Jurnal Mubtadiin, Vol. 2 No. 02 Januari-Juli 2017
PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Sri Andayani
Abstract
Understanding the characteristics of human personality, especially learners is not easy. So that between teachers with learners alike learn. From the learning process, many opinions or research results about the various personality of learners that aims to occur continuity between one another. If in the life or scope of education, one of them can aim to facilitate the learning process so that the goals and knowledge can be maximized when received by each learner. So it can be said that understanding the personality of the participants can be considered capital or the first step of the educators before the learning activities take place.
Keywords: The Development, Personality, Children
A.Pendahuluan
Manusia adalah makhluk individu dan sosial yang memiliki berbagai jenis kepribadian. Kepribadian berarti integrasi dari seluruh sifat seseorang baik sifat-sifat yang dipelajarinya maupun sifat-sifat yang diwarisinya, yang menyebakan kesan yang khas dan unik pada orang lain”.146
Memahami karakteristik kepribadian manusia khususnya peserta didik tidaklah mudah. Sehingga antara guru dengan peserta didik sama-sama belajar.
Dosen STAI Annur Lampung Selatan
Jurnal Mubtadiin, Vol. 2 No. 02 Januari-Juli 2017
Dari proses belajar tersebut, banyak pendapat-pendapat atau hasil penelitian tentang macam-macam kepribadian peserta didik yang bertujuan agar terjadi kesinambungan antara satu dengan yang lainnya. Jika dalam kehidupan atau ruang lingkup pendidikan, salah satunya dapat bertujuan untuk memperlancar proses pembelajaran agar sasaran dan ilmu yang disampaikan dapat maksimal saat diterima masing-masing peserta didik. Sehingga dapat dikatakan bahwa memahami kepribadian peserta dapat dianggap modal atau langkah awal para pendidik sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Karakteristik kepribadian sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran karena pelajaran atau materi dapat dipahami oleh peserta didik saat peserta didik dapat fokus terhadap apa yang sedang dibahas. Sebelum membuat peserta didik fokus terhadap materi atau pelajaran yang pendidik berikan, langkah awal pendidik adalah membuat peserta didik fokus kepada pendidik. Apabila para pendidik telah berhasil membuat fokus para peserta didik kepada pendidik, maka dengan mudahnya para pendidik melangsungkan kegiatan belajarnya. Maka dari itu, penulis tertarik untuk memberi tahu tentang macam-macam kepribadian manusia khususnya peserta didik.
B. Pembahasan
1. Pengertian Perkembangan Kepribadian
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan.147Sedangkan
“Kata kepribadian dalam bahasa asing disebut dengan kata personality. Kata ini berasal dari kata latin, yaitu persona yang berarti “topeng” atau seorang individu
Jurnal Mubtadiin, Vol. 2 No. 02 Januari-Juli 2017
yang berbicara melalui sebuah topeng yang
menyembunyikan identitasnya dan memerankan tokoh lain dalam drama.148Sehingga kepribadian seseorang
adalah perangsang dari orang tua atau kesan yang ditimbulkan oleh keseluruhan tingkah laku orang lain.
2. Macam-macam karakteristik kepribadian
Begitu banyak tipe kepribadian menurut para ilmuwan. Berikut ini adalah tipe-tpe kepibadian menurut masing-masing para ahli agar kita lebih memahami kepribadian peserta didik sehingga saat proses kegiatan belajar dan mengajar berlangsung dengan maksimal. Menurut Eysenck dalam Buchori menyatakan bahwa tipe kepribadian dibagi menjadi tiga, yaitu:
a. Kepribadian Ekstrovert: dicirikan dengan sifat
sosiabilitas, bersahabat, menikmati
kegembiraan, aktif bicara, impulsif,
menyenangkan spontan, ramah, sering ambil bagian dalam aktivitas sosial.
b. Kepribadian Introvert: dicirikan dengan sifat pemalu, suka menyendiri, mempunyai kontrol diri yang baik.
c. Neurosis: dicirikan dengan pencemas,
pemurung, tegang, bahkan kadang-kadang disertai dengan simptom fisik seperti keringat, pucat, dan gugup.149
Menurut Mahmud dalam Suadiantomenyatakan
kepribadian terbagi menjadi dua belas kepribadian, yang meliputi kepribadian sebagai berikut:
a. Mudah menyesuaikan diri, baik hati, ramah, hangat VS dingin.
b. Bebas, cerdas, dapat dipercaya VS bodoh, tidak sungguh-sungguh, tidak kreatif.
148Buchori, Psikologi Pendidikan…,h.91 149Buchori, Psikologi Pendidikan…, h.99
Jurnal Mubtadiin, Vol. 2 No. 02 Januari-Juli 2017
c. Emosi stabil, realistis, gigih VS emosi mudah berubah, suka menghindar (evasive), neurotik. d. Dominat, menonjolkan diri VS suka mengalah,
menyerah.
e. Riang, tenang, mudah bergaul, banyak bicara VS mudah berkobar, tertekan, menyendiri, sedih.
f. Sensitif, simpatik, lembut hati VS keras hati, kaku, tidak emosional.
g. Berbudaya, estetik VS kasar, tidak berbudaya. h. Berhati-hati, tahan menderita, bertanggung
jawab VS emosional, tergantung, impulsif, tidak bertanggung jawab.
i. Petualang, bebas, baik hati VS hati-hati, pendiam, menarik diri.
j. Penuh energi, tekun, cepat, bersemangat VS pelamun, lamban, malas, mudah lelah.
k. Tenang, toleran VS tidak tenang, mudah tersinggung.
l. Ramah, dapat dipercaya VS curiga,
bermusuhan.150
Menurut Hippocrates dan Galenus dalam Kurnia Tipologi kepribadian yang tertuang bersifat jasmaniah atau fisik. Mereka mengembangkan tipologi kepribadian berdasarkan cairan tubuh yang menentukan temperamen seseorang. Tipe kepribadian itu antara lain151:
a. Tipe kepribadian choleric (empedu kuning), yang dicirikan dengan pemilikan temperamen
150Sarlito WirawanSarwono, Pengantar Psikologi Umum. Jakarta
; PT.Raja Grafindo Persada. 2009, h. 109
151IngridwatiKurnia, dkk,Perkembangan belajar Peserta Didik,
Jurnal Mubtadiin, Vol. 2 No. 02 Januari-Juli 2017
cepat marah, mudah tersinggung, dan tidak sabar.
b. Tipe melancholic (empedu hitam), yang berkaitan dengan pemilikan temperamen pemurung, pesimis, mudah sedih dan mudah putus asa.
c. Tipe phlegmatic (lendir), yang bertemperamen yang serba lamban, pasif, malas, dan kadang apatis/ masa bodoh.
d. Tipe sanguinis (darah), yang memiliki temperamen dan sifat periang, aktif, dinamis, dan cekatan.
Menurut Kretchmer dan Sheldon dalam Kurnia menyatakan bahwa tipologi kepribadian berdasarkan bentuk tubuh atau bersifat jasmaniah. Macam-macaam kepribadian ini adalah:
a. Tipe asthenicus atau ectomorpic pada orang-orang yang bertubuh tinggi kurus memiliki sifat dan kemampuan berpikir abstrak dan kritis, tetapi suka melamun dan sensitif.
b. Tipe pycknicus atau mesomorphic pada orang yang betubuh gemuk pendek, memiliki sifat
periang, suka humor, popular dan
mempunyai hubungan sosial luas, banyak teman, dan suka makan.
c. Tipe athleticus atau mesomorphic pada orang yang bertubuh sedang/ atletis memiliki sifat senang pada pekerjaan yang membutukhkan kekuatan fisik, pemberani, agresif, dan mudah menyesuaikan diri.
d. Namun demikian, dalam kenyataannya lebih banyak manusia dengan tipe campuran (dysplastic).152
Jurnal Mubtadiin, Vol. 2 No. 02 Januari-Juli 2017
Menurut Jung dalam SudiantoTipologi
kepribadian dikelompokan berdasarkan kecenderungan hubungan sosial seseorang, yaitu:
a. Tipe Ekstrovert yang perhatiannya lebih banyak tertuju di luar.
b. Tipe Introvert yang perhatiannya lebih tertuju ke dalam dirinya, dan dikuasai oleh nilai-nilai subjektif.
c. Tetapi, umumnya manusia mempunyai tipe campuran atau kombinasi antara ekstrovert dan introvert yang disebut ambivert.153
Pada periode anak sekolah, kepribadian anak belum terbentuk sepenuhnya seperti orang dewasa. Kepribadian mereka masih dalam proses pengembangan. Wijaya (1988) menyatakan “karakteristik anak secara sederhana dapat dikelompokkan atas:
a. Kelompok anak yang mudah dan
menyenangkan.
b. Anak yang biasa-biasa saja.
c. Anak yang sulit dalam penyesuaian diri dan sosial, khususnya dalam melakukan kegiatan pembelajaran di dekolah”.154
Menurut Kurnia menjelaskan bahwa karakteristik atau kepribadian seseorang dapat berkembang secara bertahap. Berikut ini adalah krakteristik perkembangan pada masa anak sampai masa puber yaitu :
a. Karakteristik perkembangan masa anak awal (2-6 tahun). Masa anak awal berlangsung dari
usia 2-6 tahun, yaitu setelah anak
meninggalkan masa bayi dan mulai mengikuti pendidikan formal di SD. Tekanan dan harapan sosial untuk mengikuti pendidikan
153JuhanaWijaya,Psikologi Bimbingan, Bandung: PT Eresco.
1988, h.45
Jurnal Mubtadiin, Vol. 2 No. 02 Januari-Juli 2017
sekolah menyebabkan perubahan perilaku, minat, dan nilai pada diri anak. Pada masa ini, anak sedang dalam proses penegmbangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan. Perilaku anak sulit diatur, bandel, keras kepala, dan sering membantah dan melawan orang tua. Hal ini memang sangat menyulitkan para pendidik. Tak heran, apabila para guru Playgroup sampai SD harus
lebih bersabar dalam melangsungkan
pembelajaran atau mendidik siswa. Disiplin mulai bisa diterapkan pada anak sehingga anak dapat mulai belajar hidup secara tertib. Dan sikap para pedidik sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.
b. Karakteristik perkembangan masa anak akhir (6-12 tahun). Karakteristik atau ciri-ciri periode masa anak akhir, sama halnya dengan ciri-ciri periode masa anak awal dengan memperhatikan sebutan atau label yang digunakan pendidik. Orang tua atau pendidik menyebut masa anak akhir sebagai masa yang menyulitkan karena pada masa ini anak lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya daripada oleh orang tuanya. Kebanyakan anak pada masa ini juga kurang memperhatikan dan tidak bertanggung jawab terhadap pakaian dan benda-benda miliknya. Para pendidik memberi sebutan anak usia sekolah dasar, karena pada rentang usia ini (6-12 tahun) anak bersekolah di sekolah dasar. Di sekolah dasar, anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang dianggap penting untuk keberhasilan
Jurnal Mubtadiin, Vol. 2 No. 02 Januari-Juli 2017
melanjutkan studi dan penyesuaian diri dalam kehidupannya kelak.
c. Karakteristik perkembangan masa puber
(11/12 – 14/15 tahun). Masa puber adalah suatu periode tumpang tindih antara masa anak akhir dan masa remaja awal. Periode ini terbagi atas tiga tahap, yaitu tahap: prapuber, puber, dan pascapuber. Tahap prapuber bertumpang tindih dengan dua tahun terakhir masa anak akhir. Tahap puber terjadi pada batas antara periode anak dan remaja, di mana ciri kematangan seksual emakin jelas (haid dan mimpi basah). Tahap pascapuber bertumpang tindih dengan dua tahun pertama masa remaja. Waktu masa puber relatif singkat (2-4 tahun) ini terjadi pertumbuhan dan perubahan yang sangat pesat dan mencolok dalam proporsi tubuh, sehingga menimbulkan keraguan dan perasaan tidak aman pada anak puber.155
Peubahan fisik dan sikap puber ini berakibat pula pada menurunnya prestasi belajar, permasalahan yang terkait dengan penerimaan konsep diri, serta persoalan dalam berhubungan dengan orang di sekitarnya. Orang dewasa maupun pendidik perlu memahami sikap perilaku anak puber yang kadang menaik diri, emosional, perilaku negative dan lai-lain, serta membantunya agar anak dapat menerima peran seks dalam kehidupan bersosialisasi dengan orang atau masyarakat di sekitarnya.
3. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
Kepribadian
Jurnal Mubtadiin, Vol. 2 No. 02 Januari-Juli 2017
Kata kepribadian dalam bahasa asing disebut dengan kata personality. Kata ini berasal dari kata latin, yaitu persona yang berarti “topeng” atau seorang individu yang berbicara melalui sebuah topeng yang menyembunyikan identitasnya dan memerankan tokoh lain dalam drama”156. Sehingga kepribadian seseorang
adalah perangsang dari orang tua atau kesan yang ditimbulkan oleh keseluruhan tingkah laku orang lain.
Kepribadian bersifat dinamis (tidak statis), dan melainkan berkembang secara terbuka sehingga manusia senantiasa berada dalam kondisi perubahan dan perkembangan. Kepribadian selalu dalam penyesuaian diri yang unik dengan lingkungannya dan berkembang bersama-sama dengan lingkungannya, serta menentukan jenis penyesuaian yang akan dilakukan anak, karena tiap anak mempunyai pengalaman belajar yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Dalam perkembangan kepribadian, konsep diri dan sifat-sifat seseorang merupakan hal atau komponen penting. “konsep diri merupakan konsep, persepsi, maupun gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri, atau sebagai bayangan dari cermin diri. Konsep diri seseorang dipengaruhi dan ditentukan oleh peran dan hubungannya dengan orang lain terhadap dirinya.157
Menurut Suadiantomenerangkan bahwa sifat mempunyai dua ciri yang menonjol, yaitu:
a. Individualistis yang diperlihatkan dalam kuantitas ciri tertentu dan bukan kekhasan ciri bagi orang lain.
b. Konsistensi yang berarti seseorang bersikap dengan cara yang hampir sama dalam situasi dan kondisi yang serupa, konsep diri
156Buchori, Psikologi Pendidikan…,h.91 157Buchori, Psikologi Pendidikan…,h.105
Jurnal Mubtadiin, Vol. 2 No. 02 Januari-Juli 2017
merupakan inti kepribadian yang
mempengaruhi berbagai sifat yang menjadi ciri khas kepribadian seseorang.158
Menurut Kurnia menyatakan bahwa mengenai perkembangan pola kepribadian, ada 3 faktor yang menentukan perkembaangan kepribdian seseorang termasuk peserta didik, yaitu:
a. Faktor bawaan, termasuk sifat-sifat yang diturunkan kepada anaknya, misalnya sifat sabar anak dikarenakan orang tuanya juga memiliki sifat sabar, demikian juga wawasan sosial anak dipengaruhi oleh tingkat kecerdasannya.
b. Pengalaman awal dalam lingkungan keluarga ketika anak masih kecil. Pengalaman itu membentuk konsep diri primer yang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian anak dalam mengadakan penyesuaian diri dan sosial pada perkembangan kepribadian periode selanjutnya.
c. Pengalaman kehidupan selanjutnya dapat
memperkuat konsep diri dan dasar
kepribadian yang sudah ada, atau karena pengalaman yang sangat kuat sehingga mengubah konsep diri dan sifat-sifat yang sudah terbentuk pada diri seseorang.159
Pada perkembangan kepribadian pesera didik, tidak ada kepribadian dan sifat-sifat yang benar-benar sama. Tiap anak adalah individu yang unik dan mempunyai pengalaman belajar dalam penyesuaian diri
158SumadiSuryabrata,Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada. 1983. , h.105
159IngridwatiKurnia, dkk,Perkembangan belajar Peserta Didik,
Jurnal Mubtadiin, Vol. 2 No. 02 Januari-Juli 2017
dan sosial yang berbeda secara pribadi. Menurut Suadianto menjelaskan bahwa hal penting dalam perkembangan kepribadian adalah ketetapan dalam pola kepribadian atau persistensi. Artinya, terdapat kecenderungan ciri sifat kepribadian yang menetap dan relatif tidak berubah sehingga mewarnai timbul perilaku khusus terhadap diri seseorang. Persistensi dapat disebabkan oleh kondisi bawaan anak sejak lahir, pendidikan yang ditempuh anak, perilaku orang tua dan lingkungan kelompok teman sebaya, serta peran dan pilihan anak ketika berinteraksi dengan lingkungan sosial.
4. Pengaruh kepribadian terhadap peserta didik
Memahami karakter seseorang memang sangat sulit, namun sangat penting. Apalagi kita sebagai pendidik selalu bersama dengan peserta didik yang sangat banyak dan masing-masing mempunyai karakter-karakter tersendiri. Keadaan atau proses beajar dan mengajar tidak dapat berjalan dengan baik apabila kita tidak saling mengenal dengan peserta didik. Saling mengenal tidak harus dengan menghafal nama-nama dari peserta didik, tetapi pendidik harus mengenal kepribadian dari murid-muridnya.
Berdasarkan tipe-tipe kepribadian yang telah tercantum di atas bahwa setiap sifat yang baik pasti ada sifat yang jelek. Ada peserta didik yang diajak berbicara selalu merespon, ada peserta didik yang periang, ada sifat atau pribadi yang tertutup, ada peserta didik yang kurang menghargai pendidikya dan mengaggap suatu hal biasa. Kita sebagai pedidik, kita harus mengendalikan ego dan menambah kesabaran saat berinteraksi dengan peserta didik untuk mengingatkan bahwa hal tersebut salah, benar, sopan dan lain-lain. Misalnya, anak yang suka bergurau dan menganggap
Jurnal Mubtadiin, Vol. 2 No. 02 Januari-Juli 2017
guru adalah teman, saat pendidik melakukan kesalahan dan peserta didik mengejek dengan kata kurang sopan. Apabila kita langsung memarahi dan tidak bisa menahan emosi kita, maka kita akan ditakuti oleh dia dan bisa saja peserta didik tersebut dan yang lain langsung merasa tegang dan akhirnya pada saat peajaran, bukan suasana yng menyenangkan yang didapat melainkan suasana tegang. Kita sebagai pendidik harus melihat kepribadian siswa tersebut apakah mudah tersingung atau tidak. Bila murid tersebut tidak muah tersinggung, kita bisa mengingatkan kesalahannya dengan cara lelucon. Namun bila dia mudah tersinggung maka kita bisa menegur saat di luar jam pelajaran. Bila suasana yang tercipta adalah tegang maka materi yang diberikan tidak diserap hingga maksimal dan akhirnya prestasi menurun.
C. Simpulan
Peserta didik mserupakan subjek utama dalam penyelenggaran pembelajaran. Tugas utama peserta didik adalah belajar, yaitu kegiatan atau usaha yang dilakukan untuk memperoleh perubahan perilaku dari
segala aspek, mulai dari kognitif sampai
psikomotorik.Selama proses belajar berlangsung, pengembangan kepribadian peserta didik pun ikut berubah. Faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah faktor bawaan, termasuk sifat-sifat yang diturunkan kepada anaknya, pengalaman awal dalam lingkungan keluarga ketika anak masih kecil pengalaman kehidupan selanjutnya dapat memperkuat konsep diri dan dasar kepribadian yang sudah ada. Begitu banyak tipe dan karakteristik dari kepribadian dan tiap individu.Dan setiap orang memiliki kepribadian yang tidak sama, sehingga dengan ketidaksamaan tiap individu, para
Jurnal Mubtadiin, Vol. 2 No. 02 Januari-Juli 2017
pendidik harus bisa memahami kepribadian masing-masing agar prestasi peserta didik satu dengan peserta lainnya mempunyai peluang yang sama tanpa membuat kepribadian buruk mereka muncul.
Daftar Pustaka
Buchori, M. Psikologi Pendidikan, Bandung: Jemars.1982. Wijaya, Juhana. Psikologi Bimbingan, Bandung: PT
Eresco.1988.
Kurnia, Ingridwati, dkk. Perkembangan belajar Peserta Didik, Jakarta: Depdiknas.2007.
Sarwono, Sarlito Wirawan. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta ; PT.Raja Grafindo Persada.2009.
Suryabrata, Sumadi. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.1983.