Paper Forensik Sejarah

19 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

I.

I. LATAR BELAKANGLATAR BELAKANG

Forensik biasanya selalu dikaitkan dengan tindak pinada (tindak melawan hukum). Dalam Forensik biasanya selalu dikaitkan dengan tindak pinada (tindak melawan hukum). Dalam buku- b

 buukku u ililmu mu ffoorerennsisik k ppadada a uummuummnynya a ililmmu u foforreennsisik k ddiaiartrtiikkan an sesebbagagaai i ppeneneerarappaan n ddan an ppeemmananfafaatataann ilmu pengetahuan tertentu untuk kepentingan penegakan hukum dan keadilan. Dalam ilmu pengetahuan tertentu untuk kepentingan penegakan hukum dan keadilan. Dalam  p

 penenyyididikikan an susuaatu tu kkasasuus s kkejejahahaatatann, , oobbseservrvasasi i teterhrhaaddapapbukti fisik bukti fisik dan interpretasi dan interpretasi dari dari hasilhasil analisis (pengujian) barang bukti merupakan alatutama dalam penyidikan analisis (pengujian) barang bukti merupakan alatutama dalam penyidikan tersebut.Tercatat pertama kali pada abad ke 19 di Perancis, Josep Bonaventura Orfila pada tersebut.Tercatat pertama kali pada abad ke 19 di Perancis, Josep Bonaventura Orfila pada suatu pengadilan dengan percobaan keracunan pada hewan dan dengan buku toksikologinya suatu pengadilan dengan percobaan keracunan pada hewan dan dengan buku toksikologinya dapat meyakinkan hakim, sehingga menghilangkan anggapan bahwa kematian akibat keracunan dapat meyakinkan hakim, sehingga menghilangkan anggapan bahwa kematian akibat keracunan disebabkan oleh mistik. Pada pertengahan abad ke 19, pertama kali ilmu kimia, mikroskopi, dan disebabkan oleh mistik. Pada pertengahan abad ke 19, pertama kali ilmu kimia, mikroskopi, dan fotografi dimanfaatkan dalam penyidikan kasus kriminal (Eckert, 1980). Revolusi ini merupakan fotografi dimanfaatkan dalam penyidikan kasus kriminal (Eckert, 1980). Revolusi ini merupakan gambaran tanggungjawab dari petugas penyidik dalam penegakan hukum.

gambaran tanggungjawab dari petugas penyidik dalam penegakan hukum.1-1-33

Alphonse Bertillon (1853-1914) adalah seorang ilmuwan yang pertama kali secara Alphonse Bertillon (1853-1914) adalah seorang ilmuwan yang pertama kali secara sistematis meneliti ukuran tubuh manusia sebagai parameter dalam personal indentifikasi. sistematis meneliti ukuran tubuh manusia sebagai parameter dalam personal indentifikasi. Sampai awal 1900-an metode dari Bertillon sangat ampuh digunakan padapersonal Sampai awal 1900-an metode dari Bertillon sangat ampuh digunakan padapersonal inde

indentifntifikaikasi. Bsi. Bertilertillon lon dikdikenaenal sebal sebagai bgai bapak apak idenidentifiktifikasi kasi krimiriminal (crnal (crimimininal al ididenentitifificacatitionon).). Francis Galton (1822-1911) pe

Francis Galton (1822-1911) pertama kali meneliti sidik jari dan mengembangkanmetodertama kali meneliti sidik jari dan mengembangkanmetode klasifikasi dari sidik jari. Hasil penelitiannya sekarang ini digunakan sebagaimetode dasar dalam klasifikasi dari sidik jari. Hasil penelitiannya sekarang ini digunakan sebagaimetode dasar dalam  p

 perersosonnaal idl idenenttififikikaasisi. . LLeoeonne Lae Lattttees (1s (1888877--11995544) ) seorang seorang profesor profesor di di institut kedokteraninstitut kedokteran forensik di Universitas Turin, Itali. Dalam investigasi dan identifikasi bercak darah yang forensik di Universitas Turin, Itali. Dalam investigasi dan identifikasi bercak darah yang mengering

mengering„„a dried bloodstaina dried bloodstain‟‟. . LaLatttetes s menggomenggolongkan longkan darah kdarah ke dalam e dalam 4 klasifi4 klasifikasi, ykasi, yaitu A,aitu A, B, AB, dan O. Dasar klasifikasi ini masih kita kenal dan dimanfaatkan secara luas sampai B, AB, dan O. Dasar klasifikasi ini masih kita kenal dan dimanfaatkan secara luas sampai sekarang.Dalam perkembangan selanjutnya semakin banyak bidang ilmu yang dilibatkan sekarang.Dalam perkembangan selanjutnya semakin banyak bidang ilmu yang dilibatkan ataudimanfaatkan dalam penyidikan suatu kasus kriminal untuk kepentingan hukum ataudimanfaatkan dalam penyidikan suatu kasus kriminal untuk kepentingan hukum dankeadilan.

(2)

Ilmu pengetahuan tersebut sering dikenal dengan Ilmu Forensik. Saferstein dalam  bukunya “Criminalistics an Introduction to Forensic Science” berpendapat bahwa ilmu forensik ”forensic science“secara umum adalah “the application of science to law”. Ilmu Forensik dikatagorikan ke dalam ilmu pengetahuan alam dan dibangun berdasarkan metode ilmu alam. Dalam padangan ilmu alam sesuatu sesuatu dianggap ilmiah hanya dan hanya jika didasarkan pada fakta atau pengalaman (empirisme), kebenaran ilmiah harus dapat dibuktikan oleh setiap orang melalui indranya (positivesme), analisis dan hasilnya mampu dituangkan secara masuk akal, baik deduktif maupun induktif dalam struktur bahasa tertentu yang mempunyai makna (logika) dan hasilnya dapat dikomunikasikan ke masyarakat luas dengan tidak mudah atau tanpa tergoyahkan (kritik ilmu) (Purwadianto 2000). Dewasa ini dalam penyidikan suatu tindak kriminal merupakan suatu keharusan menerapkan pembuktian dan pemeriksaan bukti fisik secara ilmiah. Sehingga diharapkan tujuan dari hukum acara pidana, yang menjadi landasan proses peradilan pidana, dapat tercapai yaitu mencari kebenaran materi.1-4

Tujuan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kehakiman No.M.01.PW.07.03 tahun 1983 yaitu: untuk mencari danmendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materi, ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari sutau perkara pidana dengan menerapkan ketentuanhukum acara pidana secara jujur dan tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat dipersalahkan.1

Adanya pembuktian ilmiah diharapkan polisi, jaksa, dan hakim tidaklah mengandalkan  pengakuan dari tersangka atau saksi hidup dalam penyidikan dan menyelesaikan suatu perkara. Karena saksi hidup dapat berbohong atau disuruh berbohong, maka denganhanya berdasarkan keterangan saksi dimaksud, tidak dapat dijamin tercapainya tujuan penegakan kebenaran dalam  proses perkara pidana dimaksud. Dalam pembuktian dan pemeriksaan secara ilmiah, kita mengenal istilah ilmu forensikdan kriminologi. Secara umum ilmu forensik dapat diartikan sebagai aplikasi atau pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk kepentingan penegakan hukum dan keadilan.1-5

(3)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Sejarah Kedokteran Forensik 1-5

Asal dari ilmu kedokteran forensik hanya dapat ditelusuri kembali mulai dari 5000 atau 6000 sebelum masehi. Pada masa ituImhotep yang merupakan pemuka agama tertinggi, Hakim tertinggi, pimpinan penyihir, dan tabib kepala dari raja Zozer dianggap sebagai dewa oleh bangsa mesir. Dia merupakan orang pertama yang mengaplikasikan antara kedokteran dan hukum pada lingkungan sekitarnya.

Pada mesir kuno, peraturan hukum yang menyangkut praktek kedokteran disusun dan dicatat pada papyri( daun lontar ). Karena ketika itu kedokteran masih diliputi oleh unsur mistis, orang yang menjalankan profesi tersebut sangat dihormati dan dianggap sebagai golongan yang istimewa. Walaupun pengaruh dari tahayul dan magis masih sangat kuat, prosedur pembedahan  pasti dan informasi penting mengenai obat-obatan berhubungan dengan interaksi, jika manusia

menentang Tuhan atau iblis dapat mengakibatkan bermacam-macam respon dari tubuh.

Pada tahun 2200 sebelum masehi Kitab undang-undang Hammurabi ( code of  hammurabi) merupakan kitab hukum formal pertama dari ilmu kedokteran yang mengatur  tentang organisai medis, batasan-batasan, tugas, kewajiban dari profesi medis. Termasuk sanksi dan kompensasi dari korban malpraktek. Prinsip-prinsip medikolegal juga dapat ditemukan pada awal-awal peraturan hukum yahudi, yang membedakan antara luka yang mematikan dan luka yang tidak mematikan, dan masalah keperawanan.

Kemudian pada abad pertengahan dari evolusi penting yurisprudensi ( ilmu hukum), Hippocratesdan pengikutnya mempelajari tentang lamanya kehamilan, viabilitas bayi lahir prematur,Superfetation( kemungkinan terbentuknya lagi fetus yang kedua pada wanita yg sedang hamil yang biasa ditemukan pada hewan mamalia ), anak yang pura-pura sakit, hubungan antara luka yang fatal dengan bagian tubuh lainnya. Dan perhatian yang besar pada

(4)

ilmu mengenai racun. Yang termasuk di dalam Sumpah Hippocrates yaitu sumpah untuk tidak  menggunakan dan menyarankan penggunaan racun.

Sama seperti di mesir, praktek medis di india dibatasi hanya untuk anggota dari kasta –  kasta pilihan. Pendidikan ilmu kedokterannya juga diatur. Dokter secara formal menyimpulkan waktu kehamilan seharusnya antara 9 hingga 12 bulan. Dan ilmu yang mempelajari racun dan antidotumnya menfapatkan proritas utama.

Meskipun hanya sedikit, medikolegal juga berkembang pada masa romawi. Investigasi dilakukan karena kematian yang mencurigakan, dari Julius Caesar yang diakibatkan oleh 23 luka. 1 orang tabib yang cukup berpengalaman melaporkan bahwa hanya 1 luka fatal yang menyebabkan kematian dari 2 luka yang ada. Antara 529 dan 564, Justinian Code ( Kitab Justinian ) dijadikan undang-undang hukum untuk mengatur praktek dokter, pembedahan dan kebidanan, standar malpraktek, tanggung jawab ahli medis, dan batas jumlah dokter yang ada di setiap kota dengan jelas ditetapkan.

Sepanjang abad pertengahan medikolegal mengalami perkembangan untuk masalah yang dilatar belakangi masalah impotensi, sterilitas, kehamilan, aborsi, penyimpangan seksual, keracunan, dan perceraian. Untuk kasus pembunuhan dan luka perorangan, diserahkan pada  prosedur investigasi tingkat lanjut. Pada tahun 925 inggris mendirikanOffice of Coroner (kantor   pemeriksa mayat ). Kantor ini bertanggung jawab untuk memperkirakan sebab kematian yang

mencurigakanuntuk membantu proses penyelidikan.

Kontribusi Cina pada kedokteran forensik tidak pernah muncul ke permukaan sampai  pertengahan awal abad ke 13. Nampaknya ilmu pengetahuan medikolegal diturunkan secara diam-diam dari generasi ke generasi lainnya. Xi Juan Lu ( Pembersihan ketidak benaran )  pengaruhnya masih dikenal hingga sekarang karena isinya yang sangat komprehensif, dan merupakan acuan untuk melakukan prosedur-prosedur penanganan kematian yang tidak wajar  secara detail, dan menekankan pada langkah-langkah penting yang harus dilakukan dalam investigasi secara teliti.

Ditambah lagi, pada buku ini juga dicantumkan kesulitan-kesulitan pemeriksaan akibat  pembusukan, luka palsu, luka antemortem, luka postmortem, dan cara membedakan antara jasad

(5)

yang ditenggelamkan setelah dibunuh atau mati karena tenggelam. Pada setiap kasus wajib dilakukan pemeriksaan terhadap jasad walaupun keadaan tubuhnya sudah membusuk 

Pada akhir abad ke-15 Justinian code sudah ditinggalkan dan hanya menjadi barang  peninggalan bersejarah saja. Dan dimulailah era baru ilmu kedokteran forensik Eropa yang diambil dari dua kitab hukum Jerman. Yaitu pada tahun 1507 dari Bamberger code ( Coda  Bambergensis ) dan pada tahun 1553 dari Caroline code (Constitutio Criminalis Carolina ). Caroline code yang berdasarakan Bamberger code mengharuskan adanya kesaksian dari ahli medis pada setiap persidangan kasus pembunuhan, keracunan, luka, gantung diri, tenggelam  pembunuhan terhadap bayi, aborsi dan setiap keadaan yang disertai perlukaan pada manusia.

Dari hasil itu semua negara-negara lainnya mulai mempermasalahkan penilaian hukum yang masih dipengaruhi oleh tahayul seperti Trial by Ordeal ( salah atau tidak bersalah ditentukan dengan cara menjalankan siksaan, jika tidak terluka atau luka yang ada cepat sembuh dinyatakan tidak bersalah ). Terjadilah perubahan undang-undang, khususnya di prancis. Dan isi dari medikolegal diterbitkan di seluruh eropa. Buku yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah buku adari Ambroise Pare(1575) yang membahas masalahmonstrous birth, sakit palsu, dan metode-metode yang dipakai dalam menyiapkan laporan medikolegal. Pada tahun 1602 informasi medikolegal semakin bertambah hingga penerbit Fortunato Fidelemenerbitkannya menjadi empat buah volume. Bahkan sekitar tahun 1621 atau 1635 dokter pribadi dari Paus  paulus, Paul Zacchia berkontribusi menambahkan pembahasan mengenai kematian sewaktu  persalinan, pemalsuan penyakit, kemiripan anak dan orang tuanya, keajaiban, keperawanan,  pemerkosaan, umur,impotensi, tahayul, moles pada seri Questiones Medico Legales yang semakin bertambah. Karena keterbatasan pengetahuan mengenai anatomi dan fisiologi tubuh,  buku ini kurang akurat walaupun demikian buku ini dipakai sebagai sumber yang cukup  berpengaruh diri keputusan medikolegal yang berlaku pada saat itu.

Pada tahun 1650 Michaelismemberikan kuliah pertama mengenai hukum kedokteran di Leipzig , pengajar yang menggantikannya menyusun De Officio Medici Duplici Clinici  Mimirum ac Forensis yang diterbitkan pada tahun 1704 diikuti textbook selanjutnya Corpus

Juris Medico-Legal yang ditulis oleh valenti pada tahun 1722. German secara signifikan menstimulasi penyebaran ilmu kedokteran forensik, namun setelah terjadinya revolusi prancis

(6)

sistem pendidikan kedokteran prancis dan pengangkatan ahli medis, secara nyata memajukan  parameter bidang ini.

 Namun harus diingat juga bahwa witch mania yang berasal dari tahun 1484 yang dimulai oleh papal edict masih dianut secara luas sepanjang abad 18. Dengan persetujuan dari komunitas medikolegal, ribuan orang yang dianggap sebagai penyihir dipancung dan dibakar  hidup-hidup. Walaupun hukum ini telah dihapuskan oleh inggris pada tahun 1736, mereka yang dicurigai sebagai penyihir dihakimi dan dibunuh oleh massa hingga akhir tahun 1760. Dan perlu diketahui juga bahwa prancis juga pernah mengadakan pengadilan untuk penyihir pada tahun 18181, dan dijelaskan dengan sangat akurat padaChaille.

 Namun di inggris hukum kedokteran terus mengalami kemajuan yang menghasilkan dasar-dasar dari informasi secara mendalam yang kita pakai hingga sekarang ini. Di inggris pada tahun 1788 diterbitkan buku medikolegal pertama yang cukup dikenal. Sepanjang tahun itu  Profesor Andrew Duncandari Edinburg memberikan instruksi yang sistematis mengenai hukum

kedokteran pada setiap universitas yang berbahasa inggris. Sebagai tanda penghargaan dari kerajaan diberikan Regius Chair yang pertama kali pada ilmu kedokteran forensik yang didirikan  pada tahun 1807. Delapan tahun kemudian undang-undang pemeriksaan mayat menjelaskan tugas-tugas dan dasar hukum dari pemeriksa mayat ( Coroner  ) terus berkembang, yang termasuk kewajibannya adalah :

1. Menginvestigasi pada setiap kasus kematian mendadak,kematian akibat kekerasan, dan kematian yang yidak wajar.

2. Menginvestigasi kematian yang terjadi pada tahanan.

Dan juga ditetapkan adanya kualifikasi minimum yang harus dipunyai untuk menjadi pemeriksa mayat dan secara sangat hati-hati hal ini diuraikan pada hukum kedokteran dalam masalah kriminal. Tidak sampai tahun 1953 perundang-undangan sipil pemeriksa mayat telah dijelaskan.

koloni Amerika awal, membawa sistem pemeriksa jenazah secara utuh ke Amerika. Di amerika  profesi ini diangkat atas dasar politik. Dan hampir semuanya kurang mendapat pelatihan medis, menyebabkan penentuan sebab kematian hanya berdasarkan opini personal. Pada tahun 1877 masalah ini memicu Massachuset untuk mengganti semua pemeriksa jenazah. Dan dengan cepat

(7)

diikuti oleh New york yang mendirikan pelatihan untuk melatih profesi ini agar menghasilkan  pemeriksa jenazah yang ahli dan berkualitas sehingga dapat memecahkan misteri dibalik 

kematian akibat kekerasan yang semakin bertambah dari tahun ke tahun sejalan dengan meningkatnya populasi manusia. Pemeriksa jenazah diberikan kekuasaan untuk memberikan  perintah otopsi.

Selama akhir pertengahan abad ke dua puluh, ilmu kedokteran forensik semakin mengalami peningkatan. Dengan adanya perbaikan di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan yang menyediakan bahan baru dan dasar kerja untuk perkembangan yurisprudensi. Program  pengajaran medikolegal sekarang sudah terdapat pada banyak universitas, sekolah kedokteran

dan sekolah hukum.

2.2. Ruang Lingkup Kedokteran Forensik 5, 6

Ilmu-ilmu yang menunjang ilmu forensik adalah ilmu kedokteran, farmasi, kimia, biologi,fisika, dan psikologi. Sedangkan kriminalistik merupakan cabang dari ilmu forensik. Cabang-cabang ilmu forensik lainnya adalah: kedokteran forensik, toksikologi forensik, odontologi forensik,  psikiatri forensik, entomologi forensik, antrofologi forensik, balistik forensik, fotografi forensik,

dan serologi / biologi molekuler forensik. Biologi molekuler forensik lebih dikenal dengan ”DNA-forensic”.

1. Kriminalistik merupakan penerapan atau pemanfaatan ilmu-ilmu alam pada  pengenalan, pengumpulan / pengambilan, identifikasi, individualisasi, dan evaluasi dari  bukti fisik, dengan menggunakan metode / teknik ilmu alam di dalam atau untuk 

kepentingan hukum atau peradilan (Sampurna 2000). Pakar kriminalistik adalah tentunya seorang ilmuwan forensik yang bertanggung jawab terhadap pengujian (analisis) berbagai jenis bukti fisik, dia melakukan indentifikasi kuantifikasi dan dokumentasi dari bukti-bukti fisik. Dari hasil analisisnya kemudian dievaluasi, diinterpretasi dan dibuat sebagai laporan (keterangan ahli) dalam atau untuk  kepentingan hukum atau peradilan (Eckert 1980). Sebelum melakukan tugasnya, seorang kriminalistik harus mendapatkan pelatihan atau pendidikan dalam penyidikan tempat kejadian perkara yang dibekali dengan kemampuan dalam pengenalan dan

(8)

 pengumpulan bukti-bukti fisik secara cepat. Di dalam perkara pidana, kriminalistik  sebagaimana dengan ilmu forensik lainnya, juga berkontribusi dalam upaya pembuktian melalui prinsip dan cara ilmiah. Kriminalistik memiliki berbagai spesilisasi, seperti analisis (pengujian) senjata api dan bahan peledak, pengujian perkakas (”toolmark  examination”), pemeriksaan dokumen, pemeriksaan biologis (termasuk analisis serologi atau DNA), analisis fisika, analisis kimia, analisis tanah, pemeriksaan sidik jari laten, analisis suara, analisis bukti impresi dan identifikasi.

2. Kedokteran Forensik adalah penerapan atau pemanfaatan ilmu kedokteran untuk  kepentingan penegakan hukum dan pengadilan. Kedokteran forensik mempelajari hal ikhwal manusia atau organ manusia dengan kaitannya peristiwa kejahatan. Di Inggris kedokteran forensik pertama kali dikenal dengan ”Coroner”. Seorang coroner adalah seorang dokter yang bertugas melalukan pemeriksaan jenasah, melakukan otopsi mediko legal apabila diperlukan, melakukan penyidikan dan penelitian semua kematian yang terjadi karena kekerasan, kemudian melalukan penyidikan untuk menentukan sifat kematian tersebut. Di Amerika Serikan juga dikenal dengan ”medical examinar”. Sistem ini tidak berbeda jauh dengan sistem coroner di Inggris.

Dalam perkembangannya bidang kedokteran forensik tidak hanya berhadapan dengan mayat (atau bedah mayat), tetapi juga berhubungan dengan orang hidup. Dalam hal ini  peran kedokteran forensik meliputi:

− melakukan otopsi medikolegal dalam pemeriksaan menyenai sebab-sebab kematian, apakah mati wajar atau tidak wajar, penyidikan ini juga bertujuan untuk  mencari peristiwa apa sebenarnya yang telah terjadi.

− identifikasi mayat,

− meneliti waktu kapan kematian itu berlansung ”time of death”

−  penyidikan pada tidak kekerasan seperti kekerasan seksual, kekerasan terhadap anak dibawah umur, kekerasan dalam rumah tangga,

−  pelayanan penelusuran keturunan,

− Di negara maju kedokteran forensik juga menspesialisasikan dirinya pada bidang kecelakaan lalu lintas akibat pengaruh obat-obatan ”driving under drugs influence”. Bidang ini di Jerman dikenal dengan ”Verkehrsmedizin”

(9)

Dalam prakteknya kedokteran forensik tidak dapat dipisahkan dengan bidang ilmu yang lainnya seperti toksikologi forensik, serologi / biologi molekuler forensik, odontologi forensik dan juga dengan bidang ilmu lainnya

3. Toksikologi Forensik, Toksikologi adalah ilmu yang menelaah tentang kerja dan efek   berbahaya zat kimia (racun) terhadap mekanisme biologi. Racun adalah senyawa yang  berpotensial memberikan efek berbahaya terhadap organisme. Sifat racun dari suatu senyawa ditentukan oleh: dosis, konsentrasi racun di reseptor, sifat zat tersebut, kondisi  bioorganisme atau sistem bioorganisme, paparan terhadap organisme dan bentuk efek 

yang ditimbulkan. Lebih khusus, toksikologi mempelajari sifat fisiko kimia dari racun, efek psikologi yang ditimbulkannya pada organisme, metode analisis racun baik  kualitativ maupun kuantitativ dari materi biologik atau non biologik, serta mempelajari tindakan-tidankan pencegahan bahaya keracunan.

LOOMIS (1978) berdasarkan aplikasinya toksikologi dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yakni: toksikologi lingkungan, toksikologi ekonomi dan toksikologi forensik. Tosikologi forensik menekunkan diri pada aplikasi atau pemanfaatan ilmu toksikologi untuk kepentingan peradilan. Kerja utama dari toksikologi forensik adalah analisis racun baik kualitatif maupun kuantitatif sebagai bukti dalam tindak criminal (forensik) di pengadilan.

Toksikologi forensik mencangkup terapan ilmu alam dalam analisis racun sebagi bukti dalam tindak kriminal. Toksikologi forensik merupakan gabungan antara kimia analisis dan prinsip dasar toksikologi. Bidang kerja toksikologi forensik meliputi:

 analisis dan mengevaluasi racun penyebab kematian,

 analisis ada/tidaknya alkohol, obat terlarang di dalam cairan tubuh atau napas, yang dapat mengakibatkan perubahan prilaku (menurunnya kemampuan mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya, tindak kekerasan dan kejahatan, penggunaan dooping),

 analisis obat terlarang di darah dan urin pada kasus penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang lainnya.

(10)

4. Odontologi Forensik, bidang ilmu ini berkembang berdasarkan pada kenyataannya  bahwa: gigi, perbaikan gigi (dental restoration), dental protese (penggantian gigi yang

rusak), struktur rongga rahang atas “sinus maxillaris”, rahang, struktur tulang palatal (langit-langit keras di atas lidah), pola dari tulang trabekula, pola penumpukan krak gigi, tengkuk, keriput pada bibir, bentuk anatomi dari keseluruhan mulut dan penampilan morfologi muka adalah stabil atau konstan pada setiap individu. Berdasarkan kharkteristik dari hal tersebut diatas dapat dijadikan sebagai acuan dalam penelusuran identitas seseorang (mayat tak dikenal). Sehingga bukit peta gigi dari korban, tanda /  bekas gigitan, atau sidik bibir dapat dijadikan sebagai bukti dalam penyidikan tindak 

kejahatan.

5. Psikiatri forensik, seorang spikiater berperan sangat besar dalam bebagai pemecahan masalah tindak kriminal. Psikogram dapat digunakan untuk mendiagnose prilaku, kepribadian, dan masalah psikis sehingga dapat memberi gambaran sikap (profile) dari  pelaku dan dapat menjadi petunjuk bagi penyidik. Pada kasus pembunuhan mungkin  juga diperlukan otopsi spikologi yang dilakukan oleh spikiater, spikolog, dan pathology forensik, dengan tujuan penelaahan ulang tingkah laku, kejadian seseorang sebelum melakukan tindak kriminal atau sebelum melakukan bunuh diri. Masalah spikologi (jiwa) dapat memberi berpengaruh atau dorongan bagi seseorang untuk melakukan tindak kejahatan, atau perbuatan bunuh diri.

6. Entomologi forensik, Entomologi adalah ilmu tentang serangga. Ilmu ini memperlajari  jenis-jenis serangga yang hidup dalam fase waktu tertentu pada suatu jenasah di tempat

terbuka. Berdasarkan jenis-jenis serangga yang ada sekitar mayat tersebut, seorang entomolog forensik dapat menduga sejak kapan mayat tersebut telah berada di tempat kejadian perkara (TKP).

7. Antrofologi forensik, adalah ahli dalam meng-identifikasi sisa-sisa tulang, tengkorak, dan mumi. Dari penyidikannya dapat memberikan informasi tentang jenis kelamin, ras,  perkiraan umur, dan waktu kematian. Antrofologi forensik mungkin juga dapat mendukung dalam penyidikan kasus orang hidup, seperti indentifiksi bentuk tengkorak   bayi pada kasus tertukarnya anak di rumah bersalin.

8. Balistik forensik, bidang ilmu ini sangat berperan dalam melakukan penyidikan kasus tindak kriminal dengan senjata api dan bahan peledak. Seorang balistik forensic meneliti

(11)

senjata apa yang telah digunakan dalam kejahatan tersebut, berapa jarak dan dari arah mana penembakan tersebut dilakukan, meneliti apakah senjata yang telah digunakan dalam tindak kejahatan masih dapat beroperasi dengan baik, dan meneliti senjata mana yang telah digunakan dalam tindak kriminal tersebut. Pengujian anak peluru yang ditemukan di TKP dapat digunakan untuk merunut lebih spesifik jenis senjata api yang telah digunakan dalam kejahatan tersebut.

Pada bidang ini memerlukan peralatan khusus termasuk miskroskop yang digunakan untuk membandingkan dua anak peluru dari tubuh korban dan dari senjata api yang diduga digunakan dalam kejahatan tersebut, untuk mengidentifikasi apakah memang senjata tersebut memang benar telah digunakan dalam kejahatan tersebut. Dalam hal ini diperlukan juga mengidentifikasi jenis selongsong peluru yang tertinggal.

Dalam penyidikan ini analisis kimia dan fisika diperlukan untuk menyidikan dari senjata api tersebut, barang bukti yang tertinggal. Misal analisis ditribusi logam-logam seperti Antimon (Sb) atau timbal (Pb) pada tangan pelaku atau terduga, untuk mencari pelaku dari tindak kriminal tersebut. Atau analisis ditribusi asap (jelaga) pada pakaian, untuk  mengidentifikasi jarak tembak.

Kerjasama bidang ini dengan kedokteran forensik sangat sering dilakukan, guna menganalisis efek luka yang ditimbulkan pada korban dalam merekonstruksi suatu tindak kriminal dengan senjata api.

9. Serologi dan Biologi molekuler forensik, Seiring dengan pesatnya perkembangan  bidang ilmu biologi molekuler (imunologi dan genetik) belakangan ini, pemanfaatan  bidang ilmu ini dalam proses peradilan meningkat dengan sangat pesat. Baik darah maupun cairan tubuh lainnya paling sering digunakan / diterima sebagai bukti fisik  dalam tindak kejahatan. Seperti pada kasus keracunan, dalam pembuktian dugaan tersebut, seorang dokter kehakiman bekerjasama dengan toksikolog forensic untuk  melakukan penyidikan. Dalam hal ini barang bukti yang paling sahih adalah darah dan/atau cairan tubuh lainnya. Toksikolog forensik akan melakukan analisis toksikologi terhadap sampel biologi tersebut, mencari senyawa racun yang diduga terlibat.

(12)

Berdasarkan temuan dari dokter kehakiman selama otopsi jenasah dan hasil analisisnya, toksikolog forensik akan menginterpretasikan hasil temuannya dan membuat kesimpulan keterlibatan racun dalam tindak kejahatan yang dituduhkan.

Sejak awal perkembanganya pemanfaatan serologi / biologi molekuler dalam bidang forensik lebih banyak untuk keperluan identifikasi personal (perunutan identitas individu) baik pelaku atau korban. Sistem penggolongan darah (sistem ABO) pertama kali dikembangkan untuk keperluan penyidikan (merunut asal dan sumber bercak darah  pada tempat kejadian). Belakangan dengan pesatnya perkembangan ilmu genetika

(analisi DNA) telah membuktikan, bahwa setiap individu memiliki kekhasan sidik  DNA, sehingga kedepan sidik DNA dapat digunakan untuk menggantikan peran sidik   jari, pada kasus dimana sidik jari sudah tidak mungkin bisa diperoleh. Dilain hal, analisa DNA sangat diperlukan pada penyidikan kasus pembunuhan mutilasi (mayat terpotongpotong), penelusuran paternitas (bapak biologis).

Analisa serologi/biologi molekuler dalam bidang forensik bertujuan untuk:

− Uji darah untuk menentukan sumbernya (darah manusia atau hewan, atau warna dari getah tumbuhan, darah pelaku atau korban, atau orang yang tidak terlibat dalam tindak kejahatan tersebut)

− Uji cairan tubuh lainnya (seperti: air liur, semen vagina atau sperma, rambut,  potongan kulit) untuk menentukan sumbernya (“origin”).

− Uji imonologi atau DNA individu untuk mencari identitas seseorang.

10. Farmasi Forensik, Bidang farmasi berada dalam lingkup dunia kesehatan yang  berkaitan erat dengan produk dan pelayanan produk untuk kesehatan. Farmasi adalah seni dan ilmu meracik dan menyediaan obat-obatan, serta penyedian informasi yang  berhubungan dengan obat kepada masyarakat. Seperti disebutkan sebelumnya, forensik 

dapat dimengerti dengan penerapan/aplikasi itu pada issu-issu legal, (berkaitan dengan hukum). Penggabungan kedua pengertian tersebut, maka Forensik Farmasi dapat diartikan sebagai penerapan ilmu farmasi pada issu-issu legal (hukum) (Anderson, 2000). Farmasis forensik adalah seorang farmasis yang profesinya berhubungan dengan  proses peradilan, proses regulasi, atau pada lembaga penegakan hukum (criminal justice

(13)

system) (Anderson, 2000). Domain dari forensik farmasi adalah meliputi, farmasi klinik, aspek asministrativ dari farmasi, dan ilmu farmaseutika dasar.

Seorang forensik farmasis adalah mereka yang memiliki spesialisasi berkaitan dengan  pengetahuian praktek kefarmasian. Keahlian praktis yang dimaksud adalah farmakologi klinik, menegemen pengobatan, reaksi efek samping (reaksi berbahaya) dari obat, review/evaluasi (assessment) terhadap pasien, patient counseling, patient monitoring, sistem distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan, dan lain-lainnya.

Seorang forensik farmasis harus sangat terlatih dan berpengalaman dalam mereview dan menganalisa bukti-bukti dokumen kesehatan (seperti rekaman/catatan medis) kasus-kasus tersebut, serta menuangkan hasil analisanya sebagai suatu penjelasan terhadap efek samping pengobatan, kesalahan pengobatan atau kasus lain yang dikeluhkan (diperkarakan) oleh pasien, atau pihak lainya.

11. Bidang ilmu Forensik lainnya, selain bidang-bidang di atas masih banyak lagi bidang ilmu forensik Pada prinsipnya setiap bidang ranah keilmuan mempunyai aplikasi pada  bidang dirensik, seperti bidang yang sangat trend sekarang ini yaitu kejahatan web, yang dikenal syber crime, merupakan kajian bidang kumperter sain, jaringan, IT, dan bidang lainnya seperti akuntan forensik.

2.3. Dasar Hukum Kedokteran Forensik.7

KEWAJIBAN DOKTER MEMBANTU PERADILAN Pasal 133 KUHAP

1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik  luka,keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak   pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran

kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.

2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secaratertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

(14)

3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakitharus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dandiberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap jabatan yang dilekatkan padaibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

Pasal 179 KUHAP

1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikanketerangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akanmemberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenanr-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.

Bentuk bantuan dokter bagi peradilan dan manfaatnya.

Pasal 183 KUHAP

Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannnya.

Pasal 184 KUHAP

1) Alat bukti yang sah adalah: - Keterangan saksi - Keterangan ahli - Surat

- Pertunjuk 

- Keterangan terdakwa2)

(15)

Pasal 186 KUHAP

Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Pasal 180 KUHAP

1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang pengadilan,Hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.

2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum terhadaphasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).Hakim memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.

3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulangsebagaimana tersebut pada ayat (2).

Sanksi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter

Pasal 216 KUHP

1) Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukanmenurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut ataumemeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancamdengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.

2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan  jabatanumum.

3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya  pemidanaanyang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidanya

(16)

Pasal 222 KUHP

Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan  pemeriksaanmayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan  bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Pasal 224 KUHP

Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undang-undang ia harus melakukannnya:

1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan. 2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan .

Pasal 522 KUHP

Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau jurubahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.

(17)

BAB III PENUTUP

I. KESIMPULAN

Ilmu Forensik dikatagorikan ke dalam ilmu pengetahuan alam dan dibangun  berdasarkan metode ilmu alam. Dalam padangan ilmu alam sesuatu sesuatu dianggap

ilmiah hanya dan hanya jika didasarkan pada fakta atau pengalaman (empirisme), kebenaran ilmiah harus dapat dibuktikan oleh setiap orang melalui indranya (positivesme), analisis dan hasilnya mampu dituangkan secara masuk akal, baik  deduktif maupun induktif dalam struktur bahasa tertentu yang mempunyai makna (logika) dan hasilnya dapat dikomunikasikan ke masyarakat luas dengan tidak mudah atau tanpa tergoyahkan (kritik ilmu) (Purwadianto 2000).

Dewasa ini dalam penyidikan suatu tindak kriminal merupakan suatu keharusan menerapkan pembuktian dan pemeriksaan bukti fisik secara ilmiah. Sehingga diharapkan tujuan dari hukum acara pidana, yang menjadi landasan proses  peradilan pidana, dapat tercapai yaitu mencari kebenaran materiil. Tujuan ini tertuang

dalam Keputusan Menteri Kehakiman No.M.01.PW.07.03 tahun 1983 yaitu: untuk  mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebanaran materiil, ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari sutau perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujur dan tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat dipersalahkan.

Adanya pembuktian ilmiah diharapkan polisi, jaksa, dan hakim tidaklah mengandalkan pengakuan dari tersangka atau saksi hidup dalam penyidikan dan menyelesaikan suatu perkara. Karena saksi hidup dapat berbohong atau disuruh  berbohong, maka dengan hanya berdasarkan keterangan saksi dimaksud, tidak dapat

(18)

dijamin tercapainya tujuan penegakan kebenaran dalam proses perkara pidana dimaksud.

Dalam pembuktian dan pemeriksaan secara ilmiah, kita mengenal istilah ilmu

forensik dan kriminologi. Secara umum ilmu forensik dapat diartikan sebagai aplikasi

atau pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk kepentingan penegakan hukum dan keadilan

Ilmu kedokteran forensik adalah salah satu cabang spesialistik ilmu kedokteran yang memanfaatkan ilmu kedokteran untuk membantu penegakan hukum dan

 pemecahan masalah – masalah di bidang hukum. Memang pada mulanya ilmu

kedokteran forensik hanya diperuntukan bagi kepentingan peradilan, namun dalam

 perkembangannya juga dimanfaatkan dibidang – bidang yang bukan untuk peradilan.

Ruang lingkup kedokteran forensik berkembang dari waktu ke waktu. Dari semula hanya pada kematian korban kejahatan, kematian tak diharapkan/ tak diduga, mayat tak dikenal, hingga para korban kejahatan yang masih hidup, atau bahkan kerangka, jaringan, dan bahan biologis yang diduga berasal dari manusia. Jenis  perkaranya pum meluas dari pembunuhan, penganiayaan, kejahatan seksual, kekerasan

dalam rumah tangga,child abuse and neglect,perselisihan pada perceraian, anak yang

mencari ayah ( paternity testing ), hingga ke pelangggaran hak asasi manusia. Apabila

Ilmu Kedokteran Forensik yang digunakan utuk menangani korban mati disebut sebagai patologi forensik, maka yang menangani korban hidup ataupun tersangka

 pelaku disebut sebagai kedokteran forensik klinik (clinical forensic medicine, atau di

 beberapa negara disebut police surgeon).

Korban tindak pidana dapat juga berupa korban luka – luka, korban keracunan,

atau korban kejahatan seksual. Dalam penanganan medis korban – korban tersebut

mungkin saja akan melibatkan berbagai dokter dengan keahlian klinis lain, seperti dokter bedah, dokter kebidanan, dokter penyakit dalam, dokter anak, dokter saraf, dan lain – lain.

(19)

DAFTAR PUSTAKA

1. Prof. dr. Amri Amir Sp.F, DFM, SH. Sejarah dan Perkembangan Ilmu Kedokteran Forensik. Dalam: Prof. dr. Amri Amir Sp.F, DFM, SH. Ilmu Kedokteran Forensik. Medan: Percetakan RAMADHAN; 2005: 1-15.

2. Ward, Jennifer. Origins and development of forensic medicine and forensic science in England, 1823-1946. PhD thesis, The Open University; 1993.

3. Burg, Thomas N., Forensic Medicine in the Nineteenth Century Habsburg Monarchy. Working Paper 96-2. Universitat Krems, Austria; June 1996.

4. Wecht C.H., The History of Legal Medicine. J Am Acad Psychiatry Law 33:245 – 51, 2005.

5. Sir Smith S., The History and Development of Forensic Medicine. University of  Endinburg. British Medical Journal. March 1951. P; 4704-607.

6. Prof. dr. Amri Amir Sp.F, DFM, SH. Pengertian dan Ruang Lingkup Ilmu Kedokteran Forensik. Dalam: Prof. dr. Amri Amir Sp.F, DFM, SH. Ilmu Kedokteran Forensik. Medan: Percetakan RAMADHAN; 2005: 16-25.

7. Prof. dr. Amri Amir Sp.F, DFM, SH. Ketentuan Hukum Dalam Ilmu Kedokteran Forensik. Dalam: Prof. dr. Amri Amir Sp.F, DFM, SH. Ilmu Kedokteran Forensik. Medan: Percetakan RAMADHAN; 2005: 26-44.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :