• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendapatan dan Persepsi Masyarakat Kooperator terhadap Teknologi Aquaponik Ramah Lingkungan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pendapatan dan Persepsi Masyarakat Kooperator terhadap Teknologi Aquaponik Ramah Lingkungan"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 1

Pendapatan dan Persepsi Masyarakat Kooperator terhadap Teknologi Aquaponik Ramah Lingkungan

Chery Soraya Ammatillah, Iskandar Zulkarnaen, Emi Sugiartini Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta

Jln. Raya Ragunan No. 30 Pasar Minggu, Jakarta – 12540 Email:[email protected]

ABSTRAK

Teknologi aquaponik merupakan salah satu teknik budidaya tanaman ramah lingkungan berbasis ruang yang sangat

cocok dikembangkan di wilayah

perkotaan. Akan tetapi aplikasi teknologi ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani sayuran dan ikan dengan teknologi

aquaponik ramah lingkungan dan

menganalisis persepsi masyarakat

kooperator terhadap teknologi tersebut. Penelitian dilakukan di BPTP Jakarta, kelompok tani Batik Jakarta Pusat dan kelompok tani Anyelir Jakarta Timur.

Pendapatan usahatani dianalisis

menggunakan analisis pendapatan

sedangkan persepsi masyarakat

kooperator dianalisis menggunakan skala Likert. Dari enam model aquaponik yang dikaji, model aquaponik integrasi sayur dan ikan lele dengan jumlah ikan sebanyak 1 kg adalah model yang paling menguntungkan dari segi finansial dan paling efisien dari segi biaya. Hasil uji persepsi masyarakat kooperator terhadap teknologi aquaponik sayuran dan ikan lele termasuk kategori baik. Nilai persepsi terhadap tingkat kemudahan teknologi menunjukkan nilai yang paling

tinggi. Hasil tersebut menunjukkan

bahwa faktor yang paling mempengaruhi persepsi masyarakat kooperator terhadap teknologi aquaponik ramah lingkungan adalah kemudahan teknologi tersebut untuk dicoba dan diterapkan.

Kata Kunci: Aquaponik, lele, efisien, persepsi

ABSTRACT

Aquaponic technology is one of plant cultivation techniques based on space which environmentally friendly and very suitable to developed in urban areas. However, the technology application requires expensive costs. Therefore, this study was aimed to analyze the income of vegetables and fish farming by using

environmentally friendly aquaponics

technology and to analyze the perception of the cooperative community on these technologies. The study was conducted at BPTP Jakarta, Batik farmer groups of Central Jakarta and Anyelir farmer groups of East Jakarta. Farm income was analyzed using income analysis, while the perception of cooperators was analyzed using Likert scale. From the six aquaponic models studied, the integrated aquaponics model of vegetables and catfish with a total of 1 kg of fish was the most profitable financially and the most cost-effective model. The perception results of respondent through aquaponics technology of vegetables and catfish, was categorized as good category. Perception value through the level of technological easiness showed the highest value. These results was indicated that the most influences factor on perception of

cooperative community towards

(2)

Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 2 technology was the easiness of the

technology to be tried and applied.

Keywords: Aquaphonic, catfish, efficient, perception

PENDAHULUAN

ata 'aquaponik' adalah

kombinasi dari 'aquaculture' (budidaya ikan) dan hidroponik (budidaya dalam air). Aquaponik pada dasarnya terdiri dari budidaya ikan dan

pemeliharaan tanaman. Air yang

merupakan media budidaya ikan

digunakan sebagai sumber nutrisi pada

pemeliharaan tanaman, sebaliknya

tanaman berfungsi sebagai biofilter untuk air (Setijaningsih, 2015). Diver (2005) menyebutkan bahwa sistem aquaponik

memanfaatkan simbiosis mutualisme

antara tanaman dan ikan berdasarkan

pada pemanfaatan buangan hasil

metabolisme ikan oleh tanaman.

Sistem aquaponik sangat cocok dikembangkan di wilayah perkotaan. Hal ini disebabkan sistem ini memanfaatkan teknologi budidaya berbasis ruang yang tidak harus memperhatikan jumlah luasan lahan. Selain itu sistem integrasi yang ada

diharapkan dapat mengoptimalkan

produksi ditengah keterbatasan lahan dan sumber nutrisi.

Teknologi aquaponik diharapkan menjadi solusi kemandirian pangan keluarga khususnya untuk masyarakat di wilayah perkotaan. Selain itu melalui teknologi aquaponik diharapkan adanya efisiensi pemanfaatan air, penghematan biaya dan nutrisi, penyediaan produk pangan organik dan berujung pada peningkatan pendapatan (Diver, 2005; Rupasinghe, 2010). Akan tetapi meskipun

berbagai manfaaat diperoleh dari

hadirnya teknologi ini, teknologi

aquaponik memiliki keterbatasan.

Pembuatan perangkat aquaponik

memerlukan biaya yang tidak sedikit dan kemampuan produksinya untuk dapat bersaing di pasar juga belum optimal. Usaha budidaya sayuran dan ikan menggunakan teknologi aquaponik di wilayah DKI Jakarta dengan skala kecil memerlukan biaya yang lebih tinggi

dibandingkan dengan budidaya

konvensional, serta pasarnya belum optimal. Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pendapatan usahatani sayuran dan ikan melalui teknologi aquaponik dan menganalisis persepsi

masyarakat kooperator terhadap

teknologi dimaksud.

METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan pada bulan November – Desember tahun 2019 di BPTP Jakarta terhadap dua kelompok tani yaitu kelompok tani Batik Gambir, Jakarta Pusat dan kelompok tani Anyelir Kramat Jati, Jakarta Timur. Pemilihan kelompok tani dilakukan secara sengaja (purposive) mengingat kedua kelompok tani tersebut adalah kelompok tani yang

mendapatkan introduksi teknologi

aquaponik ramah lingkungan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta.

Data yang dikumpulkan adalah data primer. Data primer diperoleh melalui

observasi dan wawancara langsung

dengan petani. Jenis data primer yang

dikumpulkan terdiri atas data

karakteristik masyarakat kooperator,

biaya yang dikeluarkan selama proses

(3)

Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 3 budidaya aquaponik, input produksi,

harga input, produk, harga produk,

penerimaan dan pendapatan yang

diperoleh dari hasil produksi serta data persepsi masyarakat kooperator terhadap teknologi. Data karakteristik masyarakat kooperator dianalisis secara deskriptif

kualitatif, sedangkan pendapatan

usahatani dan persepsi masyarakat

kooperator dianalisis secara kuantitatif menggunakan analisis pendapatan dan

skala Likert. Analisa pendapatan

dilakukan terhadap data yang didapatkan dari hasil penelitian di BPTP Jakarta pada

enam model aquaponik, sedangkan

analisa persepsi dilakukan terhadap data yang didapatkan dari hasil penelitian di dua kelompok tani pada model aquaponik rekomendasi.

Analisis Pendapatan

Pendapatan usaha yang diukur terdiri atas enam model aquaponik dengan rincian sebagai berikut:

1. Aquaponik kangkung sawi dan pakcoy dengan ikan nila 1 kg (P1J1)

2. Aquaponik kangkung sawi dan pakcoy dengan ikan nila 1,5 kg (P2J1)

3. Aquaponik kangkung sawi dan pakcoy dengan ikan nila 2 kg (P3J1)

4. Aquaponik kangkung sawi dan pakcoy dengan ikan lele 1 kg (P1J2)

5. Aquaponik kangkung sawi dan pakcoy dengan ikan lele 1,5 kg (P2J2)

6. Aquaponik kangkung sawi dan pakcoy dengan ikan lele 2 kg (P3J2)

Dari enam model tersebut dilakukan analisis pendapatannya untuk mengetahui model yang memiliki pendapatan dan keuntungan tertinggi, dan model yang paling efisien dari segi biaya. Pendapatan total usahatani dapat diartikan sebagai

penerimaan total dikurang dengan semua biaya yang telah dikeluarkan, baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan (Soekartawi, 1995). Secara matematis tingkat pendapatan usahatani dapat ditulis sebagai berikut:

TR = Y x Py

TC = Biaya tunai + Biaya diperhitungkan Pd atas biaya tunai = TR - biaya tunai Pd atas biaya total = TR – TC …...(1) Keterangan :

TR = Total penerimaan (Rp) TC = Total biaya (Rp) Py = Harga output (Rp/Kg) Y = Jumlah produksi (Kg)

Pd = Pendapatan atau keuntungan (Rp) Untuk melihat seberapa efisien

usaha dilakukan analisis efisiensi.

Analisis efisiensi diukur dengan

menggunakan analisis rasio penerimaan dan biaya (R/C). R/C rasio merupakan

salah satu ukuran efisiensi yang

menggambarkan penerimaan untuk tiap rupiah yang dikeluarkan (revenue cost ratio). R/C dapat diperoleh dengan menggunakan rumus berikut:

R/C= TR / TC……….…...……(2)

R/C>1 : Usahatani efisien untuk

dijalankan

R/C<1 : Usahatani tidak efisien untuk dijalankan

Analisis Persepsi Kooperator

Untuk melihat persepsi kooperator terhadap hasil teknologi yang dihasilkan dianalisis dengan menggunakan skala

Likert, melalui pendekatan skor

sebagaimana berikut:

Nilai Skor masing-masing kotak = ni.si Ni

(4)

Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 4 Keterangan:

ni = Jumlah responden yang menyatakan pada kolom i (i=1,2, 3, …. )

si = Skor pernyataan ke-i (i=1,2, 3, …) Ni = Jumlah responden (orang pada baris

ke i (i=1, 2, 3, …)

Sedangkan persepsi untuk menilai keuntungan relatif, tingkat kesesuaian dengan lingkungan, tingkat kerumitan dan kemudahan teknologi untuk dicoba, serta tingkat kemudahan teknologi untuk dilihat hasilnya, digunakan analisis rataan skor (Rogers, 1983), dengan formula sebagai berikut:

Total Nilai diperoleh Rataan Skor = --- x100%

Nilai maksimal dicapai

Total Nilai yang didapat,

dikelompokkan berdasarkan rentang

skala: 0-33,33 = tidak baik; 33,34-66,7 = cukup baik; 66,8-100 = baik.

HASIL DAN PEMBAHASAN Pendapatan budidaya sayuran dan ikan dengan sistem aquaponik

Pendapatan yang diperoleh

merupakan hasil rata-rata dalam satu

siklus produksi, tiga kali panen

kangkung, satu kali panen sawi, satu kali panen pakcoy dan satu kali panen ikan.

Pendapatan dihitung dari ke enam model

yang ada. Rincian biaya yang

dikeluarkan, penerimaan dan pendapatan

yang diperoleh dari masing-masing

model dapat dilihat pada Tabel 1 (pendapatan aquaponik sayuran dan ikan nila) dan Tabel 2 (pendapatan aquaponik sayuran dan ikan lele).

Dari hasil analisa biaya terlihat

biaya penyusutan alat menempati

proporsi biaya tertinggi (Tabel 1). Oleh karena itu dalam pengembangannya lebih

lanjut biaya peralatan atau biaya

pembuatan model aquaponik perlu

mendapat perhatian agar mengeluarkan biaya seminimal mungkin, sehingga mudah diduplikasi dan diadopsi oleh masyarakat.

Dari hasil analisa pendapatan, diperoleh pendapatan atas biaya total untuk semua model menunjukkan angka lebih kecil daripada nol (Tabel 1).

Dengan demikian, ketiga model

aquaponik sayuran dan ikan nila belum menguntungkan untuk diusahakan. Dari hasil analisa RC rasio, baik atas biaya total maupun atas biaya tunai, semua model menunjukkan angka kurang dari satu. Dengan demikian dapat disimpulkan ketiga model aquaponik sayuran dan ikan nila belum efisien dari segi biaya.

Tabel 1. Pendapatan usahatani aquaponik sayuran dan ikan nila per siklus Produksi

No. Keterangan

P1J1 P2J1 P3J1

Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) A Biaya

Biaya Non Tunai

1 Penyusutan Alat 1 Pkt 141.667 141.667 1 Pkt 141.667 141.667 1 Pkt 141.667 141.667

Total Biaya Non Tunai 141.667 141.667 141.667

Biaya Tunai

1 Rockwool 1 Pkt 1.944 1.944 1 Pkt 1.944 1.944 1 Pkt 1.944 1.944

2 Benih sayuran daun 1 Pkt 5.000 5.000 1 Pkt 5.000 5.000 1 Pkt 5.000 5.000 3 Benih Ikan 1 Kg 124.800 124.800 1,5 Kg 124.800 187.200 2 Kg 124.800 249.600 4 Pelet Ikan 1,35 Kg 15.000 20.250 1.35 Kg 15.000 20.250 1,35 Kg 15.000 20.250

(5)

Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 5

No. Keterangan

P1J1 P2J1 P3J1

Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) 5 Listrik 1 Pkt 51.840 51.840 1 Pkt 51.840 51.840 1 Pkt 51.840 51.840

Total Biaya Tunai 203.834 266.234 328.634

Total Biaya 345.501 407.901 470.301 B Penerimaan 1 Sayuran daun Kangkung 2,82 kg 40.000 112.800 3,54 kg 40.000 141.600 4,08 Kg 40.000 163.200 Sawi 0,16 kg 50.000 7.935 0,13 kg 50.000 6.520 0,16 Kg 50.000 7.940 Pakcoy 0,11 kg 50.000 5.543 0,10 kg 50.000 4.760 0,12 Kg 50.000 5.780 2 Ikan nila 2 kg 25.000 50.000 3 kg 25.000 75.000 4 kg 25.000 100.000 Total Penerimaan 176.278 227.880 276.920 C Pendapatan atas biaya tunai -9.186 -38.354 -51.714 D Pendapatan atas biaya total -169.224 -180.021 -193.381

E R/C atas biaya tunai 0,86 0,86 0,84

F R/C atas biaya total 0,51 0,56 0,59

Sumber : Data primer (diolah), 2019

Teknologi eksisting perlu

mendapatkan perhatian serta penelitian

dan kajian lebih lanjut untuk

menghasilkan model aquaponik yang lebih efisien dari segi biaya. Beberapa penelitian sebelumnya yang mengkaji

pendapatan budidaya aquaponik

menyebutkan bahwa budidaya aquaponik

di beberapa lokasi memperoleh

keuntungan dalam jangka panjang,

sehingga masih dibutuhkan penelitian dan pengembangan untuk menentukan apakah aquaponik akan berkembang menjadi

metode produksi pangan yang

menguntungkan (Love et al., 2015). Adler et al. (2000) melakukan analisis ekonomi terhadap model aquaponik dan menyimpulkan dibutuhkan waktu 7,5 tahun untuk mengembalikan investasi aquaponik sebesar $300.000. Keuntungan hidroponik yang dikelola secara fokus lebih tinggi daripada aquaponik yang terintegrasi penuh (English, 2015).

Model aquaponik membutuhkan biaya input yang cukup besar, oleh

karena itu untuk memperoleh

keuntungan, model harus dibuat dengan

biaya seminimum mungkin namun

berkualitas. Hal ini sejalan dengan penelitian Sunny et al. (2019) yang

menyimpulkan bahwa budidaya

aquaponik yang menggunakan input

murah dan tersedia secara lokal

menghasilkan pengembalian investasi

yang lebih baik dengan benefit cost ratio sebesar 2,2. Mithun (2013) dalam hasil

penelitiannya menyebutkan biaya

usahatani aquaponik dapat diminimalkan dengan menggunakan bahan-bahan yang tidak terpakai dan tersedia secara lokal.

Untuk menambah pendapatan yang

diperoleh dan meminimalisir kerugian, budidaya aquaponik dapat dibarengi

dengan usaha agritourisme dengan

menawarkan wisata pertanian, dan

pelatihan intensif. Pendapatan tambahan yang dihasilkan dari usaha ini dapat memberikan nilai tambah bagi usaha budidaya aquaponik (English, 2015).

Keberlanjutan budi daya aquaponik

selain menekan biaya juga perlu

memperhatikan aspek pasar dan harga. Bosma (2016) menyimpulkan produksi aquaponik dapat berkelanjutan secara

finansial jika produsen berhasil

mengamankan pasar, terutama untuk segmen pasar kelas atas. Jika produk aquaponik yang ditanam dapat dijual dengan harga yang sama dengan produk organik, maka payback periode sistem aquaponik akan lebih cepat (Quagrainie et al., 2018).

Pendapatan selanjutnya yang diukur dalam kajian ini adalah model aquaponik sayuran dan ikan lele (Tabel 2). Hasil

(6)

Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 6

analisa pendapatan seluruh model

aquaponik sayuran dan ikan lele

menunjukkan angka pendapatan atas biaya total maupun pendapatan atas biaya tunai lebih daripada nol. Hal ini berarti seluruh model aquaponik sayuran dan lele menguntungkan untuk diusahakan. Hasil pendapatan terbesar diperoleh dari

model aquaponik sayuran dan ikan lele dengan jumlah ikan sebanyak 1 kg. Dari hasil analisa RC rasio atas biaya total dan atas biaya tunai menunjukkan angka lebih daripada satu. Dengan demikian dapat disimpulkan ketiga model aquaponik sayuran dan ikan lele sudah efisien dari segi biaya.

Tabel 2. Pendapatan usahatani aquaponik sayuran dan ikan lele per siklus Produksi No. Keterangan

P1J2 P2J2 P3J2

Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) Vol Sat Harga (Rp.) Jumlah (Rp.) A. Biaya

Biaya Non Tunai

1. Penyusutan Alat 1 Pkt 141.667 141.667 1 Pkt 141.667 141.667 1 Pkt 141.667 141.667 Total Biaya Non

Tunai

141.667 141.667 141.667

Biaya Tunai

1. Rockwool 1 Pkt 1.944 1.944 1 Pkt 1.944 1.944 1 Pkt 1.944 1.944

2. Benih sayuran daun 1 Pkt 5.000 5.000 1 Pkt 5.000 5.000 1 Pkt 5.000 5.000 3. Benih Ikan 1 Kg 42.000 42.000 1.5 Kg 42.000 63.000 2 Kg 42.000 84.000 4. Pelet Ikan 4.5 Kg 15.000 67.500 6.75 Kg 15.000 101.250 9 Kg 15.000 135.000 5. Listrik 1 Pkt 51.840 51.840 1 Pkt 51.840 51.840 1 Pkt 51.840 51.840

Total Biaya Tunai 168.284 223.034 277.784

Total Biaya 309.951 364.701 419.451 B. Penerimaan 1. Sayuran daun Kangkung 5,67 Kg 40.000 226.800 5,31 kg 40.000 212.400 5,55 kg 40.000 222.000 Sawi 0,18 Kg 50.000 9.075 0,21 kg 50.000 10,225 0,21 kg 50.000 10.325 Pakcoy 0,16 Kg 50.000 8.195 0,13 kg 50.000 6.425 0,16 kg 50.000 7.958 2. Ikan lele 5,8 kg 25.000 145.000 5,925 kg 25.000 148.125 8,375 kg 25.000 209.375 Total Penerimaan 389.070 377.205 449.658 C. Pendapatan atas biaya tunai 220.786 154.171 171.873 D. Pendapatan atas biaya total 79.119 12.504 30.206

E. R/C atas biaya tunai 2,31 1,69 1,62

F. R/C atas biaya total 1,26 1,03 1,07

Sumber: Data primer (diolah), 2019

Dari enam model yang dikaji jika dilihat dari analisa usahatani, maka aquaponik sayuran dengan 1 kg lele

(P1J2) adalah model yang paling

menguntungkan dan efisien dari segi

biaya. Model ini menghasilkan

pendapatan paling optimal dengan nilai R/C rasio paling tinggi. Model ini dapat

direkomendasikan pengembangannya

lebih lanjut.

Untuk penanaman lebih lanjut, penanaman tanaman kangkung dapat

lebih dioptimalkan dibandingkan

tanaman sawi dan pakcoy, berdasarkan jumlah produksi yang dihasilkan oleh ketiga tanaman sayuran tersebut (Tabel 2). Penanaman kangkung dengan jumlah

(7)

Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 7 lubang tanam yang sama, menghasilkan

produksi yang lebih optimal

dibandingkan kedua tanaman sayuran

lainnya. Dengan demikian, dengan

memperbanyak tanaman kangkung

diharapkan dapat meningkatkan jumlah pendapatan yang diperoleh.

Tingkat serapan kangkung yang tinggi terhadap nitrat mengakibatkan tanaman ini berproduksi optimal dengan sistem aquaponik. Tanaman kangkung merupakan tanaman yang sangat cocok untuk budidaya aquaponik. Hal ini disebabkan tanaman kangkung efektif menyerap kelebihan unsur hara dalam air yang salah satunya adalah ammonia yang diubah menjadi nitrit dan nitrat (Dauhan, 2014; Saptarini, 2010). Pertumbuhan ikan nila dan sayur kangkung menunjukkan keberhasilan sistem aquaponik yang dikembangkan. Kandungan amonia yang

rendah menunjukkan keberhasilan

kangkung sebagai filter biologis dengan menyerap nitrat sebagai sumber nutrisi utama (Bangkit, 2017). Selain itu, pakan ikan yang berbahan dasar karbohidrat dan protein menghasilkan nutrisi yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kangkung. Pada sistem aquaponik, pakan ikan adalah faktor penentu kecukupan nutrisi tanaman (Rakocy et al,. 2006).

Persepsi masyarakat kooperator terhadap budidaya sayuran dan ikan dengan sistem aquaponik

Karakteristik masyarakat

kooperator yang dijadikan responden

mayoritas berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan sebagian lainnya berprofesi sebagai pedagang. Rentang usia mereka meskipun tidak tergolong usia muda, akan tetapi masih dalam rentang usia produktif. Rentang usia yang masih tergolong usia produktif diharapkan dapat dengan mudah menerima teknologi yang diintroduksi.

Hasil uji persepsi petani kooperator terhadap inovasi teknologi budidaya

aquaponik sayuran yang meliputi

persepsi terhadap keuntungan relatif, terhadap tingkat kesesuaian, terhadap

tingkat kerumitan, terhadap tingkat

kemudahan dapat dicoba, dan terhadap tingkat kemudahan untuk dilihat hasilnya termasuk dalam kategori baik (Tabel 3). Hal ini menunjukkan bahwa teknologi ini dapat diterima dan berpeluang untuk diadopsi oleh pengguna.

Nilai persepsi terhadap tingkat kemudahan untuk dicoba dan diterapkan menunjukkan nilai yang paling tinggi

yaitu 97,44%. Hasil tersebut

menunjukkan bahwa faktor yang paling mempengaruhi persepsi petani kooperator terhadap teknologi budidaya aquaponik

sayuran ikan adalah kemudahan

teknologi tersebut untuk dicoba dan diterapkan. Zugravu et al. (2016) dalam

hasil penelitiannya menyampaikan

konsumen memiliki citra keseluruhan yang baik terhadap aquaponik, mereka berpersepsi bahwa produk aquaponik memiliki kualitas baik, sehat dan segar.

(8)

Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 8

Tabel 3. Persepsi petani kooperator terhadap budidaya sayuran dan ikan dengan sistem aquaponik

Persepsi Pengguna Tingkat Persepsi (%) Kategori Skor Kuntungan Relatif (Manfaat/kelebihan teknis dan

ekonomis)

77,78 Baik

Kesesuaian (kondisi lingkungan dan kebutuhan) 82,69 Baik

Kerumitan (proses pembuatan) 75,64 Baik

Kemudahan untuk dicoba dan diterapkan 97,44 Baik

Kemudahan untuk dilihat hasilnya 88,89 Baik

Sumber: Data primer (diolah), 2019 KESIMPULAN

Pendapatan yang paling

menguntungkan dan paling efisien dari segi biaya dari ke-enam model yang dikaji adalah model aquaponik sayuran dan ikan lele dengan jumlah ikan lele sebanyak 1 kg. Untuk mengoptimalkan pendapatan yang diperoleh, sayuran kangkung dapat ditanam lebih banyak dari kedua sayuran lainnya yaitu sawi dan pakcoy, karena kangkung menghasilkan produksi yang lebih tinggi dibandingkan kedua sayuran lainnya. Persepsi petani kooperator terhadap budidaya sayuran dan ikan dengan sistem aquaponik termasuk dalam kategori baik, nilai persepsi terhadap tingkat kemudahan teknologi untuk dicoba dan diterapkan menunjukkan nilai yang paling tinggi, hal ini menunjukkan teknologi ini mudah untuk dicoba dan diterapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Adler PR, Harper JK, Wade EM. 2000. Economic analysis of an aquaponic system for the integrated production of rainbow trout and plants. Int Journal Recirculating Aquac 1. (15): 15–34

Bangkit I., Sugandhy R., Indriani P. D.

2017. Aplikasi Budidaya Ikan

Integratif dengan Sistem Aquaponik

dalam Pemanfaatan Pelataran Rumah

sebagai Upaya Peningkatan

Pendapatan Masyarakat di RW 05 Desa Sayang, Jatinangor-Sumedang.

Jurnal Pengabdian Kepada

Masyarakat. 1 (3): 145-149.

Bosma R. 2016. The economic feasibility of aquaponics: a post-hoc cost-benefit analysis of investing in a fish vegetable farm near Dumaguete,

Philippines. 11th Asian Fisheries and

Aquaculture Forum, Bangkok

Dauhan, R.E.S., Effendi E., Suparmono. 2014. Efektivitas Sistem Aquaponik

dalam Mereduksi Konsentrasi

Amonia pada Sistem Budidaya Ikan. Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan. 3(1): 297-301. Diver S. 2005. Aquaponics-Integration of

Hydroponics with Aquaculture, 215. NCAT, USA.

English L. 2015. Economic Feasibility of Aquaponics in Arkansas. Thesis. University of Arkansas, Fayetteville Love, D.C., Fry J.P., Li X., Hill E.S.

Genello L., Semmens K ., Thompson R.E. 2015. Commercial aquaponics production and profitability: Findings

from an international survey.

Aquaculture. 435: 67-74

Mithun, R., Salam, M.A., Hossain, M.B., Shamsuddin, M. 2013. Feasibility study ofaquaponics.World Applied Sciences Journal. 23 (5): 588-592. Rakocy, J.E., M.P. Masser, & T.M.

Losordo. 2006. Recirculating

(9)

Buletin Pertanian Perkotaan Volume 10 Nomor 1, 2020 | 9

aquaponics—integrating fish and

plant culture. Southern Regional

Aquaculture Center. No. 454.

Stoneville, MS. 16 pp.

Rogers, E.M. 1983. Diffusion of

Innovasions, Third Edition The Free Press. New York

Rupasinghe, J.W. & J.O.S Kennedy.

2010. Economic benefits of

integrating a hydroponic-lettuce

system into a barramundi fish

production system. Aquaculture

Economics & Management. 14 (2): 81-96.

Saptarini P., 2010. Efektivitas Teknologi Aquaponik dengan Kangkung Darat

(Ipomoea Reptans) terhadap

Penurunan Amonia pada Pembesaran Ikan Mas. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Setijanigsih L., Suryaningrum L.H. 2015. Pemanfaatan Limbah Budidaya Ikan Lele (Clarias Batrachus) untuk Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) dengan

Sistem Resirkulasi. Berita Biologi Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati. 14(3): 287-293.

Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Jakarta (ID) : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).

Sunny A.R, Islam M.M., Rahman M., Muah M.Y.,Mostafiz M., Islam N., Hossain M.Z., Chowdhury M.A., Islam M.A. Keus H.J. 2019. Cost effective aquaponics for food security and income of farming households in coastal Bangladesh. Egyptian Journal of Aquatic Research 45: 89–97. Quagrainie KK, Flores RMV, Kim H-J,

McClain V. 2018. Economic analysis

of aquaponics and hydroponics

production in the U.S. Midwest. J Appl Aquacult. 30: 1–14.

Zugravu AG, Rahoveanu MMT,

Rahoveanu AT, Khalel MS, Ibrahim MAR. 2016. The perception of aquaponics products in Romania. Risk Contempo Econom 3:525-530.

Gambar

Tabel 1. Pendapatan usahatani aquaponik sayuran dan ikan nila per siklus Produksi
Tabel 2. Pendapatan usahatani aquaponik sayuran dan ikan lele per siklus Produksi
Tabel 3.  Persepsi  petani  kooperator  terhadap  budidaya  sayuran  dan  ikan  dengan  sistem  aquaponik

Referensi

Dokumen terkait

Produk pintu yang sering mengalami terjadinya cacat dalam produksinya adalah PVC door sehingga harus dilakukan perbaikan dalam proses produksi untuk mendapatkan kualitas yang baik

Fase pingsan ringan ikan cantang pada skenario 1 &amp; 2 (Tabel 1.), dengan ditandai gerakan badan yang melemah, lambat dan posisi badan oleng-oleng beberapa

Kegiatan proyek dapat diartikan sebagai satu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya tertentu

Sehubungan dengan penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran, para tenaga pengajar atau guru perlu cermat dalam pemilihan dan atau penetapan media yang

[r]

Nilai ROE perusahaan yang rendah dapat menimbulkan kesan yang buruk bagi para investor, tetapi jika nilai ROE yang rendah disebabkan karena perusahaan sedang melakukan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil antara lain: (1) Penggunaan saksi verbalisan dalam proses pembuktian perkara pidana diperlukan apabila dalam

The market structure could be measured through the number of the company, market share distribution, or the concentration level of domestic commercial airlines in