TUGAS UAS
PENDIDIKAN KEWARANEGARAAN KONSEP RELASI AGAMA DI INDONESIA
Disusun oleh : Dwi Ardan Kusnadi
17.05.006 BTP DIV A
PROGRAM STUDI DIPLOMA
BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN DIV POLITEKNIK LPP
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta Karunia-Nya kepada penulis berhasil menyelesaikan Tugas UAS Pendidilan Kewarganegaraan Ini yang Alhamdulillah pada waktunya yang berjudul “Konsep Relasi Agama di Indonesia “.
Tugas ini beriisikan tentang informasi cara perkembangbiakan tanaman secara generatif dan vegetatif, tetapi laporan ini lebih dikhususkan terhadap perkembangbiakan tanaman secara vegetatif yang mudah dan secara umum. Diharapkan Pendidikan Kewarganegaraan ini dapat memberikan informasi dan manfaar kepada pembaca tugas ini.
Penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kata sempurna , oleh karena itu kritik dan saran dari pengoreksi (dosen pembingbing) yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan laporan ini.
PENDAHULUAN
Dalam konteks Indonesia, sejak berabad-abad yang lalu di Kepulauan Nusantara sudah terdapat berbagai agama: Hindu, Budha dan pelbagai kepercayaan, baik animisme maupun dinamisme. Kecenderungan sinkretisme yang mencampurkan berbagai agama yang ada juga menjadi warna tersendiri terutama di Pulau Jawa. Secara akademis membincangkan persoalan agama di keraton-keraton Jawa oleh elit agama juga merupakan tradisi yang tidak asing. Menurut Onghokham, mereka bersikap saling toleran, tanpa perasaan emosi. Namun di sisi lain perbedaan agama atau pendapat mengenai teologi juga seringkali mengakibatkan konflik berdarah.
Pola relasi antar agama pada masa lalu sangat dipengaruhi oleh politik stelsel dan politik keagamaan pemerintah kolonial. Masing-masing dibiarkan dalam sebuah relasi antitesis, persaingan. Sementara Pemerintah kolonial melakukan politik keagamaan yang hanya bertendensi pada dogma (ajaran) bukan etika (perilaku). Akibatnya kehidupan keagamaan kehilangan inspirasi bagi umatnya. Oleh elit penguasa kolonial, komunikasi antarumat beragama dikendalikan sedemikian rupa sehingga tidak berjalan secara bebas dan terbuka.
Agama saat ini merupakan realitas yang berada di sekeliling manusia. Masing-masing manusia memiliki kepercayaan tersendiri akan agama yang dianggapnya sebagai sebuah kebenaran. Agama juga diyakini tidak hanya berbicara soal ritual semata melainkan juga berbicara tentang nilai-nilai yang harus dikonkretkan dalam kehidupan sosial. Termasuk dalam ranah ketatanegaraan muncul tuntutan agar nilai-nilai agama diterapkan dalam kehidupan bernegara. Masing-masing penganut agama meyakini bahwa ajaran dan nilai-nilai yang dianutnya harus ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. (Anshari Thayib, 1997: v)
PEMBAHASAN Pengertian Negara
Secara literal, istilah Negara merupakan terjemahan dari kata asing, yakni state(bahasa Inggris), staat (bahasa Belanda dan Jerman), dan etat (bahasa Prancis). Kata state,staat, etat diambil dari kata bahasa latin status atau statum, yang berarti keadaan yang tegak dan tetap atau sesuatu yang memiliki sifat-sifat yang tegak dan tetap.
Secara terminology, Negara adalah organisasi tertinggi diantara satu kelompok masyarakat yang mempunyai cita-cita untuk bersatu, hidup dalam daerah tertentu dan mempunyai pemerintah yang berdaulat. Dengan demikian unsur dalam sebuah Negara terdiri dari masyarakat(rakyat), adanya wilayah(daerah), dan adanya pemerintah yang berdaulat.
Menurut Roger H. Soltao, Negara adalah alat (agency) atau wewenang yang mengatur persoalan bersama atas nama masyarakat. Sedangkan menurut islam, dalam Al-Qur’an dan Al- Sunnah pengertian Negara tidak dijelaskan secara eksplinsit, hanya trdapat prinsip-prinsp dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan mengembangkan paradigma tentang teori khifalah dan imamah.
Bentuk-bentuk Negara a) Negara Kesatuan
Negara kesatuan merupakan bentuk suatu Negara yang merdeka dan berdaulat. Dengan satu pemerintah yang mengatur seluruh daerah.
b) Negara serikat
Negara dan Agama
Negara dan agama merupakan persoalan yang banyak menimbulkan perdebatan (discoverese) yang terus berkelanjutan di kalangan para ahli.
Hubungan agama dan Negara menurut paham teokrasi
Negara menyatu dengan agama. Karena pemerintahan menurut paham ini di jalankan berdasarkan firman-firman tuhan segala kata kehidupan dalam masyarakat bangsa, Negara di lakukan atas titah Tuhan.
Hubungan Agama dan Negara menurut paham sukuler
Norma hukum ditentukan atas kesepakatan manusia dan tidak berdasarkan agama atau firman-firman Tuhan. Meskipun mungkin norma-norma tersebut bertentangan dengan norma-norma agama.
Hubungan Agama dengan Kehidupan Manusia
Kehidupan manusia adalah dunia manusia itu sendiri yang kemudian menghasilkan masyarakat Negara. Sedangkan Agama dipandang sebagai realisasi fantastis makhluk manusia, agama merupakan keluhan makhluk tertindas.
Konsep Relasi Negara dan Agama
Ketegangan perdebatan tentang hubungan agama dan Negara ini di ilhami oleh hubungan yang agak canggung antara islam. Sebagai agama(din) dan Negara (dawlah), agama dan Negara merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan dua lembaga politik dan sekaligus lembaga agama.
Hubungan Agama dan Negara dalam Islam
Azra mengatakan bahwa ketegangan perdebatan tentang hubungan agama dan Negara ini diilhami oleh hubungan yang agak canggung antara islam sebagai agama (din) dan Negara (dawlah), berbagai eksperimen dilakuakn dalam menyelaraskan antara din dengan konsep dan kultur politik masyarakat muslim, dan eksperimen tersebut dalam banyak hal sangat beragam.
Dalam lintasan historis Islam, hubungan agama dan Negara dan system politik menunjukan fakta yang sangat beragam. Banyak para ulama tradisional beragumen bahawa Islam merupakan system kepercayaan dimana agama memiliki hubungan erat dengan politik. Islam memberikan pandangan dunia dan makna hidup bagi manusia termasuk bidang politik. Dari sudut pandang ini maka pada dasarnya dalam Islam tidak ada pemisahan antara agama (din) dan politik (dawlah). Argumentsi ini sering dikaitkan dengan posisi nabi Muhammad ketika berada di madinah yang membangun system pemerintahan dalam sebuah Negara kota (city-state). Di Madinah Rasulullah berperan sebagai kepala pemerintahan sekaligus sebagai kepala agama.
Dalam lintas sejarah dan opini para teoritis politik Islam ditemukan beberapa pendapat yang berkenaan dengan konsep hubungan agama dan Negara, antara lain dapat dirangkum ke dalam (tiga) 3 paradigma, yakni integralistik, simbiotik dan sekuleristik. Paradigma Simbiotik mutualistic
Simbiotik mutualistik adalah salah satu dari tiga jenis paradigma relasi (paradigma integralistik, paradigma simbiotik mutualistik, dan paradigma sekularistik) antara agama dan Negara. Maksud dari simbiotik mutualistik itu sendiri adalah hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Dalam konteks ini, agama membutuhkan negara sebagai instrument dalam melestarikan dan mengembangkan agama. Begitu juga sebaliknya, negara juga memerlukan agama, karena agama juga membantu negara dalam pembinaan moral, etika, dan spiritualitas. Agama perlu landasan etik untuk mengatur masyarakat dan agama membutuhkan negara sebagai tempat untuk mengembangkannya.
Paradigma Simbiotik dimana peran agama dan Negara tidak menyatu (Indosesia bukan Negara Islam meski mayoritas masyarakatnya Islam) dan tidak terpisah. Negara Indonesia menjamin kebebasan beragama serta melindungi para penganut agama sebagaimana disebutkan dalam UUD 1945, pasal 28E ayat (1) yang menyatakan, ”Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya….” dan pasal 28E ayat (2) berbunyi, ”Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran, dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.” Selain itu, kebebasan beragama juga diatur dalam pasal 29 ayat (2) bahwa, ”Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”
Tetapi pada kenyataannya pada masyarakat, agama juga hampir selalu dijadikan sebagai alat ukur atau pembenaran (justifikasi) dalam setiap langkah kehidupan. Pembenaran atas nama agama itu terjadi dalam interaksi terhadap sesama maupun kepada sumber agama tersebut “Hubungan dengan sesama manusia dan hubungan dengan Tuhannya”. Akibatnya dalam ranah horisontal (hubungan sesama manusia) konflik antar agama sering kali tidak terelakkan.
Paradigma ini menyatakan bahwa negara dan agama adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling melengkapi dan memberi kekuatan. Dalam sebuah negara pasti terdapat lembaga negara sekaligus lembaga politik, karena paham ini tidak mengenal adanya pemisahan antara keduanya. Jadi dalam menjalankan kehidupan selain mengunakan kaidah politik, juga digunakannya nilai-nilai agama untuk mengatur segala tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Segala tata pemerintahan berbangsa dan bernegara didasarkan atas firman Tuhan.
Menurut paradigma ini, kepala negara adalah pemegang kekuasaan agama dan politik, karena didalamnya diyakini bahwa kekuasaan berasal dari Tuhan. Dalam Islam, Allah berfirman memerintahkan khalifah untuk menjaga bumi. Kemudian Imam adalah pemimpin dalam keagamaan sekaligus pemimpin dalam politik atau negara.
Paradigma Sekuleristik
Sekularisme yang dalam bahasa Arabnya dikenal “al-’Ilmaniyyah”, diambil dari kata ilmu. Konon, secara mafhum, ia bermaksud mengangkat martabat ilmu.Dalam hal ini tentu tidak bertentangan dengan paham Islam yang juga menjadikan ilmu sebagai satu perkara penting manusia. Bahkan, sejak awal, Islam menganjurkan untuk memuliakan ilmu. Tetapi sebenarnya, penerjemahan kata sekular kepada “al-’Ilmaniyyah” hanyalah tipu daya yang berlindung di balik selogan ilmu
Negara dan Agama merupakan dua bentuk yang berbeda dan satu sama lain memiliki garapan bidangnya masing-masing, sehingga keberadaannya harus dipisahkan dan tidak boleh satu sama lain melakukan intervensi. Berdasar pada pemahaman yang dikotomisini, maka hokum positif yang berlaku adalah hukum yang betul-betul berasal dari kesepakatan manusia melalui social contract dan tidak ada kaitannya dengan hukum Agama. (Agus Thohir, 2009: 4)
Paradigma ini memunculkan Negara sekuler. Dalam Negara sekuler, tidak ada hubungan antara system kenegaraan dengan agama. Dalam paham ini, Negara adalah urusan hubungan manusia dengan manusia lain, atau urusan dunia. Sedangkan agama adalah hubungan manusia dengan Tuhan. Dua hal ini, menurut paham sekuler tidak dapat disatukan.
Dalam Negara sekuler, system dan norma hokum positif dipisahkan dengan nilai dan norma Agama. Norma hokum ditentukan atas kesepakatan manusia dan tidak berdasarkan Agama atau firman-firman Tuhan, meskipun mungkin norma-norma tersebut bertentangan dengan norma-norma Agama. Sekalipun ini memisahkan antara Agama dan Negara, akan tetapi pada lazimnya Negara sekuler membebaskan warganegaranya untuk memeluk Agama apa saja yang mereka yakini dan Negara tidak intervensif dalam urusan – urusan Agama (Syari’at).
Relasi Negara dan Agama Menurut Konstitusi Indonesia
Persoalan relasi antara negara dan agama juga ada di dalam kehidupan bernegara di Indonesia. Relasi negara dan agama di Indonesia selalu mengalami pasang surut karena relasi antar keduanya tidak berdiri sendiri melainkan dipengaruhi oleh persoalan-persoalan lain seperti politik, ekonomi, dan budaya.
Founding Fathers kita menyadari betapa sulitnya merumuskan dasar filsafat negara Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam etnis, ras, agama serta golongan politik yang ada di Indonesia ini. Perdebatan tentang dasar filsafat negara dimulai tatkala Sidang BPUPKI pertama, yang pada saat itu tampillah tiga pembicara, yaitu Yamin pada tanggal 29 Mei 1945, Soepomo pada tanggal 31 Mei, dan Soekarno pada tanggal 1 Juni, tahun 1945. Berdasarkan pidato dari ketiga tokoh pendiri negara tersebut, persoalan dasar filsafat negara (Pancasila) menjadi pusat perdebatan antara golongan Nasionalis dan Golongan Islam. Pada awalnya golongan Islam menghendaki negara berdasarkan Syari’at Islam, namun golongan nasionalis tidak setuju dengan usulan tersebut. Kemudian terjadilah suatu kesepakatan dengan ditandatanganinya Piagam Jakarta yang dimaksudkan sebagai rancangan Pembukaan UUD Negara Indonesia pada tanggal 22 Juni 1945. (Kaelan, 2009: 11-12)
Pendiri negara Indonesia menentukan pilihan yang khas dan inovatif tentang bentuk negara dalam hubungannya dengan agama. Pancasila sila pertama, ”Ketuhanan yang Maha Esa”, dinilai sebagai paradigma relasi negara dan agama yang ada di Indonesia. Selain itu, melalui pembahasan yang sangat serius disertai dengan komitmen moral yang sangat tinggi sampailah pada suatu pilihan bahwa negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Mengingat kekhasan unsur-unsur rakyat dan bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai macam etnis, suku, ras agama nampaknya Founding Fathers kita sulit untuk menentukan begitu saja bentuk negara sebagaimana yang ada di dunia. (Kaelan, 2009: 24)
Indonesia bukan negara agama melainkan negara hukum. Hukum menjadi panglima, dan kekuasaan tertinggi di atas hukum. Artinya bahwa Undang-Undang dibuat oleh lembaga legislatif yaitu Dewan Perwakilan Rakyat, dan Anggota DPR terdiri dari berbagai suku, etnis, agama, jenis kelamin dan sebagainya. Hukum di Indonesia tidak dibuat oleh kelompok agama. Jadi agama tidak pernah mengatur negara, begitu juga sebaliknya negara tidak semestinya mengatur kehidupan beragama seseorang.
Sesuai dengan prinsip “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa” maka agama-agama di Indonesia merupakan roh atau spirit dari keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (Lukman Hakim Saifuddin, 2009: 9). Menurut Adi Sulistiyono, agama diperlakukan sebagai salah satu pembentuk cita negara (staasidee). (Adi Sulistiyono, 2008: 3)
Namun hal itu bukan berarti bahwa Indonesia merupakan negara teokrasi. Relasi yang terjalin antara negara Indonesia dan agama ialah relasi yang bersifat simbiosis-mutualistis di mana yang satu dan yang lain saling memberi. Dalam konteks ini, agama memberikan “kerohanian yang dalam” sedangkan negara menjamin kehidupan keagamaan. (Lukman Hakim Saifuddin, 2009: 10)
Indonesia bukan negara agama melainkan negara hukum. Hukum menjadi panglima, dan kekuasaan tertinggi di atas hukum. Artinya bahwa Undang-Undang dibuat oleh lembaga legislatif yaitu Dewan Perwakilan Rakyat, dan Anggota DPR terdiri dari berbagai suku, etnis, agama, jenis kelamin dan sebagainya. Hukum di Indonesia tidak dibuat oleh kelompok agama. Jadi agama tidak pernah mengatur negara, begitu juga sebaliknya negara tidak semestinya mengatur kehidupan beragama seseorang. (http://legal.daily-thought.info/2010/02/relasi-negara-dan-agama-jaminan-kebebasan-beragama-antara-indonesia-dan-amerika-serikat/)
menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Sementara di sisi lain, terbukanya kemungkinan agama-agama disalahgunakan sebagai sumber dan landasan praktek-praktek otoritarianisme juga harus dikontrol dan diimbangi oleh peraturan dan norma kehidupan kemasyarakatan yang demokratis yang dijamin dan dilindungi negara. (Lukman Hakim Saifuddin, 2009: 10)
KESIMPULAN Kesimpulan
1. Relasi antara agama dan negara dapat dipandang dari beberapa paham, diantaranya adalah paham teokrasi, sekulerisme, dan komunisme.
a) Paham Teokrasi menjelaskan negara adalah amanat dari agama.
b) Paham sekularisme antara agama dan negara adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
c) Paham komunisme beranggapan bahwa antara negara dan agama tidak dapat disatukan.
2. Paradigma hubungan Negara dan agama dalam Islam diantaranya,
a) paradigma simbiotik mutualistik yaitu hubungan timbal balik yang saling menguntungkan,
b) paradigma integralistik yaitu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi. 2003. Demokrasi, Hak Asasi Manusia Masyarakat Madani. Jakarta : ICCE UIN
Kaelan. 2009. ”Relasi Negara dan Agama Dalam Perspektif Filsafat Pancasila”. Makalah. Yogyakarta, tanggal 1 Juni 2009.
Makhrus, dkk. 2005. Pancasila dan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga
Sulistyon, A. 2008. ”Kebebasan Beragama dalam Bingkai Hukum”. Makalah Seminar Hukum Islam dengan Tema Kebebasan Berpendapat VS Keyakinan Beragama ditinjau dari Sudut Pandang Sosial, Agama, dan Hukum yang diselenggarakan oleh FOSMI Fakultas Hukum UNS, Surakarta, tanggal 8 Mei 2008.
Syamsudin, M. Dien. 1994. Islam dan Politik Orde Baru. Jakarta : Logos
Thayib, A. 1997. HAM dan Pluralisme Agama. Surabaya: Pusat Kajian Strategis dan Kebijakan
Thohir, A. 2009. ”Relasi Agama dan Negara”. Makalah Diskusi Kajian Spiritual yang diselenggarakan oleh HMI Komisariat FPBS IKIP PGRI, Semarang, tanggal 4 November 2009.
Toriqudin, Moh. 2009. Relasi Agama dan Negara. Malang: UIN Malang Press Wahid, M & Rumaidi. 2001. Fiqh Madzhab Negara: Kritik Atas Politik Hukum