• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Jiwa Hakikat Pendidikan Filos

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pendidikan Jiwa Hakikat Pendidikan Filos"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Sebuah Analisis berdasarkan Paper Tahereh Javidi Kalateh Jafarabadi: ‘Mullah Sadra’s Idea about “Existence” and “Motion in Substance” and Its Educational Implications’

Disusun oleh: Nama: Anik Damayanti

NIM: O100150009

Email: [email protected]

A. ABSTRAKSI

Tujuan makalah ini adalah untuk mengulas pandangan Mulla Sadra tentang teori gerakan substansi dan implikasinya terhadap sistem pendidikan yang terkait jiwa manusia. Secara berurutan, dijelaskan singkat ihwal eksistensi, hakikat (kuiditas), dan gerakan subtansi. Pada akhirnya akan dijelaskan implikasi dari teori filosofi Mulla Sadra dalam dunia pendidikan dan efeknya bagi perkembangan sebuah jiwa manusia.

Para filosof sebelum Mulla Sadra mengemukakan bahwa eksistensi gerakan itu dimungkinkan terjadi dalam empat kategori aksiden, yaitu: kuantitas, kualitas, posisi dan tempat. Esensi atau objek atau substansi yang tidak mengalami perubahan pada keempat aksiden di atas, dianggap sebagai sesuatu yang tetap atau tidak bergerak. Mulla Sadra membuktikan bahwa pergerakan trans-substansial sebuah objek itu ada dan tidak terjadi secara aksiden.

Titik terpenting dari sistem pendidikan berdasarkan teori filosofi Mulla Sadra adalah mempersiapkan ruang bagi perkembangan manusia. Fisolosi dari gerakan substansial (motion in substance) memaknai jiwa akan berkembang tahapan demi tahapan, dan pada tiap tahapan membutuhkan persepsi yang sesuai1. Kebutuhan persepsi

inilah yang dapat dipenuhi melalui pendidikan. Pendidikan mengisi perkembangan jiwa manusia sesuai dengan tahapannya menuju kesempurnaan. Demikianlah, dijelaskan bahwa implikasi dari teori Mulla Sadra adalah jiwa membutuhkan ruang materialistik untuk aktualiasasi (penampilan) dan kesempurnaan jiwa dicapai dengan bantuan pendidikan.

(2)

B. BIOGRAFI SINGKAT

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ibrahim bin Yahya al-Qawani al-Syirazi yang bergelar ‘Shadr Din’ atau lebih dikenal dengan Mulla Sadra atau Shadr al-Muta’alihin. Ia dilahirkan di Syirazi sekitar tahun 980 H/1572 M. Ayahnya dikenal sebagai seorang yang shalih dan pernah menjabat sebagai gubernur di wilayah Fars sehingga ia berkesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan penjagaan yang baik di kota kelahirannya.

Mulla Sadra mendapatkan pendidikan formalnya dari tradisi Syiah, yaitu fiqh Ja’fari, ilmu hadits, tafsir dan syarah al-Quran di bawah bimbingan gurunya Bahauddin al-‘Amali (w. 1031 H/1622 M). Kemudian ia berguru kepada seorang teolog-filosof Muhammad yang lebih dikenal dengan Mir Damad (w. 1041 H/1631 M), sebagai guru utamanya. Mir Damad merupakan pemikir masyhur yang dijuluki Guru Ketiga (setelah Aristoteles dan Al-Farabi). Ia juga berguru kepada seorang filosof peripatetic Mir Fendereski (w. 1050 H/1641 M).

Dalam dunia filosofi terdapat tiga mazhab utama, yaitu (1) mazhab peripatetic ( al-Hikmah al-Masyaa’iyyah) dengan Ibnu Sina yang paling dikenal sebagai salah satu tokohnya, (2) mazhab illuminatif (al-Hikmah al-Isyraaqiyyah) dengan Suhrawardi sebagai tokohnya, dan (3) mazhab al-Hikmah al-Muta’alliyyah. Mulla Sadra dikenal sebagai pendiri mazhab yang ketiga, dengan mengadopsi prinsip hylomorphisme dari mazhab iluminati dan prinsip tertentu dari ajaran sufi Ibnu Sina.

Mulla Sadra melakukan uzlah di sebuah desa dekat kota Qum, setelah menyelesaikan pendidikan formalnya. Berikutnya ia kembali ke Syirazi dan mengajar di sana, tetapi menolak tawaran untuk menduduki jabatan. Ia meninggal dunia di Basrah pada tahun 1050 H/1641 M saat pulang menunaikan ibadah haji yang ketujuh kalinya. C. KONSEP GERAKAN SUBSTANSI

1. Definisi Eksistensi dan Kuiditas

Sebelum menjelaskan pandangan Mulla Sadra mengenai ‘eksistensi’ dan ‘gerakan substansial’, kita perlu memahami beberapa istilah teknis yang digunakan dalam dunia filosofi, diantaranya definisi eksistensi dan kuiditas (hakikat).

Eksistensi adalah konsep jiwa yang bertolak belakang dengan nihil (tidak ada). Eksistensi eksternal merupakan sesuatu yang konkret/nyata dan identik dengan realisasi/kenyataan dari suatu benda atau sebuah individu di dunia luaran.2 Kuiditas

itu biasanya berupa deskripsi mengenai realitas akan “sesuatu” atau sepadan dengan

(3)

definisinya.3 Misalnya seseorang bertanya tentang kucing, jawaban yang berisi

penjelasan tentang karakteristik kucing, itulah kuiditas.4

Eksistensi merupakan satu-satunya hal yang tidak memerlukan demonstrasi sebab setiap orang dapat menangkap eksistensi secara alamiah. Tak ada yang lebih jelas dari eksistensi. Eksistensi dapat dilihat dari dua perspektif. Di satu sisi, konsep eksistensi dari kehadiran atau ketampilan sebuah objek yang merupakan kuiditas eksternal yang ada di dunia. Di sisi lain, kuiditas sebuah objek merupakan sebuah fenomena mental yang berada di alam pikiran dan mengabstraksikan eksistensi eksternal. Oleh sebab itu, kuiditas tidak selalu membutuhkan eksistensi sepanjang waktu dan tidak beriringan dengannya. Ada istilah popular yang mengatakan: kuiditas dengan sendirinya ada atau tidak ada, demikianlah adanya (kuiditas).5

Kuiditas tidak selalu beriringan dengan kenyataan dan eksistensi eksternal. Menurut Sulaymani Amiri, sejumlah besar kuiditas nampak di alam pikiran, pemikiran yang tertuang dalam bentuk lisan maupun tulisan, dan efeknya kurang nampak di eksistensi eksternal sehingga seringkali belum terealisasikan.6

Mulla Sadra menegaskan: kadang-kadang kita menganggap kuiditas tanpa eksistensi, maksudnya kita mengabaikan eksistensi eksternal. Dengan kata lain, kuiditas tidak selalu beriringan dengan realitas di dunia objektif; oleh karena itu, eksistensi-lah yang utama dan penting bagi realisasi dari suatu objek dan eksisten. Menurut Ghaffari, pemikiran manusia yang mengabstraksikan kuiditas dari eksistensi eksternal dan mengemukakannya.7

2. Gerakan Substansial

Tak ada seorang pun yang menolak prinsip gerakan eksistensi, akan tetapi para filosof sebelumnya meyakini bahwa gerakan eksistensi tersebut hanya terjadi dalam empat kategori aksiden menurut Aristoteles, yaitu kuantitas, kualitas, posisi dan tempat. Dua dari empat kategori gerakan eksistensi yang paling nampak adalah gerakan dalam posisi dan tempat, misalnya gerakan individu-individu dan kendaraan, burung yang terbang.

Gerakan kuantitas disebut pertumbuhan, contohnya pertumbuhan seorang anak menjadi manusia dewasa dan pertumbuhan anak pohon menjadi pohon besar. Gerakan kualitas juga dapat dilihat pada perubahan makhluk hidup dalam setiap

3Ibid. 4Ibid.

(4)

tahapannya, misalnya penampilan seseorang, perubahan kimiawi pada buah (perubahan pada rasa, warna dan bentuk buah dari mentah menjadi matang), atau perubahan evolusi internal pada tahap psikologis seseorang.8

Para filosof dahulu hanya mengakui kemungkinan gerakan eksistensi dalam empat kategori aksiden di atas. Apabila esensi atau substansi bersifat tetap terhadap kuantitas, kualitas, dan posisi maka disebut tidak bergerak. Bahkan seorang filosof terkemuka Ibnu Sina meyakini bahwa jika kita menerima gerakan substansial maka dengan gerakan itu, setiap substansi akan meninggalkan diri dan identitasnya kemudian berubah menjadi identitas baru yang berbeda dengan identitas sebelumnya.9

Mulla Shadra mengemukakan sebuah argumen bahwa seluruh aksiden tidak memiliki eksistensi mandiri dari objek-objeknya. Akan tetapi seluruh aksiden berasal dari substansi itu sendiri. Dari satu sisi ketika seluruh aksiden ini mengalami perubahan dan terjadi pergerakan di dalamnya maka hal itu memahamkan kepada kita bahwa substansi juga memiliki gerakan. Karena segala jenis perubahan yang terjadi pada satu objek, maka perubahan tersebut juga terjadi padanya. Dan sebagai hasilnya gerakan aksidental merupakan petunjuk dari gerakan pada substansi dan itulah yang dimaksud dengan gerakan substansial.10

Pertumbuhan buah yang merupakan gerakan kuantitatif biasanya menghasilkan perubahan warna dan rasa yang merupakan gerakan kualitatif. Ini menunjukkan gerakan substansial, yaitu perubahan yang terjadi dengan aksiden berasal dari dalam substansi itu sendiri.

3. Gradasi Eksistensi

Kuiditas objek dilihat dari sifat dan struktur terbagi menjadi dua: substansi immaterial yang bersifat tetap atau statis dan substansi material yang memiliki esensi in-flux dan sifat bergerak sehingga eksistensinya bersifat gradual dan bertahap. Jika eksistensi material tidak in-flux maka tidak akan terjadi perkembangan, seperti pohon yang tumbuh menjadi pohon besar atau bayi yang berkembang menjadi manusia dewasa.11

8Ibid., hlm. 6. 9Ibid., hlm. 7.

10---, Apa gerakan substansial itu (al-harakah al-jauhariyah) dan bagaimana perannya dalam kehidupan keseharian manusia?, http://www.islamquest.net/id/archive/question/fa7225 diakses pada 31 Maret 2016 21:24 WIB.

(5)

Mulla Sadra menarik dua teori yaitu prinsip eksistensi dan gradasi eksistensi. Dia juga membuktikan bahwa esensi dari objek material bersifat gradable dan memiliki kemampuan untuk bergerak dari dalam esensinya sendiri (motion by essence).12 Tidak seperti para filosof sebelumnya yang meyakini bahwa waktu

(seperti tempat) memiliki eksistensi objektif, waktu merupakan wadah tetap bagi objek dan kejadian. Menurut Kalin, Mulla Sadra berpendapat bahwa waktu memiliki eksistensi immaterial daripada eksistensi objektif, dan diabstraksikan dari gerak trans-substansial suatu objek dan kejadian-kejadian.13

Menurut Rahimiyan, teori relativitas umum dalam fisika modern mempertegas teori filosofi Sadra bahwa waktu merupakan bagian dari segala sesuatu yakni dimensi keempat dan segala sesuatu juga memiliki dimensi waktunya sendiri.14

Berdasarkan teori Mulla Sadra, gerakan substansial (motion in substance) tidak akan pernah mengubah esensi dari substansi, contohnya seseorang tetap merasa bahwa dirinya adalah orang yang sama (sejak lahir) walaupun dia mengalami perubahan selama hidupnya.15 Hal lain yang dijelaskan dari teori dasar gerakan

substansial-nya Sadra adalah mengenai jiwa manusia. Sadra meyakini bahwa jiwa muncul dari tubuh manusia kemudia jiwa mengalami perkembangan dalam cahaya gerakan menuju kesempurnaan, hingga akhirnya menjelma sesuatu yang independen.16

4. Konsekuensi Logis dari Teori Gerakan Substansial Sadra

Tahereh Jafarabadi menjelaskan dalam makalanya ada beberapa konsekuensi logis yang bermanfaat yang dapat ditarik dari teori gerakan substansial ini, antara lain:17

a. Esensi dunia bersifat dinamis seiring dengan dinamisnya alam. Alam menurut Sadra bersifat dinamis, berbeda dengan pendapat Aristotelian.

b. Gerakan alam memiliki tujuan tertentu dan mengarahkan dunia dan seluruh eksistensi di dalamnya menuju kesempurnaan.

c. Sifat dari waktu dan dalam batas tertentu, relativitasnya dapat terungkap dengan teori ini, sehingga dapat dijelaskan definisi waktu dengan tepat.

d. Kesempurnaan merupakan salah satu produk dan kebutuhan dari dunia.

12Ibid. 13Ibid., hlm. 9. 14Ibid.

(6)

e. Gerakan itu bersifat linier, terhubung dan terangkai seperti rantai. Menurut Sadra, hakikat dari arah gerakan alam adalah nyata dan objektif, bukan imajinatif, dan ini satu-satunya hal yang menggambarkan waktu.

D. IMPLIKASI GERAKAN SUBSTANSI DALAM PENDIDIKAN 1. Gerakan Substansial Menuju Kesempurnaan

Dengan menerima konsep gerakan substansial maka kita juga harus menerima bahwa keseluruhan alam, secara serentak dan seiring sejalan bergerak menuju kesempurnaan. Dalam teori ini, gerakan menuju kesempurnaan merupakan bagian dari fitrah alam natural.18

Salah satu konsekuensi logis dari gerakan substansial adalah alam itu bersifat dinamis, bahwa setiap materi pada setiap detiknya, berubah dari sebuah bentuk menjadi bentuk yang lain. Karena itu, alam semesta detik demi detik berada dalam kondisi dekonstruksi dan konstruksi.19

Dalam mengelaborasi gerakan substansial dan melalui jalan seluruh entitas hingga sampai pada tujuannya harus dikatakan bahwa secara asasi gerakan menyempurna ini pada awalnya bermula dari materi awal (hyle) yang merupakan murni potensi dan sama sekali tidak memiliki aktualisasi. Kemudian materi murni ini untuk pertama kalinya menampakkan aktualisasi lemah pada dirinya dan berbentuk rangkapan dan kemudian berubah menjadi mineral (jamad). Pada kelanjutan gerakan gradualnya, manusia memasuki alam tumbuhan dan setelah melintasi beberapa tingkatan, manusia memiliki bentuk hewani dan melintas pada alam hewani dan selepas itu memasuki alam manusiawi yang memiliki ragam tingkatan dan derajat. Untuk melintasi tingkatan manusiawi ini, manusia memerlukan ilmu dan amal dan setelah melintasi ragam dan banyak tingkatan di alam manusiawi secara gradual akan meninggalkan alam manusiawi; karena substansi berada dalam keadaan menyempurna, maka manusia tidak lagi memiliki kecenderungan untuk tinggal di alam ini sedemikian ia melaju sehingga menjadi akal universal. Dan pada akhirnya menggapai Tuhan.20

2. Pendidikan bagi Jiwa Manusia

Mulla Sadra berpendapat bahwa kesadaran diri manusia merupakan bukti adanya esensi non-materialistik dalam manusia yakni jiwa. Jiwa membutuhkan ruang materialistik untuk kemunculan dan ketampilannya. Jiwa yang merupakan

18---, Apa gerakan substansial…, www.islamquest.com..., diakses pada 1 April 2016 7:02 WIB. 19Ibid.

(7)

elemen kesadaran manusia, bagian internal manusia inilah yang memberikan esensi gerakan dan keadaan eksternal yang mempersiapkan ruang bagi gerakannya. Keduanya diarahkan menuju kesempurnaan dan dikendalikan oleh sebuah jiwa superior. Kesempurnaan jiwa hanya dapat dicapai dengan pendidikan.21

Manusia memiliki potensial dan aksi dan kekuatan untuk merealisasikan potensial menjadi aksi, yang merupakan esensi manusia. Pendidikan dibutuhkan untuk mengisi eksistensi manusia dan kesempurnaan merupakan intervensi jiwa dalam proses penciptaan yang berlangsung terus-menerus. Jiwa seseorang dibangun selama hidupnya dengan ditopang oleh pendidikan yang dicapainya dan tindakan-tindakannya.22

Jiwa melalui tahapan demi tahapan menuju kesempurnaan dan ini membutuhkan persepsi yang tepat sesuai tahapannya. Tidaklah mungkin pengetahuan dan persepsi atau aksiden lainnya dari jiwa ditransfer dari sesuatu atau seseorang kepada orang lain. Dari sudut pandang filosofis, esensi mustahil ditransmisikan secara aksiden dari satu manusia ke manusia lain. Manusia berkembang karena gerakan substansial, dan mencapai batas yang jelas dan ide-ide rasional.

Oleh sebab itu, sistem pendidikan yang terpenting berdasarkan teori filosofis Sadra adalah mempersiapkan ruang bagi perkembangan manusia. Situasi dalam sistem pendidikan dirancang sedemikian rupa supaya siswa dapat memahami materi studi dengan mendalam dan menambahkan ke dalam esensinya melalui partisipasi aktif dalam proses pengajaran dan pembelajaran.

Tujuan dari pendidikan dalam sistem pendidikan menurut Sadra adalah mengajarkan bagaimana mengajar. Dengan sistem ini, teknik penghafalan pengetahuan dan transfer pengetahuan kepada orang lain dianggap sebagai sesuatu yang sia-sia belaka dan tidak memiliki nilai dalam sudut pandang pendidikan.23

Sistem pendidikan yang demikian itu tidak akan dapat menambah esensi bagi jiwa manusia, tetapi itu dilakukan untuk men-transfer esensi aksidental seseorang untuk esensi orang lain. Itulah sebabnya pembelajaran cara ini tidak mampu menembus jiwa secara mendalam dan mudah dilupakan.24

Sistem pendidikan Mulla Sadra memandang bahwa perkembangan rasional dan berfikir intuitif sebagai salah satu tujuan penting dari pendidikan. Sistem

21Tahereh Javidi, Mullah Sadra’s Idea…, Ferdowsi University of Mashhad, hlm. 12. 22Ibid., hlm. 13.

(8)

pendidikan harus dapat menyediakan sarana atau suasana yang membuat siswa memahami semua aspek pengetahuan melalui proses berfikir rasional dan intuitif.25

Lebih jauh lagi mengenai tujuan sistem pendidikan Mulla Sadra adalah pengenalan dan penghargaan terhadap jiwa pada setiap tahapannya. Sebab dalam pandangan Sadra, pengenalan jiwa merupakan persiapan bagi mengenal Tuhan. Jika manusia memahami bahwa jiwa itu satu namun implementasi dalam aksi/tindakannya dan tingkatannya bisa bermacam-macam, maka ia dapat melihat keesaan Tuhan dan dengan mudah memahami bagaiman Tuhan itu Esa namun tanda-tanda (kebesaran-Nya) dan manifestasi-Nya bisa ditemukan dimana-mana.26

Pengenalan jiwa beserta tahapan-tahapan jiwa, sejatinya bersesuaian dengan pendapat para psikolog dan ahli pendidikan yang menyatakan bahwa pengenalan terhadap tahapan yang berbeda pada jiwa sesuai dengan perkembangan manusia dan karakteristik tiap tahapan sangat penting untuk mencapai kesempurnaan manusia, sebagai bentuk keberhasilan dalam mendidik manusia. Oleh karena itu, pengenalan jiwa beserta tahapan-tahapannya sudah seharusnya turut dipertimbangkan sebagai salah satu tujuan terpenting dalam sistem pendidikan di masyarakat.27

E. ANALISIS

Tahereh Jafarabadi menjelaskan sistem pendidikan berdasarkan teori filosofis Mulla Sadra, dapat dipahami ke dalam tiga sub sistem filsafat: ontologi, epistemology dan aksiologi. Secara ontologi, Jafarabadi mengemukakan bahwa gerakan substansial yang terjadi dalam esensi manusia senantiasa memungkinkan jiwa mengalami perkembangan. Dalam perkembangannya terdapat tahapan-tahapan yang dilalui, dan pada setiap tahapan ini memerlukan persepsi atau pengetahuan yang tepat untuk mengiringinya. Pengetahuan yang tepat ini dapat dipenuhi atau diperoleh dari pendidikan.

Pendidikan pada dasarnya berfungsi untuk mempersiapkan ruang materialistik bagi perkembangan manusia. Secara epistemologis, bagaimana merancang sistem pendidikan yang paling sesuai untuk menguatkan esensi manusia, dijelaskan oleh Jafarabadi yaitu salah satunya melalui partisipasi aktif dalam proses pengajaran-pembelajaran sehingga siswa memahami bidang studi secara mendalam. Sistem pendidikan secara epistemology, diselenggarakan dengan mengembangkan metoda berfikir secara rasional dan intuitif.28

Pemakalah tidak sependapat dengan Jafarabadi yang menyatakan bahwa metodologi 25Ibid., hlm. 14.

26Ibid.

27Ibid.

(9)

pembelajaran dengan teknik menghafal dan transfer pengetahuan dianggap tidak memiliki nilai dalam menambah esensi manusia.

Kelahiran ilmu dalam Islam, menurut Hamid Fahmi Zarkasy, ditandai dengan diturunkannya wahyu (Al-Quran) kepada Nabi Muhammad Saw. melalui Malaikat Jibril.29 Jiwa seorang Muhammad Saw. yang kala itu haus akan ilmu dan ma’rifat kepada

Rabb-nya dibimbing oleh Jibril dengan cara yang paling mula-mula, yaitu dengan teknik menghafal dan transfer pengetahuan. Muhammad Saw diperintahkan mengikuti apa yang diucapkan oleh Jibril, secara perlahan-lahan.

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (Al-Qiyamah, 75: 16-18)

Hal itu menjelaskan bahwa teknik menghafal dan transfer ilmu termasuk salah satu metoda pembelajaran yang efektif bagi tahapan jiwa tertentu. Metoda yang sama juga diterapkan pada periode ketiga tradisi ilmu dalam Islam yaitu masa Ahlu ash-Shuffah. Para Sahabat yang berasal dari negeri jauh lalu tinggal dan menetap di sekitar masjid Nabawi untuk belajar dan menghadiri majelis ilmu dari Rasulullah Saw secara langsung. Ahlu ash-Shuffah ini dengan tekun menyimak dan menghafal ayat-ayat Al-Quran beserta penjelasannya dari Rasulullah Saw. Pada masa setelah Rasulullah Saw. wafat, kebanyakan dari mereka menjadi ahli ilmu yang banyak meriwayatkan hadits seperti Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud.

Kemudian metoda Muhammad Idris menimba ilmu dari gurunya Imam Malik, dengan mendatangi majelis ilmunya dan menghafal hadits-hadits yang disampaikan sang Guru secara mengagumkan. Hingga akhirnya beliau menjadi pakar Hukum Islam yang masyhur sebagai salah satu pendiri madzhab, yaitu Imam Syafi’i.

Menurut pemakalah, metoda menghafal dan transfer ilmu sangat penting dalam sistem pendidikan Islam, bukan saja karena sejarah membuktikan, sebab metoda ini penting digunakan pada tahapan jiwa yang muda, baru mulai berkembang sehingga membutuhkan pengarahan yang jelas dan tepat untuk mengarahkan jiwa menuju keimanan dan ma’rifat yang benar.

(10)

menuju kesempurnaan untuk menggapai Tuhan. Manusia diharapkan untuk memahami keesaan Tuhan sekaligus melihat tanda-tanda (Kebesaran-Nya) dan manifestasi-Nya dalam berbagai bentuk di alam semesta.30

Menurut pemakalah, tujuan utama dari sistem pendidikan Islam adalah tertanamnya iman yang kuat menghujam dalam jiwa manusia. Manusia dapat mencapai ma’rifatullah (pengenalan terhadap Tuhan) seusia dengan akidah yang benar. Ketika manusia mempelajari ilmu-ilmu kauniyah yang tersebar di alam semesta, selalu mengingatkannya akan Kebesaran Tuhannya dan menambah keimanannya. Demikianlah karakteristik orang-orang berakal, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran.

ب

ه بلن يلهوولر

علعلٱ

ت يلنللل رهاهلننل ول له لن فهللنته ول ض

تت

ٱ

عي ٱ

عخٱ

ه

عرعلٱ

ول ت

ه ولنملنس

ن ل ق

ٱ عل

ه خل يفه ن

ن إه

١٩٠

يفففه ن

ل ورتففك

ن فلتليلول ههبهوففنتجت ىنففللعلول اددوعتقتول امديلنقه هللنل نلورتكت يل نليذهلن

عم

ٱ

عذ

ٱ

ب

ل اذلففع

ل اففنلقهفل ك

ل نلحلن ففس

عب

ت لدط

ه بلن اذلففهلن ت

ل للخل امل انلبنرل ض

عق

ه

عرعلٱ

ول ت

ه ولنملنس

ن ل ق

ٱ عل

ه خل

رهاننل

ٱ

١٩١

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran, 3: 190-191)

Tujuan terpenting kedua dalam sistem pendidikan Islam adalah tumbuhnya jiwa-jiwa menuju kesempurnaan yakni berupa manusia yang beriman dan cakap dalam mengelola alam semesta untuk kelestarian dunia mineral, tumbuhan, binatang dan manusia itu sendiri. Tujuan yang ingin dicapai adalah supaya manusia mampu menjalankan tugasnya sebagai khalifah fil-ardh dengan baik.31 Sebagaimana dijelaskan

dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 30-31, ALLAH SWT. mengajarkan kepada Adam beberapa ilmu yang tidak diajarkan-Nya kepada para malaikat sebab ALLAH SWT. mempersiapkan Adam sebagai khalifah di bumi.

Pemakalah setuju dengan ide bahwa sistem pendidikan dirancang untuk mempersiapkan ruang aktualisasi bagi jiwa-jiwa manusia yang berkembang secara bertahap menuju kesempurnaan. Akan tetapi, pemakalah memiliki pandangan sendiri bahwa kesempurnaan jiwa manusia bukan saja untuk mengenal Tuhan (jiwa yang beriman), tetapi juga untuk kembali membumi bersama manusia untuk menjalankan perannya sebagai khalifah di bumi.

(11)

F. KESIMPULAN

Para filosof sebelum Mulla Sadra mengemukakan bahwa gerakan pada eksistensi atau objek dimungkinkan terjadi karena empat aksiden yaitu kuantitas, kualitas, posisi dan tempat. Mulla Sadra membuktikan adanya gerakan substansial, gerakan yang terjadi dengan aksiden dari dalam substansi itu sendiri. Gerakan substansial ini tidak mengubah esensi dari eksistensi. Berbeda dengan Ibnu Sina yang menyatakan bahwa jika suatu objek mengalami gerakan substansial maka eksistensi objek tersebut akan berubah menjadi identitas yang berbeda dengan sebelumnya.

Gerakan substansial Mulla Sadra pada akhirnya menjelaskan bahwa semua eksistensi baik material dan non-material akan mengalami perubahan, baik di alam semesta maupun dalam diri manusia itu sendiri. Masing-masing mengalami gerakan substansial menuju kesempurnaan. Gerakan substansial yang terjadi di dalam esensi manusia menyebabkan jiwa manusia berkembang melampaui tahapan-tahapannya.

Perkembangan jiwa memerlukan persepsi dan pengetahuan yang tepat untuk mengiringi sesuai tahapannya. Pendidikan lah yang diperlukan untuk mengisinya. Jafarabadi menyinggung sedikit ihwal metoda pengajaran-pembelajaran yang efektif dalam sistem pendidikan Sadra, yaitu dengan membuat sistem pendidikan yang memungkinkan siswa aktif dalam proses pembelajaran dan dapat memahami materi studi dengan mendalam. Jafarabadi menyatakan bahwa teknik menghafal dan transfer pengetahuan bersifat sia-sia sebab tidak mampu menambah esensi seseorang dan (materi studi) mudah dilupakan. Pemakalah tidak sependapat dengan ide Jafarabadi ini. Pemakalah berpendapat bahwa pada tahapan jiwa muda dan mulai berkembang membutuhkan metoda pembelajaran dengan menghfala dan transfer ilmu. Metoda ini efektif untuk mengarahkan jiwa yang belum mengetahui arah kesempurnaan mana yang ingin dicapai.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Husaini, Adian., et. al. 2013. Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam. Jakarta: Gema Insani Press.

Tahereh Javidi Kalateh Jafarabadi. Mullah Sadra’s Idea about “Existence” and “Motion in Substance” and Its Educational Implications. Ferdowsi University of Mashhad.

Referensi

Dokumen terkait

memungkinkan untuk melakukan penelitian yang sama dari pendapat para ahli yang berbeda. mengenai

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan pengenalan bentuk geometri pada anak usia anak dini adalah rumusan tingkah laku yang diharapkan

Berdasarkan pendapat para ahli tentang pengertian belajar, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa dan raga sebagai proses untuk memperoleh

Para ahli tersebut menyatakan bahwa tidak ada kepemimpinan yang baik untuk situasi sehingga masing-masing memiliki keunggulan yang berbeda-beda (Syaiful S,

Dari beberapa definisi yang dikemukakan para ahli tersebut oleh Abuddin Nata, dijelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam memiliki cirri-ciri, 30 sebagai berikut: 1)

Lewat pelatihan keaktoran tersebutlah seorang pembaca puisi akan mampu mengaktualisasikan jiwa dan tubuhnya di atas panggung. Berdasarkan pendapat para ahli dan apa yang

Setelah memaparkan berbagai pendapat para Ulama beserta dalil-dalilnya, maka pendapat yang nampak rajih menurut kami adalah pendapat kedua yang menyatakan bahwa hukum mengeluarkan

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dan pendapat para ahli pembelajaran yang menyatakan bahwa jika proses belajar dilakukan dengan suasana yang menyenangkan, tanpa beban,