PENGGUNAAN CELEMEK CERITA UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK TK KELOMPOK A
( PENELITIAN TINDAKAN KELAS DI TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL I PUCANGANOM – SIDOARJO)
Oleh :
Dra. MUJI DWI SRIWILUJENG NIP. 131 407 582
Kemitraan Antara :
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang Dengan
Ditjen Peningkatan Mutu Pendidikan Tenaga Kependidikan
TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL I PUCANGANOM
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN SIDOARJO
HALAMAN PENGESAHAN
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Judul Penelitian Penggunaan Celemek cerita untuk meningkatkan kemandirian anak TK kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo
e. Alamat Kantor dan No. Telp.
f. Alamat rumah dan No. Telp
Dra. Muji Dwi Sriwilujeng Wanita
Pembina/IV a/131 407 582
TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Jl. Raden Patah No. 77 Sidoarjo
(031) 8969863
Lemahputro RT 08 RW. 02 No. 16 Sidoarjo (031) 8944564
Lama penelitian 2 Bulan. September s.d. November 2006 Biaya yang diperlukan Rp. 2.000.000 (dua juta rupiah)
Mengetahui
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sidoarjo, 17 November 2006 Kecamatan Sidoarjo Peneliti
Drs. H. Mukhamad Khusaini, M.M Dra. Muji Dwi Sriwilujeng NIP. 114 450 27 NIP. 131 407 582
Menyetujui,
Ketua Lembaga Penelitian UM
Meningkatkan
Kemandirian Anak TK Kelompok A (Penelitian Tindakan Kelas di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom – Sidoarjo
Kata Kunci : Penggunaan Celemek Ceria, Kemandirian Anak
Penggunaan celemek cerita untuk meningkatkan kemandirian anak adalah suatu usaha agar kegiatan pembelajaran di TK tidak monoton, membosankan, dan menjenuhkan. Dalam kenyataannya kegiatan pembelajaran masih sangat tekstual, sehingga bentuk-bentuk analogi yang harus di kembangkan secara kontekstual masih terkesan staknasi. Akibat dari pembelajaran seperti itu, untuk mendongkrak agar anak bisa lebih mandiri dan dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain akan terhambat.
Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui pembelajaran bercerita dengan alat peraga celemek cerita di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucangonom – Sidoarjo. 2) Untuk mengetahui kemandirian anak TK kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom – Sidoarjo. 3) Untuk mengetahu sejauh mana metode bercerita dengan alat peraga celemek cerita dalam meningkatkan kemandirian anak TK kelompo A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom – Sidoarjo.
Adapun pendekatan metode penelitain ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif, karena dalam penelitian ini l;ebih mengutamakan deskriptif analitik untuk memcahkan konsep-konsep di dalamnya, bukan mengunakan konsep-konsep numeric statistik.
Dalam pelaksanaannya penelitian ini terbagi atas dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Siklus I memberikan pengajaran secara umum dan siklus II berkenaan dengan perumusan materi pembelajaran.
Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah metode pembelajarn bercerita dengan menggunakan alat peraga celemek cerita yang di lakukan di TK kelomok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom – Sidoarjo dalam rangka untuk meningkatkan kemandirian anak adalah suatu pilihan yang tepat dan cermat. Hal ini dapat dilihat dari paparan data perkembangan dari siklus I ke siklus berikutnya yang terdapat perkembangan secara signifikan. Dapat dilihat dengan jelas dari kemandirian anak yang mula-mula hanyamencapai 5% dengan penggunaan metode tepat dan cermat akhirnya merubah menjadi 100%
KATA PENGANTAR
Tidak ada tutur kata yang patut peneliti ucapkan, kecuali ucapan
alhamdulillah. Karena atas rahmad, hidayah, dan nikmat-Nyalah peneliti dapat
menyelesaikan penelitian yang berjudul “Penggunaan Celemek Cerita Untuk
Meningkatkan Kemandirian Anak TK Kelompok A (Penelitan Tindak Kelas di TK
Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom – Sidoarjo).” Sesuai dengan waktu yang
telah direncanakan.
Penelitian ini tidak akan dapat terlaksana sesuai dengan harapan peneliti,
tanpa adanya pengarahan-pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena
itu ucapan terimaksih dan penghargaan yang setinggi-tingginya penulis sampaikan
kepada yang terhormat:
1. Bapak Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd. selaku ketua lembaga penelitian Universitas
Negeri Malang.
2. Dra. Umu Dayati, M.Pd. selaku pendamping I dalam pelaksanaan penelitian ini.
3. Dra. Harti Kartini, M.Pd. selaku pendamping II dalam pelaksanaan penelitian ini
4. Kepala beserta pengajar TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo
yang bersedia ditempati untuk kegiatan penelitian ini.
5. Teman-teman sejawat dan seprofesi yang tiada henti-hentinya dalam
memberikan semangat kepada peneliti.
Insya Allah partisipasi dan bantuan Bapak/Ibu dari berbagai pihak di atas
akan selalu mendapat taufik, hidayah, dan rida dari Allah Swt. Amin!
Akhirnya karena peneliti hanya manusia biasa yang penuh dengan
kekhilafan, tentu dalan penyusunan penulisan ini terdapat kesalahan-kesalahan dan
kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu saran dan kritik datangnya dari mana saja
dan kapan saja akan penuliti terima dengan senang hati.
Sidoarjo, 22 November 2006
Peneliti,
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR GAMBAR... v
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Hipotsis ... 4
E. Lingkup Penelitian ... 4
F. Definisi Oprasional... 5
G. Kegunaan Penelitian ... 5
BAB II AJIAN TEORITIS TENTANG METODE PENGAJAR -AN CELEMEK CERITA D-AN KEM-ANDIRI-AN -ANAK... 6
A. Konsepsi Metode Pengajaran ... 6
B. Konsepsi Metode Pengajaran “Celemek Certa”... 7
C. Konsepsi Kemandirian ... 8
BAB III METODE PENELITIAN ... 9
A. Pendekatan Penelitian ... 9
B. Model Penelitian ... 10
C. Rancangan Penelitian ... 14
D. Data dan Sumber Data Penelitian ... 14
E. Teknik Analisis Data ... 14
F. Alokasi Penelitian... 15
BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN ... 16
A. Siklus I ... 16
B. Siklus ... 21
BAB V PEMBAHASAN ... 22
A. Gambaran Metode Pembelajaran Bercerita dengan Alat Peraga Celemek Cerita ... 22
B. Gambaran Kemandirian Anak TK Kelompok A ... 24
C. Gambaran Metode Pembelajaran Bercerita dengan Alat Peraga “Celemek Cerita dalam Meningkatkan Kemandirian Anak 24 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 26
A. Kesimpulan ... 26
B. Saran ... 27
DAFTAR PUSTAKA ... 28
DAFTAR GAMBAR
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan di Taman Kanak-Kanak (TK) merupakan pendidikan yang
menyenangkan dengan prinsip “belajar sambil bermain, bermain seyara belajar”.
Berangkat dari sinilah pembelajaran yang ada di TK harus dicermati, sehinga apa
yang diharapkan, yakni agar anak-anak lebih mandiri dalam segala hal sesuai dengan
kapasitas anak bisa tercapai. Metode pengajaran yang tepat dan cermat akan
mengarahkan anak-anak pada hasil yang optimal.
Macam-macam metode pengajaran di antaranya adalah metode bercerita,
permainan bahasa, sandiwara boneka, bercakap-cakap, dramatisasi, bermain peran,
karya wisata, demontrasi, metode pemikiran dan perasaan terbuka, dan pemanasan
atau apersepsi
Tiap-tiap metode tentu mempunyai tujuan secara khusus sekalipun
kadang-kadang antara metode yang satu dengan metode yang lain mempunyai tujuan yang
sama. Hal itu dapat dilihat dalam buku “Pedoman Guru Bidang Pengembangan
Berbahasa di Taman Kanak-Kanak” yang dijelaskan:
Metode bercerita mempunyai tujuan melatih daya tangkap, melatih daya
pikir, melatih daya konsentrasi, membantu perkembangan fantasi, menciptakan
suasana menyenangkan, dan akrab di kelas.
Metode permainan bahasa mempunyai tujuan anak mengerti apa yang
dikatakan kepadanya, anak pandai memusatkan perhatiannya pada apa yang
didengarnya, anak pandai menarik kesimpulan dan apa yang sudah didengarnya, dan
anak suka mendengarkan pembicaraan orang lain.
Metode sandiwara boneka mempunyai tujuan melatih daya tangkap, melatih
daya pikir, melatih daya konsentrasi, melatih membuat kesimpulan, membantu
perkembangan intelegensi, membantu perkembangan fantasi, dan menciptakan
suasana senang di kelas.
Metode bercakap-cakap mempunyai tujuan mengembangkan kecakapan dan
keberanian, menyampaikan pendapat kepada orang lain, memberi kesempatan untuk
berekspresi secara lisan, memperbaiki lafal dan ucapan, dan mengembangkan
intelegensi.
Metode dramatisasi mempunyai tujuan memberi kesempatan yang
sebaik-baiknya kepada anak untuk mengekpresikan diri dan memenuhi kebutuhan meniru.
Metode mengucapkan syair mempunyai tujuan memupuk persamaan irama
dan perasaan estetis, memperkaya perbendaraan kata, dan melatih daya ingatan.
Metode bermain peran mempunyai tujuan melatih daya tangkap, melatih daya
konsentrasi, melatih membuat kesimpulan, membantu perkembangan intelegensi,
membantu perkembangan fantasi, dan menciptakan suasana senang.
Metode karya wisata mempunyai tujuan mengenal lingkungan secara
langsung membantu perkembangan intelegensi, dan menambah perbendaraan bahasa.
Begitu juga dengan metode-metode yang lain, misalkan metode demontrasi,
metode pemikiran dan perasaan terbuka, maupun metode pemanasan atau apersepsi
masing-masing tentu mempunyai tujuan khusus.
Metode-metode tersebut adalah sebuah variasi atau pilihan dalam setiap
melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh setiap
pengajar, sehingga tidak akan terjadi lagi penggunaan metode yang telah ditentukan
melenceng atau tidak sesuia dengan tujuan yang diinginkan. Dalam hal ini misalkan
metode cerita dibantu dengan alat peraga yang menarik dan unik akan merangsang
siswa untuk betul-betul memperhatikan setiap apa yang akan disampaikan oleh
pengajar atau guru.
Untuk menjadikan agar anak mandiri, agar anak dapat melakukan sesuatu
tanpa bantuan orang lain adalah suatu harapan bagi semua pihak baik dari pihak
sekolah maupun pihak orang tua atau wali murid, karena kemandirian adalah suatu
hal yang sangat menting yang harus dimiliki oleh setiap anak. Agar tidak selalu
bergantung pada orang lain. Kemandirian adalah “Hal atau keadaan dapat berdiri
sendiri, tanpa bergantung pada orang lain.” (Tim.1996:555). Oleh karena itu metode
bercerita dengan menggunakan alat peraga clemek cerita adalah sebuah pilihan yang
tepat.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah metode pembelajaran bercerita dengan menggunakan alat
peraga clemek cerita di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo?
2. Sejauh manakah kemandirian anak kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul
3. .Sejauh manakah metode pembelajaran bercerita dengan menggunakan alat
peraga clemek cerita anak kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I
Pucanganom Sidoarjo dalam meningkatkan kemandirian anak?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pembelajaran bercerita dengat alat pegaga clemek cerita di
TK Aisyiyah Athfal I Pucanganom Sidoarjo.
2. Untuk mengetahui kemandirian anak TK kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul
Athfal I Pucanganom Sidoarjo.
3. Untuk mengetahui sejauh mana metode bercerita dengan alat peraga clemek
cetita dalam meningkatkan kemandirian anak TK kelompok A di TK Aisyiyah
Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo.
D. Hipotesis
Berdasar atas rumusan masalah sebagai mana di atas dapat dirumuskan
hipotesis sebagai beriku:
Menggunakan metode pembelajaran bercerita dengan alat peraga celemek
cerita dapat meningkatkan kemandirian anak TK kelompok A di TK Aisyiyah
Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo.
E. Lingkup Penelitian
Agar dalam pembehasan ini tidak terlalu meluas, maka pembahasan hanya
alat peraga celemek cerita kaitannya dengan kemandirian anak TK kelompok A.
Penelitian ini dilakukan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo.
F. Definisi Oprasional
Agar tidak terjadi perbedaan arti, maka dalam penelitian ini diperlukan
pendefinisian hal-hal sebagai erikut:
1. Penggunaan clemek cerita yang diajarkan di TK Kelompok A TK Aisyiyah
Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo adalah pengembangan atau variasi
dari metode bercerita di bidang pengembangan kemampuan berbahasa di
Taman Kanak-Kanak yang menggunakan alat peraga tidak langsung, yakni
benda tiruan, gambar guntingan-guntingan yang ditempelkan pada celemek
yang terbuat dari kain flannel.
2. Yang dimaksud dengan kemandirian dalam penelitian ini adalah siswa dapat
melakukan sesuatu yakni dapat memakai sepatu dan baju tanpa bantuan orang
lain atau guru (pada saat di sekolah).
G. Kegunaan Penelitian
1. Secara teoritis kegunaan penelitian ini dapat memperbanyak atau
memperkaya tentang variasi metode pengajaran bercerita dengan penggunaan
alat peraga tidak langsung di bidang pengembangan kemampuan berbahasa di
taman kanak-kanak..
2. Bisa dipergunakan sebagai bahan pertimbangan bagi para pengajar dalam
BAB II
KAJIAN TEORITIS TENTANG METODE PENGAJARAN CELEMEK CERITA DAN KEMANDIRIAN ANAK
A. Konsepsi Metode Pengajaran
“Metode adalah merupakan cara utama yang bersifat umum dan luas yang
digunakan untuk mencapai suatu tujuan.” (Surahman, 1978: 121).
Sedangkan pengajaran adalah, ”1 proses, perbuatan, cara mengajar atau
mengajarkan; 2 perihal mengajar; segala sesuatu mengenai mngajar.” (Tim. 1996:
13).
Dengan demikian metode pengajaran berarti suatu cara utama yang bersifat
umum dan luas dalam melakukan proses, perbuatan, cara mengajar, atau
mengajarkan untuk mencapai suatu tujuan.
Metode pengajaran di TK amatlah banyak. Sebagaimana yang telah
dituangkan oleh peneliti pada bagian latar belakang. Adapun metode-metode yang
dimaksudkan adalah:
1. Metode pemberian tugas, yaitu metede yang memberikan kesempatan pada
anak untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk langsung yang telah
dipersiapkan oleh guru sehingga anak dapat mengalami secara nyata dan
melaksanakan secara tuntas. Tugas dapat diberikan secara berkelompok
ataupun individual.
2. Metode proyek, yaitu metode yang memberikan kesempatan pada anak untuk
menggunakan alam sekitar dan atau kegiatan sehari-hari anak sebagai bahan
pembahasan melalui berbagai kegiatan.
3. Metode karya wisata, yaitu kunjungan secara langsung ke objek-objek yang
sesuai dengan bahan kegiatan yang sedang dibahas di lingkungan kehidupan
anak.
4. Metode bermain peran, yaitu permainan yang memerankan tokoh-tokoh atau
benda-benda sekitar anak sehingga dapat mengembangkan daya khayal
(imajinasi) dan penghayatan terhadap bahan kegiatan yang dilaksanakan.
5. metode demontrasi, yaitu cara mempertunjukkan atau memeragakan suatu
objek atau proises dari suatu kejadian atau peristiwa.
6. Metode bercerita (ceramah), yaitu cara bertutur dan menyampaikan cerita
atau memberikan penerangan secara lisan.
7. Metode sosiodrama, yaitu suatu cara memerankan beberapa peran dalam
suatu cerita tertentu yang menuntut integrasi di antara para pemerannya.
8. Metode bercakap-cakap, yaitu suatu cara bercakap-cakap dalam bentuk Tanya
jawab antara anak dengan anak, atau anak dengan guru.
B. Konsepsi Metode Pengajaran “Celmek Cerita”
“Bercerita dengan alat peraga” dalam pelaksanaannya kegiatan ini dipergunakan alat peraga dengan maksud untuk memberikan kepada anak suatu tanggapan yang tepat mengenai hal-hal yang didengar dalam cerita. Dengan demikian dapat dihindarkan bahwa tanggapan fantasi anak terlalu menyimpang dari apa sebenarnya yang dimaksud oleh guru.
Alat peraga yang dipergunakan, yaitu:
1. Alat peraa langsung (binatang atau benda yang sebenarnya).
2. Alat peraga tak langsung, yakni benda tiruan, gambar terlepas atau dalam buku dan guntingan-guntingan yang ditempelkan pada papan flannel. (Saleh, 1988: 9).
Dari kutipan di atas dapat dianalogikan bahwa pengajaran dengan clemek
alat peraga tak langsung, yakni seorang guru memekai clemek yang terbuat dari kain
planel dengan ditempeli gambar-gambar sesuai dengan cerita yang bisa dipasang dan
dilepas sesuai dengan kebutuhan.
C. Konsepsi Kemandirian
Kemandirian adalah “Hal atau keadaan dapat berdiri sendiri, tanpa
bergantung pada orang lain.” (Tim, 1996: 555).
Dalam buku “Membentuk Anak Mandiri, Bermotivasi Tinggi dan Percaya
Diri” dijelaskan anak disebut mandiri apabila :
1. Mampu memberikan keputusan sendiri.
2. Memiliki alternatif dalam mengambil keputusan. 3. Tahua akan potensi yang dimiliki dri sendiri. 4. mampu mengerjakan tuga kesehariannya sendiri. 5. tidak bergantung pada orang lain.(Racman, 2005:3).
Banyak sekali anak usia TK kelompok A utamanya yang segala sesuatunya
masih sangat tergantung kepada orang lain. Semua aktivitas selalu masih harus
dibantu orang lain. Di rumah masih harus dibantu oleh kakak, ibu, ayah, nenek, atau
pembantu. Misalkan anak ingin memakai sepatu, anak masih harus dibantu mencari
sepatu di mana berada, kemudian memakaikan sepatu. Begitu juga pada saat anak
ingin memakai baju anak masih harus dibantu dengan segala hal sampai baju tersebut
betul-betul terpakai. Anak yang masih demikian, yakni masih sangat tergantung
kepada orang lain, tidak mau berusaha atau tidak mau melakukan setiap suatu
kegiatan untuk kepentingan diri sendiri adalah anak yang belum mandiri.
A. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan sifat
penelitian adalah pendekatan kualitatif karena dalam penelitian ini lebih
mengutamakan deskreftif analitik untuk memecahkan konsep-konsep di dalamnya;
bukan menggunakan numeric statistik.
“Penelitian kualitatif mengandalkan pengamatan, berperan serta (partisipant
observation), dan wawancara pendalaman (indepth interview) sebagai
instrumen.”(Bogdan, 1982:13)
:Penelitian kualitatif data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka,
melainkan data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan,
dokumen pribadi, catatan memo, dan dokumen resmi lainnya.” (Moleong, 19993:5).
Dalam kesempatan lain juga dijelaskan, “Penelitian sendiri atau dengan
bantuan orang lain akan berperan sebagai alat pengumpul data utama. Peneliti
disebut instrumen kreatif, artinya ia sendiri yang harus rajin dan giat untuk menggali
beberapa informasi dan sekaligus peneliti juga sebagai pengumpul, penganalisis, dan
pembuat laporan penelitian.”(Moleong.1994:17).
B. Model Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Rangkaian tindakan akan
melalui tahapan-tahapan, yakni tahapan perencanaan, tindakan, pengamatan, analisis
dan refleksi. Dari hasil analisis dan refleksi setiap akhir kegiatan dilakukan perbaikan
pada siklus berikutnya.
Adapun metode pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode cerita dengan penggunaan alat peraga clemek cerita untuk menarik perhatian
siswa pada saat pembelajaran.
Tindakan - Melaksanakan pengajaran dengan mnggunakan
alat peraga celemek cerita yang bergambar anak
pandai memakau sepatu dan anak pandai
memapakai baju. Secara bergantian sesuai dengan
kebutuhan.
- Mengelompokkan anak dari anak 30 menjadi dua
kelompk.
- Mempraktikkan memakai baju
- Mempraktikkan memakai sepatu
Pengamatan - Melakukan observasi dengan menggunakan format
penilaian
pelaksanaan kegiatan pembelajaran konsentrasi
anak tidak bisa makksimal
-Pelaksanaan kegiatan kelompok praktik memakai
sepatu dan baju, belum berhasil secara maksimal. Siklus
II
Perencanaa - menentukan tema
- membuat satuan kegiatan harian
-mempersiapkan alat peraga clemek cerita,
bergambar anak pandai memakai sepatu dan anak
pantai memakai baju.
- menyiapkan intrumen observasi
Tindakan - melaksanakan pengajaran dengan menggunakan
alat peraga, clemek cerita, gambar-gambar sesuai
dengan yang diharakan, dan sepatu sejumlah objek
penelitian 30 anak.
- Mengeklompokkan anak menjadi tiga kelompok
dengan tiap kelompok sepuluh anak.
- Mempraktikkan memakai baju, dan
mempraktikkan memakai sepatu.
data observasi tindakan kelas dengan krteria
penelaian
-1. ; sama sekali belum mampu
-2. ; mampu dengan bantuan
- 3. : mampu tanpa bantuan
- 4. : mampu melebihi program guru
Refleksi - Objek penelitian sebanyak 30 anak (satu kelas)
- Melaksanakan kegiatan kelompok praktik
memakai spatu dan memakai baju. Perencanaan - Menentukan tema
- Membuat satuan kegiatan harian
- Mempersiapkan alat peraga clemek cerita yang
bergambar sepatu dan baju.
- Anak dipersipkan masuk kamar mandi
Tindakan - Melaksanakan pengajaran dengan menggunakan
alat peraga clemek cerita yang bergambar sesuai
dengan harapan.
- Mengelompokkan anak menjadi tiga kelompok d
- Anak berdiskusi
- Anak mempraktikkan memakai sepatu dan
mempraktikkan memakai baju. Pengamata - Mengumpulkan data observasi Refleksi - Objek penelitian 30 anak satu kelas
- Pengumpulan data observasi
- Rekapitulasi nilai
sendiri.
D. Data dan Sumber Data Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa catatan-catatan,
rencana atau persiapan mengajar, laporan, dan dokumen-dokumen lain yang ada
hubungannya dengan penelitian ini. Adapun sumber data dalam penelitianm ini
adalah guru dan siswa TK Aisyiyah Bustanul Athfal I kelompok A Pucanganom
Sidoarjo.
E. Teknik Analisis Data
Dalam penganalisisan data ini peneliti menggunakan model deskripsi.
Deskripsi bertujuan untuk mendeskripsikan peristiwa atau kejadian yang ada
sebagaimana pernyataan, “Deskripsi digunakan apabila bertujuan untuk
mendeskripsikan atau menjelaskan peristiwa dan kejadian yang ada sesuai dengan
apa adanya.” (Sudjana, 1987:53). Deskripsi yang dimaksudkan dalam penelitian ini
adalah mengumpulkan data secara objektif, apa adanya yang terdapat dalam TK
Aisyia Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo baik dari segi persiapan pembelajaran
yang dilakukan oleh guru, proses selama pembelajaran pembelajaran, maupn
evaluasi pembelajarnnya.
F. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang diambil oleh peneliti adalah TK Aisyiyah Bustanul
Athfal I Pucanganom Jalan Raden Patah nomor 77 kecamatan sidoarjo kabupaten
Sidoarjo Provinsi Jawa Timur. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada hasil observasi
lbahwa lokasi tersebut sangat strategis dan mudah di jangkau karena terletak di
tengah kota. Selain itu sekolah ini tergolong sekolah yang dianggap bermutu dan
difavoritkan oleh masyarakat, sehingga animo masyarakat untuk menyekolahkan
putra-putrinya sangat-sangatlah tinggi. Hal tersebut dapat dibuktikan pada setiap
penerimaan siswa baru banyak sekali yang datang dari luar kecamatan sidoarjo harus
siap bersaing antara satu dengan yang lain dan siap untuk tidak diterima karena
kapasitas yang tersedia sangat terbatas. Sekalipun dalam kegiatan sehari-harinya
dalam kegiatan pembelajaran masih banyak dijumpai siswa yang belum bisa mandiri
untuk melakukan kegiatan yang berkenaan dengan dirinya sendiri. Misalkan anak
masih harus dibantu memakai sepatu, yang seharusnya sudah tidak perlu dibantu
lagi, begitu juga dengan kegiatan yang lain misalkan memakai baju, anak masih
mencari guru-gurunya untuk membantu memakaikan. Oleh karena itu perlu adanya
variasi pembelajaran yang lebih menarik, lebih hidup, dan tidak menjenuhkan.
BAB IV
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
Berdasar atas observasi dan hasil diskusi guru atau pengajar kelompok A di
tetapi untuk mengurangi kejenuhan anak dalam tiap pembelajaran guru harus kaya
dengan metode pembelajaran dan kaya dalam mengoptimalkan penggunaan alat
peraga, sehingga hasil pembelajaran yang diharapkan, yakni agar anak bisa lebih
mandiri bisa tercapai sesuai dengan harapan.
Agar permasalahan keterpakuan penggunaan alat peraga sangat bergantung
pada buku-buku yang ada akhirnya menimbulkan kejenuhan segera dapat teratasi,
salah satunya adalah perlunya adanya pengayaan metode bercerita dengan
penggunaan alat peraga celemek cerita.
Dalam penelitian ini terbagi atas dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II yang
masing-masing siklus terbagi atas bagian-bagian, yaitu perencanaan, tindakan,
pengamatan, dan refleksi dan masing-masing bagian terbagi atas beberapa bagian
lagi.
A. Siklus I
1. Perencanaan
Dalam penelitian ini peneliti selain sebagai subjek penelitian juga sebagai
objek penelitian, yang dibantu oleh guru lain. Dengan demikian objek
penelitian selain peneliti sendiri juga terdapat guru lain. Oleh karena itu
pemahaman konseptual sampai dengan persiapan-persiapan administrasi
pengajaran harus tertata dengan baik. Adapun yang perlu dipahami dan
disiapkan adalah penentuan tema yang harus diajarkan, kemudian pembuatan
persiapan alat peraga atau sumber belajar yang dalam bagian alat peraga ini
harus diperjelas tentang alat peraga yang digunakan, yakni “celemek cerita”,
sedangkan selanjutnya adalah persiapan instrumen observasi.
2. Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan pembelajaran ini dilakukan sebanyak empat kali
pertemuan. Dalam pembelajaran ini selalu menggunakan alat peraga celemek
cerita dengan gambar anak pandai memakai sepatu dan anak pandai memakai
baju.
Pertemuan I
Guru bercerita tentang anak yang memakai sepatu dan baju
Pertemuan II
Mengelompokkan anak 30 menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok
ada 15 anak.
Pertemuan III
Pemberian contoh pemakaian sepatu dan pemakain baju dari masing-masing
kelompok dua anak.
16
baju yang benar.
3. Pengamatan
Pertemuan I
Melaksanakan observasi dengan menggunakan format data obserfasi tindakan
kelas dengan kreteria penilan sebagai berikut:
1 = belum mampu
2 = mampu dengan bantuan
3 = mampu tanpa bantuan
4 = mampu melebihi program guru
Hasil di lapangan setelah guru bercerita tentang anak memakai sepatu dan
memakai baju dengan menggunakan alat perga celemek cerita bergambar anak
mempraktikkan memakai sepatu dan memakai baju dengan dipandu oleh dua
guru dengan jumlah 30 murid. Hasilnya anak masih belum mampu.
Pertemuan II
Setelah guru bercerita di depan anak dengan menggunakan celemek cerita
yang ditempeli gambar anak pandai memakai sepatu dan gambar anak pandai
memakai baju, anak disuruh mempraktikkan memakai sepatu dan memakai
menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok 15 anak, hasilnya anak
mampu, tetapi masih dengan bantuan.
Pertemuan III
Setelah guru bercerita tentang anak memakai sepatu dan memakai baju
dengan menggunakan alat perga celemek cerita bergambar anak
mempraktikkan memakai sepatu dan memakai baju dengan dipandu oleh dua
guru dengan pengelompokkan dari 30 murid menjadi tiga kelompok. Masing
masing kelompok terdiri atas 10 anak, hasilnya anak mampu, tetapi masih
dengan bantuan guru.
Pertemuan IV
Setelah guru bercerita tentang anak memakai sepatu dan memakai baju
dengan menggunakan alat peraga celemek cerita bergambar anak pandai
memakai sepatu dan gambar anak pandai memakai baju, selanjutnya anak
disuruh mempraktikkan memakai sepatu dan memakai baju dengan dipandu
oleh dua guru dengan pengelompokkan dari 30 murid menjadi enam
kelompok masing-masing kelompok lima anak, hasilnya anak mampu
melakukan tanpa bantuan.
4. Refleksi
konsentrasi anak tidak bisa maksimal, sehingga pelaksanaan kegiatan praktik
memakai baju dan memakai sepatu belum berhasil.
Pertemuan II
Pelaksanaan kegiatan praktik anak memakai baju dan memakai sepatu dapat
dikatakan anak masih belum mampu meskipun sudah dikelompokkan dua
kelompok dari tiga puluh anak.
Pertemuan III
Pelaksanaan kegiatan praktik anak memakai baju dan memakai sepatu sudah
mulai mampu, meskipun masih dengan bantuan guru. Adapun pembagian
kelompoknya adalah 30 murid dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yang
masing-masing kelompok terdiri atas 10 anak.
Pertemuan IV
Dalam pelaksanaan kegiatan praktik anak memakai sepatu dan memakai baju
ternyata anak mampu tampa bantuan guru dari 30 murid. Sedangkan
pembagian kelompoknya adalah dibagi menjadi enam kelompok, yang
masing-masing kelompok terdiri atas lima anak.
B. Siklus II
Siklus kedua ini sistematika yang peneliti gunakan sama; tidak jauh berbeda
dengan siklus pertama. Pada siklus ini juga terdapat empat tahapan, yaitu tahap
persiapan, tahap tindakan. tahap pengamatan, dan tahab refleksi. Pada tiap-tiap tahap
tebagi atas beberapa pertemuan. Adapun perbedaan yang paling signifikan dari siklus
II bila dibandingkan dengan siklus I adalah pada penekanan kualitas hasil, pada
siklus I kemandirian anak masih tergolong longgar, yakni yang penting anak mau
memakai sepatau atau baju dan waktu yang digunakan tidak mutlak sebagai tolok
ukur, Sedangkan pada siklus II kualitas kemandirian dan keterampilan adalah
sebagai titik tekan yang utama.
Bustanul Athfal I Pucanganom – Sidoarjo, peneliti akan memaparkan gambaran
tentang metode pembelajaran bercerita dengan alat peraga celemek cerita, gambaran
kemandirian anak TK kelompok A, dan gambaran pembelajaran bercerita dalam
rangka untuk meningkatkan kemandirian anak.
A. Gambaran Metode Pembelajaran Bercerita dengan Alat Peraga “Celemek
Cerita”
Guru mengajar dengan memakai celemek cerita yang ditempeli gambar anak
yang pandai memakai sepatu dan gambar anak yang pandai memakai baju.
Penempelan gambar tersebut dilakukan secara bergantian, mula-mula gambar yang
ditempelkan adalah gambar anak yang pandai memakai sepatu dan yang selanjutnya
adalah gambar anak yang pandai memakai baju. Pada awal masuk ini guru hanya
ingin menarik perhatian anak-anak agar kegiatan pembelajaran segera terkondisikan.
Untuk menguji apakah anak-anak secara mayoriotas atau minoritas sudah bisa
memakai sepatu dan baju tanpa bantuan orang lain, maka guru tanpa banyak
komentar tentang bagaimana cara memakai sepatu atau baju. Akan tetapi guru secara
langsung memerintahkan kepada anak agar melapas sepatu yang dikenakan
kemudian memakainya kembali. Selain itu guru juga memerintahkan agar anak
memakai baju yang telah disiapkan dari rumah. Hasilnya dapat diketahui dari 30
anak yang bisa memakai sepatu hanya dua anak dan yang bisa memakai baju hanya 1
digunakan oleh guru agar siswa bisa memakai sepatu dan baju tanpa bantuan orang
lain adalah dengan cra mempraktikan. Yaitu memanggil dua anak ke depat sebagai
peragaan untuk mempraktikkan cara memakai sepatu dan cara memakai baju secara
bergantian dengan bantuan seorang guru.. Setelah itu seluruh anak dengan cara
dikelompokkan mempraktikkan cara memakai sepatu dan cara memakai baju. Dari
30 anak yang disuruh untuk memakai sepatu dan memakai baju 12 anak yang bisa
memakai sepatu 10 anak yang bisa memakai baju. Cara mempraktikan memakai
sepatu dan memakai baju ini diulang-ulang sampai sdengan empat kali dan hasi
akhir menunjukkan dari 30 anak yang bisa memakai sepatu 30 anak dan anak yang
bisa memaskai baju 30 anak.
Penggunaan celemek cerita dipakai oleh guru sejak sebelum masuk ke dalam
kelas, sehingga masuk ke kelas guru sudah dalam keadam memakai celemek cerita
dengan masked sebagaimana yang telah disampaikan bagian awal agar menarik
perhatian anak dan kegiatan belajar mengajar segera terkondisikan.
Aktivitas dan reaksi siswa dalam penggunaan peraga celemek cerita ini
bermacam-macam. Ada yang melihat saja dari kejauhan sambil memperhatikan
gerak-gerik gurunya, ada yang ingin melihat dari dekat sambil memperhatikan
gambar secara seksama sambil berkomentar macam-macam, “O, gambar orang dan
ini gambar sepatu.” “Ini gambar siapa Bu?” “Bu, Bu, mengapa memakai ini Ibu
masak ya?” “Mengapa Ibu memakai celemek?” dan lain-lain.
B. Gambaran Kemandirian Anak TK Kelompok A
Berdasarkan pengamatan anak kelompok A TK Bustanul Athfal I Puanganom
sidoarjo pada saat kegiatan belajar dapat dilihat dari 30 anak yang bisa memakai
sepatu dan memakai baju tanpa bantuan sama sekali dari guru adalah dua anak
memakai sepatu dan satu anak memakai baju. Hal tersebut terjadi pada pertemuan
pertama. Sedangkan pada pertemuan berikutnya anak yang sudah bisa memakai
sepatu dua belas anak anak dan yang sudah bisa memakai baju 10 anak. Pada
pertemuan ketiga anak yang sudah bisa memakai sepatu 25 anak dan anak yang
sudah bisa memakai baju 24 anak. Sedangkan untuk pertemuan keempat anak yang
bisa mmakai sepatu 30 anak dan yang bisa memakai baju 30 anak.
C. Gambaran Metode Pembelajaran Bercerita dengan Alat Peraga “Celemek
Cerita” Dalam Meningkatkan Kemandirian Anak
Penggunaan metode bercerita dengan alat peraga celemek cerita dalam
meningkatkan kemandirian anak dapat dilihat pada BAB V bagian A dan bagian B
pada awalnya 30 anak memakai sepatu dan baju masih harus dibantu oleh guru
karena anak yang bisa memakai sepatu dua anak dan yang bisa memakai baju hanya
satu anak. Akan tetapi setelah menggunakan metode bercerita dengan dibantu alat
peraga celemek cerita 100 persen bisa mandiri. Artinya dari 30 murid yang bisa
memakai sepatu 30 murid, begitu juga yang bisa memakai baju 30 murid.
Perkembangan keberhasilan metode bercerita dengan penggunaan alat peraga
celemek cerita dari 30 murid TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom Sidoarjo
No. Pertemuan
Hasil yang Dicapai Siswa yang
bisa memakai sepatu
Presentsi
Keberhasilan bisa memakaiSiswa yang baju
Presentasi Kebehasilan
1 Pertemuan I 2 6 % 1 3 %
2 Pertemuan II 12 36 % 10 30 % 3 Pertemuan III 25 75 % 24 72 % 4 Pertemuan IV 30 100 % 30 100 %
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
berikut:
1. Metode pembelajaran bercerita dengan alat peraga celemek cerita yang
dilakukan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucangonom sidoarjo dalam
rangka untuk meningkatkan kemandirian anak adalah suatu pilihan yang tepat
dan cermat.
2. Kemandirian anak kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom
Sidoarjo masih perlu ditingkatkan, karena tingkat kemandirian mereka untuk
melakukan sesuatu sehari-hari untuk kepentingan diri sendiri masih sangat
rendah. Hal itu dapat dilihat seperti pada saat memakai sepatu masih harus
dibantu oleh guru, begitu juga memakai baju anak masih harus dibantu oleh
guru.
3. Metode Pembelajaran Bercerita dengan alat peraga celemek cerita dapat
meningkatkan kemandirian anak, hal ini dapat dilihat dari paparan data
perkembangan dari siklus I ke siklus berikutnya yang terdapat perkembangan
secara signifikan. Dapat dengan jelas dilihat dari kemandirian anak yang
semula hanya mencapai 6% untuk anak yang memakai sepatu dan 3% untuk
anak yang memakai baju. Dengan penggunaan metode tepat dan cermat
akhirnya baik memakai sepatu maupun baju berubah menjadi 100%.
B. SARAN
1. Agar pembelajaran menjadi menarik seorang pengajar harus pandai-pandai
memilih metode yang tepat dan cermat dalam setiap melaksanakan kegiatan
belajar megajar, jangan hanya terpaku pada metode dan penggunaan alat
peraga yang ada dalam buku, maka pada giliran selanjutnya adalah siswa
merasa bosan dan jenuh karena metode yang digunakan oleh guru monoton.
2. Semoga TK Aisyiyah Bustanul Athfal I minimal bisa mempertahankan
metode-metode yang cermat dan tepat dalam setiap melaksanakan kegiatan
pembelajarannya dan lebih baik lagi bila selalu berusaha dan belajar untuk
meningkatkan demi kebaikan bersama.
Moleong, Lekxy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif . Bantung: PT Remaja.
Rachman, Arief. 2005. Memebntuk Anak Mandiri, Bermotivasi tinggi, dan Percaya
Diri. Jakarta: Nikita.
Sujana, Nana. 1997. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah (Makalah – Skripsi –
Tesis – disertasi) Jakarta: Sinar Baru Algensindo.
Surahmad, Winarno. 1994 . Dasar dan Teknik Reasearh. Bandung: Tarsita
Saleh, Chasman. 1988. Pedoman Guru Bidang Pengembangan kemampuan
Berbahasa di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Departeman Pendidikan dan
Kebudayaan.
Tim. 1990 Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Tim. 1996. Pedoman Guru Bidang Pengembangan Berbahasa di Taman
Kanak-Kanak. Jakarta: Departemen Pendidikan. Dan Kebudayaan.
Tim. 1997. Metode Khusus Pengembasngan Keterampilan di Taman
Kanak-Kanak. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Tim. 1997. Mendidik Kusus Pengembangan Daya Pikir di Taman Kanak-Kanak.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
No. Nama Anak Dapat Keterangan 1 M. Syeikhul Islam Alakbar
DATA OBSERVASI 1 M. Syeikhul Islam Alakbar
No. Nama Anak Dapat Keterangan 1 M. Syeikhul Islam Alakbar
DATA OBSERVASI 1 M. Syeikhul Islam Alakbar