memang sedang dalam proses menjadi sebuah kerajaan besar. Pangeran Benawa kemudian dikukuhkan sebagai raja Pajang, akan tetapi berada di bawah perlindungan kerajaan Mataram. Sejak itu, Pajang sepenuhnya menjadi berada di bawah kekuasaan Mataram.

Riwayat kerajaan Pajang berakhir tahun 1618. Kerajaan Pajang waktu itu memberontak terhadap Mataram yang ketika itu dipimpin oleh Sultan Agung. Pajang dihancurkan, rajanya melarikan diri ke Giri dan Surabaya.[8]

(4)

Kerajaan Pajang, yang masih lama kemudian tetap dikenal sebagai Makam Aji. Butuh adalah kekuasaan salah seorang dari empat penguasa yang menurut cerita tutur berkumpul di Pengging tepat pada malam kelahiran bayi yang kelak akan menjadi sunan Pajang, yaitu Jaka Tingkir. Yang menjadi ahli waris Sultan Pajang ialah tiga putra menantu, yakni raja Tuban, raja Demak, dan raja di Aros Baya, disamping putranya sendiri, Pangeran Benawa, yang konon masih sangat muda waktu ayhnya meninggal. Menurut Babad, Sunan Kudus menggunakan wibawa kerohaniannya agar yang diakui oleh keraton Pajang sebagai raja baru itu bukan anak sultan, melainkan Raja Demak, Raja Demak itu adalah Aria Pangiri anak (atau mungkin lebih tepat kemenakan) Susuhunan Prawata yang terbunuh, dan cucu Sultan Trenggana yang putrinya kawin dengan Sultan Pajang yang baru

meninggal itu. Jadi Aria Pangiri (Kediri) dari Demak ini, selain menantu, juga kemenakan (dari pihak ibu) Sultan Adiwijaya. Pada 1587 ia sudah agak tua. Mungkin yang menjadi maksud ulam dari Kudus itu ialah mengembalikan kekuasaan di kesultanan Jawa Tengah kepada seorang keturunan langsung Sultan Trenggana dari Demak, yang sudah meninggal kira-kira 40 tahun sebelumnya.[9]

Menurut cerita tutur Mataram, raja kedua di Pajang itu benar tinggal di Istana kerajaan, tetapi dikelilingi oleh para pejabat istana yang dibawa serta dari Demak. Anugerah dan tanah yang dibagi-bagikan kepada “orang-orang asing” dari pesisir membangkitkan rasa tidak puas dan iri hati para bangsawan dan tuan tanah asal pedalaman Pajang sendiri. Pangeran Benawa, putra almarhum sultan pertama, ahli waris pertama, dijadikan raja Jipang atas anjuran sunan Kudus. Di sana Aria Panangsang kira-kira 40 tahun sebelumnya dikalahkan oleh ayah Benawa (Waktu itu masih belum menjadi sultan Pajang). Pangeran muda ini, karena merasa tidak puas dengan nasibnya di

lingkungan yang asing baginya, merencanakan persekutuan jahat dengan Senapati Mataram dan orang di Pajang yang tidak puas, mengusir raja baru yang asing itu. Usaha ini berhasil, sesudah terjadi pertempuran singkat pada 1588, Nyawa Raja Demak masih dapat ditolong berkat permintan belas kasihan istrinya, seorang putri Pajang. Ia diikat dengan cinde (sabuk)nsutera dan dikembalikan ke Demak. Kekalahnay dalam pertempuran melawan Senapati Mataram dan Pangeran Benawa menurut babad disebabkan oleh berbaliknya orang Pajang yang tidak puas ke pihak Mataram. Disamping itu prajurit sewaan yang ikut serta dari Demak ternyata tidak dapat dipercaya. Laskar sewaan itu terdiri dari budak belian, orang Bali, Bugis, Makassar, dan golongan “Peranakan” yitu orang Cina yang berdarah campuran. Dari pemberitaan tentang adanya prajurit sewaan dalam tentara Raja Demak dapat disimpulkan bahwa pada perempat terakhir abad XVI di daerah pesisir kehidupan ekonomi yang menggunakan uang sebgai bahan tukar sudah lazim, berbeda dengan hubungan sosial di daerah pedalaman Pajang dan Mataram.[10]

c. Mataram

Awal dari kerajaan Mataram adalah ketika Sultan Adiwijaya dari Pajang meminta bantuan kepada Ki Pamanahan yang berasal dari daerah pedalaman untuk menghadapi dan menumpas pemberontakan Arya Penangsang tersebut. Sebagai hadiahnya, sultan kemudian menghadiahkan daerah Mataram kepada Ki Pamanahan.

Pada tahun 1577 M, Ki Pamanahan menempati istana barunya di Mataram. Dia digantikan oleh putranya, Senopati tahun 1584 dan dikukuhkan oleh Sultan Pajang. Senopatilah yang dipandang sebagai Sultan Mataram pertama, setelah Pangeran Benawa, anak Sultan Adiwijaya, menawarkan kekuasaan atas pajang kepada Senopati. Meskupun Senopati menolak dan hanya meminta pusaka kerajaan, namun dalam tradisi Jawa, penyerahan benda-benda pusaka itu sama artinya dengan penyerahan kekuasaan.

Senopati kemudian berkeinginan menguasai juga semua raja bawahan Pajang, tetapi ia tidak mendapat pengakuan dari para penguasa Jawa Timur sebagai pengganti Raja Demak dan kemudian Pajang. Melalui perjuangan berat, peperangan demi peperangan, barulah ia berhasil menguasai sebagian.

(5)

Amangkurat I memindahkan lokasi keraton ke Pleret (1647), tidak jauh dari Kerta. Selain itu, ia tidak lagi menggunakan gelar sultan, melainkan “sunan” (dari “Susuhunan” atau “Yang Dipertuan”). Pemerintahan Amangkurat I kurang stabil karena banyak ketidakpuasan dan pemberontakan. Pada masanya, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Trunajaya dan memaksa Amangkurat bersekutu dengan VOC. Ia wafat di Tegalarum (1677) ketika mengungsi sehingga dijuluki Sunan Tegalarum.

Setelah itu, ia digantikan oleh Amangkurat II. Amangkurat II memerintah Mataram dari tahun 1677-1703 M. di bawah pemerintahannya, wilayah kekuasaan Kerajaan Matarm semakin sempit. Sebagian daerah-daerah kekuasaan diambil alih Belanda. Amangkurat II yang tidak tertarik untuk tinggal di ibukota Kerajaan, selanjutnya mendirikan Ibu Kota baru di desa Wonokerto yang diberi nama Karta Surya. Di Ibu Kota inilah Amangkurat II menjalankan pemerintahannya terhadap sisa-sisa kerajaan Mataram, hingga akhirnya meninggal tahun 1703 M.Pengganti Amangkurat II berturut-turut adalah Amangkurat III (1703-1708), Pakubuwana I (1704-1719), Amangkurat IV (1719-1726), Pakubuwana II (1726-1749). VOC tidak menyukai Amangkurat III karena menentang VOC sehingga VOC mengangkat Pakubuwana I (Puger) sebagai raja. Akibatnya Mataram memiliki dua raja dan ini menyebabkan perpecahan internal. Amangkurat III memberontak dan menjadi “king in exile” hingga tertangkap di Batavia lalu dibuang ke Ceylon.

Kekacauan politik baru dapat diselesaikan pada masa Pakubuwana III setelah pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta tanggal 13 Februari 1755. Pembagian wilayah ini tertuang dalam Perjanjian Giyanti (nama diambil dari lokasi penandatanganan, di sebelah timur kota Karanganyar Jawa Tengah). Berakhirlah era Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah. Walaupun demikian sebagian masyarakat Jawa beranggapan bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta adalah “ahli waris” dari Kesultanan Mataram.

d. Cirebon

Kesultanan Cirebon adalah kerajaan Islam pertama di Jawa Barat. Kerajaan ini didirikan oleh Sunan Gunung Jati.

Di awal abad ke-16, Cirebon masih meruppakan sebuah daerah kecil di bawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Raja Pajajaran hanya menempatkan seorang juru labuhan di sana, bernama Pangeran Walangsungsang, seorang tokoh yang mempunyai hubungan darah dengan raja Pajajaran. Ketika berhasil memajukan Cirebon, ia sudah menganut agama Islam. Disebutkan oleh Tome Pires, Islam sudah ada di Cirebon sekitar 1470-1475 M. Akan tetapi, orang yang berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kerajaan adalah Syarif Hidayatullah yang terkenal dengan gelar Sunan Gunung Jati, pengganti dan keponakan dari Pangeran Walangsungsang. Ialah pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten. Sebagai keponakan dari Pangeran Walangsungsang, Sunan Gunung Jati juga mempunyai hubungan darah dengan raja Pajajaran. Raja yang dimaksud adalah Prabu Siliwangi, raja Sunda yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran, yang nikah dengan Nyai Subang Larang tahun 1422. Dari perkawinan itu lahirlah 3 orang putra, yaitu Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Raja Senggara. Sunan Gunung Jati adalah putra Nyai Lara Santang dari perkawinannya dengan Maulana Sultan Mahmud alias Syarif Abdullah dari Bani Hasyim, ketika Nyai itu naik haji. Disebutkan, Sunan Gunung Jati lahir tahun 1448 M dan wafat pada 1568 M dalam usia 120 tahun. Karena kedudukannya sebagai salah seorang Walisongo, ia mendapat penghormatan dari raja-raja lain di Jawa, seperti Demak dan Pajang. Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam yang bebas dari kekuasaan Pajajaran, Sunan Gunung Jati berusaha meruntuhkan kerajaan Pajajaran yang masih belum menganut Islam.[12]

Dari Cirebon, Sunan Gunung Jati mengembangkan Islam ke daerah-daerah lain di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Dasar bagi pengembangan Islam dan perdagangan kaum muslim di Banten diletakkan oleh Sunan Gunung Jati tahun 1524 M.[13] Ketika ia kembali ke Cirebon, Banten diserahkan kepada anaknya Sultan Hasanuddin. Sultan inilah yang menurunkan raja-raja Banten. Di tangan raja-raja Banten tersebut, akhirnya kerajaan Pajajaran akhirnya dikalahkan. Atas prakarsa Sunan Gunung Jati juga

penyerangan ke Sunda Kelapa dilakukan (1527 M). Penyerangan ini dipimpin oleh Falatehan dengan bantuan tentara Demak.

(6)

Keutuhan Cirebon sebagai suatu kerajaan hanya sampai Pangeran Girilaya itu. Sepeninggalnya, sesuai dengan kehendaknya sendiri, Cirebon diperintah oleh dua putranya,

Martawijaya atau Panembahan Sepuhdan Kartawijaya atau Panembahan Anom. Panembahan Sepuh memimpin kesultanan Kasepuhar sebagai rajanya yang pertama dengan gelar Samsuddin,

sementara PanembahanAnom memimpin kesultanan Kanoman dengan gelar Badruddin. e. Banten

Sejak sebelum zaman Islam, Banten sudah menjadi kota yang berarti. Dalam tulisan Sunda Kuno, cerita Parahyangan, disebut-sebut nama Wahanten Girang. Nama ini dapat dihubungkan dengan Banten, sebuah kota pelabuhan di ujung barat pantai utara Jawa. Pada tahun 1524 atau 1525, Sunan Gunung Jati dari Cirebon, meletakkan dasar bagi pengembangan agama dan kerajaan Islam serta bagi perdagangan orang-orang Islam disana.

Penguasa Pajajaran di Banten menerima Sunan Gunung Jati dengan ramah tamah dan tertarik masuk Islam. Ia meratakan jalan bagi kegiatan pengislaman disana. Untuk menyebarkan Islam di Jawa Barat, langkah Sunan Gunung Jati berikutnya adalah menduduki pelabuhan Sunda, kira-kira tahun 1527. Ia memperluas kekuasaannya atas kota-kota pelabuhan Jawa Barat lain yang semula termasuk Pajajaran.

Setelah ia kembali ke Cirebon, kekuasaannya atas Banten diserahkan kepada putranya, Hasanuddin. Hasanuddin sendiri kawin dengan putri Demak dan diresmikan menjadi Panembahan Banten tahun 1552. Ia meneruskan usaha ayahnya dalam meluaskan daerah Islam, yaitu ke Lampung dan sekitarnya di Sumatera Selatan.

Pada tahun 1568, disaat kekuasaan Demak beralih ke Pajang, Hasanuddin memerdekakan Banten. Itulah sebabnya oleh tradisi ia dianggap sebagai raja Islam yang pertama di Banten. Banten sejak semula memang merupakan vassal dari Demak. Hasanuddin mangkat kira-kira tahun 1570 dan digantikan oleh anaknya, Yusuf. Setelah sembilan tahun memegang tampuk kekuasaan, tahun 1579, Yusuf menakhlukkan Pakuan yang belum Islam yang waktu itu masih menguasai sebagian besar daerah pedalaman di Jawa Barat. Sesudah ibu kota kerajaan itu jatuh dan raja beserta keluarganya menghilang, golongan bangsawan Sunda masuk Islam. Mereka diperbolehkan tetap menyandang pangkat dan gelarnya.

Setelah Yusuf meninggal dunia tahun 1580 M, ia digantikan oleh putranya Muhammad, yang masih muda. Selama Sultan Muhammad masih di bawah umur, kekuasaan pemerintahan dipegang oleh kali (Arab: qadhi, jaksa agung) bersama empat pembesar lainnya. Raja Banten yang shaleh ini, melanjutkan serangan terhadap raja Palembang dan gugur dalam usia 25 tahun pada 1596. Ia meninggalkan seorang anak yang berusia 5 bulan, Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir.

Sebelum memegang pemerintahan secara langsung, Sultan berturut-turut berada di bawah 4 orang wali laki-laki dan seorang wali wanita. Ia baru aktif memegang kekuasaan tahun 1626, dan pada tahun 1638 mendapat gelar sultan dari Makkah. Dialah raja Banten pertama dengan gelar sultan yang sebenarnya. Ia meninggal tahun 1651 dan digantikan oleh cucunya Sultan Abulfath Abdulfath.

[14]

B. Tumbuh dan berkembangnya kerajaan islam di kalimantan

Kalimantan terlalu luas untuk berada di bawah satu kekuasan pada waktu datangnya Islam. Daerah barat laut menerima Islam dari malaya, daerah timur dari makasar dan wilayah selatan dari Jawa.

1. Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan.

Kerajaan banjar merupakan kelanjutan dari Kerajaan Daha yang beragama Hindu. Peristiwanya dimulai ketika terjadi pertentangan dalam keluarga istana, antara pangeran Samudera sebagai pewaris sah kerajaan Daha, dengan pamannya Pangeran Tumenggung. Seperti dikisahkan dalam Hikayat Banjar,

[15]

ketika Raja Sukarama merasa sudah hampir tiba ajalnya, ia berwasiat, agar yang mengantikannya nanti adalah cucunya Raden Samudera. Tentu saja keempat orang puteranya tidak menerima sikap ayahnya itu, lebih-lebih Pangeran Tumanggung yang sangat

(7)

Dengan meninggalnya Pangeran Mangkubumi, maka Pangeran Tumanggunglah yang tampil menjadi raja Daha.

Setelah kejadian itu Pangeran Samudera berkelana ke wilayah muara. Ia kemudian diasuh oleh seorang patih, bernama Patih Masih. Atas bantuan patih masihPangeran Samudera dapat menghimpun kekuatan perlawanan. Dalam serangan pertamanya Pangeran Samudera berhasil menguasai Muara Bahan, sebuah pelabuhan strategis yang sering dikunjungi para pedagang luar, seperti dari pesisir utara Jawa, Gujarat, dan Malaka.

Dalam peperangan itu, Pangeran Samudera memperoleh kemenangan, dan sesuai dengan janjinya, ia beserta seluruh kerabat kraton dan penduduk Banjar menyatakan diri masuk Islam. Pangeran Samudera sendiri, setelah masuk Islam, diberi nama Sultan Suryanullah atau Suriansyah, yang dinobatkan sebagai raja pertama dalam kerajaan Islam Banjar.

Ketika Suryanullah naik tahta, beberapa daerah sekitarnya sudah mengakui kekuasaannya, yakni daerah Sambas, Batanglawai, Sukadana, Kotawaringin, Sampit, Medawi, dan

Sambangan. Sultan Suryanullah diganti oleh putera tertuanya yang bergelar Sultan Rahmatullah. Raja-raja banjar berikutnya adalah Sultan Hidayatullah ( putera Sultan Rahmatullah ) dan Marhum Panembahan yang dikenal dengan Musta’inullah. Pada masa Marhum Panembahan, ibu kota kerajaan dipindahkan beberapa kali. Pertama ke Amuntai, kemudian ke Tambangan dan Batang Banju, dan akhirnya ke Amuntai kembali. Perpindahan ibu kota kerajaan itu terjadi akibat datangnya pihak Belanda ke Banjar dan menimbulkan huru-hara.

2. kerajaan Kutai di Kalimantan Timur.

Penyebar Islam tiba di Kutai pada masa pemerintahan Raja Mahkota. Salah seorang di antaranya adalah Tuan di bandang, yang dikenal dengan Dato’Ri Bandang dari

Makassar, kemudian yang lainnya adalah Tuan Tunggang Parangan. Setelah pengislaman itu, Dato’Ri Bandang kembali ke Makassar sementara Tuan Tunggang Parangan tetap di Kutai. Melalui yang terakhir inilah Raja Mahkota tunduk kepada keimanan Islam. Setelah itu, segera dibangun sebuah mesjid dan pengajaran agama dapat dimulai. Yang pertama sekali mengikuti pengajaran itu adalah Raja Mahkota Sendiri, kemudian pangeran, para menteri, panglima dan hulubalang, dan akhirnya rakyat biasa. Proses Islamisasi di Kutai dan daerah sekitarnya diperkirakan terjadi pada tahun 1575. penyebaran lebih jauh ke daerah-daerah pedalaman dilakukan terutama pada waktu puteranya, Aji di Langgar, dan pengganti-penggantinya, meneruskan perang ke daerah Muara Kaman.[16]

C. Tumbuh dan berkembangnya kerajaan islam di sulawesi

Kerajaan yang bercorak Islam di Semenanjung Selatan Sulawesi adalah Goa-Tallo, kerajaan ini menerima Islam pada tahun 1605 M. Rajanya yang terkenal dengan nama Tumaparisi-Kallona yang berkuasa pada akhir abad ke-15 dan permulaan abad ke-16. Kerajaan Goa-Tallo menjalin hubungan dengan Ternate yang telah menerima Islam dari Gresik/Giri. Penguasa Ternate mengajak penguasa Goa-tallo untuk masuk agama Islam, namun gagal. Islam baru berhasil masuk di Goa-Tallo pada waktu datuk ri Bandang datang ke kerajaan Goa-Tallo. Sultan Alauddin adalah raja pertama yang memeluk agama Islam tahun 1605 M.

Kerajaan Goa-Tallo mengadakan ekspansi ke Bone tahun 1611, namun ekspansi itu menimbulkan permusuhan antara Goa dan Bone. Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Goa-Tallo berhasil, hal ini merupakan tradisi yang mengharuskan seorang raja untuk menyampaikan hal baik kepada yang lain. Seperti Luwu, Wajo, Sopeng, dan Bone. Luwu terlebih dahulu masuk Islam, sedangkan Wajo dan Bone harus melalui peperangan dulu. Raja Bone yang pertama masuk Islam adalah yang dikenal Sultan Adam.

D. Tumbuh dan berkembangnya kerajaan islam Maluku

Kedatangan Islam ke indonesia bagian Timur yaitu ke Maluku, tidak dapat dipisahkan dari jalan perdagangan yang terbentang antara pusat lalu lintas pelayaran Internasional di Malaka, Jawa dan Maluku. Diceritakan bahwa pada abad ke-14 Raja ternate yang keduabelas, Molomateya, (1350-1357) bersahabat baik dengan orang Arab yang memberikan petunjuk bagaimana pembuatan kapal-kapal, tetapi agaknya bukan dalam kepercayaan. Manurut tradisi setempat, sejak abad ke-14 Islam sudah datang di daerah Maluku. Pengislaman di daerah Maluku, di bawa oleh maulana Husayn. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan Marhum di Ternate.

(8)

Raja Bulawa, artinya raja cengkeh. Sekembalinya dari jawa, Zainal abidin membawa mubaligh yang bernama Tuhubabahul.

Di Banda, Hitu, Maluku dan Bacan sudah terdapat masyarakat Muslim. Di daerah Maluku raja yang mula-mula masuk Islam sebagaimana dijelaskan Tome Pires sejaktahun 1460-1465. Karena usia Islam masih muda di Ternate, Portugis yang sampai di sana tahun 1522 M, berharap dapat menggantikannya dengan agama Kristen. Harapan itu tidak terwujud. Usaha mereka hanya

mendatangkan hasil yang sedikit. Dalam proses Islamisasi di Maluku menghadapi persaingan politik dan monopoli perdagangan diantara orang-orang Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris. Persaingan diantara pedagang-pedagang ini pula menyebabkan persaingan diantara kerajaan-kerajaan Islam sendiri sehingga pada akhirnya daerah Maluku jatuh ke bawah kekuasaan politik dan ekonomi kompeni Belanda.

3. Hubungan Politik dan Keagamaan antara Kerajaan-kerajaan Islam.

Hubungan antara suatu kerajaan Islam dengan kerajaan Islam lainnya pertama-tama memang terjalin karena persamaan agama. Hubungan itu pada mulanya, mengambil bentuk kegiatan dakwah, kemudian berlanjut setelah kerajaan-kerajaan Islam berdiri. Demikianlah misalnya antara Giri dengan daerah-daerah Islam di Indonesia bagian timur, terutama Maluku. Adalah dalam rangka penyebaran Islam itu pula Fadhillah Khan dari Pasai datang ke Demak, untuk memperluas wilayah kekuasaan ke Sunda Kelapa.

Dalam bidang politik, agama pada mulanya dipergunakan untuk memperkuat diri dalam menghadapi pihak-pihak atau kerajaan-kerajaan yang bukan Islam, terutama yang mengancam kehidupan politik maupun ekonomi. Persekutuan antara Demak dengan Cirebon dalam menaklukkan Banten dan Sunda Kelapa dapat diambil sebagai contoh. Contoh lainnya adalah persekutuan

kerajaan-kerajaan Islam dalam menghadapi Portugis dan Kompeni Belanda yang berusaha memonopoli pelayaran dan perdagangan.

Meskipun demikian, kalau kepentingan politik dan ekonomi antarkerajaan-kerajaan Islam itu sendiri terancam, persamaan agama tidak menjamin bahwa permusuhan tidak ada. Peperangan di kalangan kerejaan-kerajaan Islam sendiri sering terjadi. Misalnya, antara, Ternate dan Tidore, Gowa-Tallo dan Bone. Oleh karena kepentingan yang berbeda di antara kerajaan-kerajaan itu pula, sering satu kerajaan Islam meminta bantuan kepada pihak lain, terutama Kompeni Belanda, untuk

mengalahkan kerajaan islam yang lain.

Hubungan antarkerajaan-kerajaan Islam lebih banyak terletak dalam bidang budaya dan keagamaan. Samudera Pasai dan kemudian Aceh yang dikenal dengan Serambi Mekah menjadi pusat pendidikan dan pengajaran Islam. Dari sini ajaran-ajaran Islam tersebar ke seluruh pelosok Nusantara melalui karya-karya ulama dan murid-muridnya yang menuntut ilmu ke sana.

Demikian pula halnya dengan Giri di Jawa Timur terhadap daerah-daerah di Indonesia bagian timur. Karya-karya sastera dan keagamaan dengan segera berkembang di kerajaan-kerajaan Islam. Tema dan isi karya-karya itu seringkali mirip antara satu dengan yang lain. Kerajaan Islam itu telah merintis terwujudnya idiologi kultural yang sama, yaitu Islam. Hal ini menjadi pendorong terjadinya interaksi budaya yang makin erat. [17]

IV. KESIMPULAN

Setelah membahas makalah ini yang begitu panjang, maka dapat diambil kesimpulan bahwasanya kerajaan islam pertama di sumatera ialah kerajaan perlak. Kerajaan ini di dirikan pada hari selasa bulan muharram tahun 225 H / 840 M. Dan sultannya yang pertama ialah syed maulana abdul azis shah, dengan gelar sultan alaiddin syed maulana abdul azis shah.

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azumardi, Perspektif Islam di Asia Tenggara, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1989. Hasymy A., sejarah masuk dan berkembangnya islam di indonesia, Aceh : Alma’arif, 1989. http://m.islamindonesia.co.id/detail/1267-Perlak-Kerajaan-Islam-Pertama-di-Indonesia. H.J. Graaf dan TH.G.TH. Pigeaud, Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Jakarta : Grafiti pers,_____1985.

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997. H.J. De Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram Politik Ekspansi Sultan Agung, Jakarta: Pustaka_____Grafiti pers, 1986.

Syukur, Fatah, Sejarah Peradaban Islam, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra.

J.J. Ras, Hikayat Banjar: A. Study in Malay Histoiography, The Hague Martinus Nijhoff –_____KTLV, 1968.

sasmita, Uka Tjandra, Sejarah Nasional Indonesia III, Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984.

[1] Azumardi Azra, Perspektif Islam di Asia Tenggara, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1989. Hlm. 3

[2] Prof. A. Hasymy, sejarah masuk dan berkembangnya islam di indonesia, Aceh : Alma’arif, 1989. Hlm152-153

[3] Prof. A. Hasymy, sejarah masuk dan berkembangnya islam di indonesia, Aceh : Alma’arif, 1989. Hlm. 195

[4] http://m.islamindonesia.co.id/detail/1267-Perlak-Kerajaan-Islam-Pertama-di-Indonesia.

[5] H.J. Graaf dan TH.G.TH. Pigeaud, Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Jakarta:Grafiti pers,1985. Hlm 49

[6] Badri Yatim,

Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997. Hlm 212

[7] H.J. De Graff dan TH. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti, 2003. Hlm. 238

[8] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997. Hlm.212-214

[9] H.J. De Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram Politik Ekspansi Sultan Agung, Jakarta: Pustaka Grafitipers, 1986. Hlm 301

[10] H.J. De Graff dan TH. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti, 2003.Hlm 244-245

[11] H.J. De Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram Politik Ekspansi Sultan Agung, Jakarta: Pustaka Grafitipers, 1986. Hlm. 301

[12]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997. Hlm 216

[13] Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra. Hlm 208

[14] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997. Hlm 217-218

[15] J.J. Ras, Hikayat Banjar: A. Study in Malay Histoiography, The Hague Martinus Nijhoff – KTLV, 1968. _____hlm. 376 – 398.

[16] Uka Tjandra sasmita, Sejarah Nasional Indonesia III, Jakarta: PN Balai Pustaka,1984.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...