• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sittichai Lebih Cinta Indonesia daripada Aku: Oleh: Aisyah Nihayah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sittichai Lebih Cinta Indonesia daripada Aku: Oleh: Aisyah Nihayah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Sittichai Lebih Cinta Indonesia daripada Aku

Sittichai Lebih Cinta Indonesia daripada Aku

Oleh : Aisyah Nihayah Oleh : Aisyah Nihayah

““kresek kresek”kresek kresek”

Aku terbangun. Bergumam dalam hati,

Aku terbangun. Bergumam dalam hati, pasti Bapak. pasti Bapak. Bergegas berlariBergegas berlari kecil-kecil membuka pintu depan

kecil-kecil membuka pintu depan yang sudah dimakan usia. Masih subuh. Bapakyang sudah dimakan usia. Masih subuh. Bapak mau kemana pagi-pagi begini?

mau kemana pagi-pagi begini? “Oh Sha.

“Oh Sha. Wes tangi kon?Wes tangi kon?11””

Aku mengangguk. Mengucek mata sebentar, meneliti

Aku mengangguk. Mengucek mata sebentar, meneliti apa yang sedangapa yang sedang Bapak bawa. Hari senin. Bukankah Bapak sudah berj

Bapak bawa. Hari senin. Bukankah Bapak sudah berj anji akan menemanikuanji akan menemaniku membuat KTP di Kecamatan?

membuat KTP di Kecamatan? Aku sudah genap berusia 17 tahun semingguAku sudah genap berusia 17 tahun seminggu kemarin.

kemarin.

“Bapak mau kem

“Bapak mau kemana?ana? Bawa Bawa kapak? Bagaimana dengan janji pada Sha?”kapak? Bagaimana dengan janji pada Sha?” Bapak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Matanya yang sendu Bapak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Matanya yang sendu  berusaha menjelaskan padaku. Kurang lebih seperti,

 berusaha menjelaskan padaku. Kurang lebih seperti, ayolah Sha, kita sudahayolah Sha, kita sudah  pernah membahas ini seb

 pernah membahas ini sebelumnya bukan?.elumnya bukan?.Aku berusaha mati-matian menahanAku berusaha mati-matian menahan tangis. Jika Bapak sudah membawa kapak, berarti akan ada yang meninggal tangis. Jika Bapak sudah membawa kapak, berarti akan ada yang meninggal setelah ini. Entah belasan, entah puluhan.

setelah ini. Entah belasan, entah puluhan. “kali ini berapa?”

“kali ini berapa?” Aku bertanya hati-hati. Aku bertanya hati-hati.

“hanya satu” Bapak menjawab mantab. “hanya satu” Bapak menjawab mantab.

Kemudian bergegas berbalik dan meninggalkanku berjalan memasuki Kemudian bergegas berbalik dan meninggalkanku berjalan memasuki hutan. Menebang kayu-kayu terbaik untuk dijadikan peti mati.

hutan. Menebang kayu-kayu terbaik untuk dijadikan peti mati. Perkenalkan, aku Sha. Lahir dan besar

Perkenalkan, aku Sha. Lahir dan besar dipulau Nusakambangan. Tempatdipulau Nusakambangan. Tempat Lapas paling mengerikan se-Indonesia disebelah selatan pulau Jawa. Bapak dan Lapas paling mengerikan se-Indonesia disebelah selatan pulau Jawa. Bapak dan  belasan penduduk lainnya berp

 belasan penduduk lainnya berprofesi yang sama, pembuat peti mati. Walaupunrofesi yang sama, pembuat peti mati. Walaupun mayoritas yang lain bekerja sebagai nelayan. Mereka menerima pesanan dari para mayoritas yang lain bekerja sebagai nelayan. Mereka menerima pesanan dari para

1

1Sudah Bangun kamu? (Bahasa JawaSudah Bangun kamu? (Bahasa Jawa NgokoNgoko(kasar, biasanya digunakan oleh yang (kasar, biasanya digunakan oleh yang lebih tualebih tua kepada yang

(2)

sipir penjara. Setiap tahunnya, ratusan orang di eksekusi di Bukit Nirbaya. Bukit yang berjarak hanya sekitar 600 meter dari rumahku.

Bagaimana rasanya hidup dan makan dari darah para penjahat kelas kakap Indonesia bahkan dunia?

Aku Sha. 17 tahun dan masih menangis melihat Bapak pergi mencari kayu-kayu terbaik demi menafkahi aku. Walaupun sedih, aku bersyukur. Setidaknya dalam waktu dekat ini hanya ada satu orang yang akan dieksekusi.

***

“Weh Sha. Sek isuk. Paling sek turu arek e2”

Pak Joni sedikit kaget melihatku yang pagi-pagi sudah datang membawa  perlengkapan melukis seperti biasa. Pak Joni Indro-sipir penjara Nusakambangan.

Asli Banyuwangi. Sudah menjadi sipir Lapas Nusakambangan sekitar hampir 10 tahun dan kelihatan masih betah.

Aku melambai sesaat dan tersenyum. Pak Joni membukakan pintu.

Sekarang aku didalam halaman penjara. Disekelilingnya berjejer belasan sel. Dari ujung ke ujung. Halaman sel ini biasa disebut dengan pos satu.

Semuanya aku kenal. Mulai Pak Kusni, koruptor dua triliyun negara sampai Mat Peci si gembong teroris. Pagi-pagi begini biasanya sudah banyak yang sudah  bangun. Entah berolahraga, entah mencuci baju. Sebagian besar memang masih

tidur.

Aku menuju sel paling barat. Satu-dua orang melambai, menyapa. Sel yang kutuju isinya hanya satu orang. Sudah kuanggap sahabatku sendiri, Sittichai. Pemuda asli Thailand, anak buah kapal pembawa 125 kg sabu-sabu. Dan tidak seperti yang dibilang orang-orang, Sittichai ternyata sudah bangun. Asik

tengkurap membelakangiku, melukis.

“ehhem!” aku berdehem. Sittichai menoleh, tersenyum dan bergegas membukakan pintu.

“lukisan baru?” aku bertanya.

(3)

Sittichai mengangguk. “aku nge- fans sama Choirul Bahri!” lima tahun di  Nusakambangan kosa kata bahasa Indonesia yang dikuasai Sittichai makin

canggih.

“siapa itu?” aku jujur bertanya. Sittichai bilang dalam melukis kita harus  punya panutan. Banyak sekali panutan dia. Sepertinya Pak Choirul Bahri ini yang

terbaru.

Alih-alih menjawab pertanyaanku, Sittichai malah memberikan sebuah  buku usang padaku dan dengan kedua matanya ia berusaha berkata-“baca

ini!”dengan sangat bersemangat. Judul bukunya, “21 Pelukis Aceh 21 Tahun Silam”.

Aku memutar mataku. Bergumam dalam hati, Aceh lagi Aceh lagi!. Sittichai memang tergila-gila dengan Aceh semenjak diberi buku

kebudayaan-kebudayaan Indonesia oleh Pak Joni setahun yang lalu. Coba ta nya Sittichai soal kebudayaan Aceh, ia pasti akan bercerita panjang lebar mulai Tari Saman sampai Krong Badenya (rumah adat Aceh). Dan sekarang aku tidak terlalu terkejut jika dia menemukan Pak Choirul siapalah itu.

Aku membaca cepat tentang pelukis yang dimaksud Sittichai ini. Lahir di Gayo, anggota TNI dan belajar melukis di Roma, Itali. Sepertinya cukup hebat.

Aku mengembalikan bukunya, tidak tertarik membaca lebih lanjut. “Apa alirannya?” kembali bertanya.

“sayangnya Realis. Menggambar orang cukup sulit” raut muka Sittichai mendadak mendung.

Aku tertawa. “Realis kan tidak harus menggambar orang bukan?”

walaupun tidak bersekolah, sedikit banyak aku tahu maksud macam-macam aliran dalam seni lukis. Realis hanya berusaha menampilkan subjek yang dilukis dengan apa adanya.

“iya Sha. aku tahu. Tapi apa yang aku lihat? Ya hanya orang-orang. Atau lebih tepatnya orang-orang yang sedang menunggu dieksekusi” Sittichai terkekeh diujung kalimatnya. Tapi tidak dengan aku. Mendadak perutku mual mendengar kalimat Sittichai.

Melihat ekspresiku yang berubah, Sittichai masuk ke sel nya dan kembali dengan lukisan nya yang setengah jadi beserta perlengkapan melukis kami.

“ayolah walaupun belum mandi kita langsung melukis saja” Sittichai berkata sambil menutup kembali selnya dan menggandeng tanganku menuju spot melukis favorit kami.

(4)

Kami senang melukis menghadap pintu sel yang didepannya terhampar  pemandangan pulau Nusakambangan. Disebelah kiri ada hutan, disebelah kanan

ada bukit Nirbaya. Satu-dua ibu-ibu melintas membawa cucian, hendak mencuci di sungai. Aku menyapa sopan.

Kali ini kami menghadap arah yang berlawanan. Aku berusaha melukis  bukit Nirbaya sementara Sitticahi berusaha melukis Pak Joni yang sedang

membaca koran.

Aku mencoba fokus. Melukis bukit Nirbaya susah susah gampang. Karena  bukitnya juga dikelilingi petak-petak air. Setengah jam melukis aku berhenti.

Selain lapar, sejak setengah jam yang lalu Sittichai juga tidak mengajak aku  bicara.

Aku berbalik badan. Membuka dua bungkus roti yang kubawa dan

memberikan salah satunya pada Sittichai. Aku menatap lukisannya sejenak. Bagus sekali.Entah kenapa, tapi Pak Joni kelihatan lebih baik dilukisan Sittichai

daripada aslinya. Aku tersenyum sendiri bisa berfikiran seperti it u.

Angin sepoi-sepoi membuatku yang masih mengunyah roti mengantuk. Aku mengambil posisi disebelah Sittichai. Dalam posisi tidur dan mengunyah roti aku melihat Sittichai yang sedang fokus melukis. Pemuda ini tampan sekali. Aku sangat suka kedua alis Sittichai yang sangat lebat dan hitam. Alis paling tebal yang pernah kulihat.

Tiba-tiba aku teringat awal pertemuan kami.

Sejak kecil aku sudah keluar-masuk penjara karena ajakan bapak. Profesi  bapak yang menyebabkan kami harus sering-sering ke penjara, menerima

 pesanan. Penghuni pos satu adalah teman-temanku semua. Aku sudah dianggap anak sendiri oleh mereka yang notaben-nya adalah para ayah.

Mereka juga punya keluarga dirumah. Dengan melihatku, kurasa bisa sedikit mengusir rasa rindu terhadap anak mereka. Penjagaan Nusakambangan yang super ketat hanya mengizinkan mereka dijenguk oleh keluarga dua kali. Saat  pertama kali masuk Nusakambangan dan saat akan dieksekusi mati.

Saat mengunjungi penjara lima tahun lalu, Pak Kusni bercerita bahwa  beberapa hari yang lalu Pos Satu kedatangan satu anggota lagi. Seorang pemuda

tanggung asal Thailand. Anehnya, dia dimasukkan dalam sel tersendiri. Kata Pak Kusni karena tiap malamnya dia mengamuk. Membentur-benturkan kepalanya ke dinding dan meracau dengan bahasa Thailand.

Tapi demi mendengar cerita Pak Kusni bahwa dia adalah seorang pelukis, aku memberanikan diri menghampiri selnya. Pertama kali melihatnya, Sittichai sangat tidak ter-urus. Rambut keritingnya acak-acakan, pelipis dan bibirnya

(5)

 berdarah. Juga aku tidak tahu kapan pemuda ini terakhir kali mandi. Bau selnya sangat tidak enak.

Aku tidak tahu bahasa Thailand. Dia juga tidak tahu bahasa Indonesia. Tapi aku ingin sekali bisa melukis dengannya. Maka berminggu minggu

kemudian aku setiap hari melukis didepan selnya. Perlahan-lahan Sittichai mau mandi, tidak mengamuk lagi tiap malam dan mau melihatku melukis. Makin lama Sittichai sudah bisa memarahiku bila kuasku tidak kucuci bekas melukis sehari sebelumnya atau ketika aku mengambil warna cat yang salah, walaupun dengan  bahasa Thailand yang menurutku sangat lucu.

Kemajuan terbesarnya saat Sittichai bisa bersosialisasi dengan penghuni sel lainnya. Diajari bahasa Indonesia bahkan Bahasa Jawa Krama oleh teman-teman. Lima tahun disini, Sittichai semakin lebih baik. Apalagi semenjak diberi  buku-buku kebudayaan oleh Pak Joni. Berlagak lebih nasionalis daripada

siapapun hihi

Dibandingkan penghuni sel lainnya, Sittichai orang yang sangat terbuka. Setahun dipenjara, disuatu siang saat kami sedang melukis dia tiba ti ba bertanya,

“Apa kamu tidak penasaran Sha kenapa aku bisa masuk kesini?”

Aku tidak langsung berkata iya walaupun aku sangat ingin. Karena aku tahu, setiap orang pasti punya alasannya sendiri. Melihatku yang hanya diam, Sittichai dengan cepat bercerita bahwa,

ia aslinya ditipu.

Sittichai memang seorang pelukis. Orang tuanya adalah pedagang buah dipasar. Dia anak tunggal. Sama sepertiku, Sittchai juga tidak bersekolah. Mereka hidup sederhana. Namun suatu hari, paman Siitichai, adik dari ayahnya yang kaya raya tiba-tiba datang kerumah. Memohon izin pada kakak nya untuk bisa

membawa Sittichai ikut berdagang benda-beda antik keseluruh dunia.

Sittichai kecil sangat bersemangat, akhirnya ia bisa menjual lukisannya kepada banyak orang. Perdagangan barang antik itu sangat sukses. Berbulan- bulan kemudian, kapal paman Sittichai sudah berlayar ke hampir seluruh benua di

dunia. Setelah dari Australia tujuan selanjutnya adalah bersandar di pelabuhan Malaysia. Tapi naas, kapal mereka dihentikan oleh otoritas Bea Cukai ketika memasuki perairan Indonesia.

Sittichai kecil kebingungan, “kenapa kapal kami diberhentikan?” ternyata  barang-barang antik hanyalah sebuah kedok. Digudang kapal otoritas Bea Cukai

mendapati temuan 125 kg sabu-sabu, temuan narkotika paling besar di Indonesia tahun itu. Dimalam itu pula, Sittichai terakhir kali melihat paman beserta teman-teman nya.

(6)

Tanpa bisa bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan baik, juga tidak adanya pengacara, Sittichai semakin kesusahan membela dirinya sendiri di Pengadilan. Melihat tubuhnya yang sudah besar dan ti nggi, hakim tidak percaya  bahwa saat itu usia Sittichai masih usia anak-anak dan tidak seharusnya ia berada

di Nusakambangan.

Tapi diakhir cerita, Sittichai berterima kasih padaku karena sudah menyelamatkan nyawanya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk walaupun tidak faham benar apa yang ia maksud. Beberapa menit terbayang awal pertemuan kami, Sittichai mengambil roti yang sudah kubukakan untuknya. Aku kembali menatap kedua alisnya.

Setengah hari itu akhirnya aku mengerti kenapa Sittichai sangat tergila-gila dengan Aceh.

Sebelum pulang, aku sempat bertanya pada Pak Joni tentang siapa yang akan dieksekusi kali ini. Syukurlah Pak Joni menjawab, “bukan dari pos satu”. Hatiku lega sekali. Aku pulang dengan riang gembira karena lukisanku juga sempat dibantu oleh Sittichai tadi.

***

Keesokan paginya ada pengumuman yang ditujukan bagi warga agar t idak keluar rumah karena akan dilaksanakan eksekusi di Bukit Nirbaya sesaat lagi. Satu jam kemudian saat aku sedang mebuatkan kopi untuk Bapak terdengar  beberapa tembakan. Aku bergumam dalam hati, semoga dosa-dosanya bisa

diterima disisi-Nya, Amin.

Hari ini penjara ditutup. Para napi sedang berkabung. Aku sibuk melukis didalam kamar. Jam dua belas siang pintu rumahku diketuk. Ternyata Pak Joni. Kedua matanya sembab. Ditangan kanannya ada beberapa lukisan Sittichai dan ditangan satunya ada peralatan melukis kami. Sesaat kemudian satu hal yang aku langsung tahu.

Pak Joni berbohong padaku kemarin. ***

“kamu tahu kenapa aku sangat suka dengan kebudayaan Aceh?” Sittichai kembali bertanya. Aku jelas tidak punya ide, jadi aku menunggunya melanjutkan  bicara.

“jawabannya sederhana Sha. karena dibuku Kebudayaan Indonesia yang diberikan oleh Pak Joni, Halaman-halaman awalnya membahas kebudayaan Aceh. Buku itu membahas kebudayaan dengan urut. Dari Sabang sampai Merauke. Aku

(7)

masih membaca awal-awal halaman dan sudah sangat jatuh cinta. Sesederhana itu lho Sha Indonesia bisa dicintai. Aku yakin aku pasti akan menyukai semua

kebudayaan negeri ini jika aku masih punya waktu” lagi lagi Sittichai tertawa diujung kalimat yang kubalas dengan menimpuknya dengan  palet.

“semuanya luar biasa Sha. kalian semua berbeda, tapi bersepakat untuk  bersatu. Tarian kalian, rumah adat kalian-hei bahkan masakan penjara ini sangat

enak” aku tidak pernah melihat Sittichai seserius ini. Bahkan aku mendadak sedih,  biasanya orang orang senasionalis Sittichai begini malah yang sering ditertawakan

oleh orang Indonesia sendiri. Miris.

Sekarang Sittichai sudah berpulang. Sampai akhir hayatnya pun yang sering ia bahas adalah Indonesia, Indonesia dan Indonesia. Sittichai jelas-jelas lebih cinta Indonesia daripada aku.

Aku teringat pertanyaan yang sering ditanyakan Sittichai padaku, jadi bagaimana Indonesia dimatamu Sha?.

Aku sudah 17 tahun hidup dipulau Nusakambangan, beberapa kali menyebrang laut selama kurang lebih enam jam hanya untuk bisa pergi ke kabupaten. Jadi untuk masalah mobilitas, tentu aku tidak mendapatkannya.

Aku tidak bersekolah. Aku bisa melihat dunia hanya dari buku-buku yang dibawa oleh Pak Joni. Yang artinya pemerataan pendidikan di Indonesia masih  belum menjangkau tempat-tempat terpencil. Dan aku belum mendapatkannya

Aku kehilangan ibu ku saat melahirkanku. Resiko kematian ibu saat melahirkan dipulauku sangat tinggi karena tidak ada dokter dipulauku, apalagi rumah sakit. Yang artinya, selain pendidikan, hak untuk sehat juga sepenuhnya  belum kudapatkan.

Tapi mengingat Sittichai yang bisa mencintai Indonesia hanya dari sebuah  buku, bukankah aku pantas untuk malu? Sudah 17 tahun aku hidup. Aku memiliki

Bapak yang sangat menyayangiku dan bisa menghidupi keluarganya dari pohon- pohon terbaik pulau Nusakambangan. Aku memiliki teman-teman yang baik

seperti Pak Joni, Pak Kusni, Mat Peci dan tentu saja Sittichai.

Kita menghirup udaranya. Kita minum airnya. Kita makan dari tanahnya. Kita berteman baik dengan rakyatnya. Sittichai menyadarkanku bahwa seburuk apapun keadaan negara ini dan setidak adil apapun kita diperlakukan oleh negara, Indonesia selalu berhak untuk dicintai.

Referensi

Dokumen terkait

Uji keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber, yaitu dengan cara membandingkan hasil wawancara antara anak jalanan pengguna  NAPZA dengan hasil observasi

PEMBA- NGUNAN DESA Meningkatkan KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Desa Meningkatkan KUALITAS HIDUP Manusia Penanggulangan KEMISKINAN Mela lui : Pemenuhan Kebutuhan Dasar

 Mengeksplorasi manajemen Tugas Menyelesaikan masalah tentang prinsip penjaminan mutu Observasi Mengamati kegiatan/aktivitas siswa secara individu dan dalam diskusi dengan

Dalam game SimCity 4, perkembangan zona dengan density tertentu (low, high) dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang tinggal di dalam kota, syarat minimum jumlah

Efektif tanggal 1 Januari 2012 PPSAK No. 44 "Akuntansi Aktivitas Pengembangan Real Estat" dalam Paragraf 47 – 48 dan 56 – 61” Pencabutan standar ini mengubah penyajian

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Korporasi dapat dikenakan sebagai pelaku turut serta atau penyertaan terhadap perbuatan organ-organ yang ada didalamnya,

Presentase Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Kabupaten/Kota dan Lapangan Pekerjaan Utama di Jawa Barat Percentage Population Aged 10 Years and Over Who