• Tidak ada hasil yang ditemukan

DASAR DASAR PERTIMBANGAN PENGEMBANGAN PR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DASAR DASAR PERTIMBANGAN PENGEMBANGAN PR"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

DASAR – DASAR PERTIMBANGAN PENGEMBANGAN

PROGRAM PEMBELAJARAN TERPADU

TUGAS KELOMPOK

Disusun sebagai syarat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “ Pembelajaran Terpadu”

(Dosen: Yulina Ismiati, S.Pd, M.Pd )

Disusun oleh:

1. Khoirul Aristanto (34301200) 2. Muhammad Fadli (34301200) 3. Ida Rahmahwati (34301200098) 4. Elien Dwijayanti (34301200) 5. Aci Triam P (34301200) 6. Destiana Ayu S (34301200) 7. Firkotun Najiyah (34301200)

Kelas VB

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(2)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT dan atas segala Rahmat-Nya karena penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Dasar-Dasar Pertimbangan Pengembangan Program Pembelajaran Terpadu”. Makalah ini disusun dalam rangka pemenuhan tugas mata kuliah Pembelajaran Terpadu.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini, khususnya kepada Ibu Yulina Ismiati selaku dosen mata kuliah Pembelajaran Terpadu dan kepada orang tua kami yang telah memberikan dorongan material dan moril.

Kritik dan saran para pembaca akan diterima demi penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat, khusunya bagi penulis, bagi pembaca dan semua pihak.

Semarang, 02 Oktober 2014

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

KATA PENGANTAR... ii

DAFTAR ISI... iii

BAB 1 PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 2

C. Tujuan Masalah... 2

BAB II PEMBAHASAN... 3

A. Konsep Karakteristik pada Anak SD ... 3

B. Konsep Disiplin Ilmu... 10

BAB III PENUTUP... 15

A. Simpulan ... 15

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep karakteristik pada anak SD?

2. Bagaimana konsep disiplin ilmu?

C. Tujuan Masalah

1. Mengetahui tentang konsep karakteristik pada anak SD?

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Karakteristik pada Anak SD

Ada beberapa karakteristik anak di usia Sekolah Dasar yang perlu diketahui para guru, agar lebih mengetahui keadaan peserta didik khususnya ditingkat Sekolah Dasar. Sebagai guru harus dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan siswanya maka sangatlah penting bagi seorang pendidik mengetahui karakteristik siswanya. Selain karakteristik yang perlu diperhatikan yaitu kebutuhan peserta didik.

1. Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar

Anak SD merupakan anak dengan katagori banyak mengalami perubahan yang sangat drastis baik mental maupun fisik. Usia anak SD yang berkisar antara 6 – 12 tahun menurut Seifert dan Haffung memiliki tiga jenis perkembangan :

a. Perkembangan Fisik Siswa SD

Mencakup pertumbuhan biologis misalnya pertumbuhan otak, otot dan tulang. Pada usia 10 tahun baik laki‐laki maupun perempuan tinggi dan berat badannya bertambah kurang lebih 3,5 kg. Namun setelah usia remaja yaitu 12 ‐13 tahun anak perempuan berkembang lebih cepat dari pada laki‐laki, Sumantri dkk (2005).

- Usia masuk kelas satu SD atau MI berada dalam periode peralihan dari pertumbuhan cepat masa anak anak awal ke suatu fase perkembangan yang lebih lambat. Ukuran tubuh anak relatif kecil perubahannya selama tahun tahun di SD.

(6)

- Akhir kelas empat, pada umumnya anak perempuan mulai mengalami masa lonjakan pertumbuhan. Lengan dan kaki mulai tumbuh cepat.

- Pada akhir kelas lima, umumnya anak perempuan lebih tinggi, lebih berat dan lebih kuat daripada anak laki‐laki. Anak laki‐laki memulai lonjakan pertumbuhan pada usia sekitar 11 tahun.

- Menjelang awal kelas enam, kebanyakan anak perempuan mendekati puncak tertinggi pertumbuhan mereka. Periode pubertas yang ditandai dengan menstruasi umumnya dimulai pada usia 12‐13 tahun. Anak laki‐laki memasuki masa pubertas dengan ejakulasi yang terjadi antara usia 13‐16 tahun.

- Perkembangan fisik selama remaja dimulai dari masa pubertas. Pada masa ini terjadi perubahan fisiologis yang mengubah manusia yang belum mampu bereproduksi menjadi mampu bereproduksi.

Hampir setiap organ atau sistem tubuh dipengaruhi oleh perubahan perubahan ini. Anak pubertas awal (prepubertas) dan remaja pubertas akhir (postpubertas) berbeda dalam tampakan luar karena perubahan perubahan dalam tinggi proporsi badan serta perkembangan ciri‐ciri seks primer dan sekunder.

(7)

b. Perkembangan Kognitif Siswa SD

Hal tersebut mencakup perubahan – perubahan dalam perkembangan pola pikir. Tahap perkembangan kognitif individu menurut Piaget melalui empat stadium:

a. Sensorimotorik (0‐2 tahun), bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan medorong mengeksplorasi dunianya.

b. Praoperasional (2‐7 tahun), anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata‐kata. Tahap pemikirannya yang lebih simbolis, tetapi tidak melibatkan pemikiran operasiaonal dan lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis.

c. Operational Kongkrit (7‐11), penggunaan logika yang memadai. Tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit.

d. Operasional Formal (12‐15 tahun). kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia

c. Perkembangan Psikososial

Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan dan perubahan emosi individu. J. Havighurst mengemukakan bahwa setiap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek lain seperti di antaranya adalah aspek psikis, moral dan sosial.

Menjelang masuk SD, anak telah Mengembangkan keterampilan berpikir bertindak dan pengaruh sosial yang lebih kompleks. Sampai dengan masa ini, anak pada dasarnya egosentris (berpusat pada diri sendiri) dan dunia mereka adalahrumah keluarga, dan taman kanak‐kanaknya.

(8)

Daya konsentrasi anak tumbuh pada kelas kelas besar SD. Mereka dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk tugas tugas pilihan mereka, dan seringkali mereka dengan senang hati menyelesaikannya. Tahap ini juga termasuk tumbuhnyatindakan mandiri, kerjasama dengan kelompok dan bertindak menurut cara cara yang dapat diterima lingkungan mereka. Mereka juga mulai peduli pada permainanyang jujur.

Selama masa ini mereka juga mulai menilai diri mereka sendiri dengan membandingkannya dengan orang lain. Anak anak yang lebih mudah menggunakan perbandingan sosial (social comparison) terutama untuk norma‐ norma sosial dan kesesuaian jenis‐jenis tingkah laku tertentu. Pada saat anak‐anak tumbuh semakin lanjut, mereka cenderung menggunakan perbandingan sosial untuk mengevaluasidan menilai kemampuan kemampuan mereka sendiri.

(9)

cara cara yang tidak mereka bayangkan beberapa tahun sebelumnya. Malahan, beberapa anak mungkinsecara terbuka menentang gurunya.

Salah satu tanda mulai munculnya perkembangan identitas remaja adalah reflektivitas yaitu kecenderungan untuk berpikir tentang apa yang sedang berkecamuk dalam benak mereka sendiri dan mengkaji diri sendiri. Mereka juga mulai menyadari bahwa ada perbedaan antara apa yang mereka pikirkan dan mereka rasakan serta bagaimana mereka berperilaku.

Mereka mulai mempertimbangkan kemungkinan‐kemungkinan. Remaja mudah dibuat tidak puas oleh diri mereka sendiri. Mereka mengkritik sifat pribadi mereka, membandingkan diri mereka dengan orang lain, dan mencoba untuk mengubah perilaku mereka. Pada remaja usia 18 tahun sampai 22 tahun, umumnya telah mengembangkan suatu status pencapaian identitas.

2. Kebutuhan Peserta Didik Siswa SD

1. Anak SD Senang Bermain

Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yangbermuatan permainan lebih – lebih untuk kelas rendah. Guru SD seyogyanya merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya. Guru hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius tapi santai. Penyusunan jadwal pelajaran hendaknya diselang saling antara mata pelajaran serius seperti IPA, Matematika, dengan pelajaran yang mengandung unsurpermainan seperti pendidikan jasmani, atau Seni Budaya dan Keterampilan (SBK).

2. Anak SD Senang Bergerak

(10)

merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anaksebagai siksaan.

3. Anak usia SD Senang Bekerja dalam Kelompok.

Anak usia SD dalam pergaulannya dengan kelompok sebaya, mereka belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga dan membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Guru dapat meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil dengan anggota 3‐4 orang untuk mempelajari atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok.

4. Anak SD Senang Merasakan atau Melakukan/Memperagakan sesuatu Secara Langsung

(11)

Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah mata angin, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah angina, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secarapersis dari arah mana angina saat itu bertiup.

3. Implikasi Karakteristik Peserta Didik terhadap Penyelenggaraan Pendidikan bagi Anak Usia Sekolah Dasar

1. Karakteristik anak usia SD adalah senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, serta senang merasakan/ melakukan sesuatu secara langsung. Oleh karena itu, guru hendaknya mengembangkan pembelajaran yang mengandung unsur permainan, memungkinkan siswa berpindah atau bergerak dan bekerja atau belajar dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam pembelajaran.

2. Menurut Havighurst tugas perkembangan anak usia SD adalah sebagai berikut :

a. menguasai keterampilan fisik yang diperlukan dalam permainan dan aktivitas fisik,

b. membangun hidup sehat mengenai diri sendiri dan lingkungan,

c. belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok sebaya,

d. belajar menjalankan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin,

e. mengembangkan keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung, agar mampu berpartisipasi dalam masyarakat,

f. mengembangkan konsep‐konsep hidup yang perlu dalam kehidupan,

g. mengembangkan kata hati, moral, dan nilai‐nilai sebagai pedoman perilaku,

h. mencapai kemandirian pribadi.

(12)

1. menciptkaan lingkungan teman sebaya yang mengajarkan keterampilan fisik,

2. melaksanakan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar bergaul dan bekerja dengan teman sebaya sehingga kepribadian sosialnya berkembang,

3. mengembangkan kegiatan pembelajaran yang memberikan pengalaman yang konkret atau langsung dalam membangun konsep; serta

4. melaksanakan pembelajaran yang dapat mengembangkan nilai‐nilai sehingga siswa mampu menentukan pilihan yang stabil dan menjadi pegangan bagi dirinya.

Pendidikan di SD merupakan jenjang pendidikan yang mempunyai peranan sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

B. Konsep Disiplin Ilmu

Menurut Parker (2006: 141) Kedisiplinan adalah salah satu aspek dari pengasuhan anak yang menyebabkan kebanyakan orang tua merasa malu. Ada kegamangan yang luar biasa tentang apa dan bagaimana kita mesti menerapkan kedisiplinan dan bagaimana kita mesti bersikap untuk membatasi perilaku burukk anak namun dengan tanpa memainkan kekuasaan dan menyebabkan keretakan yang sulit diperbaiki antara orang tua dan anak.

Dengan kedisiplinan ada empat tujuan yang ingin dicapai, yaitu:

a. Kedisiplinan harus membuka jalan bagi anak-anak untuk menanamkan kedisiplinan diri.

(13)

c. Kedisiplinan harus mendorong kepada fleksibilitas dan inisiatif guna mempersiapkan anak agar mampu bertahan di dunia yang berubah cepat seperti sekarang.

d. Orang tua harus merasa bahagia dengan kedisiplinan dan merasa mudah untuk menerapkannya.

Menurut Rimm (2003: 47) Tujuan disiplin adalah mengarahkan anak agar mereka belajar mengenai hal-hal baik yang merupakan persiapan bagi masa dewasa, saat mereka sangat bergantung kepada disiplin diri. Tujuan tersebut diterapkan bagi anak sejak mereka balita hingga masa kanak-kanak dan sampai usia remaja.

Kapan dan bagaimana cara menerapkan disiplin sangat bervariasi, bergantung pada tahap perkembangan dan tempramen masing-masing anak. Meski norma-norma yang berlaku dalam keluarga anda menentukan arah perkembangan anak, susunan genetik saat anak lahir sangat menentukan temperamen, besarnya energi serta kemampuan anak. Tentu saja lingkungan sekolah, teman dan saudara juga memberi pengaruh bagi disiplin anak dengan semakin bertambahnya usia mereka. Meskipun demikian, ada penerapan disiplin yang berlaku umum, yang berlaku bagi semua usia dankepribadian. Prioritas utama adalah mendidik anak secara positif, bersikap tegas jika sesekali anak memberontak, disiplin dimulai sejak anak mulai bisa merangkak atau usia balita, dan lebih baik membuat benda-benda di dalam rumah yang aman bagi anak-anak dari pada menepuk tangan dan berkata “jangan” setiap kali anak menyentuh sesuatu.

(14)

pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Macam – Macam Kedisiplinan a. Disiplin dalam Menggunakan Waktu

Maksudnya bisa menggunakan dan membagi waktu dengan baik. Karena waktu amat berharga dan salah satu kunci kesuksesan adalah dengan bisa menggunakan waktu dengan baik.

b. Disiplin dalam Beribadah

Maksudnya ialah senantiasa beribadah dengan peraturan-peratuaran yang terdapat didalamnya. Kedisiplinan dalam beribadah amat dibutuhkan, Allah SWT senantiasa menganjurkan manusia untuk disiplin, sebagai contoh firman Allah SWT.

c. Disiplin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

Kedisiplinan merupakan hal yang amat menentukan dalam proses pencapaian tujuan pendidikan, sampai terjadi erosi disiplin maka pencapaian tujuan pendidikan akan terhambat, diantara faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah:

1) Faktor tuntutan materi lebih banyak sehingga bagaimana pun jalannya, banyak ditempuh untuk menutupi tuntutan hidup.

2) Munculnya selera beberapa manusia yang ingin terlepas dari ikatan dan aturan serta ingin sebebas-bebasnya.

3) Pola dan sistem pendidikan yang sering berubah.

4) Motivasi belajar para peserta didik dan para pendidik menurun. 5) Longgarnya peraturan yang ada.

(15)

memerlukan pemahaman tentang landasan ilmu kependidikan akan keguruan sebab saat ini banyak terjadi erosi sopan santun dan erosi disiplin.

Macam-macam bentuk disiplin selain seperti yang disebutkan diatas, disiplin juga terbagi menjadi:

a. Disiplin Diri Pribadi

Apabila dianalisi maka disiplin menganung beberapa unsur yaitu adanya sesuatu yang harus ditaati atau ditinggalkan dan adanya proses sikap seseorang terhadap hal tersebut. Disiplin diri merupakan kunci bagi kedisiplinan pada lingkungan yang lebih luas lagi. Contoh disiplin diri pribadi yaitu tidak pernah meninggalkan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. b. Disiplin Sosial

Pada hakekatnya disiplin sosial adalah disiplin dari dalam kaitannya dengan masyarakat atau dalam hubunganya dengan. Contoh prilaku disiplin sosial adalah melaksanakan siskampling kerja bakti. Senantiasa menjaga nama baik masyarakat dan sebagainya.

c. Disiplin Nasional

Berdasarkan hasil perumusan lembaga pertahanan nasional, yang diuraikan dalam disiplin nasional untuk mendukung pembangunan nasional. Disiplin nasional diartikan sebagai status mental bangsa yang tercemin dalam perbuatan berupa keputusan dan ketaatan. Baik secara sadar maupun melalui pembinaan terhadap norma-norma kehidupan yang berlaku.

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

(16)

Sekolah Dasar. Sebagai guru harus dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan siswanya maka sangatlah penting bagi seorang pendidik mengetahui karakteristik siswanya. Selain karakteristik yang perlu diperhatikan yaitu kebutuhan peserta didik.

Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peratuaran (hukum) atau tunduk pada pengawasan dan pengendalian. Kedua disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib. Sedangkan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik dan mengevaluasi peserta didik, pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

B. Saran

1. Dengan adanya pemaparan berbagai karakteristik pada anak SD, diharapkan mampu memahami dan mengenali berbagai karakteristik pada anak didik Sekolah Dasar.

2. Dengan mengetahui disiplin ilmu, diharapkan dapat menjadikan pembaca, khususnya orang tua dan pendidik dalam memberikan pengetahuan sikap disiplin pada anak maupun anak didik Sekolah Dasar.

3. Dengan penerapan disiplin ilmu yang tepat bagi anak didik pada usia dini mampu memunculkan generasi-generasi bangsa yang menjunjung tinggi sikap disiplin.

DAFTAR PUSTAKA

Parker. D. K. (2006). Menumbuhkan Kemandirian dan Harga Diri Anak. Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya

Referensi

Dokumen terkait

penulisan hukum dengan judul Peran Badan Lingkungan Hidup Dalam.. Pengawasan Kegiatan Usaha Laundry Sebagai Upaya Pengendalian

Pengertian Pengawasan Melekat itu sendiri dalam Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI tersebut diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang besifat sebagai pengendalian yang

E-ISSN: 2654-9050 - 29 Ayat kedua membuat pemilahan: pertama, hukum gereja melarang perkawinan antara saudara-saudari sekandungan (garis menyamping tingkat kedua); kedua, hukum

Jika hukum diartikan sebagai instrumen kebudayaan yang berfungsi untuk menjaga keteraturan sosial (social order), atau sebagai sarana pengendalian sosial (social control),

Alih-alih melihat masyarakat hukum adat dalam identitas tunggalnya sebagai warga negara yang mutlak harus tunduk pada hukum positif sehingga jikalaupun harus

dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum” 10 , sehingga dalam peraturan

(7) Jika suatu tempat ditetapkan sebagai tempat berdiam, maka orang-orang yang bersangkutan dapat ditempatkan dalam pengawasan istimewa serta mereka harus tunduk pada

Menurut Mulyono 2009: 18, pengelolaan atau manajemen diartikan sebagai perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan dan evaluasi dalam kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh