BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS. Istilah atletik berasal dari kata athlon(bahasa yunani) yang berarti berlomba

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS

2.1 Hakikat Atletik

Istilah atletik berasal dari kata athlon(bahasa yunani) yang berarti berlomba atau bertanding, istilah lain yang menggunakn kata atletik adalah athletic(bahasa inggris), athletiek(bahasa belanda),athetique(bahasa prancis) dan athletik (bahasa jerman).

Atletik adalah salah satu cabang olah raga tertua yang telah dilakukan oleh manusia sejak zaman purba hingga sekarang . Bahkan, boleh dikatakan sejak adanya manusia di muka bumi ini atletik sudah ada, karena gerakan-gerakan yang terdapat dalam cabang olah raga atletik seperti berjalan, berlari, melempar, dan melompat adalah gerakan yang dilakukan manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam bahasa inggris, nomor-nomor dalam perlombaan atletik seperti nomor jalan cepat, lari, lompat dan lempar dinamakan dengan istilah track and field yang artinya perlombaan yang dilakukan di lintasan dan di lapangan.

Nomor-nomor yang di lombakan dalam cabang olah raga atletik adalah sebagai berikut ;

1. Nomor lari

a. Lari jarak pendek(sprint) ; 60 meter ,80 meter ,100 meter, 200 meter dan 400 meter.

(2)

b. Lari jarak menengah (midle distance ); 800 meter dan 1500 meter. c. Lari jarak jauh(long distance); 300 meter , 500 meter dan 10.00 meter. d. Lari marathon ; 42.195 meter.

e. Lari khusus ; lari gawang 100 meter,110 meter,400 meter dan lari halang rintang 3.000 meter.

f. Lari estafet ; 4X100 meter dan 4X400 meter.

2. Nomor jalan ; 5 Km , 10 Km, 20 Km, dan 50 Km.

3. Nomor lempar,lempar lembing,lempar cakram,tolak peluru dan lontar martil.

4. Nomor lompat,lompat jauh, lompat tinggi, lompat jangkit dan lompat ttinggi galah.

2.2 Hakikat Waktu Reaksi Start Jongkok

Menurut Hous(1987;46) mengemukakan bahwa dalam olahraga waktu reaksi atau kecepatan reaksi sangat penting pada waktu start. Dan pendapat lain yang di kemukakan oleh Sajoto (2005;10) bahwa reaksi adalah waktu tersingkat yang dilakukan untuk memberi jawaban kinetis setelah menerima suatu rangsangan. Hal ini berhubungan erat dengan waktu reflex,waqktu gerakan dan waktu respon. Kemampuan tubuh atau anggota tubuh untuk bereaksi secara cepat mungkin ketika menerima rangsangan yang datang. Biasanya di terima oleh reseptor somatik, kinestetik atau vestibular. Reaksi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak

(3)

secepatnya dalam menanggapi rangsangan yang di timbulkan lewat indera, syaraf atau filling.

Berdasarkan dari ke dua pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa waktu reaksi sangat berpengaruh pada saat kita akan melakukan start yang terutama start jongkok yang di gunakan pada lari jarak pendek. Karena dalam lari jarak pendek start sangat menentukan atau mempengaruhi keberhasilan lari jarak pendek. Dan untuk melatih waktu reaksi yaitu melalui panca indera manusia dan melalui rangsangan . Dalam start jongkok ini sangat di butuhkan weaktu reaksi yang melalui panca indra syaraf atau pendengaran, karena pada saat keluar start itu membutuhkan konsentrasi penuh. Pada saat atlet keluar dari start harus bersamaan dengan bunyi pistol, jika atlet lambat keluar dari start sangat merugikan dirinya sendiri, karena dalam lari jarak pendek ini terutama lari 60 meter keterlambatan hanya beberapa sekon saja sangat berpengaruh.

Pendapat lain mengenai waktu reaksi atau kecepatan reaksi adalah kecepatan menjawab suatu rangsangan dengan cepat ,rangsangan itu berupa suara atau pendengaran( Suhendro ,2001 ;25) . Dari pendapat di atas maka dapat di simpulkan bahwa untuk melatih kecepatan reaksi atau waktu reaksi dengan cara memberikan aba-aba kepada siswa yang di teliti melalui suara atau bunyi, dan bisa juga melalui rangsangan sentuhan dan latihan ini lakukan secara berulang-ulang karena di tingkat nasional maupun internasional latihan start ini membutuhakan waktu yang cukup lama.

(4)

Waktu reaksi di pengaruhi pada waktu kita melakukan start . Start merupakan suatu istilah yang di gunakan dalam olahraga khususnya pada saat akan melakukan atau memulai suatu petandingan atau perlombaan sesuai denagn jenis dan fungsinya. Teknik start dilakikan pada saat memulai perlombaan lari dapat di bedakan menjadi tiga macam yaitu; 1) start berdiri (standing start) start ini di gunakan pada lari jarak menengah dan lari jarak jauh .2) start melayang (plying start) start ini di gunakan pada lari estafet untuk pelari kedua ,ketiga dank keempat. 3) start jongkok (rcrouching stat) start ini di gunakan pada lari jarak pendek (khomsin,2005;35). Seperti pendapat di atas bahwa start yang di gunakan pada lari jarak pendek adalah start jongkok, yang akan di teliti oleh penulis. Menurut Muhajir (2007;36) mengemukakan bahwa kunci pertama yang di kuasai oleh pelari cepat atau sprinter adalah start atau tolakan. Keterlambatan atau ketidaktelitian pada waktu melakukan start sangat merugikan seorang pelari cepat atau sprinter.

Maka keterlambatan atau ketidaktelitian pada saat kita keluar start sangat berpengaruh pada hasil atau prestasi lari jarak pendek terutama pada lari 60 meter yang jarak tempuhnya sangat dekat. Karena pada lari jarak pendek itu terlambat 1 detik sama saja kita tertinggal jarak 10 meter. Menurut Soegito (1996;100) bahwa start jongkok adalah sikap berlutut pada satu kaki, lutut lainnya dilipat badan membungkuk dan kedua tangan terletak di tanah. Sedangkan menurut Muhajir (2003;92) bahwa teknik start jongkok menurut posisi penempatan kedua kaki seorang pelari pada saat mengambil start dapat di bedakan menjadi tiga yaitu, (1) teknik start

(5)

pendek (bounch start) .(2) teknik start menengah (medium start) dan (3) teknik start panjang (long start).

Macam –macam bentuk start jongok pada aba-aba “ya”(Muhajir 2003;93) yaitu:

a) Start pendek (bounch start)

Berdiri tegak dengan kedua kaki sedikit rapat, lengan di samping dan pandangan lurus kedepan. Langkahan kaki kiri kedepan dengan jari-jari menghadap kedepan. Letakkan lutut kaki belakang sejajar dengan jari-jari kaki depan. Jarak antara kedua kaki satu telapak tangan. Turunan badan kedepan dan letakkan jari-jari tangan di belakang garis start. Jari –jari tangan di rapatkan dan ibu jari tangan hampir sejajar dengan garis start. Posisi jari-jari tangan berbentuk huruf V terbalik, sikap kedua lengan tetap lurus, berat badan hampir seluruhnya bertumpuh pada kedua tangan. Angkat panggul ke atas sehingga pantat lebih tinggi dari pada pundak. Kedua lengan tetap lurus dan leher tetap lemas. Sikap ini di pertahankan beberapa saat. Pada aba-aba “ya” atau bunyi “pistol”,tolakkanlah kaki depan pada blok start dengan sekuat-kuatnya lalu berlarilah secepat-cepatnya.

(6)

Gambar 1 Bounch start (muhajir,2003:93)

b) Start menengah (medium start)

Sikap permulaan pada start menengah sama dengan start pendek langkahkan salah satu kaki menghadap lurus ke depan. Turunkan badan dan letakkan lutut kaki belakang di samping jari-jari depan dengan jarak satu kepal tangan. Turunkan badan kedepan dan tempatkan ke dua tangan di belakang garis start dengan ibu jari di buka kedalam. Jarak ke dua tangan selebar bahu atau lebih. Angkatkanlah bahu secara perlahan-lahan keatas sehingga pantat lebih tinggi dari pada pundak ,kedua lengan tetap lurus dan berat badan bertumpuh pada kedua tangan. Pada saat mendengar aba-aba “ya” atau bunyi “pistol”,tolakkan kaki depan, lalu secepatnya langkahkan kaki belakang ke depan untuk mulai berlari.

Gambar 2 (Medium start(muhajir,2003:93)

c) Start panjang (long start)

Sikap permulaan pada start panjang sama dengan start menengah. Langkahan salah satu kaki ke depan dengan jari-jari kaki menghadap ke depan. Lutut kaki

(7)

belakang segaris dengan tumit kaki depan . tempatkan ke dua tangan di belakang garis start. Jari tangan di rapatkan kecuali ibu jari di buka ke dalam hingga telunjuk dan ibu jari tangan membentuk V terbalik. Jarak kedua tangan selebar bahu. Angkat panggul ke atas hingga pantal lebih tinggi dari pundak. Kedua lengan tetap lurus, leher tetap lemas ,dan kepala mengikuti gerakan badan. Pada saat mendengar aba-aba “ya” atau bunyi”pistol”, tolakkan kaki depan dan selanjutnya langkahkan kaki belakang kedepan untuk mulai berlari.

Gambar 3 ( Long start(Muhajir,2003:93 )

Perbedaan ketiga teknik start jongkok itu terletak pada penempatan antara kaki bagian depan dengan lutut. Start panjang biasanya di gunakan oleh atlet-atlet yang berkaki panjang, start menengah di gunakan dan diajarkan pada atlet-atlet pemula atau pelajar, start pendek digunakan oleh atlet-atlet berprestasi yang berkaki pendek. Sedangkan penggunaannya tergantung pada atlet itu sendiri(Soegito,1996;102). Sedangkan menurut Gerry(2003;29) bahwa posisi yang terbaik bagi masing-masing atlet tergantung pada panjang tubuh, panjang kaki,

(8)

kekuatan kaki dan koordinasi kaki sprinter. Panjang kaki merupakan aspek penting dalam menentukan posisi balok start.

Menurut Harald Muller dan Wolfgang Ritzdorf(2000;15-20)bahwa start jongkok di bagi dalam empat phase:

Posisi”BERSEDIAA”

Dalam posisi”Bersediaaa”si pelari sprinter telah siap di start blok dan mengambil sikap/posisi awal. Kedua kaki dalam keadaan menyentuh tanah, lutut kaki belakang terletak di tanah,kedua tangan di letakkan di tanah, terpisah selebar bahu lebih sedikit, jari-jari tangan dilengkungkan, kepala dalam keadaan datar dengan punggung,sedang mata menatap lurus ke bawah.

Gambar 4 Gambar posisi bersedia(Harald Muller 2000)

Posisi “SIAAP”

Dalam posisi “SIAAAP” si sprinter telah bergerak ke posisi optimal. Lutut-lutut di tekuk kebelakang , Lutut-lutut kaki depan ada dalam posisi membentuk sudut siku-suku (90 derajat), lutut kaki belakang membentuk sudut antara 120-140 derajat, pinggung sedikit di angkat tinggi dari pada bahu, tubuh sedikit condong ke depan, bahu sedikit lebih maju kedepan dari ke dua tangan.

(9)

Gambar 5 ( Gambar posisi siap(Harald Muller)

Phase dorong/drive

Dalam tahap phase dorong si sprinter meninggalkan start blok dan melakukan atau membuat langkah pertama. Badan diluruskan dan di angkat pada saat kedua kaki menekan keras pada blok start, ke dua tangan diangkat dari tanah bersamaan untuk kemudian diayun bergantian, kaki belakang mendorong kuat, dorongan kaki depan sedikit tidak kuat atau keras namun lebih lama, kaki belakang diayun kedepan dengan cepat sedangkan badan condong kedepan, lutut dan pinggang keduanya diluruskan penuh pada saat akhir dorongan.

(10)

Phase lari percepatan/akselerasi

Dalam phase lari percepatan si sprinter menambah kecepatan lari dan membuat atau melakukan transisi ke gerakan lari. Kaki ditempatkan dengan cepat pada telapak kaki untuk membuat langkah pertama, condong badan kedepan dipertahankan, tungkai-tungkai bawah dipertahankan selalu parallel dengan tanah saat pemulihan, panjang langkah dan frekuensi gerak-langkah meningkat dengan setiap langkah, badan ditegakkan dari sedikit setelah jarak 20-30 meter.

Gambar 7 (Gambar phase akselerasi( Muller)

2.3 Hakikat Lari Jarak Pendek (60 meter)

Lari merupakan bagian dari gerak yang dilakukan manusia dari kehidupan sehari-hari. Selain itu cabang olah raga melibatkan gerakan-gerakan yang terdapat pada atletik. Seiring dengan bertambahnya kemajuan dan perubahan kebudayaan manusia maka gerakan lari berubah menjadi suatu kegiatan atau aktivitas yang di lambangkan dan di gunakan untuk meningkatkan kebugaran jasmani. Oleh karena itu

(11)

lari merupakan salah satu nomor yang sangat penting dalam cabang olah raga atletik, karena merupakan gerakan dasar hampir semua cabang olah raga.

Widya (2004:13) mendefinisikan bahwa lari adalah frekuensi langkah yang di percepat sehingga pada waktu berlari ada kecenderungan badan melayang. Artinya pada waktu berlari kedua kaki tidak menyentuh tanah sekurang-kurangnya hanya ujung kaki yang menyentuh tanah. Khosim (2005;31) bahwa lari adalah gerakan berpindah tempat atau bergerak maju kedepan yang dilakukan dengan cepat,karena adanya daya dorong kaki belakang pada tanah yang di lakukan dengan mengais, sehingga ke dua kaki saat berlari ada saat melayang di udara. Penaertian lari cepat yang di kemukakan oleh Basuki (1997:57) bahwa lari cepat adalah semua lomba lari dimana peserta berlari dengan kecepatan penuh sepanjang jarak yang di tempuh .

Dari beberapa pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa gerakan lari itu kecenderungan badan melayang dan yang menyentuh tanah itu hanyalah ujung kaki , lari juga akan meningkatkan kesegaran jasmani kita. Dan berkembangnya zaman maka lari di jadikan suatu ajang lomba dalam kegiatan-kegiatan besar.

Lari jarak pendek merupakan nomor lari yang sangat bergengsi pada lomba kegiatatan kejuaraan-kejuaraan nasional maupun internasional, karena jarak tempuhnya sangat dekat. Nomor – nomor lari jarak pendek yang di perlombakan pada tinkat-tingkat nasional yaitu nomor lari 60 Meter, 80 Merter, 100 Meter, 200 Meter, 400 Meter, lari estafet 4X100 Meter dan 4X400 Meter, lari gawang.

Lari jarak pendek adalah semua nomor lari di mana peserta berlari dengan kecepatn penuh sepanjang jarak ditentukan. Syaripuddin (1992;41) mengungkapkan

(12)

bahwa lari jarak pendek adalah suatu cara lari di mana si atlet menempuh seluruh jarak dengan kecepatan semaksimal mungkin. Artinya harus melakukan lari secepat-cepatnya dengan menggerakan seluruh kekuatan mulai awal (mulai dari start) sampai dengan melewati garis akhir(garis finish).

Pada dasarnya gerakan lari itu semua sama, namun demikian dengan adanya perbedaan jarak tempuh, maka sekali pun sangat kecil terdapat pada perbedaan pada pelaksanaanya(Abdoellah, 1981;51).

Dalam suatu perlombaan lari jarak pendek (sprint), kunci utama yang menetukan keberhasilan pelari ada tiga yaitu cara melakukan start, cara berlari dan cara memasuki garis finish. Ketiga cara tersebut merupakan hal pokok yang harus di kuasai oleh pelari jarak pendek.

Seperti yang di kemukakan oleh Sarjianto dan Sujarwadi(januari 2009) bahwa teknik dasar lari jarak pendek ada tiga yaitu:

a. Cara melakukan start jongkok

Dalam nomor lari jarak pendek, start yang digunakan adalah start jongkok. Pelaksaa start jongkok ada tiga tahap, yaitu”berseia, siap, dan…. yak atau bunyi pistol”.

Teknik dasar start jongkok sebagai berikut, a) Pada waktu aba-aba “bersedia”.

Pelari menuju ke depan garis start kemudian meletakan salah satu kaki di depan start blok . Letakkan lutut di samping kaki depan dan di teruskan .

(13)

b) Pada waktu aba-aba “siaap”

Angkat pinggul lebih tinggi dari pundak. Kepala atau leher tetap lemas mengikuti gerakan pinggul. Sikap ini harus di tahan jangan goyang sampai menunggu aba-aba selanjutnya.

c) Pada wakru aba-aba”yak”

Tolakkan kaki sekuat-kuatnya pada start blok dan lari secepatnya. b. Cara melakukan lari jarak pendek

Teknik lari jarak pendek adalah kaki digerakan dengan cepat, lutut di angkat tinggi , tangan dan siku di bengkokkan, serta di ayunkan dari belakang ke depan. Untuk mengimbangi gerakan kaki, badan condong ke depan, dan pandangan lurus ke depan.

c. Cara melewati garis finish

Setelah menempuh jarak 60 meter dapat memasuki garis finish dengan cara sebagai berikut.

1) Lari terus tanpa mengubah sikap lari dan berusaha berhenti setelah lebih kurang 5 meter garis finish.

2) Pada saat akan menyentuh pita, busungkan dada ke depan dan kedua tangan di ayunkan ke belakang.

3) Pada saat akan menyantuh pita, dada di putar dengan ayunan tangan ke depan atas sehingga bahu sebelah maju ke depan..

(14)

Dari penjelasan di atas dapat di simpulkan bahwa untuk mencapai prestasi lari jarak pendek itu ada tiga teknik dasar yang harus di kuasai yaitu teknik start jongkok, teknik lari dan teknik memasuki garis finish. Dan ketiga teknik ini saling berhubungan antara yang satu dengan lainnya.

Dalam upaya membina dan mengembangkan kemampuan siswa SMP melakukan lari jarak pendek yang terutama lari jarak 60 meter yang sering di perlombakan pada kejuaraan O2SN, maka guru harus lebih merancang proses pembelajaran yang lebih giat lagi. Tugas utama guru penjaskes dalam mengajarkan lari jarak pendek(60 meter) adalah menciptakan kesempatan dan merangsang anak-anak untik mengembangkan kemampuannya berlari dalam suasana bermain secara bebas agar anak atau siswa itu sendirinya akan tahu teknik lari dan tanpa di sadari akan menghasilakn kecepatan/speed.

Pendapat yang sama juga yang di kemukakan Khomsim (2005;34), mengemukakan bahwa lari jarak pendek ada tiga teknik yang harus di pahami dan di kuasai yaitu mengenai: 1) teknik start . 2) teknik lari. 3) teknik melewati garis finish. Diantara ke tiga teknik di atas penulis hanya mengambil satu teknik yaitu mengenai teknik start. Maka dalam penelitian ini penulis hanya meneliti mengenai permasalahan pada start jongkok yaitu mengenai waktu reaksi start karena sebagian besar siswa SMP N 3 Kota Gorontalo tidak mengetahui mengenai teknik start dan pada saat mereka keluar dari start sangat nampak merek lambat keluar dari start sehingga mereka membutuhkan latihan waktu reaksi.

(15)

2.4 Hakikat latihan

Ada pun latihan start jongkok menurut Harald Muller dan Ritzdorf(200:21) sebagai berikut:

1) Start dari posisi yang berbeda-beda

Mendengar satu tanda atau bunyi dan bergerak secepat-cepatnya dalam posisi lari dan melakukan lari percepatan(akselerasi).

Cara ini dapat di lakukan secara individu atau berpasangan (satu atlet mengejar atlet lainnya).

Dan di lakukan secara berulang-ulang dengan 3 kali set, dalam 1 set 4 kali penulangan. Tujuan latihan ini untuk meningkatkan konsentarasi dan akselerasi.

2) Start berdiri dengan satu tanda

Gunakan suatu variasi tanda-tanda start:bias lewat pendengtaran(audible), lewat pandangan(visual) dan bias lewat sentuhan/rabaan(tactile).

Tujuan dari latihan ini untuk mengembangkan konsentrasi dan reksi. 3) Start berdiri dengan variasi

Start menjatuh tanpa aba-aba, dengan berdiri tegak dan menjatuhkan diri ke depan dan di lanjutkan dengan gerakan berlari.

Start berdiri dari suatu posisi badan condong ke depan.

(16)

2.5 Kerangka Berpikir

Upaya meningkatkan prestasi lari jarak pendek khususnya lari 60 meter , dimana praktek olahraga atau latihan pada umumnya melibatkan berbagai metode latihan. Untuk mencapai prestasi suatu prestasi terutama pada lari 60 meter harus ada suatu program latihan yang harus di persiapkan. Karena dalam lari jarak pendek itu ada beberapa factor yang harus di kuasai yaitu teknik lari, teknik masuk finis dan yang terakhir teknik start jongkok.

Di antara faktor-faktor tersebut, faktor yang paling utama yang harus di kusai yaitu faktor start jongkok. Karena start itu sebagai penentu bagi setiap cabang olahraga yang di perlombakan ,contohnya seperti pada lari jarak pendek yang menggunakan start jongkok pada saat atlet keluar start tanpa bersamaan dengan bunyi pistol yang merupakan aba-aba staters maka di katakan diskualifikasi.

Dalam start jongkok juga ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh yaitu kekuatan daya ledak otot tungkai pada saat menolak, kekuatan dan kecepatan lengan pada saat mengayun, dan ketepatan filing pada saat mendengar aba-aba, dan kecepatan atau waktu reaksi start pada saat kelur dari block start.

Dari beberapa faktor tersebut penulis hanya mengambil salah satu faktor saja yang telah di teliti yaitu faktor waktu reaksi/kecepatan start pada saat keluar dari block start. Karena waktu reaksi start ini sangat berpengaruh pada saat kita keluar start terutama pada nomor lari yang menggunakan start jongkok yaitu lari jarak pendek. Karena keretlambatan pada saat keluar start itu sangat berpengaruh seperti atlet jika ketinggalan satu detik saja maka sama saja kita ke tinggalan 10 meter.

(17)

Maka betapa besar pengaruhnya waktu reaksi start jongkok terhadap lari jarak pendek terutama lari 60 meter. Tapi untuk menjawab semuanya itu harus ada latihan yang harus berikan pada anak didik kita.

2.6 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teoritis yang telah disajikan di atas maka hipotesis penelitian ini adalah “Terdapat pengaruh latihan waktu reaksi start jongkok terhadap kemampuan lari jarak pendek(60 meter) pada cabang olahraga atletik siswa Putra Kelas V11 SMP NegeriI 3 Kota Gorontalo”

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :