Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 1
Pendapatan dan Persepsi Masyarakat Kooperator terhadap Teknologi Aquaponik Ramah Lingkungan
Chery Soraya Ammatillah, Iskandar Zulkarnaen, Emi Sugiartini Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta
Jln. Raya Ragunan No. 30 Pasar Minggu, Jakarta – 12540 Email:[email protected]
ABSTRAK
Teknologi aquaponik merupakan salah satu teknik budidaya tanaman ramah lingkungan berbasis ruang yang sangat
cocok dikembangkan di wilayah
perkotaan. Akan tetapi aplikasi teknologi ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani sayuran dan ikan dengan teknologi
aquaponik ramah lingkungan dan
menganalisis persepsi masyarakat
kooperator terhadap teknologi tersebut. Penelitian dilakukan di BPTP Jakarta, kelompok tani Batik Jakarta Pusat dan kelompok tani Anyelir Jakarta Timur.
Pendapatan usahatani dianalisis
menggunakan analisis pendapatan
sedangkan persepsi masyarakat
kooperator dianalisis menggunakan skala Likert. Dari enam model aquaponik yang dikaji, model aquaponik integrasi sayur dan ikan lele dengan jumlah ikan sebanyak 1 kg adalah model yang paling menguntungkan dari segi finansial dan paling efisien dari segi biaya. Hasil uji persepsi masyarakat kooperator terhadap teknologi aquaponik sayuran dan ikan lele termasuk kategori baik. Nilai persepsi terhadap tingkat kemudahan teknologi menunjukkan nilai yang paling
tinggi. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa faktor yang paling mempengaruhi persepsi masyarakat kooperator terhadap teknologi aquaponik ramah lingkungan adalah kemudahan teknologi tersebut untuk dicoba dan diterapkan.
Kata Kunci: Aquaponik, lele, efisien, persepsi
ABSTRACT
Aquaponic technology is one of plant cultivation techniques based on space which environmentally friendly and very suitable to developed in urban areas. However, the technology application requires expensive costs. Therefore, this study was aimed to analyze the income of vegetables and fish farming by using
environmentally friendly aquaponics
technology and to analyze the perception of the cooperative community on these technologies. The study was conducted at BPTP Jakarta, Batik farmer groups of Central Jakarta and Anyelir farmer groups of East Jakarta. Farm income was analyzed using income analysis, while the perception of cooperators was analyzed using Likert scale. From the six aquaponic models studied, the integrated aquaponics model of vegetables and catfish with a total of 1 kg of fish was the most profitable financially and the most cost-effective model. The perception results of respondent through aquaponics technology of vegetables and catfish, was categorized as good category. Perception value through the level of technological easiness showed the highest value. These results was indicated that the most influences factor on perception of
cooperative community towards
Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 2 technology was the easiness of the
technology to be tried and applied.
Keywords: Aquaphonic, catfish, efficient, perception
PENDAHULUAN
ata 'aquaponik' adalah
kombinasi dari 'aquaculture' (budidaya ikan) dan hidroponik (budidaya dalam air). Aquaponik pada dasarnya terdiri dari budidaya ikan dan
pemeliharaan tanaman. Air yang
merupakan media budidaya ikan
digunakan sebagai sumber nutrisi pada
pemeliharaan tanaman, sebaliknya
tanaman berfungsi sebagai biofilter untuk air (Setijaningsih, 2015). Diver (2005) menyebutkan bahwa sistem aquaponik
memanfaatkan simbiosis mutualisme
antara tanaman dan ikan berdasarkan
pada pemanfaatan buangan hasil
metabolisme ikan oleh tanaman.
Sistem aquaponik sangat cocok dikembangkan di wilayah perkotaan. Hal ini disebabkan sistem ini memanfaatkan teknologi budidaya berbasis ruang yang tidak harus memperhatikan jumlah luasan lahan. Selain itu sistem integrasi yang ada
diharapkan dapat mengoptimalkan
produksi ditengah keterbatasan lahan dan sumber nutrisi.
Teknologi aquaponik diharapkan menjadi solusi kemandirian pangan keluarga khususnya untuk masyarakat di wilayah perkotaan. Selain itu melalui teknologi aquaponik diharapkan adanya efisiensi pemanfaatan air, penghematan biaya dan nutrisi, penyediaan produk pangan organik dan berujung pada peningkatan pendapatan (Diver, 2005; Rupasinghe, 2010). Akan tetapi meskipun
berbagai manfaaat diperoleh dari
hadirnya teknologi ini, teknologi
aquaponik memiliki keterbatasan.
Pembuatan perangkat aquaponik
memerlukan biaya yang tidak sedikit dan kemampuan produksinya untuk dapat bersaing di pasar juga belum optimal. Usaha budidaya sayuran dan ikan menggunakan teknologi aquaponik di wilayah DKI Jakarta dengan skala kecil memerlukan biaya yang lebih tinggi
dibandingkan dengan budidaya
konvensional, serta pasarnya belum optimal. Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pendapatan usahatani sayuran dan ikan melalui teknologi aquaponik dan menganalisis persepsi
masyarakat kooperator terhadap
teknologi dimaksud.
METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan pada bulan November – Desember tahun 2019 di BPTP Jakarta terhadap dua kelompok tani yaitu kelompok tani Batik Gambir, Jakarta Pusat dan kelompok tani Anyelir Kramat Jati, Jakarta Timur. Pemilihan kelompok tani dilakukan secara sengaja (purposive) mengingat kedua kelompok tani tersebut adalah kelompok tani yang
mendapatkan introduksi teknologi
aquaponik ramah lingkungan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta.
Data yang dikumpulkan adalah data primer. Data primer diperoleh melalui
observasi dan wawancara langsung
dengan petani. Jenis data primer yang
dikumpulkan terdiri atas data
karakteristik masyarakat kooperator,
biaya yang dikeluarkan selama proses
Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 3 budidaya aquaponik, input produksi,
harga input, produk, harga produk,
penerimaan dan pendapatan yang
diperoleh dari hasil produksi serta data persepsi masyarakat kooperator terhadap teknologi. Data karakteristik masyarakat kooperator dianalisis secara deskriptif
kualitatif, sedangkan pendapatan
usahatani dan persepsi masyarakat
kooperator dianalisis secara kuantitatif menggunakan analisis pendapatan dan
skala Likert. Analisa pendapatan
dilakukan terhadap data yang didapatkan dari hasil penelitian di BPTP Jakarta pada
enam model aquaponik, sedangkan
analisa persepsi dilakukan terhadap data yang didapatkan dari hasil penelitian di dua kelompok tani pada model aquaponik rekomendasi.
Analisis Pendapatan
Pendapatan usaha yang diukur terdiri atas enam model aquaponik dengan rincian sebagai berikut:
1. Aquaponik kangkung sawi dan pakcoy dengan ikan nila 1 kg (P1J1)
2. Aquaponik kangkung sawi dan pakcoy dengan ikan nila 1,5 kg (P2J1)
3. Aquaponik kangkung sawi dan pakcoy dengan ikan nila 2 kg (P3J1)
4. Aquaponik kangkung sawi dan pakcoy dengan ikan lele 1 kg (P1J2)
5. Aquaponik kangkung sawi dan pakcoy dengan ikan lele 1,5 kg (P2J2)
6. Aquaponik kangkung sawi dan pakcoy dengan ikan lele 2 kg (P3J2)
Dari enam model tersebut dilakukan analisis pendapatannya untuk mengetahui model yang memiliki pendapatan dan keuntungan tertinggi, dan model yang paling efisien dari segi biaya. Pendapatan total usahatani dapat diartikan sebagai
penerimaan total dikurang dengan semua biaya yang telah dikeluarkan, baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan (Soekartawi, 1995). Secara matematis tingkat pendapatan usahatani dapat ditulis sebagai berikut:
TR = Y x Py
TC = Biaya tunai + Biaya diperhitungkan Pd atas biaya tunai = TR - biaya tunai Pd atas biaya total = TR – TC …...(1) Keterangan :
TR = Total penerimaan (Rp) TC = Total biaya (Rp) Py = Harga output (Rp/Kg) Y = Jumlah produksi (Kg)
Pd = Pendapatan atau keuntungan (Rp) Untuk melihat seberapa efisien
usaha dilakukan analisis efisiensi.
Analisis efisiensi diukur dengan
menggunakan analisis rasio penerimaan dan biaya (R/C). R/C rasio merupakan
salah satu ukuran efisiensi yang
menggambarkan penerimaan untuk tiap rupiah yang dikeluarkan (revenue cost ratio). R/C dapat diperoleh dengan menggunakan rumus berikut:
R/C= TR / TC……….…...……(2)
R/C>1 : Usahatani efisien untuk
dijalankan
R/C<1 : Usahatani tidak efisien untuk dijalankan
Analisis Persepsi Kooperator
Untuk melihat persepsi kooperator terhadap hasil teknologi yang dihasilkan dianalisis dengan menggunakan skala
Likert, melalui pendekatan skor
sebagaimana berikut:
Nilai Skor masing-masing kotak = ni.si Ni
Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 4 Keterangan:
ni = Jumlah responden yang menyatakan pada kolom i (i=1,2, 3, …. )
si = Skor pernyataan ke-i (i=1,2, 3, …) Ni = Jumlah responden (orang pada baris
ke i (i=1, 2, 3, …)
Sedangkan persepsi untuk menilai keuntungan relatif, tingkat kesesuaian dengan lingkungan, tingkat kerumitan dan kemudahan teknologi untuk dicoba, serta tingkat kemudahan teknologi untuk dilihat hasilnya, digunakan analisis rataan skor (Rogers, 1983), dengan formula sebagai berikut:
Total Nilai diperoleh Rataan Skor = --- x100%
Nilai maksimal dicapai
Total Nilai yang didapat,
dikelompokkan berdasarkan rentang
skala: 0-33,33 = tidak baik; 33,34-66,7 = cukup baik; 66,8-100 = baik.
HASIL DAN PEMBAHASAN Pendapatan budidaya sayuran dan ikan dengan sistem aquaponik
Pendapatan yang diperoleh
merupakan hasil rata-rata dalam satu
siklus produksi, tiga kali panen
kangkung, satu kali panen sawi, satu kali panen pakcoy dan satu kali panen ikan.
Pendapatan dihitung dari ke enam model
yang ada. Rincian biaya yang
dikeluarkan, penerimaan dan pendapatan
yang diperoleh dari masing-masing
model dapat dilihat pada Tabel 1 (pendapatan aquaponik sayuran dan ikan nila) dan Tabel 2 (pendapatan aquaponik sayuran dan ikan lele).
Dari hasil analisa biaya terlihat
biaya penyusutan alat menempati
proporsi biaya tertinggi (Tabel 1). Oleh karena itu dalam pengembangannya lebih
lanjut biaya peralatan atau biaya
pembuatan model aquaponik perlu
mendapat perhatian agar mengeluarkan biaya seminimal mungkin, sehingga mudah diduplikasi dan diadopsi oleh masyarakat.
Dari hasil analisa pendapatan, diperoleh pendapatan atas biaya total untuk semua model menunjukkan angka lebih kecil daripada nol (Tabel 1).
Dengan demikian, ketiga model
aquaponik sayuran dan ikan nila belum menguntungkan untuk diusahakan. Dari hasil analisa RC rasio, baik atas biaya total maupun atas biaya tunai, semua model menunjukkan angka kurang dari satu. Dengan demikian dapat disimpulkan ketiga model aquaponik sayuran dan ikan nila belum efisien dari segi biaya.
Tabel 1. Pendapatan usahatani aquaponik sayuran dan ikan nila per siklus Produksi
No. Keterangan
P1J1 P2J1 P3J1
Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) A Biaya
Biaya Non Tunai
1 Penyusutan Alat 1 Pkt 141.667 141.667 1 Pkt 141.667 141.667 1 Pkt 141.667 141.667
Total Biaya Non Tunai 141.667 141.667 141.667
Biaya Tunai
1 Rockwool 1 Pkt 1.944 1.944 1 Pkt 1.944 1.944 1 Pkt 1.944 1.944
2 Benih sayuran daun 1 Pkt 5.000 5.000 1 Pkt 5.000 5.000 1 Pkt 5.000 5.000 3 Benih Ikan 1 Kg 124.800 124.800 1,5 Kg 124.800 187.200 2 Kg 124.800 249.600 4 Pelet Ikan 1,35 Kg 15.000 20.250 1.35 Kg 15.000 20.250 1,35 Kg 15.000 20.250
Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 5
No. Keterangan
P1J1 P2J1 P3J1
Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) 5 Listrik 1 Pkt 51.840 51.840 1 Pkt 51.840 51.840 1 Pkt 51.840 51.840
Total Biaya Tunai 203.834 266.234 328.634
Total Biaya 345.501 407.901 470.301 B Penerimaan 1 Sayuran daun Kangkung 2,82 kg 40.000 112.800 3,54 kg 40.000 141.600 4,08 Kg 40.000 163.200 Sawi 0,16 kg 50.000 7.935 0,13 kg 50.000 6.520 0,16 Kg 50.000 7.940 Pakcoy 0,11 kg 50.000 5.543 0,10 kg 50.000 4.760 0,12 Kg 50.000 5.780 2 Ikan nila 2 kg 25.000 50.000 3 kg 25.000 75.000 4 kg 25.000 100.000 Total Penerimaan 176.278 227.880 276.920 C Pendapatan atas biaya tunai -9.186 -38.354 -51.714 D Pendapatan atas biaya total -169.224 -180.021 -193.381
E R/C atas biaya tunai 0,86 0,86 0,84
F R/C atas biaya total 0,51 0,56 0,59
Sumber : Data primer (diolah), 2019
Teknologi eksisting perlu
mendapatkan perhatian serta penelitian
dan kajian lebih lanjut untuk
menghasilkan model aquaponik yang lebih efisien dari segi biaya. Beberapa penelitian sebelumnya yang mengkaji
pendapatan budidaya aquaponik
menyebutkan bahwa budidaya aquaponik
di beberapa lokasi memperoleh
keuntungan dalam jangka panjang,
sehingga masih dibutuhkan penelitian dan pengembangan untuk menentukan apakah aquaponik akan berkembang menjadi
metode produksi pangan yang
menguntungkan (Love et al., 2015). Adler et al. (2000) melakukan analisis ekonomi terhadap model aquaponik dan menyimpulkan dibutuhkan waktu 7,5 tahun untuk mengembalikan investasi aquaponik sebesar $300.000. Keuntungan hidroponik yang dikelola secara fokus lebih tinggi daripada aquaponik yang terintegrasi penuh (English, 2015).
Model aquaponik membutuhkan biaya input yang cukup besar, oleh
karena itu untuk memperoleh
keuntungan, model harus dibuat dengan
biaya seminimum mungkin namun
berkualitas. Hal ini sejalan dengan penelitian Sunny et al. (2019) yang
menyimpulkan bahwa budidaya
aquaponik yang menggunakan input
murah dan tersedia secara lokal
menghasilkan pengembalian investasi
yang lebih baik dengan benefit cost ratio sebesar 2,2. Mithun (2013) dalam hasil
penelitiannya menyebutkan biaya
usahatani aquaponik dapat diminimalkan dengan menggunakan bahan-bahan yang tidak terpakai dan tersedia secara lokal.
Untuk menambah pendapatan yang
diperoleh dan meminimalisir kerugian, budidaya aquaponik dapat dibarengi
dengan usaha agritourisme dengan
menawarkan wisata pertanian, dan
pelatihan intensif. Pendapatan tambahan yang dihasilkan dari usaha ini dapat memberikan nilai tambah bagi usaha budidaya aquaponik (English, 2015).
Keberlanjutan budi daya aquaponik
selain menekan biaya juga perlu
memperhatikan aspek pasar dan harga. Bosma (2016) menyimpulkan produksi aquaponik dapat berkelanjutan secara
finansial jika produsen berhasil
mengamankan pasar, terutama untuk segmen pasar kelas atas. Jika produk aquaponik yang ditanam dapat dijual dengan harga yang sama dengan produk organik, maka payback periode sistem aquaponik akan lebih cepat (Quagrainie et al., 2018).
Pendapatan selanjutnya yang diukur dalam kajian ini adalah model aquaponik sayuran dan ikan lele (Tabel 2). Hasil
Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 6
analisa pendapatan seluruh model
aquaponik sayuran dan ikan lele
menunjukkan angka pendapatan atas biaya total maupun pendapatan atas biaya tunai lebih daripada nol. Hal ini berarti seluruh model aquaponik sayuran dan lele menguntungkan untuk diusahakan. Hasil pendapatan terbesar diperoleh dari
model aquaponik sayuran dan ikan lele dengan jumlah ikan sebanyak 1 kg. Dari hasil analisa RC rasio atas biaya total dan atas biaya tunai menunjukkan angka lebih daripada satu. Dengan demikian dapat disimpulkan ketiga model aquaponik sayuran dan ikan lele sudah efisien dari segi biaya.
Tabel 2. Pendapatan usahatani aquaponik sayuran dan ikan lele per siklus Produksi No. Keterangan
P1J2 P2J2 P3J2
Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) A. Biaya
Biaya Non Tunai
1. Penyusutan Alat 1 Pkt 141.667 141.667 1 Pkt 141.667 141.667 1 Pkt 141.667 141.667 Total Biaya Non
Tunai
141.667 141.667 141.667
Biaya Tunai
1. Rockwool 1 Pkt 1.944 1.944 1 Pkt 1.944 1.944 1 Pkt 1.944 1.944
2. Benih sayuran daun 1 Pkt 5.000 5.000 1 Pkt 5.000 5.000 1 Pkt 5.000 5.000 3. Benih Ikan 1 Kg 42.000 42.000 1.5 Kg 42.000 63.000 2 Kg 42.000 84.000 4. Pelet Ikan 4.5 Kg 15.000 67.500 6.75 Kg 15.000 101.250 9 Kg 15.000 135.000 5. Listrik 1 Pkt 51.840 51.840 1 Pkt 51.840 51.840 1 Pkt 51.840 51.840
Total Biaya Tunai 168.284 223.034 277.784
Total Biaya 309.951 364.701 419.451 B. Penerimaan 1. Sayuran daun Kangkung 5,67 Kg 40.000 226.800 5,31 kg 40.000 212.400 5,55 kg 40.000 222.000 Sawi 0,18 Kg 50.000 9.075 0,21 kg 50.000 10,225 0,21 kg 50.000 10.325 Pakcoy 0,16 Kg 50.000 8.195 0,13 kg 50.000 6.425 0,16 kg 50.000 7.958 2. Ikan lele 5,8 kg 25.000 145.000 5,925 kg 25.000 148.125 8,375 kg 25.000 209.375 Total Penerimaan 389.070 377.205 449.658 C. Pendapatan atas biaya tunai 220.786 154.171 171.873 D. Pendapatan atas biaya total 79.119 12.504 30.206
E. R/C atas biaya tunai 2,31 1,69 1,62
F. R/C atas biaya total 1,26 1,03 1,07
Sumber: Data primer (diolah), 2019
Dari enam model yang dikaji jika dilihat dari analisa usahatani, maka aquaponik sayuran dengan 1 kg lele
(P1J2) adalah model yang paling
menguntungkan dan efisien dari segi
biaya. Model ini menghasilkan
pendapatan paling optimal dengan nilai R/C rasio paling tinggi. Model ini dapat
direkomendasikan pengembangannya
lebih lanjut.
Untuk penanaman lebih lanjut, penanaman tanaman kangkung dapat
lebih dioptimalkan dibandingkan
tanaman sawi dan pakcoy, berdasarkan jumlah produksi yang dihasilkan oleh ketiga tanaman sayuran tersebut (Tabel 2). Penanaman kangkung dengan jumlah
Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 7 lubang tanam yang sama, menghasilkan
produksi yang lebih optimal
dibandingkan kedua tanaman sayuran
lainnya. Dengan demikian, dengan
memperbanyak tanaman kangkung
diharapkan dapat meningkatkan jumlah pendapatan yang diperoleh.
Tingkat serapan kangkung yang tinggi terhadap nitrat mengakibatkan tanaman ini berproduksi optimal dengan sistem aquaponik. Tanaman kangkung merupakan tanaman yang sangat cocok untuk budidaya aquaponik. Hal ini disebabkan tanaman kangkung efektif menyerap kelebihan unsur hara dalam air yang salah satunya adalah ammonia yang diubah menjadi nitrit dan nitrat (Dauhan, 2014; Saptarini, 2010). Pertumbuhan ikan nila dan sayur kangkung menunjukkan keberhasilan sistem aquaponik yang dikembangkan. Kandungan amonia yang
rendah menunjukkan keberhasilan
kangkung sebagai filter biologis dengan menyerap nitrat sebagai sumber nutrisi utama (Bangkit, 2017). Selain itu, pakan ikan yang berbahan dasar karbohidrat dan protein menghasilkan nutrisi yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kangkung. Pada sistem aquaponik, pakan ikan adalah faktor penentu kecukupan nutrisi tanaman (Rakocy et al,. 2006).
Persepsi masyarakat kooperator terhadap budidaya sayuran dan ikan dengan sistem aquaponik
Karakteristik masyarakat
kooperator yang dijadikan responden
mayoritas berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan sebagian lainnya berprofesi sebagai pedagang. Rentang usia mereka meskipun tidak tergolong usia muda, akan tetapi masih dalam rentang usia produktif. Rentang usia yang masih tergolong usia produktif diharapkan dapat dengan mudah menerima teknologi yang diintroduksi.
Hasil uji persepsi petani kooperator terhadap inovasi teknologi budidaya
aquaponik sayuran yang meliputi
persepsi terhadap keuntungan relatif, terhadap tingkat kesesuaian, terhadap
tingkat kerumitan, terhadap tingkat
kemudahan dapat dicoba, dan terhadap tingkat kemudahan untuk dilihat hasilnya termasuk dalam kategori baik (Tabel 3). Hal ini menunjukkan bahwa teknologi ini dapat diterima dan berpeluang untuk diadopsi oleh pengguna.
Nilai persepsi terhadap tingkat kemudahan untuk dicoba dan diterapkan menunjukkan nilai yang paling tinggi
yaitu 97,44%. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa faktor yang paling mempengaruhi persepsi petani kooperator terhadap teknologi budidaya aquaponik
sayuran ikan adalah kemudahan
teknologi tersebut untuk dicoba dan diterapkan. Zugravu et al. (2016) dalam
hasil penelitiannya menyampaikan
konsumen memiliki citra keseluruhan yang baik terhadap aquaponik, mereka berpersepsi bahwa produk aquaponik memiliki kualitas baik, sehat dan segar.
Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 8
Tabel 3. Persepsi petani kooperator terhadap budidaya sayuran dan ikan dengan sistem aquaponik
Persepsi Pengguna Tingkat Persepsi (%) Kategori Skor Kuntungan Relatif (Manfaat/kelebihan teknis dan
ekonomis)
77,78 Baik
Kesesuaian (kondisi lingkungan dan kebutuhan) 82,69 Baik
Kerumitan (proses pembuatan) 75,64 Baik
Kemudahan untuk dicoba dan diterapkan 97,44 Baik
Kemudahan untuk dilihat hasilnya 88,89 Baik
Sumber: Data primer (diolah), 2019 KESIMPULAN
Pendapatan yang paling
menguntungkan dan paling efisien dari segi biaya dari ke-enam model yang dikaji adalah model aquaponik sayuran dan ikan lele dengan jumlah ikan lele sebanyak 1 kg. Untuk mengoptimalkan pendapatan yang diperoleh, sayuran kangkung dapat ditanam lebih banyak dari kedua sayuran lainnya yaitu sawi dan pakcoy, karena kangkung menghasilkan produksi yang lebih tinggi dibandingkan kedua sayuran lainnya. Persepsi petani kooperator terhadap budidaya sayuran dan ikan dengan sistem aquaponik termasuk dalam kategori baik, nilai persepsi terhadap tingkat kemudahan teknologi untuk dicoba dan diterapkan menunjukkan nilai yang paling tinggi, hal ini menunjukkan teknologi ini mudah untuk dicoba dan diterapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Adler PR, Harper JK, Wade EM. 2000. Economic analysis of an aquaponic system for the integrated production of rainbow trout and plants. Int Journal Recirculating Aquac 1. (15): 15–34
Bangkit I., Sugandhy R., Indriani P. D.
2017. Aplikasi Budidaya Ikan
Integratif dengan Sistem Aquaponik
dalam Pemanfaatan Pelataran Rumah
sebagai Upaya Peningkatan
Pendapatan Masyarakat di RW 05 Desa Sayang, Jatinangor-Sumedang.
Jurnal Pengabdian Kepada
Masyarakat. 1 (3): 145-149.
Bosma R. 2016. The economic feasibility of aquaponics: a post-hoc cost-benefit analysis of investing in a fish vegetable farm near Dumaguete,
Philippines. 11th Asian Fisheries and
Aquaculture Forum, Bangkok
Dauhan, R.E.S., Effendi E., Suparmono. 2014. Efektivitas Sistem Aquaponik
dalam Mereduksi Konsentrasi
Amonia pada Sistem Budidaya Ikan. Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan. 3(1): 297-301. Diver S. 2005. Aquaponics-Integration of
Hydroponics with Aquaculture, 215. NCAT, USA.
English L. 2015. Economic Feasibility of Aquaponics in Arkansas. Thesis. University of Arkansas, Fayetteville Love, D.C., Fry J.P., Li X., Hill E.S.
Genello L., Semmens K ., Thompson R.E. 2015. Commercial aquaponics production and profitability: Findings
from an international survey.
Aquaculture. 435: 67-74
Mithun, R., Salam, M.A., Hossain, M.B., Shamsuddin, M. 2013. Feasibility study ofaquaponics.World Applied Sciences Journal. 23 (5): 588-592. Rakocy, J.E., M.P. Masser, & T.M.
Losordo. 2006. Recirculating
Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 9
aquaponics—integrating fish and
plant culture. Southern Regional
Aquaculture Center. No. 454.
Stoneville, MS. 16 pp.
Rogers, E.M. 1983. Diffusion of
Innovasions, Third Edition The Free Press. New York
Rupasinghe, J.W. & J.O.S Kennedy.
2010. Economic benefits of
integrating a hydroponic-lettuce
system into a barramundi fish
production system. Aquaculture
Economics & Management. 14 (2): 81-96.
Saptarini P., 2010. Efektivitas Teknologi Aquaponik dengan Kangkung Darat
(Ipomoea Reptans) terhadap
Penurunan Amonia pada Pembesaran Ikan Mas. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Setijanigsih L., Suryaningrum L.H. 2015. Pemanfaatan Limbah Budidaya Ikan Lele (Clarias Batrachus) untuk Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) dengan
Sistem Resirkulasi. Berita Biologi Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati. 14(3): 287-293.
Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Jakarta (ID) : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
Sunny A.R, Islam M.M., Rahman M., Muah M.Y.,Mostafiz M., Islam N., Hossain M.Z., Chowdhury M.A., Islam M.A. Keus H.J. 2019. Cost effective aquaponics for food security and income of farming households in coastal Bangladesh. Egyptian Journal of Aquatic Research 45: 89–97. Quagrainie KK, Flores RMV, Kim H-J,
McClain V. 2018. Economic analysis
of aquaponics and hydroponics
production in the U.S. Midwest. J Appl Aquacult. 30: 1–14.
Zugravu AG, Rahoveanu MMT,
Rahoveanu AT, Khalel MS, Ibrahim MAR. 2016. The perception of aquaponics products in Romania. Risk Contempo Econom 3:525-530.