• Tidak ada hasil yang ditemukan

Media Massa Sebagai Pemicu Konflik dan P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Media Massa Sebagai Pemicu Konflik dan P"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Media Massa Sebagai Pemicu Konflik dan Pencipta Perdamaian Emir Chairullah

Media massa, baik mainstream maupun alternatif, selalu menjadi pedang bermata dua di tengah hubungan antar masyarakat maupun negara. Di satu sisi media massa bisa menjadi alat untuk menciptakan perdamaian di tengah konflik yang terjadi di dalam masyarakat. Dalam hal ini, media berfungsi untuk mencegah dan meredakan konflik yang bakal atau tengah berlangsung dengan memberikan pencerahan mengenai akar permasalahan dan akibat yang ditimbulkan konflik melalui pemberitaan akurat, obyektif, dan bertanggung jawab. Sehingga kelompok masyarakat atau bahkan negara yang terlibat konflik lebih mudah untuk diajak berekonsialiasi dalam menciptakan

perdamaian.

Namun di sisi lain, kebanyakan wartawan maupun institusi media secara sadar maupun tidak sadar menjadikan media sebagai alat pemicu konflik dan bahkan penebar kebencian. Media seperti ini cenderung melakukan propaganda untuk terus meningkatkan ketegangan dan memprovokasi kelompok yang sedang berkonflik. Melalui pemberitaan yang sumir dan cenderung bias serta tidak toleran, informasi yang diberitakan media justru menyulut ketegangan kecil menjadi besar dan tidak jarang mengarah ke peperangan yang memakan ribuan nyawa manusia.

Pada bagian ini, penulis akan membahas bagaimana seharusnya media massa berperan dalam meredakan konflik berskala nasional maupun internasional. Penulis mencoba mengungkap

persoalan yang selama ini terjadi di dalam industri media ketika memberitakan konflik yang menjurus ke arah kekerasan bahkan perang. Tak lupa tulisan ini bakal menuangkan pengalaman pribadi penulis saat meliput konflik antar etnis yang melibatkan masyarakat suku Rohingya dan Rakhine di Myanmar yang sempat disalahpersepsikan oleh masyarakat internasional termasuk Indonesia.

Jurnalisme Perang dan Damai

Kajian pemberitaan media massa sebagai alat untuk pencetus konflik sekaligus penggagas

perdamaian di dalam kelompok masyarakat baik berskala nasional maupun antar negara bukan hal yang baru dalam studi jurnalistik maupun hubungan internasional. Johan Galtung menawarkan perspektif jurnalisme damai (peace journalism) untuk memberitakan sebuah konflik atau

peperangan. Berbeda dengan jurnalisme perang (war journalism) yang lebih mempromosikan konflik atau peperangan sebagai produk untuk dijual, jurnalisme damai menganggap sebuah konflik atau perang merupakan sebuah persoalan yang harus diatasi secepat mungkin.1

Dilihat dari obyeknya, wartawan atau media yang menggunakan perspektif jurnalisme perang mengutamakan konflik dengan kekerasan, korban yang tewas, dan kerugian material sebagai jualan utamanya. Sedangkan jurnalisme damai justru mengedepankan aspek korban atau human interest sebagai informasi yang harus diberitakan. Jurnalisme damai mengekspos masalah penderitaan korban yang muncul akibat konflik serta kerusakan dan kerugian psikologis korban.

Menurut Galtung, model pemberitaan jurnalisme perang tidak ubahnya dengan jurnalisme olahraga (sports journalism) dimana dalam suatu pertandingan yang melibatkan dua atau lebih kelompok pasti ada yang menang atau kalah (win-lose). Akibatnya berdasarkan perpektif ini, media kurang berminat menggali asal muasal konflik dan seringkali abai dalam mencari alternatif penyelesaian konflik. Bagi

(2)

Galtung, untuk memberitakan suatu konflik atau perang, seharusnya wartawan atau institusi media lebih menerapkan gaya penulisan jurnalisme (health journalism) kesehatan yang lebih

menginformasikan bagaimana pasien berperang mengatasi penyakit dan mencari tahu penyebab dan obatnya.2 Dengan mengadopsi gaya penulisan ini, media mengutamakan bagaimana mengubah perang menjadi perdamaian atau mencari alternatif penyelesaian perang tanpa menggunakan jalur kekerasan.

Untuk memudahkan bagaimana sebaiknya pemberitaan suatu konflik dilakukan, Ross Howard menggunakan istilah jurnalisme sensitif konflik (conflict-sensitive journalism) sebagai bahan referensi para jurnalis maupun industri media.3 Bagi Howard, media bisa menjadi 'alat' resolusi konflik ketika informasi yang disajikan sangat handal, menghormati hak asasi manusia, dan mewakili berbagai sudut pandang. Media dalam hal ini diharapkan menjunjung tinggi akuntabilitas dan mengekspos penyimpangan yang terjadi. Sehingga memungkinkan masyarakat untuk membuat pilihan karena memperoleh informasi yang berkualitas dan terbuka, seperti layaknya yang terjadi di kebanyakan rezim demokratis.

Dan untuk memilih bagaimana fakta sebuah pemberitaan disampaikan, Entman menawarkan apa yang disebut dengan analisis framing (bingkai) dimana media atau wartawan menyeleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari suatu realitas.4 Framing memberikan tekanan pada bagaimana suatu peristiwa dimaknai terutama yang berkaitan dengan mana yang sebaiknya diliput dan mana yang tidak perlu dicari. Hal ini kemudian menyangkut bagaimana fakta yang telah diperoleh disampaikan ke publik.

Eksploitasi Konflik

Jargon agar masyarakat atau individu mana pun sebaiknya bersikap toleran memang begitu sering kita dengarkan bahkan diucapkan terutama mendengar konflik di sekeliling kita. Begitu banyak konflik dan peperangan baik yang diakibatkan ideologi, etnis, dan agama terjadi di tingkat nasional maupun belahan dunia. Sebagai orang yang berada di luar konflik tentu kita bakal mempertanyakan mengapa mereka tidak segera mengakhiri konflik dan duduk bersama mencari penyelesaian dengan jalan damai. Begitu mudah kita menasehati pihak yang bertikai karena dirinya berada di luar

pertikaian itu. Namun hal tersebut bakal berbeda ceritanya apabila konflik tersebut menimpa

pengamat yang ikut menasehati. Rasa toleran dan menjaga jarak dengan fakta dengan mudah lenyap untuk kemudian berganti dengan asumsi yang sederhana yaitu ‘kami benar, mereka salah’.

Persoalan yang sama juga terjadi dalam dunia jurnalistik dan media massa. Walaupun sudah banyak artikel akademik maupun opini di media massa yang mengajak praktisi dalam industri media

mengedepankan jurnalisme damai dalam memberitakan konflik, kenyataannya hal tersebut sulit atau minimal begitu lambat direalisasikan. Kalaupun gagasan jurnalisme damai diimplementasikan, biasanya media massa (cetak, televisi, dan online) melakukannya begitu konflik atau peperangan sudah membesar dan membawa korban jiwa yang banyak. Justru yang sering terjadi wartawan dan industri media massa lah yang membuat eskalasi konflik di level masyarakat, nasional, maupun internasional meningkat.

2 Seow Ting Lee, 'Peace Journalism: Principles and Structural Limitations in the News Coverage of Three Conflicts', Mass Communication and Society, 13:4, 2010, hal. 362.

3 Ross Howard, An Operational Framework for Media and Peacebuilding, Vancouver: IMPACS, 2002. Lihat juga Howard, Conflict Sensitive Journalism: A handbook, Vancouver, IMPACS, 2003.

(3)

Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan media justru menyebabkan eskalasi konflik meningkat menju ke kekerasan bahkan perang. Pertama, jurnalis atau media tidak memahami sejarah maupun konteks dari peristiwa. Media hanya menulis ataupun melaporkan suatu yang dilihatnya hanya dalam sesaat atau bahkan seringkali hanya didengarnya dari salah satu kubu yang berkonflik. Padahal informasi yang diterima jurnalis dan media tersebut sangat bias kepentingan. Persoalan kedua yang membuat media justru dianggap sebagai pemicu konflik yaitu apabila institusi media maupun pemiliknya lah justru sebagai pihak berkepentingan di konflik tersebut. Bukannya meredam konflik apalagi menciptakan perdamaian, media berusaha terus memanas-manasi pihak yang berkonflik agar kekerasan bisa terus berlangsung.

Mengenai faktor wartawan, biasanya tantangan yang paling besar dihadapi reporter dalam meliput konflik yaitu mempertahankan independensi di tengah identitas penulis, baik politik, kultural, dan agama yang mereka miliki. Seringkali wartawan tidak mampu menjaga jarak saat meliput konflik yang melibatkan identitas mereka, mengingat mereka merupakan bagian tak terpisahkan dari pihak-pihak yang bertikai. Kondisi ini terjadi saat konflik berdarah di Ambon-Maluku pada akhir 1990-an di mana banyak jurnalis di sana yang cenderung terseret dalam pertikaian. Saat itu, jurnalis yang beragama Kristen akan menggunakan sumber pemberitaan dari kelompok Kristen dan sebaliknya jurnalis beragama Islam menyuarakan kepentingan kelompok Islam.5 Kesan yang muncul di mata masyarakat yaitu para jurnalis bertugas untuk membela dan menyuarakan kelompoknya, ketimbang menegakkan kode etik jurnalistik.

Belum lagi, secara emosi para wartawan berada di bawah tekanan para pembaca dan penonton yang berasal dari kelompok yang memiliki identitas sama. Seringkali setiap kelompok yang bertikai bakal menuduh wartawan melakukan ‘pengkhianatan’ apabila melakukan reportase yang berimbang dan mengungkap fakta sesungguhnya, terutama apabila beritanya dianggap merugikan kelompok tersebut. Kebanyakan kelompok yang bertikai akan sangat marah apabila keyakinan dan

prasangkanya dipersoalkan. Seperti layaknya tim olahraga, biasanya kelompok ini ingin media massa mendukung keyakinan dan prasangka itu demi mencapai kemenangan.

Padahal tugas utama jurnalis, walaupun dalam situasi sulit dan berbahaya, yaitu selalu

mengedepankan fakta tanpa menunjukkan keberpihakan. Ketika meliput situasi konflik dan perang, jurnalis tidak cukup hanya menyaksikan dan mendengar apa yang sedang terjadi. Mereka harus memahami konteks sejarah dan kuktur wilayah konflik yang sedang diliput. Jika salah membaca situasi, reporter di lapangan bakal mudah terperangkap oleh propaganda masing-masing kubu yang berkonflik. Sementara seringkali perang semakin sulit dipadamkan justru setelah pihak yang

berkonflik murka ketika membaca pernyataan lawannya di media massa.

Problem lain yang sering hinggap dalam diri seorang wartawan yaitu memverifikasi kebenaran informasi. Seringkali sumber pemberitaan yang diperoleh merupakan informasi sekunder dan bukan hasil pengamatan langsung. Bahkan pemberitaan seorang jurnalis dari informasi yang diperoleh rekan kerjanya sesama jurnalis dari institusi. Dan yang sering terjadi -baik pemberitaan jenis ekonomi, politik, kriminal hingga konflik-, wartawan kemudian menulis berita tanpa pernah datang dan mengecek langsung peristiwa apa yang hendak diberitakannya. Wartawan adalah saksi, mata dan telinga publik. Padahal seorang jurnalis seharusnya harus selalu kritis dan bahkan meragukan informasi, rumor, isu, pernyataan sepihak, pernyataan dalam konferensi pers, bahkan data resmi yang diperolehnya.

Secara ringkas Sirait mengungkapkan sejumlah kelemahan wartawan ketika meliput konflik:

(4)

 Kurang paham sejarah dan karakteristik konflik

 Kurangnya kemampuan menganalisa permasalahan di lapangan, sehingga tidak secara mendalam memahami kasusnya

 Tidak menyiapkan daftar narasumber saat hendak ke lapangan yang berakibat agenda isu yang sudah disusun menjadi berantakan

 Lebih mengutamakan sisi konflik atau perang dan mengabaikan sisi kemanusiaannya  Tidak memikirkan dampak pemberitaan bagi pembaca

 Narasumber sering tidak jelas karena anonim

 Cenderung partisan atau memihak, bahkan seringkali memberitakan informasi fiktif  Tidak menawarkan solusi konflik

 Tidak ada proses verifikasi informasi yang didapat

 Menggunakan judul yang bombastis yang cenderung provokatif.6

Khusus untuk konteks Indonesia, persoalan yang biasanya menghinggapi wartawan dalam meliput dalam peristiwa konflik yakni rendahnya tingkat pendidikan dan profesionalisme yang dimiliki. Seringkali wartawan masih lemah dalam pemahaman konseptual dan keterampilan profesi

melakukan peliputan yang obyektif dan independen. Kondisi ini umumnya terjadi akibat euphoria di kalangan praktisi media setelah selama 32 tahun media dikekang oleh rezim Orde Baru. Berbeda dengan kondisi saat ini di mana media begitu bebas memberikan fenomena yang terjadi di

masyarakat, di masa rezim Soeharto isi berita yang dikeluarkan media sangat terkontrol dan biasanya hanya bersumber dari ‘pintu’.

Antara Kebutuhan Ekonomi dan Ideologi

Mengenai institusi media yang menjadi sumber pemicu konflik, penulis melihat ada dua kemungkinan media justru sebagai sumber pemicu konflik dan kekerasan. Pertama, media

mengekspos berita konflik untuk memenuhi kebutuhan ekonomi politik pemilik maupun elite dalam media tersebut. Dalam sistem kapitalisme, media tidak ubahnya sebagai sebuah korporasi yang dikontrol pemilik modal dan bergantung kepada iklan sebagai sumber utama pembiayaan. Karena itu, media bisa bertahan di kancah pertarungan apabila rantai produksi dan sirkulasi modalnya tidak terganggu. Dengan demikian, media maupun pemiliknya bisa meraih keuntungan ekonomi karena beritanya bakal terus dibaca maupun disaksikan pemirsa. Hal ini tentu sah-sah saja untuk dikerjakan karena memang tidak ada klausul yang menyebutkan sebuah media harus beroperasi dengan tujuan meminimalisir konflik.

Faktor lain yang membuat media justru menjadi pemicu dalam konflik yakni ketika media justru berfungsi sebagai alat propaganda dari pemilik atau kelompok yang bertikai. Di zaman pasca Orde Baru publik melihat institusi media berbasis sektarian bermunculan, terutama media berbasis agama Islam. Sebut saja Sabili, voa-Islam, eramuslim yang menyuarakan kepentingan umat Islam Indonesia merupakan mayoritas di negara ini. Persoalannya, media-media ini seringkali justru menebar kebencian yang berujung konflik kekerasan dengan alasan adanya ancaman terhadap umat Islam di Indonesia dan dunia dalam era globalisasi saat ini. Parahnya , media berbasis agama ini sering mengabaikan etika jurnalistik dalam membuat pemberitaan seperti tidak ada sumber berita yang jelas dan berita yang ditampilkan merupakan opini dari pengelola media.7

6 Haposan Sirait, Jurnalisme Sadar Konflik: Meliput Konflik dengan Perspektif Damai, Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen, 2007, hal 216-217.

(5)

Ketika memberitakan sebuah konflik yang melibatkan antar umat beragama di Indonesia, misalnya, seringkali media berbasis agama tersebut mengabaikan aktualitas maupun faktualitas pemberitaan. Kebanyakan artikel menggunakan sumber anonim untuk menceritakan pertikaian yang bisa

‘membakar’ emosi pembaca. Pemberitaan media ini cenderung mendorong berkembangnya rasa curiga antar kelompok yang ada dalam masyarakat. Dan bahayanya, media dengan pemberitaan provokatif semacam ini tumbuh subur di jagat maya dan menjangkau hamper seluruh kalangan. Tanpa disadari pembaca, baik awam maupun terdidik, menjadi terpengaruh bahkan terindoktrinasi akibat pemberitaan yang mereka buat.8

Bahkan masa kampanye Pemilu Presiden 2014 ini, sejumlah media Islam ini menjadi rujukan utama bagi salah satu kubu calon presiden untuk menyerang ‘keimanan’ calon presiden lainnya. Dengan sumber informasi yang mengandalkan ‘katanya’, media-media tersebut memberitakan bahwa Capres Joko Widodo merupakan tokoh non-Muslim dan keturunan etnis Tiongkok. Suatu isu yang sangat sensitif di negara yang baru lepas dari masa otoritarianisme ini. Walaupun jauh dari kebenaran dan bisa menimbulkan konflik horisontal, isu dan berita tersebut kenyataannya diyakini banyak

masyarakat di Indonesia untuk menjadi referensi mereka ketika memilih dalam Pilpres.

Pemberitaan Dengan dan Tanpa Fakta Lapangan: Sebuah Perbandingan

Seperti yang disebutkan di bagian pengantar, pada bagian ini penulis ingin mencoba membandingkan berita yang didasarkan pada fakta lapangan ditambah riset pustaka dan pemberitaan yang hanya bersumber dari opini. Adapun kasus yang dijadikan perbandingan yaitu pemberitaan seputar konflik antara masyarakat etnis Rohingya dan Rakhine di Myanmar yang mempunyai implikasi kemanusiaan karena menyebabkan banyaknya pengungsi keluar dari negara tersebut. Pemberitaan tersebut dimuat di voa-Islam.com dan Media Indonesia pada medio Agustus 2012 di mana saat itu terjadi kerusuhan berdarah di Provinsi Sitwe, Myanmar yang menyebabkan setidaknya 70 orang meninggal, lebih dari 3.000 bangunan rusak, dan lebih dari 60.000 orang harus mengungsi.

Tulisan pertama berjudul ‘Licik! Propaganda & Penyesatan Opini Diplomat Tentang Muslim Rohingya’ diberitakan di www.voa-Islam.com pada 7 Agustus 2012. Berikut petikannya:

JAKARTA (VoA-Islam)- Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Begitulah nasib Muslim Rohingya di Myanmar dan di sejumlah tempat pengungsian. Setelah dibunuh, diperkosa, rumah-rumah dan masjid mereka dibakar, para ulama ditangkap dan dihabisi, tidak diakui kewarganegaraannya, kini etnis minoritas ini kembali diserang dengan stigma buruk disertai pemutarbalikkan fakta, mulai dari pengaburan sejarah, memanipulasi angka korban, menyatakan tidak ada genocide di Myanmar hingga menyebut konflik komunal, bukan konflik agama.

Berikut ini adalah stigma yang sangat menyakitkan dari para diplomat Indonesia, tokoh lintas agama, dan tokoh liberal, terkait tragedi kemanusiaan yang menimpa muslim Rohingya di Myanmar.

Pertama, tuduhan atas Muslim Rohingya yang dianggap sebagai penduduk illegal dan disinyalir berhubungan dengan jaringan alqaeda. Dan kemungkinan etnis rohingya hendak mendirikan Negara berdasarkan syariat Islam. Kasus ini hampir serupa dengan Gerakan Aceh Merdeka di Indonesia.

(6)

Ada beberapa tulisan yang memojokkan Muslim Rohingya, seperti di lansir dari situs “Rohingya Terorists”. Diberitakan seperti ini: ada lebih dari 100 ras yang hidup di Myanmar. Tapi Rohingya bukan salah satu dari mereka. Selain itu, tidak pernah ada kata seperti Rohingya dalam sejarah Myanmar. Jadi kelompok mana rohingya itu? Mereka hanya bagian Bengali. Mereka dari Bangladesh. Jika seseorang meragukan itu, hal itu bisa dilakukan test DNA.

Kedua, ada upaya untuk mengaburkan fakta tentang kebenaran angka korban yang sesungguhnya terjadi. Perhatikan, pemutar balikkan fakta itu: Jumlah korban pembantaian Islam Rohingya tampaknya dilebih-lebihkan. Mereka mengutip berita yang tidak jelas dengan mengatakan, kerusuhan yang pecah pada Juni lalu di Rakhine, menyebabkan sekira 78 orang tewas.hanya 78 orang yang tewas. Padahal ada sekitar 4.000 warga Muslim Rohingya dilaporkan tewas dibantai. Media yang memberitakan apa adanya, kemudian dianggap provokator.

Ketiga, ada upaya mengaburkan sejarah. Misalnya terdapat artikel mengenai sejarah keberadaan muslim Rohingya seperti pada tulisan ini: “…Bengali menjadi etnis minoritas yang tinggal di Myanmar, memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Bengali adalah Rohingya yang tinggal di Myanmar beribu tahun yang lalu dan mereka adalah imigran sementara dari Chittagong.”

Keempat, ada upaya untuk meredam umat Islam untuk tidak melakukan pembalasan terhadap pemeluk Budha di Tanah Air. Juga, agar umat Islam tidak berpandangan, bahwa konflik ini bernuasakan agama. Maka tak heran bila para diplomat, termasuk presiden, menteri luar negeri, begitu juga dengan tokoh lintas agama dan liberal, mati-matian mengalihkan isu, bahwa konflik Rohingya hanya sebatas konflik lokal, komunal, bukan konflik agama.

Aneh, giliran non Islam yang dibantai, mereka menyebut sebagai bentuk

pelanggaran berat dan bernuansakan SARA. Tapi giliran umat Islam yang dibantai, mereka menebar propaganda dan menggiring opini sesat, sekaligus meredam agar tidak ada pembalasan dari kaum muslimin. Sungguh licik!9

Tanpa melakukan verifikasi dan konfirmasi, pemberitaan atau opini tersebut langsung memulai dengan kata penghakiman yaitu ‘Licik’ untuk menuding diplomat Indonesia, tokoh lintas agama, dan tokoh liberal berkaitan dengan Konflik Rohingya-Rakhine. Namun yang persoalan, sang penulis berita tidak menginformasikan siapa diplomat Indonesia, tokoh lintas agama, dan liberal yang dimaksud. Tulisan itu juga tidak memverifikasi apakah tuduhan yang dialamatkan kepada pihak yang dituding tersebut benar adanya. Dan yang terparah tulisan tersebut ‘mengajak’ pembaca untuk memusuhi kelompok agama lain tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di lokasi konflik.

Pemberitaan-pemberitaan model seperti itulah yang kemudian menyebabkan masyarakat muslim di Indonesia sempat terprovokasi. Sejumlah kalangan kemudian mengecam tindakan pemerintah Myamnar yang dinilai sengaja membiarkan aksi pembantaian yang dilakukan masyarakat suku Rakhine terhadap masyarakat Rohingya. Bahkan beberapa dari tokoh muslim di Indonesia

menyatakan terjadi pembersihan muslim di wilayah tersebut yang sudah pasti membakar semanagat ‘ke-Islam-an’ masyarakat yang ada di Indonesia untuk membela saudaranya yang dizalimi. Apalagi

(7)

saat itu, masyarakat kita masih menstigmakan negara tersebut sebagai negara otoriter karena telah ‘memasung’ pejuang demokrasi Aung San Suu Kyi selama puluhan tahun.

Sekarang bandingkan dengan tulisan kedua berjudul ‘Myanmar Izinkan Jusuf Kalla Ikut Damaikan Konflik Rohingya’ yang dimuat di Harian Media Indonesia pada 11 Agustus 2012.

MYANMAR—MICOM: Upaya Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla meredakan konflik antara masyarakat etis Rohingya dan Arakan di Provinsi Rakhine, Myanmar, mendekati kenyataan. Presiden Myanmar U Thein Sein mengizinkan mantan Wakil Presiden RI untuk melihat langsung kondisi yang terjadi di wilayah tersebut. Pemerintah Myanmar juga mengapresiasi upaya Kalla serta rombongan PMI dan Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam meredakan konflik di negaranya.

Demikian kesimpulan pertemuan antara Presiden Myanmar beserta jajarannya dengan Jusuf Kalla di istana kepresidenan Myanmar seperti yang dilaporkan wartawan Media Indonesia Emir Chairullah dari Nay Pyi Taw, Jumat (10/8). Ikut dalam pertemuan tersebut mantan juru runding Perundingan Helsinski Hamid Awaludin, Dubes RI untuk Myanmar S Sumarsono, dan Asisten Sekjen OKI Atta Abdul Manna.

Dalam pertemuan itu terungkap, pemerintah Myanmar juga menyesalkan adanya pemberitaan yang mengatakan telah terjadi konflik etnis yang berujung pada konflik agama. Padahal konflik hanya terjadi akibat tindakan kriminal yang terjadi di dalam masyarakat yang berakibat pada konflik komunal. "Karena itu saya mengingatkan kepada pemerintah Myanmar untuk segera menyelesaikan konflik komunal sebelum mengarah ke konflik agama," ungkap Kalla.

Kalla mengakui, simpang siur pemberitaan konflik ini terjadi akibat anggapan pemerintah Myanmar belum terbuka. Sehingga masyarakat internasional menjadi salah tafsir atas apa yang terjadi di provinsi yang berbatasan dengan Bangladesh tersebut. "Karena itu, Presiden (U Thein Sein) meminta kami untuk melihat langsung apa yang terjadi di sana," ujarnya.

Menteri Sosial Kesejahteraan dan Penempatan Kembali Myanmar U Aung Kyi menyatakan, pemerintah Myanmar terus berusaha agar konflik ini segera diakhiri. Pihaknya sudah bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga non pemerintah lainnya dalam meredakan konflik itu. "Namun media massa

memberitakan seakan-akan kami tidak bekerja sama sekali," ujarnya.

Ia menyebutkan, saat ini setidaknya terdapat 60 ribu pengungsi atau internal displaced person akibat konflik tersebut. "Dan kami ingin mereka kembali lagi ke rumah mereka begitu konflik selesai," katanya.

Tulisan tersebut dibuat penulis setelah bertemu langsung dengan pihak yang menangani konflik etnis yang terjadi. Tanpa berusaha membantah, pejabat tinggi di negara itu justru kebingungan mengapa pemberitaan di dunia internasional tentang konflik tersebut begitu memojokkan pemerintah

(8)

sukarelawan UNHCR asal Irlandia yang sempat berbicang dengan penulis sempat heran dengan mengatakan, “Kok bisa media-media mengatakan terjadi pembersihan etnis dan penduduk muslim di sini, padahal mereka tidak ada di lokasi dan melihat kejadiannya.”

Tak lama setelah berita di Media Indonesia dan sejumlah media lain yang ikut dalam peliputan tersebut terpublikasi, tensi kemarahan masyarakat Muslim di Indonesia pun mulai berkurang. Masyarakat pun kemudian sadar bahwa mereka memang tidak mengetahui konflik yang

sesungguhnya terjadi di sana. Sebab hampir semua kalangan hanya membaca pemberitaan yang bersumber dari ‘katanya’ dan bukan hasil reportase wartawan ke lokasi konflik secara langsung yang menyebabkan informasi yang disampaikan cenderung sumir dan bias kepentingan. Masyarakat pun akhirnya lebih menyuarakan bagaimana konflik di wilayah itu segera diakhiri agar korban tidak semakin banyak dan pengungsi bisa segera dipulangkan.

Kesimpulan

Dari uraian di atas terungkap media massa dan wartawan di dalamnya berperan besar dalam menentukan arah konflik antar kelompok berskala nasional maupun internasional apakah justru memperuncing atau mengakhirinya. Ketika konflik telah terjadi, tidak ada larangan apa pun bagi wartawan dan media untuk membatasi jenis berita yang akan diungkapkan selama masih bersandar pada fakta. Bahkan tak jarang, berita yang muncul merupakan sesuatu yang kontroversial karena fakta yang disodorkan justru menimbulkan pertanyaan karena belum terverifikasi. Seringkali framing pemberitaan dilakukan media hanya demi memuaskan keinginan pembaca yang berasal dari

kelompok yang sama atau meningkatkan tiras penjualan. Akibatnya berita yang muncul justru meningkatkan eskalasi konflik yang ada di masyarakat dan menimbulkan banyak korban karena menonjolkan unsur dramatisasi.

(9)

Referensi

 Douai, Aziz, ‘Media ethics in international conflict’, Journal of International Communication, 15:2, 2009.

 Entman, Robert, ‘Framing: Toward clarification of a fractured paradigm’, Journal of Communication, 43(4), 1993.

 Galtung, Johan, 'High road, low road: Charting the course for peace journalism', Track Two, 7:4, 1998.

 Hanitzsch, Thomas, ‘Journalists as peacekeeping force? Peace journalism and mass communication theory’, Journalism Studies, 5:4, 2004.

 Howard, Ross, An Operational Framework for Media and Peacebuilding, Vancouver: IMPACS, 2002.

 Howard, Ross, Conflict Sensitive Journalism: A handbook, Vancouver, IMPACS, 2003.  Lee, Seow Ting, 'Peace Journalism: Principles and Structural Limitations in the News

Coverage of Three Conflicts', Mass Communication and Society, 13:4, 2010.

 Rahmawati, Evi dan Tantowi Anwari (eds), Jurnalisme Keberagaman: Sebuah Panduan Liputan, Jakarta: Hivos-Sejuk Press, 2013.

Referensi

Dokumen terkait

Pasca pemberitaan konflik sengketa wilayah antara Indonesia dengan Malaysia di media massa banyak terjadi demonstrasi, masyarakat kecewa dan marah karena sikap Malaysia yang

Oleh karena itu penulis ingin melihat apakah media Obor Rakyat menyimpang dari fungsi utamanya dan digunakan sebagai alat propaganda politik.. Dalam

menurut Anett Keller 61 , yakni Koran Tempo, SKH Kompas, Media Indonesia dan Republika dalam hal kasus Konflik Papua yang bergulir

Sistem media alternatif yang demokratis dibangun atas landasan lima sektor jenis media, yakni dengan inti sektor media pelayanan publik (public service media), sektor civic

Manajemen konflik keagamaan juga sebaiknya didukung oleh semua stakeholder termasuk netizen yang diharapkan mampu menggunakan media sosial secara bijak dan

Madsutnya kelompok pemilik media menyuguhkan pilihan informasi kepada masyarakat dengan tujuan agar publik semakin mudah menangkap pesan media dan ikut dalam arus

Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang terjadi ketika sentra media sebagai pengisi ruang sistem pendidikan yang ‘ditinggalkan’ oleh keluarga dan masyarakat lantas

Sistem media alternatif yang demokratis dibangun atas landasan lima sektor jenis media, yakni dengan inti sektor media pelayanan publik (public service media), sektor civic