BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pembaca atau pendengar. Penelitian ini telah banyak dilakukan oleh para

11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kajian Terdahulu

Berkaitan tentang kata serapan, sebelumnya penelitian kata serapan sudah pernah diteliti, maka penelitian di dalam linguistik tidak asing lagi bagi pembaca atau pendengar. Penelitian ini telah banyak dilakukan oleh para peneliti terdahulu khususnya dalam menganalisis kata serapan. Adapun beberapa tinjauan pustaka yang peneliti gunakan dan yang terkait dalam penelitian ini sebagai kajian terdahulu diantaranya:

a. Erna (940704016), mahasiswa Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara dengan judul “kata-kata serapan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Minangkabau”.penelitian ini membahas kata serapan dari bahasa ke Arab dalam bahasa Minangkabau yang mengambil sampel dari kamus bahasa Minangkabau. Dimana penelitian tersebut menggunakan teori Moeliono yaitu dari salah satu penjabarannya unsur pungutan yang mengalami penyesuaian kedalam bentuk fonologi atau ejaannya, hasil dari penelitian tersebut untuk mengetahui bentuk-bentuk kata serapan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Minangkabau dalam bentuk nomina dan adjektiva serta perubahan-perubahan bunyi yang terjadi pada kata serapan tersebut

b. Fitri Yani Nasution (000704006), mahasiswa Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara dengan judul “ Analisis kata serapan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Arab”. penelitian terdahulu membahas kata serapan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Arab yang diambil dari surat kabar Al-‘Alamu Al-Islami. Penelitian ini menggunakan teori Tawwab, yaitu menukar fonem kata serapan dalam artikulasinya, sehingga yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah bentuk perubahan

(2)

bunyi fonem yang terjadi dalam proses penyerapan kata serta titik artikulasinya.

c. Fuad Subhan (180710080015), mahasiswa Sastra Rusia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran dengan judul “Kata Serapan Bidang Informatika dalam Bahasa Rusia”. Penelitian tersebut membahas kata-kata serapan bahasa pada bidang informatika ke dalam bahasa Rusia. Hasil dari penelitian ini adalah menujukan bahwa makna padanan istilah informatika dalam bahasa Rusia pada bersesuaian dengan makna pada bahasa sumbernya. Selain itu, istilah informatika dalam bahasa Rusia yang merupakan kata serapan, bunyi atau pelafalannya mengadopsi dari bahasa sumber dalam pembentukannya. Teori yang digunakan adalah teori Shanski dan Ivan yaitu menjelaskan mengenai terjemahan leksikal yang berlaku dalam susunan kamus dalam bahasa Rusia. Terjemahan leksikal tersebut terbagi ke dalam dua jenis, yaitu terjemahan pembentukan kata dan terjemahan semantis. Pada terjemahan pembentukan kata, terjemahannya merupakan hasil terjemahan dari kata asing yang mengalami penyusunan morfem pada kata dasarnya dalam membentuk suatu kata serapan

Dari ketiga kajian terdahulu yang telah disebutkan, penelitian ini hampir sama dengan penelitian Subhan mahasiswa Universitas Padjadjaran. Namun, di dalam penelitian keduanya terdapat perbedaan dari bahasa yang akan dikaji dan objek kajiannya. Dimana kajian terdahulu menggunakan data yang diambil dari surat kabar berbahasa Rusia, sedangkan penelitian ini mengkaji bahasa Arab dan menggunakan data yang diambil dari buku

ﺖﻧﺮﺘﻧﻻﺍﻭ ﺐﺳﺎﺤﻟﺍ ﺕﺎﺤﻠﻄﺼﻣ

/

muṣṭalaḥāt al-ḥāsib wal internit /.

(3)

2.2. Defenisi kata serapan dan penterjemahan

Kata serapan adalah kata yang berasal dari bahasa asing yang sudah

diintegrasikan ke dalam suatu bahasa dan diterima pemakainya secara umum

(

“Selajutnya Chaer ( 2007: 166) menjelaskan bahwa kata serapan itu adalah kata yang berasal dari bahasa asing maupun bahasa daerah”.

ﺏﺮﻌﻤﻟﺍ

/

al-mu’arrab/ adalah istilah kosakata-kosakata asing yang telah diserap ke dalam bahasa Arab. Sebagaimana penjelasan Syahin dalam Fitri ( 2005:9) :

,

ﺔﻴﺑﺮﻌﻟﺍ ﺔﻐﻠﻟﺍ ﻰﻟﺍ ﺔﻴﺒﻨﺟﻷﺍ ﺕﺎﻐﻠﻟﺍ ﻦﻣ ﺖﻠﻘﻧ ﻲﺘﻟﺍ ﺕﺎﻤﻠﻜﻟﺍ ﻮﻫ ﺏﺮﻌﻤﻟﺍ

ﻕﺎﻘﺘﺷﻹﺎﺑ ﻪﺘﻟﻭ ﺎﻨﺗ ﺎﻤﺑﺭﻭ

,

ﻊﻘﻳ ﻢﻟ ﻭﺃ ﺮﻴﻴﻐﺗ ﺎﻬﻴﻓ ﻊﻗﻭ ءﺍﻮﺳ

/al-mu’arrabu huwa al-kalimātullatī nuqalatu minal lughāti al -ajnabiyyati ilāl lughati al’arabiyyati, sawā’un waqa’a fīhā tagyīru aw lam

yaqa’, wa rubamā tanā walatuhu bil insytiqāqi/. ‘Al-mu’arrab adalah semua

kosa kata yang diambil dari bahasa-bahasa asing kedalam bahasa Arab, baik terjadi padanya perbahan atau tidak, dan terkadang disesuaikan dengan isytiqaq (morfologi bahasa Arab)’.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Tawwab ( 1979 : 358-359) :

ﺕﺎﻐﻠﻟﺍ ﻦﻣ ﺔﻴﺑﺮﻌﻟﺍ ﺎﻬﺗﺬﺧﺍ ﻰﺘﻟﺍ

,

ﺕﺎﻤﻠﻜﻟﺍ ﻩﺬﻫ ﻞﺜﻣ ﻰﻠﻋ ﻖﻠﻄﻳﻭ

:

ﻢﺳﺍ

,

ﻩﺬﻫ ﺬﺧﻷﺍ ﺔﻴﻠﻤﻋ ﻰﻠﻋ ﻖﻠﻄﻳ ﺎﻤﻛ

,

ﺔﺑﺮﻌﻤﻟﺍ ﺕﺎﻤﻠﻜﻟﺍ

:

ﻢﺳﺍ

,

ﺓﺭﻭﺎﺠﻤﻟﺍ

(4)

ﺏﺮﻌﻟﺍ ﺎﻬﻋ ﻮﻁ ﻥﺃ ﺎﻬﻴﻓ ﺙﺪﺣ ﺎﻤﻧﺇﻭ

,

ﺎﻬﺘﻐﻟ ﻲﻓ ﺖﻧﺎﻛ ﺎﻤﻛ

,

ﺎﻣﺎﻤﺗ ﺎﻬﻟﺎﺣ

ﻰﻨﻌﻤﻟﺍ ﻮﻫ ﺍﺬﻫ

.

ﻚﻟﺫ ﻞﻛﺎﺷﺎﻣ ﻭ ﺎﻬﺘﻴﻨﺑ ﻭ ﺎﻬﺗﺍﻮﺻﺃ ﻲﻓ

,

ﻢﻬﺘﻐﻟ ﺞﻬﻨﻤﻟ

.

ﺐﻳﺮﻌﺘﻟﺍ

/wa yuṭlaqu ‘alā miṡli hāżihi al-kalimāti, allatī

akhażatuhā al-‘arabiyyatu minal lughāti al-mujāwarati, ismun:

al-kalimātu al-mu’arrabatu, kamā yuṭlaqu ‘ala ‘amaliyyati

al-akhzi hāżihi, ismun: at-ta’rib. Wa yu’nī hāżā anna tilka

al-kalimāta al-musta’ārata fīl ‘arabiyyati, lam tabqi ’alā ḥālihā

tamāmān, kamā kānat fīl lughatihā, wa innamā ḥadaṡa fīhā an

ṭaw’ahā al’araba limanhaij lughatihim, fī aṣwātihā wa

buniyatihā wa māsyākalin żālika. Wa hāżā huwal ma’nā : at

-ta’rību/. ‘Adapun contoh kalimat-kalimat yang diserap bahasa

Arab dari bahasa-bahasa lain itu disebut: kalimatul al-mu’rabbah, seperti halnya proses penyerapan itu disebut al-ta’rib. Dan yang di maksud disini bahwa kalimat-kalimat yang diserap ke dalam bahasa Arab tersebut, tidaklah utuh secara utuh seperti bahasa aslinya, akan tetapi penyesuian dengan sistem bahasa Arab, seperti pada fonologinya, gramatikalnya, dan lain sebagainya. Dan ini lah yang disebut: al-ta’rib’.

defenisi "

ﺐﻳﺮﻌﺘﻟﺍ

"

menurut Syahin dalam Fitri (2005: 10) adalah:

.

ﺔﻴﺑﺮﻌﻟﺍ ﺔﻐﻠﻟﺍ ﻰﻟﺍ ﺔﻴﺒﻨﺟﻷﺍ ﺔﻐﻠﻟﺍ ﻦﻣ ﺔﻤﻠﻜﻟﺍ ﻞﻘﻧ ﻮﻫ ﺐﻳﺮﻌﺘﻟﺍ

/at-ta’rib huwa naqlul kalimati min al-lugaati al-ajnabiyyati ilā al -lugati al-‘arabbiyyati/. At-ta’rib adalah pengabilan kata dari bahasa asing ke dalam bahasa Arab’.

Pengambilan atau penyerapan kata-kata asing itu lebih banyak berlangsung secara audial, yaitu melalui pendengaran orang asing berbicara langsung dan mengucapakan kosakata asing itu, lalu bangsa lain menirukan bunyi ujaran itu sesuai dengan yang didengarnya.

(5)

“Chaer mengatakan ( 2007 : 87 ) bahwa sejak pertengah abad xx penyerapan atau mengadaptasian kosakata dari bahasa asing, terutama bahasa Inggris, semakin dianggap penting karena berkenaan dengan pengembangan ilmu dan teknologi yang dihadapi”.

Lekant (1999 : 27) mejelaskan dalam Fuad (2012:6) bahwa kata serapa merupakan kata-kata baru yang muncul akibat dari beberapa faktor seperti hubungan politik, ekonomi, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan antar bangsa.

Kemudian Dirova (2002: 296) menjelaskan tentang konsep kata serapan dalam Fuad (2012: 6) yang meliputi : 1) sumber kata serapan, 2) lisan / tulisan, 3) langsung- tidak langsung, 4) kuno/ kemudian/ nanti/ baru/ yang terbaru, 5) tingkat / antar tingkatan kata serapan. Pada sumber kata serapan menentukan kalimat pada bahasa yang datang langsung dari kata, akhiran, morfem dan lain-lain.

Berdasarkan Dewan Badan Pustaka Malaysia, yang diakses ( Syamsuri, 2013 : 4), Pembentukan istilah adalah usaha mencipta atau menggubal kata baru, terutamanya untuk menyampaikan ilmu pengetahuan khusus dalam suatu bidang ilmu atau profesional. Jadi pembentukan istilah atau kata serapan bahasa asing merupakan proses penciptaan istilah yang dibangun oleh kata atau frase yang dengan cermat mengungkapkan gagasan, sifat, keadaan, dan proses yang luas dalam bidang tertentu termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

(6)

“Istilah menurut Chaer ( 2007 : 7-19) adalah kata atau gabungan kata yang maknyanya sudah tetap, pasti, jelas, dan mantap serta hanya digunakan dalam satu bidang kegiatan atau keilmuan tertentu. Sedangkan kosakata adalah kata-kata atau istilah yang digunakan dalam satu bidang kegiatan atau ilmu pengetahuan. Misalnya, kata-kata yang digunakan dalam bidang olahraga, bidang ekonomi, bidang hukum, dan bidang musik”.

Sesuai dengan teori Ferdinan de Saussure dalam Chaer (2007: 115) mengenai tanda linguistik (signẻ linguistiqe) bisa dikatakan bahwa setiap satuan bahasa tertentu memiliki makna. Demikian juga dengan yang disebut kata atau leksem, tentu setiap kata atau leksem itu mempunyai makna. Maka dari itu, perlunya penterjemahan dari Bsu ke Bs.

Di dalam penterjemahan ini, penterjemahannya menggunakan makna leksikal yang diterjemahkan melalui prosedur penerjemahan Larson dalam Muchtar ( 2014 :32-33) yakni menjelaskan bahwa untuk menemukan padanan leksikal yang baik, perlu diketahui hubungan bentuk dan fungsi.

“Penterjemahan diartikan oleh Syarif (2010 :151) penterjemahan itu adalah proses mindahkan makna yang telah diungkapkan dalam bahasa yang satu ( bahasa sumber [Bsu];

source language [SL]; al-lughah al-mutarjam minha: ) menjadi ekuivalen yang sedekat-dekatnya dan sewajar-wajarnya dalam bahasa lain (bahasa sasaran [Bsa]; taget language [TL]; al-lughah al-mutarjam ilaiha:)”.

“Sedangkan makna leksikal menurut Chaer (2007: 118) mengatakan bahwa makna leksikal ini adalah makna yang apa adanya, makna yang sesuai dengan hasil observasi kita, makna yang sesuai dengan rujukannya, makna yang sesuai dengan konsepnya.oleh karena itu, apa yang disebut makna leksikal ini dsama dengan yang disebut makna konseptual, makna denotatif, dan makna referensial. Dalam pelbagai buku pelajaran makna leksikal ini sering disebut makna kamus”.

(7)

2.3. Landasan Teori

Pada umumnya, ketika sebuah istilah atau kata yang diserap dari bahasa sumber kebahasa sasaran, maka kata itu harus disesuaikan dengan bahasa yang meminjamnya. Namun, tidak semua kata atau istilah yang diserap harus menyesuaikan lafal dan ejaannya, akan tetapi ada sebagian kata yang diserap tanpa mengalami perubahan. Dengan kata lain, kata tersebut diserap secara utuh dan pelafalannya tidak mengalami penyesuaian, sehingga dari segi huruf dan pelafalannya mengikuti bentuk aslinya. Oleh karena itu, di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori berdasarkan Kridalaksana (1991:329) bahwa dalam penyerapan ada beberapa proses yang menghasilkan bentuk istilah, antara lain:

1. Penyerapan dengan penyesuaian ejaan dan lafal 2. Penyerapan tanpa perubahan

3. Penterjemahan

4. Penyerapan dan/ atau penterjemahan

Menurut Sudarno dalam Fitri (2005:11) terdapat beberapa gejala penyimpangan dalam proses penukaran fonem atau huruf ,yaitu:

1. Penggantian vokal 2. Penggantian konsonan

3. Penambahan vokal atau suku kata 4. Penabahan konsonan

(8)

Klasifikasi huruf dalam bahasa Arab terbagi atas dua golongan,yaitu:

a. Huruf konsonan, seperti :

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

ﺎﻫ

,

/

b / t / ṡ / ḣ /kh / d / ż / r / s / sy / ṣ / ḍ / ṭ / ẓ / ‘ / g / f/ q / k/ l / m / n / w / h / y /

b. Huruf vokal, seperti :

و

, ي

, ا

,

,

,

/ a / i / u / ā/ ī / ū / Kalrifikasi bunyi huruf dalam bahasa Inggris atas golongan, yaitu:

a. Huruf konsonan, seperti : b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x ,y,z.

b. Huruf vokal, seperti : a,i,u,e,o.

Jika dilihat dari keduanya, ada beberapa bunyi huruf konsonan dan vokal yang tidak terdapat di dalam bahasa Arab dan terdapat di dalam bahasa Inggris. Namun ada beberapa bunyi huruf konsonan pada bahasa Arab yang hampir menyerupai bunyi konsonan bahasa Inggris, seperti penyebutan /b/ dan /p/. sehingga di dalam proses penyerapannya dapat dimodifikasikan dengan mengubah atau memindah huruf yang tidak ada pada bahasa Arab dengan huruf yang hampir menyerupai bunyi huruf pada bahasa Inggris. Hal itu dapat dilihat dengan jelas dalam contoh sebagai berikut:

Bahasa Inggris Bahasa Arab Transliterasi BA

(9)

Kata

ﺍﺮﻴﻣﺎﻛ

/ Kāmīra / (Arab) berasal dari kata camera (Inggris).

Istilah

ﺍﺮﻴﻣﺎﻛ

/ Kāmīra / (Arab) merupakan kata yang diserap dari bahasa Inggris camera ke bahasa Arab, kemudian mengalami penyesuaian lafal dan ejaannya dalam bahasa Arab, berikut pembentukannya:

Bahasa Inggris camera Modifikasi

Bahasa Arab

ﺍﺮﻴﻣﺎﻛ

/kāmīra/ (c=k, e=i )

Huruf yang diganti / berubah dariBsu ke Bsa

Dapat dijelaskan bahwa adanya penggantian huruf – c pada B.I ke dalam B.A menjadi huruf –k, dimana huruf –c tidak ada dalam B.A sehingga harus diganti menjadi huruf- k yang pelafalanya hampir sama dengan huruf-c pada B.I, adanya penggantian huruf- e pada B.I ke dalam B.A menjadi huruf – i dengan vokal panjang, dimana vokal panjang dalam B.I tidak ada.

Kata

ﺍﺮﻴﻣﺎﻛ

/

kāmīra / (Arab) dalam konteks makna kamusnya diterjemahkan “alat memfoto”, al-mawrid (1988:146).

Berdasarkan penjabaran yang telah dikemukakan dan berdasarkan teori Kridalaksana, pada kesempatan ini peneliti hanya membahas point

(10)

penterjemahan dari bahasa sumber kebahasa sasaran dengan konteks makna leksikalnya.

Penelitian ini menggunakan sumber data yang diteliti dari

ﺕﺎﺤﻠﻄﺼﻣ

ﺖﻧﺮﺘﻧﻻﺍﻭ ﺐﺳﺎﺤﻟﺍ

muṣṭalaḥāt al-ḥāsib wal internit /. “Terminologi komputer dan internet, peneliti menemukan data-data yang berhubungan dengan proses hasil penyerapan yang pertama dari teori Kridalaksana dan kemudian peneliti menterjemahkan maknanya dari bahasa sumber kebahasa sasaran.

Berdasarkan dari teori Kridalaksana, Syarif (2012: 44-45) membagi atas dua bagian yang berhubungan dengan lafal dan ejaan dalam kata serapan, yaitu:

“Transkripsi adalah penulisan tuturan atau pengubahan teks dengan tujuan untuk menyarankan lafal bunyi, fonem, morfem, atau tulisan sesuai dengan ejaan yang berlaku dalam suatu bahasa yang menjadi sasarannya. Sementara itu, transliterasi adalah penggantian huruf demi huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain, tanpa menghiraukan lafal bunyi kata yang bersangkutan, seperti transliterasi huruf Arab ke huruf lain”.

Dari pernyataan Syarif, peneliti menyimpulakan bahwa penelitian ini mengarah ke transliterasi, dimana adanya proses penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain.

Selanjutnya Tawwab (1979 : 363 – 364 ) menjelaskan bahwa kata serapan itu berhubungan dengan :

۱

ﺎﻬﺑﺮﻗﺍ ﻰﻟﺍ

,

ﺏﺮﻌﻟﺍ ﺕﺍﻮﺻﺃ ﻦﻣ ﺖﺴﻴﻟ ﻲﺘﻟﺍ ﺕﺍﻮﺻﻷﺍ ﻝﺪﺑﺇ

.

(11)

۲

.

ﺔﻴﺑﺮﻌﻟﺍ ﺔﻴﻨﺑﺃ ﻰﻟﺍ ﺔﻤﻠﻜﻟﺍ ءﺎﻨﺑ ﺮﻴﻴﻐﺗ

.

۳

ﺞﻬﻨﻤﻟ ﺎﻔﻗﺍﻮﻣ ﻥﺎﻛ ﺍﺫﺍ

,

ﻪﻟﺎﺣ ﻰﻠﻋ ﻲﻤﺠﻋﻷﺍ ﻆﻔﻠﻟﺍ ﻙﺮﺗ

.

ﺔﻤﻠﻜﻟﺍ ﺔﻴﻨﺑ ﻭﺃ

,

ﻎﻴﺼﻟﺍ ﻭ ﺕﺍﻮﺻﻷﺍ ﻲﻓ ﺔﻴﺑﺮﻌﻟﺍ

1. / ibdālu al-aswāti allatī laisat min aṣwā al- ‘arabi, ilā

aqrabihā makhrajan, liállā yadkhlu fī kalāmihim mā laisa min aṣwātihim /. Menukar atau mengganti bunyi (fonem) yang bukan fonem bahasa Arab menjadi fonem bahasa Arab yang bunyinya hampir sama artikulasinya, sehingga fonem-fonem asing masuk ke dalam bahasa mereka’.

2. / tagyĩru bināá al- kalimati ilā abniyati al-‘arabiyati /. ‘Merubah susunan atau struktur kata ke fonem bahasa Arab’.

3. / Tarku al- lafzi al- a’jamī ‘alā ḥālihi, iżā kāna muwafiqan li manhaji al- ‘arabiyyati fĩ al - aṣwāti wal al - ṣiyagi aw buniyati al- kalimāti /. ‘Memasukan secara utuh kosakata bahasa Asing apabila sesuai ciri khas bahasa Arab, baik dari segi fonem dan bentuk kata, atau struktur kata.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :