Etika-Kedokteran-Hukum-Kesehatan.pdf

340 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)

tl 4

;r.

'

i

f!.

'

i,.

ETIKA

f

KEDOKTERAN

{

$

+

&

HUKUM

KESEHATAN

i

'i !

l

,.1 .I, + t t t. t'

:

:l i

(3)

Kutipan

PasalT2:

Sanksi Pelanggaran Undang-Undang

Hak Cipta

(Undang-Undang No. 19 Tahun 2002)

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan

sebagaima-na dimaksud dalam Pasal

2

ayat

(1)

dipidana dengan pidana penjara

ma-sing-masing

paling

singkat 1 (satu) bulan daniatau denda

paling

sedikit

Rp. 1 .000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh)

tahun dan/atau denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima

miliar

ru-piah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan' atau

menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana den-gan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahut dan/atau denda paling banyak

Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

PnNrrnc

Dlxrranur

Penerbit

adalah rekanan pengarang

untuk

menerbitkan sebuah

buku.

Bersama

pengarang, penerbit menciptakan buku untuk diterbitkan. Penerbit mempunyai hak atas penerbitan buku tersebut serta distribusinya, sedangkan pengarang me-megang hak penuh atas karangannya dan berhak mendapatkan royalti atas

penjual-an bukunya dari penerbit.

Percetakan adalah perusahaan yang

memiliki

mesin cetak dan menjual jasa pen-cetakan. Percetakan tidak memiliki hak apa pun dari buku yang dicetaknya kecuali

upah. Percetakan tidak bertanggungjawab atas isi buku yang dicetaknya.

Pengarang adalah pencipta buku yang menyerahkan naskahnya.untuk diterbitkan

di

sebuah penerbit. Pengarang

memiliki

hak penuh atas karangannya' namun menyerahkan hak penerbitan dan distribusi bukunya kepada penerbit yang

ditun-juknya

sesuai batas-batas yang ditentukan dalam perjanjian. Pengarang berhak

mendapatkan royalti atas karyanya dari penerbit, sesuai dengan ketentuan di dalam ped anj ian Pengarang-Penerbit.

Pembajak

adalah pihak yang mengambil keuntungan

dari

kepakaran pengarang

dan kebutuhan belalar masyarakat. Pembajak tidak mempunyai hak mencetak,

tidak

memiliki

hak menggandakan, mendistribusikan, dan menjual buku yang

digandakannyakarena tidak dilindungi copyrighl ataupun perjanjian

pengarang-penerbit. Pembajak

tidak peduli

afas

jerih

payah pengarang.

Buku

pembajak

dapat lebih murah karena mereka tidak perlu mempersiapkan naskah mulai dari pemilihan

judul,

editing sampai persiapan pracetak, tidak membayar royalti, dan

tidak terikat perjanjian dengan pihak mana pun. PnMn.q,lA.KAN BuKU An.q.LaH

KnrurNll!

Anda jangan menggunakan buku bajakan, demi menghargai jerihpayahpara

(4)

ETIKA

KEDOIffERAN

&

HUKUM

KESEHATAN

EDISI

4

Prof. dr.

M.

Jusuf

Hanafiah,

Sp.OG(K)

Prof.

dr.

Amri Amir,

Sp.F(K),

SH

PENERBIT BUKU

KEDOKTERAN

(5)

EGC 1807

ETIKA KEDOKTERAIN S. UUXUM KESEHATAN, EdiSi4

Oieh: Prof. dr. M. Jusuf Hanafiah, Sp'OG(K) & Prof. dr' Amri Amir,i Sp'F(K), SH Copy editor: Rusmi

Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Buku Kedokteran EGC

@ 2007 Penerbit Buku Kedokteran EGC P.O. Box 4276llakarta 1'0042

Telepon: 6530 6283

Anggota IKAPI

Desain

kulit

muka: Yohanes Duta Kurnia Utama

Hak cipta dilindungi Undang-Undang.

Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi

buku ini

dalam bentuk upu p.tt-t, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi,

*er"ku*,

atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa

izin

tertulis dari Penerbit.

Cetakan 2012

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

|usuf Hanafiah,

M

Etika kedokteran

&

hukum kesehatan

/

M.

iusuf

Hanafiah &

Amri

Amir.

-

Ed. 4.

-

Jakarta : EGC, 2008'

xiv,324 him. ; 15,5 x24 crn.

rsBN 978-979-448-955-0

1. Etika kedokteran. I. Judu1. II. Amri Amir.

174.2

(6)

Rqrulullqh rqw berrqbdq:

Bua

seseomNc

TEI-AH MENTNGGAL DUNIA TERpurusLAH UNTUKNVA

PAHALA SEGALA AMAL KECUALI DARITIGA HAL VANG TETAP KEKAL SHADAQAH IARIAH, ILMU VANG BERMANFAAT, DAN ANAK SALEH VANG

SENANTIASA MENDOAKANNVA

(Riwcyct lmqm Buhhori don Murlim)

(7)

Karn

PercmrrAR

Eou

I

Dengan Surat Keputusan

Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan

RI

(1994), telah ditetapkan kurikulum yang berlaku secara nasional Program Sarjana Ilmu Kesehatan

dan Kurikulum

Inti

Pendidikan

Doker

Indonesia (KIPDD yang merupakan

KIPDI

IL KIPDI

II

bertolak dari kompetensi lulusan, dan penjabaran selanjutnya

meng-gunakan pendekatan perumuSan tujuan pendidikan cabang ilmu. Struktur kurikulum

pe_ndidikan

terdiri

atas uraian

kelompok ilmu,

pengalaman belajar dan evaluasi hasil belajar. Oleh karena pendidikan dokter merupakan pendidikan akademik

pro-fesional, ia memiliki landasan ilmu pengetahuan dan landasan keprofesian. Dengan

mengantisipasi perkembangan

iptek

kedokteran serta perkembangan tuntutan kebutuhan masyarakat dan pembangunan kesehatan

di

masa datang, pendidikan

dokter

di

Indonesia berorientasi kepada

iptek

kedokteran

dan

masyarakat.

Ini

berarti bahwa

dokter dituntut

menguasai iptek, mampu menyelesaikan masalah secara

ilmiah, memiliki

sikap dan perilaku sesuai dengan

etik

keprofesian, serta

mampu bekerja di tengah-tengah masyarakatyang semakin maju dan modern.

Mata kuliah

Etik

Kedokteran

dan Hukum

Kesehatan termasuk kelompok

Humaniora dengan beban studi 2 SKS.

Untuk itu

diperlukan buku pegangan bagi mahasiswa dalam mengikuti proses belajar mengajar mata kuliah

ini.

Buku-buku

Etik Kedokteran dan Hukum Kesehatan dalam Bahasa Indonesia telah ada, nalnun

masih langka, terutama tentang hukum kesehatan yang relatif masih muda. Oleh

karena itu, penulis mencoba menyrsun buku ini yang merupakan kumpulan kuliah-kuliah yang diberikan

di

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera

Utara

(sejak 1983), dan Universitas Islam SumateraUtara (sejak 1990), serta Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Sumatera Utara (sejak 1997). Buku ini dimaksudkan sebagai

bahan bacaan

bag

mahasiswa Fakultas Kedokteran dan juga mahasiswa Fakultas

Ilmu

Kesehatan

lain

(Kedokteran Gigi, Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, dan

Farmasi

Klinik).

Oleh karena itu, buku

ini

dilengkapi dengan tujuan instruksional, pokok bahasan dan sub-pokok bahasan sebelum pembahasan setiap Bab.

Di

bagian belakang buku

ini

dilampirkan contoh soal ujian dan jawabannya, serta lampiran, termasuk beberapa peraturan perundang-undangan dalam bidang kesehatan.

Penulis menyadari bahwa buku

ini

masih

jauh

dari sempurna. Oleh karena itu,

kritik

dan saran

untuk

perbaikan dan penyempurnaan

buku

ini di

masa depan,

kami terima dengan senang hati disertai ucapan terima kasih.

Kepada USU Press yang telah menerbitkan buku ini kami ucapkan terima kasih yang tulus. Kepada Dekan Fakultas Kedokteran USU,

Prof

dr. Sutomo Kasiman, SpPD,

KKV

yang telah memberikan kata sambutannya,

kami

sampaikan peng-hargaan dan ucapan terima kasih.

Semoga buku ini bermanfaat bagi yang menggunakannya dan mencapai sasaran

yang diharapkan.

Medan,20 Agustus 1997.

Prof

M. Jusuf Hanafiah, SpOG

dr.

Amri Amir,

SpF.

(8)

Klrl

FencnrrAR Eorr 4

Puji slukur

kehadirat

Allah,

Tirhan Yang

Maha

Kuasa atas rahmat-Nya karena

akhirnya Edisi 4 buku Etiha Kedofrteran dan Hurtum Kesehatan ini dapat diselesaikan

sebelum

tahun

akademik 2008/2009 dimulai. Sejak diterbitkannya Edisi

3

pada

tahun

1999,

telah

banyak

terjadi

perkembangan dalam kedua cabang

ilmu

ini.

Perkembangan penting yang terjadi, antara lain:

1.

Terselenggaranya Pertemuan Nasional Jaringan

Bioetika dan

Humaniora

'

Kesehatan

di

Yogyakarta pada tahun 2000,

di

Bandung pada tahun 2002, di

Jakarta pada tahun 2004 dan di Surabaya pada tahun 2006, yang telah mem-bahas tentang pendidikan, penelitian dan penerapan Bioetika dan Humaniora untuk tenaga-tenaga kesehatan.

2.

Diterbitkannya Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1334,/

Menkes,/SWX/2002 tentang Komisi Nasional Etik Penelitian Kesehatan dan

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

187lMenkes/SWLV

2003 tentang Keanggotaan Komisi Nasional

Etik

Penelitian Kesehatan, yang telah menghasilkan Pedoman Nasional

Etik

Penelitian Kesehatan beserta

su-plemennya.

3.

Diterbitkannya

Undang-undang

Republik

Indonesia

No. 29

Tahun

2004

tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara

RI

Tahun 2004

Nomor

116,

Timbahan

Lembaran Negara

RI No

4431)

diikuti

Peraturan

Menteri.Ke-sehatan

No.

1419,/Menkes,/PER

lX/2005

tentang Penyelenggaraan Praktik Dokter dan Dokter Gigi.

4.

Diberlakukannya

Kurikulum

Berbasis Kompetensi

(KBK)

di

Fakultas Ke-dokteran mulai tahun akademik 2006/2007 dan telah disusunnya Course Study Guide untuk setiap

bloVmodul

di tiap-tiap Fakultas Kedokteran, yang anlara

lain berisi Program Pedidikan Bioetika dan Humaniora Kesehatan yang me-merlukan buku ajar tersendiri.

Sehubungan dengan hal tersebut

di

atas, pada Edisi 4 buku Etiha Kedokteran dan Huhum Kesehatanini,telah dilakukan berbagai revisi dan pemutakhiran bahan pada

bab-bab terkait serta ditambah dengan beberapa bab baru sebagai berikut.

1.

UU

RI No;29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran

2.

Imbalan jasa dokter

3.

Etika Klinis

4.

Etik Penelitian Kesehatan sebagai pengganti Bab Riset Biomedik pada Manusia

5.

Peraturan Internal Rumah Sakit dan StafMedis

(IlorpinlBy Law

dan Medical

StaffBy Lazns).

Pada lampiran

buku

ini

ditambahkan pula beberapa Surat Keputusan

yang

re-Ievan.

Penulis berpendapat pembahasan etika kedokteran dan hukum kesehatan perlu digabung karena adanya masalah-masalah

etik

kedokteran yang bersinggungan

(9)

vltl

Etiho Kedohteron don Huhum Kesehoton

dengan peraturan perundangan yang berlaku (etikolegal), seperti rahasia

kedokter-an,

maipraktik

medih dan

persetujuan setel'ah penjelasan

baik untuk

tindakan

medik

ataupun

untuk penelitian

kesehatan

yang melibatkan

manusia sebagai

subjek.

Kepada Penerbit Buku Kedokteran EGCJ akartayangtelah bersedia menerbitkan

dan memasarkan buku

ini

sejak Edisi-3 (1999) diucapkan terima kasih. Semoga buku ini tetap bermanfaatbagS penggunanya.

Medan,

01April2008

Prof

M. Jusuf Hanafiah, SpOG(K)

(10)

$lugurlr.l

Dexan

Fnxulrar

KepoKTERAN

UuvnntmAt

tuunrenl

Urnna

Kami

panjatkan

puji

dan syukur kehadirat

Allah SWT

atas sukses penyusunan

F.ltkt Etifra

Kedohteran dan Huhunt Keseltatan,

yang

disusun

oleh

penulis yang

mengasuh mata ajar Etik Kedokteran dan Hukum Kesehatan, di Fakultas Kedokteran

USU Medan ini.

Buk:l- Etiha Kedoh,teran dan Huhum Kesehatan

ini

merupakan suatu kebutuhan

dasar yang seharusnya digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan pelayanan di tempat seluruh petugas kesehatan baik dokter ahli, dokter umum, peserta PPDS,

bahkan mahasiswa. Sebagai rujukan standar,

buku ini

kiranya dapat merupakan referensi serta pegangan

bagi

mahasiswa fakultas kedokteran,

doker,

serta pe-laksana pelayanan kesehatan lainnya dalam melayani penderita yang merupakan

konsumen pengguna jasa pelayanan kesehatan

baik

di

praktik

maupun rumah

sakit.

Buku ini disusun oleh pakar yang telah cukup berpengalaman dalam memberikan

kuliah etika kedokteran dan hukum

kesehatan

baik bagi

mahasiswa fakultas

kedokteran, fakultas kesehatan masyarakat

maupun

keperawatan,

yang

isinya

menga.cu kepada Kurikulum

Inti

Pendidikan Dokter di Indonesia

Harapan

kami

kiranya buku Etiha Kedohteran dan Huhum Keseltatan

ini

akan

memberi arti bukan saja dalam proses belajar tetapi juga merupakan panduan bagi seluruh pelaksana pelayanan termasuk para peserta program pendidikan

yangada

di lingkungan Fbkultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara khususnya maupun

dari institusi lainnya dapat

memanfaatkannya sebagai bahan

rujukan.

Dengan

demikian, diharapkan pelayanan secara umum dapat terlaksana dengan baik dan

aman secara etis. Buku inijuga merupakan sumbanganbagil<hazanah perpustakaan

di lingkungan pendidikan kesehatan pada umumnya.

Penghargaan

yang tinggi kami

sampaikan kepada

para

penyusun

buku ini

khususnya kepada kelompok pengajar mata kuliah umum, yang mengasuh mata ajar kelompok humaniora, filsafat, metodologi, etika, dan hukum kesehatan yang telah memprakarsai serta mendorong terbitnya buku yang kita nantikan ini.

Medan, 20 Agustus 1997 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Dekan,

Prof

dr. Sutomo Kasiman, SpPD, KKV

NIP. 130 365 293

(11)

GARI'.GARI'

BE'AR

PROGRAM

PENGAIARAN

JUDUL

MAIA

KULIAH:

Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan

NOMOR

KODE/SKS

:

EK.13V2

SKS

DESKRIPSI

SINGKAT

;

Mata

kuliah

ini

membahas dua

bidang yaitu

etika

kedokteran dan hukum

kesehatan,

yang meliputi

pengertian etika

kedokteran, bioetika, dan hukum kesehatan, lafal sumpah dokter, kode

etik

kedokteran Indonesia, Undang-undang

RI

No. 23 Tahun

1992

tentang Kesehatan, Undang-undang

RI

No. 29

Thhun 2004 tentang

Praktik

Kedokteran, transaksi terapeutilq

hak dan

kewajiban dokter

serta'pasien, rekam medis, persetujuan tindakan medik, ruhasia jabatan

dan

pekerjaan

dokter, etika ldinis,

surat-surat keterangan dokter,

malpraktik medik, reproduftsi manusia, eutanasia, transplantasi organ

dan

jaringan tubuh,

aspek

hukum dan etik

kesehatan lingkungan,

kesehatan kerja dan penyakit menular, penyembuhan tradisional dan

kedokteran modern,

hukum

dan

etik

rumah sakit, peraturan internal

rumah sakit dan stafmedis, penanganan penderita gawat darurat, sanksi

pelanggaran etik kedokteran, etik penelitian kesehatan, dan penulisan

ilmiah kedokteran,/kesehatan

TUIUAN IN'TRUKJIONAL UMUM:

Setelah mengikuti proses belajar mengajar, mahasiswa./calon

dokter

akan dapat memahami, menghayati dan mengamalkan etika kedokteran dan hukum kesehatan sejak

dini

dan dapat menjadikannya sebagai pedoman dalam menjalankan profesi kedokteran/kesehatan kelak di tengah masyarakat"

METODE PENGATARAN:

Kuliah

Diskusi kasus

Membuat makalah

kelompok

dengan

judul

yang

dipilih

dari

butir-butir

lafal

sumpafi dokter,

KODEKI,

dan sebagainya.

Ujian tulisan:

a.

Ujian pilihan berganda

b.

Analisis kasus dugaan malpraktik

c.

Esai. 1. 2. J. 4.

x

(12)

Darrnn

ln

Kata Pengantar

Edisi

1...,..,"".."."

Kata Pengantar Edisi

4..:...

..""..'

vii

Sambutan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera

Vtzrra...tx

Garis-Garis Besar Program

Pengajaran

'.,....,.'.,.,.,...x

Bab

1.

Pengertian Etika Kedokteran, Bioetika, dan

Hukum

Kesehatan..

,..."..."...,,.1

(A[.

JusufHanaltah)

Bab2,LafalSumpahDokter...''''''.'..',.,...'...''

(X[.

JusufHanafah)

Bab

3.

Kode

Etika Kedokteran Indonesia

(KODEKD

...L3

(X[.

Just{Hanafah)

Bab

4.

Undang-Undang RI

Nomor

23

Talwn

L992

Tentang

Kesehatan..

,.,.".,,.,...,.26

(Ann'Antl

Bab

5,

Undang-Undang RI

Nomor

29

Tahun2004

Tentang

Praktik

Kedokteran

,....,".."..,...34

(Ann'Antl

Bab

6.

tansaksi

Terapeutik.

(z4mn''4mt)

Bab

7.

Hak

dan

Kewajiban Dokter dan

Pasien.

,.,.","..".,...,...47

WL

JusrfHanafah)

Bab

8.

ImbalanJasa

Dokter...

....'...'.'.'57

(M.

Just{Hanafah)

Bab

9.

Rekam

Medis"...

...;...,...,..'.,.,.,...,.62

(Ann'Amir)

Bab

10. Persetujuan

Tindakan Medik(Info

rmed

Consent).""'.."....".".'..'.'..'.'.'..72

('4mn'Amt)

Bab

11. RahasiaJabatan

dan

Pekerjaan Dokter,....,...r...,...,...'.'.'..."78

(IVI.

JusufHanafah.)

Bab

l2.Etika

Klinis

.,""...".84

(M.

Just{Hanafah)

(13)

Doftor lsi

Bab

13.

Surat-Surat Keterangan

Dokter

...88

(M.

JtuufHannfah)

Bab

14.

Malpraktik

Medik...

(M.

Jusr{Hanafah)

Bab

15.

Reproduksi Manusia...

(M.

JrcufHanafa/)

Bab

16. Eutanasia...

(Ann'Ami)

Bab lT. Transplantasi Organ danJaringan

Tirbuh...

(M. JusufHanafah)

Bab

18.

Aspek

Etik

dan

Hukum

Kesehatan

Lingkungan

...128

(Ann'Anir\

Bab

19.

Aspek

Etik

dan

Hukum

Kesehatan

Kerja...

...134

(Ann'Anir)

Bab 20.

Aspek

Etik

dan

Hukum

Penyakit

Menular

...140

(Amn'Ami)

Bab 21.

Penyembuhan Tiadisional dan Kedokteran

Modern...,fn8

(A[.

Ju:ufHanaftal)

Bab22.Etik

dan

Hukum Rumah

Sakit...

...;...156

(Ann'Anfi

Bab 23.

Peraturan Internal Rumah Sakit dan

Staf

Medis

(Hotspital

Bylaws dan

Medical Staff

Bylaws)

...161

(Ann

Anir)

Bab24.

Penanganan Pasien

Gawat

Darurat...

...168

(M. JusufHanafah)

Bab25.

Sanksi Pelanggaran

Etika

Kedokteran...

...173

(M. JusufHanafuh)

Bab 26.

Etika Penelitian

Kesehatan...r.

...183

(M.

Just{Hanafa/)

Bab 27. Penulisan

IlmiahKedokteran/Kesehatan...

...196

(M.

JusufHanafal)

Daftar

Pustaka...

Contoh Soal-Soal

Ujian Etika

Kedokteran dan

Hukum

Kesehatan...21L

(14)

11.

12.

Doftor lsi

Daftar Lampiran:

1. The Hippocratic Oath

(B.C)

2.

Nuremberg Code

(1947)...

....226

3.

The World Medical Association: Declaration of Geneva

(19a8) ...227

4.

International Code of Medical Ethics

(1949)

...228

5.

World Medical Association

(WMA)

Declaration of

Helsinki...230

6.

Peraturan

Pemerintah

No.

10

Thhun

1966

Tentang

Wajib Simpan

Rahasia

Kedokteran

...235

'7.

Declaration of

Sydney,

A

Statement of

Death...239

B. Constitution of The

World

Health Organization

(1976)...240

9.

Peraturan.Pemerintah RI

No.

18

Tahun

1981

Tentang Bedah Mayat Klinis

&

Bedah Mayat Anatomis

serta

tansplantasi Alat

dan/ata-uJaringan Tubuh

Manusia...24I

10.

Peraturan

Menteri

Kesehatan

RI No.

554/Menkes/Per/XII/

1982

Tentang Panitia Pertimbangan

&

Pembinaan

Etika

Kedokteran...

...250

Lafal Sumpah

Dokter

...256

Pernyataan

IDI

Tentang Rekam Medis,/Kesehatan

(Medical Record)(Lampiran SK PB

IDI

No. 315/PB/A.4/BB)

...258

13.

Pernyataan

IDI

tentang Informend Consent

(LampiranSKBIDINo.3lg,zPB/A.4/88)...

...260

14.

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik Indonesia

No.749a/

Menkes/Per

/XIl

/

1989

Tentang Rekam Medis,/

Medical

Record.'...

...'.'.'..262

15. Peraturan Menteri

Kesehatan

Republik Indonesia No.

585,2 Menkes,/Pe r

/ IX/

19 89

Tentang

Persetujuan

Tindakan

Medik... 2 66 Pernyataan

Ikatan Dokter Indonesia Tentang

Mati...'...270

Peraturan Pemerintah RI No. 32 Tahun 1996

Tentang

Tenaga

Kesehatan..

'.'.'..276

18. Keputusan Menteri

Kesehatan

RI

No.

1334,zMenkes/SK/X/

2002

Tentang Komisi Nasional Etik Penelitian

Kesehatan...'...288

19. Peraturan Menteri

Kesehatan

RI

No.

l4l9/Menkes/Per/X'/

2005

Tentang PenyelenggaraanPraktik Dokter

& Dokter

Gig: '...29I

20.

Surat-Surat Keterangan

Dokter...

...'...'.'...302

21.

Contoh-ContohSuratPernyataanPasien//vili...'..

...307

22.

Contoh

Surat Pernyataan Persetujuan Setelah Penjelasan (PSP).'.'.'311

Daftar

Singkatan..

...313

Ketentuan

Hukum"""

""316

Indeks

...319

t6.

(15)

FeNcrnflAN EnxE

KepoxrERANt

Bpenxn,

DAN

Huxultt

Kelgnarlx

Tujuon

lnrtrqhlionql

Khurut

1.

Menyebuthqn

definisi

etihq hedohterqn dqn bioetihs

serto

tuiusnnys.

2.

Menyebuthsn

definisi

huhum dqn huhum hesehston

lerts

tuiuqnnyo.

l.

MenjelqshEn

persomson

dsn

perbedoqn etihq don huhum.

4.

Menjeloshon

ciri-ciri peherioon don

etihs

profesi.

5.

Mengurqihon perhembqngsn huhum herchoton di

lndonesis.

fohoh

Bqhqrqn

1.

Etiho Kedohterqn

z.

Bioetihs

3.

Huhum hesehstsn

tub-Fohoh Bqhqrsn

1.

Pengertisn

etihs

hedohtersn don bioetiho

2.

Pengertiqn huhum don huhum hesehqton

3.

Penomoon dsn perbedoon etihq don huhum

4.

Ciri-ciri peherjssn don etihE

profesi

(16)

Etiho Kedohteron don Huhum Kesehoton

Etihq Kedohterqn

Etik (Ethicl

berasal dari kata Yunani ethos, yang berarti a-khlah adat kebiasaan,

watah

perasaan, sikap, yang baik,

yang

layak.

Menurut

Kamus

Umum

Bahasa

Indonesia (Purwadarminta, 1953),

etika

adalah

ilmu

pengetahuan tentang azas

akhlak. Sedangkan

menurut

Kamus Besar Bahasa Indonesia

dari

Departemen Pendidikan dan t<ebudayaan (1 98 8), etika'adalah:

1.

Ilmu tentang apayang baik, apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban

moral

2.

Kumpulan atau seperangkat asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak

3.

Nilai yang benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat

Menurut

Kamus Kedokteran (Ramali dan Pamuncak,1987), etika adalah

penge-tahuan tentang perilaku yang benar dalam satu profesi.

Istilah etika dan

etik

sering dipertukarkan pemakaiannya dan tidak jelas per-bedaan antarakeduanya. Dalam buku ini, yang dimaksud dengan etika adalah

ilmu

yang mempelaja.ri azas

akhlah

sedangkan

etik

adalah seperangkat asas atau nilai

yang berkaitan

dengan

akhlak seperti dalam Kode

Etik.

Istilah etis

biasanya

digunakan untuk menyatakan sesuatu sikap atau pandangan yang secara etis dapat

diterima (xhically acceptable) atau tidak dapat diterima (ahically unacceptable,

tidak

etis).

Pekeq'aan profesi (proj?ssrb berarti pengakuan) merupakan pekerjaan yang me-merlukan pendidikan dan latihan tertentu, memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat, seperti

ahli hukum (hakim,

pengacara), wartawan, dosen, dokter,

dokter gigi, dan apoteker.

Pekeq'aan profesi umumnya

memilikii ciri-ciri

sebagai berikut.

1.

Pendidikan sesuai standar nasional

2.

Mengutamakan panggilan kemanusiaan

3.

Berlandaskan etik profesi, mengikat seumur hidup.

4.

Legal melalui perizinan

5.

Belajar sepanjang hayat

6.

Anggota bergabung dalam satu organisasi profesi.

Dalam pekerjaan profesi

,*g"i

dihandalkan

etik

profesi dalam memberikan pe-layanan kepada publik. Etik profesi merupakan seperangkat perilaku anggota

pro-fesi dalam hubungannya dengan orang lain. Pengamalan etika membuat kelompok

menjadi baik dalam arti moral.

Ciri-ciri

etik profesi adalah sebagai berikut.

1.

Berlaku untuk lingkungan profesi

2.

Disusun oleh organisasi profesi bersangkutan

3.

Mengandung kewajiban dan larangan

4.

Menggugah sikap manusiawi.

Profesi kedokteran merupakan profesi yang tertua dan dikenal sebagai profesi yang

mulia

karena

ia

berhadapan dengan

hal

yang paling berharga dalam

hidup

(17)

?41

I

Pengertian Etiho Kedohteron, Bioetiho, don Huhum Kesehoton

Menurut

Pasal 1

butir

11 Undang Undang

Nomor 29

Tfiun

2004 tentang

Praktik Kedokteran profesi kedokteran atau kedokteran gigi adalah suatu pekeriaan

kedokteran atau kedokteran gigi yang dilaksanakan berdasarkan suatu keilmuan,

kompetensi

yang diperoleh melalui

pendidikan berjenjang

dan kode etik

yang bersifat melayani masyarakat.

Hakikat profesi kedokteran adalah bisikan nurani dan panggilan

jiwa

(toili"g),

untuk

mengabdikan

diri

pada kemanusiaan berlandaskan moralitas yang kental.

Prinsip prinsip kejujuran, keadilan, empati, keikhlasan, kepedulian kepada sesama

dalam rasa kemanusiaan, rasa kasih sayang (compasubn), dan

ikut

merasakan

pen-deritaan orang

lain yang

kurang beruntung. Dengan demikian, seorang dokter

tidaklah boleh

egois melainkan harus mengutamakan kepentingan

orang

lain,

membantu mengobati orang

sakit

(ahrutsm). Seorang

dokter harus memiliki

Intellectual Quotient (IQ), Enoh'onal Quottbnt (EQ), dan Spintual Quoh'ent (SQ) yang

'tKrtTt"J:THili"

",,0"

datam pendidikan

dokter

adalah

untuk

menjadikan calon dokter lebih manusiawi dengan memiliki kematangan intelektual dan emosi-onal. Para pendidik masa lalu melihat perlu tersedia berbagai pedoman agar

ang-gotanya dapat menjalankan profesinya dengan benar dan baik. Para pendidik di bidang kesehatan masa lalu

melihat

adanya peluang yang diharapkan

tidak

akan

terjadi sehingga merasa

perlu

membuat rambu-rambu yang akan mengingatkan

para peserta

didik yang

dilepas

di

tengah-tengah masyarakat selalu mengingat pedoman yang membatasi mereka untuk berbuat yang tidak layak.

Etik

profesi

kedokteran merupakan seperangkat

perilaku para dokter

dan

dolter

gigi

dalam

hubungannya dengan pasien, keluarga, masyarakat, teman

sejawat

dan mitra

kerja. Rumusan

perilaku para

anggota profesi disusun oleh

organisasi profesi bersama-sama pemerintah menjadi suatu kode etik profesi yang

bersangkutan.

Tiap-tiap jenis

tenaga kesehatan

telah memiliki Kode

Etiknya,

namun Kode Etik tenaga kesehatan tersebut mengacu pada Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKD.

Bioetihq

Perkembangan yang begitu pesat di bidang biologi dan

ilmu

kedokteran membuat

etika kedokteran

tidak

mampu lagi menampung keseluruhan permasalahan yang

berkaitan dengan kehidupan.

Etika

kedokteran berbicara tentang bidang medis

dan proGsi kedokteran saja, terutama hubungan dokter dengan pasien, keluarga,

masyarakat dan teman sejawat. Oleh karena itu, sejak

3

dekade terakhir

ini

telah dikembangkan bioetika atau disebut juga etika biomedis.

Bioetika berasal dari kata bios yang berarti kehidupan dan et/tos yang berarti norma-norma atau nilai-nilai moral. Bioetika atau bioetika medis merupakan studi

interdisipliner tentang masalah yang

ditimbulkan oleh

perkembangan

di

bidang

biologi dan ilmu kedokteran baik skala mikro maupun makro, masa

kini

dan masa

mendatang (Bertens, 2001). Bioetika mencakup isu-isu sosial, agama, ekonomi dan

hukum bahkan politik. Bioetika selain membicarakan bid4ng medis, seperti abortus, eutanasia, transplantasi organ, teknologi reproduksi buatan, dan rekayasa genetik,

(18)

Etiho Kedohteron don Huhum Kelehoton

membahas pula masalah kesehatan, faktor budayayang berperan dalam lingkup

kesehatan masyarakat, hak pasien, moralitas penyembuhan tradisional, lingkungan

kerja, demografi,

dan

sebagainya.

Bioetika

memberi perhatian yang besar pula terhadap penelitian kesehatan pada manusia dan hewan percobaan.

Masalah bioetika mulai

diteliti

pertama kali oleh Institutefor the Sndy of Sone$, Ethics and the

Ltfr

Salences, Hastrng Centen Neus Yorfr (Amerika Serikat ) pada tahun

1969. Kini terdapat banyak lembaga di dunia yang menekuni penelitian dan diskusi mengenai berbagai isu etika biomedik.

-

Di

Indonesia,

bioetika baru

berkembang sekitar satu dekade

terakhir

yang

dipelopori oleh

Pusat Pengembangan

Etika

Universitas Atma Jaya Jakarta.

Per-kembangan

ini

sangat menonjol setelah Universitas Gajah Mada Yogyakartayang

melaksanakan pertemuan Bioethics 2000 An Internatnna/ Exc/tange dan Pertemuan

Nasional

I

Bioetika dan

Humaniora

pada bulan Agustus 2000' Pada

waktu

itu, Universitas Gajah Madajuga mendirikan CenterifbrBt'oethics and Medical Humanih'es.

Dengan terselenggaranya Pertemuan Nasional

II

Bioetika dan Humaniora pada

tahun2002 di Bandung Pertemuan

III

pada tahun 2004 diJakarta, dan Pertemuan

IV

pada tahun 2006

di

Surabaya serta telah terbentuknyaJaringan Bioetika dan

Humaniora

Kesehatan Indonesia

IBHKI)

pada

tahun 2002,

diharapkan studi

bioetika akan lebih berkembang dan tersebar luas

di

seluruh Indonesia pada masa datang.

Humaniora

atau hwnant'hes merupakan

pemikiratt yu.tg berkaitan

dengan

martabat dan kodrat manusia, seperti yang terdapat dalam sejarah, filsafat,'etika,

agam3, bahasa, dan sastra.

Huhum

Kerehotqn

,

Definisi hukum

tidak

dapat memuaskan semua pihak karena banyak seginya,dan

demikian luasnya sehingga sulit disatukan dalam satu rumusan.

Untuk

praktisnya,

dalam

buku

ini

yang

dimaksud dengan

hukum

adalah peraturan perundangan, seperti yang terdapat dalam

hukum

pidana, hukum perdata,

hukum

tata negara,

dan hukum administrasi negara.

Dalam lebih dari dua dekade terakhir terasa sekali disiplin hukum memasuki

wilayah kedokeran

atau bisa

juga

dikatakan kalangan kesehatan

makin

akrab

dengan bidang dan pengetahuan hukum.

Dua disiplin

tertua

di

dunia

itu,

pada awalnya berkembang dalam wilayahnya masing-masing, yang satu dalam mengatasi

masalah kesehatan yang timbul pada anggota masyarakat, yang satu lagi mengatur

tentang ketertiban dan ketentraman

hidup

bermasyarakat. Keduanya diperlukan

untuk

kesejahteraan

dan

kedamaian masyarakat.

Dalam

perkembangan kedua

disiplin ini untuk mencapai tujuan dimaksud, ternyatadisiplin yang satu diperlukan oleh disiplin lain dalam cabang ilmunya. Dalam proses penegakan hukum, peran

ilmu

dan bantuan

dokter

diperlukan oleh jajaran penegak

hukum yang

dikenal

sebagai

Ilmu

Kedokteran Forensik, yaitu cabang

ilmu

kedokteran yang sejak awal

berkembangnya

telah

mendekatkan

disiplin ilmu

kedokteran

dan ilmu

hukum. Sebaliknya, dalam perkembangan dan peningkatan upaya pemeliharaan dan pe-layanankesehatan diperlukan pula pengetahuan dan aturan hukum dan ini berada dalam cabang ilmu hukum yang kemudian hadir sebagai Hukum Kesehatan.

(19)

gdl

I

Pengerlion Etiho Kedohteron, Bioetiho, don Huhum Kesehoton

Padawaktu ini, tidakmungkin lagi para dokter tidak mengetahui dan memahami

hukum kesehatan, apalagl setelah terbitnya Undang-undang Kesehatan (L992) dan

Undang-undang Praktik Kedokteran (2004),

yaitu

aturan

hukum

atau ketentuan

hukum yang mengatur tentang pelayanan kedokteran,&esehatan.

Hukum

kesehatan menurut Anggaran Dasar Perhimpunan

Hukum

Kesehatan

Indonesia (PERHUKD,

adalah semua

ketentuan hukum yang

berhubungan

langsung dengan pemeliharaan/pelayanan kesehatan dan penerapan hak dan ke-wajiban baik bagi perseorangan maupun segenap lapisan masyarakat, baik sebagai

penerima pelayanan kesehatan maupun sebagai

pihak

penyelenggara pelayanan kesehatan

dalam

segala aspek, orga.nisasi, sarana, pedoman standar pelayanan

medih ilmu pengetahuan kesehatan dan hukum, serta sumber-sumber hukum lain.

Hukum

Kedokteran merupakan bagian dari

Hukum

Kesehatan,

yaitu

yang

me-nyangkut pelayanan kedokteran (rnedtcat careheruic)

Hukum

kesehatan merupakan bidang hukum yang masih muda.

Perkembang-annya

dimulaipadawakttt,

World Congress on Medtlcal Lazts

di

Belgia pada tahun

L967 dan diteruskan secara

periodik untuk

beberapa lama.

Di

{ndonesia, per-kembangan Hukum Kesehatan dimulai sejak terbentuknya Kelompok Studi untuk

Hukum

Kedokteran

ULIRS

Ciptomangunkusumo

di

Jakarta pada

tahun

1982.

Perhimpunan

untuk Hukum

Kedokteran Indonesia

(PERHUKD, terbentuk

di

Jakafta pada

tahun

1983 dan berubah menjadi Perhimpunan

Hukum

Kesehatan

Indonesia

(PERHUKD

pada Kongres

I

PERHUKI

di Jakarta pada

tahun

1987.

PERHUKI Wilayah

Sumatera

Utara

terbentuk pada tanggal 14

April

1986

di

VIedan.

Hukum

kesehatan mencakup komponen hukum bidang kesehatan yang

ber-singgungan satu dengan

yang lain, yaitu hukum

Kedokteran,/Kedokteran Gigi,

Hukum

Keperawatan,

Hukum

Farmasi

Klinik, Hukum Rumah

Sakit, Hukum

Kesehatan Masyarakat,

Hukum

Kesehatan Lingkungan, dan sebagainya (Konas

PERHUKT, 1993)

Di

atas telah diuraikan pengertian etik dan hukum. Persamaan dan perbedaan

antara keduanya adalah sebagai berikut.

Persamaan etik dan hukum

Sama-sama merupakan alat untuk mengatur tertibnya hidup bermasyarakat.

Sebagai objeknya adalah tingkah laku manusia.

Mengandung hak dan kewajiban anggota masyarakat agar

tidak

saling me-rugikan.

Menggugah kesadaran untuk bersikap manusiawi.

Sumbernya adalah hasil pemikiran para pakar dan pengalaman para anggota

senior.

Perbedaan etik dan hukum

1.

Etik berlaku untuk lingkungan profesi, hukum berlaku untuk umum.

2.

Etik

disusun berdasarkan kesepakatan anggota profesi, hukum disusun oleh

badan pemerintah.

3.

Etik tidak

seluruhnya terhrlis,

hukum

tercantum secara

terinci

dalam kitab

undang-undang dan lembaran/berita negara.

1.

2. 3.

4.

(20)

Etiho Kedohterqn don Huhum Kesehoton

4.

Sanksi

terhadap

pelanggaran

etik

berupa tuntunan,

sant<si

terhadap

pe-langgaran hukum berupa tuntutan.

5.

Pelanggaran etik diselesaikan oleh Majelis Kehormatan

Disiplin

Kedokteran

Indonesia

(MKDKD

yang dibentuk oleh

Konsil

Kedokteran Indonesia dan

atau

oleh

Majelis Keirormatan

Etika

kedokteran

(MKEK), yang

dibentuk

oleh

Ikatan

Dokter

Indonesia

(IDI),

pelanggaran

hukum

diselesaikan oleh

PengadiJan.

6.

Penlelesaian pelanggaran

etik tidak

selalu disertai

bukti

fisik, penyelesaian

.

pelanggaran hukum memerlukan bukti fisik.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa etik merupakan seperangkat perilaku

yang benar dan baik dalam suatu profesi.

Etika kedokeran

adalah pengetahuan tentang prilaku profesional para dokter dan dokter gigi dalam menjalankan pekerja-annya sebagaimana tercantum dalam lafal sumpah dan kode etik masing-masing yang telah disusun oleh organisasi profesinya bersama-sama pemerintah.

Hukum

merupakan peraturan perundang-undangan

yang dibuat oleh

suatu

kekuasaan.

Hukum

kesehatan merupakan peraturan perundang-undangan yang menyangkut pelayanan kesehatan baik untuk penyelenggara maupun penerima pe-layanan kesehatan.

Pelanggaran etika kedokteran

tidak

selalu berarti pelanggaran hukum, begitu

pula

sebaliknya pelanggaran

hukum belum

tentu

berarti

pelanggaran etika kedokteran. Pelanggaran etika kedokteran diproses melalui

MKDKI

dan

MKEK

(21)

Laml

tuupln

Doxren

Tuiuqn

lnrtruhrionql Khurur

t.

Menjeloshon

proses

penyusunon LofolSumpoh Dohter

Indonesio.

2.

Menyebuthon

don

menjeloshon.

butir-butir

Lqfql Sumpoh Dohter.

3.

Mdnyebuthon persomoon

don perbedoon

isilqfol

Sumpoh Hippohrotes

dengon

Lofol Sumpoh Dohter

moso

hini.

Pohoh

Bqhqrqn

l.

Sejoroh tersusunnyo

Lofol Sumpoh Dohter

lndonesio.

2.

PP.No.26 Tohun

1960

dqn

5K Menhes Rl. No.434lMenhes/SK/X/1983

tub-Pohoh Bqhqrqn

l.

Sejoroh

Sumpoh Dohter.

2.

Lqfol Sumpoh Hippohrotes.

3.

Dehlorosi Jenewq l9zt8.

4.

5K Menhes Rl.

No.434/Menhes/5K/Xfl983

tentong Lofol Sumpqh Dohter

tndonesio beserto

penjelosonnyo.

(22)

Etiho Kedohteron don Huhum Kesehoton

Lafal Sumpah Dokter Indonesia sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 26 Tiahun

1960 yang disusul dengan SK Menkes

R.[ No. 434lMenkes/SK/X/L983

adalah

berdasarkan Sumpah Hippokrates dan DeklarasiJenewa dari Ikatan Dokter Sedunia (World Medical,:Isnuation,I'I/MA

lg4E.Hippokrates

(460-377 S.M.) adalah seorang

dokter bangsa Yunani yang berjasa mengangkat ilmu kedokteran sebagai ilmu yang

berdiri sendiri, terlepas dari pengaruh Syamanisme, yaitu anggapan bahwa penyakit

berasal

dari roh jahat, kutukan

dewa, pelanggaraan tabu, dan pengaruh mistik

lainnya, menjadi pengetahuan berdasarkan ilmiah dengan body ofhnoaledge. Karena

itd, ia dianggap sebagai Bapak

Ilmu

Kedokeran. Kesadarannya yang

tinggi

akan

moral profesi kedokteran dituangkannya dalam bentuk Sumpah Hippolsates, yang harus ditaati dan diamalkan oleh murid-muridny'a.

tumpqh Hippohrcter

Sumpah Hippokrates

jika

diterjemahkan

ke

dalam Bahasa Indonesia beibunyi

sebagai berikut.

"Saya bersumpah demi

Apollo

dewa penyembuh, dan Aesculapius, dan Hygeia,

danPanacea, dan semuadewa-dewasebaga.i saksi,bahwasesuai dengankemampuan

dan

pikiran

saya, saya akan mematuhi janji-janji berikut ini.

1.

Saya akan memperlakukan

guru

yang

telah

mengajarkan

ilmu

ini

dengan

penuh kasih sayang sebagaimana terhadap orang tua saya sendiri,

jika

perlu akan sayabagikan harta saya untuk dinikmati bersamanya.

2.

Sayaakan memperlakukan anak-anaknya sebagai saudara kandung saya dan

saya akan mengajarkan

ilmu

yang

telah

saya

peroleh dari

ayahnya, kalau mereka memang mau mempelajarinya, tanpa imbalan apapun.

3.

Saya akan meneruskan

ilmu

pengetahuan

ini

kepada anak-anak saya sendiri,

dan kepada anak-anak guru saya, dan kepada mereka yang telah mengikatkan

diri

dengan

janji

dan sumpah untuk mengabdi kepada ilmu pengobatarr, dan

tidak kepada hal-hal yang lainnya.

4.

Saya akan mengikuti cara pengobatan yang menurut pengetahuan dan ke-mampuan saya akan membawa kebaikan bagi pasien, dan tidak akan

merugi-kan siapa pun.

5.

Saya tidak akan memberikan obat yang mematikan kepada siapa pun

meski-pun diminta, atau menganjurkan kepada mereka untuk tujuan itu. Atas dasar

yang sama, saya tidak akan memberikan obat untuk menggugurkan

kandung-an.

6.

Saya ingin menempuh hidup yangsayabaktikan kepada ilmu saya ini dengan

tetap suci dan bersih.

7.

Saya

tidak

akan melakukan pembedahan terhadap seseorang, walaupun ia

menderiia penyakit batu, tetapi akan menyerahkannya kepada mereka yang berpengalaman dalam pekerjaan ini.

8.

Rumah siapa pun yang saya masuki, kedatangan saya

itu

saya tujukan untuk

kesembuhan yang sakit dan tanpa niat-niat

buruk

atau mencelakakan, dan lebih

jauh

lagi tanpa niat berbuat cabul terhadap wanita ataupun pria, baik

(23)

?al

2

LololSumpoh Dohter

9.

Apapun yangsaya dengar atau lihat tentang kehidupan seseorang yang tidak

patut untuk disebarluaskan, tidak akan saya ungkapkan karena saya harus

me-rahasiakannya.

10.

Selama saya tetap mematuhi sumpah saya

ini,

izinkanlah saya menikmati

hidup

dalam mempraktikkan

ilmu

saya

ini, dihormati

oleh semua orang, di

sepanjang

waktu! Akan

tetapi,

jika

sampai saya mengkhianati sumpah ini, balikkanlah nasib saya.

Dehlqrqsi

fenewq

Lafal Sumpah

Dokter

sesuai dengan DeklarasiJenewa (1948) yang disetujui oleh

General Assembly World Medical Assocation

(WMA)

dan kemudian

di

amander

di Sydney (1968) dalam Bahasa Indonesia, berbunyi sebagai berikut.

Pada saat diterima sebagai anggota profesi kedokteran, saya bersumpah bahwa:

1.

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;

2.

Saya akan menghormati dan berterima kasih kepada guru-guru saya

sebagai-mana layaknya;

3.

Saya akan menjalankan tugas saya sesuai dengan

hati nurani

dengan cara

yang terhormat;

4.

Kesehatan pasien senantiasa akan saya utamakan;

5.

Saya akan merahasiakan sega.la rahasia yang saya ketahui

pasien meninggal dunia;

6.

Saya

akan

memelihara dengan sekuat tenaga martabat

dan tradisi

luhur

iabatan kedokteran;

7.

Teman sejawat saya akan saya perlakukan sebagai saudara-saudara saya;

8.

Dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien, saya tidak mengizinkan untuk terpengaruh

oleh

pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan,

politik

kepartaian, atau kedudukan sosial;

9.

Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;

10.

Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran

saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;

11.

Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan bebas, dengan

mem-pertaruhkan kehormatan

diri

sayal'

Lolcl

$umpqh

Dohter lndoneriq

Pada zaman Belanda

Lafal

Sumpah

Dokter

di

Indonesia adalah berdasarkan

Reglement op de Dtenst de Volsgezondheid Staatsblad 1882

No. 97 pasal36

sebagai

berikut.

"Saya bersumpah,he4anji, bahwa saya akan melakukan pekeq'aan Ilmu Kedokteran, Ilmu Bedah dan Ilmu Kebidanan dengan pengetahuan dan tenaga saya yang sebaik-baiknya, menunrt peraturan yang telah ditetapkan undang-undang dan saya tidak akan memberi-tahukan kepada siapa punjuga segala sesuatu yang dipercayakan kepada saya dan segala sesuatu yang saya ketahui ketika melakukan pekeq'aan saya sebagai dokter, kecualijika di depan hakim. atau atas Undang-undang saya diharuskan memberikan keterangan yang tidak bertentangan dengan azas-azas rahasia jabatan. "

(24)

lo

Etiho Kedohteron dqn Huhum Kesehoton

Sesuai dengan Deklarasi Jenewa (1948), Sumpah

Dokter

Internasional,

diter-jemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Majelis Pertimbangan Kesehatan dan

Syara Departemen Kesehatan RI dan Panitia Dewan Guru Besar Fakultas

Kedokter-an Universitas Indonesia.

Lafal

sumpah

ini

diucapkan pertama

kali

oleh lulusan

Fakultas Kedokteran

UI

pada tahun 1959. Lafal sumpah ini kemudian dikukuhkan

dengan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1960. Lulusan pertama Fakultas

Ke-dokteran USU Medan sebanyak 6 orang telah mengucapkan sumpah dokter sesuai

dengan PP No. 26/1960 tersebut pada tanggal 25 Februari 1961.

- PadaMusyawarah Kerja Nasional Etika kedokteran ke-2 yang diselenggarakan

di -|akarta pada tanggal 14-16 Desember 1981

oleh

Departemen Kesehatan RI,

telah

disepakati beberapa perubahan

dan

penyempurrutan

lafal

sumpah dokter

sehubungan dengan berkembangnya bidang kesehatan masyarakat. Lafal sumpah

dokter terakhir diperbarui dengan SK Menkes R.L

434/Menkes/SK/X/

1983 dan

berbunyi sebagai berikut.

"Demi

Allah

saya bersumpah,/berjanji, bahwa:

1.

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;

2.

Saya

akan

memelihara dengan sekuat tenaga martabat

dan tradisi

luhur

jabalan kedokteran;

3.

Saya akan menjalankan tugas saya dengan caruyangterhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter;

4.

Saya

akan

menjalankan

tugas

saya dengan mengutamakan kepentingan masyarakat;

5.

Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan

saya dan keilmuan saya sebagai dokter;

6.

Saya tidak akan mempergrnakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu

yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam;

7.

Sayaakan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;

8.

Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien;

g.

Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh

oleh

pertimbangan

keagamaan,

kesukuan, perbedaan kelamin, politik

kepartaian, atau kedudukan sosial dalam menunaikan kewajiban terhadap

pasien;

10.

Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan

terima kasih yang selayaknya;

11.

Saya akan memperlakukan

teman

sejawat saya sebagaimana saya sendiri

ingin diperlakukan;

12.

Sayaakan menaati dan mengamalkan Kode

Etik

Kedokteran Indonesia;

13.

Saya

ikrarkan

sumpah

ini

dengan sunggrh-sungguh

dan

dengan

mem-pertaruhkan kehormatan

diri

saya.

Sumpah dokter di Indonesia diucapkan pada suatu upacara di Fakultas Kedokteran

setelah Sarjana Kedokteran (S.Ked.) lulus ujian profesinya. Acara

ini dihadiri

oleh

pimpinan

fakultas, senat fakultas,

pemuka

agarrra,

para dokter baru

beserta

(25)

€al

2

LalolSumpoh Dohter

tersebut, bagi yang beragama Islam mengucapkan: Wallahi, Wabillahi, Wathallahi,

Demi Allah,

sbya bersumpah", bagi yang beragama

Katolik

mengucapkan juga

"Demi

Allah

saya bersumpah",

bagi yang

beragama

Kristen

Protestan: "Saya

berjanji", bagi yang betagamaBudha: "Om Atah Parama Wisesa Om Shanti Shanti Shanti

Om"

dan bagi yang beragama

Hindu: "Mai

Kasm Khanahanl' Setelah para

dokter baru mengucapkan lafal sumpahnya, mereka menandatangani berita acara

sumpah dokter beserta saksi-saksi.

Yang

wajib

mengucapkan

lafal

sumpah

dokter

adalah semua

dokter

warga negara Indonesia

baik lulusan pendidikan dalam negeri maupun luar

negeri.

Mahasiswa asing yang belajar di Fakultas Kedokteran di Indonesia diharuskan juga mengucapkan

lafal

sumpah

dokter

Indonesia.

Dokter

asing

yang

bertugas di

Indonesia

tidak

harus diambil sumpahnya karena ia menjadi tanggung jawab

in-stansi yang mempekerl'akannya, namun dokter asing tersebut harus tunduk pada Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKD.

Jika

Lafal

Sumpah Hippokrates dibandingkan dengan

Lafal

Sumpah Dokter Indonesia,

dapat dilihat bahwa Lafal

Sumpah

Dokter

Indonesia mengandung

intisari yang berakar dari Lafal Sumpah Hippokrates. Lafal Sumpah Hippokrates

itu

mengandung

butir-butir

yang berkaitan dengan larangan melakukan eutanasia

akti{

abortus provocatus,

dan

melakukan pelecehan seksual. Juga mengandung kewajiban melakukan rujukanjika tidak mampu dan memelihara rahasia pekerjaan

dokter. Secara

lebih terinci Lafal

Sumpah Hippokrates mengandung perlakuan

yang

selayaknya terhadap guru-guru beserta anak-anaknya, bahkan

jika

perlu

memberikan sebagian harta kepada gurunya, yang tentunya

di

saat

gum

mem-butuhkannya.

Butir-butir lain

dalam Sumpah Hippokrates

juga

terdapat dalam bentuk yang

sedikit berbeda, namun prinsipnya sama. Hanya sesuai perkembangan

ilmu

ke-dokteran pada masa Hippokrates, pengobatan

ditujukan

pada

individu,

karena

belum

diketahuinya tentang penyakit menular dan belum berkembangnya ilmu

kesehatan masyarakat.Juga karena belum diketahuinya tentang fisiologi reproduksi

manusia,

butir

khusus

tentang

hidup insani

sejak saat pembuahan

tidak

ter-cantum.

Sumpah dokter adalah sumpah profesi kesehatan yang tertua

di

dunia. Sesuai

dengan perkembangan

ilmu

kedokteran,/kesehatan,

jenis

tenaga kesehatan pun

bertambah.

Kini

tenaga kesehatan

terdiri dari dokter, dokter gigi,

sarjana

ke-perawatan, sarjana kesehatan masyarakat, apoteker,

bidan,

tenaga

g4i,tenaga

keterapian

fisik,

tenaga keteknisan

medik, dan

sebagainya.

Lafal sumpaVjanji

tenaga-tenaga kesehatan selain dokter, umumnya mengacu kepada Lafal Sumpah

(26)

12 Etiho Kedohteron don Huhum Kesehqton

Lqfql

tumpqh/fqnii

Dohter Gigi

.

(PP No.

33

Tqhun

1963)

Demi

Allah

saya bersumpah,/berjanji, bahwa:

1.

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan,

ter-utama dalam bidang kedokteran gigi.

2.

Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai martabat

.

dan tradisi luhur jabatan kedokteran gigi.

3.

Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan keilmuan saya sebagai dokter gigi.

4.

Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran

g1g1 saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan.

5.

Dalam menunaikan kewajiban saya, saya akan

berikhtiar

dengan sungguh-sungguh supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsa-an, kesukukebangsa-an,

politik

kepartaian, atau kedudukan sosial.

6.

Saya ikrarkan

sumpaVjanji ini

dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh

(27)

Kooe

Enx

KrooxrERAN

lr.roorueln

(KODEKI)

Tuiuqn lnrtruhrionql Khurut

t.

Menjeloihon

riwoyot tersusunnyo

KODEKI.

2.

Menyebuthon 4 helompoh

hewojibon dohter.

3.

Menguroihon posol-posol

KODEKI

don penjelosonnyo mosing-mosing.

Pohoh

Bqhqrqn

l.

Kewojibon

umum dohter.

2.

Kewqjibon

terhodop

posien.

3.

Kewqjibon.terhodop temqn sejowot

4.

Kewojibon

terhodop diri

sendiri.

tub-Pohoh Bqhqrqn

l.

1. Mengomolhon sumpoh dohter.

2.

Pr:ofesionqlisme

dohter.

3.

Kebebosqn

don hemqndirion

profesi

4.

Hql-holyong tidoh

loyoh dilohuhqn dohter.

5.

Mengutqmqhon hepentingon

posien

don memperhotihqn

hepentingon mosyorohot.

6. Hoti-hotidengqn

penemuon

pengoboton boru.

7.

Prinsip dosqr:

hebenqron.

8.

Peloyonon hesehqton poripurno.

9.

Kerjo

somo

dengqn

berbogoi

instqnsi.

ll.

1. Melindungihidup mqhhluh

insqni.

2.

Stondor peloyonon medih.

3.

Hqh

posien

berhubungqn dengon heluqrgq

dqn lqin-loin.

4.

Kewojibon

memelihorq

rohqsiq

jqboton dqn peherjqon dohter.

5.

Kewojibon

memberihon pertolongon

dorurot

lll.

1.

Sihqp

terhodop temon sejowot.

2.

Tidqh mengombil olih

posien

sejowot

tonpo

persetujuonnyo.

lV.

l.

Kewojibqn

dohter memelihoro hesehotonnyo.

2.

Mengihuti perhembongbn lpteh hedohteron.

(28)

Etiho Redohteron don Huhum Kesehoton

Sejak awal sejarah umat manusia, sudah dikenal hubungan kepercayaan antara dua

insan yaitu manusia penyembuh dan pasien. Dalam zamar' modern, hubungan

ini

disebut transaksi atau kontrak

terapetik

antara dokter dan pasien. Hubungan ini.

dilakukan secara konfidensial, dalam suasana saling percaya mempercayai, dan

hormat menghormati.

Sejak terwujudnya praktik kedokteran, masyarakat mengetahui dan mengakui

adanya beberapa sifat mendasar

yang

melekat secara

mutlak

pada

diri

seorang

dokter yang baik dan bijaksana, yaitu kemurnian niat, kesungguhan ke{a,

kerendah-an hati serta integritas ilmiah dan moral yang tidak diragukan.

Imhotep dari Mesir, Hippokrates dari Yunani, dan Galenus dari Roma,

mempa-kan beberapa pelopor kedokteran

kuno

yang

telah

meletakkan dasar-dasar dan

sendi-sendi awal terbinanya suatu tradisi kedokteran yang luhur dan mulia.

Tokoh-tokoh

ilmuwan kedokteran Internasional yang

tampil

kemudian seperti Ibnu Sina

(Avicena) dokter Islam dari Persi dan

lainlain,

menyusun dasar-dasar disiplin ke-dokteran tersebut atas suatu Kode

Etik

Kedokteran internasional yang disesuaikan

dengan perkembangan zarrran.

Di

Indonesia, Kode

Etik

Kedokteran sewajarnya berlandaskan

etik dan

norma-norma

yang

mengatur hubungan

antar

manusia,

yang

asas-asasnya terdapat dalam falsafah Pancasila, sebagai landasan

idiil

dan

UUD

1945

sebagai landasan

strukturil. Dengan maksud

untuk lebih

nyata

mewujudkan kesungguhan dan keluhuran

ilmu

kedokteran, para dokter baik yang

tergabung dalam perhimpunan profesi

Ikatan Dokter

Indonesia

(IDI)

maupun

secara fungsional

terikat

dalam organisasi pelayanan, pendidikan, dan penelitian telah menerima Kode Etik Kedokteran Indonesia

(KODEKI)

Ada

2 versi

KODEKI,

yaitu yang sesuai dengan Surat Keputusan Menkes

RI

No. 434,/Menkes/SKA/1983

dan yang sesuai dengan Surat Keputusan PB

IDI.

No.22VPB/A-4/04/2002.

Keduanya serupa tetapi tidak sama dari segi substansial

dan urutannya. Oleh karena salah satu

ciri

kode etik profesi adalah disusun oleh

organisasi profesi bersangkutan, kita berpedoman pada

KODEKI

yang diputuskan

PB

IDI

yangtelah menyesuaikan

KODEKI

dengan situasi kondisiyangberkembang seiring dengan pesatnya kemajuan

ilmu

pengetahuan dan teknologi kedokteran

serta dinamika etika global yang ada.

KODEKI

tersebut berbunyi sebagai berikut.

Kewqiibon Umum

Pasal 1

Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati, dan mengamalkan sumpah dokter Pasal 2

Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar proGsi yang tertinggi.

Pasal 3

Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi. Pasal 4

(29)

9al

3

Rode Etih Kedohteron lndonesio (KODEKI)

Pasal 5

Tiap perbuatan atau nasihat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh

per-serujuan pasien.

Pasal 6

Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat

PasalT

Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya.

PasalTa

Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis

yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya disertai rasa kasih

sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.

Pasal 7b

Seorang dokter harus bersikapjujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya,

dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam menangani pasien.

Pasal 7c

Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga

kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien.

Pasal 7d

Setiap dokter harus senantiasa mengingat kewajiban melindungi hidup makluk insani. Pasal 8

Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotifl preventi{ kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psikososial, serta

ber-usaha rnenjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya.' Pasal 9

Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati.

Kewoiibqn Dohter Terhodcp Pqrien

Pasal 10

Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan kete-rampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ia tidak mampu melakukdn suatu

pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia wajib merujuk pasien

kepada dokter yang mempunyai.keahlian dalam penyakit tersebut. Pasal 11

Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat ber-hubungan dengan keluarga dan penasihatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya.

(30)

16 Etiho Kedohteron don Huhum Kesehdton

Pasal 12

Setiap dokter wajib merahasiakan segala besuatu yang diketahuinya tentang seorang

pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia. Pasal 13

Setiap dokterwajib melakukan pertolongan damrat sebagai suafu tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.

Kewqjibqn

Dohter

Terhqdqp

Temon

teiqwqt

Pasal 14

Setiap

doker

memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diper-lakukan.

Pasal 15

Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawatnya, kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.

Kewqiibqn Dohter Terhcdop Diri

tendiri

Pasal 16

Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik Pasal 17

Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tekno-logi kedokteran/kesehatan.

Jika ditinjau

butir-butir KODEKI

tersebut

di

atas, dapat dikelompokkan sebagai

berikut.

A.

Kewajiban dan larangan

I.

Kewajiban-kewajiban dokter

1.

Mengamalkan sumpah dokter

2.

Melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi tertinggi

3.

Kebebasan dan kemandirian proGsi

4.

Memberi

surat keterangan dan pendapat sesudah memeriksa sendiri

kebenarannya

5.

Rasa kasih sayang Qonpassnr) dan penghormatan atas martabat

ma-nusia

6. Jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya

7.

Menghormati hak-hak

pasien,

teman

sejawat

dan

tenaga kesehatan

lainnya.

8.

Melindungi hidup makhluk insani

9.

Memperhatikan kepentingan masyarakat dan semua aspek pelayanan

kesehatan

10. Tulus ikhlas menerapkan ilmunya. Bila tidak mampu merujuknya

11.

Merahasiakan segala sesuatu tentang pasiennya

12. Memberi pertolongan darurat

13. Memperlakukan sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan

14. Memelihara kesehatannya

(31)

9al

3

Rode Etih Kedohteron lndonesio (RODEKI)

II.

LaranganJarangan

1.

Memujidiri

2.

Perbuatan atau nasihat yang melemahkan daya tahan pasien.

3.

Mengumumkan dan menerapkan

teknik

atau pengobatanyang belum diuji kebenarannya

4.

Mengambil alih pasien sejawat lain tanpa persetujuannya.

5.

Melepaskan kebebasan dan kemandirian profesi karena pengaruh

se-.

suafu

B. Etik murni

dan etikolegal

I.

Pelanggaran Etik murni

1.

Menarik imbalan jasa yang tidak wajar dari pasien atau menarik imbalan jasa dari sejawat dan keluarganya

2.

Mengambil alih pasien tanpa persetujuan sejawatnya

3.

Memuji diri

sendiri di depan pasien, keluarga atau masyarakat

4.

Pelayanan kedokteran yang

diskriminatif

5.

Kolusi dengan perusahaan farmasi atau apotik

6.

Tidak mengikuti pendidikan kedokteran berkesinambungan

7. Dokter mengabaikan kesehatannya sendiri

II.

Pelanggaran Etikolegal

1.

Pelayanan kedokteran di bawah standar

2.

Menerbitkan surat keterangan palsu

3.

Melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan hukum

4.

Melakukan tindakan medik tanpa indikasi

5.

Pelecehan seksual

6.

Membocorkan rahasia pasien

Penielqrqn dqn

Pedomon

Pelqhtqnqqn

KODEKI

Profesi

dokter

sejak perintisannya telah

terbukti

sebagai profesi yang

luhur

dan

mulia dan ditunjukkan oleh 6 sifat dasar,

yaitu

sifat ketuhanan, kemurniaan niat, keluhuran budi, kerendahan hati, kesungguhan kerja, integritas ilmiah, dan sosial.

Dalam mengamalkan profesinya, setiap dokter akan berhubungan dengan manusia yang sedang mengharapkan pertolongan dalam suatu hubungan kesepakatantera' peutik.

Agar

dalam hubungan tersebut

ke

enam sifat dasar dapat

tetap

terjaga, disusun

KODEKI

yang merupakan kesepakatan dokter Indonesia bagi pedoman

pelaksanaan profesi.

Penerimaan

dan

pengamalan

KODEKI

hanya dapat dilakukan

para

dokter

dengan baik

jika

para dokter memahami dan menghayati

butir-butir KODEKI itu

dan

masyarakat

ikut

berpartisipasi

dalam

pelaksanaannya. Godaan, termasuk

materi

dapat menjuruskan

para dokter

melanggar

etik

profesinya, bahkan rela

melakukan

malpraktik

pidana.

Berikut

ini

adalah penjelasan dan pedoman

pe-laksanaan

KODEKI

pasal demi pasal.

Pasal

1.

Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter.

Tentang sumpah dokter telah dibahas dalam Bab 2.

(32)

18 Etiho Kedohteron don Huhum Kesehotqn

Pasal

2.

Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai

dengan standar profesi yang teninggi.

Yang dimaksud dengan standar

profesi tertinggi

dalam

butir ini,

ialah

bahwa seorang

dokter

hendaklah memberi pelayanan kedokteran,/kesehatan sesuai ke-majuan iptek kedokteran

mutalhir,

dilandasi etika kedokteran, hukum dan agama.

Dalam pelayanan kedokteran /kesehatan itu, tentulah harus tersedia sarana yang

memadai

dan ditentukan pula mutu

pelayanan

itu

oleh

kemampuan pasien/

keluarganya.

Namun, yang penting

diperhatikan adalah standar pelayanan ke-dokteran yang diberikan dan tanggungjawab dokter, bukan saja terhadap sesalna manusia, melainkan juga terhadap Thhan Yang Maha Esa. Pasien/keluarganya akan

menerima apapun

hasil

upaya penyembuhan seorang

dokter,

asal saja dokter

tersebut telah dengan sungguh-sungguh berusaha sesuai dengan keahliannya.

Pe-layanan

di

bawah

standar atau kesalahan/kelaluan seorang

dokter

dapat me-mengaruhi pendapat orang banyak terhadap seluruh korps dokter.

Pasal

3.

Dalam melakukan peke{aan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh di-pengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan ke-mandirian profesi.

a.

Semua

butir KODEKI

mengandung makna betapa luhurnya profesi dokter. Meskipun dalam menjalankan tugasnya dokter berhak memperoleh imbalan, narnun dalam hal

ini

tidak boleh disamakan dengan usaha,/pelayanan jasa

yang lain. Profesi kedokteran lebih merupakan panggilan perikemanusiaan

dengan mendahulukan keselamatan

dan

kepentingan pasien,

dan

tidak

mengrrtamakan keuntungan pribadi. Karena itu, imbalan jasa yang diterima oleh dokter disebut

honorarium

(pemberian yang diterima dengan penuh

kehormatan). Dalam pelayanan kedokteran

tidak

dikenal

tarif

dokter yang

tetap (fix), tetapi yang wajar sesuai kemampuan pasien./keluarganya.

Ter-masuk dalam keuntungan

pribadi

adalah menjual

obatlsampel

ditempat praktik yang diterima cuma-cuma dari perusahaan farmasi, dan menjuruskan

pasien

membeli

obat tertentu, karena dokter telah menerima

komisi,/

imbalan dari perusahaan farmasi.Juga termasuk keuntungan pribadi adalah melakukan tindakan medik yang tidak diperlukan, menyrruh pasien berobat berulang atau dokter,berkunjung kerumah pasien berkali-kali tanpa indikasi

yang jelas, membuat iklan./promosi yang berlebihan, merujuk pasien ke

la-boratorium,/sejawat/baglan pelayanan dengan imbalan

tertentu

(komisi),

menjual nama dalam

arti tidak

pernah langsung melayani pasien, tetapi

dilayani orang lain yang tidak kompeten, mengekploitasi dokter lain dengan

pembagian persentasi imbalan jasa

tidak adil,

merujuk pasien

ke

sejawat

kelompoknya, walaupun dekat

tempat praktiknya

ada sejawat

lain

yang

memiliki keahlian yang diperlukan.

b.

Secara sendiri atau bersama-sama menerapkan pengetahuan dan

keteram-pilan kedokteran dalam segala bentuk tanpa kebebasan profesi.

Yang dimaksud dengan

tidak

ada atau tanpa kebebasan profesi disini

ialah dokter yang melibatkan dirinya dengan usaha apotik atau farmasi,

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :