Laporan Rencana Reklamasi.docx

17 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Laporan Rencana Reklamasi PT, Mandiri Agung Jaya Utama

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Status Perijinan 1.1.1Identitas Perusahaan

Nama Perusahaan : PT. Mandiri Agung Jaya Utama

Alamat Perusahaan : Jalan Simponi 5, Bandung, Jawa Barat Telp/ Fax. (022) 7304547

Penanggung Jawab : H. M. Toyib Saman, S. H Jabatan : Direktur Utama Lokasi Kegiatan : Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan

Bidang Usaha : Pertambangan Batu Besi 1.1.2 Status Perijinan

PT. Mandiri Agung Jaya Utama sebagai salah satu perusahaan penananam modal dalam negeri yang melakukan usaha dibidang pertambangan saat telah melakukan eksplorasi detail dan sedang menyusun studi kelayakan penambangan pada areal Kuasa Pertambangan Eksplorasi (KP) seluas 3.266 Hektar di

Kecamatan Ulu Rawas Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan ini didasarkan pada Surat Keputusan Bupati Musi Rawas No. 545/2/DPE/2005 tentang Pemberian Kuasa Pertambangan Eksplorasi Bahan Galian Batu Besi Kepada PT. Mandiri Agung Jaya Utama (KW.05 NPP 021) tanggal 1 Nopember 2005.

Berdasarkan hasil eksplorasi yang telah dilakukan, PT. Mandiri Agung Jaya Utama juga memperoleh peningkatan status perizinan menjadi Kuasa

(2)

Keputusan Bupati Musi Rawas Nomor 545/22/DPE/2005 tanggal 27 Desember 2005 tentang Pemberian Kuasa Pertambangan Eksploitasi Bahan Galian Batu Besi Kepada PT. Mandiri Agung Jaya Utama (KW.05 DSP 022). Menindaklanjuti Undang-Undang Nomor 04 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Laporan Rencana Reklamasi PT. Mandiri Agung Jaya Utama Batubara, selanjutnya saat ini PT. Mandiri Agung Jaya Utama sedang mengajukan permohonan penyesuaian status Kuasa Pertambangan Eksploitasi menjadi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi.

1.2 Luas wilayah Kuasa Pertambangan

Sesuai dengan Surat Keputusan Bupati Musi Rawas tentang pemberian Kuasa Pertambangan (KP) Eksploitasi Nomor 545/22/DPE/2005. PT. Mandiri Agung Jaya Utama memiliki luas wilayah Kuasa Pertambangan 1.343 Ha. 1.2.1. 1.2.1 Rencana kegiatan di dalam KP Eksploitasi

Kegiatan penambangan yang berada di dalam KP Eksploitasi PT. Mandiri Agung Jaya Utama adalah sebagai berikut :

a. Bukaan tambang Direncanakan PT. Mandiri Agung Jaya Utama akan membuat bukaan tambang sebanyak 4 pit yaitu ;

- Pit-1 (luas area 8,20 ha),

- Pit-2 (sebelah Barat pit 1, dengan luas area sebesar 5,50 ha), - Pit-3 (sebelah Barat pit 2, dengan luas area sebesar 5,70 ha), - Pit-4 (sebelah Barat pit 3, dengan luas area sebesar 9,10 ha),

(3)

Berdasarkan hasil perhitungan jumlah cadangan, dari cadangan terukur sebesar 3.294.835 ton dengan faktor "/ oosening"sebesar 8,9 °/ o, maka jumlah cadangan terjual sebesar 3.000.000 ton. Dengan nilai stripping ratio sebesar 1 : 0,04, maka total jumlah overburden sebesar 142.500 BCM.

b. Disposal area Disposal area di luar pit adalah seluas 4,8 hektar dan terdapat di dalam wilayah konsesi PT. Mandiri Agung Jaya Utama. c. Settling pond Terdapat 6 settling pond yang berada di dalam wilayah

konsesi PT. Mandiri Agung Jaya Utama, yang masing-masing berukuran 20 m x 60 m x 4 m atau seluas 7200 m2 atau 0.72 Ha.

d. Kolam sedimen dan sarana kendali erosi Terdapat 2 settling pond yang berada di luar wilayah konsesi Agung Jaya Utama, yang masing-masing berukuran atau PT. Mandiri 20 m x 60 m x 4 m seluas 7200 m2 atau 0.72 Ha. e. Fasilitas penunjang lainnya Pengadaan fasilitas penunjang sangat perlu untuk mendukung kegiatan utama pena mbangan sehingga dapat berjalan sesuai dengan yang di rencanakan. Lokasi fasilitas penunjang ini dikonsentrasikan pada daerah tertentu agar memudahkan dalam

pengaturan dan pengawasannya, yang biasanya dekat dengan daerah penambangan. Adapun fasilitas yang akan dibangun adalah :

 Bangunan kantor administrasi tambang (perkantoran)

Luas bangunan kantor yang direncanakan dibangun 14.0 m x 10.8 m atau sekitar 0.015 ha.

 Bangunan tempat ibadah

Luas bangunan untuk tempat ibadah (mushola) adalah sebesar 0.0064 ha dengan ukuran 8 m x 8 m.

(4)

 Bangunan tempat makan (kantin)

Lokasinya terletak disekitar bangunan perkantoran dengan ukuran 8 m x 8.8 m, luas area sekitar 0.0070 hektar.

 Pos Keamanan

Bangunan pos keamanan dibangun dengan ukuran 3 m x 3 m, dengan luas area sekitar 0.0009 hektar.

 Stasiun bahan bakar

Stasiun BBM berupa tangki, yang dibangun pada lahan seluas 6 m x 6 m dengan luas area sekitar 0.0036 hektar.

 Wash pat untuk mencuci dump truck seluas 5 m x 9 m, luas area sekitar 0.0045 hektar.

 Senior staff building dengan ukuran 14 m x 8.8 m, dan luas area sekitar 0.0123  Staff building seluas 12 m x 8.8 m sekitar 0.0106 hektar Rec hall seluas

0.0078 hektar

 Water tank seluas 3.5 m x 5.5 m seluas 0.0019 hektar  Subtytank seluas 5 m x 3 m sekitar 0.0015 hektar  Genset room seluas 8m x 6.2 m sekitar 0.0050 hektar

 Workshop Light Vehicle 10.1 m x 10.0 m sekitar 0.0101 hektar

 Parking area seluas 15 m x 7.7 m sekitar 0.016 hektar Fuel trap seluas 2.0 m x 1.0 m sekitar 0.0002 hektar

(5)

 Stock pile seluas 200m x 150 m sekitar 3,0 hektar

 Settling Pond seluas 20 m x 60 m dengan kedalaman 4 meter, seluas 0.72 hektar

 Nursery untuk pembibitan seluas 50m x 100m sekitar 0, 5 hektar  Stasiun pembangkit listrik

Total luasan lahan untuk pembangkit listrik sekitar 12 m2.  Fasilitas air bersih

Sumber air bersih berasal dari sungai yang diolah di water treatment yang berukuran 10 m x 10 m dengan kapasitas 150 m3 sampai memenuhi air baku yang layak digunakan.

 Bengkel dan gudang

Bengkel dan fasilitasnya antara lain gudang (ware house), garasi, tempat cuci kendaraan dan lain-lain dibangun di areal 500 m2. Gudang dibangun

berdekatan dengan bengkel yang dibangun dengan ukuran 5 m x 8 m (seluas 40 m2).

1.2.2. Rencana kegiatan Di Luar KP Eksploitasi

Kegiatan pertambangan yang berada di luar KP Eksploitasi PT. Mandiri Agung Jaya Utama antara lain adalah angkut batu besi menghubungkan lokasi tambang (ROM Stockpile) dengan Jalan Lintas Sumatera (Sale Stockpile) lebar 20 meter sepanjang 28,20 kilometer, maka luas lahan terganggu untuk jalan angkut batu besi ini adalah sekitar 56,4 Ha.

(6)

1.3 Persetujuan AMDAL

PT. Mandiri Agung Jaya Utama telah melakukan Studi AMDAL yang telah disepakati oleh Tim Teknis dan Komisi AMDAL Kabupaten Musi Rawas serta telah disetujui oleh Bupati Musi Rawas berdasarkan Surat Keputuan Nomor 19/KPTS/ BLHD/2008 tanggal 22 Desember 2008.

1.4 Lokasi dan Kesampaian

Daerah Survey batas untuk menentukan titik KP Eksplorasi dan KP Eksploitasi telah dilakukan dengan menggunakan GPS (Global Position Satelite) merek Garmin 60 CSx dan Trumble dengan ketelitian yang baik dimana penyimpangannya berkisar sekitar 5 cm saja. Koordinat masing-masing lokasi KP Eksplorasi dan KP Eksploitasi disajikan pada Tabel 1.1 dan Tabel 1.2.

Areal KP Eksplorasi PT. Mandiri Agung Jaya Utama dapat dicapai dari beberapa kota besar di tiga propinsi yaitu Palembang, Bengkulu serta Jambi. Palembang yang merupakan ibukota Propinsi Sumatera Selatan, dapat dijangkau dari Jakarta dengan penerbangan komersial selama kurang lebih 1 jam. Dari

(7)

Palembang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat dengan mobil selama kurang lebih 6 jam menuju kota kecil Surulangun di Kabupaten Musi Rawas dengan melewati jalan beraspal yang cukup baik. Dari Surulangun kemudian dilanjutkan kearah baratdaya melewati jalan kabupaten dengan kondisi

pengerasan pasir dan batu selama kurang lebih satu jam, menempuh sekitar 25 km melewati Desa Pangkalan dan Lubuk Mas dan berhenti di Desa Jangkat atau Desa Pulau Kidak yang terletak di pinggir Sungai Rawas. Untuk sampai ke areal KP, dari Desa Jangkat atau Desa Pulau Kidak perjalanan dilanjutkan dengan

menggunakan sepeda motor atau berjalan kaki menuju ke arah arah utara menempuh jarak sekitar 1 sampai 5 kilometer. Peta lokasi areal KP PT. Mandiri Agung Jaya Utama disajikan pada Gambar 1.1.

Peta lokasi areal KP PT. Mandiri Agung Jaya Utama Gambar 1.1. 1.5 Tata Guna Lahan Sebelum Ditambang dan Sesudah di Tambang 1.5.1 Tata Guna Lahan Sebelum Ditambang

(8)

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Dan Perkebunan No. KEP- 76/KPTS-II/2001 tentang Penunjukkan Kawasan Hutan dan Perairan Dalam Wilayah Provinsi Sumatera Selatan serta Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Selatan Nomor No. 14 tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Selatan, bahwa status dan fungsi areal Kuasa Pertambangan Eksploitasi PT. Mandiri Agung Jaya Utama seluas 1.343 hektar tersebut terdiri dari :

a. Seluas ± 1.120 hektar merupakan kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Rawas Utara dan telah dibebani izin IUPHHK-HT atas nama PT. Persada Karya Kahuripan.

b. Seluas ± 223 hektar merupakan Areal Penggunaan Lain.

Untuk rencana jalan angkut tambang sepanjang 28,20 kilometer, sekitar 7,55 kilometer atau seluas ± 15,10 hektar dari rencana rute jalan tersebut termasuk kawasan Hutan Produksi Tetap (HP) sedangkan sisanya yaitu sepanjang 20,65 kilometer (41,30 hektar) merupakan Areal Penggunaan Lain.

(9)

Saat ini sebagian lahan tersebut telah dimanfaatkan penduduk untuk pemukiman, perkebunan karet, kebun buahan-buahan, budidaya tanaman semusim dan berbagai kebun campuran lainnya sedangkan sebagian lagi masih berupa hutan sekunder dan semak belukar.

(10)

Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa areal kegiatan memiliki fisiografi dataran-perbukitan dengan kelerengan 0-60 °/ o dan ketinggian berkisar antara 100 - 500 meter diatas permukaan laut. Di wilayah studi dijumpai areal perbukitan.

Peta kemiringan lereng wilayah studi disajikan pada Gambar 1.4 . Berdasarkan pengamatan dan pengukuran pada kenampakan morfologi,

ketinggian dan analisa proses eksogenik dilapangan serta control batuannya, maka wilayah studi secara umum dapat dibagi dalam 3 (tiga) satuan geomorfologi, yaitu satuan geomorfologi perbukitan (sudut lereng 30° - > 60°, satuan geomorfologi dataran tinggi (50 m - 100m) dengan sudut lereng 10°- < 30°, satuan

geomorfologi dataran rendah (ketinggian < 50 m) atau dengan sudut lereng 0° - < 10° dan satuan geomorfologi dataran.

1) Satuan geomorfologi perbukitan (D1)

Satuan geomorfologi menempati hampir 40 °/ o dari wilayah studi pada umumnya terdiri dari batuan beku lava maupun intrusi, batupasir dan struktur lipatan. Ketinggian satuan ini antara 300 m ~ 600 m diatas permukaan laut dengan sudut lereng 30° - > 60°. Satuan geomorfologi ini tersusun oleh batuan yang keras dan homogen yaitu andesit.

(11)

Satuan geomorfologi ini menempati 30 °/ o dari wilayah studi dan pada umumnya terdiri dari batuan sedimen batupasir selangseling batulempung sisipan batupasir dan lapisan tanah liat serta control struktur sayap sinklin dan antiklin. Ketinggian satuan ini antara 100m - 300 meter diatas

permukaan laut dengan sudut lereng 10° - < 30°. Satuan geomorfologi ini tersusun oleh batuan yang relatif keras dan homogen yaitu batupasir dan batu lempung.

Peta kemiringan lereng wilayah studi disajikan pada Gambar 2.3. 3) Satuan geomorfologi dataran (D3)

Satuan geomorfologi ini menempati 30 °/ o dari wilayah studi dan pada umumnya terdiri dari batuan sedimen diantaranya batulempung, tanah liat dan beberapa batupasir selangseling batulempung sisipan tanah liat dan control struktur sayap sinklin dan antiklin. Ketinggian satuan ini antara < 50 m diatas permukaan laut, atau dengan sudut lereng 0° - < 10°. Satuan morfologi ini disusun oleh batuan yang relatif homogen dan merupakan batuan hasil rombakan yaitu lempung, dan pasir.

Tanah yang dijumpai di wilayah studi adalah tanah Andisol (ordo Tropudult, Dystropept dan Kambisol pada Gambar 2.4). Andisol

merupakan tanah dari bahan induk abu vulkanik, yang biasanya banyak mengandung gelas vulkanik yang amorf, sedikit feldsfar, mineral-mineral kelam (mineral Fe dan Mn) dan sejumlah kuarsa. Abu vulkan yang berasal dari gunung berapi di Indonesia umumnya bersifat andesitik sampai basalt. Disamping abu vulkanik, bahan induk Andisol adalah apa yang disebut tufa, yaitu batuan porous yang biasanya berlapis-lapis terdiri dari akumulasi scoria dan abu di sekitar gunung berapi yang terikat bersama membentuk suatu masa padat. Kadang-kadang tufa terdiri dari abu vulkanik dan pasir yang diangkut dan diendapkan oleh air hujan. Tanah yang berkembang dari abu vulkanis di Sumatera berasal adari bahan induk yang bersifat lebih masam, yaitu liparitik, dasitik dan andositik.

(12)

mengalami kekeringan (irreversib/ e dij/ ing). Hal ini disebabkan oleh koloid amorf seperti abu vulkan dan bahan organik yang mempunyai daya serap air tinggi (equivalen 80 - 90 dari bobotnya). Kalau mengalami kekeringan sampai 15 atm atau lebih maka film air yang terikat pada permukaan partikel akan menguap dan selanjutnya tanah akan mengkerut dan bersifat irreversibel, akibatnya jika sudah mengalami kekeringan akan sulit untuk dibasahi kembali.

Tanahyang dijumpai di wilayah studi adalah tanah Andisol (ordo Tropudult, Dystropept dan Kambisol pada Gamba 1.5).

Kohesi tanah pada sub soil yang basah lebih tinggi, sehingga gerakan air dalam tanah selalu dapat ditahan oleh kohesi yang rendah pada permukaan tanah yang kering. Bila ikatan antar partikel tanah putus/ rusak, kekuatan tanah menjadi rendah, sehingga menyebabkan terjadinya gerakan tanah bila terjadi hujan yang berlebihan. Hal tersebut menggambarkan bahwa Andisol kurang mempunyai kestabilan lereng. Kecuraman lereng pad Andisol umumnya memungkinkan terjadinya frekuensi pergerakan

(13)

massa tanah. Hal ini tergantung pada geomorfologi dan iklimnya. Kelongsoran merupakan masalah yang umum dijumai pada Andisol.

Andisol merupakan tanah yang cukup subur untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Kendala-kendala yang dijumpai pada tanah ini diantaranya adalah: rawan terhadap erosi karena berkembang di daerah bertopografi miring, berat isinya ringan dan adanya sifat irreversible drying mengakibatkan tanah ini mudah tererosi. Secara umum reaksi tanah tergolong agak masam,

kandungan bahan organik tergolong tinggi dan kandungan nitrogen total adalah sedang sampai tinggi. Sedangkan kemampuan pertukaran kation umumnya rendah. Sedangkan untuk peruntukkan lain selain pertanian terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan mengingat tanah ini mudah mengalami erosi, terutama karena sifat tanah andisol dan kelerengan lahan yang cukup tinggi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tanah di wilayah studi didominasi oleh pasir dan debu. Tanah-tanah yang didominasi oleh fraksi pasir mempunyai kesarangan yang tinggi sehingga menahan air sangat rendah.

1.5.2 Tata Guna Lahan Setelah Ditambang

Lahan terganggu yang telah selesai ditambang seperti lahan bekas tambang, timbunan tanah penutup (batuan penutup diluar tambang), jalan tambang dan jalan non tambang yang tidak manfaatkan lagi, bekas kolam sedimen, dan fasilitas penunjang lainnya harus akan segera direklamasi. Sampai pada Bulan Juli 2010 kegiatan tersebut diatas pada PT. Mandiri Agung Jaya Utama belum ada. Pada uraian diatas dijelaskan bahwa lahan yang terganggu pada kegiatan PT. Mandiri Agung Jaya Utama belum ada, maka secara tidak langsung mulai saat ini (Juli Tahun 2010) belum ada lahan terganggu dan yang sudah direklamasi.

(14)

BAB II

RENCANA PEMBUKAAN LAHAN 2.1. Tambang

2.1.1. Karakteristik Cadangan

Dari hasil pemetaan geologi dan hasil test pit diketahui bahwa terdapat empat lokasi di areal KP Eksploitasi PT. Mandiri Agung Jaya utama yang mengandung batu besi. Masing-masing lokasi ini mempunyai ketebalan cadangan batu besi yang bervariasi yaitu :

a. Potensi Ore 1 Potensi ini terdapat di tengah daerah penyelidikan. Dari pengukuran di dapat panjang intrusi adalah 480 m dengan lebar 170 meter. b. Potensi Ore 2 Potensi ini terdapat di barat laut dari potensi A. Dari

pengukuran di dapat panjang intrusi adalah 370 m dengan lebar 150 meter. c. Potensi Ore 3 Potensi ini terdapat di barat laut dari potensi B. Dari

pengukuran di dapat panjang intrusi adalah 470 m dengan lebar 130 meter. d. Potensi Ore 4 Potensi ini terdapat di barat laut daerah penyelidikan. Dari

pengukuran di dapat panjang intrusi adalah 420 m dengan lebar 280 meter.

(15)

Terhadap endapan yang ditemukan selanjutnya telah dilakukan pengujian laboratorium untuk kadar besi dan kadar logam ikutan lainnya. Hasil analisis yang diperoleh adalah sebagai berikut :

- Fe Total = 66,9 % (metode Volumetri) - TiOZ = 0,015 % (metode Spektrofotometri) - S Total = nil % (metode Gravimetri)

-P = 0,18 %

Perhitungan cadangan batu besi hanya dilakukan pada deposit yang muncul di permukaan. Hal ini dikarenakan pada penyelidikan ini hanya berdasarkan hasil pengamatan singkapan dan testpit. Selanjutnya perhitungan cadangan batu besi di daerah penyelidikan didasarkan pada hasil korelasi dan interpretasi , data eksplorasi yang telah dilakukan. Penyebaran lapisan batu besi yang relatif stabil dan menerus pada satu tempat, maka cadangan endapan batu besi dihitung dengan cara sederhana, yaitu dengan sistim penampang sayatan (cross section), jarak antar penampang sayatan 50 meter. Dari hasil korelasi endapan batu besi dan setelah dilakukan perhitungan cadangan dengan cara cros section maka didapatkan cadangan seperti disajikan pada Tabel 2.1. berikut ini.

(16)

2.1.2. Metode penambangan Sehubungan dengan bentuk dan karakteristik

endapan batu besi yang termasuk hasil intrusi yang muncul di lereng bukit, maka sistem penambangan yang akan diterapkan adalah sistem tambang terbuka (open pit). Peralatan tambang yang digunakan adalah kombinasi backhoe - dump truck dibantu dengan bu/ /dozer sebagai alat garu-dorong dan grader untuk perawatan jalan serta peledakan untuk memberaikan batu besi. Di tinjau dari morfologinya, kegiatan penambangan akan dilakukan dengan sistem contour mining. Teknik penggaliannya bertahap dari elevasi yang paling tinggi ke elevasi yang rendah. Penambangan akan berhenti sampai elevasi kontur yang terendah. Hal ini karena perhitungan cadangan pada penyelidikan ini pada batu besi yang muncul di permukaan. Kemajuan penambangan batu besi selanjutnya akan mengikuti arah penyebaran lapisan batu besi pada setiap open cut yang akan ditambang. Ditinjau dari sistem pembuangan over burden, maka sistem yang dipakai adalah sistem inii/ l dump di mana over burden untuk tahun 1 dibuang di penampungan top soil dan untuk tahun berikutnya di buang di open cut tahun 1 yang telah selesai (mine out) dan selanjutnya dilakukan reklamasi. Over burden yang dihasilkan tidak terlalu banyak yaitu berupa topsoil dengan ketebalan rata- rata 0,5 meter. Karena bentuk design tambang berupa open cut, jadi tidak perlu melakukan penimbunan untuk menutup pit, tetapi langsung ditebar top soil dan langsung dilakukan reklamasi. Bab 3, Rencana Pembukaan Lahan IIl-3

23. Laporan Rencana Reklamasi PT. Mandin' Agung Jaya Utama Gambar 3.2. Bentuk Ore dan Sistem Penambangan Open Cut Dengan

memperhatikan beberapa parameter pembentuk model desain tambang, maka untuk melakukan analisis model desain tambang, daerah penambangan dapat diasumsikan sebagai sebuah blok yang memiliki dimensi panjang, lebar dan ketebalan tertentu. Dengan mempertimbangkan parameter model geologi sumber daya batu besi, terutama aspek penyebaran endapan batu besi, maka dapat dilakukan seleksi blok penambangan, untuk memilih sub blok

penambangan yang prospek untuk menjadi lokasi tambang sesuai dengan persyaratan yang diberikan oleh desain tambang. Dari hasil proses design

(17)

tambang, terbentuk empat buah open cut yang memiliki potensi batu besi yang potensial sehingga dapat diusahakan secara ekonomis. Gambar 3.3. Peta Design Open Cut Tambang

Figur

Memperbarui...

Referensi

  1. 23. L
Related subjects :